p-ISSN: 1978-3647 e-ISSN: 2354-8835
JURNAL
VEKTOR PENYAKIT
Journal of Disease Vector
Vol. 15 No. 1 Juni 2021
[email protected]
Terakreditasi Nasional SK No. 30/E/KPT/2018
Dewan Redaksi
Volume 15 No.1 Juni 2021
Jurnal Vektor Penyakit merupakan media publikasi dan informasi hasil - hasil penelitian dan pengembangan, tinjauan hasil - hasil penelitian, metodologi dan pendekatan-pendekatan baru dalam penelitian yang berkaitan dengan vektor penyakit dan usaha
pengendalian penyakit bersumber binatang.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Jurnal ini merupakan jurnal publikasi ilmiah resmi Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Kementerian Kesehatan RI.
Terbit dua kali setahun, edisi Juni dan Desember
Website e-journal : http://ejournal.litbang.kemkes.go.id/index.php/vektorp https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/vektorp E-mail : [email protected] , [email protected]
Alamat Redaksi:
Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Jl. Masitudju No.58, Labuan Panimba, Labuan, Donggala, Sulawesi Tengah 94252 w Dr. April H. Wardhana, S.K.M., M.Si., Ph.D (Bioteknologi, Badan Litbang Pertanian Bogor)
w Rusdiyah, S.K.M., M.Kes, Ph.D (Entomologi, FK Universitas Hasanuddin)
w Hasrida Mustafa, S.Si (Biologi Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w Arief Mulyono, S.Si, M.Sc (Biologi Lingkungan, B2P2VRP Salatiga, Badan Litbangkes) w Iqbal Elyazar, Dphi (Epidemiologi, Eijkman Institute)
w Prof. dr. Agus Suwandono,M.P.H,Dr.PH (Epidemiologi dan Kebijakan Kesehatan, FKM, Universitas Diponegoro)
Redaksi Pelaksana:
Riri Arifah Patuba, S.K.M.
wOctaviani, S.K.M. (Epidemiologi dan Biostatistik, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w drh. Intan Tolistiawaty (Biologi Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes) w Nurul Hidayah S.B., S.Si (Biologi Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes) w Malonda Maksud, S.K.M. (Epidemiologi dan Biostatistik, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w dr. Isra Wahid, Ph.D (Entomologi, FK Universitas Hasanuddin) Mitra Bestari :
w Phetisya Pamela Frederika Sumolang, S.Si (Biologi Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes) w Ningsi, S.Sos, M.Si (Epidemiologi dan Biostatistik, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes) w Meiske Elisabeth Koraag, S.Si, M.P.H (Biologi Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes) wNi Nyoman Veridiana, S.K.M. (Epidemiologi dan Biostatistik, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w Prof. Dr. Ir. Yuli Widyastuti (Tanaman Obat dan Obat Tradisional, B2P2TOOT, Badan Litbangkes) wMara Ipa, S.K.M., M.Sc, (Epidemiologi dan Biostatistik, Loka Litbang Kesehatan Pangandaran, Badan Litbangkes)
w Dra. Shinta, M.S. (Biologi Lingkungan, Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat, Badan Litbangkes) w drh. Gunawan, M.Sc (Biologi Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w Mujiyanto, S.Si, M.P.H (Epidemiologi dan Biostatistik, B2P2VRP Salatiga, Badan Litbangkes) w Rina Isnawati, S.Si (Biologi Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w Prof. Dr. Sri Irianti, S.K.M, MPhil, PhD (Kesehatan Lingkungan, Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat, Badan Litbangkes) w Prof. (R ) Dr. Gono Semiadi, (Zoologi , Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).
w Dr. Lif.Sc I Nengah Suwastika, M.Sc, M.Lif.Sc (Biologi Sel dan Molekuler, FMIPA, Universitas Tadulako ) w Samarang, S.K.M., M.Si (Biologi Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w Prof.(Riset) dr. Emiliana Tjitra,DTM&H, M.Sc, Ph.D (Biomedik, Badan Litbangkes)
w Drs. Setia Pranata, M.Si ( Perilaku Kesehatan, Puslitbang Humaniora dan Managemen Kesehatan) w Dr. Sri Handayani (Ilmu Kefarmasian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
Penanggung Jawab :
Muh. Faozan, S.K.M., M.PH (Kepala Balai Litbang Kesehatan Donggala) Pemimpin Redaksi :
Hayani Anastasia, S.K.M., M.PH (Epidemiologi dan Biostatistik, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes) Anggota Dewan Redaksi :
w Sitti Chadijah, S.K.M., M.Si (Epidemiologi dan Biostatistik, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes) w Anis Nur Widayati, S.Si, M.Sc (Biologi Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes) w Junus Widjaja, S.K.M., M.Sc (Epidemiologi dan Biostatistik, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes) w Made Agus Nurjana, S.K.M., M.Epid (Epidemiologi dan Biostatistik, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w Rosmini, S.K.M., M.Sc (Epidemiologi dan Biostatistik, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
JURNAL
VEKTOR PENYAKIT
Journal of Disease Vector
e-ISSN: 2354-8835
Artikel tentang pengaruh tempat penampungan air dengan DBD, yang ditulis oleh Octaviani, dkk, menjadi artikel penutup dalam Jurnal Vektor Penyakit Volume 15 No 1 Juni 2021 dengan judul “Pengaruh tempat penampungan air dengan kejadian DBD di Kabupaten Bangka Barat Tahun 2018”. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa rumah dengan tempat penampungan terbuka mempunyai risiko 2,7 kali lebih besar untuk transmisi DBD, rumah yang ditemukan jentik di tempat penampungan air dalam maupun luar rumah mempunyai risiko 5,6 kali lebih besar untuk terkena DBD, dan rumah yang disekitarnya ditemukan tempat penampungan air berisiko 5,1 kali lebih besar untuk menderita DBD.
Rahmat Satriadi, dkk, mengulas tentang Demam Berdarah Dengue dengan judul “Hubungan antara lama demam dengan hasil pemeriksaan kualitatif IgM dan IgG pada pasien Demam Berdarah Dengue di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie tahun 2018”. Hasilnya menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lama demam dengan hasil pemeriksaan kualitatif IgM dan IgG.
Artikel keempat dalam Jurnal Vektor Penyakit Volume 15 No 1 ditulis oleh Cici Apriza Yanti, dkk yang mengangkat topik Musca domestica, dengan judul “Respon Musca domestica terhadap target visual berwarna Fly Grill”. Penelitian menemukan warna yang disukai lalat adalah warna merah dan yang tidak disukai adalah biru.
Artikel dengan judul “Peran tikus got (Rattus norvegicus) dari kelompok tikus dan suncus sebagai penular utama leptospirosis di Semarang ” oleh Zumrotus Sholichah, dkk menjadi tulisan ke enam dalam edisi ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tikus got merupakan maintenance host serovar tertentu di wilayah tersebut dan terbukti membawa bakteri Leptospira patogenik.
Penelitian tentang malaria knowlesi dengan judul “Gambaran pengetahuan masyarakat tentang malaria knowlesi di perbatasan Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas hulu” ditulis oleh Dewi Apriani, dkk.
Penelitian menemukan bahwa pengetahuan masyarakat masih kurang tentang malaria knowlesi.
Semoga tulisan pada edisi ini dapat bermanfaat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan program pengendalian penyakit bersumber binatang. Saran dan masukan demi perbaikan jurnal
Penelitian mengenai malaria pada Wanita Usia Subur dan anak dengan judul “Malaria pada kelompok Wanita Usia Subur dan anak di Indonesia: Analisis data Riskesdas 2013” ditulis oleh Revi Rosavika Kinansi, dkk. Hasil penelitian menunjukkan umur, pendidikan, pekerjaan, dan jenis kelamin anak mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian malaria.
ini sangat kami nantikan untuk penerbitan selanjutnya.
Sebanyak tujuh artikel tersaji dalam Jurnal Vektor Penyakit Volume 15 No 1 Juni 2021. Artikel pertama ditulis oleh Rais Yunarko dan Yohana Patanduk yang melihat perilaku mikrofilaria, dengan judul “Perilaku mikrifilaria Brugia timori dan Wuchereria bancrofti pada kasus filariasis dengan infeksi campuran di Kabupaten Sumba Barat Daya”. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan perilaku mikrofilaria B.
Timori dan W. Bancrofti pada kasus infeksi campuran.
Salam Sehat Pengantar Redaksi
Dewan Redaksi
Volume 15 No. 1 Juni 2021
Journal of Disease Vector
E-ISSN: 2354-8835 ISSN: 1978-3647
Volume 15 Nomor 1 Juni 2021
DAFTAR ISI
ARTIKEL
[email protected]
Journal of Disease Vector
1–10
11–16
17–32
33–42
53–62 E-ISSN: 2354-8835
(Rais Yunarko dan Yona Patanduk)
Hubungan antara Lama Demam dengan Hasil Pemeriksaan Kualitatif IgM dan IgG pada Pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) di RSUD
Sultan Syarif Mohamad Alkadrie tahun 2018
Analisis Data Riskesdas 2013
(Rahmat Satriadi, Joni Tampe Parinding, Agustina Arundina Triharja Tejoyuwono, dan Diana Natalia)
(Revi Rosavika Kinansi, Rika Mayasari, dan Hotnida Sitorus)
(Cici Apriza Yanti, Mila Sari, Yulia Yesti, dan Dendi Herta)
Malaria pada Kelompok Wanita Usia Subur dan Anak di Indonesia :
Gambaran Pengetahuan Masyarakat tentang Malaria Knowlesi di Perbatasan Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu
(Dewi Apriani, Rangga P. Nugraha, dan Diana Natalia)
Respon Musca domestica terhadap Target Visual Berwarna Fly Grill Perilaku Mikrofilaria Brugia timori dan Wuchereria bancrofti Pada Kasus Filariasis dengan Infeksi Campuran di Kabupaten Sumba Barat Daya
Kabupaten Bangka Barat Tahun 2018 Majid Khoeri, dan Dewi Puspita Ningsih )
sebagai Penular Utama Leptospirosis di Semarang
(Octaviani, Muhammad Putra Kusuma, dan Tri Yunis Wahyono) (Zumrotus Scolichah, Bina Ikawati, Dewi Marbawati, Miftahuddin Peran Tikus Got (Rattus norvegicus) dari Kelompok Tikus dan Suncus
Pengaruh Tempat Penampungan Air dengan Kejadian DBD di
43–52
63–72
Journal of Disease Vector
Volume 15 No. 1 Juni 2021
ABSTRACT SHEET
The Relationship between the Length of Fever Period with the Qualitative Test Results of IgM and IgG in Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) Patients at Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Hospital in 2018
Rais Yunarko and Yona Patanduk
Journal of Disease Vector Vol. 15 No. 1, Juni 2021; p 1–10
Keywords : microfilariae periodicity, Wuchereria bancrofti, Brugia timori, nocturnal periodics (National Institute of Health Research and Development of Waikabubak, NIHRD, Ministry of Health Republic of Indonesia)
________________________________________________________________
Behaviour of Microfilariae Brugia timori and Wuchereria bancrofti in Filariasis Cases with Mixed Infection in Southwest Sumba Regency
(Medical Faculty, Tanjungpura Pontianak University) NLM : WC 880
Brugia timori is a filariasis worm which distribution is limited in the East Nusa Tenggara Islands, while Wuchereria bancrofti is widespread almost all over the world. The density of microfilariae shows daily behavior that varies depending on the species of microfilariae.
Cases of mixed infections between B. timori and W.
bancrofti were reported in the Kahale Village, Southwest Sumba Regency. This study aims to determine the microfilariae periodicity of B. timori and W. bancrofti in filariasis patients with mixed infections. The Subjects in this study were five positive people with filariasis with mixed infections of W. bancrofti and B. timori. The Blood sampling was conducted 12 times in 24 hours with intervals of two hours, starting from 2:00 PM to midnight local time. Data were analyzed using Aikat and Das formula. The Circadian rhythm of microfilariae B. timori and W. bancrofti showed those cases had the circadian or harmonic wave. B. timori and W. bancrofti microfilaria had the same periodicity index (D) above 100%, with peak densities (K) both of microfilaria species in peripheral blood circulation, between 11:00 PM to 03:00 AM. The Behaviors of microfilariae B. timori and W.
bancrofti in mixed infection cases were not different. The behavior of those microfilariae species was as nocturnal periodic.
NLM : WC 528
Rahmat Satriadi, Joni Tampe Parinding, Agustina Arundina Triharja Tejoyuwono, and Diana Natalia
Journal of Disease Vector Vol. 15 No. 1, Juni 2021; p 11–16
E-ISSN 2354-8835 E-ISSN 2354-8835 E-ISSN 2354-8835 ISSN 1978-3647 ISSN 1978-3647 ISSN 1978-3647
Infants, toddlers, and pregnant women are high-risk groups that often experience deaths from malaria.
Difficulty in accessing health services is one of the contributing factors, besides poverty, expensive health costs, lack of health workers, and limited health facilities.
This study aims to look at the relationship between socio- economic factors, distance, environment, and community behavior with malaria incidence. This type of research is non-intervention observation with a cross-sectional design description and approach. The study population is all malaria-endemic areas in Indonesia, while a sample of all selected households in the census block (BS). The dependent variable is the incidence of malaria in children 0-14 years and women of childbearing age (WUS), the Journal of Disease Vector Vol. 15 No. 1, Juni 2021; p 17–32 Keywords : Dengue Hemorrhagic Fever, IgG dengue, IgM
dengue, length of fever
Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a disease caused by the dengue virus transmitted by the Aedes spp mosquito as a vector. Dengue virus infection can stimulate IgM and IgG-specific antibodies. Determination of the length of the fever period in the serological test of DHF is believed in optimizing the result. This study aimed to determine the relationship between the length of fever with qualitative test results of IgM and IgG in dengue hemorrhagic fever (DHF) patients at Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Hospital in Pontianak, West
Kalimantan Province. An observational analytical study was used with a cross-sectional approach. The method of selecting samples is non-probability sampling using consecutive sampling. A total of 61 samples were involved in this study. Data were collected from medical records and analyzed by the Mann-Whitney test.
Statistical analysis relieved that there is no significant relationship between the length of fever with qualitative test results of IgM (p=0,869) and IgG (p=0,528).
However, IgM and IgG could be biological markers of dengue infection and related to the pathogenicity level of the DHF patients.
________________________________________________________________
Revi Rosavika Kinansi, Rika Mayasari, and Hotnida Sitorus
(Vector and Reservoir Research and Development Center of Salatiga, NIHRD, Ministry of Health Republic of Indonesia)
(National Institute of Health Research and Development of Baturaja, NIHRD, Ministry of Health Republic of Indonesia)
NLM : WC 755
Malaria in the Reproductive Age Group of Women and Children in Indonesia: Analysis of Riskesdas 2013
Keywords : malaria, women of childbeareng age, children
Flies are insects belonging to the Diphtera order which can act as mechanical vectors of a disease. Just like insects in general, flies are sensitive to differences in wavelengths of light (color). Therefore, this study aims to determine the difference in the color of the fly grill with the density of flies. This type of research is experimental with a one shot case study design. This research was conducted at the Nanggalo Siteba market, The measurement points were carried out around the Tempat Pembuangan Sampah. The number of measurement points is five points, the center point, and four points according to the cardinal directions (west, east, north, and south from the center point). Flies density measurements were carried out at each point 10 times repetition for 30 seconds of each measurement, then the mean was sought. The data obtained were analyzed using the ANOVA test. The fly grill used is painted white, blue, yellow, red, black and is not painted.
From the ANOVA test calculation, it was found that there were significant results between the color variants of the fly grill and the number of flies that landed. The average fly densities from the lowest to the highest were as follows: blue, white, black, unpainted, yellow and red fly grill. Based on this research, it can be seen that the preferred color of flies is red and those that are not preferred are blue.
Cici Apriza Yanti, Mila Sari, Yulia Yesti, and Dendi Herta ________________________________________________________________
Keywords : fly grill, color, flies
(University of Fort De Kock Bukittingi) NLM : QX 505
(Public Health Office of Padang Pariaman City, West Sumatra Province)
independent variable is the respondent's characteristics, preventative behavior, environment, and access to health services. The results of the linear regression analysis of the characteristics (age, education, and occupation) of WUS and children aged 0-14 years plus the sex of the child to the incidence of malaria showed a significant relationship. The results of the analysis of prevention behavior towards malaria-borne mosquito bites and the availability of health care facilities in the WUS group were almost all significant variables with the incidence of malaria. While the results of the analysis of prevention behavior against malaria-transmitted mosquito bites such as using the mosquito nets, repellent, and insect spray and then availability of health care facilities for children aged 0-14 years for the presence of health centers / auxiliary health centers and poskesdes / poskestren are significant.
Journal of Disease Vector Vol. 15 No. 1, Juni 2021; p 33–42 Musca Domestica’s response to The Fly Grill’s Colored Visual Targets
________________________________________________________________
Knowlesi malaria is a malaria that occurs in long-tailed macaques (Macaca fascicularis) and pig-tailed macaques (Macaca nemestrina) which is caused by Plasmodium knowlesi. Cases of knowlesi malaria found at Sarawak Malaysia in 2004, where the Kecamatan Badau is an area directly adjacent to Sarawak, Malaysia, so the potential for transmission can also occur. Knowledge about Plasmodium knowlesi malaria is the community knowledge about its specific symptoms, vector and host of Plasmodium knowlesi, as wel as the prevention of malaria knowlesi. This research is descriptive statistics of community knowledge concerning knowlesi using cross- sectional design. A purposive sampling was conducted in August 2019 in Desa Janting, Desa Sebindang and Desa Badau to select 94 respondents. Data were collected by using structured questionnaires as research instruments.
The results obtained including distribution of proportion of respondents, which were mostly females (75,50%) at the age group of 18-40 years (57,45%), graduated from elementary and junior high school (60,60%), and housewives (53,40%). Respondents in this study had low level of knowledge (72%). In conclusion, the knowledge of respondents concerning knowlesi malaria at subdistrict border of Badau, Kapuas Hulu District was lacking.
________________________________________________________________
(Eijkman Institue for Molecular Biology, Ministry of Research and Technology/BRIN)
Journal of Disease Vector Vol. 15 No. 1, Juni 2021; p 33–42
Semarang city is one of leptospirosis endemic area in Central Java Province and the disease is always found (Study program of Medical, Medical faculty, Tanjungpura University)
Zumrotus Sholichah, Bina Ikawati, Dewi Marbawati, Miftahuddin Majid Khoeri, and Dewi Puspita Ningsih NLM : WC 750-770
Dewi Apriani, Rangga P. Nugraha, and Diana Natalia
(Immunology Departmen, Medical Faculty, Tanjungpura University)
(Parasitology Departmen, Medical Faculty, Tanjungpura University)
The Description of Community Knowledge about Plasmodium Knowlesi Malaria in The Subdistrict Border of Badau, Kapuas Hulu District
Keywords : malaria knowlesi, malaria, pengetahuan NLM : WC 420
(National Institute of Health Research and Development of Banjarnegara, NIHRD, Ministry of Health Republic of Indonesia)
The role of Rattus norvegicus from Rat and Suncus Group as The Main Transmitter of Leptospira in Semarang Journal of Disease Vector Vol. 15 No. 1, Juni 2021; p 53–62
annualy with its mortality rate had tendency to increase.
The Case Fatality Rate (CFR) in the period 2014-2018 increased from 18% to 25%. Rodents, especially rats are the most important reservoir and a maintenance host. A survey was conducted in Semarang city from March to November 2016. Rats was trapped twice and their kidneys were tested for Leptospira by using PCR. Kidneys containing leptospira were then examined by sequencing.
Trap success in Jangli was 15,41% consisting of R.
norvegicus, R. tanezumi and insectivora S. murinus. The success trap in Gajahmungkur was 35,89% including Bandicota indica, Rattus norvegicus, Rattus tanezumi and insectivora Suncus murinus. Positive Leptospira was found in Jangli Village (38,09%) and Gajahmungkur Village (56,25%) The positive leptospira were from B.
indica, R. norvegicus and R. tanezumi. Result of the sequencing revealed that nine from 17 sample homolog with pathogenic leptospira. Among rat populations, especially norway rats are specific serovar maintenance host in the region and are proved to carry a pathogenic Leptospira bacteria.
Keywords: leptospira, norway rat, Semarang NLM : QW 700
(National Institute of Health Research and Development of Donggala, NIHRD, Ministry of Health Republic of Indonesia)
(Public Health Office of Bangka Barat District, Bangka Belitung Island Province)
(Faculty of Public Health, University of Indonesia) ________________________________________________________________
Octaviani, Muhammad Putra Kusuma, and Tri Yunis Miko Wahyono
Association between Water Containers and Dengue Hemorrhagic Fever in West Bangka District in 2018 Journal of Disease Vector Vol. 15 No. 1, Juni 2021; p 63–72 Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an endemic disease in the tropical area. The spread of the disease can occur fast if it is not controlled. DHF is caused by the dengue virus that is transmitted through Aedes aegypti dan Aedes albopictus. According to Bangka District Health Office, It was reported that the number of DHF cases in 2017 was 51 and 50 cases in 2018 (until March 2018). The objective of this study was to know the association between the water container and DHF cases in West Bangka District in 2018. This was a case-control study with a total respondent of 183 respondents and the ratio of case and control was 1:2. The results showed that the presence of Aedes larvae (OR=0,007; p-value=0,007; 95% CI: 1,59- 19,96), presence of water container (OR=5,12; p- value=0,01; 95% CI: 1,47-17,86), water container opened/closed (OR=2,72; p-value=0,063; 95% CI: 0,94- 7,84) were associated with DHF cases. Houses where Aedes larvae were founded, in or outside the house (with container index >20%) have a 5.6 times higher risk to be contracted with DHF compare to houses with no Aedes larva. In addition, houses with water containers can be founded near the houses have a 5.1 times higher risk to be contracted with DHF. Houses with opened water containers were associated with DHF with 2.7 times higher risk to be infected with DHF. Therefore, community participation in eliminating mosquitoes breeding places needs to be encouraged.
Keywords : DFH, water containers, breeding place
Perilaku Mikrofilaria Brugia timori dan Wuchereria bancrofti pada Kasus Filariasis dengan Infeksi Campuran di Kabupaten Sumba Barat Daya
NLM : WC 880
(Loka Litbang P2B2 Waikabubak, Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI)
Jurnal Vektor Penyakit Vol 15 No. 1, Juni 2021; Hal 11-16 Jurnal Vektor Penyakit Vol. 15 No. 1, Juni 2021; Hal 1–10
Rahmat Satriadi, Joni Tampe Parinding, Agustina Arundina Triharja Tejoyuwono, dan Diana Natalia
(Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura Pontianak )
Brugia timori merupakan cacing yang penyebarannya terbatas di Kepulauan Nusa Tenggara Timur, sedangkan Wuchereria bancrofti adalah mayoritas penyebab kasus filariasis limfatik di seluruh dunia. Kepadatan mikrofilaria menunjukkan perilaku harian berbeda-beda bergantung dari jenis mikrofilaria. Kasus infeksi campuran antara B. timori dan W. bancrofti dilaporkan terjadi di Desa Kahale, Kabupaten Sumba Barat Daya.
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui perilaku B. timori dan W. bancrofti pada penderita filariasis dengan infeksi campuran. Subjek dalam penelitian ini adalah lima orang positif infeksi campuran W. bancrofti dan B. timori. Pengambilan darah dilakukan 12 kali dalam rentang waktu 24 jam dengan interval dua jam, dimulai dari pukul 14.00 sampai pukul 12.00 waktu setempat. Analisis statistik yang digunakan dalam penentuan periodisitas mikrofilaria adalah formula Aikat dan Das. Ritme sirkadian (F) perilaku mikrofilaria B.
timori dan W. bancrofti menunjukkan gelombang yang harmonik atau sirkadian. Mikrofilaria B. timori dan W.
bancrofti mempunyai indeks periodisitas (D) yang sama diatas nilai 100%, dengan puncak kepadatan (K) kedua spesies mikrofilaria di peredaran darah tepi antara pukul 23.00 sampai pukul 03.00. Tidak ada perbedaan perilaku mikrofilaria B. timori dan W. bancrofti pada kasus infeksi campuran yaitu periodik nokturnal.
Hubungan antara Lama Demam dengan Hasil Pemeriksaan Kualitatif IgM dan IgG pada Pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie tahun 2018
Rais Yunarko dan Yona Patanduk
________________________________________________________________
Kata kunci: periodisitas mikrofilaria, Wuchereria bancrofti, Brugia timori, periodik nokturna NLM : WC 528
Volume 15 No.1 Juni 2021
LEMBAR ABSTRAK Journal of Disease Vector
E-ISSN 2354-8835 E-ISSN 2354-8835 E-ISSN 2354-8835
________________________________________________________________
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue melalui vektor nyamuk Aedes spp. Infeksi virus dengue dapat menstimulasi munculnya antibodi spesifik IgM dan IgG.
Penentuan lama demam saat melakukan pemeriksaan serologi dapat berperan dalam mengoptimalkan hasil pemeriksaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara lama demam dengan hasil pemeriksaan kualitatif IgM dan IgG pada pasien DBD di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, Pontianak, Kalimantan Barat.
Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Cara pemilihan sampel adalah non-probability sampling dengan menggunakan consecutive sampling. Jumlah sampel adalah 61 pasien.
Pengumpulan data menggunakan rekam medik dan dianalisis dengan uji Mann-Whitney. Analisis statistik membuktikan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lama demam dengan hasil pemeriksaan kualitatif IgM (p=0,869) dan IgG (p=0,528). Namun demikian, IgM dan IgG tetap merupakan penanda biologis infeksi dengue dan dapat terkait dengan prediktor keparahan penyakit pada pasien DBD.
Kata kunci : Demam Berdarah Dengue, IgG dengue, IgM dengue, lama demam
Revi Rosavika Kinansi, Rika Mayasari, dan Hotnida Sitorus
(Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Re s e r vo i r Pe nya k i t S a l a t i g a , B a d a n L i t b a n g Kesehatan, Kementerian kesehatan RI)
(Balai Litbang P2B2 Baturaja, Badan Litbang Kesehatan, Kementerian kesehatan RI)
Jurnal Vektor Penyakit Vol. 15 No. 1, Juni 2021; Hal 17–32 NLM : WC 755
Bayi, anak balita dan ibu hamil adalah kelompok risiko tinggi yang sering mengalami kematian akibat malaria.
Kesulitan akses pelayanan kesehatan merupakan salah satu faktor penyebabnya, disamping kemiskinan, biaya kesehatan yang mahal, kurangnya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan faktor sosial ekonomi, jarak, lingkungan dan perilaku masyarakat dengan kejadian malaria. Jenis penelitian observasi non intervensi dengan desain deskripsi dan pendekatan potong lintang. Populasi penelitian seluruh masyarakat daerah endemis malaria di Indonesia, sedangkan sampel seluruh rumah tangga yang terpilih di blok sensus (BS).
Malaria pada Kelompok Wanita Usia Subur dan Anak di Indonesia: Analisis Data Riskesdas 2013
Variabel terikat yaitu kejadian malaria pada anak 0-14 tahun dan wanita usia subur (WUS), variabel bebas yaitu karakteristik responden, perilaku pencegahan, lingkungan dan akses pelayanan kesehatan. Hasil analisis regresi linier terhadap karakteristik (umur, pendidikan dan pekerjaan) pada WUS dan anak usia 0-14 tahun ditambah dengan jenis kelamin anak terhadap kejadian malaria menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis perilaku pencegahan terhadap gigitan nyamuk penular malaria dan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan pada kelompok WUS hampir semua variabel bermakna signifikan dengan kejadian malaria. Hasil analisis perilaku pencegahan terhadap gigitan nyamuk penular malaria seperti penggunaan kelambu tidur, pemakaian repelen dan penggunaan obat semprot serangga serta ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan pada anak usia 0-14 tahun untuk variabel keberadaan puskesmas/puskesmas pembantu dan poskesdes/poskestren bermakna signifikan.
________________________________________________________________
NLM : QX 505
(Universitas Fort De Kock Bukittingi)
(Dinas Kesehatan Kota Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat)
Kata Kunci : malaria, Wanita Usia Subur (WUS), anak
Cici Apriza Yanti, Mila Sari, Yulia Yesti, dan Dendi Herta
Respon Musca domestica terhadap Target Visual Berwarna Fly Grill
Jurnal Vektor Penyakit Vol. 15 No. 1, Juni 2021; Hal 33–42 Lalat merupakan serangga yang termasuk dalam ordo Diphtera yang dapat bertindak sebagai vektor mekanik dari suatu penyakit. Lalat sama seperti serangga pada umumnya yaitu mempunyai kepekaan terhadap perbedaan panjang gelombang cahaya (warna). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan warna fly grill dengan kepadatan lalat. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan desain one shot case study. Penelitian dilakukan di pasar Nanggalo Siteba Kota Padang. Titik pengukuran dilakukan sekitar Tempat pembuanganSampah. Jumlah titik pengukuran yaitu lima titik, titik pusat, dan empat titik sesuai dengan arah mata angin (barat, timur, utara, dan selatan dari titik pusat). Pengukuran kepadatan lalat dilakukan pada masing - masing titik sebanyak 10 kali pengulangan selama 30 detik masing-masing pengukuran kemudian dicari reratanya. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji ANOVA. Fly grill yang digunakan dicat warna putih, biru, kuning, merah, hitam dan tidak dicat.
Dari perhitungan uji ANOVA, didapatkan hasil yang signifikan antara varian warna fly grill terhadap jumlah lalat yang hinggap. Rerata kepadatan lalat dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah sebagai berikut:
fly grill biru, putih, hitam, tidak dicat, kuning dan merah.
Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui warna yang disukai lalat adalah warna merah dan yang tidak disukai adalah biru.
Kata Kunci : fly grill, warna, lalat
NLM : WC 750-770
________________________________________________________________
Dewi Apriani, Rangga P. Nugraha, dan Diana Natalia
(Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura)
(Departemen Imunologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura)
(Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura)
Gambaran Pengetahuan Masyarakat tentang Malaria Knowlesi di Perbatasan Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu
Malaria knowlesi merupakan penyakit malaria yang terjadi pada kera ekor panjang (Macaca fascicularis) dan kera ekor babi (Macaca nemestrina) yang disebabkan oleh parasit Plasmodium knowlesi. Kasus malaria knowlesi ditemukan pada manusia di Sarawak Malaysia pada tahun 2004, dimana Kecamatan Badau merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia sehingga potensi penularan juga dapat terjadi.
Pengetahuan tentang malaria knowlesi adalah pengetahuan masyarakat tentang gejala khasnya, hewan penular dan hospesnya serta tindakan pencegahan malaria knowlesi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif untuk menentukan pengetahuan masyarakat tentang malaria knowlesi dengan menggunakan desain cross-sectional. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling dilakukan di bulan Agustus 2019 di Desa Janting, Desa Sebindang dan Desa Badau untuk memilih 94 responden. Data dikumpulkan dengan menggunakan pertanyaan kuesioner terstruktur sebagai instrumen penelitian. Hasil yang didapatkan yaitu distribusi proporsi responden yang paling banyak dalam penelitian ini adalah jenis kelamin perempuan (75,50%) pada kelompok usia 18-40 tahun (57,45%), tamat SD dan SMP (60,60%), ibu rumah tangga (53,40%). Responden dalam penelitian ini memiliki pengetahuan kurang (72%). Disimpulkan pengetahuan masyarakat tentang malaria knowlesi di perbatasan Kecamatan Badau Kabupaten Kapuas Hulu adalah kurang.
Kata Kunci : malaria knowlesi, malaria, pengetahuan Jurnal Vektor Penyakit Vol. 15 No. 1, Juni 2021; Hal 43–52
________________________________________________________________
Peran Tikus Got (Rattus norvegicus) dari Kelompok Tikus dan Suncus sebagai Penular Utama Leptospirosis di Semarang
NLM : WC 420
(Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara, Badan Litbangkes, Kementerian Kesehatan RI)
Zumrotus Sholichah, Bina Ikawati, Dewi Marbawati, Miftahuddin Majid Khoeri, dan Dewi Puspita Ningsih
(Eijkman Institue for Molecular Biology, Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN)
Jurnal Vektor Penyakit Vol. 15 No. 1, Juni 2021; Hal 43–52 Kota Semarang merupakan salah satu daerah endemis leptospirosis dan penyakit tersebut selalu ditemukan setiap tahun dengan angka kematian yang cenderung meningkat. Pada periode 2014–2018 angka kematian leptospirosis meningkat dari 18% menjadi 25%. Tikus merupakan reservoir paling penting dan merupakan maintenance host Leptospira. Survei dilakukan di Kota Semarang yakni di daerah Kelurahan Jangli dan Kelurahan Gajahmungkur pada bulan maret-november 2016. Penangkapan tikus dilakukan sebanyak 2 kali dan diambil sampel ginjal untuk pemeriksaan Leptospira dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Ginjal dengan hasil PCR positif Leptospira dilanjutkan dengan tahapan sekuensing. Keberhasilan penangkapan tikus di Jangli 15,41% dengan spesies Rattus norvegicus, Rattus ta n ez u m i d a n Su n c u s m u r i n u s . K e b e rh a s i l a n penangkapan tikus di Gajahmungkur 35,89% dengan spesies tikus Bandicota indica, Rattus norvegicus, Rattus tanezumi dan Suncus murinus. Positif Leptospira ditemukan di Kelurahan Jangli (38,09%) dan Kelurahan Gajahmungkur (56,25%). Hasil pemeriksaan PCR positif berasal dari spesies Bandicota indica, Rattus norvegicus dan Rattus tanezumi. Hasil sekuensing menunjukkan bahwa 9 dari 17 sampel mempunyai hubungan kekerabatan dengan Leptospira patogenik. Diantara populasi tikus, khususnya tikus got merupakan maintenance host serovar tertentu di wilayah tersebut dan terbukti membawa bakteri Leptospira patogenik.
Kata Kunci : leptospira, tikus got, Semarang
NLM : QW 700
Octaviani, Muhammad Putra Kusuma, danTri Yunis Miko Wahyono
(Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes, Kementerian Kesehatan RI) ________________________________________________________________
(Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)
(Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia)
Keywords : DBD, tempat penampungan air, tempat berkembang biak
Pengaruh Tempat Penampungan Air dengan Kejadian DBD di Kabupaten Bangka Barat Tahun 2018
Jurnal Vektor Penyakit Vol. 15 No. 1, Juni 2021; Hal 63–72 Upaya pengendalian demam berdarah dititik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam Pengendalian Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M plus. Tempat Penampungan Air (TPA) merupakan salah satu tempat perkembangbiakan jentik Aedes Aegyti, semakin banyak TPA yang digunakan berpotensi untuk menjadi tempat perkembangbiakan jentik. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat jumlah kasus DBD pada tahun 2017 sebanyak 51 kasus dan sampai bulan maret 2018 sebanyak 50 kasus terlaporkan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh tempat penampungan air dengan kejadian DBD di Kabupaten Bangka Barat. Desain penelitian adalah case control dengan jumlah total responden adalah 183 responden dengan perbandingan kasus dan kontrol adalah 1:2. Hasil penelitian m e n u n j u k k a n t e m p a t p e n a m p u n g a n a i r terbuka/tertutup (OR=2,72; p-value=0,063; 95% CI:
0,94-7,84), keberadaan jentik (OR=0,007; p-value=0,007;
95% CI: 1,59-19,96), tempat penampungan air (OR=5,12;
p-value=0,01; 95% CI: 1,47-17,86). Rumah dengan tempat penampungan terbuka mempunyai risiko 2,7 kali lebih besar untuk transmisi DBD, rumah yang ditemukan jentik di tempat penampungan air dalam maupun di luar rumah (CI >20%) mempunyai risiko 5,6 kali lebih besar untuk terkena DBD dan rumah yang disekitarnya ditemukan tempat penampungan air berisiko 5,1 kali lebih besar untuk menderita DBD. Pengelola program DBD agar terus melaksanakan kegiatan – kegiatan penanggulangan dan tatalaksana kasus DBD.