• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Desain Interior terhadap Kenyam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh Desain Interior terhadap Kenyam"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH DESAIN INTERIOR TERHADAP KENYAMANAN PEMUSTAKA DI PERPUSTAKAAN DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN

PROVINSI JAWA TENGAH

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan guna

menyelesaikan pendidikan S1 Ilmu Perpustakaan

PENYUSUN

Nama : Nabela Kurnia Saraswati

NIM : 13040111130104

S1 ILMU PERPUSTAKAAN

(2)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Di dalam jaman yang penuh dengan kemajuan informasi dan teknologi (IT) akibat terjadinya globalisasi, perpustakaan sebagai tempat yang berperan menjadi penyimpan dan penyebarluasan informasi dituntut untuk menyediakan informasi terbaru serta fenomena terkini yang tengah terjadi di masyarakat yang aktual dan dapat dipertanggung jawabkan validitasnya, sehingga masyarakat yang menjadi pemustaka pun akan memanfaatkan informasi dan bahan koleksi milik perpustakaan, dan inilah yang menjadi tolok ukur keberhasilan perpustakaan dalam menyelaraskan diri dengan era globalisasi yang sudah dipenuhi dengan kemajuan IT. Tetapi bukan hanya bahan koleksi saja yang mampu membuat pemustaka berkunjung ke perpustakaan, tetapi juga harus didukung dengan adanya faktor-faktor lain, terutama dengan perpustakaan khusus yang memiliki pemustaka dengan tingkat kebutuhan informasi dan intensitas kunjungan yang berbeda dengan perpustakaan lain seperti perpustakaan umum dan sekolah.

(3)

dikarenakan syarat wajib yang telah diatur oleh undang-undang dan peraturan pemerintahan sebelumnya, tidak terkecuali bagi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah yang berlokasi di Semarang. Semua ketentuan dan syarat dalam pembangunan institusi berkenaan dengan penyimpanan dan penyebarluasan informasi mengenai Dinas Kelautan dan Perikanan itu sendiri dirasa sangat penting dan vital sesuai dengan lima fungsi perpustakaan.

Kemudian dalam pencapaiannya memenuhi lima fungsi tersebut, diperlukan sarana dan prasarana yang telah direncanakan sebelumnya yang mampu diubah sesuai dengan keperluan masa mendatang perpustakaan tersebut. Keamanan dan kenyamanan pengguna serta keselamatan bahan pustaka di perpustakaan bersangkutan semaksimal mungkin. Keamanan dan kenyamanan dibutuhkan, agar pengguna dapat dengan leluasa memanfaatkan bahan pustaka dalam perpustakaan demi kebutuhan informasinya yang nantinya akan berdampak positif bagi loyalitas pengguna terhadap koleksi perpustakaan, dan banyak aspek yang dibutuhkan demi menjamin hal tersebut. Salah satu dari sekian banyak aspek yang menyangkut kenyaman dan keamanan tersebut adalah bagaimana desain interior perpustakaan itu sendiri yang direncanakan oleh pihak perpustakaan sesuai dengan kriteria standar.

(4)

kebutuhan informasi pengguna dengan tetap mengutamakan keamanan dan kenyamanannya.

Karenanya dengan adanya aspek dan kajian yang terdapat dalam desain interior, diharapkan pelaksanaan penataan ruang atau gedung perpustakaan sesuai dengan aspek standar desain interior dan menyesuaikan dengan kepentingan visi dan misi institusi, kenyamanan pemustaka terjamin dan diharapkan dengan sarana dan prasarana yang baik dari perpustakaan dapat meningkatkan loyalitas pemustaka terhadap perpustakaan.

Namun dalam kenyataannya pelaksanaan desain interior yang memungkinkan pemustaka merasa nyaman di perpustakaan ternyata tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan, baik dikarenakan oleh adanya salah pemilihan warna cat dalam ruang-ruang atau bagian-bagian perpustakaan terhadap tujuan penggunaan ruang tersebut ataupun masalah sirkulasi udara akibat kurangnya penempatan ventilasi atau air conditioner dalam suatu ruang. Permasalahan yang kiranya merupakan sesuatu yang bukan menjadi suatu konsentrasi bagi perpustakaan, ternyata menjadi penyebab utama bagi pemustaka.

Keadaan seperti ini banyak terjadi dan penulis merasa perlu untuk mengetahui mengenai perihal bagaimana hubungan kenyamanan pengunjung dengan desain interior perpustakaan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah. Penulis memilih judul “Pengaruh Desain Interior Terhadap Kenyamanan Pemustaka di Perpustakaan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah”.

1.2. Rumusan Masalah

(5)

Tengah difokuskan pada elemen-elemen desain interior yang terdiri dari ruang (tata letak), pencahayaan, suhu udara, dan kenyamanan?”

Masalah diuraikan sebagai berikut :

1. “Bagaimana pengaruh ruang (tata letak) terhadap kenyamanan pemustaka?”

2. “Bagaimana pengaruh pencahayaan perpustakaan terhadap kenyamanan pemustaka?”

3. “”Bagaimana pengaruh suhu udara di perpustakaan terhadap kenyamanan pemustaka?”

Adapun manfaat penelitian adalah sebagai berikut : a. Secara teoritis:

Dengan melakukan penelitian ini, penulis mengharapkan manfaat perkembangan pengetahuan dalam aspek teoritis Ilmu Perpustakaan dan menjadikan salah satu contoh implikasi keilmuwan yang berhubungan dengan pengembangan suatu bangunan menyesuaikan dengan aturan yang berlaku dan kepentingan pemustaka.

b. Secara praktisi :

a) Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangsih pemikiran bagi Perpustakaan Dinas Kelautan dan Perikanan dalam mengembangkan dan membenahi desain interiornya terhadap kenyamanan pemustaka. b) Sebagai tambahan acuan atau referensi dalam penelitian keilmuan

Ilmu Perpustakaan berkenaan dengan Desain Interior. 1.5. Tempat dan Waktu Penelitian

(6)

134 Semarang, Jawa Tengah. Waktu penelitian yang dibutuhkan adalah empat bulan dimulai dari bulan Februari dan selesai pada bulan Juni.

Rincian waktu penelitian dijelaskan sebagai berikut:

(7)

Sarana dan prasarana di perpustakaan

-gedung

-desain interior/tata ruang -fasilitas/perabotan

-layanan perpustakaan -koleksi/buku & nonbuku

Terdiri atas aspek-aspek

Desain interior perpustakaan

Tata ruang

pencahayaan Tata suara

Suhu udara Kualitas udara

kenyamanan

objek

kenyamanan pemustaka berpengaruh

nyaman Tidak nyaman

Evaluasi & Pembenahan

Aspek-aspek kenyamanan Keadaan empiris/keadaan sebenarnya

Kriteria kenyamanan

(8)

perpustakaan. Sedangkan penataan interiornya sendiri berdasarkan elemen yang di antaranya terdapat pencahayaan, tata suara, suhu udara, dan lainnya.

Di tambah lagi dengan seiring perkembangan jaman, terdapat perkembangan dalam kreativitas desain interior yang benar-benar mampu disesuaikan dengan tingkat latar belakang pemustakanya, seperti yang telah diaplikasikan ke banyak perpustakaan. Contohnya ialah pada layanan anak-anak perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Tengah yang telah disesuaikan dengan kebutuhan informasi anak-anak dan psikologi pemustakanya, maka dibuatlah warna-warna terang dan ceria yang mengedepankan kreativitas agar pemustaka merasa nyaman memanfaatkan bahan koleksi yang tidak hanya berupa buku, tetapi juga koleksi pandang dengar (audio visual). Banyak pula perpustakaan perguruan tinggi negeri dan sekolah yang juga mengubah desain interior dan dekorasi interior yang kiranya sesuai dengan latar belakang pemustakanya.

Sehingga hal inilah yang membuat kunjungan pemustaka pun meningkat dan pemustaka merasa nyaman dalam kegiatannya memanfaatkan koleksi bahan pustaka dan meningkatkan loyalitas pemustaka perpustakaan tersebut. Nyaman dan tidak nyamannya pengguna di perpustakaan selain karena berbagai latar belakang, juga bisa berdasarkan aspek psikologi yang juga berhubungan dengan desain interior tersebut, terutama hubungannya dengan warna cat ruangan, tata cahaya yang masuk ke gedung atau ruangan dan tata suara. Dekorasi interior secara langsung ikut berperan dalam kenyamanan ini, dan nantinya masuk ke dalam elemen kenyamanan pada desain interior.

1.7. Hipotesis Penelitian

Hipotesis menurut Lungberg dalam Martono “merupakan sebuah generalisasi yang bersifat tentatif, sebuah generalisasi tentatif yang valid yang masih harus diuji.”

(9)

1. H1: terdapat pengaruh desain interior terhadap kenyamanan pemustaka dalam memanfaatkan fasilitas dan layanan perpustakaan di Perpustakaan Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah Semarang.

2. H0: tidak terjadi suatu pengaruh apapun mengenai desain interior terhadap kenyamanan perpustakaan sehingga pemustaka tidak memiliki hambatan apapun mengenai kenyamanannya dalam pemanfaatan koleksi di Perpustakaan Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah Semarang.

1.8. Batasan Istilah

Untuk menghindari adanya salah pengertian, berikut dibuat batasan istilah berdasarkan pendapat para ahli dan peraturan perundang-undang. Istilah yang dijabarkan sebagai berikut:

1. Perpustakaan khusus adalah perpustakaan milik sebuah departemen, lembaga negara, lembaga pendidikan, organisasi massa, militer, industri, maupun perusahaan swasta (Sulistyo Basuki, 1993: 49).

2. Desain interior merupakan suatu bidang keilmuan yang mempelajari hubungan antara bangunan (arsitektur) dengan manusia yang melakukan aktifitas tertentu di dalamnya

3. Kenyamanan yang dimaksud disini ialah sebagai suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang bersifat individual dan holistik (Kolcaba, 2003).

(10)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Perpustakaan

(11)

perkembangannya dan penyesuaiannya dengan melejitnya perkembangan IT, terdapat pula pendapat yang menyatakan bahwa perpustakaan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan buku semata, melainkan menjadi tempat pengguna (user) mampu menciptakan lagi sesuatu yang mampu dibaca dan digunakan orang lain (Suwarno, 2013: 16). Diteruskan dalam bukunya, “Perpustakaan merupakan salah satu pusat informasi. Perpustakaan menghimpun, mengelola, menyimpan, melestarikan, menyajikan, serta memberdayakan informasi” (Suwarno, 2013: 55).

UU Nomor 43 Tahun 2007 disebutkan pula mengenai pengertian perpustakaan dalam Pasal 1 bahwa “Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional degan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendstidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka” (2014: 3).

Dari penjabaran pendapat di atas didapat kesimpulan bahwa Perpustakaan bukan hanya sebuah ruang yang digunakan untuk menyimpan buku seperti sebuah gudang dalam paradigma lama saja, tetapi juga menjalankan fungsi-fungsi yang telah ditetapkan dalam hal kebutuhan informasi pemustakanya sebagai pusat penyimpanan dan penyebarluasan informasi.

2.2. Fungsi Perpustakaan

Basuki dalam Suwarno menyatakan fungsi perpustakaan adalah sebagai berikut:

a. Fungsi simpan karya yaitu fungsi perpustakaan untuk menyimpan karya masyarakat.

b. Fungsi informasi yaitu perpustakaan yang memberikan informasi yang dikelola perpustakaan kepada pemustakanya.

c. Fungsi pendidikan, yaitu fungsi yang menunjang sistem pembelajaran yang dicanangkan oleh pemerintah.

(12)

e. Fungsi kultural, yaitu fungsi perpustakaan sebagai media dalam rangka mengembangkan berbagai kebudayaan yang dituangkan dalam suatu karya.

(2013: 20-21)

Sedangkan Suwarno sendiri berpendapat bahwa terdapat paradigma baru fungsi perpustakaan yang dituntut untuk mengikuti perkembangan IT, di antaranya sebagai berikut:

1. Simpan saji karya, yaitu fungsi perpustakaan sebagai tempat menyimpan suatu karya.

2. Pusat Sumber Daya Informasi (SDI), maksudnya adalah perpustakaan menjadi pusat yang berfungsi untuk menggali dan mengelola informasi untuk dijadikan bahan bagi pemustaka yang kemudian menghasilkan karya baru. Karya tersebut dapat diakses oleh pemustaka lain sebagai informasi yang baru.

3. Pusat sumber belajar dan penelitian masyarakat, sehingga menjadi masyarakat yang cerdas dan berpengetahuan luas.

4. Rekreasi dan re-kreasi, yaitu fungsi sebagai tempat yang nyaman dan menyajikan informasi-informasi yang sifatnya menyenangkan. 5. Mengembangkan kebudayaan, yaitu sebagai tempat pengembangan

kebudayaan melalui informasi yang disajikan, serta penanaman nilai-nilai kepada masyarakat melalui berbagai kegiatannya yang berhubungan dengan budaya.

(2013: 21-23). 2.3. Jenis Perpustakaan

Berdasarkan berbagai hal seperti perbedaan tujuan, organisasi induk, anggota, kebutuhan informasi, tempat, dan koleksi bahan pustaka yang dimiliki, terdapat pembagian jenis perpustakaan. Berikut jenis perpustakaan yang ada dewasa ini menurut Sulistyo Basuki:

1) Perpustakaan Internasional

Adalah perpustakaan yang merupakan bagian sebuah organisasi internasional, biasanya didirikan oleh dua negara atau lebih.

2) Perpustakaan Nasional

(13)

penduduk suatu negara. Fungsi utamanya adalah menyimpan seluruh bahan pustaka yang tercetak dan terekam yang diterbitkan dalam satu negara.

3) Perpustakaan Umum

Merupakan perpustakaan yang diselenggarakan oleh dana umum dengan tujuan melayani umum.

4) Perpustakaan Swasta (Pribadi)

Dikelola pihak swasta atau pribadi dengan tujuan melayani keperluan bahan pustaka bagi kelompok, keluarga, atau individu tertentu.

5) Perpustakaan Khusus

Dapat merupakan perpustakaan sebuah departemen, lembaga negara, lembaga penelitian, organisasi massa, militer, industri,

Ialah perpustakaan yang terdapat pada perguruan tinggi, badan bawahannya, maupun lembaga yang berafiliasi dengan perguruan tinggi. Tujuan utamanya ialah membantu perguruan tinggi mencapai tujuannya yang dikenal dengan sebutan Tri Darma. (1993: 42-51)

2.4. Pengertian Perpustakaan Khusus

(14)

pendidikan, lembaga keagamaan, rumah ibadah, atau organisasi lain” (2014: 4), dan bahwa perpustakaan khusus memberikan layanan dengan lingkungan yang terbatas dan bahan pustaka yang terbatas pula, diselenggarakan sesuai dengan standar nasional perpustakaan dengan bantuan pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah, dapat berupa pemberian teknis, pengelolaan, dan/atau pengembangan perpustakaan (2014: 20-21).

Terdapat ciri utama dalam perpustakaan khusus yang dipaparkan : a. Buku yang terbatas pada satu atau beberapa disiplin ilmu saja. b. Keanggotaan perpustakaan terbatas pada sejumlah anggota yang

ditentukan oleh kebijakan erpustakaan atau kebijakan badan induk. c. Peran utama pustakawan ialah melakukan penelitian kepustakaan

untuk anggota.

d. Tekanan koleksi bukan pada buku melainkan pada majalah, pamflet, paten, laporan penelitian, abstrak, atau indeks karena jenis tersebut umumnya informasinya lebih mutakhir dibandingkan buku. bahwa perpustakaan khusus adalah milik lembaga atau instansi tertentu, yang beranggotakan pada kalangan terbatas, dan memiliki layanan serta bahan pustaka yang berbeda pula dibandingkan perpustakaan lain dengan mengikuti standar nasional perpustakaan.

2.5. Macam Perpustakaan Khusus

Terdapat tiga macam perpustakaan berdasarkan pendapat Soeatminah, meliputi:

(15)

digunakan untuk menghimpun koleksi salah satu bidang ilmu pengetahuan atau salah satu profesi.

b. Perpustakaan Khusus Perkantoran. Merupakan milik kantor pemerintahan atau swasta yang dalam tugasnya melaksanakan pemenuhan kebutuhan informasi yang berkaitan dengan tugas kantor yang bersangkutan, dan dilengkapi dengan koleksi peraturan perundangan, laporan kegiatan, laporan penelitian, dan lain-lain. c. Perpustakaan Khusus Perusahaan. Koleksinya terdiri dari

buku-buku yang dapat memberikan informasi untuk meningkatkan dan melancarkan kegiatan perusahaan seperti pengetahuan administrasi, produk, pemasaran dan lainnya.

(1992: 36-37)

Dalam penelitian ini, yang dimaksud perpustakaan khusus ialah perpustakaan kantor, dikarenakan induk yang membawahi perpustakaan adalah Dinas Kelautan dan Perikanan yang menjadi institusi pemerintahan. Terdapat perbedaan bahwa perusahaan yang dimaksud bukan institusi yang dibawahi pemerintah melainkan swasta, sehingga macam perpustakaannya pun dibedakan.

2.6. Pengertian Desain Interior

(16)

berlindung, menentukan langkah sekaligus mengatur bentuk aktivitas, memelihara aspirasi dan mengekspresikan ide-ide yang menyertai segala tindakan, mempengaruhi penampilan, perasaan, dan kepribadian. Oleh sebab itu, maksud dan tujuan desainer interior adalah untuk memperbaiki fungsi, memperkaya nilai estetis dan meningkatkan aspek psikologis dari ruang interior)” (2012: 37).

Dapat diketahui bahwa desain interior sendiri ialah subjek yang berhubungan dengan perencanaan suatu gedung atau ruang dan hal ini tidak lepas dari bentuk fisik perpustakaan, ditujukan untuk memberi nilai tambah bagi suatu ruang dalam hal fungsi, estetika, dan psikologi pemustaka.

2.7. Desain Interior Perpustakaan

Sedangkan interior desain perpustakaan sendiri dijelaskan sebagai berikut, “The subject of interior design is relevant to both planning new and expanded library buildings and to renovating existing library spaces (subjek dari desain interior berhubungan baik dengan perencanaan baru dan penambahan bangunan perpustakaan dan untuk memperbaharui keberadaan ruang perpustakaan)” (Brown, 2002: 7).

Suwarno menyatakan bahwa “Gedung dan ruangan yang memadai dan cukup menampung koleksi pembaca, layanan, kegiatan pengolahan bahan pustaka, dan kegiatan administrasi”(2009: 35). Penataan ruang perlu kiranya direnungkan agar desain ruangan menjadi kondusif dan menunjang cita-cita perpustakaan, implikasinya pada kenyamanan pemustaka dalam membaca, dan menghindari penataan ruang yang menimbulkan rasa bosan dan jenuh bagi user akibat penyekatan ruang dengan sekat-sekat mati dan menutupi pandangan (Suwarno, 2009: 101).

2.8. Elemen-Elemen Desain Interior

(17)

1) Ruang (Tata Letak)

Berkenaan dengan penataan ruang pada perpustaakan sehingga pemustaka tidak membutuhkan penunjuk arah atau denah gedung. Penataan ruang yang baik membuat pemustaka tidak merasa bingung sehingga bisa langsung memilih ruang layanan yang sesuai dengan kebutuhannya.

2) Pencahayaan

Umumnya penggunaan pencahayaan di perpustakaan akan lebih banyak, baik cahaya buatan maupun cahaya alami dengan penerapan jendela dan ventilasi untuk membantu pemustaka dalam menentukan kegiatan selama berada di perpustakaan. Pada perpustakaan modern, dibutuhkan tingkatan pencahayaan untuk kebutuhan pemustaka dan pustakawan yang mungkin berbeda, seperti pencahayaan pada ruang baca dan ruang teknis misalnya. 3) Tata Suara

Dikhususkan pada ruang sirkulasi dan ruang referensi dimana terjadi banyak interaksi antara pemustaka dan pustakawan. Pengaturan dibutuhkan untuk menghindari kebisingan dan gaung yang akan mengganggu pemustaka yang membutuhkan suasana tenang dan membedakan kebutuhan pemustaka yang sedang berdiskusi dan yang individu.

4) Suhu Udara

Tidak hanya dibutuhkan oleh pemustaka namun juga untuk menghindari kerusakan bahan pustaka, sehingga dibutuhkan suhu tertentu untuk bahan pustaka. Standar kenyamanan suhu udara di negara Indonesia berpedoman pada standar Amerika (ANSI/ ASHARE, 1992; 55 dalam Karyono T.H. 2001). Mereka merekomendasikan suhu nyaman 22,5 oC – 26 oC atau disederhanakan menjadi 24 oC atau rentang 22 oC hingga 26 oC 5) Kualitas Udara, tidak hanya mengenai sirkulasi udara yang baik

(18)

6) Kenyamanan.

Sulistyo dalam Sinttyauw menyatakan bahwa “Perencanaan gedung yang baik akan menghasilkan tempat kerja yang efisien, nyaman, dan menyenangkan bagi staf perpustakaan maupun pengunjung” (1991: 303). Rasa nyaman yang didapat oleh pemustaka mengindikasikan pelayanan perpustakaan tersebut yang sangat baik dan maju, dan juga terdapat loyalitas yang tinggi. Pemustaka tidak hanya sekedar berkunjung ke perpustakaan saja melainkan juga memanfaatkan fasilitasnya dengan maksimal dikarenakan sudah mendapatkan kenyamanan tersebut.

(Kugler dalam Sainttyauw, 2013: 5-9). 2.9. Pengertian Kenyamanan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kenyamanan berarti “keadaan nyaman; kesegaran; kesejukan”, yang dapat diartikan sebagai keadaan segar atau sejuk yang dialami oleh fisik beserta panca inderanya.

“Kenyamanan adalah suatu keadaan lingkungan yang memberi rasa yang sesuai kepada panca indera dan antropemetry disertai fasilitas yang sesuai dengan kegiatannya. Antropemetry adalah proporsi dan dimensi tubuh manusia serta karakter fisiologis lain-lainnya dan sanggup berhubungan dengan berbagai kegiatan manusia yang berbeda-beda dan mikro lingkungan” (Weisman dalam Tistaningtyas, 2002:13 ). Kenyamanan terjadi setelah ditangkap melalui penglihatan oleh rnata, pendengaran oleh telinga, penciuman oleh hidung, perabaan oleh kulit, dan pengecapan oleh mulut (Tistaningtyas, 2002: 13).

(19)

manusia yang tenang dan sehat, disertai oleh fasilitas yang sesuai dengan kegiatannya disebabkan telah tercapainya kebutuhan dasar manusia.

2.10. Aspek-Aspek Kenyamanan

Terdapat aspek dalam kenyamanan yang dijelaskan sebagaimana berikut :

1) Kenyamanan fisik berkenaan dengan sensasi tubuh individual. 2) Kenyamanan psikospiritual berkenaan dengan internal diri,

meliputi konsep diri, harga diri, makna kehidupan, seksualitas dan hubungan.

3) Kenyamanan lingkungan berkenaan dengan lingkungan. Kondisi ini berhubungan antara panca indera dan pengaruh dari luar manusia seperti temperatur, suhu, atau udara.

4) Kenyamanan sosial kultural berkenaan dengan interpersonal, maksudnya hal-hal yang berhubungan dengan orang lain seperti keuangan, perawatan kesehatan, individu, dan lainnya.

(Kolcaba dalam Bangun, 2014: 11-12).

2.11. Penelitian Sebelumnya

Penelitian mengenai desain interior memang sudah banyak dilakukan sebelumnya, dan dengan kajian yang tidak sedikit, seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Galuh Paramita Swasti (2011) dengan judul “Desain Interior Ruang Layanan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Kudus” dan bertujuan untuk mengetahui persepsi pemustaka terhadap desain interior layanan. Penelitian tersebut mendapat hasil bahwa terdapat tanggapan positif mengenai desain interior di KPAD Kabupaten Kudus sehingga bisa ditarik kesimpulan mengenai keberhasilan desain interior ruang layanan dalam memberikan kenyamanan bagi pemustaka.

(20)

Tengah Semarang” yang bertujuan mengetahui pengaruh desain interior terhadap minat kunjung pemustaka di layanan remaja dan anak-anak. Hasil dari penelitian ini menyebutkan bahwa terdapat signifikansi antara variabel desain interior dengan minat berkunjung pemustaka di layanan remaja dan anak-anak Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah Semarang.

Dalam penelitian Eka Susanti dan Budiono (2014) yang dimuat dalam Jurnal Sains dan Seni Pomit dengan judul “Desain Interior Perpstakaan Sebagai Sarana Edukasi dan Hiburan dengan Konsep Post Modern” yang mengkaji mengenai bagaimana memberikan kenyamanan dan keleluasaan kreativitas dan edukasi pengguna melalui desain interior ini memiliki empat kesimpulan sebagai berikut:

1. Dalam desain interior perpustakaan, perencanaan desain interior ruang dan pembentukan suasana ruang sangat penting dalam pemberian kenyamanan.

2. Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya minat baca di masyarakat adalah kurang terakomodasinya fasilitas perpustakaan yang dapat mempengaruhi animo masyarakat.

3. Cenderung terdapat paradigma lama di masyarakat mengenai perpustakaan yang terkesan membosankan, kaku dan formal tidak mutlak dapat diselesaikan melalui perencanan konsep interior.

4. Fenomena kurangnya minat baca banyak terjadi pada generasi muda, sehingga untuk meningkatkan kembali minat baca tersebut dimunculkan interior dengan pendekatan konsep Post Modern yangbebas, kreatif, dan out of box sesuai dengan karakteristik generasi muda.

(21)

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Desain dan Jenis Penelitian

Pengertian desain penelitian menurut Thyer dalam Widi (2010: 211-212) adalah “sebagai suatu kerangka kerja atau cetak biru (blueprint) yang merinci secara detail prosedur yang diperlukan untuk memperoleh informasi guna menjawab masalah riset dan menyediakan informasi yang dibutuhkan bagi pengambilan keputusan”.

(22)

metode yang digunakan untuk meneliti sekelompok manusia atau objek di masa sekarang. Tujuan penelitian ini untuk membuat deskripsi variabel mengenai pengaruh desain interior terhadap kenyamanan pemustaka di Perpustakaan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah Semarang.

Sementara penelitian kuantitatif itu sendiri diidentifikasikan oleh Danim sebagai “proses kerja yang berlangsung secara ringkas, sempit, dan reduksionis. Reduksionisme melibatkan pembedahan atas keseluruhan menjadi bagian-bagian, yang bagian-bagian itu dapat diuji secara kuantitatif” (2013: 5).

Selanjutnya dijelaskan lebih rinci bahwa penelitian kuantitatif dilaksanakan untuk menjelaskan, menguji hubungan-hubungan antara fenomena, dan menentukan kausalitas dari variabel-variabel untuk menguji teori yang telah ada, dan menggunakan penalaran deduksi. Penelitian kuantitatif penuh dengan objektivitas yang diperoleh melalui instrumen yang telah diuji validitas dan reabilitasnya.

3.2. Populasi

“Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya” (Sugiyono dalam Haryono, 2012:56)

Yang dimaksud dengan populasi dalam penelitian ini adalah pengunjung Perpustakaan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah Semarang dengan tidak dibatasi kriterianya.

3.3. Sampel

Secara umum, sampel dapat dijelaskan sebagai bagian kecil dari populasi (Umar, 2007: 77). Sedang menurut Rahmat, sampel merupakan “sub dari seperangkat elemen yang dipilih untuk dipelajari” (2013: 114).

(23)

1. Sampel penelitian tidak dibatasi pada mayoritas pengunjung perpustakaan tetapi juga pemustaka dari luar, seperti mahasiswa jurusan Kelautan dan Perikanan atau anggota koperasi yang terdiri dari nelayan dan petani ikan.

2. Merupakan pemustaka aktif dan potensial di perpustakaan tersebut di berbagai layanan.

3.4. Teknik Penentuan Sampel

Teknik penentuan sampel menggunakan aksidental yang meupakan teknik sampling dengan mengambil siapa saja responden yang kebetulan ada sehingga semua pengunjung Perpustakaan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi responden.

3.5. Teknik Pengumpulan Data

Peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut :

3.5.1. Observasi

Teknik observasi dilakukan dengan pengamatan langsung pada objek dan subjek penelitian dan melakukan pencatatan secara sistematis tentang fenomena yang terjadi di lapangan. Observasi ini dilakukan sebagai studi pendahuluan mengenai desain interior di Perpustakaan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah Semarang.

3.5.2. Studi Dokumentasi

(24)

3.5.3. Angket

Angket adalah “daftar pertanyaan yang di distribusikan melalui pos untuk diisi dan dikembalikan atau dapat juga dijawab di bawah pengawasan peneliti” (Nasution, 2011: 128).

Dalam penelitian ini, angket disebarkan pada responden yang telah ditetapkan dalam waktu tertentu dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah dirancang menggunakan variabel-variabel sebelumnya. Pertanyaan yang dituliskan peneliti dalam angket merupakan pertanyaan yang merupakan kombinasi, terbagi atas :

a. Angket tertutup

“Angket tertutup terdiri atas pertanyaan atau pernyataan dengan sejumlah jawaban tertentu sebagai pilihan” (Nasution, 2011: 129). Pertanyaan ini dipilih karena menganggap responden cukup mengetahui atau menguasai materi yang ditanyakan.

b. Angket terbuka

Angket terbuka memberi kesempatan penuh memberi jawaban yang dirasa perlu oleh responden tersebut (Nasution, 2011: 129), seperti kritik dan saran atau harapan akan perpustakaan ideal responden.

Adapun dalam penelitian ini digunakan dua sumber data, yaitu data primer dan data sekunder. Sumber data dijabarkan sebagai berikut:

1. Data primer

(25)

pencatatan saat observasi terhadap desain interior perpustakaan.

2. Data Sekunder

“Data sekunder adalah data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain misalnya dalam bentuk tabel-tabel atau diagram-diagram” (Umar, 2007: 42). Yang dimaksud data sekunder dalam penelitian ini ialah buku-buku mengenai penelitian yang bersangkutan, referensi penelitian sebelumnya yang berupa skripsi dan jurnal, serta artikel-artikel yang dapat membantu jalannya penelitian.

3.6. Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data adalah melakukan analisis data dengan metode dan cara tertentu yang telah diberlakukan peneliti. Data yang digunakan adalah data ordinal, yaitu data yang diperoleh dengan cara kategorisasi dan klasifikasi. Dan dikarenakan penelitian ini merupakan kuantitatif, maka pengolahan data menggunakan analisis regresi, yaitu analisis yang bertujuan mengetahui pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain, yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengaruh variabel desain interior sebagai variabel independent terhadap variabel kenyamanan sebagai variabel dependent.

3.7. Analisis Data

(26)

Dalam penelitian kuantitatif, analisis data meliputi tiga langkah sebagai berikut:

1. Persiapan

Kegiatan dalam persiapan antara lain dengan mengecek kelengkapan identitas pengisi berupa nama, alamat, pekerjaan, atau usia. Instrumen anonim tidak diperbolehkan. Mengecek kelengkapan data, artinya memeriksa isi instrumen pengumpulan data, dalam hal ini kuisioner, apakah pertanyaan terisi semua atau terdapat halaman dan kertas yang sobek atau hilang. Kekurangan atau hilang halaman menjadikan terulangnya pengisian data.

2. Tabulasi

Tabulasi adalah penyajian data dalam bentuk tabel sehingga memudahkan pembaca dalam memahami laporan penelitian tersebut. Kegiatan tabulasi meliputi pemberian skor terhadap item-item yang perlu diberi skor, pemberian kode terhadap item yang tidak diberi skor, mengubah jenis data, menyesuaikan atau memodifikasi dengan teknik analisis yang akan digunakan, dan memberikan kode dalam hubungan dengan pengolahan data jika menggunakan komputer.

(27)

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Andriyanto, Dwi. 2011. “Pengaruh Desain Interior Terhadap Minat Berkunjung

Pemustaka di Layanan Remaja dan Anak-Anak Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah Semarang”. Skripsi. Semarang: Fakultas Ilmu Budaya UNDIP.

Atmanta, Igniasius Tri Sunarna. 2010. “Persepsi Pengguna Terhadap Desain Interior Perpustakaan di Perpustakaan Universitas Atma Jaya Yogyakarta”. Skripsi, Semarang: Fakultas Ilmu Budaya UNDIP.

Bangun, Eva Violesta. 2014. Pengaruh Warna Ruang Kerja Terhadap Kenyamanan Dosen Departemen Psikologi Industri Dan Organisasi Fakultas Psikologi USU. Skripsi. Medan: Fakultas Psikologi USU.

Basuki, Sulistyo. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Brown, Carol L. (2002). “Interior Design for Libraries:Drawing on Function and Appeal.” Sumber <http://libgen.org/book/index.php?

md5=6067D62A10510FC5EFAFE7C4276665BB>. Diunduh [20 Oktober 2014].

Ching, Francis D.K., Chorky Bingeli. (2012). “Interior Design Ilustrated 3rd Edition.” Sumber <http://libgen.org/book/index.php?

md5=bb36fc1e98dd05d24c299fe994025803>. Diunduh [20 Oktober 2014].

(28)

Rahmat. 2013. Statistika Penelitian. Bandung: Pustaka Setia.

Riduwan. 2013. Metode dan Teknik Menyusun Proposal Penelitian. Bandung: Penerbit Alfabeta

Saebani, Beni Ahmad dan Kada Nurjaman. 2012. Manajemen Penelitian. Bandung: Pustaka Setia

Sainttyauw, Adrina Ayu Candra Zelzi Jeint. 2014. “Pengaruh Desain Interior Terhadap Kenyamanan Pengguna di Perpustakaan Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya,” dalam Jurnal Unair. Vol. 2 / No. 1 / Pub. 2013-01 / Libri-Net. Surabaya: Universitas Airlangga Surabaya.

Soeatminah. 1992. Perpustakaan, Kepustakawanan, dan Pustakawan. Yogyakarta: Kanisius.

Sunyoto, Danang. 2013. Metode dan Instrumen Penelitian Ekonomi dan Bisnis. Yogyakarta: CAPS.

Susanti, Eka dan Budiono. 2014. “Desain Interior Perpstakaan Sebagai Sarana Edukasi dan Hiburan dengan Konsep Post Modern” dalam Jurnal Sains dan Seni Pomit. Vol. 1 / No. 1. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

Suwarno, Wiji. 2009. Psikologi Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto.

____________. 2013. Ilmu Perpustakaan dan Kode Etik Pustakawan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Swasti, Galuh Paramita. 2011. “Desain Interior Ruang Layanan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Kudus”. Skripsi. Semarang: Fakultas Ilmu Budaya UNDIP

(29)

Kenyamanan dan Visibilitas Penggunanya”. Tesis. Semarang: Fakultas Arsitektur UNDIP.

Umar, Husein. 2007. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Referensi

Dokumen terkait

Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi pada satu waktu periode tertentu ( biasanya satu tahun ), yang merupakan hasil pengumpulan dan pengolahan

Kedelai yang diperjualbelikan oleh bapak Jamilan ternyata terjadi kenaikan harga, karena selain menjual tentunya bapak Jamilan juga menginginkan laba yang cukup,

Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, penelitian pengembangan ini menggunakan model Borg &amp; Gall (1983), namun untuk kepentingan ini dilakukan modifikasi

Pengukuran tingkat capaian kinerja Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Banyuwangi Tahun 2015 dilakukan dengan cara membandingkan antara target Pencapaian Indikator Sasaran

Untuk memprediksi kepailitan akan dihitung rasio-rasio keuangan perusahaan-perusahaan yang dipakai sampel dalam penelitian ini selama tahun 2006-2010,setelah itu

Dalam usaha terpadu perikanan dan peternakan, yang banyak dilakukan oleh masyarakat petani diantaranya adalah pemeliharaan ikan nila merah dan ayam diatas kolam

Pengaruh Kegiatan Ekstrakurikuler Kerohanian Islam terhadap Perilaku Jujur dan Disiplin Siswa MAN Trenggalek Tahun Pelajaran 2016/2017. Di lihat dari hasil

lingkungan, belum mempunyai izin pembuangan air limbah dari IPAL , Belum melakukan pelaporan pengujian air limbah secara rutin dan belum melakukan pelaporan pengelolaan limbah B3 ke