• Tidak ada hasil yang ditemukan

Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Keyakinan ini muncul karena manusia adalah makhluk lemah, yang dalam perkembangannya senantiasa membutuhkan orang lain, sejak lahir, bahkan pada saat meninggal. Semua itu menunjukkan bahwa setiap orang membutuhkan orang lain dalam perkembangannya, demikian halnya peserta didik, ketika orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah pada saat itu juga ia menaruh harapan terhadap guru, agar anaknya dapat berkembang secara optimal.14

Sebagai “pengajar‟‟, “pendidik‟‟ dan “pembimbing‟‟, maka perlu adanya berbagai peranan pada diri guru. Peranan guru ini akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa (yang terutama), sesama guru, maupun dengan staf yang lain.

13 Kementrian Agama RI, Al- Quran dan Terjemahannya, Maghfira Pustaka, Jakarta : 2016, h.543

14 E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), h.

35

Dari berbagai kegiatan interaksi belajar mengajar, dapat dipandang sebagai sentral bagi peranannya. Sebab baik disadari atau tidak bahwa sebagian dari waktu dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk menggarap proses belajar mengajar dan berinteraksidengan siswanya.

Mengenai apa peranan guru itu ada beberapa pendapat yang dijelaskan sebagai berikut:

a. Prey katz menggambarkan peranan guru sebagai komunikator, Sahabat, pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai-nilai, orang yang menguasai bahan yang diajarkan.

b. Havighurst menjelaskan bahwa peranan guru di sekolah sebagai pegawai (employee) dalam hubungan kedinasan, sebagai bawahan (subordinate), terhadap atasannya, sebagai kolega dalam hubungannya dengan teman sejawat, sebagai mediator dalam hubungannya dengan anak didik, sebagi pengatur disiplin, evaluator dan pengganti orang tua.

c. James W . Brown, mengemukakan bahwa tugas dan peranan guru antara lain:

menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencana dan mempersiapkan pelajaran sehari- hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.

d. Federasi dan Organisasi Profesional Guru Sedunia, mengungkapkan bahwa peranan guru di sekolah tidak hanya sebagai transmitter dari ide tetapi juga berperan sebagai transformer dan katalisator dari nilai dan sikap.15

Menurut Zakiah Darajat dkk, guru mempunyai empat peranan dalam pendidikan meliputi:

15 Sardiman A.M, Interaksi Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014), h. 143

a. Guru sebagai pengajar

Sebagai pengajar, guru bertugas membina perkembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Meskipun tugasnya sebagai pengajar telah selesai, namun peranan guru sebagai pendidik dan pembimbing masih berlangsung terus.

Sebagai pengajar (lecturer) guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan serta senantiasa mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang demikian karena hal ini akan menentukan hasil belajar yang dicapai anak.

b. Guru sebagai pembimbing dan motivator

Guru sebagai pembimbing memberi bimbingan ada dua macam peranannya yang mengandung banyak perbedaan dan persamaan. Keduanya sering dilakukan oleh guru yang ingin mendidik dan yang bersikap mengasihi dan mencintai murid, dan guru sebagai pembimbing memberi tekanan kepada tugas, memberikan bantuan kepada siswa dalam pemecahan masalah yang dihadapinya.

Tugas ini merupakan aspek mendidik, sebab tidak hanya berkenaan dengan pengetahuan, tetapi juga menyangkut pengembangan kepribadian dan pembentukan nila-inilai para siswa.

c. Guru sebagai fasilitator

Berperan sebagai fasilitator, guru dalam hal ini akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses pembelajaran, misalnya saja dengan menciptakan suasana kegiatan belajar yang sedemikian rupa, serasi dengan perkembangan anak sehingga interaksi pembelajaran akan berlangsung secara efektif.

Dalam kegiatan pembelajaran, guru akan bertindak sebagai fasilisator dan motivator yang bersikap akrab dengan penuh tanggung jawab, serta memperlakukan peserta didik sebagai mitra dalam menggali dan mengolah informasi menuju tujuan belajar mengajar yang telah direncanakan. Guru dalam melaksanakan tugas profesinya selalu dihadapkan pada berbagai pilihan, karena kenyataan di lapangan kadang tidak sesuai dengan harapan, seperti cara bertindak, bahan belajar yang paling sesuai, metode penyajian yang paling efektif, alat bantu yang paling cocok, langkah-langkah yang paling efisien, sumber belajar yang paling lengkap, sistem evaluasi yang sesuai.

Meskipun guru sebagai pelaksana tugas otonom, guru juga diberikan keleluasaan untuk mengelola pembelajaran, dan guru harus dapat menentukan pilihannya dengan mempertimbangkan semua aspek yang relevan atau menunjang tujuan yang hendak dicapai. Dalam hal ini guru bertindak sebagai pengambil keputusan.

Sebagai fasilitator guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar mengajar, baik yang berupa narasumber, buku, teks, majalah, ataupun surat kabar.

d. Guru sebagai tenaga administrasi

Guru sebagai tenaga administrasi, bukan berarti sebagai pegawai kantor, melainkan sebagai pengelola kelas atau pengelola (manajer) interaksi belajar

mengajar. Dengan terjadinya pengelolaan yang baik, maka guru akan lebih mudah mempengaruhi anak dikelasnya dalam rangka pendidikan dan pengajaran.16

1) Peran Guru Dalam kegiatan Belajar-mengajar:

Dari beberapa pendapat diatas maka secara rinci peranan guru dalam kegiatan belajar-mengajar, secara singkat dapat disebutkan sebagai berikut:

a) Informator

Sebagai pelaksana cara mengajar informator, laboratorium, studi lapangan dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum. Maka dari itu berlaku teori komunikasi sebagai berikut:

(1) Terori setimulus- respons.

(2) Teori dissonance-reduction.

(3) Teori pendekatan fungsional.

b) Organisator

Sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, workshop, jadwal pelajaran dan lain-lain. Komponen-komponen yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, semua diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga dapat mencapai efektifitas dan efisiensi dalam belajar pada diri siswa.

c) Pengarah / director

Jiwa kepemimpinan bagi guru dalam peranan ini lebih menonjol. Guru dalam hal ini harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan

16 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2002), h. 124

pelajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan. Guru harus juga

“handayani”.

d) Inisiator

Guru dalam hal ini sebagai pencetus ide-ide dalam proses belajar. Sudah tentu ide-ide itu merupakan ide-ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didiknya. Jadi termasuk pula dalam lingkup semboyan “ing ngarso sung tulodo”.

e) Transmitter

Dalam kegiatan belajar guru juga akan bertindak selaku penyebar kebijaksanaan pendidikan dan pengetahuan.

f) Mediator

Guru sebagai mediator dapat diartikan sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa. Misalnya menengahi atau memberikan jalan keluar kemacetan dalam kegiatan diskusi siswa.Mediator juga diartikan menyediakan media. Begaimana cara memakai dan mengorganisasikan pengunaan media.

g) Evaluator

Ada kecenderungan bahawa peran guru sebagai evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menetukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak. Tetapi kalau diamati secara agak mendalam evaluasi yang dilakukan guru itu sering hanya merupakan evaluasi ekstrinsik dan sama sekali belum menyentuh evaluasi yang intrintik.

Evaluasi yang dimaksud adalah evaluasi yang mencakup pula evaluasi intrinsic. Untuk ini guru harus hati-hati dalam menjatuhkan nilai atau kriteria keberhasilan. Dalam hal ini tidak cukup hanya dilihat dari bisa atau tidaknya mengerjakan mata pelajaran yang diujikan, tetapi masih perlu ada pertimbangan-pertimbangan yang sangat unit dan kompleks, terutama yang menyangkut perilaku dan values yang ada pada masing-masing mata pelajaran.17

2) Tugas dan Tanggung Jawab Guru

Tugas dan tanggung jawab guru sebenarnya bukan hanya disekolah atau madrasah saja, tetapi bisa dimana saja mereka berada. Dirumah, guru sebagai orang tua dari anak mereka adalah pendidik bagi putera-puteri mereka.Didalam masyarakat desa tempat tinggalnya, guru sering dipandang sebagai tokoh teladan bagi orang-orang disekitarnya. Pandangan, pendapat, atau buah fikirannya sering menjadi ukuran atau pedoman kebenaran bagi orang-orang disekitarnya karena guru dianggap memiliki pengetahuan yang lebih luas dan lebih mendalam, dalam berbagai hal. Peters, sebagaimana dikutip oleh Nana Sudjana yang mengemukakan bahwa ada tiga tugas dan tanggung jawab guru, yaitu: guru sebagai pengajar, guru sebagai pembimbing, dan guru sebagai administrator kelas.18

Ketiga tugas guru tersebut, merupakan tugas pokok profesi guru.

Guru sebagai pengajar lebih menekankan pada tugas dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran. Dalam tugas ini guru dituntut memiliki

17 Sardiman A.M, Interaksi M0tivasi Belajar Mengajar.(Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014), h. 144-146

18Nana Sudjana, Dasar- dasar Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Sinar Baru, 1991), h. 15

sepererangkat pengetahuan dan keterampilan teknis mengajar, disamping menguasai ilmu atau meteri yang akan diajarkannya. Guru sebagai pembimbing memberi tekanan kepada tugas dan memberikan bantuan pada anak didik dalam pemecahan masalah yang dihadapi. Sedangkan tugas sebagai administrator kelas pada hakekatnya merupakan jalinan ketatalaksanaan pada umumnya.

Sedangkan menurut Piet A. Sahertian dan Ida Aleida, mengemukakan bahwa tugas guru dikategorikan dalam tiga hal, yaitu: tugas profesional, tugas personal dan tugas sosial.19 Untuk mempertegas dan memperjelas tugas guru tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

a) Tugas profesional guru

Tugas profesional guru yang meliputi mendidik, mengajar, dan melatih mempunyai arti yang berbeda. Tugas mendidik mempunyai arti bahwa guru harus meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup, sedangkan tugas mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan keterampilan-keterampilan kepada anak didik. Sehingga dengan demikian sebelum terjun dalam profesinya, guru sudah harus memiliki kemampuan baik yang bersifat edukatif maupun non edukatif.

Adapun tugas pokok seorang guru dalam kedudukannya sebagai pendidik professional atau tenaga pendidik seperti disebutkan dalam UU RI No.20 tahun 2003 Bab XI pasal 39 Ayat 1 dan 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan:

19 Pied A Sahertian dan Ida Aleida, Superfisi Pendidikan dalam Rangka Program Inservice Education. (Surabaya: Usaha Nasional, 1990), h. 38

(1) Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.

(2) Pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan penelitian, dan pengabdian kepada mayarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Pendidik yang mengajar pada satuan pendidikan dasar dan menengah disebut guru dan pendidik yang mengajar pada satuan pendidikan tinggi disebut dosen.20

b) Tugas personal guru

Guru merupakan ujung tombak dalam proses belajar mengajar didalam kelas. Oleh karena itu kemampuan guru merupakan indikator pada keberhasilan proses belajar mengajar. Disamping itu tugas profesionalisme guru juga mencakup tugas terhadap diri sendiri, terhadap keluarga, dan terutama tugas dalam lingkungan masyarakat dimana guru tersebut tinggal. Tugas-tugas tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang guru karena bagaimanapun juga sosok kehidupan seorang guru adalah merupakan sosok utama yang berkaitan dengan lingkungan dimana guru tinggal, sehingga guru harus mempunyai pribadi yang rangkap yang harus dapat diperankan dimana guru itu berada.

Tugas personal guru yang dimaksud disini adalah tugas yang berhubungan dengan tanggung jawab pribadi sebagai pendidik, dirinya sendiri dan konsep pribadinya.

20 Undang-Undang Republik Indonesia, Sistem Pendidikan Nasional. (Bandung: Citra Umbara, 2003), h. 27

Untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal, banyak dipengaruhi komponen-komponen belajar-mengajar. Sebagai contoh bagaimana cara mengorganisasikan materi, metode yang di terapkan, media yang digunakan, dan lain-lain. Tetapi disamping komponen-komponen pokok yang ada dalam kegiatan belajar mengajar, ada faktor lain yang ikut mepengaruhi keberhasilan belajar siswa, yaitu soal hubungan antara guru dan siswa.

c) Tugas sosial guru

Tugas sosial bagi seorang guru ini berkaitan dengan komitmen dan konsep guru dalam masyarakat tentang peranannya sebagai anggota masyarakat dan sebagai pembaharu pendidikan dalam masyarakat. Secara langsung maupun tidak langsung tugas tersebut harus dipikul dipundak guru dalam meningkatkan pembangunan pendidikan masyarakat.

Argumentasi sosial yang masih timbul dalam masyarakat adalah menempatkan kedudukan guru dalam posisi yang terhormat, yang bukan saja ditinjau dari profesi atau jabatannya, namun lebih dari itu merupakan sosok yang sangat kompeten terhadap perkembangan kepribadian anak didik untuk menjadi manusia–manusia kader pembangunan. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Ali Saifulloh H.A. dalam bukunya “Antara Filsafat dan Pendidikan“ yang mengemukakan bahwa argumentasi sosial ini melihat guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi adalah sebagai pendidik masyarakat sosial lingkungannya disamping masyarakat sosial profesi kerjanya sendiri.21

21 Ali Saifullah, Antara Filsafat dan Pendidikan. (Surabaya: Usaha Nasional, 1989), h.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa guru adalah seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu ilmu, mendidik, mengarahkan dan melatih siswanya agar memahami ilmu pengetahuan yang diajarkan. Peran guru sangat penting dalam proses menciptakan generasi yang berkualitas, baik secara intelektual maupun akhlaknya.

B. Dasar Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur‟an dan al-Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan, serta penggunaan pengalaman.22

a. Fungsi pendidikan agama Islam di Sekolah

1) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah Subhanahu wa ta‟ala yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan pertama-tama kewajiban menanamkan keimanan dan ketaqwaan dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga.

Sekolah berfungsi untuk menumbuh kembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran, dan pelatihan agar keimanan dan ketaqwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.

12-13

22Arief.Armai, Pegangtar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. (Jakarta: ciputat pers,2002) h.4

2) Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan peserta didik yang memiliki bakat khusus dibidang agama agar bakat tersebut dapat berkembamg secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan dapat pula bermanfaat bagi orang lain.

3) Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

4) Pencegahan, yaitu menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.

5) Penyesuaian, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan social dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam.

6) Sumber lain, yaitu memberikan pedoman hidup untuk mencapai kebahagian hidup di dunia dan di akhirat.23

Dari pegertian di atas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha yang berupa pengajaran, bimbingan terhadap peserta didik agar kelak dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam, serta menjadikannya sebagai jalan kehidupan, baik pribadi maupun kehidupan masyarakat.

b. Tujuan Pendidikan Agama Islam

23 Ibid, h.4

Pendidikan agama Islam bertujuan meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta‟ala , serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pendidikan Agama Islam disekolah bertujuan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta‟ala serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.24

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Tujuan dari Pendidikan agama Islam adalah untuk menjadikan peserta didik lebih beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta‟ala.

c. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam

Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara:

1) Hubungan manusia dengan Allah Subhanahu wa ta‟ala 2) Hubungan manusia dengan sesama manusia

3) Hubungan manusia dengan dirinya sendiri

4) Hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungannya

Adapun ruang lingkup bahan pelajaran Pendidikan Agama Islam meliputi lima unsur pokok, yaitu:

24 Ibid. h.7

1) Al-Qur‟an

2) Aqidah (keimanan) 3) Syariah

4) Akhlak, dan 5) Tarikh

Pada tingkat sekolah dasar (SD) penekanan diberikan kepada empat unsur pokok yaitu: keimanan, ibadah, Al-Qur‟an, akhlak. Sedangkan pada sekolah lanjut tingkat pertama (SLTP) dan sekolah menengah atas (SMA) disamping keempat unsur pokok diatas maka unsur pokok syariah semakin dikembangkan. Unsur pokok tarikh diberikan secara seimbang pada setiap satuan pendidikan.25

d. Pola Pembinaan

Pembinaan pendidikan agama Islam dikembangkan dengan menekankan keterpaduan antara tiga lingkungan pendidikan yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Untuk itu pendidik agama perlu mendorong dan memantau kegiatan pendidikan agama Islam yang dialami oleh peserta didiknya di dua lingkungan pendidikan lainnya (keluarga dan masyarakat), sehingga terwujud keselarasan dan kesatuan tindak dalam pembinaannya.26

e. Prinsip-Prinsip Pendidikan Agama Islam

Beberapa prinsip-prinsip dalam pendidikan Islam antara lain:

25 Ibid, h.10

26 Ibid, h.5-6

1) Prinsip Integrasi

Suatu prinsip yang seharusnya dianut adalah bahwa dunia ini merupakan jembatan menuju akhirat

2) Prinsip Keseimbangan

Prinsip keseimbangan merupakan konsekuensi dari prinsip integrasi, keseimbangan antara ruhaniyah dan jasmaniyah, ilmu murni dan ilmu terapan, antara teori dan praktik, dan antara nilai-nilai yang menyangkut aqidah, syariah dan akhlak. Semuanya harus bisa menyeimbangkan keduanya agar mendapatkan ketenangan dalam suatu proses pembelajaran.

Pada banyak ayat Al-Qur‟an, Allah menyebutkan iman dan amal secara bersamaan.Tidak kurang dari enam puluh tujuh ayat yang menyebutkan iman dan amal secara besamaan, secara implisit menggambarkan kesatuan yang tidak terpisahkan.Diantaranya adalah pada QS. Al „Ashr: 1-3 :

( ِسْصَعْناَو

“Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”27

3) Prinsip Persamaan

27 Kementrian Agama RI, Al- Quran dan Terjemahannya, Maghfira Pustaka, Jakarta : 2016, h.601

Prinsip ini berakar dari konsep dasar tentang manusia yang mempunyai kesatuan asal yang tidak membedakan derajat, baik antara jenis kelamin, kedudukan sosial, bangsa, maupun suku, ras, atau warna kulit. Sehingga budak sekalipun mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan.

Nabi Muhammad Shallallahu‟alaihi wasallam bersabda: “Siapapun di antara seorang laki laki yang mempunyai seorang budak perempuan, lalu diajar dan didiknya dengan ilmu dan pendidikan yang baik kemudian dimerdekakannya lalu dikawininya, maka (laki laki) itu mendapat dua pahala” (HR. Bukhori).

Adapun dalam firman Allah Qs.Al-Qasas (28):77, yang berbunyi:

َا َامَك ْهِسْح َا َو َاٍْو ُّدن ا َهِم َكَبٍِْصَو َسْىَح لَّا َو َة َسِخ َلاْن اَز ا َّدن ا ُ َّللَّ ا َكىَح َا َامٍِف ِغَخْباَؤ َو َكٍَْن ِا ُ َّللَّ ا َهَسْح َهٌْ ِدِسْفُمْنا ُّبِحٌُ َل َ َّللَّ َّن ِا ِض ْز َلَّْ ا ِىف َد َاسَفن ا ِغْبَح َل

Terjemahnya:

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.28

Ayat tersebut menunjukkan kepada prinsip integritas di mana diri dan segala yang ada padanya dikembangkan pada satu arah, yakni kebajikan dalam rangka pengabdian kepada tuhan.

4) Prinsip Pendidikan Seumur Hidup

28 Ibid h.394

Sesungguhnya prinsip ini bersumber dari pandangan mengenai kebutuhan dasar manusia dalam kaitan keterbatasan manusia di mana manusia dalam sepanjang hidupnya dihadapkan pada berbagai tantangan dan godaan yang dapat menjerumuskandirinya sendiri ke jurang kehinaan.

Dalam hal ini dituntut kedewasaan manusia berupa kemampuan untuk mengakui dan menyesali kesalahan dan kejahatan yang dilakukan, disamping selalu memperbaiki kualitas dirinya.

Sebagaimana firman Allah, dalam QS. Al Maidah (5): 39 yang berbunyi:

ٌمْيِح َّر ٌر ْوُفَغ َ َّللَّ َّن ِا ِهْيَلَع ُب ْوُتَي َ َّاللَّ َّن ِاَف َحَلْصَاَو ِهِمْلُظ ِدْعَب ْهِم َب اَت ْهَمَف

Terjemahnya:

“Maka siapa yang bertaubat sesuadah kedzaliman dan memperbaiki (dirinya) maka Allah menerima taubatnya.Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”29

5) Prinsip Keutamaan

Pada prinsip ini ditegaskan bahwa pendidikan bukanlah hanya proses mekanik melainkan merupakan proses yang mempunyai ruh dimana segala kegiatannya diwarnai dan ditujukan kepada keutamaan-keutamaan.

Keutamaan-keutamaan tersebut terdiri dari nilai-nilai moral. Nilai moral yang paling tinggi adalah tauhid. Sedangkan nilai moral yang paling buruk dan rendah adalah syirik.

29 Ibid, h.114

Pendidik bukan hanya bertugas menyediakan kondisi belajar bagi subjek didik, tetapi lebih dari itu turut membentuk kepribadiannya dengan perlakuan dan keteladanan yang ditunjukkan oleh pendidik tersebut.

Pada penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam Pendidikan agama Islam memiliki prinsip-prinsip, yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam.