• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II BIRO KEUANGAN SEKRETARIAT DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA. pemerintahan yang bernama Gouverment van Sumatera, yang meliputi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II BIRO KEUANGAN SEKRETARIAT DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA. pemerintahan yang bernama Gouverment van Sumatera, yang meliputi"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

BIRO KEUANGAN SEKRETARIAT DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA

A. Sejarah Ringkas

Di zaman Pemerintahan Belanda, Sumatera Utara merupakan suatu pemerintahan yang bernama Gouverment van Sumatera, yang meliputi seluruh Sumatera dikepalai oleh seorang Gouvernur berkedudukan di Medan. Sumatera terdiri dari daerah-daerah administratif yang dinamakan Keresidenan.

Di zaman permulaan kemerdekaan Republik Indonesia, Sumatera tetap merupakan suatu kesatuan pemerintah yaitu Provinsi Sumatera yang dikepalai oleh seorang Gubernur dan terdiri dari daerah-daerah administratif Keresidenan yang dikepalai oleh seoran Residen.

Pada sidang I Komite Nasional Daerah (KND) Provinsi Sumatera, mengingat kesulitan-kesulitan perhubungan ditinjau dari segi pertahanan diputuskan untuk membagi Provinsi Sumatera menjadi 3 sub Provinsi yaitu sub Provinsi Sumatera Utara (yang terdiri dari Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Timur, dan Keresidenan Tapanuli ), sub Provinsi Sumatera Tengah, dan sub Provinsi Sumatera Selatan.

Melalui Undang-Undang No. 10 Tahun 1948 Tanggal 15 April 1948, Pemerintah menetapkan Sumatera menjadi 3 Provinsi yang masing-masing berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri yaitu:

1. Provinsi Sumatera Utara yang meliputi Keresidenan Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli.

(2)

2. Provinsi Sumatera Tengah yang meliputi Keresidenan Sumatera Barat, Riau, dan Jambi.

3. Provinsi Sumatera Selatan yang meliputi Keresidenan Bengkulu, Palembang, dan Bangka Belitung.

Pada permulaan tahun 1949 diadakan reoganisasi pemerintah di Sumatera, atas pertimbangan berhubungan dengan meningkatnya serangan-serangan Belanda. Menghendaki suatu sistem pertahanan yang lebih kokoh dan sempurna. Untuk itu perlu dipusatkan alat-alat kekuasaan sipil dan militer dalam tiap-tiap Daerah Militer Istimewa yang berada dalam satu tangan yaitu Gubernur Militer. Dengan demikian seluruh kekuasaan baik sipil maupun militer berada ditangan Gubernur Militer.

Perubahan yang demikian ini ditetapkan dengan Keputusan Pemerintah Darurat R.I Tanggal 16 Mei 1949 No. 21/Pem/P.D.R.I. Dalam tindak lanjutnya dengan Keputusan Pemerintah Darurat R.I Tanggal 17 Mei 1949 No. 22/Pem/P.D.R.I jabatan Gubernur Sumatera Utara ditiadakan. Gubernur yang bersangkutan diangkat menjadi Komisaris dengan tugas-tugas memberi pengawasan dan tuntutan terhadap Pemerintah, baik sipil maupun militer. Selanjutnya dengan instruksi Dewan Pembantu dan Penasehat Wakil Perdana Menteri tanggal 15 September 1949 Sumatera Utara dibagi menjadi 2 Daerah Militer Istimewa yaitu Aceh dan Tanah Karo diketahui oleh Gubernur Militer Tengku M. Daud Bereuh dan Tapanuli (Sumatera Timur) oleh Gubernur Militer Dr. F. L. Tobing.

(3)

Selanjutnya dengan Ketetapan Pemerintah Darurat RI dalam bentuk Peraturan Perdana Menteri pengganti Peraturan Pemerintah Tanggal 17 Desember 1949 No. 8/Des/W.K.P.M dibentuklah Provinsi Aceh dan Provinsi Tapanuli (Sumatera Timur). Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 5 Tahun 1950. Peraturan Wakil Perdana Menteri Pengganti Peraturan Pemerintah 17 Desember 1949 No. 8/Des/W.K.P.M Tahun 1949 tersebut dicabut dan kembali dibentuk Provinsi Sumatera Utara dengan daerah yang meliputi Daerah Keresidenan Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli. Selanjutnya dengan peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1950 Tanggal 14 Agustus 1950 (pada waktu RIS) ditetapkan bahwa Daerah RIS sesudah terbentuk Negara Kesatuan RI terbagi atas daerah-daerah Provinsi : 1. Jawa Barat 2. Jawa Tengah 3. Jawa Timur 4. Sumatera Utara 5. Sumatera Tengah 6. Sumatera Selatan 7. Kalimantan 8. Sulawesi 9. Maluku 10.Sunda Kecil

(4)

Dalam perkembangan selanjutnya Tanggal 7 Desember 1956 diundangkanlah Undang-Undang No. 24 Tahun 1956 yaitu tentang pembentukan Daerah Otonom Provinsi Aceh dan perubahan peraturan pembentukan Provinsi Sumatera Utara. Pasal I Undang-Undang No. 24 Tahun 1956 ini menyebutkan :

1. Daerah Aceh yang melingkupi yaitu Aceh Besar, Aceh Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Selatan, Kota Besar Kuta Raja, dipisahkan dari lingkungan Daerah Otonom Provinsi Sumatera Utara dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 5 Tahun 1950 dan dibentuk menjadi daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan nama Provinsi Aceh.

2. Provinsi Sumatera Utara tersebut dalam ayat (1) yang wilayahnya telah dikurangi dengan bagian-bagian yang terbentuk sebagai Daerah Otonom Provinsi Aceh tetap disebut Provinsi Sumatera Utara.

Jumlah Daerah Otonom Tingkat II di Sumatera Utara, berdasarkan Undang-Undang Darurat No. 7 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten, Undang-Undang Darurat No. 9 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota-Kota Kecil serta Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 4 Tahun 1964 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II adalah 17 buah, saat ini di Sumatera Utara terdiri dari 25 Kabupaten dan 8 Kota.

Perihal urusan rumah tangga daerah, dimulai dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.5 Tahun 1950 yang kemudian diubah dengan

(5)

Undang-Undang Darurat No.16 Tahun 1955 dan dengan peraturan-peraturan yang muncul kemudian sampai saat ini di Provinsi Sumatera Utara terdapat 20 Dinas Otonom sesuai Perda No. 8 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah Provinsi Sumatera Utara, yaitu :

1. Dinas Kehutanan 2. Dinas Pertanian

3. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan 4. Dinas Kesejahteraan dan Sosial

5. Dinas Penegelolaan Sumber Daya Air 6. Dinas Kesehatan

7. Dinas Perindustrian dan Perdagangan 8. Dinas Tata Ruang dan Permukiman 9. Dinas Perhubungan

10.Dinas Bina Marga

11.Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi 12.Dinas Komunikasi dan Informatika 13.Dinas Perkebunan

14.Dinas Pendapatan

15.Dinas Pemuda dan Olahraga 16.Dinas Kelautan dan Perikanan 17.Dinas Kebudayaan dan Pariwisata 18.Dinas Pertambangan dan Energi

(6)

19.Dinas Pendidikan

20.Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah

Dan Perda No. 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah, yaitu:

1. Badan Perencabaan dan Pembangunan Daerah

2. Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat 3. Badan Pendidikan dan Latihan

4. Badan Penanaman Modal dan Investasi 5. Badan Lingkungan Hidup

6. Badan Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi 7. Inspektorat Daerah

8. Badan Penelitian dan Pengembangan 9. Badan Kepegawaian Daerah

10.Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa 11.Badan Ketahanan Pangan

12.Badan Rumah Sakit Jiwa Daerah 13.Kantor Satpol PP

14.Kantor Perwakilan Jakarta

Serta Perda No. 6 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga lain, yaitu :

1. Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan 2. Badan Penanggulangan Bencana Daerah

(7)

4. Sekretariat Korpri

5. Kantor Penyiaran Indonesia Daerah

B. Struktur Organisasi

Struktur organisasi adalah bagan yang menunjukkan bagaimana hubungan antara orang-orang di dalam suatu organisasi. Setiap komponen dalam organisasi memiliki pengertian, tanggung jawab, serta pembagian tugas masing-masing.

Struktur organisasi berfungsi menjelaskan kewajiban dan tanggung jawab serta menghindarkan kesimpangsiuran dalam melaksanakan pekerjaan. Dalam struktur organisasi tersebut tercermin pembagian kerja dan tanggung jawab yang dimaksud untuk mempermudah penentuan serta mengarahkan dan mengatasi pelaksanaan pekerjaan tersebut. Dengan terintegrasinya suatu struktur organisasi maka kegiatan di dalam organisasi tersebut akan berjalan lancar. BIRO KEUANGAN SETDA PROVSU BAGIAN ANGGARAN Subbag Anggaran Pendapatan dan Pembiayaan Subbag Anggaran Belanja Tidak Langsung Subbag Anggaran Belanja Langsung BAGIAN PERBENDAHARAAN Subbag Perbendaharaan Belanja Tidak Langsung

dan Pembiayaan Subbag Perbendaharaan Langsung Subbag Tata Usaha Biro BAGIAN KAS DAERAH Subbag Penerimaan Kas Subbag Pengeluaran Kas Subbag Pengendalian Kas,

Bank, dan Pajak

BAGIAN AKUNTANSI Subbag Akuntansi Penerimaan Subbag Akuntansi Pengeluaran Subbag Evaluasi Neraca dan Arus

Kas BAGIAN PEMBINAAN ANGGARAN KAB/KOTA Subbag I Evaluasi APBD Kab/Kota Subbag II Evaluasi APBD Kab/Kota Subbag Pembinaan Adm. Keuangan Daerah

(8)

GAMBAR 2.1

Struktur Organisasi Biro Keuangan SETDA PROVSU Sumber : Biro Keuangan SETDA PROVSU

C. Job Description

Berikut adalah uraian tugas dan tanggung jawab pada Biro Keuangan SETDA PROVSU yaitu:

1. Kepala Biro Keuangan

 Menyusun konsep kebijakan Kepala Daerah dalam penyelenggaraan urusan Pemerintahan atas pelaksanaan pembina, koordinasi, fasilitas, monitoring, evaluasi, pengendalian dan kebijakan bidang perbendaharaan, anggaran, kas daerah, akuntansi, dan pembinaan anggaran Kabupaten/Kota.

 Menyelenggarakan persiapan dan mengkoordinasikan, menyusun konsep kebijakan Kepala Daerah dalam penyelenggaraan pembinaan, fasilitasi, monitoring, evaluasi, koordinasi, dan pengendalian urusan Pemerintahan dan/atau kewenangan otonomi Provinsi di bidang perbendaharaan, anggaran, kas daerah, akuntansi, dan anggaran keuangan Kabupaten / Kota.

 Menyelenggarakan koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi, dan pengendalian pelaksanaan kebijakan Kepala Daerah di bidang perbendaharaan, anggaran, kas daerah, akuntansi, dan anggaran keuangan Kabupaten / Kota.

 Menyelenggarakan pembinaan, bimbingan, arahan, dan penegakan disiplin staf di lingkungan Biro Keuangan.

(9)

 Menyelenggarakan pengelolaan bahan / data dalam penyelenggaraan pengelolaan keuangan di bidang perbendaharaan, anggaran, kas daerah, akuntansi, dan pembinaan anggaran Kabupaten / Kota.

 Menyelenggarakan penetapan penyusunan perencanaan dan program kegiatan pengelolaan keuangan daerah, sesuai ketentuan peraturan perundang – undangan dan standar yang ditetapkan.

 Menyelenggarakan persiapan penyusunan standar, norma, dan kriteria penyelenggaraan pengelolaan keuangan daerah.

2. Kepala Bagian Perbendaharaan

 Membantu kepala biro keuangan dalam menyelenggarakan urusan perbendaharaan di bidang ketatausahaan, perbendaharaan tidak langsung, dan pembiayaan perbendaharaan belanja langsung.

 Penyelenggaraan pembinaan, bimbingan, dan arahan kepada staf pada lingkup Bagian Perbendaharaan.

 Penyelenggaraan pengelolaan data / bahan di bidang perbendaharaan.

 Penyelenggaraan penyusunan perencanaan dan program kegiatan Bagian Perbendaharaan, sesuai ketentuan peraturan perundang – undangan.

 Penyelenggaraan pengkajian dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan – kebijakan di bidang perbendaharaan.

 Penyelenggaraan pembinaan, koordinasi, fasilitas, monitoring, evaluasi, pengendalian, dan kebijakan perbendaharaan di bidang

(10)

ketatausahaan, perbendaharaan belanja tidak langsung dan pembiayaan, perbendaharaan belanja langsung.

 Penyelenggaraan penyusunan laporan dan pertanggung jawaban atas pelaksanaan tugasnya, sesuai standar yang ditetapkan.

3. Kepala Bagian Anggaran

 Membantu kepala biro dalam menyelenggarakan urusan di bidang anggaran belanja tidak langsung, anggaran belanja langsung, anggaran pendapatan, dan pembiayaan.

 Penyelenggaraan pembinaan, bimbingan, dan arahan kepada staf pada lingkup Bagian Anggaran.

 Penyelenggaraan pengkajian dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan – kebijakan pemerintahan Provinsi dan Kabupaten / Kota, sesuai ketentuan peraturan perundang – undangan.

 Penyelenggaraan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi, pengendalian, dan kebijakan di bidang pengelolaan anggaran.

 Penyelenggaraan sosialisasi dan pengembangan informasi dalam penyelenggaraan anggaran.

 Penyelenggaraan tugas lain yang diberikan Kepala Biro, sesuai bidang tugas dan fungsinya.

 Penyelenggaraan penyusunan laporan dan pertanggung jawaban atas pelaksanaan tugasnya, sesuai standar yang ditetapkan.

(11)

 Membantu kepala biro dalam penyelenggaraan pengelolaan urusan kas daerah di bidang penerimaan dan pengeluaran kas, pengendalian kas, bank, dan pajak.

 Penyelenggaraan pembinaan, bimbingan, dan arahan kepada staf pada lingkup Bagian Kas Daerah.

 Penyelenggaraan pengkajian dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan – kebijakan pemerintahan Provinsi dan Kabupaten / Kota, sesuai ketentuan peraturan perundang – undangan.

 Penyelenggaraan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi, pengendalian, dan kebijakan di bidang pengelolaan kas daerah.

 Penyelenggaraan sosialisasi dan pengembangan informasi dalam penyelenggaraan kas daerah.

 Penyelenggaraan tugas lain yang diberikan Kepala Biro, sesuai bidang tugas dan fungsinya.

 Penyelenggaraan penyusunan laporan dan pertanggung jawaban atas pelaksanaan tugasnya, sesuai standar yang ditetapkan.

5. Kepala Bagian Akuntansi

 Membantu kepala biro dalam penyelenggaraan pengelolaan urusan akuntansi di bidang akuntansi penerimaan, akuntansi pengeluaran, evaluasi neraca dan arus kas.

 Penyelenggaraan pembinaan, bimbingan, dan arahan kepada staf pada lingkup Bagian Akuntansi.

(12)

 Penyelenggaraan pengkajian dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan – kebijakan pemerintahan Provinsi dan Kabupaten / Kota, sesuai ketentuan peraturan perundang – undangan.

 Penyelenggaraan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi, pengendalian, dan kebijakan di bidang pengelolaan akuntansi.

 Penyelenggaraan sosialisasi dan pengembangan informasi dalam urusan akuntansi.

 Penyelenggaraan tugas lain yang diberikan Kepala Biro, sesuai bidang tugas dan fungsinya.

 Penyelenggaraan penyusunan laporan dan pertanggung jawaban atas pelaksanaan tugasnya, sesuai standar yang ditetapkan.

6. Kepala Bagian Anggaran Kabupaten/Kota

 Membantu kepala biro dalam penyelenggaraan pengelolaan urusan pembinaan anggaran Kabupaten/Kota dan pembinaan administrasi keuangan daerah.

 Penyelenggaraan pembinaan, bimbingan, dan arahan kepada staf pada lingkup Bagian Pembinaan Anggaran Kabupaten / Kota.

 Penyelenggaraan pengkajian dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan – kebijakan pemerintahan Provinsi dan Kabupaten / Kota, sesuai ketentuan peraturan perundang – undangan.

 Penyelenggaraan pembinaan, koordinasi, fasilitasi, monitoring, evaluasi, pengendalian, dan kebijakan di bidang urusan pembinaan anggaran Kabupaten / Kota.

(13)

 Penyelenggaraan sosialisasi dan pengembangan informasi dalam pembinaan anggaran Kabupaten / Kota.

 Penyelenggaraan tugas lain yang diberikan Kepala Biro, sesuai bidang tugas dan fungsinya.

 Penyelenggaraan penyusunan laporan dan pertanggung jawaban atas pelaksanaan tugasnya, sesuai standar yang ditetapkan.

D. Jaringan Kegiatan

Biro Keuangan SETDA PROVSU merupakan Badan Pemerintahan Daerah Sumatera Utara yang mengurusi keuangan daerah yang bertanggung jawab kepada Gubernur Sumatera Utara melalui Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara.

Biro Keuangan berorientasi pada pengaturan keuangan daerah Provinsi Sumatera Utara mulai dari penganggaran pendapatan dan belanja daerah, pelaporan realisasi atas anggaran tersebut, dan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan keuangan daerah Provinsi Sumatera Utara.

Maka dari itu diharapkan semua pegawai di Biro Keuangan SETDA PROVSU dapat meningkatkan kemampuan profesionalisme dalam mengelola keuangan daerah yang didukung sikap mental yang terpuji dan berakhlak, penataan kelembagaan menuju sistem kinerja yang professional dan modern dalam rangka pelaksanaan pelayanan publik, serta dapat meningkatkan pola pembinaan berkelanjutan kepada pemerintahan kabupaten kota se-Sumut di bidang keuangan daerah dan secara intensif melakukan pembinaan internal di lingkungan SKPD.

(14)

E. Kinerja Terkini

Setiap organisasi pasti memiliki visi dan misi yang harus dijalankan dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi tersebut. Begitu pula yang terjadi pada Biro Keuangan SETDA PROVSU yang terus berupaya mewujudkan tujuannya. Maka dari itu organisasi ini diharapkan untuk bekerja keras, disiplin, dan loyalitas pada saat bekerja.

Kinerja usaha terkini yang dilakukan organisasi adalah menyelenggarakan administrasi dan pengelolahan keuangan daerah yang efisien dan akuntabel, menyusun dan mengevaluasi anggaran keuangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, serta membuat sinergi antara Pemerintah Daerah dan DPRD.

F. Rencana Kegiatan

Rencana kegiatan Biro Keuangan SETDA PROVSU antara lain adalah sebagai berikut :

1. Melakukan evaluasi atas anggaran belanja daerah dan SKPD yang sudah dibuat.

2. Mempersiapkan anggaran belanja daerah dan SKPD untuk tahun anggaran selanjutnya.

3. Mempersiapkan laporan keuangan yang akan diberikan kepada Gubernur Sumatera Utara sebagai bentuk tanggung jawab Biro Keuangan SETDA PROVSU.

4. Melakukan pembinaan berkelanjutan kepada pemerintahan Kabupaten / Kota se-Sumut di bidang keuangan.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian, terdapat penentu-penentu internasional dari relasi-relasi kelas sosial dalam suatu negara- bangsa; terdapat pelbagai variasi dalam struktur

Tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang dilakukan oleh penuturnya dengan maksud agar lawan tutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu

Dengan diketahui genotipe sifat mengeram secara molekuler dengan penanda promotor prolaktin, disarankan penelitian seleksi untuk mengurangi sifat mengeram pada ayam Kampung

No Kode Nama Mata Ajar SKS Pembina Kelas Senin Selasa Rabu Kamis Jumat.. 1 BIB101 Morfologi Tumbuhan

Bagaimana gambaran faktor personal (pelaku kemitraan) yang terdiri dari pengetahuan flu burung, pemahaman konsep kemitraan, keahlian dan kesepakatan peran, dan pengalaman

Melakukan aksi tindak lanjut dari setiap peraturan yang ada, sehingga perusahaan tidak hanya sekedar menjalankan kewajibannya, tetapi juga mendapatkan hasil yang

selaku dosen pembimbing, yang telah memberikan banyak bimbingan dan saran selama proses penelitian maupun penulisan skripsi ini6. selaku dosen pembimbing, yang telah

Meskipun dihadapkan pada tekanan inflasi yang kuat dan kondisi operasional yang cukup sulit sehingga berakibat pada meningkatnya tekanan biaya operasional, Bank mencatat total