• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH SARTIKA HUTAPEA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH SARTIKA HUTAPEA"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH FREE CASH FLOW, STRUKTUR KEPEMILIKAN, DAN LEVERAGE TERHADAP EARNINGS MANAGEMENT PADA

PERUSAHAAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PERIODE 2010-2016

OLEH

SARTIKA HUTAPEA 110502137

PROGRAM STUDI STRATA 1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2018

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

PENGARUH FREE CASH FLOW, STRUKTUR KEPEMILIKAN, DAN LEVERAGE TERHADAP EARNINGS MANAGEMENT PADA

PERUSAHAAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PERIODE 2010-2016

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh free cash flow, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan leverage terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Manajemen laba diukur dengan discretionary accruals menggunakan Modified Jones Model. Populasi pada penelitian ini adalah 142 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2016.

Berdasarkan beberapa kriteria, sampel yang diperoleh sebanyak 18 perusahaan.

Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis regresi berganda data panel dengan menggunakan aplikasi Eviews. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa free cash flow berpengaruh negatif dan signifikan terhadap earnings management. Struktur kepemilikan manajerial dan leverage berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap earnings management. Struktur kepemilikan institusional berpengaruh positif tidak signifikan terhadap earnings management.

Kata kunci: Manajemen Laba, Free Cash Flow, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Leverage.

(7)

ABSTRACT

THE EFFECT OF FREE CASH FLOW, OWNERSHIP STRUCTURE, AND LEVERAGE ON EARNINGS MANAGEMENT OF

MANUFACTURING SECTOR COMPANIES LISTED IN INDONESIAN STOCK EXCHANGE

PERIOD 2010-2016

This research aims to analyze the effect of free cash flow, ownership structure, and leverage on earnings management of manufacturing sector companies listed in Indonesian Stock Exchange. Earnings management is measured by discretionary accruals using the Modified Jones Model. The population in this research are 142 companies listed in Indonesia Stock Exchange in 2010-2016.

Based on a few criteria, the sample is obtained as many as 18 companies. The analytical method used is multiple regression analysis with Eviews program. The result of this research indicate that free cash flow has a negative effect and significantly on earnings management. The sctructure of managerial ownership and leverage have a negative but not significant effect on earnings management.

The structure of institutional ownership has a positif but didn’t have significant effect on earnings management.

Keywords: Earnings Management, Managerial Ownership, Institutional Ownership, and Leverage.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan anugerahNya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dengan judul “Pengaruh Free Cash Flow, Struktur Kepemilikan, dan Leverage terhadap Earnings Management pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2016”.

Peneliti menyadari bahwa selama proses pengerjaan skripsi ini, peneliti telah mendapat dukungan dari berbagai pihak. Skripsi ini dipersembahkan untuk kedua orangtua saya, yakni Ayahanda J.F Hutapea (Alm) dan Ibunda S.Simamora terkasih yang tak pernah berhenti mendoakan dan mengasihi saya.

Peneliti juga menyampaikan terimakasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, M.S, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, SE, M.Si, selaku Ketua Program Studi S1 Manajemen dan Bapak Doli Muhammad Jafar Dalimunthe, SE, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Nisrul Irawati, MBA, selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu dan memberikan saran serta pengajaran hingga skripsi ini dapat diselesaikan.

4. Bapak Drs. Syahyunan, SE, M.Si, selaku Dosen Penguji I dan Ibu Beby Kendida Hasibuan, SE, M.Si, selaku Dosen Panguji II yang turut meluangkan

(9)
(10)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 9

1.3 Tujuan Penelitian ... 10

1.4 Manfaat Penelitian ... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12

2.1 Landasan Teoritis ... 12

2.1.1 Earnings Management ... 12

2.1.2 Perataan Laba (Income Smoothing) ... 20

2.1.3 Teori Keagenan ... 22

2.1.4 Free Cash Flow ... 24

2.1.5 Struktur Kepemilikan ... 26

2.1.6 Leverage ... 30

2.2 Penelitian Terdahulu ... 30

2.3 Kerangka Konseptual ... 39

2.3.1 Pengaruh Free Cash Flow terhadap Earnings Management ... 39

2.3.2 Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Earnings Management ... 40

2.3.3 Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Earnings Management ... 40

2.3.4 Pengaruh Leverage terhadap Earnings Management ... 41

2.4 Hipotesis Penelitian ... 42

BAB III METODE PENELITIAN ... 44

3.1 Jenis Penelitian ... 44

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 44

3.3 Batasan Operasional ... 44

3.4 Definisi Operasional Variabel ... 45

3.4.1 Variabel Terikat (Dependent Variable) ... 45

3.4.2 Variabel Bebas (Independent Variable). ... 47

3.5 Populasi dan Sampel Penelitian ... 49

3.6 Jenis dan Sumber Data ... 51

(11)

3.8 Teknik Analisis Data ... 52

3.8.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 52

3.8.2 Analisis Regresi Data Panel. ... 52

3.9 Pengujian Asumsi Klasik ... 56

3.9.1 Uji Normalitas ... 56

3.9.2 Uji Multikolinearitas ... 57

3.9.3 Uji Autokorelasi ... 57

3.9.4 Uji Heteroskedastisitas ... 58

3.10 Pengujian Hipotesis ... 58

3.10.1 Uji Signifikansi Serempak (Uji-F) ... 58

3.10.2 Uji Signifikansi Parsial (Uji-t) ... 59

3.10.3 Koefisien Determinasi R2 ... 61

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 62

4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 62

4.2 Hasil Penelitian ... 67

4.2.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 67

4.2.2 Penentuan Model Data Panel ... 69

4.2.3 Analisis Regresi Data Panel dengan Model CEM ... 71

4.2.4 Pengujian Asumsi Klasik ... 73

4.2.5 Pengujian Hipotesis ... 75

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian ... 79

4.3.1 Pengaruh Free Cash Flow terhadap EarningsManagement ... 79

4.3.2 Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Earnings Management ... 80

4.3.3 Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Earnings Management ... 81

4.3.4 Pengaruh Leverage terhadap Earnings Management ... 82

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 83

5.1 Kesimpulan ... 83

5.2 Saran ... 84

DAFTAR PUSTAKA ... 85

LAMPIRAN ... 88

(12)

DAFTAR TABEL

No.Tabel Judul Halaman

1.1 Beberapa Perusahaan di Indonesia yang Pernah Melakukan

Tindakan Manajemen Laba ... 3

2.1 Penelitian Terdahulu ... 37

3.1 Definisi Operasional Variabel ... 49

3.2 Mekanisme Pemilihan Sampel ... 50

3.3 Sampel Penelitian ... 50

4.1 Statistik Deskriptif ... 68

4.2 Hasil Uji Chow ... 70

4.3 Hasil Uji Lagrange Multiplier ... 71

4.4 Hasil Regresi Common Effect Model (CEM) ... 71

4.5 Hasil Uji Multikolinearitas ... 75

4.6 Hasil Uji Autokorelasi ... 76

4.7 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 76

4.8 Nilai-nilai Statistik Uji-F, Uji-t, dan Koefisien Determinasi ... 77

(13)

DAFTAR GAMBAR

No.Gambar Judul Halaman

2.1 Kerangka Konseptual ... 42 4.1 Hasil Uji Normalitas ... 74

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Halaman

1 Daftar Sampel Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek

Indonesia ... 88

2 Discretionary Accruals Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2016 ... 92

3 Free Cash Flow Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2016 ... 93

4 Kepemilikan Manajerial Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2016 ... 94

5 Kepemilikan Institusional Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2016 ... 95

6 Leverage Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2016 ... 96

7 Statistik Deskriptif dari DAC, FCF, MAN, INST, dan LEV Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI ... 97

8 Hasil Uji Chow ... 97

9 Hasil Uji Lagrange Multiplier ... 97

10 Hasil Uji Normalitas ... 98

11 Hasil Uji Multikolinearitas ... 98

12 Hasil Uji Autokorelasi... 98

13 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 98

14 Hasil Regresi Common Effect Model (CEM) ... 99

15 Nilai-nilai Statistik Uji-F, Uji-t, dan Koefisien Determinasi ... 99

(15)

1.1 Latar Belakang Masalah

Berdasarkan keputusan BAPEPAM Nomor:Kep-36/PM/2003, setiap perusahaan yang telah go public dan telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) diwajibkan menyajikan laporan keuangan yang telah diaudit. Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi.

Laporan keuangan menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka oleh pihak yang berkepentingan seperti pihak internal dan pihak eksternal. Pihak internal yaitu manajemen perusahaan itu sendiri. Pihak eksternal perusahaan yaitu pemegang saham, kreditor, pemerintah, pemasok, konsumen, dan masyarakat umum lainnya.

Dalam mencapai tujuan tersebut, laporan keuangan menyajikan informasi entitas mengenai aset, liabilitas, ekuitas, pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian, kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dan kapasitasnya sebagai pemilik, dan arus kas.

Kinerja manajemen perusahaan tercermin pada laba yang terkandung dalam laporan laba rugi. Menurut Yadiati (2007) pelaporan keuangan harus menyediakan informasi tentang kinerja keuangan untuk mengukur earning power dengan seluruh komponennya, karena para pengguna sangat berkepentingan atas prospek penerimaan kas bersih dari perusahaan. Informasi tersebut khususnya

(16)

informasi mengenai laba perusahaan sering menjadi target rekayasa tindakan oportunis manajemen untuk memaksimumkan kepuasannya yang dilakukan dengan cara memilih kebijakan akuntansi tertentu, sehingga laba perusahaan dapat diatur, dinaikkan maupun diturunkan sesuai dengan keinginannya. Perilaku manajemen untuk mengatur laba sesuai dengan keinginannya ini dikenal dengan istilah manajemen laba (earnings management).

Menurut Scott (2003), earnings management is the choice by a manajer of accounting policies so as to achieve some specific objective. (Manajemen laba merupakan suatu tindakan manajer yang memilih kebijakan akuntansi untuk mencapai beberapa tujuan yang spesifik dan kebijakan akuntansi yang dimaksud adalah penggunaan akrual dalam menyusun laporan keuangan).

Pihak manajemen seharusnya melakukan tindakan yang selaras dengan kepentingan prinsipal. Akan tetapi pada kenyataannya, manajemen dapat melakukan tindakan-tindakan yang hanya menguntungkan kepentingannya sendiri. Agen bisa melakukan tindakan yang tidak menguntungkan prinsipal secara keseluruhan yang dalam jangka panjang bisa merugikan kepentingan dari perusahaan tersebut (Pujiningsih, 2011).

Tabel 1.1

Beberapa Perusahaan di Indonesia yang Pernah Melakukan Tindakan Manajemen Laba

No. Nama Perusahaan Tindakan Manajemen Laba

1. PT Ades Alfindo Inkonsistensi pencatatan atas penjualan periode 2001-2014

2. PT Perusahaan Gas Negara

Pelanggaran prinsip pengungkapan laporan keuangan dengan menunda publikasi informasi atas penurunan volume gas pada September 2006

3. PT Kimia Farma Kesalahan penyajian dalam laporan keuangan per 31 Desember 2001

Sumber: Sulistiawan (2011)

(17)

Tindakan earnings management telah memunculkan beberapa skandal pelaporan keuangan yang secara luas telah diketahui terjadi di Indonesia, seperti PT. Ades Alfindo, PT Perusahaan Gas Negara, dan PT. Kimia Farma Tbk yang terdeteksi melakukan manajemen laba.

Tindakan manajemen laba pada PT Ades Alfindo terungkap pada tahun 2004 ketika manajemen baru PT Ades menemukan inkonsistensi pencatatan yang dilakukan oleh manajemen lama atas penjualan periode 2001-2004. Sebelumnya, pada Juni 2004 terjadi perubahan manajemen di PT Ades dengan masuknya Waters Partners Bottling Co. (perusahaan patungan The Coca-Cola Company dan Nestle SA) dengan kepemilikan saham sebesar 65,70%. Hasil penelusuran menunjukkan, untuk setiap kuartal angka penjualan lebih tinggi antara 0,6-0,9 juta galon dibandingkan angka produksi. Sementara tidak mungkin orang menjual lebih banyak dari yang diproduksi. Manajemen Ades yang baru melaporkan angka penjualan riil pada 2001 diperkirakan lebih rendah Rp 13 miliar dari yang dilaporkan. Pada 2002, perbedaannya mencapai Rp 45 miliar, sedangkan untuk 2003 sebesar Rp 55 miliar. Untuk enam bulan pertama 2004, selisihnya kira kira Rp 2 miliar. Kesalahan tersebut luput dari pengamatan publik, karena PT Ades tidak memasukkan volume penjualan dalam laporan keuangan yang telah diaudit.

Akibatnya, laporan keuangan yang disajikan PT Ades pada 2001-2004 lebih tinggi dari yang seharusnya (overstated).

PT Perusahaan Gas Negara melakukan praktik manajemen laba terkait dengan pelanggaran prinsip pengungkapan laporan keuangan dengan menunda publikasi informasi material atas penurunan volume gas yang sudah diketahui

(18)

oleh manajemen sejak 12 September 2006, tetapi baru dipublikasikan pada Maret 2007 sehingga infomasi tersebut menyesatkan para investor. Hal ini terungkap karena terjadi penurunan yang signifikan (sekitar 23,38%) atas harga saham PGAS (PT Perusahaan Gas Negara) dari harga Rp 9.650 (closing price 11 Januari 2006) menjadi Rp 7.400 (closing price 12 Januari 2007) per lembar saham.

Penurunan tersebut erat kaitannya dengan press release yang dilakukan PGAS pada 11 Januari 2007 terkait penurunan volume gas yang seharusnya dipublikasikan sejak September 2006.

PT Kimia Farma merupakan salah satu produsen obat-obatan milik pemerintah di Indonesia. Berdasarkan siaran pers Bapepam pada 27 Desember 2002, ditemukan kesalahan pencatatan penjualan untuk laporan keuangan periode 31 Desember 2001 dan Kementrian BUMN melihat adanya indikasi penggelembungan keuntungan (overstated) dalam laporan keuangan pada semester pertama 2002. Laba bersih yang disajikan tahun 2001 overstate sebesar Rp 32,7 miliar dimana 2,3% berasal dari penjualan, dan sebesar 24,7% berasal dari kesalahan: (1) overstate penjualan pada unit industri bahan baku sebesar Rp 2,7 miliar; (2) kesalahan berupa overstated persediaan barang sebesar Rp 23,9 miliar pada unit logistik sentral; (3) overstated sebesar Rp 8,1 miliar pada persediaan barang dagangan dan overstated penjualan sebesar Rp 10,7 miliar yang keduanya terjadi pada unit Pedagang Besar Farmasi (Siaran pers Badan Pengawas Modal tanggal 27 Desember 2002).

Beberapa skandal pelaporan keuangan tersebut menunjukkan bahwa praktik earnings management (manajemen laba) bukanlah suatu hal yang baru

(19)

dalam pelaporan keuangan (financial reporting). Perusahaan berlomba-lomba menunjukkan kualitas dan kinerja yang baik, tidak peduli apakah cara yang digunakan tersebut diperbolehkan atau tidak oleh karena pengaruh pasar dan tingginya tingkat persaingan. Praktik manajemen laba pun meningkat setiap tahunnya sampai dengan sekarang.

Peluang untuk melakukan manajemen laba lebih tinggi di antara perusahaan yang memiliki free cash flow atau aliran kas bebas (Bukit & Iskandar, 2009). Jensen (dalam Rosnidi, 2009) berargumentasi bahwa manajer memiliki insentif untuk memperbesar perusahaan melebihi ukuran optimalnya sehingga mereka tetap melakukan investasi meskipun memberikan nilai perusahaan yang negatif. Investasi seperti ini dinamakan investasi berlebih (over investment) dengan menggunakan dana yang dihasilkan dari sumber internal perusahaan yaitu aliran kas bebas (free cash flow). Padahal seharusnya dana tersebut dibayarkan kepada pemegang saham dalam bentuk peningkatan dividen atau pembelian kembali saham perusahaan.

Sementara Agustia (2013) menyatakan bahwa perusahaan dengan free cash flow yang tinggi cenderung tidak akan melakukan manajemen laba karena sebagian besar investor merupakan transient investor (pemilik sementara perusahaan) yang lebih berfokus pada bagaimana kemampuan perusahaan dalam membagikan dividen sehingga dengan arus kas bebas yang tinggi tanpa adanya manajemen laba, perusahaan sudah bisa meningkatkan harga sahamnya karena investor melihat bahwa perusahaan tersebut mempunyai kelebihan kas untuk pembagian dividen.

(20)

Free cash flow sering digunakan oleh para analis untuk menentukan nilai suatu perusahaan karena perusahaan dengan aliran kas bebas berlebih menunjukkan perusahaan memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan perusahaan lainnya karena perusahaan tersebut dapat memperoleh keuntungan atas berbagai kesempatan yang mungkin tidak dapat diperoleh perusahaan lain.

Perusahaan dengan free cash flow (arus kas bebas) yang tinggi juga diduga lebih mampu bertahan dalam situasi yang buruk, sedangkan aliran kas bebas negatif menunjukkan sumber dana internal tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan investasi perusahaan sehingga memerlukan tambahan dana eksternal baik dalam bentuk hutang maupun penerbitan saham baru.

Free cash flow menunjukkan gambaran bagi investor bahwa dividen yang dibagikan oleh perusahaan tidak sekadar strategi untuk menyiasati pasar dengan maksud meningkatkan nilai perusahaan. Jika free cash flow dalam perusahaan tidak digunakan atau diinvestasikan untuk memaksimalkan atau menyeimbangkan pendapatan pemegang saham dalam bentuk investasi yang menguntungkan maka akan meningkatkan masalah keagenan. Investor akan merasa bahwa manajemen tidak mampu memberikan keuntungan kepada pemilik perusahaan. Sebagai dampaknya, perusahaan akan dapat berada pada posisi pertumbuhan yang rendah.

Tidak adanya sistem pengawasan yang efektif atau tindakan disipliner oleh pemegang saham independen, maka manajer dapat mengaburkan informasi atas tindakan mereka dengan meminimalkan pengungkapan atau melakukan manipulasi akuntansi.

Kepemilikan manajerial adalah kepemilikan saham oleh pihak manajemen

(21)

perusahaan. Kepemilikan saham manajerial dapat mensejajarkan antara kepentingan pemegang saham dengan manajer, karena manajer ikut merasakan langsung manfaat dari keputusan yang diambil dan manajer yang menanggung risiko apabila ada kerugian yang timbul sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah. Hal tersebut menyatakan bahwa semakin besar proporsi kepemilikan manajemen pada perusahaan akan dapat menyatukan kepentingan antara manajer dengan pemegang saham, sehingga kinerja perusahaan semakin bagus menurut Jensen dalam Anggraeni (2013). Putri N. D (2013) menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Ini berarti bahwa semakin tinggi kepemilikan manajerial perusahaan, maka manajemen laba akan semakin rendah. Sementara itu Asward dan Lina (2015) menemukan hasil yang berbeda dimana kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

Kepemilikan oleh institusional dinilai dapat mengurangi praktek manajemen laba karena mampu untuk mengendalikan pihak manajemen melalui proses monitoring secara efektif. Tindakan pengawasan perusahaan oleh pihak investor institusional yang dianggap sophisticated investor yang tidak mudah dibodohi oleh manajer dapat mendorong manajer untuk lebih memfokuskan perhatiannya terhadap kinerja perusahaan, sehingga akan mengurangi perilaku oportunistic atau mementingkan diri sendiri untuk melakukan praktik manajemen laba (Putri N. D., 2013). Widyastuti (2009) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

Ini berarti semakin tinggi kepemilikan institusional maka manajer lebih berhati-

(22)

hati dalam melakukan manejemen laba. Hal ini ditolak oleh Asward dan Lina (2015) yang menyatakan sebaliknya bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

Salah satu penyebab manajemen laba adalah leverage. Dengan adanya leverage, hal itu dapat menunjukkan seberapa besar aset perusahaan yang dibiayai oleh hutang. Leverage diukur dengan cara perbandingan total hutang dengan total aset. Financial leverage merupakan penggunaan sumber dana yang memiliki beban tetap dengan harapan akan memberikan tambahan keuntungan yang lebih besar dari pada beban tetap, sehingga keuntungan pemegang saham bertambah.

Perusahaan yang memiliki hutang besar memiliki kecenderuangan melanggar perjanjian hutang jika dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki hutang yang lebih kecil. Perusahaan yang melanggar perjanjian hutang lebih potensial menghadapi berbagai kemungkinan seperti, percepatan jatuh tempo, peningkatan tingkat bunga, dan negosiasi ulang masa hutang. Perusahaan yang memiliki rasio leverage yang tinggi, berarti proporsi hutangnya lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi aktivanya akan cenderung melakukan praktik manajemen laba yaitu dengan menaikkan atau menurunkan laba periode masa datang ke periode saat ini (Agustia, 2013). Hasil analisis dari penelitian Agustia (2013) menunjukkan bahwa rasio leverage berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Sementara penelitian dari Selahudin et al. (2014) yang melakukan penelitian di dua negara yaitu Malaysia dan Thailand menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan antara leverage dan earnings management di Malaysia. Namun, terdapat pengaruh positif dan signifikan antara leverage dan earnings management di Thailand.

(23)

Dari penjelasan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian mengenai

“Pengaruh Free Cash Flow, Struktur Kepemilikan, dan Leverage Terhadap Earnings Management pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2016”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah free cash flow, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan leverage secara serempak berpengaruh signifikan terhadap earnings management pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2016?

2. Apakah free cash flow berpengaruh signifikan terhadap earnings management pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2016?

3. Apakah kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap earnings management pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2016?

4. Apakah kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap earnings management pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2016?

5. Apakah leverage berpengaruh signifikan terhadap earnings management pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2016?

(24)

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis:

1. Pengaruh free cash flow, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan leverage secara serempak terhadap earnings management pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2016.

2. Pengaruh free cash flow terhadap earnings management pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2016.

3. Pengaruh kepemilikan manajerial terhadap earnings management pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2016.

4. Pengaruh kepemilikan institusional terhadap earnings management pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2016.

5. Pengaruh leverage terhadap earnings management pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2016.

1.4 Manfaat Penelitian

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:

1. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur dan referensi yang dapat dijadikan acuan dalam penelitian lain maupun pada perusahaan. Hasil dari penelitian ini diharapkan memberikan gambaran dan pemahaman lebih mendalam tentang pengaruh free cash flow, kepemilikan manajerial,

(25)

kepemilikan institusional, dan leverage terhadap earnings management khususnya perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

2. Penelitian ini dapat menjadi sumber informasi maupun acuan dalam mendeteksi earnings management (manajemen laba) yang terjadi dalam perusahaan. Bagi para investor, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber informasi dan acuan dalam menentukan kebijakan investasi.

3. Memberikan referensi bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk meneliti tentang pengaruh free cash flow, struktur kepemilikan, dan leverage terhadap earnings management.

(26)

2.1 Landasan Teoritis 2.1.1 Earnings Management

Beberapa definisi manajemen laba menurut beberapa ahli dalam Sulistyanto (2008), sebagai berikut:

1. Davidson, Stickney, dan Weil (1987)

Manajemen laba merupakan proses untuk mengambil langkah tertentu yang disengaja dalam batas-batas prinsip akuntansi berterima umum untuk menghasilkan tingkat yang diinginkan dari laba yang dilaporkan.

2. Schipper (1989)

Manajemen laba adalah campur tangan dalam proses penyusunan pelaporan keuangan eksternal, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan pribadi (pihak yang tidak setuju mengatakan ini hanyalah upaya untuk memfasilitasi operasi yang tidak memihak dari sebuah proses).

3. National Association of Fraud Examiners (1993)

Manajemen laba adalah kesalahan yang disengaja dalam membuat laporan keuangan mengenai fakta material atau data akuntansi sehingga menyesatkan ketika semua informasi itu dipakai untuk membuat pertimbangan yang akhirnya akan menyebabkan orang yang membacanya akan mengganti atau mengubah pendapat atau keputusannya.

4. Fisher dan Rosenzweig (1995)

Manajemen laba adalah tindakan-tindakan manajer untuk menaikkan atau

(27)

menurunkan laba periode berjalan dari sebuah perusahaan yang dikelolanya tanpa menyebabkan kenaikan atau penurunan keuntungan ekonomi perusahaan jangka panjang.

5. Lewitt (1998)

Manajemen laba adalah fleksibilitas akuntansi untuk meyetarafkan diri dengan inovasi bisnis. Penyalahgunaan laba ketika publik memanfaatkan hasilnya. Penipuan mengaburkan volatilitas keuangan sesungguhnya. Itu semua untuk menutupi konsekuensi dari keputusan-keputusan manajer.

6. Healy dan Wahlen (1999)

Manajemen laba muncul ketika manajer menggunakan keputusan tertentu dalam pelaporan keuangan dan mengubah transaksi untuk mengubah laporan keuangan untuk menyesatkan stakeholder yang ingin mengetahui kinerja ekonomi yang diperoleh perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil kontrak yang menggunakan angka-angka akuntansi yang dilaporkan.

Walaupun menggunakan terminologi yang berbeda, definisi-definisi itu mempunyai benang merah yang menghubungkan satu definisi dengan definisi lainnya, yaitu menyepakati bahwa manajemen laba merupakan aktivitas manajerial untuk mempengaruhi dan mengintervensi laporan keuangan.

Sulistyanto (2008) menjelaskan bahwa apa yang dilakukan manajer tersebut bisa diterima atau akan tetap diakui, sejauh yang dilakukan manajer masih dalam ruang lingkup prinsip akuntansi berterima umum. Dengan kata lain, apabila manajemen laba yang dilakukan oleh seorang manajer merupakan permainan memilih metode dan standar akuntansi yang sesuai dengan

(28)

kebutuhannya dan diungkapkan secara jelas dalam laporan keuangan, maka tindakan ini tidak dikategorikan sebagai kecurangan.

Menurut Scott (2003), earnings management is the choice by a manajer of accounting policies so as to achieve some specific objective. (Manajemen laba merupakan suatu tindakan manajer yang memilih kebijakan akuntansi untuk mencapai beberapa tujuan yang spesifik dan kebijakan akuntansi yang dimaksud adalah penggunaan akrual dalam menyusun laporan keuangan). Scott membagi cara pemahaman atas manajemen laba menjadi dua. Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak utang dan political costs. Kedua, dengan memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting (Efficient Earnings Management), dimana manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer dapat mempengaruhi nilai pasar saham perusahaannya melalui manajemen laba, misalnya dengan membuat perataan laba (income smoothing) dan pertumbuhan laba sepanjang waktu.

Manajemen laba merupakan tindakan manajer dalam menentukan laba sedemikian rupa dengan mempermainkan pos-pos pendapatan dan biaya dalam laporan laba-rugi baik melalui pemanfaatan pemilihan alternatif metode maupun melalui operasi (Azlina, 2010). Anggraeni (2013) menyatakan bahwa manajemen laba merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan. Manajemen laba menambah bias dalam laporan keuangan dan dapat

(29)

mengganggu pemakai laporan keuangan yang mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa. Tindakan manajemen laba yang memanipulasi laporan keuangan memiliki maksud dan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraannya secara personal maupun untuk meningkatkan nilai bagi perusahaan.

Isu-isu dalam manajemen laba menurut Belkaoui (2005), antara lain sebagai berikut:

1. Manajemen laba yang bertujuan untuk memenuhi harapan dari analisis keuangan atau manajemen (yang diwakili oleh peramalan laba dari publik).

2. Manajemen laba bertujuan untuk mempengaruhi kinerja harga jangka pendek dengan berbagai cara.

3. Manajemen laba berakhir dan dapat bertahan karena informasi yang asimetris suatu kondisi yang disebabkan oleh informasi yang diketahui manajemen namun tidak ingin untuk mereka ungkapkan.

4. Manajemen laba terjadi dalam konteks suatu kumpulan pelaporan yang fleksibel dan seperangkat kontrak tertentu yang menentukan pembagian aturan diantara pemegang kepentingan.

5. Strategi perusahaan bagi manajemen laba mengikuti satu atau lebih dari tiga pendekatan (memilih dari pilihan-pilihan yang ada dalam GAAP/ Generally Accepted Accounting Principle, bergantung pada perkiraan subjektif dan pilihan aplikasi yang ada dalam opsi. Dan menggunakan akuisisi serta disposisi aktiva dan waktu untuk melaporkannya).

6. Manajemen laba merupakan suatu hasil usaha untuk melewati ambang batas.

(30)

7. Manajemen laba dapat berasal dari pemenuhan perjanjian dari kontrak kompensasi implisit.

8. Manajemen laba tumbuh dari ancaman dua bentuk aturan yakni aturan industri spesifik dan aturan antitrust.

9. Laba negatif secara tiba-tiba umumnya lebih merugikan daripada revisi ramalan negatif.

Menurut Watts dan Zimmerman dalam Sulistyanto (2008) ada beberapa faktor yang mendorong manajer melakukan praktik manajemen laba, diantaranya yaitu:

1. Perencanaan Bonus

Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan bertindak secara oportunistik untuk melakukan earnings management dengan memaksimalkan laba saat ini.

2. Motif Politik

Earnings management digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan pada perusahan publik. Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan karena adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturan yang lebih ketat.

3. Motif Pajak

Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi earnings management yang paling nyata. Berbagai metode akuntansi digunakan dengan tujuan penghematan pajak pendapatan.

(31)

4. Pergantian CEO

CEO yang mendekati masa pensiun akan cenderung menaikkan pendapatan untuk meningkatkan bonus mereka dan jika kinerja perusahaan buruk akan memaksimalkan pendapatan agar tidak diberhentikan.

5. IPO (Initial Public Offering)

Informasi mengenai laba menjadi sinyal atas nilai perusahaan pada perusahaan yang akan melakukan IPO. Hal ini berakibat bahwa manajer perusahaan yang akan go public melakukan earnings management menaikkan harga saham perusahaan.

6. Pentingnya Memberi Informasi Kepada Investor

Informasi mengenai kinerja perusahaan harus disampaikan kepada investor sehingga pelaporan laba perlu disajikan agar investor tetap menilai bahwa perusahaan tersebut dalam kinerja yang baik.

Secara umum, terdapat 5 (lima) teknik manajemen laba menurut Wolk, et al dalam Sulistiawan (2011), yaitu:

1. Mengubah Metode Akuntansi

Metode akuntansi merupakan pilihan-pilihan yang disediakan oleh standar akuntansi dalam menilai aset perusahaan. Pemilihan atas metode akuntansi tertentu akan memberikan outcome yang berbeda, baik bagi manajemen, pemilik, maupun pemerintah yang berdampak menimbulkan konflik kepentingan di antara ketiganya. Namun, pemilihan metode akuntansi tertentu yang dilakukan oleh manajer atau pengelola perusahaan merupakan salah satu bentuk maksimalisasi nilai perusahaan menurut perspektifnya masing-masing,

(32)

sejalan pemilihan tersebut sejalan dengan rambu-rambu yang sudah diatur.

2. Membuat Estimasi Akuntansi

Teknik ini dilakukan dengan tujuan memengaruhi laba akuntansi melalui kebijakan dalam membuat estimasi akuntansi. Cara untuk mendapatkan tambahan atau pengurangan laba adalah mengubah estimasi akuntansi.

Perubahan estimasi akuntansi ini disesuaikan dengan kebutuhan penyajian laporan keuangan. Jika mengharapkan kenaikan laba, perusahaan dapat mengubah estimasi aset tetap atau aset tidak berwujudnya menjadi lebih panjang. Hasilnya, laba menjadi lebih tinggi karena biaya penyusutan menurun.

3. Mengubah Periode Pengakuan Pendapatan dan Biaya

Teknik ini dilakukan untuk mempercepat atau menunda pengakuan pendapatan dan biaya dengan cara menggeser biaya dan pendapatan ke periode berikutnya agar memperoleh laba maksimum. Teknik ini biasanya dilakukan pada perusahaan yang melakukan IPO. Manajer akan mempercepat pengakuan pendapatan periode mendatang dengan melaporkannya ke periode tahun berjalan agar kinerja perusahaan pada tahun berjalan menjelang IPO terlihat baik, atau menunjukkan laba maksimal.

4. Mereklasifikasi Akun

Teknik ini dilakukan dengan memindahkan posisi akun dari satu tempat ke tempat lainnya. Jadi, sebenarnya laporan keuangan yang disajikan sudah sama, tetapi karena kelihaian penyajinya, laporan keuangan ini bisa memberikan dampak interpretasi yang berbeda bagi penggunanya. Implikasi dari teknik ini berdampak pada terjadinya kesalahan interpretasi laporan

(33)

keuangan oleh pengguna, terutama yang tidak memiliki pengetahuan akuntansi. Meskipun laba rugi memberikan informasi yang lengkap, sampai saat ini banyak pengguna laporan keuangan cenderung hanya membaca bagian laba bersihnya.

5. Mereklasifikasi Akrual Diskresioner dan Akrual Nondisresioner

Akrual diskresioner adalah akrual yang dapat berubah sesuai dengan kebijakan manajemen, seperti pertimbangan tentang umur ekonomis aset tetap atau pertimbangan pemilihan metode depresiasi. Akrual nondiskresioner adalah akrual yang dapat berubah bukan karena kebijakan atau pertimbangan pihak manajemen, seperti perubahan piutang yang besar karena adanya tambahan penjualan yang signifikan.

Pola manajemen laba menurut Scott (2003) dapat dilakukan dengan cara:

1. Taking a Bath

Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru dengan melaporkan kerugian dalam jumlah besar. Tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan laba di masa datang. Manajemen laba dilakukan untuk mentransfer kemakmuran dirinya dengan kebijakan akuntansi, bukan melalui keputusan operasi.

2. Income Minimization

Dilakukan pada saat perusahaan mengalami tingkat profitabilitas yang tinggi sehingga jika laba pada periode mendatang diperkirakan turun drastis dapat diatasi dengan mengambil laba periode sebelumnya.

3. Income Maximization

(34)

Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan atas income maximization bertujuan untuk memperoleh laba yang lebih besar. Laporan yang menujukkan laba yang besar akan menyebabkan meningkatnya bonus/

kompensasi yang diperoleh oleh manajer. Pola seperti ini mungkin akan dilakukan oleh perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian hutang.

4. Income Smoothing

Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil.

2.1.2 Perataan Laba (Income Smoothing)

Perhatian pengguna laporan keuangan yang seringkali hanya berfokus pada informasi laba, mendorong manajemen melakukan disfunctional behavior berupa praktik perataan laba. Tindakan perataan laba merupakan tindakan yang umum/rasional. Beidleman dalam Belkaoui (Belkaoui, 2005) mendefinisikan perataan laba sebagai pengurangan atau fluktuasi yang disengaja terhadap beberapa tingkatan laba yang saat ini dianggap normal oleh perusahaan. Dengan pengertian ini, perataan mencerminkan suatu usaha dari manajemen perusahaan untuk menurunkan variasi yang abnormal dalam laba sejauh yang diizinkan oleh prinsip-prinsip akuntansi dan manajemen yang baik.

Alasan manajemen melakukan perataan laba, antara lain:

1. Rekayasa untuk mengurangi laba dan menaikkan biaya pada periode berjalan dapat mengurangi hutang pajak.

2. Tindakan perataan laba dapat meningkatkan kepercayaan investor, karena hal

(35)

tersebut mendukung kestabilan penghasilan dan kebijakan deviden sesuai dengan keinginan.

3. Tindakan perataan laba dapat mempererat hubungan antara manajer dan karyawan, karena dapat menghindari permintaan kenaikan upah/gaji oleh karyawan/pekerja.

4. Tindakan perataan laba memiliki dampak psikologis pada perekonomian, dimana kemajuan dan kemunduran dapat dibandingkan dan gelombang optimisme dan pesimisme dapat ditekan.

Menurut Ronen dan Sadan dalam Jatiningrum (2000), perataan laba dapat dilakukan dalam 3 (tiga) cara, yaitu:

1. Manajemen dapat menetapkan waktu terjadinya peristiwa tertentu, untuk mengurangi perbedaan laba yang dilaporkan. Jadi alternatifnya, manajemen juga dapat menentukan waktu pengakuan beberapa peristiwa.

2. Manajemen dapat mengalokasikan pendapatan dan beban tertentu pada periode akuntansi yang berbeda.

3. Manajemen dengan kebijaksanaannya mengelompokkan item laba tertentu ke dalam kategori yang berbeda (misalnya, antara item/pos biasa dan item/pos luar biasa)

Perataan laba merupakan perilaku yang rasional didasarkan pada asumsi dalam positive accounting theory bahwa agent (dalam hal ini manajemen) adalah individu yang rasional yang memperhatikan kepentingan dirinya. Konsisten dengan asumsi tersebut, maka motivasi yang mempengaruhi pilihan manajer atas kebijakan tertentu adalah memaksimumkan kepentingannya. Perataan laba dapat

(36)

diakibatkan oleh :

1. Natural smoothing (perataan yang alami): yang menyatakan bahwa proses laba secara inheren menghasilkan suatu aliran laba yang rata. Contohnya, public utilities.

2. Intentional smoothing (perataan yang disengaja): biasanya dihubungkan dengan tindakan manajemen. Dapat dikatakan bahwa intentional smoothing berkenaan dengan situasi dimana rangkaian yang dilaporkan dipengaruhi oleh tindakan manajemen. Intentional smoothing dapat diklasifkikasikan menjadi:

a. Real smoothing: merupakan usaha yang diambil manajemen dalam merespon perubahan kondisi ekonomi. Dapat juga berarti suatu transaksi yang sesungguhnya untuk dilakukan atau tidak dilakukan berdasarkan pengaruh perataannya pada laba. Perataan ini menyangkut pemilihan waktu kejadian transaksi riil untuk mencapai sasaran perataan.

b. Artificial smoothing: merupakan suatu usaha yang disengaja untuk mengurangi variabilitas aliran laba secara artificial. Perataan laba ini menerapkan prosedur akuntansi untuk memindahkan biaya dan/atau pendapatan dari satu periode ke periode yang lain. Dengan kata lain, artificial smoothing dicapai dengan menggunakan kebebasan memilih prosedur akuntansi yang memperbolehkan pengubahan cost dan/atau revenue dari satu periode akuntansi ke periode yang lainnya.

2.1.3 Teori Keagenan

Timbulnya praktek manajemen laba dapat dijelaskan dengan teori keagenan. Konsep teori agensi adalah hubungan atau kontrak yang terjadi antara

(37)

penyedia modal (prinsipal) dan para agen (Sugiarto, 2009). Hubungan keagenan timbul pada saat seorang atau lebih individu yang disebut sebagai principal menggaji individu lain yang disebut sebagai agent untuk memberikan jasa kepadanya, kemudian mendelegasikan otoritas pengambilan keputusan kepada agent tersebut. Di dalam konteks manajemen keuangan, hubungan keagenan tersebut terjadi terutama antara: (1) pemegang saham dengan manajer, (2) manajer dengan debitur yang memberikan hutang, dan (3) antara manajer dan para pemegang saham (Lubis & Syah Putra, 2012).

Untuk meyakinkan bahwa manajer bekerja sungguh-sungguh untuk kepentingan pemegang saham, maka pemegang saham harus mengeluarkan biaya yang disebut agency cost yang meliputi pengeluaran untuk memonitor kegiatan manajer, pengeluaran untuk membuat suatu struktur organisasi yang meminimalkan tindakan-tindakan manajer yang tidak diinginkan, serta opportunity cost yang timbul akibat kondisi dimana manajer tidak dapat segera mengambil keputusan tanpa persetujuan pemegang saham. Pengawasan secara total terhadap kegiatan para manajer akan memecahkan masalah keagenan, tetapi dibutuhkan biaya yang mahal dan kurang efisien. Solusi yang lebih baik adalah memberi suatu paket kompensasi berupa gaji tetap ditambah bonus kepemilikan perusahaan (saham perusahaan) jika kinerja mereka bagus (Syahyunan, 2012).

Para manajer tersebut dalam menjalankan operasional tentu akan lebih banyak mengetahui informasi internal dalam prospek perusahaan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang dibandingkan pemilik. Ketidakseimbangan penguasaan informasi akan memicu munculnya suatu kondisi yang disebut

(38)

sebagai asimetri informasi. Asimetri informasi dapat menjadi pemicu bagi para manajer untuk melakukan tindakan manajemen laba dalam rangka menyesatkan pemegang saham terkait kinerja ekonomi perusahaan (Asward & Lina, 2015).

2.1.4 Free Cash Flow

Jensen (1976) mendefinisikan free cash flow sebagai aliran kas yang merupakan sisa dari pendanaan seluruh proyek yang menghasilkan net present value (NPV) positif yang didiskontokan pada tingkat biaya modal yang relevan.

Brigham dan Houston (2010) mengartikan bahwa free cash flow adalah arus kas yang benar-benar tersedia untuk dibayarkan kepada investor (pemegang saham dan pemilik utang) setelah perusahaan melakukan investasi dalam aset tetap, produk baru, dan modal kerja yang dibutuhkan untuk mempertahankan operasi yang sedang berjalan. Nilai dari operasi perusahaan akan bergantung pada seluruh arus kas bebas yang diharapkan pada masa mendatang. Hal ini berarti bahwa semakin besar aliran dana bebas atau free cash flow suatu perusahaan maka menunjukkan bahwa keuangan perusahaan tersebut semakin bagus, karena perusahaan memiliki dana untuk pertumbuhan perusahaan, pembayaran utang, dan pembagian dividen.

Wild et al. (2010) menyatakan bahwa free cash flow (arus kas bebas) positif mencerminkan jumlah yang tersedia bagi aktivitas bisnis setelah penyisihan untuk pendanaan dan investasi yang diperlukan untuk mempertahankan kapasitas produksi pada tingkat sekarang. Pertumbuhan dan fleksibilitas keuangan bergantung pada ketersediaan arus kas bebas. Bagi pihak manajemen, seberapa besar free cash flow juga mencerminkan kemampuan

(39)

perusahaan kedepannya (Rosnidi, 2009)

Menurut Lubis dan Syah Putra (2012) ada 5 (lima) manfaat dari free cash flow, yaitu:

1. Untuk membayar bunga kepada debt holder, perusahaan harus mengingat bahwa net cost dari perusahaan adalah after taxes interest expenses.

2. Membayar kembali debt holder’s untuk pokok pinjaman.

3. Membayar dividen kepada para pemegang saham

4. Membeli kembali saham yang dimiliki oleh pemegang saham

5. Membeli saham dari perusahaan lain yang merupakan non operating assets Berbagai kondisi perusahaan dapat mempengaruhi nilai free cash flow (aliran kas bebas), misalnya bila perusahaan memiliki free cash flow yang tinggi dengan tingkat pertumbuhan yang rendah maka free cash flow ini seharusnya didistribusikan kepada pemegang saham. Tetapi, bila perusahaan memiliki free cash flow yang tinggi dengan tingkat pertumbuhan tinggi maka free cash flow ini dapat ditahan sementara dan bisa dimanfaatkan untuk investasi pada periode mendatang (Rosnidi, 2009).

Free cash flow inilah yang sering menjadi pemicu timbulnya perbedaan kepentingan antara pemegang saham dan manajer. Ketika free cash flow tersedia, manajer disinyalir akan menghamburkan free cash flow tersebut sehingga terjadi inefisiensi dalam perusahaan atau akan menginvestasikan free cash flow dengan return yang kecil (Bukit & Iskandar, 2009).

Perusahaan dengan free cash flow (arus kas bebas) yang tinggi akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk melakukan manajemen laba, karena

(40)

perusahaan tersebut terindikasi menghadapi masalah keagenan yang lebih besar (Agustia, 2013). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perusahaan dengan surplus arus kas bebas yang tinggi juga cenderung melakukan praktik manajemen laba dengan meningkatkan laba yang dilaporkan untuk menutupi tindakan pihak manajer yang tidak optimal dalam memanfaatkan kekayaan perusahaan.

2.1.5 Struktur Kepemilikan

Struktur kepemilikan merupakan bentuk komitmen dari para pemegang saham untuk mendelegasikan pengendalian dengan tingkat tertentu kepada para manajer. Istilah struktur kepemilikan digunakan untuk menunjukkan bahwa variabel-variabel yang penting didalam struktur modal tidak hanya ditentukan oleh jumlah utang dan equity tetapi juga oleh persentase kepemilikan oleh manajer dan institusional. Pada perusahaan modern, kepemilikan perusahaan biasanya sangat menyebar (Pujiningsih, 2011).

Terjadinya manajemen laba selain karena tindakan manajemen yang oportunistik, juga terjadi karena kurangnya pengawasan dan kontrol pada perusahaan. Struktur kepemilikan (kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional) dipercaya mampu mempengaruhi jalannya perusahaan yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan yaitu maksimalisasi nilai perusahaan (Putri N. D., 2013).

2.1.5.1 Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial adalah kepemilikan saham oleh pihak manajemen perusahaan. Jensen dan Meckling (1976) menemukan bukti bahwa kepemilikan

(41)

manajerial berhasil menjadi mekanisme untuk mengurangi masalah keagenan dari manajer dengan menyelaraskan kepentingan-kepentingan manajer dengan pemegang saham. Penelitian ini menemukan bahwa kepentingan manajer dengan pemegang saham eksternal dapat disatukan jika kepemilikan saham oleh manajer diperbesar sehingga manajer tidak akan melakukan manipulasi laba hanya untuk kepentingannya.

Menurut Downes dan Godman (dalam Novelma, 2014), kepemilikan manajerial (insider ownership) adalah para pemegang saham yang juga berarti dalam hal ini sebagai pemilik dalam perusahaan dari pihak manajemen yang sama secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan dalam suatu perusahaan yang bersangkutan. Sesuai dengan teori keagenan, konflik antara manajer dan pemegang saham timbul karena adanya pemisahan atas kepemilikan dan kontrol, pihak insider atau manajemen cenderung menginginkan pembagian dividen kecil, karena mereka menginginkan kelebihan aliran kas untuk membiayai investasi perusahaan, namun pihak insider cenderung memanfaatkan kelebihan arus kas tersebut untuk memperkaya diri sendiri dan melakukan kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan utama perusahaan tanpa memikirkan kesejahteraan pemegang saham, dan cenderung merugikan pemegang saham.

Berdasarkan berbagai penelitian keterlibatan manajer pada kepemilikan saham efektif untuk meningkatkan kinerja manajer. Dengan strategi ini manajer berhati-hati mengambil keputusan. Posisi manajer sangat rentan karena modal, selain itu manajer juga berorientasi pada minimalisasi risiko sehingga dalam prakteknya apabila mendapat kesempatan cenderung melakukan kegiatan yang

(42)

menguntungkan kepentingan pribadi. Dengan adanya peluang yang merugikan perusahaan perlu dilibatkan dalam kepemilikan saham yang dikenal sebagai kepemilikan manajerial (Dewi, 2011).

Manajemen laba sangat ditentukan oleh motivasi manajer perusahaan.

Motivasi yang berbeda akan menghasilkan besaran manajemen laba yang berbeda, seperti antara manajer yang juga sekaligus sebagai pemegang saham dan manajer yang tidak sebagai pemegang saham. Dua hal tersebut akan mempengaruhi manajemen laba, sebab kepemilikan seorang manajer akan ikut menentukan kebijakan dan pengambilan keputusan terhadap metode akuntansi yang diterapkan pada perusahaan yang mereka kelola. Dengan kata lain, presentase tertentu terhadap kepemilikan saham oleh pihak manajemen, cenderung mempengaruhi tindakan manajemen laba (Anggraeni, 2013).

2.1.5.2 Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham oleh pihak institusi lain yaitu kepemilikan oleh perusahaan atau lembaga lain. Kepemilikan saham oleh pihak-pihak yang berbentuk institusi seperti perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi, dan kepemilikan institusi lain. Kepemilikan institusional merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengurangi konflik keagenan. Kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk mengendalikan pihak manajemen melalui proses monitoring secara efektif sehingga dapat mengurangi manajemen laba. Pengaruh kepemilikan institusional sebagai agen pengawas ditekankan melalui investasi mereka yang cukup besar dalam pasar modal. Persentase saham tertentu yang dimiliki oleh institusi dapat mempengaruhi

(43)

proses penyusunan laporan keuangan yang tidak menutup kemungkinan terdapat akrualisasi sesuai kepentingan pihak manajemen (Boediono, 2005).

Rachmawati dan Triatmoko (2007) menyatakan bahwa dalam hubungannya dengan fungsi monitor, investor institusional diyakini memiliki kemampuan untuk memonitor tindakan manajemen lebih baik dibandingkan investor individual. Ada dua perbedaan pendapat mengenai investor institusional.

Pendapat pertama didasarkan pada pandangan bahwa investor institusional adalah pemilik sementara (transfer owner) sehingga hanya terfokus pada laba sekarang (current earnings). Perubahan pada laba sekarang dapat mempengaruhi keputusan investor institusional. Jika perubahan ini tidak dirasakan menguntungkan oleh investor, maka investor dapat melikuidasi sahamnya. Investor institusional biasanya memiliki saham dengan jumlah besar, sehingga jika mereka melikuidasi sahamnya akan mempengaruhi nilai saham secara keseluruhan. Untuk menghindari tindakan likuidasi dari investor, manajer akan melakukan earnings management. Pendapat kedua memandang investor institusional sebagai investor yang berpengalaman (sophisticated). Menurut pendapat ini, investor lebih terfokus pada laba masa datang (future earnings) yang lebih besar relatif dari laba sekarang. Investor institusional menghabiskan lebih banyak waktu untuk melakukan analisis investasi dan mereka memiliki akses atas informasi yang terlalu mahal perolehannya bagi investor lain. Investor institusional akan melakukan monitoring secara efektif dan tidak akan mudah diperdaya dengan tindakan manipulasi yang dilakukan manajer.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

beberapa hibrida sejalan dengan tingginya salah satu komponen hasil yang dimiliki hibrida yaitu besarnya diameter dan panjang tongkol' Penelitian. sebelumnya menunjukkan

Tujuan penelitian ini menguji dan menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi regional, pengangguran, dan tingkat kemiskinan baik secara parsial maupun simultan terhadap

IDENTIFIKASI POLA RUGAE PALATINA UNTUK KLASIFIKASI JENIS KELAMIN MANUSIA DENGAN CITRA DIGITAL MENGGUNAKAN METODE GABOR WAVELET.. DAN

Untuk mencapai kinerja yang lebih tinggi, manajer harus dievaluasi dengan menggunakan sistem pengukuran kinerja multipel yang memiliki tingkat pencapaian baik sulit (goal

Mengetahui seberapa besar penelitian tindakan kelas untuk mengatasi permasalah kecemasan berkomunikasi yang dialami oleh siswa dengan menggunakan layanan konseling

Through the use of project data management (using SharePoint 2010 features and tools such as reporting tools, data relevance, security, auditing, traceability, and centralization of

Cirebon, Kota Cirebon,Kab.. Brebes, Kota Banjar Dan