BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Area Penelitian
RSUD Kraton merupakan Rumah Sakit Umum milik pemerintah daerah kabupaten Pekalongan yang memiliki dua buah ruang khusus penyakit bedah yaitu ruang Wijayakusuma dan ruang Flamboyan. Kasus penyakit bedah yang ada masih dirawat dalam satu ruangan, diantaranya kasus bedah umum, bedah urologi, bedah saraf, bedah ortopedi serta bedah onkologi.
B. Hasil Penelitian
1. Karakteristik responden
Tujuan analisis ini untuk mendeskripsikan karakteristik masing – masing variabel yang diteliti. Analisis ini dilakukan terhadap tiap variabel dari penelitian.
a. Usia Responden
Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Di Ruang Bedah RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan
Tahun 2013 (n=131) Usia Frekuensi % 17-30 Th 12 9.2 31-50 Th 67 51.1 51-60 Th 30 22.9 > 60 Th 22 16.8 Total 131 100.0
Berdasarkan gambaran penelitian dari Tabel 4.1 didapatkan bahwa mayoritas responden berusia 31-50 tahun yaitu sebanyak 67 responden (51,1%), disusul yang berusia 51- 60 tahun sebanyak 30 responden (22,9%), yang berusia > 60 tahun sebanyak 22 responden (16,8) dan yang berusia 17-30 tahun sebanyak 12 responden (9.2%).
b. Jenis Kelamin Responden
Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan bahwa semua responden berjenis kelamin laki – laki.
c. Pendidikan Responden
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Di Ruang Bedah RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan
Tahun 2013 (n=131) Pendidikan Frekuensi % Pendidikan Dasar 18 13.7 Pendidikan Menengah 97 74 Perguruan Tinggi 16 12.2 Total 131 100.0
Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa karakteristik respondenmenurut pendidikanyang Pendidikan Dasar sebanyak 18 responden (13.7%), Pendidikan Menengah sebanyak 97 responden (74 %) dan terendah Pendidikan Tinggi sebanyak 16 responden (12,2%).
d. Pekerjaan Responden
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan Di Ruang BedahRSUD Kraton Kabupaten Pekalongan
Tahun 2013 (n=131) Pekerjaan Frekuensi % PNS/TNI/POLRI 14 10.7 Karyawan Swasta 26 30.5 Wiraswasta 30 22.9 Buruh 34 26.0 Tani 15 11.5 Tidak Bekerja 12 9.2 Total 131 100.0
Hasil penelitian ditunjukkan pada tabel 4.3 mayoritas responden pekerjaannya sebagai buruh sebanyak 34 orang (26,0%), dan terendah tidak bekerja sebanyak 12 orang (9,2%).
e. Lama Di Rawat
Hasil penelitian yang ditunjukkan menunjukkan bahwa semua responden dengan lama rawat terpendek 2 hari terlama 10 hari
f. Riwayat Operasi
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Riwayat Operasi Di Ruang Bedah RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan
Tahun 2013 (n=131)
Riwayat Operasi Frekuensi %
Pernah 47 35.9
Tidak Pernah 84 64.1
Total 131 100.0
Hasil penelitian yang ditunjukkan pada tabel 4.4 menujukkan bahwa mayoritas responden tidak pernah memiliki riwayat operasi sebanyak 84 orang (64,1%), dan yang pernah punya riwayat operasi sebanyak 47 orang (35,9%).
2. Komunikasi Terapeutik
Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Responden (Perawat pada pasien pre operasi) Komunikasi Terapeutik Di Ruang Bedah RSUD Kraton
Kabupaten Pekalongan Tahun 2013 (n=131)
Komunikasi Terapeutik perawat Frekuensi (n) %
Baik 82 62,6
Kurang 49 37,4
Total 131 100
Berdasarkan tabel 4.5 hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik perawat di ruang bedah sebagian besar (62,2%)
3. Pelaksanaan Fase – fase Komunikasi Terapeutik
a. Fase Orientasi
Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Fase Orientasi Di Ruang Bedah RSUD KratonKabupaten Pekalongan Tahun 2013
(n=131)
Komunikasi Terapeutik Perawat Fase Orientasi
Frekuensi (n) %
Baik 96 73.3
Kurang 35 26.7
Total 131 100
Hasil penelitian komunikasi terapeutik perawat pada fase orientasi perawat di ruang bedah sebagian besar sudah baik (73,3%), yang rinciannya di tunjukkan pada tabel 4.7 berikut ini:
Tabel 4.7
Distribusi Frekuensi Responden Per item Pernyataan berdasarkan Fase Orientasi Di Ruang Bedah RSUD Kraton
Kabupaten Pekalongan Tahun 2013 (n=131)
No. Pernyataan Selalu Sering Kadang2 Tidak
pernah
f % f % f % f %
1 Perawat memberi salam saat mendatangi pasien
108 82.4 23 17.6 0 0 0 0
2 Perawat memperkenalkan diri pada awal pertemuan.
0 0 44 33.6 69 52.7 18 13.7
3 Perawat menyapa dengan menyebut nama pasien
109 83.2 22 16.8 0 0 0 0
4 Perawat menanyakan tentang keluhan yang pasien rasakan.
93 71.0 38 29.0 0 0 0 0
5 Perawat tidak menjelaskan tujuan datang pada pasien
0 0 0 0 84 64,1 47 35,9
6 Perawat berpamitan setelah memberi bantuan untuk datang lagi saat pasien memerlukan bantuan
53 40.5 74 56.5 4 3.1 0 0
Berdasarkan tabel 4.7 hasil penelitian komunikasi terapeutik fase orientasi, menunjukkan bahwa pernyataan 1 sampai 6, jawaban tertinggi pada Pernyataan3 yaitu “perawat selalu menyapa dengan menyebut nama pasien” 109 responden (83,2%) disusul pada
Pernyataan 1 yaitu “Perawat selalu memberi salam saat mendatangi pasien” sebanyak 108 orang (82,4%). Pada Pernyataan 2 “Perawat yang memperkenalkan diri pada awal pertemuan masih kadang- kadang sebanyak 69 orang (52,7%) sedang responden yang menjawab perawat tidak pernah memperkenalkan diri di awal pertemuan 18 orang (13,7%). Pernyataan 5 “Perawat tidak menjelaskan tujuan datang ke pasien” responden menjawab kadang – kadang 84 orang (64,1%)
b. Fase Kerja
Tabel 4.8
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkanFase Kerja Di Ruang Bedah RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan Tahun 2013
(n=131)
Komunikasi Terapeutik Perawat Fase Kerja
Frekuensi (n) %
Baik 109 83.2
Kurang 22 16.8
Total 131 100
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik perawat fase kerja perawat di ruang bedah sebagian besar (83.2%) yang tinciannya dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut :
Tabel 4.9
Distribusi Frekuensi Responden Per Item Pernyataan Berdasarkan Fase Kerja Di Ruang Bedah RSUD Kraton
Kabupaten Pekalongan Tahun 2013
No. Pernyataan Selalu Sering Kadang2 Tidak
pernah
f % f % f % f %
1. Perawat meminta persetujuan kepada perawat dan keluarga terhadap tindakan / operasi yang akan dilakukan
118 90.1 13 9.9 0 0 0 0
2. Perawat menjelaskan kembali tujuan tindakan / prosedur operasi yang akan dilakukan
106 80.9 25 19.1 0 0 0 0
3. Perawat menjelaskan kapan tindakan / operasi akan dilakukan
131 100.0 0 0 0 0 0 0
4. Perawatmembatasi
pembicaraan agar spesifik dan mudah dimengerti
66 50.4 48 36.6 9 6.9 8 6.1
5. Perawat menggunakan bahasa yang mudah pasien pahami
92 70.2 32 24.4 7 5.3 0 0
6. Perawat merespon dan
memperhatikan keluhan pasien dengan baik
103 78.6 28 21.4 0 0 0 0
7. Perawat menanyakan kembali kesiapan pasien dan
menjelaskan tindakan operasi yang akan dilakukan
107 81.7 24 18.3 0 0 0 0
8. Perawat menjelaskan apa yang perlu disiapkan sebelum dilakukan tindakan operasi
131 100.0 0 0 0 0 0 0
9. Perawat menyiapkan pasien sebelum dibawa keruang operasi
131 100.0 0 0 0 0 0 0
10. Perawat memberitahu pasien dimana operasi dilakukan
131 100.0 0 0 0 0 0 0
11. Perawat memberi dukungan pasien untuk tenang & berdo’a
85 64.9 46 35.1 0 0 0 0
Hasil penelitian yang ditunjukkan pada tabel 4.9 tentang fase kerja diketahui bahwa dari pernyataan 7 sampai 17, memiliki pendapat tertinggi pada Pernyataan 9,14,15 dan 15 yaitu“Perawat menjelaskan kapan tindakan / operasi akan dilakukan, perawat menjelaskan apa yang perlu disiapkan sebelum dilakukan tindakan operasi, dan “ perawat menyiapkan pasien sebelum dibawa ke ruang operasi” sebagian besar menjawab selalu sebanyak 131 responden (100%), disusul pada
Pernyataan item 7 yaitu “Perawat meminta persetujuan kepada pasien dan keluarga terhadap tindakan/ operasi yang akan dilakukan sebagian besar menjawab selalu sebanyak 118 responden (90,1%). Akan tetapi pada pernyataan 5 “Perawat membatasi pembicaraan agar spesifik dan mudah dipahami” responden menjawab kadang –kadang sebanyak 9 orang (6,9%), tidak pernah sebanyak 8 orang (6,1%)
c. Fase Terminasi
Tabel 4.10
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkanFase Terminasi Di Ruang Bedah RSUD KratonKabupaten Pekalongan Tahun 2013 (n=131)
Komunikasi Terapeutik Perawat Fase Terminasi
Frekuensi (n) %
Baik 102 77.8
Kurang 29 22.2
Total 131 100
Hasil penelitian pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat fase terminasi perawat di ruang bedah sebagian besar (77.8%) yang dapat dilihat rinciannya pada tabel 4.11 berikut :
Tabel 4.11
Distribusi Frekuensi Responden Per Item Pernyataan Berdasarkan Fase Terminasi Di Ruang Bedah RSUD Kraton
Kabupaten Pekalongan Tahun 2013
No. Pernyataan Selalu Sering Kadang2 pernah Tidak
F % f % f % f %
1. Perawat menanya ulang keluhan
pasien setelah diberi bantuan 58 44.3 73 55.
4 0 0 0 0 2. Perawat memberitahu pasien
kapan harus periksa ulang 116 88.5 7 5.3 8 6.1 0 0 3. Perawat memberitahu apa yang
boleh dan tidak boleh pasien lakukan di rumah
123 93.9 8 6.1 0 0 0 0 4. Perawat memberitahu pasien
tentang aturan minum obat dan diet setelah pasien dirumah
Berdasarkan tabel 4.11 menunjukkan hasil pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat fase terminasi, diketahui bahwa dari pernyataan item 18 sampai item 21, memiliki pendapat tertinggi pada item 21 yaitu “perawat memberitahu pasien tentang aturan minum obat dan diet setelah pasien di rumah sebagian besar menjawab selalu sebanyak 131 responden (100%) disusul dengan pernyataan 20 yaitu” perawat memberitahu pasien apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di rumah mejawab selalu sebanyak 123 orang (93,9%).Akan tetapi masih ada responden yang menjawab kadang –kadang sebanyak 8 orang (6,1%) pada pernyataan 2 “Perawat memberitahu kapan pasien harus kontrol.
4. Sikap Komunikasi Terapeutik
Tabel 4.12
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Sikap Komunikasi terapeutik Di Ruang Bedah RSUD KratonKabupaten Pekalongan Tahun 2013 (n=131)
Sikap Komunikasi Terapeutik Frekuensi (n) % Baik 88 67.1 Kurang 43 32.9 Total 131 100
Hasil penelitian pelaksanaan sikap komunikasi terapeutik sebagian besar baik sebesar 67,1% . Distribusi frekuensi sikap komunikasi terapetik responden per item pernyataan sikap komunikasi dapat dilihat pada tabel 4.13 berikut :
Tabel 4.13
Distribusi Frekuensi Responden Per Item Pernyataan Sikap Komunikasi Terapeutik Di Ruang Bedah RSUD Kraton
Kabupaten Pekalongan Tahun 2013
No. Pernyataan Selalu Sering Kadang2 Tidak
pernah
f % f % f % f %
1. Sikap perawat berhadapan saat
berbicara dengan saya 109 80.7 26 19.3 0 0 0 0 2. Perawat menjawab pertanyaan
saya dengan wajah kesal 0 0 0 0 0 0 131 100 3. Perawat memberikan sentuhan
saat mendatangi saya atau saat menanyakan keluhan yang saya rasakan
41 30.4 81 60.0 41 30.4 0 0 4. Saat berbicara perawat tetap
menjaga kontak mata sejajar dengan saya
122 93.1 9 6.9 0 0 0 0 5. Perawat tidak menyilangkan kaki
atau melipat tangan saat berbicara
dengan saya 131 100
0 0 0 0 0 0
6. Perawat saat berbicara atau mendengarkan keluhan tetap menghadap ke arah saya
124 94.7 7 5.3 0 0 0 0 7. Jarak perawat saat berbicara
dengan saya tidak berjauhan 122 93.1 9 6.9 0 0 0 0 8. Perawat berbicara dengan santun 116 88.5 15 11.5 0 0 0 0 9. Penampilan perawat rapi dan
murah senyum 131 100 0 0 0 0 0 0
Berdasarkan tabel 4.13 hasil penelitian pelaksanaan sikap komunikasi terapeutik, diketahui bahwa dari pernyataan item 22 sampai 30, memiliki pendapat tertinggi padaPernyataan 22, 26 dan 30 yaitu “Sikap perawat berhadapan saat berbicara dengan pasien, perawat tidak menyilangkan kaki atau melipat tangan saat berbicara dengan pasien, penampilan perawat rapi dan murah senyum dengan jawaban selalu sebanyak 131 responden (100%). Pernyataan 23 Perawat menjawab pertanyaan pasien dengan wajah kesal, kategori pernyataan unfavorabel semua responden menjawab tidak pernah sebanyak 131 (100,%).
5. Teknik Komunikasi Terapeutik
Tabel 4.14
Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Teknik Komunikasi terapeutik Di Ruang Bedah RSUD KratonKabupaten Pekalongan Tahun
2013 (n=131) Teknik Komunikasi Terapeutik Frekuensi (n) % Baik 67 51.1 Kurang 64 48.9 Total 131 100
Hasil penelitian tentang gambaran tehnik komunikasi terapeutik perawat di ruang bedah sebagian besar (67.1%) baik. Gambaran lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 4.15 berikut :
Tabel 4.15
Distribusi Frekuensi Responden Per Item PernyataanTeknik Komunikasi Terapeutik Di Ruang Bedah RSUD Kraton
Kabupaten Pekalongan Tahun 2013 (n=2013)
No. Pernyataan Selalu Sering Kadang2 pernah Tidak
f % f % f % f %
1. Perawat mengulang kata – kata
pasien dengan kalimat sendiri. 76 58.0 55 42.0 0 0 0 0 2. Perawat memberi kesempatan
pasien untuk bertanya 100 76.3 28 21.4 3 2.3 0 0 Berdasarkan tabel 4.15 pelaksanaan teknik komunikasi terapeutik, diketahui bahwa dari pernyataan item 31 sampai 32, memiliki pendapat tertinggi pada item 32 yaitu “perawat memberi kesempatan pasien untuk bertanya” sebagian besar (76,3%) menjawab selalu dan perawat yang masih kadang – kadang memberi kesempatan pasien untuk bertanya 2,3 %.
C. Pembahasan
Komunikasi merupakan proses yang sangat berarti dalam hubungan antar manusia, terlebih lagi pada profesi keperawatan yang mana komunikasi menjadi lebih bermakna. Komunikasi merupakan unsur utama dalam implementasi proses keperawatan. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi
yang berorientasi pada proses penyembuhan, sehingga semua percakapan dengan pasien akan menentukan sikap dan tindakan perawat sehingga bisa menurunkan kecemasan akibat penyakit yang dideritanya.
Perawat yang memiliki ketrampilan berkomunikasi secara terapeutik tidak hanya akan mudah menjalin hubungan rasa percaya dengan pasien,tetapi juga mencegah masalah legal, memberikan kepuasan profesional dalam pelayanan keperawatan dan meningkatkan citra profesi keperawatan serta citra rumah sakit (Yani, 1996). Komunikasi yang baik maka pasien akan menyampaikan keluhannya sesuai dengan yang dirasakan, sehingga dapat dipakai perawat sebagai acuan dalam memberikan asuhan keperawatan.
Hasil penelitian ini yang terdiri dari variabel tunggal yang meliputir esponden dengan karakteristik (usia, pendidikan dan pekerjaan, lama di rawat, riwayat operasi), perawat dengan fase komunikasi terapeutik serta sikap komunikasi terapeutik dan tehnik komunikasi terapeutik. Gambaran responden dan gambaran komunikasi terapeutik jelas berpengaruh penting terhadap masalah yang dihadapi pasien. Pembahasan hasil penelitian sebagai berikut : Hasil data demografi pada pasien pre operasi di ruang rawat bedah RSUD Pekalongan dari 131 responden diperoleh karakteristik berdasarkan usia yaitu : usia 17 -30 tahun 12 orang, usia 31-50 tahun 67 orang, usia 51-60 tahun 30 orang, usia > 60 tahun 22 orang. Berdasarkan jenis kelamin semua respondan berjenis kelamin laki-laki. Pendidikan dasar 13,7%. Pendidikan Menengah 74% dan Perguruan Tinggi 12,2%. Pekerjaan PNS/TNI/Polri 10,7%, karyawan swasta 30,5%, wiraswasta 22,9%, buruh 26,0%, tani 11,5% dan yang tidak bekerja 9,2%. Berdasarkan lama dirawat semua responden lebih dari 2 hari kurang dari 10 hari. Riwayat operasi 35,9% pernah dioperasi dan yang tidak pernah punya riwayat operasi 64,1%.
1. Komunikasi terapeutik
Komunikasi terapeutik terjadi dengan tujuan untuk menolong pasien yang dilakukan oleh kelompok profesional melalui pendekatan pribadi berdasarkan perasaan rasa saling percaya diantara kedua pihak yang
terlibat dalam komunikasi.Sehingga dapat dikategorikan kedalam komunikasi pribadi antara perawat dengan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati, 2003).
Berdasarkan hasil analisa univariat dari data komunikasi terapeutik yang telah dijawab oleh responden di ruang bedah RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan melalui kuesioner sebagai berikut : Hasil pelaksanaan komunikasi terapeutik pada fase orientasi diketahui bahwa pelaksanaanya sudah baik (73,3%) terlihat pada kuisioner sebagian besarperawat selalu menyapa dengan menyebut nama saya, akan tetapi masih perlu peningkatan karena masih ada perawat yang masih kadang –kadang saja memperkenalkan diri (52,7%) dan yang tidak memperkenalkan diri (13,7%), hal ini terjadi karena asumsi perawat bahwa dengan memakai atribut, pasien akan tahu perawat yang akan memberikan layanan kesehatan.Sedang pada pernyataan” Perawat tidak menjelasakan tujuan datang ke tempat pasien “ sebanyak 64,1%
Fase orientasi ini dimulai ketika perawat dan pasien bertemu untuk pertama kali, dan perawat menggunakan tehnik wawancara untuk menggali semua informasi yang dibutuhkan. Di sini nampak bahwa perlu peningkatan lagi pada fase orientasi meskipun beberapa pernyataan sudah bagus. Ciri hubungan pada fase ini masih bersifat dangkal. Fase orientasi ini dicirikan dengan lima kegiatan pokok yaitu testing, building trust, identification of problems and goals, clarification of roles dan contract formation. Komunikasi terapetik fase orientasi berarti perawat siap sedia untuk memberikan pelayanan keperawatan pada pasien.
Perawat memperkenalkan dirinya, perawat telah bersikap terbuka pada Pasien dan diharapkan akan mendorong pasien untuk membuka dirinya sehingga dengan perawat memperkenalkan diri maka pasien akan tahu perawat mana yang akan memberi bantuan saat dia membutuhkan (Suryani, 2006).
Gambaran komunikasi terapetik perawat pada fase kerja sebagian besar sudah baik dengan hasil Perawat selalu menjelaskan kapan tindakan / operasi akan dilakukan, perawat selalu menjelaskan apa yang perlu disiapkan sebelum dilakukan tindakan operasi,perawa selalu menyiapkan pasien sebelum dibawa ke ruang operasi dan perawat memberitahu pasien dimana tindakan operasi. Fase ini perawat dituntut untuk bekerja keras untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan pada fase orientasi. Bekerja sama dengan pasien untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang merintangi pencapaian tujuan. Fase kerja ini terbagi dalam dua kegiatan pokok yaitu menyatukan proses komunikasi dengan tindakan perawatan (integrating communication with nursing action) dan membangun suasana yang mendukung untuk proses perubahan (establishing a climate for change). Perawat yang mempunyai kemampuan melihat secara baik masalah yang dihadapi pasien dikategorikan sebagai perawat terampil (anadept practitioner nurse).
Gambaran komunikasi terapetik perawat fase terminasi sudah baik karena perawat selalu memberitahu pasien tentang aturan minum obat dan diet setelah pasien dirumah, perawat selalu memberitahu apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan pasien di rumah, perawat juga selalu memberitahu kapan pasien kontrol. Fase ini perawat mendorong pasien untuk memberikan penilaian atas tujuan telah dicapai, agar tujuan yang tercapai adalah kondisi yang saling menguntungkan dan memuaskan. Kegiatan pada fase ini adalah penilaian pencapaian tujuan dan perpisahan (Arwani, 2003).
Hal yang perlu diperhatikan pada fase ini antara lain: memberikan salam terapeutik disertai mengulurkan tangan jabatan tangan memperkenalkan diri perawat.
2. Sikap Komunikasi Terapeutik
Hasil penelitian sikap komunikasi terapeutik pelaksanaannya sudah baik, karena tidak ada Perawat menjawab pertanyaan pasien dengan wajah kesal, tidak ada perawat yang menyilangkan kaki atau melipat tangansaat berbicara dengan pasien dan penampilan perawat rapi dan murah senyum.Persyaratan untuk komunikasi terapeutik ini dibutuhkan untuk membentuk hubungan perawat dan pasien sehingga memungkinkan mengimplementasikan proses keperawatan dengan optimal.
3. Teknik Komunikasi Terapeutik
Hasil penelitian pelaksanaan teknik komunikasi terapeutik sudah baik (76,3%) diketahui bahwa perawat selalu memberi kesempatan kepada pasien untuk bertanya, hal ini mungkin dipengaruhi oleh latar belakang responden seperti usia, pendidikan, pekerjaan, lama rawat juga riwayat operasi serta adanya komunikasi terapeutik antara individu satu dengan yang lain berbeda. Dengan demikian nampak bahwa dengan komunikasi terapeutik yang baik, sikap komunikasi terapeutik yang baik serta tehnik komunikasi terapeutik yang baik akan menghasilkan layanan kesehatan yang baik dan optimal yang pada akhirnya pasien akan puas, sehingga proses kesembuhan akan tercapai.
Seperti penelitian lain tentang komunikasi terapeutik yaitu penelitian oleh Ali, Suhartini, Supriyadi (20) bahwa ada hubungan antara karakteristik perawat dengan motivasi perawat pelaksana dalam menerapkan komunikasi terapeutik pada fase kerja di RS Islam Sultan Agung Semarang. Pada jurnal kepertawatan Soedirman November 2006 oleh Sr Diana, Asirin, Wahyu di Rumah Sakit Elisabeth Purwokerto menyatakan bahwa ada hubungan antara pengetahuan komunikasi terapeutik terhadap kemampuan komunikasi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Sehingga jelaslah bahwa ketrampilan perawat dalam
melakukan komunikasi terapeutik memegang peranan penting dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.
Kebuntuan komunikasi terapeutik adalah hambatan komunikasi kemajuan hubungan perawat- pasien, dimana hambatan itu terjadi baik dari pasien maupun perawat. Hambatanatau kebuntuan terapeutik terdiri dari : resistens, transferens, kontertransferens dan bondary violation (Stuart dan Sundeen dalam Intan, 2005). Ini timbul dari berbagai alasan dan mungkin terjadi dalam bentuk yang berbeda, tetapi semuanya itu dapat menghambat komunikasi terapeutik. Perawat harus segera mengatasinya. Oleh karena itu hambatan ini menimbulkan perasaan tegang baik bagi perawat maupun bagi pasien.
D. Implikasi keperawatan
Komunikasi terapeutik sebagai salah satu dasar kegiatan interaksi tunggal yang dihadapi oleh perawat dan pasien. Komunikasi berperan aktif dalam interaksi antara perawat dan pasien dalam menangani masalah yang diharapkan dapat mengerti apa maksud dan tujuan pasien dan perawat dalam memberikan pelayanan untuk menuju solusi tindakan yang akan dilakukan, pengaruh usia, latar belakang pendidikan, pekerjaan menjadi masalah umum yang harus diselesaikan bersama guna untuk tujuan bersama.
Penguasaan komunikasi terapeutik baik fase komunikasi terapeutik. Tehnik komunikasi terapeutik dan sikap komunikasi terapeutik harus dikuasai oleh perawat untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan, sehingga tercipta komunikasi yang aktif dan efektif dalam memberikan pelayanan informasi yang dibutuhkan sesuai yang diharapkan. Harapan dari implikasi penelitian ini adalah memberikan gambaran pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat untuk dijadikan evaluasi dan instropeksi dalam membangun dan mengembangkan kualitas pelayanan agar tercipta hubungan saling membutuhkan antara perawat dan pasien untuk satu tujuan yaitu
penyembuhan dengan kepuasan. Sehingga komunikasi terapeutik perawat salah satu kemampuan yang harus dimiliki perawat.
E. Keterbatasan penelitian
Pada penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan yang dialami oleh peneliti dalam mendapatkan data yang sesuai dengan yang dibutuhkan antara lain adalah: Kuesioner sebagai media pengumpulan data menggunakan cara wawancara atau diisi sendiri oleh responden karena sifat kuesioner bersifat subjektif maka kebenaran data tergantung pada pemikiran dan kejujuran responden saat memberikan informasi atau mengisi kuesioner, adanya interaksi antara responden memungkinkan adanya jawaban yang sama dari responden yanglain. Untuk mendapatkan data dari pasien cukup sulit mengingat kondisi dan situasi pasien yang berbeda.