• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III SISTEM PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU ROTAN UNTUK MENCAPAI EFISIENSI MODAL DI CV. LIFINDO VISITAMA CIREBON

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III SISTEM PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU ROTAN UNTUK MENCAPAI EFISIENSI MODAL DI CV. LIFINDO VISITAMA CIREBON"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

49 BAB III

SISTEM PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU ROTAN UNTUK MENCAPAI EFISIENSI MODAL DI CV. LIFINDO VISITAMA

CIREBON

A. Penggunaan Bahan Baku

Bahan baku merupakan barang-barang yang diperoleh untuk digunakan dalam proses produksi. Bahan baku adalah salah satu unsur yang paling aktif di dalam perusahaan yang secara terus-menerus diperoleh, diubah yang kemudian dijual kembali.

Berdasarkan hasil wawancara dengan owner perusahaan, jenis bahan baku yang digunakan oleh CV. Lifindo Visitama Cirebon untuk setiap produksinya adalah terdiri dari dua macam bahan yaitu bahan inti dan bahan pelengkap. Bahan inti terdiri dari rotan, pitrit, eceng, pelepah pisang, kubu belah, bahan cl, bahan owol, dan kayu. Jenis kayu yang dipakai adalah kayu mangga. Adapun bahan pelengkap terdiri dari lem putih, tiner, sanding sealer, melamine, dan kertas single face. Bahan pelengkap tersebut digunakan sebagai bahan pembantu dalam proses produksi kerajinan yaitu dalam proses finishing.73

Bahan baku yang digunakan oleh CV. Lifindo Visitama Cirebon tidak hanya menggunakan rotan saja, melainkan menggunakan bahan baku lain dalam proses pembuatan kerajinan tersebut. Hal ini dilakukan agar CV. Lifindo Visitama Cirebon dapat menghasilkan produk kerajinan yang lebih beraneka ragam, dan tetap bisa bersaing di pasaran.

Dalam penggunaan bahan baku, perusahaan memilih menggunakan bahan baku dengan kualitas yang sangat bagus. Karena perusahaan sangat mengutamakan kualitas produk yang dihasilkan. Sehingga perusahaan lebih memilih menggunakan bahan baku dengan kualitas yang baik. Pemeriksaan kualitas bahan baku biasanya dilakukan saat bahan baku masuk ke gudang bahan

73 Hasil wawancara dengan Bapak Luthfi selaku Owner Perusahaan, pada tanggal 20 April 2015

(2)

baku. Sistem pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan sistem sampling, yaitu hanya mengambil sejumlah bahan untuk diperiksa.74

Pemeriksaan kualitas bahan baku sangat penting dilakukan agar bisa mendapatkan bahan baku dengan kualitas yang diinginkan oleh perusahaan.

Penggunaan sistem sampling sendiri dilakukan agar dapat mengefisiensikan waktu pemeriksaan bahan baku. Selain itu, perusahaan memesan bahan baku kepada pemasok yang benar-benar sudah dipercaya dalam hal kualitas barangnya.

Jadi sangat kecil kemungkinan jika bahan baku yang dikirim oleh pemasok tersebut kualitasnya kurang baik.

Hal ini hanya berlaku untuk bahan baku kayu, eceng, pelepah pisang, pitrit, dan kubu belah. Karena untuk bahan cl dan bahan owol, bidang Quality Control akan menyurvai langsung kepada pemasok. Agar dapat mendapatkan kualitas bahan baku yang baik.75

Pemakaian bahan baku CV. Lifindo Visitama Cirebon dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.1 Total Pemakaian Bahan Baku pada CV. Lifindo Visitama Cirebon Tahun 2014

No. Jenis Bahan Baku Jumlah Pemakaian Setahun

1. Rotan pitrit 3.600 kg

2. Rotan kubu belah 6.000 kg

3. Rotan bahan cl 2.400 kg

4. Rotan bahan owol 864 kg

5. Eceng 12.000 kg

6. Pelepah pisang 6.000 kg

7. Kayu mangga 100 kubik

8. Lem putih 600 kg

9. Tiner 3600 liter

10. Sanding sealer 2.400 liter

74 Hasil wawancara dengan Bapak Maulana Jaya selaku Bagian Quality Control, pada tanggal 20 April 2015

75 Hasil wawancara dengan Bapak Maulana Jaya, pada tanggal 20 April 2015

(3)

11. Melamine 1.440 liter 12. Kertas single face 3.600 kg

Sumber : Wawancara dengan Staff Administrasi CV. Lifindo Visitama Cirebon

Harga beli bahan baku inti yang terdiri dari rotan pitrit yaitu sekitar Rp.

19.000/Kg, rotan kubu belah Rp. 13.000/Kg, rotan bahan cl Rp. 7.500/Kg, rotan bahan owol yaitu Rp. 6.000/Kg, eceng yaitu Rp. 9.000/Kg, pelepah pisang yaitu Rp. 5.500/Kg, dan kayu mangga yaitu Rp. 2.000.000/kubik.

Adapun harga untuk bahan baku pelengkap yang terdiri dari lem putih yaitu sekitar Rp. 30.000/Kg, tiner yaitu Rp. 12.000/liter, sanding sealer yaitu Rp.

20.000/liter, melamine yaitu Rp. 28.000/liter, dan kertas single face yaitu Rp.

5.900/Kg.

B. Prosedur Pembelian Bahan Baku

Secara umum, prosedur pembelian bahan baku yang dilakukan oleh CV.

Lifindo Visitama Cirebon adalah sebagai berikut:

a. CV. Lifindo Visitama Cirebon memesan bahan baku kepada pemasok yang memiliki spesifikasi yang sesuai dengan spesifikasi bahan baku yang dibutuhkan yaitu dari jenis bahan, harga, dan kualitas bahan. Untuk pemasok sendiri CV. Lifindo Visitama Cirebon sudah mempunyai pemasok tetap yang sudah biasa memasok bahan baku kepada CV. Lifindo Fisitama Cirebon. Tetapi untuk bahan cl dan dan bahan owol, CV. Lifindo Visitama Cirebon tidak memesan langsung kepada pemasok, melainkan bagian Quality Control dari CV. Lifindo Visitama Cirebon melakukan survei langsung dalam melakukan pemesanan bahan baku tersebut. Hal tersebut dilakukan karena seringkali bahan cl dan bahan owol yang dipesan tidak sesuai dengan spesifikasi yang dipesan.

b. Memberikan Purchasing Order (PO) yang berisi antara lain spesifikasi rotan, jumlah rotan, dan waktu pembayaran.

c. Menunggu persetujuan PO dari pemasok. PO bisa dibatalkan oleh pemasok maupun dari pihak perusahaan.

(4)

d. Bila telah terdapat kesepakatan, maka barang siap dikirim ke perusahaan sesuai dengan pesanan.

e. Ketika barang datang, kemudian dilakukan pemeriksaan oleh bagian Quality Control. Apabila ada bahan baku yang tidak memenuhi standar pemesanan, maka bahan baku tersebut dikembalikan kepada pemasok untuk segera diganti sesuai dengan kualitas dan jumlah yang telah disepakati dalam perjanjian PO. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan sistem sampling, yaitu mengambil sejumlah bahan baku tertentu untuk diperiksa.76

Dengan kata lain, prosedur yang dilakukan oleh CV. Lifindo Visitama Cirebon menggunakan kesepakatan bersama antara perusahaan dengan pemasok bahan baku. Kesepakatan ini dilakukan pada awal terjadinya transaksi pemesanan bahan baku. Dalam kesepakatan tersebut, jika bahan baku tidak sesuai dengan yang dipesan oleh perusahaan, maka bahan baku tersebut dapat ditukar kembali kepada pemasok bahan baku. Untuk pemasok sendiri, CV. Lifindo Visitama Cirebon mempunyai pemasok tetap yang biasa memasok bahan baku kepasa CV.

Lifindo Visitama Cirebon.

C. Sistem Persediaan Bahan Baku

Sistem persediaan bahan baku pada CV. Lifindo Visitama Cirebon merupakan tugas bagian produksi dan bagian bahan baku. Bagian produksi dan bagian bahan baku bertugas mengatur tingkat persediaan sehingga kebutuhan bahan baku selalu terpenuhi dan tidak terjadi kelebihan atau kekurangan bahan baku.

Tujuan persediaan bahan baku adalah agar perusahaan selalu mempunyai persediaan dalam jumlah yang tepat, dan dalam spesifikasi atau mutu yang telah ditentukan sehingga produktivitas perusahaan tidak terganggu.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada CV. Lifindo Visitama Cirebon, sistem persediaan bahan baku yang digunakan adalah sistem order sesuai pesanan, dimana perusahaan menyediakan bahan baku jika ada order pesanan

76 Hasil wawancara dengan Bapak Abdurrahman selaku Bagian Bahan Baku, pada tanggal 28 April 2015

(5)

produk dari pembeli. Sistem ini dilakukan untuk bahan baku inti dan juga bahan baku pelengkap.77

Dalam satu bulan, CV. Lifindo Visitama Cirebon rata-rata mendapat order sebanyak dua kali. Jadi CV. Lifindo Visitama Cirebon bisa membeli bahan baku sebanyak dua kali dalam satu bulan. CV. Lifindo Visitama Cirebon memperoleh bahan baku langsung dari pemasok di Cirebon.

77 Hasil wawancara dengan Bapak Abdurrahman, pada tanggal 28 April 2015

(6)
(7)

Selama tahun 2014, total pemakaian bahan baku bulanan untuk jenis rotan pitrit pada CV. Lifindo Visitama Cirebon yaitu sebesar 3.600 Kg, sedangkan total pemakaian rotan kubu belah sebesar 6.000 Kg. Total pemakaian rotan bahan cl sebesar 2.400 Kg dan total pemakaian rotan bahan owol sebesar 864 Kg.

Pemakaian rotan pitrit terbesar terjadi pada bulan Maret yaitu sebesar 400 Kg, sedangkan pemakaian rotan kubu belah terbesar juga terjadi pada bulan Maret yaitu sebesar 650 Kg. Pemakaian rotan bahan cl terbesar terjadi pada Mei yaitu sebesar 300 Kg, sedangkan rotan bahan owol terbesar terjadi pada bulan Februari dan bulan Mei yaitu sebesar 75 Kg.

Adapun total pemakaian bahan baku bulanan untuk bahan eceng yaitu sebesar 12.000 Kg, sedangkan total pemakaian bahan pelepah pisang sebesar 6.000 Kg, dan total pemakaian kayu mangga sebesar 100 kubik. Pemakaian bahan eceng terbesar terjadi pada bulan Februari yaitu sebesar 1.200 Kg, sedangkan pemakaian bahan pelepah pisang terbesar terjadi pada bulan Desember yaitu sebesar 590 Kg, dan pemakaian terbesar untuk kayu yaitu pada bulan Desember yaitu sebesar 10 kubik.

Penggunaan bahan pelengkap yang terdiri dari lem putih dengan total pemakaian sebesar 600 Kg, sedangkan total pemakaian tiner sebesar 3.600 liter.

Total pemakaian sanding sealer sebesar 2.400 liter, total pemakaian melamine sebesar 1.440 liter, dan total pemakaian kertas single face sebesar 3.600 Kg.

Pemakaian lem putih terbesar terjadi pada bulan Desember yaitu sebesar 54 Kg, dan pemakaian tiner terbesar juga terjadi pada bulan Desember yaitu sebesar 400 liter. Pemakaian sanding sealer terbesar terjadi pada bulan Desember yaitu sebesar 320 liter, pemakaian melamine terbesar terjadi pada bulan Juli yaitu sebesar 150 liter, dan pemakaian kertas single face terbesar terjadi pada bulan Desember yaitu sebesar 400 Kg.

Berdasarkan tabel tersebut, sudah terlihat jelas bahwa persediaan bahan baku pada CV. Lifindo Visitama Cirebon tidak sama setiap bulannya. Hal ini dikarenakan CV. Lifindo Visitama Cirebon menggunakan sistem sesuai order pesanan dalam sistem persediaan bahan bakunya. Jadi CV. Lifindo Visitama Cirebon menyetok bahan baku ketika ada order pesanan dari pembeli.

(8)

CV. Lifindo Visitama Cirebon memilih sistem sesuai order pesanan dalam persediaan bahan bakunya karena CV. Lifindo Visitama Cirebon sendiri tidak ingin terjadinya pengendapan bahan baku di dalam gudang. Hal ini dinilai dapat merugikan perusahaan, karena tidak dapat mengefisiensikan modal perusahaan.

Jika perusahaan menyetok bahan baku dalam jumlah yang sama setiap bulannya, maka hal ini dapat mengakibatkan terjadinya kekurangan atau kelebihan bahan baku. Sementara order pesanannya pun jumlahnya tidak sama setiap bulannya. Hal ini tentunya dirasa tidak efektif untuk perusahaan. Sistem tersebut juga dapat mengurangi tingginya resiko kerusakan bahan baku.

D. Proses Produksi

Proses produksi di CV. Lifindo Visitama Cirebon dilakukan ketika adanya kesepakatan pembelian antara pihak perusahaan dengan pihak pembeli. Pesanan biasanya dilakukan melalui email atau langsung datang ke perusahaan. Dalam hal ini, bagian marketing yang bertugas untuk mendata jumlah dan jenis barang yang dipesan oleh pembeli. Setelah pendataan lengkap, bagian marketing akan mengkonfirmasikan pemesanan kepada bagian produksi. Kemudian bagian produksi akan menghubungi pengrajin rangka untuk menyiapkan rangka barang sesuai jumlah dan model yang dipesan.78

Untuk proses produksi ini dilakukan di dua tempat, yaitu di perusahaan dan di rumah pekerja pengrajin rangka. Proses produksi yang dilakukan di perusahaan adalah proses penganyaman dan proses finishing. Dimana kerajinan yang dilakukan di perusahaan adalah berupa barang setengah jadi. Adapun proses produksi yang dilakukan di rumah pekerja adalah proses pembuatan rangka.

Produk yang diproduksi oleh CV. Lifindo Visitama Cirebon yaitu berupa kursi, sofa, dan meja. Kursi yang diproduksinya pun dalam berbagai macam bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Pembuatan produk seperti ini membutuhkan waktu yang relatif lama.

Berdasarkan hasil wawancara dengan bagian produksi, proses produksi untuk kerajinan rotan pada CV. Lifindo Visitama Cirebon dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu sebagai berikut:

78 Hasil wawancara dengan Bapak Saifurrahim selaku Bagian Produksi, pada tanggal 30 April 2015

(9)

1. Tahap Persiapan

Tahap persiapan yaitu meliputi pemilihan jenis dan ukuran bahan baku yang digunakan serta pengecekan mesin dan peralatan yang akan digunakan.

Pada tahap ini, amat sangat penting dilakukan karena ini merupakan awal dari proses produksi. Dimana, jika sampai terjadi kesalahan ditahap awal maka akan berpengaruh untuk proses selanjutnya. Contohnya jika ditahap awal terjadi kesalahan dalam pemilihan bahan baku, maka akan berdampak pada kualitas produk yang dihasilkan. Produk tersebut jadi tidak sempurna.

2. Tahap Proses Produksi

Tahap ini meliputi beberapa tahapan yaitu:

a. Pembuatan Rangka

Adapun pembuatan rangka yaitu sebagai berikut:

1) Pemotongan kayu dan rotan

Sebelum proses pemotongan, kayu dan rotan tersebut diukur terlebih dahulu. Kemudian kayu dan rotan dipotong sesuai ukuran yang dibutuhkan. Pemotongan tersebut harus tepat sesuai ukuran. Karena kayu dan rotan ini digunakan untuk rangka kerajinan. Baik itu berupa kursi, sofa, maupun meja. Jika tidak sesuai dengan ukuran yang sudah ditetapkan, maka hasilnya tidak akan sempurna. Contohnya, jika dalam pemotongan kayu untuk kaki kursi tidak rata, maka kursi yang dihasilkan juga akan tidak rata tingginya.

2) Pemanasan (steam)

Proses steam ini dilakukan agar pada saat pembentukan pola dapat dibentuk dengan mudah sesuai model yang diinginkan. Hal ini dilakukan untuk bahan jenis rotan.

3) Pembengkokan rotan

Setelah proses steam, rotan tersebut kemudian akan dibengkokan.

Pembengkokan tersebut menggunakan alat khusus yang terbuat dari besi.

4) Perakitan

(10)

Jika rotan-rotan sudah dibengkokan, maka rotan-rotan tersebut akan dirakit sesuai dengan model yang diinginkan.

b. Pengikatan dan Penganyaman.

Penganyaman dilakukan menggunakan bahan baku berupa pitrit, kubu belah, bahan cl, bahan owol, eceng, ataupun dengan pelepah pisang.

Penganyaman ini umumnya dilakukan oleh pekerja wanita. Untuk proses penganyaman, tidak semua orang bisa melakukannya. Karena proses penganyaman membutuhkan keahlian khusus. Selain itu dibutuhkan kerapihan dan ketelatenan dalam proses penganyaman.

c. Pengampelasan dan Pembakaran

Pengampelasan dilakukan untuk menghaluskan bagian-bagian yang kasar.

Sedangkan pembakaran dilakukan untuk menghilangkan serat-serat pada rotan

.

3. Tahap Penyelesaian (Finishing)

Tahap ini merupakan tahap sanding atau pewarnaan dasar, kemudian dilakukan pengampelasan untuk yang kedua kali. Setelah pengampelasan, kemudian dilakukan pemberian melamine. Hal ini dilakukan bertujuan untuk mengkilatkan warna.

4. Tahap Quality Control

Setelah proses finishing selesai, produk akan di cek satu persatu. Hal ini dilakukan oleh bidang Quality Control. Adapun standar pengecekannya yaitu produk yang dihasilkan harus benar-benar halus tanpa adanya serat-serat rotan ataupun kayu yang tersisa. Selain itu warnanya harus sesuai dengan sample atau standar produk yang ditentukan.79

Tahap Quality Control ini harus dilakukan oleh orang yang benar-benar ahli dibidangnya. Karena pada tahap ini yang akan menentukan produk yang dihasilkan sudah layak untuk dipasarkan atau tidak.

79 Hasil wawancara dengan Bapak Maulana Jaya, pada tanggal 4 Mei 2015

(11)

5. Tahap Packing

Produk yang sudah sesuai dengan standar produk kemudian akan dipacking menggunakan kertas single face. Hal ini dilakukan untuk mencegah benturan atau kerusakan pada produk. Packing menggunakan kertas single face memiliki keunggulan yaitu biayanya lebih murah dan pada saat penyusunan di kontainer dapat memuat lebih banyak. Tahap packing ini merupakan tahap akhir dari proses produksi. Dimana produk yang dihasilkan sudah sesuai dengan standar perusahaan, dan produk siap untuk dipasarkan.

Semua proses produksi yang dilakukan oleh CV. Lifindo Visitama Cirebon ini dilakukan dengan amat sangat teliti. Mulai dari tahap persiapan, proses pembuatan rangka, pengikatan dan penganyaman, pengampelasan dan pembakaran, tahap finishing, tahap quality control, dan tahap packing, semuanya dilakukan dengan teliti. Hal ini dilakukan karena perusahaan ingin mendapatkan produk yang sangat berkualitas dan bisa tahan lama.

Setelah proses produksi selesai dilakukan, produk tersebut akan dipasarkan.

Pemasaran yang dilakukan adalah di dalam negeri dan diluar negeri. Dalam hal ini, produk yang dihasilkan oleh CV. Lifindo Visitama Cirebon kebanyakan diekspor ke luar negeri, yaitu ke Afrika. Untuk pengirimannya sendiri, CV.

Lifindo Visitama Cirebon memakai jasa sewa kontainer.

Referensi

Dokumen terkait

Golongan Khawarij juga merupakan salah satu kelompok yang memiliki pemahaman agama yang radikal dan tekstual yang pernah muncul dalam catatan perjalanan sejarah

Sedangkan tenaga kesehatan yang berpengetahuan baik mengenai mencuci tangan di rumah sakit sebanyak 43 orang dintaranya, tenaga kesehatan dngan lama kerja kurang dari

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Produksi CPO yang dihasilkan Sungai Bengkal Mill dalam kurun waktu 6 tahun terakhir mengalami tren penurunan yang cukup

Referential integrity states that foreign key values must match a candidate key value of some tuple in the home relation or be wholly null. Apart from relational integrity,

Sutakaria (1980) menyebutkan bahwa penyakit epidemik dipergunakan untuk penyakit yang merusak dengan persentase yang tinggi dalam suatu populasi tanaman. Jadi jumlah

6 nomor 1 Juni 2013 ini antara lain membicarakan tentang perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematik siswa antara pendekatan contextual

Kemudian adanya suku bunga yang tidak menentu pada masing-masing koperasi sehingga seakan-akan prinsip kekeluargaan hilang dan seolah-olah menjadi lahan untuk mencari

Selama tahap pertumbuhan dan pembentukan tulang serta guna mencapai PBM, pria membutuhkan lebih banyak kalsium daripada wanita selama 20 tahun pertama kehidupan mereka