• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "II. LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

II. LANDASAN TEORI

A. Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini, antara lain penelitian yang dilakukan oleh Gede Agus Darmawan (2015) dengan judul Penerapan Economic Order Quantity (EOQ) Dalam Pengelolaan Persediaan Bahan Baku Tepung Pada Usaha Pia Ariawan Di Desa Banyuning Tahun 2013. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah per pesanan bahan baku tepung Usaha Pia Ariawan dengan menggunakan metode EOQ, serta untuk mengetahui besarnya total biaya persediaan Usaha Pia Ariawan dengan menggunakan metode EOQ. Penelitian ini menyimpulkan bahwa jumlah per pesanan bahan baku tepung Usaha Pia Ariawan dengan menggunakan metode EOQ sebanyak 878,71 kg, persediaan pengamanan yang harus tersedia sebanyak 26,86 kg, pemesanan kembali seharusnya dilakukan saat persediaan bahan baku tepung sebanyak 91,20 kg, dan persediaan maksimum yang harus ada di gudang adalah 905,57 kg, serta besarnya total biaya persediaan dengan menggunakan metode EOQ sebesar Rp. 527.266,71. Jumlah ini lebih kecil bila dibandingkan dengan biaya total persediaan yang harus dikeluarkan oleh perusahaan pada periode yang sama yang mencapai Rp. 1.059.102.

Mutiara Simbar (2014) melakukan penelitian tentang Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Kayu Cempaka Pada Industri Mebel dengan Metode EOQ. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis volume bahan baku kayu cempaka optimal yang dibutuhkan oleh UD. Batu Zaman untuk periode tahun 2013, menganalisis total biaya persediaan bahan baku kayu cempaka yang harus dilakukan UD. Batu Zaman untuk periode tahun 2013, menganalisis kapan akan dilakukan pemesanan kembali (reorder point) bahan baku kayu cempaka oleh UD. Batu Zaman untuk periode tahun 2013, menganalisis jumlah persediaan pengaman (safety stock) kayu cempaka yang harus disediakan oleh UD. Batu Zaman untuk periode tahun 2013, menganalisis pengendalian persediaan bahan baku kayu Cempaka pada

8

(2)

industri mebel dengan menggunakan metode EOQ (Studi Kasus pada UD.

Batu Zaman). Analisis terhadap model pengendalian persediaan yang lebih efektif merupakan fokus utama penelitian ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelian bahan baku kayu Cempaka yang optimal menurut metode Economic Order Quantity selama periode tahun 2013 untuk setiap kali pesan lebih besar daripada yang dilakukan perusahaan. Pembelian bahan baku optimal yang harus dilakukan perusahaan pada tahun 2013 adalah sebesar 4,448 m³ dengan frekuensi pemesanan yang harus dilakukan adalah sebanyak 2 kali. Kuantitas persediaan pengaman (Safety Stock) yang harus tersedia digudang adalah sebesar 0,24 m³ dan titik pemesanan kembali (Re Order Point) menurut Economic Order Quantity yaitu pada saat persediaan digudang tinggal 0,603 m³. Total biaya persediaan untuk proses produksi yang dikeluarkan UD. Batu Zaman menurut metode Economic Order Quantity lebih kecil dibandingkan total biaya persediaan yang dilakukan oleh perusahaaan.

Aziz Slamet Riyadi (2012) melakukan penelitian mengenai Analisis Efisiensi Persediaan Bahan Baku Abon Lele Karmina di Kabupaten Boyolali.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Jumlah persediaan (2) Lead Time (3) Total biaya persediaan (4) Jumlah pemesanan dan biaya pemesanan menurut metode EOQ (5) Safety Stocks dan Reorder Point periode produksi 2012 (6) Tingkat efisiensi persediaan ikan lele di Industri Abon Lele Karmina. Penelitian ini memfokuskan pada jumlah efisien persediaan bahan baku lele dengan jumlah produk abon lele yang dihasilkan.Penelitian ini menyimpulkam bahwa kebijakan industri abon lele Karmina dalam mengelola persediaan bahan baku ikan lele pada produksi 2008, 2009, 2010 dan 2011 masih belum efisien apabila dibandingkan dengan hasil perhitungan dengan metode Economic Order Quantity (EOQ).

Berdasarkan penelitian-penelitian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dengan diterapkannya metode EOQ dalam pengendalian persediaan bahan baku dapat diketahui besarnya persediaan bahan baku yang efisien

(3)

sehingga dapat menekan biaya persediaan bahan baku. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode EOQ dapat diganakan dalam penelitian ini.

B. Tinjauan Pustaka 1. Agribisnis

Agribisnis dalam pengertian awam sering dicampuradukkan dengan pertanian. Sebenarnya terdapat suatu tahap perkembangan bisnis dari kegiatan pertanian yang paling sederhana hingga menjadi agribisnis.

Dilihat dari segi bisnis, kegiatan yang paling sederhana adalah bercocok tanam. Namun, aktifitas tersebut hanya untuk kesenangan atau tujuannya hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri,jelas kegiatan ini belum merupakan agribisnis. Tahap selanjutnya adalah kegiatan bertani oleh pelaku yang disebut peasant. Dalam bahasa Indonesia, peasant juga diterjemahkan sebagai petani. Bedanya, peasant masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sendiri atau sering disebut sebagai pertanian subsisten. Hal ini sudah merupakan kegiatan pertanian, tetapi belum merupakan agribisnis. Tahap perkembangan berikutnya adalah kegiatan berusaha tani atau farming dan pelakunya disebut farmer atau petani.

Proses produksi juga sudah tidak hanya menyangkut kegiatan budi daya atau bercocok tanam, tetapi dapat pula mencakup kegiatan seperti pengemasan, pengolahan dan distribusi. Keuntungan yang diperoleh telah menjadi motivasi utama dalam menjalankan kegiatan usaha. Seluruh kegiatannya sudah dijalankan sebagai bisnis. Jelas ini adalah kegiatan pertanian, bahkan telah pula disebut sebagai bisnis pertanian. Namun, kegiatan tersebut tidak selalu dapat disebut usaha agribisnis (Khrisnamurthi, 2005).

Bisnis pertanian dapat disebut sebagai usaha agribisnis jika kegiatan tersebut telah dipersepsikan sebagai bagian dari suatu sistem bisnis yang luas yang terdiri dari:

a. Bisnis input dan sarana produksi pertanian seperti pupuk, alat dan mesin pertanian dan sebagainya.

b. Bisnis pertanian (usaha tani) itu sendiri.

(4)

c. Bisnis pengolahan hasil pertanian.

d. Bisnis distribusi dan pemasaran hasil pertanian dan hasil olahannya.

e. Bisnis berbagai perangkat penunjang pertanian seperti perbankan, penelitian, pengembangan, dan asuransi pertanian

(Khrisnamurthi, 2005).

Downey (1987) mendefinisikan agribisnis merupakan seluruh sektor bahan masukan,usaha tani, serta produk yang memasok bahan masukan usaha tani yang terlibat dalam produksi dan pada akhirnya menangani pemrosesan, penyebaran, penjualan secara borongan dan penjualan eceran produk kepada konsumen akhir. Berikut ini adalah jenis keterampilan dan pengetahuan yang digunakan oleh para pekerja di bidang agribisnis :

a. Produksi pertanian dan pengembangbiakan penangkaran hewan, hasil hewan, tumbuh-tumbuhan, hasil tumbuh-tumbuhan, hutan dan hasil hutan.

b. Penyediaan jasa yang dikaitkan dengan produksi pertanian dan pembuatan serta penyebaran perbekalan yang digunakan dalam produksi pertanian.

c. Perancangan, pemasangan, perbaikan, pengoperasian, dan pembenahan mesin, peralatan, dan sumber tenaga, serta pembangunan struktur yang digunakan dalam produksi pertanian.

d. Semua kegiatan yang berhubungan dengan pemeriksaan, pemrosesan, pemasaran produk pertanian dan produk sampingan yang utama.

e. Setiap aspek dari rumah kaca, tempat pemeliharaan tanaman-tanaman muda (nursery), pembibitan pertanaman (landscaping) dan tindakan lain sehubungan dengan penggunaan hortikultura sebagai penghias lahan.

f. Pengawetan, pengembangbiakan, perbaikan dan pemanfaatan sumber daya alami yang dapat diperbarui.

g. Berbagai macam penggunaan lahan dan hasil hutan.

(5)

Menurut Sa’id (2001) dalam melakukan kegiatan di bidang agribisnis, terdapat tiga hal penting yang perlu disadari bersama oleh para pelaku agribisnis. Ketiga hal tersebut adalah risiko tinggi (high risk), lambat menghasilkan (nonquick yielding) dan memberikan pengembalian uang pada modal (return on investment) yang cukup kecil. Kelemahan- kelemahan tersebut setidaknya dapat diminimalkan bila para pelaku agribisnis dapat menerapkan dengan baik prinsip-prinsip manajemen tekhnologi dalam bidang agribisnis, mulai dari perencanaan investasi tekhnologi dan pemilihan usaha sampai dengan pengawasan dan pengembangan tekhnologi, supaya tidak lari dari tujuan dan target yang hendak diraih.

Bagi Indonesia, agribisnis berkembang dan berprospek cerah karena kondisi wilayah yang menguntungkan, antara lain sebagai berikut : a. Lokasinya di garis khatulistiwa yang menyebabkan adanya sinar

matahari yang cukup bagi perkembangan sektor budidaya pertanian.

b. Kondisi lahan relatif subur.

c. Keadaan sarana dan prasarana seperti daerah aliran sungai, tersedianya bendungan irigasi, jalan di pedesaan yang relatif baik, mendukung berkembangnya agribisnis (Firdaus, 2008).

2. Waluh (Cucurbita moschata)

Menurut Steenis (2008) ,tumbuhan waluh atau labu kuning dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Cucurbitales Famili : Cucurbitaceae Genus : Cucurbita

Spesies : Cucurbita moschata Duch.

(6)

Waluh atau labu kuning sesungguhnya bukan tanaman asli Indonesia, tetapi berasal dari Benua Amerika, yaitu Peru dan Meksiko.

Waluh sering dijumpai di negara-negara tropis seperti Indonesia, Malaysia, Afrika dan negara Eropa. Tanaman waluh sudah dikenal dan dibudidayakan sejak bertahun-tahun sebelum masehi, bahkan suatu bangsa Indian memanfaatkan sebagai makanan utama (Widayati, 2000).

Di pedesaan, tanaman ini sering digunakan sebagai tanaman tumpang sari. Panjang batang dapat mencapai 5-10 meter dan buahnya dapat mencapai 10-20 kg/buah. Untuk pertumbuhan waluh perlu tempat terbuka dan banyak mendapat sinar matahari (Sudarto, 1993).

Adapun karakteristik (ciri khas) tanaman labu Kuning/ labu parang adalah sebagai berikut :

a. Tumbuhnya menjalar

b. Buah labu kuning berbentuk bulat pipih, lonjong, atau panjang dengan banyak alur (15-30 alur).

c. Daun besar dan berbulu

d. Buahnya besar dan warnanya bervariasi (buah muda berwarna hijau, sedangkan yang lebih tua kuning pucat).

e. Batang kuat, panjang dan berbulu agak tajam.

f. Kulit buah keras akan tetapi berdaging lunak dan begitu banyak mengandung air (Sudarto, 1993).

Varietas lokal yang sering ditanam petani menurut Sudarto (1993) adalah sebagai berikut :

a. Jenis bokor

Ciri – ciri buahnya terdapat alur, berbentuk bulat pipih, batang bersulur panjang (3 – 5 m), warna daging buah kuning, daging buah tebal, rasanya gurih, manis, berdaging halus dan padat, beratnya dapat mencapai 4-5 kg atau lebih.

b. Jenis kelenting

Jenis waluh ini mempunyai ciri-ciri buahnya berbentuk lonjong oval, memanjang, kulitnya berwarna kuning, daging buah juga berwarna

(7)

kuning, beratnya mencapai 2-5kg/buah, sulurnya panjang 3-5cm, masa panen antara 4,5 – 6 bulan.

c. Jenis ular

Jenis waluh ini mempunyai ciri-ciri buahnya panjang ramping, warna daging buah kuning, beratnya 1-3 kg/buah.

3. Persediaan Bahan Baku

Pentingnya bahan baku untuk kegiatan perusahaan yang efisien dilihat melalui kualitas dan kuantitas bahan baku yang tepat, sehingga akan menentukan sampai batas yang wajar untuk memenuhi ketersediaan, kualitas dan kuantitas yang dihasilkan produk. Ketersediaan bahan baku dalam hal manajemen yang efisien dan perencanaan yang efektif menentukan keuntungan yang diperoleh suatu perusahaan. Penentuan jumlah pesanan ekonomis (Economic Order Quantity), tingkat reorder point dan safety stock penting dalam manajemen bahan baku di setiap perusahaan (Akindipe, 2015).

Persediaan dapat diartikan sebagai barang-barang yang di simpan untuk digunakan atau dijual pada masa lalu atau periode yang akan datang. Persedian terdiri dari persediaan bahan baku,persediaan bahan setengah jadi dan persediaan barang jadi. Persediaan bahan baku dan bahan setengah jadi disimpan sebelum digunakan atau dimasukan ke dalam proses produksi, sedangkan persediaan barang jadi atau barang dagangan di simpan sebelum dijual atau dipasarkan. Dengan demikian setiap perusahaan yang melakukan kegiatan usaha pada umumnya memiliki persediaan (Ristono, 2013).

Harding (1978) mengemukakan ada beberapa metode pemesanan yang dipakai, masing-masing mempunyai pengaruh yang berbeda atas sistem produksinya, dan tujuannyapun berbeda-beda :

a. Pesanan seketika (spot order) adalah pesanan biasa dan tunggal untuk sejumlah barang. Pesanan ini mungkin diulangi atau mungkin juga tidak dan dalam pesanan ini disetujui suatu harga tertentu.

(8)

b. Pesanan kontrak ialah bilamana disetujui kontrak oleh kedua belah pihak, dimana pensuplai setuju untuk menyerahkan sejumlah barang selama suatu jangka waktu tertentu, dengan saat dan kuantitas penyerahan yang ditetapkan di belakang hari. Akan tetapi mengenai harga serta jangka waktu telah dirundingkan dan ditetapkan untuk seluruh kuantitas yang dikontrak.

c. Persetujuan pensuplai tunggal dibuat jika suatu perusahaan setuju untuk memakai hanya satu pensuplai untuk satu jenis barang tertentu,lagi pula juga hanya selama jangka waktu yang tertentu.

Efisiensi operasioal pada sebuah perusahaan dapat ditingkatkan dengan beberapa fungsi persediaan. Persediaan adalah bagian yang sangat penting dalam suatu bisnis. Fungsi persediaan menurut Rangkuti (2002) antara lain :

a. Fungsi Decoupling

Yaitu persediaan yang memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan langganan tanpa tergantung pada supplier.

b. Fungsi Economic Lot Sizing

Yaitu persediaan yang perlu mempertimbangkan penghematan- penghematan atau potongan pembelian, biaya pengangkutan per unit menjadi lebih murah dan sebagainya.

c. Fungsi Antisipasi

Yaitu apabila perusahaan menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan dan diramalkan berdasar pengalaman atau data-data masa lalu, yaitu permintaan musiman. Dalam hal ini perusahaan dapat mengadakan persediaan musiman (seasional inventories). Disamping itu, perusahaan juga sering menghadapi ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan permintaan akan barang selama periode tertentu. Dalam hal ini perusahaan memerlukan persediaan ekstra yang disebut persediaan pengaman (safety stock).

Tujuan manajemen persediaan adalah untuk menyediakan jumlah material yang tepat, lead time yang tepat dan biaya rendah. Biaya

(9)

persediaan merupakan keseluruhan biaya operasi atas sistem persediaan.

Biaya persediaan didasarkan pada parameter ekonomis yang relevan dengan jenis biaya (Yamit, 2005).

Menurut Assauri (1980) terdapat unsur-unsur biaya persediaan yang dapat digolongkan menjadi 4 golongan yaitu :

a. Biaya pemesanan (ordering cost)

Yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan pemesanan barang-barang atau bahan-bahan dari penjual, sejak dari pesanan (order) dibuat dan dikirim ke penjual, sampai barang-barang/ bahan-bahan tersebut dikirimkan dan diserahkan serta diinspeksi digudang atau daerah pengolahan (process area).

b. Biaya yang terjadi dari adanya persediaan (inventory carrying cost) Yaitu biaya-biaya yang diperlukan berkenaan diadakannya persediaan yang meliputi seluruh pengeluaran-pengeluaran yang dikeluarkan perusahaan sebagai akibat adanya sejumlah persediaan.

c. Biaya kekurangan persediaan (out of stock costs)

Yaitu biaya-biaya yang timbul sebagai akibat terjadinya persediaan yang lebih kecil dari jumlah yang diperlukan, seperti kerugian atau biaya- biaya tambahan yang diperlukan karena seorang langganan meminta atau memesan suatu barang sedangkan barang atau bahan yang dibutuhkan tidak tersedia.

d. Biaya yang berhubungan dengan kapasitas (capacity associated costs) Yaitu biaya-biaya yang terdiri dari biaya kerja lembur, biaya latihan, biaya pemberhentian kerja dan biaya-biaya pengangguran (idle time costs).

Rangkuti (2002) menjelaskan bahwa persediaan yang diadakan mulai dari bentuk bahan mentah sampai barang jadi, antara lain berguna untuk :

a. Menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang atau bahan- bahan yang dibutuhkan perusahaan.

(10)

b. Menghilangkan resiko dari materi yang dipesan berkualitas tidak baik sehingga perlu dikembalikan.

c. Untuk mengantisipasi bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasaran.

d. Mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi.

e. Mencapai penggunaan mesin yang optimal.

f. Memberikan pelayanan kepada langganan dengan sebaik-baiknya dimana keinginan langganan pada suatu waktu dapat dipenuhi dengan memberikan jaminan tetap tersedianya barang jadi tersebut.

4. Metode Pengendalian Persediaan Bahan Baku

a. Metode EOQ(ECONOMIC ORDER QUANTITY)

Metode ini diperkenalkan pertama kali oleh Ford Harris dari Westinghouse pada 1915. Metode ini merupakan inspirasi bagi para pakar persediaan untuk mengembangkan metode-metode pengendalian persediaan lainnya. Metode ini dikembangkan atas fakta adanya biaya variabel dan biaya tetap dari proses produksi atau pemesanan barang (Baroto, 2000).

Menurut Subagyo (2000) yang dimaksud dengan Economic Order Quantity (EOQ) adalah jumlah pemesanan yang paling ekonomis yaitu jumlah pembelian barang, misal bahan baku atau pembantu, yang dapat meminimumkan jumlah biaya pemeliharaan barang di gudang dan biaya pemesanan setiap tahun.

Informasi yang diperlukan untuk menentukan kebijakan persediaan optimum adalah parameter sebagai berikut :

1) Permintaan 2) Biaya persediaan

3) Tenggang waktu (lead time) (Yamit,2005)

Secara klasik model persediaaan yang dianggap ideal adalah seperti diperlihatkan dalam Gambar 1. dimana Q adalah jumlah pembelian dan ketika pesanan diterima jumlah persediaan sama dengan Q. Dengan tingkat penggunaan tetap, persediaan akan habis dalam waktu tertentu dan ketika

(11)

persediaan hanya tinggal sebanyak kebutuhan selama tenggang waktu pemesanan kembali (reorder point= ROP) harus dilakukan. Pada Gambar 1.

tersebut pemesanan kembali pada titik ROP. Garis vertikal menunjukkan penerimaan pesanan ketika persediaan nol, dengan demikian rata-rata persediaan adalah (Q+0)/2, atau Q/2 (Yamit, 2005).

Gambar 1. Model Persediaan

Handoko (1991) mengemukakan rumus Economic Order Quantity (EOQ) yang biasa digunakan adalah :

(EOQ) = H 2SD

Dimana :

D = penggunaan atau permintaan yang diperkirakan per periode waktu S = biaya pemesanan per pesanan

H = biaya penyimpanan per unit per tahun

Model EOQ diatas memakai asumsi-asumsi sebagai berikut : 1) Hanya satu item barang (produk) yang diperhitungkan.

2) Kebutuhan (permintaan) setiap periode diketahui.

3) Barang yang dipesan diasumsikan dapat segera tersedia.

4) Waktu tunggu (Lead time) bersifat konstan.

(12)

5) Setiap pesanan diterima dalam sekali pengiriman dan langsung dapat digunakan.

6) Tidak ada pesanan ulang (back order) karena kehabisan persediaan.

7) Tidak ada quantity discount (Nasution, 2008).

b. Metode EPQ(ECONOMIC PRODUCTION QUANTITY)

Metode EPQ (Economic Production Quantity), dimana pemakaiannya terjadi pada perusahaan yang pengadaan bahan baku atau komponennya dibuat sendiri oleh perusahaan. Dalam hal ini, tingkat produksi perusahaan untuk membuat bahan baku diasumsikan lebih besar daripada tingkat pemakaiannya. Tujuan dari metode EPQ (Economic Production Quantity) adalah menentukan berapa jumlah bahan baku yang harus diproduksi, sehingga meminimasi biaya persediaan yang terdiri dari biaya produksi dan biaya penyimpanan (Nasution, 2008).

Metode EPQ dibuat dengan menetapkan biaya pemesanan sama dengan biaya pernyimpanan. Sehingga secara matematis jumlah optimal unit per pemesanan dapat diketahui dengan rumus sebagai berikut :

Q*p (EPQ) =

(d/p)]

- [1 H

2DS

Dimana :

Q*p = jumlah optimal unit per pemesanan

D = jumlah kebutuhan bahan dalam satuan (unit) per tahun S = biaya pemesanan untuk setiap kali pesan

H = biaya penyimpanan per unit per tahun

d = tingkat permintaan harian atau tingkat penggunaan p = tingkat produksi tahunan (Heizer, 2001).

(13)

C. Kerangka Teori Pendekatan Masalah

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman sumber daya alamnya, termasuk hasil buah-buahan, sayur-sayuran serta produk pertanian lainnya. Pada era globalisasi ekonomi saat ini mendorong perekonomian Indonesia menjadi semakin komplek dan kompetitif yang berdampak pada pertumbuhan industri-industri dalam skala kecil, menengah, maupun besar. Selain itu persaingan industri memicu berkembangnya ide-ide yang inovatif dan kreatif dalam mengolah hasil pertanian. Salah satu hasil pertanian yang dapat diolah dan menghasilkan nilai tambah adalah waluh.

Waluh dikenal pula dengan nama labu kuning karena daging buahnya berwarna kuning.

Dalam suatu perusahaan, bahan baku merupakan sumber utama dalam produksi. Masalah penentuan besarnya persediaan bahan baku yang efisien merupakan masalah yang sangat penting bagi sebuah perusahaan, karena persediaan mempunya efek yang sangat besar di dalam produktivitas dan keuntungan yang diterima perusahaan. Sebuah perusahaan pastinya mempunyai tujuan yaitu memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dan mengecilkan biaya pengeluaran. Namun, di dalam pengendalian persediaan bahan baku yang tidak tepat seringkali menjadi kendala perusahaan dalam mengecilkan biaya pengeluaran. Produksi geplak waluh dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya harga bahan baku waluh, ketersediaan bahan baku waluh, dan permintaan konsumen terhadap geplak waluh. Semua aspek ini perlu diperhatikan, sehingga dapat memberikan keuntungan pada semua pihak, baik dari produsen maupun konsumen.

Langkah awal penelitian ini adalah mengidentifikasi pengendalian persediaan bahan baku waluh yang diterapkan di industri rumah tangga geplak waluh. Identifikasi yang dilakukan meliputi hal-hal yang terkait dengan penyimpanan bahan baku dan pengadaanya diantaranya pembelian bahan baku, biaya persediaan dan waktu tunggu pemesanan. Selanjutnya dilakukan analisis persediaan bahan baku untuk mengetahui berapa banyak jumah pemakaian, biaya persediaan dan waktu tunggu pemesanan yang

(14)

dilakukan industri rumah tangga geplak waluh. Metode penentuan persediaan yang efisien yaitu dilakukan dengan membandingkan antara hasil perhitungan persediaan kebijakan industri rumah tangga geplak waluh dengan metode Economic Order Quantity (EOQ). Melalui kedua metode tersebut akan dihasilkan analisa, jika hasil perhitungan persediaan bahan baku yang dilakukan oleh persediaan industri rumah tangga geplak waluh lebih kecil dari hasil perhitungan dengan menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ), maka pengendalian persediaan bahan baku waluh di industri rumah tangga geplak waluh sudah efisien. Jika hasil perhitungan persediaan bahan baku yang dilakukan oleh persediaan industri rumah tangga geplak waluh lebih besar dari hasil perhitungan dengan menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ), maka pengendalian persediaan bahan baku waluh di industri rumah tangga geplak waluh belum efisien dan perlu dilakukan analisis masalah. Hasil analisis bisa direkomendasikan metode yang efisien untuk diterapkan di industri rumah tangga geplak waluh. Secara sistematis kerangka berpikir pendekatan masalah yang dilakukan dalam penelitian ini digambarkan secara singkat pada Gambar 2.

(15)

Gambar 2. Kerangka Berpikir Pemikiran Masalah D. Asumsi

1. Kuantitas produksi dan biaya produksi diperhitungkan per bulan selama satu tahun pada periode produksi tahun 2012 sampai dengan 2014.

2. Persediaan waluh (Cuucurbita moschata) dianggap selalu tersedia sehingga dapat diperoleh setiap dibutuhkan, dikarenakan daya tahan waluh yang bisa bertahan selama 10 bulan.

3. Biaya tenaga kerja pada penyimpanan bahan baku dalam gudang sudah termasuk dalam biaya produksi.

E. Pembatasan Masalah

1. Analisis yang dilakukan terbatas pada kuantitas pembelian bahan baku, biaya persediaan bahan baku, jumlah persediaan pengaman (safety stock),

Industri Rumah Tangga Geplak Waluh

Pengendalian Bahan Baku Waluh

Pembelian Bahan Baku

Biaya Persediaan

Safety stock

Analisis Pengendalian Bahan Baku

Kebijakan Industri Rumah Tangga

Geplak Waluh Metode EOQ

Rekomendasi Metode Pengendalian Bahan Baku yang Efisien

Analisis Masalah

Dipengaruhi oleh:

1. Harga bahan baku 2. Ketersediaan bahan baku 3. Permintaan konsumen

Lead time

Reorder Point

(16)

waktu untuk melakukan pemesanan kembali (reorder point) dan frekuensi pembelian bahan baku geplak waluh di industri rumah tangga Karuna yang berada di Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang.

2. Industri rumah tangga geplak waluh yang diteliti dalam penelitian ini adalah industri rumah tangga Karuna yang berada di Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang dan data yang digunakan terbatas selama tiga tahun yaitu tahun 2012 sampai dengan tahun 2014. Produk yang diteliti adalah geplak waluh.

3. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2015.

F. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

1. Industri rumah tangga geplak waluh yang diteliti adalah industri rumah tangga Karuna di Desa Getasan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang

2. Industri rumah tangga Karuna merupakan industri yang mengolah waluh menjadi berbagai olahan waluh diantaranya adalah geplak waluh, emping waluh, stik waluh, pia waluh, wingko waluh, gelek waluh, sirup waluh, keripik waluh, dan egg roll waluh.

3. Geplak waluh merupakan sejenis makanan ringan yang berupa olahan waluh yang diproses melalui proses pengolahan hingga menjadi geplak.

4. Bahan baku adalah bahan utama yang digunakan dalam proses produksi.

Bahan baku yang digunakan adalah waluh.

5. Industri rumah tangga geplak waluh dalam produksinya dipengaruhi oleh harga bahan baku waluh, ketersediaan bahan baku waluh, dan permintaan konsumen terhadap geplak waluh.

6. Persediaan bahan baku (raw material inventory) adalah persedian barang- barang berwujud yang akan digunakan dalam proses produksi.

7. Pengendalian bahan baku waluh dapat dilakukan dengan mengetahui kebutuhan bahan baku waluh, biaya persediaan waluh serta waktu tunggu pemesanan waluh.

8. Pengendalian adalah usaha sistematis perusahaan membandingkan prestasi kerja dengan rencana dan membuat tindakan yang tepat untuk

(17)

mengkoreksi perbedaan yang penting antara prestasi kerja dengan rencana yang telah ditetapkan.

9. Pengendalian persediaan bahan baku merupakan sebagian kebijakan pengendalian untuk menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga meliputi masalah pembelian bahan baku, menyimpan dan memelihara bahan baku, mengatur pengeluaran bahan baku saat dibutuhkan dan juga mempertahankan persediaan dalam jumlah optimal.

10. Economic Order Quantity (EOQ) adalah jumlah pemesanan yang paling ekonomis, yaitu jumlah pembelian barang. Misal, bahan baku atau bahan pembantu yang dapat menimbulkan jumlah pemeliharaan barang digudang dan biaya pemesanan tiap tahun.

11. Pembelian bahan baku merupakan sejumlah unit bahan baku waluh yang dipesan per pemesanan dalam satuan kg.

12. Biaya persediaan bahan baku per tahun adalah biaya yang dikeluarkan dalam memenuhi persediaan bahan baku, yang meliputi biaya variabel (biaya pemesanan dan biaya penyimpanan) dan biaya tetap.

13. Biaya pemesanan adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan pemesanan ke pemasok, yang besarnya biasanya tidak dipengaruhi oleh jumlah pemesanan. Meliputi biaya menunggu permintaan pembelian, penyampaian pesanan pembelian, dan yang berhubungan dengan biaya akuntansi serta biaya penerimaan dan pemeriksaan pemesanan.

14. Biaya penyimpanan merupakan biaya atas sediaan yang terjadi berhubungan dengan penyimpanan sejumlah sediaan tertentu dalam perusahaan. Biaya ini mencakup biaya pemeliharaan sediaan, kerusakan sediaan, serta kerugian karena perubahan harga, biaya keusangan dan biaya penangan persediaan.

15. Waktu pemesanan bahan baku adalah waktu yang tepat yang dibutuhkan oleh perusahaan dalam melakukan pengadaan bahan baku sehingga bahan baku dapat tersedia sesuai dengan kebutuhan.

(18)

16. Waktu tunggu (Lead Time) adalah tenggang waktu yang diperlukan (yang terjadi) antara saat pemesanan bahan baku dengan datangnya bahan baku / tersedianya bahan baku.

17. Persediaan pengaman (Safety Stock) adalah persediaan bahan baku minimum untuk menghindari terjadinya kekurangan bahan baku waluh.

18. Waktu pemesanan kembali (Reorder Point) merupakan saat dimana harus diadakan pemesanan kembali bahan baku waluh .

19. Analisis efisiensi persediaan bahan baku dilakukan dengan membandingkan antara hasil perhitungan pengendalian bahan baku waluh sesuai dengan kebijakan industri rumah tangga Karuna dengan perhitungan melalui metode Economic Order Quantity (EOQ). Apabila hasil perhitungan pengendalian bahan baku waluh sesuai dengan kebijakan industri rumah tangga Karuna lebih kecil dari metode Economic Order Quantity (EOQ) berarti kebijakan pengendalian industri rumah tangga Karuna sudah efisien.Sedangkan jika hasil perhitungan pengendalian bahan baku waluh sesuai dengan kebijakan industri rumah tangga Karuna lebih besar dari metode Economic Order Quantity (EOQ) berarti kebijakan pengendalian industri rumah tangga Karuna belum efisien.

20. Apabila hasil analisis efisiensi persediaan bahan baku waluh belum efisien, maka dilakukan analisis masalah yang menyebabkan belum efisiennya persediaan bahan baku waluh di industri rumah tangga geplak waluh.

21. Apabila sudah diketahui penyebab masalah dalam persediaan bahan baku waluh di industri rumah tangga geplak waluh, kemudian diberikan rekomendasi metode pengendalian bahan baku yang efisien.

Gambar

Gambar 1. Model Persediaan
Gambar 2. Kerangka Berpikir Pemikiran Masalah  D.  Asumsi

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara pengetahuan penderita DM2 mengenai penanganan penyakit diabetes dengan

selalu melakukan kegiatan seperti senam lansia, berkebun, bemain catur berinteraksi dengan orang lain, beribadah dan melakukan hobi/kegemaran yang dapat meningkatkan

Berdasarkan hasil penelitian pada materi termokimia kelas XI SMA Negeri 1 Sukoharjo tahun pelajaran 2015/2016 dapat disimpulkan: (1) tidak ada perbedaan

Reverberation Time: pada keadaan bising apapun, dan diputar lagu apapun(kecuali lagu yang rekamannya sudah diset punya RT yang tinggi, sbg contoh lagu 4 dan 2, di

Performans Produksi yang terdiri atas produksi susu, lama dan periode laktasi serta BCS sapi serah FH di desa Air Duku dan Air Putih Kali Bandung, Selupu

Oleh karena itu, feromon seks berpeluang untuk dikembangkan pada areal yang lebih luas, terutama pada sentra produksi bawang merah dan endemis serangan hama ulat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar biologi siswa kelas VII menggunakan strategi Think Talk Write dan Inquiring Mind Want to Know dengan media

Tujuan penelitian untuk mengetahui perkembangan kecerdasan interpersonal melalui metode proyek pada anak kelompok A TK Pertiwi Krajan II Jatinom Klaten Pada Tahun