SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Serjana Pendidikan (S.Pd) Pada Program Studi
Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh : Khaerani 105191108816
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1441 H/2020 M
ii SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Serjana Pendidikan (S.Pd) Pada Program Studi
Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh : Khaerani 105191108816
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1441 H/2020 M
vii
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan keagamaan yang berada di MAN 1 Makassar, mengetahui peran guru Pendidikan Agama Islam dan untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam membina kegiatan keagamaan siswa di MAN 1 Makassar.
Penelitian ini adalah penelitian pendekatan kualitatif dengan menggunakan analisis deskriptif , metode pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil penelitian membuktikan bahwa Peran Guru PAI dalam membina kegiatan keagamaan siswa di MAN 1 Makassar sudah berperan aktif dalam melakukan pembinaan kegiatan keagamaan siswa, hal ini berdasarkan hasil wawancara Guru dan siswa diantaranya yang pertama guru pendidikan agama Islam berperan sebagai Pembina dan sebagai contoh tauladan yang baik bagi siswa . Peran yang kedua ialah sebagai motoric/penggerak siswa untuk mengajak dan mengarahkan siswa untuk melakukan kegiatan keagamaan, dan peran yang ketiga adalah berperan memberi bimbingan, serta motivasi atau pencerahan kepada siswa untuk senantiasa melakukan kebaikan. Adapun kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di MAN 1 Makassar yaitu shalat dhuha ,tadarus Al-Qur‟an,
tahahsruzazd trahdh hrdmhjhha rhd mzaszj ghdy roahmzmhd ia eh siswa secara bergiliran perkelas. Sedangkan faktor pendukung dalam membina kegiatan keagamaan siswa di MAN 1 Makassar meliputi sarana dan prasarana yang memadai dan. Selain itu guru-guru juga tidak pernah ketinggalan untuk mendampingi para siswa untuk melaksanakan kegiatan keagamaan disetiap harinya dengan cara membimbing dan memberikan motivasi kepada siswa.
Adapun faktor penghambat ialah kesadaran siswa itu sendiri yang kurang sadar akan pentingnya kegiatan keagamaan dan banyaknya jumlah siswa yang membuat guru terkadang kewalahan dalam mengarahkan siswa dalam menjalankan kegiatan keagamaan.
KATA KUNCI : Peranan Guru, Kegiatan Keagamaan
viii
Dengan menyebut asma Allah rabb semesta alam, kami panjatkan puji syukur kehadirat Ilahi Robbi atas ridho serta rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan seluruh rangkaian proses penelitian skripsi sekaligus menyelesaikan studi pada jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam. Shalawat serta salam mudah-mudahan tetap tercurahkan kepada kekasih Allah, Nabiullah Muhammad SAW, para sahabat dan keluarganya serta ummat yang senantiasa istiqomah di jalan-Nya.
Tiada jalan tanpa rintangan, tiada puncak tanpa tanjakan , tiada kesuksesan tanpa perjuangan. Dengan kesungguhan dan keyakinan untuk terus melangkah, akhirnya sampai dititik akhir penyelesaian skripsi. Namun, semua tak lepas dari uluran tangan berbagai pihak lewat dukungan, arahan, bimbingan, serta bantuan moril dan materil.
Ucapan terima kasih yang tak terhingga, penulis haturkan kepada:
1. Kedua orang tua tercinta Ayahanda Muh.Yusuf Hamzah dan Ibunda Rosmiati, yang tiada henti-hentinya medoakan, memberikan dorongan moril maupun materil selama menempuh pendidikan.
2. Prof. Dr. H. Abd. Rahman Rahim, S.E., M.M. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I, Dekan Fakultas Agama Islam.
4. Dra. Mustahidang Usman, M.Si dan Wahdaniya S.Pd., M.Pd.I pembimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
ix
6. Terakhir ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Sahabat dan teman- teman seperjuangan yang namanya tidak sempat penulis sebutkan satu persatu yang turut memberi andil, sumbang saran, dan kritik, baik secara materi maupun moril sejak penulis aktif dalam perkuliahan hingga penulisan dan penyelesaian skripsi ini.
Semoga Allah SWT, memberikan balasan yang berlipat ganda kepada semuanya. Penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak yang sifatnya membangun. Mudah-mudahan skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi penulis.Aamiin.
Makassar, 19 Syabban 1441 H . 13 April 2020 M.
Penulis
KHAERANI
x
HALAMAN JUDUL………ii
PENGESAHAN SKRIPSI ... iii
BERITA ACARA MUNAQASYAH………..iv
PERSETUJUAN PEMBIMBING. ... v
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI………...vi
ABSTRAK………. ... vii
KATA PENGANTAR.. ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR INFORMAN. ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
A. Tinjauan Tentang Guru ... 6
1. Pengertian Guru ... 6
2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Guru...8
3. Kedudukan Guru dalam Islam...9
4. Peran Guru...11
B. Dasar Pendidikan Agama Islam...21
xi
1. Pengertian Kegiatan Keagamaan...35
2. Bentuk-bemtuk Kegiatan Keagamaan………36
3. Manfaat kegiatan Keagamaan di Sekolah...39
4. Tujuan dan Fungsi Kegiatan Keagamaan...40
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 42
A. Jenis Penelitian ... 42
B. Lokasi Penelitian ... 43
C. Fokus Penelitian ... 43
D. Deskripsi Penellitian ... 43
E. Sumber Data ... 44
F. Instrumen Penelitian... 45
G. Teknik Pengumpulan Data ... 46
H. Teknik Analisis Data ... 47
BAB IV HASIL PENELITIAN………48
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 48
1. Sejarah Singkat………...48
2. Nama sekolah, lokasi sekolah, visi dan misi sekolah………..51
3. Keadaa Guru…...52
4. Keadaan Siswa ... .54
5. Sarana dan Prasarana Sekolah…….. ... .55
B. Pembahasan ... 56
1. Bentuk Kegiatan Keagamaan Siswa di MAN 1 Makassar…...56
xii
BAB V PENUTUP……….…68
A. Kesimpulan ... 68
B. Saran ... 70
DAFTAR PUSTAKA ... 71
DAFTAR RIWAYAT HIDUP.…………..………74
LAMPIRAN………..……….…….75
xiii
Tabel 1 Kepala Sekolah dari periode ke periode………...50
Tabel 2 Tenaga Pendidik PNS..………52
Tabel 3 Tenaga Pendidik Non PNS………..………54
Tabel 4 Data Jumlah Siswa………...………55
Tabel 5 Fasilitas Sekolah………...……55
xiv
Aulia Wasilah, siswa MAN 1 Makassar, Wawancara 2020 Arsy Syafana Harun, siswa MAN 1 Makassar, Wawancara 2020 Afriyani, siswa MAN 1 Makassar, Wawancara 2020
Adinda Anil Bunga, siswa MAN 1 Makassar, Wawancara 2020 Hasni, guru PAI MAN 1 Makassar, Wawancara 2020
Marsyudi, guru PAI MAN 1 Makassar, Wawancara 2020 Muli, guru PAI MAN 1 Makassar, Wawancara 2020
Muh.Ikhlas Safar, siswa MAN 1 Makassar, Wawancara 2020 Magfiratul Adawiyah, siswa MAN 1 Makassar, Wawancara 2020 Nursyidin, guru PAI MAN 1 Makassar, Wawancara 2020
Rihul Islam Syaputra, siswa MAN 1 Makassar, Wawancara 2020 Syahrul, siswa MAN 1 Makassar, Wawancara
1 A. Latar Belakang
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generai ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.
Pendidikan dewasa ini sangat memprihatinkan, dimana masyarakat di sekolah, rumah tangga, dan lingkungan, tidak terpisahkan dengan sumber daya alam, yakni: semua orang mendapatkan pendidikan dan melaksanakan pendidikan. Sebab pendidikan tidak pernah terpisah dengan kehidupan manusia.
Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga mereka juga akan mendidik anak-anaknya. Begitu pula di sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dididik oleh guru dan dosen.1
Pendidikan sebagai suatu sistem terdiri atas berbagai komponen yang masing-masing saling berkaitan dan berhubungan untuk mencapai keberhasilan pendidikan sesuai dengan apa yang telah diprogramkan. Dengan demikian setiap komponen memiliki sifat ketergantungan antar sesama dan keselarasan antar komponen ini akan menopang keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan.
Menurut Jalaludin, alat pendidikan adalah segala sesuatu yang bisa menunjang
1 Made widarta, Landasan Kependidikan,(Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009), h.1
kelancaran pendidikan dan salah satu dari alat pendidikan tersebut adalah pendidik.2
Pendidikan akan berlangsung sepanjang hidup manusia. Semenjak manusia dilahirkan, orang yang pertama mendidiknya adalah kedua orang tuanya.
Kemudian kedua orang tuanya membutuhkan sosok pendidik yang dapat memberikan pendidikan yang bagus kepada anaknya, yaitu dengan mengantar anaknya ke lembaga pendidikan atau sekolah.
Di sekolah orang yang sangat berperan dalam mendidik anak adalah guru.
Dapat dikatakan guru merupakan pendidik kedua setelah kedua orang tua seorang anak maupun siswa. Di sekolah guru menjadi tumpuan yang paling utama dalam pelaksanaan pembelajaran. Suatu lembaga pendidikan atau sekolah tidak disebut lembaga apabila didalamnya tidak terdapat sosok seorang pendidik atau guru.
Menurut Zakiyah Daradjat :
“Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami kandungan ajaran Islam secara menyeluruh, menghayati makna tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.”3
Guru pendidikan agama Islam merupakan seorang yang memberikan pendidikan atau ilmu dalam bidang aspek keagamaan dan membimbing anak didik kearah pencapaian kedewasaan serta membentuk kepribadian muslim yang berakhlak, sehingga terjadi keseimbangan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
2 Jalaludin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2002), Cet. Ke-2, h.
110
3 Abdul Majid, Belajar dan pembelajaran (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), h.
11-12.
Seorang guru juga memiliki tugas utama, yaitu membaca, mengenal dan berkomunikasi. Selain dari pada itu guru juga mempunyai fungsi atau manfaat.
Adapaun manfaat seorang guru adalah mengajarkan, membimbing/mengarahkan dan membina. Fungsi guru yang sangat vital adalah membina. Ini merupakan puncak dari rangkaian fungsi guru. Membina adalah berupaya dengan sungguh- sungguh untuk menjadikan sesuatu lebih baik dari sebelumnya. Karena setelah mengajarkan sesutu kepada murid, selanjutnya guru akan membimbing, mengarahkan, dan kemudian membina murid tersebut.4
Dalam sekolah, pendidikan agama Islam sangat penting untuk pembinaan serta penyempurnaan pertumbuhan kepribadian dan kebiasaan perilaku anak didik, untuk itu pembinaan kegiatan keagamaan kepada anak didik sangatlah diperlukan agar anak didik dapat melaksanakan kegiatan keagamaan dengan baik dan bisa membiasakan sekaligus menerapkan pada kehidupan sehari-harinya.
Kegiatan keagamaan yaitu suatu perihal yang melaksanakan atau mengerjakan suatu nilai-nilai yang sangat penting dan berguna bagi manusia yaitu nilai-nilai keagamaan berupa ajaran-ajaran agama kepada orang lain, sehingga menjadi pedoman bagi tingkah laku kegiatan keagamaan orang tersebut. Kegiatan keagamaan merupakan proses memasukkan suatu unsur keyakinan / keimanan yang dipercaya kebenarannya mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan ajaran atau faham tentang agama. Peranan kegiatan keagamaan merupakan usaha untuk melaksanakan atau untuk mengerjakan sesuatu dalam bersikap dan berpikir sehingga diarahkan ke jalan sesuai menurut ajaran-ajaran yang sudah ditetapkan
4 Hamka Abdul Aziz, Karakter Guru Profesional; Melahirkan Murid Unggul Menjawab Tantangan Masa Depan, (Jakarta: Al-Mawardi Prima, 2012), h. 33
oleh Allah Subhanahu wa ta‟ala yang terdapat didalam al-Qur‟an dan diajarkan oleh Nabi Muhammad Sallallahu‟alaihi wasallam.
Program pembinaan kegiatan keagamaan disekolah bertujuan untuk meningkatkan pemahaman terhadap agama dan menumbuh kembangkan akhlak Islami yang mengintegrasikan hubungan dengan Allah. Pembinaan kegiatan keagamaan disekolah dapat dilakukan dengan cara memberi contoh kepada anak didik kemudian anak didik dipersilahkan untuk mempraktekannya dan selanjutnya menerapkan setiap hari, tentunya dengan pendampingan dan pengawasan guru terlebih dahulu.
Dari paparan di atas maka peneliti merasa tertarik untuk membahas tentang peran guru PAI dalam membina kegiatan keagamaan siswa disekolah, karena sekolah merupakan tempat yang sangat tepat untuk menumbuhkan serta membentuk karakter siswa yang berperilaku baik dan religius.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Bagaimana kegiatan keagamaan siswa di MAN 1 Makassar?
2. Bagaimana peran guru pendidikan agama Islam dalam membina kegiatan keagamaan siswa di MAN 1 Makassar?
3. Apa faktor pendukung dan penghambat guru pendidikan agama Islam dalam membina kegiatan keagamaan siswa di MAN 1 Makassar?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui kegiatan keagamaan siswa di MAN 1 Makassar
2. Untuk mengetahui peran guru Pendidikan agama Islam dalam membina kegiatan keagamaan siswa di MAN 1 Makassar
3. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi guru Pendidikan agama Islam dalam membina kegiatan keagamaan siswa di MAN 1 Makassar
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Bagi akademik menjadi bahan informasi, masukan serta pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang pendidikan agama Islam dalam meningkatkan mutu pelajaran sesuai dengan tujuan masing-masing.
b. Bagi peneliti, dapat digunakan sebagai sarana untuk menelaah sejauh mana ilmu pengetahuan yang telah peneliti pelajari dengan kenyataan di lapangan.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan guru dalam membina kegiatan keagamaan siswa.
b. Bagi Siswa
Hasil penelitian ini diharapkan siswa dapat mengerti, memahami dan mampu menerapkan kegiatan keagamaan.
6 1. Pengertian Guru
Pendidik adalah, guru yang professional dan berkinerja untuk mencapai tujuan pendidikan. Guru sebagai pelatih, pembimbing, pemelihara untuk mencerdaskan kehidupan anak- anak bangsa dengan menanamkan nilai-nilai sikap dan perilaku sesuai dengan tuntunan pendidikan.
Dalam Undang-undang no.20 Bab XI pasal 39 tahun 2003 tentangsisdiknas, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan guru atau pendidik:
Guru merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.5
Guru adalah salah satu unsur manusia dalam proses pendidikan. Unsur manusiawi lainnya adalah anak didik. Guru dan anak didik berada dalam suatu relasi kejiwaan. Keduanya berada dalam proses interaksi edukatif dengan tugas dan peranan yang berbeda.
Secara umum, guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan, mulai dari tingkat PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), pendidikan dasar, hingga menengah. Dalam hal ini, untuk dapat melakukan peranan dan melaksanakan tugas, guru harus memiliki kualifikasi formal yang dipersyaratkan. Syarat-syarat inilah yang akan membedakan antara guru dengan manusia-manusia lain pada
5 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 (2003), h.21
umumnya. Adapun syarat-syarat menjadi guru dapat diklafikasikan menjadi beberapa kelompok.
a. Persyaratan administratif
1) Soal kewarganegaraan (warga Negara Indonesia) 2) Umur (sekurang-kurangnya 18 tahun)
3) Berkelakuan baik, mengajukan permohonan
4) Syarat-syarat lain yang telah ditentukan sesuai dengan kebijakan yang ada.
b. Persyaratan teknis
1) Bersifat formal, yakni harus berijazah pendidikan guru 2) Mampu mengajar (menguasai cara dan teknik mengajar) 3) Terampil mendesain program pengajaran
4) Memiliki motivasi dan cita-cita memajukan pendidikan/pengajaran c. Persyaratan Psikis
1) Memiliki panggilan hati nurani untuk mengabdi untuk anak didik 2) Sehat rohani
3) Sabar, ramah dan sopan
4) Dewasa dalam berpikir dan bertindak 5) Mampu mengendalikan emosi
6) Memiliki jiwa kepemimpinan
7) Konsekuen dan berani bertanggung jawab 8) Mematuhi norma dan nilai yang berlaku 9) Memiliki jiwa dan semangat membangun d. Persyaratan fisik
1) Berbadan sehat
2) Tidak memiliki gejala-gejala penyakit yang menular
3) Dalam hal ini juga menyangkut kerapian dan kebersihan, termasuk bagaimana cara berpakaian, mengingat guru akan selalu dilihat/diamati dan bahkan dinilai oleh para siswa/anak didiknya.
e. Persyaratan mental
1) Memiliki sikap mental yang baik
2) Mencintai dan mengabdi pada tugas jabatan 3) Bermental pancasila
4) Bersikap hidup demokratis
f. Persyaratan moral
1) Guru harus mempunyai sifat social dan budi pekerti yang luhur 2) Sanggup berbuat kebajikan
3) Bertingkah laku yang bisa dijadikan suri tauladan bagi orang-orang dan masyarakat di sekelilingnya.6
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Guru merupakan tenaga pendidik yang memiliki tugas yaitu, mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didiknya.
2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Guru
Menurut PP 19 tahun 2017, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. UU 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Bab 1 pasal 1 ayat 4 menyatakan bahwa :
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Keterampilan dasar adalah suatu karakteristik umum dari seseorang yang berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan yang diwujudkan melalui tindakan.7
Mengacu pada UU No. 20/2003 Bab II pasal 3, tujuan umum pendidikan profesi guru adalah :
Menghasilkan calon guru yang memiliki kemampuan mewujudkan tujuan pendidika nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa. Tujuan khusus pendidikan profesi guru adalah menghasilkan calon guru yang memiliki kompetensi, merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan peserta didik pada
6 Nini Subini, Awas Jangan Jadi Guru Karbitan: Kesalahan-Kesalahan Guru dalam Pendidikan dan Pembelajaran (Jogjakarta:Javalitera, 2012), h.9
7https://yunandra.com/9-keterampilan-dasar-guru/
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta melakukan penelitian.8
Pendidikan profesi guru memiliki tujuan umum dalam programnya, yakni untuk menghasilkan para calon guru agar dapat memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan dari pendidikan nasional.Tujuan itu untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh para siswa untuk dapat menjadi manusia yang bertaqwa. Selain itu ada tujuan khusus yang dengan pengembangan PPG yaitu yang telah disebutkan dalam permendiknas No. 8 pada tahun 2009, disebutkan bahwa PPG memiliki tujuan untuk mengembangkan profesionalitas secara berkala dan berkelenjutan, menghasilkan guru yang memiliki berbagai kompetensi dalam pelaksanaan serta perancangannya, menilai evaluasi belajar, memberikan bimbingan serta pelatihan kepada murid ketika sedang melakukan penelitian, dan yang terakhir menindaklanjuti penilaian dari kegiatan belajar berlangsung.9
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Tujuan pendidikan guru adalah untuk menghasilkan guru yang memiliki berbagai kompetensi untuk mewujudkan tujuan dari pendidikan nasional.
3. Kedudukan Guru dalam Islam
Hampir di semua bangsa yang beradab, guru diakui sebagai suatu profesi khusus. Dikatakan demikian, karena profesi keguruan bukan saja memerlukan keahlian tertentu sebagaiamana profesi lain, tetapi juga mengemban misi yang paling berharga, yaitu pendidikan dan peradaban. Atas dasar itu, dalam kebudayaan bangsa yang beradab, guru senantiasa diagungkan, disanjung,
8Ibid h.10
9 http://intanuntirta.blogspot.com/2016/12/tujuan-pendidikan-profesi-guru.html?m=1uan tujuan pendidikan profesi guru
dikagumi, dan dihormati, karena perannya yang penting bagi eksistensi bangsa di masa depan.10
Secara normatif, kedudukan guru dalam Islam sangat mulia. Tidak sedikit penulis yang menyimpulkan kedudukan guru setingkat dibawah kedudukan nabi dan rasul, seraya mengemukakan perkataan ulama: “tinta para Ulama lebih baik dari darahnya para syuhada.” 11
Al- Ghazali mengatakan bahwa : “Siapa yang memilih pekerjaan mengajar maka ia sesungguhnya telah memilih pekerjaan yang besar dan benar.”12 Sebenarnya tingginya kedudukan dalam Islam merupakan realisasi ajaran Islam itu sendiri. Islam memuliakan pengetahuan; pengetahuan itu didapat dari belajar dan mengajar; yang belajar adalah calon guru, dan yang mengajar adalah guru.
Maka dengan itu Islam sangat memuliakan guru.
Sebagaimana menuntut ilmu, seorang guru atau pengajar juga akan dinaikkan derajatnya. Sebab seorang guru yang baik dan berlandaskan pada nilai pengajaran islam akan selalu mengajarkan ilmu yang bernilai kebaikan dan bermanfaat sebagaimana cara berdakwah yang baik menurut islam . Sehingga kemudian hasilnya tidak hanya bernilai kebaikan bagi yang menerima tapi juga berbuah kebaikan bagi yang mengajarkan. Sebagaimana dalam Firman Allah SWT QS Al-Mujadilah ayat 11 berikut :
َو ۖ ْمُكَن ُ َّللَّٱ ِحَسْفٌَ ۟اىُحَسْفٱَف ِسِه ََٰجَمْنٱ ىِف ۟اىُحَّسَفَح ْمُكَن َمٍِق اَذِإ ۟آَٰىُىَماَء َهٌِرَّنٱ اَهٌَُّأٌَََٰٰٓ
۟اوُزُشوٱ َمٍِق اَذِإ
ِعَفْسٌَ ۟اوُزُشوٱَف سٍِبَخ َنىُهَمْعَح اَمِب ُ َّللَّٱَو ۚ ٍج ََٰجَزَد َمْهِعْنٱ ۟اىُحوُأ َهٌِرَّنٱَو ْمُكىِم ۟اىُىَماَء َهٌِرَّنٱ ُ َّللَّٱ
10 Marno, Strategi Metode dan Teknik Mengajar(Yogyakarta:Ar-ruzz media, 2017), h.16
11 Ibid h.17
12 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), h.76
Terjemahnya:
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang- lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”13
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa guru dalam Islam mendapat derajat yang tinggi, dikatakan demikian karena sebagaimana Islam mengangkat derajat orang-orang yang berilmu.
4. Peran Guru
Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Keyakinan ini muncul karena manusia adalah makhluk lemah, yang dalam perkembangannya senantiasa membutuhkan orang lain, sejak lahir, bahkan pada saat meninggal. Semua itu menunjukkan bahwa setiap orang membutuhkan orang lain dalam perkembangannya, demikian halnya peserta didik, ketika orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah pada saat itu juga ia menaruh harapan terhadap guru, agar anaknya dapat berkembang secara optimal.14
Sebagai “pengajar‟‟, “pendidik‟‟ dan “pembimbing‟‟, maka perlu adanya berbagai peranan pada diri guru. Peranan guru ini akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa (yang terutama), sesama guru, maupun dengan staf yang lain.
13 Kementrian Agama RI, Al- Quran dan Terjemahannya, Maghfira Pustaka, Jakarta : 2016, h.543
14 E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), h.
35
Dari berbagai kegiatan interaksi belajar mengajar, dapat dipandang sebagai sentral bagi peranannya. Sebab baik disadari atau tidak bahwa sebagian dari waktu dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk menggarap proses belajar mengajar dan berinteraksidengan siswanya.
Mengenai apa peranan guru itu ada beberapa pendapat yang dijelaskan sebagai berikut:
a. Prey katz menggambarkan peranan guru sebagai komunikator, Sahabat, pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai-nilai, orang yang menguasai bahan yang diajarkan.
b. Havighurst menjelaskan bahwa peranan guru di sekolah sebagai pegawai (employee) dalam hubungan kedinasan, sebagai bawahan (subordinate), terhadap atasannya, sebagai kolega dalam hubungannya dengan teman sejawat, sebagai mediator dalam hubungannya dengan anak didik, sebagi pengatur disiplin, evaluator dan pengganti orang tua.
c. James W . Brown, mengemukakan bahwa tugas dan peranan guru antara lain:
menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencana dan mempersiapkan pelajaran sehari- hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.
d. Federasi dan Organisasi Profesional Guru Sedunia, mengungkapkan bahwa peranan guru di sekolah tidak hanya sebagai transmitter dari ide tetapi juga berperan sebagai transformer dan katalisator dari nilai dan sikap.15
Menurut Zakiah Darajat dkk, guru mempunyai empat peranan dalam pendidikan meliputi:
15 Sardiman A.M, Interaksi Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014), h. 143
a. Guru sebagai pengajar
Sebagai pengajar, guru bertugas membina perkembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Meskipun tugasnya sebagai pengajar telah selesai, namun peranan guru sebagai pendidik dan pembimbing masih berlangsung terus.
Sebagai pengajar (lecturer) guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan serta senantiasa mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang demikian karena hal ini akan menentukan hasil belajar yang dicapai anak.
b. Guru sebagai pembimbing dan motivator
Guru sebagai pembimbing memberi bimbingan ada dua macam peranannya yang mengandung banyak perbedaan dan persamaan. Keduanya sering dilakukan oleh guru yang ingin mendidik dan yang bersikap mengasihi dan mencintai murid, dan guru sebagai pembimbing memberi tekanan kepada tugas, memberikan bantuan kepada siswa dalam pemecahan masalah yang dihadapinya.
Tugas ini merupakan aspek mendidik, sebab tidak hanya berkenaan dengan pengetahuan, tetapi juga menyangkut pengembangan kepribadian dan pembentukan nila-inilai para siswa.
c. Guru sebagai fasilitator
Berperan sebagai fasilitator, guru dalam hal ini akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses pembelajaran, misalnya saja dengan menciptakan suasana kegiatan belajar yang sedemikian rupa, serasi dengan perkembangan anak sehingga interaksi pembelajaran akan berlangsung secara efektif.
Dalam kegiatan pembelajaran, guru akan bertindak sebagai fasilisator dan motivator yang bersikap akrab dengan penuh tanggung jawab, serta memperlakukan peserta didik sebagai mitra dalam menggali dan mengolah informasi menuju tujuan belajar mengajar yang telah direncanakan. Guru dalam melaksanakan tugas profesinya selalu dihadapkan pada berbagai pilihan, karena kenyataan di lapangan kadang tidak sesuai dengan harapan, seperti cara bertindak, bahan belajar yang paling sesuai, metode penyajian yang paling efektif, alat bantu yang paling cocok, langkah-langkah yang paling efisien, sumber belajar yang paling lengkap, sistem evaluasi yang sesuai.
Meskipun guru sebagai pelaksana tugas otonom, guru juga diberikan keleluasaan untuk mengelola pembelajaran, dan guru harus dapat menentukan pilihannya dengan mempertimbangkan semua aspek yang relevan atau menunjang tujuan yang hendak dicapai. Dalam hal ini guru bertindak sebagai pengambil keputusan.
Sebagai fasilitator guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar mengajar, baik yang berupa narasumber, buku, teks, majalah, ataupun surat kabar.
d. Guru sebagai tenaga administrasi
Guru sebagai tenaga administrasi, bukan berarti sebagai pegawai kantor, melainkan sebagai pengelola kelas atau pengelola (manajer) interaksi belajar
mengajar. Dengan terjadinya pengelolaan yang baik, maka guru akan lebih mudah mempengaruhi anak dikelasnya dalam rangka pendidikan dan pengajaran.16
1) Peran Guru Dalam kegiatan Belajar-mengajar:
Dari beberapa pendapat diatas maka secara rinci peranan guru dalam kegiatan belajar-mengajar, secara singkat dapat disebutkan sebagai berikut:
a) Informator
Sebagai pelaksana cara mengajar informator, laboratorium, studi lapangan dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum. Maka dari itu berlaku teori komunikasi sebagai berikut:
(1) Terori setimulus- respons.
(2) Teori dissonance-reduction.
(3) Teori pendekatan fungsional.
b) Organisator
Sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, workshop, jadwal pelajaran dan lain-lain. Komponen-komponen yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, semua diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga dapat mencapai efektifitas dan efisiensi dalam belajar pada diri siswa.
c) Pengarah / director
Jiwa kepemimpinan bagi guru dalam peranan ini lebih menonjol. Guru dalam hal ini harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan
16 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2002), h. 124
pelajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan. Guru harus juga
“handayani”.
d) Inisiator
Guru dalam hal ini sebagai pencetus ide-ide dalam proses belajar. Sudah tentu ide-ide itu merupakan ide-ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didiknya. Jadi termasuk pula dalam lingkup semboyan “ing ngarso sung tulodo”.
e) Transmitter
Dalam kegiatan belajar guru juga akan bertindak selaku penyebar kebijaksanaan pendidikan dan pengetahuan.
f) Mediator
Guru sebagai mediator dapat diartikan sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa. Misalnya menengahi atau memberikan jalan keluar kemacetan dalam kegiatan diskusi siswa.Mediator juga diartikan menyediakan media. Begaimana cara memakai dan mengorganisasikan pengunaan media.
g) Evaluator
Ada kecenderungan bahawa peran guru sebagai evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menetukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak. Tetapi kalau diamati secara agak mendalam evaluasi yang dilakukan guru itu sering hanya merupakan evaluasi ekstrinsik dan sama sekali belum menyentuh evaluasi yang intrintik.
Evaluasi yang dimaksud adalah evaluasi yang mencakup pula evaluasi intrinsic. Untuk ini guru harus hati-hati dalam menjatuhkan nilai atau kriteria keberhasilan. Dalam hal ini tidak cukup hanya dilihat dari bisa atau tidaknya mengerjakan mata pelajaran yang diujikan, tetapi masih perlu ada pertimbangan-pertimbangan yang sangat unit dan kompleks, terutama yang menyangkut perilaku dan values yang ada pada masing-masing mata pelajaran.17
2) Tugas dan Tanggung Jawab Guru
Tugas dan tanggung jawab guru sebenarnya bukan hanya disekolah atau madrasah saja, tetapi bisa dimana saja mereka berada. Dirumah, guru sebagai orang tua dari anak mereka adalah pendidik bagi putera-puteri mereka.Didalam masyarakat desa tempat tinggalnya, guru sering dipandang sebagai tokoh teladan bagi orang-orang disekitarnya. Pandangan, pendapat, atau buah fikirannya sering menjadi ukuran atau pedoman kebenaran bagi orang-orang disekitarnya karena guru dianggap memiliki pengetahuan yang lebih luas dan lebih mendalam, dalam berbagai hal. Peters, sebagaimana dikutip oleh Nana Sudjana yang mengemukakan bahwa ada tiga tugas dan tanggung jawab guru, yaitu: guru sebagai pengajar, guru sebagai pembimbing, dan guru sebagai administrator kelas.18
Ketiga tugas guru tersebut, merupakan tugas pokok profesi guru.
Guru sebagai pengajar lebih menekankan pada tugas dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran. Dalam tugas ini guru dituntut memiliki
17 Sardiman A.M, Interaksi M0tivasi Belajar Mengajar.(Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014), h. 144-146
18Nana Sudjana, Dasar- dasar Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Sinar Baru, 1991), h. 15
sepererangkat pengetahuan dan keterampilan teknis mengajar, disamping menguasai ilmu atau meteri yang akan diajarkannya. Guru sebagai pembimbing memberi tekanan kepada tugas dan memberikan bantuan pada anak didik dalam pemecahan masalah yang dihadapi. Sedangkan tugas sebagai administrator kelas pada hakekatnya merupakan jalinan ketatalaksanaan pada umumnya.
Sedangkan menurut Piet A. Sahertian dan Ida Aleida, mengemukakan bahwa tugas guru dikategorikan dalam tiga hal, yaitu: tugas profesional, tugas personal dan tugas sosial.19 Untuk mempertegas dan memperjelas tugas guru tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
a) Tugas profesional guru
Tugas profesional guru yang meliputi mendidik, mengajar, dan melatih mempunyai arti yang berbeda. Tugas mendidik mempunyai arti bahwa guru harus meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup, sedangkan tugas mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan keterampilan-keterampilan kepada anak didik. Sehingga dengan demikian sebelum terjun dalam profesinya, guru sudah harus memiliki kemampuan baik yang bersifat edukatif maupun non edukatif.
Adapun tugas pokok seorang guru dalam kedudukannya sebagai pendidik professional atau tenaga pendidik seperti disebutkan dalam UU RI No.20 tahun 2003 Bab XI pasal 39 Ayat 1 dan 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan:
19 Pied A Sahertian dan Ida Aleida, Superfisi Pendidikan dalam Rangka Program Inservice Education. (Surabaya: Usaha Nasional, 1990), h. 38
(1) Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.
(2) Pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan penelitian, dan pengabdian kepada mayarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Pendidik yang mengajar pada satuan pendidikan dasar dan menengah disebut guru dan pendidik yang mengajar pada satuan pendidikan tinggi disebut dosen.20
b) Tugas personal guru
Guru merupakan ujung tombak dalam proses belajar mengajar didalam kelas. Oleh karena itu kemampuan guru merupakan indikator pada keberhasilan proses belajar mengajar. Disamping itu tugas profesionalisme guru juga mencakup tugas terhadap diri sendiri, terhadap keluarga, dan terutama tugas dalam lingkungan masyarakat dimana guru tersebut tinggal. Tugas-tugas tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang guru karena bagaimanapun juga sosok kehidupan seorang guru adalah merupakan sosok utama yang berkaitan dengan lingkungan dimana guru tinggal, sehingga guru harus mempunyai pribadi yang rangkap yang harus dapat diperankan dimana guru itu berada.
Tugas personal guru yang dimaksud disini adalah tugas yang berhubungan dengan tanggung jawab pribadi sebagai pendidik, dirinya sendiri dan konsep pribadinya.
20 Undang-Undang Republik Indonesia, Sistem Pendidikan Nasional. (Bandung: Citra Umbara, 2003), h. 27
Untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal, banyak dipengaruhi komponen-komponen belajar-mengajar. Sebagai contoh bagaimana cara mengorganisasikan materi, metode yang di terapkan, media yang digunakan, dan lain-lain. Tetapi disamping komponen-komponen pokok yang ada dalam kegiatan belajar mengajar, ada faktor lain yang ikut mepengaruhi keberhasilan belajar siswa, yaitu soal hubungan antara guru dan siswa.
c) Tugas sosial guru
Tugas sosial bagi seorang guru ini berkaitan dengan komitmen dan konsep guru dalam masyarakat tentang peranannya sebagai anggota masyarakat dan sebagai pembaharu pendidikan dalam masyarakat. Secara langsung maupun tidak langsung tugas tersebut harus dipikul dipundak guru dalam meningkatkan pembangunan pendidikan masyarakat.
Argumentasi sosial yang masih timbul dalam masyarakat adalah menempatkan kedudukan guru dalam posisi yang terhormat, yang bukan saja ditinjau dari profesi atau jabatannya, namun lebih dari itu merupakan sosok yang sangat kompeten terhadap perkembangan kepribadian anak didik untuk menjadi manusia–manusia kader pembangunan. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Ali Saifulloh H.A. dalam bukunya “Antara Filsafat dan Pendidikan“ yang mengemukakan bahwa argumentasi sosial ini melihat guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi adalah sebagai pendidik masyarakat sosial lingkungannya disamping masyarakat sosial profesi kerjanya sendiri.21
21 Ali Saifullah, Antara Filsafat dan Pendidikan. (Surabaya: Usaha Nasional, 1989), h.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa guru adalah seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu ilmu, mendidik, mengarahkan dan melatih siswanya agar memahami ilmu pengetahuan yang diajarkan. Peran guru sangat penting dalam proses menciptakan generasi yang berkualitas, baik secara intelektual maupun akhlaknya.
B. Dasar Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur‟an dan al-Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan, serta penggunaan pengalaman.22
a. Fungsi pendidikan agama Islam di Sekolah
1) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah Subhanahu wa ta‟ala yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan pertama-tama kewajiban menanamkan keimanan dan ketaqwaan dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga.
Sekolah berfungsi untuk menumbuh kembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran, dan pelatihan agar keimanan dan ketaqwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.
12-13
22Arief.Armai, Pegangtar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. (Jakarta: ciputat pers,2002) h.4
2) Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan peserta didik yang memiliki bakat khusus dibidang agama agar bakat tersebut dapat berkembamg secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan dapat pula bermanfaat bagi orang lain.
3) Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan- kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
4) Pencegahan, yaitu menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
5) Penyesuaian, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan social dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam.
6) Sumber lain, yaitu memberikan pedoman hidup untuk mencapai kebahagian hidup di dunia dan di akhirat.23
Dari pegertian di atas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha yang berupa pengajaran, bimbingan terhadap peserta didik agar kelak dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam, serta menjadikannya sebagai jalan kehidupan, baik pribadi maupun kehidupan masyarakat.
b. Tujuan Pendidikan Agama Islam
23 Ibid, h.4
Pendidikan agama Islam bertujuan meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta‟ala , serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pendidikan Agama Islam disekolah bertujuan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta‟ala serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.24
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Tujuan dari Pendidikan agama Islam adalah untuk menjadikan peserta didik lebih beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta‟ala.
c. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara:
1) Hubungan manusia dengan Allah Subhanahu wa ta‟ala 2) Hubungan manusia dengan sesama manusia
3) Hubungan manusia dengan dirinya sendiri
4) Hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungannya
Adapun ruang lingkup bahan pelajaran Pendidikan Agama Islam meliputi lima unsur pokok, yaitu:
24 Ibid. h.7
1) Al-Qur‟an
2) Aqidah (keimanan) 3) Syariah
4) Akhlak, dan 5) Tarikh
Pada tingkat sekolah dasar (SD) penekanan diberikan kepada empat unsur pokok yaitu: keimanan, ibadah, Al-Qur‟an, akhlak. Sedangkan pada sekolah lanjut tingkat pertama (SLTP) dan sekolah menengah atas (SMA) disamping keempat unsur pokok diatas maka unsur pokok syariah semakin dikembangkan. Unsur pokok tarikh diberikan secara seimbang pada setiap satuan pendidikan.25
d. Pola Pembinaan
Pembinaan pendidikan agama Islam dikembangkan dengan menekankan keterpaduan antara tiga lingkungan pendidikan yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Untuk itu pendidik agama perlu mendorong dan memantau kegiatan pendidikan agama Islam yang dialami oleh peserta didiknya di dua lingkungan pendidikan lainnya (keluarga dan masyarakat), sehingga terwujud keselarasan dan kesatuan tindak dalam pembinaannya.26
e. Prinsip-Prinsip Pendidikan Agama Islam
Beberapa prinsip-prinsip dalam pendidikan Islam antara lain:
25 Ibid, h.10
26 Ibid, h.5-6
1) Prinsip Integrasi
Suatu prinsip yang seharusnya dianut adalah bahwa dunia ini merupakan jembatan menuju akhirat
2) Prinsip Keseimbangan
Prinsip keseimbangan merupakan konsekuensi dari prinsip integrasi, keseimbangan antara ruhaniyah dan jasmaniyah, ilmu murni dan ilmu terapan, antara teori dan praktik, dan antara nilai-nilai yang menyangkut aqidah, syariah dan akhlak. Semuanya harus bisa menyeimbangkan keduanya agar mendapatkan ketenangan dalam suatu proses pembelajaran.
Pada banyak ayat Al-Qur‟an, Allah menyebutkan iman dan amal secara bersamaan.Tidak kurang dari enam puluh tujuh ayat yang menyebutkan iman dan amal secara besamaan, secara implisit menggambarkan kesatuan yang tidak terpisahkan.Diantaranya adalah pada QS. Al „Ashr: 1-3 :
( ِسْصَعْناَو ( ٍسْسُخ ًِفَن َناَسْوِ ْلْا َّنِإ ) 1
ا ْىَصاَىَحَو ِثاَحِناَّصنا اىُهِمَعَو اىُىَمَآ َهٌِرَّنا َّلَِّإ ) 2
ْبَّصناِب اْىَصاَىَحَو ِّقَحْناِب س
Terjemahnya :
“Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”27
3) Prinsip Persamaan
27 Kementrian Agama RI, Al- Quran dan Terjemahannya, Maghfira Pustaka, Jakarta : 2016, h.601
Prinsip ini berakar dari konsep dasar tentang manusia yang mempunyai kesatuan asal yang tidak membedakan derajat, baik antara jenis kelamin, kedudukan sosial, bangsa, maupun suku, ras, atau warna kulit. Sehingga budak sekalipun mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan.
Nabi Muhammad Shallallahu‟alaihi wasallam bersabda: “Siapapun di antara seorang laki laki yang mempunyai seorang budak perempuan, lalu diajar dan didiknya dengan ilmu dan pendidikan yang baik kemudian dimerdekakannya lalu dikawininya, maka (laki laki) itu mendapat dua pahala” (HR. Bukhori).
Adapun dalam firman Allah Qs.Al-Qasas (28):77, yang berbunyi:
َا َامَك ْهِسْح َا َو َاٍْو ُّدن ا َهِم َكَبٍِْصَو َسْىَح لَّا َو َة َسِخ َلاْن اَز ا َّدن ا ُ َّللَّ ا َكىَح َا َامٍِف ِغَخْباَؤ َو َكٍَْن ِا ُ َّللَّ ا َهَسْح َهٌْ ِدِسْفُمْنا ُّبِحٌُ َل َ َّللَّ َّن ِا ِض ْز َلَّْ ا ِىف َد َاسَفن ا ِغْبَح َل
Terjemahnya:
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.28
Ayat tersebut menunjukkan kepada prinsip integritas di mana diri dan segala yang ada padanya dikembangkan pada satu arah, yakni kebajikan dalam rangka pengabdian kepada tuhan.
4) Prinsip Pendidikan Seumur Hidup
28 Ibid h.394
Sesungguhnya prinsip ini bersumber dari pandangan mengenai kebutuhan dasar manusia dalam kaitan keterbatasan manusia di mana manusia dalam sepanjang hidupnya dihadapkan pada berbagai tantangan dan godaan yang dapat menjerumuskandirinya sendiri ke jurang kehinaan.
Dalam hal ini dituntut kedewasaan manusia berupa kemampuan untuk mengakui dan menyesali kesalahan dan kejahatan yang dilakukan, disamping selalu memperbaiki kualitas dirinya.
Sebagaimana firman Allah, dalam QS. Al Maidah (5): 39 yang berbunyi:
ٌمْيِح َّر ٌر ْوُفَغ َ َّللَّ َّن ِا ِهْيَلَع ُب ْوُتَي َ َّاللَّ َّن ِاَف َحَلْصَاَو ِهِمْلُظ ِدْعَب ْهِم َب اَت ْهَمَف
Terjemahnya:
“Maka siapa yang bertaubat sesuadah kedzaliman dan memperbaiki (dirinya) maka Allah menerima taubatnya.Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”29
5) Prinsip Keutamaan
Pada prinsip ini ditegaskan bahwa pendidikan bukanlah hanya proses mekanik melainkan merupakan proses yang mempunyai ruh dimana segala kegiatannya diwarnai dan ditujukan kepada keutamaan-keutamaan.
Keutamaan-keutamaan tersebut terdiri dari nilai-nilai moral. Nilai moral yang paling tinggi adalah tauhid. Sedangkan nilai moral yang paling buruk dan rendah adalah syirik.
29 Ibid, h.114
Pendidik bukan hanya bertugas menyediakan kondisi belajar bagi subjek didik, tetapi lebih dari itu turut membentuk kepribadiannya dengan perlakuan dan keteladanan yang ditunjukkan oleh pendidik tersebut.
Pada penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam Pendidikan agama Islam memiliki prinsip-prinsip, yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam.
2. Guru Pendidikan Agama Islam
Dalam bahasa Indonesia kata Guru berasal dari bahasa sansekerta yang berarti orang yang digugu atau orang yang dituruti pendapat dan perkataanya.
Seorang guru merupakan panutan bagi para murid-muridnya sehingga setiap perkataannya selalu ditiru dan setiap perilaku dan perbuatannya menjadi teladan bagi para murid-muridnya.
Pengertian guru pendidikan agama Islam secara etimologi ialah dalam literatur Islam seorang guru bisa disebut sebagai ustadz, mu‟allim, murabby, mursyid, muddaris, mu‟adib yang artinya orang yang memberikan ilmu pengetahuan dengan tujuan mencerdaskan dan membina akhlak peserta didik agar menjadi orang yang berkepribadian baik.30
Sedangkan secara terminology Menurut Muhaimin bahwa guru adalah orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual maupun secara klasikal. Baik disekolah maupun diluar sekolah.31
30 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Raja Grafindo persada, 2005), h. 44-49
31 Ibid, h.50
Berdasarkan berbagai pengertian guru diatas dapat disimpulkan bahwa seorang guru adalah orang yang memberikan pendidikan atau ilmu pengetahuan kepada peserta didik dengan tujuan agar peserta didik mampu memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan guru pendidikan agama Islam adalah seorang yang memberikan pendidikan atau ilmu dalam bidang aspek keagamaan dan membimbing anak didik ke arah pencapaian kedewasaan serta membentuk kepribadian muslim yang berakhlak, sehingga terjadi keseimbangan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Hal inilah yang membedakan antara guru pendidikan agama Islam dengan guru-guru pendidikan yang lainnya. Dengan pendidikan agama Islam guru dapat menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada siswa-siswi.
Pendidik dalam konteks Islam juga harus menyadari bahwa seorang muslim yang memiliki ilmu pengetahuan seharusnya disampaikan kepada orang lain.Islam sebagai agama sosial mewajibkan ummatnya untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Firman Allah dalam QS. Al-Ashr (103): 3
سْبَّصناِب اْىَصاَىَحَو ۙە ِّقَحْناِب اْىَصاَىَحَو ِج َٰحِه َّٰصنا اىُهِمَعَو اْىُىَمَٰا َهٌِْرَّنا َّلَِّا
Terjemahnya:
“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasihati-menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat menasihati supaya menaati kesabaran”. (QS. Al-„Ashr (103); 3).32 Disisi lain, Rasulullah menyatakan bahwa orang yang menyembunyikan ilmunya akan mendapatkan balasan yang sangat keras seperti dijelaskan dalam terjemahan dari hadist berikut:
Terjemahnya :
32 Op.cit, h.601
“Siapa orangnya yang diajari suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, Allah akan membelenggunya dengan rantai dari api neraka.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban).33 Kajian berdasarkan ayat dan hadist tersebut menjelaskan tentang pentingnya menjadi seorang pendidik sebagai agen penyebar ilmu pengetahuan.
Jadi, Islam sangat menghargai orang-orang yang berilmu dan mau menyampaikan ilmunya kepada orang lain.
a. Syarat-syarat Guru Pendidikan Agama Islam
Menurut Zakiyah Darajat, menjadi guru pendidikan agama Islam harus memenuhi beberapa persyaratan di bawah ini:
1) Taqwa kepada Allah Subhanahu wa ta‟ala.
Seorang guru sesuai dengan tujuan ilmu pendidikan Islam, tidak akan mungkin dapat mendidik seorang anak didik agar bertaqwa kepada Allah, jika ia sendiri tidak bertaqwa kepada Allah. Sebab ia adalah seorang teladan bagi anak didiknya sebagaimana Rasulullah Shallallahu‟alaihi wasallam menjadi suri tauladan bagi para ummatnya, sejauh mana seorang guru mampu memberi teladan yang baik kepada semua peserta didiknya, maka sejauh itu jugalah guru tersebut diperkirakan akan dapat berhasil dalam mendidik mereka supaya menjadi generasi penerus bangsa yang baik serta mulia nantinya.
2) Berilmu
Ilmu merupakan salah satu kunci dalam memperoleh kesuksesan dalam sebuah proses pendidikan. Dalam hal ini seorang guru harus memiliki kualifikasi akademik. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14
33 Ridwan Abdullah Sani & Muhammad Kadri, (2016), Pendidikan Karakter;
Mengembangkan Pendidikan Anak Yang Islami, Jakarta: Bumi Aksara, h. 19
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada BAB IV pasal 1, yang menyatakan bahwa :
”Kualifikasi akademik adalah ijazah jenjang pendidikan akademik yang harus dimiliki oleh guru atau dosen sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal tempat penugasan.”34
Ijazah bukanlah semata-mata hanya selembar kertas, tetapi juga sebagai suatu bukti bahwa pemiliknya mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan tertentu yang diperlukan untuk suatu jabatan. Guru juga harus mempunyai ijazah agar ia diperbolehkan mengajar. Seorang guru harus memiliki pengetahuan yang luas, dimana pengetahuan itu nantinya dapat diajarkan kepada muridnya. Makin tinggi pendidikan atau ilmu yang dimiliki guru, maka makin baik dan tinggi pulalah tingkat keberhasilannya dalam memberi pelajaran.
3) Sehat jasmani
Kesehatan jasmani sering sekali dijadikan salah satu syarat penting bagi mereka yang melamar untuk menjadi seorang guru. Karena seorang guru yang mengidap penyakit menular merupakan sangat membahayakan kesehatan bagi anak didiknya. Disamping itu juga, seorang guru yang memiliki penyakit, tidak akan bergairah dalam mengajarkan pembelajaran bagi anak didik.
Dimana kita juga Mengenal ucapan”mens sana in corpore sano” yang artinya di dalam tubuh yang sehat terkandung jiwa yang sehat. Seorang guru
34Zakiyah Daradjat, (2006), Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, h. 41-42.
yang sakit-sakitan akan sering sekali terpaksa absen dan tentunya merugikan bagi anak didik.
4) Berkelakuan baik
Guru harus menjadi teladan, karena anak bersifat suka meniru. Salah satu tujuan dari pendidikan yaitu membentuk akhlak yang mulia pada diri pribadi anak didik dan pembentukan akhlak mulia ini hanya mungkin bisa dilakukan jika pribadi guru tersebut memiliki akhlak yang mulia pula. Guru yang tidak memiliki akhlak mulia tidak akan mungkin dipercaya untuk mendidik seorang anak. Adapun salah satu diantara akhlak mulia yang harus dimiliki seorang guru tersebut adalah mencintai jabatannya sebagai seorang pendidik atau guru, bersikap adil terhadap semua anak didiknya, berwibawa, dan gembira, serta bersifat manusiawi.35
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi guru yang baik dan diperkirakan dapat memenuhi tanggung jawab, maka seorang pendidik harus memenuhi syarat-syarat sebagai guru pendidikan agama Islam.
b. Tugas guru Pendidikan Agama Islam
Allah mengajar para Rasul-Nya melalui wahyu. Materi pembelajaran yang disampaikan Allah kepada mereka berupa pesan-pesan yang berisi perintah dan larangan, yang selanjutnya mesti pula diajarkan oleh mereka kepada para umatnya. Pesan-pesan itu mesti dipahami dan diamalkan. Dengan demikian para Rasul tersebut adalah guru bagi ummatnya.
35 Ibid h.43
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Jumuah(62): 2
ِكْنا ُمُهُمِّهَعٌَُو ْمِهٍِّْكَزٌَُو ّٖهِخٌََٰٰا ْمِهٍَْهَع اْىُهْخٌَ ْمُهْىِّم الَّْىُسَز َهٍِّّّٖمُ ْلَّا ىِف َثَعَب ْيِرَّنا َىُه ْنِاَو تَمْكِحْناَو َبَٰخ
ِبُّم ٍمَٰهَض ًِْفَن ُمْبَق ْهِم اْىُواَك ِه
Terjemahnya:
“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf diantara mereka, yang membacakan ayat-ayatnya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (asSunnah). Dan sesungguhnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.36
Ayat tersebut menegaskan bahwa ada tiga hal yang menjadi tugas Rasul dan juga menjadi tugas guru, yaitu:
1) Seorang guru dituntut agar dapat menyingkap fenomena kebesaran Allah yang terdapat dalam materi yang diajarkannya.
2) Mengajarkan kepada peserta didik pesan-pesan normatif yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur‟an.
3) Menanamkan ilmu akhlak dan membersihkan peserta didik dari sifat dan perilaku tercela.37
Imam al-Ghazali berpendapat bahwa, adapun salah satu tugas seorang pendidik yang paling utama ialah membersihkan, menyempurnakan, menyucikan, serta membawakan hati manusia untuk lebih dekat (taqarrub) hanya kepada Allah Subhanahu wa ta‟ala. Karena tujuan pendidikan Islam yang utama adalah upaya untuk mendekatkan diri hanya kepada Allah.
36 Kementrian Agama RI, Op Cit, hal 553
37Kadar M. Yusuf, Op Cit, h. 67
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa tugas seorang pendidik sangat berat. Karena ia bertanggung jawab dan menentukan arah pendidikan tersebut. Namun tugas sebagai seorang pendidik sangatlah mulia.
c. Fungsi Guru Pendidikan Agama Islam
Menurut Zakiyah Drajat dalam bukunya Novan Andy Wiyani, fungsi guru pendidikan agama Islam yaitu:
1) Guru pendidikan agama Islam sebagai pengajar
Sepanjang sejarah keguruan, tugas guru pendidikan agama Islam adalah mengajar, bahkan masih banyak diantara para guru sendiri yang beranggapan demikian atau tampak masih dominan dalam karier sebagian besar guru, sehingga dua tugas lainnya menjadi tersisihkan atau terabaikan padahal hakikatnya sebagai pengajar, guru bertugas membina pengetahuan, sikap atau tingkah laku dan keterampilan.
2) Guru sebagai pembimbing dan memberi bimbingan
Guru sebagai pembimbing dan memberi bimbingan adalah dua macam peranan yanag menggandeng banyak perbedaan dan persamaanya.
Keduanya sering dilakukan oleh guru yang ingin mendidik dan yang bersikap mengasihi dan mencintai peserta didiknya. Perlu pula diingat bahwa pemberian bimbingan itu bagi guru pendidikan agama Islam meliputi bimbingan belajar dan bimbingan perkembangan sikap atau tingkah laku.
Dengan demikian bimbingan dan pemberian bimbingan dimaksudkan agar setiap peserta didik diinsyafkan mengenai kemampuan dan potensi diri peserta didik yang sebenarnya dalam kapasitas belajar dan bersikap. Jangan sampai peserta didik menganggap rendah atau meremehkan kemampuannya
sendiri dalam potensinya untuk belajar dan bersikap atau bertingkah laku sesuai dengan ajaran agama Islam38
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa guru pendidikan agama Islam memiliki fungsi sebagai pengajar, pembimbing dan memberi bimbingan kepada peserta didiknya untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam.
C. Tinjauan tentang Kegiatan Keagamaan 1. Pengertian Kegiatan Keagamaan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer kata kegiatan mempunyai arti akktifitas, pekerjaan.39 Sedangkan pengertian Keagamaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hal yang berhubungan dengan agama.40 Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan keagamaan adalah segala aktifitas yang berhubungan dengan sistem, prinsip kepercayaan kepada Tuhan dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Kegiatan keagamaan di sekolah berasal dari tiga kata dasar yaitu giat, agama dan sekolah. Giat berarti rajin, bergairah dan bersemangat tentang perbuatan atau usaha.41 Agama berartisistem, prinsip kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan kepercayaan itu.42 Sekolah berarti lembaga untuk belajar dan mengajar serta
38 Novan Andy Wiyani, Pendidikan Karakter Berbasis Iman dan Takwa, (Yogyakarta:
Teras, 2012), h. 102-103
39 Peter Salim dan Yeni, Kamus Besar Bahasa Indinesia Kontemporer, (Jakarta: Modern English Press. 1991), h.475
40 Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia,(Jakarta: Balai Pustaka. 2007), h.12
41 Pusat pembinaan dan pengembangan bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, h.10
42 Ibid, h.317
tempat menerima dan memberi pelajaran sesuai dengan jenjang pendidikannya.43 Jadi dengan adanya kegiatan keagamaan disekolah dapat diharapkan para siswanya menjadi giat dalam melaksanakan keagamaan di sekolah dan mampu menerapkan pada kehidupan sehari-harinya.
Upaya pengembangan nilai-nilai keagamaan di lembaga pendidikan, seorang guru tidak hanya terfokus pada kegiatan proses belajar mengajar di kelas, tetapi juga harus mengarahkan kepada peserta didiknya dalam bentuk implementasi kegiatan keagamaan.
2. Bentuk- Bentuk Kegiatan Keagamaan
Di MAN 1 Makassar terdapat beberapa macam kegiatan keagamaan, diantaranya seperti:
1. Sholat dhuha
2. Sholat wajib (dzuhur ) berjamaah 3. Tadarus Al-Qur‟an
4. Kultum
Dari beberapa kegiatan tersebut ada empat kegiatan keagamaan yang dilaksanakan setiap harinya yaitu:
a. Dhuha berarti waktu naiknya matahari di siang hari, sehingga shalat pada saat itu dinamakan shalat Dhuha.44
Sholat dhuha merupakan sholat sunah yang dikerjakan setelah terbitnya matahari hingga sebelum masuk waktu dzuhur. Adapun rakaatnya minimal dua rakaat. Terdapat beberapa keutamaan dalam sholat dhuha, salah satunya adalah
43 Ibid, h.982
44Abdul Aziz & Abdul Wahab, Fiqh Ibadah, (Jakarta: AMZAH, 2013), h. 332
dilapangkan rezeki bagi orang yang melaksanakannya. Setiap muslim hendaknya melaksanakan ibadah sunah secara rutin dan terus-menerus. Jangan setengah- setengah, kadang melaksanakan, kadang tidak. Ibadah sunah yang dikerjakan setengah-setengah tidak akan membuahkan hasil yang baik. Jika ingin shalat sunah yang kita kerjakan itu membuahkan hasil yang kita harapkan, maka harus dikerjakan secara rutin dan terus-menerus.
b. Sholat wajib berjamaah (Dzuhur)
Sholat menurut istilah bahasa berarti doa. Menurut istilah (ahli fikih) berarti perbuatan (gerak) yang dimulai dengan takbir dan diakhirinya dengan salam dengan syarat-syarat yang tertentu45. Sholat dzuhur adalah sholat yang wajib dikerjakan oleh setiap muslim mau tidak mau harus dikerjakan karena kalau tidak berarti dosa. Dalam ibadah wajib memang nampak ada paksaan, namun jika seseorang mau berfikir dan berangan-angan, dalam ibadah wajib tersebut terdapat hikmah yang besar. Orang yang merasa terbebani oleh ibadah wajib bisa jadi karena ia belum terbiasa. Padahal jika seseorang mau sholat secara teratur setiap hari dengan bacaan (dan gerakan) yang sering berulang-ulang tidaklah membebani, tetapi justru meringankan pikiran. Dengan keteraturan itulah pikiran lebih mudah bekerja.
Sholat merupakan tiang agama dan kunci ibadah dengan sholat dapat menghindarkan kita dari segala kemurkaan, dengan sholat pula akan mendekatkan diri kepada Allah sehingga kita mampu mentaati segalah perintah-Nya, menjauhi
45Abdul fatah & abu ahmadi, fikih Islam lengkap, (Jakarta: PT RINEKA CIPTA. 2004), h. 38