• Tidak ada hasil yang ditemukan

Islam dan Kekuasaan Politik di Nusantara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Islam dan Kekuasaan Politik di Nusantara"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

ISLAM DAN KEKUASAAN POLITIK DI NUSANTARA;

Studi Karakteristik Kerajaan Islam di Jawa

Oleh : Saifudien Djazuli

Pendahuluan

Menurut Sartono Kartodirjo, pada sekitar abad 14-15 terjadi proses prolifrasi1 sekitar 1 abad lebih kerajaan Islam di wilayah sekitar Malaka dan setengah abad di Jawa, diantara kerjaan tersebut, seperti Pasai, Siak, Malaka, Gresik, Tuban dan Demak. Di samping itu terdapat kerajaan tribal yang lebih terbatas lagi. Sedangkan pada abad 16 berlangsung proses konsentrasi kekuasaan dan perjuangan kekuasaan.2

Prinsip kekuasaan yang menjadi dasar kedudukan seorang Raja, setidaknya ada 3 (tiga) sistem, yaitu sistem tribalisme3, patrimonialisme4 dan despotisme5. Sistem tribalisme berinti pada hubungan patron-client antara raja dan pengikutnya. Sistem Patrimonalisme sering digunakan pada kerajaan yang sudah lebih besar dengan birokrasi yang lebih kompleks. Pengikut atau pengawal raja adalah orang upahan atau sewaan sehingga kekuasaan lebih berpusat pada seorang raja. Prinsip kekuasaan seperti ini dapat dilihat baik dalam tradisi kerajaan Hindu-Jawa maupun Islam Jawa. Menurut Niti Sastra, Raja adalah unsur mutlak untuk menjamin ketertiban dalam suatu masyarakat.6

Sebelum masuk ke wilayah pembahasan politik, menarik untuk melihat paparan Raffles mengenai karakteristik masyarakat Jawa sekitar Abad ke 17. Dalam pandangan Thomas Stamford Raffles, Masyarakat Jawa kurang terpelajar dan sering percaya pada takhayul, mereka mudah terkesan dan ini membuat mereka mudah terperdaya. Secara umum penduduk Jawa lesu dan tidak bergairah, namun antusiasme agama mereka begitu tinggi, kemudian mereka menjadi tekun dan pemberani dalam sekali waktu, memperkirakan tidak ada pekerjaan yang sulit, tidak ada hasil yang mustahil, dan tidak ada kemelaratan yang menyakitkan.7

Masyarakat Jawa tidak keras kepala, umumnya memperlihatkan perasaan terpuji dan ramah. Orang Jawa dari kalangan atas dan memiliki kekuasaan tertinggi, biasanya dalam membuka tanah sawah menggunakan tenaganya sendiri, mempimpin bawahan dan rakyat mereka, seperti terlihat dalam ritual sedekah bumi. Masyarakat Jawa sebenarnya penduduk yang dermawan dan ramah jika tidak diganggu dan ditindas.

1 Proliferasi adalah pertumbuhan atau berkembangbiakan pesat untuk menghasilkan jaringan baru, bagian, sel, atau keturunan.

2 Sartono Kartodirjo, Pengantar Sejarah; Indonesia Baru 1500-1900, dari Emporium sampai Empirium, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2014, h. 53.

3 Tribalisme merupakan bentuk pemerintahan yang paling awal, biasanya berupa pemerintahan

gabungan dari beberapa suku yang ada di masyarakat. Sedangkan tribalisme despotik dapat diartikan pemimpin diperoleh dari peperangan beberapa suku. Suku yang menang akan menjabat sebagai pemimpin. Pemimpin biasanya merangkap sebagai pemuka agama dan tidak bertanggung jawa kepada siapapun. Pemimpin dapat memerintah sampai mati.

4Patrimonialisme dalam politik sering diartikan jabatan dan susunan birokrasi yang didasarkan

pada hubungan personal atau pribadi. Dapat juga diartikan pemerintahan yang diperoleh dari warisan keturunan ayah.

5 Despotisme dalam KBBI diartikan sistem pemerintahan dengan kekuasaan tidak terbatas dan

sewenang-wenang.

6 Sartono Kartodirjo, Pengantar Sejarah; Indonesia Baru 1500-1900, h. 53-54.

(2)

Dalam hubungan masyarakat umum, mereka orang yang patuh, jujur dan beriman, memperlihatkan sifat bijaksana, jujur, jelas dalam berdagang dan berterus terang.8

Masyarakat Jawa menerapkan pemerintahan dengan tatanan Feodal. Mereka menganut paham patriakal yang masih mempertahankan kebijaksanaan dan kesederhanaan. Pemukiman mereka di desa merupakan sebuah masyarakat tersendiri, di bawah pemimpin dan pemuka agama lokal dan kerukunan selalu terjaga. Mereka juga menghormati para leluhur yang terkenal sejarah dan kebaikannya. Mereka adalah orang-orang yang sering terlihat menunjukkan kebanggaan akan keluarga mereka.9

Dari sedikit pemaparan di atas mengenai karakteristik masyarakat Jawa pada umumnya, akan sedikit memberi gambaran dalam melihat fenomena politik yang terjadi di kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Berbagai konflik perebutan kekuasaan dan perluasan wilayah kerajaan meliputi sejarah perkembangan Kerajaan Islam di Jawa. Dalam makalah ini akan disampaikan sedikit ulasan mengenai kekuasaan politik dalam kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Hubungan antara Agama dan Negara dan sedikit ulasan sejarah dari masing-masing kerajaan Islam yang ada di Jawa.

Kekuasaan Politik

Pada dasarnya kekuasaan politik adalah kemampuan individu atau kelompok untuk memanfaatkan sumber-sumber kekuatan yang bisa menunjang sektor kekuasaannya dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Sumber-sumber tersebut bisa berupa media massa, media umum, mahasiswa, elit politik, tokoh masyarakat ataupun militer. 10

Jenis-jenis kekuasaan yang kita ketahui pada umumnya sekiranya dapat dibagi beberapa jenis kekuasaan sebagai berikut: (a) kekuasaan eksekutif, yaitu yang dikenal dengan kekuasaan pemerintahan dimana mereka secara teknis menjalankan roda pemerintahan, (b) kekuasaan legislatif, yaitu sesuatu yang berwenang membuat, dan mengesahkan perundang-undangan sekaligus mengawasi roda pemerintahan, (c) kekuasaan yudikatif, yaitu sesuatu kekuasaan penyelesaian hukum, yang didukung oleh kekuasaan kepolisian, demi menjamin law enforcement/ pelaksanaan hukum.

Unsur-unsur kekuasaan, ada tiga komponen dalam rangkaian kekuasaan yang akan mempengaruhi penguasa atau pemimpin dalam menjalankan kekuasaannya. Komponen ini harus diikuti,dipelajari, karena saling terkait didalam roda kehidupan penguasa. Tiga komponen ini adalah pemimpin (pemilik atau pengendali kekuasaan), pengikut dan situasi.

Dari gerak tiga komponen diatas, maka kekuasaan juga mempunyai unsur

influence, yakni menyakinkan sambil beragumentasi, sehingga bisa mengubah tingkah laku. Kekuasaan juga mempunyai unsur persuation, yaitu kemampuan untuk menyakinkan orang dengan cara sosialisasi atau persuasi (bujukan atau rayuan) baik yang positif maupun negatif, sehingga bisa timbul unsur manipulasi, dan pada akhirnya bisa berakibat pada unsur coersion, yang berarti mengambil tindakan desakan, kekuatan, kalau perlu disertai kekuasaan unsur force atau kekuatan massa, termasuk dengan kekuatan militer.11

Dalam kekuasaan ini, menggunakan teori kekuasaan Max Weber dan teori fungsional struktural Talcoot Parsons. Weber mendefinisikan kekuasaan sebagai kemungkinan bagi seseorang untuk memaksakan orang-orang lain berperilaku sesuai

8 Thomas Stamford Raffles, The History of Java (Terj.), ... h. 157 9 Thomas Stamford Raffles, The History of Java (Terj.), ... h. 156

(3)

dengan kehendaknya.12 Politik demikian dapat kita simpulkan pada instansi pertama berkenaan dengan pertarungan untuk kekuasaan.13

Max weber mengemukakan beberapa bentuk wewenang manusia yang menyangkut juga kepada hubungan kekuasaan. Yang dimaksudkannya dengan wewenang (authority) adalah kemampuan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang diterima secara formal oleh anggota–anggota masyarakat.14 Jenis authority yang disebutnya dengan rational legal authority sebagai bentuk hierarki wewenang yang berkembang didalam kehidupan masyarakat modern. Wewenang sedemikianini dibangun atas dasar legitimasi (keabsahan) yang menurut pihak yang berkuasa merupakan haknya.15

Dalam politik kekuasaan diperlukan untuk mendukung dan menjamin jalannya sebuah keputusan politik dalam kehidupan masyarakat. Keterkaitan logis antara politik dan kekuasaan menjadikan setiap pembahasan tentang politik, selalu melibatkan kekuasaannya didalamnya. Itulah sebabnya membahas sekularisasi kekuasaan. Sekularisasi politik secara implisit bertujuan untuk mendesakralisasi kekuasaan untuk tidak dilegimitasi sebagai sesuatu yang bersifat sakral atau suci. Kekuasaan sebagai aktivitas politik harus dipahami sebagai kegiatan manusiawi yang diraih, dipertahankan sekaligus direproduksikan secara terus menerus.16

Politik tanpa kegunaan kekuasaan tidak masuk akal, yaitu selama manusia menganut pendirian politik yang berbeda–beda, apabila hendak diwujudkan dan dilaksanakan suatu kebijakan pemerintah, maka usaha mempengaruhi tingkah laku orang lain dengan pertimbangan yang baik.17 Kekuasaan senantiasa ada didalam setiap masyarakat baik masih bersahaja maupun yang sudah besar dan rumit susunannya. Akan tetapi selalu ada kekuasaan tidak dapat dibagi rata kepada semua anggota masyarakat.18

Sedangkan menurut Abul A’la al-Maududi, menurutnya kekuasaan negara dilakukan oleh tiga lembaga atau badan legislatif,19 eksekutif20 dan yudikatif, dengan ketentuan bahwa badan yudikatif atau lembaga peradilan itu sepenuhnya berada di luar lembaga eksekutif yang berarti mandiri, objektif dan profesional, oleh karena hakim tugasnya adalah melaksanakan hukum-hukum Allah atas hamba-hamba-Nya, bukan mewakili atau atasnama kepala negara (eksekutif). 21

Menurut Anderson, untuk memahami teori politik Jawa mungkin dapat menggunakan tafsiran secara tradisional tentang apa yang dinamakan kekuasaan oleh ilmu sosial. Hal ini disebabkan karena konsepsi Jawa berbeda secara radikal dari konsepsi yang telah berkembang di Barat sejak zaman pertengahan. Dari perbedaan

12 Rafael Raga Maran, Pengantar Sosiologi Politik (jakarta : Rieneka Cipta, 2001) hal, 190 13 A. Hoogerwerf, Politikologi (Jakarta : Penerbit Erlangga,1985) hal 44

14 Hotman Siahaan, Pengantar Kearah Sejarah Dan Teori Sosiologi, Jakarta : Penerbit Erlangga,

1986, h. 201

15 George Ritzer & Douglad J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta : Kencana, 2007, h. 37 16 Listiyono Santoso, Teologi Politik Gus Dur, Yogyakarta: Ar Ruzz Media 2004, h.169

17 A. Hoogerwerf, Politikologi, h. 144

18 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali pers, 1994, h. 265.

19Ada beberapa hal yang membedakan antara kekuasaan eksekutif dalam Islam dan dewan

eksekutif dalam sistem demokrasi khususnya di indonesia yakni: Struktur legislatif terdiri dari Majlis al Syuri al Islami (dewan legislasi), Majlis al-Fuqaha (Dewan yuris), dan Majlis al-Khubara (dewan Profesional), untuk lebih jelasnya tentang jenis legislasi dalam Islam lihat Abdulrahman Abdul Kadir Kurdi, Tatanan Sosial Islam Studi Berdasarkan al-Qur’an dan Hadits, (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2000), h.

153

(4)

inilah sudah logis timbul pandangan-pandangan yang berbeda pula mengenai cara berjalannya politik dan sejarah.22

Sedangkan menurut Sartono, konsep Jawa mengenai kekuasaan berdimensi empat sesuai konsep perwayangan, yaitu sakti-mandraguna, mukti-wibawa.

Mandraguna menunjukkan kepada kecakapan, kemampuan ataupun ketrampilan dalam satu atau beberapa bidang, seperti olah senjata, kesenian, pengetahuan dan sebagainya.

Mukti lebih berhubungan dengan kedudukan yang penuh dengan kesejahteraan. Wibawa berarti kedudukan terpandang yang membawa pengaruh besar.23

Dalam konsep kekuasaan Jawa, kekuasaan yang besar harus diimbangi dengan kewajiban yang dirumuskan dalam kalimat ”berbudi bawa leksana, ambeg adil para marta” (budi luhurmulia dan bertindak adil terhadap sesamanya).Raja yang dikatakan baik, adahal raja yang menjalankan kekuasaanya dalam keseimbangan antara wewenangnya yang besar sengan kewajibanyang besar pula. Kekuasaan yang besar di satu pihak dan kewajiban yang seimbang di lain pihak.24

Dalam memilih pemimpin pemerintahan, konsep jawa mempertimbangkan dua hal yang penting, yaitu kepercayaan yang terdapat di wilayah tersebut dan penilaian rakyat terhadap karakter seorang pemimpin. Hal ini dapat dilihat dalam serat NitiPraja, sebagai berikut25 :

“Raja yang baik harus melindungi rakyatnya dari semua bentuk penganiayaan dan

penindasan, dan harus menjadi sinar bagi rakyatnya, bahkan seperti matahari yang menyinari dunia. Kebaikannya harus mengalir dengan jernih dan penuh, seperti air terjun di gunung, yang ketika mengalir menuju laut memperkaya dan menyuburkan tanah yang dilewatinya. Dia harus memikirkan rakyatnya yang menanti kebajikan dari sang Raja, untuk dipenuhi dengan makanan, pakaian dan wanita-wanita yang cantik, ibarat dedaunan dari pohon yang layu, yang menunggu datangnya hujan untuk kembali

menyegarkannya....”

Dalam mempertahankan kekuasaan atas wilayah yang telah ditaklukkan, Raja-raja Mataram memakai berbagai cara, diantaranya sebagai berikut26 :

1. Mewajibkan penguasa-penguasa daerah, terutama yang kuat, untuk tinggal di Keraton beberapa bulan dalam setahun. Kalau penguasa daerah tersebut pulang, maka ia diwajibkan untuk meninggalkan salah satu anggota keluarga dekatnya sebagai sandera di keraton.27

2. Penerapan politik perkawinan yang piawai. Sesudah menang perang, raja dan para pengikut utamanya lazimnya menikahi puteri-puteri atau saudara-saudara perempuan dari raja yang kalah. Perkawinan politik juga terkadang dilakukan untuk menjalin perdamaian.

22 Benedict R.O’G. Anderson, Gagasan tentang Kekuasaan dan Kebudayaan Jawa, dalam Miriam

Budiardjo (ed.), Aneka Pemikiran tentang Kuasa dan Wibawa, Jakarta: Sinar Harapan, 1984. h. 47.

23 Sartono Kartodirjo (ed.), Kepemimpinan dalam dimensi Sosial, Jakarta: LP3ES, 1984, h. viii. 24 Soemarsaid Moertono, State and Statcraft in Old Java, Ithaca, 1968, h. 36.

25 Thomas Stamford Raffles, The History of Java (Terj.), ... h. 175 26 Dennys Lombard, Silang Jawa, Buku 3, h. 38-40.

27 Pada masa Amangkurat I, terdapat kurang lebih dua puluh kediaman untuk para pembesar

(5)

3. Pembentukan sejenis polisi negara yang berada langsung di bawah kekuasaan raja. 28

Dari pemaparan di atas, terlihat bahwa kekuasaan seorang raja sangatlah sentral. dalam praktek pemeritahan kerajaan Islam di Jawa, seorang raja dapat memiliki kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Adakalanya kekuasaan yudikatif ini didistribusikan kepada para ulama, penghulu atau pimpinan agama tertinggi. Sehingga tidak terlalu jelas pemilahannya, disamping suksesi kepemimpinan yang masing menganut patrimonialisme. Sedikit berbeda ketika kasultanan Demak terbentuk, dimana Walisongo bertindak sebagai dewan pengambil kebijakan dengan prinsip musyawarah menentukan pimpinan. Menarik untuk diteliti lebih lanjut, bagaimana distribusi kekuasaan ini sangat erat hubungannya kekuasaan keagamaan yang ada, karena memang agama Islam membawa nilai yang berbeda dengan agama sebelumnya yang terdapat di wilayah Jawa.

Hubungan antara Agama dan Negara

Secara garis besar para teoretisi politik Islam merumuskan teori-teori tentang hubungan agama dan negara serta membedakannya menjadi tiga paradigma yaitu Paradigma Integralistik, Paradigma Simbiotik, dan Paradigma Sekularistik.29 Penulis mencoba untuk melihat paradigma apa yang dipakai oleh kerajaan Islam di Jawa, paling tidak dapat dilihat dari bentuk pemerintahan, gelar raja dan hukum yang dipakai. Sebelumnya akan dijelaskan apa yang dimaksud dengan tiga paradigma di atas.

Pertama, Paradigma Integralistik. Paradigma ini menerangkan bahwa agama dan negara menyatu (integrated), negara merupakan lembaga politik dan keagamaan sekaligus, politik atau negara ada dalam wilayah agama. Karena agama dan negara menyatu maka ini berakibat masyarakat tidak bisa membedakan mana aturan negara dan mana aturan agama, karena itu rakyat yang menaati segala ketentuan dan peraturan negara dalam paradigma ini dianggap taat kepada agama, begitu juga sebaliknya. Karena rakyat tidak dapat melakukan kontrol terhadap penguasa yang selalu berlindung dibalik agama maka otoritarianisme dan kesewenang-wenangan oleh penguasa tentu saja sangat potensial terjadi dalam negara dengan model seperti ini. Kepala negara merupakan “penjelmaan” dari Tuhan yang meniscayakan ketundukan mutlak tanpa ada alternatif yang lain. Atas nama “Tuhan” penguasa bisa berbuat apa saja dan menabukan perlawanan rakyat.30 Secara singkat dapat dikatakan bahwa inti landasan teologis paradigma pertama ini adalah keyakinan akan watak holistik Islam. Premis keagamaan ini dipandang sebagai petunjuk bahwa Islam menyediakan ajaran yang lengkap mengenai semua aspek kehidupan. Bahkan, sudut pandang khusus ini menjadi basis utama pemahaman bahwa Islam tidak mengakui pemisahan antara agama dan negara, antara yang transendental dan yang profan.31

28Menurut Van Goens, “di atas semua bangsawan penguasa itu, terdapat kira-kira 4.000 petugas

pengadilan yang tersebar di seluruh negeri dan ditempatkan di bawah wewenang empat hakim militer yang menetap di Keraton.” Sebagaimana dikutip oleh Dennys Lombard, Silang Jawa, Buku 3, h. 39.

29 Marzuki Wahid & Rumaidi, “Fiqh Madzhab Negara” Kritik Atas Politik Hukum Islam Di Indonesia (Yogyakarta: LkiS, 2001), h. 2.

30 Dalam terminologi Islam hal ini dikenal dengan nama din wa dawlah. Untuk lebih jelasnya lihat

Din Syamsuddin, Usaha Pencarian Konsep Negara dalam Sejarah Pemikiran Politik Islam, dalam Jurnal

Ulumul Qur`an, Nomor 2, Vol. IV, tahun 1992, h. 4-7.

31Lihat Masykuri Abdillah, Demokrasi di Persimpangan Makna, h. 57. Bandingkan dengan Munawir

(6)

Kedua, Paradigma Simbiotik. Paradigma ini berpandangan bahwa agama dan negara berhubungan secara mutualistik, yaitu berhubungan timbal balik dan saling membutuhkan-menguntungkan. Dalam kaitan ini, agama membutuhkan negara. Sebab, melalui negara, agama dapat berbiak dengan baik. Hukum-hukum agama juga dapat ditegakkan melalui kekuasaan negara. Begitu juga sebaliknya, Negara memerlukan kehadiran agama, karena hanya dengan agama suatu negara dapat berjalan dalam sinaran etik-moral.32

Ketiga, Paradigma Sekularistik. Paradigma ini memisahkan agama atas negara dan memisahkan negara dari agama. Dengan pengertian ini secara tidak langsung akan menjelaskan bahwa paradigma ini menolak kedua paradigma sebelumnya. Dalam konteks Islam, paradigma ini menolak pendasaran negara kepada Islam, atau paling tidak menolak determinasi Islam pada bentuk negara tertentu.33

Jawa sebelum Islam masuk telah menganut agama Hindu dan Budha. Dalam agama Hindu terdapat hirarki sosial, dimana masyarakat dikelompokkan dalam empat kasta, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Setiap kasta mempunyai tugas dan tanggungjawabnya masing-masing, hal ini dapat dilihat di Negarakertagama. Selain itu agama Hindu juga telah memperkenalkan dewa-dewa sebagai penguasa tertinggi yang harus dihormati sekaligus dipuja. Dengan sendirinya, Raja sebagai kepala pemerintahan harus pula menghormati dewa-dewanya.

Adanya kekuasaan pemerintahan dan kekuasaan keagamaan semacam ini, tentu dianggap dapat memperlemah kedudukan raja. Oleh karena itu dengan berbagai cara, raja berusaha memperkuat kedudukanya. Cara yang ditempuh, adalah dengan pendekatan yang bersifat “legitimasi”. Melalui para pendeta, pujangga, maupun pegawai istana yang ahli di bidangnya, dibuatlah hikayat, pantun, mitos, babad, silsilah, serta lain-lainnya, yang pada dasarnya berisi penjelasan guna melegitimasikan kekuasaan raja.

Legitimasi di atas paling jelas terlihat pada tahapan dini atau permulaan baru ketika sebuah kerajaan berdiri sering dikaitkan dengan magis dan agama. Kesakralan kekuasaan juga terlihat dalam perasaan-perasaan yang mengikat rakyat pada rajanya, biasanya dengan menggunakan mitologi yang menjelaskan ketergantungan manusia secara berganda kepada para dewa dan rajanya. Terkadang suatu penghormatan tidak dapat diterangkan dengan akal budi.34

Bagi masyarakat Jawa, khususnya yang menganut mistik, para raja dianggap termasuk unsur-unsur mistik di bumi ini yang amat penuh kuasa, yang mewadahi kekuatan kosmis. Kekuasaan duniawi mereka, adalah pertanda wahyu, berkat

adikodrati, dan eratnya hubungan mereka dengan sumber-sumber kekuatan asali dianggap memancarkan kekuatan magis yang berasal dari pribadi raja, memberkati dan menjamin kesejahteraan para warga. Kraton di bangun dengan mencontoh gambaran kosmos, melambangkan kedudukan raja di dunia ini selaku pusat semesta. Nama-nama dari dua raja yang masih dapat ditemukan di Jawa, yakni Paku Buwono di Solo dan Paku Alam di Yogyakarta, yang sama-sama berarti “poros dunia”, mengingatkan kita pada anggapan ini.35

32Marzuki Wahid & Rumadi, Fiqh Madzhab… h. 24-26 33Marzuki Wahid & Rumadi, Fiqh Madzhab…h. 28.

34 George Balandier, “Agama dan Kekuasaan”, dalam Sartono Kartodirdjo (ed.), Kepemimpinan dalam Dimensi Sosial, Jakarta: LP3ES, 1984. h. 1.

35 Niels Mulder, Kebatinan dan Hidp Sehari-hari Orang Jawa: Kelangsungan dan Perubahan Kultural,

(7)

Salah satu bentuk hubungan agama dan negara dapat dilihat dari beberapa pemakaian gelar Raja atau sultan. Sunan Ampel memberi gelar kepada sultan pertama kerajaan Demak, Raden Patah dengan gelar Sultan Alam Akbar Al Fatah. Sedangkan dalam Babat Tanah Jawi disebutkan bahwa gelar Raden Patah adalah Senapati Jimbun Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayyidin Panatagama. Sunan Gunung Jati menganugerahkan gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin kepada sultan Trenggana. Sultan Adiwijaya sebagai raja Pajang memberikan gelar kepada Panembahan Senopati

“Senapati Ing Alaga” yang selanjutnya diwariskan kepada keturunan raja-raja Mataram dengan gelar Senapati Ing Alaga Ngabdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah.

Masjid Demak sebagai masjid para wali mempunyai kedudukan yang terpandang pada waktu itu. Masjid Demak bukan saja sebagai masjid Agung akan tetapi juga menjadi pusat kerajaan Islam pertama di Jawa. Masjid Demak disamakan kedudukannya dengan Masjidil Haram di Makkah. Bahkan terdapat anggapan bahwa mengunjungi Masjid Demak dan makam-makam orang suci di Demak tersebut disamakan dengan naik Haji ke Mekkah.36

Kitab perundang-undangan Jawa pada masa kerajaan Islam Jawa setidaknya bersumber dari Hukum Islam dan Adat-Istiadat masyarakat setempat. Pada masa kasultanan Demak terdapat kitab undang-undang, yaitu Suria Alem atau Surya Alam,

Serat Suryangalam. Isi Naskah Serat Angger-Angger Suryangalam dan Serat Suryangalam pada dasarnya hampir sama, bahkan kedua naskah ini memilii redaksi teks yang sama pada bab pembukaan yang mengatur mengenai aturan berpekara di pengadilan dan pedoman-pedoman bagi hakim dalam memutuskan perkara serta syarat-syarat saksi di pengadilan. Namun pada bagian berikutnya meskipun ketentuan hukum mengenai aturan hutang piutang, hukuman pembunuhan, pencurian dan melukai orang lain hampir sama. Naskah Serat Angger-Angger Suryangalam murni berisi undang-undang atau aturan-aturan, sedangkan naskah Serat Suryangalam isinya bercampur dengan naseha-nasehat dan ajaran-ajaran agama Islam, misalnya perintah melaksanakan salat dan puasa dengan penjelasan tata caranya.37

Dalam naskah Serat Angger-Angger Suryangalam dan Serat Suryangalam

dijelaskan bahwa hukum yang berlaku di kerajaan Demak berdasarkan hukum Islam dengan berpegang pada al-Qur’an dan Hadis. Hal ini ditegaskan dalam pembukaan undangundang dan sering juga ditegaskan kembali pada bagian yang lain dengan redaksi kata yang berbeda. Disebutkan dalam naskah Serat Angger-Angger Suryangalam: sang ratu puniko deneanrapaken ukumullah” “dosane tananglakokan sak pakeme aksarane, angowahi sapangandikaning Allah tangala, kang tinimbalaken dawuhing kangjeng Nabi kito Mukammad salalu ngalaihi wasalam”. Sedangkan dalam

Serat Suryangalam disebutkan “ ukumullah kang den gawe pangilon”.

Serat Angger-Angger Suryangalam berisi tata hukum Islamyang bersumber pada kitab Anwar, sesuai dengan konsep formulasi Pangeran Adipati Ngadilaga (Senopati Jinbun atau Raden Fatah) yang dituangkan dalam undang-undang oleh Raden Arya Trenggono (Sultan Demak III) yang saat itu masih menjabat sebagai jaksa, undang-undang ini kemudian disebut sebagai Undang-Undang Jawa Suryangalam,

36 Prof. A. Daliman, Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia,

Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2012, h. 129-131.

(8)

undang ini kemudian dijadikan sebagai salah satu sumber hukum kerajaan-kerajaan berikutnya (Pajang dan Mataram).38

Pengadilan hukum dilakukan oleh penghulu atau pemimpin agama tertinggi diadakan di serambi masjid atau beranda masjid. Pelaksanaannya disaksikan oleh masyarakat dengan rasa hormat yang cukup besar dan terlihat sangat adil. Tempat tersebut juga sangat cocok untuk menjadi tempat pengambilan sumpah dan biasanya diikuti dengan ketaatan sangat tinggi. Selain penghulu ada empat orang lainnya yang sering disebut Pateh Nagari yang secara harfiah berarti pilar atau pendukung negara.

Pateh Nagari ini bertugas untuk menemukan fakta-fakta, bukti dan pelaksanakan hukum secara umum. Dalam pemerintahan, Raja atau Menterinya mempunyai wewenang mengesahkan keputusan pengadilan.39

Dengan paradigma di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan pemerintahan atau tata negara, kerajaan-kerajaan Islam di Jawa terkadang menggunakan paradigma integralistik dan terkadang menggunakan paradigma simbiotik, yang terakhir ini lebih menonjol. Hal ini terlihat dari penggunaan bahasa dari kitab undang-undang yang tidak langsung menggunakan bahasa Arab yang notabene bahasa utama agama Islam. Proses akulturasi dan osmosis dapat terlihat dalam pembentukan hukum yang berlaku di kerajaan, dimana sumber hukum kerajaan diambil dari Hukum Islam dan adat-istiadat setempat, sehingga hukum diharapkan lebih hidup (living law).

Kasultanan Demak

Bahwa Demak merupakan tempat penting dilihat dari segi agama Islam dapat disimpulkan berdasarkan cerita bahwa wali-wali di Jawa berpusat di masjid keramat Demak, yaitu yang menurut cerita tersebut didirikan oleh wali itu secara

bersama-sama”. 40 Wali Songo dalam posisinya dalam kerajaan dapat dikatakan juga sebagai

ulama kerajaan, namun juga adalah sebagai juga penentu atau penasihat agama Islam. Selain itu juga ketika penyebaran Islam dengan merebut kekuasaan, para wali juga ikut berperan dalam bidang politik kenegaraan.

De Graaf dan Pigeaud menjelaskan bahwa Sebagai ahli dan penegak hukum fiqh (= fakih) di Demak yang beragama Islam itu, sudah tentu bertindak seorang kiai dari kalangan alim ulama. Jabatan pemangku hukum syariat dan fungsi pemimpin masjid (imam), sudah sejak permulaan zaman Islam di Jawa berhubungan erat. Gelar

“panghulu” (kepala), yang sudah dipakai oleh imam-imam di Demak, mungkin suatu bukti betapa besarnya kekuasaan yang mereka peroleh juga di bidang hukum.41

Peranan Wali Songo dalam politik Kerajaan Demak salah satunya, Imron Abu Amar menjelaskan bahwa dalam buku Babad Demak disebutkan, bahwa Sunan Giri tetap mencalonkan Sunan Prawoto untuk menjadi Sultan Demak tetapi Sunan Prawoto sendiri telah tercemar pribadinya karena tertuduh membunuh Pangeran Sedo Lepen. Sedang suara Sunan Kudus lain lagi, beliau mencalonkan Arya Penangsang (Adipati Jipang), karena Arya Penangsang adalah pewaris (keturunan) lansung Sultan Demak dari garis keturunan yang tertua, kecuali itu Arya Penangsang adalah orang yang

38 TE Behrend, Katalog Induk Naskah- Naskah Nusantara Musium Sono Budoyo, Yogyakarta:

Djambatan,1990, h. 95

39 Thomas Stamford Raffles, The History of Java (Terj.), ... h. 178

40 Supratikno Rahardjo dan Wiwin Djuwita Ramelan. 1997. Kota Demak Sebagai Bandar Dagang di

Jalur Sutra. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, h. 62

41 H. J. Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud. 1986. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa Peralihan dari

(9)

mempunyai sikap kepribadian yang teguh dan pemberani. Lain halnya dengan Sunan Kalijaga, beliau ini mencalonkan Hadiwijaya (Adipati Pajang) atau sering disebut juga

dengan nama “Djoko Tingkir”, ia adalah manantu Sultan Trenggono.

Sikap pencalonan Sunan Kalijaga terhadap diri Pangeran Hadiwijaya ini disertai alasan bahwa jika yang tampil Pangeran Hadiwijaya, maka pusat kesultanan (kerajaan) Islam Demak akan dapat dipindahkan ke Pajang, sebab apabila masih di Demak, agama Islam kurang berkembang, sebaliknya akan lebih berkembang pesat apabila pusat kesultanan itu berada di pedalaman (di Pajang). Sikap dan pendapat Sunan Kalijaga ini tampaknya kurang disetujui oleh Sunan Kudus, karena Sunan yang satu ini berpendapat apabila kegiatan pengembangan Islam berpusat di pedalaman (di Pajang) sangat dikhawatirkan ajaran Islam yang mulia, terutama menyangkut bidang Tasawwuf besar

kemungkinannya bercampur dengan ajaran “Mistik” atau Klenik. Dari pendapat ini

menunjukkan bahwa Sunan Kudus tidak setuju dengan sikap dan pendapat Sunan Kalijaga yang mencalonkan Pangeran Hadiwijaya.42

Kerajaan Demak pada waktu diperintah Sultan Trenggana (1504-1546) merupakan pusat perekonomian, politik dan keagamaan. 43 Sultan Trenggana telah menyusun kitab undang-undang untuk daerah pesisir jawa, yaitu Salokantara. Kitab ini kemungkinan dapat menunjukkan sejauhmana hukum Hindu-Jawa dan hukum Islam berhasil terpadu, sayangnya kitab ini telah hilang.44 Selain kitab tersebut, terdapat kitab undang-undang hukum lainnya, yaitu serat angger-angger suryangalam yang telah sedikit disinggung di atas, yang selanjutnya kitab tersebut digunakan sebagian atau keseluruhannya oleh kerajaan Pajang dan Mataram Islam.

Kasultanan Cirebon

Kerajaan Sunda Pajajaran sendiri pada saat itu di pimpin oleh raja yang bergelar Sri Paduka (Baduga) Maharaja atau yang lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi.45 Karena Prabu Siliwangi penganut ajaran Sang Hyang/HinduBudha, maka masuknya agama Islam dibatasi agar tidak mengancam kekuasaannya. Akan tetapi, penyebaran Islam di Cirebon menjadi berkembang pesat setelah Pangeran Cakrabuana menjadi Kuwu di Cirebon. Pangeran Cakrabuana adalah Raden Walangsungsang, anak Sulung Prabu Siliwangi dan Permaisuri Nyai Subang Larang yang beragama Islam. Dari pernikahan Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang lahir tiga keturunan bernama Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Raja Sengara/Kian Santang.46 Setelah dewasa Raden Walangsungsang diperkenankan meninggalkan Pajajaran untuk memperdalam ilmu Islamnya disusul kemudian oleh adiknya Lara Santang. Diperjalanan menuju Cirebon Raden Walangsungsang menikah dengan Nyai Endang Geulis.

Setelah mendirikan pedukuhan Raden Walangsungsang dan Lara Santang pergi menunaikan Ibadah Haji. Diperjalanannya Lara Santang menikah dengan Syarif Abdillah Bin Nurul Alim, Sultan Mesir yang bergelar Sulthon Makhmud Syarif Abdullah dari

42 Amar, Abu Imron. 1996. Sejarah Ringkas Kerajaan Islam Demak. Kudus: Menara Kudus, h. 23-24. 43 Dennys Lombard, Nusa Jawa; Silang Budaya Jaringan Asia, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama,

Cet. 4, 2008, h. 52.

44 Lihat karya H.J de Graaf & Th. Pigeaud, De eersle Moslimse Vorstendommen op Java, 1974,h. 66,

sebagimana dikutip Dennys Lombard, Nusa Jawa; Silang Budaya Jaringan Asia, h. 54.

45 M. Sanggupri Bochari dan Wiwi Kuswiah, Sejarah Kerajaan TradisionalCirebon.(Jakarta: Suko

Rejo Bersinar, 2001),hlm. 6

46 P. S. Sulendraningrat, Sejarah Cirebon. (Cirebon: Lembaga Kebudayaan Wilayah Tingkat III

(10)

keluarga Bani Hasyim. Agar mudah diterima kemudian nama Lara Santang diubah menjadi Syarifah Muda’im. Dari pernikahan ini Syarifah M

uda’im melahirkan dua orang putra yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Syarif Hidayatullah kelak menjadi Sultan pertama di Kesultanan Cirebon dan menjadi salah satu diantara Wali Songo, para penyebar agama Islam di Jawa.

Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah yang pada tahun 1479 M mendapat restu Pangeran Cakrabuana dan dewan Walisongo yang diketuai Sunan Ampel telah menghentikan upeti kepada Pajajaran yang menandakan telah berdirinya Cirebon.47 Saat itulah Kesultanan Cirebon berdiri terlepas dari Pajajaran dan menjadi Kerajaan yang berdaulat. Setelah Sunan Gunung Jati mendirikan dan memimpin Kesultanan Cirebon, proses Islamisasi menjadi lebih nyata terjadi. Hal itu terlihat dari wilayah kekuasaan Kesultanan Cirebon, antara lain Luragung, Kuningan, Banten, Sunda Kelapa, Galuh, Sumedang, Japura Talaga, Losari dan Pasir Luhur.

Penyebutan Kasultanan setidaknya dimulai sejak Syarif Hidayatullah memerintah, sekitar 1479 M. Meski dalam berbagai sumber naskah kuno, waktu itu penguasa-penguasanya belum digelari sultan, tetapi masih panembahan atau pangeran. Sementara pemberian gelar sultan kepada raja-raja atau penguasa Cirebon baru dilakukan ketika Cirebon dibagi atas dua kasultanan, yaitu Kasepuhan dan Kanoman (sekitar tahun 1677).48 Pada tahun 1525-1526, penyebaran Islam yang dilakukan Kasultanan Cirebon ke wilayah Banten, Syarif Hidayatullah berhasil meruntuhkan pemerintahan Pucuk Unum, penguasa kadipaten Banten Girang dari Kerajaan Sunda Pajajaran dan menempatkan putranya Maulana Hasanuddin sebagai pemimpin disana. Kasultanan Cirebon bersama Kasultanan Demak menyerang kota pelabuhan utama Kerajaan Sunda Pajajaran, yaitu Sunda Kalapa pada tanggal 22 Juni 1527. Keberhasilan serangan tentara gabungan tersebut dipimpin oleh Fadillah Khan (berdasarkan Carita Purwaka Caruban Nagari), atau Falatehan (berdasarkan berita Portugis de Barros) dalam merebut kota palabuhan tersebut dan mengusir tentara Portugis di bawah pimpinan Fransisco de Sa.49

Kasultanan Banten

Sebagai bandar dagang di pesisir utara Jawa bagian barat, Banten diperkirakan muncul pada masa Kerajaan Sunda. Dalam buku kisah perjalanan Ceng Ho yang ditulis oleh Ma Huan yang terbit pada tahun 1416, yaitu Ying-Yai-Sheng-Lan (Catatan Umum Pantai-Pantai Samudera), Banten disebut dengan nama Shun-t’a (Sunda). Demikian pula halnya dalam berbagai sumber Cina yang dihimpun oleh Groeneveldt, salah satu daerah di Nusantara yang mereka kenal pada masa Dinasti Ming adalah Sun-la, yang dianggap lafal Cina untuk Sunda. (Supratikno Rahardjo, dkk,2011:32).

Letak Banten yang berada di dekat Selat Sunda menjadikankedudukannya sangat strategis, mengingat kegiatan perdagangan diNusantara dan Asia serta kedudukan barang dengan rempah-rempah di pasar internasional makin meningkat, seiring dengan berdatanganya para pedagang Eropa ke wilayah ini. setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511, Selat Sunda menjadi pintu masuk utama ke Nusantara bagian timur lewat Pantai Barat Sumatera bagi pedagang-pedagang muslim, dan kemudian bagi para pedagang Eropa yang datang dari arah ujung selatan Afrika dan Samudera Hindia (Sri Sutjianingsih (Ed.), 1997: 18).

47 P. S. Sulendraningrat, Sejarah Cirebon.... h. 15

48 Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, 2009,

h. 163.

(11)

Sultan pertama Banten, Maulana Hasanuddin, memerintah tahun 1527-1570. Pada masa pemerintahan Hasanuddin, kekuasaan Kesultanan Banten diperluas ke Lampung hingga Sumatera Selatan. Pasca Maulana Hasanuddin, Kesultanan Banten menunjukkan signifikansi kemajuan sebagai sebuah kerajaan Islam di Nusantara. Sultan Maulana Yusuf, sebagai pengganti ayahnya, memimpin pembangunan Kesultanan Banten di segala bidang. Strategi pembangunan lebih dititikberatkan pada pengembangan infrastruktur kota, pemukiman penduduk, keamanan wilayah, perdagangan dan pertanian.

Maulana Hasanuddin sebagai raja pertama di Kesultanan Banten, memimpin Banten setelah berhasil mengalahkan Prabu Pucuk Umun di Banten Girang. Kebijakan pertama dalam pemerintahannya adalah memindahkan pusat kerajaan dari Banten Girang ke Banten Lama. Pemindahan pusat pemerintahan Banten dari pedalaman ke pesisir merupakan petunjuk dari Sunan Gunung Jati kepada Maulana Hasanuddin.

Pusat pemerintahan, yang tadinya berada di pedalaman Banten yakni Banten Girang, dipindahkan ke dekat Pelabuhan Banten (Banten Lama). Sunan Gunung Jati menentukan posisi dalem (istana), benteng, pasar, dan alunalun yang harus dibangun. Tempat ini kemudian diberi nama Surosowan dan menjadi Ibu kota Kerajaan Islam Banten, setelah penaklukan Banten Girang oleh orang-orang Islam.

Penaklukan Ibukota oleh Maulana Hasanuddin diceritakan dengan singkat dalam Sajarah Banten (SB), dan tahunnya terungkap dalam candra sengkala brastha gempung warna tunggal, yang oleh Hoesein Djajadiningrat ditafsirkan sebagai tahun 1400 Saka, atau 1478 M. tenyata tahun 1400 Saka disebut juga dalam babad-babad Jawa sebagai tahun keruntuhan Majapahit, yaitu saat awal zaman Islam di Jawa. Menurut sumber Portugis, Banten Girang jatuh ke tangan kaum Muslim pada akhir tahun 1526 atau awal tahun 1527. Namun, tradisi lokal banyak yang menyebutkan bahwa pemindahan ibukota terjadi pada tahun 1526 M.

Sultan Maulana Yusuf juga mencetuskan sebuah konsep pembangunan infrastruktur kota yang dikenal dengan semboyannya gawe kuta baluwarti bata kalawan kawis.50 Sultan Maulana Yusuf membangun pemukiman-pemukiman masyarakat sesuai dengan pembagian penduduk berdasarkan pekerjaan, status dalam pemerintahan, ras dan sosial ekonomi.Kampung Kasunyatan merupakan salah satu pemukiman yang dibangun bagi kaum ulama. Sesuai dengan namanya kampung ini merupakan pusat pembelajaran agama Islam masa Sultan Maulana Yusuf, bahkan sampaisekarang.

Penerapan konsep gawe kuta baluwarti bata kalawan kawis pada pengembangan Kesultanan Banten oleh Sultan Maulana Yusuf dilakukan dengan membangun berbagai infrastruktur primer kota, dengan menggunakan bahan baku bangunan utama berupa batu batu dan karang (kawis). Infrastruktur Kota Banten yang terpenting yang dibangun dan dikembangkan oleh Sultan Maulana Yusuf adalah: Pertama, pengembangan Keraton Surosowan;Kedua, pengembangan Masjid Agung Banten Ketiga, pengembangan pasar dan pelabuhan;Keempat, jaringan irigasi dan juga air bersih; Kelima, pembangunan Jembatan Rante sebagai fasilitas transportasi darat yang menghubungkan dua jalan utama di Kesultanan Banten dan menjadi tolhuis atau tempat untuk menarik pajak kapal-kapal kecil yang melintas diatasnya.

Sebagaimana kerajaan tradisional lainnya, kekuasaan Sultan di sini mempunyai otoritas tertinggi serta mempunyai hak prerogratif penuh atas segala urusan, baik

50 semboyan ini berarti “membangun kota perbentengan dengan (batu) bata dan karang”.

(12)

politik atau lainnya. Pengakuan dan pengukuhan atas jabatan Sultan ditetapkan berdasarkan warisan.

Dalam melaksanakan tugasnya (bidang administratif pemerintahan) Sultan dibantu seorang Mangkubumi dan beberapa pejabat bawahannya; mereka ini terdiri dari golongan elite yang kebanyakan bukan golongan pangeran atau kaum bangsawan lain. Adapun khusus untuk kerabat Sultan atau kaum bangsawan menempati strata lebih rendah di bawah Sultan dan lebih tinggi di atas pejabat administratif.

Untuk urusan birokrasi pusat dikepalai oleh seorang patih (wazir besar) yang dibantu dua orang kliwon yang juga disebut Patih, sedang pengadilan dan keagamaan diserahkan kepada Fakih Hajamuddin. Setingkat di bawahnya adalah para punggawa yang menangani bidang administrasi dan pengawasan terhadap perekonomian negara. Syahbandar adalah pejabat negara yang ditugasi untuk mengawasi perdangan luar negeri di kota-kota pelabuhan. Sejajar dengan pejabat-pejabat di kota-kota pelabuhan ialah para kepala daerah.51

Kerajaan Pajang

Sepeninggal Arya Penangsang, tahun 1568 Jaka Tingkir mendapat restu dari Sunan Kudus untuk menjadi Sultan di Pajang yang kemudian menggunakan gelar Sultan Hadiwijaya dalam memerintah kesultanan Pajang. Sultan Hadiwijaya didampingi oleh permaisuri Ratu Mas Cempaka (putri Sultan Trenggono) selama memerintah Kerajaaan Pajang.52

Sultan Hadiwijaya diangkat sebagai raja di Kerajaan Pajang, tidak lepas dari jasanya yang telah berhasil menyelesaikan konflik di Kerajaan Demak. Selain karena jasa telah menyelesaikan konflik di Kerajaan Demak, Jaka Tingkir diangkat menjadi raja Pajang karena merupakan keturunan dari keluarga Kerajaan Majapahit, asal usul Jaka Tingkir memiliki nama asli Mas Karebet. Ayah Jaka Tingkir merupakan murid Syekh Siti Jenar yang bernama Ki Ageng Pengging. Ayah Jaka Tingkir mempunyai teman seorang dalang yang bernama Ki Ageng Tingkir. Saat Jaka Tingkir dilahirkan, Ki Ageng sedang melaksanakan pergelaran wayang dengan Ki Ageng Tingkir.53

Sebelum resmi mendirikan kerajaan ini, Jaka Tingkir yang berasal dari daerah Pengging ini, sudah memegang jabatan sebagai penguasa di daerah Pajang pada masa Sultan Trenggono. Kerajaan ini juga dinilai sebagai pelanjut dan pewaris dari kerajaan Demak. Kerajaan Pajang terletak di daerah Kertasura dan merupakan kerajaan Islam pertama yang terletak di daerah pedalaman pulau Jawa. Kerajaan Pajang ini tidak berusia lama, karena kemudian bertemu dengan suatu kerajaan Islam besar yang juga terletak di Jawa Tengah yaitu kerajaan Mataram.

Pada awal berdirinya, wilayah kekuasaan Pajang hanya meliputi daerah Jawa Tengah. Hal itu disebabkan karena setelah kematian Sultan Trenggono, banyak wilayah jawa Timur yang melepaskan diri. Namun pada tanggal 1568 M, Sultan Hadiwijaya dan para Adipati Jawa Timur dipertemukan di Giri Kedaton oleh Sunan Prapen. Dalam Kesempatan itu, para adipati sepakat mengakui kedaulatan Pajang diatas negeri – negeri Jawa Timur, maka secara sah kerajaan Pajang telah berdiri. Selanjutnya, kerajaan Pajang mulai melakukan ekspansi ke beberapa wilayah, meliputi juga wilayah Jawa Timur.

51 Ambary, Sejarah Banten, h. 98

52 Adji, K. B. & Achmad, S. W. 2014. Sejarah Raja-Raja Jawa Dari Mataram Kuno Hingga Mataram

Islam. Yogyakarta: Araska, h. 225.

(13)

Setelah sultan Hadiwijaya meninggal, terjadi perebutan kekuasaan antara penerus-penerusnya. Kemudian ia digantikan oleh Aria Pangiri yang berasal dari Demak. Aria Pangiri kemudian bertempat tinggal di keraton Pajang. Dalam menjalankan roda pemerntahannya, Arya Pangiri banyak didampingi oleh orang-orang dari Demak. Selain itu, tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Arya Pangiri juga banyak yang merugikan rakyat, sehingga menimbulkan rasa tidak senang dari rakyat. Sementara itu, seorang anak dari sultan Hadiwijaya yang bernama Benawa, dijadikan penguasa di Jipang. Pangeran Benawa merasa tidak puas dengan jabatan yang didapatnya. Sehingga ia meminta bantuan kepada senopati Mataram, Sutawijaya, untuk menyingkirkan Aria Pangiri.

Pada tahun 1586, Pangeran Benawa yang telah bersekutu dengan Sutawijaya, mengambil keputusan untuk menyerbu Pajang. Gabungan pasukan Mataram dan Jipang berangkat untuk menurunkan Arya Pangiri dari takhtanya. Senopati tersebut kemudian meminta “Perhiasan emas intan kerajaan Pajang”. Dengan demikian, pangeran Benawa dikukuhkan menjadi sultan di kerajaan Pajang, namun dibawah kekuasaan Mataram. Sepeninggal sultan Benawa, terdapat beberapa orang sultan yang sempat memerintah. Tetapi pada tahun 1617-1618 M, terjadi pemberontakan besar di Pajang yang dipimpin oleh Sultan Agung. Pada tahun 1618 M, kerajaan Pajang mengalami kekalahan melawan Mataram.

Kerajaan Mataram Islam

Wilayah Mataram di akhir abad ke-16 (pada masa pemerintahan Sultan Pajang - Jaka Tingkir) telah dibedah kembali oleh seorang Panglima Pajang " Ki Gede Ngenis" yang kemudian popuier dengan Ki Pemanahan dengan suatu misinya untuk memasukkan wilayah tersebut ke dalam pengaruh Islam dibawah panji kerajaan Pajang. Wilayah Mataram dianugerahkan Sultan Pajang kepada Ki Gede Ngenis beserta puteranya, yang kelak menjadi Panembahan Senopati, atas jasa mereka dalam ikut serta melumpuhkan Aria Penangsang di Jipang Panolan.54 Setelah wafat ia diganti putranya,

ngabehi Loring Pasar, yang kemudian diberi gelar oleh Sultan Pajang sebagai Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama atau mashur dengan Panembahan Senopati.55

Berbeda dengan ayahnya, yang menempuh jalan patuh sebagai kerajaan bawahan Pajang, ia dengan sengaja mengabaikan kewajibannya sebagai raja bawahan dengan tidak seba atau sowan56 tahunan terhadap raja Pajang. Konsekuensinya

akhirnya raja Pajang memutuskan untuk menyelesaikan pembangkangan Mataram dengan jalan kekerasan dan kekuatan senjata. Ekspedisi penyerbuan dibawah komando Sultan Pajang sendiri itu mengalami kegagalan karena bersamaan dengan meletusnya Gunung Merapi yang mengakibatkan bercerai berainya prajurit Pajang. Beberapa saat kemudian, sekembalinya dari ekspedisi yang gagal itu, Sultan Pajang menmggal dunia. momentum ini dimanfaatkan oleh Panembahan Senopati untuk memproklamasikan dirinya sebagai penguasa di seluruh Jawa.57

Senopati Mataram merupakan figur penguasa yang agresif. Semenjak ia menobatkan dirinya menjadi penguasa banvak sekali kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan sebagian di jawa Timur menjadi ajang taklukannya. Tercatat pada masa

54 H.J. De Graaf dan T.H. G. T.H. Pigeaud, Kerajaan-kerajaan Islam di Java, terj. Grafiti pressdan

KITLY, PT Grafiti pers. Jakarta. 1985, hal. 277-281

55 Kartodirdjo, Sejarah .Xasional. III., hal. 286

56 Seba atau sowan adalah sidang raja-raja yang diselenggarakan oleh raja yang paling besar

pengaruhnya.

(14)

berkuasanya (1584-1601 M), Pajang dan Demak dapat ditaklukan pada tahun 1588 (konon semenjak peristiwa ini ia mendapat gelar Panembahan) memnsul kemudian Madiun pada tahun 1590 dan Jepara (Kalinyamat) pada tahunl599. Pada tahun yang bersamaan Tuban juga diserang yaitu tahun 1598 dan 1599 tetapi masih dapat bertahan hingga diduduki pada tahun 1619 oleh Sultan Agung.58

Keabsahan (legitimitasi) kedudukan dan kekuasaan raja Mataram, kecuali Panembahan Senopati, diperoleh karena warisan. Secara tradisional pengganti raja-raja ditetapkan putera laki-laki tertua dari permaisuri raja (garwa padmi), bila tidak ada maka putra laki-laki dari isteri selir (garwa ampeyan) pun bisa dinobatkan sebagai pengganti raja. Apabila terpaksanva dari keduanya tidak didapatkan masa saudara laki-laki, paman atau saudara laki-laki tua dari ayahnya bisa menjadi pengganti.59

Referensi

Dokumen terkait

Hingga memasuki Abad XXI Pemerintahan Badung yang diwarisi dari kekuasaan Raja I Gusti Ngurah Agung yang peran politiknya sangat dominan dalam pemerintahan dengan masih

Indonesia sebagai Negara dengan penganut Islam terbesar seluruh dunia, mempunyai sejarah panjang dan teori-teori tentang bagaimana masuk dan berkembangnya agama terbesar ini

Pendapat Zollinger yang kemudian dikutif oleh Braam Morris menyatakan bahwa agama Islam pertama kali datang di Bima antara tahun 1450-1540, sultan Bima yang pertama meme- luk

Namun untuk sementara mereka tidak dapat berbuat banyak menghadapi kekuatan Karangasem Bali yang berada di Lombok Setelah Mataram sah sebagai pemegang kekuasaan utama di

Pada abad enam belas, sebagian besar wilayah Afrika Utara (kecuali Maroko), sebagaimana beberapa pemerintahan bangsa Arab di Timur Tengah, jatuh ke tangan

Sejarah politik dan pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak bisa lepas dari dinamika tahta kerajaan Mataram Islam atau yang sekarang dikenal sebagai Keraton

Islam datang keindonesia pada abad ke- 13 M dari Gujarat (bukan dari arab langsung)dengan bukti ditemukannya makam sultan yang beragama islam  pertama malik

Pesisir barat Sumatera kemungkinan merupakan penghasil kapur Barus.6 Jika benar bahwa sejak permulaan abad Masehi sampai pada abad ke 7 M telah ada hubungan dagang antara Nusantara