Makalah
ADMINISTRASI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN
(Tantangan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Primer di
Indonesia dalam menunjang pelaksanaan
Jaminan Kesehatan Nasional)
OLEH :
Kelompok 1
1. Rosdiana H.Ramli
(K111 14 001)
2. Vivit Andelina
(K111 14 002)
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR
BAB I menanggulangi wabah penyakit TBC, Campak, diare dan lainnya. Pada tahun 1960, teknologi kuratif dan preventife dalam struktur pelayanan kesehatan telah mengalami kemajuan sehingga muncul pemikiran untuk mengembangkan konsep upaya dasar kesehatan. Pada tahun 1972/1973, WHO mengadakan studi dan mengungkapkan bahwa banyak negara tidak puas terhadap sistem kesehatan yang dijalankan.
Primary Health Care (PHC) diperkenalkan oleh World Health Organization (WHO) sekitar tahun 70-an, dengan tujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Di Indonesia, PHC memiliki 3 (tiga) strategi utama, yaitu kerjasama multisektoral, partisipasi masyarakat, dan penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dengan pelaksanaan di masyarakat (dr. Endang, Menkes saat membuka secara resmi the 14 Medical Association of South East Asian Nation (MASEAN) Mid-term Meeting di Savoy Homann, Bandung (17/06).
Menurut Deklarasi Alma Ata (1978) PHC adalah kontak pertama individu, keluarga, atau masyarakat dengan sistem pelayanan. Pengertian ini sesuai dengan definisi Sistem Kesehatan Nasional (SKN) tahun 2009, yang menyatakan bahwa Upaya Kesehatan Primer adalah upaya kesehatan dasar dimana terjadi kontak pertama perorangan atau masyarakat dengan pelayanan kesehatan.
membantu masyarakat agar dapat mengakses pelayanan kesehatan dengan mudah dan agar masyarakat mendapat pelayanan kesehatan dengan mudah dan agar masyarakat mendapat pelayanan kesehatan yang berkualitas dan setara bagi semua jenjang tanpa memandang status sosial ekonomi dan semua hal tersebut diharapkan dapat terwujud lewat usaha pelayanan kesehatan primer yang diselenggarakan untuk menunjang pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Sistem Kesehatan Nasional (SKN).
Belum lama ini, Bapak Presiden RI telah mencanangkan dimulainya JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yaitu tepat pada 1 Januari 2014. Cakupan JKN akan diperluas secara bertahap sehingga pada tahun 2019 akan tercapai jaminan kesehatan semesta atau Universal Health Care. Selain dimaksudkan untuk menghapuskan hambatan finansial bagi masyarakat dalam menjangkau pelayanan kesehatan yang komprehensif dan bermutu, JKN juga dimaksudkan untuk: 1) mewujudkan kendali mutu dan kendali biaya dalam pelayanan kesehatan; 2) memperkuat layanan kesehatan primer dan sistem rujukannya; 3) mengutamakan upaya promotif-preventif dalam pelayanan kesehatan untuk menekan kejadian penyakit, sehingga orang yang berobat berkurang, dan pembiayaan dirawat berpotensi jatuh miskin (Ruby M, 2004).
lain, sedangkan menurut Undang undang No.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP-N), Tahun 2005-2025 dinyatakan untuk mewujudkan bangsa yang berdaya saing, pembangunan nasional diarahkan untuk mengedepankan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing.
Hal tersebutlah yang membuat kami tertarik sehingga pada makalah ini akan dijelaskan mengenai “Tantangan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Primer di Indonesia dalam menunjang pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional”
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah Primary Health Care itu sendiri?
2. Bagaimanakah perkembangan Primary Health Care di Indonesia? 3. Apa saja tantangan yang dihadapi dalam perkembangan pelayanan
kesehatan primer?
4. Bagaimana hubungan antara Primary Health Care terhadap JKN (Jaminan Kesehatan Nasional)?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa Primary Health Care itu
2. Mengetahui perkembangan Primary Health Care di Indonesia 3. Mengetahui tantangan apa saja yang dihadapi dalam perkembangan
pelayanan kesehatan primer
4. Mengetahui hubungan antara Primry Health Care terhadap JKN (Jaminan Kesehatan Nasional)
Primary Health Care – Pelayanan kesehatan primer
Pada tahun 1978, Badan Kesehatan Dunia (WHO – World Health Organization) mengadaptasi pendekatan pelayanan kesehatan primer (PHC) sebagai cara efektif. Pendekatan tersebut merupakan filosofi sekaligus sebuah model untuk memberikan layanan kesehatan. Sebagai fokus dari PHC adalah pencegahan penyakit dan promosi kesehatan.
Pelayanan kesehatan primer adalah pelayanan kesehatan berdasarkan bukti ilmiah dan dapat diterima masyarakat serta dapat diakses atau dijangkau oleh komunitas melalui partisipasi penuh masyarakat dengan harga yang terjangkau dan bertujuan untuk ketahanan dan kemandirian 5. pendekatan multi sektor (WHO, 1978)
Setiap hari dan dari hari ke hari, setiap individu, keluarga dan kelompok masyarakat semakin tergantung pada pelayanan kesehatan dasar yang semakin kompleks. Pada fase kehidupan setiap orang, mulai dari janin hingga usia lanjut, baik perempuan maupun laki laki, mempunyai risiko dan kebutuhan kesehatan yang unik. Mereka semua bergantung pada berbagai upaya kesehatan, bukan saja untuk bertahan hidup dari serangan penyakit mematikan (survival), untuk tumbuh dan berkembang secara fisik, emosional dan intelektual (development), namun juga untuk memperoleh perlindungan kesehatan (protection) agar dapat hidup sehat dan produktif.
penyediaan pelayanan kesehatan dasar ini harus secara nyata menunjukkan keberpihakannya kepada kelompok masyarakat risiko tinggi termasuk didalamnya kelompok masyarakat miskin. Bahkan lebih jauh lagi, ruang lingkup pelayanan kesehatan dasar tersebut harus mencakup setiap upaya kesehatan yang menjadi komitmen komunitas global, regional, nasional maupun lokal. (Menkes)
Pada tahun 1977, Sidang Kesehatan Sedunia (Wold Health Assembly) ke-30 menghasilkan kesepakatan atau “Kesehatan bagi Semua tahun 2000” dengan sasaran utamanya adalah tercapainya derajat kesehatan yang memungkinkan setiap orang hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomi. Oleh karena itu, untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan perubahan orientasi dalam pembangunan kesehatan yang meliputi perubahan-perubahan berikut:
1. Pelayanan kuratif ke promotif dan preventif 2. Daerah perkotaan ke daerah pedesaan
3. Golongan mampu ke golongan masyarakat berpenghasilan rendah 4. Kampanye massal ke upaya kesahatan terpadu.
Keberhasilan Pelayanan Kesehatan Primer akan mendukung pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional, dimana akan mengurangi jumlah pasien yang di rujuk dan juga diharapkan dapat mengurangi biaya pelayanan kesehatan yang bersifat kuratif . Pelaksanaan pelayanan kesehatan primer di daerah yang baik akan mendukung Pembangunan Kesehatan Nasional. Tantangan strategis yang dihadapi pada pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Primer, antara lain :
Keterbatasan kualitas dan kuantitas SDM
Akses jangkauan dan disparitas
Fokus Pelayanan Kesehatan Primer pada kuratif
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasyankes Primer (Permenkes No.5/2014) menetapkan standar pelayanan di fasilitas kesehatan primer. Setiap dokter yang bertugas di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer diharapkan dapat menguasai 155 jenis penyakit, dan dokter juga diharapkan mampu mendiagnosa, melakukan penatalaksanaan tuntas/sementara dan melakukan rujukan yang tepat sesuai indikasi. Penguatan Pelayanan Kesehatan Primer dilakukan dengan cara :
1. Peningkatan akses 2.Peningkatan mutu
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Primary Health Care
dan keluarga dengan cara yang dapat diterima bagi mereka, dengan partisipasi penuh dan dengan biaya yang masyarakat dan negara mampu.
Primary Health Care ( PHC ) adalah pelayanan kesehatan pokok yang berdasarkan kepada metode dan teknologi praktis, ilmiah dan sosial yang dapat diterima secara umum baik oleh individu maupun keluarga dalam masyarakat melalui partisipasi mereka sepenuhnya, serta dengan biaya yang dapat terjangkau oleh masyarakat dan negara untuk memelihara setiap tingkat perkembangan mereka dalam semangat untuk hidup mandiri (self reliance) dan menentukan nasib sendiri (self determination).
3.2 Primary Health Care di Indonesia
Primary Health Care (PHC) diperkenalkan oleh World Health Organization (WHO) sekitar tahun 70-an, dengan tujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Di Indonesia, PHC memiliki 3 (tiga) strategi utama, yaitu kerjasama multisektoral, partisipasi masyarakat, dan penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dengan pelaksanaan di masyarakat.
Menurut Deklarasi Alma Ata (1978) PHC adalah kontak pertama individu, keluarga, atau masyarakat dengan sistem pelayanan. Pengertian ini sesuai dengan definisi Sistem Kesehatan Nasional (SKN) tahun 2009, yang menyatakan bahwa Upaya Kesehatan Primer adalah upaya kesehatan dasar dimana terjadi kontak pertama perorangan atau masyarakat dengan pelayanan kesehatan.
Dalam mendukung strategi PHC yang pertama, Kementerian Kesehatan RI mengadopsi nilai inklusif, yang merupakan salah satu dari 5 nilai yang harus diterapkan dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan, yaitu pro-rakyat, inklusif, responsif, efektif, dan bersih.
1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani;
2. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata bermutu dan berkeadilan;
3. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan; dan 4. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik.
Di Indonesia, pelaksanaan Primary Health Care secara umum dilaksanakan melaui pusat kesehatan dan di bawahnya (termasuk sub-pusat kesehatan, sub-pusat kesehatan berjalan) dan banyak kegiatan berbasis kesehatan masyarakat seperti Rumah Bersalin Desa dan Pelayanan Kesehatan Desa seperti Layanan Pos Terpadu (ISP atau Posyandu).
Secara administratif, Indonesia terdiri dari 33 provinsi, 349 Kabupaten dan 91 Kotamadya, 5.263 Kecamatan dan 62.806 desa. Untuk strategi ketiga, Kementerian Kesehatan saat ini memiliki salah satu program yaitu saintifikasi jamu yang dimulai sejak tahun 2010 dan bertujuan untuk meningkatkan akses dan keterjangkauan masyarakat terhadap obat-obatan.
Program ini memungkinkan jamu yang merupakan obat-obat herbal tradisional yang sudah lazim digunakan oleh masyarakat Indonesia, dapat teregister dan memiliki izin edar sehingga dapat diintegrasikan di dalam pelayanan kesehatan formal. Untuk mencapai keberhasilan penyelenggaraan PHC bagi masyarakat, diperlukan kerjasama baik lintas sektoral maupun regional, khususnya di kawasan Asia Tenggara.
Dalam penerapannya ada beberapa masalah yang terjadi di Indonesia. Permasalahan yang utama ialah bagaimana primary health care belum dapat dijalankan sebagaimana semestinya. Oleh karena itu, ada beberapa target yang seharusnya dilaksanakan dan dicapai yaitu:
1. Memantapkan Kemenkes berguna untuk menguatkan dan meningkatkan kualitas pelayanan dan mencegah kesalahpahaman antara pusat keehatan dan masyarakat
3. Pelayanan kesehatan primer masih penting pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan.
4. Pada era desentralisasi, variasi pelayanan kesehatan primer semakin melebar dan semakin dekat pada budaya local.
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007, dalam tiga dekade terakhir, berbagai indikator derajat kesehatan masyarakat di Indonesia menunjukkan adanya perbaikan. Umur Harapan Hidup pada saat lahir meningkat menjadi 70,6 tahun, Angka Kematian Ibu menurun menjadi 228 per 100.000 Kelahiran Hidup, Angka Kematian Neonatal menurun menjadi 20 per 1.000 kelahiran Hidup, Angka Kematian Bayi menurun menjadi 34 per 1.000 Kelahiran Hidup, serta Angka Kematian Anak Balita menurun menjadi 44 per 1.000 Kelahiran Hidup (Menkes, 2004)
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2007 menghasilkan berbagai peta masalah kesehatan, diantaranya: Berdasarkan gabungan hasil pengukuran Gizi Buruk dan Gizi Kurang menunjukkan bahwa sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional sebesar 18,4%. Ini berarti, target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi yang diproyeksikan sebesar 20%, dan target Millenium Development Goals sebesar 18,5% pada 2015, telah dapat dicapai pada 2007.
3.3 Tantangan yang dihadapi dalam perkembangan kesehatan primer
Keterbatasan kualitas dan kuantitas SDM
Upaya pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan belum memadai, baik jumlah, jenis, maupun kualitas tenaga kesehatan yang dibutuhkan. Selain itu, distribusi tenaga kesehatan masih belum merata. Jumlah dokter Indonesia masih termasuk rendah, yaitu 19 per 100.000 penduduk bila dibandingkan dengan negara lain di ASEAN, seperti Filipina 58 per 100.000 penduduk dan Malaysia 70 per 100.000 pada tahun 2007.
Masalah strategis SDM Kesehatan yang dihadapi dewasa ini dan di masa depan adalah:
a) Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan SDM untuk pembangunan kesehatan;
b) Perencanaan kebijakan dan program SDM Kesehatan masih lemah dan belum didukung sistem informasi SDM Kesehatan yang memadai; c) Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan berbagai
d) Dalam pendayagunaan SDM Kesehatan, pemerataan SDM Kesehatan berkualitas masih kurang. Pengembangan karier, sistem penghargaan, dan sanksi belum sebagaimana mestinya. Regulasi untuk mendukung SDM Kesehatan masih terbatas;
e) Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan serta dukungan sumber daya SDM Kesehatan masih kurang.
Akses, jangkauan dan disparitas
Luasnya wilayah indonesia dengan disparitas yang sangat beragam karena kondisi geografi dan iklim, memerlukan pola pendekatan khusus sesuai kondisi wilayah
Fokus Pelayanan Kesehatan Primer pada kuratif
Pemahaman pelaksana maupun stake holder bahwa pelayanan kesehatan primer adalah pelayanan kuartif mengakibatkan terbatasnya pembiayaan dan kegiatan UKM
Sarana, prasarana, dan alat kesehatan
Keterbatasan pemenuhan sarana prasarana dan akses untuk mendukung pelaksanaan pelayanan seringkali akibat kurangnya pemahaman dan perencanaan daerah dalam menterjemahkan pola pelayanan kesehatan
3.3 Primary Health Care dan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional)
Sejak 1 januari 2014, bapak presiden RI telah mencanangkan dimulainya JKN. Cakupan JKN akan diperluas secara bertahap sehingga pada tahun 2019 akan tercapai jaminan kesehatan semesta atau Universal Health Care. Selain dimaksudkan untuk menghapuskan hambatan finansial bagi masyarakat dalam menjangkau pelayanan kesehatan yang komprehensif dan bermutu, JKN juga dimaksud untuk :
1. Mewujudkan kendali mutu dan kendali biaya dalam pelayanan kesehatan
3. Mengutamakan upaya promotif, preventif dalam pelayanan kesehatan untuk menekan kejadian penyakit, sehingga orang yang berobat berkurang, dan biaya kesehatan menjadi lebih efisien.
JKN menjamin pelayanan kesehatan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kesehatan (Promotif), pencegahan penyakit (preventif), pengobatan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), termasuk obat-obatan dan bahan medis habis pakai. Prosedur pelayanan diberlakukan dan peserta wajib mematuhinya. Jaminan pelayanan kesehatan berlaku di seluruh wilayah indonesia dan pelayanan medis berlaku sama untuk seluruh penduduk indonesia.
Dalam pelaksanaan JKN, upaya promotif-preventif diutamakan dan pelayanan kesehatan dititikberatkan pada penguatan layanan primer sebagai gatekeeper. Keberhasilan upaya promotif-preventif dan pelayanan kesehatan primer akan meningkatkan mutu layanan kesehatan, mengurangi jumlah pasien, dan menekan biaya pelayanan kesehatan yang bersifat kuratif. Di samping itu, juga dilakukan peningkatan kualitas fasilitas rujukan pada tingkat sekunder, seperti di Rumah Sakit Umum Daerah. (Wamenkes, 2014)
Upaya Pemerintah untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan rumah sakit harus diikuti pula oleh semua praktisi perumahsakitan, termasuk rumah sakit pendidikan. Dalam menyongsong dimulainya pelaksanaan JKN pada tahun 2014, Menkes minta agar seluruh rumah sakit termasuk rumah sakit pendidikan melakukan langkah-langkah untuk mendapatkan akreditasi sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sebab, terpenuhinya jaminan mutu pelayanan melalui akreditasi merupakan dasar bagi BPJS untuk menentukan apakah suatu fasilitas pelayanan kesehatan memenuhi syarat atau tidak untuk dijadikan mitra dalam pemberian pelayanan jaminan kesehatan.
Selanjutnya, akan dilakukan peningkatan cakupan jaminan kesehatan secara bertahap dan pada tahun 2019 akan terwujud Jaminan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage), sesuai amanat Undang-Undang No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan Undang-Undang No. 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) (Menkes, 2013)
3.4 Pembayaran CBG dalam JKN
Pengertian Casemix Based Group (CBG) dapat disederhanakan dengan cara pembayaran dengan biaya satuan per diagnosis, bukan biaya/harga satuan per jenis pelayanan medis maupun non medis yang diberikan kepada seseorang pasien dalam rangka penyembuhan suatu penyakit. Konsep CBG sesungguhnya sederhana yaitu bahwa rumah sakit mendapat pembayaran borongan berdasarkan rata-rata biaya yang dihabiskan oleh berbagai rumah sakit untuk mengobati pasien dengan suatu diagnosis. Pembayaran borongan ini membawa konsekuensi rumah sakit (bersama tim dokter) harus bekerja secara efisien agar surplus. Pembayaran dalam bentuk CBG ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat yang memilki kondisi ekonomi menengah ke bawah.
BAB IV
4.1 Kesimpulan
Primary Health Care ( PHC ) adalah pelayanan kesehatan pokok yang berdasarkan kepada metode dan teknologi praktis, ilmiah dan sosial yang dapat diterima secara umum baik oleh individu maupun keluarga dalam masyarakat melalui partisipasi mereka sepenuhnya, serta dengan biaya yang dapat terjangkau oleh masyarakat dan negara untuk memelihara setiap tingkat perkembangan mereka dalam semangat untuk hidup mandiri (self reliance) dan menentukan nasib sendiri (self determination).
Di Indonesia, pelaksanaan Primary Health Care secara umum dilaksanakan melaui pusat kesehatan dan di bawahnya (termasuk sub-pusat kesehatan, sub-pusat kesehatan berjalan) dan banyak kegiatan berbasis kesehatan masyarakat seperti Rumah Bersalin Desa dan Pelayanan Kesehatan Desa seperti Layanan Pos Terpadu (ISP atau Posyandu). Namun, terdapat banyak tantangan yang dialami oleh sebuah proses penembangan pelayanan kesehatan primer (Primary Health Care). Terdapat pula salah satu kebijakan yang baru-baru ini dicetuskan oleh pemerintah yaitu JKN (Jaminan Kesehtan Nasional)
4.2 saran
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah demi terwujudnya tingkat kesehatan masyarakat yang tinggi. Berbagai Undang-undang serta kebijakan telah dibuat oleh pemerintah walaupun menimbulkan banyak pro dan kontra, namun akan lebih baik apabila kita menghargai kebijakan dan mengamalkan Undang-Undang yang telah dibuat oleh pemerintah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Adisasmito, Wiku; Sistem Kesehatan; Jakarta : Rajawali Pers; 2007
Thabrany, Hasbullah; Jaminan Kesehatan Nasional; Jakarta : Raja
Grafindo Persada; 2014
http://www.depkes.go.id/article/view/849/pembangunan-kesehatan-berbasis-preventif-dan-promotif.html
http://www.euro.who.int/en/health-topics/Health-systems/primary-health-care/primary-health-care
www.health.govt.nz
http://www.depkes.go.id/article/view/2244/jaminan-kesehatan-nasional- harus-diperkuat-dengan-dukungan-primary-health-care-yang--sedekat-mungkin.html#sthash.6K4cGdfC.dpuf
http://www.depkes.go.id/article/view/14010012/kemenkes-saksikan-pencanangan-jaminan-kesehatan-nasional-di-provinsi-dki-jakarta.html
www.primaryhealthcare.com.au
http://www.depkes.go.id/article/view/1558/implementasi-primary-health-care-di-indonesia.html