• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Kepemimpinan KH. Muhammad Ridwan dalam Pengembangan Dakwah di Pondok Pesantren

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Peran Kepemimpinan KH. Muhammad Ridwan dalam Pengembangan Dakwah di Pondok Pesantren"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Diterima: Oktober 2019. Disetujui: November 2019. Dipublikasikan: Desember 2019. 387

Volume 4, Nomor 4, 2019, 387-402 DOI: 10.15575/tadbir Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung https://jurnal.fdk.uinsgd.ac.id/index.php/tadbir ISSN: 2623-2014 (Print)ISSN: 2654-3648 (Online)

Peran Kepemimpinan KH. Muhammad Ridwan dalam Pengembangan Dakwah di Pondok Pesantren

Ahmad Dian Ulumudin*, Saeful Anwar1, Herman3

1Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

2Jurusan Manajemen Dakwah, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

*Email : [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini untuk mengetahui bagaimana metode yang digunakan pimpinan pesantren, untuk mengetahui program-program dan bentuk peran pimpinan pesantren dalam pengembangan dakwah di Pesantren. Penelitian ini berlandaskan pada sebuah teori bahwa kepemimpinan merupakan intisari manajemen. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, karena metode ini dipandang relevan untuk menggali dan menganalisis fenomena empiris yang terjadi dijaman sekarang. Teknik penelitian yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dalam analisis datanya menggunakan jenis analisis data kualitatif. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa dalam mengembangkan dakwah di Pondok Pesantren KH. Muhammad Ridwan mengambil keputusan dengan metode yang tidak lepas dari standar dakwah, memperhatikan lingkungan dan kemampuan dewan kiai atau dewan guru, menjalankan program-program yang telah direncanakan dengan objek yang menyeluruh. Bentuk peran yang digunakan sebagai pimpinan semuanya sesuai dengan kondisi para santri, guru, dan masyarakat.

Kata Kunci: Peran; Kepemimpinan; Pesantren.

ABSTRACT

The purpose of this study was to determine how the methods used by leaders of pesantren, to find out the programs and forms of role of leaders of pesantren in developing da'wah in Pesantren. This research is based on a theory of fate that leadership is the essence of management. The method used in this study is to use a descriptive method because this method is considered relevant to explore and analyze empirical phenomena that occur today. The research technique used is observations, interviews, documentation, in the analysis of data using qualitative data analysis types. The results of research conducted show that in developing da'wah at the Islamic Boarding School KH. Muhammad Ridwan took decisions with methods

(2)

388 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 4 No. 4 (2019) 387-402

that can not be separated from the standards of preaching, pay attention to the environment and the ability of the kiai council or teacher council, run programs that have been planned with a comprehensive object. The forms of roles used as leaders are all in accordance with the conditions of the students, teachers and the community.

Keywords: Leadership; Role forms; Pesantren.

PENDAHULUAN

Sudah tidak asing lagi bagi kita terhadap sebuah lembaga pendidikan Islam yang hampir banyak ditemukan di setiap daerah yaitu pondok pesantren. Pondok pesantren sudah menjadi lembaga pertama kali di Indonesia yang didirikan oleh para kiyai pada awal masuknya Islam ke tanah air. Di berbagai daerah banyak pesantren-pesantren dengan berbagai jenis dan keunikan tersendiri dari berbagai sisi tradisi dan kebudayaannya sehingga menjadi objek penelitian para sarjana yang mempelajari Agama Islam didaerah ini, yaitu sejak Brumund menulis sebuah karangannya tentang sistem pendidikan di Jawa pada tahun 1857 (Dhofier, 2015: 38).

Di pondok pesantren tidak seenaknya melaksanakan kegiatan, namun tentunya setiap kegiatan menjadi kebijakan pimpinan pesantren seperti dalam kegiatan rutinan jadwal pengajian. Seluruh santri diwajibkan untuk mengikuti jadwal pengajian yang sudah ditentukan guna bekal hidup masyarakat dan juga sebagai bentuk pengabdian untuk mendapatkan keridhaan guru. Keunikan pesantren sudah menjadi keasyikan tersendiri bagi para santri dan kyai yang mengajar dan beraktivitas didalamnya. Para santri tersebut belajar memahami, mempelajari dan menghayati pengamalan ajaran Islam dengan menekankan pada pentingnya akhlak sebagai pedoman moral dalam kehidupan sehari-hari.

(Kompri, 2018: 3).

Secara umum, kegiatan yang berjalan serta tingkah laku (adab) yang baik sesuai ajaran Islam dicontohkan di lembaga-lembaga pesantren. Pada dasarnya pengelolaan pengorganisasian para santri adalah mendidik untuk mendapatkan peringai yang baik. Semua itu ditunjukan dan di teladani dari seorang pemimpin di pesantren yang ideal, pola pikir yang baik, simbol-simbol dan amalan-amalan Islam (Dhofier, 2015: 42).

Berdasarkan pada pertimbangan yang dikemukakan oleh seorang pakar bernama Prasodjo bahwa sebagi lembaga sosial ataupun pendidikan keagaman, lembaga pesantren bergerak secara dinamis dalam kurun waktu tertentu.

Perkembangan lembaga pesantren selalu melahirkan unsur-unsur baru tanpa harus meninggalkan ataupun menghilangkan unsur yang sudah terbentuk.

Terjadinya perubahan dan pengembangan atas unsur tersebut membuat pondok pesantren tersebut tetap eksis dan senantiasa berfungsi bagi pendidikan dan perubahan sosial (Sukamto, 1999: 4).

(3)

Tabligh: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 4 No. 4 (2019) 387-402 389

Pesantren dilihat dari pengertiannya adalah sebuah tempat belajar para santri, sedangkan kata pondok berarti rumah atau tempat sederhana yang dibangun dengan sederhana dari bambu-bambu. Disamping itu, ada juga kata pondok dari bahasa Arab, funduk yang berarti hotel atau asrama. Beberapa istilah sering digunakan untuk menunjukkan jenis pendidikan Islam yang terkenal dengan sebutan pondok pesantren. Pesantren yang merupakan pendidikan Islam di Indonesia didirikan karena adanya tuntutan serta kebutuhan zaman. Hal ini dapat dilihat dari perjalanan sejarah dakwah. Apabila dilihat kembali pondok pesantren didirikan atas kesadaran kewajiban dakwah Islam, yakni menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam sekaligus menumbuhkan bibit-bibit ulama atau da’i (Mighfar, 2018: 170).

Dengan tujuan tersebut maka perlu adanya kekuatan yang kreatif untuk membina dan mengembangkan santri dan seluruh objek dakwah pada pesantren dalam bingkai usaha menata mengembangkan dan berbagai aktivitas dilingkungan pesantren. Hal tersebut tidak akan lepas dari sosok seorang kyai sebagai pemimpin pada pondok pesantren. Sebagaimana diketahui dari sebuah penelitian singkat bahwa karakter kepemimpinan kyai dan pengurus dalam sebuah pesantren sangat berpengaruh pada perilaku santri dan setiap aktivitas santri terutama dalam mengaji dan mengamalkan ilmu.

Kepemimpinan pada sebuah organisasi, termasuk lembaga pendidikan agama di pondok pesantren merupakan intisari dari manajemen, sumber daya pokok dan titik sentral figur dari seluruh aktivitas keorganisasian atau kelembagaan yang dipimpinannya. Disini dapat dipahami bahwa pesantren tidak akan dapat berjalan tanpa adanya kepemimpinan dari seorang kyai. Kegiatan pengajian, aktivitas santri semuanya terdapat dalam pengaturan pimpinan yang mengarahkan pada sebuah tujuan pemahaman ilmu keagamaan (Hasibuan, 2001:

42).

Sebagai tujuan dari permasalahan tersebut mengenai keterkaitan pengembangan yang dapat memberikan pengaruh pada santri dari sebuah Kepemimpinan, baik dalam belajar mengajar maupun aktivitas santri dan perkembangan pondok pesantren. Dalam paparan yang telah dibentangkan di atas maka penulis bermaksud menulis sebuah penelitian yang dituangkan dalam sebuah judul “Peran Kepemimpinan KH Muhammad Ridwan dalam Pengembangan Dakwah di Pondok Pesantren”.

LANDASAN TEORITIS

Peran berbeda dengan posisi, dalam peran lebih banyak menunjuk pada fungsi, penyesuaian diri, dan sebagai suatu proses. Sedang posisi pada masyarakat sosial adalah unsur statis yang merupakan individu pada sebuah organisasi masyarakat (Soekanto, 2010: 212).

Peran merupakan suatu perbuatan seseorang dalam usaha menjalankan

(4)

390 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 4 No. 4 (2019) 387-402

kewajiban dan haknya sesuai dengan status kedudukan yang dimilikinya.

Seseorang dapat dikatakan berperan apabila telah memenuhi kewajiban dan hak nya sesuai dengan status sosial yang dimilikinya dalam masyarakat. Apabila seseorang mempunyai status tertentu dalam kehidupan masyarakat, maka berikutnya akan timbul kecenderungan suatu harapan harapan yang baru (Syaini, 2012: 97).

Menurut David Berry mengutip dari Horton dan Hunt (1993) Peran adalah perilaku yang diharapkan pada diri seseorang yang mempunyai status.

Berbagai peran yang bergabung dalam terkait dengan status sosial ini disebut dengan perangkat peran. Jika yang diartikan dengan peran adalah perilaku dari seseorang dalam suatu status tertentu, maka perilaku peran adalah perilaku seseorang yang sebenarnya dari orang yang melakukan peran tersebut. Teori peran memiliki dua harapan. Pertama, harapan-harapan dari masyarakat terhadap seseorang yang memegang peran. Kedua, harapan-harapan yang dimiliki oleh pemegang peran terhadap orang lain yang memiliki hubungan dengannya dalam menjalankan perannya (Berry, 1981: 41).

Peran yang dimainkan seorang ulama yang mendapatkan kedudukan seorang pemimpin tanda adanya penunjukkan ini dikarenakan memegang teguh nilai-nilai luhur yang menjadi acuan dalam bersikap, bertindak, dan mengembangkan lembaga pesantren yang dimilikinya. Nilai-nilai luhur menjadi keyakinan seorang ulama atau kiai dalam kehidupannya. Karena sesungguhnya nilai-nilai luhur yang diyakini oleh seorang kyai atau umat Islam adalah ruh (kekuatan) yang diyakini sebagai anugrah dan rahmat dari Allah SWT (Kompri, 2018:208). Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin dalam memimpin kelompoknya, baik yang terorganisasi maupun tidak. Keberadaan kepemimpinan dalam jiwa pemimpin sangat penting, mengingat pada pemimpin sebagai sentral figur dalam kelompok tersebut (Kompri, 2018: 165).

Kepemimpinan dalam Al- Qur’an tersirat dalam surat Al-Baqarah: 30.

ُدِسْفُي ْهَم اَهْيِف ُلَعْجَتَا اْىُلاَق ًةَفْيِلَخ ِضْرَ ْلْا يِف ٌلِعاَج ْيِّوِا ِةَمِء َلََمْلِل َلُّبَر َلاَق ْذِاَو ُلِفْسَيَو اَهْيِف

َنْىُمَلْعَت َلْ اَم ُمَلْعَا ْيِّوِإ َلاَق َلَل ُسِّدَقُوَو َكِدْمَحِب ُحِّبَسُو ُهْحَوَو َءاَمِّدلا Artinya: “dan ingatlah tatakala Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka (malaikat) berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Ak u mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain.

Keberhasilan seorang pemimpin adalah tergantung pada kemampuannya dalam mempengaruhi bawahannya dalam mencapai tujuan. Dengan kata lain dapat

(5)

Tabligh: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 4 No. 4 (2019) 387-402 391

diartikan bahwa kepemimpinan adalah sebuah kemampuan mempengaruhi orang lain, melalui komunikasi baik langsung maupun tidak langsung, dengan tujuan untuk menggerakkan orang-orang yang dipengaruhi tersebut agar dengan penuh kesadaran, pengertian dan senang hati mengikuti kehendak seorang pemimpin itu. Pemimpin yang efektif adalah seorang pemimpin yang mempunyai kemampuan tersebut (Anoraga, 1992: 2).

Para ahli sosial mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan interaksi antara pemimpin dan anggota yang dipimpinnya. Para pengikut pemimpin dapat menerima atau menolak pengaruh dari sorang pemimpin. Dengan sebuah cara bahwa seorang pemimpin harus mengetahui kebutuhan yang dimiliki oleh semua manusia dan bagaimana mereka dapat berjuang untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan tersebut (Gordon, 1990: 21).

Kepemimpinan sifatnya spesifik, khas, diperlukan bagi satu situasi tertentu secara khusus. Hal ini dikarenakan dalam sebuah kelompok yang melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, dan memiliki tujuan dan alat khusus. Pemimpin kelompok dengan ciri-ciri karakteristiknya itu merupakan fungsi dari situasi khusus tadi. Tegasnya, sifat-sifat utama dari pemimpin dan kepemimpinannya harus dapat menyesuaikan dengan situasi pada kelompoknya dan dapat diterima oleh kelompoknya juga berkaitan dan cocok dengan situasi pada zamannya.

(Kartono, 2014: 56).

Kepemimpinan seseorang dalam suatu kelompok dapat terlahir dengan sendirinya dengan kata lain sengaja ataupun tidak sengaja. Ketidaksengajaan antara lain karena kondisi juga kualitas pribadinya yang secara dzohir memiliki keutamaan dan kelebihan dibanding dengan yang lainnya. Kepemimpinan dengan kondisi yang seperti ini, bagaikan seorang suami yang menjadi pemimpin bagi seorang istri dan keluarganya. Adapun karena kepemimpinan karena kelebihan yang dimiliki, seperti seseorang yang memiliki keutamaan yang lebih dalam pengetahuan agama, maka secara langsung dia diakui sebagai pemimpin (Hadari, 1995: 167).

Kepemimpinan juga merupakan the ability and readiness to inspire, guide, direct or manage other, yang berarti kepememimpinan sebagai suatu kemampuan dan kesiapan seseorang untuk mempengaruhi, membimbing, dan mengarahkan atau mengelola orang lain dalam suatu kelompok atau organisasi agar mereka mau melakukan atau mengerjakan sesuatu demi tercapainya tujuan bersama.

Dengan adanya kepemimpinan yang merupakan sentral dari setiap berjalannya proses pencapaian tujuan diharapkan adanya sebuah pengaruh yaitu berupa keteladanan, kewibawaan dan kecakapan dari seorang pemimpin.

Berdasarkan dari beberapa teori kepemimpinan yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah sifat-sifat kepribadian seseorang termasuk didalamnya kewibawaan untuk dijadikan sebagai sarana meyakinkan yang dipimpinnya agar mau dan dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan

(6)

392 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 4 No. 4 (2019) 387-402

patuh suka rela dan penuh semangat tanpa merasa terpaksa (Kompri, 2018: 168).

Kata dakwah, dilihat dari kosa katanya merupakan bentuk dari kata benda atau salah satu bentuk dari kalimah isim, karena termasuk diambil (musytaq) dari fi’il muta’adi. Secara tegas kata dakwah berasal dari bahasa Arab yang mengandung nilai dinamika, yaitu ajakan, seruan panggilan, maupun permohonan. Begitupun bila kita merujuk pada Al Qur’an bahwa kata dakwah berkedudukan sebagai kalimah isim masdar. Hampir semua yang berkaitan dengan dakwah diungkapkan dengan kata kerja (fi’il madhi, mudhori’, dan amr) (Muhyiddin, 2002: 27).

Secara etimologis, dakwah berasal dari bahasa Arab, dalam rangkaian bentuknya adalah dari kata da’a, yad’u da’wan, da’waini da’watan yang diartikan sebagai mengajak/menyeru, memanggil, seruan, permohonan dan permintaan.

Istilah ini banyak diartikan hal nya sama dengan istilah-istilah tabligh, amar ma’ruf nahi munkar, mau’idzah hasanah, tabsyir indzar, tarbiyyah, ta’lim, washiyah dan khotbah (Munir, 2015: 17).

Di Indonesia, istilah pesantren lebih populer dengan sebutan pondok pesantren, lebih kepada istilah pondok yang berasal dari bahasa Arab, yang artinya bisa hotel, asrama, rumah, dan tempat tinggal sederhana.

Pendapat Manfred Ziemek (1988) mengenai pesantren mengatakan bahwa

“kata pondok berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata funduk yang memiliki arti sebuah ruang tidur atau wisma yang sederhana, karena pondok memang merupakan tempat yang sederhana bagi para pelajar yang sengaja tinggal sementara dikarenakan jauh dari tempat tinggalnya. Sedangkan kata pesantren berasal dari kata santri sendiri yang diawali dengan imbuhan pe dan diakhiri dengan imbuhan an yang berarti menunjukan pada sebuah tempat, maka arti dari pesantren itu sendiri adalah tempat bagi para santri. Adakalanya pesantren pun diambil dari dua kata yang digabungkan dari kata santri (manusia baik) dengan suku kata (suka menolong) sehingga kata pesantren memili arti tempat pendidikan orang-orang baik (Kompri, 2015: 2).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pondok Pesantren Al-Islamiyyah terletak di sebuah tempat yang strategis dalam pembangunan dan sarana masyarakat dalam upaya pencaharian sehari-hari.

Keberadaan pondok pesantren ini memang bukan pada sebuah kota, namun mudah terjangkau dengan daerah yang dibutuhkan oleh masyarakat. Alamat lengkap Pondok Pesantren Al-Islamiyyah adalah di Kp. Karanganyar RT 04 RW 06 Desa Mandalamukti Kecamatan Cikalongwetan Kabupaten Bandung Barat.

Letak geografis pondok pesantren Al-Islamiyyah berada pada jarak ¾ KM dari Kantor Desa, sedangkan dari Kantor Kecamatan Cikalongwetan terletak 2 KM. Kemudian ¾ KM dari sekolah menengah atas Negeri (SMAN)

(7)

Tabligh: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 4 No. 4 (2019) 387-402 393

Cikalongwetan dan ¾ KM dari Madrasah Aliyah Al Huda Cikalongwetan. Letak pondok pesantren inipun dekat dengan fasilitas sarana pusat kesehatan masyarakat, dan 500 M dari puskesmas Cikalongwetan dan ½ KM dari RSUD Cikalongwetan Kabupaten Bandung Barat (wawancara bersama Dewan Mudarris Saeful Rahmat).

Pada dasarnya keberadaan pesantren ini sudah menjadi perencanaan pendiri yang jeli dalam merencanakan pembangunan agar dapat strategis lokasinya dengan kegiatan yang berhubungan aktivitas masyarakat warga Desa Mandalamukti khusus para murid atau santri juga para pengajar, dan ustadz ustadzah di lingkungan pondok pesantren (Wawancara bersama Dewan Mudarris Saeful Rahmat).

Bagi seorang pemimpin, mengambil keputusan yang tepat tidak selamanya mudah dalam memimpin. Karena tidak mudahnya dalam pengambilan keputusan, maka tidak sedikit terjadi seorang pemimpin yang menunda-nunda pengambilan keputusan yang seharusnya diambil. Sehingga masalah yang terjadi belum terselesaikan. Tidak jarangpula bahwa seorang diangkat menjadi pemimpin karena keberanian dan kepandaiannya dalam mengambil keputusan (Karjadi, 1989: 57).

Peranan seorang pemimpin dalam pengambilan keputusan sangat penting dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya. Pemimpin tidak mungkin dapat menggerakkan anggotanya tanpa ada keberanian dan kemampuan dalam mengambil keputusan. Dengan istilah lain, seorang pemimpin tidak akan mampu mempengaruhi perasaan, sikap, dan perilaku anggota kelompoknya (Nawawi, 2006: 46).

Pemimpin dalam pengertian luas ialah seseorang yang memimpin, dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui prestise, kekuasaan atau posisi. Dengan pengertian yang terbatas, pemimpin ialah seseorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas persuasifnya dan akseptansi/penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya.

Dalam bukunya Pemimpin dan Kepemimpinan Kartini Kartono menjelaskan pengertian seorang pemimpin. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki superioritas tertentu, sehingga dia memiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk menggerakkan orang lain melakukan usaha bersama guna mencapai suatu tujuan tertentu (Muspiroh, 2017: 38).

Metode pertama pengambilan keputusan oleh KH Muhmmad Ridwan adalah dengan pendekatan standar dakwah. Semua yang menjadi keputusan harus berdasarkan satndar dakwah dan tidak boleh menyimpang dari aturan tersebut. Standar dakwah yang dimaksud oleh KH Muhammad Ridwan (Pangersa Akang) adalah Iman, Islam dan Ihsan (Wawancara bersama KH Muhammad Ridwan 20 Romadon 1440 H/ 25 Mei 2019). Berikut melihat

(8)

394 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 4 No. 4 (2019) 387-402

lingkungan, apakah lingkungan tersebut baik, sesuai, cocok atau tidak dengan segala pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Hal ini juga berarti disamping memperhatikan lingkungan kitapun sama dengan memperhatikan keadaan atau situasi dan kondisi suatu lingkungan. Bahwa dakwah harus dapat masuk kedalam budaya dan budaya sulit bahkan tidak dapat dihilangkn dengan mudah.

Lingkungan sangat berpengaruh dalam perilaku dan kebiasaan masyarakat.

Hal ini yang menjadi kekuatan bagi lingkungan tersebut apabila keadaaannnya baik maka akan kuat kebaikannya dan apabila lingkungan tersebut kurang baik budayanya hal ini yang menjadi perhitungan bagi para da’i. Dengan memperhatikan lingkungan kita dapat menganalisa kebutuhan apa yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat. Setiap pesantren pasti memiliki tenaga pengajar yang membantu berjalaannya setiap kegiatan di Pondok Pesantren. Khusus kegiatan belajar mengajar dan mengaji, juga kegiatan-kegiatan yang di programkan oleh Pesantren yang merupakan keputusan pimpinan dan kesepakatan bawahan.

Dalam hal keputusan, berikutnya KH Muhammad Ridwan memperhatikan dari setiap kemampuan yang dimiliki oleh setiap mudaris, yaitu seluruh staff pengajar di pondok pesantren. Kondisi mudaris sebagai tenaga kerja pengajar yang siap mengabdi dan berjuang bersama kyai tentu memiliki kemampuannya masing-masing. Kemampuan tersebut lah yang dijadikan patokan untuk pengambilan keputusan oleh KH Muhammad Ridwan (Sumber: Hasil wawancara bersama KH Muhammad Ridwan pada tanggal 25 Mei 2019).

Seorang alim, ulama atau kyai disekitar kita memiliki keunggulan tertentu sehingga diakui memiliki kelebihan dan pengaruh yang baik yang diterima secara langsung tanpa adanya ketentuan atau penunjukan oleh seseorang. Pengaruh Kyai atau ulama tergantung pada loyalitas komunitas terbatas yang dimotivasi dari perasaan utang budi, namun sepenuhnya ditentukan oleh kualitas kekarismatik dan kewibawaan mereka (Kompri, 2018: 207).

Secara empiris, kepemimpinan beliau tegolong pada tipe kharismatik.

Tidak memaksakan kehendak namun memperhatikan kemampuan para santri, dan mudaris. Kepemimpinan Pangersa Akang berperan dengan memegang teguh norma-norma para pendahulu yang juga sebagai guru dan alim berpedoman kepada nilai-nilai spiritiul. Nilai-nilai ini menjadi dasar acuan dalam mengembangkan pondok pesantren.

Peran yang dimainkan seorang ulama yang mendapatkan kedudukan seorang pemimpin tanda adanya penunjukkan ini dikarenakan memegang teguh nilai-nilai luhur yang menjadi acuan dalam bersikap, bertindak, dan mengembangkan lembaga pesantren yang dimilikinya. Nilai-nilai luhur menjadi keyakinan seorang ulama atau kiai dalam kehidupannya. Karena sesungguhnya nilai-nilai luhur yang diyakini oleh seorang kyai atau umat Islam adalah ruh

(9)

Tabligh: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 4 No. 4 (2019) 387-402 395

(kekuatan) yang diyakini sebagai anugrah dan rahmat dari Allah SWT (Kompri, 2018: 208).

Pengambilan Keputusan KH Muhammad

Bagi seorang pemimpin, mengambil keputusan yang tepat tidak selamanya mudah dalam memimpin. Karena tidak mudahnya dalam pengambilan keputusan, maka tidak sedikit terjadi seorang pemimpin yang menunda-nunda pengambilan keputusan yang seharusnya diambil. Sehingga masalah yang terjadi belum terselesaikan. Tidak jarangpula bahwa seorang diangkat menjadi pemimpin karena keberanian dan kepandaiannya dalam mengambil keputusan (Karjadi, 1989: 57).

Peranan seorang pemimpin dalam pengambilan keputusan sangat penting dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya. Pemimpin tidak mungkin dapat menggerakkan anggotanya tanpa ada keberanian dan kemampuan dalam mengambil keputusan. Dengan istilah lain, seorang pemimpin tidak akan mampu mempengaruhi perasaan, sikap, dan perilaku anggota kelompoknya (Nawawi, 2006: 46).

Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang, ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkunganntya, dan ketika keberadaan mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah sesorang lahir menjadi pemimpin sejati (Nurfalah, 2017: 132).

Semakin tinggi kedudukan seorang pemimpin dalam organisasi maka resiko pengambilan keputusannya lebih besar satu keputusannya memiliki ciri pokok diantaranya keputusan yang bersifat jangka panjang jauh kedepan dan pengaruh terhadap kehidupan organisasi yang kuat serta cakupannya menyeluruh (Siagian, 2015:49).

Berikut penuturan KH Muhammad Ridwan mengenai metode dalam pengembangan dakwah di Pondok Pesantren Al-Islamiyyah. KH Muhammad Ridwan berkata, “Metode nu kahiji standar dakwah, kadua lingkungan katilu kemampuan mudarris, standar dakwah didieu termasuk Iman Islam Ihsan tea saputar eta Ihsan teh akhlak jalurna kitu, teknisna mah kumaha situasi kondisi sigah mudaris ngajar sebagai pembantu sahingga didieu sanajan kitab basa sunda ari subuh mah ku Indonesia tafsir jeung riyadhussholihin. Hiji hijina nu ku basa Indonesia mah subuh hungkul supaya terbiasa eta mah tafsir jeung riyadussholihin mah balad akang sampe mati” (Wawancara langsung bersama KH Muhammad Ridwan 20 Mei 2019).

Metode pertama pengambilan keputusan oleh KH Muhmmad Ridwan adalah dengan pendekatan standar dakwah. Semua yang menjadi keputusan

(10)

396 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 4 No. 4 (2019) 387-402

harus berdasarkan standar dakwah dan tidak boleh menyimpang dari aturan tersebut. Standar dakwah yang dimaksud oleh KH Muhammad Ridwan (Pangersa Akang) ialah Iman, Islam dan Ihsan (Wawancara bersama KH Muhammad Ridwan 20 Ramadhan 1440 H/25 Mei 2019).

Pengambilan keputusan yang dilakukan dan disepakati oleh semua pihak yang bersangkutan tidak boleh lepas dari tiga standar dakwah tersebut. Harus memperhatikan standar keimanan kita kepada Allah SWT. Jangan sampai sedikitpun ada penyimpangan dalam hal ketauhidan yang malah akan menyebabkan terjerumus kepada kemurtadan dan kemusyrikan. Maka sangat penting dalam memperhatikan kualitas sisi keimanan. Metode pertama pengambilan keputusan oleh KH Muhmmad Ridwan adalah dengan pendekatan standar dakwah. Semua yang menjadi keputusan harus berdasarkan standar dakwah dan tidak boleh menyimpang dari aturan tersebut. Standar dakwah yang dimaksud oleh KH Muhammad Ridwan (Pangersa Akang) ialah Iman, Islam dan Ihsan (Wawancara bersama KH Muhammad Ridwan 20 Ramadhan 1440 H/25 Mei 2019).

Pengambilan keputusan yang dilakukan dan disepakati oleh semua pihak yang bersangkutan tidak boleh lepas dari tiga standar dakwah tersebut. Harus memperhatikan standar keimanan kita kepada Allah SWT. Jangan sampai sedikitpun ada penyimpangan dalam hal ketauhidan yang malah akan menyebabkan terjerumus kepada kemurtadan dan kemusyrikan. Maka sangat penting dalam memperhatikan kualitas sisi keimanan.

Pengambilan keputusan kedua adalah Melihat lingkungan, apakah lingkungan tersebut baik, sesuai, cocok atau tidak dengan segala pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Hal ini juga berarti disamping memperhatikan lingkungan kitapun sama dengan memperhatikan keadaan atau situasi dan kondisi suatu lingkungan. Bahwa dakwah harus dapat masuk kedalam budaya dan budaya sulit bahkan tidak dapat dihilangkan dengan mudah.

Lingkungan sangat berpengaruh dalam perilaku dan kebiasaan masyarakat.

Hal ini yang menjadi kekuatan bagi lingkungan tersebut apabila keadaaannnya baik maka akan kuat kebaikannya dan apabila lingkungan tersebut kurang baik budayanya hal ini yang menjadi perhitungan bagi para da’i. Dengan memperhatikan lingkungan kita dapat menganalisa kebutuhan apa yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat.

Kemudian ketiganya adalah melihat kondisi mudaris. Dalam setiap pesantren pasti memiliki tenaga pengajar yang membantu berjalaannya setiap kegiatan di pondok pesantren. Khusus kegiatan belajar mengajar dan mengaji, juga kegiatan-kegiatan yang di programkan oleh pesantren yang merupakan keputusan pimpinan dan kesepakatan bawahan. Dalam hal keputusan, berikutnya KH Muhammad Ridwan memperhatikan dari setiap kemampuan yang dimiliki oleh setiap mudaris, yaitu seluruh staff pengajar di pondok pesantren. Kondisi

(11)

Tabligh: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 4 No. 4 (2019) 387-402 397

mudaris sebagai tenaga kerja pengajar yang siap mengabdi dan berjuang bersama kyai tentu memiliki kemampuannya masing-masing. Kemampuan tersebut lah yang dijadikan patokan untuk pengambilan keputusan oleh KH Muhammad Ridwan (Sumber: Hasil wawancara bersama KH Muhammad Ridwan tanggal 25 Mei 2019).

Pogram Kerja KH Muhammad Ridwan dalam Pengembangan Dakwah Telah diketahui bahwa dalam organisasi dibidang yang cakupannya besar maupun kecil baik negara politik sosial dan sebagainya, dibuat atau dibentuk sebagai wahana untuk mencapai sesuatu dengan program-program baik yang bersifat jangka panjang maupun pendek yang tidak mungkin dapat tercapai tanpa ada kerjasama dari pimpinan dan usaha masing-masing anggotanya (Siagian, 2015: 48).

Dalam organisasi teori manajeman terdapat istilah planning yaitu fungsi dasar dari manajemen, karena organizing, controlling directing dan staffing pun harus terlebih dahulu direncanakan. Perencanaan ini adalah dinamis. Perencanaan ini sebagai bentuk tujuan di masa depan perlu dipersiapkan karena pasti dimungkinkan adanya perubahan kondisi dan situasi (Hasibuan, 2014: 91).

Pemimpin bertanggung jawab terhadap semua yang dilaksanakan sebagaimana yang telah direncanakan, mengarahkan anggota bawahannya meluruskan dan memberitahu dari hal yang besar sampai pada hal yang terkecil.

Apa yang harus dilakukan, siapa yang harus melakukan, dimana akan dilaksanakan, dan kapan akan dilaksanakan kegiatan dari perencaan tersebut.

Semua ini merupakan hubungan rencana menuju sampai tercapainya sebuah tujuan yang telah ditentukan (Karjadi, 1989: 56).

Program Muharaman ini adalah sebuah acara besar dipesantren Al- Islamiyyah yang dilaksanakan setiap tahun sekali pada tanggal 1 bertepatan dengan tahun baru Islam tanggal 1 Muharam tahun Hijriyah. Diselenggarakannya program ini adalah bertujuan untuk mensyukuri Hari Besar Islam dan sebagai silaturahmi akbar seluruh umat Islam pada umumnya untuk bersama berkumpul dipesantren Al-Islamiyyah. Dengan terselenggaranya program ini para alumni pesantren pun ikut menghadiri dan menjadi ajang silaturahmi para alumni.

Dalam satu program ini, yakni Muharaman didalamnya juga diadakan acara haul dan haul ini diumumkan kepada siapa saja yang berniat menghaulkan orang tua atau keluarganya. Berbeda dengan pesantren pada umum nya ketika ada haul hanya untuk dikhususkan. Namun dipesantren Al-Islamiyyah diselenggarakan dan dipersilahkan untuk bersama-sama menghaulkan para orangtuanya atau keluarganya yang ingin dihaulkan dalam acara Muharaman di Pondok Pesantren Al-Islamiyyah.

Disetiap malam tanggal ke 14 bulan tahun hijriyah Pondok Pesantren Al- Islamiyyah selalu mengadakan acara shalat sunnah dan pengajian di masjid

(12)

398 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 4 No. 4 (2019) 387-402

pesantren, yaitu shalat-shalat sunnah dan pengajian di waktu magrib sampai dengan selesai. Dalam program ini Pangersa Akang, KH Muhammad Ridwan membimbing seluruh masyarakat untuk melaksanakan sholat sunnah beserta doa-doanya.

Sholat sunnah yang selalu dirutinkan di acara malam 14-an ini adalah sholat sunnah awwabin, tobat, hifdzil iman dan hajat. Kemudian dilanjutkan dengan khataman Al-Qur’an dan di tutup dengan pengajian tafsir Qur’an Al Jalalain yang diikuti oleh seluruh warga beserta para santri putra dan putri.

Program ini bertujuan untuk meningkatkan amaliah dan semangat mencari ilmu untuk para warga dan santri.

Bentuk Peran KH Muhammad Ridwan Dalam Pengembangan Dakwah Di Pondok Pesantren

Peran atau role merupakan aspek yang dinamis dalam suatu kedudukan. Apabila seseorang memenuhi hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, seorang tersebut itulah yang disebut peran (Soekanto, 2010:2 12).

Dalam sebuah lingkungan umat Islam pada umumnya, ulama menjadi seorang figur yang merupakan pemimpin informal, yang diakui dan diterima secara langsung oleh masyarakat. Kepemimpinannya diakui dan diterima tanpa ada batas waktu. Pemimpin seperti ini tanpa adanya pengangkatan tanpa ditunjuk oleh kekuatan atau kekuasaan tertentu, namun langsung diakui, diterima serta dipatuhi kepemimpinannya oleh jumlah orang yang banyak dilingkungannya.

Sebagaimana yang telah dikemukakan diatas bahwa seorang ulama atau kyai disekitar kita memiliki keunggulan tertentu sehingga diakui memiliki kelebihan dan pengaruh yang baik yang diterima secara langsung tanpa adanya ketentuan atau penunjukan oleh seseorang. Pengaruh Kyai atau ulama tergantung pada loyalitas komunitas terbatas yang dimotivasi dari perasaan utang budi, namun sepenuhnya ditentukan oleh kualitas kekarismatik dan kewibawaan mereka (Kompri, 2018: 207).

Dari semua bentuk peran, KH Muhammad Ridwan menerapkan dan memiliki bentuk perannya pertama sebagai individu yang baik bagi lembaganya.

Kedua sebagai pemimpin yang informal, dan yang ketiga sebagai tauladan bagi para anggotanya. Semua bentuk tersebut berada pada diri KH Muhammad Ridwan hal inipun menunjukan bahwa karismatik seorang kyai benar-benar ada dan terlihat dari jiwa kepemimpinan KH Muhammad Ridwan.

Sebagai contoh peran KH Muhammad Ridwan terhadap santrinya adalah dengan sikap yang lemah lembut dan tegas. Dalam memberikan nasihat dan perintah dilakukannya metode pendekatan. Terhadap santri A dengan cara lemah-lembut terhadap santri B secara keras dan tegas. Dalam memberikan contoh KH Muhammad Ridwan tidak hanya memberikan contoh namun juga beliau sekaligus menjadi contoh bagi para bawahan mudaris ataupun santri.

(13)

Tabligh: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 4 No. 4 (2019) 387-402 399

Beliau mengajarkan dan memberi ilmu dengan memberikan contoh dan menjadi contoh.

Deskripsi keteladan KH Muhammad Ridwan pernah diberikan kepada santri salah satunya kepribadian diri sebagai pemimpin yang harus menjadi teladan. Keteladanannya ditunjukan dengan diawali dari hal yang terkecil. Pak Dede Wahyudi akrab dengan panggilan Pak Dewa berkata, “Contoh, dalam satu waktu beliau membersihkan kue-kue sisa dalam nampan padahal santri banyak yang memperhatikan namun beliau tidak memerintahkan pekerjaan tersebut.

Pada akhirnya santripun datang dan menawarkan biar santrilah yang melakukan hal demikian” (Sumber: Hasil wawancara bersama Dewan Mudaris Dede Wahyudi tanggal 4 Juni 2019).

Sistem kepercayaan pesantren adalah ahlussunnah wajamaah (NU). Para santri baru dan masyarakat yang memasuki area pesantren Bustanul Wildan akan diikat dengan kepercayaan NU. Bahkan, tradisi-tradisi yang dikembangkan oleh pesantren adalah tradisi masyarakat NU, seperti yasinan, muludan, rajaban, tahlilan dan banyak lagi. Begitu juga dengan sistem pengajaranya yang masih mengunakan sistem badongan dan sorogan yang menjadi identitas komunal pesantren (Rahman, 2016: 394).

PENUTUP

Berdasarkan hasil dari penelitian peran kepemimpinan KH Muhammad Ridwan dalam pengembangan dakwah di Pondok Pesantren Al-Islamiyyah, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa: (1) Pengambilan keputusan dalam pengembangan dakwah di pesantren dari setiap segi dakwah dan pendidikan KH Muhammad Ridwan menggunakan tiga metode, yaitu: (a) Metode standar dakwah. Maksud dari standar dakwah tersebut adalah Iman, Islam dan Ihsan. Keimanan, keislaman dan keihsanan menjadi pedoman utama dalam pengambilan keputusan. (b) Melihat kondisi lingkungan. Baik buruknya lingkungan akan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan oleh sebab itu perlu dalam memperhatikan kondisi lingkungan. (c) Melihat kondisi Mudaris (guru). Yakni keadaan dan kemampuan para guru mengaji di pondok pesantren. Hal ini dikarenakan kemampuan ustadz sebagai kekuatan mengajar di pondok pesantren berbeda-beda. (2) Dalam pengembangan dakwah di Pondok Pesantren, KH Muhammad Ridwan memprogramkan sebuah program rutin seperti Muharaman yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali, malam empat belasan setiap satu bulan sekali, dan pengajian-pengajian umum bagi bapak dan ibu-ibu yang dilaksanakan setiap satu minggu satu kali. Kemudian pada pembangunan fasilitas seperti asrama adalah sebagai program kebutuhan yang dibutuhkan untuk memenuhi fasilitas bagi santri. (3) Bentuk Peran yang dijalankan oleh KH Muhammad Ridwan dalam memimpin lembaga pesantren adalah mencakup pada tiga bentuk. Pertama, berperan sebagai inidividu terbaik bagi kelompoknya.

(14)

400 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 4 No. 4 (2019) 387-402

Kedua, sebagai pemimpin informal, pemimpin yang diakui kepemimpinannya tanpa batas waktu kapanpun dan dimanapun karena kekarismatikannya pemimpin informal juga tidak adanya pengangkatan dan penurunan menjadi pemimpi masyarakat dan dari pengakuan masyarakat sendiri. kemudian yang ketiga sebagai tauladan bagi bawahan yang dipimpinnya.

Sebagai saran pada simpulan diatas, telah diketahui bahwa perencanaan dan pengambilan keputusan KH Muhammad Ridwan mengutamakan pada aspek standar dakwah dan tidak lepas dari hal tersebut. Standar dakwah yang dimaksud adalah Iman, Islam dan Ihsan. Dalam penelitian ini telah ditemukan peristiwa kedekatan kyai bersama santri melalui penghormatan dan memuliakan, santri kepada kyainya karena kekarismatikannya. Termasuk dalam memperhatikan lingkungan dan keadaan mudaris (ustadz) yang mengajar di pondok pesantren.

Dengan rasa takdzim dan takriman kepada pondok pesantren dan kepada kyai, penulis yang jauh dari kesempurnaan ini memerikan sedikit saran sebagai berikut:

(1) Dalam pengembangan pesantren seabagai bentuk pengembangan dakwah, sekiranya manajemen kepengurusan santri perlu dimaksimalkan kembali dalam hal pendataan dan administrasi santri. Sebagai penyimpanan data dapat ditulis manual dan disimpan dalam file pengurus, bilamana diperlukan dapat mudah dicari dan diambil, (2) Memberikan bimbingan dan motivasi bagi para santri secara menyeluruh, terutama bagi pengurus santri sehingga mampu menjalankan tugas yang telah direncanakan dengan maksimal. Dan Santri dapat dengan terbuka mengadakan acara program dalam pesantren, (3) Pihak pesantren mengadakan evaluasi dan pengontrolan terhadap santri, baik di dalam pesantren maupun diluar seperti di sekolah dan di masyarakat mengenai perkembangan akhlak santri dan dampak dari tugas kewajibannya dalam mendakwahkan Islam dengan metodenya masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

Anoraga, (1992). Psikologi Kepemimpinan. Jakarta: Rineka Cipta.

Berry, D. (1981). Pokok-Pokok Pemeikiran dalam Sosiologi. Jakarta: Rajawali.

Dhofier, Z. (2015). Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES.

Gordon, T. (1990). Kepemimpinan Yang Efektif. Jakarta: CV Rajawali.

Hadari, N. (1995). Kepemimpinan Yang Eektif. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Hasibuan, D.H. (2014). Manajemen (Dasar, Peneltian dan Masalah). Jakarta. PT Bumi Aksara.

Karjadi, (1989). Kepemimpinan (Leadership). Bogor: PT Karya Nusantara Bandung.

Kartono, (2014). Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: PT Raja Grapindo.

Kompri, (2018). Manajemen dan Kepemimpinan Pondok Pesantren. Jakarta:

Prenadamedia Group.

(15)

Tabligh: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 4 No. 4 (2019) 387-402 401

Muhyiddin, S. (2002). Metode Pengembangan Dakwah. Bandung: Pustaka Setia.

Nawawi, H. H. (2006). Kepemimpinan Mengefektifkan Organisasi. Yogyakarta:

Gadjah Mada Universitas Press.

Nurfalah, R. Strategi Pimpinan dalam Optimalisasi Rekrutmen Jamaah Haji, Anida: Aktualisasi Nuansa Ilmu Dakwah, 17.2: 127-146. 29 Nov. 2019

Rahman, T. (2016). Komunikasi Dakwah Pesantren Tradisional, Ilmu Dakwah:

Academic Journal for Homiletic Studies, 10.2: 375-397. 29 Nov. 2019 Siagian, (2015). Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Muspiroh, S. (2017). Kepemimpinan Ustadz Iwan Hermawan dalam Mengembangkan Pondok Pesantren Salafiyah Al-Mu’awanah, Tadbir:

Manajemen Dakwah, 2.1: 34-50. 29 Nov. 2019

Soekanto, S. (2007). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grapindo Persada.

Sukamto, (1999). Kepemimpinan Kiyai Dalam Pesantren. Jakarta: LP3ES.

Syaini, (2012). Sosiologi Skematika Teori dan Terapan. Jakarta: Bumi Akasara.

Munir, (2015). Manajemen Dakwah. Jakarta: Prenadamedia Group.

(16)

402 Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 4 No. 4 (2019) 387-402

Referensi

Dokumen terkait

Tesis yang berjudul ‚ Peran Alumni dalam Pengembangan Unit Usaha Pesantren (Studi Kasus Pondok Pesantren Nurul Jadid) ‛ ini merupakan hasil penelitian yang

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) KH Ahmad Chusnan Abdullah dengan berbekal ilmu tiga tahun menjadi santri dapat berhasil mengembangkan pondok

Menyatakan bahwa tesis yang berjudul “Peran Kepemimpinan Kyai dan Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) dalam Pembentukan Jiwa Kemandirian dan Entrepreneurship Santri di Pondok

Perempuan di Pondok Pesantren (Studi di Pondok Pesantren Hajroh Basyir Salafiyah Kajen Margoyoso Pati)”. Skripsi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran manajemen dakwah yang diterapkan di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum 2 Bonto Parang adalah yang sesuai

Penelitian adalah tentang peran kepemimpinan kiai di pondok pesantren Ar-Risalah. Pondok pesantren Ar-Risalah yang baru berdiri 15 tahun dan sudah memiliki lembaga pendidikan

Selain dukungan dana datang dari keluarga besar Muhammad Dawam, saat merintis berdirinya pondok pesantren dana juga datang dari masyarakat Sendangagung sesuai

“Pola Kepemimpinan Kiai dalam Pendidikan Pesantren Penelitian di Pondok Pesantren As-syi’ar Leles”, Jurnal Pendidikan Universitas Garut Vol.. Al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad bin