• Tidak ada hasil yang ditemukan

RINTIHAN ANGIN PADA LAUT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RINTIHAN ANGIN PADA LAUT"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

RINTIHAN ANGIN PADA LAUT

Deru angin menyapa lembut gadis cilik di sela kayu-kayu ulin. Kakinya yang mungil bermain-main seraya duduk santai menikmati senja di kampung nan kecil ini. Namanya Rumi.

Tidak ada yang terlalu istimewa tentangnya. Setidaknya bagimu yang baru sampai di pesisir Kalimantan Timur ini. Dia memang terlihat seperti gadis cilik sebayanya. Suka bermain air bersama teman-temannya sepulang sekolah di pinggir pantai, dihukum guru karena sepatu yang beda sebelah, sampai merangkai aksesoris dari tali rafia dan kulit kerang. Cukup normal bukan?

Tapi sebenarnya, ada satu hal unik yang membuatnya berbeda dari anak-anak berumur 8 tahun pada umumnya. Gaya bahasanya.

Ya. Ia sendiri menyebutnya teka teki Rumi. Buku menjadi “Kertas tumpuk”, rumah menjadi “Segitiga kotak”, sampai presiden menjadi “Orang merah putih”. Kosakata unik ini sudah muncul sejak ia kelas 2 SD. Hampir satu kampung tak paham maksudnya. Apalagi bapak, mak, dan abangnya. Rumi bahkan pernah menangis karena bekal di hari ulang tahunnya hanya nasi dan sambal. Padahal maksudnya “Nasi merah” adalah nasi goreng.

Lama kelamaan, gaya bahasanya yang eksentrik tidak membuatnya kesulitan berkomunikasi.

Keluarganya hafal mati. Teman-teman sekolah dan gurunya pun demikian. Hanya saja ia selalu disandang sebagai “anak aneh” acap kali seseorang mencoba berkomunikasi dengannya. Rumi tidak terlalu peduli. Kalimatnya yang sudah seperti teka teki dadakan itu membuatnya menjadi gadis cilik yang menarik.

Kehadirannya membuat kampung sedikit lebih ceria. Keluarga Rumi tinggal di kampung nelayan dengan penghasilan yang amat rendah. Kuli perbaikan jembatan akses antara kampung dengan kota saja masih lebih tinggi upahnya. Sudah bisa makan nasi dengan lauk ikan dan sambal pun sudah sangat mewah. Miris sekali.

Ia sangat mengerti tentang kondisi ekonomi keluarganya ini. Maka dari itu, Rumi bertekad untuk membantu orang tuanya bekerja selama abangnya pergi merantau. Kadang ia membantu menjahit jaring. Kadang pula ikut menjemur ikan asin beserta ibu-ibu kampung.

Lintang, abangnya, bahkan harus bekerja tiga kali lipat untuk meyakinkan bapak memperbolehkannya kuliah di kota lain. Intensitas belajarnya pun ditingkatkan sampai akhirnya ia bisa mendapat beasiswa. Rumi pun juga ingin seperti abangnya.

“Sudahlah, Nak. Lebih baik selesaikan dulu sekolah dasarmu. Nanti kalau sudah lulus biar bisa langsung mencari suami. Hidupmu bakal lebih terjamin.” Itu kata mak tiap kali Rumi menyampaikan niatnya ingin bersekolah tinggi. Tak bisa dipungkiri, gadis sebaya Rumi saja bahkan ada yang sudah bertunangan sejak dini. Ada banyak alasan yang menyertai.

(2)

“Biar ndak susah mencari jodoh. Masak mau menjadi perawan tua seumur hidup?”

“Sudah hakikatnya perempuan itu diam di rumah. Mengurus suami dan anak-anak.

Pendidikan tidak menjamin kehidupan.”

“Kami ini miskin. Kalau ada pengusaha kaya datang kemari dan menawarkan pernikahan pada anak kami, ya tentu akan kami terima. Syukur-syukur hidup kami jadi lebih panjang.”

Dan rentetan respon lainnya yang sebagian besar tidak masuk di akal. Rumi terkadang sedih tat kala menatap wajah cantik temannya yang disapu riasan apik. Sayang, tak sesenti pun senyum terbentang di sudut bibir Gatri, kakak cantik pengrajin kain tenun, teman masa kecilnya yang baru berusia 13 tahun. Dua tahun berlalu dan kabarnya Gatri bersama suaminya sepakat untuk bercerai. Menguping dari selentingan ibu-ibu yang sedang menjemur ikan asin, suaminya selingkuh dan terikat hutang berjuta-juta rupiah akibat kebiasaannya berjudi dan saung ayam.

Gatri yang sedang hamil anak ketiga sudah tidak sanggup dan ingin pulang ke kampung ini.

“Jangan terlalu didengarkan gosip yang ndak jelas, Rumi. Masih banyak yang langgeng kok hubungannya meski nikah dini. Kayak bapak sama mak,” ujar mak, sembari menjahit kembali robekan di ujung rok seragam Rumi.

“Tapi, Mak... Rumi takut. Rumi ndak mau tukar cincin. Nanti dipukul terus sama laki rumah,” lirih Rumi patah-patah. Kedua bola matanya ikut berkaca-kaca. Ia benar-benar ingin menjadi perempuan yang merdeka di masa depan. Tak terkungkung tradisi yang bagai lingkaran setan bagi gadis-gadis penduduk sini.

Namun mak sudah pada keputusannya. Ditaruhnya alat menjahit dan menyilakan putrinya berbaring dipangkuan. Lembut jemari mengelus helai-helai rambut yang sedikit kecokelatan akibar sinar matahari.

“Rumi tahu? Mak dulu juga ndak mau dijodohkan sama bapak. Bapak bahkan saat itu sudah punya gadis yang disukai. Bungas banar (cantik sekali) pula. Yang membuat kami dari saling tidak suka sampai harmonis sekarang ya, waktu. Kau nanti akan begitu juga, Rum. Biar waktu yang nanti mendekatkanmu dengan suami pilihan bapak dan mak. Kak Gatri seharusnya punya waktu yang lebih banyak, tapi sepertinya memang lebih baik dia mencari yang baru.

Ndak disangka kalau ternyata suaminya begitu. Padahal dulu dia anak yang rajin dan paling bekerja keras dari anak lain.

“Makanya, Rum. Mak sama bapak bakal carikan suami yang benar-benar baik buat kau.

Biar hidupmu ndak sengsara. Lebih cepat lebih baik kan? Biarlah abangmu itu kuliah sampai keluar kota sana. Dia memang keras kepala. Jangan sampai nanti dia jadi bambung (pengangguran), kerjaannya hanya mengemis di pinggir jalan.”

(3)

Wanita paruh baya dengan baju kain lusuhnya menghela napas berat, menggeleng pelan. Rumi hanya diam. Kini ia bingung. Ia tidak mau menikah muda. Tapi di sisi lain, ia merasa sangat durhaka bila tidak menuruti permintaan orang tuanya.

Jemarinya berpindah dari rambut anak gadis satu-satunya. Menangkup pipi sang buah hati dengan mata sayu. Senyumnya terbit, pun pula nasihatnya yang terakhir.

“Kaulah satu-satunya harapan bapak sama mak, Rum. Keluarga kita ndak akan miskin lagi kalau keluarga suamimu itu orang berada. Rumi bisa makan apa saja. Pakai baju cantik- cantik. Segala yang Rumi mau bakal tercukupi. Jadi sekarang, Rumi mau kan dijodohkan sama laki pilihan bapak sama mak?”

Tidak. Sebuah kata yang sudah terkumpul di ujung lidah namun berat diucapkan.

Dipikir-pikir lagi sepertinya kata-kata mak ada benarnya juga. Rumi tak mau hidup sengsara di rumah kumuh dengan penampilan yang kumal selamanya. Tapi prinsip hidup yang ia pegang kuat semenjak Lintang meninggalkan kampung setahun lalu tak bisa ia lepas begitu saja. Begitu pula janji abangnya untuk menjemputnya saat pulang nanti. Ya Tuhan, mengapa ini menjadi sangat membingungkan?

Mak masih dengan tatapan penuh kasih sayang menunggu dengan sabar jawaban putrinya. Ia tahu ini berat. Tapi ini juga untuk masa depan Rumi agar lebih cerah. Tak sudi ia melihat anaknya menjadi perawan tua yang nelangsa hidupnya. Terluntang-lantung mengemis kasih dari orang-orang. Skenario terburuk yang pernah dibayangkan sang wanita kepala lima.

“Semoga kamu cepat mengerti, Nak.”

Hening. Pantai itu hanya menyisakan suara debur ombak dan jangkrik yang sama-sama kesepian. Gadis itu pergi tanpa sepatah kata. Ibunda pun tak memaksanya kembali, memberi tahu dulu kepastian jawaban untuk pertanyaannya tadi. Semilir angin yang bermain-main di sela surai legamnya seakan mengelus hati bimbangnya. Menyuruhnya tenang dalam diam.

Rumi selalu suka perasaan nyaman ini.

Ekor matanya menangkap sesuatu. Putih bersinar di antara pasir lembut. Rumi memungutnya, membersihkannya sedikit sembari meniup sisa-sisa pasir. Kulit kerang yang cantik. Dipejamkannya kedua mata. Kepal tangan lebih erat memegang si kerang. Hatinya sungguh sakit. Pedih membumbung ingin melesakkan air mata. Bibirnya bergetar, satu persatu permohonannya ia utarakan.

“Abang, pulanglah. Jemput Rumi. Rumi ndak mau di kotak laut terus. Rumi mau melihat kotak-kotak tinggi. Rumi mau kenal kawal-kawal (teman-teman) abang. Rumi mau ke kotak belajar sampai pintar. Rumi... Rumi ndak mau tukar cincin...”

“Rumi ndak mau tukar cincin..”

(4)

“Rumi ndak.. mau tukar.. hiks... cincin...”

“Hiks... Ru..hiks..mi ndak.. hiks... mau tukar cincin....”

“RUMI NDAK MAU TUKAR CINCIN!”

Tangisnya pecah. Seruan perih menggema ke seluruh penjuru pantai. Sepersekian detik tadi sang angin ikut berhembus kencang. Seperti ingin menyampaikan isi hati Rumi yang dikubur entah berapa lama. Tetes gerimis membasahi pipi merahnya. Terisak menangisi takdir pahit yang mati-matian ingin ia hindari.

Tapi percuma. Tidak ada yang bersedia mendengarkan rintihannya. Angin dan laut pun hanya bisa diam. Ikut larut dalam lara kelam sang gadis malang. Malam Jumat itu ia habiskan dengan menangis sampai kantung air matanya surut. Bapak yang sedari tadi menunggu di depan rumah segera mendapatinya. Wajahnya bercampur raut cemas dan marah.

“Kau ke mana saja dari tadi? Bapak mencarimu ke mana-mana, Rumi! Sudah larut malam begini tidak baik anak gadis berkeliaran! Kau mau diculik memangnya hah?!” Bentak bapak tak lama setelah menyeret Rumi masuk ke dalam rumah. Emosinya tak pernah sampai membumbung tinggi begini. Ia terlalu sayang pada Rumi hingga pada di titik posesif. Anak dara semata wayangnya itu akan menjadi cahaya masa depan keluarga kecilnya. Rumi harus ia jaga baik-baik. Rumi harus ia rawat baik-baik.

Ingin ia melanjutkan ceramahnya, sebelum melihat kedua matanya yang sembab.

Bapak tersadar, selama Rumi menghilang ia menangis sampai larut malam. Niatnya ia urungkan. Segera tubuh ringkih sang anak ia dekap. Entah berapa banyak kata maaf yang terus ia lontarkan. Ini baru pertama kalinya ia merasa sangat marah sekaligus merasa sangat berdosa.

Rumi kembali meninggalkan bapak tanpa sepatah kata. Terbaring di alas rotan tempatnya biasa tidur bersama Lintang. Rumi sangat lelah. Ia lelah dengan semuanya. Dengan mak. Dengan bapak. Dengan abang. Dengan kampung ini. Ia benar-benar muak. Lantas ia bisa apa? Tidak ada. Gadis muda dengan kata-kata penuh teka teki dan tubuh yang ringkih tak punya kuasa yang besar untuk melawan takdir. Takdir bahwa nanti ia akan dijodohkan dan menjadi seorang istri dari suami yang tak pernah ia kehendaki maupun diinginkan.

Malam ini Rumi bahkan tidak bisa tidur jika saja suara ombak yang lembut tidak mendongengkannya. Ada banyak hal yang Rumi sangat tidak inginkan terjadi. Pun esok hari di pagi yang mendung.

Kedua manik hitam Rumi terbelalak. Buku PR teman-temannya terjatuh, berhamburan di atas jalan ulin. Ibu guru yang terduduk di gerbang sederhana sekolah terisak seraya menggeleng tak percaya. Rumi menghampiri, ingin bertanya apa gerangan telah terjadi.

(5)

“Sekolah, Rum! Sekolah kita ditutup!!! Kamu dan teman-temanmu ndak bisa lagi belajar di sini..” Tak berhenti air mata Bu Lulu─wali kelas Rumi yang terkenal penuh senyum─saat menghadapi kenyataan sekolah yang ia dan guru-guru lain perjuangkan dari dulu akan digusur.

Rumi sungguh tidak percaya. Ini benar-benar di luar dugaannya. Mimpinya untuk menjadi sepintar abang telah kandas. Hari ini sebenarnya persiapan untuk ujian kenaikan kelas.

Rumi membantu Bu Lulu untuk mengumpulkan buku PR teman-teman dan nanti dikumpulkan.

Jika saja kejadian ini tidak terjadi, Rumi pasti sekarang sudah duduk manis di bangkunya mendengarkan penjelasan soal matematika.

“Ngapain kalian masih di sini? Keluar! Sebentar lagi sekolah kumuh ini akan kami gusur! Kalian tidak mau ikut tergusur juga kan?” Teriakan sang lelaki berompi oranye mengagetkan keduanya. Ia sepertinya petugas yang akan ikut menggusur sekolah yang sudah berdiri 20 tahun lamanya.

“Rumi sama Bu Lulu ndak mau pindah! Rumi masih mau belajar di kotak belajar!

Kalian yang pergi dari sini!” Balasnya masih dengan suara yang parau akibat sesenggukan sepanjang malam kemarin. Air matanya ingin lagi melesak. Cobaan macam apa yang orang- orang sebut dengan “Tuhan” itu berikan padanya sampai sebegini parahnya? Kata orang-orang

“Tuhan” itu baik, tapi mengapa kehidupannya jadi sangat sulit dan berat begini? Apa sebenarnya salah Rumi lahir ke dunia ini lewat rahim mak?

Bu Lulu susah payah bangkit, sedikit dibantu Rumi agar kedua kakinya bisa menopang tubuhnya sekali lagi. Wanita muda kelahiran asli kampung itu sudah cukup meratapi kepergian sekolah yang sejak dulu ia rindukan kehadirannya di sini. Setengah mati meminta persetujuan warga, meminjam dana dari pemerintah, sampai mengajak anak-anak yang bersikeras tidak mau disekolahkan. Pria botak plontos itu terus saja memakinya, menyuruhnya meninggalkan sekolah yang akan digusur 15 menit lagi. Rumi menyalak, tetap pada pendiriannya untuk tidak angkat kaki.

“Rumi, sudahlah, Nak. Kita sudah ndak bisa berbuat apa-apa lagi. Ayo kita pergi berkumpul ke balai desa. Pak Kades ingin menyampaikan sesuatu.”

“Tapi Rumi ndak mau, Bu! Rumi masih mau belajar sama kawal-kawal! Rumi masih mau diajar Bu Lulu! Rumi masih─”

“Rumi...” Bu Lulu berjongkok, menyamakan tingginya dengan Rumi. Lagi-lagi air mata membentuk aliran di pipinya yang dipoles riasan sederhana. “Sudah ya, Nak? Ibu juga sudah tidak kawa (sanggup) lagi melihat sekolah ini. Rumi sama kawal-kawal (teman-teman)

(6)

Rumi masih bisa belajar kok. Balai desa sementara kita pakai jadi kotak belajar. Kita pergi saja, ya? Ibu ndak mau ada persoalan lagi karena terlalu lama di sini.”

Rumi membisu. Ia tidak punya alasan lagi untuk protes. Gadis itu juga tidak mau memberatkan beban Bu Lulu lagi. Rumi akhirnya mengangguk, secercah senyum terlukis di kedua lesung pipi sang guru. Mereka pun bersegera ke balai desa. Suara alat berat menghancurkan tiang-tiang kayu kembali membuat luka di batin Rumi. Tidak, ia tidak boleh bersedih lagi. Ada hal yang lebih penting lagi yang menantinya di rumah Lamin tempat warga biasa berunding.

“RUMI! JANGAN KE SINI, NAK!”

Seruan bapak menggema hingga ke seluruh penjuru balai desa. Rumi yang belum sampai masuk dengan tergesa berlari ke dalam balai. Panik, takut, gelisah. Peringatan bapak tak diindahkannya. Malah membuatnya berlari semakin kencang hingga sampai ke muka rumah. Sekumpulan pria kampung termasuk bapak terkepung oleh gerombolan polisi. Di sisi lain seorang pria dengan setelan jas rapi terlihat menyalak marah. Merutuki bapak dan rekan- rekan nelayan lainnya. Para pria lain di belakangnya ikut mengompori. Kondisi balai sangat kacau. Pak Kades bahkan sudah tidak sanggup berbuat apa-apa lagi selain terduduk di kursi, sesekali meneguk air putih suguhan istrinya. Warga desa terlihat protes atas penangkapan secara sepihak ini. Rumi benar-benar tidak mengerti dengan situasi sekarang.

“Jangan tangkap bapak! Lepasin bapak Rumi sekarang!” Bermodal nekat, Rumi melompat ke arah para polisi yang satu persatu memborgol para nelayan. Tak ada yang menghiraukan. Lelaki tua bangka dengan perut gendut itu berseru-seru hendak menyingkirkan Rumi. Dua pria tinggi dengan kacamata hitam dengan sigap menyambar kedua tangan Rumi yang hendak menggapai bapak.

“Nak! Cepatlah pulang! Kau jangan tinggal di sini!” Lagi teriak bapak memperingati Rumi yang masih enggan pergi. Putrinya menggeleng kuat-kuat. Bersikukuh menemani bapaknya yang entahlah hendak dibawa ke mana. Dua pria itu semakin kencang menyeret Rumi ke muka balai. Sekuat tenaga Rumi menahan tubuhnya yang jauh lebih lemah dari mereka. Percuma, hampir Rumi terjatuh ke dasar lantai ulin jika Bu Lulu tak menopangnya.

“LEPASIN BAPAK! ORANG-ORANG JAHAT! KALIAN SEMUA JAHAT!

JANGAN BAWA BAPAK RUMI PERGI!” Raungan demi raungan tetap saja hanya sebatas angin kecil di telinga mereka. Ibu-ibu ikut menenangkan Rumi, bilang untuk mengikhlaskan bapak. Rumi tidak terima. Ini tidak adil. Bapak tidak pernah berbuat jahat tapi mengapa ia ditangkap? Atas dasar apa?

(7)

Pak Kades akhirnya bangkit, berjalan pelan ke arah si biadab yang tak tahu malu main menangkap orang. “Bisakah kita diskusikan saja lagi masalah sengketa sekolah dan tambak yang ingin anda bangun di kampung ini? Duduk bersama dan bermusyawarah apa susahnya, Pak Fajri? Kami sudah katakan di kampung ini tidak boleh ada pembangunan apapun!”

Pak Fajri─pemilik perusahaan tambak di dekat kampung─masih dengan sisa urat yang timbul akibat marah besar tadi dengan angkuh berseru. “Untuk apa berdiskusi lagi, hah?!

Nelayan-nelayan sini sudah menganiaya petugas-petugas saya yang ingin membangun tambak!

Kalian yang tidak mau diajak bekerja sama!”

Perdebatan itu berlangsung sengit hingga langit menggores oranye kemerahan. Bapak dan para nelayan akhirnya dibawa ke kantor polisi untuk penyelidikan lebih lanjut. Rumi hanya bisa terkulai lemas di pangkuan mak. Sudah beberapa jam yang lalu dan mak masih tak henti tersedu-sedu. Kemarin sudah cukup membuat hati Rumi sangat kacau. Apalagi hari ini. Belum sempat ia berdoa memohon untuk disudahi, mak menyatakan sepatah kata yang menghancurkan seluruh bagian rapuh Rumi.

“Mak sudah temukan jodohmu, Rum. Dia anak orang kaya. Kalian akan menikah besok.”

“Tapi, Mak! Rumi─”

“Jangan mengelak. Ini demi bapakmu, Rum! Kau tak mau kita tambah sengsara, kan?

Besok mak panggilkan penghulu. Kau jangan macam-macam dan siapkan diri besok.”

Malam penuh sesak kembali mendatangi Rumi. Tikar rotannya basah. Air matanya kembali terkuras habis. Ia sungguh lemah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya menangis meratapi takdir yang dirancangkan para pemain waktu yang tak habis-habis menikam sudut kalbu. Ah, andai ajal menjemputnya lebih cepat, tak kan lagi ia rasakan hidup penuh nelangsa.

Malam itu Rumi bermimpi, Lintang pulang dengan pelukan lebar. Mak dan bapak menyambutnya dengan sukacita. Rumi bercerita panjang lebar tentang sekolahnya hari ini.

Tentang Abi yang usil mencuri pensilnya. Tentang Bu Lulu yang bercerita banyak hal. Tentang ulangan bahasa Indonesianya yang turun lagi. Lintang sesekali tertawa, mengelus sayang pucuk ubun-ubun adiknya.

Indahnya, meski sekadar mimpi belaka. Rumi ingin tinggal di mimpi ini selamanya.

Bunga tidur yang selalu ia impikan tiap malam berbunga dengan cantiknya. Seluruh kampung diselimuti atmosfer kegembiraan. Tidak ada lagi ratap tangis perempuan yang dijodohkan paksa. Sekolah berdiri kokoh, siap membagikan ilmu pada siswa-siswi yang haus akan wawasan dunia. Alunan sape’ dan ansambel musik tradisional menambah keteduhan untuk menutup hari di kampung sederhana ini.

(8)

Jujur, tak pernah Rumi rasakan betapa nikmatnya hidup di kampung tanpa segudang problematik. Ia bisa menjadi apa saja yang ia inginkan. Namun semuanya hilang. Gelap. Suara benda tercebur ke air dingin laut terdengar sayup-sayup. Rumi tersadar. Ia sekarang menyelam jauh di dalam lautan. Tak ada lagi para nelayan yang akan membopongnya kembali ke rumah.

Lautan sunyi ini rumahnya. Gadis dengan sekotak kosong harapan hidup itu tak ada niat ingin kembali ke permukaan. Menyilakan air memenuhi tiap rongga tubuhnya. Dingin. Sesak.

Rasanya ingin meledak. Namun hatinya kini lega.

“Kuda putih sudah pulang. Dua burung kenari bernyanyi riang. Kotak jerami tak lagi dihancurkan. Kupu-lupu tak lagi dijodohkan dengan lebah. Angin tak lagi marah pada lautan.”

Permohonan yang selalu ia sampaikan pada angin dan kulit kerang di pantai sudah terwujud.

Ia akhirnya bisa bernafas lega, tersenyum merelakan semua. Rumi sudah pulang. Rintihannya telah usai.

-SELESAI-

Referensi

Dokumen terkait

Begitu pula dengan hasil observasi siswa menunjukkan adanya peningkatan pada tanggung jawab, kerjasama dan kedisiplinan saat pembelajaran dengan memperoleh nilai

7.2 Kondisi untuk penyimpanan yang aman, termasuk ketidakcocokan Bahan atau campuran tidak cocok. Pertimbangan untuk nasihat lain •

Gambar 3- Kromatogram Gas Eugenol pada Sampel Minyak Atsiri Bunga Cengkeh dari Daerah di Maluku. Gambar 4-Kromatogram Gas Eugenol pada Sampel Minyak Atsiri Bunga

bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 96 ayat (4) dan Pasal 97 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6

terkait dengan pengajaran yang dilakukan oleh mahasiswa. Evaluasi yang diberikan guru pembimbing lebih kepada cara menghadapi siswa. Dalam melaksanakan praktik mengajar

M eteorologi mengenal sistem skala dalam melakukan sebuah analisis. Skala global merupakan skala meteorologi yang paling luas. Skala global dapat mempengaruhi fenomena meteorologi

Bagi siswa melalui penerapan model pembelajaran Advance Organizer dengan Peta Konsep diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas X SMK Tritech

Labuhanbatu Laporan Kegiatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Daops 02 Labuhanbatu Senin, 23 Januari 2017. KEGIATAN HARIAN  Apel Pagi,  Kebersihan Lingkungan 