Article Type: Research Paper
Analisis Kinerja Pembudidaya Ikan Air Tawar Pada Kelompok Pembudidaya Ikan Purwa Mina
Sejati, Banyumas
Hariski Nur Setiawan1, Sodik Dwi Purnomo2*, Diah Retnowati3, Zumaeroh4, Damar Jati5, Anisa Fatmawati6
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan menganalisis pendapatan, efisiensi, kesejahtaraan dari usaha budidaya ikan air tawar pada Kelompok Pembudidaya Purwa Mina Sejati, Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah Kelompok Budidaya Ikan (POKDAKAN) Purwa Mina Sejati Desa Beji sebanyak 25 orang.. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Pendapatan usaha budidaya ikani air tawar Kelompok Pembudidaya Purwa Mina Sejati Banyumas sudah menguntungkan dengan hasil pendapatan sejumlah Rp. 7.604.386,6/bulan; (2) Usaha budidaya ikan air tawar Kelompok Pembudidaya Purwa Mina Sejati Banyumas sudah efisien dengan hasil perhitungan R/C ratio yaitu sebesar 4,44; (3) Pembudidaya ikan air tawar Kelompok Pembudidaya Purwa Mina Sejati, Banyumas sudah sejahtera dengan hasil pendapatan anggota/keluarga sebesar Rp. 3.213.849,20 lebih besar dari Kebutuhan Hidup Layak Kabupaten Banyumas.
Kata kunci: Pendapatan, Efisiensi, Kesejahteraan, Usaha Tani Ikan
ABSTRACT
This study aims to analyze the income, efficiency, welfare of freshwater fish farming in the Purwa Mina Sejati Cultivator Group, Banyumas. This research is a quantitative research. The research population was the Fish Cultivation Group (POKDAKAN) of Purwa Mina Sejati, Beji Village, with 25 people. The results showed that (1) The income of freshwater fish farming business in Purwa Mina Sejati Banyumas Cultivator Group was profitable with an income of Rp. 7,604,386.6/month; (2)The freshwater fish farming business of Purwa Mina Sejati Banyumas Cultivator Group has been efficient with the results of the calculation of the R/C ratio of 4.44;(3) Freshwater fish cultivators in Purwa Mina Sejati Cultivation Group, Banyumas are already prosperous with the income of members/families of Rp. 3,213,849.20 greater than the standart living cost of Banyumas district.
Keywords: Income, Efficiency, Welfare, Fish Farming
Vol 19, No 1, pp 1-16 AFFILIATION:
1,2,3,4,5,6 Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Wijayakusuma Purwokerto
1Email:
2Email:
3Email: [email protected]
4Email:
5Email: [email protected]
6Email:
*CORRESPONDENCE:
THIS ARTICLE IS AVALILABLE IN:
http://mimb-unwiku.com/index.php/mimb
ARTICLE HISTORY Received:
24 Mei 2022 Reviewed:
30 Mei 2022 Revised:
30 Mei 2022 Accepted:
30 Mei 2022
HOW TO CITE:
Setiawan, H. N., Purnomo, S. D., Retnowati, D., Zumaeroh, Z., Jati, D., & Fatmawati, A. (2022). Analisis Kinerja Pembudidaya Ikan Air Tawar Pada Kelompok Pembudidaya Ikan Purwa Mina Sejati, Banyumas.
Majalah Ilmiah Manajemen dan Bisnis (MIMB), 19 (1), 1-16.
PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar ke enam di dunia, oleh karena itu Indonesia dianggap menjadi negara maritim. Total luas daerah Indonesia 1.905 juta Km².
Dengan luas daerah perairan yang ada, Indonesia mempunyai potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar (Kementrian Kelautan dan Perikanan, 2020). Perikanan menjadi salah satu sektor andalan Indonesia dalam pembangunan nasional. Nilai ekspor hasil perikanan di Indonesia, baik perikanan hasil tangkap, budidaya air tawar maupun budidaya air payau pada tahun 2019 meningkat 10,1 persen dari tahun 2018 dengan capaian Rp73.681.883.000. Dengan banyaknya hasil produksi perikanan di Indonesia, maka perlu dipertahankan dan ditingkatkan agar sektor perikanan dapat menyumbang kontribusi lebih tinggi dalam pembangunan nasional. Dalam pembangunan nasional sub sektor perikanan memiliki tujuan yaitu peningkatan devisa negara melalui kegiatan ekspor perikanan, sebagai penunjang kebutuhan gizi dan pangan, membuka peluang usaha dengan berwirausaha kepada masyarakat salah satunya dengan berbudidaya sektor perikanan (Soekartawi, 2005).
Mengingat besarnya potensi sektor perikanan Indonesia, maka kontribusi pembangunan perikanan terhadap upaya peningkatan perekonomian Indonesia dapat dikatakan sebagai hal yang serius (Safitri, et al,. 2020). Sub sektor perikanan dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan lahan pertanian: perikanan darat dan perikanan laut.
Perikanan darat dibagi menjadi perikanan air tawar dan perikanan air payau. Salah satu sumber daya air tawar yang bernilai ekonomis adalah ikan konsumsi (Agustine, 2014).
Ikan air tawar yang paling populer di kalangan masyarakat Indonesia antara lain ikan Gurameh, Bawal, Nilem, Nila, Mujair, Lele, dan ikan Patin. Kandungan gizi dari ikan tersebut sangat tinggi, mengandung protein sebanyak 30 persen, dan kandungan garam air laut kurang dari 0,05. Selain itu banyak manfaat yang dapat diambil dari mengkonsumsi ikan air tawar, antara lain dapat menurunkan resiko penyakit jantung, menjaga kesehatan otak, mengatasi depresi, meningkattkan kualitas tidur, dan mengurangi resiko penyakit autoimun (CNN, 2020). Itulah yang menjadikan minat konsumsi masyarakat relatif tinggi terhadap ikan air tawar.
Usaha budidaya ikan air tawar semakin hari semakin menarik untuk diprofesikan.
Budidaya ikan air tawar menjadi semakin menarik sebagai sebuah profesi. Menurut laporan dari Otoritas Pangan PBB pada tahun 2021, konsumsi ikan per kapita global akan mencapai 19,6 kg per tahun. Saat ini konsumsi ikan terutama disuplai oleh ikan laut, namun produksi ikan air tawar akan melebihi perikanan komersial pada tahun 2018. Oleh karena itu, penangkapan ikan yang berlebihan akan mengurangi hasil penangkapan ikan komersial dan semakin mempersulit pencarian ikan di laut (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2012).
Menteri Kelautan dan Perikanan menjelaskan pada tahun 2020, tingkat konsumsi makanan laut nasional akan meningkat sebesar 3,47 persen menjadi 56,39kg/orang.
Dibandingkan dengan 54,5 kg/orang. Diperkirakan akan mencapai 62,5 kg/orang pada tahun 2019. Lebih dari 70 persen produksi ikan air tawar diserap ke pasar domestik.
Pulau Jawa merupakan penyerap terbesar mengingat kepadatan penduduknya. Mengingat potensinya, permintaan Jawa akan terus tumbuh. Mengingat konsumsi ikan per kapita di Jawa masih lebih rendah dibandingkan konsumsi per kapita non Jawa (Kementerian Kelautan dan Perikanan.2020). Dengan pernyataan tersebut dapat melatarbelakangi para pembudidaya ikan konsumsi supaya dapat meningkatkan hasil produksi dan mendapatkan pendapatan lebih sehingga para pembudidaya dapat menjadi sejahtera.
Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi dengan produksi ikan air tawar terbanyak di Indonesia. Provinsi Jawa Tengah menempati posisi ke delapan dengan
memproduksi sebanyak 14.244 Ton per tahun yang bernilai sebesar Rp. 285.289.439 (Badan Pusat Statistik 2020). Hasil tersebut merupakan total dari jumlah produksi setiap Kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Berikut adalah tabel yang menunjukan 10 Kabupaten terbesar ditinjau dari produksi ikan air tawar di Provinsi Jawa Tengah.
Tabel 1. Kabupaten Kota dengan Produksi Ikan Air Tawar Provinsi Jawa Tengah tahun 2020
No Kabupaten/Kota Jumlah Produksi (Ton)
1 Banyumas 34.667
2 Banjarnegara 30.906
3 Cilacap 20.094
4 Wonosobo 19.934
5 Magelang 17.582
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2020
Dapat dilihat dari tabel di atas bahwa Kabupaten dengan produksi ikan air tawar terbesar di Provinsi Jawa Tengah adalah Kabupaten Banyumas yaitu dengan memproduksi sebanyak 34.667 Ton atau sama dengan 18,34 persen hasil dari budidaya dengan media kolam/air tawar, 11,35 persen produksi dengan menggunakan media sawah, 6,91 persen produksi dengan menggunakan media perairan umum, dan 16,13 persen diproduksi oleh rumah tangga usaha budidaya ikan. Dengan prosentase produksi yang cukup besar, Kabupaten Banyumas telah menyumbang hasil sektor perikanan budidaya ikan air tawar sebesar 69.556 Ton/tahun.
Kabupaten Banyumas merupakan daerah dengan potensi perikanan budidaya air tawar yang cukup besar di Provinsi Jawa Tengah, dengan jumlah produksi 8.319.255 Ton/tahun. Komoditas unggulan yaitu ikan tawes dengan jumlah 1.287.196 Ton/tahun, ikan gurameh dengan jumlah 4.060. 088 Ton/tahun , ikan karper dengan jumlah 603.982 Ton/tahun, ikan nilem/melem dengan jumlah 803.465 Ton/tahun, ikan bawal dengan jumlah 81.195 Ton/tahun, ikan nila dengan jumlah 554.027 Ton/tahun, ikan mujair dengan jummlah 75.864 Ton/tahun, dan ikan lele dengan jumlah 822.873 Ton/tahun (Badan Pusat Statistik Kab. Banyumas 2020). Berikut adalah tabel 2 yang menunjukan 5 kecamatan terbesar ditinjau dari produksi ikan air tawar di Kabupaten Banyumas.
Tabel 2.Data hasil produksi ikan air tawar Kabupaten Banyumas tahun 2019
No Kecamatan Jumlah produksi (Ton)
1 Sokaraja 1.756,13
2 Kembaran 1.224,89
3 Sumpiuh 1.150,14
4 Kemranjen 806,33
5 Kedungbanteng 598,33
Sumber : Badan Pusat Statistik Kab. Banyumas tahun 2019
Dapat dilihat dari tabel penghasil ikan air tawar per kecamatan di Kabupaten Banyumas, Kecamatan kedungbanteng menepati posisi ke lima dalam produksi ikan air tawar dengan media kolam, hal tersebut dapat terjadi karena di Kecamatan Kedungbanteng terdapat Desa Beji yang menjadi sebagai salah satu penyumbang jumlah terbesar produksi hasil perikanan kecamatan Kedungbanteng di Kabupaten Banyumas (BPS 2019).
Desa Beji merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Kedungbanteng.
Desa Beji ini juga menjadi desa yang padat penduduk karena jumlah penduduk terbesar yang ada di Kecamatan Kedungbanteng yang berjumlah 9.270 orang dengan jumlah Laki- laki 4.721 orang dan Perempuan berjumlah 4.549 orang. Mayoritas penduduk yang ada di Desa Beji bermata pencaharian sebagai petani (Profil Desa, 2020). Desa Beji ini menjadi
dirancang oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai salah satu upaya untuk mendorong pengembangan kawasan budidaya perikanan di daerah untuk meningkatkan perekonomian dan pertumbuhan wilayah.
Program Minapolitan telah berkembang menjadi kebijakan pembangunan pedesaan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi disparitas perkotaan-pedesaan dan kemiskinan pedesaan karena Minapolitan adalah pembangunan pedesaan dengan infrastruktur yang setara dengan kota-kota yang terus tumbuh dengan produk-produk berkualitas tinggi, berorientasi pasar dan sistem produksi fungsional. (Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, 2010). Sebagian besar masyarakat di Desa Beji, sudah menjalankan program minapolitan melalui pembudidayaan ikan air tawar. Potensi budidaya ikan di Desa Beji telah berjalan lama dan berlangsung secara turun temurun dari tahun 1955an sampai saat ini.
Dengan adanya program minapolitan, Desa Beji memiliki potensi yang sangat bagus untuk pengembangan ikan air tawar yang dapat mendorong pengembangan sektor perekonomian, oleh karena itu Desa Beji mempunyai julukan sebagai “Kampung Mina”.
Keunggulan Desa Beji dibanding dengan desa lain yang ada di Kecamatan Kedungbanteng adalah Desa Beji memiliki luas kolam sebesar 382.400 Hal yang dapat menghasilkan hasil produksi lebih banyak dibandingkan dengan desa lainnya, sumber air yang melimpah disaat musim hujan maupun musim kemarau, dan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani sawah serta pembudidaya ikan tawar konsumsi.
Dengan adanya potensi bagus yang dimiliki Desa Beji maka harus dikembangkan usaha budidaya ikan air tawar ini untuk meningkatkan pendapatan para pembudidaya ikan air tawar di Desa Beji sehingga terciptanya kesejahteraan untuk pembudidaya ikan air tawar.
Secara purposive sampling penelitian ini mengambil sampel POKDAKAN Purwa Mina Sejati karena pokdakan tersebut dapat menghasilkan bibit ikan sendiri serta menghasilkan hasil produksi terbanyak. Kondisi yang terjadi saat ini dialami oleh petani ikan air tawar di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas adalah bahwa permintaan yang tinggi untuk budidaya ikan air tawar di masyarakat membuatnya tidak lagi menjadi bisnis sampingan, tetapi cenderung menjadi usaha besar untuk keluarga. Berjalannya waktu, dengan kondisi diatas ada kecenderungan dari sisi pendapatan petani ikan air tawar di Desa Beji Kedungbanteng Kecamatan Banyumas mengalami peningkatan pendapatan bahkan lebih tinggi dari Upah Minimal Regional Banyumas sebesar Rp1.970.000 ,-.
Berdasarkan hasil wawancara pada pra survey kepada pemilik kolam Bapak Untung Riyadi (51 tahun) menjelaskan bahwa beliau telah melakukan usaha budidaya ikan air tawar selama 12 th dan pendapatannya mengalami naik turun yang disebabkan karena ketidak stabilan harga ikan pada saat dipanen. Hal tersebut disebabkan oleh harga ikan yang tidak stabil kadang mengalami kenaikan atau penurunan yang tidak sesuai.
Oleh karena itu pendapatannya juga tidak optimal. Selain hal tersebut bapak Untung juga mempunyai kendala dalam perawatan ikan air tawar seperti pakan ikan, biaya kontrak kolam, biaya perawatan kolam pasca panen yang setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan harga/jasa.
Pola Budidaya ikan air tawar di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas pun mengalami perubahan seiring dengan riset penelitian oleh berbagai pihak, baik dari Akademisi, Swasta maupun dari masyarakat. Hal ini semakin menunjukan efisensi penerapan budidaya ikan air tawar sebagai upaya besar untuk mempertahankan kebutuhan perekonomian dan kesejahteraan rumah tangga.
Berdasarkan hal tersebut, Penulis tertarik untuk mengangkat penelitian dalam Skripsi yang berjudul Analisis Keuntungan, Tingkat Efisiensi dan Kesejahteraan Pembudidaya Ikan Air Tawar Pada Kelompok Pembudidaya Ikan Purwa Mina Sejati
Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas. Dengan demikian penelitian ini bertujuan 1) menganalisis pendapatan dari usaha budidaya ikan air tawar terhadap Kelompok Pembudidaya Ikan Purwa Mina Sejati, Banyumas. 2) menganalisis Efisiensi Biaya Produksi Pada usaha budidaya ikan air tawar yang dilakukan oleh Kelompok Pembudidaya Ikan Purwa Mina Sejati, Banyumas, 3) mengidentifikasi tingkat kesejahteraan pembudidaya ikan air tawar Kelompok Pembudidaya Ikan Purwa Mina Sejati, Banyumas.
TINJAUAN PUSTAKA A. Teori produksi
Secara umum, produksi adalah penggunaan atau pemanfaatan sumber daya untuk mengubah satu barang menjadi barang yang sama sekali berbeda, baik dalam arti apa, di mana, dan kapan barang tersebut ditemukan. Atau tentang apa yang dapat dilakukan konsumen dengan produk tersebut. Dalam pengertian tertentu, produksi adalah sebuah konsep aliran, dimana konsep aliran produksi dipahami sebagai suatu kegiatan yang diukur dengan tingkat output per unit waktu atau waktu (Miller dan Meiners, 2000).
Produksi adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengubah input produksi menjadi hasil produksi (output), baik menghasilkan produk jadi, produk setengah jadi atau bahan baku untuk produk lain. Produksi juga dapat dipandang sebagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kegunaan suatu komoditas untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pertukaran yang diproses dengan menggunakan faktor- faktor yang ada. Hasil akhir dari suatu proses produksi adalah produk atau keluaran.
Menurut Sukirno (2005) teori produksi dibedakan menjadi dua yaitu produksi jangka pendek dan produksi jangka panjang. Dalam produksi jangka pendek dijelaskan bahwa teori produksi yang sederhana menggambarkan tentang hubungan antara tingkat produksi suatu barang dengan jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk mennghasilkan berbagai tingkat produksi barang tersebut.Teori produksi jangka panjang adalah hubungan antara tingakt produksi suatu barang dengan dua faktor produksi yang dapat berubah. Bukan tenaga kerja saja yang dapat berubah penggunaannya tetapi juga faktor lain seperti modal.
Produksi adalah proses di mana barang dan jasa yang disebut input diubah menjadi barang dan jasa lain yang disebut output. Banyak jenis kegiatan yang terjadi selama produksi, termasuk perubahan bentuk, tempat, dan waktu penggunaan produk.
Setiap perubahan ini melibatkan penggunaan input untuk menghasilkan output yang diinginkan. Produksi dapat diartikan sebagai proses menciptakan atau menambah nilai atau manfaat baru (Partadiradja, 1979). Penggunaan atau manfaat berkaitan dengan kemampuan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dengan demikian, produksi mencakup semua kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa (Sudarman, 1999).
1. Fungsi Produksi
Fungsi produksi merupakan hubungan antara output fisik dengan input- input fisik. Konsep tersebut didefinisikan sebagai persamaan matematika yang menunjukan kuantitas maksimum output yang dapat dihasilkan dari rangkaian input (ceteris paribus). Cateris paribus ini mengacu kepada berbagai kemungkinan teknik atau proses produksi yang ada untuk mengolah input menjadi output (Miller dan Meiners 2000).
Menurut Sukirno (2005) fungsi produksi menunjukan sifat hubungan antara faktor – faktor produksi dan tingkat produksi yang dihasilkan. Dimana fungsi produksi selalu dinyatakan didalam bentuk rumus, seperti berikkut ini.
Q = f (K, L, R, T) Dimana :
Q = Output (Pengeluaran) K = Capital (Jumlah Modal) L = Labour (Tenaga Kerja) R = Resource (Bahan Baku/SDA) T = Technology (Teknologi)
Dalam persamaan di atas dapat dijelaskan bahwa pernyataan matemaatik dapat diartikan tingkat produksi suatu barang tergantung kepada jumlah modal, tenaga kerja, jumlah bahan baku, dan tingkat teknologi yang digunakan. Jika produksi berbeda - beda maka jumlah faktor produksi yang dibutuhkan juga berbeda - beda.
2. Biaya Produksi
Dalam Eriando Ambarita (2020) biaya merupakan nilai dari semua masukan ekonomis yang diperlukan, yang dapat diperkirakan dan dapat diukur untuk menghasilkan suatu produk. Biaya dalam proses produksi berdasarkan jangkka waktu dapat dibedakan menjadi dua yaitu biaya jangka pendek dan biaya jangka panjang. Kemudian, biaya jangka pendek masih bisa dibedakan yaitu adanya biaya tetap dan biaya variabel. Sedangkan biaya produksi jangka panjang semua faktor produksi adalah biaya variabel (Lipsey et al, 1990). Gasperz (1999) yang diperhitungkan dalam jangka pendek adalah biaya tetap (fixed costs) dan biaya variabel (variable costs).
a). Fixed cost (biaya tetap) adalah pengeluaran biaya untuk pembayarran input dalam proses produksi jangka pendek. Penggunaan input tetap tidak bergantung pada kuantitas output yang diproduksi. Dalam jangka panjang yang termasuk biaya tetap seperti biaya untuk membeli pelaratan, pembayaran upah untuk tenaga kerja.
b). Variable cost (biaya variabel) adalah pengeluaran biaya untuk pembayaran input variabel dalam jangka pendek. Penggunaan input variabel tergantung pada kuantitas output yang diproduksi dimana semakin besar kuantitas output yang diproduksi maka semakin banyak biaya variabel yang dikeluarkan. Dalam jangka panjang yang termasuk biaya variabel seperti upah tenaga kerja langsung, biaya bahan pelengkap dan sebagainya.
3. Faktor-Faktor Produksi
Faktor produksi atau input adalah hal-hal yang mutlak harus ada agar dapat menghasilkan output. Dalam proses produksi, seorang wirausahawan harus mampu menganalisis beberapa teknologi yang dapat digunakan dan bagaimana menggabungkan beberapa faktor produksi secara optimal dan efisien. Faktor- faktor produksi tersebut meliputi alam (sumber daya alam), tenaga kerja (labour), modal (capital) dan keahlian (skills) atau sumber daya pengusaha. Faktor alam produksi dan tenaga kerja merupakan faktor dasar (asli) produksi, sedangkan modal dan tenaga kerja merupakan faktor pembentuk produksi. Berikut penjelasan mengenai faktor-faktor produksi:
a) Faktor Produksi Alam
Semua kekayaan yang ada di alam semesta digunakan dalam proses produksi. Faktor produksi alam ini terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari, dan barang tambang.
b) Faktor Produksi Tenaga Kerja
Faktor produksi tenaga kerja sebagai faktor produksi asli. Walaupun kini banyak kegiatan proses produksi di perankan oleh mesin, namun kedaan manusia wajib di perlukan.
c) Faktor Produksi Modal
Faktor penunjang yang mempercepat dan menambah kemampuan dalam memproduksi. Faktor produksi terdiri dari mesin-mesin, sarana pengangkutan, bangunan, dan alat pengangkutan.
d) Faktor Produksi Keahlian
Keahlian atau keterampilan individu mengkoordinasikan dan mengelola faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa.
4. Penerimaan
Sukartawi (1995) penerimaan merupakan perkalian anttara output yang dihasilkan oleh harga jual. Dapat dirumuskan seperti berikut ini :
TR = Q x P Keterangan :
TR = Penerimaan Total (Total Revenue) Q = Jumlah Produk yang dihasilkan (Quantity) P = Harga (Price)
Dimana semakin banyak produk yang dihasilkan maka semakin tinggi harga per unit produk. Dengan demikian penerimaan total yang diterima produsen akan semakin besar. Sebaliknya jika produk yang dihasilkan sedikit dan harganya rendah maka penerimaan total yang diterima produsen semakin kecil.
Penerimaan total yang dikeluarkan memperoleh pendapatan bersih yamg merupakan keuntungan yang diperoleh produsen.
Efisiensi adalah membandingkan hasil antara input fisik dan output fisik.
Semakin tinggi tingkat efisiensi yang dicapai, semakin tinggi rasio input-to-output (Tutuarima, 2009). Sedangkan Menurut McEachern (2001) Efisiensi terjadi ketika keadaan sumber daya tidak dapat didistribusikan kembali dengan meningkatkan produksi satu barang tanpa mengurangi produksi barang lain.
Efisiensi adalah jumlah produksi fisik yang dihasilkan dari kesatuan alat produksi yang ditanamkan. Kondisi ini terjadi jika petani dapat membuat biaya produksi marginal (NPM) input sama dengan harga input (P), atau dapat ditulis seperti berikut ini (Soekartawi, 1993): :
NPMₓ = Pₓ atau NPMₓ/Pₓ = 1
Dalam kenyataanya NPMₓ tidak selalu sama dengan Pₓ dan yang sering terjadi adalah sebagai berikut :
1. (NPMₓ/pₓ) > 1 artinya penggunaan input ₓ belum efisien. Untuk mencapai tingkat efisien maka harus dilakukan penambahan input.
2. (NPMₓ/Pₓ) < 1 artinya penggunaan input ₓ tidak efisien. Untuk mencapai tingkat efisien maka harus dilakukan penambahan input.
Yotopoulos dan Nugent dalam bukunya Management Economics menyatakan bahwa efisiensi berkaitan dengan memperoleh output yang maksimal dari sekumpulan sumber daya, termasuk dua jenis efisiensi, yaitu efisiensi harga dan efisiensi teknis.
Efisiensi harga berkaitan dengan pengambilan keputusan manajerial mengenai alokasi faktor produksi yang berbeda, yaitu input produksi yang dapat dikendalikan oleh perusahaan. Efisiensi teknis mengacu pada sumber daya tetap dalam perusahaan yang setidaknya dalam jangka pendek ada secara eksogen dan sebagai bagian dapat
diperoleh dari lingkungan yang ada. Ketika efisiensi harga dan efisiensi teknis terpenuhi maka kondisi efisiensi ekonomi akan tercapai.
Dalam Marhasan (2005) Farrel dan Kartasapoetra menjelaskan konsep efisiensi kedalam efisiensi harga (price of allocative efficiency) dan efisiensi teknik atau technical efficiency. Pendapat lain menutut Nicolson (2000) alokasi sumber daya sama dengan efisiensi. Secara teknis jika alokasi tidak dapat meningkatkan output suatu produk tanpa menurunkan produksi jenis barang lain. Menurut Hasibuan (1984) pengertian efisiensi adalah rasio antara output (pengembalian dengan modal) dan input (biaya) dan merupakan hasil optimal yang dicapai dengan menggunakan sumber daya yang terbatas.Adapun rumus yang digunakan untuk mencari efisiensi usaha sebagai berikut :
Efisiensi Usaha = R/C Keterangan :
R : Besarnya penerimaan usaha (RP) C : Besarnya biaya usaha
Kelayakan usaha perikanan dapat dianalisis dengan metode analisis R/C dengan membandingkan nilai total penerimaan dengan menggunakan kriteria, jika R/C > 1 maka usaha perikanan tersebut layak, jika R/C = 1 usaha perikanan ini berada di titik impas dan jika nilai R/C < 1 maka usaha perikanan tersebut tidak layak.
Efisiensi adalah hasil dari membandingkan keluaran fisik. masukan fisik.
Semakin tinggi rasio output terhadap input, semakin banyak Tingkat efisiensinya lebih tinggi. Efisiensi juga bisa Digambarkan sebagai mencapai pengembalian maksimum atas penggunaan sumber daya tertentu. Jika output yang dihasilkan lebih besar dari Semakin tinggi sumber daya yang digunakan, semakin banyak efisiensi telah tercapai.
Koefisien efisiensi tidak dinyatakan secara absolut. Tapi relatif. Efisiensi membandingkan output dan input, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dengan cara berikut:
a. Meningkatkan output pada tingkat input yang sama
b. Meningkatkan output dalam jumlah yang lebih besar daripada proporsi peningkatan input
c. Menurunkan input pada tingkat output yang sama
d. Menurunkan input dalam proporsi yang lebih besar daripada proporsi penurunan output.
Perusahaan atau usaha yang ingin berkembang, atau setidaknya bertahan, harus mampu menghasilkan produk yang berkualitas. Jika efisiensi produksi perusahaan tinggi, ia dapat mencapai hasil produksi yang tinggi. Namun untuk mencapai efisiensi yang tinggi juga tidak mudah karena sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor tersebut meliputi tenaga kerja, peralatan, metode produksi, pasar dan bahan baku.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Metode kuantitatif pada dasarnya adalah metode statistik di mana representasi data diatur oleh angka dan analisis data yang digunakan adalah untuk menguji hipotesis. Penelitian ini dilakukan di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas. Dalam penelitian ini, populasi yang saya maksud adalah pembudidaya ikan air tawar di Desa Beji sejumlah 15 kelompok yang menjadi obyek sasaran dalam penelitian ini. Populasi pada penelitian ini adalah Kelompok Pembudidaya yang ada di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas. Penelitian ini mengambil sampel dari salah satu
Pokdakan yang ada di Desa Beji yaitu Pokdakan “Purwa Mina Sejati” dengan jumlah 25 anggota. Sampel tersebut dipilih untuk melihat pendapatan pembudidaya ikan di Desa Beji apakah sudah mencapai tingkat optimal, dan sudah efisien dalam pelaksanaan pembudidayaan. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :
1. Analisis Keuntungan
Biaya total yang dikeluarkan dalam usaha tani budidaya ikan air tawar menggunakan rumus :
TC = TFC + TVC Keterangan :
TC = Total Cost (Biaya total)
TFC = Total Fixed Cost (Total biaya tetap)
TVC = Total Variabel Cost (Total biaya variabel) (Soedarsono, 1995).
Jumlah penerimaan dihitung dengan menggunakan rumus menurut Sukirno (2002), yaitu :
TR = P x Q Keterangan :
TR = Total Revenue (Total penerimaan) P = Price (Harga)
Q = Quantity (Total produksi)
Keuntungan dihitung dengan cara mengurangkan total penerimaan dengan total biaya, dengan rumus menurut Suratiyah (2006) sebagai berikut :
I = TR – TC Keterangan :
I = Income (Keuntungan)
TR = Total Revenue (Total penerimaan) TC = Total Cost (Biaya total)
2. Analisis Efisiensi
Untuk mengetahui efisiensi usahatani dihitung dengan menggunakan pendekatan R/C ratio yaitu perbandingan antara jumlah penerimaan dan total biaya) dihitung dengan menggunakan rumus (Soekartawi, 2003) sebagai berikut :
R/C Ratio = Total Penerimaan (TR) / Biaya Total (TC) Keterangan :
R/C > 1 artinya budidaya yang dilakukan adalah efisien.
R/C < 1 artinya budidaya yang dilakukan adalah tidak efisien.
R/C = 1 artinya budidaya yang dilakukan adalah mencapai titik impas.
3. Analisis Kesejahteraan
Untuk mengetahui tingkat kesejahteraan petani menggunakan KHL.
Jika pendapatan ≥ KHL maka petani dikatakan sejahtera.
Jika pendapatan < KHL maka petani dikatakan belum sejahtera.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
1. Keuntungan
Analisis keuntungan digunakan untuk menghitung keuntungan dalam melakukan usaha budidaya ikan air tawar. Untuk menghitung keuntungan harus diketahui biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost) atau menganalisis biaya produksi. Tujuan analisis biaya adalah untuk mengetahui biaya pokok dan biaya tambahan dalam melakukan usaha budidaya ikan air tawar ini. Biaya tetap dan biaya
variabel dalam proses produksi usaha budidaya ikan air tawar dijelaskan sebagai berikut:
a. Biaya Total
Biaya total usaha budidaya ikan air tawar adalah total dari seluruh biaya tetap dan biaya variabel (TC = TFC + TVC). Besarnya biaya total usaha budidaya ikan air tawar dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3. Rata-Rata Biaya Total Usaha Budidaya Ikan Air Tawar Kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas No Jenis Biaya Biaya (RP/4Bln) Persentase (%)
1 Biaya Tetap 4.860.592 71
2 Biaya Variabel 1.984.800 29
Jumlah 6.845.392 100
Sumber : Data Primer Diolah Oleh Peneliti, 2022.
Tabel di atas menunjukan bahwa biaya total usaha budidaya ikan air tawar sebesar Rp.6.845.392 dengan persentase terbesar yaitu pada biaya rata-rata biaya tetap dengan persentase 71 persen dengan total sebesar Rp.4.860.592. dengan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa proses budidaya ikan air tawar memerlukan biaya yang lebih besar pada saat memulai dibandingkan saat usaha tersebut sudah berjalan.
b. Jumlah Penerimaan
Jumlah penerimaan usaha budidaya ikan konsumsi air tawar adalah hasil dari total produksi dikali dengan harga penjualan (TR = P x Q). Jumlah penerimaan budidaya ikan air tawar dapat dilihat dari tabel berikut :
Tabel 4. Rata-Rata Total Penerimaan Usaha Budidaya Ikan Air Tawar Kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas
No Jenis Ikan Total Produksi Harga/Kg (Rp)
Penerimaan (Rp)
1 Mujaer 236,73 Kg 23.867 5.650.035,556
2 Koi 558,33 Ekor 28.333 15.819.444,44
3 Bawal 261,81 Kg 20.273 5.307.768,595
4 Melem 143,5 Kg 33.300 4.778.550
5 Gurameh 114,14 Kg 50.000 5.707.142,857
Total 37.262.941,4
Sumber : Data Primer Diolah Oleh Peneliti, 2022.
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil penerimaan dari produksi ikan air tawar sebesar Rp.37.262.941,4. produksi tertinggi didominasi oleh ikan mujaer dengan rata-rata produksi sebesar 236,73 Kg total penerimaan sebesar Rp.
5.307.768,595. Produksi terendah adalah ikan gurameh dengan total produksi 114,4 kg dengan mendapat penerimaan Rp.5.707.142.857. meskipun ikan gurameh memproduksi hasil paling rendah namun penerimaan yang diterima lebih besar dari penjualan ikan mujaer, hal tersebut dikarenakan harga jual ikan gurameh lebih besar daripada ikan mujaer.
c. Keuntungan
Keuntungan adalah jumlah dari total penerimaan budidaya ikan air tawar dikurangi total biaya produksi (I = TR - TC). Jumlah pendapatan budidaya ikan air tawar dapat dilihat dari tabel berikut :
Tabel 5. Rata-Rata Total Keuntungan Usaha Budidaya Ikan Air Tawar Kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas ( Rupiah )
No Uraian Nilai (Rp)
1 Total Penerimaan 37.262.941,4
2 Total Biaya Produksi 6.845.392
Total Keuntungan 30.417.549,4
Data Primer Diolah Oleh Peneliti, 2022.
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa total keuntungan sebesar Rp.30.417.549,4 yang diperoleh dari total penerimaan sebesar Rp.37.262.941,4 dikurangi oleh total biaya produski sebesar Rp.6.845.392.
2. Efisiensi
Tingkat efisiensi biaya budidaya ikan air tawar dianalisis dengan menggunakan R/C ratio. Dimana R adalah total penerimaan dan C adalah total biaya produksi budidaya ikan konsumsi air tawar. Jika dalam melakukan budidaya ikan air tawar efisien maka keuntungan atau pendapatan yang diterima akan lebih banyak. Beberapa cara untuk meningkatkan tingkat efisiensi budidaya ikan air tawar adalah dengan cara mengoptimalkan pakan ikan dan juga tidak membeli bibit namun membudidayakan dengan induk milik sendiri. Berikut adalah tabel perhitungan tingkat efisiensi budidaya ikan air tawar kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas.
Tabel 6. R/C Ratio Usaha Budidaya Ikan Air Tawar Kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas
No Uraian Nilai
1 Penerimaan 37.262.941,4
2 Total Biaya 6.845.392
R/C 5,44
Sumber : Data Primer Diolah Oleh Peneliti, 2022.
Dari tabel tersebut menunjukan bahwa R/C lebih dari 1, maka usaha budidaya ikan air tawar kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas sudah efisien. Nilai R/C usaha budidaya ikan air tawar adalah 5,44 yang artinya setiap Rp.1 biaya yang dikeluarkan, maka pembudidaya mendapat keuntungan sebesar Rp.4,44 dalam satu kali panen yang berjangka waktu 4 bulan sekali. Berdasarkan penelitan yang sudah dilakukan, Rp.
4.860.592 merupakan biaya tetap dalam melakukan usaha budidaya ikan air tawar. Hal tersbut disebabkan karena sebagian besar lahan untuk melakukan usaha budidaya ikan air tawar merupakan tanah sewa, selain itu bibit yang dibesarkan juga bukan bibit yang dihasilkan oleh budidaya melainkan karena proses pembelian. Walau pun biaya usaha budidaya ikan air tawar khususnya biaya tetap tergolong besar, namun hal tersbut bukanlah menjadi masalah karena diimbangi oleh jumlah penerimaannya yang menjadikan usaha budidaya ikan air tawar kelompok Purwa Mina Sejati Banyumas tetap efisien.
3. Kesejahteraan
Tingkat kesejahteraan budidaya ikan air tawar diukur dengan menggunakan perbandingan antara pendapatan budidaya dijumlahkan dengan pendapatan keluarga yang dibandingkan dengan kebutuhan hidup layak (KHL).
Apabila pendapatan lebih besar dibandingkan dengan KHL maka keluarga tersebut dikatakan sudah sejahtera. Berikut adalah tabel pendapatan keluarga petani budidaya ikan air tawar kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas.
Tabel 3. Rata-Rata Total Pendapatan Pembudidaya Ikan Air Tawar Kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas (Rupiah)
No Uraian Nilai
1 Pendapatan keluarga 2.122.727
2 Pendapatan budidaya 7.604.387,35
Total 9.727.114,35
Sumber : Data Primer Diolah Oleh Peneliti, 2022.
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa total pendapatan pembudidaya ikan air tawar adalah Rp.9.727.114,35. pendapatan tertinggi adalah hasil dari budidaya ikan air tawar sebesar Rp.7.604.387,35.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa banyaknya jumlah anggota keluarga pembudidaya ikan air tawar Kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas adalah 3 anggota keluarga.
Untuk menghitung tingkat kesejahteraan dibutuhkan hasil pembagian dari jumlah pendapatan bersih dengan jumlah anggota keluarga. Hasil pembagian antara pendapatan dengan jumlah keluarga dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 7. Rata-Rata Pendapatan Per Anggota Keluarga Pembudidaya Ikan Air Tawar Kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas (Rupiah)
No Uraian Nilai
1 Pendapatan Rp. 9.727.114,35
2 Jumlah anggota keluarga 3
Total Rp. 3.242.371,45
Sumber : Data Primer Diolah Oleh Peneliti, 2022.
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pendapatan keluarga yang dibagi jumlah anggota keluarga sebanyak 3 orang maka hasil pendapatan per anggota keluarga sebesar Rp. 3.242.371,45.
Untuk menghitung tingkat kesejahteraan pembudidaya ikan air tawar kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas adalah dengan membandingkan antara jumlah pendapatan per keluarga dengan kebutuhan hidup layak (KHL). Perhitungan tingkat kesejahteraan pembudidaya ikan air tawar kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 8. Perbandingan Pendapatan Dengan KHL
Pendapatan Perbandingan KHL
Rp. 3.242.371,45 ≥ Rp.1.970.000
Sumber : Data Primer Diolah Oleh Peneliti, 2022.
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pendapatan sebesar Rp.3.242.371.45 lebih besar dari KHL maka pembudidaya ikan air tawar dapat dikatakan sejahtera.
Pembahasan 1. Keuntungan
Keuntungan atau laba (profit) di dalam ilmu ekonomi didefinisikan bahwa keuntungan adalah selisih antara pendapatan dengan total biaya produksi. Dalam penelitian ini telah dilakukan penelitian kepada kelompok budidaya ikan (POKDAKAN) Purwa Mina Sejati di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas yang berjumlah 25 responden menunjukan bahwa proses
budidaya ikan air tawar sudah menguntungkan. Hal tersebut menunjukan bahwa penelitian ini sesuai dengan hipotesis yang telah ditentukan, yaitu adanya keuntungan dalam proses budiaya ikan air tawar.
Berdasarkan hasil analisis penelitian ini dalam proses budidaya ikan air tawar di Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas dalam satu kali panen memerlukan biaya total sebesar Rp.6.845.392, jumlah tersebut merupakan total dari biaya tetap dan biaya variabel. Penerimaan yang didapat oleh pembudidaya adalah sebesar Rp.37.262.941,4 jumlah tersebut adalah jumlah penerimaan kotor dalam satu kali panen. Keuntungan yang didapat dalam proses budidaya ikan air tawar adalah sebesar Rp.30.417.549,4 per empat bulan. Atau mendapatkan keuntungan sebanyak Rp.7.604.387,35 per satu bulan. Dengan melihat hasil analisis tersebut dapat dikatakan bahwa hasil penerimaan lebih besar daripada hasil total biaya produksi yang artinya hipotesis dapat diterima karena pendapatan para pembudidaya sudah menguntungkan.
Selain itu, temuan Susanto (2021) yang menyatakan bahwa dalam penelitian Susanto usaha ikan asin rebus dinyatakan layak dan menguntungkan untuk diusahakan.
2. Efisiensi
Menurut pernyataan para ahli efisien merupakan kemampuan untuk mengimplementasikan suatu kegiatan atau usaha dengan mengeluarkan output seminimal mungkin seperti uang, waktu, dan tenaga untuk mencapai hasil atau target yang maksimal. Seperti halnya proses produksi budidaya ikan air tawar jika proses tersebut dilakukan seefisien mungkin maka akan semakin optimal keuntungan yang didapat, Perhitungan efisiensi proses budidaya ikan air tawar kelompok Purwa Mina Sejati Banyumas dianalisis dengan menggunakan R/C ratio.
Hasil perhitungan tingkat efisiensi budidaya ikan air tawar kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas bernilai 5,44.
Angka tersebut diperoleh dari perbandingan dari hasil total penerimaan sejumlah Rp.30.417.549,4 dibandingkan dengan total biaya sejumlah Rp.6.845.392. dengan perhitungan tersebut proses usaha budidaya ikan air tawar dapat dikatakan sudah efisien karena R/C ratio lebih besar dari 1.
Dapat dikatakan bahwa setiap satu kali produksi petani ikan mendapat keuntungan sebesar 4,44. Dari hasil analisis yang sudah diuraikan diatas terlihat bahwa hasil R/C ratio lebih dari 1 yang artinya hipotesis diterima karena jika R/C ratio lebih dari 1 maka usaha budidaya ikan air tawar dikatakan sudah efisiensi. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan Irwandi (2015) bahwa dalam hasil penelitian Irwandi menyatakan R/C ratio dari usaha pembesaran ikan nila sebesar 1,25 yang berarti bahwa usaha tersebut sudah efisien.
3. Kesejahteraan
Secara umum kesejahteraan mempunyai arti keadaan yang baik, kondisi manusia dimana orang-orangnya dalam keadaan makmur, dalam keadaan sehat dan damai. Dalam penelitian ini untuk menghitung kesejahteraan adalah dengan menggunakan perbandingan antara pendapatan (pendapatan proses budidaya dan pendapatan keluraga) dibandingkann dengan kebutuhan hidup layak (KHL) yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah. Tingkat kesejahteraan pembudiaya ikan air tawar kelompok Purwa Mina Sejati Banyumas berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan adalah sudah sejahtera. Hal tersebut didapat dari hasil penghitungan total pendapatan sebesar Rp.9.727.114,35. Hasil tersebut dibagi dengan jumlah anggota keluarga sebanyak 3 orang dalam satu keluarga, maka hasil dari pendapatan adalah Rp.3.242.371,45 yang dibandingkan dengan KHL sebesar Rp.1.975.000.
Dari hasil analisis yang sudah diuraikan dapat dilihat bahwa pendapatan/anggota keluarga lebih besar daripada KHL maka para pembudidaya ikan
air tawar kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas sudah sejahtera dan hipotesis dapat diterima. Sejalan dengan hasil penelitian Mudatsir (2021) yang menyatakan bahwa tingkat kesejahteraan petani kelapa sawit tergolong sejahtera berdasarkan indikator kesejahteraan yang ditetapkan oleh BPS.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan kepada kelompok pembudidaya ikan Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteg Kabupaten Banyumas, dapat disimpulkan 1) Keuntungan yang didapat oleh pembudidaya ikan air tawar kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas sebesar Rp. 7.604.387,35/bulan, 2) hasil penghitungan tingkat efisiensi menggunakan R/C, usaha budiaya ikan air tawar kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas sudah efisienn dengan nilai R/C ratio sebesar 5,44.
3) tingkat kesejahteraan pembudidaya ikan air tawar kelompok Purwa Mina Sejati Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas dapat dikatan sudah sejahtera.
Temuan ini mengimplikasikan 1) menjual hasil panen kepada konsumen secara langsung, bukan kepada pengepul ikan, 2) petani ikan harus membudidayakan benih agar hasil panen lebih optimal dan biaya yang dikeluarkan lebih sedikit, 3) Untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan maka para pembudidaya dapat meningkatkan kesejahteraan membeli lahan untuk menambah luas lahan yang digunakan untuk budidaya ikan air tawar agar hasil produksi lebih banyak dan pendapatan meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Agustine, A. D. (2014). Pengembangan sektor kelautan dan perikanan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (Studi di Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Banyuwangi) (Doctoral dissertation, Brawijaya University)..
Alawode, O. O., & Jinad, A. O. (2014). evaluation of technical efficiency of catfish production in Oyo State: A case study of Ibadan Metropolis. Journal of Emerging Trends in Educational Research and Policy Studies, 5(2), 223-231.
Ambarita, E. (2020). Analisis Perbandingan usahatani diversifikasi (padi sawah-ikan nila) dan usahatani padi sawah (monokultur), studi kasus: Desa Totap Majawa, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun”.
Andani, A., Yuliarso, M. Z., & Widiono, S. (2014). Analisis pendapatan dan resiko usaha budidaya ikan air tawar di Kabupaten Bengkulu Selatan. Jurnal AGRISEP: Kajian Masalah Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 13(1), 67-74.
Anggara, S. (2015). Metode Penelitian Administrasi..
Boediyono. 2002. Pengantar Ekonomi. Jakarta : Erlangga.
Bojnec, Š., & Fertő, I. (2013). Farm income sources, farm size and farm technical efficiency in Slovenia. Post-Communist Economies, 25(3), 343-356.
Ibenty H, H. (2012). Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani ikan lahan sawah di Kecamatan Badas Kabupaten Kediri (Doctoral dissertation, Universitas Negeri Malang).
Irwandi, I., Badrudin, R., & Suryanty, M. (2015). Analisis pendapatan dan efisiensi usaha pembesaran ikan nila (Oreochromis Niloticus) di Desa Mekar Mulya Kecamatan Penarik Kabupaten Mukomuko. Jurnal AGRISEP: Kajian Masalah Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 14(2), 237-253.
Kabupaten Banyumas Dalam angka 2021 Kecamatan Kedungbanteng dalam angka 2020
Moloi, J. M. (2008). A comparison of socio economic characteristics that determine the farm income of emerging livestock and emerging farmers in South Africa (Doctoral dissertation, M. Sc. dissertation, Turfloop, University of Limpopo).
Monica, C. A., Marwa, T., & Yulianita, A. (2017). Analisis potensi daerah sebagai upaya meningkatkan perekonomian daerah di Sumatera Bagian Selatan. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 15(1), 60-68.
Mudatsir, R. (2021). Analisis Pendapatan Rumah Tangga Dan Tingkat Kesejahteraan Petani Kelapa Sawit Di Kabupaten Mamuju Tengah. Journal TABARO Agriculture Science, 5(1), 508-516.
Nopirin. 2000. Pengantar Ilmu Ekonomi Makro dan Mikro. BPEE Yogyakarta.
Ohajianya, D. O., & Onyenweaku, C. E. (2003). Analysis of costs and returns in rice farming by farm size in Ebonyi State. Journal of Agriculture and Social Research (JASR), 3(1), 29-39.
Palilah, I. R. Analisis Pengaruh Produksi Perikanan, Kesejahteraan Pembudidaya, dan Angka Konsumsi Ikan terhadap PDRB sektor perikanan (Studi Kasus: Perikanan Budidaya di Enam Provinsi Pulau Sulawesi Periode 2014-2018) (Bachelor's thesis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis uin jakarta).
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 13 Tahun2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak Pasal 1Ayat 1
Profil Desa Beji letak geografis
Rahayu, W. (2020). Analisis Pendapatan Usaha Pembesaran Ikan Nila Merah (Oreochromissp) Pada Kolam Air Deras Di Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, 7(1), 14.
Rahman, S. M., & Haque, A. (2011). Impact of fish farming on household income: A case study from Mymensingh District..
Safitri, N., Istiqomah, I., Widyaningsih, N., & Purnomo, S. D. (2020). Analisis Keanggotaan Petani Dalam Kelompok Tani: Studi Kasus Kelompok Pembudidaya Ikan “Ulam Sari” Desa Kalikidang, Sokaraja, Banyumas. JSEP (Journal Of Social And Agricultural Economics), 13(1), 65-72.
Soekartawi. 2002 hlm. 132. Faktor – Faktor produksi. Jakrta : Salemba Empat.
Sugiyono. (2012). Metodologi Penelitian Kuantiitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.
Susanto, A. (2021). Analisis Pendapatan Dan Kelayakan Usaha Pengolahan Ikan Asin Rebus Di Kelurahan Pasar Batu Gerigis Kecamatan Barus Kabupaten Tapanuli Tengah (Doctoral dissertation, UMSU).
Sutawijaya, A. A., Rochaeni, S., & Nugraha, A. T. (2013). Analisis tingkat kesejahteraan rumah tangga petani ikan hias air tawar di Kelurahan Cipedak Kecamatan Jagakarsa Kota Madya Jakarta Selatan. Agribusiness Journal, 7(1), 59-76.
Syaifhas, D. (2013). Analisa Faktor Penentu Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dan Upah Minimum Provinsi (UMP) di Provinsi Sumatera Utara.
Tasman, A., & Aima, M. H. (2013). Ekonomi manajerial dengan pendekatan matematis. Depok: PT. Rajagrafindo Persasa.
Trisnani, K. (2013). Analisis Pendapatan dan Efisiensi Produksi Usahatani Budidaya Pembesaran Ikan Mas dan Nila Pada Keramba Jaring Apung Ganda (Studi Kasus Waduk Cirata Desa Bobojong Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur).
Undang-undang No 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
WARDHANI, P. K., & WARIDIN, W. (2012). Analisis Efisiensi Produksi dan Pendapatan pada Usaha Peternakan Ayam Ras Pedaging (Studi Kasus: Kecamatan
Limbangan, Kabupaten Kendal) (Doctoral dissertation, Fakultas Ekonomika dan Bisnis).
Woran, H. J., Kindangen, P., & Kawung, G. M. (2021). Analisis Pendapatan Rumah Tangga Pembudidaya Ikan Nila Sistem Minapadi Konvensional Dan Sistem Minapadi Kolam Dalam Di Kabupaten Minahasa Tenggara. Jurnal Pembangunan Ekonomi Dan Keuangan Daerah, 22(3), 113-131.
Yuris, N. P. (2021). Analisis Pendapatan Petani Ikan Nila Pasca Pandemi Covid 19 Di Dusun Kalisinta Desa Lenek Kecamatan Lenek Kabupaten Lombok Timur 2020 (Doctoral dissertation, Universitas_Muhammadiyah_Mataram).