• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKIBAT HUKUM PENGANGKATAN ANAK WARGA NEGARA INDONESIA OLEH WARGA NEGARA ASING (INTERCOUNTRY ADOPTION) STUDI DINAS SOSIAL PROVINSI SUMATERA UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "AKIBAT HUKUM PENGANGKATAN ANAK WARGA NEGARA INDONESIA OLEH WARGA NEGARA ASING (INTERCOUNTRY ADOPTION) STUDI DINAS SOSIAL PROVINSI SUMATERA UTARA"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh:

MUHAMMAD DWIMAS ARDHIN NASUTION NIM : 150200032

DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)
(3)

ABSTRAK

Muhammad Dwimas Ardhin* Rosnidar Sembiring**

Syamsul Rizal***

Anak merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang dimimpikan oleh setiap pasangan. Pasangan yang tidak mempunyai keturunan biasanya melakukan pengangkatan anak dengan tujuan melanjutkan garis keturunannya dan mempertahankan perkawinannya. Pengangkatan anak yang dilakukan di Indonesia adalah pengangkatan anak antar warga negara Indonesia (domestic adoption) dan pengangkatan anak oleh warga negara asing (Intercountry adoption). Persyaratan dan prosedur pengangkatan anak warga negara Indonesia oleh warga negara asing dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 54 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak, Peraturan Menteri Sosial No. 110/HUK/2009 Tentang Persyaratan Pengangkatan Anak, kedua peraturan tersebut tidak terlepas pada Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Berdasarkan peraturan tersebut perlu diteliti bagaimana proses pengangkatan anak warga negara Indonesia oleh warga negara asing, akibat hukum,serta hambatan dalam proses dan pasca pengangkatan anak.

Permasalahan tersebut dikaji dengan menggunakan metode yuridis empiris, dengan melakukan penelitian di Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui data primer yang berupa wawancara dan data sekunder berupa studi dokumen yang terdiri dari peraturan perundang-undangan, buku dan jurnal yang berkaitan dengan pengangkatan anak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengangkatan anak warga negara Indonesia oleh warga negara asing harus dilakukan melalui Lembaga Pengasuhan Anak. Sebelum mendapatkan putusan dari Pengadilan, Calon Orang Tua Angkat harus memenuhi semua persyaratan baik material maupun administatif, serta telah mendapat Surat Rekomendasi dari Menteri Sosial c.q. Direktur Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Pengangkatan anak ini menimbulkan akibat hukum khususnya dalam status kewarganegaraan anak, kewarisan, dan perwalian.hambatan dalam proses pengangkatan anak terdapat pada syarat usia anak,izin tinggal COTA, masih barunya usia pernikahan,status agama anak dan kurangnya sosialisasi.

Disarankan kepada Pemerintah untuk lebih selektif dalam pemberian ijin pengangkatan anak kepada warga negara asing, perlu adanya Lembaga Pengawasan Anak untuk memantau perkembangan anak angkat, serta perlunya diadakan sosialisasi tentang prosedur dan akibat hukum yang terjadi setelah dilakukannya pengangkatan anak.

Kata Kunci : Pengangkatan Anak, Pengangkatan Anak Antar Negara, Departemen Sosial

*Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

**Dosen Pembimbing I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

***Dosen Pembimbing II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur yang sedalam-dalamnya penulis panjatkan kehadirat Allah SWT.karena dengan berkat dan rahmat-Nya penulis masih diberi kesempatan, kesehatan, dan kemudahan dalam mengerjakan skripsi ini, serta Nabi Muhammad saw atas doa serta syafaatnya dan tak lupa ridho dan doa yang selalu dipanjatkan yang tiada henti-hentinya oleh kedua orang tua penulis Ayahanda Muhammad Arwin Nasution dan Ibunda Yunita Puspa serta kakak penulis Sarah Arwita Nasution yang telah mencurahkan segenap kasih sayang, pengorbanan, serta terkhusus doa-doanya sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini;

Penulisan skripsi ini diajukan untuk melengkapi syarat guna memperoleh gelar sarjana hukum di Universitas Sumatera Utara. Dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari bahwa hasil yang diperoleh masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati penulis akan menerima kritik dan saran demi kesempurnaan skripsi ini.

Namun, terlepas dari segala kekurangan yang ada pada penulisan skripsi ini, penulis tidak terlepas dari bantuan dan pengarahan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada :

1. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

2. Prof. Dr. Saidin, SH, M.Hum, selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

(5)

3. Puspa Melati Hasibuan, SH, M.Hum, selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

4. Dr. Jelly Leviza, SH, M.Hum, selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

5. Dr. Rosnidar sembiring , SH.,M.Hum, selaku Ketua Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan juga sebagai Dosen Pembimbing I yang telah memberikan bantuan dan bimbingan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini;

6. Syamsul Rizal, SH., M,Hum, selaku Sekretaris Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan juga sebagai Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bantuan dan bimbingan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini;

7. Arif,SH., M.Hum, selaku Dosen Penasehat Akademik selama penulis menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

8. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen yang telah banyak memberikan dedikasi yang sangat besar kepada penulis serta para pegawai di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

9. SUDUT KAMPUS 015 ( cebol, G, Iwan, Jidat, Tua, Gorgon, Ezra, Mucang, Keleng, Pentol, Emen, Pak tentara Kepang )

10. KITA-KITA RACING ( Cebol, Ojing, Pentol, Ari, Abangda Bayu, Gorgon, Ezra, Tuken, Keo, BeBe, Mira, Jikon, Doyok, Penger, Prakon, Tomy)

11. POLDA SQUAD ( Pentol, Iwan, Gorgon, Cebol, Ojing)

(6)

12. Teman-teman Grup A Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Stambuk 2015 “Iya Yang”;

13. Teman-Teman Seperjuangan dalam penulisan skripsi Farah Kecil, Hetti, Fira dll;

14. Dan terima kasih penulis ucapkan kepada teman teman STAMBUK 2015 yang tidak dapat disebutkan satu persatu semoga kita semua kedepannya dapat menjadi orang yang membanggakan orang tua kita dan berguna bagi nusa dan bangsa

15. Dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu persatu.

Akhir kata penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu dan kiranya skripsi ini dapat bermanfaat dan menjadi salah satu karya ilmiah yang dapat digunakan bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang akan datang.

Medan, 2019

Muhammad Dwimas Ardhin Nastuion NIM : 150200032

(7)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 9

D. Keaslian Penulisan ... 10

E. Tinjauan Pustaka ... 12

F. Metode Penelitian ... 19

G. Sistematika Penulisan ... 22

BAB II PROSES PENGANGKATAN ANAK WARGA NEGARA INDONESIA OLEH WARGA NEGARA ASING ... 24

A. Pengertian dan Dasar Hukum Anak Angkat dan Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing ... 24

B. Pengertian Orang Tua Angkat Warga Negara Asing... 30

C. Tujuan dan Motif Pengangkatan Anak Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing... 32

D. Syarat-Syarat dan Tata Cara Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing ... 34

(8)

E. Proses Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga

Negara Asing ... 37

BAB III AKIBAT HUKUM TERHADAP PENGANGKATAN ANAK WARGA NEGARA INDONESIA OLEH WARGA NEGARA ASING ... 65

A. Akibat Hukum terhadap Status Kewarganegaraan ... 68

B. Akibat Hukum terhadap Orang Tua Warga Negara Asing yang mengangkat Anak Warga Negara Indonesia ... 70

C. Akibat Hukum terhadap Putusan Pengadilan ... 73

BAB IV HAMBATAN YANG DIHADAPI DEPARTEMEN SOSIAL DALAM PELAKSANAAN PENGANGKATAN ANAK WARGA NEGARA INDONESIA OLEH WARGA NEGARA ASING ... 76

A. Hambatan Dalam Proses Pengangkatan Anak ... 81

B. Hambatan Setelah Proses Pengangkatan Anak ... 84

BAB V PENUTUP ... 87

A. Kesimpulan ... 87

B. Saran ... 89

DAFTAR PUSTAKA ... 91

(9)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan berpasangan, sama halnya dengan manusia, ada laki-laki dan ada perempuan. Manusia diciptakan untuk saling melengkapi, karena manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan keberadaan manusia lain. Manusia sebagai makhluk sosial memiliki naluri untuk saling berpasang- pasangan, dengan naluri tersebut manusia menginginkan sebuah komunitas kecil yaitu keluarga, sehingga manusia harus melangsungkan sebuah perkawinan untuk membentuk komunitas tersebut.

Pengertian perkawinan menurut ketentuan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa :

“Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagiadan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”1

Menurut Sidi Gazalba bahwa tidak merupakan perkawinan andaikata ikatan lahir batin tidak bahagia atau perkawinan itu tidak kekal dan tidak berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.2 Setiap manusia yang memutuskan untuk melaksanakan perkawinan pada umumnya bertujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Salah satu tujuan untuk mendapatkan

1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

2 Sidi Gazalba dalam Mohd Idris Ramulyo,1995, Hukum Perkawinan, Hukum Kewarisan, Hukum Acara Peradilan Agama dan Zakat menurut Hukum Islam,Jakarta: Sinar Grafika, h.44.

(10)

seorang anak (keturunan) yang sah untuk melanjutkan garis keturunannya. Dengan kehadiran anak sebagai penerus bagi keturunan diharapkan dapat menambah kebahagiaan pasangan suami isteri dalam komunitas kecilnya. Alasan memperoleh keturunan ini yang sering dijadikan alasan utama mengapa seorang pria dengan wanita memutuskan untuk membentuk keluarga. Meskipun memperoleh keturunan bukanlah satu-satunya alasan membentuk perkawinan namun pada praktik ketidakhadiran seorang anak (keturunan) menjadi alasan ketidaksempurnaan sebuah keluarga, dan sering menjadi alasan putusnya sebuah perkawinan (perceraian), untuk mencegah putusnya perkawinan karena ketidakhadiran keturunan, maka dilakukanlah pengangkatan anak.

Anak adalah amanah Tuhan yang dipercayakan kepada orang tua untuk dirawat, dijaga, dibesarkan, dan dididik hingga kelak dewasa dan mampu berdiri diatas kemampuannya sendiri dalam mencukupi kebutuhannya yang juga pada akhirnya nanti mampu berganti membalas dengan sikap berbakti dan mengasihi ketika orang tuanya beranjak usia lanjut serta mendoakannya ketika orang tuanya telah meninggal dunia.3 Anak menurut pikiran orang berakal sehat adalah buah hati yang dinantikan kehadirannya oleh orang tua untuk meneruskan keturunan, mengikat melampiaskan curahan kasih sayang manusiawinya. Namun, terkadang Tuhan belum berkehendak memercayakan amanah tersebut kepada sebagian orang yang begitu menginginkan kehadirannya.

3 Lulik Djatikumoro,2011, Hukum Pengangkatan Anak Di Indonesia,Bandung: Alumni,h.1.

(11)

Dalam pandangan umum, keluarga yang sempurna terdiri atas ayah, ibu, dan adanya anak. Dengan demikian, keberadaan anak dalam keluarga merupakan suatu unsur penting sempurnanya suatu keluarga. 4 Pengangkatan anak atau adopsi merupakan salah satu alternatif jalan yang ditempuh bagi suatu keluarga yang belum dikarunia anak atau ingin menambah anggota dalam keluarga sebagai pelimpahan kasih sayang sekaligus pengikat kasih pasangan orang tua sehingga dalam kenyataannya, pengangkatan anak merupakan realitas yang ada dan tumbuh di dalam masyarakat.

Djaja S. Meliala menyebutkan bahwa seseorang melakukan pengangkatan anak karena latar belakang sebagai berikut:5

1. Rasa belas kasihan terhadap anak terlantar atau anak yang orang tuanya tidak mampu memeliharanya atau alasan kemanusiaan.

2. Tidak mempunyai anak dan keinginan mempunyai anak untuk menjaga dan memeliharanya kelak kemudian di hari tua.

3. Adanya kepercayaan bahwa dengan adanya anak dirumah, maka akan dapat mempunyai anak sendiri.

4. Mendapatkan teman bagi anaknya yang sudah ada.

5. Menambah atau mendapatkan tenaga kerja.

6. Ingin mempertahankan ikatan perkawinan atau kebahagiaan keluarga.

4 Gatot Soemartono,2006, Arbitrase dan Mediasi di Indonesia,Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, h. 2.

5 Djaja S. Meliala,1982, Pengangkatan Anak (Adopsi) di Indonesia, Bandung : Tarsito,h. 4

(12)

Pengertian pengangkatan anak atau adopsi adalah suatu tindakan mengambil anak orang lain untuk dipelihara dan diperlakukan sebagai anak turunannya sendiri, berdasarkan ketentuan-ketentuan yang disepakati dan sah menurut hukum yang berlaku dimasyarakat yang bersangkutan.6

Pasal 12 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak yang materinya mengatur tentang pengangkatan anak, yaitu:7

a. Pengangkatan anak menurut adat dan kebiasaan dilaksanakan dengan mengutamakan kepentingan kesejahteraan anak.

b. Kepentingan kesejahteraan anak yang termaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

c. Pengangkatan anak untuk kepentingan kesejahteraan anak yang dilakukan diluar ada dan kebiasaan, dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Pengangkatan anak bukanlah hal baru di Indonesia, karena sejak zaman dahulu telah dilakukan pengangkatan anak dengan cara dan motivasi yang berbeda- beda, sesuai dengan sistem hukum yang berkembang di daerah yang bersangkutan.

Pengertian anak angkat dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak Pasal 1 ayat (1) adalah:

“Anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan,

6 Arif Gosita, Masalah Perlindungan Anak-Edisi Pertama (Jakarta: Akademi Pressindo,1989), h. 44.

7 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak

(13)

pendidikan, dan membesarkan anak tersebut, kedalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan keputusan atau penetapan pengadilan”.8 Sedangkan dalam Pasal 1 ayat (2) PP Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak disebutkan bahwa :

“Pengangkatan Anak adalah suatu perbuatan hukum yang mengalihkan seorang anak dari lingkungan kekuasaan orang tua, wali yang sah atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan dan membesarkan anak tersebut ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkat”.

Pengangkatan anak merupakan suatu perbuatan hukum karena harus melalui proses hukum dan adanya penetapan hakim di pengadilan. Pengangkatan anak yang dilakukan oleh beberapa pasang suami isteri bukan hanya berasal dari anak yatim piatu saja, ada juga yang melakukan pengangkatan anak terhadap anak-anak di kalangan keluarga. Hubungan hukum antara orang tua angkat dengan anak angkat, sama dengan hubungan orang tua dengan anak kandung. Jumlah anak yang diangkat tidak terbatas, sesuai dengan kemampuan seseorang untuk memelihara dan menjamin kelangsungan hidup anak angkat tersebut. Pada umumnya setiap anak memiliki hak dan kewajiban sebagai anak dalam suatu keluarga, tetapi hak-hak anak sering terabaikan karena kondisi keluarga yang tidak memungkinkan.9

8 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak

9Dewi Sartika,2002, Kedudukan Anak Angkat Dalam Mewarisi Harta Orang Tua Angkatnya, Jakarta:Sinar Grafika, h. 45-46

(14)

Pengangkatan anak biasa dilakukan antar warga negara Indonesia, akan tetapi karena kesempatan kepada orang asing lebih terbuka maka hal ini menimbulkan niat bagi warga negara asing untuk mengangkat warga negara Indonesia, walaupun pengangkatan anak yang dilakukan oleh warga negara asing merupakan suatu upaya terakhir (ultimum remidium) tetapi tidak mengurungkan niat para warga negara asing untuk tidak mengangkat anak dari Indonesia. Pengangkatan anak yang terjadi sering kita ketahui dilakukan sesuai peraturan yang berlaku dan namun tidak jarang juga dilakukan dengan illegal yaitu melalui perdagangan bayi seperti yang kita lihat di berbagai media massa.

Jenis pengangkatan anak diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 Pasal (7) yang menyebutkan bahwa: “Pengangkatan anak terdiri atas pengangkatan anak antar warga negara Indonesia, dan pengangkatan anak antara warga negara Indonesia dengan warga Negara asing”. Dengan makin bertambahnya kesempatan kepada bangsa kita dengan orang-orang asing maka semakin banyak terjadi pengangkatan-pengangkatan anak Indonesia oleh orang-orang asing yang menimbulkan permasalahan pengangkatan anak antar negara (Intercountry Adoption) dan semuanya dimintakan pengesahannya kepada pengadilan. Pengangkatan anak yang dilakukan memiliki prosedur yang telah ditetapkan dalam undang-undang.

Proses pengangkatan anak oleh warga negara asing (Intercountry Adoption) tidaklah sama dengan proses pengangkatan anakantar warga negara Indonesia.

(15)

Pengangkatan anak antar warga negara bisa diakukan berdasarkan hukum adat yang berlaku di daerah tertentu walaupun pada dasarnya haruslah tetap memerlukan suatu penetapan yang sah dari pengadilan untuk status anak angkat di kemudian hari.

Sedangkan, pengangkatan anak terhadap warga negara Indonesia oleh warga negara asing harus melalui Lembaga Pengasuhan Anak atau Yayasan Panti Asuhan yang ditunjuk oleh Departemen Sosial untuk melakukan Intercountry Adoption.10

Pengangkatan anak dilakukan oleh Lembaga Pengasuhan Anak dan diatur dalam ketentuan umum angka 6 Keputusan Menteri Sosial Nomor 40/HUK/KEP/IX/1980 tentang Organisasi Sosial yang menyatakan bahwa : 11

“Organisasi Sosial/Lembaga Sosial adalah lembaga kesejahteraan sosial yang berbadan hukum yang menangani pengasuhan anak yang ditunjuk oleh Dinas Sosial melalui Surat Keputusan Menteri Sosial sebagai penyelenggara pengangkatan anak”.

Proses pengangkatan anak tersebut berbeda dengan proses pengangkatan anak antar warga negara yang bisa dilakukan berdasarkan kebiasaan yang terdapat didaerah tertentu, walaupun dalam beberapa hal terdapat proses yang sama dalam memperoleh hubungan hukum yang sah antara orang tua angkat dengan anak angkat.

Setiap perbuatan hukum pasti memiliki akibat hukum, demikian terhadap pengangkatan anak yang akhirnya akan memperoleh hubungan hukum yang baru.

10 Muderis Zaini, 2002, Adopsi Suatu Tinjauan dari Segi Tiga Sistem Hukum, Jakarta: Bina Akasara, h.15

11 Keputusan Menteri Sosial Nomor 40/HUK/KEP/IX/1980 tentang Organisasi Sosial

(16)

Oleh karena itu dalam Undang-Undang telah disebutkan tentang syarat dan proses pengangkatan anak yang sah.

Pengangkatan anak warga negara Indonesia oleh warga negara asing yang lebih dikenal dengan Intercounty Adoption ini memiliki proses pengangkatan yang lebih sulit dan rumit dari pengangkatan anak pada umumnya. Calon anak angkat harus berada di lembaga pengasuhan anak, dengan kata lain anak yang akan diangkat oleh warga negara Asing tidak boleh diserahkan langsung oleh orang tua kandung si anak. Sehingga berdasarkan permasalahan yang timbul akibat pengangkatan anak warga negara Indonesia oleh warga negara asing sangatlah menarik untuk diteliti lebih jauh berdasarkan Undang-Undang yang berlaku dan proses secara langsung di lapangan.

Dalam uraian latar belakang tersebut, hal tersebut menarik untuk dikaji bagi penulis danuntuk meneliti masalah ini serta memaparkan masalah ini dalam bentuk skripsi dengan judul “Akibat Hukum Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing (Intercountry Adoption)”. ) Studi Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara”

B. Perumusan Masalah

Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam skripsi ini yang selanjutnya akan dibahas dalam bab-bab berikutnya adalah :

1. Bagaimana Proses Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing?

(17)

2. Bagaiman Akibat Hukum Terhadap Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing?

3. Bagaimana Hambatan Yang Dihadapi Departemen Sosial Provinsi Sumatera Utara Dalam Pelaksanaan Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1) Tujuan Penulisan

Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penulisan skripsi ini, selain sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana hukum adalah :

a) Untuk mengetahui Bagaimana Proses Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing

b) Untuk mengetahui Bagaimana Akibat Hukum Terhadap Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing

c) Untuk mengetahui Bagaimana Hambatan Yang Dihadapi Departemen Sosial Provinsi Sumatera Utara Dalam Pelaksanaan Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing

2) Manfaat Penulisan

Sementara manfaat yang diharapkan dari penulisan skripsi ini diantaranya adalah :

a) Manfaat secara teoritis, penulisan skripsi ini diharapkan dapat menambah sumbangan pemikiran bagi ilmu hukum sehingga dapat semakin dikembangkan, terutama mengenai aspek hukum terhadap

(18)

pengangkatan anak Warga Negara Indonesia oleh Warga Negara Asing. Selain itu juga untuk mengetahui secara konkrit bagaimana proses pengangkatan anak oleh WNA,bagaimana akibat hukumnya serta hambatan-hambatan yang dihadapi dalam proses pengangkatan anak.

b) Bagi setiap orang yang ini mengangkat seorang anak khususnya kepada warga negara asing atau suami isteri yang tidak memiliki anak yang berkeinginan untuk mengangkat anak warga negara Indonesia, dapat memberikan informasi dalam mengajukan permohonan penetapan pengangkatan anak yang bertujuan untuk kepentingan anak.

D. Keaslian Penulisan

Akibat Hukum Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing (Intercountry Adoption) Studi Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara, Judul tersebut belum pernah diteliti dan ditulis di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan juga di Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara. Kalaupun ada judul yang mirip namun permasalahan serta materi yang dibahas benar-benar berbeda. Dalam pengerjaan penulisan skripsi ini, penulis terlebih dahulu melakukan pencarian atau penelusuran terhadap judul skripsi yang terdapat di Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan dinyatakan bahwa tidak ada judul yang sama pada arsip Perpustakaan Universitas Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Adapun judul yang baerkaitan dengan judul penulis itu terdapat diluar fakultas hukum USU, yaitu :

(19)

“Skripsi atas nama Hildawati Tambunan, 2013, Universitas Negeri Semarang, dengan judul pelaksanaan pengangkatan anak warga Negara Indonesia oleh Warga Negara Asing (Intercoutry Adoption).” Dalam skripsi ini terdapat dua rumusan masalah antara lain :

1. Bagaimana pelaksanaan pengangkatan anak Warga Negara Indonesia oleh Warga Negara Asing.

2. Bagaimana hambatan-hambtan dalam pengangkatan anak Warga Negara Indonesia oleh Warga Negara Asing

Rumusan masalah diatas jelas memperlihatkan perbedaan pembahasan materi dengan penulis, karena dalam skripsi penulis, penulis membahas bagaimana proses dan akibat hukum dari pengangkatan anak Warga Negara Indonesia oleh Warga Negara Asing. Sehingga dapat disimpulkan bahwa skripsi ini adalah hasil dari pemikiran dan ide serta gagasan dari penulis sendiri dan dikembangkan pemaparan dengan arahan Dosen Pembimbing. Keaslian dari penulisan skripsi ini terjamin benar adanya.

Jikalau ada terdapat judul yang menyerupai dan terdaftar di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Pusat Dokumentasi dan Informasi Hukum / Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara seperti judul penulis di atas, tentunya di luar sepengetahuan penulis dan pasti substansi di dalam skripsi tersebut berbeda dengan substansi di dalam skripsi penulis ini. Namun demikian adanya, di dalam penulisan skripsi ini terdapat kutipan-kutipan atau pendapat orang lain yang dilakukan sebagai referensi untuk mendukung fakta-fakta dalam penulisan skripsi ini.

(20)

E. Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Anak Angkat dan Pengangkatan Anak

Anak merupakan anugerah terindah dari Tuhan kepada setiap pasangan suami isteri yang telah menikah. Anak menjadi salah satu alasan setiap orang memutuskan untuk menikah, karena dengan kehadiran seorang anak maka sebuah keluarga dianggap lengkap dan diharapkan anak tersebut dapat melanjutkan garis keturunan dari orangtuanya.12

Menurut Ensiklopedia Umum, anak angkat adalah suatu cara untuk mengadakan suatu hubungan antara orangtua dan anak yang diatur dalam perundang- undangan. Sementara dalam Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 Pasal 1 ayat (1) tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak: “Anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga, orangtua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan orangtua angkatnya berdasarkan keputusan atau penetapan pengadilan”. Sedangkan dalam Pasal 1 ayat (2) Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak: “Pengangkatan anak adalah suatu perbuatan hukum yang mengalihkan seorang anak dari lingkungan kekuasaan orangtua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkat”.

Menurut M. Djojodiguno dan R. Tirtawinata anak angkat adalah pengambilan anak orang lain dengan maksud supaya anak itu menjadi anak dari orangtua

12 Darmawan Prints, 2003 Hukum Anak Indonesia, Bandung: PT. Citra Aditya Bakri, h.97

(21)

angkatnya. Ditambahkan bahwa adopsi ini dilakukan dengan sedemikian rupa sehingga anak itu baik lahir maupun batin merupakan anaknya sendiri.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pengangkatan anak adalah suatu perbuatan mengangkat anak untuk dijadikan sebagai anak kandung sendiri.

Pengangkatan anak dalam praktek dapat terjadi antar warga negara Indonesia, artinya baik anak angkat maupun orangtua angkatnya adalah Warga Negara Indonesia (WNI). Atau antara warga negara asing dengan warga Negara Indonesia, misalnya anak warga negara Indonesia sedangkan orangtua angkatnya Warga Negara Asing, atau sebaliknya anak Warga Negara Asing sedangkan orangtua angkatnya Warga Negara Indonesia.

Antara orangtua angkat dengan anak angkatnya minimal harus terdapat selisih umur 25 tahun dan maksimal 45 tahun. Untuk itu setiap orang dewasa yang dapat mengangkat anak. Apabila calon orangtua dalam perkawinan, maka usia perkawinan orangtua angkat minimal telah berlangsung selama 5 (lima) tahun, sehingga ada selisih antara usia perkawinan calon orangtua angkat dengan usia calon anak angkat minimal lima tahun.13

2. Proses Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing

Adapun proses pengangkatan anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing adalah sebagai berikut:

13 Prinst, Darwan, 2003, Hukum Anak Indonesia. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.h.97

(22)

a. Calon Orang Tua Angkat (COTA) mengunjungi Kementerian Sosial atau Yayasan yang diberi ijin oleh Kementerian Sosial untuk proses pengangkatan anak antara Warga Negara Indonesia dengan Warga Negara Asing. Apabila COTA datang ke Yayasan terlebih dahulu, maka pihak Yayasan akan memberitahukan bahwa sebelum proses pengangkatan anak diproses, maka COTA harus datang ke Kementerian Sosial. Pihak Kementerian Sosial hanya mengajukan pertanyaan yang bersifat basic saja, tahap ini dilakukan agar pemerintah juga tahu bahwa adanya proses pengangkatan anak yang akan dilakukan terhadap anak Warga Negara Indonesia. Dalam hal ini Kementerian Sosial harus mengetahui motivasi pengangangkatan anak dari COTA secara langsung.

b. COTA yang sudah memenuhi syarat, kembali datang ke Yayasan untuk proses lebih lanjut. COTA dalam hal ini harus membawa dokumen seperti Surat Permohonan, Surat Nikah, Surat Akta Kelahiran Suami – Istri dan Paspor Suami – Istri. Dalam hal ini Kementerian Sosial cq Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak membuat permohonan kepada Menteri Sosial untuk menyetujui COTA mengangkat anak.

c. Pihak Yayasan yang diberi wewenang yaitu Yayasan Sayap Ibu Cabang Jakarta, akan menjelaskan dan/atau memberi keterangan, tentang cara-cara pengangkatan anak dan dokumen-dokumen apa

(23)

saja yang harus dipenuhi. Pihak Yayasan akan melakukan wawancara yang lebih mendalam untuk mengetahui motivasi dari COTA agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

d. Pengumpulan surat dan/atau dokumen yang dibutuhkan untuk proses pengangkatan anak dapat dilakukan setelah COTA mengirimkan fotocopy dokumen kepada Kementerian Sosial Republik Indonesia. Hal ini bertujuan agar Menteri Sosial dapat memberi disposisi untuk menyetujui proses pengangkatan anak.

e. Setelah surat dan/atau dokumen sudah lengkap, maka Pihak Yayasan akan memohon kepada Pihak Kementerian Sosial untuk mengadakan kunjungan rumah pertama (Home Visit). Direktorat Pelayanan Sosial Anak akan membuat surat tertulis kepada Yayasan untuk home visit I. Kunjungan rumah pertama ini, Pekerja Sosial Kementerian Sosial dan Pekerja Sosial Yayasan akan membuat Laporan Sosial COTA dengan diketahui oleh pejabat Kementerian dan Yayasan. Laporan Sosial COTA yang telah dibuat oleh Pekerja Sosial ini menjadi dasar diberikannya Surat Ijin Asuhan yang dibuat oleh Kementerian Sosial dan telah ditandatangani oleh Direktur Kesejahteraan Sosial Anak.

f. Setelah Ijin Pengasuhan diberikan oleh Kementerian Sosial, maka Pihak Yayasan akan melakukan Foster Care (Asuhan Anak) dan Penyerahan anak kepada COTA. Ijin Asuhan Sementara akan

(24)

dicabut apabila COTA melalaikan kewajibannya dan anak akan ditarik kembali untuk diserahkan ke Yayasan. Asuhan anak akan dilakukan oleh COTA, lebih kurang 6 (enam) bulan. Selama 6 (enam) bulan, Calon Anak Angkat (CAA) akan diasuh dan dipelihara oleh Calon Orang Tua Angkatnya.

g. Setelah lebih kurang 6 (enam) bulan diasuh, maka akan dilakukan kunjungan rumah kedua (home visit II) oleh Pekerja Sosial Kementerian Sosial dan Pekerja Sosial Yayasan. Akan tetapi, sebelum dilakukannya kunjungan rumah kedua ini, Pihak Yayasan akan mengajukan permohonan kunjungan rumah kedua kepada Kementerian Sosial, dan apabila diijinkan, maka Pihak Yayasan dapat melakukan kunjungan rumah kedua. Kunjungan rumah kedua akan dilakukan oleh Pekerja Sosial Kementerian Sosial dan Pekerja Sosial Yayasan. Pihak Pekerja Sosial akan mengunjungi calon anak angkat yang sudah diasuh selama 6 (enam) bulan oleh Calon Orang Tua Angkat. Pekerja Sosial akan membuat suatu laporan setelah melakukan kunjungan rumah kedua. Laporan kunjungan rumah kedua ini adalah Laporan Perkembangan Anak.

h. Laporan hasil kunjungan rumah kedua tersebut menjadi dasar untuk diadakannya sidang Tim PIPA (Tim Pertimbangan Perijinan Pengangkatan Anak), yang akan dihadiri oleh instansi-instansi yang terkait. Sidang Tim PIPA dilaksanakan untuk mendengar tanggapan

(25)

dari seluruh anggota sesuai dengan TUPOKSI masing-masing berkas COTA. Maksudnya adalah anggota sidang Tim PIPA akan memberi tanggapan sesuai dengan bidang masing-masing, berdasarkan dengan hasil Laporan Sosial COTA dan Laporan Perkembangan Anak.

i. Sidang Tim PIPA akan menentukan apakah proses pengangkatan anak disetujui oleh Tim atau tidak. Apabila proses pengangkatan anak disetujui oleh Tim, maka Pihak Kementerian Sosial akan mengeluarkan Surat Keputusan Tim Pertimbangan Perijinan Pengangkatan Anak yang akan menjadi dasar Menteri Sosial memberi ijin pengangkatan anak dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Sosial.Surat Keputusan Menteri Sosial tersebut menjadi surat rekomendasi pengangkatan anak ketika COTA akan mengajukan proses pengesahan pengangkatan anak ke Pengadilan Negeri atau Pengadilan Agama sesuai dengan keinginan COTA.

j. Berdasarkan permohonan proses pengangkatan, maka akan diadakan sidang pengesahan pengangkatan anak di Pengadilan untuk mendapatkan Putusan Pengadilan. Surat Putusan yang telah dikeluarkan setelah sidang, harus dicatatkan di Kementerian Sosial.

Sehingga, pihak Kementerian Sosial mengetahui bahwa anak telah sah menjadi anak angkat.

(26)

k. Setelah keluarnya putusan pengadilan maka COTA harus melakukan pencatatan Akta Kelahiran Pengangkatan Anak (Catatan Pinggir) di DUK CAPIL Pusat. Apabila COTA ingin membawa anak ke negara asalnya, maka COTA akan membuat Paspor untuk Anak Angkat dengan didampingi oleh Yayasan.

3. Akibat Hukum Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing

Akibat hukum yang terjadi terhadap pengangkatan anak Warga Negara Indonesia oleh Warga Negara Asing ada 2 (dua) yaitu:

a) Anak angkat memiliki 2 (dua) kewarganegaraan yaitu kewarganegaraan Indonesia dan kewarganegaraan orang tua angkatnya, sampai anak berusia 18 (delapan belas) tahun.

b) Anak angkat mempunyai hak yang sama dengan anak kandung, dimana kedudukan keduanya sama dalam hal kewarisan.

Setelah adanya putusan pengadilan, ada hal-hal baru yang timbul terhadap anak, baik dalam hal status hubungan keluarga ataupun kewarisannya, juga termasuk kewarganegaraannya apabila anak diangkat orang asing. Kalau status hubungan keluarga, jelas bahwa anak sudah tidak memiliki hubungan dengan orang tua biologis, sejak putusan dibacakan status anak berubah menjadi anak kandung dari orang tua angkatnya. Berbeda dengan putusan di Pengadilan Agama, kalau di Pengadilan Agama status anak tetap menjadi anak kandung orang tuanya, dan orang tua angkat hanya sebagai pemelihara saja. Kewarisan terhadap anak angkat juga

(27)

begitu, apabila diputus di Pengadilan Negeri maka hak waris anak angkat sama dengan hak waris anak kandung, sedangkan di Pengadilan Agama, anak angkat hanya mendapat 1/3 dari hak anak kandung, apabila orang tua angkat ingin membagi dengan hak yang sama maka orang tua angkat harus memberikan hibah kepada anak angkat.

Sedangkan kewarganegaraan anak yang diangkat oleh orang asing, anak memiliki 2 (dua) kewarganegaraan, yaitu kewarganegaraan Indonesia dan kewarganegaraan orang tua angkat sampai si anak berusia 18 (delapan belas) tahun. Tetapi dalam hal waris orang tua angkat bisa mewaris berdasarkan hukum negaranya”.

F. Metode Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini, digunakan metode pengumpulan data dan bahan- bahan yang berkaitan dengan materi skripsi ini. Dengan maksud agar tulisan ini dapat dipertanggungjawabkan nilai ilmiahnya, maka diusahakan memperoleh dan mengumpulkan data-data dengan mempergunakan metode sebagai berikut :

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Yuridis Empiris. Penelitian ini digunakan untuk memperjelas kesesuaian antara teori dan praktik dengan menggunakan data primer mengenai Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia oleh Warga Negara Asing.untuk mengetahui proses pengangkatan anak oleh warga Negara asing,serta bagaimana akibat hukumnya. Dalam memperoleh data-data dengan cara wawancara dilakukan secara langsung dan telaah pustaka serta dokumen yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

(28)

2. Sumber Data

Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Data primer, yaitu data yang diperoleh secara lansung melalui wawancara dengan pejabat yang berkompeten, narasumber, dan pihakpihak terkait dengan penulisan skripsi ini.

b. Data sekunder, yaitu data atau dokumen yang diperoleh dari instansi lokasi penelitian, literatur, serta peraturan-peraturan yang ada releansinya dengan materi yang dibahas. Data sekunder terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, serta bahan hukum tertier yang dikumpulkan berdasarkan topik permasalahan yang telah dirumuskan.14

1) Bahan hukum primer yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

(a) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.54 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak.

(b) Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia No. 110/HUK/2009 Tentang Persayaratan Pengangkatan Anak.

(c) Undang-Undang No.12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.

(d) Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

14 Johnny Ibrahim, 2006, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Malang:

Bayumedia Publishing, h. 392.

(29)

(e) Undang-Undang No.4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak.

(f) Surat Edaran Mahkamah Agung No.6 Tahun 1983 jo. Surat Edaran Mahkamah Agung No.2 Tahun 1979 Tentang Pengangkatan Anak.

(g) Surat Edaran Mahkamah Agung No. 3 Tahun 2005 Tentang Pengangkatan Anak.

(h) Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia No.37/HUK/2010 Tentang Tim Pertimbangan Perizinan Pengangkatan Anak Pusat.

2) Bahan Hukum Sekunder, berupa hasil-hasil penelitian, internet, buku, artikel ilmiah, dan lain-lain.

3. Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara:

a. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Dalam hal ini penulis mencari, mengumpulkan, dan mempelajari data dengan melakukan penelitian dan pengembangan atas sumber-sumber atau bahan-bahan tertulis berupa buku-buku karangan para sarjana dan ahli hukum yang bersifat teoretis ilmiah yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini.

b. Penelitian Lapangan (Field Research)

Penulis melakukan studi terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pengangkatan anak Warga Negara Indonesia oleh Warga Negara Asing, sebagai melengkapi bahan yang diperoleh dalam penelitian kepustakaan di atas.

(30)

G. Sistematika Penulisan

Pembahasan secara sistematis sangat diperlukan dalam penulisan karya tulis ilmiah. Untuk memudahkan skripsi ini maka diperlukan adanya sistematika penulisan yang teratur yang dibagi dalam beberapa bab yang saling berhubungan satu sama lain.

Adapun sistematika skripsi ini adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Berisikan pendahuluan yang merupakan pengantar dari pembahasan selanjutnya yang terdiri dari 7 (tujuh) sub bab yaitu: Latar Belakang Penulisan, Rumusan Permasalahan, Tujuan dan Manfaat Penulisan, Keaslian Penulisan, Tinjauan Kepustakaan, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

BAB II PROSES PENGANGKATAN ANAK WARGA NEGARA INDONESIA OLEH WARGA NEGARA ASING

Pada bab ini berisikan uraian dari 6 (enam) sub bab yaitu yang pertama menjelaskan tentang pengertian dan dasar hukum anak angkat dan pengangkatan anak warga Negara Indonesia oleh Warga Negara Asing, kedua menjelaskan tentang pengertian orang tua angkat warga Negara Asing, yang ketiga menjelaskan tentang tujuan dan motif pengangkatan Anak oleh Warga Negara Asing, kelima menjelaskan tentang syarat-syarat dan tata cara pengangkatan Anak oleh Warga Negara Asing, dan yang terakhir menjelaskan tentang proses pengangkatan anak warga Negara Indonesia oleh warga Negara Asing.

(31)

BAB III AKIBAT HUKUM TERHADAP PENGANGKATAN ANAK WARGA NEGARA INDONESIA OLEH WARGA NEGARA ASING

Pada Bab ini berisikan uraian dari 3 (tiga) sub bab yang pertama menguraikan tentang akibat hukum terhadap status kewarganegaraan anak warga Negara Indonesia yang diangkat oleh warga Negara Asing, yang kedua menjelaskan tentang akibat hukum terhadap orang tua warga Negara Asing yang mengangkat anak warga Negara Indonesia. Dan yang terakhir menjelaskan tentang akibat hukum terhadap putusan pengadilan.

BAB IV HAMBATAN YANG DIHADAPI DEPARTEMEN SOSIAL DALAM PELAKSANAAN PENGANGKATAN ANAK WARGA NEGARA INDONESIA OLEH WARGA NEGARA ASING

Pada Bab ini berisikan uraian 2 (dua) sub bab yang pertama menjelaskan tentang hambatan dalam proses pengangkatan anak, dan yang kedua menjelaskan tentang hambatan setelah prosese pengangkatan anak.

BAB V PENUTUP

Berisikan kesimpulan dari keseluruhan pembahasan dalam skripsi ini, disertai dengan saran.

(32)

BAB II

PROSES PEGANGKATAN ANAK WARGA NEGARA INDONESIA OLEH WARGA NEGARA ASING

A. Pengertian Dan Dasar Hukum Anak Angkat Dan Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing

1. Anak Angkat

Anak angkat adalah anak orang lain yang diambil (dipelihara) serta disahkan secara hukum sebagai anak sendiri. Anak angkat adalah seorang bukan keturunan dua orang suami isteri, yang diambil, dipelihara, dan diperlakukan sebagai anak turunannya sendiri. Anak angkat adalah anak yang bukan keturunan dari suami isteri namun diambil, dipelihara dan perlakukan seperti halnya anak keturunannya sendiri, sehingga antara anak yang diangkat dan orang yang mengangkat anak timbul suatu hubungan kekeluargaan yang sama seperti yang ada antara orang tua dan anak kandung sendiri15. Sementara dalam Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun2007 Pasal l1 ayat (1) tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak:“Anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga, orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan dan membesarkan anaktersebut, ke dalam lingkungan orang tua angkatnya berdasarkan

15 Juli Astuti, “Kedudukan Anak Luar Kawin dalam Pewarisan Adat di Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar”, Thesis (Program Pasca-Sarjana Universitas Dipenegoro.

Semarang. 2004), h.20.

(33)

keputusan atau penetapan pengadilan”.Selain itu ada definisi anak angkat dikemukakan oleh beberapa para ahli :

a. Menurut Hilman Hadikusuma, anak angkat adalah anak orang lain yang dianggap anak sendiri oleh orang tua angkat dengan resmi menurut hukum adat setempat, dikarenakan tujuan untuk kelangsungan keturunan dan atau pemeliharaan atas harta kekayaan rumah tangganya.

b. Menurut Surojo Wignodipuro Anak angkat (adopsi) adalah suatu perbuatan pengambilan anak orang lain kedalam keluarganya sendiri sedemikian rupa sehingga antara orang tua yang mengangkat anak dan anak yang dipungut itu timbul suatu hubungan kekeluargaan yang sama, seperti yang ada antara orangtua dengan anak kandung sendiri.

c. Menurut Muderis Zaini, anak angkat adalah penyatuan seseorang anak yang diketahui bahwa ia sebagai anak orang lain ke dalam keluargannya. ia diperlakukan sebagai anak segi kecintaan, pemberian nafkah, pendidikan dan nashabnya sendiri.

d. Menurut M. Djojodiguno dan R.Tirtawinata, anak angkat adalah pengambilan anak orang lain dengan maksud supaya anak itu menjadi anak dari orang tua angkatnya. Ditambahkan bahwa adopsi ini dilakukan dengan sedemikian rupa sehingga anak itu baik lahir maupun batin merupakan anaknya sendiri.

(34)

Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa anak angkat adalah upaya mengalihkan hak dan kewajiban anak yang berasal bukan dari keturunan asli untuk dijadikan sebagai anggota keluarga sendiri, sehingga hak dan kewajibannya beralih kepada pihak yang mengangkatnya sebagai anak kandung.

2. Pengangkatan Anak

Anak merupakan anugerah terindah dari Tuhan kepada setiap pasangan suami isteri yang telah menikah. Anak menjadi salah satu alasan setiap orang memutuskan untuk menikah, karena dengan kehadiran seorang anak maka sebuah keluarga dianggap lengkap dan diharapkan anak tersebut dapat melanjutkan garis keturunan dari orangtuanya. Pengangkatan anak sering juga diistilahkan dengan adopsi. Adopsi berasal dari kata “adoptie” dalam bahasa Belanda atau “adoption” dalam bahasa Inggris. Adoption artinya pengangkatan, pemungutan, adopsi, dan untuk sebutan pengangkatan anak yaitu “adoption of child16. Dalam kamus umum bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan anak angkat adalah anak orang lain yang diambil (dipelihara) serta disahkan secara hukum sebagai anak sendiri17.

Dalam kamus hukum Drs. Sudarsono anak angkat adalah seorang bukan keturunan dua orang suami isteri, yang diambil, dipelihara, dan diperlakukan sebagai anak turunannya sendiri. Sementara dalam Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 Pasal 1 ayat (1) tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak: “Anak angkat adalah

16Jhon M. Echols dan Hasan Shadily,1981, Kamus Inggris Indonesia,Jakarta: Gramedia,h.13

17 Sudarsono. 2007. Kamus Hukum.Jakarta: PT. Rineka Cipta,h.32

(35)

anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga, orangtua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan danmembesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan orangtua angkatnya berdasarkan keputusan atau penetapan pengadilan”.

Menurut Hilman Hadikusuma, yang dikutip dalam buku „Adopsi Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum‟ oleh Muderis Zaini, SH, menyebutkan bahwa

“Anak angkat adalah anak orang lain yang dianggap sebagai anak sendiri oleh orangtua angkatnya dengan resmi menurut hukum adat setempat, dikarenakan tujuan untuk kelangsungan keturunan dan atau pemeliharaan atas harta kekayaan rumah tangganya”.

Menurut Surojo Wignodipuro dalam buku „Adopsi Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum oleh Muderis Zaini, SH. memberi batasan bahwa “Anak angkat adalah suatu perbuatan pengambilan anak orang lain kedalam keluarganya sendiri sedemikian rupa sehingga antara orangtua yang mengangkat anak dan anak yang dipungut itu timbul suatu hubungan kekeluargaan yang sama, seperti yang ada antara orangtua dengan anak kandung sendiri18 Beberapa definisi serta batasan dari beberapa sarjana yang telah dikemukakan di atas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa anak angkat adalah upaya mengalihkan hak dan kewajiban anak yang berasal bukan dari keturunan asli untuk dijadikan sebagai anggota keluarga sendiri, sehingga hak dan kewajibannya beralih kepada pihak yang mengangkatnya sebagai anak kandung.

18 Zaini, Muderis. 2002. Adopsi Suatu Tinjauan Dari Tiga Sistem Hukum, Jakarta: Sinar Grafika,h.5

(36)

Dari segi etimologi yaitu asal usul kata pengangkatan anak berasal dari bahasa Belanda “Adoptie” atau adoption (bahasa Inggris) yang berarti pengangkatan anak, mengangkat anak. Pengertian dalam bahasa Belanda menurut Kamus Hukum, berarti „pengangkatan seorang anak untuk sebagai anak kandung sendiri‟.

Jadi di disini penekanannya pada persamaan status anak angkat hasil pengangkatan anak sebagai anak kandung. Ini adalah pengertian secara literlijk, yaitu adopsi diover ke dalam bahasa Indonesia berarti anak angkat atau mengangkat anak19. Dalam Ensiklopedia Umum yang dikutip dalam buku Adopsi Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum‟ oleh Muderis Zaini, SH. menyebutkan:

“Pengangkatan anak adalah suatu cara untuk mengadakan hubungan antara orangtua dan anak yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Biasanya pengangkatan anak diadakan untuk mendapat pewaris atau untuk mendapatkan anak bagi orangtua yang tidak mempunyai anak. Pengangkatan anak menyebabkan anak yang diangkat kemudian memiliki status sebagai anak kandung yang sah dengan segala hak dan kewajiban. Sebelum melaksanakan pengangkatan anak calon orangtua harus memenuhi syarat-syarat untuk benar-benar menjamin kesejahteraan anak”20.

3. Jenis Pengangkatan Anak

Di dalam Pasal 7 Peraturan Pemerintah No. 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak disebutkan bahwa Pengangkatan anak terdiri atas:

a. Pengangkatan anak antar Warga Negara Indonesia;

1) Pengangkatan anak berdasarkan adat kebiasaan;

Pengangkatan anak berdasarkan adat kebiasaan setempat, yaitu pengangkatan anak yang dilakukan dalam suatu komunitas yang

19 Ibid,h.4

20 Ibid

(37)

nyata-nyata masih melakukan adat dan kebiasaan dalam kehidupan bermasyarakat. Pengangkatan anak ini dapat dimohonkan Penetapan Pengadilan.

2) Pengangkatan anak berdasarkan peraturan perundang-undangan Pengangkatan anak berdasarkan peraturan perundang-undangan mencakup pengangkatan anak secara langsung dan pengangkatan anak melalui pengasuhan anak. Hal ini dilakukan melalui Penetapan Pengadilan.

b. Pengangkatan anak antara Warga Negara Indonesia dengan Warga Negara Asing (Intercountry Adoption)

Pengangkatan anak Warga Negara Indonesia oleh Warga Negara Asing adalah pengangkatan anak yang bersifat ultimum remidium, yang artinya pengangkatan anak ini adalah sebagai upaya terakhir. Pengangkatan anak yang dilakukan oleh Warga Negara Asing adalah pengangkatan anak yang harus melalui Lembaga Pengasuhan Anak.

Pengangkatan anak yang dimaksud di atas meliputi pengangkatan anak Warga Negara Indonesia oleh Warga Negara Asing, dan pengangkatan anak Warga Negara Asing di Indonesia oleh Warga Negara Indonesia. Pengangkatan anak ini dilakukan melalui putusan pengadilan (Pasal 11, PP No. 54 Tahun 2007). Apabila putusan tidak melalui pengadilan, maka pengangkatan anak dapat dibatalkan.

Pengangkatan anak Warga Negara Indonesia oleh Warga Negara Asing harus dilaksanakan di Indonesia. Hal ini dijelaskan dalam Pasal 24 Peraturan Pemerintah

(38)

No. 54 Tahun 2007, yaitu Pengangkatan anak Warga Negara Indonesia yang dilahirkan di wilayah Indonesia maupun di luar wilayah Indonesia oleh Warga Negara Asing yang berada di luar negeri harus dilaksanakan di Indonesia dan memenuhi persyaratan.

B. Pengertian Orang Tua Angkat Warga Negara Asing

Setiap anak yang terlahir di dunia pasti memiliki orang tua biologis, walaupun ada orang tua yang tidak mengharapkan kehadiran seorang anak, sehingga anak menjadi anak terlantar dan anak tidak memiliki orang tua lagi.

Peraturan Pemerintah No. 54 Tahun 2007, Pasal 1 ayat (3) menjelaskan pengertian orang tua, yaitu ayah dan/atau ibu kandung, dan ayah dan/atau ibu tiri, atau ayah dan/atau ibu angkat. Dari penjelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dikatakan sebagai orang tua bukan hanya orang tua yang melahirkan, tetapi bisa orang tua tiri, ataupun orang tua angkat. Sehingga anak yang pada awalnya tidak memiliki orang tua kandung, memungkinkan untuk memiliki orang tua lainnya.

Dari penjelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dikatakan sebagai orang tua bukan hanya orang tua yang melahirkan, tetapi bisa orang tua tiri, ataupun orang tua angkat. Sehingga anak yang pada awalnya tidak memiliki orang tua kandung, memungkinkan untuk memiliki orang tua lainnya.

Peraturan Menteri Sosial No. 110/HUK/2009 tentang Persyaratan Pengangkatan Anak, Pasal 1 ayat (4) menjelaskan pengertian calon orang tua angkat,

(39)

yaitu orang yang mengajukan permohonan untuk menjadi Orang Tua Angkat.21 Sedangkan, Pasal 1 ayat (4) Peraturan Pemerintah No. 54 Tahun 2007, menjelaskan bahwa orang tua angkat adalah orang yang diberi kekuasaan untukmerawat, mendidik, dan membesarkan anak berdasarkan peraturan perundang-undangan dan adat kebiasaan.

Calon orang tua angkat yang dimaksud dalam Domestic Adoption adalah pasangan suami isteri Warga Negara Indonesia, dan janda dengan status kewarganegaraan Indonesia (Pasal 18 Permensos 101 Tahun 2009).

Calon orang tua angkat yang dimaksud dalam Intercountry Adoption adalah Warga Negara Asing dengan Warga Negara Asing, Warga Negara Indonesia yang salah satu pasangannya Warga Negara Asing, serta Warga Negara Indonesia yang mengangkat calon anak dari Warga Negara Asing (BAB VI dan BAB VII Permensos 101 Tahun 2009).

Sebelumnya dalam hal perkawinan campuran, Pasal 2 Undang-Undang No. 3 Tahun 1946 disebutkan bahwa seorang wanita selama dalam perkawinan turut kewarganegaraan suaminya. Dan diperjelas dalam Undang-Undang No. 62 Tahun 1958, yang menjelaskan bahwa pada dasarnya yang menentukan kesatuan kewarganegaraan itu adalah suami. Meskipun pada dasarnya kewarganegaraan suami

21 Peraturan Menteri Sosial No. 110/HUK/2009 tentang Persyaratan Pengangkatan Anak

(40)

menentukan, undang-undang ini memberi kesempatan juga kepada warganegara laki- laki untuk melepaskan kewarganegaraannya22.

C. Tujuan Dan Motif Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing

Pada mulanya pengangkatan anak (adopsi) dilakukan untuk melanjutkan dan mempertahankan garis keturunan dalam suatu keluarga yang tidak mempunyai anak kandung, serta untuk mempertahankan ikatan perkawinan sehingga tidak terjadi perceraian. Dalam perkembangan zaman dan masyarakat,tujuan pengangkatan anak antara lain untuk meneruskan keturunan manakala dalam suatu perkawinan tidak memperoleh keturunan23.

Hal ini tercantum dalam Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak yang berbunyi: “Pengangkatan anak menurut adat dan kebiasaan dilaksanakan dengan mengutamakan kepentingan kesejahteraan anak”.

Didalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak, disebutkan: “Pengangkatan Anak bertujuan untuk kepentingan terbaik bagi anak dalam rangka mewujudkan kesejahteraan anak dan perlindungan anak, yang dilaksanakan berdasarkan adat kebisasaan setempat dan ketentuan peraturan perundang-undangan”. Muderis Zaini dalam bukunya Adopsi

22 C.S.T Kansil,1996, Hukum Kewarganegaraan Republik Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, h. 115

23 Andi Syamsul,2005, Hukum Pengangkatan Anak Perspektif Islam, Bandung: Pustaka Pelajar, h.30

(41)

Suatu Tinjauan dari Tiga Sistem Hukum menyebutkan beberapa motif pengangkatan anak atau adopsi di Indonesia yang telah diringkas sebagai berikut:24

1. Karena tidak mempunyai anak.

2. Karena belas kasihan kepada anak tersebut disebabkan orang tua si anak tidakmampumemberikan nafkah kepada anak.

3. Karena belas kasihan, disebabkan anak yang bersangkutan tidak mempunyai orang tua (yatim piatu).

4. Karena hanya mempunyai seorang anak laki-laki, maka diangkatlah seorang anak perempuan atau sebaliknya.

5. Sebagai pemancing bagi yang tidak mempunyai anak untuk dapat mempunyai anak kandung.

6. Untuk menambah tenaga dalam keluarga.

7. Karena unsur kepercayaan.

8. Untuk menyambung keturunan dan mendapatkan regenerasi bagi yangtidak mempunyai anak kandung.

9. Diharapkan anak angkat dapat menolong di hari tua dan menyambung keturunan bagi yang tidak mempunyai anak.

10. Karena merasa belas kasihan atas nasib si anak yang tidak terurus.

24 Muderis Zaini,2002 Adopsi Suatu Tinjauan dari Segi Tiga Sistem Hukum, Jakarta: Bina Akasara, h.15

(42)

11. Adanya hubungan keluarga dan tidak mempunyai anak, maka diminta oleh orang tua kandung si anak kepada suatu keluarga untuk dijadikan anak angkat. Untuk mempererat hubungan kekeluargaan

12. Karena anak terdahulu sering penyakitan atau selalu meninggal, maka anak yang baru lahir diserahkan kepada keluarga atau orang lain untuk di adopsi, dengan harapan anak yang bersangkutan selalu sehat dan panjang umur.

13. Dalam kehidupan bermasyarakat pengangkatan anak akan lebih menjamin kesejahteraan hidup bersama, seperti dengan membantu mengurangi anak-anak terlantar, membantu usaha badan-badan panti asuhan dan mengurangi jumlah gelandangan. Perbuatan pengangkatan anak ini banyak dilakukan oleh keluarga Indonesia, terutama keluarga yang belum mempunyai anak atau memang tidak dapat menurunkan keturunan sendiri.

D. Syarat-syarat Dan Tata Cara Pengangkatan Aanak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing

1. Syarat calon anak angkat

Pasal 12 PP Nomor 54 tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak, menentukan:

(43)

a. Syarat anak yang akan diangkat, meliputi:

1) Belum berusia 18 (delapan belas) tahun.

2) Merupakan anak terlantar atau diterlantarkan.

3) Berada dalam asuhan.

4) Memerlukan perlindungan khusus.

b. Usia anak angkat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:

1) Anak belum berusia 6 tahun, merupakan prioritas utama.

2) Anak berusia 6 tahun sampai dengan belum berusia 12 tahun, sepanjang ada

3) Anak berusia 12 tahun sampai dengan belum berusia 18 tahun, sepanjang anak memerlukan perlindungan khusus.

Penjelasan Pasal 12 ayat (2) huruf b dan c, menjelaskan:

Huruf b: yang dimaksud dengan “sepanjang ada alasan mendesak” seperti anak korban bencana, anak pengungsian dan sebagainya. Hal ini dilakukan demikepentingan terbaik bagi anak.

Huruf c: yang dimaksud dengan “anak memerlukan perlindungan khusus”

adalah anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi; anak tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang di perdagangkan; anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alcohol, pisikotropika, dam zat adiktif lainnya (napza); anak korban penculikan, penjualan dan perdagangan; anak korban kekerasan baik fisik dan/atau

(44)

mental; anak yang menyandang cacat; dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran.

2. Syarat calon orang tua angkat.

Pasal 13 PP Nomor 54 Tahun 2007, menentukan: Calon orang tua angkat harus memenuhi syarat-syarat:

a. Sehat jasmani

b. Berumur paling rendah 30 (tiga puluh) tahundan paling tinggi 55 (limapuluh lima) tahun.

c. Beragama sama dengan agam calon anak angkat.

d. Berkelakuan baik dan tidak pernah di hukum, karena melakukan tindak kejahatan.

e. Berstatus menikah paling singkat 5 (lima) tahun.

f. Tidak merupakan pasangan sejenis.

g. Tidak atau belum mempunyai anak atau hanya memiliki satu orang anak.

h. Dalam keadaan mampu ekonomi dan sosial.

i. Memperoleh persetujuan anak dan izin tertulis orang tua atau wali anak.

j. Membuat pernyataan tertulis bahwa pengangkatan anak adalah demi kepentingan terbaik bagi anak, kesejahteraan dan perlindungan anak.

k. Adanya laporan sosial dari pekerja sosial setempat

(45)

l. Telah mengasuh calon anak angkat paling singat 6 (enam) bulan, sejak izin pengasuhan diberikan; dan

m. Memperoleh izin Menteri dan/atau Kepala Instasi Sosial.

Peraturan Menteri Sosial (Pasal 28) Nomor 110/HUK/2009 Tentang Persyaratan Pengangkatan Anak, menentukan:

1) Calon orang tua angkat dapat mengangkatan anak paling banyak 2 (dua) kali dengan jarak waktu paling singkat 2 (dua) tahun.

2) Jarak waktu pengangkatan anak yang ke dua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan bagi anak penyandang cacat.

Dalam hal calon anak angkat adalah kembar, pengangkatan anak dapat dilakukan sekaligus dengan saudara kembarnya oleh COTA.

E. Proses Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia Oleh Warga Negara Asing

Dalam pengumpulan data penelitian ini, penulis melakukan wawancara dengan Bapak Drs. H. Umur Ginting, SH, Selaku Kepala Sub Dinas Bina Rehabilitasi Anak Nakal dan Korban Narkoba, Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 1 April 2019 yang di pilih sebagai narasumber penulis dalam melakukan penelitian di Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara, dalam wawancara penulis mengenai bagaimana peran Dinas Sosial dalam proses pengangkatan anak Warga Negara Indonesia oleh Warga Negara Asing, beliau menjelaskan bahwa :

(46)

“proses pengangkatan anak pada umumnya sama semua diputuskan di muka persidangan, hanya saja dalam pengangkatan anak warga negara Indonesia oleh warga negara asing pemeriksaan dokumen-dokumennya adalah hal yang terpenting, dimana peran Dinas Sosial menjadi sangat penting karena semua pemeriksaan dokumen berlangsung di Dinas Sosial”.25

Bapak H. Umur Ginting juga Menjelaskan bahwa :

“Pengangkatan anak warga negara Indonesia oleh warga negara asing hanya dapat dilakukan dengan suatu pengesahan di pengadilan tempat domisili anak. Beliau menjelaskan bahwa permohonan pengangkatan anak dapat dilakukan secara lisan sesuai dengan hukum acara yang berlaku di pengadilan negeri atau permohonan tertulis. Permohonan dapat diajukan dan ditandatangani oleh pemohon sendiri atau kuasanya atau juga didampingi atau dibantu seseorang.” 26

Dalam hal didampingi ini, pemohon harus tetap hadir di pemeriksaan persidangan. Begitu juga kalau pemohon memakai seorang kuasa, ia wajib hadir dalam pemeriksaan sidang pengadilan negeri. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam permohonan dalam pengangkatan anak warga negara asing, permohonan harus dilakukan tertulis, karena sebelum mengajukan ke pengadilan negeri banyak persyaratanharus dipenuhi terlebih dahulu, antara lain:

1. Permohonan yang sudah ditandatangani oleh pemohon harus diberi materai secukupnya.

2. Permohonan yang masuk akan diproses, dan dilakukan penunjukan hakim lalu menentukan hari sidang, yang kemudian diberitahukan kepada pemohon.Pemohonan yang diberikan kepada pengadilan negeri

25 Wawancara dengan Bapak Drs. H. Umur Ginting, SH, Selaku Kepala Sub Dinas Bina Rehabilitasi Anak Nakal dan Korban Narkoba, Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 1 April 2019, Pukul 10.00 WIB

26 Ibid

(47)

akan diproses di muka persidangan sama dengan proses persidangan perdata pada umumnya, sidang pengangkatan anak warga negara Indonesia oleh warga negara asing juga diproses persidangannya yang sama. Akan tetapi pemeriksaan dokumen, dan saksi-saksi yang lebih banyak. Apabila dokumen-dokumen sudah diperiksa dan sama dengan aslinya, serta saksi-saksi tidak ada yang menyampaikan keberatan di muka persidangan, maka bisa langsung diputuskan oleh hakim dan membuktikan bahwa pengangkatan anak telah sah dilakukan.

Putusan Pengadilan adalah syarat utama bagi permohonan intercountry adoption. Di samping itu sering dilupakan bahwa dalam hal pengangkatan anak warga negara Indonesia oleh warga negara asing, kepentingan negara dan bangsa ikut menentukan aspek-aspek keamanan politik dan budaya, sehingga pengangkatan anak semacam ini seharusnya merupakan Utimum Remidium.

Intercountry Adoption dilakukan dengan sangat teliti dan hati-hati dalam menerima kemudian memeriksa dan mengadili permohonan-permohonan pengangkatan anak warga negara Indonesia oleh warga negara asing, hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengangkatan anak:

a) Pengadilan Negeri harus mendengar lansung penjelasan dari.

1) Calon orang tua angkat warga negara asing (baik suami maupun istri), dan orang tua kandung (jika ada)

2) Badan/Yayasan Sosial yang mendapat ijin dari Kementerian Sosial atau Menteri Sosial dalam hal pengangkatan anak.

(48)

3) Seorang pejabat instansi Sosial yang akan menjelaskan tentang kehidupan sosial calon anakangkat.

4) Calon anak angkat warga negara Indonesia, kalau bisa diajak bicara.

5) Pejabat imigrasi, untuk menjelaskan tentang status imigratur dari calon orang tua angkat warga negara asing.

6) Pihak kepolisian setempat27.

b) Pengadilan Negeri memeriksa dan meneliti alat-alat bukti yang menjadi bahan permohonan atau pertimbangan putusan, diantaranya:

1) Surat-surat resmi tentang kelahiran anak angkat warga negara Indonesia, seperti akta lahir, danakta-akta lain yang diperlukan.

2) Surat-surat keterangan, laporan sosial, pertanyaan-pertanyaan, yang sudah ada sebelum permohonan diajukan ke Pengadilan Negeri.

3) Surat keterangan dari kepolisisan tentang calon orang tua angkat warga negara asing tersebut telah berada dan bekerja di Indonesia sekurang- kurangnya 3 (tiga) tauhn dan calon anak angkat warga negara Indonesia tersebut.

4) Surat-surat resmi tentang pribadi calon orang tua angkat warga negara asing, surat yang dimaksud meliputi:

(1) Surat nikah calon orang tua angkat.

(2) Surat lahir calon orang tua angkat.

27 Afandi, Ali. Hukum Waris, Hukum Keluarga, dan Hukum Pembuktian. Jakarta: PT. Rineka Cipta h. 36

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai bahan kajian, sumbangan pemikiran dalam memperkaya khasanah kepustakaan dalam perkembangan ilmu hukum khususnya

Manfaat dari penulisan ini secara teoritis diharapkan dapat digunakan sebagai kontribusi bagi pengembangan dan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang hukum,

Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk memberikan sumbangan pemikiran pada pengembangan ilmu hukum, khususnya di bidang hukum tanah nasional yang terkait dengan,

1. Memberikan manfaat dan dapat diterima sebagai sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu hukum serta dapat menambah bahan bacaan di perpustakaan. Diharapkan

Manfaat teoritis, hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan kajian dan sumbangan perkembangan ilmu hukum pidana, terutama dalam pencegahari kejahatan yaitu dengan mekanisme

Manfaat teoritis dari penulisan skripsi ini adalah untuk menambah pengetahuan dalam mempelajari Hukum Internasional khususnya hukum Laut Internasional serta dapat

Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu pengetahuan baik kesehatan dan terutama pada kader kesehatan juga dapat dan memberikan

Manfaat teoretis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis yaitu memperkaya pemahaman ilmu hukum pidana, terutama terkait dengan dasar hukum tata laksana dan