135 BAB IV
PROGRAM ARSTEKTUR
4.1. Konsep Program Arsitektur 4.1.1. Aspek Citra
Citra yang ingin dibangun pada projek “Pusat Layanan
Pariwisata di Semarang” ini adalah sebagai bangunan pelayanan
pariwisata yang ikonik di kota Semarang. Ikonik disini memiliki
makna bahwa sebagai bangunan pelayanan pariwisata secara
terpadu dapat menunjang kegiatan pariwisata yang ada di Jawa
Tengah, dan orang-orang, khususnya para wisatawan dengan
mudah mengingat bangunan ini sebagai satu-satunya tempat
sebagai fasilitas pelayanan kegiatan pariwisata. Citra arsitektur ini
diciptakan setelah mengkaji beberapa studi, diantaranya:
Studi kontekstual bentuk bangunan pemerintahan di Jawa
Tengah.
Studi ikon pariwisata Semarang dan Jawa Tengah.
Studi kontekstual arsitektur sekitar.
Setelah mengkaji beberapa studi di atas, ditentukanlah tema
arsitektur kontekstual, karena tema inilah yang dapat mewakili
136 4.1.2. Aspek Fungsi
Bangunan ini memiliki fungsi utama sebagai bangunan
pelayanan umum di bidang pariwisata di Jawa Tengah yang
terpadu, meliputi Pusat Informasi Pariwisata Jawa Tengah, Shuttle
Bus antar kota, Unit Layanan Paspor, Travel dan Tour.
Sedangkan fungsi penunjangnya mewadahi berbagai kegiatan
atraksi budaya hingga kegiatan kepariwisataan yang dikelola
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, juga Dinas Pemuda Olahraga
dan Pariwisata.
4.1.3. Aspek Teknologi
Secara arsitektural, bangunan ini menyediakan teknologi
untuk fasilitas utamanya yaitu proyektor pada teater, outdoor building projection, dan Touch Screen Publik Interactive
Information untuk menunjang kegiatan-kegiatan di dalamnya.
4.2. Tujuan – Faktor – Penentu Faktor Persyaratan Perancangan 4.2.1. Tujuan Perancangan
- Menciptakan sebuah sarana layanan pariwisata yang terpadu,
yang dapat melayani kebutuhan pariwisata para wisatawan
(mancanegara dan nusantara) yang berada di Semarang,
khususnya yang ingin berwisata ke destinasi-destinasi wisata
yang berada di provinsi Jawa Tengah.
- Memperkenalkan destinasi wisata dan event-event yang ada di
137 - Menumbuhkembangkan minat berwisata dalam negeri,
terutama di Jawa Tengah sendiri.
- Menyediakan sarana transportasi antar kota dengan destinasi
kota yang memiliki potensi wisata di Jawa Tengah (Jogja,Solo,
Semarang, Karimun Jawa, Magelang, Pekalongan, Jepara,
Ambarawa, dll).
- Menyediakan sarana untuk mewadahi kegiatan pameran
kepariwisataan.
- Menyediakan sarana untuk mewadahi kegiatan pertemuan
penting berkaitan dengan kegiatan kepariwisataan seperti
kegiatan konferensi pers, seminar kepariwisataan, dan lain-lain.
- Menciptakan sebuah bangunan pelayanan pariwisata yang
dapat dijadikan ikon layanan pariwisata JawaTengah.
4.2.2. Faktor Penentu Perancangan Faktor Lingkungan
Kondisi lingkungan menjadi salah satu faktor penting
dalam perancangan gedung Pusat Layanan Pariwisata ini, baik
karena keadaan tapaknya maupun karena bangunan di
sekitarnya, karena bangunan ini akan menjadi sebuah pusat
dimana turis-turis akan datang dan mencari info mengenai
kewisataan di Jawa Tengah, sehingga pemilihan Kota
Semarang menjadi lokasi bangunan dikarenakan Kota
138 Persyaratan Ruang dan Bangunan
Dari studi literatur dan analisis yang telah dilakukan,
ruang-ruang yang dihasilkan harus bisa sesuai dengan
fungsinya dan dapat memberikan kenyamanan bagi pengguna
dalam beraktivitas. Faktor Peraturan
Pertimbangan akan batasan oleh peraturan
undang-undang berupa standar pendidikan nasional, GSB, KDB, KLB,
dan sebagainya.
4.2.3. Faktor Persyaratan Perancangan a. Persyaratan Arsitektur
- Bentuk bangunan yang mencerminkan kepariwisataan Jawa
Tengah, tetapi tidak mendominasi di lingkungan sekitarnya
(serasi).
- Persepsi arsitektur yang sesuai dengan fungsi, yaitu menjadi
sebuah kompleks yang menyediakan layanan pariwisata.
- Bentuk, ruang, dan tatanan yang terintegrasi; yang
merespon iklim tropis panas lembab dan merespon
kebudayaan setempat.
- Konsep arsitektur yang sesuai dan jelas sehingga dapat
dinikmati dan dikenali oleh masyarakat secara umum
139 b. Persyaratan Bangunan
- Mengutamakan pencahayaan, penghawaan alami untuk
ruang-ruang publik.
- Teknologi bangunan yang merespon iklim tropis panas
lembab. Seperti teknologi penampungan air hujan,
mencegah tempias air hujan, pemanfaatan sinar matahari,
pencegahan cahaya matahari langsung ke dalam bangunan.
- Penggunaan bahan bangunan yang dapat mereduksi panas
matahari masuk ke dalam bangunan.
- Sistem proteksi bangunan terhadap bencana, secara aktif
maupun pasif. Pasif berupa sistem konstruksi tahan gaya
lateral, kebakaran, emergency exit; sedangakan sistem
proteksi aktif berupa sistem pemadam kebakaran, deteksi &
alarm, listrik cadangan, pengendalian asap kebakaran, pusat
pengendali kebakaran.
- Penempatan instalasi jaringan kabel listrik, telepon,
pemipaan harus mudah diamati, dioperasikan, dipelihara,
tidak membahayakan, mengganggu dan merugikan
lingkungan.
c. Persyaratan Lingkungan
- Lingkungan yang strategis dan terintegrasi untuk kegiatan
140 - Projek sebisa mungkin berdampak positif bagi lingkungan
sekitar; mulai dari pariwisata, perekonomian, sosial dan
kebudayaannya.
- Dengan adanya projek dapat memperbaiki iklim mikro
setempat.
- Peruntukkan fungsi lahan yang sesuai dengan RTRW
Kabupaten/Kota dan/atau Rencana Teknis Ruang Kota.
- Terjangkau oleh fasilitas-fasilitas kota.
4.3. Program Arsitektur
4.3.1. Program Kegiatan a. Perhitungan Luas Bangunan
Unit Kegiatan Pelayanan Pariwisata
No Nama Ruang Luas Total
1 Counter Info Pariwisata
247 m2
1114m2 2 Galeri Info Pariwisata 206 m2
3 R. Panel Info Pariwisata
12 m2
4 Counter ASITA 39 m2
5 R. Keanggo
taan
31 m2
6 Counter Info Shuttle 10 m2
7 R. Loket 21 m2
8 R. Tunggu 173 m2
9 R. Keberang katan
38 m2
141 11 Counter Info
Semarang City Tour
10 m2
12 R. Tunggu 58 m2
13 Retail biro tour & travel 38 m2 14 R. Info layanan paspor 10 m2
15 Counter ambil tiket 6 m2
16 R. Tunggu 150 m2
17 R. Loket 4 m2
18 R. Foto & Wawancara 9 m2
19 R. Arsip 14 m2
Unit Kegiatan Penunjang
20 Exhibition hall 1.616 m2
2184,2m2
21 Panggung 120 m2
22 R. Persiapan tampil 10,2 m2
23 R. Ganti 6 m2
24 Retail oleh-oleh 65 m2
25 Retail cafe 61 m2
26 Retail money changer 11 m2
27 Foodcourt 225 m2
28 ATM Corner 6m2
29 Lounge 25 m2
30 Musholla 30 m2
31 Loker Penitipan 9 m2
Unit Kegiatan Pengelola
32 R. CEO 10 m2
214m2
142
34 R. Event Manager 28 m2
35 R. Sekretariat 28 m2
36 R. Administrasi 14 m2
37 R. Marketing 28 m2
38 R. Humas 28 m2
39 R. HRD 28 m2
40 R. Operasional Bangunan
28 m2
41 R. Tamu Pengelola 5 m2
42 Office Lounge 5 m2
43 Office Pantry 5 m2
Kegiatan Service 44 Resepsionis & Lobby
hall
11 m2
345m2 45 Toilet/WC
Pria
110 m2
46 Toilet/WC Wanita 76 m2
47 Toilet/WC Difabel
4 m2
48 Janitor 11 m2
49 Gudang 48 m2
50 Keamanan 5 m2
51 R. CCTV 25 m2
52 R. Panel Listrik 5 m2
53 R. Generator 12 m2
54 R. Panel Telepon 5 m2
55 R. Penghawaan 25 m2
143 Luas Unit Kegiatan 3977m2
Sirkulasi 10%
Total Luas Bangunan 4375m2
Studi Luas Lahan Parkir Pengelola: 292 orang per hari
Mobil (15%) : 13 orang, (80%) = 10 mobil Motor (75%) : 63 orang, (60%) = 50 motor Kendaraan umum (10%) : 8 orang
Pengunjung
Pengunjung total 692 orang per hari (maks)
Mobil (10%): 70 orang
2 penumpang (40%) : 14 mobil 4 penumpang (60%) : 11 mobil
Motor (60%) : 415 orang, (60%) 249 motor Kendaraan umum (20%) : 138 orang
Total Kebutuhan Parkir Kendaraan
Motor pengelola (NAD)
Total Luas Lahan Parkir
144 1.188 m2 + sirkulasi 20% = 1.426 m2
b. Perhitungan Luas Lahan
Regulasi Semarang Tengah (BWK I)
KDB 60%, Bangunan Pelayanan Umum maks. 3 lantai dan
KLB 1,8, GSB 23 meter. Luas Kebutuhan Tapak
= Luas Total Bangunan : KLB
= 4.375 m2 : 1,8
= 2.431 m2
Luas Lantai Dasar
= KDB 60% x Luas Kebutuhan Tapak
= 0,6 x 2.431 m2
= 1.458,6 m2
Luas Ruang Terbuka
= Luas kebutuhan tapak – Luas lantai dasar
= 2.431 m2 – 1.458,6 m2
= 972,4 m2
Luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) = 40% x Luas Ruang Terbuka
= 0,4 x 972,4 m2
= 388,96 m2
145 = 1.426 m2 – (972,4 m2 – 388,96 m2)
= 842,56 m2
4.3.2. Program Sistem Struktur
Pemilihan struktur dan material bangunan berdasarkan pada
kondisi eksisting di lapangan tempat perancanaan bangunan
Pusat Layanan Pariwisata dan kesesuaiannya terhadap faktor
kenyamanan, keamanan, dan kebutuhan dari pelakunya sendiri.
Sistem Struktur Sistem Enclosure
Sub – Structure
Pondasi Lajur batu kali
Pondasi Footplat (low rise building)
Lantai Keramik Vinyl Laminate Floor Lantai Tegel
Middle – Structure
Struktur Dinding Struktur Rangka Beton Bata Ringan Batu Bata Papan Kalsiboard Dinding Kaca Dinding ACP
Upper – Structure Rangka Baja
Dak Beton
Plafond Gypsum Plafond Kalsiboard Genteng tanah liat glazur.
4.3.3. Program Sistem Utilitas
Sistem jaringan air bersih menggunakan sistem downfeed
system, sumber dari PDAM Kota Semarang, dan sumber air lain seperti polder.
146 Perhitungan kebutuhan air bersih
Fungsi Bangunan Unit Kebutuhan
(liter/hari)
Apartemen Orang 135-225
Bioskop/Teater Kursi 15
Hotel Orang 185-225
Kantor Orang 45-90
Restoran/Kafetaria Kursi 70
Rumah sakit Tempat tidur 280-470
Sekolah tanpa
asrama Murid 45-90
Sekolah berasrama Murid 135-225
a. Kebutuhan air bersih harian
Q = n x kebutuhan air per hari
Gambar 4.1. Sistem jaringan air bersih pada bangunan bertingkat. Sumber : https://junaidawally.blogspot.co.id/2015/11/sistem-plambing-air-minum.html
147 Ket: Q= kebutuhan air bersih rata-rata per hari (lt/hr), n=
jumlah pengguna bangunan dalam satu hari
Q total = Q kantor + Q pengunjung
= (292 orang x 60 liter) + (692 orang x 15 liter)
= 27.900 liter/hari
Asumsi kebutuhan air tambahan 20% untuk mengatasi
kekurangan, bocor, penyiraman tanaman, dan lain-lain
dengan perhitungan sebagai berikut:
Qd = (100% + 20%) x Q
= 120% x 27.900 lt/hari
= 33.480 lt/ hari
= 33,48 m3/hari
b. Kebutuhan air bersih rata-rata per jam
Qh = Qd/T
Keterangan: Qh = kebutuhan air bersih rata-rata per jam
(lt/menit), T = Rentang waktu pemakaian setiap 1 jam.
Qh = 33,48 m3/1
Qh = 33.480 liter/menit c. Kebutuhan air pada jam puncak
Qhmax = C x Qh
Keterangan: Qhmax = Kebutuhan air jam puncak (lt/menit), C
= Koefisien maksimum 1,5-2,0.
148 = 50,22 m3/menit
d. Volume ground tank
Vgt = 40% x Qd
= 0,4 x 33.480 liter
= 13,392 m3
e. Volume kebutuhan tandon atas
Vta = 15% x Qd
= 15% x 33.480 liter
= 5,022 m3
Menerapkan sistem limbah blackwater dan greywater treatment.
Sistem pengolahan sampah menggunakan corong
pembuangan sampah yang dibuat serong ke bawah agar
sampah yang dibuang dari atas tidak masuk ke lantai di
bawahnya (Shaft sampah)
149 Sumber tenaga listrik berasal dari PLN dan genset ketika listrik
padam.
Perhitungan kebutuhan listrik
Untuk bangunan kegiatan sosial dan pelayanan umum, standar
penyediaan listrik hingga 80 kVA/Ha (Standar Kebijakan Penyediaan Listrik, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik
PT PLN 2013-2022). Dari sumber lain (Rencana
Pengembangan Tata Ruang Kawasan Kota Terpadu Mandiri,
2011) kebutuhan listrik maksimum 40-60 watt/m2 atau 25% dari seluruh kebutuhan rumah tangga.
Perkiraan kebutuhan listrik:
Luas ruang x kebutuhan listrik per m2
4.375 m2 x 60 watt/m2
262,5 kW :24 jam 10,9375 kW/jam.
150 Jaringan telepon dan kabel fiber optik berasal dari Telkom.
Pencahayaan alami berupa bukaan-bukaan jendela, roster. Pencahayaan buatan dengan memaksimalkan penggunaan
lampu LED untuk menghemat listrik.
Memberi bukaan dinding untuk memaksimalkan penghawaan
alami berupa ventilasi, lubang roster, dan lainnya. Dan
didukung dengan penghawaan buatan berupa AC maupun
kipas angin.
Pemanfaatan teknologi seperti Outdoor Building Projection dan
Touch Screen Public Interactive Information.
151 4.3.4. Program Lokasi dan Tapak
Lokasi tapak: Jl. Pengapon, Kelurahan Tanjung Mas,
Kecamatan Semarang Utara, Bagian Wilayah Kota III, Semarang.
Batas tapak sebelah utara adalah Jl. Pengapon yang merupakan
jalan arteri sekunder, batas sebelah timur merupakan TK-PG
Marsudirini Fatima, sebelah selatan merupakan lahan kosong, Gambar 4.5. Outdoor Projection salah satu bangunan di Buckingham
Palace, London
Sumber : theprojectionstudio.com
Gambar 4.6. Touch screen public intractive information
152 sebelah barat adalah Jl. Cendrawasih yang merupakan jalan
kolektor.
Gambar 4.7. Peta tapak terpilih di kelurahan Tanjung Mas (arsir) Sumber : CAD Kota Semarang
KETERANGAN:
= Stasiun Besar Semarang Tawang
= Polder Tawang = Hotel Pelangi Indah = TK-PG Marsudirini = Sekolah Tinggi Pastoral
= Lokasi Tapak
= Jl. Ronggowarsito arah pelabuhan Tanjung Mas Semarang
= Jl. Pengapon arah Jl. Kaligawe dan Tol Tanjungmas-Srondol
153 Foto-foto eksisting:
Gambar 4.8. Jl. Tawang arah menuju ke Jl. Cendrawasih Sumber : Dokumen Pribadi, 2016
Gambar 4.9. Jl. Cendrawasih Sumber : Dokumen Pribadi, 2016
154 ASPEK KEKUATAN ALAMI
Iklim Iklim tropis panas lembab, suhu rata-rata 25-34oC
Topografi Kemiringan: datar
Vegetasi Ketapang, trembesi, glodok, asam
Potensi Sumber Air PDAM, sumur
Arah Angin Tenggara-Barat laut/ Barat laut-Tenggara Keadaan
Lingkungan
Tapak merupakan dealer mobil dan tanah kosong
ASPEK KEKUATAN BUATAN
Peraturan Pemerintah
Perda kota Semarang no. 14 tahun 2011
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Semarang tahun 2011-2031,
Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) no. 8 tahun 2004 tentang BWK III (Kecamatan Semarang Utara dan Semarang Barat) tahun 2000 – 2010,
RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Jawa Tengah 2013-2018, RPJMD kota Semarang tahun 2016-2021 mengenai rencana pembangunan
kepariwisataan.
Regulasi
KDB : max. 60% KLB : 1,8
GSB Jl. Pengapon : 23 m GSB Jl. Cendrawasih: 12 m
155 Fungsi dan Hirarki
Pusat perkantoran, perdagangan, dan jasa. Pusat transportasi udara dan transportasi laut. Pusat pelayanan kota.
Sub pusat pelayanan kota ; perdagangan dan jasa, pendidikan, kesehatan, peribadatan, pelayanan umum.
ASPEK AMENITAS ALAMI
View
View from site: polder Tawang, stasiun Tawang, Alun-alun Tawang
View to site: SD Marsudirini, Jl. Pengapon, Jl. Cendrawasih.
Topografi Jenis tanah aluvium muda abu-abu
Air
Curah hujan sebesar 126 m3 per tahun dan tingkat kelembaban 50% hingga 70%. Dengan periode bulan basah bulan November hingga bulan April.
ASPEK AMENITAS BUATAN
Jaringan Kota/Kawasan
Listrik PLN, air PDAM, sumber air polder Tawang, telepon PT. Telkom, trayek bus antar kota, BRT, stasiun Tawang, pelabuhan Tanjung Mas, jalur pantura, pusat wisata sejarah
kawasan Kota Lama Semarang.
Citra Arsitektural Arsitektur kolonial dengan atap pelana, limasan.
Potensi: Rute yang terintegrasi dengan sistem pariwisata Jawa Tengah dan Semarang, jalur dilalui moda transportasi antar
kota di Jawa Tengah, akses ke jalan tol langsung, pelabuhan dan
jalur Pantura yang memudahkan perjalanan antar kota di Jawa
Tengah, Kota Lama ditargetkan menjadi warisan budaya
UNESCO tahun 2020.
Kendala: Rob dan banjir musiman terutama musim hujan. Tabel 4.4. Amenitas alami dan buatan tapak
156 Untuk area hijau baik di dalam tapak maupun di dalam
bangunan akan dipilih beberapa jenis vegetasi yang dapat
mengurangi jumlah polutan udara dan rindang sehingga kompleks
bangunan pelayanan pariwisata ini bisa lebih teduh dan juga
tanaman sebagai elemen estetis tapak.
No Jenis Vegetasi Deskripsi
Vegetasi Peneduh 1 Pohon Ketapang
Pohon Ketapang
Sumber:
https://jualbibittanaman.files .wordpress.com/
Pohon Ketapang merupakan tumbuhan asli Asia
Tenggara dan cukup umum ditemukan. Pohon ini
memiliki tajuk yang cukup lebar dan daunnya tidak mudah rontok sehingga cocok untuk peneduh.
2 Pohon Trembesi
Pohon Trembesi
Sumber: http://baltyra.com/
Pohon ini merupakan pohon yang besar dengan
ketinggian mencapai 20 meter dan memiliki tajuk yang
lebar. Pohon ini juga memiliki jaringan akar yang luas.
Vegetasi Penghias
157 Bunga Bougenville
Sumber :
https://id.pinterest.com/
4 Kamboja Jepang
Kamboja Jepang Sumber :
https://id.pinterest.com/
Digunakan sebagai alternatif tanaman hias
5 Tanaman Pucuk Merah
Tanaman Pucuk Merah Sumber :
https://id.pinterest.com/
Digunakan sebagai alternatif tanaman hias
6 Daun Puring
Daun Puring Sumber :
ensaflora.blogspot.co.id
Digunakan sebagai alternatif tanaman hias
Vegetasi Interior
7 Tanaman Bonsai Digunakan sebagai alternatif
158
Bonsai
Sumber : https://id.pinterest.com/
8 Snake Plant
Snake Plant
Sumber : https://id.pinterest.com/
Cukup umum dijadikan
vegetasi penghias interior dan pada Digunakan sebagai alternatif
tanaman hias interior
tanaman dewasa berdaun 4/5 helai memiliki kemampuan menyegarkan udara dalam ruangan seluas 20m2.