• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 24 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Literatur

2.1.1 Technology Acceptance Model

Technology Acceptance Model (TAM) yang dikembangkan oleh Davis (1989) berdasarkan dengan teori tindakan beralasan (Fishbein and Ajzen, 1975) menjelaskan bahwa terdapat dua faktor eksternal yang bisa mendorong kemauan untuk mengadopsi sistem informasi (SI) yaitu Perceived Usefulness dan Perceived Ease of Use. TAM sendiri sudah diterapkan untuk digunakan dalam melakukan penelitian terhadap Continuance Intention to Use. Selain itu TAM juga menjelaskan bahwa pengunaan actual produk atau jasa dimotivasi oleh 2 faktor, yaitu attitude dan behavioral intention Weng et al. (2017).

TAM memiliki fokus utama kepada penerimaan awal dari sistem informasi. Sehingga beberapa penelitian telah menjelaskan bahwa TAM memiliki kekuatan penjelas yang dapat ditingkat apa bila digunakan dalam kombinasi dengan banyak faktor. (Foroughi et al., 2019) mengungkapkan bahwa TAM juga sudah digunakan untuk mengeksplorasi potensi dalam penerimaan Teknologi Informasi atau Sistem Informasi atau niat untuk digunakan di dalam berbagai situasi yang berbeda. Davis (1989) mengemukakan model dari TAM sebagai berikut:

(2)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 25 Gambar 2. 1 Model TAM

Sumber: Foroughi et al. (2019)

2.1.2 Expectation Confirmation Model (ECM)

Expectation Confirmation Model (ECM) belakangan ini sedang digunakan dalam menjelaskan perilaku pengguna untuk tetap menggunakan sistem informasi. ECM diperkenalkan dengan tujuan untuk menjelaskan continuance intention pengguna dalam menggunakan sistem. Hal ini membuktikan bahwa perlu nya untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang dimana hal ini merupakan hal yang sangat berdampak pada penggunaan konstan pengguna Weng et al. (2017).

Model ini menyebutkan bahwa continuance intention pengguna berdasarkan pada satisfaction pengguna dalam menggunakan sistem informasi dan perceived usefulness dari penggunaan sistem informasi secara berkelanjutan. Selain itu, konfirmasi harapan dari pengguna sebelumnya (Confirmation) dinilai dapat mempengaruhi kepuasan pengguna (Satisfaction).

2.1.3 Cognitive Model (COGM)

Menurut (Weng et al., 2017), cognitive model memberi usulan berupa continuance intention harus didefinisikan sebagai fungsi dari kedua satisfaction dan juga attitude. Hal serupa juga dikemukakan oleh Foroughi et al. (2019) menunjukan bahwa cognitive model dijelaskan sebagai continuance intention merupakan fungsi dari kedua satisfaction dan attitude.

(3)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 26 2.1.4 Technology Continuance Theory (TCT)

TCT direkomendasikan untuk menjadi model peningkatan kontinuitas sistem informasi yang cocok untuk seluruh siklus hidup penerimaan. TCT pun memiliki 3 model, yaitu TAM, ECM, dan COGM dengan enam komponen di dalamnya, yaitu confirmation, satisfaction, perceived usefulness, perceived ease of use, dan attitude Weng et al. (2017).

Kekuatan utama dari TCT sendiri adalah kombinasi antara satisfaction dan attitude yang menjadi satu model kelanjutan tunggal, sambal mempertahankan variabel variabel kemudahan penggunaan dan kegunaan yang terdefinisi dengan baik yang diakui sebagai tingkat pertama Weng et al. (2017).

Jika dibandingkan dengan TAM, ECM, DAN COGM, TCT lebih diminati untuk penelitian, hal ini dikarenakan TCT memiliki nilai asumsi yang menguntungkan sepanjang siklus hidupnya. Berbeda dengan model lain, TCT memberikan peningkatan terhadap kualitatif dan kuantitatif yang cukup signifikan dalam menjelaskan attitude konsumen pada berbagai tahap konfirmasi. TCT dalam segi kuantitatif mewakili penjelasan yang kuat untuk continuance intention dan satisfaction. Sedangkan, dari segi kualitatif TCT berkontribusi secara teoritis dalam kombinasi antara attitude dan satisfaction, menjadi satu model berkelanjutan Weng et al. (2017).

2.1.5 Attitude towards an MTB App

Attitude didefisikan sebagai tingkat evaluasi positif atau negatif yang dilakukan individu dalam penanganan perilaku target Peng et al.

(2019). Menurut (Foroughi et al., 2019), Attitude didefinisikan sebagai tingkat perasaan positif atau negatif seseorang dalam menjalankan perilaku target. Menurut Weng et al. (2017) Attitude didefinisikan sebagai tingkat

(4)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 27 pandangan positif atau negatif yang dimiliki oleh seseorang yang berhubungan dengan kinerja perilaku dari target

Menurut Gathut & Purnamaningsih (2021) Attitude dalam aplikasi jasa pesan antar makanan online merupakan evaluasi positif atau negatif yang diberikan oleh konsumen kepada sebuah teknologi aplikasi yang dapat mempermudah konsumen dalam memesan makanan atau minuman secara online.

Pada penelitian ini, penulis menggunakan definisi dari Weng et al.

(2017)untuk mengoperasionalkan variabel attitude, yang dapat didefinisikan sebagai tingkat pandangan positif atau negatif yang dimiliki oleh seseorang yang berhubungan dengan kinerja perilaku dari target.

2.1.6 Satisfaction

Satisfaction mengacu kepada penilaian subjektif berdasarkan pengalaman yang dialami oleh pengguna sistem informasi Veeramootoo et al. (2018). Menurut Weng et al. (2017), satisfaction adalah evaluasi yang dilakukan setelah terjadi proses pembelian layanan atau produk.

Menurut Foroughi et al. (2019), satisfaction adalah evaluasi pasca pembelian yang dilakukan oleh individu pada layanan atau produk. Menurut Peng et al. (2019) satisfaction mengacu kepada efek sementara dan pengalaman khusus yang dirasakan oleh pengguna untuk memberikan evaluasi sikap pra konsumsi.

Menurut Erhan & Rizkalla (2019), satisfaction adalah evaluasi keseluruhan konsumen dari pasca-konsumsi sebuah produk atau layanan jasa yang berada di benak pelanggan.

(5)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 28 Pada penelitian ini penulis menggunakan pengertian satisfaction dari Veeramootoo et al. (2018) untuk mengoperasikan variabel satisfaction, yang didefinisikan sebagai penilaian subjektif berdasarkan pengalaman yang dialami oleh pengguna sistem informasi.

2.1.7 Perceived Ease of Use

Menurut Weng et al. (2017), perceived ease of use mengacu pada sejauh mana individu dapat menerima bahwa menggunakan teknologi membebaskan mereka dari usaha. Menurut Foroughi et al. (2019), perceived ease of use didefinisikan sebagai sejauh mana seorang individu dapat mempercayai bahwa menggunakan teknologi dapat membebaskan mereka dari usaha mental.

Menurut Joia & Altieri (2018), perceived ease of use dapat didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang mengakui bahwa menggunakan produk atau layanan tidak perlu menggunakan usaha.

Pada penelitian ini penulis akan menggunakan pengertian dari Weng et al. (2017) untuk mengoperasikan variabel perceived ease of use, yang didefinisikan sebagai sejauh mana individu dapat menerima bahwa menggunakan teknologi membebaskan mereka dari usaha.

2.1.8 Perceived Usefulness

Perceived usefulness berkaitan dengan persepsi seseorang mengenai seberapa banyak sebuah produk atau teknologi membantu dan memfasilitasi pekerjaan mereka Weng et al. (2017). Menurut Chen et al. (2018), perceived usefulness mengacu kepada sejauh mana seseorang mempercayai bahwa dengan menggunakan sistem tertentu dapat meningkatkan kinerja pekerjaan mereka.

(6)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 29 Sedangkan menurut Peng et al. (2019), perceived usefulness didefinisikan sebagai evaluasi yang dilakukan pengguna mengenai sejauh mana sebuah produk atau layanan dapat meningkatkan kinerja mereka.

Pada penelitian ini penulis akan menggunakan pengertian dari Weng et al. (2017) untuk mengoperasikan variabel perceived usefulness, yang didefinisikan sebagai persepsi seseorang mengenai seberapa banyak sebuah produk atau teknologi membantu dan memfasilitasi pekerjaan mereka.

2.1.9 Confirmation

Confirmation dianggap sebagai istilah kognitif yang mengacu kepada tingkat penggunaan sistem informasi yang benar benar dapat mencerminkan penggunaan sistem informasi yang diharapkan Weng et al.

(2017). Menurut Peng et al. (2019) confirmation mengacu kepada sejauh mana produk atau layanan dapat memenuhi harapan yang dimiliki oleh konsumen.

Menurut Jumaan et al. (2020), confirmation mengacu kepada persepsi pengguna teknologi informasi tentang kesesuaian antara kinerja teknologi informasi yang diharapkan dan actual.

Pada penelitian ini penulis akan menggunakan pengertian dari Weng et al. (2017) untuk mengoperasikan variabel confirmation, yang didefinisikan sebagai istilah kognitif yang mengacu kepada tingkat penggunaan sistem informasi yang bear benar dapat mencerminkan penggunaan sistem informasi yang diharapkan.

2.1.10 Perceived Risk

Menurut Weng et al. (2017), perceived risk didefinisikan sebagai hubungan antara konsekuensi dengan ketidakpastian yang berkaitan dengan keputusan yang berasal dari konsumen. Menurut Rana et al. (2015)

(7)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 30 perceived risk adalah harapan subjektif pengguna dalam mengalami kerugian untuk dapat mengejar hasil yang diinginkan.

Menurut (Veeramootoo et al., 2018), perceived risk adalah tangkat ketidakpastian atau kecemasan yang dialami oleh pengguna pada saat mereka menggunakan sistem informasi. Menurut (Peng et al., 2019) perceived risk mengacu kepada sejauh mana evaluasi subjektif yang dilakukan oleh individu yang berasal dari ketidakpastian dan konsekuensi yang merugikan dari mengadopsi dan menggunakan produk atau layanan baru.

Pada penelitian ini penulis akan menggunakan pengertian dari (Rana et al., 2015) untuk mengoperasikan variabel perceived risk, yang didefinisikan sebagai harapan subjektif pengguna dalam mengalami kerugian untuk dapat mengejar hasil yang diinginkan.

2.1.11 Subjective Norm

Menurut (Weng et al., 2017) subjective norm mengacu kepada tekanan sosial yang dirasakan oleh pengguna untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku. Menurut (Mohd Suki & Mohd Suki, 2017) subjective norm mengacu pada kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk menyetujui atau menolak perilaku tertentu.

Menurut (C. C. Liang, 2016), subjective norm didefinisikan sebagai persepsi pengguna tentang betapa pentingnya orang-orang dalam kelompok pembanding mereka melihat penggunaan layanan seluler mereka.

Pada penelitian ini penulis akan menggunakan pengertian dari (Weng et al., 2017) untuk mengoperasikan variabel subjective norm, yang didefinisikan sebagai persepsi pengguna tentang betapa pentingnya orang-

(8)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 31 orang dalam kelompok pembanding mereka melihat penggunaan layanan seluler mereka.

2.1.12 Continuance Intention

Menurut (Weng et al., 2017) continuance intention dalam sistem informasi didefinisikan sebagai kepuasan individu yang berdasar dari dalam menggunakan sistem informasi dan manfaat yang didapatkan dengan menggunakan sistem informasi secara berkelanjutan. Menurut (Chen et al., 2018), continuance intention dalam sistem informasi adalah kemauan individu dalam menggunakan sistem informasi secara terus menerus.

Menurut (Foroughi et al., 2019) continuance intention dalam sistem informasi adalah Kepuasan pengguna yang berdasar dari manfaat yang dirasakan dari menggunakan sistem informasi yang berkelanjutan dan penggunaan sistem informasi.

Pada penelitian ini penulis akan menggunakan pengertian dari (Weng et al., 2017) untuk mengoperasikan variabel continuance intention, yang didefinisikan sebagai berdasar dari kepuasan individu dalam menggunakan sistem informasi dan manfaat yang didapatkan dengan menggunakan sistem informasi secara berkelanjutan.

2.2 Model Penelitian

Pada penelitian ini penulis menggunakan model penelitian dari peneliti terdahulu (Weng et al., 2017) dalam jurnalnya yang berjudul

“Mobile taxi booking application service’s continuance usage intention by users” dengan model penelitiannya sebegai berikut

(9)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 32 Gambar 2. 2Model Penelitian

Sumber: (Weng et al., 2017)

Berdasarkan model penelitian diatas, dapat dilihat jika model penelitian tersebut menggambarkan dengan jelas variabel-variabel yang dinilai dapat menjelaskan mengenai faktor yang dapat mempengaruhi continuance intention.

2.3 Pengembangan Hipotesis

2.3.1 Pengaruh Attitude terhadap Continuance Intention

Attitude merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan perilaku pengguna terhadap penggunaan Mobile Taxi Booking. Pada penelitian yang dilakukan oleh (Weng et al., 2017), ditemukan hasil bahwa Attitude berpengaruh positif terhadap Continuance Intention.

Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Peng et al., 2019) juga menunjukan bahwa Attitude berpengaruh secara positif terhadap Continuance Intention. Penelitian yang dilakukan oleh (Foroughi et al., 2019) juga membuktikan bahwa Attitude berpengaruh secara positif

Confirmation

Perceived Usefulness

Perceived Ease of Use

Perceived Risk

Satisfaction

Attitude

Subjective Norms

Continuance Intention

H1 (+) H2 (+)

H3 (+) H4 (+)

H5 (+) H6 (+)

H7 (+) H8 (+)

H9 (+)

H10 (-) H11 (+) H12 (+)

H13 (+)

(10)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 33 terhadap Continuance Intention. Pada penelitian yang dilakukan oleh (T.-P.

Liang et al., 2013) juga ditunjukan bahwa Attitude secara positif mempengaruhi Continuance Intention.

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H01: Attitude tidak memiliki berpengaruh terhadap Continuance Intention.

H11: Attitude memiliki pengaruh terhadap Continuance Intention.

2.3.2 Pengaruh Satisfaction terhadap Continuance Intention

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Weng et al., 2017) menunjukan bahwa satisfaction secara positif mempengaruhi continuance intention. Penelitian tersebut menunjukan bahwa satisfaction sangat mempengaruhi continuance intention dari pengguna. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh (Foroughi et al., 2019) juga menunjukan bahwa satisfaction berpengaruh positif terhadap continuance intention.

Pada penelitian lainnya yang dilakukan oleh (Peng et al., 2019) juga ditemukan hasil yang sama, yang menunjukan bahwa satisfaction berpengaruh secara positif terhadap continuance intention. Konsumen yang menilai suatu produk atau layanan jasa yang berguna akan kemungkinan besar mengadopsi produk atau layanan jasa tersebut. Hal yang sama juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan oleh (Sthapit et al., 2020).

Penelitian lain yang dilakukan oleh (Joia & Altieri, 2018) menunjukan bahwa satisfaction mempengaruhi continuance intention secara positif. Penelitian yang dilakukan oleh (Veeramootoo et al., 2018) juga menunjukan bahwa satisfaction berpengaruh secara positif terhadap continuance intention. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Zhong et al., 2015) menunjukan bahwa satisfaction secara positif mempengaruhi continuance intention.

(11)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 34 Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H02: Satisfaction tidak memiliki berpengaruh terhadap Continuance Intention.

H12: Satisfaction memiliki pengaruh terhadap Continuance Intention.

2.3.3 Pengaruh Satisfaction terhadap Attitude

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Weng et al., 2017) menunjukan bahwa satisfaction secara positif mempengaruhi attitude.

Penelitian yang juga dilakukan oleh (Foroughi et al., 2019) membuktikan bahwa satisfaction mempengaruhi attitude.

Hal serupa juga ditemukan di penelitian (Ngah et al., 2021) yang menunjukan adanya hubungan positif dari satisfaction dan attitude pada jurnal penelitiannya.

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H03: Satisfaction tidak memiliki berpengaruh terhadap Attitude.

H13: Satisfaction memiliki pengaruh terhadap Attitude.

2.3.4 Pengaruh Perceived Usefulness terhadap Continuance Intention

Penelitian yang dilakukan oleh (Weng et al., 2017) menunjukan bahwa perceived usefulness mempengaruhi continuance intention secara positif. Penelitian menunjukan bahwa perceived usefulness merupakan salah faktor yang berdampak pada penggunaan dan penerimaan layanan jasa atau suatu produk.

Penelitian lain yang dilakukan oleh (Foroughi et al., 2019) juga menunjukan bahwa perceived usefulness mempengaruhi continuance intention secara positif. Penelitan yang dilakukan oleh (Chen et al., 2018)

(12)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 35 menyatakan bahwa perceived usefulness mempengaruhi continuance intention secara positif.

Penelitian terdahulu lainnya yang dilakukan oleh (Peng et al., 2019), juga menunjukan bahwa perceived usefulness secara positif mempengaruhi continuance intention. Hal ini dikarenakan perceived usefulness menggambarkan evaluasi dari pengguna terhadap sejauh mana produk atau layanan jasa dapat meningkatkan kinerja pengguna.

Hal serupa juga ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh (Joia & Altieri, 2018) yang menunjukan bahwa perceived usefulness mempengaruhi continuance intention secara positif. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh (Zhong et al., 2015) juga menunjukan bahwa perceived usefulness mempengaruhi continuance intention secara positif.

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H04: Perceived Usefulness tidak memiliki berpengaruh terhadap Continuance Intention.

H14: Perceived Usefulness memiliki pengaruh terhadap Continuance Intention.

2.3.5 Pengaruh Perceived Usefulness terhadap Attitude

Penelitian yang dilakukan oleh (Weng et al., 2017), menunjukan bahwa perceived usefulness mempengaruhi attitude secara positif.

Penelitian lain yang dilakukan oleh (Foroughi et al., 2019) juga menunjukan bahwa perceived usefulness mempengaruhi attitude secara positif. Hal serupa juga ditemukan pada penelitian (Peng et al., 2019) yang menunjukan bahwa perceived usefulness mempengaruhi attitude secara positif.

Penelitian yang dilakukan oleh (Liu & Li, 2011) juga menunjukan bahwa perceived usefulness mempengaruhi attitude secara positif.

(13)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 36

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H05: Perceived Usefulness tidak memiliki berpengaruh terhadap Attitude.

H15: Perceived Usefulness memiliki pengaruh terhadap Attitude.

2.3.6 Pengaruh Perceived Ease of Use terhadap Attitude

Penelitian yang dilakukan oleh (Weng et al., 2017) menunjukan bahwa perceived ease of use mempengaruhi attitude secara positif.

Penelitian lain yang dilakukan oleh (Foroughi et al., 2019) juga menunjukan bahwa perceived ease of use mempengaruhi attitude secara positif.

Perceived of use memegang peran yang signifikan terhadap attitude pengguna dalam menggunakan m-banking.

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Peng et al., 2019) juga menunjukan bahwa perceived ease of use mempengaruhi attitude secara positif. Hal yang sama juga ditunjukan oleh hasil penelitian dari (Liu & Li, 2011) yang menunjukan bahwa perceived ease of use mempengaruhi attitude secara positif.

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H06: Perceived Ease of Use tidak memiliki berpengaruh terhadap Attitude.

H16: Perceived Ease of Use memiliki pengaruh terhadap Attitude.

2.3.7 Pengaruh Subjective Norm terhadap Continuance Intention

Penelitian yang dilakukan oleh (Weng et al., 2017) menunjukan bahwa subjective norm berpengaruh secara positif terhadap continuance intention. Banyak pengguna yang akhirnya menggunakan MBT dikarenakan teman, kerabat, atau pun keluarga mereka yang menggunakan dan merekomendasikan MBT kepada mereka. Pada penelitian yang

(14)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 37 dilakukan oleh (Joia & Altieri, 2018) yang menunjukan bahwa subjective norm berpengaruh secara positif terhadap continuance intention.

Hal serupa juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan oleh (T.- P. Liang et al., 2013) yang menunjukan bahwa subjective norm mempengaruhi attitude secara positif. Pada penelitian yang juga dilakukan oleh (Zhong et al., 2015) menunjukan bahwa subjective norm mempengaruhi attitude secara positif.

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H07: Subjective Norms tidak memiliki berpengaruh terhadap Attitude.

H12: Subjective Norms memiliki pengaruh terhadap Attitude.

2.3.8 Pengaruh Subjective Norm terhadap Attitude

Penelitian yang dilakukan oleh (Weng et al., 2017) menunjukan bahwa subjective norm mempengaruhi attitude secara positif. Saat orang sekitar pengguna menggunakan atau merekomendasikan MBT, kebanyakan pengguna akan menggunakan MBT tersebut.

Penelitian lain yang dilakukan oleh (C. C. Liang, 2016) menunjukan bahwa subjective norm mempengaruhi attitude secara positif. Hal serupa juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan oleh (Qu et al., 2020) yang menunjukan bahwa subjective norm mempengaruhi attitude secara positif.

Penelitian yang dilakukan oleh (Xia et al., 2021) juga menunjukan hal yang sama, yaitu subjective norm mempengaruh attitude secara positif.

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H08: Subjective Norms tidak memiliki berpengaruh terhadap Attitude.

H18: Subjective Norms memiliki pengaruh terhadap Attitude.

(15)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 38 2.3.9 Pengaruh Perceived Ease of Use terhadap Perceived Usefulness

Penelitian yang dilakukan oleh (Weng et al., 2017) menunjukan bahwa perceived ease of use mempengaruhi perceived usefulness secara positif. Penelitian lain yang dilakukan oleh (Foroughi et al., 2019) juga menunjukan bahwa perceived ease of use mempengaruhi perceived usefulness secara positif.

Sama hal nya dengan penelitian yang dilakukan oleh (Peng et al., 2019) menunjukan bahwa perceived ease of use mempengaruhi perceived usefulness secara positif. Penelitian yang dilakukan oleh (Joia & Altieri, 2018) menunjukan bahwa perceived ease of use mempengaruhi perceived usefulness secara positif. Perceived ease of use dan perceives usefulness adalah dua persepsi yang dapat memastikan disposisi yang menguntungkan atau niat positif untuk menggunakan sistem informasi.

Hal serupa juga ditemukan di penelitian yang dilakukan oleh (Liu &

Li, 2011) yang menunjukan bahwa perceived ease of use mempengaruhi perceived usefulness secara positif. Penelitian yang dilakukan oleh (Rana et al., 2015) juga menunjukan bahwa perceived ease of use mempengaruhi perceived usefulness secara positif.

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H09: Perceived Ease of Use tidak memiliki berpengaruh terhadap Perceived Usefulness.

H19: Perceived Ease of Use memiliki pengaruh terhadap Perceived Usefulness.

2.3.10 Pengaruh Perceived Risk terhadap Attitude

Penelitian yang dilakukan oleh (Weng et al., 2017) menunjukan bahwa perceived risk memiliki pengaruh negative terhadap attitude. Hal serupa juga ditemukan di penelitian yang dilakukan oleh (Peng et al., 2019)

(16)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 39 juga menunjukan bahwa perceived risk memiliki pengaruh negative terhadap attitude.

Hal yang sama juga ditemukan dari penelitian yang dilakukan oleh (Zuelseptia & Engriani, 2018) yang menunjukan bahwa perceived risk memiliki pengaruh negative terhadap attitude.

Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H010: Perceived Risk tidak memiliki berpengaruh terhadap Attitude.

H110: Perceived Risk memiliki pengaruh terhadap Attitude.

2.3.11 Pengaruh Perceived Usefulness terhadap Satisfaction

Penelitian yang dilakukan oleh (Weng et al., 2017) menunjukan bahwa perceived usefulness berpengaruh positif terhadap satisfaction.

Seseorang yang menggunakan suatu IT yang berguna akan lebih mungkin untuk merasa puas dibandingkan dengan seseorang yang tidak menggunakannya.

Penelitian yang dilakukan oleh (Foroughi et al., 2019) juga menunjukan bahwa perceived usefulness berpengaruh secara positif terhadap satisfaction. Sama hal nya dengan penelitian yang dilakukan oleh (Peng et al., 2019) yang menunjukan bahwa perceived usefulness mempengaruhi satisfaction secara positif.

Hal serupa juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan oleh (Joia

& Altieri, 2018) yang menunjukan bahwa perceived usefulness berpengaruh secara positif terhadap satisfaction. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh (Zhong et al., 2015)juga menunjukan bahwa perceived usefulness berpengaruh secara positif terhadap satisfaction.

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

(17)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 40 H011: Perceived Usefulness tidak memiliki berpengaruh terhadap Satisfaction.

H111: Perceived Usefulness memiliki pengaruh terhadap Satisfaction.

2.3.12 Pengaruh Confirmation terhadap Satisfaction

Penelitian yang dilakukan oleh (Weng et al., 2017) menunjukan bahwa confirmation berpengaruh secara positif terhadap satisfaction.

Confirmation dan satisfaction memiliki hubungan positif dengan manfaat yang diharapkan oleh pengguna sistem informasi. Penelitian yang dilakukan oleh (Foroughi et al., 2019) juga menunjukan hal yang sama yaitu, confirmation mempengaruhi satisfaction secara positif.

Hal serupa juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan oleh (Peng et al., 2019) menunjukan bahwa confirmation mempengaruhi satisfaction secara positif. Sama halnya dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Veeramootoo et al., 2018) juga menunjukan bahwa confirmation mempengaruhi satisfaction secara positif.

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H012: Confirmation tidak memiliki berpengaruh terhadap Satisfaction.

H112: Confirmation memiliki pengaruh terhadap Satisfaction.

2.3.13 Pengaruh Confirmation terhadap Perceived Usefulness

Penelitian yang dilakukan oleh (Weng et al., 2017) menunjukan bahwa confirmation mempengaruhi perceived usefulness secara positif.

Penelitian yang dilakukan oleh (Foroughi et al., 2019) juga menunjukan bahwa confirmation mempengaruhi perceived usefulness secara positif.

Hal serupa juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan oleh (Peng et al., 2019) juga menunjukan bahwa confirmation berpengaruh secara positif terhadap perceived usefulness.

(18)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 41 Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H013: Confirmation tidak memiliki berpengaruh terhadap Perceived Usefulness.

H113: Confirmation memiliki pengaruh terhadap Perceived Usefulness.

2.4 Penelitian terdahulu

Berikut ini merupakan jurnal yang berasal dari penelitian terdahulu yang digunakan oleh penulis dalam mendukung pengembangan hipotesis.

Jurnal dibawah ini menyatakan bahwa adanya hubungan positif antara setiap variabel dari hipotesis yang digunakan oleh penulis.

No. Peneliti Judul Penelitian Temuan Inti

1 (Foroughi et al., 2019)

Understanding the

determinants of mobile banking continuance usage intention

Confirmation berpengaruh positif terhadap satisfaction

Confirmation berpengaruh positif terhadap perceived usefulness

Perceived usefulness berpengaruh positif terhadap satisfaction

Perceived usefulness berpengaruh positif terhadap continuance intention Perceived ease of use berpengaruh positif terhadap attitude

Perceived ease of use berpengaruh positif terhadap perceived usefulness Satisfaction berpengaruh positif terhadap continuance intention

Satisfaction berpengaruh positif terhadap attitude

Attitude berpengaruh positif terhadap continuance intention

(19)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 42

No. Peneliti Judul Penelitian Temuan Inti

2 (Chen et al., 2018) Central or peripheral?

Cognition elaboration cues’

effect on users’ continuance intention of mobile health applications in the developing markets

Perceived usefulness berpengaruh positif terhadap continuance intention

3 (Peng et al., 2019) Understanding bike sharing use over time by employing extended technology continuance theory

Confirmation berpengaruh positif terhadap perceived usefulness

Confirmation berpengaruh positif terhadap satisfaction

Perceived ease of use berpengaruh positif terhadap perceived usefulness Perceived risk berpengaruh negatif terhadap Attitude

Perceived usefulness berpengaruh positif terhadap satisfaction

Perceived usefulness berpengaruh positif terhadap continuance intention Perceived usefulness berpengaruh positif terhadap attitude

Perceived ease of use berpengaruh positif terhadap attitude

Satisfaction berpangaruh positif terhadap continuance intention

4 (Sthapit et al., 2020)

Determinants of the continuance intention of Airbnb users: consumption values, co-creation, information overload and satisfaction

Attitude berpengaruh positif terhadap continuance intention

(20)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 43

No. Peneliti Judul Penelitian Temuan Inti

5 (Joia & Altieri, 2018)

Antecedents of continued use intention of e-hailing apps from the passengers' perspective

Satisfaction berpengaruh positif terhadap continuance intention

Satisfaction berpengaruh positif terhadap continuance intention

Subjective norms berpengaruh positif terhadap continuance intention

Perceived usefulness berpengaruh psoitif terhadap continuance intention Perceived usefulness berpengaruh positif terhadap satisfaction

6 (Veeramootoo et al., 2018)

What determines success of an e-government service?

Validation of an integrative model of e-filing continuance usage

Perceived ease of use berpengaruh positif terhadap perceived usefulness

Satisfaction berpengaruh positif terhadap continuance intention

7 (T.-P. Liang et al., 2013)

Contextual factors and continuance intention of mobile services

Confirmation berpengaruh positif terhadap satisfaction

Attitude berpengaruh positif terhadap continuance intention

8 (Zhong et al., 2015)

Understanding Antecedents of Continuance Intention in Mobile Travel Booking Service

Subjective norms berpengaruh positif terhadap continuance intention

Satisfaction berpangaruh positif terhadap continuance intention

Perceived usefulness berpengaruh positif terhadap continuance intention Subjective norms berpengaruh positif terhadap continuance intention

(21)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 44

No. Peneliti Judul Penelitian Temuan Inti

9 (Liu & Li, 2011) Exploring the impact of use context on mobile hedonic services adoption: An empirical study on mobile gaming in China

Perceived usefulness berpengaruh positif terhadap satisfaction

Perceived ease of use berpengaruh positif terhadap perceived usefulness

Perceived usefulness berpengaruh positif terhadap attitude

Perceived ease of use berpengaruh positif terhadap attitude

10 (Weng et al., 2017)

Mobile taxi booking application service’s continuance usage intention by users

Attitude berpengaruh positif terhadap continuance intention

Satisfaction berpangaruh positif terhadap continuance intention

Satisfaction berpengaruh positif terhadap attitude

Perceived usefulness berpengaruh positif terhadap continuance intention Perceived usefulness berpengaruh positif terhadap attitude

Perceived ease of use berpengaruh positif terhadap attitude

Subjective norms berpengaruh positif terhadap continuance intention

Subjective norms berpengaruh positif terhadap attitude

Perceived ease of use berpengaruh positif terhadap perceived usefulness Perceived risk berpengaruh negatif terhadap Attitude

(22)

Pengguna MyBlueBird, Gilbert Benardy, Universitas Multimedia Nusantara 45

No. Peneliti Judul Penelitian Temuan Inti

Perceived usefulness berpengaruh positif terhadap satisfaction

Confirmation berpengaruh positif terhadap satisfaction

Confirmation berpengaruh positif terhadap perceived usefulness

11 (Ngah et al., 2021) Fostering students’ attitude towards Online learning: The mediation effect of satisfaction and perceived performance.

Satisfaction berpengaruh positif terhadap attitude

12 (Zuelseptia &

Engriani, 2018)

The Influence of Perceived Risk and Perceived Ease of Use on Consumer’s Attitude and Online Purchase Intention

Perceived risk berpengaruh negatif terhadap Attitude

13 (Xia et al., 2021) Impact of the COVID-19 pandemic on intention to use traditional Chinese medicine:

A cross-sectional study based on the theory of planned behavior

Subjective norms berpengaruh positif terhadap attitude

14 (Qu et al., 2020) The influence of WeChat use on driving behavior in China: A study based on the theory of planned behavior

Subjective norms berpengaruh positif terhadap attitude

15 (C. C. Liang, 2016)

Subjective Norms and Customer Adoption of Mobile Banking: Taiwan and Vietnam

Subjective norms berpengaruh positif terhadap attitude

16 (Rana et al., 2015) Investigating success of an e- government initiative:

Validation of an integrated IS success model

Perceived ease of use berpengaruh positif terhadap perceived usefulness

Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu

Gambar

Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu

Referensi

Dokumen terkait

yang mudah didapat dalam masakan kuliner juga tersedia dalam aplikasi dan panduan sekitar cara pengolahan bahan-bahan yang akan dimasak tersebut. Resep Masakan Khas Kalimantan

Dengan mengucap puji dan syukur kehadirat Allah SWT,penulis akhirnya dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Peran Kantor Pertanahan Kabupaten Malang Dalam Mengawasi

informasi publik ini dibatasi dengan hak individual dan privacy seseorang terkait dengan data kesehatan yang bersifat rahasia (rahasia medis). Jadi dalam hal ini dapat dianalisis

Asosiasi Merek di mana merupakan akibat dari Kesadaran Merek secara positif berhubungan dengan Ekuitas Merek karena mereka dapat menjadi isyarat dari kualitas dan

Terkait dengan teori agency, hubungan manajemen laba dengan ukuran perusahaan dijelaskan bahwa agen (manajemen) perusahaan kecil cenderung akan menaikkan laba di dalam

Pengaruh Audit Tenure, Rotasi Audit, Audit Fee terhadap kualitas audit dengan Komite audit sebagai variabel moderasi (Studi Pada Perusahaan Sektor Keuangan yang Terdaftar

Metode yang digunakan pada teknik steganografi sangat beragam, tetapi secara keseluruhan pada teknik ini menggunakan redundant bits sebagai wadah atau tempat

a) Harus dipisahkan fungsi-fungsi operasi dan penyimpanan dari fungsi akuntansi. b) Suatu fungsi tidak boleh diberi tanggung jawab penuh untuk melaksanakan