PENGARUH EFISIENSI DAN KEMANDIRIAN KEUANGAN DAERAH TERHADAP BELANJA MODAL DI WILAYAH SUMATERA SELATAN
Dinarossi Utami1 Darma Yanti2
Program Studi Manajemen1dan Akuntansi2, Universitas Muhammadiyah
Abstrak
Penelitian ini berjudul Efisiensi Dan Kemandirian Keuangan Daerah Terhadap Belanja Modal Di Wilayah Sumatera Bagian Selatan. Permasalahan penelitian adalah bagaimana kesiapan keuangan daerah di wilayah Sumatera untuk meningkatkan pembangunan daerah yang terlihat dari penggunaan belanja modal daerah. Sedangkan tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh kemampuan keuangan daerah yang terlihat dari efisiensi dan kemandirian keuangan daerah terhadap belanja modal di wilayah Sumatera bagian selatan. Variabel independen terdiri dari variabel efisiensi keuangan daerah dan variabel kemandirian keuangan daerah serta variabel belanja modal sebagai variabel dependen. Periode analisis terdiri dari sepuluh tahun yang dimulai dari tahun 2004 sampai dengan 2013 serta menggunakan lima provinsi di wilayah Sumatera bagian selatan. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Model analisis penelitian menggunakan regresi berganda dengan model estimasi Fixed Effect. Kemudian melakukan evaluasi atau uji spesifikasi model dengan kriteria ekonometrika, kriteria statistik dan kriteria ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan variabel efisiensi keuangan daerah dan variabel kemandirian keuangan daerah berpengaruh signifikan terhadap belanja modal dengan nilai koefisien determinasi (R2) menunjukkan bahwa sebesar 97,12 persen. Sedangkan secara parsial, masing-masing variabel mempunyai arah yang sesuai dengan teori dimana kedua variabel mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap belanja modal.
Kata kunci : Efisiensi Keuangan Daerah, Kemandirian Keuangan Daerah, Belanja Modal
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pemerintah daerah memiliki tanggung
jawab dan kesempatan dalam
menyelenggarakan kegiatan pemerintahan dari mulai perencanaan, pengawasan, pengendalian dan evaluasi. Hal ini sesuai dengan adanya desentralisasi fiskal yang telah diterapkan oleh pemerintah sejak
beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah (Kaho, 1998: 34-36), yakni : faktor manusia, faktor keuangan, faktor peralatan, serta faktor organisasi dan manajemen. Faktor-faktor tersebut harus dipersiapkan oleh daerah secara cermat dan terencana.
Proses anggaran yang telah disepakati antara pemerintah daerah dan DPRD merupakan tanggung jawab serta tantangan pihak stakeholder (pemerintah) yang menjadi subjek (ikut berperan aktif) dan objek (sasaran) pembangunan di daerah tersebut. Proses anggaran daerah yang selama ini digunakan oleh
pemerintah adalah berdasarkan
pendekatan dari bawah (bottom up
approach) dan pendekatan dari atas (top down approach) sesuai dengan siklus
anggaran. Sedangkan untuk sekarang pendekatan yang digunakan sebaiknya lebih ditekankan pada pendekatan bawah (bottom up approach).
Pengelolaan dan
pertanggungjawaban keuangan daerah yang tercermin dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) merupakan media pemerintah daerah untuk mengevaluasi prestasi pemerintah daerah dalam membiayai pembangunan daerah. Hal tersebut berarti pengalokasian
anggaran publik harus lebih
diperuntukkan pada kepentingan publik, misalnya dalam hal belanja modal. Daerah dituntut dapat mengoptimalkan potensi pendapatan yang dimiliki untuk memberikan porsi belanja daerah yang lebih besar untuk sektor-sektor produktif.Semakin tinggi investasi modal, diharapkan mampu meningkatkan kualitas
layanan publik serta meningkatkan tingkat partisipasi publik terhadap pembangunan.
Belanja modal pemerintah daerah juga digunakan untuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur di sektor pendidikan, kesehatan dan transportasi sehingga masyarakat secara langsung dapat menikmati adanya pembangunan daerah tersebut. Kebijakan otonomi daerah yang sudah dijalankan pada setiap kabupaten dan kota di Indonesia dirasakan
masih menimbulkan berbagai
permasalahan seperti ketimpangan pertumbuhan yang terjadi. Hal ini disebabkan oleh kesiapan dari masing-masing daerah yang berbeda dalam
pelaksanaan otonomi daerah.
Permasalahan ini merupakan motivasi pertama dilakukannya penelitian ini.
Berdasarkan uraian di atas, maka bagaimana kesiapan keuangan daerah yang terlihat dari efisiensi keuangan daerah dan kemandirian keuangan daerah di wilayah Sumatera bagian selatan (Provinsi Jambi, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Provinsi Bengkulu, dan Provinsi
Lampung) untuk meningkatkan
pembangunan daerah yang terlihat dari penggunaan belanja modal daerah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efisiensi keuangan dan kemandirian keuangan daerah terhadap belanja modal di wilayah Sumatera bagian selatan.
1.2 Tujuan Penelitian
mengetahui pengaruh kemampuan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keuangan Daerah
Berdasarkan Ketentuan Umum Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005, pengertian Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Ruang lingkup keuangan daerah terdiri dari keuangan daerah yang dikelola langsung (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan barang-barang inventaris milik daerah) dan Kekayaan Daerah yang dipisahkan (Badan Usaha Milik Daerah).
Menurut Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa satu tahun anggaran terhitung mulai 1 Januari sampai dengan 31 Desember. Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari : Pendapatan Daerah, Belanja Darah dan Pembiayaan Daerah. Struktur APBD tersebut diklasifikasikan menurut urusan pemerintahan dan organisasi yang bertanggung jawab melaksanakan urusan pemerintahan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
2.2 Laporan Keuangan Sektor Publik
Akuntansi pemerintahan sebagai bidang akuntansi yang berkaitan dengan lembaga pemerintahan dan lembaga-lembaga yang tidak bertujuan mencari laba (Rachmat, 2011:45). Akuntansi
Sektor Publik didefinisikan sebagai mekanisme teknik dan analisis akuntansi yang diterapkan pada pengelolaan dana masyarakat di lembaga-lembaga tinggi negara dan departemen di bawahnya, pemerintah daerah, BUMD, LSM, dan yayasan sosial, maupun pada proyek-proyek kerja sama sektor publik serta swasta (Bastian, 2010:3). Orientasi pembangunan sektor publik adalah untuk menciptakan good governance.
Berdasarkan paragraf 28 Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan SAP Berbasis Akrual dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 (Halim, 2012:78), laporan keuangan pemerintah (termasuk pemerintah daerah) terdiri atas berikut :
1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA), merupakan laporan yang menyajikan ikhtisar sumber, alokasi dan penggunaan sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah dalam satu periode pelaporan. LRA mengungkapkan kegiatan keuangan pemerintah pusat/daerah yang menunjukkan ketaatan terhadap APBN/APBD. LRA sekurang-kurangnya memuat :
a. Pendapatan-LRA b. Belanja
c. Transfer
d. Surplus/defisit-LRA e. Pembiayaan
f. Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran
2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL)
yang menyelenggarakan laporan keuangan konsolidasian. Laporan perubahan SAL menyajikan secara komparatif dengan periode sebelumya pos-pos berikut :
a. SAL awal
b. Penggunaan SAL
c. SiLPA/SiKPA tahun berjalan d. Koreksi kesalahan pembukuan
tahun sebelumnya
3. Neraca, menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu.
4. Laporan Operasional, yang setidaknya menyajikan pos-pos berikut ini :
a. Pendapatan-LO dari kegiatan operasional
b. Beban dari kegiatan operasional c. Surplus/defisit dari kegiatan
non-operasional, bila ada d. Pos luar biasa, bila ada e. Surplus/defisit LO
5. Laporan Arus Kas, adalah laporan yang menyajikan informasi mengenai sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara kas selama satu periode akuntansi, dan saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. Laporan arus kas terdiri atas arus kas masuk dan arus kas keluar dengan klasifikasi berdasarkan:
a. Aktivitas operasi b. Aktivitas investasi c. Aktivitas pendanaan d. Aktivitas transitoris
6. Laporan Perubahan Ekuitas,
merupakan laporan yang
menghubungkan antara laporan operasional dengan neraca, sehingga penyusunan laporan operasional,
laporan perubahan ekuitas, dan neraca mempunyai keterkaitan yang dapat dipertanggungjawabkan. Laporan perubahan ekuitas sekurang-kurangnya menyajikan pos-pos berikut ini:
a. Ekuitas awal
b. Surplus/defisit-LO pada periode bersangkutan
c. Koreksi-koreksi yang
langsung
menambah/mengurangi
ekuitas, misalnya : koreksi kesalahan mendasar dari persediaan yang terjadi pada periode-periode sebelumnya dan perubahan nilai aset tetap karena revaluasi aset tetap d. Ekuitas akhir
7. Catatan atas Laporan Keuangan, meliputi penjelasan atau daftar terinspirasi atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam LRA, laporan perubahan SAL, neraca, laporan operasional, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas.
2.3 Efisiensi Keuangan Daerah
=
Hasil perbandingan antara realisasi pengeluaran dan realisasi penerimaan tersebut dapat menilai suatu kinerja keuangan daerah (Medi, 1966 dalam Budiarto, 2007). Apabila kinerja keuangan diatas 100% maka dapat dikatakan tidak efisien, 90%-100% adalah kurang efisien, 80%-90% adalah cukup efisien, 60%-80% adalah efisien, dan dibawah 60% adalah sangat efisien.
2.4 Kemandirian Keuangan Daerah
Kemandirian keuangan daerah menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan
pemerintahan, pembangunan dan
pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah. Rasio kemandirian daerah mencerminkan keadaan otonomi suatu daerah yang diukur dengan besarnya pendapatan asli daerah terhadap jumlah total penerimaan daerah.
=
Kemandirian keuangan daerah
menggambarkan ketergantungan daerah terhadap sumber dana eksternal. Semakin tinggi nilai kemandirian keuangan daerah maka semakin kecil tingkat ketergntungan daerah terhadap bantuan dari luar daerah terutama pemerintah pusat. Selain itu, rasio kemandirian keuangan daerah juga mengambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah. Semakun tinggi masyarakat membayar pajak dan retribusi daerah maka semakin tinggi tingkat kesejahteraan masyarakat daerah tersebut (Halim, 2008:233).
2.6 Belanja Modal
Pengeluaran pemerintah
mencerminkan kebijakan pemerintah. Apabila pemerintah telah menetapkan
=
Belanja modal merupakan pengeluaran yang dilakukan dalam rangka
pembelian/pengadaan atau
pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari dua belas bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan serta aset tetap lainnya (Permendagri No.13 Tahun 2006 Pasal 53). Pemerintah daerah harus mampu mengelola dana yang ada untuk belanja modal demi meminimalisir kesenjangan antara tingkat pelayanan pemerintah dengan harapan oleh masyarakat. Apabila pemerintah daerah sudah memberikan pelayanan publik yang optimal maka akan memberikan keuntungan di masa depan yang terlihat dari pertumbuhan ekonomi suatu daerah.
Hubungan Kemampuan Keuangan Daerah Terhadap Belanja Modal
Adanya desentralisasi fiskal mengharapkan setiap daerah untuk mampu mengelola keuangan daerahnya secara efektif dan efisien. Kemampuan daerah untuk menyediakan sumber-sumber pendapatan yang berasal dari daerah sangat tergantung pada kemampuan merealisasikan potensi ekonomi daerah setempat menjadi penciptaan penerimaan daerah sehingga dapat emmbiayai pembangunan daerah tersebut.
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menguji kesiapan daerah dalam mengelola keuangan daerahnya. Akan tetapi belum terdapat pengujian daerah yang dilakukan dalam satu kawasan kepulauan. Berikut kerangka pemikiran penelitian yang akan dilakukan.
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
Hipotesis
Berdasarkan latar belakang beserta kerangka pemikiran yang telah
dikemukakan sebelumnya, maka Efisensi Keuangan Daerah dan Kemandirian Keuangan Daerah secara keseluruhan
Belanja Modal Kemandirian Keuangan Daerah
berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal di wilayah Sumatera bagian selatan.
III. METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini mengamati dan meneliti tentang pengaruh kemampuan keuangan daerah yang tercermin dari
Efisensi Keuangan Daerah dan
Kemandirian Keuangan Daerah terhadap belanja modal antarprovinsi di wilayah Sumatera. Periode analisis terdiri dari sepuluh tahun yang dimulai dari tahun 2004 sampai dengan 2013 serta menggunakan 5 provinsi di wilayah Sumatera bagian selatan yakni Provinsi Jambi, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Provinsi Bengkulu, dan Provinsi Lampung.
3.2 Jenis, Sumber Data, dan Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan adalah data sekunder dalam bentuk panel, dimana data cross section meliputi data keuangan daerah provinsi di wilayah Sumatera bagian selatan dan data time series dengan rentang waktu tahun 2004 sampai dengan 2013. Data yang digunakan pada penelitian ini dipublikasikan oleh situs resmi Kementerian Keuangan, Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik.
Metode pengumpulan data
menggunakan metode dokumentasi data yakni pengambilan data melalui dokumen tertulis baik berupa angka maupun keterangan yang ada kaitannya dengan penelitian.
3.3 Definisi Operasional Variabel
Untuk memberikan kesamaan pemahaman variabel yang digunakan dalam penelitian ini, maka diperlukan definisi operasional variabel sebagai berikut :
1. Variabel Efisiensi Keuangan Daerah (X1) mencerminkan tingkat efisiensi daerah dalam membiayai kegiatan pembangunan daerah.
2. Variabel Kemandirian Keuangan Daerah (X2) mencerminkan kemampuan daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pembangunan daerah.
3. Variabel Belanja Modal (Y) mencerminkan pembelanjaan yang digunakan untuk membiayai kegiatan investasi daerah untuk peningkatan sarana dan prasarana daerah.
3.4 Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Analisis deskriptif merupakan metode yang berkaitan dengan pengumpulan data dan penyajian data sehingga memberikan informasi yang berguna. Proses deskripsi data meliputi penelusuran dan pengungkapan informasi yang relevan yang terkandung dalam data. Kemudian hasil informasi ini disajikan secara lebih ringkas dan sederhana. Adapun formula dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
kriteria ekonometrika, kriteria statistik dan kriteria ekonomi.
Kriteria Ekonometrika (Uji Asumsi Klasik)
Metode regresi linear merupakan
model yang berusaha untuk
meminimalkan penyimpangan hasil perhitungan (regresi) terhadap kondisi aktual (nyata).Oleh karena itu harus diuji dengan beberapa uji asumsi sebagai berikut : uji normalitas, uji autokorelasi,
uji multikolinearitas, dan
heterokedastisitas.
Kriteria Statistik
Untuk mendapatkan model yang baik, perlu dilakukan evaluasi berdasarkan kriteria statistik yang meliputi :
1. Uji koefisien determinasi ( R2 ), Koefisien determinasi menunjukkan besarnya pengaruh semua variabel independen terhadap variabel dependen.
2. Uji t, Uji parsial (uji t) bertujuan untuk mengetahui apakah variabel independen yang terdapat dalam model secara individu berpengaruh nyata terhadap variabel dependen. 3. Uji F, Sedangkan Uji F digunakan
untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama-sama mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.
Kriteria Ekonomi
Evaluasi model berdasarkan kriteria ekonomi dilakukan untuk melihat apakah model yang diestimasi telah sesuai dengan teori ekonomi, dengan cara melihat tanda dan besaran koefisien parameter yang menunjukkan arah dan
besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat sudah sesuai dengan teori ekonomi maupun penelitian terdahulu yang telah dilakukan.
I. HASIL DAN PEMBAHASAN
Fungsi ataupun kegiatan
pemerintahan daerah dilakukan dalam rangka pelaksanaan pembangunan daerah. Faktor keuangan merupakan suatu hal yang sangat penting karena hampir semua kegiatan pemerintahan membutuhkan pendanaan yang bersumber dari keuangan daerah. Semakin besar jumlah dana yang tersedia maka akan semakin banyak juga kemungkinan program atau kegiatan pemerintahan yang dapat dilaksanakan.
Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, keuangan daerah merupakan salah satu kriteria untuk mengetahui kemampuan daerah dalam mengurus rumah tangga pemerintahannya sendiri. Kemampuan daerah yang dimaksud berkaitan dengan kemampuan daerah dalam mengoptimalkan sumber-sumber penerimaan yang ada, baik penerimaan yang bersumber dari pemerintah pusat maupun penerimaan yang berasal dari pendapatan asli daerah, serta memanfaatkan penerimaan tersebut untuk membiayai program-program pembangunan daerah yang tercermin dari realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah setiap tahunnya.
menunjukkan beragam perbedaan baik dari sisi penerimaan daerah maupun belanja daerahnya. Secara umum total penerimaan daerah baik di wilayah Sumatera maupun Indonesia meningkat setiap tahunnya. Adapun perkembangan
penerimaan daerah di setiap provinsi dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 1. Perkembangan Penerimaan Daerah di Wilayah Sumatera Bagian Selatan Menurut Provinsi (dalam triliun rupiah) Tahun 2001-2012
Berdasarkan gambar di atas, terjadi peningkatan yang penerimaan setiap tahunnya bahkan penerimaan daerah di Sumbagsel tahun 2012 mencapai enam kali dari penerimaan di tahun 2001. Rata-rata penerimaan daerah terbesar terdapat pada Provinsi Sumatera Selatan yang menunjukkan bahwa semakin besar jumlah penduduk dan luas daerahnya maka akan semakin besar juga jumlah penerimaan daerahnya.
Realisasi pengeluaran daerah biasanya akan mengikuti besarnya jumlah realisasi penerimaan, dimana daerah yang kapasitas penerimaan daerahnya besar cenderung memiliki realisasi pengeluaran daerah yang besar juga. Berikut gambar perkembangan pengeluaran daerah untuk masing-masing provinsi di wilayah Sumbagsel.
0 5 10 15 20 25
`2001 `2002 `2003 `2004 `2005 `2006 `2007 `2008 `2009 `2010 `2011 `2012
Gambar 2. Perkembangan Pengeluaran Daerah di Wilayah Sumatera Bagian Selatan Menurut Provinsi (dalam triliun rupiah) Tahun2001-2012
Realisasi pengeluaran daerah di wilayah Sumatera bagian selatan mengalami peningkatan setiap tahunnya, jumlah realisasi pengeluaran di tahun 2012 untuk wilayah Sumatera mencapai 6,5 kali jumlahnya dibandingkan jumlah realisasi pengeluaran di tahun 2001. Sedangkan rata-rata pengeluaran daerah yang terbesar
masih terdapat pada Provinsi Sumatera Selatan. Besaran persentase pengeluaran daerah terhadap penerimaan daerah di wilayah Sumatera adalah sebesar 83,2 persen. Besarnya persentase tersebut lebih tinggi dibandingkan persentase nasional yang sebesar 80,78 persen.
1.1 Hasil Pengujian Metode Analisis
Dengan pertimbangan bahwa jumlah cross section yang berjumlah lima provinsi sedangkan jumlah time series sebanyak sepuluh tahun, maka model analisis data panel yang akan digunakan adalah metode Fixed effect.
Tabel 1. Hasil Regresi Model Penelitian
Dependent Variable: Y Date: 07/23/16 Time: 15:52 Sample: 2004 2013
Periods included: 10 Cross-sections included: 5
Total panel (balanced) observations: 50
Linear estimation after one-step weighting matrix
White cross-section standard errors & covariance (d.f. corrected)
0 10 20 30 40 50 60 70
`2001 `2002 `2003 `2004 `2005 `2006 `2007 `2008 `2009 `2010 `2011 `2012
X1 0.330776 0.060783 5.441864 0.0000 X2 0.075108 0.043809 1.714437 0.0936 C 12.88109 0.293762 43.84867 0.0000
Effects Specification
Cross-section fixed (dummy variables)
Weighted Statistics
R-squared 0.971289 Mean dependent var 19.20423 Adjusted R-squared 0.967283 S.D. dependent var 7.491987 S.E. of regression 1.032889 Sum squared resid 45.87500 F-statistic 242.4502 Durbin-Watson stat 2.253188 Prob(F-statistic) 0.000000
Unweighted Statistics
R-squared 0.594070 Mean dependent var 14.12000 Sum squared resid 16.75678 Durbin-Watson stat 2.036088
Sumber : Diolah dari Eviews
Akan tetapi untuk menyakinkan ketepatan penggunaan metode Fixed effect tersebut, maka akan dilakukan beberapa pengujian statistic, yaitu : (1) Uji signifikansi Fixed
effect melalui UJi Chow atau Uji-F; dan
(2) Uji signifikansi Random effect melalui Uji Hausman.
(1) Hasil Uji Chow
Uji Chow atau Uji-F digunakan untuk menentukan antara metode
Common effect atau Fixed effect
sebagai metode yang tepat untuk melakukan analisis data panel. Berikut perhitungan hasil regresi
Common Effect dan Fixed Effect:
Tabel 2. Hasil Uji Chow
Effects Test Statistic d.f. Prob.
Cross-section F 5.774044 (4,43) 0.0008
Cross-section Chi-square 21.495538 4 0.0003
Sumber : Diolah dari Eviews
Dari tampilan tabel diatas, dapat diketahui bahwanilai probabilitas untuk cross section < 0,05 sehingga model yang terpilih adalah Fixed Effect.
(2) Hasil Uji Hausman
Selanjutnya untuk menentukan antara metode Fixed effect atau
melalui Uji Hausman. Berikut tabel hasil pengujian Random
effect dengan Uji Hausman:
Tabel 3. Hasil Uji Hausman
Test Summary
Chi-Sq.
Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.
Cross-section random 10.373636 2 0.0056
Sumber : Output Eviews
Dari tabel di atas,nilai probabilitas < 0,05 sehingga modal yang terpilih adalah
Fixed Effect.
4.2 Hasil Pengujian Metode Evaluasi Model
1. Kriteria Ekonometrika (Pengujian Asumsi Klasik)
Sebelum melakukan estimasi, maka dalam penelitian ini juga dilakukan
beberapa uji asumsi klasik. Pada hasil uji asumsi klasik, dapat disimpulkan bahwa hasil regresi terbebas dari masalah normalitas, heterokedastisitas, multikolinearitas, dan. Autokorelasi
.
Gambar 3. Uji Normalitas
memiliki distribusi normal. Uji normalitas dapat diketahui dengan membandingkan nilai Jarque-Bera dan nilai Chi square tabel. Uji JB didapat dari histogram normality dengan hipotesis yang digunakan Ho = data terdistribusi normal.
Nilai JB sebesar 2,190818 sedangkan nilai chi square tabel yang dilihat dari jumlah variabel independen k=2, maka df (50-2=48) pada α = 5% yakni sebesar 65,17077. Nilai JB lebih kecil daripada nilai chi square tabel sehingga Ho diterima dan disimpulkan bahwa data dalam penelitian ini berdistribusi normal.
Permasalahan heterokedastisitas terjadi jika varian tidak konstan (heterokedastisitas) dan terjadi hubungan yang kuat antar residual. Masalah heteroskedastisitas sering dialami oleh data yang bersifat cross section.
Berdasarkan hasil regresi Fixed effect, nilai koefisien determinasi (R2) sebesar
0.971289. Nilai Chi square hitung sebesar 48,56445 yang diperoleh dari jumlah observasi dikali dengan nilai R2. Sedangkan nilai kritis Chi squared pada
α =5%, dengan df = 50-2 = 48 adalah
65,17077. Oleh karena nilai Chi squared hitung lebih kecil dari pada nilai kritis Chi
squared, maka H0 ditolak sehingga tidak terdapat permasalahan heteroskedastisitas pada penelitian.
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi panel ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model yang baik adalah model yang tidak terjadi korelasi antarvariabel independennya. Multikolinearitas dapat dideteksi dari adanya nilai R2 tinggi (lebih dari 0,80), tetapi sedikit t-statistik yang signifikan serta nilai F-statistik yang signifikan namun t-statistik dari masing-masing variabel bebas tidak signifikan. Berikut hasil uji multikolinearitas pada penelitian
.
Tabel 4. Uji Multikolinearitas
Sumber : Diolah dari Eviews
Uji Autokorelasi, untuk
mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi pada model ini akan digunakan uji
Durbin-Watson (DW-Test). Jika nilai DW-Test lebih besar dari batas atas (dU), maka tidak terjadi autokorelasi. Untuk menguji keberadaan autokorelasi dalam penelitian ini digunakan statistik d dari
autokorelasi (+/-). Dari tabel hasil dari regresi dengan fixed effect, didapat nilai DW sebesar 2,036088 sedangkan dL = 1,4625 dan dU = 1,6283 (didapat dari tabel DW α =5%, n=50, k=2). Setelah dihitung dari kelima kriteria pengujian Durbin Watson, maka dapat disimpulkan bahwa data terletak pada pengujian yang ketiga yaitu :
Jika syarat dL ≤ DW ≤ 4-dU
merupakan gagal menolak hipotesis nol, dengan perhitungan data penelitian 1,4625 < 2,036088 < 2,3717 maka daerah penelitian merupakan daerah tidak ada autokorelasi positif /negatif. Hal ini sesuai juga dengan aturan kasar (rule of thumb) dari Widarjono (2013; 141) yang menyatakan bahwa nilai DW penelitian mendekati angka 2 maka dinyatakan tidak terdapat autokorelasi baik positif maupun negatif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada pelanggaran autokorelasi pada penelitian.
2. Kriteria Statistik
Sedangkan pengujian statistik dilakukan untuk mengukur ketepatan fungsi regresi dalam menaksir nilai aktualnya. Uji statistik dilakukan dengan koefisien determinasinya (R2), koefisien regresi secara individual (uji t), dan pengujian koefisien secara serentak (uji F). Adapun analisis regresi penelitian dapat dilihat pada Lampiran 1.
a. Koefisien Determinasi (R2)
Nilai koefisien determinasi (R2)
menggambarkan kemampuan
model regresi menjelaskan variabel dependennya, sedangkan nilai di luar koefisien determinasi
(1-R2) dijelaskan oleh faktor-faktor di luar model. Dari hasil estimasi, besarnya R2 yang diperoleh adalah sebesar 0.971289. Artinya variabel Y (Belanja Modal) dalam model sebesar 97,12 persen dipengaruhi oleh variabel-variabel bebas yang ada di dalam model yaitu Efisiensi Keuangan Daerah (X1) dan Kemandirian Keuangan Daerah (X2). Sementara sisanya sebesar 2,88 persen dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak terdapat dalam model ini dan faktor-faktor lainnya.
b. Uji Signifikansi Simultan (uji F)
Uji signifikansi parameter atau uji F dilakukan dengan tujuan untuk melihat pengaruh variabel-variabel independen secara bersama-sama atau keseluruhan. Parameternya adalah bila nilai F hitung lebih besar dibandingkan nilai F tabel atau nilai probabilitas F-statistik
lebih kecil dari nilai α =5%, maka
dapat dikatakan bahwa secara keseluruhan variabel-variabel
independen dalam model
berpengaruh signifikan terhadap variabel dependennya.
Nilai F hitung sebesar 242.4502 sedangkan nilai F tabel yang
dilihat dari tabel F α =5% untuk
serentak berpengaruh terhadap variabel belanja modal.
c. Uji Signifikansi Individu (uji t)
Uji signifikansi individu bertujuan untuk melihat signifikansi pengaruh variabel independen secara individu terhadap variabel dependen. Parameter yang digunakan adalah suatu variabel
independen dikatakan secara signifikan berpengaruh terhadap variabel dependen bila nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel atau juga dapat diketahui dari nilai probabilitas t-statistik yang lebih
kecil dari nilai α =5%. Nilai t tabel
dilihat dari n=50 dan k=2 yakni sebesar 1,67722. Berikut tabel uji
signifikansi t (α =5%) :
Tabel 5.Uji Signifikansi t (α =5%) Belanja Modal
Analisis t-statistik t-tabel Kesimpulan
X1
Sumber : Diolah dari hasil regresi
Dari model regresi di tabel 1, terlihat bahwa kedua variabel secara individu berpengaruh signifikan terhadap belanja modal di wilayah Sumatera bagian selatan.
3. Kriteria Ekonomi
Berdasarkan hasil olah data statistik dapat dilihat bahwa efisiensi dan
kemandirian keuangan daerah
berpengaruh signifikan terhadap belanja modal di wilayah Sumatera bagian selatan yang terlihat dari nilai probabilitas koefisien determinasi sehingga hipotesis penelitian diterima. Hal ini mencerminkan bahwa daerah di wilayah Sumatera bagian selatan telah sanggup untuk menerima tugas dalam pengelolaan keuangan secara mandiri sehingga diharapkan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.
Efisiensi Keuangan Daerah pada penelitian ini berpengaruh signifikan terhadap belanja modal di wilayah
Sumatera. Berdasarkan hasil statistic, semakin tinggi rasio efisiensi keuangan daerah menyiratkan bahwa pemerintah
daerah sudah berhasil dalam
menganggarkan keuangan daerah. Penggunaan keuangan daerah yang tidak efisien pada daerah disebabkan realisasi pengeluaran yang lebih besar dari realisasi penerimaan sehingga terjadi pemborosan belanja daerah dan tidak dimaksimalkan untuk belanja modal. Padahal belanja modal sangat berperan terhadap pengembangan dan pembangunan daerah.
yang banyak terdapat pegunungan serta rawan bencana mengakibatkan fokus
pemerintah dalam meningkatkan
pendapatan asli daerah belum maksimal.
II. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah diuraikan maka kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah pengaruh efisiensi dan kemandirian keuangan daerah secara keseluruhan (simultan) di wilayah Sumatera bagian selatan yang dilakukan dengan menggunakan model analisis regresi berganda dengan model estimasi Fixed Effect menunjukkan bahwa variabel independen pada periode
penelitian yakni 2004-2013
mempengaruhi belanja modal secara signifikan pada periode tersebut. Sedangkan besarnya nilai koefisien determinasi (R2) menunjukkan bahwa sebesar 97,12 persen belanja modal dijelaskan oleh variabel yang ada pada penelitian, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar penelitian. Sedangkan secara parsial, masing-masing variabel mempunyai arah yang sesuai dengan teori dimana kedua variabel mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap belanja modal.
Keterbatasan
Penelitian ini mempunyai keterbatasan, antara lain :
1. Periode penelitian hanya sesepuluh tahun dari tahun 2004 sampai dengan 2013 sehingga hasil yang didapatkan
belum dapat terinterprestasikan secara maksimal.
2. Variabel independen yang digunakan hanya terbatas pada komponen yang tercantum dalam laporan realisasi anggaran, tanpa menambahkan variabel lain di luar laporan realisasi anggaran.
5.2 Saran
Dari hasil penelitian secara umum pemerintah daerah di wilayah Sumatera sudah menunjukkan adanya peningkatan dalam mengelola keuangan daerahnya masing-masing yang terlihat dari peningkatan terhadap penerimaan dan pengeluaran daerah antarprovinsi. Akan tetapi, Pemerintah daerah harus lebih efektif dalam upaya meningkatkan kemandirian fiskal melalui peningkatan pendapatan asli daerah serta memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Peran pemerintah tidak hanya dalam upaya meningkatkan PAD, akan tetapi dalam mengatur perekonomian masyarakat agar dapat lebih berkembang
sehingga dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Adi, Priyo Hari. 2012. Kemampuan keuangan Daerah Dalam Era Otonomi dan Relevansinya Dengan Pertumbuhan Ekonomi (Studi Pada Kabupaten dan Kota se Jawa-Bali). KRITIS, Jurnal Studi Pembangunan Interdisiplin Vol. XXI, No.1, 2012,
Badrudin, Rudi. 2012. Implementasi Otonomi Daerah di Kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol.6. No.3.
November (2012), Hal.249-264.
Bastian, Indra. 2006. Sistem Akuntansi
Sektor Publik, Edisi 2, Salemba Empat, Jakarta.
Halim, Abdul. 2004. Akuntansi Keuangan
Daerah, edisi Revisi, Salemba Empat,
Jakarta.
Kuncoro, Mudrajat. 1997. Ekonomi Pembangunan. UPP AMP YKPN.
Yogyakarta.
Kuncoro, Mudrajat. 2004. Otonomi dan
Pembangunan Daerah. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Mangkoesoebroto, Guritno. 1997.
Ekonomi Publik. BPFE UGM. Yogyakarta. Reksohadiprodjo, Sukanto. 2001. Ekonomika Publik. BPFE-UGM. Yogyakarta.
Sasana, Hadi. 2011. Analisis Determinan Belanja Daerah di Kabupaten/Kota Prov.Jawa Barat Dalam Era Otonomi
dan Desentralisasi Fiskal. Jurnal
Bisnis dan Ekonomi (JBE), Maret
(2011), Hal.46-58.
Suparmoko. 2002. Ekonomi Publik.
Percetakan Andi Offset. Yogyakarta.
Susetyo, Didik. 2010. Desentralisasi Fiskal, Kesenjangan Fiskal, dan Disparitas Regional. Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Ekonomi Pembangunan pada FE UNSRI,
Palembang 25 Mei (2010).
Todaro MP, Stephen CS. 2006.
Pembangunan Ekonomi. Jilid 1. Edisi
9. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Wibowo, Puji. 2008. Mencermati Dampak Desentralisasi Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah.
Jurnal Keuangan Publik, Vol.5, No.1,
Oktober 2008 Hal.55-83.
Widarjono, Agus. 2013. Ekonometrika. UPP STIM YKPN. Yogyakarta.