Mendorong Peran Serta Murid dalam
Upaya Pemberantasan Korupsi melalui Pembelajaran
“Jika Aku Menjadi Pegiat Anti Korupsi di Sekolah”
Latar Belakang
Pembelajaran secara leksikal berarti proses, cara, dan perbuatan mempelajari (Suprijono, 2011: 13). Tidak seperti “pengajaran”, dalam pembelajaran yang menjadi subjek adalah peserta didik —guru hanya sebagai mediator pembelajaran. Koheren dengan hal tersebut, maka pembelajaran harus menawarkan suasana dialogis dan interaktif, sebab pembelajaran esensinya merupakan proses organik-konstruktif, bukan mekanis seperti pengajaran.
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah salah satu mata pelajaran yang memiliki substansi pada proses belajar dengan melakukan (learning by doing), yaitu praktik belajar untuk memahami kognisi dan afeksi secara mendalam. Oleh karena itu, setiap metode pembelajaran yang digunakan PKn harus mampu mendorong peserta didik sebagai warga negara yang efektif, kritis, bertanggung jawab, dan terlibat pada kegiatan pemecahan masalah (problem solving).
Sesuai Kompetensi Dasar (KD) 2.5 mata pelajaran PKn kelas X, murid dituntut untuk dapat menampilkan peran sertanya dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia (Budiyanto, 2007: x). Berbeda dengan beberapa KD yang lain, muatan KD tersebut lebih menitikberatkan pada domain psikomotorik. Jadi, murid diharapkan tidak hanya sekadar menguasai materi, tetapi juga harus mampu mengambil peran konkrit dalam upaya pemberantasan korupsi.
Seperti contoh, terkait dengan KD di atas, materi yang diajarkan meliputi contoh-contoh upaya pencegahan korupsi (preventif) dan upaya penindakan korupsi (kuratif). Namun, apakah dengan hanya mengajarkan materi tersebut murid sudah terdorong untuk berpartisipasi dalam upaya pemberantasan korupsi? Belum tentu. Bagaimana pun, yang diajarkan materi baru sebatas “contoh kesalehan” —belum mengajak murid untuk “berbuat saleh”.
Di sini, guru menghadapi sebuah tantangan besar untuk bisa menstimulasi murid agar dapat berpartisipasi aktif dalam upaya pemberantasan korupsi. Meskipun demikian, sebenarnya guru ideal memang bukan hanya yang ahli dalam mentransfer materi, tetapi juga harus bisa menginspirasi dan memberikan pengalaman belajar yang nyata bagi murid-muridnya. Jika tidak begitu, maka suatu saat peran guru mungkin bisa digantikan oleh media teknologi modern.
Proyek Kewarganegaraan
Pada prinsipnya, pembelajaran nilai (value learning) tidak bisa didesiminasi hanya dengan media lisan ataupun tulisan. Untuk menjawab soal opsional tentang pilihan sikap misalnya, murid-murid tentu akan selalu memilih sikap yang paling baik. Namun, apakah ada asuransi ketika mereka sedang mengalaminya di kehidupan nyata juga akan memilih sikap tersebut? Belum dapat dipastikan.
contoh, kasus-kasus korupsi yang melibatkan elite-elite politik di ibu kota, hingga upaya advokasi dan edukasi yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga pemerintah, maupun Indonesian Corruption Watch (ICW) dan Transparency International (TI) sebagai organisasi non pemerintah.
Padahal sesungguhnya, tindakan-tindakan korupsi tidak cuma berimplikasi pada penyelewengan uang negara, tetapi juga terkait dengan perilaku koruptif yang jamak terjadi di sekolah, misalnya mencotek saat ulangan, tidak mengerjakan tugas secara mandiri, tidak jujur ketika membayar jajan di kantin, dan sebagainya. Jadi, upaya pemberantasan korupsi juga bisa dilakukan oleh murid-murid dalam skop yang kecil dan dekat dengan kehidupan mereka, yakni sekolah.
Berdasarkan penjabaran tersebut, guru bisa memfasilitasi murid dengan cara menciptakan sebuah pembelajaran yang memberikan pengalaman riil kepada murid mengenai bagaimana peran serta yang dapat mereka lakukan untuk memberantas korupsi. Pada akhirnya, pembelajaran tersebut juga bisa mendekatkan materi ajar yang seolah sangat jauh dengan keseharian mereka.
Dalam konteks ini, metode pembelajaran yang akan digunakan adalah proyek kewarganegaraan dengan tema “Jika Aku Menjadi Pegiat Anti Korupsi di Sekolah”. Proyek kewarganegaraan mengkombinasikan pembelajaran berbasis proyek dan metode bermain peran (multiple learning). Disebut berbasis proyek, karena murid-murid akan membuat proyek upaya pemberantasan korupsi. Sementara itu, juga disebut metode bermain peran, sebab anak-anak berperan sebagai pegiat anti korupsi di sekolah.
Langkah 1: Pendahuluan
Pada langkah ini, guru membuka pelajaran dan memberikan ilustrasi empirik mengenai nilai-nilai yang melekat dalam hak, kewajiban, dan tanggung jawab warga negara seperti peka, tanggap, terbuka, demokratis, pro patria, primus patrialis, pro bono publico, kooperatif, argumentatif dan prospektif dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia (Winataputra, dkk, 2012: 193).
Selanjutnya, guru menyajikan tayangan video Company Profile KPK yang berisi profil singkat KPK, gambaran persoalan korupsi di Indonesia, dan solusi praksisnya. Namun, untuk menghindari apatisme dan pesimisme dari para murid, guru lantas memberikan “klarifikasi”, bahwa problem korupsi di Indonesia tetap bisa diatasi dengan dukungan dari segenap rakyat Indonesia, termasuk murid-murid.
Dalam momentum tersebut, agar semakin termotivasi, guru juga meminta seluruh murid untuk menirukan Sumpah Pelajar Indonesia yang dipekikkan oleh guru di depan kelas. Adapun isinya adalah “Kami pelajar Indonesia bersumpah: 1) Bertanah air satu, tanah air tanpa kesenjangan; 2) Berbangsa satu, bangsa yang cinta akan keadilan; dan 3) Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.”
Kemudian, sebagai triger kegiatan lebih lanjut, guru mengajak murid untuk merenungkan sebuah pertanyaan, “Korupsi memang sudah mengakar kuat di sendi-sendi kehidupan republik ini, tetapi sebagai generasi muda pewaris perjuangan dan pemimpin masa depan bangsa, apakah anak-anak akan berdiam diri? Bagaimana peran yang dapat anak-anak lakukan dalam proses transformasi negara ke arah yang lebih baik, yakni negara yang bebas dari praktik-praktik korupsi?”.
Langkah 2: Kegiatan Inti Tahap Pra Gelar Kemampuan
learning” yang dikemas lewat model project ala John Dewey. Berikut langkah-langkah yang diterapkan:
1. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi. 2. Mengumpulkan informasi yang terkait pada masalah itu. 3. Mengembangkan portofolio kelas.
4. Menyajikan dan mendiskusikan portofolio. 5. Melakukan refleksi pengalaman belajar.
Sebelum langkah-langkah di atas dimulai, guru mengorganisasikan kelas — yang berjumlah 20 anak— menjadi dua kelompok besar yang masing-masing terdiri dari 10 anak. Setiap kelompok, kemudian ditugaskan untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai permasalahan korupsi di sekolah dan gagasan-gagasan kreatif untuk mengatasinya. Berbagai pertanyaan sekaligus jawaban-jawaban tersebut lantas dituangkan dalam portofolio dengan format:
Gambar 1. Format Portofolio dengan Menggunakan Kertas Karton
Dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, murid dapat mempelajari sumber kepustakaan yang ada, mengamati berbagai peristiwa penting di sekolah yang relevan, dan bertanya kepada narasumber seperti guru serta teman-teman sekolah. Setiap kelompok selanjutnya wajib mencatat aktivitas pencarian data yang telah mereka lakukan, seperti misalnya instrumen dan hasil wawancara, hasil observasi, serta hasil dokumentasi.
Di situlah berbagai keterampilan murid dikembangkan, contoh: membaca, mendengar pendapat orang lain, mencatat, merumuskan, mengkaji, menyepakati, membagi tugas, berargumentasi, dan berpikir kreatif serta inovatif. Untuk proses tersebut, guru memberikan alokasi waktu selama satu minggu kepada murid. Kemudian, hasilnya akan di-show case-kan pada pertemuan tatap muka.
Permasalahan
Pada prinsipnya, portofolio merupakan kumpulan hasil karya murid yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan pembelajaran (Benny, 2009: 175). Metode portofolio ditempuh untuk mengetahui kemajuan belajar (learning progress) murid. Portofolio di sini sendiri terbagi dalam dua bagian, yakni “portofolio tampilan” dan “portofolio dokumentasi” yang menyajikan rangkuman masalah serta gagasan alternatif dengan sistematis.
Tahap Gelar Kemampuan
Sebelum melaksanakan gelar kemampuan (show case), guru mendesain ruang kelas secara dekonvensional. Artinya, tempat duduk murid tidak lagi disusun seperti tata ruang kelas pada umumnya. Desain tersebut dipilih untuk mendukung proses gelar kemampuan yang dimoderatori oleh guru. Berikut komparasi desain ruang kelas konvensional dengan desain ruang kelas dekonvensional:
Gambar 2. Komparasi Desain Ruang Kelas Konvensional dengan Desain Ruang Kelas Dekonvensional
Keterangan:
1. Tempat duduk murid 2. Meja guru
3. Display portofolio kelompok 1 4. Tempat duduk kelompok 1 5. Meja guru
6. Tempat duduk kelompok 2 7. Display portofolio kelompok 2
Setelah ruang kelas didesain secara dekonvensional, guru lantas membacakan pedoman (term of reference) gelar kemampuan. Pertama, gelar kemampuan adalah suatu kontestasi di mana dua kelompok saling bersaing untuk menunjukkan bahwa gagasan yang dimiliki lebih baik jika dibandingkan dengan gagasan dari kelompok lain. Persaingan tersebut dilakukan ketika sesi diskusi, yakni setiap kelompok diberikan kesempatan untuk dapat mengkritisi gagasan kelompok lawan.
Kedua, masing-masing kelompok diberikan waktu presentasi maksimal 10 menit dan untuk sesi tanya jawab maksimal 20 menit. Pada sesi presentasi, setiap kelompok diwakili oleh maksimal dua presentator. Sementara itu, pada waktu tanya jawab, semua anggota dari kelompok lawan wajib menyampaikan pertanyaan atau tanggapan untuk memantik atmosfer diskusi yang lebih dinamis.
Desain Ruang Kelas Konvensional Desain Ruang Kelas Dekonvensional
4 6
5 7 3
1
Ketiga, guru berperan sebagai moderator yang memandu jalannya gelar kemampuan. Jika diperinci, tugas guru adalah: 1) membuka gelar kemampuan dan menyilakan setiap kelompok untuk memulai presentasi, 2) memberikan kesempatan kepada seluruh anggota kedua kelompok untuk bertanya maupun menanggapi, 3) memperjelas tanya jawab dan tanggapan apabila terjadi konflik atau jalan buntu (dead lock), serta 4) menutup gelar kemampuan dan melakukan refleksi.
Pada kesempatan ini, dua kelompok memaparkan presentasi dengan baik. Pada kolom masalah, analisis keduanya tentang persoalan-persoalan korupsi yang terjadi di sekolah memang relatif sama, yakni: 1) tidak jujur saat membayar di kantin, 2) mencontek ketika ujian, 3) sengaja datang terlambat ke kelas (korupsi waktu), dan 4) berlebihan dalam menggunakan air dan AC (korupsi fasilitas).
Namun, untuk gagasan atau ide, setiap kelompok memiliki keunikan masing-masing. Kelompok pertama contohnya, mengajukan gagasan “Aliansi Pelajar Ogah Korupsi”, sedangkan kelompok kedua mengangkat ide “Suara Pelajar Anti Korupsi”. Dari uraian perwakilan kelompok pertama, guru dapat menangkap bahwa upaya pemberantasan korupsi di sekolah yang mereka tempuh lebih berfokus pada kegiatan-kegiatan seni, seperti membuat poster anti korupsi dan bahkan menciptakan lagu anti korupsi.
Sementara itu, setelah mencermati presentasi dari perwakilan kelompok kedua, guru bisa mencerna bahwa upaya pemberantasan korupsi di sekolah yang mereka lakukan lebih berkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan literasi, semisal menggagas buletin pelajar anti korupsi dan waqaf buku anti korupsi. Sebagai catatan khusus, sebelum beralih pada sesi diskusi, guru harus memberikan apresiasi bagi setiap kelompok atas gagasan yang telah diusulkan untuk memotivasi.
Selanjutnya, dalam sesi diskusi, guru menjalankan tugas untuk dapat menjaga kedinamisan dan kondusivitas tanya jawab. Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan adalah: 1) merangkum dan memperjelas pertanyaan, tanggapan, serta jawaban; 2) memberikan peringatan terhadap peserta jika menyalahi peraturan diskusi; dan 3) memastikan tanya jawab tidak melenceng dari topik yang sedang didiskusikan.
Di samping berperan sebagai moderator, secara umum sebenarnya guru juga berperan sebagai observator. Hal tersebut dilakukan untuk kepentingan penilaian. Jadi pada pertemuan tatap muka, ada dua macam penilaian yang bisa dilakukan guru. Pertama, menilai portofolio masing-masing kelompok. Kedua, guru menilai performa setiap kelompok saat presentasi dan diskusi.
Untuk penilaian portofolio, guru mengedepankan pada aspek konten dan visualisasi. Pada aspek konten, guru menilai beberapa indikator, di antaranya yaitu: 1) Apakah identifikasi persoalan sesuai dengan topik yang diberikan?, 2) Apakah gagasan memiliki kebaruan?, 3) Apakah gagasan memiliki rasionalitas?, dan 4) Apakah data-data yang digunakan valid dan representatif?
Tabel 1. Rubrik Penilaian Konten dan Visualisasi Portofolio
Berikutnya, untuk penilaian performa saat presentasi dan diskusi, guru dapat berkonsentrasi pada beberapa aspek, yakni signifikansi, pemahaman, argumentasi, responsifness, dan kerjasama kelompok (Arifin, 2010: 12). Aspek-aspek tersebut lantas dielaborasikan atau dijabarkan melalui sejumlah indikator. Berikut rubrik penilaian presentasi dan diskusi jika dirumuskan dalam sebuah tabel:
No. Aspek Penilaian Indikator Nilai
1. Konten Identifikasi persoalan sesuai dengan topik yang diberikan.
Gagasan yang diajukan memiliki kebaruan.
Gagasan yang diajukan memiliki rasioalitas.
Data-data yang digunakan valid dan representatif.
2. Visualisasi Bahan-bahan portofolio dimanipulasi secara kratif.
1. Signifikansi Seberapa besar tingkat kesesuaian atau kebermaknaan informasi yang diberikan dengan topik yang dibahas. 2. Pemahaman Seberapa baik tingkat pemahaman
peserta didik terhadap hakikat dan ruang lingkup masalah yang disajikan.
3. Argumentasi Seberapa besar kesesuaian jawaban yang diberikan peserta didik dengan pertanyaan yang muncul.
4. Responsifness Seberapa besar kesesuaian jawaban yang diberikan peserta didik dengan pertanyaan yang muncul.
Tabel 2. Rubrik Penilaian Presentasi dan Diskusi Gelar Kemampuan
Keterangan:
1. Skor 5: Sangat baik 2. Skor 4: Baik
3. Skor 3: Cukup 4. Skor 2: Kurang
5. Skor 1: Sangat kurang Tahap Pasca Gelar Kemampuan
Setelah seluruh proses gelar kemampuan selesai dilaksanakan, guru bersama murid kemudian melakukan refleksi pengalaman belajar. Pertama, guru memberikan ulasannya terhadap proses gelar kemampuan. Kedua, guru juga memberikan saran dan masukan kepada setiap kelompok terkait gagasan yang telah mereka ajukan. Diharapkan, saran dan masukan tersebut akan membantu kedua kelompok saat mengkonkretisasi gagasan.
Bagi kelompok pertama misalnya, guru menyarankan dalam pembuatan lagu dan poster anti korupsi mereka bisa berkolaborasi dengan guru seni budaya. Hal tersebut dilakukan agar lagu dan poster anti korupsi yang dibuat nantinya dapat lebih maksimal, selain juga dapat dipentaskan serta dipamerkan pada berbagai kegiatan (event) sekolah. Jadi, “pembumian” hasil karya mereka tidak hanya mandek sampai di ruang kelas saja.
Kemudian, untuk kelompok kedua, guru bisa memberikan masukan jika ide waqaf buku yang diprogramkan dapat direalisasikan bersama dengan pustakawan sekolah, sehingga buku-buku anti korupsi yang mereka waqaf-kan bisa lebih mudah dijangkau oleh warga sekolah. Selanjutnya, untuk keperluan promosi, mereka dapat memanfaatkan gagasan buletin anti korupsi yang dibuat. Jadi, informasi kegiatan waqaf buku bisa di-blow up dalam buletin tersebut.
Hal yang perlu diperhatikan dalam tahap refleksi adalah bahwa semua saran dan masukan guru tidak boleh bersifat satu arah. Artinya, saran dan masukan guru bukan “dipaksakan”, melainkan “dikomunikasikan” dengan murid. Sesuai dengan konsep pendidikan yang kooperatif, “Sekolah bukanlah sekadar menjadi ajang kepatuhan, tetapi sekolah merupakan ajang bertukar pikiran.”
Tahap Konkretisasi
Dalam tahap konkretisasi, kedua kelompok saling bersaing untuk mewujudkan gagasan yang sudah mereka gelar kemampuankan sebagai pegiat anti korupsi di sekolah. Adapun waktu yang diberikan oleh guru bagi masing-masing kelompok adalah satu minggu. Selama satu minggu, guru juga melaksanakan penilaian terhadap proses konkretisasi tersebut. Berikut rubrik penilaiannya:
No. Aspek Penilaian Indikator Nilai
1. Pencapaian Tingkat pencapaian dari konkretisasi gagasan.
2. Dampak Dampak yang sudah dihasilkan dari konkretisasi gagasan.
Tabel 3. Rubrik Penilaian Konkretisasi Gagasan Anti Korupsi di Sekolah
Keterangan:
1. Skor 5: Sangat baik 2. Skor 4: Baik
3. Skor 3: Cukup 4. Skor 2: Kurang
5. Skor 1: Sangat kurang
Secara umum, guru melihat dampak yang signifikan dari upaya konkretisasi kedua kelompok dalam pemberantasan korupsi di sekolah. Saat ulangan contohnya, guru tak lagi menjumpai praktik-praktik malaintegritas —guru sempat berpura-pura meninggalkan ruangan kelas. Kemudian, tidak hanya itu, guru sekarang juga sulit untuk menemukan murid-murid yang terlambat masuk kelas seusai jam istirahat, termasuk mereka yang berbohong ketika membayar jajan di kantin.
Langkah 2: Penutup
Kegiatan penutup dilakukan setelah seluruh tahap proyek kewarganegaraan selesai diterapkan. Dalam kegiatan penutup, setiap kelompok diberikan kesempatan untuk menceritakan pengalaman mereka saat berusaha merealisasikan ide sebagai pegiat anti korupsi di sekolah. Selanjutnya, guru baru mengumumkan pemenang proyek kewarganegaraan tersebut berdasarkan akumulasi nilai portofolio (25%), show case (25%), dan konkretisasi (50%). Terakhir, tak ketinggalan, guru juga memberikan penegasan dan penguatan (debreafing) nilai-nilai.
Desain ruang kelas yang digunakan pada kegiatan penutup ini masih sama dengan desain yang diaplikasikan saat tahap gelar kemampuan. Namun, ketika masing-masing kelompok “menarasikan” pengalamannya, tidak ada lagi termin untuk tanya jawab atau menanggapi. Berikutnya, pada waktu pemberitahuan pemenang, guru tetap menyampaikan apresiasi yang luar biasa bagi kedua kelompok —terlepas dari mana kelompok yang menang dan yang kalah.
Sebagai akhir kegiatan pembelajaran, guru memberikan penegasan dan penguatan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam proyek kewarganegaraan. Nilai-nilai tersebut mencakup nilai-nilai yang inheren dalam hak, kewajiban, dan tanggung jawab warga negara seperti peka, terbuka, serta demokratis, dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Kemudian, untuk memungkasnya, guru menyampaikan sebuah epilog, bahwa:
“Akhir pembelajaran ini bukan berarti menjadi akhir dari peran anak-anak sebagai pegiat anti korupsi di sekolah. Sebaliknya, akhir pembelajaran ini justru menjadi awal bagi kalian sebagai generasi muda untuk dapat turun tangan dalam proses perubahan negeri ke arah yang lebih baik. Seperti yang dahulu pernah diungkapkan oleh Bung Karno, berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!”.
Simpulan
Selanjutnya, tidak kalah penting, berbagai perilaku koruptif yang sebelumnya jamak terjadi di sekolah bisa direduksi berkat peran murid-murid sebagai pegiat anti korupsi. Dalam jangka waktu yang panjang, hal tersebut juga diharapkan mampu mengkultur dan menjadi nilai positif bagi sekolah, maupun pendidikan Indonesia secara umum. Pada muaranya, generasi-generasi asketisis akan terlahir untuk menyembuhkan Indonesia dari “infeksi” penyakit korupsi.
Saran
Dalam menerapkan pembelajaran ini, ada beberapa kiat tertentu yang perlu diperhatikan oleh guru untuk mengoptimalkan proses dan hasil pembelajaran. Kiat-kiat tersebut berfungsi sebagai pedoman bagi guru selama menjadi mediator dan fasilitator dalam pembelajaran. Tidak dapat dipungkiri, meskipun di sini murid menjadi “episentrum” pembelajaran, tetapi peran guru tetap sangat krusial. Beberapa kiat yang dimaksud adalah:
1) Guru harus dapat memastikan bahwa setiap peserta didik ikut serta dan ambil bagian dalam seluruh rangkaian pembelajaran. Hal tersebut dilakukan dengan cara menekankan, bahwa keberhasilan kelompok akan “dependen” dengan keaktifan dan kerjasama dari anggota-anggotanya.
2) Guru harus dapat berkolaborasi dengan peserta didik dan membantu mereka dalam menginvestigasi dan menyelesaikan masalah secara kolektif. Jadi, guru tidak hanya sebatas mengamati, tetapi —terkadang— juga mengarahkan murid dengan berbagai impuls yang merangsang pemikiran kreatif (thinking outside the box) mereka.
3) Guru harus dapat mengikhtisar dan mengevaluasi setiap aktivitas peserta didik dalam pembelajaran. Seperti contoh, guru mencatat presentasi dari masing-masing kelompok, mengoreksi kesalahpahaman (misconseption) yang terjadi pada saat diskusi, dan memperjelas tanya jawab atau tanggapan.
4) Guru harus dapat mengkorelasikan pembelajaran dengan materi ajar yang telah ada di buku. Hal tersebut berguna sebagai pijakan teoretis bagi murid saat berperan menjadi pegiat anti korupsi di sekolah. Jangan lupa adagium, bahwa “Teori tanpa praktik adalah lumpuh dan praktik tanpa teori adalah buta.”
Daftar Referensi
Budiyanto. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA Kelas X. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Suprijono, Agus. 2011. Cooperative Learning (Teori dan Aplikasi PAIKEM). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Winataputra, dkk. 2012. Pendidikan Kewarganegaraan dalam Perspektif Internasional (Konteks, Teori, dan Profil Pembelajaran). Jakarta: Dwitama Asrimedia.
Benny, Pribadi. 2009. Model Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Dian Rakyat. Arifin, Zainal. 2010. Penilaian Portofolio (Konsep – Prinsip – Prosedur). Makalah.
Lampiran 1
Scan KTP
Lampiran 2
Identitas Diri
Nama : Arie Hendrawan, S.Pd. Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat,Tanggal lahir : Kudus, 28 Agustus 1992
Alamat : Jl. Tirto Husodo, No. 1A, Pedalangan, Kota Semarang
No. HP : 085740228837
E-Mail : [email protected] Riwayat Pendidikan Formal
No. Tahun Lulus Institusi Pendidikan
1. 2004 SD Negeri 1 Jati Kulon Kudus 2. 2007 SMP Negeri 1 Jati Kudus 3. 2010 SMA Negeri 1 Bae Kudus
4. 2014 Prodi PPKn, Jurusan Politik dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang (Terkreditasi “A”/IPK 3,60/Yudisium Cumlaude)
Pengalaman Organisasi/Pekerjaan
No. Periode Organisasi/Pekerjaan
1. 2010 – 2012 Sekretaris Guguslatih Ilmu Sosial – Universitas Negeri Semarang 2. 2011 – 2012 Anggota Bidang Evaluasi, Penelitian, dan Pengembangan
(Evalitbang) Pondok Pesantren Aswaja – Kota Semarang
3. 2012 Pendamping Ekstrakulikuler Pramuka SMK Bina Nusantara – Kabupaten Semarang
4. 2012 – 2013 Anggota Bidang Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Guguslatih Ilmu Sosial – Universitas Negeri Semarang
5. 2012 – 2013 Tentor Genius School – Kabupaten Semarang
6. 2013 – 2014 Pendamping Pramuka SD 02 Manyaran – Kota Semarang
7. 2013 – 2014 Anggota Dewan Kehormatan Guguslatih Ilmu Sosial – Universitas Negeri Semarang
8. 2014 –
Sekarang Guru PKn dan Staf Bidang Kesiswaan SMA Islam Al-Azhar 14 –Kota Semarang
Award and Achievement
No. Tahun Award and Achievement
1. 2012 Juara I Lomba Political Writing Competition (Potret) Tingkat Nasional oleh BEM FMIPA Unnes - Universitas Negeri Semarang 2. 2012 Juara I Lomba Essay Tingkat Nasional oleh BEM Fapet UGM –
FKIP UMK – Universitas Muria Kudus
4. 2012 Juara Favorit 30 Besar Kompetisi Penulisan Artikel Tingkat Nasional oleh Komunitas Internet Cerdas Indonesia (ICI) dan Dibukukan oleh Penerbit Leutikaprio – Situbondo
5. 2012 Juara II Lomba Menulis Artikel Tingkat Nasional oleh Koran Online Pewarta Indonesia bersama Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) – Jakarta
6. 2012 Juara III Lomba Artikel Ilmiah Tingkat Nasional oleh Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara UNY – Universitas Negeri Yogyakarta
7. 2012 Tulisan Dimuat dalam Rubrik Kompas Kampus dengan Judul “Sukarelawan TPS” – Harian Kompas (12/6/2012)
8. 2012 Tulisan Dimuat dalam Rubrik Opini Express Mahasiswa dengan judul “Pemuda, Globalisasi, dan Adiluhung Jawa” – Harian Express Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (26/5/2012) 9. 2012 – 2013 Penerima Beasiswa PPA Fakultas Ilmu Sosial – Universitas
Negeri Semarang (Semester 3 – Semester 6)
10. 2012 – 2013 Penerima Beasiswa Koperasi Karyawan PT. Pura Roto – Kabupaten Kudus (Semester 4 dan Semester 6)
11. 2013 Juara III Mahasiswa Berprestasi Tingkat Fakultas Ilmu Sosial – Universitas Negeri Semarang
12. 2013 Juara I Lomba Debat dengan Tema “Pro dan Kontra Kurikulum 2013” Tingkat Universitas Negeri Semarang oleh The Green Scientist Society - Universitas Negeri Semarang
13. 2013 Juara I UKMP Essay Conservation Bertema “From Unnes to Global Conservation” Tingkat Universitas Negeri - Universitas Negeri Semarang
14. 2013 Juara IV Lomba Karya Tulis Tingkat Nasional oleh Program Studi Ilmu Hukum President University – President University
15. 2013 Juara I Lomba Esai Great Moment Tingkat Jateng dan DIY oleh UPK LPM Gema Keadilan Undip – Universitas Diponegoro Semarang
16. 2013 15 Besar dalam Lomba Menulis Esai Tingkat Nasional oleh HMJ Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah – Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
17. 2013 Ketua Kelompok Program Pengabdian Masyarakat yang Didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Unnes – Universitas Negeri Semarang
18. 2013 Juara I Lomba Esai Tingkat Nasional “Politic and Goverment Days”oleh Komap UGM – Universitas Gadjah Mada
19. 2013 Tulisan Dimuat dalam Rubrik Debat Mahasiswa dengan Judul “Melalui Pendidikan Anti Korupsi” – Harian Suara Merdeka (23/2/2013)
20. 2013 Tulisan Dimuat dalam Rubrik Gagasan Website Resmi Unnes dengan judul “Menjadi Guru Inspiratif” – www.unnes.ac.id (21-28/10/2013)
22. 2014 Tulisan Dimuat dalam Rubrik Opini dengan Judul “Mendukung Wajib Belajar 12 Tahun” – Koran Muria (28/4/2013)
23. 2014 Juara I Lomba Menulis Surat Tingkat Nasional – BEM KM ITS & Harian Surya
24. 2014 Juara II Lomba Menulis Esai Tingkat Nasional – HIMA PGSD UNY Kampus Wates
25. 2014 Penerima Beasiswa Data Print Periode I – Jakarta (Semester 8) 26. 2014 Wisudawan Terbaik ke-1 Jurusan Politik dan Kewarganegaraan
dalam Wisuda Periode III – Universitas Negeri Semarang
27. 2014 Tulisan dimuat dalam Rubrik Wacana Lokal dengan Judul “Apa Kabar Musrenbang” – Harian Suara Merdeka (24/10/2014)
28. 2015 Tulisan dimuat dalam Rubrik Opini Portal Online Koran Muria dengan Judul “Tradisi Bersalaman di Tengah Postmodernitas Lebaran” – www.koranmuria.com (18/7/2015)
29. 2015 Tulisan dimuat dalam Rubrik Opini Warta Al-Azhar dengan Judul “Keteladanan Sang Guru PKn” – Warta Al-Azhar Edisi 279/2015 30. 2015 Tulisan dimuat dalam Rubrik Opini Portal Online Koran Muria
dengan Judul “Popularisasi Terbang Papat” – www.koranmuria. com (27 Oktober 2015)
31. 2015 Juara 1 Lomba Share Quote Sumpah Pemuda Tingkat Nasional – Penerbit Buku Erlangga
Pengalaman Kegiatan Profesional
No. Tahun Kegiatan Profesional
1. 2010 Sie. Acara dalam 1st Wijaya Scout Competition Tingkat Bina
Wilayah Semarang - Universitas Negeri Semarang
2. 2010 Pemateri dalam Kegiatan Pesantren Ramadhan oleh Pondok Pesantren Aswaja di SD 1 Sekaran – Kota Semarang
3. 2010 Peserta Seminar Nasional dengan Tema “Pendidikan Anti Korupsi dalam Rangka Membangun Watak Bangsa” oleh Mahasiswa PPKn Angkatan 2008 – Universitas Negeri Semarang
4. 2010 Peserta Diklat Terpadu Racana Wijaya oleh Racana Wijaya Unnes – Universitas Negeri Semarang
5. 2011 Peserta Seminar Nasional dengan Tema “Problem Pembangunan Karakter Bangsa” oleh Mahasiswa PPKn Angkatan 2009 - Universitas Negeri Semarang
6. 2011 Ketua Panitia dalam Kegiatan Bina Manajemen Wijaya Guguslatih Ilmu Sosial - Universitas Negeri Semarang
7. 2011 Sie. Acara dalam 1st Kompetisi Pramuka Penegak (Kompak)
Tingkat Bina Wilayah Semarang - Universitas Negeri Semarang 8. 2011 Reka Kerja Perjusami dalam Rangka “Sosialisasi
Undang-Undang Gerakan Pramuka” Tingkat Nasional - Universitas Negeri Semarang
9. 2012 Peserta dalam Kegiatan Bina Manajemen Wijaya Guguslatih Ilmu Sosial - Universitas Negeri Semarang
Wilayah Semarang - Universitas Negeri Semarang
12. 2012 Sie. Acara dalam Seminar Nasional dengan Tema “Aktualisasi Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bineka Tunggal Ika Menuju Masyararakat Adil, Makmur, dan Sejahtera” oleh Mahasiswa PPKn Angkatan 2010 - Universitas Negeri Semarang
13. 2012 Peserta Seminar dan Lokakarya Nasional dengan Tema “Penguatan Karakter Pancasila dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia” oleh Pusat Pengkajian Pancasila dan Karakter Bangsa (P3KB) - Universitas Negeri Semarang
14. 2012 Peserta Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) oleh Pusdiklatcab Cakrabaswara bagi Mahasiswa Universitas Negeri Semarang – Kota Semarang
15. 2012 Peserta Workshop Program Kreativitas Mahasiswa oleh Fakultas Ilmu Sosial – Universitas Negeri Semarang
16. 2013 Panitia Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) oleh Pusdiklatcab Cakrabaswara bagi Mahasiswa Universitas Negeri Semarang – Kota Semarang
17. 2013 Juri Lomba Karya Tulis (LK2P) 2nd Kompetisi Pramuka Penegak
(Kompak) Tingkat Bina Wilayah Semarang dan Sekitarnya -Universitas Negeri Semarang
18. 2013 Moderator Bedah Buku dengan Tema “(De)konstruksi Ideologi Negara” dalam Rangkaian Kegiatan Bulan Pancasila -Universitas Negeri Semarang
19. 2013 Moderator Seminar Nasional dengan Tema “Menggagas Pendidikan Berkarakter” Fakultas Ilmu Pendidikan - Universitas Negeri Semarang
20. 2013 Participant Microteaching Training for Outstanding School Faculty of Social Science - Universitas Negeri Semarang
21. 2013 Pemateri dalam Sosialisasi Politik oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LP2M) Universitas Negeri Semarang di SMA Kesatrian 1 Semarang – Kota Semarang
22. 2013 Pemateri dalam Sosialisasi bagi Pemilih Pemula kepada Karang Taruna Muda Tama – Kabupaten Semarang
23. 2013 Peserta Seminar Nasional dengan Tema “Generasi Muda Memaknai Pancasila” oleh Puma Hukum President University bersama Epistema Institute di Gedung Smesco UKM – Jakarta 24. 2013 Peserta Seminar Nasional dengan Tema “Pemuda Mengawal
Pemilu 2014” oleh Korps Mahasiswa Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada – Yogyakarta
25. 2013 Training of Trainer dengan Tema “Mewujudkan Jawa Tengah Bebas dari Korupsi” oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Delegasi Mahasiswa se-Kota Semarang
26. 2013 Panelis dalam Kampanye Dialogis Calon Ketua dan Wakil Ketua HIMA Politik dan Kewarganegaraan Periode 20132014 -Universitas Negeri Semarang
27. 2014 Pemateri Public Speaking dalam Bina Manajemen Wijaya Guguslatih Ilmu Sosial - Universitas Negeri Semarang
Semarang
29. 2014 Juri Lomba Orasi Olimpiade Pancasila dan UUD 1945 Tingkat Jateng dan DIY dalam Bulan Pancasila Jurusan Politik dan Kewarganegaraan – Universitas Negeri Semarang
30. 2015 Pendamping dalam Kegiatan Character Building SMA Islam Al Azhar 14 Semarang di Markas Kopassus Grup II, Kandang Menjangan – Surakarta
31. 2015 Moderator dalam Kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Murid (LDKM) OSIS-MPK dengan Materi Simulasi Tata Sidang – SMA Islam Al Azhar 14 Semarang
32. 2015 Juri Lomba Karya Tulis (LK2P) 3rd Kompetisi Pramuka Penegak