commit to user
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia telah menjadi pusat dari segala sektor baik perekonomian, pemerintahan, pendidikan, dan sebagainya. Mobilitas menjadi salah satu hal yang penting bagi warga di ibukota Jakarta. Kendaraan bermotor yang melewati jalan-jalan di ibukota Jakarta setiap tahun terus meningkat, peningkatan ini menunjukkan bahwa mobilitas penumpang maupun barang di wilayah DKI Jakarta juga selalu meningkat (Widodo, 2015). Peningkatan kendaraan bermotor ini telah menyebabkan keramaian di berbagai sudut kota, dan menjadi permasalahan yang menahun di ibukota Jakarta. Ditlantas Polda Metro Jaya setidaknya memetakan 177 titik rawan kemacetan di DKI Jakarta, Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya yaitu Kombes Pol Risyapudin menjelaskan bahwa adanya 177 titik rawan tersebut merupakan titik rawan kemacetan pada jam-jam tertentu dan hari kerja (republika.co.id).
Mobilitas yang cukup tinggi dan masalah kemacetan yang belum kunjung usai di ibukota Jakarta, tidak memungkiri warganya telah merasakan keamanan juga kenyamanan di ibukota Jakarta. Banyak diberitakan di media cetak maupun elektronik mengenai kasus-kasus kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Indonesia menempati urutan pertama peningkatan kecelakaan menurut data Global Status
Report on Road Safety yang dikeluarkan WHO, dimana Indonesia dilaporkan
commit to user
(republika.co.id). Kenaikan jumlah kecelakaan lalu lintas tersebut cukup meresahkan, hal ini dikarenakan buruknya sistem angkutan darat yang dimiliki. Semakin kecil jumlah kecelakaan lalu lintas yang terjadi menunjukkan semakin baik sistem angkutan darat yang dimiliki, sebaliknya semakin banyak kecelakaan lalu lintas yang terjadi berarti semakin buruk sistem angkutan darat yang dimiliki (dalam Widodo, 2015).
Kecelakaan lalu lintas tersebut telah mempengaruhi keamanan juga kenyamanan bagi warga khususnya di ibukota Jakarta. Banyak korban yang telah kehilangan nyawa maupun mengalami kerugian dalam bentuk materi. Kecelakaan lalu lintas, korban, dan kerugian materi yang ada telah dirangkum oleh Ditlantas Polda Metro Jaya dalam tabel jumlah kecelakaan lalu lintas tahun 2015, seperti berikut :
Tabel 1
Jumlah kecelakaan lalu lintas tahun 2015
No Polres Jumlah
Kejadian
Jumlah Korban Laka Lantas
Kerugian Materi
MD LB LR
1 Subdit Bin Gakkum 762 34 42 476 5.204.500.000
2 Satlantas Wil Jakpus 450 17 67 375 1.309.800.000
3 Satlantas Wil Jakut 581 138 21 530 1.115.300.600
4 Satlantas Wil Jakbar 628 96 334 268 1.407.050.000
5 Satlantas Wil Jaksel 473 22 56 547 1.412.350.000
6 Satlantas Wil Jaktim 892 84 206 687 2.703.025.000
7 Satlantas Wil Tag Kota 291 17 130 258 830.940.000
8 Satlantas Wil Tag Kab 670 54 708 261 1.125.750.000
9 Satlantas Wil Bekasi Kota 454 27 58 497 1.194.650.000
10 Satlantas Wil Bekasi Kab 875 83 829 220 1.297.000.000
11 Satlantas Wil Depok 280 13 226 125 442.300.000
12 Satlantas Wil KP3 19 1 0 17 48,100,000,
13 Satlantas Wil Sutta 59 5 11 29 479.000.000
14 Satlantas Wil P.Seribu 0 0 0 0 0
Jumlah 6.434 591 2.688 4.290 18.521.665.600
commit to user
tinggi ini menunjukkan buruknya sistem angkutan darat yang dimiliki (Widodo, 2015). Kasus kecelakaan lalu lintas yang mencapai angka 6.434 tersebut merupakan jumlah dari seluruh satlantas yang terbagi ke dalam beberapa wilayah, dapat dilihat bahwa penyumbang kecelakaan tertinggi di wilayah DKI Jakarta adalah di wilayah Jakarta Timur dengan jumlah kejadian sebanyak 892 kasus.
Jakarta Timur memiliki lokasi yang berada di pinggiran kota dan berdekatan dengan daerah Bogor dan Bekasi, selain itu juga menjadi perlintasan kendaraan yang menuju ke pusat kota Jakarta. Hal ini yang menyebabkan kendaraan yang lalu lalang di wilayah Jakarta Timur cukup tinggi. Kasat Lantas Polres Jakarta Timur mengatakan tingginya angka kecelakaan disebabkan banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh pengendara, mulai dari mengendarai motor tanpa helm hingga melanggar batas kendaraan (pwrionline.com).
Sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh Kasat Lantas Polres Jakarta Timur, PT Jasamarga mengemukakan statistik mengenai faktor penyebab dari kecelakaan lalu lintas di wilayah DKI Jakarta pada tahun 2010-2014 (dalam Widodo, 2015), seperti berikut :
Gambar 1
Gambar tersebut telah memperlihatkan bahwa faktor penyebab tertinggi dari kecelakaan lalu lintas adalah faktor dari pengendara sendiri. Pengendara dianggap tidak disiplin terhadap peraturan-peraturan yang telah ditetapkan di jalan raya sehingga membahayakan pengguna jalan lainnya. Banyaknya jumlah kendaraan bermotor yang beroperasi di jalan raya terkadang tidak diikuti dengan kesadaran pengguna jalan dalam mentaati rambu-rambu lalu lintas atau saling menghormati sesama pengguna jalan. Pengendara pun seakan-akan tidak memperdulikan pengguna jalan lainnya. Data ini juga selaras dengan data Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya tahun 2013, bahwa perilaku berkendara tidak tertib merupakan penyebab 38,45 persen kecelakaan (antaranews.com).
Perilaku pengendara yang tidak disiplin terhadap peraturan rambu lalu lintas, tidak menghormati sesama pengguna jalan, juga tidak memperdulikan pengguna jalan lainnya merupakan salah satu sikap dari seseorang yang telah melakukan perilaku agresi. Menurut Elliot, agresi merupakan suatu tindakan disengaja yang bertujuan untuk melakukan kejahatan atau menyebabkan luka (dalam Aronson dkk., 2007). Jika perilaku yang dilakukan menyebabkan luka tetapi tidak disengaja maka perilaku tidak dapat disebut perilaku agresi. Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan agresi. Agresi yang dimliki oleh setiap manusia bukan merupakan hal yang dibawa sejak lahir.
Banyak pengendara sepeda motor di jalanan yang menjarah hak pejalan kaki dan mengemudikan kendaraan mereka di sepanjang jalan trotoar, lalu menerobos di saat lampu berwarna merah, tidak memperhatikan rambu-rambu
lalu lintas lain, dan sebagainya. Perilaku-perilaku tersebut termasuk dalam agresi saat berkendara atau aggressive driving. Menurut Tasca (2000) perilaku berkendara dapat dikatakan agresif apabila dilakukan dengan sengaja yang memungkinkan meningkatnya risiko tabrakan, didorong oleh rasa ketidaksabaran, gangguan, permusuhan, dan/atau usaha untuk menghemat waktu. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Deffenbacher dkk., menyatakan bahwa pengendara yang marah akan lebih menggunakan perilaku agresifnya dan perilaku yang membahayakan saat mengemudi, lalu meletakkan mereka dan orang lain dalam keterlibatan risiko tabrakan (dalam Sullman dkk., 2013).
Pengendara yang melakukan perilaku agresi tidak hanya didasari oleh segi fisiologis akan tetapi juga oleh segi biologis. Agresi merupakan ungkapan dari suatu emosi. Menurut Atkinson dkk., (2010) indera yang dimiliki manusia akan menangkap situasi yang dialami, dibawa ke otak dan mengalami proses penyaluran pesan melalui saraf-saraf yang menghasilkan emosi seperti ketakutan, kecemasan, kesedihan, dan sebagainya. Saraf yang melepaskan salah satu bagian yang berbentuk zat kimia yaitu neurotransmiter. Neurotransmiter bertanggung jawab untuk membawa impuls dari satu neuron ke neuron selanjutnya. Atkinson dkk., (2010) menyatakan lebih dari 50 jenis neurotransmitter yang berbeda telah ditemukan. Beberapa neurotransmiter yang dapat mempengaruhi emosi manusia adalah norepinefrin (Ne), dopamin, dan serotonin. Tingkat mood seseorang dapat dipengaruhi oleh naik atau turunnya neurotransmiter tersebut. Selain sistem saraf, terdapat sistem lain yang dapat mempengaruhi emosi yaitu sistem endokrin yang menghasilkan hormon. Hormon disekresikan oleh berbagai kelenjar endokrin ke
dalam aliran darah. Kelenjar yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi emosi adalah kelenjar adrenal. Kelenjar adrenal memiliki peranan penting dalam menentukan mood seseorang, tingkat energi, dan kemampuan menghadapi stress (Atkinson dkk., 2010).
Perilaku agresi dapat muncul dikarenakan beberapa faktor. Salah satunya adalah faktor lingkungan. Tasca (2000) menyatakan bahwa perilaku aggressive
driving dapat disebabkan oleh faktor lingkungan. Hal ini sejalan dengan
pernyataan David Buss dan Todd Shackelford (dalam Myers, 2012) yang menyatakan bahwa agresi bersifat adaptif. Agresi dapat muncul dikarenakan oleh kondisi atau situasi yang sedang terjadi di sekitar individu tersebut. Pendapat tersebut selaras dengan gambar 2 yang menunjukkan lingkungan adalah salah satu faktor penyebab dari kecelakaan lalu lintas. Hal ini menunjukkan bahwa adanya keselarasan antara kecelakaan lalu lintas dengan aggressive driving. Shinar (dalam Tasca, 2000) menyatakan bahwa adanya hubungan yang kuat antara kondisi lingkungan dan munculnya agresi pada pengendara.
Mobilitas warga Jakarta yang semakin meningkat menyebabkan ruang gerak di wilayah Jakarta semakin sempit. Ruang gerak yang semakin sempit atau kemacetan yang ada menyebabkan terjadinya kepadatan di wilayah kota Jakarta. Ditlantas Polda Metro Jaya mengemukakan bahwa terdapatnya peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang cukup pesat, terutama pada sepeda motor yang mengalami pertumbuhan 10,54% per tahunnya (dalam Widodo, 2015). Jumlah kendaraan bermotor yang semakin meningkat terkadang tidak seiring dengan perluasan ruas jalan yang ada, khususnya di wilayah Jakarta Timur. Jakarta Timur
merupakan kawasan yang tidak pernah lepas dari kemacetan. Lokasi yang berada di pinggiran kota dan berdekatan dengan daerah Bogor dan Bekasi, membuat daerah ini sering dilanda kemacetan yang panjang. Sejumlah titik kemacetan yang kerap terjadi di wilayah Jakarta Timur dikarenakan oleh wilayah ini menjadi perlintasan kendaraan untuk menuju pusat kota Jakarta (viva.co.id).
Kepadatan yang terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya merupakan salah satu faktor yang menimbulkan sebuah kesesakan atau crowd. Menurut Altman (1975) antara kepadatan dan kesesakan memiliki hubungan yang erat karena kepadatan merupakan salah satu syarat yang dapat menimbulkan kesesakan, tetapi bukan satu-satunya syarat yang dapat menimbulkan kesesakan. Kepadatan yang tinggi dapat mengakibatkan kesesakan pada individu (dalam Holahan, 1982). Menurut Evans, Cohen dan Sundstrom (dalam Bechtel, 2002) crowding adalah keadaan stres secara psikologis yang disertai dengan kepadatan yang dirasakan terlalu tinggi. Crowding juga dapat diartikan sebagai sebuah evaluasi yang cukup subyektif dari seorang individu terhadap kepadatan dan merespon secara negatif terhadap kepadatan tersebut (dalam Bechtel, 2002). Kesesakan atau crowding
yang dirasakan oleh seorang individu secara tidak langsung dapat menimbulkan stres. Krepostman (2000) menemukan bahwa kondisi lingkungan jalan raya yang padat akan mempengaruhi tingkat stres individu, yang selanjutnya akan meningkatkan terjadinya perilaku agresif pada saat mengendarai kendaraan bermotor.
Jumlah kepadatan penduduk Jakarta yang tinggi, juga diikuti oleh angka pengangguran yang cukup tinggi. Angka pengangguran pada tahun 2015
khususnya di daerah Jakarta Timur mencapai 8,72 persen, artinya di antara 1000 orang penduduk Jakarta Timur terdapat 87 orang yang menganggur (Widodo, 2015). Faktor ekonomi juga status pengangguran tersebut dapat menyebabkan stres, yang berakhir pada perilaku kriminalitas. Selain kriminalitas, kepadatan lalu lintas yang sudah tidak asing lagi bagi pengendara di Jakarta juga menjadi tantangan yang harus dihadapi. Cuaca yang panas, kemacetan, kebisingan yang tinggi, semua hal tersebut dapat menimbulkan rasa tidak nyaman (stres) yang dapat membuat pengendara sepeda motor menjadi sensitif dan mudah untuk memunculkan perilaku aggressive driving. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Shamoa-Nir dan Koslowsky (2010) menemukan bahwa adanya hubungan antara stres dan aggressive driving sama halnya seperti dilakukannya strategi pemecahan masalah sebagai coping strategy atas keadaan yang dikelilingi oleh tekanan. Stres dapat menurunkan performa dalam berkendara dan menyebabkan kurangnya keamanan berkendara yang cenderung berakibat kecelakaan lalu lintas (Matthews, 1999).
Selain dari faktor lingkungan, terdapat faktor lain yaitu dari kepribadian individu tersebut. Menurut Tasca (2000) salah satu faktor penyebab dari
aggressive driving adalah kepribadian. Individu mempunyai kepribadian yang
mengatur bagaimana individu tersebut berperilaku secara teratur dan terus-menerus dalam berbagai situasi. Hal ini menyatakan bahwa kepribadian seseorang dapat mempengaruhi perilaku dari orang tersebut. Arnett dkk. (dalam Tasca, 2000) menemukan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara kepribadian
dimana remaja memiliki nilai yang lebih tinggi daripada orang dewasa dalam perilaku berkendara secara sembrono. Faktor kepribadian ini juga selaras dengan gambar 2 yang menunjukkan bahwa faktor yang paling tinggi dalam menimbulkan kecelakaan lalu lintas adalah faktor dari pengendara sendiri.
Selain penelitian mengenai sensation seeking dengan aggressive driving,
terdapat penelitian lainnya yang mengungkap beberapa kepribadian yang mempengaruhi aggressive driving seperti conscientiousness, neuroticism, juga
narcissism (dalam Lustman, 2011). Narcissism atau narsisme merupakan salah
satu kepribadian yang marak dibicarakan khususnya pada orang awam. Orang
awam umumnya mengenal narsisme atau narcissism dengan individu yang sering
berkaca diri dan mengambil foto diri dengan media yang dimiliki atau selfie. Hal tersebut akan berbeda jika dilihat dari perspektif psikologi, bahwa kecenderungan narsisme atau narcissism merupakan salah satu dari kelainan kesehatan mental yang dapat dimiliki oleh seseorang.
Menurut Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa di Indonesia (2001) dan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders V (2013) terdapat tiga belas gangguan kepribadian anti sosial yaitu salah satunya adalah gangguan kepribadian narsistik. Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders V (2013) menyatakan bahwa kepribadian narsisme adalah suatu pola
perilaku yang memiliki fantasi yang megah, adanya kebutuhan untuk dikagumi dan kurang memiliki rasa empati yang dimulai dari awal kehidupan dan terus berlanjut sepanjang hidup di beberapa fungsi sosial. Dalam psikoanalisis, narsis normal terjadi pada masa kanak-kanak. Pada orang dewasa atau setelah masa
pubertas disebut sebagai narsis kedua. Tingkatan narsistik dikatakan normal bila seseorang memiliki cukup penghargaan atas diri sendiri dengan aspirasi yang relaistis, dikatakan mengalami gangguan apabila kondisi tersebut berulang menetap dan menjadi karakter yang dapat ditelusuri dalam suatu jangka waktu tertentu dan secara patologis dinyatakan telah mengganggu fungsi sosial seseorang (Kaplan & Sadock, 2007).
Kecenderungan narsisme memiliki 9 kriteria antara lain orang dengan gangguan kepribadian narsistik cenderung mengagumi diri sendiri secara berlebihan atas keunikannya, atas kesuksesan, atas atribut sosialnya, dan ia senantiasa membutuhkan penghargaan dari orang lain untuk kenyamanannya dan untuk memperkuat keyakinan akan dirinya sendiri juga memiliki sikap yang arogan, sombong juga menghina. Seorang narsistik cenderung memiliki masalah dalam berhubungan dengan orang lain dalam lingkungan sosialnya. Sikap arogan, sombong dan menghina yang dimiliki akan dilakukan kepada orang yang menurut persepsi mereka telah melakukan hal bodoh, tidak sopan maupun kasar. Sependapat, bahwa menurut Levin dkk., (dalam Roseborough, 2010) mengartikan bahwa narsismeadalah individu dengan tingkat harga diri yang rendah dan sering melakukan kekerasan juga agresi. Hal ini dibuktikan dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh Lustman dkk. (2010) bahwa adanya hubungan yang positif antara narsisme dan aggressive driving, dimana seseorang dengan kecenderungan narsisme akan lebih merespon secara agresif terhadap perilaku pengendara lain yang menghalanginya.
Seseorang yang memiliki kecenderungan narsisme memiliki perasaan yang lebih sensitif terhadap suatu kritik maupun perilaku-perilaku yang ambigu yang dirasa telah menyerang dia (DSM V, 2013). Saat orang tersebut merasa bahwa egonya terancam, maka ia akan merespon dengan perilaku yang agresif. Dalam keadaan mengemudi, orang yang memiliki kecenderungan narsisme akan merasa marah bila pengendara lain mengganggu apa yang menjadi haknya saat itu. Ia merasa bahwa pengendara lain telah menurunkan harga dirinya pada saat itu. Hal ini sejalan dengan pernyataan dari Baumeister dkk. (dalam Edwards dkk., 2013) bahwa individu dengan narsisme merespon secara agresif untuk mempertahankan self-image yang mulai turun dan disaat pandangan baik yang dimilikinya telah terbantah. Perilaku agresi yang umumnya dilakukan oleh orang yang memiliki kecenderungan narsisme antara lain berteriak pada pengendara lain, mengeluarkan tangan atau jari untuk mengejek pengendara lain, membuntuti pengendara lain yang membuatnya kesal, dan sebagainya. Baumeister dkk. (dalam Edwards dkk., 2013) menyatakan bahwa provokasi yang dibuat oleh pengendara lain telah menafsirkan suatu hinaan bagi seseorang dengan kecenderungan narsisme tersebut. Sependapat, menurut Papps dan O Carrol bahwa pada individu dengan trait narsistik, agresi dimunculkan terutama ketika merasakan adanya provokasi (dalam Barry dkk., 2003). Raskin dkk. (dalam Barry dkk., 2003) menyatakan bahwa trait narsistik menyebabkan perilaku agresif yang fokus pada kebutuhan yang berlebihan untuk dapat dilihat oleh orang sebagai individu yang sangat mulia dan untuk melindungi dirinya melawan hal-hal yang mengancam gambaran dirinya.
Perilaku agresivitas yang terjadi makin marak dilakukan oleh kalangan remaja. Data yang diperoleh dari Ditlantas Polda Metro Jaya juga menunjukkan bahwa pelaku dari kecelakaan lalu lintas didominasi usia 16-30 tahun sejumlah 2.003 orang. Hal ini menunjukkan bahwa remaja mendominasi kecelakaan yang terjadi di wilayah DKI Jakarta. Masa remaja merupakan masa peralihan yang dialami individu ke tahap selanjutnya yaitu masa kedewasaan. Dalam perkembangannya, remaja mengalami perubahan baik dari segi emosi, tubuh, minat, maupun pola perilaku. Masa peralihan tersebut menyebabkan emosi yang dimiliki remaja pun belum mencapai titik stabil. Hal ini diperjelas oleh Hurlock (2003) yang menyatakan bahwa remaja yang mengalami tahap perkembangan tersebut apabila tidak sesuai dengan harapannya, maka remaja akan mencari jalan keluar yang kadang-kadang tidak sesuai dengan norma. Ketidakstabilan emosi yang dimiliki remaja ini menyebabkan kecenderungan untuk melakukan perilaku agresivitas semakin tinggi.
Masa peralihan yang dialami remaja memerlukan pengawasan yang lebih dari orang tua mereka. Remaja yang sering melakukan agresivitas belum tentu berasal dari orang tua yang bermasalah. Remaja dapat terpengaruh oleh kelompok sebayanya dikarenakan dalam kelompoknya, remaja mencari segala sesuatu yang tidak mungkin mereka peroleh dari keluarga maupun masyarakat sekitarnya. Hal ini dapat dihindari apabila adanya komunikasi dua arah, perhatian yang proporsional dan upaya orangtua untuk memahami masa tersebut. Menurut Garnefski dan Okma (Leschied dkk., 2000) mengungkapkan bahwa perilaku agresif remaja salah satunya disebabkan oleh faktor ketidakharmonisan
commit to user
komunikasi dan konflik remaja dengan orangtua. Sependapat, Santrock (2012) juga menyebutkan bahwa salah satu prediktor agresivitas adalah peran orangtua, menurutnya kurangnya pemantauan serta dukungan yang rendah mengakibatkan kurangnya komunikasi dan disiplin yang tidak efektif.
Hasil wawancara yang sudah dilakukan ke beberapa pelajar SMA pengendara motor di Jakarta Timur juga mengemukakan antara lain ada remaja yang diperbolehkan menggunakan sepeda motor tanpa memiliki sim, juga berkata kasar kepada pengendara lain di depan orangtuanya. Hal ini memperlihatkan bahwa orangtua hanya peduli terhadap kebutuhan anak akan tetapi tidak memperhatikan masalah-masalah yang akan dihadapi anak nantinya seperti razia, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya. Beberapa penelitian juga mendukung, salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Diana dan Retnowati (2009) menunjukkan bahwa adanya hubungan negatif yang signifikan antara komunikasi remaja dan orangtua dengan agresivitas pelajar. Semakin tinggi komunikasi orangtua dan remaja semakin rendah agresivitas pelajar. Sebaliknya, semakin rendah komunikasi orangtua dan remaja semakin tinggi agresivitas pelajar.
Tingkat intensitas dari perilaku agresivitas juga dapat dilihat dari segi latar belakang pendidikan dari pelaku. Ditlantas Polda Metro Jaya menunjukkan adanya perbedaan jumlah pelaku dalam kecelakaan lalu lintas yang terjadi berdasarkan pendidikan pelaku, seperti pada tabel berikut :
Tabel 2
Pelaku Kecelakaan Lalu Lintas berdasarkan Pendidikan tahun 2015
No Polres Jumlah Kejadian Pendidikan Pelaku SD SLTP SLTA Perguruan Tinggi Lain -lain
1 Subdit Bin Gakkum 763 0 2 555 14 0
2 Satlantas Wil Jakpus 450 1 190 79 6 0
3 Satlantas Wil Jakut 581 1 37 353 21 0
4 Satlantas Wil Jakbar 628 0 11 319 15 4
5 Satlantas Wil Jaksel 473 0 19 289 48 0
6 Satlantas Wil Jaktim 892 2 100 516 21 0
7 Satlantas Wil Tag Kota 291 7 32 234 2 1
8 Satlantas Wil Tag Kab 670 0 29 395 10 33
9 Satlantas Wil Bekasi Kota 454 1 10 308 1 1
10 Satlantas Wil Bekasi Kab 875 4 38 627 22 0
11 Satlantas Wil Depok 280 1 21 352 20 0
12 Satlantas Wil KP3 19 3 10 6 0 0
13 Satlantas Wil Sutta 59 0 0 52 0 0
14 Satlantas Wil P.Seribu 0 0 0 0 0 0
Jumlah 6.435 20 499 4085 18 39
Tabel tersebut menunjukkan bahwa pelaku yang mendominasi kecelakaan lalu lintas adalah pelaku yang berlatar belakang pendidikan SMA atau se-derajat. Pelaku dengan latar belakang pendidikan memiliki angka yang cukup tinggi yaitu mencapai 4.085 orang.
Pelaku dengan latar belakang pendidikan SMA atau se-derajat yang memiliki usia sekitar 16-18 tahun, menunjukkan bahwa remaja mendominasi kecelakaan lalu lintas yang terjadi di wilayah DKI Jakarta khususnya di Jakarta Timur. Hasil wawancara yang dilakukan ke beberapa pelajar SMA pengendara motor di Jakarta Timur juga menunjukkan bahwa mereka cukup sering melakukan kelalaian dalam berkendara. Kemacetan yang terjadi di wilayah Jakarta Timur dan perilaku negatif yang dilakukan pengendara lain merupakan penyebab munculnya emosi yang berakhir menjadi perilaku agresi saat berkendara. Perilaku agresi yang
pengendara lain, memarahi balik pengendara lain, membunyikan klakson berkali-kali, menerobos perempatan dengan kecepatan yang cukup tinggi, juga menerobos lampu merah. Perilaku yang dilakukan tersebut sesuai dengan teori dari Tasca (2000) mengenai karakteristik dari perilaku aggressive driving.
Selanjutnya, dalam DSM V (2013) menyatakan bahwa kecenderungan
narsisme lebih banyak ditemui pada kalangan remaja. Remaja masih mengalami masa pencarian akan jati diri, dimana ia akan mengutamakan egonya dibandingkan dengan yang lainnya. Pergaulan diantara remaja juga memperlihatkan bahwa seorang remaja tidak mau harga dirinya lebih rendah dibandingkan remaja lainnya, maka dari itu remaja sering melakukan berbagai cara untuk meningkatkan harga dirinya dimana salah satunya adalah dengan berperilaku agresif. Selain itu, remaja juga menarik perhatian orang yang berada di sekitarnya untuk meningkatkan harga dirinya, contohnya seperti remaja yang berlomba-lomba untuk mengunggah fotonya di berbagai sosial media yang ia punya untuk mendapatkan banyak followers di akunnya.
Aggressive driving yang sering dilakukan oleh kalangan remaja telah
menyebabkan berbagai kecelakaan lalu lintas. Perilaku tersebut dapat dimunculkan oleh karena kepribadian yang dimiliki oleh orang tersebut khususnya kecenderungan narsisme atau narcissism juga dapat dikarenakan oleh kondisi lingkungan yang ada di sekitarnya yaitu kepadatan yang menghasilkan kesesakan atau crowding. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: “Hubungan antara Crowding dan Kepribadian Narsisme
dengan Aggressive Driving pada Pelajar SMA Pengendara Motor di Jakarta Timur”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dirumuskan masalah penelitian ini adalah:
1. Apakah terdapat hubungan antara crowding dan kepribadian narsisme dengan aggressive driving pada pelajar SMA pengendara motor di Jakarta Timur?
2. Apakah terdapat hubungan antara crowding dengan aggressive driving
pada pelajar SMA pengendara motor di Jakarta Timur?
3. Apakah terdapat hubungan antara kepribadian narsismedengan aggressive
driving pada pelajar SMA pengendara motor di Jakarta Timur?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui hubungan antara crowding dan kepribadian narsisme dengan aggressive driving pada pelajar SMA pengendara motor di Jakarta Timur.
b. Mengetahui hubungan antara crowding dengan aggressive driving
pada pelajar SMA pengendara motor di Jakarta Timur.
c. Mengetahui hubungan antara kepribadian narsisme dengan aggressive
2. Manfaat Penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dibidang Psikologi Sosial dan Klinis mengenai crowding dan kepribadian narsisme dengan
aggressive driving.
b. Manfaat Praktis
1) Bagi Remaja
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai hubungan crowding dan kepribadian narsisme dengan
aggressive driving pada pengendara remaja untuk dapat mengelola
diri dalam menghadapi berbagai situasi. 2) Bagi Orang Tua
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bahwa pola asuh yang dipakai sangat penting bagi kehidupan seorang anak khususnya pada remaja, dalam menghadapi situasi yang terjadi di jalan raya.
3) Bagi Kepolisian Lalu Lintas
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai faktor yang menyebabkan aggressive driving khususnya kepribadian narsisme dan crowding untuk mengurangi tingkat kecelakaan yang terjadi khusus di wilayah kota Jakarta Timur.
4) Bagi Peneliti Lain
Penelitian ini diharapkan mampu menjadi referensi bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian terkait dengan aggressive