1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia memiliki lebih kurang 30.000 species tumbuhan, dimana 940 species di antaranya termasuk tumbuhan berkhasiat obat (Pramono, 2002). Dari jumlah tersebut, 180 jenis telah dimanfaatkan oleh industri jamu tradisional. Kenyataan tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang untuk menggali dan mengembangkan jenis tumbuhan obat potensial lainnya khususnya tumbuhan yang memiliki khasiat obat untuk mengurangi resiko terjangkit penyakit degeneratif dan metabolik. Penggunaan tumbuhan ini diyakini telah dilakukan secara tradisional namun tidak terdokumentasi secara baik. Beberapa diantaranya bahkan disampaikan secara turun temurun dengan menggunakan bahasa verbal. Kenyataan tersebut juga menunjukkan potensi Indonesia yang sangat besar sebagai pasar obat herbal dan fitofarmaka. Materi tumbuhan ini umumnya bersumber dari hutan atau sebagian kecil telah dibudidayakan sebagai apotek hidup dihalaman perkarangan.
Merujuk pada data tutupan lahan tahun 1985 dan 2011 (Gambar 1), pulau Sumatera telah kehilangan lebih dari 50% tutupan hutannya. Di Sumatera Bagian Selatan, jumlah luas tutupan hutan alam tersisa sebesar 3,5 juta ha, 43%-nya berada di Kawasan Konservasi. Berkurangnya jumlah hutan telah mengakibatkan berkurangnya habitat tumbuh tumbuhan hutan, termasuk didalamnya tumbuhan berkhasiat obat.
Berkurang jumlah luas hutan dan minimnya dokumentasi tentang jenis, penggunaan, manfaat dan keamanan obat menyebabkan potensi dan pengetahuan tentang tumbuhan berkhasiat obat generatif dan metabolik ini menurun dan terancam punah. Upaya pendokumentasian jenis, manfaat dan penelitian lanjutan (kajian secara ilmiah) tentang kandungan bahan aktif, khasiat dan pemanfaatan secara medical maupun upaya budidaya dan pengembangan terhadap beberapa jenis unggulannya perlu dilakukan agar diperoleh obat tradisional yang bermutu tinggi, aman dan memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah dan dimanfaatkan secara luas, baik untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun digunakan dalam pelayanan kesehatan formal.
2
Gambar 1. Tutupan hutan tahun 1985 dan 2011 (Rain Forest, 2015)
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya tahun 2015 dan 2016 ditetapkan lima jenis tumbuhan berkhasiat obat degeneratif metabolik yang diprioritaskan untuk diteliti lebih lanjut sampai tahun 2019, yaitu pelawan (Tristaniopsis spp.), medang sahang (Neolitsea sp.), kapung (Oroxylum indicum), kayu salai (Glochidion sericeum) dan bungur (Lagerstroemia speciosa). Pemlihan jenis ini berdasarkan beberapa kriteria, yaitu merupakan jenis lokal sumatera bagian selatan, kandungan bahan aktifnya cukup tinggi, keberadaannya di alam sudah sangat menurun dan upaya budidayanya masih sangat terbatas. Kapung (O. indicum) merupakan salah satu jenis tanaman yang terancam punah (endangered) karena hampir semua bagian tanaman ini sering digunakan sebagai obat-obatan atau fungsi lain tetapi tidak diikuti dengan budidaya (Setyowati dan Wardah, 2007).
Berikut pada Gambar 2 ditampilkan pohon masalah yang meng-gambarkan kebutuhan IPTEK berkenaan dengan Tumbuhan berkhasiat Obat Degenatif dan Metabolik di Sumatera Bagian Selatan. Selanjutnya Tumbuhan berkhasiat Obat Degeneratif dan Metabolik disingkat dengan TODM.
3
Gambar 2. Konsep berpikir dalam merumuskan kebutuhan IPTEK berkenaan dg TODM (pohon masalah)
Berdasarkan kebutuhan tersebut, berikut pada Gambar 3 ditampilkan pohon solusi sebagai konsep berpikir untuk merumuskan tujuan, sasaran, kegiatan dan luaran serta dampak dari RPPI Penelitian Tumbuhan berkhasiat Obat Degenatif dan Metabolik di Sumatera Bagian Selatan.
4
Gambar 3. Konsep berpikir dalam merumuskan tujuan, sasaran dan luaran penelitian TODM (pohon solusi)
C. Tujuan dan Sasaran Penelitian
Tujuan penelitian yang ingin dicapai sampai tahun 2019 adalah sebagai berikut: Menyediakan data dan informasi tentang kandungan bahan aktif, khasiat dan teknik budidaya lima jenis tumbuhan obat berkhasiat degeneratif metabolik (TODM) dan potensi pengembangannya di Sumatera Selatan.
Sasaran dari kegiatan penelitian tahun 2019 ini adalah:
1. Menyediakan data dan informasi pertumbuhan dan produktivitas biomassa daun pelawan, kayu salai, dan medang sahang pada berbagai konsentrasi pupuk
2. Menyediakan data dan informasi kandungan tanin, flavonoid dan saponin secara kuantitatif pada daun pelawan, kayu salai, dan medang sahang pada berbagai konsentrasi pupuk
5 D. Hipotesis
1. Konsentrasi pupuk berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktivitas biomassa daun pelawan, kayu salai, dan medang sahang
2. Konsentrasi pupuk juga berpengaruh terhadap kandungan tanin, flavonoid dan saponin pada daun pelawan, kayu salai, dan medang sahang yang berkhasiat sebagai obat antidiabetes dan antikolesterol
E. Luaran
1. Data dan informasi pertumbuhan dan produktivitas biomassa daun pelawan, kayu salai, medang dan bungur pada berbagai konsentrasi pupuk NPK 2. Data dan Informasi kandungan tanin, flavonoid dan saponin secara
kuantitatif pada daun pelawan, kayu salai, medang dan bungur pada berbegai konsentrasi pupuk NPK
F. Manfaat dan Dampak
Semua luaran akan dipublikasikan dalam beberapa outcome, diantaranya jurnal, info teknis, prosiding dan buku. Informasi dan pengetahuan yang disampaikan diharapkan memberi manfaat dan dampak:
1. Memberikan kontribusi dalam upaya pembukuan pengetahuan tentang kekayaan dan pemanfaatan tradisional tumbuhan obat di Indonesia,
2. Menjadi sumber rujukan dalam upaya konservasi jenis, pengembangan farmasi bersumber herbal dan etnobotani TODM, khususnya di sub regional Sumatera bagian Selatan
Manfaat dan dampak yang disasar adalah mempopulerkan penggunaan obat herbal dari jenis temuan yang potensial dari aspek medik, budidaya dan ekonomi.
6
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teoritis
1. Tumbuhan Obat
Menurut Hamid et al (1991) dalam Putro (2008), tumbuhan obat adalah semua tumbuhan, baik yang sudah ataupun yang belum dibudidayakan yang dapat digunakan sebagai obat, berkisar dari yang terlihat mata hingga yang nampak dibawah mikroskop. Menurut Zuhud et al (1994) dalam Putro (2008), tumbuhan obat adalah seluruh species tumbuhan obat yang diketahui atau dipercaya mempunyai khasiat obat yang dikelompokkan menjadi:
a. Tumbuhan obat tradisional, yaitu species tumbuhan obat yang diketahui atau dipercaya oleh masyarakat mampunyai khasiat obat dan telah digunakan sebagai bahan baku obat tradisional
b. Tumbuhan obat modern, yaitu species tumbuhan yang secara ilmiah telah dibuktikan mengandung senyawa atau bahan bioaktif yang berkhasiat obat dan penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan secara medis
c. Tumbuhan obat potensial, yaitu species tumbuhan obat yang diduga mengandung senyawa atau bahan aktif yang berkhasiat obat, tetapi belum dibuktikan secara ilmiah atau media atau penggunaannya sebagai obat tradisional sulit ditelusuri
Sedangkan Departemen Kesehatan RI mendefenisikan tanaman obat Indonesia seperti yang tercantum dalam SK Menkes No. 149/SK/Menkes/IV/1978, yaitu :
a. Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional atau jamu.
b. Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan pemula bahan baku obat (precursor).
c. Tanaman atau bagian tanaman yang diekstraksi dan ekstrak tanaman tersebut digunakan sebagai obat.
Sejalan dengan perkembangan industri jamu, obat herbal, fitofarmaka dan kosmetika tradisional juga mendorong berkembangnya budidaya tanaman obat di
7
Indonesia. Selama ini upaya penyediaan bahan baku untuk industri obat tradisional sebagian besar berasal dari tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di alam liar atau dibudidayakan dalam skala kecil di lingkungan sekitar rumah dengan kuantitas dan kualitas yang kurang memadai. Maka perlu dikembangkan aspek budidaya yang sesuai dengan standart bahan baku obat tradisional.
Penggunaan bahan alam sebagai obat cenderung mengalami peningkatan dengan adanya isu back to nature dan krisis berkepanjangan yang mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat terhadap obat-obat modern yang relatif lebih mahal harganya. Obat bahan alam juga dianggap hampir tidak memiliki efek samping yang membahayakan, tidak seperti obat kimia, misalnya antioksidan sintetis yang dapat menimbulkan penyakit kanker (Barus, 2009). Pendapat itu belum tentu benar karena untuk mengetahui manfaat dan efek samping obat tersebut secara pasti perlu dilakukan penelitian dan uji praklinis dan uji klinis.
Obat bahan alam Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu jamu yang merupakan ramuan tradisional yang belum teruji secara klinis, obat herbal yaitu obat bahan alam yang sudah melewati tahap uji praklinis, sedangkan fitofarmaka adalah obat bahan alam yang sudah melewati uji praklinis dan klinis (SK Kepala BPOM No. HK.00.05.4.2411 tanggal 17 Mei 2004).
Penyebaran informasi mengenai hasil penelitian dan uji yang telah dilakukan terhadap obat bahan alam harus menjadi perhatian bagi semua pihak karena menyangkut faktor keamanan penggunaan obat tersebut. Beberapa hal yang perlu diketahui sebelum menggunakan obat bahan alam adalah keunggulan dan kelemahan obat tradisional dan tanaman obat.
Keunggulan obat bahan alam antara lain :
a. Efek samping obat tradisional relatif lebih kecil bila digunakan secara benar dan tepat, baik tepat takaran, waktu penggunaan, cara penggunaan, ketepatan pemilihan bahan, dan ketepatan pemilihan obat tradisional atau ramuan tanaman obat untuk indikasi tertentu.
b. Adanya efek komplementer dan atau sinergisme dalam ramuan obat/komponen bioaktif tanaman obat. Dalam suatu ramuan obat tradisional umumnya terdiri dari beberapa jenis tanaman obat yang memiliki efek saling mendukung satu sama lain untuk mencapai efektivitas pengobatan.
8
Formulasi dan komposisi ramuan tersebut dibuat setepat mungkin agar tidak menimbulkan efek kontradiksi, bahkan harus dipilih jenis ramuan yang saling menunjang terhadap suatu efek yang dikehendaki.
c. Pada satu tanaman bisa memiliki lebih dari satu efek farmakologi. Zat aktif pada tanaman obat umumnya dalam bentuk metabolit sekunder, sedangkan satu tanaman bisa menghasilkan beberapa metabolit sekunder, sehingga memungkinkan tanaman tersebut memiliki lebih dari satu efek farmakologi. d. Obat tradisional lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan
degeneratif. Untuk mengobati penyakit-penyakit tersebut diperlukan waktu lama sehingga penggunaan obat alam lebih tepat karena efek sampingnya relatif lebih kecil.
Di samping keunggulannya, obat bahan alam juga memiliki beberapa kelemahan yang juga merupakan kendala dalam pengembangan obat tradisional antara lain : efek farmakologisnya lemah, bahan baku belum terstandar dan bersifat higroskopis serta volumines, belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai mikroorganisme.
Upaya-upaya pengembangan obat tradisional dapat ditempuh dengan berbagai cara dengan pendekatan-pendekatan tertentu, sehingga ditemukan bentuk obat tradisional yang telah teruji khasiat dan keamanannya, bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah serta memenuhi indikasi medis, yaitu kelompok obat fitoterapi atau fitofarmaka. Untuk mendapatkan produk fitofarmaka harus melalui beberapa tahap (uji farmakologi, toksisitas dan uji klinik) hingga bisa menjawab dan mengatasi kelemahan tersebut.
2. Penyakit Metabolik dan Degeneratif
Penyakit degeneratif metabolik adalah penyakit yang muncul akibat proses kemunduran fungsi sel tubuh yaitu dari keadaan normal menjadi lebih buruk atau penyakit yang mengiringi proses penuaan/terjadi seiring bertambahnya umur dan penyakit yang berkaitan dengan metabolisme tubuh/produksi energi di dalam sel
manusia. Kebanyakan penyakit degeneratif metabolik adalah penyakit genetik
atau penyakit keturunan, meski sebagian di antaranya disebabkan makanan, racun, infeksi, dan sebagainya. Beberapa contoh penyakit yang termasuk penyakit
9
degeneratif metabolik antara lain diabetes (kencing manis), jantung, hiperlipidemia (kolesterol tinggi), asam urat, batu ginjal, stroke, rematik, tukak lambung, harmorrhoid (ambeian/wasir), hepatitis dan hipertensi.
Sebagian besar tumbuhan telah banyak menarik perhatian para ilmuan untuk diteliti manfaatnya untuk pengobatan berbagai penyakit matabolik dan degeneratif, salah satu contoh dari kelompok penyakit ini yang sangat populer adalah penyakit diabetes (kencing manis). Penyakit ini menempati urutan ke empat dalam prioritas penelitian penyakit degeneratif secara nasional (Rimbawan dan Siagian, 2004).
Selama ini pengobatan penyakit diabetes menggunakan obat oral atau suntikan insulin, namun obat oral ini kebanyakan memberikan efek samping yang tidak diinginkan. Oleh sebab itu para ahli mulai mengembangkan sistem pengobatan tradisional yang relatif aman. Namun pengobatan tradisional dengan menggunakan tanaman obat kadang hanya berdasarkan pengalaman atau secara empiris saja, belum didukung dengan adanya penelitian, uji klinis dan farmakologinya, misalnya krambilan (Biophytum sensitivum), untuk obat darah tinggi, suruhan (Peperomia pellusida) untuk obat asam urat, petut kuda (stachypheta jamaicensis) untuk obat darah tinggi, putri malu (Mimosa pudica) untuk obat asma, dandang gendis (Borreria laevis) untuk obat ginjal dan kencing batu, daun ungu (Graptophyllum pictum) untuk obat ambeian (Haya dan Iyos, 2016).
Selain jenis-jenis tumbuhan tersebut yang secara tradisional sudah dimanfaatkan masyarakat, di duga kuat masih banyak lagi jenis-jenis tumbuhan yang memiliki potensi sebagai bahan obat untuk penyakit degeneratif metabolik yang belum diteliti.
3. Metabolit Sekunder
senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan ditemukan dalam bentuk yang unik atau berbeda-beda antara spesies yang satu dan lainnya.[1] Setiap organisme biasanya menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang berbeda-beda, bahkan mungkin satu jenis senyawa metabolit sekunder hanya ditemukan pada satu spesies dalam suatu kingdom. Senyawa ini
10
juga tidak selalu dihasilkan, tetapi hanya pada saat dibutuhkan saja atau pada fase-fase tertentu. Fungsi metabolit sekunder adalah untuk mempertahankan diri dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya untuk mengatasi hama dan penyakit, menarik polinator, dan sebagai molekul sinyal. Singkatnya, metabolit sekunder digunakan organisme untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Senyawa metabolit sekunder diklasifikasikan menjadi 3 kelompok utama, yaitu:
a. Terpenoid (Sebagian besar senyawa terpenoid mengandung karbon dan hidrogen serta disintesis melalui jalur metabolisme asam mevalonat). Contohnya monoterpena, seskuiterepena, diterpena, triterpena, dan polimer terpena.
b. Fenolik (Senyawa ini terbuat dari gula sederhana dan memiliki cincin benzena, hidrogen, dan oksigen dalam struktur kimianya). Contohnya asam fenolat, kumarina, lignin, flavonoid, dan tanin.
c. Senyawa yang mengandung nitrogen. Contohnya alkaloid dan glukosinolat.
4. Senyawa atau bahan aktif
Senyawa aktif atau bahan aktif merupakan senyawa atau bahan yang mempunyai aktivitas biologi terhadap organisme lain atau pada organisme yang menghasilkan senyawa tersebut. Pengetahuan tentang bahan aktif yang dikandung tumbuhan akan mempermudah untuk mempelajari cara kerja secara fisiologis dan farmakologis obat tradisional tersebut dalam tubuh. Bahan aktif yang terkandung dalam masing-masing tumbuhan banyak ragamnya dan dapat dikelompokkan, diantaranya adalah (Soedibyo, 1998):
a. Tanin
Tanin terdapat dalam bagian tanaman tertentu, seperti daun, buah, kulit kayu, dan batang. Pada buah yang muda sering terdapat tanin, kadar tanin menurun sejalan dengan menuanya buah. Tanin dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu: 1) Katekol, contoh: Gambir, dan 2) Pirogalotanin, contoh: Majakan. Tanin banyak dimanfaatkan sebagai obat keputihan, peradangan dan untuk melangsingkan tubuh serta diabetes. Kulit delima putih, majakan, gambir dan serbuk biji alpokat merupakan contoh bahan baku yang mengandung tanin.
11 b. Flavonoid
Flavonoid banyak terdapat pada tumbuhan. Selain berguna sebagai antiradang, zat ini terutama berguna dalam menjaga kesehatan. Rutin merupakan flavonoid yang banyak terdapat pada tanaman jeruk nipis, jeruk lemon dan bayam duri. Rutin bermanfaat untuk memperkuat dinding kapiler.
c. Glukosilonat
Glukosilonat terdapat pada tumbuhan yang termasuk dalam kelompok bumbu. Glukosilinat mempunyai efek iritasi pada kulit menyebabkan radang dan lepuh. Param yang mengandung zat ini digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri dan untuk meningkatkan peredaran darah sehingga sumbatan pada saluran darah dapat disingkitkan dan aliran darah diperlancar. Glukosilinat dapat juga mengurangi fungsi dari tiroid. Zat ini terdapat pada tanaman sunapis alba dan lobak
d. Glikosida Jantung
Glikosida jantung jarang digunakan untuk jamu karena beracun. Pada saat ini banyak dibutuhkan obat jantung, maka tanaman yang mengandung zat aktif glikosida jantung banyak diteliti. Sebagai contoh digutalis yang langsung berfungsi sebagai pada jantung memberi kekuatan bila jantung melemah. Glikosida jantung biasanya mempunyai sifat peluruh air seni (diuretik) yang berakibat menurunkan tekanan darah dan mengobati bengkak. Tanaman jure yang tumbuh di Indonesia belum banyak dimanfaatkan
e. Glikosida Sianogen
Dalam dosis berlebihan glikosida ini beracun karena mengandung ikatan sianida. Dalam dosis kecil zat ini mempunyai sifar sebagai sedatif dan sebagai relaksan jantung dan otot. Sengitan mengandung glikosida sianogen dan sering untuk pengobatan masuk angin (batuk). Singkong gendruwo yang pernah digunakan untuk obat kanker kemungkinan mengandung zat ini.
f. Vitamin
Vitamin merupakan zat esensial yang diperlukan tubuh manusia. Kekurangan vitamin akan mengganggu kesehatan. Vitamin sangat diperlukan oleh tubuh karena zat ini merupakan katalis dari suatu proses. Vitamin dari bahan alam
12
terdapat pada sayuran, buah-buahan, biji padi-padian, dan lain-lain. Vitamin ada beberapa macam, yaitu: vitamin A, B, C, D, E, F, K dan P.
5. Domestikasi dan Budidaya
Domestikasi merupakan pengadopsian tumbuhan dan hewan dari kehidupan liar ke dalam lingkungan kehidupan sehari-hari manusia. Tumbuhan dikatakan telah terdomestikasi apabila sejumlah penampilannya mengalami perubahan, misalnya perilaku, siklus hidup, dan penampakan luarnya akibat
pemuliaan selektif yang dilakukan oleh manusia selama beberapa generasi. Proses domestikasi tanaman berjalan lambat dan manusia secara tidak sengaja mengubah beberapa ciri fisik sehingga membuat tanaman semakin sesuai dengan penanganan yang dilakukan manusia.
Domestikasi sebagai proses perkembangan organisme yang dikontrol manusia, oleh Evans (1996) dinyatakan mencakup perubahan genetik (tumbuhan) yang berlangsung sinambung semenjak dibudidayakan. Dengan demikian, domestikasi berkaitan dengan seleksi dan manajemen oleh manusia, dan tidak hanya sekedar pemeliharaan saja. Spesies eksotik – organisme yang dipindahkan dari habitat aslinya ke wadah budidaya, karakteristik genetiknya terubah dengan maksud tertentu, atau sebaliknya, melalui sembarang pikatan pemeliharaan, seleksi dan manajemen genetik (Pullin, 1994). Dalam hal ini, mendomestikasi adalah menaturalisasikan biota ke kondisi manusia dengan segala kebutuhan dan kapasitasnya.
Dalam domestikasi tanaman, Evans (1996) mengungkapkan secara luas berbagai perubahan yang terjadi pada penampilan tumbuhan, mulai dari yang menyangkut retensi benih hingga ke isi DNA. Demikian halnya perubahan bentuk dan ukuran pada sejumlah tanaman, serta laju perkembangan dan pertumbuhannya. Lebih dari pada itu, sejumlah tumbuhan yang didomestikasi ternyata kehilangan substansi racun sebagai unsur proteksi alaminya terhadap hama dan penyakit. Tampaknya, perubahan-perubahan ini terpaut dengan penimbulan (mengefisiensi) dan penenggelaman (mendefesiensi) satu atau lebih unsur genetik seturut dengan faktor lingkungan budidaya yang dikenakan. Hal yang kemudian membuka peluang ke modifikasi genetik ini, antara lain ditandai
13
ketika tanaman tebu Saccharum officinarum disilangkan dengan S. spontaneum yang memiliki gen yang tahan atas penyakit sereh yang mewabah pada 1880.
B. Hasill Penelitian yang Pernah Dilakukan
Hasil penelitian yang telah dilakukan pada tahun 2015 dan 2016 diperoleh gambaran tentang potensi pengembangan tumbuhan obat untuk penyakit degeneratif metabolik di wilayah Sumatera Bagian Selatan sebagai bahan baku obat herbal dan telah terbangunnya plot uji coba dengan lima jenis tumbuhan berkhasiat obat degeneratif metabolik prioritas pada tahun 2017.
Berdasarkan hasil wawancara, survei dan eksplorasi serta hasil analisis data yang diperoleh dari sejumlah desa yang terdapat di berbagai provinsi di wilayah Sumatera Bagian Selatan, yaitu provinsi Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung dan Bangka Belitung, ditemukan sebanyak 238 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat lokal sebagai obat degeneratif metabolik. Dari 238 jenis tumbuhan obat tersebut telah ditetapkan 5 (lima) jenis tumbuhan berkhasiat obat degeneratif metabolik (TODM) yang diprioritaskan untuk diteliti dan dikembangkan lebih lanjut pada kegiatan tahun berikutnya. Penentuan prioritas ditentukan berdasarkan beberapa hal, yaitu jenis tumbuhan tersebut merupakan jenis lokal, kandungan bahan kimia aktif cukup tinggi, keberadaannya sudah langka dan banyak digunakan untuk berbagai penyakit termasuk penyakit degeneratif metabolik serta teknik perbanyakan dan budidayanya belum banyak dikuasai. Jenis TODM prioritas tersebut adalah kayu salai (Glochidion sericeum), pelawan (Tristaniopsis sp.), medang sahang (Neolitsea sp.) kapung (Oroxylum indicum) dan bungur (Lagerstroemia speciosa).
Pengetahuan lokal dan kearifan tentang pengobatan yang berbasisi tumbuhan diperoleh battra (pengobat tradisional) dari turun temurun dan mimpi yang disebut wahyu setelah melakukan sholat Tahajud di malam hari. Dalam melakukan pengobatan biasanya seorang Battra mengawali dengan bacaan Basmalah, Fatihah dan Sholawat Nabi serta ditambah “doa” yang berasal dari ayat-ayat Al Qur’an dan bahasa lokal. Doa ini tidak bisa beliau berikan kepada sembarang orang. Pada umumnya, pengobatan tradisional saat ini diposisikan sebagai pengobatan alternatif, karena sebagian besar yang telah melakukan
14 praktek pengobatan tradisional telah melakukan pengobatan medis terlebih dahulu, terutama untuk penyakit degeneratif metabolik.
Obat tradisional yang digunakan adalah tumbuhan yang berasal dari hutan dan kebun disekitar mereka. Jenis-jenis tumbuhan yang masih banyak dijumpai biasanya langsung diambil di hutan tetapi untuk jenis yang mulai sulit ditemukan, mereka mulai menanam dikebunnya. Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat umumnya terdapat di pekarangan rumah, kebun karet dan semak belukar serta kawasan.
Berdasarkan hasil survey dan eksplorasi 2 jenis TODM prioritas, yaitu kapung (O. indicum) dan medang sahang (Neolitsea sp.) mempunyai sebaran alami yang cukup luas di Sumbagsel, sedangkan 3 jenis lainnya yaitu kayu salai (G. sericeum), pelawan (Tristaniopsis sp.) dan bungur (L. speciosa) mempunyai daerah sebaran alami yang terbatas.
Berdasarkan hasil uji fitokimia secara kualitatif 5 jenis TODM prioritas mempunyai kandungan fitokimia yang tinggi pada berbagai sebaran alami (tempat tumbuh). Kondisi ini diduga dominan dipengaruhi oleh faktor genetik dari tanaman tersebut. Berdasarkan hasil uji perbanyakan 5 jenis TODM prioritas ini dapat dikembangkan baik secara generatif maupun vegetatif, namun secara generatif pertumbuhannya agak lambat.
C. Kajian Topik Terkait
Hasil-hasil penelitian yang terkait dengan potensi tumbuhan obat sudah banyak dilakukan, termasuk tumbuhan obat yang berkhasiat untuk penyakit degeneratif dan metabolik. Beberapa diantaranya adalah:
1. Beberapa tanaman yang telah dikaji secara ilmiah potensinya sebagai obat penyakit degeneratif dan metabolik, diantaranya kunyit (Curcuma domestica), tebu (Sacharum sp.) (Pramono dan Katno, 2002), keji beling (Strobilanthus crispus), kumis kucing (Orthosiphon stamineus), daun kecubung (Datura metel), biji alpokat (Persea americana), mahkota dewa (Phaleria macrocarpa), slederi (Apium graveolens) (Dalimartha, 2005)
15
2. Jenis tumbuhan obat ini prospektif untuk fitofarmaka (Pramono dan Katno, 2012). Hasil penelitian setiawan (2008); Hayashi et al. (2002); Hernawan et al. (2004); Husin (2011), menunjukkan bahwa kulit batang bungur dan daun bungur mengandung senyawa aktif tanin yang berkhasiat dapat menurunkan kadar gula darah. Biji alpukat juga mengandung tanin (Monica, 2006; Zuhrorun, 2007) yang berfungsi sebagai astringent yang dapat menurunkan kadar gula dalam darah.
3. Daun belimbing wuluh juga potensial untuk digunakan sebagai obat diabetes karena hasil laporan Sa’adah (2010) menunjukkan bahwa daun belimbing wuluh yang dilarutkan dengan pelarut aseton positif mengandung tanin. 4. Terdapat sekitar 265 jenis tumbuhan yang telah dimanfaatkan masyarakat
lokal di Sumatera Bagian Selatan sebagai obat penyakit degeneratif metabolik (Asmaliyah et al., 2009 dan 2010), diantaranya manggis, mengkudu dan sisrsak yang sudah sangat dikenal khasiatnya sebagai obat
5. Aplikasi pupuk P yang dikombinasi dengan mikroriza dosis 39 g/pot dapat meningkatkan kandungan bahan aktif pada simplisia Purwoceng (Pimpinella pruatjan) (Djazuli, 2011).
6. Aplikasi pupuk dasar berupa pupuk kandang sebanyak 20 ton/ha, dengan aplikasi pupuk P sebanyak 200 kg per hektar dikombinasikan dengan pupuk P2O5 sebanyak 100 kg per hektar dapat meningkatkan produktivitas simplisia dan kandungan bahan aktif Andrographolide pada simplisia sambiloto (Andrographis paniculata) (Mariani dan Junaedi, 2010).
16
III. METODOLOGI
A. Ruang Lingkup
Ruang lingkup kegiatan penelitian tahun 2019 adalah: 1) Pengamatan pertumbuhan dan produktivitas biomassa daun pelawan, kayu salai, medang dan bungur pada berbagai konsentrasi pupuk NPK dan 2) Analisis kandungan tanin, flavonoid dan saponin pada daun pelawan, kayu salai, medang dan bungur pada berbagai konsentrasi pupuk NPK
B. Bahan dan Peralatan
Bahan dan digunakan dalam penelitian ini adalah tegakan dan simplisia pelawan, kayu salai, medang dan bungur, kantong plastik hitam, pupuk NPK, herbisida, kertas saring, tali rafia dan bahan-bahan kimia yaitu akuades, aluminium foil, etanol 95%, vanilin 4%, HCl pekat, dietil eter, reagen Folin Ciocalteu 50%, Na2CO3 2 % dan 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH) serta
tallysheet. Sedangkan alat yang digunakan adalah alat-alat gelas, spektrofotometer, sudip, batang pengaduk, magnetik stirer, mikro pipet, pipet mohr, vortex mixer, evaporator, sprayer, timbangan analitik, ayakan 65 mesh, oven, desikator dan parang.
C. Lokasi Penelitian
Rencana lokasi penelitian untuk kegiatan pengujian pemupukan dilakukan di KHDTK Kemampo, kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, sedangkan untuk pengujian kandungan senyawa aktif secara kuantitatif akan dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Bogor.
D. Metode Pelaksanaan Penelitian
Uji coba pemupukan dilakukan pada masing-masing populasi dengan menggunakan pupuk NPK (15:15:15). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan perlakuan yang diterapkan berupa pemupukan yang terdiri dari 4 taraf pemupukan yaitu 0gr (kontrol), 25gr, 50gr
17
dan 75gr. Setiap perlakuan dulang 3 kali. Pemupukan tahap kesatu dilakukan pada saat 1 minggu setelah tanam. Pemupukan dilakukan dengan cara di taburkan di sekeliling pangkal batang dengan jarak + 25cm dari pangkal batang atau dilakukan dengan cara sistem tugal. Pemupukan tahap kedua dilakukan pada tahun 2018. Parameter pengamatan berupa pertumbuhan tanaman, produktivitas biomassa, kandungan hara makro dan mikro pada daun dan kandungan tanin.
1. Pengamatan Pertumbuhan Tanaman dan Produktivitas biomassa
Pengamatan pertumbuhan tahun 2019 ini merupakan pengamatan pertumbuhan tahun kedua, meliputi pengukuran tinggi dan diameter batang. Sedangkan untuk pengukuran produktivitas biomassa merupakan pengukuran pertama karena pada tahun 2018 (umur tanaman 1 tahun) belum bisa dilakukan pengambilan biomassa daun disebabkan pertumbuhan tanaman tidak memadai dan jumlah daun pada setiap tanaman masih sangat sedikit. Pengukuran produktivitas biomassa ditentukan dengan menggunakan metode penuaian yang ditentukan berdasarkan berat pertumbuhan dan dapat dinyatakan secara langsung berat keringnya. Caranya adalah dengan memotong bagian daun yang ada dipermukaan tanah. Bagian daun tersebut kemudian dimasukkan dalam kantong kertas, selanjutnya dikeringkan dalam oven. Setelah kering konstan daun ditimbang kembali.
2. Analisis Kandungan Fitokimia a. Preparasi Sampel
Daun yang diperoleh dari plot uji coba dibersihkan lalu dikering anginkan selama 1-3 minggu dalam keadaan gelap pada suhu kamar. Setelah kering sampel kemudian diblender dengan blender komersil hingga menjadi serbuk atau tepung dan diayak dengan menggunakan ayakan berukuran 65 mesh.
b. Penentuan Kandungan Total Tanin
Kandungan total tanin dideterminasi dengan metode Chanwitheesuk et al. (2004) yang sedikit dimodifikasi dalam Malangngi et al. (2012). Sebanyak 5 g serbuk sampel diekstraksi dengan 100 ml dietil eter selama 20 jam, kemudian disaring dan residu yang diperoleh dididihkan dengan 100 ml akuades selama 2
18
jam, kemudian didinginkan dan disaring. Ekstrak yang diperoleh ditambahkan akuades hingga volume ekstrak 100 ml. Sebanyak 0,1 ekstrak ditambahkan dengan 0,1 ml reagen Folin Ciocalteu dan divortex, ditambahkan dengan 2 ml Na2CO3 dan divortex lagi. Absorbansi dibaca pada גּ 760 nm setelah diinkubasi
selama 30 menit pada suhu kamar. Hasil yang diperoleh diplotkan terhadap kurva standar asam tanat yang dipersiapkan dengan cara yang sama. Kandungan total tanin dinyatakan dalam persen. Setiap perlakuan diulang 3 kali.
c. Penentuan Kandungan Total Flavonoid
Kandungan total flavonoid diidentifikasi dengan metode Aluminium chloride (AlCl3) menggunakan quercetin sebagai standar. Sebanyak 1 ml ekstrak
dan 4 ml air dimasukkan kedalam labu ukur (volume 10 ml), lalu divorteks. Setelah 5 menit ditambahkan 0,3 ml Natrium nitrit (NaNO3) 5%, 0,3 ml AlCl3
10%, kemudian diinkubasikan pada suhu ruang. Setelah 6 menit, kedalam campuran tersebut ditambahkan lagi 2 ml Natrium hidroksida (NaOH) 1 M. Segera volume akhir dibuat sebanyak 10 ml dengan air suling lalu absobansi diukur dan dibaca dalam spektrofotometer pada גּ 510 nm. Tiap percobaan diulang tiga kali dan kandungan total flavonoid dinyatakan dalam persen (%) dalam ekstrak daun (Devanaboyina et al., 2013).
d. Penentuan Kandungan Total Saponin
Ekstrak daun dilarutkan dalam metanol 80%, sebanyak 2 ml Vanillin ditambahkan, dicampur secara merata, kemudian ditambahkan lagi 2 ml larutan asam sulfat 72%, dicampur sampai merata, kemudian dipanaskan pada water bath dengan suhu 600oC selama 10 menit. Absorbansi kemudian dibaca dalam reagent pada גּ 544 nm. Setiap perlakuan diulang tiga kali dan dinyatakan dalam persen (%) saponin dalam ekstrak (Devanaboyina et al., 2013).
E. Analisa Data
Analisis data pertambahan pertumbuhan dan produktivitas biomassa serta kandungan tanin, flavonoid dan saponin menggunakan analisis variansi (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan untuk melihat perbedaan nyata antar perlakuan pemupukan
19
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman pelawan (Tristaniopsis spp.), kayu salai (Glochidion sericeum), medang (Neolitsea sp.) dan bungur (Lagerstroemia speciosa), produktivitas biomassa daun dan analisis fitokimia secara kuantitatif dapat dilihat dibawah ini. Analisis fitokimia
1. Pelawan (Tristaniopsis spp.)
Pertumbuhan tanaman pelawan di KHDTK Kemampo pada umur 2 (dua) tahun mempunyai rerata pertumbuhan tinggi sebesar 168,48cm dan pertumbuhan diameter sebesar 1,68cm dan nilai rendemen biomassa daun sebesar 86,55%. Hasil uji coba pemupukan pada tanaman pelawan terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1. Tabel analisis sidik ragam pengaruh pemupukan terhadap pertumbuhan dan rendemen biomassa daun pelawan serta rerata pertumbuhan.
Sumber Variasi Variabel Pengamatan
Tinggi Diameter Rendemen
Replikasi 968,82Ns 1,45Ns 368,77** Provenan 25320,79** 8,49** 936,59** Jebus 150,75 b 1,58 b 74,12b Belinyu 175,33 a 2,10 a 98,12a Prabumulih 180,07 a 1,44b 90,22a Dosis 10069,18Ns 1,05 Ns 116,47 Ns 0(kontrol) 165,12 1,58 89,10 1 (25 gr) 164,15 1,78 85,97 2 (50 gr) 185,39 1,78 79,55 3 (75 gr) 159,32 1,56 89,60 Rep*dosis 3131,59 Ns 0,64 Ns 5,55** Galat 3982,46 0,53 38,66
20
Hasil analisis sidik ragam pertumbuhan tanaman pelawan di KHDTK Kemampo hasil dari uji coba pemupukan di dapatkan rerata pertumbuhan tinggi, diameter dan rendemen biomassa daun yang di dapatkan dengan nilai yang tidak berbeda nyata diantara perlakuan dosis pemupukan.
Rerata pertumbuhan tinggi, diameter dan rendemen mempunyai nilai yang berbeda nyata diantara provenan (asal bibit) tanaman. Pertumbuhan tinggi tanaman terbaik terdapat pada pelawan yang berasal dari Prabumulih (180,07cm) yang mempunyai nilai yang tidak berbeda nyata dengan tanaman pelawan dari Belinyu (175,33cm). Sedangkan pertumbuhan diameter dan rendemen biomassa tanaman terbaik terdapat pada tanaman yang berasal dari Belinyu dengan nilai rerata berturut-turut sebesar 2,10cm dan 98,12%. Tanaman pelawan yang berasal dari Belinyu (Bangka) mempunyai pertumbuhan yang baik ketika di tanam di KHDTK Kemampo. Di duga kuat bahwa tanaman tersebut mempunyai pola adaptasi yang tinggi terhadap kondisi ekologi di KHDTK Kemampo. Tanaman yang berasal dari Prabumulih mempunyai urutan kedua kecocokan pertumbuhan tanaman bilamana di tanam di KHDTK Kemampo, namun hal ini tidaklah mengherankan karena memang kondisi lokasi di Prabumulih mempunyai ekologi yang sama dengan kondisi ekologi di KHDTK Kemampo karena memang kedua lokasi tersebut masih berada di wilayah Sumatera Selatan.
Data hasil analisis kandungan kimiawi tanaman (flavonoid) dilakukan analisis korelasi untuk mengetahui hubungan potensi kandungan kimiawi tanaman dengan dosis pemupukan yang di uji cobakan (Tabel 2)
Tabel 2. Analisis korelasi antara dosis pupuk yang diaplikasikan dengan kandungan kimia yang terdapat dalam tanaman pelawan setiap dosis pemupukan.
Kandungan Fitokimia
Dosis Pupuk Quersetin (%) Saponin (%) Tanin (%)
0 (Kontrol) 1,15 0,75 14,35
25 gr 1,22 1,04 12,86
50 gr 1,25 1,22 12,86
75 gr 1,26 1,07 16,78
21
Gambar 4. Grafik dosis pupuk dan kandungan kimiawi Quersetin, Saponin dan Tanin pada tanaman pelawan di KHDTK Kemampo
Hasil analisis korelasi diantara dosis pemupukan dengan kandungan kimiawi (flavonoid) tanaman di dapatkan hasil tidak adanya korelasi yang nyata diantara keduanya. Artinya tidak ada pengaruh penambahan pupuk terhadap kuantitas flavonoid yang ada.
2. Kayu Salai (Glochidion sericeum)
Pertumbuhan tanaman kayu salai di KHDTK Kemampo umur 2 (dua) tahun mempunyai rerata pertumbuhan tinggi sebesar 238,88cm, pertumbuhan diameter sebesar 3,31 cm dan rerata rendemen biomassa daun tanaman adalah sebesar 52,7%. Hasil analisis sidik ragam pengaruh dosis pemupukan terhadap pertumbuhan tinggi, diameter dan rendemen biomassa daun tanaman kayu salai terdapat pada Tabel 3.
22
Tabel 3. Hasil analisis sidik ragam pengaruh dosis pupuk NPK terhadap pertumbuhan tanaman kayu salai
Sumber Variasi Variabel Pengamatan
Tinggi Diameter Rendemen
Replikasi 17575,14Ns 352,21Ns 96,74Ns Asal Bahan 4173,27 Ns 113,94 Ns - Biji 247,79 34,65 Stek 230,10 31,73 Dosis 8929,45Ns 251,47 Ns 106,71Ns 0(kontrol) 197,75 26,19 59,30 1 (25 gr) 240,93 34,71 47,57 2 (50 gr) 250,60 36,11 50,10 3 (75 gr) 257,31 33,96 58,50 Rep*dosis 14715,71 Ns 528,16 Ns - Galat 3982,46 0,53 140,60
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwasanya asal bahan pertanaman dan dosis pemupukan tidak memberikan nilai yang berbeda nyata pada variabel tinggi, diameter dan rendemen biomassa daun tanaman kayu salai. Hasil ini mempunyai nilai yang sama dengan jenis tanaman pelawan yang telah di bahas sebelumnya. Hasil analisis korelasi antara dosis pemupukan dengan kandungan fitokimia tanaman kayu salai terdapat pada Tabel 4.
Tabel 4. Analisis korelasi antara dosis pupuk yang diaplikasikan dengan kandungan kimia yang terdapat dalam tanaman kayu salai setiap dosis pemupukan.
Kandungan Fitokimia
Dosis Pupuk Quersetin (%) Saponin (%) Tanin (%)
0 (Kontrol) 1,07 0,64 13,77
25 gr 1,03 0,54 13,88
50 gr 1,09 0,75 12,26
75 gr 1,12 0,94 12,11
23
Gambar 5. Grafik dosis pupuk dan kandungan kimiawi Quersetin, Saponin dan Tanin pada tanaman kayu salai di KHDTK Kemampo
Hasil analisis korelasi pada Tabel 4 nampak bahwa tidak ada hubungan (korelasi) antara kandungan kimiawi tanaman (Fitokimia) dengan dosis pemupukan NPK. Hasil ini juga mengindikasikan bahwa fitokimia tanaman kayu salai tidak mutlak dipengaruhi oleh kondisi unsur hara tanah (N, P dan K), namun terdapat faktor lain yang mempengaruhi kondisi kimiawi tanaman (fitokimia).
3. Medang Sahang (Neolitsea sp.)
Pertumbuhan tanaman medang sahang di KHDTK Kemampo pada umur 2 (dua) tahun mempunyai rerata pertumbuhan tinggi sebesar 173,75cm dan pertumbuhan diameter sebesar 2,82cm serta rendemen biomassa daun tanaman sebesar 63,68%. Hasil analisis sidik ragam pertumbuhan diameter,tinggi dan rendemen biomassa daun tanaman medang sahang terdapat pada Tabel 5.
24
Tabel 5. Analisis sidik ragam pengaruh dosis pemupukan terhadap pertumbuhan diameter, tinggi dan rendemen biomassa daun tanaman medang sahang.
Sumber Variasi Variabel Pengamatan
Tinggi Diameter Rendemen
Replikasi 37359,08** 1638,22** 747,62** Dosis 4092,32Ns 244,35 Ns 327,56 Ns 0(kontrol) 141,83 21,85 69,75 1 (25 gr) 117,04 18,60 81,80 2 (50 gr) 144,26 25,15 48,30 3 (75 gr) 126,29 18,32 54,90 Rep*dosis 5662,05 Ns 87,61 Ns - Galat 3028,55 126,85 23,05
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwasanya pertumbuhan tinggi, diameter dan rendemen biomassa daun mempunyai nilai yang berbeda tidak nyata. Hal ini mengindikasikan bahwasanya penambahan pupuk NPK tidak memberikan pengaruh pada pertumbuhan tanaman medang sahang. Hasil analisis korelasi antara dosis pemupukan NPK dengan kandungan fitokimia tanaman terdapat pada Tabel 6.
Tabel 6. Analisis korelasi antara dosis pupuk yang diaplikasikan dengan kandungan kimia yang terdapat dalam tanaman medang sahang setiap dosis pemupukan.
Kandungan Fitokimia
Dosis Pupuk Quersetin (%) Saponin (%) Tanin (%)
0 (Kontrol) 0,91 0,96 6,07
25 gr 1,2 1,06 6,2
50 gr 0,83 0,76 5,71
75 gr 1,02 0,99 7,14
25
Gambar 6. Grafik dosis pupuk dan kandungan kimiawi Quersetin, Saponin dan Tanin pada tanaman medang sahang di KHDTK Kemampo
Hasil analisis korelasi antara dosis pemupukan dengan fitokimia tanaman medang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kenaikan dosis pemupukan dengan kandungan fitokimia tanaman medang sahang. Hal ini mengindikasikan bahwasanya kandungan fitokimia tanaman tidak mutlak dipengaruhi oleh kandungan kimiawi tanah khususnya unsur hara N, P dan K. Di duga terdapat faktor lain yang lebih berpengaruh terhadap kandungan kimiawi tanaman medang sahang.
4. Integrasi Hasil Fitokimia Tanaman Biofarmaka di KHDTK Kemampo
Data dan Informasi di atas menyebutkan bahwasanya tidak terdapat pengaruh yang nyata dalam pemberian pemupukan NPK terhadap pertumbuhan tinggi, diameter, rendemen biomassa daun tanaman serta kandungan kimiawi (Fitokimia) tanaman. Masing-masing jenis tanaman mempunyai keunggulan yang spesifik pada suatu komponen kimia tertentu.
Penanaman jenis tanaman pelawan merah, kayu salai dan medang sahang pada lokasi yang sama bisa digunakan sebagai acuan pengembangan jenis terpilih untu skala produksi di wilayah KHDTK Kemampo dan Sumatera Selatan Khususnya. Jenis tanaman pelawan merah mempunyai kandungan Quersetin, Saponin dan Tanin yang tertinggi bila dibandingkan jenis tanaman lainnya. Jenis pelawan ini sangat prospektif untuk dikembangkan dalam skala operasional sebagai bahan fitofarmaka khususnya untuk obat antidiabetes. Selain pelawan jenis kayu salai juga mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan sebagai bahan fitofarmaka untuk obat antidiabetes karena mempunyai kandungan tanin
26
dan flavonoid (Quersetin) yang lebih tinggi dibandingkan medang sahang. Diduga kuat senyawa aktif golongan tanin dan flavonoid yang terdapat pada tanaman pelawan dan kayu salai yang berperan aktif sebagai antidiabetes dan atau antikolesterol.
Tabel 7. Rekapitulasi rerata kandungan kimiawi tanaman (fitokimia) dari beberapa jenis tanaman Biofarmaka di KHDTK Kemampo.
Jenis/Fitokimia Quersetin (%) Saponin (%) Tanin (%)
Pelawan Merah 1,22 1,02 14,21
Kayu Salai 1,08 0,72 13,01
Medang Sahang 0,99 0,94 6,28
Gambar 7. Grafik dosis pupuk dan kandungan kimiawi Quersetin, Saponin dan Tanin pada tanaman pelawan, kayu salai dan medang sahang di KHDTK Kemampo
Hasil penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa pada tanaman pelawan yang diambil langsung dari tempat tumbuhnya mempunyai aktivitas antidiabetes dan antikolesterol paling tinggi dibandingkan kayu salai dan medang (Asmaliyah dkk, 2017). Beberapa hasil penelitian lainnya juga menunjukkan pada beberapa tanaman yang mempunyai aktivitas antidiabetes mengandung senyawa aktif tanin, diantaranya biji alpukat (Monica, 2006; Zuhrorun, 2007) dan daun belimbing wuluh (Sa’adah, 2010).
B. Pembahasan
Flavonoid merupakan salah satu dari banyak jenis metabolit sekunder yang dihasilkan atau disintesis pada sel dan grup taksonomi tertentu pada tingkat
27
pertumbuhan atau stress tertentu (Aristyanti, 2014). Salim dkk., (2016) mengemukakan bahwa senyawa flavonoid ekstrak daun duku kuantitasnya dipengaruhi oleh kandungan Ca tanah. Trisilawati dan Pitono (2012) juga mengemukakan bahwa pemberian kalsium (Ca) yang tertinggi menghasilkan kandungan flavonoid tertinggi pada daun tabat barito, hal ini dikarenakan fungsinya sebagai pengaktif enzim terutama yang berhubungan dengan protein sehingga akan lebih mendukung proses terbentuknya metabolit sekunder yang merupakan reaksi spesifik.
Ujicoba pemupukan tanaman pelawan di KHDTK Kemampo menggunakan pupuk NPK dengan kandungan bahan aktif 15:15:15. Pemupukan tanaman pelawan dengan NPK secara otomatis tidak meningkatkan kandungan Ca tanah, sehingga asumsi tidak adanya peningkatan kualitas kandungan flavonoid (Quersetin, Saponin dan Tanin) bisa lebih mudah untuk dipahami. Namun, terdapat hasil yang mampu memberikan petunjuk adanya kelainan kesimpulan yang bertolak belakang dengan kesimpulan di atas. Asmaliyah dkk., (2016) mempunyai hasil analisis fitokimia tanaman pelawan yang berasal dari berbagai daerah di Bangka (Belinyu, Jebus, Kundi), sedangkan Asmaliyah dkk., (2017) mempunyai hasil analisis kimiawi tanah dari lokasi tanaman pelawan di Bangka tempat pengambilan bahan untuk fitokimia pada tahun 2016. Korelasi antara data dan informasi hasil fitokimia (2016) dan kimiawi tanah (2017) di dapatkan hasil tidak adanya hubungan (korelasi) antara variabel umum kandungan kimiawi tanah dengan kandungan fitokimiawi tanah. Korelasi antara kandungan Tanin dan Flavonoid adalah sebesar -0,98 (sig level 0,02) dimana bilamana nilai flavonoid tinggi, maka nilai tanin menjadi rendah dengan komposisi nilai yang hampir sama setiap kenaikan atau penurunannya. Korelasi antara kandungan fitokimia dengan kimiawi tanah hanya terjadi pada kandungan flavonoid dan tanin dengan kadar air tanah yaitu berturut-turut 0,99 (Sig level 0,002) dan -0,98 (sig level 0,01).
Data dan informasi hubungan antara kimiawi tanah dengan fitokimia tanaman pelawan (data 2016 dan 2017) serta tidak adanya hubungan (korelasi) antara fitokimia dan dosis pemupukan NPK yang diaplikasikan pada lahan yang sama (KHDTK Kemampo) memberikan arti bahwasanya faktor kimiawi tanah bukan satu-satunya faktor yang memberikan pengaruh terhadap fitokimia tanaman
28
pelawan. Dimungkinkan fitokimiawi tanaman pelawan dipengaruhi besar oleh faktor genetik, sehingga dimanapun tanaman pelawan berada walaupun dalam kondisi hara tanah yang berbeda akan mempunyai kandungan fitokimia yang sama sesuai dengan nilai genetiknya. Faktor genetik ini berhubungan dengan populasi ataupun genetik tanaman induk yang di dapatkan.
Populasi pengambilan materi tanaman yang berbeda (Jebus, Balinyu dan Prabumulih) mempunyai susunan materi genetik yang berbeda pula serta memberikan fakta adanya pola pertumbuhan yang berbeda walaupun masih dalam tahapan variabel pengamatan pertumbuhan (tinggi, diameter dan rendemen biomassa). Namun setidaknya memberikan gambaran bahwasanya dimungkinkan kandungan fitokimia juga mempunyai pola respon yang sama dengan pertumbuhan yang juga ditentukan oleh faktor genetik.
Hasil analisis kimiawi tanaman (Asmaliyah dkk., 2016) dan analisis kimiawi tanah (Asmaliyah dkk., 2017) dari lokasi tempat pengambilan sampel medang sahang dapat dibuat analisi korelasi. Hasil analisis korelasi di dapatkan hasil adanya hubungan (korelasi) antara kandungan flavonoid, Tanin dan Saponin dengan P2O5, dimana masing-masing korelasi mempunyai hubungan yang sangat
tinggi yaitu berturut-turut sebesar 0,99; -0,99 dan -0,99. Tingginya nilai korelasi tersebut mengindikasikan bahwasanya unsur kimiawi tanaman (Fitokimia) tanaman medang sahang mempunyai hubungan dengan unsur P (P2O5).
Uji coba pemupukan tanaman biofarmaka, khususnya untuk jenis medang sahang dengan pupuk NPK (15:15:15) pda dasarnya juga mempunyai unsur hara P sebagai salah satu penyusunnya. Sehingga, pemupukan NPK dengan dosis yang meningkat seharusnya juga memberikan respon yang positif terhadap peningkatan kandungan kimiawi tanaman. Namun, dimungkinkan dosis yang diaplikasikan masih mempunyai nilai kandungan P yang belum optimal untuk pembentukan fitokimia tanaman. Namun, berdasarkan data dan informasi pada Tabel 7, nampak bahwa terdapat kecenderungan nilai kimiawi Quersetin, Saponin dan Tanin yang terus mengalami peningkatan seiring dengan jumlah pupuk NPK yang diberikan. Untuk dapat memberikan gambaran peningkatan yang sesungguhnya, maka bisa diujicobakan kegiatan pemupukan dengan unsur hara tunggal yaitu khusus pupuk P saja.
29
Kayu salai dan medang sahang mempunyai tipologi yang berbeda dengan kayu pelawan. Bilamana kayu pelawan mempunyai potensi yang tinggi pada semua fitokimia, tetapi kayu salai dan medang sahang hanya pada kombinasi fitokimia tertentu. Kayu salai mempunyai potensi tinggi pada kandungan Quersetin dan Tanin. Kayu salai ini sampai dengan saat ini hanya sebagai tanaman tepi sungai yang di beberapa daerah bagian kulitnya digunakan sebagai bahan tali-temali. Penggunaan materi daun kayu salai sebagai bahan obat degeneratif tentu saja akan meningkatkan nilai ekonomi dan komersial dari kayu salai. Medang sahang mempunyai kandungan kimiawi yang terbanyak pada Quersetin dan saponin. Medang sahang selama ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tanaman penghasil kayu pertukangan. Kayu medang sahang bisa digunakan sebagai bahan baku utama pembangunan rumah.
30
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa pemupukan belum memberikan pengaruh yang nyata baik terhadap pertumbuhan tanaman, produksi biomassa dan kandungan fitokimia tanaman pelawan (Trsitaniopsis spp.), kayu salai (Glochidion sericeum) dan medang sahang (Neolitsea sp.) sampai umur 2 tahun yang ditanam di KHDTK Kemampo, Banyuasin.
B. saran
Melakukan uji coba kegiatan pemupukan pada budidaya pelawan dengan menggunakan unsur tunggal P saja (P2O5) dan atau dikombinasikan dengan mikoriza untuk melihat peningkatan produksi dan mutu simplisia pelawan.
31
DAFTAR PUSTAKA
Aristyanti, D. 2014. Pengaruh kadar kimia tanah terhadap kandungan Flavonoid daun tabat barito (Ficus deltoidea Jack.). http://repository.ipb.ac.id/handle/1234567 89/71022. Diakses tanggal 29 November 2019.
Asmaliyah, Herdiana N, Hadi EEW, dan Muslimim I. 2009. Potensi Biofarmaka Di Sumatera Selatan. Laporan Hasil Penelitian Program Insentif Riset Dasar Tahun I (2009) Balai Penelitian Kehutanan Palembang.
Asmaliyah, Herdiana N, Hadi E E W, dan Muslimim I. 2010. Potensi Biofarmaka Di Sumatera Selatan. Laporan Hasil Penelitian Program Insentif Riset Dasar Tahun II (2010) Balai Penelitian Kehutanan Palembang.
Asmaliyah, Muslimin I, Hadi EER, Imanullah A, Nopriansyah A. dan Muara J. 2016. Pengembangan tumbuhan berkhasiat obat degeneratif metabolik di sub regional Sumbagsel. Laporan Hasil Penelitian Tahun Anggaran 2016 Balai Litbang LHK Palembang.
______. 2017. Budidaya tumbuhan berkhasiat obat degeneratif metabolik di sub regional Sumbagsel. Laporan Hasil Penelitian Tahun Anggaran 2017 Balai Litbang LHK Palembang.
Barus R. 2009. Amidasi Etil p-metoksisinamat yang diisolasi dari kencur. Tesis Pasca Sarjana USU. Medan.
Djazuli M. 2011. Pengaruh pupuk P dan mikoriza terhadap produksi dan mutu simplisia Purwoceng. Bul.Littro 22(2): 147-156
Evans, L.T. 1996. Crops Evolution, Adaptation, and Yield. Combridge Univ. Press.
Haya SS., dan Iyos RN. 2016. Pengaruh pemberian ekstrak daun ungu (Graptophyllan pictum Griff.) terhadap penyembuhan hemoroid. Majority 5(5): 155-160.
Hayashi, T., H. Maruyama, R. Kasai. K. Hattori, S.Takasuga, O. Hazeki, K. Yamasaki, and T. Tanaka. 2002. Ellagitanins from Lagerstroemia speciosa as activators of glucose transport in fat cells. Planta Medica 68: 173-175.
Hernawan UE., Sutarno dan Setyawan AD. 2004. Aktifitas Hipoglikemik dan Hipolipidemik Ekstrak Air Daun Bungur (Lagerstroemia speciosa [L.] Pers.) terhadap Tikus Diabetik. Biofarmasi 2(1): 15-23.
32
Husin AS. 2011. Penurunan kadar glukosa darah ekstrak etanol daun bungur (Lagerstroemia speciosa (L.) Pers) pada tikus diabetes aloksan. Skripsi. Universitas katolik Widya Mandala. Surabaya. Tidak dipublikasikan
Leiwakabessy FM., dan Koswara A. 1985. Metode dan teknik pengumpulan, analisis dan interpretasi data kesuburan tanah. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian, IPB.
Malangngi LP., Sangi MS., dan Paendong JJE. 2012. Penentuan kandungan tanin dan uji aktivitas antioksidan ekstrak biji buah alpukat (Persea americana Mill.). Jurnal MIPA UNSRAT Online 1(1): 5-10.
Mariani SM., dan Junaedi A. 2010. Pengaruh intensitas naungan dan kombinasi pemupukan N dan P pada pertumbuhan, produksi simplisia serta kandungan Andrographolide pada sambiloto (Andrographis paniculata). Makalah Seminar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB.
Monica F. 2006. Pengaruh pemberian air seduhan biji alpukat (Persea americana Mill.) terhadap kadar glukosa darah tikus wistar yang diberi beban glukosa. Skripsi. Universitas Diponegoro, Semarang. Tidak dipublikasikan.
Pramono, E. 2002. Perkembangan dan prospek industri obat tradisional Indonesia. Prosiding Seminar Nasional “TUMBUHAN OBAT INDONESIA XXI” tanggal 27 – 28 Maret 2002. Fakultas Farmasi Universitas Surabaya. Surabaya.
Pramono, E dan S. Katno. 2002. Tingkat manfaat dan keamanan tanaman obat dan obat tradisional. Balai Penelitian Tanaman Obat Tawangmangu, Fakultas Farmasi, UGM.
Pullin, R.S.V. 1994. Exotic Species and Genetically Modified Organisms in Aquaculture and Enchanced Fisheries : ICLARM’s Position. NAGA, the ICLARM Quarterly. 17(4): 19 – 24.
Rimbawan dan A. Siagian. 2004. Indeks Glikemik Pangan, Cara mudah memilih pangan yang menyehatkan. Penebar Swadaya, jakarta.
Sa’adah L. 2010. Isolasi dan identifikasi senyawa tanin dari daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi). Skripsi. Universitas Islam Negeri. Malang. Tidak dipublikasikan.
Salim, M., Yahya, Sitorus, H., Ni’mah, T., dan Marini. 2016. Hubungan Kandungan Hara Tanah dengan Produksi senyawa Metabolit Sekunder pada Tanaman duku (Lansium domesticum Corr var Duku) dan Potensinya sebagai Larvasida. Jurnal Vektor Penyakit. 10(1):11-18.
33
Siahaan H, Sumadi A, Kurniawan A, dan Imanullah A. 2017. Pengembangan Soedibyo, M. 1998. Alam Sumber Kesehatan, Manfaat dan Kegunaan. Balai
Pustaka.
Suryanto E. dan Wehantouw F. 2009. Aktivitas penangkap radikal bebas dari ekstral fenolik daun sukun (Artocarpus altilis F.). Chemistry Progress. 2009.2: 1-7.
Setyowati FM., dan Wardah. 2007. Diversity of medicinal plant by Talang Mamak tribe in surrounding of Bukit Tiga Puluh National Park, Riau. Bidiversitas 8(3): 228-232.
Trisilawati, O., Pitono, J. 2012. Pengaruh cekaman defisit air terhadap pembentukan bahan aktif pada purwoceng. Buletin Littro. 23(1):34-47.
Zuhrotun A. 2007. Aktivitas antidiabetes ekstrak etanol biji buah alpukat (Persea americana Mill.) bentuk bulat. Skripsi. Universitas Padjadjaran, Bandung. Tidak dipublikasikan
34 Lampiran 1. Kerangka Kerja Logis (KKL) RPPI Penelitian Budidaya Tumbuhan berkhasiat Obat Degeneratif dan Metabolik Di Sub
Regional Sumatera Bagian Selatan Tahun 2019
Narasi Indikator Cara verifikasi Asumsi
SASARAN:
1. Tersedianya IPTEK budidaya dan pengembangan lima jenis TODM prioritas
2. Tersedianya informasi kandungan fitokimia secara kuantitatif lima jenis TODM prioritas
1. IPTEk budidaya lima jenis TODM prioritas tersedia 2. Informasi dan pengetahuan tentang kandungan
bahan aktif berdasarkan hasil budidaya (pemupukan) lima jenis TODM prioritas tersedia
1. Laporan hasil penelitian 2. Plot uji coba / demplot / petak
ukur permanen 1. Penelitian berjalan sesuai rencana 2. Sumberdaya penelitian tersedia 3. Tidak terjadi perubahan kebijakan yang menghambat pelaksanaan penelitian. TUJUAN KHUSUS :
Menyediakan Paket IPTEK Potensi dan Budidaya Tumbuhan Hutan berkhasiat obat Degeneratif dan Metabolik (TODM) di Sumatera Bagian Selatan
Tersedianya IPTEK potensi dan budidaya lima jenis TODM prioritas
1. buku
2. 5 jenis unggulan 3. Laporan hasil penelitian 4. Publikasi Ilmiah
5. Petak pertanaman dan demplot
1. Dana tersedia cukup dan tepat waktu 2. Tidak ada perubahan
kebijakan
LUARAN :
1. IPTEK budidaya dan pengembangan lima jenis TODM prioritas di Sumbagsel 2. Data dan Informasi potensi dan
kandungan bahan aktif hasil budidaya (pemupukan) lima jenis TODM prioritas
1.1 Data dan Informasi budidaya lima jenis TODM prioritas tersedia
2.1. Data dan informasi tentang kandungan bahan aktif TODM prioritas hasil budidaya tersedia
1. LHP,
2. Publikasi ilmiah
3. Petunjuk teknis/ pedoman 4. Demplot 1. Penelitian berjalan sesuai rencana 2. Sumberdaya penelitian tersedia 3. Tidak terjadi perubahan kebijakan yang
35
Narasi Indikator Cara verifikasi Asumsi
menghambat pelaksanaan penelitian.
KEGIATAN:
Kegiatan di Luaran 1
Pengamatan dan pengukuran tinggi, diameter batang dan diamater tajuk serta biomassa dari lima jenisTODM prioritas
Kegiatan Luaran 2 :
Uji fitokimia dilaboratotium lima jenis TODM prioritas hasil budidaya
1.1 Data dan Informasi pertumbuhan tanaman dan produktivitas biomassa lima jenis TODM prioritas tersedia
2.1. Data dan informasi kandungan bahan aktif lima jenis TODM prioritas hasil pemupukan tersedia
1. LHP
2. Publikasi ilmiah 3. Demplot
1. LHP