• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

54 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum RSUD Jogja a. Profil RSUD Jogja

RSUD Kota Yogyakarta atau yang terkenal dengan nama Rumah Sakit Jogja adalah rumah sakit milik Kota Yogyakarta yang berada di ujung Selatan Kota Yogyakarta. Berdasarkan SK Menteri Kesehatan RI Nomor HK0203/I/0233/2014 menjadi rumah sakit tipe B Pendidikan. Dalam 10 tahun belakangan ini berusaha senantiasa untuk selalu mengembangkan layanan – layanan unggulannya. Saat ini Rumah Sakit Jogja sedang berbenah mempersiapkan diri menjadi rumah sakit rujukan regional

Rumah Sakit Jogja didirikan di atas tanah seluas lebih dari 27.000 m² dengan luas bangunan lebih dari 15.000 m² cukup luas untuk menerapkan konsep keindahan dan kenyamanan. Sebagai rumah sakit modern, Rumah Sakit Jogja dilengkapi dengan peralatan medis canggih dan

(2)

terkini serta berbagai layanan unggulan antara lain: pelayanan klinik eksekutif yang berorientasi pada kebutuhan pelanggan dengan mengedepankan kenyamanan, kecepatan, dan kepastian, pelayanan klinik gigi yang dilengkapi dengan dokter spesialis orthodonsi yang ramah, kemudian ada juga pelayanan kulit dan kosmetik di klinik kulit yang akan membantu pasien tampil lebih percaya diri. Klinik ini dilengkapi dengan peralatan yang canggih dan dilayani oleh dokter spesialis yang sudah mendapatkan pelatihan di Australia. Layanan unggulan lainnya adalah klinik Tumbuh kembang Anak dan layanan pemeriksaan Endoskopi untuk mendukung pelayanan kesehatan yang prima dan paripurna.

Jumlah SDM Pejabat Struktural ada 19 orang, Staff Medis ada 56 orang, Keperawatan dan Bidan ada 260 orang, Kesehatan Lain ada 114 orang, Fungsional Umum ada 197 orang dan keseluruhan SDM Rumah Sakit Umum Daerah Kota Yogyakarta ada 646 orang. Kamar perawatan dan poliklinik yang lengkap dan modern memberikan kenyamanan dan keamanan tersendiri bagi penyembuhan

(3)

pasien. Untuk menjamin ketersediaan, kualitas, akurasi obat dan pelayanan yang cepat, layanan transaksi pembayaran dan Farmasi Rumah Sakit Jogja dikelola dengan menggunakan sistem komputerisasi terintegrasi. Selain dukungan fasilitas tersebut di atas, dalam memberikan jaminan mutu layanan kesehatan dan keselamatan pasien (Patient Safety), Rumah Sakit Jogja menerapkan Patient Safety Program / Program Keselamatan Pasien.

Rumah Sakit Jogja juga telah memperoleh pengakuan jaminan mutu layanan kesehatan/Akreditasi dari Kementerian Kesehatan RI untuk 2007 dengan stadar penilaian 12 pelayanan. Saat ini sedang berusaha untuk lulus akreditasi dengan standar penilaian KARS versi tahun 2012. Pada perkembangannya, pada tahun 2014 status RSUD Kota Yogyakarta berubah menjadi Rumah Sakit tipe B pendidikan berdasarkan Kepmenkes Nomor HK.02.03/1/0233/2014.

Di RSUD Jogja kepuasan pasien sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh perawat. Dari segi pelayanan, RSUD Jogja memiliki 12 jenis pelayanan yang meliputi :

(4)

Administrasi dan Manajemen, Pelayanan Medik, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Keperawatan, Rekam Medis, Farmasi, Keselamatan Kesehatan Kerja, Radiologi, Laboratorium, Kamar Operasi, Pengendalian infeksi di Rumah Sakit dan Perinatal resiko infeksi.

(http://rumahsakitjogja.jogjakota.go.id/index.php/profile).

b. Visi dan Misi RSUD Jogja

Visi RSUD Jogja adalah terwujudnya pelayanan prima dan menjadi pilihan utama masyarakat. Sedangkan misi RSUD Jogja adalah:

1) Mewujudkan pelayanan dengan standar profesi tertinggi berbasis keselamatan pasien, sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan.

2) Meningkatkan kompetensi dan kinerja pegawai secara berkesinambungan.

3) Mewujudkan Rumah Sakit Pendidikan, wahana penelitian, pelatihan dan pengembangan.

4) Membangun Sistem Informasi dan Manajemen Rumah Sakit yang handal.

5) Mewujudkan manajemen yang efektif dan efisien dalam iklim kerja yang terintegrasi dan kondusif.

(5)

6) Ikut mewujudkan Yogyakarta sebagai kota berwawasan lingkungan sehat.

(http://rumahsakitjogja.jogjakota.go.id/index.php/visi_misi)

2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrument Penelitian a. Hasil Uji Validitas

Nilai koefisiensi validitas setiap instrument dapat di konsultasikan dengan nilai r tabel. Penyimpulan instrument dapat dikonsultasikan dengan r tabel (Sugiyono,2015). Penyimpulan valid atau tidaknya item adalah dengan membandingkan r hitung dengan r tabel pada taraf signifikan 5%. Pertanyaan dinyatakan valid bila r hitung lebih besar dari r tabel dan bila r hitung lebih kecil dari nilai r tabel maka pernyataan tersebut tidak valid (Arikunto,2006).

Pada penelitian ini instrument yang digunakan merupakan instrument dari penelitian terdahulu yang telah divaliditasi oleh Anis M (2011) yang berjudul “Pengaruh Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Perawat terhadap Tingkat Kepuasan Pasien di RSUD dr Soebandi Jember”. Uji validitas ini dilakukan dengan jumlah 30 responden.

(6)

Tabel 4.1 Uji Validitas pada Tahap Orientasi Tahap Orientasi

No item r hitung (Penelitian )

1 0.9714 2 0.855 3 0.855 4 0.8847 5 0.9643 6 0.8137 7 0.9229 8 0.8367 9 0.8503 10 0.8503 11 0.9353 12 0.8367 13 0.7649 14 0.8172

Pada tabel 4.1 Hasil uji validitas pada penelitian terdahulu terdapat nilai r tabel sebesar 0.361, sehingga dapat disimpulkan r hitung > r tabel setiap item pernyataan tahap orientasi di katakan valid.

Tabel 4.2 Uji Validitas pada Tahap Kerja Tahap Kerja

No item r hitung (Penelitian)

1 0.7761 2 0.8172 3 0.8137 4 0.9229 5 0.9353 6 0.9353 7 0.8584 8 0.8503

(7)

Lanjutan Tabel 4.2 Uji Validitas pada Tahap Kerja Tahap Kerja

No item r hitung (Penelitian)

9 0.9685 10 0.8193 11 0.9643 12 0.9643 13 0.9714 14 0.855 15 0.9714

Pada tabel 4.2 Hasil uji validitas pada penelitian terdahulu terdapat nilai r tabel sebesar 0.361, sehingga dapat disimpulkan r hitung > r tabel setiap item pernyataan tahap kerja di katakan valid.

Tabel 4.3 Uji Validitas pada Tahap Terminasi Tahap Terminasi

No item r hitung (Penelitian)

1 0.943

2 0.8193

3 0.8847

4 0.7761

Pada tabel 4.3 Hasil uji validitas pada penelitian terdahulu terdapat nilai r tabel sebesar 0.361, sehingga dapat disimpulkan r hitung > r tabel setiap item pernyataan tahap terminasi di katakan valid.

(8)

b. Hasil Uji Reliabilitas

Reliabilitas merupakan suatu instrument yang menunjukkan bahwa instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik (Arikunto,2006). Penelitian ini menggunakan rumus Alpha Cronbach, instrument memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi jika nilai Alpha Cronbach > 0,6.

Tabel. 4.4 Uji Reliabel Penelitian

Variabel Alpha Cronbach Keterangan

Tahap Orientasi 0.8051 Reliabel

Tahap Kerja 0.8416 Reliabel

Tahap Terminasi 0.6674 Reliabel

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa seluruh variabel mempunyai nilai Alpha Cronbach > 0,6. Hal ini berarti, pernyataan tersebut reliabel sehingga dapat digunakan pada penelitian.

3. Gambaran Responden Penelitian

Responden yang diminta untuk mengisi kuesioner dalam penelitian ini adalah pasien yang pernah mendapat pelayanan di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja minimal 1 kali dengan usia diantara 18-55 tahun dalam waktu 3 hari.

(9)

a. Jenis Kelamin Responden

Total responden yang diteliti sebanyak 140 responden, dengan jenis kelamin pria berjumlah 71 responden dengan persentase sebesar 50.71% sedangkan yang berjenis kelamin wanita berjumlah 69 responden dengan persentase sebesar 49. 28%

Tabel. 4.5 Jenis Kelamin Responden

Jenis Kelamin Jumlah Presentase (%)

Pria 71 50.71%

Wanita 69 49. 28%

Total 140 100 %

b. Usia Responden

Usia responden dalam penelitian ini terbagi menjadi 4 kelompok yaitu 18-25 tahun, 26-35 tahun, 36-45 tahun, 46-55 tahun. Untuk kelompok dengan rentang usia 46-55 tahun memiliki jumlah responden tertinggi yaitu sebesar 48 responden dengan persentase 34.28 %. Sedangkan untuk kelompok dengan rentang usia 26-35 tahun memiliki jumlah responden terendah yaitu sebesar 31 responden dengan persentase 17.14 %.

(10)

Tabel 4.6 Usia Responden

c. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan responden yang ada dalam penelitian ini terbagi menjadi 6 kelompok yaitu kelompok tidak sekolah, SD, SMP, SMA, Diploma, Strata 1 dan Strata 2. Untuk kelompok dengan jumlah tertinggi yaitu kelompok dengan tingkat pendidikan SMA sebanyak 72 responden dengan persentase 51.42% sedangkan kelompok dengan jumlah terendah yaitu kelompok dengan tingkat pendidikan tidak sekolah dan Strata 2 sebanyak 1 responden dengan persentase 0.71 %.

Tabel 4.7 Tingkat Pendidikan Responden

Tingkat Pendidikan Jumlah Presentasi (%)

Tidak Sekolah 1 0.71% SD 12 8.57% SMP 29 20.71% SMA 72 51.42% Diploma 11 7.85% Strata 1 14 10% Strata 2 1 0.71% Total 140 100 %

Usia Responden Jumlah Presentasi (%)

18-25 tahun 31 22.14%

26-35 tahun 24 17.14%

36-45 tahun 37 26.42%

46-55 tahun 48 34.28%

(11)

Pada tabel 4.7 terdapat 1 responden yang tidak bersekolah, dengan usia 40 tahun. Dalam kondisi ini, peneliti mendampingi responden dalam mengisi kuesioner. Jika terdapat pertanyaan dari kuesioner yang responden tidak mengerti, peneliti menjelaskan dengan menggunakan bahasa yang mudah di mengerti. Walaupun didampingi khusus, pengisian kuesioner tetap diisi langsung oleh responden.

d. Komunikasi Terapeutik 1) Tahap Orientasi

Berdasarkan hasil perhitungan bahwa dari 140 responden didapat hasil yang tertinggi dalam menilai Komunikasi Terapeutik Perawat pada Tahap Orientasi memilih “sering” dengan jumlah 57 responden dengan persentase 40.17% terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja.

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik pada Tahap Orientasi Penilaian pada Tahap

Orientasi Frekuensi Persentase

Tidak Pernah 3 2.14%

Hampir Tidak Pernah 14 10%

Ragu-ragu 30 21.43%

Sering 57 40.71%

Selalu 36 25.71%

(12)

2) Tahap Kerja

Berdasarkan hasil perhitungan bahwa dari 140 responden didapat hasil yang tertinggi dalam menilai Komunikasi Terapeutik Perawat pada Tahap Kerja memilih “ragu-ragu” dengan jumlah 47 responden dengan persentase 33.57% terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja.

Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik pada Tahap Kerja Penilaian pada Tahap

Kerja Frekuensi Persentase

Tidak Pernah 10 7.14%

Hampir Tidak Pernah 18 12.86%

Ragu-ragu 47 33.57%

Sering 36 25.71%

Selalu 29 20.71%

Total 140 100%

3) Tahap Terminasi

Berdasarkan hasil perhitungan bahwa dari 140 responden didapat hasil yang tertinggi dalam menilai Komunikasi Terapeutik Perawat pada Tahap Terminasi memilih “sering” dengan jumlah 51 responden dengan persentase 36.43% terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja.

(13)

Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik pada Tahap Terminasi Penilaian pada Tahap

Kerja Frekuensi Persentase

Tidak Pernah 6 4.29%

Hampir Tidak Pernah 24 17.14%

Ragu-ragu 34 24.29%

Sering 51 36.43%

Selalu 25 17.86%

Total 140 100%

e. Kepuasan Pasien

1) Kepuasan Pasien pada Tahap Orientasi

Berdasarkan hasil perhitungan bahwa dari 140 responden didapat hasil yang terbanyak Kepuasan Pasien pada Komunikasi Terapeutik pada Tahap Orientasi memilih “puas” dengan jumlah 47 responden dengan persentase 33.57% di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja.

Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Menurut Kepuasan Pasien Pada Tahap Orientasi

Tingkat Kepuasan

pasien Frekuensi Persentase

Sangat Tidak Puas 4 2.85%

Tidak Puas 30 21.42%

Ragu-ragu 44 31.42%

Puas 47 33.57%

Sangat Puas 15 10.71%

(14)

2) Kepuasan Pasien pada Tahap Kerja

Berdasarkan hasil perhitungan bahwa dari 140 responden didapat hasil yang terbanyak Kepuasan Pasien pada Komunikasi Terapeutik pada Tahap Kerja memilih “puas” dengan jumlah 75 responden dengan persentase 53.57% di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja.

Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Menurut Kepuasan Pasien Pada Tahap Kerja

Tingkat Kepuasan

pasien Frekuensi Persentase

Sangat Tidak Puas 3 2.14%

Tidak Puas 18 12.85%

Ragu-ragu 33 23.57%

Puas 75 53.57%

Sangat Puas 11 7.85%

Total 140 100%

3) Kepuasan Pasien pada Tahap Terminasi

Berdasarkan hasil perhitungan bahwa dari 140 responden didapat hasil yang terbanyak Kepuasan Pasien pada Komunikasi Terapeutik pada Tahap Terminasi memilih “puas” 68 responden dengan persentase 48.57% di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja.

(15)

Tabel 4.13 Distribusi Frekuensi Menurut Kepuasan Pasien Pada Tahap Terminasi

Tingkat Kepuasan

pasien Frekuensi Persentase

Sangat Tidak Puas 1 0.71%

Tidak Puas 17 12.14%

Ragu-ragu 34 24.28%

Puas 68 48.57%

Sangat Puas 20 14.28%

Total 140 100%

4. Uji Prasyarat Analisis

Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda. Sebelum melakukan analisis data untuk mencari pengaruh antar variabel yang digunakan untuk penelitian, dilakukan uji normalitas dan uji linieritas dengan menggunakan SPSS 16 for Windows.

a. Uji Normalitas

Menurut Imam Ghazali dalam buku “Aplikasi Analisis Multivariate Program IBM spss 19”, bahwa uji normalitas dapat dinilai dengan beberapa cara, yaitu:

(16)

Tabel 4.14 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual N 140 Normal Parametersa Mean .0000000 Std. Deviation 1.60791486 Most Extreme Differences Absolute .113 Positive .068 Negative -.113 Kolmogorov-Smirnov Z 1.333

Asymp. Sig. (2-tailed) .057

Pada penelitian ini peneliti menggunakan test normality Kolmogorov-Smirnov karena jumlah sampel > 50 sampel, dengan hasil Sig ( 0,057) dan dapat dikatakan terdistribusi normal karena sig > 0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa semua data yang digunakan memenuhi asumsi normalitas, sehingga syarat regresi terpenuhi.

b. Uji Linieritas

Tujuan uji linieritas adalah untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat linier atau tidak. Kriteria pengujian linieritas adalah jika F hitung lebih kecil daripada F tabel, pada taraf signifikan 5%, maka

(17)

hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat adalah linier. Hasil rangkuman uji linieritas sebagai berikut:

Tabel 4.15 Uji Linieritas

Variabel F hitung F tabel P Keterangan X1 --> Y 1.142 1.54 0.299 Linier X2 --> Y 1.187 1.54 0.259 Linier X3 --> Y 1.759 1.54 0.052 Linier

Hasil uji linieritas pada tabel 4.15 dapat diketahui bahwa nilai F hitung pada semua variabel penelitian lebih kecil daripada nilai F tabel (F hitung < F tabel) dengan taraf signifikansi yang lebih besar dari 0.05 (p< 0.05), hal ini menunjukkan bahwa semua variabel penelitian ini linier. 5. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh komunikasi terapeutik perawat terhadap kepuasan pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja dilihat dari tahap komunikasi terapeutik yaitu tahap orientasi, tahap kerja dan tahap terminasi serta tahap mana yang paling mempengaruhi kepuasan pasien. Analisis data yang digunakan untuk pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda. Analisis regresi linier berganda dilakukan dengan menggunakan program SPSS 16 for windows.

(18)

a. Koefisiensi Determinasi

Koefisiensi determinasi merupakan suatu alat untuk mengukur besarnya persentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Biasanya koefisiensi determinasi berkisar antara 0 sampai 1, besar koefisiensi determinasi mendekati angka 1, maka semakin besar hubungan variabel independen terhadap variabel dependen.

Tabel 4.16 Model Summary Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

1 .736a .541 .531 1.62555

a. Predictors: (Constant), terminasi, kerja, orientasi

Berdasarkan tabel 4.16 diperoleh nilai R Squared 0.531. Hal ini menunjukkan persentasi pengaruh komunikasi teraupetik perawat terhadap kepuasan pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja menunjukkan hasil sebesar 53,1 %. Sedangkan sisanya sebesar 46.9% dapat dipengaruhi oleh faktor lain untuk kepuasan pasien seperti faktor kompetensi, keterjangkauan, faktor ambience, faktor sistem, faktor kelembutan, faktor kenyamanan dan keistimewaan dan faktor waktu pelayanan.

(19)

b. Uji Statistik F

Uji F statistik pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel indepeden atau bebas yang di masukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen/terikat.

Tabel 4.17 Uji Statistik F Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression 424.424 3 141.475 53.540 .000a Residual 359.369 136 2.642 Total 783.793 139

a. Predictors: (Constant), terminasi, kerja, orientasi b. Dependent Variable: kepuasan

Dari hasil pengujian Tabel 4.17 diperoleh nilai F hitung 53.540 dan F tabel sebesar 2.67 dengan nilai signifikasi sebesar 0.000. Oleh karena F hitung > F tabel (53.540> 2.67) dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05 (p<0.05), maka hal ini berarti bahwa terdapat Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat yang signifiikan terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja.

(20)

c. Uji t ( secara parsial)

Uji t ini merupakan pengujian untuk menunjukkan pengaruh secara individu variabel bebas yang ada didalam model terhadap variabel terikat. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh variabel satu variabel bebas menjelaskan variasi variabel terikat. Apabila nilai t hitung lebih besar dari t tabel dan nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05 (p<0.05), maka dapat disimpulkan bahwa variabel bebas secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Penjelasan hasil uji t untuk tiap variabel bebas, sebagai berikut:

Tabel 4.18 Uji t (parsial)

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -.619 1.046 -.592 .555 Orientasi .046 .019 .191 2.449 .016 Kerja .060 .023 .201 2.607 .010 Terminasi .368 .057 .469 6.465 .000 a. Dependent Variable: kepuasan

1) Komunikasi Terapeutik pada Tahap Orientasi

Hasil uji t pada tabel 4.18 untuk variabel Komunikasi Terapeutik pada Tahap Orientasi didapat

(21)

nilai t hitung sebesar2.449 dan t tabel 1.977 (df=99, p=0,05) dengan nilai signifikansi 0,016 karena t hitung> t tabel (2.449>1.977), signifikansi lebih kecil 0.05 (p<0.05) dan koefisiensi regresi mempunyai nilai positif maka hipotesis yang menyatakan bahwa ”Ada Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat pada Tahap Orientasi terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja” diterima.

2) Komunikasi Terapeutik pada Tahap Kerja

Hasil uji t pada tabel 4.18 untuk variabel Komunikasi Terapeutik pada Tahap Kerja didapat nilai t hitung sebesar 2.607 dan t tabel 1.977 (df=99, p=0,05) dengan nilai signifikansi 0,010 karena t hitung > t tabel (2.607>1.977), signifikansi lebih kecil 0.05 (p<0.05) dan koefisiensi regresi mempunyai nilai positif maka hipotesis yang menyatakan bahwa ”Ada Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat pada Tahap Kerja terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja” diterima.

(22)

3) Komunikasi Terapeutik pada Tahap Terminasi

Hasil uji t pada tabel 4.18 untuk variabel Komunikasi Terapeutik pada Tahap Terminasi didapat nilai t hitung sebesar 6.465 dan t tabel 1.977 (df=99, p=0,05) dengan nilai signifikansi 0,000 karena t hitung> t tabel (6.465 >1.977), signifikansi lebih kecil 0.05 (p<0.05) dan koefisiensi regresi mempunyai nilai positif maka hipotesis yang menyatakan bahwa

”Ada Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat pada Tahap Terminasi terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja” diterima.

B. Pembahasan

1. Karakteristik Responden Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin, Usia dan Tingkat Pendidikan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin yang terbanyak adalah pria dengan jumlah 71 responden dengan persentase 50.71%. Hal ini didukung oleh pendapatnya Potter dan Perry (2009) jenis kelamin dapat mempengaruhi seseorang saat berinteraksi, hal ini dapat mempengaruhi dalam menafsirkan pesan yang disampaikannya dan menurut Mukhripah (2008) dikatakan bahwa setiap jenis kelamin

(23)

mempunyai gaya komunikasi yang berbeda-beda, seperti contoh dari usia 3 tahun wanita bermain dengan teman baiknya atau dalam grup kecil dengan menggunakan bahasa untuk mencari kejelasan, meminimalkan perbedaan, serta membangun dan mendukung keintiman, sedangkan laki-laki dilain pihak, menggunakan bahasa untuk mendapatkan kemandirian dari aktivitas dalam grup yang lebih besar, dimana jika mereka berteman mereka melakukannya dengan bermain. Hal ini dapat disimpulkan bahwa wanita dalam berkomunikasi harus diterangkan secara jelas sedangkan laki-laki hanya dengan tindakan/perbuatan sudah dapat mengerti isi komunikasi tersebut. Menurut penelitian Lilis (2011) perbedaan jenis kelamin pada pasien akan mempengaruhi persepsi komunikasi antara pasien dan perawat, seperti contoh, pasien wanita akan lebih nyaman dilayanin oleh perawat wanita dibanding perawat lelaki begitu juga sebaliknya.

Untuk usia responden yang paling banyak yang mengikuti penelitian adalah usia dengan kelompok 46-55 tahun dengan jumlah 48 responden dengan persentase 34.28%. Hal ini sejalan dengan penelitian Lilis 2011 yaitu tingkat kematangan atau perkembangan seseorang sangat mempengaruhi

(24)

kemampuan individu dalam berkomunikasi, pembagian kesembuhannya. Menurut Wawan & Dewi (2011) Usia mempengaruhi kematangan berfikir seseorang, salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah usia. Pada tahap usia ini memudahkan hubungan komunikasi antar perawat dan pasien di rumah sakit sehingga meningkatkan kenyamanan antar komunikator.

Berdasarkan tingkat pendidikan, yang paling banyak yang mengikuti penelitian adalah tingkat pendidikan SMA dengan jumlah 72 responden dengan persentase 51.42%, hal ini didukung oleh Hanafi,I & Richar,SD (2012) pengetahuan sangat mempengaruhi seseorang dalam berkomunikasi. Tingkat pengetahuan berkaitan dengan tingkat tinggi pendidikan seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan semakin mudah dalam menerima dan mengolah pesan yang diterima, sehingga komunikasi berjalan.

2. Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja

Hasil penelitian menunjukkan dengan menggunakan uji regresi terdapat pengaruh yang signifikan Komunikasi Terapeutik Perawat terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi

(25)

Gawat Darurat RSUD Jogja, hal ini didukung dengan penelitian Sutrisno,dkk (2015) bahwa sebagian besar menyatakan bahwa semakin baik komunikasi terapeutik yang dilaksanakan maka semakin puas pasien dalam menerima, sehingga dapat disimpulkan bahwa komunikasi terapeutik berhubungan dengan kepuasan pasien. Hasil penelitian sejalan dengan penelitian Anis (2009) tentang hubungan terapeutik perawat dengan kepuasanpasien dalam pelayanan keperawatan di Rumah Sakit Siti Khodijah didapatkan data, bahwa dari 39 responden yang terlibat dalam penelitian ini sebagian besar (84,6%) menyatakan telah puas dengan pelayanan yang telah diberikan oleh perawat dan sebagian kecil saja atau 15,40% yang menyatakan kurang puas. Hal ini dapat di lihat dari hasil analisis seperti dibawah ini:

a. Komunikasi Terapeutik Perawat pada Tahap Orientasi terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja.

Terdapat Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat pada Tahap Orientasi terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja dengan nilai sig 0,016 (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan

(26)

Komunikasi Terapeutik Perawat pada Tahap Orientasi, yaitu menurut penilaian responden, Komunikasi Terapeutik yang dilakukan oleh perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja pada Tahap Orientasi “sering” dilakukan dengan jumlah 57 responden dengan persentase 38,14% dengan tingkat kepuasan pasien “puas” dengan jumlah 47 responden dengan persentase 33.57% .

Menurut Nurhasanah (2010) Tahap Orientasi adalah tahap yang dimulai dengan pertemuan dengan pasien dimana bertujuan dalam memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat sesuai dengan keadaan pasien saat ini. Dalam memulai hubungan, tugas utama adalah membina rasa percaya, penerimaan dan pengertian, komunikasi yang terbuka dan perumusan kontak dengan pasien. Diharapkan pasien berperan serta secara penuh dalam kontrak, namun pada kondisi tertentu, maka kontrak dilakukan sepihak dan perawat perlu mengulang kontrak jika kontak realitas pasien meningkat. Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi komunikasi salah satunya adalah lingkungan. Lingkungan interaksi akan

(27)

mempengaruhi komunikasi yang efektif. Suasana yang bising tidak ada privasi yang tepat akan menimbulkan kerancuan, ketegangan dan ketidaknyaman (Damaiyanti, 2008). Komunikasi terapeutik pada ruang Instalasi Gawat Darurat berbeda dengan komunikasi yang terjadi dibangsal karena di Instalasi Gawat Darurat lebih memfokuskan pada tindakan yang akan dilakukan sehingga dalam pelaksanaan komunikasi terapeutik sangat kurang. Kegiatan kasus gawat darurat memerlukan sebuah sub sistem yang terdiri dari informasi, jaring koordinasi dan jaring pelayanan gawat darurat sehingga seluruh kegiatan dapat berlangsung dalam satu sistem terpadu (PUSBANKES 118, 2012).

b. Komunikasi Terapeutik Perawat pada Tahap Kerja terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja.

Terdapat Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat pada Tahap Kerja terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja dengan nilai sig 0,010 (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan Komunikasi Terapeutik Perawat pada Tahap Kerja, yaitu menurut penilaian responden, komunikasi terapeutik yang

(28)

dilakukan oleh perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja pada Tahap Kerja “ragu-ragu” dilakukan dengan jumlah 47 responden dengan persentase 33.57% tingkat kepuasan pasien “puas” dengan jumlah 75 responden dengan persentase 53.57 %. Tahap kerja merupakan inti dari hubungan perawat dan pasien yang terkait erat dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang dicapai. Meningkatkan interaksi sosial dengan carameningkatkan sikap penerimaan satu sama lain untuk mengatasi kecemasan, atau dengan menggunakan teknik komunikasi terapeutik sebagai cara pemecahan dan dalam mengembangkan hubungan kerja sama. Tahap kerja merupakan tahap yang terpanjang dalam komunikasi terapeutik karena didalamnya perawat dituntut untuk membantu dan mendukung pasien untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya kemudian menganalisa respon ataupun pesan komunikasi verbal dan non verbal yang disampaikan oleh pasien. Dalam tahap ini perawat mendengarkan secara aktif dan dengan penuh perhatian sehingga mampu membantu pasien untuk mendefinisikan

(29)

masalah yang sedang dihadapi oleh pasien, mencari penyelesaian masalah dan mengevaluasinya (Nurhasanah, 2010).

c. Komunikasi Terapeutik Perawat pada Tahap Terminasi terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja.

Terdapat Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat pada Tahap Terminasi terhadap Kepuasan Pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja dengan nilai sig 0,000 (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan Komunikasi Terapeutik Perawat pada Tahap Terminasi, yaitu menurut penilaian responden, Komunikasi Terapeutik yang dilakukan oleh perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja pada Tahap Terminasi memilih “sering” dengan jumlah 51 responden dengan persentase 36.43% dengan tingkat kepuasan pasien “puas” dengan jumlah 68 responden dengan persentase 48.57%. Tahap Terminasi merupakan tahap dimana perawat mendorong pasien untuk memberikan penilaian atas tujuan yang telah dicapai, agar tujuan yang dicapai

(30)

adalah kondisi yang menguntungkan dan memuaskan (Arwani, 2003 dalam Muh Nasir, 2013).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tahap Terminasi merupakan tahap yang paling sering dilakukan perawat dan berpengaruh dalam kepuasan pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja, hal ini didukung oleh penelitian Yulita (2015), Tahap Terminasi mendapatkan kategori yang baik dalam pelaksanaan komunikasi terapeutik oleh perawat.

Instalasi Gawat Darurat merupakan tempat akan sering ditemukan kasus kegawatan yang harus segera mendapat pelayanan dan perawatlah yang selalu kontak pertama dengan pasien 24 jam. Oleh sebab itu, pelayanan professional harus ditingkatkan karena pasien gawat darurat mebutuhkan pelayanan yang cepat, tepat dan cermat dengan tujuan mendapatkan kesembuhan tanpa cacat. Oleh karenanya perawat Instalasi Gawat Darurat disamping mendapat bekal ilmu pengetahuan keperawatan juga perlu untuk lebih meningkatkan keterampilan yang spesifik seperti tambahan pengetahuan penanggulangan

(31)

penderita gawat darurat (Mabruri, 2008 dalam M.Nasir 2013).

Menurut Pohan (2007) kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan yang timbul sebagai akibat dari kinerja pelayanan kesehatan yang diperoleh setelah pasien membandingkan dengan apa yang diharapkan. Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan tidak terlepas dari sikap dan perilaku dalam berkomunikasi dengan pasien yang dapat mempengaruhi kepuasan pasien, meskipun sarana dan prasarana pelayanan sering dijadikan ukuran mutu oleh pelanggan namun ukuran utama penilaian tetap sikap dan perilaku pelayanan yang ditampilkan oleh petugas. Sikap dan perilaku yang baik oleh perawat sering dapat menutupi kekurangan dalam hal sarana dan prasarana.

Komunikasi yang dilakukan perawat dalam menyampaikan informasi sangat berpengaruh terhadap kepuasan pasien. Hasil penelitian didapatkan bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien. Perawat merupakan kunci yang dapat mempengaruhi kepuasan pasien, hal ini disebabkan karena

(32)

seringnya interaksi antara perawat dan pasien selama menjalani masa perawatan. Salah satu hal yang dilakukan perawat dalam menjaga kerjasama yang baik dengan pasien dalam membantu memenuhi kebutuhan kesehatan pasien, maupun dengan tenaga kesehatan lain dalam rangka membantu mengatasi masalah pasien adalah dengan berkomunikasi. Dengan berkomunikasi perawat dapat mendengar perasaan pasien dan menjelaskan prosedur tindakan keperawatan (Mundakir, 2006).

Pada penelitian ini terdapat perbedaan hasil antara survey awal yang dilakukan peneliti sebelum dilakukan penelitian dengan hasil penelitian. Berdasarkan survey awal yang dilakukan peneliti pada bulan Juli 2015 di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja terdapat 17 pasien dari 25 pasien mengatakan “kurang puas” dengan komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh perawat. Hal ini berbanding terbalik dengan hasil penelitian yang dilakukan pada bulan Mei-Agustus 2016, dimana pasien menyatakan “puas” dengan komunikasi perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja. RSUD Jogja pada tahun 2016 sedang mempersiapkan akreditasi untuk

(33)

mencapai akreditasi yang paripurna. RSUD Jogja mengadakan pelatihan pit stop dan evaluasi di setiap unit termasuk di Instalasi Gawat Darurat. Inilah salah satu faktor yang meningkatkan komunikasi terapeutik perawat terhadap kepuasan pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jogja.

Gambar

Tabel 4.2 Uji Validitas pada Tahap Kerja  Tahap Kerja
Tabel 4.3 Uji Validitas pada Tahap Terminasi  Tahap Terminasi
Tabel 4.7 Tingkat Pendidikan Responden
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Komunikasi  Terapeutik pada Tahap Orientasi  Penilaian pada Tahap
+7

Referensi

Dokumen terkait

4.3.2.3 Hubungan Iklan dengan Perilaku Merokok Hasil analisis data menunjukkan 158 responden (44,3%) menyatakan iklan dalam kategori kuat akan tetapi responden tidak

Hasil penelitian menunjukkan alasan responden merokok paling banyak karena pengaruh lingkungan sosial mencapai 44 responden (49,4%), sama halnya dengan hasil dari

Alasan pengguna Inez karena kualitas produk yang baik sesuai dengan hasil survey untuk prioritas utama responden dalam memilih produk kosmetik.. Tabel Demografi Responden

Berdasarkan tabel 4.4 sesudah dilakukan penyuluhan, hasil menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan jawaban yang benar oleh responden, seperti pernyataan fovourable nomor

Menurut asumsi peneliti, perawat vokasional dan perawat profesional memiliki kategori terampil dalam pemasangan infus karena pada tahap implementasi mayoritas perawat sudah

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti mengenai komunikasi visual foto pernikahan pada akun instagram Iris Moment Semarang menunjukkan

Menurut keterangan pada tabel 4.2, disimpulkan bahwa dari 69 tanggapan responden menunjukkan responden dalam penelitian ini didominasi mahasiswa program studi MBS

Tingkat kemampuan komunikasi mahasiswa berdasarkan aspek empati Hasil penelitian berdasarkan persentase penilaian responden terhadap kemampuan keterampilan komunikasi dalam