• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PERSYARATAN GELAR SARJANA HUKUM HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING HALAMAN PENGESAHAN PANITIA PENGUJI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PERSYARATAN GELAR SARJANA HUKUM HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING HALAMAN PENGESAHAN PANITIA PENGUJI"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...i

HALAMAN PERSYARATAN GELAR SARJANA HUKUM ...ii

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ...iii

HALAMAN PENGESAHAN PANITIA PENGUJI ...iv

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ...v

KATA PENGANTAR ...vi

DAFTAR ISI ...ix

ABSTRAK ...xiii

ABSTRACT ...xiv

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang Masalah ...1

1.2 Rumusan Masalah ...4

1.3 Ruang Lingkup Masalah ...5

1.4 Orisinalitas ...5

1.5 Tujuan Penelitian ...6

1.5.1 Tujuan Umum …. ...7

1.5.2 Tujuan Khusus ...7

1.6 Manfaat Penelitian ...7

1.6.1 Manfaat Teoritis ...7

(2)

1.6.2 Manfaat praktis ...8

1.6.3 Manfaat Akademis ...8

1.7 Landasan Teoritis ...8

1.8 Metode Penelitian ...12

1.8.1 Jenis Penelitian ...12

1.8.2 Jenis Pendekatan ...13

1.8.3 Sumer Bahan Hukum ...14

1.8.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum ...15

1.8.5 Teknik Analisis Bahan Hukum ...15

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HAK CIPTA, FILM DAN SISTEM ELEKTRONIK WEBSITE ...17

2.1 Hak Cipta ……….17

2.1.1 Pengertian dan Dasar Hukum Hak Cipta ...17

2.1.2 Subjek dan Objek Hak Cipta ...20

2.1.3 Sistem Perlindungan Hak Cipta ...21

2.1.4 Jangka Waktu Perlindungan Hak Cipta ...24

2.2 Film …..………26

2.2.1 Pengertian Film dan Dasar Hukum Film ...26

2.2.2 Pihak Pencipta Film dalam Karya Film ...27

2.2.3Film Sebagai Karya Cipta ...30

(3)

2.2.4 Hak-Hak Yang Terkandung dalam Karya Film ...31

2.3 Sistem Elektronik Website...32

2.3.1 Pengertian Sistem Elektronik dan Dasar Hukumnya ...32

2.3.2 Lembaga Penyelanggaraan Pendaftaran Website ...32

2.3.3 Proses Pendaftaran Website ...34

2.3.4 Situs Ilegal dalam Jaringan Internet ...35

BAB III PENGATURAN TENTANG KARYA CIPTA FILM YANG DITAYANGKAN SECARA KOMERSIAL MELALUI SISTEM ELEKTRONIK WEBSITE……….…………37

3.1 Pengaturan Karya Cipta Film Yang Ditayangkan Secara Komersial Melalui Sistem Elektronik berdasrkan UUHC dan Peraturan bersama Menteri Hukum dan HAM dan Menteri Kominfo ………..…………..…………..……….……..……37

3.2 Perlindungan Karya Cipta Film yang ditayangkan Secara Komersial ……….43

BAB IV UPAYA PENYELESAIAN DAN SANKSI HUKUM BAGI PIHAK YANG MENGGUNAKAN KARYA FILM SECARA KOMERSIAL TENPA IJIN DARI PENCIPTA ………48

4.1 Pelanggaran Karya Cipta Film Melalui Sistem Elektronik yang ditayangkan Secara Komersial Tanpa Seijin Pencipta ...48

4.2 Upaya Penyelesaian dan Sanksi Bagi Pihak yang Menayangkan Karya Film Secara Komersial Tanpa Seijin Pencipta ...52

BAB V PENUTUP...55

5.1 Kesimpulan ...55

(4)

5.2 Saran ……….55 DAFTAR PUSTAKA

(5)

ABSTRAK

Film merupakan salah satu karya cipta yang memperoleh perlindungan hukum sebagaimana yang diatur dalam Pasal 40 huruf m Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Dalam perkembangannya karya cipta film sering kali diunggah kedalam sistem elektronik website secara komersial tanpa seijin Pencipta. Permasalahan yang diangkat yakni mengenai pengaturan karya cipta film yang ditayangkan secara komersial melalui sistem elektronik website, serta mengenai sanksi hukum bagi pihak yang menggunakan karya cipta film secara komersial melalui sistem elektronik website.

Penelitian hukum yang digunakan adalah penelitian hukum normatif, penelitian hukum normatif adalah penelitian yang mengkaji studi dokumen, yakni menggunakan berbagai data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder atau bahan hukum tersier.

Hasil dari penelitian ini adalah pengaturan tentang penggunakan karya cipta film yang digunakan secara komersial dalam sistem elektronik website diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dan Peraturan Bersama Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia dan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2015, Nomor 26 Tahun 2015 tentang Pelaksanaan Penutupan Konten dan/atau Hak Akses Pengguna Pelanggaran Hak Cipta dan/atau Hak Terkait dalam Sistem Elektronik. Serta sanksi yang diterima bagi pihak yang menayangkan karya film secara komersial tanpa seijin pencipta melalui sistem elektronik website dapat berupa penutupan terhadap sistem elektronik website sebagaimana diatur dalam Pasal 13 Peraturan Bersama Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia dan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2015, Nomor 26 Tahun 2015 tentang Pelaksanaan Penutupan Konten dan/atau Hak Akses Pengguna Pelanggaran Hak Cipta dan/atau Hak Terkait dalam Sistem Elektronik.

Kata kunci: Film, Sistem Elektronik Website, Penggunaan Secara Komersial

(6)

ABSTRACT

Film is one that obtain legal protection as provided for in Article 40 letter m of Law Number 28 year 2014 on Copyright. In the development of the film copyright works often uploaded into the electronic system website used commercially without the permission of the creator. The problems are regarding the administration of the copyrighted of films whitch used commercially through the electronic system website, as well as the sanctions for those who use copyrighted works in commercial films through the electronic system website.

The type of this research is a normative legal research, legal research is a study evaluating the normative document study, which uses a variety of secondary data consists of primary legal materials, secondary law or tertiary legal materials.

Results from this research are, the regulation of the film which used commercially in the electronic system website regulated in Law Number 28 year 2014 on Copyrights and Joint Regulation of the Minister of Justice and Human Rights of the Republic of Indonesia and the Minister of Communication and Information Indonesia Number 14 year 2015, Number 26 year 2015 on the Implementation of Closure of the Content and/or User access Rights infringement and/or Related Rights in Electronic Systems. And the sanctions for those who used film commercially without the permission of the creator through an electronic system website is closure of the electronic system website as provided in the Article 13 of Joint Regulation of the Minister of Justice and Human Rights of the Republic of Indonesia and the Minister of Communication and Information Indonesia Number 14 year 2015, Number 26 year 2015 on the Implementation of Closure of the Content and/or User access Rights infringement and/or Related Rights in Electronic Systems.

Keywords: Film, Electronic System Website, Used Commercially

(7)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Di era globalisasi ini kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari arus komunikasi dan informasi telah menjelma menjadi suatu kekuatan tersendiri dalam persaingan global yang semakin kompetitif. Kehadiran internet sebagai buah dari kemajuan teknologi menyebabkan terjadinya percepatan globalisasi dan sarana untuk mempermudah penyebaran informasi dan komunikasi ke seluruh dunia.

Internet yang disebut pula dengan cyberspace sesungguhnya dapat diartikan sebagai sebuah ruang, di mana entitas elektronit (netters) berinteraksi.

Dengan kata lain, pelaku-pelaku dunia digital yang ada di berbagai sudut belahan dunia membutuhkan apa yang disebut sebagai ruang elektronik untuk melakukan aktivitasnya. Penggunaan internet sebagai media informasi multimedia membuat 1 beragam karya yang berbentuk digital dapat secara terus-menerus digandakan dan disebarluaskan ke jutaan orang dalam jangka waktu singkat dengan mudahnya.

Tidak heran jika internet kemudian dipandang sebagai lautan informasi yang memiliki banyak muatan hak kekayaan intelektual.

Hak kekayaan intelektual melindungi pemakaian ide dan informasi yang mempunyai nilai komersial. Namun, ada batasan-batasan tertentu di mana hasil

Yusran Isnaini, 2009, Hak Cipta dan Tantangannya di Era Cyber Space, Ghalia

1

Indonesia, Bogor, h. 1.

(8)

kreasi dan kekayaan intelektual tidak digunakan secara sembarangan, antara lain tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, kesusilaan, dan ketertiban umum.2

Secara umum, hak atas kekayaan intelektual mencakup antara lain hak cipta, merek, peten, desain Industri, desain tata letak sirkut terpadu, indikasi geografis, dan traditional knowledge. Berdasarkan Perpes Nomor 44 Tahun 2015 tentang Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, hak atas kekayaan intelektual kini disebut Kekayaan Intelektuan yang disingkat menjadi KI.

Pengaturan megenai Hak Cipta diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 20014 tentang Hak Cipta (UUHC).

Pengertian mengenai hak cipta dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1) UUHC, yaitu :

“Hak Cipta adalah hak ekslusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuknyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

Diberikannya hak eksklusif ini didasarkan pada adanya kemampuan pencipta untuk menghasilkan suatu karya yang bersifaat khas dan menunjukkan keaslian kreativitas sebagai individu. Bentuk khas yang dimaksudkan adalah perwujudan ide dan pikiran pencipta dalam bentuk karya materi yang dapat dilihat, didengar, diraba, dan dibaca oleh orang lain. Dengan demikian, berarti

Ibid.

2

(9)

perlindungan hak cipta tidak diberikan terhadap bentuk ide-ide atau pikiran orang semata, melainkan sesuatu karya yang sudah terwujud nyata menjadi suatu karya seperti misalnya, lagu, tarian, novel, film dan lain sebagainya. Salah satu karya cipta yang memperoleh perlindungan adalah film, diatur dalam Pasal 40 huruf m.

Film umumnya ditayangkan di gedung-gedung bioskop, namun dengan berkebangnya sistem elektronik dan mudahnya akes internet, film kini dapat diunggah dan ditonton secara cuma-cuma dalam sistem elektronik.

Pengunggahan film-film dalam sistem elektronik ada yang memperoleh ijin dari pencipta film, ada pula yang dilakukan secara ilegal tanpa adanya ijin dari pencipta film.

Layaknya pedang bermata dua, karakteristik dan kemampuan internet memiliki sisi positif maupun negatif. Disatu sisi sebagai media informasi, 3 komunikasi, dan media untuk berbisnis dengan biaya yang murah, di sisi lain internet juga dapat menjadi sarang terjadinya tindak kriminal yaitu pelanggaran mengenai hak cipta.4

Di informasikan bahwa beberapa produser film melapor kepada Menteri Hukum dan HAM untuk melakukan pemblokiran terhadap situs-situs penyedia jasa nonton film gratis yang mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi para

Ahmad M Ramli, 2010, Cyber Law dan Haki dalam Sistem Hukum Indonesia, Reflika

3

Aditama, Bandung, h. 1.

Budi Agus Riswandi, 2009, Hak Cipta di Internet Aspek Hukum dan Permasalahannya

4

di Indonesia, FH.UII Pers, Yogyakarta, h.199.

(10)

pencipta maupun pemegang hak cipta atas film yang diumumkan secara illegal melalui internet.5

Penggunaan sistem elektronik ini berpotensi sebagai tempat pelanggaran karya cipta. Sehubungan dengan hal tersebut, ini menjadi penting untuk diteliti bagaimana pengaturan mengenai perlindungan karya cipta dalam sistem elektronik, karna dalam UUHC ini tampak adanya norma yang bertentangan, dimana dalam Pasal 55 UUHC disebutkan bahwa “Setiap orang yang mengetahui pelanggaran hak cipta/hak terkait melalui sistem elektronik untuk Penggunaan secara komersial dapat melaporkan kepada Menteri”. Sedangkan dalam Pasal 120 UUHC disebutkan bahwa “Tindak Pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini merupakan delik aduan”. Oleh sebab itu penulis bermaksud untuk membahas penelitian yang berjudul

“PELANGGARAN KARYA CIPTA FILM YANG DIGUNAKAN SECARA KOMERSIAL MELALUI SISTEM ELEKTRONIK WEBSITE”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat dikemukakan rumusan masalah antara lain :

1. Bagaimana pengaturan tentang penggunaan karya cipta film yang ditayangkan secara komersial melalui sistem elektronik website ?

Nadi Tirta Pradesha, 2015, “22 Situs Diduga Pembajak film diblokir kemenkominfo”,

5

http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20150819083659-220-73041/22-situs-diduga-pembajak- film-diblokir-kemenkominfo, Diakses pada tanggal 10 Novermber 2016 Pukul 20.00 Wita

(11)

2. Bagaimana sanksi hukum bagi pihak yang menggunakan karya film secara komersil tanpa ijin dari pencipta ?

1.3 Ruang Lingkup Masalah

Untuk lebih mendapat uraian yang terarah dan tidak menyimpang dari

permasalahan, kiranya perlu diadakan pembatasan pembahasan terhadap permasalahan tersebut. Hal ini dimaksud untuk mencegah agar materi atau isi uraiannya tidak menyimpang dari pokok permasalahan sehingga pembahasan dapat terarah dan diuraikan secara sistematis.

Dalam rumusan masalah pertama pembahasannya dibatasi pada pengaturan tentang penggunaan karya cipta film yang ditayangkan secara komersial melalui sistem elektronik website.

Dalam rumusan masalah yang kedua pembahasannya dibatasi pada saksi hukum bagi pihak yang menggunakan karya film secara komersial tanpa ijin dari pencipta.

1.4 Orisinalitas

Dalam rangka menghindari plagiat dalam penulisan ini, maka dicantumkan beberapa karya ilmiah terdahulu yang pembahasannya berkaitan dengan penelitian ini.

Tabel 1.1

Daftar Penelitian Sejenis

No Judul Skripsi Penulis Rumusan Masalah

(12)

1.5 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian dalam skripsi ini dapat dibagi benjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus :

1 P e r l i n d u n g a n Hukum Hak Cipta d i I n t e r n e t terhadap Konten Blog atau Website

I a n ( m a h a s i s w a f a k u l t a s h u k u m universitas Atma Jaya Yogyakarta) Tahun 2012

1. Bagaimana bentuk perlindungan Hak Cipta terhadap Blog atau website?

2. Bagaimana pemilik dan pemegang Hak Cipta dalam jasa penulisan konten?

2 P e r l i n d u n g a n Hukum Pencipta L a g u t e r h a d a p Webstite Penyedia

Jasa Download L a g u G r a t i s D a l a m M e d i a Internet

L i n d a A g u s t i a n a (mahasiswa fakultas hukum Universitas Hasanuddin Makassar) Tahun 2012

1. B a g a i m a n a perlindungan hukum bagi pencipta ?

2. B a g a i m a n a pertanggungjawaban pihak penyedia jasa download lagu gratis

terhadap pelanggaran Hak Cipta melalui media internet ?

(13)

1.5.1 Tujuan Umum

1. Untuk perkembangan ilmu pengetahuan umum khususnya dibidang ilmu hukum.

2. Untuk melatih diri dalam usaha menyatakan pikiran ilmiah secara tertulis.

3. Untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang penelitian.

4. Untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum universitas Udayana.

1.5.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui pengaturan tentang penggunaan karya cipta film yang ditayangkan secara komersial melalui sistem elektronik website.

2. Untuk mengetahui saksi hukum bagi pihak yang menggunakan karya film secara komersial tanpa ijin dari pencipta.

1.6 Manfaat Penelitian

1.6.1 Manfaat Teoritis

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu hukum, khususnya dalam kaitannya dengan pelanggaran karya cipta film yang ditayangkan secara komersial melalui sistem elektronik website

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya dalam mengembangkan keilmuan di bidang pelanggaran karya

(14)

cipta film yang ditayangkan secara komersial melalui sistem elektronik website.

1.6.2 Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi masyarakat untuk

tidak lagi melakukan tindakan pelanggaran terhadap Hak Cipta dalam jaringan internet.

1.6.3 Manfaat Akademis

Untuk memenuhi persyaratan dalam mencapai derajat Strata Satu (S-1) program studi ilmu hukum pada Fakultas Hukum Universitas Udayana.

1.7 Landasan Teoritis

Dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 Perubahan ke-4 disebutkan bahwa

“Negara Indonesia adalah negara hukum. Ketentuan pasal tersebut merupakan landasan konstitusional bahwa Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum, hukum ditempatkan sebagai satu-satunya aturan main dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (supremacy of law) untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Hukum adalah peraturan hidup yang bersiat memaksa dan mempunyai sanksi yang tegas. Menurut Mochtar Kusumaatmaja, hukum 6 adalah keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah yang mengatur hubungan manusia dalam masyarakat. Jadi pada hakekatnya, yang diatur oleh hukum 7

Yulies Tiena Masriani, 2008, Pengantar Hukum Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, h. 5.

6

Umar Said Sugiarto, 2013, Pengantar Hukum Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, h. 8.

7

(15)

adalah perilaku manusia. Sehingga sasaran hukum adalah mengatur perilaku manusia.

Prilaku manusia berkembang sesuai dengan peruahan jaman dan untuk memenuhi kebutuhan hidup di era globalisasi yang kompetitif ini. Misalnya kebutuhan manusia akan hiburan. Manusia cenderung melakukan cara yang mudah dan ekonomis untuk memenuhi kebutuhannya tersebut, contohnya dengan cara dengarkan lagu secara gratis dalam youtube, bahkan dapat menonton film secara gratis di dalam sistem elektronik website melalui internet, yang dahulu film-film tayang di gedung bioskop atau harus membeli DVD terlebih dahulu.

Penggunaan internet yang memiliki banyak muatan hak kekayaan intelektual ini dapat memicu terjadinya pelanggaran terhadap karya cipta. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut perlu adanya suatu peraturan perundang- undangan untuk mengatur prilaku manusia guna terwujudnya Indonesia sebagai negara yang berlaskan atas hukum.

Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Hak Cipta. Yang mana undang-undang ini perupakan perubahan dari Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Undang-Undang ini merupakan hasil perubahan dari Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997, sedangkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 merupakan hasil perubahan dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1982 tentang Hak Cipta. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1982 menggantikan Undang-Undang Hak Cipta Tahun 1921,

(16)

yaitu undang-undang hak cipta peninggalan kolonial Belanda yang pada masa penjajahan Jepang masih tetap berlaku.8

Hak cipta merupakan hak ekslusif yang diberikan pada pencipta atau penerima hak. Di dalam hak cipta terdapat dua macam hak, yakni; hak moral (moral rights) dan hak ekonomi (economic rights). Hak moral adalah hak yang melekat pada diri pencipta, diantaranya; hak untuk dicantumkan namanya dalam ciptaannya dan hak untuk tidak melakukan perubahan atas ciptaannya tanpa seizin pencipta. Hak ekonomi adalah hak unutuk memperoleh manfaat ekonomi. Hak ini dapat berupa hak untuk memperbanyak dan untuk mengumumkan. Biasanya dalam pemanfaan hak ekonomi ada nilai ekonomi (economic value) yang diperoleh olre pihak yang mengumumkan dan memperbanyak.9

Hak cipta memiliki prinsip-prinsip pengaturan sebagai berikut ini.10

1. Yang dilindungi hak cipta adalah ide yang telah berwujud. Artinya, perlindungan hukum hak cipta diberikan apabila karya cipta telah melalui proses konkretitasi dan asli-menunjukkan identitas penciptanya.

2. Hak cipta timbul dengan sendirinya (otomatis). Artinya hak cipta diberi perlindungan sejak kali pertama dipublikasikan.

3. Ciptaan tidak perlu didaftarkan untuk memperoleh hak cipta.’

Sudayat, 2010, Hak Kekayaan Intelektual, Oase Media, Bandung, h. 41.

8

Budi Agus Riswandi, op.cit., h. 75.

9

Sudayat, op.cit., h. 45

10

(17)

4. Hak cipta sebagai suatu ciptaan merupakan hak yang harus diakui hukum yang harus dipisahkan dan harus dibedakan dari pengusaan fisik.

5. Hak cipta bukanlah hak mutlak (absolut), melainkan hak eksklusif.

Artinya hanya pencipta yang berhak atas ciptaan, kecuali atas izin penciptanya.

6. Meskipun pendaftaran bukan keharusan, untuk kepentingan pembuktian kalau terjadi sengketa di kemudian hari, hebaiknya hak cipta di daftarkan ke dirjen KI.

Adapun karya cipta yang dilindungi secara tegas diatur dalam Pasal 40 ayat (1) UUHC, meliputi :

a. buku, program komputer, pamflet, perwajahan (lay out) kerya tulis yang diterbitkan dan semua karya tulis lainnya;

b. ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu;

c. alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;

d. lagu atau musik dengan atau tanpa teks;

e. drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantonim;

f. karya seni rupa dalam segala bentuk seperti lukisan, gambar, seni ukiran, kaligrafi, seni pahat, patung, atau kolase;

g. karya seni terapan;

h. karya arsitektur;

i. peta;

j. karya seni batik atau seni motif lain;

k. karya fotografi;

l. potret;

m. karya sinematografi;

n. terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, basis data, adaptasi, aransemen modifikasi dan karya lain dari hasil transformasi;

o. terjemahan, adaptasi, aransemen, transformasi, atau modifikasi ekspresi budaya tradisional;

p. kompilasi ciptaan atau data, baik dalam format yang dapat dibaca dengan Program Komputer maupun media lainnya;

(18)

q. kompilasi ekspresi budaya tradisional selama kompilasi tersebut merupakan karya yang asli;

r. permainan video; dan s. Program Komputer.

Hukum Hak Cipta bertujuan melindungi hak pembuat dalam mendistribusikan, menjual atau membuat turunan dari karya tersebut.

Perlindungan yang didapatkan oleh pembuat (author) adalah perlindungan terhadap penjiplakan (plagiat) oleh orang lain. Hak Cipta sering diasosiasikan sebagai jual beli lisensi. Namun distribusi Hak Cipta tersebut tidak hanya dalam konteks jual beli, sebab bisa saja sang pembuat karya membuat pernyataan bahwa hasil karyanya bebas dipakai dan didistribusikan (tanpa jual beli).11

1.8 Metode Penelitian

Penelitian hukum merupakan segala aktivitas seseorang untuk menjawab permasalahan hukum yang bersifat akademik dan praktisi, baik yang berkenaan dengan asas-asas hukum, sistematika hukum, maupun norma-norma hukum yang hidup dan berkembang dalam masyarakat dengan jalan melakukan analisis yang didasarkan pada metode sistematika dan pemikiran tertentu. Demikian pula 12 halnya dengan penelitian ini dilakukan berdasarkan metode tertentu guna mendapatkan hasil penelitian yang sistematis, metodologis, dan konsisten.

1.8.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian yang mengkaji studi dokumen, yakni

Adrian Sutedi, 2013, Hak Atas Kekayaan Intelektual, Sinar Grafika, Jakarta, h. 116.

11

H. Zainudin Ali, 2016, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, h. 19.

12

(19)

menggunakan berbagai data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder atau bahan hukum tersier. 13

Pemilihan jenis penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya norma bertentangan dalam UUHC sehingga menimbulkan kesulitan dalam menindaklanjuti pelanggaran hak cipta yang dalam hal ini adalah karya cipta film yang digunakan secara komersial melalui sistem elektronik website.

1.8.2 Jenis Pendekatan

Penelitian ini menggunakan 2 jenis pendekatan yang terdiri dari Pendekatan Perundang-Undang (The Statute Appoarch), Pendekatan Analisis Konsep Hukum (The Anlitical Conceptual Approarch).

Pendekatan Perundang-Undangan (The Statute Appoarch), yaitu dengan cara menelaah semua Peraturan Perundang-Undangan, yang dalam hal ini adalah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dan Peraturan Bersama Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2015 dan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Pelaksanaan Penutupan Konten dan/atau Hak Akses Pengguna Pelanggaran Hak Cipta dan/atau Hak Terkait dalam Sistem Elektronik yang berhubungan dengan pelanggaran karya cipta film yang digunakan secara komersil melalui sistem elektronik website.

Amiruddin dan H. Zainal Asikin, 2013, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT Raja

13

Grafindo Persada, Jakarta, h. 118.

(20)

Pendekatan Analisis Konsep Hukum (The Anlitical Conceptual Approarch), yaitu dengan menganalisis konsep-konsep hukum dan mengutip

doktrin-doktrin para ahli terkait pelanggaran hak cipta yang dalam hal ini adalah karya cipta film yang digunakan secara komersial melalui sistem elektronik website . Sehingga nantinya konsep dan doktrin ini diharapkan mampu menjadi 14

landasan bagi penulis dalam membangun argumentasi hukum guna memecahkan permasalahan yang muncul dalam penelitian ini.

1.8.3 Sumber Bahan Hukum

Sumber bahan hukum yang digunakan dalam penelitian normatif meliputi data sekunder, yaitu data yang bersumber dari penelitian kepustakaan (library research) yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan

bahan hukum tersier.15

a. Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang meliputi Peraturan Perundang Undangan berupa Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, Peraturan Bersama Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2015 dan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Pelaksanaan Penutupan Konten dan/atau Hak Akses Pengguna Pelanggaran Hak Cipta dan/atau Hak Terkait dalam Sistem Elektronik.

Peter Mahmud Marzuki, 2015, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, h. 177.

14

Amiruddin dan H. Zainal Asikin, loc.cit.

15

(21)

b. Bahan hukum sekunder, yaitu semua publikasi tentang hukum yang merupakan dokumen tidak resmi meliputi buku-buku/literatur, karya tulis dan jurnal yang berkaitan dengan pokok bahasan penelitian ini.

c. Bahan hukum tersier, meliputi kamus hukum, ensiklopedia dan lain-lain yang berkaitan dengan pokok bahasan penelitian ini.

1.8.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Dalam penelitian ini terkait pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui metode bola salju (snow ball method), yaitu teknik pengumpulan bahan hukum dimulai dari satu literatur/Peraturan Perundang-Undangan kemudian menggelinding ke literatur/Peraturan Perundang-Undangan lainnya.

Pengumpulan bahan-bahan hukum tersebut meliputi sumber hukum primer dan sumber hukum sekunder. Sumber hukum primer yaitu peraturan perundang- undangan yang relevan dengan permasalahan yang dibahas dalam tulisan ini.

Disamping itu sumber hukum sekunder yaitu buku-buku yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini seperti buku Hukum Perlindungan Hak Cipta, hukum Hak Atas Kekayaan Intelektual, serta tulisan hukum yang relevan dengan berkaitan dengan pokok bahasan penelitian ini.

1.8.5 Teknik Analisis Bahan Hukum

Adapun teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskripsi, teknik evaluasi, teknik argumentasi, dan teknik sistematisasi. 16

Fakultas Hukum Universitas Udayana, 2013, Pedoman Pendidikan Fakultas

16

Hukum Universitas Udayana, Fakultas Hukum Universitas Udayana, Denpasar, h. 76.

(22)

1. Teknik deskripsi adalah teknik dasar analisis yang tidak dapat dihindari penggunaannya. Deskripsi berarti uraian apa adanya terhadap suatu kondisi atau posisi dari proposisi-proposisi hukum atau non hukum.

2. Teknik evaluasi adalah penilaian berupa tepat atau tidak tepat, setuju atau tidak setuju, benar atau salah, sah atau tidak sah oleh peneliti terhadap suatu pandangan, proposisi, pernyataan, rumusan norma, keputusan, baik yang tertera dalam bahan primer maupun dalam bahan hukum sekunder.

3. Teknik argumentasi adalah teknik yang tidak bisa dilepaskan dari teknik evaluasi karena penilaian harus didasarkan pada alasan-alasan yang bersifat penalaran hukum. Dalam pembahasan permasalahan hukum makin banyak argumen makin menunjukkan kedalaman penalaran hukum.

4. Teknik sistematisasi adalah berupa upaya mencari kaitan rumusan suatu konsep hukum atau proposisi hukum antara peraturan perundang-undangan yang sederajat maupun yang tidak sederajat.

Referensi

Dokumen terkait

catylac bintang 5 Kg/galon kg Cat tembok Mowilex dalam 5 Kg/galon kg Cat tembok Mowilex luar 5 Kg/galon kg Cat tembok Dulux dalam 5 Kg/galon kg Cat tembok Dulux Luar 5 Kg/galon kg

dalam kasus di mana pekerjaan tidak mencukupi untuk makanan mereka sendiri, ada bantuan dari anggota lain dari komunitas yang sama, yang mampu bekerja lebih untuk apa

Perusahaan merupakan suatu unit kegiatan produksi yang mengelola sumber- sumber ekonomi untuk menyediakan barang dan jasa bagi masyarakat dengan tujuan untuk

Dan dari 23 pasien (100%) seluruhnya menyatakan citra pelayanan tidak baik dan tidak mempunyai minat dalam menggunakan jasa pelayanan. Citra pelayanan dipengaruhi

Berdasarkan tabel dan histogram di atas, maka dapat diketahui bahwa mayoritas tingkat kreativitas guru dalam mengajar dilihat dari sudut pandang guru kelas III di SD

Tetapi adsorben zeolit alam perlakuan aktivasi kimia dan fisik mempunyai daya serap gas karbonmonoksida yang lebih rendah daripada adsorben zeolit alam tanpa aktivasi.. Hal

•  Kebenaran PDRM adalah diperlukan bagi pembeli/pemilik rumah sekiranya merentas daerah atau negeri ke syarikat pemaju/agen atau galeri jualan bagi maksud

Setelah pelaksanaan Pelatihan Produksi dan Usaha Cookies Berbahan Baku Lokal Sebagai Alteratif Usaha Bagi Mantan TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Desa Sindangsari Kecamatan