TUGAS AKHIR
ANALISIS SUMBER DAN PENGGUNAAN MODAL KERJA PADA PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK
OLEH :
WULAN TRI AULIA NIM. 192101007
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Pada Program Studi Diploma III
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEUANGAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2022
i
rahmat dan kasih karunia-Nya, sehingga peneliti diberi kesempatan untuk menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “Analisis Sumber dan Penggunaan Modal kerja pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk”. Tugas Akhir ini diselesaikan sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan Program Studi Diploma III Keuangan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terimakasih kepada pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tugas akhir ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Fadli, SE, M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Yasmin Chairunisa Muchtar, SP, MBA selaku Ketua Program Studi Diploma III Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Beby Kendida Hasibuan, SE, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Diploma III Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Dr. Syahyunan, M.Si selaku dosen pembimbing yang selalu memberikan saran-saran serta petunjuk dan bimbingan kepada.
ii
5. Seluruh Dosen Pengajar dan Pegawai di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
6. Teristimewa kepada kedua orang tua tercinta, Bapak Dahirun dan Ibu Sumiati serta saudara saya Nurul Amalia Suhada, Dwi Rizkia Putri dan Ahda Fiqih Nugraha yang selalu memberikan doa, dukungan, dan motivasi dalam penyelesaian tugas akhir ini.
7. Kepada sahabat seperjuangan D-III Keuangan Lilis, Santa, Ainun, Eferani, Kristiani yang selalu memberikan dukungannya, serta seluruh teman-teman mahasiswa D-III Keuangan stambuk 2019 lainnya.
8. Kepada sahabat saya Mahen, Haikal dan Rika yang selalu memberikan dukungan dan semangat dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
Akhir kata, peneliti mengucapkan terima kasih atas semua dukungan dan bimbingan yang telah diberikan, semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan peneliti mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan ini.
Medan, 2022
Peneliti
Wulan Tri Aulia NIM.192101007
iii
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang ... 1
1. 2 Rumusan Masalah ... 4
1. 3 Tujuan Penelitian ... 4
1. 4 Manfaat Penelitian ... 5
1. 5 Jadwal Penelitian ... 6
1. 6 Sistematika Penulisan ... 6
BAB II PROFIL PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK 2.1 Sejarah Singkat ... 8
2.2 Visi, Misi dan Nilai-Nilai ... 10
2.3 Struktur Organisasi ... 12
2.4 Job Description ... 14
2.5 Jaringan Usaha Kegiatan ... 16
2.6 Kinerja Usaha Terkini ... 17
2.7 Rencana Kegiatan ... 20
BAB III PEMBAHASAN 3.1 Laporan Keuangan ... 23
3.2 Analisis Laporan Keuangan ... 30
3.3 Pengertian Modal kerja ... 32
3.4 Laporan Sumber dan penggunaan Modal kerja ... 39
3.5 Modal Kerja (Rasio Kecukupan Modal Kerja)... 40
3.6 Penyajian Laporan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja .. 41
3.7 Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja ... 52
3.8 Evaluasi Rasio Kecukupan Modal Kerja ... 55
BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan ... 59
4.2 Saran ... 60
DAFTAR PUSTAKA ... 62
LAMPIRAN ... 63
iv
3.2 Sumber dan Penggunaan Modal Kerja Periode 2019-2020 ... 42
3.3 Sumber dan Penggunaan Modal Kerja Periode 2020-2021 ... 47
3.4 Sumber Modal Kerja ... 52
3.5 Penggunaan Modal Kerja ... 53
3.6 Perubahan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja ... 54
3.7 Modal Kerja Bersih PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk ... 55
3.8 Tingkat Likuiditas PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk ... 57
v
2.2 Struktur Organisasi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk .... 13
vi
2019... 63 2. Laporan Posisi Keuangan PT. Bank Rakyat Indonesia
(Persero) Tbk Untuk Tahun Berakhir 31 Desember
2020 dan 2021 ... 67
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Bidang keuangan merupakan bidang yang sangat penting dalam suatu perusahaan. Untuk dapat melihat kinerja suatu perusahaan dapat dilihat dari informasi keuangannya yaitu berupa laporan keuangan. Laporan keuangan yang biasa dibuat perusahaan biasanya terdiri atas laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Namun ada pula perusahaan yang menyusun selain kelima laporan tersebut. Seperti laporan sumber dan penggunaan modal kerja yang berguna bagi investor, analisis sekuritas, dan manajemen karena memberikan informasi yang berguna mengenai aktivitas investasi dan pembelanjaan yang dilakukan oleh perusahaan.
Penilaian kinerja dapat dilakukan dengan cara melakukan analisis laporan keuangan. Teknis analisis keuangan salah satunya adalah analisis sumber dan penggunaan modal kerja yang merupakan suatu bentuk analisis modal kerja yang dimiliki perusahaan dalam periode tertentu. Sedangkan modal kinerja itu sendiri merupakan elemen yang penting bagi perusahaan karena berfungsi untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari. Modal kerja adalah investasi sebuah perusahaan pada aktiva jangka pendek, kas, sekuritas, persediaan dan piutang (Fahmi, 2016:100). Modal kerja adalah modal yang digunakan untuk membiayai operasional sehari-hari, terutama yang memilki jangka waktu pendek (Kasmir,
2018:10). Berdasarkan pengertian tersebut, modal kerja yaitu aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan dan digunakan untuk operasi perusahaan.
Modal kerja juga dibutuhkan oleh setiap bank untuk membelanjai operasinya sehari-hari misalnya dalam membayar gaji pegawai, membayar bunga pihak ketiga, dan lain-lain. Dimana uang atau dana yang dikeluarkan tersebut diharapkan dapat kembali lagi masuk dalam bank dalam waktu singkat melalui operasinya. Oleh karena itu, bank dituntut untuk selalu meningkatkan efisiensi kerjanya sehinga dicapai tujuan yang diharapkan oleh bank yaitu mencapai laba yang optimal.
Perusahaan perbankan tidak akan terlepas dari masalah permodalan yaitu pemenuhan modal kerja maupun investasi. Analisis sumber dan penggunaan modal kerja merupakan alat analisis keuangan yang sangat penting bagi perusahaan. Dengan analisis sumber dan penggunaan modal, akan dapat diketahui bagaimana perusahaan mengelola atau menggunakan modal kerja yang dimilikinya sehingga perusahaan dapat menjalankan operasi dengan sebaik- baiknya. Modal kerja yang terlalu besar memungkinkan terjadinya idlefund (dana yang menganggur). Hal ini akan mengakibatkan terjadinya inefisien, demikian sebaliknya modal kerja yang terlalu kecil akan mengakibatkan terganggunya operasi perusahaan sehari-hari. Dengan demikian besarnya modal kerja hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan karenanya harus efisien dalam menggunakan modal kerja dan elemen modal kerja.
Modal kerja memiliki sifat yang fleksibel, besar kecilnya modal kerja dapat ditambah atau dikurang sesuai kebutuhan dari bank itu sendiri. Penetapan modal
kerja yang terdiri dari kas, surat berharga yang dimiliki, kredit yang disalurkan harus dapat dimanfaatkan seefisien mungkin. Kebutuhan dana suatu bank dapat dipenuhi dari sumber internal bank itu sendiri, yaitu dengan mengusahakan penarikan modal melalui penjualan saham kepada masyarakat atau laba yang ditahan yang tidak dapat dibagi dan digunakan kembali sebagai modal.
Pemenuhan kebutuhan dana suatu bank dapat juga dipenuhi dari sumber eksternal yaitu dengan meminjam dana kepada pihak lain seperti BI atau bank lain, lembaga keuangan bukan bank, atau dapat pula perusahaan menerbitkan obligasi untuk ditawarkan kepada masyarakat.
Demikian dengan halnya pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dalam menjalankan kegiatannya PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, sebagai salah satu bank umum milik pemerintah terbesar di Indonesia yang dijadikan sebagai objek penelitian bagi penulis. Bank ini bergerak dalam bidang jasa keuangan seperti menerima simpanan dari masyarakat (tabungan, deposito, dan giro), menyalurkan kredit kepada masyarakat, dan sebagainya. PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat hasil kegiatan mereka kedalam laporan keuangan yang memungkinkan peneliti untuk menganalisis dari sisi sumber dan penggunaan modal kerjanya dalam pandangan pengelolaan yang efektif dan efisien.
Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk menjadikan penelitian ini sebagai tugas akhir dengan judul “Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Bagaimana keadaan sumber dan penggunaan modal kerja pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk periode 2019-2021?
b. Apakah faktor utama yang menyebabkan perubahan sumber dan penggunaan modal kerja pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk periode 2019-2021?
c. Bagaimana pengelolaan menggunakan Rasio Kecukupan Modal Kerja pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Indonesia (Persero) Tbk?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai peneliti dari penelitian yang dilakukan ini adalah sebagi berikut.
1. Untuk mengetahui keadaan sumber dan penggunaan modal kerja pada PT.
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk periode 2019-2021.
2. Untuk mengetahui faktor utama yang menyebabkan perubahan sumber dan penggunaan modal kerja pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk periode 2019-2021.
3. Untuk mengetahui Rasio Kecukupan Modal Kerja pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini dapat memperoleh informasi bermanfaat yang akurat dan relevan serta dapat digunakan bagi beberapa pihak, antara lain :
1. Bagi Peneliti
Bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan dalam bidang keuangan serta sebagai sarana untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh mengenai analisis sumber dan penggunaan modal kerja untuk menilai kinerja keuangan.
2. Bagi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Bagi pihak perusahaan, penelitian ini dapat memberikan gambaran dan penjelasan mengenai modal kerja yang digunakan oleh perusahaan sehingga dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang berkaitan dengan modal kerja.
3. Bagi Universitas Sumatera Utara
Peneliti berharap bahwa hasil penelitian ini dapat dijadikan tambahan bacaan ilmiah ke perpustakaan dalam rangka meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuan serta bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.
4. Bagi Pihak Lain
Peneliti berharap bahwa hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya dalam bidang keuangan khususnya mengenai analisis sumber dan penggunaan modal kerja.
1.5 Jadwal Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan oleh penulis pada perusahaan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berdasarkan data sekunder yang ada di IDX.CO.ID.
Tabel 1.1 Jadwal Penelitian
No Kegiatan
Mei-22 Juni-22 Juli-22 Agustus-22 III IV I II III IV I II III IV I 1. Pengajuan
Judul
2. Pengajuan
Dosen Pembimbing dan Dosen Penguji
3. Pengumpulan Data
4. Penyusunan Tugas Akhir
5. Bimbingan Tugas Akhir
6. Penyelesaian Tugas Akhir
1.6 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penelitian dari Tugas Akhir ini mencakup dari 4 bab, yaitu :
BAB 1 PENDAHULUAN
Dalam bab ini peneliti mendeskripsikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
jadwal penelitian dan sistematika penulisan peneliti yang sudah dilaksanakan.
BAB II PROFIL PERUSAHAAN
Dalam bab ini peneliti mendeskripsikan tentang sejarah ringkas perusahaan, logo perusahaan, struktur organisasi, job description, jaringan usaha kegiatan, kinerja usaha terkini, serta rencana kegiatan pada perusahaan.
BAB III PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan mengenai teori dan pembahasan penelitian sesuai topik yang diangkat.
BAB IV PENUTUP
Dalam bab ini peneliti menyampaikan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan saran yang dapat dievaluasi agar meningkatkan kualitas perusahaan di masa yang akan datang.
8 BAB II
PROFIL PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK
2.1 Sejarah Singkat PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah salah satu bank milik pemerintah yang terbesar di Indonesia. Pada awalnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama “De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden”atau “Bank
Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto”, suatu lembaga keuangan yang melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi).
Lembaga tersebut berdiri tanggal 16 Desember 1895, yang kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran BRI.
Pada periode setelah kemerdekaan RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1946 Pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai Bank Pemerintah pertama di Republik Indonesia. Dalam masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan BRI sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu melalui PERPU No. 41 tahun 1960 dibentuklah Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan peleburan dari BRI, Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM). Kemudian berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan. Setelah berjalan selama satu bulan, keluar Penpres No. 17 tahun 1965 tentang
pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam ketentuan baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks BKTN) diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural, sedangkan NHM menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor (Exim).
Berdasarkan Undang-Undang No. 14 tahun 1967 tentang Undang-undang Pokok Perbankan dan Undang-undang No. 13 tahun 1968 tentang Undang- undang Bank Sentral, yang intinya mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dan Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Rular dan Ekspor Impor dipisahkan masing-masing menjadi dua Bank yaitu Bank Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor Indonesia. Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan kembali tugas-tugas pokok BRI sebagai bank umum.
Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 status BRI berubah menjadi perseroan terbatas. Kepemilikan BRI saat itu masih 100% di tangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menjual 30% saham bank ini, sehingga menjadi perusahaan publik dengan nama resmi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, yang masih digunakan sampai dengan saat ini.
2.2 Visi, Misi dan Nilai-Nilai
Sumber : www.bri.co.id, 2022
Gambar 2.1
Logo PT Bank Rakyat Indonesia
Logo BRI didominasi warna biru dengan latar belakang putih. Huruf B, R, dan I dikreasikan dari lekukan-lekukan dan garis lurus, dinaungi oleh persegi empat dengan lengkung di sudut-sudutnya. Dari segi warna, biru laut menandakan kepercayaan dan ketenangan. Sehingga warna biru pada logo BRI menandakan kestabilan, bisa dipercaya dan diharapkan dapat memberikan ketenangan pada nasabahnya. Sementara warna putih dalam logo perusahaan dapat memberikan kesan santun dan integritas tinggi. Persegi empat tertutup yang menaungi tulisan BRI, menandakan bahwa BRI merupakan perusahaan yang aman dan terlindungi.
Sehingga nasabah tidak perlu khawatir saat memberikan kepercayaan kepada BRI.Sementara kombinasi garis lurus dan lekuk yang digunakan dalam membuat logo, menandakan bahwa BRI sebagai sebuah bank yang telah melalui berbagai kejadian sejarah, senantiasa fleksibel (lengkung) dan mampu menyesuaikan diri.
Namun demikian, tetap berpegang teguh pada hal-hal yang prinsipil (garis lurus).
2.2.1 Visi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Visi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk adalah menjadi bank komersial terkemuka yang mengutamakan kepuasan nasabah.
2.2.2 Misi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
1. Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan pada usaha mikro, kecil dan menengah untuk menunjang peningkatan perekonomian masyarakat.
2. Memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan didukung oleh sumber daya manusia yang profesional dengan melaksanakan praktek Good Corporate Governance.
3. Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
2.2.3 Nilai-nilai
Nilai-nilai dasar dari pelayanan Bank BRI untuk menjadi bank pilihan nasabah adalah sebagai berikut:
1. Integrity ; senantiasa berpikir, berkata, dan berperilaku terpuji, menjaga kehormatan, serta taat aturan
2. Profesionalism ; senantiasa berkomitmen bekerja tuntas dan akurat dengan kemampuan terbaik dan penuh tanggungjawab.
3. Trust ; senantiasa membangun keyakinan & saling percaya di antara para pemangku kepentingan demi kemajuan Perseroan.
4. Innovation ; senantiasa mendayagunakan kemampuan dan keahlian untuk menemukan solusi dan gagasan baru untuk menghasilkan produk/ kebijakan dalam menjawab tantangan permasalahan Perseroan.
5. Customer Centric ; senantiasa menjadikan pelanggan sebagai mitra utama yang saling menguntungkan untuk tumbuh secara berkesinambungan.
2.3 Struktur Organisasi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Struktur organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada pada organisasi atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan. Untuk mengetahui tugas dan tanggungjawab masing-masing bagian yang ada dalam suatu perusahaan, maka dirumuskan suatu struktur organisasi. Struktur organisasi dibentuk sesuai dengan kebutuhan perusahaan, agar kegiatan perusahaan menjadi efisien dan efektif.
Sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa, maka PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) juga mempunyai struktur organisasi yang jelas dan menggambarkan tugas, kedudukan dan tanggungjawab masing-masing pegawai yang terlibat dalam kegiatan perusahaan. Adapun struktur organisasi di PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dapat dilihat sebagai berikut.
Sumber : www.bri.co.id, 2022
Gambar 2.2
Struktur Organisasi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
2.4 Job Description
1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) adalah pimpinan tertinggi yang membawahi Dewan Komisaris, Direktur serta setingkat dibawahnya. Tugas Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) adalah sebagai berikut :
a. Mengangkat dan memberhentikan Dewan Komisaris.
b. Bertanggung jawab atas pelaksanaan dan penggunaan modal atau aset perubahan dalam mencapai tujuan perusahaan.
c. Mengawasi Dewan Komisaris dalam melaksanakan tugas yang telah dibebankan kepadanya oleh pemegang saham.
2. Dewan Komisaris
Tugas Dewan Komisaris adalah sebagai berikut :
a. Memantau dan memastikan bahwa Good Corporate Governance (GCG) telah diterapkan secara efektif dan berkelanjutan.
b. Membuat pembagian tugas Dewan Komisaris yang diatur oleh Dewan Komisaris.
c. Menyusun rencana kerja dan anggaran tahunan Dewan Komisaris yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan.
3. Direktur Utama
Tugas Direktur Utama adalah sebagai berikut :
a. Mengarahkan, mengevaluasi, dan mengkoordinasikan pelaksanaan operasional perusahaan sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar, Keputusan RUPS Perseroan dan peraturan perundangan.
b. Mendukung peran direktur regional dalam menjalankan fungsi koordinasi dan aliansi dalam operasional perusahaan.
4. Wakil Direktur Utama
Wakil Direktur Utama membantu program kerja direktur utama dalam perumusan dan penetapan suatu kebijakan dan program umum perusahaan.
Adapun struktur organisasi dibawah Direktur Utama Dan Wakil Direktur Utama yang membawahi 10 bidang regional dengan masing-masing Direktur operasional sebagai berikut :
a. Direktur Bisnis Mikro, bertugas melakukan kegiatan pemasaran kredit, dana dan jasa, berperan secara aktif pengembangan bisnis dan pelayanan Bukopin, membuat laporan untuk kepentingan intern dan ekstern sesuai dengan ketentuan unit, serta melakukan kerjasama dengan pihak ketiga yang terkait.
b. Direktur Bisnis, Ritel & menengah, bertugas memantau perkembangan kualitas dan resiko kredit menengah, memantau ketaatan pelaksanaan sistem, kebijakan dan prosedur perkreditan, dan memproses alokasi anggaran untuk unit operasional.
c. Direktur Kelembagaan & BUMN, bertugas untuk hubungan lembaga, transaction banking, bisnis BUMN 1 dan bisnis BUMN 2.
d. Direktur Konsumer, bertugas untuk menginformasikan produk dan layanan serta membangun kesadaran merek, mengembangkan, melindungi, dan mengelola harta milik perseorangan.
e. Direktur Jaringan Layanan, bertugas sebagai pengawas dan regulator perekonomian perbankan. Secara spesifik, mereka mengawasi dan memantau perkembangan perekenomian, sera bertanggung jawab dalam menyediakan fasilitas layanan.
f. Direktur Teknologi Informasi & Operasi, bertugas mengarahkan, mengevaluasi dan memperbarui alat teknologi mutakhir sebagai penunjang operasional.
g. Direktur Risiko, bertugas mengevaluasi, menilai dan melaksanakan strategi manajemen risiko dalam operasional perbankan.
h. Direktur Sumber Daya Manusia, bertugas mengusulkan rekrutmen, promosi, mutasi/rotasi, pembinaan dan pelatihan.
i. Direktur Keuangan, bertugas mengarahkan, mengevaluasi, serta mensosialisasikan kebijakan dan strategi di bidang keuangan.
j. Direktur Hukum dan Kepatuhan, bertugas mengawasi jalannya kepatuhan operasional sesuai standar dan peraturan perundangan yang berlaku.
2.5 Jaringan Usaha Kegiatan
Sebagai bank komersial tertua, BRI konsisten memberikan pelayanan kepada segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan hingga saat ini BRI tetap mampu menjaga komitmen tersebut di tengah kompetisi industri perbankan Indonesia. Dengan dukungan pengalaman dan kemampuan yang
matang dalam memberikan layanan perbankan, terutama pada segmen UMKM, BRI mampu mencatat prestasi selama 10 tahun berturut-turut sebagai bank dengan laba terbesar. Keberhasilan ini adalah hasil kerja keras segenap insan BRI, yang secara terus menerus menambah kompetensi, berinovasi dan mengembangkan produk dan jasa perbankan bagi semua segmen bisnis.
Konsisten fokus pada Segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) melalui lebih dari 10.000 unit kerja yang terintegrasi secara online di seluruh Indonesia menjadikan BRI sebagai salah satu Bank dengan layanan Micro Banking terbesar di Indonesia dan dunia. BRI juga terus mengembangkan
berbagai produk consumer banking dan layanan institusional bagi masyarakat perkotaan. Untuk mendukung upaya tersebut, BRI terus mengembangkan jaringan kerja sehingga kini tercatat sebagai bank terbesar dalam hal jumlah unit kerja di Indonesia, yaitu berjumlah 10.396 unit kerja termasuk 3 kantor cabang yang berada di luar negeri, yang seluruhnya terhubung secara real time online.
2.6 Kinerja Usaha Terkini
PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berhasil mencatatkan kinerja keuangan triwulan I tahun 2022 dengan sangat gemilang. Laba, asset, penyaluran kredit, penghimpunan dana masyarakat atau dana pihak ketiga (DPK) hingga CASA mengalami pertumbuhan. Dalam tiga bulan pertama tahun 2022, secara konsolidasioan atau BRI Group berhasil mencatatkan laba sebesar Rp12,22 triliun atau tumbuh 78,13% secara year on year. Sementara untuk aset, hingga akhir Maret 2022 tercatat asset BRI Group tumbuh sebesar 8,99 persen yoy menjadi Rp1.650,28 triliun.
Pencapaian laba BRI tak lepas dari pulihnya perekonomian nasional serta menggeliatnya aktivitas pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang merupakan core business BRI. Perolehan laba dan aset yang tumbuh positif ini tak lepas dari BRI yang fokus pada sustainability dengan penyaluran kredit yang tumbuh di atas rata-rata industri perbankan. Selain itu, perseroan juga berhasil mengelola dengan baik kualitas kredit yang disalurkan serta semakin efisien dalam menjalankan kegiatan operasional perbankan termasuk dalam penghimpunan dana murah.
Hingga akhir Maret 2022, BRI menyalurkan kredit secara group sebesar Rp1.075,93 triliun atau tumbuh 7,43 persen year on year. Angka ini lebih tinggi dibandingkan penyaluran kredit industri perbankan nasional yang hanya sebesar 6,65 Persen. Penyaluran kredit pada segmen UMKM tumbuh positif dengan penopang utama yakni di segmen mikro. Tercatat, kredit segmen Mikro BRI tumbuh 13,55 persen, kemudian kredit pada segmen Konsumer tumbuh 4,56 persen, segmen Kecil dan Menengah tumbuh 3,96 persen. Secara umum portofolio kredit UMKM BRI tumbuh 9,24 persen year on year dari sebelumnya Rp826,85 triliun di akhir Maret 2021 menjadi Rp903,29 triliun di akhir Maret 2022. Hal ini menjadikan proporsi kredit UMKM dibandingkan dengan total kredit BRI terus naik menjadi 83,95 persen. Kredit UMKM yang tumbuh sampai double digit merupakan sinyal kuat bahwa saat ini pelaku UMKM sudah mulai bangkit dan beraktivitas secara normal. Dan terkait dengan hal itu, BRI menilai kebijakan Bank Indonesia untuk menahan suku bunga BI di 3,5 persen sangat
tepat sebagai upaya untuk melanjutkan momentum pertumbuhan ekonomi serta menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Hingga akhir Maret 2022, BRI berhasil menyalurkan kredit di atas rata-rata industri perbankan nasional. Hal tersebut tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) BRI sebesar 3,09 persen. Angka ini tercatat menurun apabila
dibandingkan dengan NPL tahun 2021 yang sebesar 3,30 persen. Selain itu, kualitas kredit yang membaik tersebut juga disebabkan oleh restrukturisasi kredit terdampak Covid yang saat ini terus menurun secara gradual. Hingga akhir kuartal I 2022 tercatat restrukturisasi kredit terdampak Covid sebesar Rp144,27 triliun, atau telah turun sebesar Rp103,75 triliun apabila dibandingkan dengan total akumulasi restrukturisasi yang mencapai Rp248,02 triliun. BRI juga menyediakan pencadangan yang cukup untuk mengantisipasi risiko yang mungkin terjadi di masa depan dengan NPL Coverage sebesar 276,0 persen. Angka ini meningkat dibandingkan NPL Coverage pada akhir Maret 2021 dengan cadangan sebesar 231,17 persen.
Dalam hal penghimpunan dana masyarakat atau dana pihak ketiga (DPK), BRI juga berhasil mencatatkan kinerja positif. Hingga akhir kuartal I 2022, DPK yang berhasil dikumpulkan BRI Group tercatat tumbuh 7,39 persen menjadi Rp1.126,50 triliun, yang didominasi oleh dana murah atau CASA. Tabungan sebesar Rp489,26 triliun, Giro sebesar Rp227,55 triliun dan Deposito sebesar Rp409,69 triliun. Secara year on year, CASA BRI meningkat sebesar 15,99 persen. Jika dirincikan Giro tumbuh 30,86 persen, Tabungan tumbuh 10,17 persen. CASA BRI saat ini mencapai 63,63 persen, meningkat dibandingkan
CASA Tahun 2021 lalu yang mencapai 58,91 persen. Kemampuan BRI untuk meningkatkan proporsi dana murah tersebut berdampak positif bagi bisnis perseroan yang semakin efisien. Sebagai bagian dari Transformasi Struktur Liabilitas. BRI akan terus mendorong peningkatan proporsi CASA untuk mendukung bisnis yang berkelanjutan, diantaranya melalui transaction based product and services di segmen wholesale serta penguatan fitur dan transaksi
keuangan melalui BRImo.
Kemampuan BRI dalam menyalurkan kredit dan pembiayaan juga didukung dengan likuiditas memadai dan permodalan yang kuat. Hal ini terlihat dari LDR bank secara konsolidasian yang tercatat sebesar 86,96%, dengan CAR 24,61%.
BRI juga mampu mencatatkan rasio efisiensi yang terus membaik, dimana BOPO BRI pada akhir Maret 2022 tercatat sebesar 69,34 persen atau lebih rendah dibandingkan dengan BOPO periode yang sama tahun lalu sebesar 78,41 persen.
Dengan kinerja BRI yang positif dan fundamental perseroan yang semakin sehat, serta strategic response yang tepat diiringi dengan manajemen risiko yang baik dalam menghadapi ketidakpastian kondisi perekonomian global, BRI optimistis kinerja di tahun ini akan dapat melampaui kinerja sebelum masa pandemi, serta dapat menjaga sustainability kinerja ke depan.
2.7 Rencana Kegiatan
Untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan dan mencapai visi The Most Valuable Banking Group in Southeast Asia and Champion of Financial Inclusion pada tahun 2025, BRI akan melanjutkan transformasi perusahaan yang telah ditetapkan dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) Tahun 2021– 2025
atau Transformasi “BRIVolution 2.0”. Tahun 2022 akan menjadi bagian dari fase awal perjalanan di mana dalam periode ini perusahaan fokus pada penguatan internal sebagai bekal untuk melakukan scale up dan scope up cakupan bisnis di tahun berikutnya (Strengtening The Core, to Scale Up and Scope Up), demi terjaganya kepemimpinan dan penguasaan pasar BRI di kawasan Asia Tenggara.
Dengan demikian, pencapaian visi dan strategi jangka panjang Perseroan di atas, pada tahun 2022 akan dilakukan eksekusi strategi yang berfokus pada lima aspek, yaitu:
1. Asset Quality, menjaga kualitas aset produktif dengan fokus pada kualitas kredit (LAR), peningkatan success rate restrukturisasi kredit, serta pengendalian biaya CKPN;
2. Selective Growth, ekspansi bisnis secara selektif dengan memanfaatkan stimulus pemerintah, serta melakukan eksplorasi new growth engine termasuk optimalisasi ultra micro business dan salary based loan yang lebih kompetitif;
3. Excellence Enabler, memperkuat kompetensi aspek-aspek penunjang bisnis terutama pada bidang teknologi digital, human capital, culture, distribution channel, dan tata kelola risiko;
4. BRI Group Sinergy, penguatan sinergi bisnis dan non bisnis antara BRI induk dan Anak Perusahaan maupun antar sesama Perusahaan Anak untuk meningkatkan cross selling produk BRI Group, sharing resources, dan eksplorasi new investment opportunities.
5. CASA, meningkatkan perolehan dana murah dengan mengendalikan biaya dana sekaligus mendorong aktivitas transaksi nasabah untuk menjaga stabilitas pengendapannya;
Disamping itu, untuk terus tumbuh berkelanjutan strategi pertumbuhan BRI Group kedepan adalah dengan mengoptimalkan sinergi Holding UMi, antara lain dengan mendorong nasabah eksisting naik kelas dan memperbesar customer base melalui digitalisasi bisnis proses dengan meng-create sumber pertumbuhan baru (new source of growth). Dalam jangka panjang, BRI akan melanjutkan fase
berikutnya yaitu fase Scale Up and Scope Up (2023 – 2024) dan Sustain (2025 dan seterusnya). Pencapaian aspirasi perusahaan tersebut juga akan didorong melalui inisiatif bersifat breakthrough dan berskala moonshot yaitu Pengembangan Hyperlocal Ecosystem, BRImo SuperApps, B2B Ecosystem Platform, dan Build Market Leading Tailored Propositions for Ecosystem.
Dengan strategi jangka panjang yang telah disiapkan secara menyeluruh, Perseroan meyakini mampu menghadapi berbagai tantangan dan peluang kedepan untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan men-deliver economic maupun social value bagi seluruh pemangku kepentingan.
23 BAB III PEMBAHASAN 3.1 Laporan Keuangan
Menurut Rodoni dan Herni (2014:13) laporan keuangan merupakan output dari seluruh transaksi yang terjadi selama periode tertentu yang berisikan seluruh informasi keuangan perusahaan dalam periode tertentu.
Menurut Prihadi (2019:8) laporan keuangan adalah hasil dari kegiatan pencatatan seluruh transaksi keuangan di perusahaan. Transaksi keuangan adalah segala macam kegiatan yang dapat mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan.
Menurut Sundjaja dan Barlian (2015:84) laporan keuangan adalah laporan yang menggambarkan hasil proses akuntasi yang digunakan sebagai alat komunikasi antara data keuangan atau aktivitas perusahaan dan pihak yang berkepentingan dengan data-data tersebut.
Berdasarkan dari definisi-definisi tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa laporan keuangan merupakan laporan yang menunjukkan posisi keuangan pada suatu periode tertentu yang dapat dipergunakan sebagai pengambilan keputusan atau kebijakan bagi pihak yang berkepentingan.
3.1.1 Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan penyusunan laporan keuangan menurut Kasmir (2018:11) yaitu:
1. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang dimiliki perusahaan pada saat ini.
2. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban modal yang dimiliki perusahaan pada saat ini.
3. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh pada suatu periode tertentu.
4. Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode tertentu.
5. Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi terhadap aktiva, pasiva, dan modal perusahaan.
6. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu periode.
7. Memberikan informasi tentang catatan-catatan atas laporan keuangan.
8. Informasi keuangan lainnya.
3.1.2 Jenis Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2018:28-30), ada lima jenis laporan keuangan yang biasa disusun, yaitu laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.
1. Laporan Posisi Keuangan/Neraca
Laporan posisi keuangan ini dulu dikenal dengan nama neraca (balance sheet). Perubahan istilah ini bertujuan untuk lebih mencerminkan fungsi dari
laporan tersebut sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi (PSAK) no.1 tahun 2009. Arti dari posisi keuangan yang dimaksudkan adalah posisi jumlah dan jenis aktiva (harta) dan pasiva (kewajiban dan ekuitas) suatu perusahaan pada tanggal tertentu.
2. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi (income statement) merupakan laporan keuangan yang menggambarkan hasil usaha perusahaan dalam suatu periode tertentu. Dalam laporan laba rugi ini tergambar jumlah pendapatan dan sumber-sumber pendapatan yang diperoleh. Kemudian, juga tergambar jumlah biaya dan jenis yang dikeluarkan selama periode tertentu. Dari jumlah pendapatan dan jumlah biaya ini terdapat selisih yang disebut laba atau rugi.
3. laporan Perubahan Modal
Laporan perubahan modal merupakan laporan yang berisi jumlah dan jenis modal yang dimiliki pada saat ini. Kemudian, laporan ini juga menjelaskan perubahan modal dan sebab-sebab terjadinya perubahan modal di perusahaan.
4. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas merupakan laporan yang menunjukkan semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan, baik yang berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap kas. Laporan kas terdiri dari arus kas (cash in) dan arus kas keluar (cash out) selama periode tertentu. Kas masuk terdiri dari uang yang masuk ke perusahaan, seperti hasil penjualan dan penerimaan lainnya, sedangkan kas keluar merupakan sejumlah pengeluaran dan jenis-jenis pengeluarannya seperti pembayaran biaya operasional perusahaan.
5. Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan merupakan laporan yang memberikan informasi apabila ada laporan keuangan yang memerlukan penjelasan tertentu.
Artinya terkadang ada komponen atau nilai dalam keuangan yang perlu diberi
penjelasan terlebih dahulu sehingga jelas. Hal ini perlu dilakukan agar pihak- pihak yang berkepentingan tidak salah dalam menafsirkannya.
3.1.3 Laporan Keuangan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Tabel 3.1
PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Neraca 31 Desember 2019, 2020, 2021
Pos-Pos 31 Desember
2019 2020 2021
Aktiva
Kas 30.219.214 32.274.988 26.299.973
Giro pada Bank
Indonesia 71.416.449 51.530.969 56.426.573
Giro pada Bank lain 10.237.736 12.172.423 14.036.019 Penempatan pada Bank
Indonesia dan Bank lain 116.854.727 67.833.336 58.976.665
Efek-efek 195.840.931 327.305.619 372.048.648
Cadangan kerugian
penurunan nilai (758) (348.941) (311.120)
Tagihan Wesel Ekspor dan
Wesel Tagih 34.185.258 26.246.814 28.521.876
Obligasi Rekapitalisasi
Pemerintah 1.130.306 - -
Efek-efek yang Dibeli
dengan Janji Dijual Kembali 22.582.244 46.818.568 54.915.498
Tagihan Derivatif 210.396 1.576.659 730.083
Kredit yang
Diberikan 877.431.193 943.787.634 994.416.523
Cadangan kerugian
penurunan nilai (38.363.840) (66.810.179) (84.833.734) Piutang dan
Pembiayaan Syariah 25.766.197 49.065.478 9.159.501 Cadangan kerugian
penurunan nilai (745.029) (2.582.167) (1.410.907) Piutang Sewa
Pembiayaan 4.191.596 27.339.856 39.291.429
Lanjutan Tabel 3.1
Pos-Pos
31 Desember
2019 2020 2021
Cadangan kerugian
penurunan nilai (87.500) (1.002.307) (1.584.776)
Tagihan Akseptasi 9.346.063 6.271.176 9.066.005
Penyertaan Saham 745.354 1.519.699 6.086.062
Cadangan kerugian
penurunan nilai (50) (19.370) (14.335)
Aset Tetap
Biaya perolehan 44.075.680 60.884.854 65.038.484 Akumulasi penyusutan (12.643.051) (17.178.222) (17.068.297) Aset Pajak Tangguhan - neto 4.541.298 9.885.990 16.284.898 Aset Lain-lain - neto 19.824.426 33.492.467 32.022.666 TOTAL ASET 1.416.758.840 1.610.065.344 1.678.097.734
Passiva
Liabilitas
Liabilitas Segera 7.549.312 15.473.574 18.735.387
Simpanan Nasabah
Giro 168.826.135 184.848.351 220.590.197
Giro Wadiah 2.020.866 6.258.078 -
Giro Mudharabah 4.080.803 1.623.563 -
Tabungan 405.355.483 460.671.367 497.676.739
Tabungan Wadiah 6.951.688 9.247.604 -
Tabungan
Mudharabah 2.025.354 6.147.015 -
Deposito Berjangka 413.223.653 426.399.550 420.476.279 Deposito Berjangka
Mudharabah 18.712.677 25.726.398
Simpanan dari Bank lain dan
Lembaga Keuangan lainnya 17.969.829 23.785.997 13.329.434
Lanjutan Tabel 3.1
Pos-Pos 31 Desember
2019 2020 2021
Efek-efek yang Dijual
dengan Janji Dibeli Kembali 49.902.938 40.478.672 29.408.508
Liabilitas Derivatif 184.605 407.774 199.695
Liabilitas Akseptasi 9.346.063 6.817.436 9.554.238
Utang Pajak 185.443 1.949.356 4.214.318
Surat Berharga yang
Diterbitkan 38.620.837 57.757.028 55.306.697
Pinjaman yang Diterima 30.921.771 72.164.236 68.458.547 Estimasi Kerugian
Komitmen dan Kontinjensi 609.493 3.681.709 7.002.268 Liabilitas Imbalan Kerja 10.662.581 13.435.842 18.105.921 Liabilitas Lain-lain 19.359.607 22.259.520 22.753.327 Pinjaman dan Surat
Berharga Subordinasi 1.465.366 1.465.392 501.375 Total Liabilitas 1.207.974.504 1.380.598.462 1.386.310.930
Ekuitas
Saham Biasa 6.167.291 6.167.291 7.577.950
Tambahan modal
Disetor saham 2.900.994 3.411.813 76.242.898
Surplus revaluasi aset
tetap - bersih 17.099.207 17.099.207 17.006.230
Selisih kurs karena penjabaran laporan
keuangan dalam mata uang asing
(14.970) (54.749) (115.975)
Kerugian yang belum
direalisasi atas efek-efek dan Obligasi Rekapitalisasi Pemerintah yang tersedia untuk dijual –bersih
715.770 - -
Lanjutan Tabel 3.1
Pos-Pos 31 Desember
2019 2020 2021
Keuntungan (kerugian) yang belum direalisasi atas efek-efek diklasifikasikan sebagai nilai penghasilan
- 4.623.064 1.949.387 Cadangan penurunan nilai
atas efek-efek yang diklasifikasikan sebagai nilai wajar melalui
penghasilan komprehensif lain
- 975.877 547.026
Keuntungan (kerugian) pengukuran kembali program imbalan pasti- bersih
189.519 (1.469.726) (1.423.685) Modal saham diperoleh
kembali (saham treasuri) (2.106.014) (1.649.076) (45.997)
Opsi saham 22.409 72.894 19.255
Cadangan Kompensasi atas
Saham Bonus 21.796 1.228.805 210.266
Dampak transaksi
pengendalian non pengendali - - 1.758.580
Modal pro forma atas transaksi akuisisi dengan entitas sepengendali
- 29.538.484 -
Laba 181.327.431 166.972.167 185.009.048
Total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada entitas induk
206.323.433 226.916.051 288.734.983
Kepentingan non-pengendali 2.460.903 2.550.831 3.051.821 Total Ekuitas 208.784.336 229.466.882 291.786.804 Total Liabilitas dan
Ekuitas 1.416.758.840 1.610.065.344 1.678.097.734
Sumber : www.idx.co.id, 2022 (Data yang diolah oleh Peneliti)
3.2 Analisis Laporan Keuangan
Menurut Syahrial, Purba dan Gunawan (2017:14-15) laporan keuangan adalah proses pembelajari kecenderungan posisi keuangan untuk menentukan pertimbangan perkembangan perubahan di masa datang.
Menurut Hermanto dan Agung (2015:99) analisis laporan keuangan adalah penguraian laporan keuangan dalam unsur-unsurnya, mengkaji unsur-unsur itu, mengkaji hubungan antara unsur-unsur itu untuk menarik kesimpulan atau membuat tafsiran-tafsiran yang akan diambil, karena kepentingan masing-masing pihak yang berbeda-beda, maka alat analisa maupun ukuran yang digunakan dapat pula berbeda.
Menurut Sujarweni (2017:6) analisis laporan keuangan adalah suatu proses dalam rangka menganalisis atau mengevaluasi keadaan keuangan perusahaan, hasil-hasil operasi perusahaan masa lalu dan masa depan, adapun tujuan analisis laporan keuangan adalah untuk menilai kinerja yang dicapai perusahaan selama ini dan mengestimasi kinerja perusahaan pada masa yang akan datang.
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa analisis laporan keuangan merupakan proses untuk mengolah data-data keuangan dengan prosedur akuntansi dan penilaian yang benar sehingga dapat dipergunakan sebagai pengambilan keputusan atau kebijakan bagi pihak yang berkepentingan.
3.2.1 Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Menurut Harahap (2018:195) tujuan analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut:
1. Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam dari pada yang terdapat dari laporan keuangan biasa.
2. Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata dari suatu laporan keuangan atau yang berada di balik laporan keuangan.
3. Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.
4. Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam hubunganya dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan komponen intern laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari luar perusahaan.
5. Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model- model dan teori-teori yang terdapat dilapangan seperti untuk prediksi, peningkatan (rating).
6. Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para pengambil keputusan.
7. Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut kriteria tertentu yang sudah dikenal dalam dunia bisnis.
8. Dapat membandingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain dengan periode sebelumnya atau dengan standar industri normal atau standar ideal.
9. Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami perusahaan, baik posisi keuangan, hasil usaha, struktur keuangan, dan sebagainya.
10. Dapat memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan di masa yang akan datang.
3.3 Pengertian Modal kerja
Menurut Kasmir (2018:250) modal kerja adalah modal yang digunakan untuk melakukan kegiatan operasi perusahaan. Modal kerja juga dapat diartikan sebagai investasi yang ditanamkan dalam aktiva lancar atau aktiva jangka pendek, seperti kas, surat-surat berharga, piutang, persediaan dan aktiva lancar lainnya.
Menurut Harahap (2016:288) modal kerja adalah aktiva lancar dikurangi utang lancar. Modal kerja ini merupakan ukuran tentang keamanan dari kepentingan kreditur jangka pendek.
Adanya modal kerja yang cukup sangat penting bagi suatu perusahaan karena dengan modal kerja yang cukup itu memungkinkan bagi perusahaan untuk beroperasi dengan seekonomis mungkin dan perusahaan tidak mengalami kesulitan atau menghadapi bahaya-bahaya yang mungkin timbul karena adanya krisis atau kekacauan keuangan.
Akan tetapi adanya modal kerja yang berlebihan menunjukkan adanya dana yang tidak produktif, dan hal ini akan menimbulkan kerugian bagi perusahaan karena adanya kesempatan untuk memperoleh keuntungan telah disia-siakan.
Sebaliknya adanya ketidakcukupan maupun miss management dalam modal kerja merupakan sebab utama kegagalan suatu perusahaan.
Ada tiga macam konsep modal kerja yang dikemukakan oleh Kasmir (2018:252) dalam bukunya Analisis Laporan Keuangan, yaitu:
1. Konsep kuantitatif, menyebutkan bahwa modal kerja adalah seluruh aktiva lancar. Dalam konsep ini adalah bagaimana mencukupi kebutuhan dana
untuk membiayai operasi perusahaan jangka pendek. Konsep ini sering disebut dengan modal kerja kotor (gross working capital).
2. Konsep Kualitatif, merupakan konsep yang menitikberatkan kepada kualitas modal kerja. Konsep ini melihat selisih antara jumlah aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Konsep ini disebut modal kerja bersih (net working capital).
3. Konsep Fungsional, menekankan kepada fungsi dana yang dimiliki perusahaan dalam memperoleh laba. Artinya sejumlah dana yang dimiliki dan digunakan perusahaan untuk meningkatkan perolehan laba.
3.3.1 Arti Penting Modal Kerja
Modal kerja memiliki arti yang sangat penting bagi operasional perusahaan.
Oleh karena itu, setiap perusahaan berusaha memenuhi kebutuhan modal kerjanya, agar dapat meningkatkan likuiditasnya.
Secara umum arti penting modal kerja bagi perusahaan terutama bagi kesehatan keuangan perusahaan menurut Kasmir (2019:254) yaitu sebagai berikut:
1. Kegiatan seorang manajer keuangan lebih banyak dihabiskan di dalam kegiatan operasional perusahaan dari waktu ke waktu.
2. Investasi dalam aktiva lancar cepat dan sering kali mengalami perubahan serta cenderung labil. Sedangkan aktiva lancar adalah modal kerja perusahaan, artinya perubahan tersebut akan berpengaruh terhadap modal kerja.
3. Dalam praktiknya sering kali bahwa separuh dari total aktiva merupakan bagian dari aktiva lancar, yang merupakan modal kerja perusahaan. Dengan kata lain, jumlah aktiva lancar sama atau lebih dari 50% dari total aktiva.
4. Bagi perusahaan yang relatif kecil, fungsi modal kerja amat penting.
Perusahaan kecil, relatif terbatas untuk memasuki pasar dengan modal besar dan jangka panjang. Pendanaan perusahaan lebih mengandalkan pada utang jangka pendek, seperti utang dagang, utang bank satu tahun yang tentunya dapat memengaruhi modal kerja.
5. Terdapat hubungan yang sangat erat antara pertumbuhan penjualan dengan kebutuhan modal kerja. Kenaikan penjualan berkaitan dengan tambahan, piutang, sediaan dan juga saldo kas. Demikian pula sebaliknya apabila terjadi penurunan penjualan, akan berpengaruh terhadap komponen dalam aktiva lancar.
3.3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Modal Kerja
Menurut Kasmir (2019:256-258) pihak manajemen dalam menjalankan kegiatan operasi perusahaan terutama dalam pemenuhan modal kerja harus selalu memerhatikan faktor-faktor sebagai berikut:
1. Jenis perusahaan, dalam praktiknya meliputi dua macam, yaitu perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa dan bon jasa (industri). Kebutuhan modal dalam perusahaan industri lebih besar dibandingkan dalam perusahaan jasa.
Diperusahaan industri, investasi dalam bidang kas, piutang, dan sediaan relatif lebih besar jika dibandingkan dengan perusahaan jasa. Oleh karena
itu, jenis kegiatan perusahaan sangat menentukan kebutuhan akan modal kerjanya.
2. Syarat kredit atau penjualaan yang pembayarannya dilakukan dengan cara mencicil (angsuran) juga sangat memengaruhi modal kerja. Untuk meningkatkan penjualan bisa dilakukan dengan berbagai cara dan salah satunya adalah melalui penjualan secara kredit.
3. Waktu produksi, artinya jangka waktu atau lamanya memproduksi suatu barang. Makin lama waktu yang digunakan untuk memproduksi suatu barang, maka akan semakin besar modal kerja yang dibutuhkan, demikian pula sebaliknya.
4. Tingkat perputaran sediaan, artinya makin kecil atau rendah tingkat perputaran, maka kebutuhan modal kerja makin tinggi, demikian pula sebaliknya.
3.3.3 Sumber Modal Kerja
Pada umumnya sumber modal kerja suatu perusahaan dapat berasal dari:
1. Hasil operasi perusahaan, adalah jumlah net income yang nampak dalam laporan perhitungan rugi laba ditambah dengan depresiasi dan amortisasi, jumlah ini menunjukkan jumlah modal kerja yang berasal dari hasil operasi perusahaan. Jadi jumlah modal kerja yang berasal dari hasil operasi perusahaan dapat dihitung dengan menganalisa laporan perhitungan rugi laba perusahaan tersebut. Dengan adanya keuntungan atau laba dari usaha perusahaan, dan apabila laba tersebut tidak diambil oleh pemilik perusahaan maka laba tersebut akan menambah modal perusahaan yang bersangkutan.
Biaya-biaya operasi perusahaan pada dasarnya terdiri dari biaya yang memerlukan pengeluaran uang atau menimbulkan hutang yang pada akhirnya juga akan menyebabkan penggunaan modal kerja, biaya yang memerlukan pengeluaran uang ini dinamakan biaya tunai, seperti upah, gaji, premi asuransi.
2. Keuntungan dari penjualan surat-surat berharga (investasi jangka pendek) Surat berharga yang dimiliki perusahaan untuk jangka pendek adalah salah satu elemen aktiva lancar yang segera dapat dijual dan akan menimbulkan keuntungan bagi perusahaan. Dengan adanya penjualan surat berharga ini menyebabkan terjadinya perubahan dalam unsur modal kerja berubah menjadi uang kas. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan surat berharga ini merupakan suatu sumber untuk bertambahnya modal kerja. Di dalam menganalisa sumber-sumber modal kerja maka sumber yang berasal dari keuntungan penjualan surat-surat berharga harus dipisahkan dengan modal kerja yang berasal dari hasil usaha pokok perusahaan.
3. Penjualan aktiva tidak lancar
Sumber lain yang dapat menambah modal kerja adalah hasil penjualan aktiva tetap, investasi jangka panjang dan aktiva tidak lancar lainnya yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan. Perubahan dari aktiva ini menjadi kas atau piutang akan menyebabkan bertambahnya modal kerja sebesar hasil penjualan tersebut.
4. Penjualan saham atau obligasi
Untuk menambah dana tau modal kerja yang dibutuhkan, perusahaan dapat pula mengadakan emisi saham baru atau meminta kepada para pemilik perusahaan untuk menambah modalnya, disamping itu perusahaan dapat juga mengeluarkan obligasi atau bentuk hutang angka panjang lainnya guna memenuhi kebutuhan modal kerjanya. Penjualan obligasi ini mempunyai konsekuensi bahwa perusahaan harus membayar bunga tetap, oleh karena itu dalam mengeluarkan hutang dalam bentuk obligasi ini harus disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Penjualan obligasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan (terlalu besar) di samping menimbulkan beban bunga yang besar, juga akan mengakibatkan keadaan aktiva lancar yang besar sehingga melebihi jumlah modal kerja yang dibutuhkan. (Munawir 2017:120-123)
3.3.4 Penggunaan Modal Kerja
Menurut Munawir (2017:124-128) penggunaan-penggunaan aktiva lancar yang mengakibatkan turunnya modal kerja adalah sebagai berikut:
1. Pembayaran biaya atau ongkos-ongkos operasi perusahaan, meliputi pembayaran upah, gaji, pembelian bahan atau barang dagangan, supplies kantor dan pembayaran biaya-biaya lainnya. Penggunaan aktiva lancar untuk pembayaran biaya operasi ini merupakan penggunaan modal kerja kalau jumlah biaya suatu periode lebih besar daripada jumlah penghasilannya (timbul kerugian).
2. Kerugian-kerugian yang diderita oleh perusahaan karena adanya penjualan surat berharga atau effek, maupun kerugian lainnya.
3. Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan- tujuan tertentu dalam jangka panjang, misalnya dana pelunasan obligasi, dan pensiun pegawai, ataupun dana-dana lainnya.
4. Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap, investasi jangka panjang atau aktiva tidak lancar lainnya yang mengakibatkan berkurangnya modal kerja.
5. Pembayaran hutang-hutang jangka panjang yang meliputi hutang hipotik, hutang obligasi maupun bentuk hutang jangka panjang lainnya, serta penarikan atau pembelian kembali saham perusahaan yang beredar; atau adanya penurunan hutang jangka panjang diimbangi berkurangnya aktiva lancar.
6. Adanya penurunan sektor modal yang diimbangi dengan berkurangnya aktiva lancar atau bertambahnya hutang lancar dalam jumlah yang sama.
Menurut Munawir (2017:136) secara singkat dapat dikatakan bahwa sumber modal kerja adalah karena:
1. Berkurangnya aktiva tetap
2. Bertambahnya hutang jangka panjang 3. Bertambahnya modal
4. Laba operasi
Sedangkan penggunaan modal kerja adalah karena:
1. Bertambahnya aktiva tetap
2. Berkurangnya hutang jangka panjang 3. Berkurangnya modal
4. Rugi operasi
3.4 Laporan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
Laporan sumber dan penggunaan modal kerja disusun berdasarkan data laporan posisi keuangan yang diperbandingkan dan informasi yang berkenaan dengan perubahan semua rekening tidak lancar dan pos-pos modal sendiri.
Informasi ini dianalisis dengan tujuan untuk dapat menjelaskan bagaimana perputaran modal kerja selama periode tertentu. Laporan ini menunjukkan kinerja manajemen dalam mengelola modal kerja yang dimiliki perusahaan.
Menurut Munawir (2017:135) langkah-langkah atau prosedur penyusunan work sheet untuk penyusunan laporan sumber dan penggunaan modal kerja adalah
sebagai berikut:
1. Menyusun pos-pos neraca awal periode dan akhir periode-periode atau neraca periode sekarang dengan neraca periode sebelumnya, dipisahkan antara pos-pos neraca bersaldo debit dengan yang bersaldo kredit.
2. Menganalisa perubahan-perubahan yang terjadi pada rekening atau pos- pos untuk menentukan alasan atau sebab perubahan tersebut dan menentukan tersebut terhadap modal kerja, apakah merupakan sumber, penggunaan atau tidak berpengaruh sama sekali.
3. Melakukan penyesuaian terhadap perubahan-perubahan yang tidak sesuai dengan transaksi yang sebenarnya.
4. Setelah diadakan penyesuaian maka langkah berikutnya adalah memindahkan perubahan-perubahan netonya. Perubahan-perubahan aktiva lancar dan hutang lancar dipindahkan ke kolom “kenaikan atau penurunan
modal kerja.” Jika pos tersebut mempunyai perubahan debit maka dipindahkan ke kolom kenaikan modal kerja, sebaliknya kalau pos tersebut mempunyai perubahan kredit maka dipindahkan ke kolom penurunan modal kerja. Perubahan pos-pos aktiva tidak lancar, hutang jangka panjang dan modal dipindahkan ke kolom sumber dan penggunaan modal kerja.
3.5 Modal Kerja (Rasio Kecukupan Modal Kerja)
Modal kerja yang harus tersedia dalam perusahaan harus cukup jumlahnya dalam arti harus dapat membiayai pengeluaran-pengeluaran atau operasi perusahaan sehari-hari. Menurut Kasmir (2018:255) tujuan manajemen modal kerja bagi perusahaan adalah:
1. Guna memenuhi kebutuhan likuiditas perusahaan;
2. Dengan modal kerja yang cukup perusahaan memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban pada waktunya;
3. Memungkinkan perusahaan untuk memiliki sediaan yang cukup dalam rangka memenuhi kebutuhan pelanggannya;
4. Memungkinkan perusahaan untuk memperoleh tambahan dana dari kreditor, apabila rasio keuangannya memenuhi syarat;
5. Memungkinkan perusahaan memberikan syarat kredit yang menarik minat pelanggan, dengan kemampuan yang dimilikinya;
6. Guna memaksimalkan penggunaan aktiva lancar untuk meningkatkan penjualan dan laba;
7. Melindungi diri apabila terjadi krisis modal kerja akibat turunnya nilai aktiva lancar.
Mengingat besarnya manfaat yang diberikan dari kecukupan modal kerja, maka dapat disimpulkan bahwa modal kerja yang baik adalah modal kerja yang cukup. Modal kerja bersih , selisih antara aktiva lancar dan kewajiban lancar adalah ukuran likuiditas perusahaan.
Rasio kecukupan modal kerja dapat dievaluasi dengan menggunakan rasio sebagai berikut (Manopo, et al, 2016)
1. Rasio Total Aktiva Terhadap Modal Kerja Bersih (Total Assets to Net Working Capital)
Total Assets to Net Working Capital = Total Assets Net Working Capital
2. Rasio Kewajiban Lancar Terhadap Modal Kerja Bersih (Current Liabilities to Net Working Capital Ratio)
Current Liabilities to Net Working Capital = Current Liabilities Net Working Capital
3. Rasio Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover)
Working Capital Turnover = Revenues Net Working Capital
3.6 Penyajian Laporan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
Berdasarkan laporan keuangan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang terdapat di www.idx.co.id, maka sumber dari penggunaan modal kerja PT.
Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk per tahun 2019-2021 dapat dihitung sebagai berikut:
Sumber dan Penggunaan Modal Kerja Periode 2019-2020
(dalam jutaan rupiah)
Pos-Pos 31 Desember Sumber dan Penggunaan
Modal Kerja Modal Kerja
2019 2020 Sumber Penggunaan Naik Turun
AKTIVA
Kas 30.219.214 32.274.988 2.055.774
Giro pada Bank Indonesia 71.416.449 51.530.969 19.885.480
Giro pada Bank lain 10.237.736 12.172.423 1.934.687
Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank lain 116.854.727 67.833.336 49.021.391
Efek-efek 195.840.931 327.615.655 131.774.724
Cadangan kerugian penurunan nilai (758) (348.941) ( 348.183)
Tagihan Wesel Ekspor dan Wesel Tagih 34.185.258 26.246.814 7.938.444
Obligasi Rekapitulasi Pemerintah 1.130.306 - 1.130.306
Efek-efek yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali 22.582.244 46.818.568 24.236.324
Tagihan Derivatif 210.396 1.576.659 1.366.263
Kredit yang Diberikan 877.431.193 943.787.634 66.425.443
Cadangan kerugian penurunan nilai (38.363.840) (66.810.179) (28.446.339)
Piutang dan Pembiayaan Syariah 25.766.197 49.065.478 23.299.281
Cadangan kerugian penurunan nilai (745.029) (2.582.167) (1.837.138)
Piutang Sewa Pembiayaan 4.191.596 27.339.856 23.148.260
Pos-Pos 31 Desember Sumber dan
Penggunaan Modal Kerja Modal Kerja
2019 2020 Sumber Penggunaan Naik Turun
Cadangan kerugian penurunan nilai (87.500) (1.002.307) (914.807)
Tagihan Akseptasi 9.346.063 6.271.176 3.074.887
Penyertaan Saham 745.354 1.519.699 774.345
Cadangan kerugian penurunan nilai (50) (19.370) (19.320)
Aset Tetap
Biaya perolehan 44.075.680 60.884.854 16.809.174
Akumulasi Penyusutan (12.643.051) (17.178.222) (4.535.171)
Aset Pajak Tangguhan-neto 4.541.298 9.885.990 5.344.692
Aset Lain-lain-neto 19.824.426 33.492.467 13.668.041
TOTAL ASET 1.416.758.840 1.610.065.344
Passiva
Liabilitas
Liabilitas Segera 7.549.312 15.473.574 7.924.262
Simpanan Nasabah
Giro 168.826.135 184.848.351 16.022.216
Giro Wadiah 2.020.866 6.258.078 4.237.212
Giro Mudharabah 4.080.803 1.623.563 2.457.240
Tabungan 405.355.483 460.671.367 55.315.884
Tabungan Wadiah 6.951.688 9.247.604 2.295.916
Pos-Pos 31 Desember Sumber dan Penggunaan
Modal Kerja Modal Kerja
2019 2020 Sumber Penggunaan Naik Turun
Tabungan Mudharabah 2.025.354 6.147.015 4.121.661
Deposito Berjangka 413.223.653 426.399.550 13.175.897
Deposito Berjangka Mudharabah 18.712.677 25.726.398 7.013.721
Simpanan dari Bank lain dan Lembaga Keuangan
Lainnya 17.969.829 23.785.997 5.816.168
Efek-efek yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali 49.902.938 40.478.672 9.424.266
Liabilitas Derivatif 184.605 407.774 223.169
Liabilitas Akseptasi 9.346.063 6.817.436 2.528.627
Utang Pajak 185.443 1.949.356 1.763.913
Surat Berharga yang Diterbitkan 38.620.837 57.757.028 19.136.191
Pinjaman yang Diterima 30.921.771 72.164.236 41.242.465
Estimasi Kerugian Komitmen dan Kontinjensi 609.493 3.681.709 3.072.216
Liabilitas Imbalan Kerja 10.662.581 13.435.842 2.773.261
Liabilitas Lain-lain 19.359.607 22.259.520 2.899.913
Pinjaman dan Surat Berharga Subordinasi
1.465.366 1.465.392 26
Total Liabilitas 1.207.974.504 1.380.598.462
Ekuitas
Saham Biasa 6.167.291 6.167.291 0 0
Tambahan modal Disetor saham 2.900.994 3.411.813 510.819
Surplus revaluasi aset tetap - bersih 17.099.207 17.099.207 0 0
Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan
dalam mata uang asing (14.970) (54.749) (39.779)
Pos-Pos 31 Desember Sumber dan Penggunaan
Modal Kerja Modal Kerja
2019 2020 Sumber Penggunaan Naik Turun
Keuntungan (Kerugian) yang belum direalisasi atas efek-efek dan Obligasi Rekapitalisasi
Pemerintah yang tersedia untuk dijual –bersih 715.770 - 715.770
Keuntungan (kerugian) yang belum direalisasi atas efek-efek yang diklasifikasikan sebagai nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain- bersih
- 4.623.064 4.623.064
Cadangan penurunan nilai atas efek-efek yang diklasifikasikan sebagai nilai wajar melalui
penghasilan komprehensif lain - 975.877 975.877
Keuntungan (kerugian) pengukuran kembali
program imbalan pasti-bersih 189.519 (1.469.726) (1.280.207) Modal saham diperoleh kembali (saham
treasuri) (2.106.014) (1.649.076) (456.938)
Opsi saham 22.409 72.894 50.485
Cadangan Kompensasi atas Saham Bonus 21.796 1.228.805 1.207.009
Dampak transaksi pengendalian non pengendali - - - -
Modal pro forma atas transaksi akuisisi dengan
entitas sepengendali - 29.538.484 29.538.484
Laba 181.327.431 166.972.167 14.355.264
Sumber : www.idx.co.id, 2022 (Data yang diolah oleh Peneliti)
Total ekuitas yang dapat diatribusikan
kepada entitas induk 206.323.433 226.916.051
Kepentingan non-pengendali 2.460.903 2.550.831 89.928
Total Ekuitas 208.784.336 229.466.882
Total Liabilitas dan Ekuitas 1.416.758.840 1.610.065.344
Total 104.799.752 45.900.832 257.859.447 198.960.527
Kenaikan Modal Kerja 58.898.920 58.898.920
104.799.752 104.799.752 257.859.447 257.859.447
PT. Bank Rakyat Indonesia Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
Periode 2020-2021 (dalam jutaan rupiah)
Pos-Pos 31 Desember Sumber dan Penggunaan
Modal Kerja Modal Kerja
2020 2021 Sumber Penggunaan Naik Turun
AKTIVA
Kas 32.274.988 26.299.973 5.975.015
Giro pada Bank Indonesia 51.530.969 56.426.573 4.895.604
Giro pada Bank lain 12.172.423 14.036.019 1.863.596
Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank lain 67.833.336 58.976.665 8.856.671
Efek-efek 327.305.619 372.048.648 44.743.029
Cadangan kerugian penurunan nilai (348.941) (311.120) (37.821)
Tagihan Wesel Ekspor dan Wesel Tagih 26.246.814 28.521.876 2.275.062
Obligasi Rekapitulasi Pemerintah - - - -
Efek-efek yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali 46.818.568 54.915.498 8.096.930
Tagihan Derivatif 1.576.659 730.083 846.576
Kredit yang Diberikan 943.787.634 994.416.523 50.628.889
Cadangan kerugian penurunan nilai (66.810.179) (84.833.734) (18.023.555)
Piutang dan Pembiayaan Syariah 49.065.478 9.159.501 39.905.977
Cadangan kerugian penurunan nilai (2.582.167) (1.410.907) (1.171.260)