BADAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI RIAU
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas RahmatNya telah dapat disusun Buku Statistik Ketahanan Pangan Provinsi Riau Tahun 2015, dimana buku ini berisikan data-data tentang perkembangan situasi pangan di Provinsi Riau pada tahun 2014.
Disadari sepenuhnya bahwa buku ini belumlah sempurna dan masih banyak kekurangannya, untuk itu sumbang saran dari semua pihak sangatlah diharapkan demi kesempuranaan di masa akan datang, semoga buku ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak yang memerlukan.
Demikianlah disampaikan, akhirnya ucapan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dan berperan aktif dalam penyusunan buku Statistik ini.
PEKANBARU, DESEMBER 2015 KEPALA BADAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI RIAU
Ir. Darmansyah
NIP. 19590207 198503 1 009
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR __________________________________________________________ i DAFTAR ISI ________________________________________________________________ ii I. PENDAHULUAN _________________________________________________________ 3 II. KEADAAN UMUM PROVINSI RIAU __________________________________________ 5 A. Keadaan Umum _______________________________________________________ 5 B. Penduduk ____________________________________________________________ 7 Tabel 1. Penduduk Provinsi Riau menurut Kabupaten/Kota _______________________ 8 C. Iklim _________________________________________________________________ 9 III. KONDISI KETAHANAN PANGAN __________________________________________ 10 Tabel 2. Produksi Pangan Riau Tahun 2010- 2014 (Ton) _________________________ 10 Tabel 3. Ketersediaan Pangan Riau Tahun 2010-2014 __________________________ 12 Tabel 5. Pasokan Pangan dari luar Propinsi Riau Tahun 2010-2014 (Ton)___________ 16 Tabel 6. Perkembangan Harga Rata-Rata Komoditi Pangan Tahun 2010-2014 ________ 18 Tabel 7. Konsumsi Pangan Riil Penduduk Riau Tahun 2010-2014 ________________ 20 Tabel 8. Kebutuhan Konsumsi Pangan Riau Th.2010-2014 _______________________ 22 Tabel 9. Perkembangan Konsumsi Pangan Provinsi Riau Tahun 2010-2014 _________ 24 Tabel 10. Konsumsi Energi per kelompok bahan pangan 2010-2014 _______________ 25 Tabel 11. Konsumsi Protein per kelompok bahan pangan 2010-2014 ______________ 27 ISTILAH __________________________________________________________________ 29
3
I. PENDAHULUAN
Berdasarkan Undang-Undang No 18 Tahun 2012 tentang pangan, Ketahanan Pangan merupakan kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi,merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Ketahanan pangan merupakan hal yang penting dan strategis, karena berdasarkan pengalaman di banyak negara menunjukkan bahwa tidak ada satu negarapun yang dapat melaksanakan pembangunan secara mantap sebelum mampu mewujudkan ketahanan pangan terlebih dahulu (Penjelasan PP No 68 Tahun 2002).
Perwujudan Ketahanan Pangan yang mantap dan berkesinambungan dibangun berdasarkan tiga pilar ketahanan pangan, yaitu: (1) ketersediaan pangan yang cukup dan merata; (2) distribusi pangan yang efektif dan efisien; serta (3) konsumsi pangan yang beragam dan bergizi seimbang.
Ketahanan Pangan merupakan masalah pembangunan berkelanjutan yang kompleks, berhubungan tidak hanya dengan pangan dan pertanian tetapi juga berhubungan dengan kesehatan, pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, lingkungan dan juga perdagangan. Sehingga dalam pelaksanaannya, pembangunan ketahanan pangan yang berkesinambungan terkait dengan semua sektor pembangunan nasional.
Pencapain pembangunan ketahanan pangan sebagai salah satu bagian dari pembangunan nasional tidak dapat terlepas dari ketersediaan data yang berkesinambungan dalam berbagai tahapan pembangunan ketahanan pangan, mulai dari perencanaan, pemantauan hingga evaluasi.
Tersedianya statistik tentang ketahanan pangan merupakan hal yang sangat mendasar untuk digunakan sebagai tolok ukur dalam mengestimasi dan menilai keberhasilan pembangunan ketahanan pangan serta memprediksi situasi ketahanan pangan sebagai isyarat dini untuk upaya perbaikan.
Sehingga statistik ketahanan pangan sangat diperlukan dalam mencapai tujuan dan sasaran pembangunan ketahanan pangan.
Indikator-indikator statistik ketahanan pangan mencakup data-data sektor dan non-sektoral yang terkait dengan ketahanan pangan yang dihimpun sebagai statistik ketahanan pangan, mencakup: (1) Aspek Ketersediaan dan Kerawanan Pangan, meliputi: Ketersediaan Energi dan Protein, Perkembangan Produksi Beberapa Komoditas Pangan Penting, Pertumbuhan Ketersediaan Komoditas Pangan Penting, dan Proyeksi Kebutuhan Pangan Penting ; (2) Aspek Distribusi Pangan, meliputi:
Perubahan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), Pemasukan dan Pengeluaran Beras, perkembangan Harga Gabag Kering Panen di Tingkat Petani, dan Perkembangan Harga-Harga Komoditas Penting; (3) Aspek Konsumsi dan Keamanan Pangan, meliputi: Tingkat Konsumsi Pangan Nasional berdasarkan Pola Pangan Harapan, Perkembangan Rata-rata Konsumsi Energi dan Protein, Rata-rata Konsumsi Kelompok Pangan Rumah Tangga, Konsumsi Penduduk Indonesia Terhadap Berbagai Kelompok Makanan, Sasaran Pola Pangan Harapan Tahun 2010 sampai 2015 , Perkembangan Kualitas Konsumsi Pangan Penduduk Indonesia Tahun 2007 – 2011, Perkembangan Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan, Data Kejadian Keracunan Pangan, dan Hasil Uji Laboratorium Keamanan Pangan Beberapa Komoditas dari 12 Kabupaten/Kota ; (4) Aspek Kegiatan Strategis Ketahanan Pangan, meliputi: Program Aksi Desa Mandiri Pangan, Pengembangan Lumbung, Program Kegiatan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP), Penguatan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (Penguatan-LDPM), Peta Kerawanan dan Kerentanan Pangan / Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA; serta (5) Aspek Umum yang terkait dengan ketahanan pangan lainnya, meliputi:
perkembangan jumlah penduduk miskin, serta bentuk kelembagaan Ketahanan Pangan.
5
II. KEADAAN UMUM PROVINSI RIAU A. Keadaan Umum
Provinsi Riau terdiri dari daerah daratan dan perairan, dengan luas lebih kurang 8.915.015,09 Ha (89.150 Km2), Keberadaannya membentang dari lereng Bukit Barisan sampai dengan Selat Malaka terletak antara 01° 05’
00” Lintang Selatan - 02° 25’ 00” Lintang Utara atau antara 100° 00’ 00” - 105° 05’ 00” Bujur Timur. Disamping itu sesuai Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 terdapat wilayah lautan sejauh 12 mil dari garis pantai.
Di daratan terdapat 15 sungai, diantaranya ada 4 sungai besar yang mempunyai arti penting sebagai sarana perhubungan seperti Sungai Siak (300 Km) dengan kedalaman 8 -12 m, Sungai Rokan (400 Km) dengan kedalaman 6-8 m, Sungai Kampar (400 Km) dengan kedalaman lebih kurang 6 m dan Sungai Indragiri (500 Km) dengan kedalaman 6-8 m. Ke 4 sungai yang membelah dari pegunungan daratan tinggi Bukit Barisan Bermuara di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan itu dipengaruhi pasang surut laut.
Adapun batas-batas Provinsi Riau bila dilihat posisinya dengan negara tetangga dan provinsi lainnya adalah sebagai berikut :
a. Sebelah Utara : Selat Malaka dan Provinsi Sumatera Utara b. Sebelah Selatan : Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Barat c. Sebelah Timur : Provinsi Kepulauan Riau dan Selat Malaka d. Sebelah Barat : Provinsi Sumatera Barat dan Sumatera Utara.
Pada Tahun 2009 Provinsi Riau terdiri dari 10 (sepuluh) Kabupaten dan 2 (dua) Kota, dimana pada tahun 2009 berdasarkan UU 12 tahun 2009 dibentuk Kabupaten Kepulauan Meranti, luas wilayah masing-masing Kabupaten/Kota seperti terlihat pada tabel berikut ini :
Nama-nama Ibukota dan Luas Wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Riau
NO KABUPATEN/KOTA IBUKOTA LUAS (Ha) LUAS AREA
(%)
1 2 3 4 5
1. Kuantan Singingi Taluk Kuantan 520.216,13 5,84
2. Indragiri Hulu Rengat 767,626,66 8,61
3.
Indragiri Hilir Tembilahan 1.379.837,12 15,48
4.
Pelalawan Pangkalan Kerinci 1.240.413,95 13,9
5. Siak Siak Sri Indrapura 823.357,00 9,24
6.
Kampar Bangkinang 1.092.819,71 12,26
7. Rokan Hulu Pasir Pangaraiyan 722.977,68 8,11 8.
Bengkalis Bengkalis 1.200.715,21 13,47
9. Rokan Hilir Bagan Siapi-api 896.142,93 10,05 10.
Pekanbaru Pekanbaru 63.300,86 0,71
11. Dumai Dumai 203.900,00 2,29
12.
Kepulauan Meranti Selat Panjang 3.707,84 0,04
Provinsi Riau 8.915.015,09 100,00
7
Secara makro posisi tersebut merupakan posisi strategis karena berbatasan langsung dengan jalur pelayaran internasional di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan serta berhadapan dengan negara-negara di Asia tenggara yaitu Malaysia – Singapura – Thailand – Kamboja dan Vietnam.
Singapura sebagai negara pusat perdagangan dunia di belahan Timur merupakan negara yang secara langsung berbatasan dengan wilayah Provinsi Riau.
Wilayah daratan Provinsi Riau terdapat 15 sungai, 4 (empat) diantaranya mempunyai arti penting sebagai prasarana perhubungan dan tempat domisili serta sumber penghasilan sebahagian penduduk. Sungai – sungai tersebut adalah Sungai Siak (300 km) dengan kedalaman 8 – 12 meter, Sungai Rokan (400 km) dengan kedalaman 6 – 8 meter, Sungai Kampar (400 km) dengan kedalaman lebih kurang 6 meter dan Sungai Indragiri (500 km) dengan kedalaman 6 – 8 meter. Ke 4 sungai yang membelah dari pegunungan dataran tinggi Bukit Barisan bermuara di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan itu dipengaruhi pasang surut air laut.
Provinsi Riau memiliki keunggulan komparatif selain posisi strategis berbatasan dengan kawasan perdagangan dan pelayaran internasional, juga memiliki cadangan sumberdaya alam baik yang bersifat non- renewable resources berupa kandungan minyak dan bahan tambang galian di perairan dan daratan serta renewable resources berupa potensi sumberdaya hutan dan pertanian.
B. Penduduk
Penduduk Riau berdasarkan hasil olahan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS), Sensus Penduduk dan Proyeksi Susenas tahun 2007 sebesar 5.070.952 jiwa. Kabupaten/Kota yang memiliki jumlah penduduk terbanyak adalah Kota Pekanbaru dengan jumlah penduduk 779.899 jiwa, sedangkan Kabupaten/Kota dengan jumlah penduduk terkecil adalah Kota Dumai sebesar 231.121 jiwa. Berdasarkan Sensus Penduduk 2010
diperoleh angka jumlah penduduk Riau yaitu sebanyak 5.543.031 orang.
Rincian jumlah penduduk per Kabupaten/Kota se Provinsi Riau dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Penduduk Provinsi Riau menurut Kabupaten/Kota
Kabupaten/Kota 2009 2010 2011 2012 2013
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
01. Kuantan Singingi 285.570
292.116 302.674 310.060 317.265 02. Indragiri Hulu 352.471
363.442 376.578 388.916 401.201 03. Indragiri Hilir 654.384
661.779 685.698 689.938
697.814 04. Pelalawan 284.850
301.829 312.738 332.075 352.207 05. Siak 362.979
376.742 390.359 405.850 421.477 06. Kampar 664.579
688.204 713.078 739.655 766.351 07. Rokan Hulu 452.251
474.843 492.006 517.577
543.857 08. Bengkalis 486.046
498.336 516.348 530.191 543.786 09. Rokan Hilir 533.240
553.216 573.211 595.695 618.355 10. Kepulauan Meranti 175.546
176.290 182.662 183.135 183.912 71. Pekanbaru 867.239
897.767 930.215 964.558
999.031 73. D u m a i 246.203
253.803 262.976 271.522 280.027 Jumlah/Total 5.365.356
5.538.367 5.738.543 5.929.172 6.125.283
Sumber/source. 1 : Estimasi mundur hasil Sensus Penduduk 2010 2 : Sensus Penduduk 2010/ Population Census 2010 3 : Proyeksi berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010
9
C. Iklim
Daerah Riau beriklim tropis basah dengan rata-rata curah hujan berkisar antara 2000-3000 mm per tahun yang dipengaruhi oleh musim kemarau dan musim hujan.
Daerah yang paling sering ditimpa hujan setiap tahun adalah Rokan Hulu yaitu 217 hari, Pekanbaru 207 hari, Kabupaten Indragiri Hulu dan Kota Dumai 190 dan 169 hari, dan yang terakhir adalah Kabupaten Rokan Hilir dengan jumlah hari hujan 63 hari.
Jumlah Curah Hujan tertinggi pada tahun 2010 terjadi di Kota Pekanbaru dengan curah hujan sebesar 3 068,3 mm, disusul Kota Dumai sebesar 2 794,5 mm, sedangkan curah hujan terendah terjadi di Kabupaten Rokan Hilir sebesar 1 944,0 mm.
Selanjutnya menurut catatan Stasiun Meteorologi Simpang Tiga, suhu udara rata-rata di Kota Pekanbaru tahun 2010 menunjukkan 27,2 celcius dengan suhu maksimum 34,6 celcius dan suhu minimum 22,0 celcius.
III. KONDISI KETAHANAN PANGAN
Tabel 2. Produksi Pangan Riau Tahun 2010- 2014 (Ton)
2010 2011 2012 2013 2014
1 Beras 363.314 338.618 323.878 276.138 245.625 2 Jagung 41.862 33.197 31.433 28.052 28.651 3 Kedelai 5.830 7.100 4.182 2.211 2.332 4 Kc. Tanah 2.007 1.692 1.622 1.243 1.134 5 Kc. Hijau 1.228 995 920 619 645 6 Ubi Jalar 9.967 9.912 9.424 8.462 8.038 7 Ubi Kayu 75.904 79.480 88.577 103.070 117.287 8 Sagu 222.097 249.497 249.497 250.000 216.083 9 Buah-buahan 108.199 210.360 188.874 189.931 224.749 10 Sayuran 81.395 88.712 83.509 101.247 171.189 11 Daging 37.983 55.878 54.197 54.833 59.488 12 Telur 6.176 4.161 5.840 5.541 4.757 13 Ikan 132.990 149.939 181.169 185.073 211.342 Jumlah 1.086.444 1.212.012 1.223.122 1.206.420 1.291.320
No Komoditi Pangan Ton
11
- 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 350.000 400.000
2010 2011 2012 2013 2014
Grafik Produksi Pangan Provinsi Riau 2010 - 2014
Beras Jagung Kedelai Kc. Tanah Kc. Hijau Ubi Jalar Ubi Kayu Sagu
Buah-buahan Sayuran Daging Telur Ikan
Tabel 3. Ketersediaan Pangan Riau Tahun 2010-2014
No Komoditi Pangan Ton
2010 2011 2012 2013 2014
1 Beras
846.877
834.980
827.818
810.137
824.463 2 Jagung
50.399
41.892
40.201
36.983
37.740 3 Kedelai
78.676
72.489
68.840
74.166
75.018 4 Kc. Tanah
15.243
14.928
15.532
15.539
15.788 5 Kc. Hijau
12.162
11.929
12.023
11.818
12.016 6 Ubi Jalar
16.686
16.631
11.564
12.019
13.012 7 Ubi Kayu
80.027
83.603
92.701
107.406
121.624 8 Sagu
222.097
249.497
249.497
250.000
216.083 9 Buah-buahan
244.761
370.963
361.295
364.076
400.618 10 Sayuran
356.544
385.777
387.770
411.594
482.821 11 Daging
48.364
66.259
66.244
66.449
72.487 12 Telur
52.110
54.280
56.919
59.212
59.388 13 Ikan
194.263
211.212
245.214
251.891
278.437
Jumlah
1.129.256
1.184.898
1.212.499
1.264.870
1.318.175
13
- 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000 700.000 800.000 900.000
2010 2011 2012 2013 2014
Grafik Ketersediaan Pangan Propinsi Riau 2010-2014
Beras Jagung Kedelai Kc. Tanah Kc. Hijau Ubi Jalar Ubi Kayu Sagu
Buah-buahan Sayuran Daging Telur Ikan
Tabel 4. Ketersediaan Energi dan Protein Provinsi Riau Tahun 2010- 2014
Uraian 2010 2011 2012 2013 2014
Ketersediaan Energi Pangan
(Kkalori/kap/hr) 2.965 3.002 3.212 3.365 3.283 Ketersediaan Energi Pangan
Nabati (Kkalori/kap/hr) 2.786 2.808 3.018 3.171 3.121 Ketersediaan Energi Pangan
Hewani (Kkalori/kap/hr) 179 179 194 191 195
Ketersediaan Protein
(gram/kap/hr) 76,61 73,31 74,26 71,53 70,07 Ketersediaan Protein
Nabati (gram/kap/hr) 58,38 53,55 53,05 52,15 50,05 Ketersediaan Protein
Hewani (gram/kap/hr) 18,23 19,76 21.21 19,39 20,06
15
- 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500
2010 2011 2012 2013 2014
2.965 3.002
3.212
3.365 3.283
76,61 73,31 74,26 71,53 70,07
Grafik Ketersedisan Energi dan Protein 2010-2014
Ketersediaan Energi Pangan (Kkalori/kap/hr)
Ketersediaan Protein (gram/kap/hr)
Tabel 5. Pasokan Pangan dari luar Propinsi Riau Tahun 2010-2014 (Ton)
No Komoditi Pangan
Pasokan Pangan
2010 2011 2012 2013 2014
1 Beras
483.563
496.362
503.940
533.999
578.838 2 Jagung
8.537
8.695
8.768
8.931
9.089 3 Kedelai
72.846
65.389
64.658
71.955
72.686 4 Kc. Tanah
13.236
13.236
13.910
14.296
14.654 5 Kc. Hijau
10.934
10.934
11.103
11.199
11.371 6 Ubi Jalar
6.719
6.719
2.140
3.557
4.974 7 Ubi Kayu
4.123
4.123
4.124
4.336
4.337 8 Sagu
-
-
-
-
9 Buah-buahan
136.562
160.603
172.421
174.145
175.869 10 Sayuran
275.149
297.065
304.261
310.347
311.632 11 Daging
10.381
10.381
12.048
11.616
12.999 12 Telur
45.934
50.119
51.079
53.671
54.631 13 Ikan
61.273
61.273
64.045
66.818
67.095 Jumlah
1.129.256
1.184.898
1.212.499
1.264.870
1.318.175
17
- 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000
2010 2011 2012 2013 2014
Grafik Pasokan Pangan 2010-2014
Beras Jagung Kedelai Kc. Tanah Kc. Hijau Ubi Jalar Ubi Kayu Sagu
Buah-buahan Sayuran Daging Telur Ikan
Tabel 6. Perkembangan Harga Rata-Rata Komoditi Pangan Tahun 2010-2014
KOMODITI
TAHUN / Rp
2010 2011 2012 2013 2014
Beras Premium 8.119 11.204 10.950 10.923 11.999
Beras Medium 7.686 10.328 9.967 10.038 10.552
Beras Termurah 6.178 8.283 8.017 8.013 8.796
Jagung 6.667 5.917 6.167 6.037 6.211
Kedelai 8.167 7.667 6.333 10.188 10.354
Cabe Merah Keriting 30.947 25.792 39.967 39.974 35.814
Bawang Merah 15.392 16.313 30.900 30.938 21.100
Minyak Goreng Curah 9.088 10.281 8.598 10.683 12.311
Gula Pasir Lokal 10.770 11.144 12.542 12.548 12.302
Tepung Terigu Segitiga Biru 7.494 7.479 8.758 8.772 8.429
Daging Sapi 61.210 68.583 93.175 98.111 107.544
Daging Ayam Ras 20.013 23.969 24.533 24.532 24.663
Telur Ayam Ras 930 993 1.150 1.145 1.221
19
- 20.000 40.000 60.000 80.000 100.000 120.000
Grafik Perkembangan Harga Pangan 2010-2014
2010
2011
2012
2013
2014
Tabel 7. Konsumsi Pangan Riil Penduduk Riau Tahun 2010-2014 Kg/Kap/Tahun
Kelompk Bahan Pangan Kilogram/Kapita/Tahun
2010 2011 2012 2013 2014
I. Padi-padian 121,5 121,8 122,7 123,5 122,7
a. Beras 103,3 103,5 104,3 105,0 104,7
b. Jagung 8,5 8,5 8,6 8,7 8,1
c. Terigu 9,7 9,7 9,8 9,9 9,9
II. Umbi-umbian 23,0 17,3 17,3 17,4 17,3
a. Singkong 18,6 14,0 14,1 14,1 14,1
b. Ubi Jalar 1,8 1,4 1,4 1,4 1,4
c. Kentang 1,4 1,0 1,0 1,1 1,0
d. Sagu 1,2 0,9 0,9 0,9 0,9
III. Pangan Hewani 55,5 55,9 43,7 44,1 38,4
a. Daging 11,1 11,2 8,8 8,8 6,1
b. Susu 0,9 0,9 0,7 0,8 6,3
c. Telur 9,3 9,4 7,3 7,4 7,8
d. Ikan 34,1 34,4 26,9 27,1 18,2
IV. Minyak dan Lemak 10,6 10,6 40,8 41,1 47,1
a. M. Kelapa 5,8 5,8 22,4 22,6 24,5
b. L. Hewan 4,8 4,8 18,4 18,5 22,6
V. Buah/Biji Berminyak 6,2 6,1 6,2 6,2 8,4
a. Kelapa 4,7 4,6 4,7 4,7 6,4
b. Kemiri 1,5 1,5 1,5 1,5 2,0
VI. Kacang-kacangan 7,7 7,6 7,7 7,7 9,6
a. Kedelai 3,9 3,8 3,9 3,9 4,8
b. K. Tanah 1,6 1,6 1,6 1,6 2,0
c. K. Hijau 2,2 2,2 2,2 2,2 2,7
VII. Gula 14,2 14,3 10,8 11,0 12,5
a. G. Pasir 9,5 9,6 7,3 7,3 8,1
b. G. Kelapa 4,7 4,7 3,6 3,6 4,5
VIII. Sayur dan Buah 76,3 77,6 79,9 80,2 73,1
a. Sayur 46,2 47,0 48,4 48,7 39,3
b. Buah 30,0 30,6 31,5 31,5 33,8
21
0,0 20,0 40,0 60,0 80,0 100,0 120,0 140,0
2010 2011 2012 2013 2014
Grafik Konsumsi Pangan Provinsi Riau 2010-2014 (Kg/Kap/Th)
I. Padi-padian II. Umbi-umbian III. Pangan Hewani IV. Minyak dan Lemak V. Bh/Biji Berminyak VI. Kacang-kacangan VII. Gula
VIII. Sayur dan Buah
Tabel 8. Kebutuhan Konsumsi Pangan Riau Th.2010-2014
No Komoditi Pangan Tahun
2010 2011 2012 2013 2014
1 Beras
576.475
598.243
618.166
633.465
652.876 2 Jagung
49.887
51.647
48.026
48.269
53.220 3 Kedelai
53.213
55.090
23.717
23.529
24.135 4 Kc. Tanah
6.097
6.312
11.858
9.653
9.901 5 Kc. Hijau
6.097
6.312
13.637
13.273
13.614 6 Ubi Jalar
16.629
17.215
8.894
8.446
8.446 7 Ubi Kayu
74.277
76.896
84.194
85.065
85.065
8 Sagu
1.663
1.625
5.929
5.430
5.430 9 Buah-buahan
82.591
80.339
185.759
190.040
190.040 10 Sayuran
144.673
149.202
285.420
293.807
293.807 11 Daging
46.007
47.630
53.363
53.090
54.458 12 Telur
48.779
50.499
44.469
44.644
45.175 13 Ikan
148.553
148.628
160.088
163.494
166.468 Jumlah
1.254.942
1.289.639
1.543.520
1.572.205
1.602.635
23
- 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000 700.000
Grafik Kebutuhan Konsumsi Pangan 2010-2014
2010
2011
2012
2014
Tabel 9. Perkembangan Konsumsi Pangan Provinsi Riau Tahun 2010- 2014
Tahun
Kelompok Pangan
Jumlah Padi-
Padian
Umbi- umbian
Pangan Hewani
Kacang- kacangan
Sayur dan Buah
Buah/Biji Berminyak
Minyak dan Lemak
Gula
Lainnya 2010
Kg/Kap/Th 123 19 45 13 48 5 11 15 0 279
Gr/Kap/Hr 337 53 123 35 132 15 30 40 0 764
Energi
Kkal/Kap/Hr 1.201 98 172 75 66 60 254 147 0 2.073
2011
Kg/Kap/Th 122 17 44 8 59 6 41 11 0 308
Gr/Kap/Hr 334 47 121 22 162 16 112 30 0 844
Energi
Kkal/Kap/Hr 1.201 73 173 75 68 60 253 147 0 2.050
2012
Kg/Kap/Th 123 17 44 8 80 6 41 11 0 329
Gr/Kap/Hr 336 47 120 21 219 17 112 30 0 902
Energi
Kkal/Kap/Hr 1.209 73 174 75 70 60 255 148 0 2.064
2013
Kg/Kap/Th 124 17 44 76 71 61 257 149 0 799
Gr/Kap/Hr 338 48 121 208 195 167 704 408 0 2.189
Energi
Kkal/Kap/Hr 1.217 73 175 75 70 60 255 148 0 2.073
2014
Kg/Kap/Th 123 17 38 10 73 8 47 13 0 329
Gr/Kap/Hr 336 47 105 26 200 23 129 34 0 902
Energi
Kkal/Kap/Hr 1.161 70 167 74 75 96 231 99 0 1.973
25
Tabel 10. Konsumsi Energi per kelompok bahan pangan 2010-2014
Kelompk Bahan Pangan Kkal/Kap/Hari
2010 2011 2012 2013 2014
I. Padi-padian 1201 1201 1209,0 1217 1161,2
a. Beras 1020,9 1020,9 1027,7 1034,5 1028,6
b. Jagung 84,1 84,1 84,6 85,2 74,2
c. Terigu 96,1 96,1 96,7 97,4 58,3
II. Umbi-umbian 98 73 73,0 73 69,6
a. Singkong 53,7 40,0 40,0 40,0 26,4
b. Ubi Jalar 20,1 15,0 15,0 15,0 23,0
c. Kentang 11,8 8,8 8,8 8,8 11,1
d. Sagu 11,8 8,8 8,8 8,8 9,1
III. Pangan Hewani 172 173 174,0 175 167,5
a. Daging 21,7 21,8 21,9 22,1 32,6
b. Susu 6,9 6,9 7,0 7,0 4,6
c. Telur 56,4 56,7 57,1 57,4 54,1
d. Ikan 87,0 87,5 88,0 88,6 76,2
IV. Minyak dan Lemak 254 253 255,0 257 230,6
a. M. Kelapa 223,0 222,1 223,9 225,6 116,0
b. L. Hewan 31,0 30,9 31,1 31,4 114,6
V. Bh/Biji Berminyak 60 60 60,0 61 95,6
a. Kelapa 45,0 45,0 45,0 45,8 25,5
b. Kemiri 15,0 15,0 15,0 15,3 70,1
VI. Kacang-kacangan 75 75 75,0 76 73,8
a. Kedelai 38,0 38,0 38,0 38,5 28,1
b. K. Tanah 16,0 16,0 16,0 16,2 18,1
c. K. Hijau 21,0 21,0 21,0 21,3 27,6
VII. Gula 147 147 148,0 149 99,4
a. G. Pasir 112,3 112,3 113,1 113,8 50,1
b. G. Kelapa 34,7 34,7 34,9 35,2 49,2
VIII. Sayur dan Buah 67 68 70,0 71 75,4
a. Sayur 38,5 39,0 40,2 40,8 36,8
b. Buah 28,5 29,0 29,8 30,2 38,5
Total Energi 2074,0 2050 2064 2079 1973,0
Skor PPH 79 78,5 79,5 80.1 79,5
0 200 400 600 800 1000 1200 1400
Grafik Konsumsi Energi Kelompok Pangan 2010-2014 Kkal/Kap/Hr
2010
2011
2012
2013
2014
27
Tabel 11. Konsumsi Protein per kelompok bahan pangan 2010-2014
Kelompk Bahan Pangan Gram Protein/Kap/Hari
2010 2011 2012 2013 2014
I. Padi-padian 24,0 25,0 23,0 23,5 23,3
a. Beras 19,8 20,7 19,0 19,4 19,3
b. Jagung 2,1 2,2 2,0 2,0 2,0
c. Terigu 2,1 2,2 2,0 2,0 2,0
II. Umbi-umbian 0 0 3,0 3,1 3,0
a. Singkong 0,0 0,0 1,0 1,0 1,0
b. Ubi Jalar 0,0 0,0 1,0 1,0 1,0
c. Kentang 0,0 0,0 1,0 1,0 1,0
d. Sagu 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
III. Pangan Hewani 18,0 21,0 20,0 19,7 14,0
a. Daging 0,9 1,1 1,0 1,0 1,0
b. Susu 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
c. Telur 1,8 2,1 2,0 2,0 2,0
d. Ikan 15,3 17,9 17,0 16,7 11,0
IV. Minyak dan Lemak 1,0 1,0 1,0 1,3 7,0
a. M. Kelapa 1,0 1,0 1,0 1,3 1,0
b. L. Hewan 0,0 0,0 0,0 0,0 6,0
V. Bh/Biji Berminyak 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
a. Kelapa 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
b. Kemiri 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
VI. Kacang-kacangan 6,0 4,0 4,0 4,1 3,0
a. Kedelai 3,0 2,0 2,0 2,1 1,0
b. K. Tanah 1,5 1,0 1,0 1,0 1,0
c. K. Hijau 1,5 1,0 1,0 1,0 1,0
VII. Gula 0 0 0,0 0,0 0,0
a. G. Pasir 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
b. G. Kelapa 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
VIII. Sayur dan Buah 2,0 0 0,0 0,0 1,0
a. Sayur 0,0 0,0 0,0 0,0 1,0
b. Buah 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Total Protein 52 52 52 52,7 52,0
- 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0
Grafik Konsumsi Protein Per Kelompok Pangan Tahun 2010-2015 Gr/Kap/Hr
2010 2011 2012 2013 2014
29
ISTILAH
1. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak, diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan atau pembuatan makanan dan minuman.
2. Ketahanan pangan (UU NO.7 Tahun 1996) adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.
3. Ketahanan Pangan (UU NO.18 Tahun 2012) adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.
4. Mandiri pangan diartikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan yang dapat dicukupi oleh kemampuan sumberdaya yang dimiliki, dilihat dari bekerjanya subsistem ketersediaan, subsistem distribusi dan subsistem konsumsi pangan.
5. Desa Mandiri Pangan adalah desa/kelurahan yang masyarakatnya mempunyai kemampuan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan gizi melalui pengembangan subsistem ketersediaan, subsistem distribusi, dan subsistem konsumsi pangan dengan memanfaatkan sumberdaya setempat secara berkelanjutan.
6. Program Aksi adalah rancangan kegiatan untuk melaksanakan tujuan yang akan dicapai.
7. Program Aksi Desa Mandiri Pangan adalah gerakan yang dilaksanakan secara berkelanjutan dan berkesinambungan untuk mewujudkan ketahanan pangan masyarakat, melalui pendekatan sub sistem ketersediaan, sub sistem distribusi dan sub sistem konsumsi.
8. Gerakan adalah perubahan suatu kondisi tertentu melalui usaha atau kegiatan yang dilakukan secara perorangan atau kelompok.
9. Gerakan Kemandirian Pangan adalah upaya bersama berbagai komponen masyarakat dan pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat untuk memobilisasi, memanfaatkan dan mengelola aset setempat (yang meliputi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sumberdaya finansial, sumberdaya fisik/teknologi, serta sumberdaya sosial) untuk meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga dan masyarakat melalui penanganan Desa Rawan Pangan menjadi Desa Mandiri Pangan.
10. Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses dimana masyarakat atau mereka yang kurang beruntung dalam sumberdaya pembangunan didorong untuk mandiri dan mengembangkan kehidupan sendiri. Dalam proses ini masyarakat dibantu untuk mengkaji kebutuhan, masalah dan peluang dalam pembangunan sesuai dengan lingkungan sosial ekonomi kehidupan mereka sendiri.
11. Ketahanan pangan masyarakat adalah kondisi dimana seluruh anggota masyarakat (rumah tangga/individu) mendapatkan pangan yang aman, dapat diterima secara kultural, cukup, bergizi, secara berkelanjutan dengan memaksimalkan kemandirian masyarakat dan keadilan sosial.
12. Desa rawan pangan adalah kondisi suatu daerah yang tingkat ketersediaan, akses, dan/atau keamanan pangan sebagian masyarakat dan rumah tangganya tidak cukup untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan.
13. Kemandirian adalah sikap kesadaran/kemampuan untuk mengembalikan keadaan ke normal setelah terjadinya suatu tekanan, gejolak, atau bencana. Dalam keadaan normal, dimana tidak terjadi tekanan, bencana atau gejolak, maka kemandirian dapat diartikan sebagai kesadaran/kemampuan untuk meningkatkan keadaan masa depannya menjadi lebih baik tanpa bergantung pada orang lain.
14. Kemandirian pangan (UU No. 41 Tahun 2009) adalah kemampuan produksi pangan dalam negeri yang didukung kelembagaan ketahanan pangan yang mampu menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup di tingkat rumah tangga, baik dalam jumlah, mutu, keamanan, maupun harga yang terjangkau, yang didukung oleh sumber-sumber pangan yang
31
mempunyai kesamaan visi dan misi dengan memperhatikan sosial budaya setempat.
16. Kelompok wanita adalah sekumpulan wanita dengan jumlah 20 - 30 orang dari anggota dasa wisma yang bergabung menjadi satu kelompok untuk melakukan gerakan penganekaragaman konsumsi pangan masyarakat desa.
17. Kelompok lumbung pangan adalah kelompok yang ditumbuhkan dalam rangka pemenuhan cadangan pangan masyarakat.
Kelompok sasaran adalah kelompok yang telah ada atau kelompok baru yang memiliki potensi untuk pengembangan lumbung pangan yang berasal dari desa tersebut, belum pernah mendapat penguatan modal, atau fasilitasi lain pada saat yang bersamaan atau pada tahun-tahun sebelumnya, menyediakan lahan yang mudah dijangkau dan tidak bersengketa untuk pembangunan fisik lumbung atas nama kelompok (Pedoman Teknis Pemberdayaan Lumbung Pangan Masyarakat)
18. Sekolah Lapangan Desa Mapan (SL-DMP) merupakan pendekatan penyuluhan yang dilakukan melalui proses belajar orang dewasa di desa mandiri pangan dengan berbagi pengalaman antara pemandu dan peserta SL-DMP (desa replikasi) untuk menemukan dan mengembangkan sendiri pengetahuan, teknologi dan upaya mewujudkan kemandirian pangan.
19. Data Dasar Rumah Tangga (DDRT) adalah kegiatan pendataan lengkap (Sensus) rumah tangga untuk memperoleh gambaran karakteristik rumah tangga yang berada di dalamnya. Hasil dari pendataan tersebut adalah data dasar seluruh rumahtangga yang ada di suatu wilayah dan dapat melihat karakteristik rumah tangga serta mengidentifikasi rumah tangga miskin dan tidak miskin.
20. Rumah tangga miskin (RTM) adalah rumah tangga sasaran yang ditetapkan melalui survei DDRT dengan 13 indikator kemiskinan.
Indikator Kemiskinan yang digunakan meliputi: (1). tingkat pendidikan, (2) jenis pekerjaan dan tingkat pendapatan, (3) konsumsi pangan, (4) konsumsi non pangan, (5) modal (lahan, tabungan, hewan ternak), (6) sarana transportasi, (7) perabotan rumahtangga, (8) luas tempat tinggal, (9) kondisi tempat tinggal, (10) sumber air minum, (11) sumber penerangan, (12) asupan gizi, (13) porsi pangan antar anggota rumahtangga.
21. Lembaga Keuangan Desa (LKD) adalah lembaga yang ditumbuhkan oleh kelompok-kelompok afinitas untuk mengelola keuangan sebagai modal usaha produktif pedesaan.
22. Tim Pangan Desa (TPD) adalah lembaga yang ditumbuhkan oleh masyarakat sebagai penggerak pembangunan ketahanan pangan di pedesaan.
23. Penguatan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (Penguatan-LDPM) adalah bagian kegiatan program Peningkatan Ketahanan Pangan tahun 2010 yang bertujuan meningkatkan kemampuan Gapoktan dan unit-unit usaha yang dikelolanya (distribusi/pemasaran dan cadangan pangan) dalam usaha memupuk cadangan pangan dan memupuk modal dari usahanya dan dari anggotanya yang tergabung dalam wadah Gapoktan.
Kegiatan Penguatan–LDPM dibiayai melalui APBN TA 2010 dengan mekanisme dana bantuan sosial (Bansos) yang disalurkan langsung kepada rekening Gapoktan.
24. Harga Pembelian Pemerintah (HPP) adalah harga pembelian pemerintah untuk komoditas gabah/beras sesuai dengan Instruksi Presiden No. 7 tahun 2009 tentang Kebijakan Perberasan.
25. Harga Referensi Daerah (HRD) adalah harga referensi daerah untuk komoditas jagung yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Gubernur setempat.
26. Gabungan Kelompoktani (Gapoktan) adalah kumpulan beberapa kelompoktani yang bergabung dan bekerja sama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha (Permentan No:
273/Kpts/OT.160/ 4/2007).
27. Kelompok Tani (Poktan) adalah kumpulan petani yang tumbuh berdasarkan kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk bekerjasama dalam meningkatkan, mengembangkan produktivitas usahatani, memanfaatkan sumberdaya pertanian, mendistribusikan hasil produksinya dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
28. Rencana Usaha Gapoktan (RUG) adalah rencana usaha yang disusun oleh anggota kelompoktani secara sistematis dan partisipatif dalam memecahkan permasalahan–permasalahan yang
dihadapi petani/Poktan dalam
mendistribusikan/memasarkan/mengolah/menyimpan yang tidak dapat diselesaikan oleh petani/Poktan tersebut sehingga membutuhkan kerja sama dan dukungan dalam skala yang lebih besar.
33
memasarkan hasil produksi (gabah/beras/ jagung) petani anggotanya dengan melakukan pembelian dan penjualan sehingga harga stabil di tingkat petani.
30. Unit usaha pengolahan milik Gapoktan adalah unit usaha yang dibentuk atas keinginan, kebutuhan, dan kesepakatan dari anggota
Gapoktan untuk dapat
mengolah/menggiling/mengepak/menyimpan gabah/ beras/
jagung hasil produksi petani anggotanya sehingga mampu meningkatkan nilai tambah produk petani.
31. Unit pengelola cadangan pangan adalah unit pengelolaan cadangan pangan yang dibentuk atas keinginan, kebutuhan dan kesepakatan dari anggota Gapoktan untuk dapat menyimpan pangan dalam jumlah yang cukup bagi anggotanya sehingga mampu mendekatkan akses pangan sepanjang waktu khususnya saat menghadapi musim paceklik.
32. Sentra produksi pangan (padi dan/atau jagung) adalah provinsi dan/atau kabupaten/kota yang produksi pangannya didominasi oleh komoditas padi dan/atau jagung.
33. Pemberdayaan Gapoktan adalah upaya untuk menciptakan, meningkatkan kapasitas dan kemandirian Gapoktan secara partisipatif agar mereka: (a) mampu menemukenali permasalahan yang terkait dalam penyediaan pangan di saat menghadapi musim paceklik dan pendistribusian/pemasaran/pengolahan hasil produksi petani; dan (b) mencari, merumuskan, dan memutuskan cara yang cepat dan tepat bagi anggotanya terhadap persoalan ketidakstabilan harga di tingkat petani, pemasaran hasil produksi petani, dan ketidak tersediaan pangan disaat paceklik.
34. Pendamping Penyuluh adalah Pertanian atau Petugas Lapangan yang diutamakan berpengalaman di bidang penyuluhan pertanian;
35. Pendampingan adalah proses pembimbingan dan pembinaan yang dilakukan secara rutin oleh seorang pendamping kepada Gapoktan binaannya agar mereka mampu menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan secara partisipatif; menyusun dan menetapkan aturan dan sanksi secara musyawarah dan mufakat;
memupuk dan mengatur dana sendiri; membangun dan mengembangkan jejaring kemitraan usaha dengan pihak lain diluar wilayahnya; memupuk rasa tanggungjawab terhadap organisasi Gapoktan dengan melakukan pemantauan secara partisipatif, pengendalian dan pengawasan internal