EPIDEMIOLOGI MENOPAUSE DAN MENOPAUSE DINI DI KOTA MEDAN TAHUN 2018
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
Oleh :
MUHAMMAD FARHAN NATAMA 150100057
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahuwa Ta’ala yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini tepat pada waktunya. Karya tulis ilmiah ini disusun sebagai rangkaian dari tugas akhir dalam menyelesaikan pendidikan di program studi pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Karya tulis ilmiah ini berjudul “Epidemiologi Menopause dan Menopause Dini di Kota Medan Tahun 2018”. Dalam proses penyelesaian penulisan karya ilmiah ini penulis menerima banyak bantuan dari berbagai pihak, yang mana karya tulis ilmiah ini tidak akan selesai tanpa kehadiran pihak-pihak tersebut.
Untuk itu penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih dan rasa hormat yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. dr. Aldy Syafruddin Rambe, Sp.S(K), selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. dr. Khairani Sukatendel, Sp.OG(K), selaku dosen pembimbing dalam penulisan karya ilmiah ini, atas bimbingan dan juga telah banyak membantu serta memberikan kritik dan saran yang membangun selama penyusunan karya tulis ilmiah ini sehingga karya tulis ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik.
3. dr. Almaycano Ginting, M.Kes, M.Ked(Clin. Path), SpPK dan dr. Donna Partogi, SpKK selaku dosen penguji yang telah memberikan bimbingan, serta kritik dan saran yang juga membangun untuk penyusunan karya tulis ilmiah ini.
4. dr. Pimpin Utama Pohan, SpB(K)Onk selaku dosen pembimbing akademik yang juga telah memberikan masukan dan nasihat selama menjadi mahasiswa FK USU.
5. Rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya dan setinggi-tingginya kepada kedua Orang tua tercinta, yaitu Ayahanda dan Ibunda, atas bantuan moriil, terutama bantuan yang sangat berarti saat proses penelitian berlangsung, serta dukungan, nasehat dan doa yang selalu dipanjatkan.
6. Saudara laki-laki penulis, Adinda Syafiq Achmad Dafa, dan juga sanak saudara yang telah memberikan bantuan, dukungan, dan doa dalam proses penyusunan karya ilmiah ini.
7. Rekan-rekan seperjuangan semasa SMA, yaitu Sakinah Ishmah Ismail, Gadis Ayunda Setiyorini, dan Shafira Pratiwi, beserta keluarga yang telah memberikan bantuan dan dukungan, serta doa untuk penulis dalam proses penyusunan karya ilmiah ini.
8. Sahabat-sahabat seperjuangan tercinta selama di FK USU, Alvando Aulia Isyan, Aulia Nanda Haritsyah Pane, Aqib Asyraf Ablisar, Bayu Agustian Hasibuan, Gio Justisia Batubara, Haris Maulana Apriansyah Harahap, Lukman Ashari, Muhammad Ade Indrawan, Muhammad Deri Pradana, Muhammad Farhan bin Fauzi, Muhammad Haekal Hakim Lubis, Muhammad Hakim Rosli, Muhammad Yusra Aqil, Muhammad Zulkhairi Rhiza Zulkarnaini Tala, Rizki Arrizal, Said Fachlefi, Susanto Handoko Nasution, Syahri Hidayat Harahap, Tommy Giovany Desky, Zoga Pratantia Tohari, Muhammad Qori Annabil, Salma Khairunnisa, Josapat Bima Sakti Sitepu, Sryita Charina Prety Sembiring, serta senior-senior tercinta, Utama Hadiputra Surbakti, Fadlan Aufar Malik, Rezky Ilham Syahputra, dan Justika Usmardhani Aulya, atas segala bantuan, baik bantuan moriil ataupun non- moriil, serta dukungan dan doa yang telah kalian semua berikan dalam proses penyelesaian karya tulis ilmiah ini.
9. UKM FOSKAMI PEMA FK USU (Forum Studi Kedokteran Mahasiswa Islam Pemerintahan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara) dan SCORE PEMA FK USU (Standing Committee on Research Exchange Pemerintahan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara) beserta anggota yang terlibat di dalamnya, yang juga telah
berjasa untuk penulis atas segala bantuan dan ilmu serta rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang telah diberikan selama ini.
10. Masyarakat kota Medan dari kalangan Ibu-ibu dari Kecamatan Medan Belawan, Medan Helvetia, Medan Johor, Medan Sunggal, Medan Tembung, dan Medan Tuntungan, yang telah meluangkan waktunya untuk menjadi responden penelitian ini.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini masih banyak kekurangan sehingga masih jauh dari kesempurnaan. Untuk ini, masukan berupa kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan penulis untuk memperbaiki kesalahan serta menambah ilmu pengetahuan agar karya tulis yang dihasilkan dapat menjadi sesuatu yang berkualitas. Penulis juga berharap agar karya tulis ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Semoga Allah Subhanahuwa Ta’ala selalu melindungi dan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya untuk kita semua.
Medan, 4 Desember 2018 Penulis
Muhammad Farhan Natama 150100057
DAFTAR ISI
Halaman Pengesahan ... i
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi ... v
Daftar Gambar ... vii
Daftar Tabel ... viii
Daftar Singkatan ... x
Abstrak ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.3.1 Tujuan Umum ... 6
1.3.2 Tujuan Khusus ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1 Siklus Kehidupan Wanita ... 8
2.2 Kegagalan Ovarium Prematur/Menopause Dini ... 12
2.2.1 Definisi ... 12
2.2.2 Etiologi ... 12
2.2.3 Faktor Risiko ... 13
2.2.4 Patofisiologi ... 14
2.2.5 Manifestasi Klinis ... 14
2.2.6 Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang ... 15
2.2.7 Diagnosis Banding ... 17
2.2.8 Tatalaksana ... 18
2.2.9 Komplikasi ... 20
2.2.10 Prognosis ... 21
2.3 Kerangka Teori ... 22
2.4 Kerangka Konsep ... 23
BAB III METODE PENELITIAN ... 24
3.1 Rancangan Penelitian ... 24
3.2 Lokasi Penelitian ... 24
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 24
3.3.1 Populasi Penelitian ... 24
3.3.2 Sampel Penelitian ... 24
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 27
3.4.1 Jenis Data Penelitian ... 27
3.4.2 Instrumen Penelitian ... 27
3.5 Definisi Operasional ... 28
3.6 Metode Analisis Data ... 32
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 33
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 52
DAFTAR PUSTAKA ... 54
LAMPIRAN A ... 60
LAMPIRAN B ... 62
LAMPIRAN C ... 63
LAMPIRAN D ... 64
LAMPIRAN E ... 66
LAMPIRAN F ... 67
LAMPIRAN G ... 68
LAMPIRAN H ... 69
LAMPIRAN I ... 80
LAMPIRAN J ...109
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Variasi gejala Kegagalan Ovarium Prematur berdasarkan usia 13
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Perkembangan Buah Dada dan Rambut Pubis 14
Menurut Stadium Tanner
2.2 Penilaian Awal dan Pemeriksaan pada 16
Kegagalan Ovarium Prematur
2.3 Diagnosis Banding Kegagalan Ovarium Prematur 17
3.1 Kriteria Inklusi Sampel Penelitian 24
4.1 Distribusi Wanita Menopause di Kota Medan 34 Berdasarkan Kelompok Usia Tahun 2018
4.2 Distribusi Wanita Menopause Berdasarkan Kelompok 35 Usia Haid Pertama di Kota Medan Tahun 2018
4.3 Distribusi Wanita Menopause Berdasarkan Kelompok 35 Usia Haid Terakhir di Kota Medan Tahun 2018
4.4 Distribusi Wanita Menopause Berdasarkan Jumlah Paritas di 36 Kota Medan Tahun 2018
4.5 Distribusi Wanita Menopause Berdasarkan Tingkat 37 Pendidikan di Kota Medan Tahun 2018
4.6 Distribusi Wanita Menopause Berdasarkan Kelompok 39 Pekerjaan di Kota Medan Tahun 2018
4.7 Distribusi Wanita Menopause Berdasarkan Riwayat Penyakit 40 Terdahulu di Kota Medan Tahun 2018
4.8 Karakteristik Riwayat Gejala Menopause pada Wanita yang 41 Mengalami Menopause di Kota Medan Tahun 2018
4.9 Karakteristik Riwayat Gejala Menopause pada Wanita yang 41 Mengalami Menopause Cepat (early menopause) di
Kota Medan Tahun 2018
4.10 Karakteristik Riwayat Gejala Menopause pada Wanita yang 42 Mengalami Menopause Normal di Kota Medan Tahun 2018
4.11 Karakteristik Riwayat Gejala Menopause pada Wanita yang 42 Mengalami Menopause Terlambat (late menopause)
di Kota Medan Tahun 2018
4.12 Karakteristik Demografi Wanita yang Mengalami Menopause 44 Dini di Kota Medan Tahun 2018
4.13 Karakteristik Riwayat Gejala Menopause pada Wanita yang 45 Mengalami Menopause Dini (premature menopause)
di Kota Medan Tahun 2018
4.14 Tabel 3x3 Hubungan antara Status Menarke dengan Status 46 Menopause
4.15 Tabel 2x3 Hubungan antara Status Menarke dengan Status 47 Menopause
4.16 Uji Chi Square Hubungan antara Status Menarke dengan Status 47 Menopause
4.17 Hubungan antara Status Riwayat Penyakit dengan 48 Status Menopause
4.18 Hasil Uji Chi square Hubungan antara Status Riwayat Penyakit 48 dengan Status Menopause
DAFTAR SINGKATAN
FSH : Follicle Stimulating Hormone LH : Luteinizing Hormone
AMH : Anti-Mullerian Hormone
HRT : Hormone Replacement Therapy
.
ABSTRAK
Latar Belakang. Salah satu siklus hidup wanita yang penting adalah masa klimakterium, dimana pada masa ini wanita akan mengalami menopause, atau masa ketika wanita tidak lagi mengalami menstruasi, yang terjadi normalnya ketika wanita berusia di atas 40 tahun, dengan usia rata-rata 51 tahun. Namun, dalam kasus yang langka, terjadi menopause yang dialami pada 1% populasi wanita dunia pada usia dibawah 40 tahun. Tujuan. Secara umum, tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran epidemiologis wanita yang sudah mengalami menopause dan menopause dini di kota Medan pada tahun 2018. Metode. Penelitian ini merupakan studi deskriptif analitis dengan desain cross-sectional study. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan data primer dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner di 6 kecamatan di kota Medan yang telah ditentukan, dan jumlah sampel penelitian ini adalah 162 responden. Hasil.
Diperoleh hasil dimana usia rata-rata wanita saat Menarke di kota Medan adalah 13,63 tahun, sedangkan rata-rata usia wanita saat mengalami Menopause adalah 49,03 tahun. Prevalensi Menopause dari tiap kategori berturut-turut, yaitu Menopause normal (66,70%), diikuti Menopause cepat/early menopause (15,4%), Menopause terlambat (13%), dan Menopause dini (4,9%). Tidak ditemukan hubungan yang signifikan, baik status menarke, maupun riwayat penyakit kronis dengan status Menopause. Kesimpulan. Untuk rata-rata usia wanita saat Menarke di kota Medan adalah 13,63 tahun, sedangkan rata-rata usia wanita saat mengalami Menopause adalah 49,03 tahun. Prevalensi Menopause dari tiap kategori berturut-turut, yaitu Menopause normal (66,70%), diikuti Menopause cepat/early menopause (15,4%), Menopause terlambat (13%), dan Menopause dini (4,9%). Tidak ada hubungan yang signifikan antara status menarke dan riwayat penyakit kronis dengan status menopause pada wanita yang sudah mengalami Menopause di kota Medan.
Kata kunci: Epidemiologi, Prevalensi, Menopause, Menopause dini
ABSTRACT
Background.. One of the most important women’s life cycle is the climacteric stage, where in this stage, women will undergo the menopause, the stage when women are no longer experienced the menstruation, which normally occurs in women at 40 years of age, with the overall average age of menopause is 51 years. However, in rare case, the menopause occurs in 1% population of women before the age of 40 years. This condition was called Premature Menopause. Objective. The purpose of this study was to find out the epidemiology of women that experienced the normal and premature Menopause in Medan in 2018. Methods. This study was a descriptive and analytical study that uses cross-sectional study design. The data were collected by interviewed the respondents in which use the questionnaire as the tools. The data were collected in 6 different sub- districts which has been specified across the city of Medan, and the amount of its study population was 162 respondents. Results. For the mean age of menarche is 13,63 years, while mean age of menopause is 49,03 years among menopausal women in Medan. The prevalence of menopause by category were normal menopause (66,70%), early menopause (15,4%), late menopause (13%), and premature menopause (4,9%) consecutively. There’s no significant association neither the menarche status nor the history of chronic disease with the menopausal status. Conclusions. The mean age of menarche is 13,63 years, while mean age of menopause is 49,03 years among menopausal women in Medan. The prevalence of menopause by category were normal menopause (66,70%), early menopause (15,4%), late menopause (13%), and premature menopause (4,9%) consecutively. No significant association between the menarche status or history of chronic disease with the menopause status in women who have experienced the menopause in Medan.
Keywords: Epidemiology, Prevalence, Menopause, Premature menopause
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Siklus kehidupan wanita dimulai dari masa fetal(embrional), masa bayi, masa kanak-kanak, masa pubertas, masa remaja(adolesen), masa reproduksi, dan masa klimakterium. Masing-masing masa yang dialami oleh wanita dalam kehidupannya tersebut memiliki kekhususan tersendiri. Salah satu masa yang penting dalam kehidupan wanita adalah masa klimakterium, dimana klimakterium merupakan suatu masa dimana seorang perempuan sudah melewati masa reproduksi, dan menuju ke transisi fase menopause sampai mencapai tahun-tahun pascamenopause, yang terjadi pada rentang usia 45-65 tahun (Anwar et al., 2011). Di dalam masa klimakterium ini, terdapat suatu fase yang menandai telah lewatnya masa reproduksi atau masa subur seorang wanita, yaitu fase Menopause. Menopause adalah suatu keadaan biologis dimana berakhirnya siklus menstruasi secara permanen pada wanita berusia 40 tahun atau lebih sekaligus menandai akhir masa kesuburan wanita (Ferri, 2017).
Menopause merupakan suatu keadaan yang normal pada kehidupan wanita pada umumnya, dimana kondisi tersebut berlangsung ketika wanita berada di usia yang tidak muda lagi. Beberapa literatur memiliki pendapat yang berbeda-beda dalam menjelaskan rentang usia dan usia rata-rata menopause. Namun, seluruh ilmuwan sepakat bahwa usia normal menopause adalah di atas 40 tahun, dengan usia rata-rata yang bervariasi.
Menurut Goldman dan Schafer (2016), rentang usia Menopause berkisar antara 45-57 tahun, dengan usia rata-rata 51 tahun (Goldman dan Schafer, 2016). Sedangkan menurut Melmed (2015), ia tidak menjelaskan berapa rentang usia wanita menopause yang normal, namun ia menjelaskan bahwa usia rata-rata wanita menopause adalah sekitar usia 51 tahun, dan usia
2
menopause dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti faktor genetik dan faktor lingkungan (Melmed et al., 2015).
Menurut Tim Peneliti WHO yang melakukan penelitian terhadap Menopause pada tahun 1990-an, sebanyak 467 juta wanita di dunia telah memasuki usia menopause, dan diperkirakan jumlah ini akan meningkat menjadi 1,2 miliar populasi dunia pada tahun 2030 mendatang (Barrett- Connor et al., 1996). Di Indonesia, khususnya di Provinsi Sumatera Utara, menurut update terbaru Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2016, jumlah penduduk wanita di Sumatera Utara berjumlah 7.065.585 jiwa, dengan jumlah penduduk wanita menurut kelompok usia 50 tahun ke atas sebanyak 1.195.016 jiwa (Sumut.bps.go.id, 2018).
Menopause merupakan salah satu fase fisiologis yang dialami tiap wanita ketika akan memasuki masa lansia, atau dimana sudah mulai terjadi penurunan fungsi fisiologis pada tubuh manusia. Akan tetapi, meskipun merupakan fase yang normal, menopause merupakan suatu keadaan yang terdiri dari gejala-gejala yang tidak menyenangkan pada wanita, karena di fase menopause terjadi penurunan produksi hormon estrogen yang sebelumnya berperan penting di masa reproduksi wanita, serta peningkatan sekresi hormon gonadotropin yang menjadi penyebab menurunnya produksi dan sekresi dari hormon estrogen. Pada wanita, hormon estrogen berperan penting dalam siklus menstruasi serta juga berperan dalam memperkokoh kepadatan tulang(bone density). Pada akhirnya, timbullah gejala menurun hingga absennya siklus menstruasi pada wanita mulai dari fase ini, disertai dengan gejala-gejala lain, seperti hot flushes (semburan panas di daerah kepala, leher, dan dada), keringat di waktu malam, vagina yang terasa kering, disfungsi seksual, nyeri sendi, hingga mempengaruhi psikologis yang dapat bermanifestasi menjadi depresi, gangguan ansietas, mood yang labil, dan gejala lainnya (Dennerstein et al., 2000, Cohen et al., 2006).
Menurut salah satu studi, gejala-gejala ini umumnya dialami wanita selama 7,4 tahun selama fase menopause (Avis et al., 2015).
Masih harus diperhatikan pula bahwa dalam jangka panjang, menopause dapat mengarah ke gangguan kesehatan yang serius, seperti osteoporosis, penyakit kardiovaskuler, serta penyakit lainnya. Dengan demikian, banyak wanita merasa khawatir dalam menghadapi menopause, dikarenakan dengan manifestasi klinis dan efek jangka panjang yang dapat terjadi dari fase menopause, para wanita beranggapan bahwa menopause akan membuat mereka mengalami hidup yang kurang sehat, atau sering sakit-sakitan, kurang bugar, tidak cantik seperti sedia kala, dan tidak mampu mengontrol emosi. Padahal, menopause merupakan suatu fase yang akan dialami wanita apabila sudah sampai pada usianya dan tidak dapat dihindari oleh setiap wanita. Oleh sebab itu, bagi wanita yang mengalami menopause disarankan untuk melakukan konsultasi lebih lanjut kepada tenaga kesehatan yang ahli dalam memberikan kiat-kiat kepada wanita supaya merasa nyaman dan tenteram dalam menghadapi menopause.
Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, usia menopause normal pada wanita umumnya adalah di atas 40 tahun, dengan beberapa literatur menyatakan bahwa usia rata-rata menopause adalah 51 tahun. Namun, dalam kasus yang sedikit, dijumpai keadaan berhentinya siklus menstruasi dibawah usia 40 tahun pada 0,3-0,9% populasi wanita (Lobo et al., 2016).
Keadaan ini disebut Kegagalan Ovarium Prematur atau biasa dikenal dengan istilah Menopause dini (Melmed et al., 2015).
Kegagalan Ovarium Prematur, atau biasa dikenal dengan istilah Menopause dini, merupakan suatu fenomena patologis, dimana terjadi kondisi berhentinya fungsi fisiologis dari Ovarium, yang menyebabkan Amenore atau berhentinya siklus haid atau menstruasi dan juga meningkatnya sekresi Gonadotropin pada wanita dibawah usia 40 tahun (Melmed et al., 2015). Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Menopause dini diantaranya adalah faktor genetik, penyakit autoimun, infeksi, dan juga faktor iatrogenik, seperti kemoterapi, tindakan pembedahan, dan terapi radiasi (Cox dan Liu, 2014).
4
Prevalensi Menopause dini di seluruh dunia diperkirakan berjumlah 0,3- 0,9% populasi wanita (Lobo et al., 2016). Beberapa penelitian juga telah dilakukan di berbagai negara untuk memperoleh data prevalensi Menopause dini di negara tersebut. Di India, telah dilakukan studi di berbagai provinsi terhadap wanita pada kelompok umur 15-49 tahun, dan hasilnya, didapati sekitar 1,5% dari populasi wanita di India mengalami Menopause dini (natural premature menopause) (Pallikadavath et al., 2016). Di Amerika Serikat juga dilakukan studi mengenai jumlah wanita yang mengalami menopause dini pada studi multi etnis wanita pada kelompok usia 40-55 tahun yang dilakukan di 7 daerah di 6 negara bagian yang berbeda.
Hasilnya, dilaporkan bahwa 1,1% dari jumlah populasi wanita yang diteliti mengalami Menopause dini, dengan rincian per etnis, ras kaukasia sebanyak 1%, ras Afrika-Amerika sebanyak 1,4%, ras Hispanik sebanyak 1,4%, ras China sebanyak 0,5%, dan ras Jepang sebanyak 0,1% (Luborsky et al., 2002). Di Indonesia, khususnya di beberapa daerah telah dilakukan studi mengenai prevalensi wanita yang memasuki usia menopause dibawah 40 tahun. Di provinsi Jawa Tengah misalnya, di Desa Jingkang Babakan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, dilakukan penelitian pada 10 orang wanita yang sudah memasuki masa menopause, dan hasilnya, 2 dari 10 wanita tidak mengalami haid lagi sebelum usia 40 tahun (Rohmatika et al., 2012).
Meskipun berada di dalam populasi yang masih pada kategori yang sedikit, Menopause dini merupakan salah satu masalah yang serius dan harus diperhatikan perkembangannya. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, masa Menopause dapat menimbulkan manifestasi jangka pendek, seperti gejala semburan panas pada bagian wajah dan leher, disfungsi seksual dini, vaginal dryness, dan juga dapat berakibat pada beberapa penyakit yang serius, seperti penyakit kardiovaskuler, Osteoporosis, Atrofi vagina, dan juga risiko Arthritis (Dennerstein et al., 2000, Cohen et al., 2006, Anwar et al., 2011, Faubion et al., 2015).
Wanita yang mengalami Menopause dini akan merasakan pengaruh yang dapat dikatakan tidak menyenangkan, karena dengan mengalami masa menopause di usia yang terbilang masih muda, mereka akan merasakan dampak jangka pendek dari menopause pada umumnya, seperti gejala hot flushes, disfungsi seksual dini, vaginal dryness, dan manifestasi klinis lainnya, yang dapat mempengaruhi kualitas hidup seorang wanita di usia muda. Selain efek jangka pendek yang ditimbulkan, Menopause dini juga dapat berdampak pada aspek psikologis dari wanita yang mengalaminya.
Wanita yang mengalami Menopause dini akan merasakan perbedaan yang sangat mencolok. Hal ini akan menimbulkan gangguan aspek psikiatrik pada wanita tersebut, yang dapat bermanifestasi menjadi stress, depresi, gejala mood yang labil, gangguan ansietas, dan juga gangguan aspek psikologis dan psikososial (Singer et al., 2011, Cohen et al., 2006, Deeks et al., 2011, Podfigurna-Stopa et al., 2016).
Selain dampak jangka pendek, dampak jangka panjang yang ditimbulkan dari Menopause dini juga dapat berakibat pada masalah kesehatan dan kualitas hidup yang serius yang lebih signifikan efeknya dibandingkan menopause yang dialami secara normal pada rentang usia 45- 55 tahun, seperti penyakit kardiovaskuler, osteroporosis, dan juga penyakit lainnya. Dalam studi meta analisis yang dilakukan Roeters Lennep et al (2016), menunjukkan bahwa Kegagalan Ovarian Prematur berisiko tinggi mengalami kejadian penyakit kardiovaskuler (HR 1.61, 95% CI 1.22– 2.12, p = 0.0007), dimana risiko tinggi kejadian penyakit jantung iskemik lebih signifikan dibandingkan penyakit kardiovaskuler yang lain (HR 1.69, 95%
CI 1.29–2.21, p = 0.0001) (Roeters Van Lennep et al., 2016). Untuk dampak jangka panjang yang ditimbulkan lainnya, studi terbaru menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara Menopause dini dengan kejadian penurunan fungsi kognitif dalam jangka waktu yang lama pada wanita yang mengalaminya (Ryan et al., 2014). Dengan berkaca pada studi yang telah dilakukan tersebut, Menopause dini berpeluang besar
6
efek jangka panjangnya, bahkan dapat meningkatkan risiko mortalitas dini (Faubion et al., 2015).
Sangat penting dilakukan studi epidemiologi mengenai Menopause dan Menopause dini di suatu daerah, agar dapat memperoleh informasi yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam melakukan perencanaan- perencanaan, seperti perencanaan penyuluhan dan juga penanganan wanita Menopause dan Menopause dini untuk memperbaiki kualitas hidup wanita yang mengalaminya. Di provinsi Sumatera Utara, khususnya di kota Medan, sejauh ini belum ada studi yang mempublikasikan tentang epidemiologi menopause dan menopause dini. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Epidemiologi Menopause dan Menopause dini di Kota Medan pada Tahun 2018”.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Dari uraian latar belakang di atas, maka dapat diambil rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
Bagaimanakah gambaran epidemiologi wanita Menopause dan Menopause dini di kota Medan pada tahun 2018?
1.3 TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran epidemiologis wanita Menopause dan Menopause dini di kota Medan pada tahun 2018.
1.3.2 Tujuan Khusus
Yang menjadi tujuan khusus dari penelitian ini diantaranya adalah sebagai berikut.
• Mengetahui distribusi dan usia rata-rata Menarke dan menopause di kota Medan.
• Mendapatkan data gambaran karakteristik wanita menopause di kota Medan.
• Mendapatkan data mengenai wanita yang mengalami Menopause dini, menopause cepat dan menopause terlambat di kota Medan.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian ini kedepannya diharapkan dapat memberikan manfaat berupa:
1. Bagi Mahasiswa
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan atau bahan pembanding bagi mahasiswa yang ingin meneliti lebih lanjut tentang Menopause dini.
2. Bagi Ilmu kedokteran
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi dalam ilmu kedokteran agar dapat berperan dalam pengembangan studi epidemiologi dan statistik tentang Menopause dini di daerah lainnya.
3. Bagi Masyarakat
Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat agar masyarakat dapat mengetahui wawasan yang lebih mengenai fase Menopause dan juga menopause dini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 SIKLUS KEHIDUPAN WANITA
Tiap manusia akan mengalami siklus kehidupan yang bertahap, mulai sejak masa pembuahan di dalam rahim lalu kemudian mengalami kelahiran, hingga manusia atau individu tersebut meninggal dunia. Siklus kehidupan manusia, secara sederhana dapat digambarkan dalam 5 tahap atau masa, yaitu masa bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa pubertas, dan masa dewasa (Bogin dan Smith, 1996). Pada tiap individu, baik pria ataupun wanita, dahulunya 5 tahap tersebut dapat mendeskripsikan siklus kehidupan mereka. Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahuan di bidang medis, pengetahuan mengenai siklus kehidupan manusia pun mengalami perkembangan, terutama dalam hal ini pada siklus kehidupan wanita.
Siklus kehidupan wanita saat ini terbagi menjadi 7 tahap, yaitu masa fetal atau embrional, masa bayi, masa kanak-kanak, masa pubertas, masa remaja, masa reproduksi, dan masa klimakterium (Anwar et al., 2011). Tiap tahapan siklus kehidupan terdapat berbagai karakteristik tertentu yang membedakannya dengan tahapan sebelum ataupun tahapan sesudahnya(Takeda, 2010).
Fase pertama siklus kehidupan wanita adalah fase embrional, dimana pada fase ini merupakan fase pertumbuhan dan juga perkembangan organ- organ tubuh wanita, terutama dalam hal ini organ reproduksi wanita, pada fase ini terjadi perkembangan ovarium mulai usia 6-8 minggu kehamilan.
Kemudian pada usia kehamilan 18 minggu mulai terjadi pembentukan folikel. Sebelum usia 8 minggu kehamilan, embrio berada dalam keadaan ambiseksual, dan setelah usia 8 minggu, terbentuklah identitas kelamin sebagai hasil dari pembentukan dan pertumbuhan dari faktor-faktor genetik, hormonal, dan morfologi seks, yang akhirnya dipengaruhi oleh lingkungan individu (Anwar et al., 2011).
Fase selanjutnya dari siklus kehidupan wanita adalah fase infant atau masa bayi. Masa bayi terbagi 2, yaitu masa bayi baru lahir/neonatus (sejak awal kelahiran hingga usia 1 bulan) dan masa bayi (usia 1 bulan sampai 12 bulan). Perkembangan organ reproduksi di masa ini mulai tampak jelas melalui pemeriksaan USG. Ovarium neonatus memiliki diameter 1 cm dan berat 250-350 mg dengan semua oosit berbentuk folikel primordial.
Sedangkan Uterus wanita di masa bayi memiliki panjang kurang lebih 3,5 cm dan tebal kurang lebih 1,4 cm. Rasio fundus/serviks uteri bayi perempuan adalah ½, dalam hal ini, serviks bayi perempuan lebih besar daripada korpus uteri (Anwar et al., 2011).
Fase selanjutnya, yaitu masa kanak-kanak, dimana masa kanak-kanak pada wanita berlangsung pada usia 1-6 tahun, meskipun ada yang menyebutkan hingga 12 tahun. Di fase ini, folikel terus tumbuh dan mencapai stadium antrum. Volume ovarium masih sebesar 1-2 cm3 hingga usia 6 tahun. Peningkatan ovarium dimulai setelah usia 6 tahun. Namun, fungsi ovarium masih belum dibutuhkan hingga mencapai masa pubertas.
Di fase ini, organ genitalia anak perempuan akan terus mengalami perkembangan dan penambahan ukuran (Anwar et al., 2011).
Selanjutnya adalah masa pubertas, dimana masa ini adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Organ-organ reproduksi wanita sudah mulai berkembang dengan sempurna, terutama pada Uterus yang panjangnya sudah mencapai 5-8 cm, dengan lebar 3-4 cm, tebal 1,5 cm, dan sudah bisa berfungsi saat memasuki masa haid dan persiapan implantasi. Ovarium wanita di masa pubertas berukuran 1,8-5,7 cm3 dengan ukuran rata-rata 4 cm3. Di masa pubertas, akan terlihat pertumbuhan fisik yang menonjol pada wanita, dimana akan terjadi pertumbuhan karakteristik seks sekunder dan telah dicapainya kemampuan untuk bereproduksi., dimana pertumbuhan-pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor fisiologis, seperti pengaruh maturasi hipotalamus, stimulasi organ reproduksi, dan sekresi hormon (steroid seks) yang sudah mampu
10
diantaranya perubahan bentuk badan, seperti akumulasi lemak pada paha, panggul, dan bokong, pertumbuhan payudara, dan penambahan jumlah rambut ketiak dan pubis, yang dipicu oleh produksi Androgen adrenal pada usia 7-8 tahun (Anwar et al., 2011).
Setelah masa pubertas berakhir, wanita akan memasuki masa remaja (adolesen). Masa remaja pada wanita berlangsung pada usia 11-20 tahun. Di masa remaja, sudah mulai timbul kematangan psikososial dan seksual pada wanita. Pada masa ini, akan mulai terbentuk perasaan yang mencerminkan individu, pencapaian emansipasi dalam keluarga, serta usahanya untuk mendapatkan kepercayaan orang-orang terdekatnya, misalnya ayah dan ibu.
Di masa ini, wanita akan mengalami Menarke, yaitu haid pertama pada seorang wanita. Rata-rata wanita mengalami Menarke pada usia 13 tahun.
Pada masa remaja, pertumbuhan tulang panjang di seluruh tubuh akan memanjang dan mencapai puncak massa tulang, dan di akhir masa ini juga, tulang akan mengalami penurunan formasi, seiring Menarke dan pascaMenarke (Anwar et al., 2011).
Selanjutnya wanita akan memasuki masa dewasa, atau masa reproduksi, dimana masa reproduksi pada wanita berlangsung sejak usia 15-46 tahun.
Selama masa reproduksi akan terjadi maturasi folikel yang khas dan korpus luteum akan terbentuk. Perkembangan organ-organnya meliputi ovarium, dengan panjang 2,5-5 cm, lebar 1,5-3 cm, dan tebal 0,7 – 1,5 cm, serta uterus yang sudah siap memasuki masa haid, implantasi, kehamilan, dan pascapersalinan. Di masa reproduksi ini, pertumbuhan tulang akan terhenti, dan tulang akan mengalami penurunan densitas massa yang lambat, yaitu sekitar 0,7% per tahun, yang terjadi setelah usia 30 tahun, (Anwar et al., 2011).
Pada akhirnya, di masa kehidupan wanita normal akan dijumpai masa klimakterium, yaitu masa yang menggambarkan seorang wanita telah melewati masa reproduksi dan menuju fase menopause sampai memasuki tahun-tahun pascamenopause, dimana masa ini terjadi pada usia rata-rata 45-65 tahun dalam kehidupan wanita. Masa Klimakterium terbagi menjadi
beberapa fase, yaitu fase perimenopause, fase pramenopause, fase menopause, dan fase pascamenopause. Perimenopause merupakan masa peralihan yang terjadi beberapa tahun sebelum menopause, yang meliputi perubahan-perubahan dari siklus ovulatorik menjadi anovulatorik, yang ditandai dengan ketidakteraturan siklus haid. Setelah fase perimenopause berakhir, fase selanjutnya adalah fase pramenopause, dimana fase ini merupakan fase menjelang menopause yang terjadi pada usia rata-rata 40-50 tahun, dimana anovulasi lebih menonjol dan panjang siklus haid meningkat.
Sebelum menopause, siklus haid ditandai perubahan berupa peningkatan kadar FSH, penurunan kadar inhibin, dan kadar estradiol yang sedikit meningkat, serta kadar LH yang masih dalam batas normal. Setelah memasuki fase menopause, folikel ovarium akan habis, tidak tersisa sama sekali. Terjadi peningkatan FSH 10-20 kali lipat dan peningkatan LH sekitar 3 kali lipat, sebagai tanda kegagalan fungsi ovarium. Sesudah fase menopause, Ovarium akan mensekresi Androstenedion dan Testosteron.
Pada fase pascamenopause, Androstenedion tetap diproduksi, namun hanya sebagian kecil diproduksi oleh Ovarium, sebagian besarnya diproduksi oleh kelenjar adrenal, dan produksi Testosteron akan turun sekitar 25% (Anwar et al., 2011). Pada masa klimakterium ini akan dirasakan gejala-gejala sebagai berikut (Anwar et al., 2011).
• Gangguan pola haid dan frekuensi yang tidak teratur, hingga diakhiri dengan Amenore
• Hot flushes, yaitu gejala kemerahan pada kulit kepala, leher, dan dada secara mendadak disertai perasaan panas yang hebat, kadang-kadang disertai peningkatan ekskresi keringat. Hot flushes pada wanita pramenopause frekuensinya kurang lebih sekitar 15-25%, lalu akan meningkat setelah memasuki fase menopause, yaitu sekitar 50%, dan setelah 4 tahun pascamenopause akan turun menjadi 20%.
• Atrofi Genitourinaria, berupa dinding vagina yang berkerut, serta meningkatnya frekuensi berkemih.
12
2.2 KEGAGALAN OVARIUM PREMATUR/MENOPAUSE DINI 2.2.1 Definisi
Kegagalan ovarium prematur atau Menopause dini adalah suatu keadaan dimana terjadi kegagalan fungsi ovarium disertai peningkatan sekresi hormon Gonadotropin, yang dijumpai pada wanita berusia dibawah 40 tahun (Ferri., 2017, Melmed et al., 2015). Beberapa literatur mengatakan bahwa Kegagalan ovarium prematur dengan Menopause dini adalah keadaan yang sama.
Namun, ada juga literatur yang menyatakan bahwa itu merupakan 2 hal yang berbeda. Menurut Kumar dan Clark(2016), Kegagalan ovarium prematur bukanlah Menopause dini, melainkan sebagai salah satu penyebab utama terjadinya Menopause dini(Kumar dan Clark, 2018). Meski demikian, diperkirakan seluruh literatur berpendapat yang sama mengenai usia terjadinya Menopause dini yaitu dibawah usia 40 tahun.
2.2.2 Etiologi
Kegagalan ovarium prematur diantaranya disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu(Hamoda, 2017):
a. Idiopatik
85%-90% kasus Kegagalan ovarium prematur masih belum diketahui penyebabnya berdasarkan banyak laporan dari literatur-literatur yang berkaitan.
b. Faktor Genetik
10%-13% kasus Kegagalan ovarium prematur disebabkan oleh penyakit akibat abnormalitas kromosom, termasuk Sindrom Turner(Qin et al., 2015).
c. Autoimun
5% kasus Kegagalan ovarium prematur dilaporkan disebabkan oleh autoimunitas, dimana yang paling sering disebabkan oleh
autoimunitas adrenal pada 60%-80% kasus kegagalan ovarium prematur yang disebabkan oleh autoimunitas.
d. Iatrogenik
Kegagalan ovarium prematur juga dapat disebabkan oleh intervensi medis seperti kemoterapi, radioterapi, dan tindakan pembedahan. Obat-obat kemoterapi dapat bersifat toksik pada ovarium, bergantung pada dosis terapi yang digunakan dan usia wanita ketika menerima pengobatan kemoterapi tersebut.
Radioterapi memiliki efek toksik pada seluruh anggota tubuh, termasuk daerah panggul. Tindakan pembedahan juga dapat meningkatkan risiko Kegagalan ovarium prematur, misalnya tindakan pembedahan pada pengobatan pasien Endometriosis yang memerlukan tindakan pembedahan secara langsung.
2.2.3 Faktor Risiko
Belum ada studi yang menunjukkan bukti yang memastikan faktor risiko kejadian kegagalan Ovarium prematur. Namun, beberapa studi mengaitkan dengan faktor riwayat keluarga, penyakit keganasan, penyakit defisiensi enzim seperti Galaktosemia, penyakit infeksi, seperti Mumps, dan riwayat TB (berhubungan dengan TB genital)(Guerrero et al., 2000),(Chang et al., 2007),(Maclaran dan Panay, 2011),(Ghassemzadeh et al., 2012). Salah satu studi menunjukkan juga ada hubungan faktor pendidikan sebagai faktor risiko terjadinya kegagalan Ovarium prematur, dimana wanita dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi lebih berisiko mengalami kegagalan Ovarium prematur (Testa et al., 2001). Pada studi yang dilakukan di Italia mengenai frekuensi dan faktor risiko kegagalan Ovarium Prematur pada wanita yang datang ke klinik khusus menopause, menunjukkan
14
kegagalan Ovarium premature pada wanita di negara tersebut (Progetto Menopausa Italia Study Group, 2003).
2.2.4 Patofisiologi
Dikarenakan penyebab kasusnya kebanyakan masih belum diketahui, patofisiologi dari kegagalan ovarium prematur sampai saat ini juga masih belum dapat dijelaskan lebih terperinci. Namun, pada kasus yang disebabkan oleh kelainan genetik, Kegagalan ovarium prematur dikaitkan dengan abnormalitas faktor genetik, misalnya kelainan pada kromosom X, seperti delusi(Sindrom Turner), isokromosom, dan translokasi kromosom X, yang pada akhirnya mengarah pada disgenesis ovarium yang bermanifestasi berupa gejala amenore, serta gejala lainnya (Maclaran dan Panay, 2011).
2.2.5 Manifestasi Klinis
Wanita yang mengalami Kegagalan ovarium prematur memiliki gejala yang bervariasi. Yang paling sering adalah amenore sekunder atau menstruasi yang tidak teratur, yang tidak berhubungan dengan gejala defisiensi estrogen, seperti hot flushes.
Pada satu studi(Gambar 2.1) faktor usia juga berpengaruh, dimana wanita yang didiagnosis sebelum usia 20 tahun jauh lebih sedikit akan merasakan gejala hot flushes, keringat berlebihan, mood yang tidak baik, dan vaginal dryness (Maclaran dan Panay, 2011).
Gambar 2.1 Variasi gejala Kegagalan Ovarium Prematur berdasarkan usia (Maclaran dan Panay, 2011).
2.2.6 Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang
Pada pasien dengan gejala Amenore, beberapa faktor, seperti gangguan fungsi hormon dapat berkaitan dengan gejala-gejala yang timbul. Pasien sebaiknya ditanyakan hal-hal yang berhubungan dengan gejala, misalnya gangguan psikologis, kebiasaan diet dan aktivitas fisik, gaya hidup/lifestyle, riwayat keluarga yang menderita penyakit kelainan genetik, gangguan tumbuh kembang, tanda-tanda hiperandrogenisme(hirsutisme, kebotakan pada daerah tulang pelipis, suara yang mendalam, peningkatan massa otot, klitorimegali, dan meningkatnya libido), dan tanda-tanda defeminisasi, terutama adanya penurunan ukuran buah dada dan atrofi vagina(Goldman dan Schafer, 2016).
Pada pemeriksaan fisik, sebaiknya difokuskan pada evaluasi dimensi tubuh, distribusi rambut, perkembangan ukuran buah dada dan laktasi, dan organ genital. Distribusi rambut sebaiknya dilihat dari riwayat keluarga. Perkembangan buah dada sebaiknya dilihat menggunakan Kriteria Tanner. Sekresi buah dada sebaiknya dilakukan dengan memberikan tekanan pada dada pasien ketika
16
mikroskopis pada sekresi buah dada untuk melihat indikasi galaktorea. Yang terakhir, dilakukan pemeriksaan organ genitalia wanita untuk melihat indikator-indikator adanya hormonal milieu (Goldman dan Schafer, 2016).
Tabel 2.1 Perkembangan Buah Dada dan Rambut Pubis Menurut Stadium Tanner (Goldman dan Schafer, 2016).
SKALA TANNER PERTUMBUHAN PAYUDARA PERTUMBUHAN RAMBUT
PUBIS 1 (Prapubertas) Belum teraba jaringan payudara, ukuran
diameter areola dibawah 2 cm. Putting susu masuk ke dalam, datar, atau terangkat ke atas.
Tidak ada tanda seksual yang menstimulasi adanya rambut pubis. Hanya ada beberapa rambut nonseksual.
2 Jaringan payudara teraba dengan ditandai adanya peningkatan ukuran areola yang mulai melebar, kulit areola tipis, dan putting susu mulai berkembang.
Rambut pubis kasar, panjang, dan berkerut di sepanjang labia mayora.
3 Pertumbuhan payudara berlanjut serta payudara terangkat secara keseluruhan.
Rambut kasar, keriting, dan meluas menuju mons pubis.
4 Adanya proyeksi areola. Papila berada di atas gundukan sekunder dari bentuk payudara pada umumnya.
Rambut dewasa tersusun tebal, namun distribusinya belum seluas stadium dewasa.
5 (Dewasa) Pertumbuhan payudara telah lengkap, bentuk dan proporsi payudara sudah matang.
Sebagian perempuan memiliki putting susu yang lebih berwarna hitam, dan glandula Montgomery terlihat di sekitar keliling areola.
Rambut dengan karakteristik kasar dan keriting berbentuk segitiga terbalik. Puncak susunan rambut pada mons pubis.
Salah satu indikator diagnostik yang mampu mengarahkan ke diagnosis Kegagalan ovarium prematur adalah Anti-Mullerian Hormone(AMH). AMH diproduksi oleh folikel antral yang masih
berkembang, dan diyakini merupakan indikator yang paling dapat diandalkan untuk memprediksi usia menopause, meskipun data dan studi yang lebih masih dibutuhkan untuk membuktikannya(Tehrani et al., 2013). Segera setelah diagnosis dapat ditegakkan, lakukan pemeriksaan yang diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti dari Kegagalan ovarium prematur. Karyotyping dan skrining premutasi gen FMR1 sangat penting dilakukan pada pasien usia muda, atau pasien yang memiliki riwayat Kegagalan ovarium prematur, dan juga pada pasien dengan tingkat pendidikan rendah, untuk menyingkirkan penyebab genetik yang lain. Skrining autoantibodi untuk antibodi antiadrenal, antiovarian dan antitiroid juga direkomendasikan, untuk mengidentifikasi penyebab yang berhubungan dengan penyakit autoimun (Maclaran dan Panay, 2011).
Tabel 2.2 Penilaian Awal dan Pemeriksaan pada Kegagalan Ovarium Prematur (Maclaran dan Panay, 2011).
No. Pemeriksaan Keterangan
1. Anamnesis Riwayat Menopause Terutama pada pasien dengan riwayat keluarga Menopause dini
2. Profil Hormon Kadar FSH dan LH, Fungsi Tiroid, dan
Prolaktin
3. Skrining Autoimun Skrining Antibodi Antitiroid, Antiadrenal, dan Antiovarian
4. Karyotyping dan Analisis faktor genetik
5. Ultrasound Scan Menghitung Folikel Antral
6. Dual-energy X-ray absorptiometry (DXA) scan Memperkirakan batas kepadatan tulang 7. anti-Mullerian Hormon (AMH) atau Inhibin B Penilaian ovarian reserve
2.2.7 Diagnosis Banding
Diagnosis banding Kegagalan ovarium prematur dibuat berdasarkan eksklusi dari penyebab lain dari Amenore primer dan sekunder (Tidak dialami haid lebih dari 6 bulan). Diagnosis
18
banding Kegagalan Ovarium Prematur digambarkan pada tabel 2.3 berikut (Beck-Peccoz dan Persani, 2006).
Tabel 2.3 Diagnosis Banding Kegagalan Ovarium Prematur(Beck-Peccoz dan Persani, 2006).
• Kehamilan normal
• Menopause yang disebabkan tindakan pembedahan neoplastik, terapi radiasi, obat-obatan antidopaminergik, dll
• Tumor Kelenjar Pituitari
• Hiperprolaktinemia
• Kallmann Syndrome
• Hypothalamic amenorrhea
• Polycystic Ovarian Syndrome
• 21-hydroxylase deficiency
• Hipertiroidisme
• Hipotiroidisme
• Cushing Syndrome
• Hanya pasien yang mengalami Amenore primer:
• Abnormalitas anatomis Vagina/Uterus: Rokitanski syndrome dan Asherman Syndrome
• Gangguan differensiasi seksual, mis. Resistensi Androgen
2.2.8 Tatalaksana
Wanita yang didiagnosis Kegagalan ovarium prematur akan mengalami defisiensi hormon Estrogen. Maka dari itu, terapi yang diberikan adalah HRT(Hormone Replacement Therapy). Namun, terapi ini diberikan hanya jika wanita tersebut sudah memasuki usia menopause normal pada wanita, yaitu sekitar usia 50 tahun, serta tidak menunjukkan adanya kontraindikasi terhadap terapi hormonal (National Collaborating Centre for Women’s and Children’s Health, 2015).
Indikasi terapi hormonal pada kegagalan ovarium prematur bertujuan untuk mencegah terjadinya dampak jangka panjang dari
Kegagalan ovarium prematur. Terapi hormonal dapat digunakan untuk mengobati gejala vasomotor(hot flushes, insomnia, dan gejala psikologis), gejala disfungsi seksual, dan vaginal dryness, mengembalikan kepadatan tulang, menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler, dan juga membantu meningkatkan kualitas hidup (Webber et al., 2015).
Ada 2 pilihan terapi yang dapat diberikan, yaitu terapi dengan Estrogen(Estradiol, Ethinylestradiol, dan conjugated equine Estrogen) dan terapi dengan Progestogen(Progestin). Estrogen dapat diberikan secara per oral, atau dapat melalui rute transdermal.
Rute lain, seperti implan, semprotan pada daerah nasal, dan injeksi juga tersedia. Kelebihan terdapat pada rute transdermal, dimana rute ini menghindari first-pass metabolism di hati. Dibandingkan dengan rute pemberian secara per oral, rute transdermal dapat mencapai plasma level yang lebih tinggi dengan terapi dosis yang rendah, serta metabolit yang lebih sedikit dihasilkan. Progestogen dapat diberikan secara per oral, transdermal, dan rute intrauterin.
Sediaan yang dapat diberikan diantaranya Progestogen yang dimikronisasi (dapat diberikan secara per oral, melalui vagina, dan transdermal) dan Vaginal Progesterone, yang memiliki kelebihan dapat mencapai plasma level yang lebih tinggi di dalam target organ(Uterus) dengan dosis terapi yang rendah (Webber et al., 2015).
Pada Estrogen, Estradiol melalui rute transdermal dapat diberikan dosis 100-150 µg dengan dosis harian sebanyak 50 µg.
Conjugated Equine Estrogen dapat diberikan dosis 1,25 mg, dengan dosis harian 0,625 mg. Estradiol oral dapat diberikan pada dosis 2-4 mg dengan dosis harian 1 mg. Untuk Progestin, regimen dosis yang direkomendasikan diantaranya, Medroxyprogesterone 10 mg per hari untuk lama terapi 10-12 hari tiap bulan, dan
20
selama 10-12 hari tiap bulan. Terapi Estrogen dapat diberikan secara kontinu, maupun per siklus(21 hari terapi, 7 hari non-terapi), sedangkan terapi Progestin sebaiknya diberikan per siklus(10-14 hari tiap bulan), untuk mencegah efek samping Hyperplasia Endometrium. Monitoring pasien yang mendapat terapi hormonal juga harus dilakukan sebaik mungkin (Pellegrini, 2018).
Edukasi juga harus diberikan kepada pasien, diantaranya, pasien harus diberi pengetahuan tentang diagnosis ini. Kegagalan ovarium prematur menyebabkan ovarium tidak bisa memproduksi hormon Estrogen, yang berperan mempertahankan kepadatan dan kekuatan tulang. Penting untuk memberikan penggantian hormon yang hilang, misalnya dengan aktivitas fisik dan diet tinggi Kalsium. Pasien dengan kegagalan fungsi Ovarium sebaiknya mengonsumsi 1200-1500 mg Kalsium per hari. Jika tidak mungkin dilakukan, suplementasi Kalsium juga dapat diberikan. Konsumsi Vitamin D yang adekuat juga sangat penting dan baik untuk pasien.
Untuk aktivitas fisik, sebaiknya dilakukan di luar ruangan.
Aktivitas fisik sebaiknya dilakukan 30 menit perhari, dengan frekuensi minimal 3 kali dalam seminggu, untuk meningkatkan kekuatan otot dan mempertahankan massa tulang. Perlu diberitahukan kepada pasien, bahwa risiko infertilitas juga tinggi.
Namun, beritahukan kepada pasien bahwa kehamilan sewaktu- waktu dapat terjadi (Pellegrini, 2018).
2.2.9 Komplikasi
Telah dijelaskan bahwa dampak jangka panjang dapat terjadi pada Kegagalan Ovarium Prematur, diantaranya(Webber et al., 2015):
• Penyakit kardiovaskuler (Coronary Heart Disease dan Ischaemic Heart Disease)
• Osteoporosis
• Gangguan Fungsi Neurologis (Gangguan fungsi kognitif, Demensia, dan Parkinson’s disease)
• Penurunan Kualitas Hidup (Aspek psikologis dan psikososial)
• Infertilitas
2.2.10 Prognosis
Prognosis yang sering dibahas pada Kegagalan Ovarium prematur adalah prognosis mengenai kemungkinan kehamilan.
Wanita yang mengalami kegagalan Ovarium prematur yang bersifat spontan memiliki kesempatan untuk hamil yang sangat rendah, namun, masih ada kemungkinan untuk hamil. Menurut statistik, sekitar 5-10% kasus berujung pada kehamilan. Terapi hormonal tidak mencegah terjadinya kehamilan. Kembalinya fungsi ovulasi pada ovarium juga dilaporkan pada beberapa studi, meskipun adanya tindakan induksi oleh obat-obatan, misalnya pada percobaan menggunakan agonis GnRH . Pada studi yang dilakukan oleh van Kasteren et al(1995), didapati 5 dari 15 pasien Menopause dini yang berada di dalam 1 kelompok yang diintervensi dengan agonis GnRH mengalami pertumbuhan folikuler. Maka dari itu, pasien sebaiknya diberikan penjelasan mengenai keadaan reproduksinya dengan tujuan agar mereka dapat membuat keputusan berdasarkan penjelasan mengenai kesuburan ataupun keadaan reproduksi mereka (Van Kasteren et al., 1995, Anasti, 1998, Conway, 2000).
22
2.3 KERANGKA TEORI
Manifestasi Klinis
Menopause dini
Patofisiologi
Etiologi Diagnosis Tatalaksana Komplikasi
• Idiopatik
• Faktor Genetik
• Autoimun
• Iatrogenik
• Delusi (Sindrom Turner)
• Isokromoso m
• Translokasi kromosom X
• Hot
flushes
• Keringat berlebihan
• Mood yang labil
• Vaginal dryness
• Riwayat Keluarga
• Profil Hormon
• Skrining autoantibo di
• Terapi Hormonal
• Diet &
Aktivitas fisik
• Edukasi
• Penyakit kardiovask uler
• Osteoporo sis
• Gangguan Fungsi Kognitif
• Gangguan aspek psikologis Siklus Kehidupan Wanita
Fetal
Pubertas
Bayi
Kanak-kanak Remaja
Dewasa
Klimakterium
2.4 KERANGKA KONSEP
Wanita yang Mengalami Menopause di kota Medan
Gejala Menopause Haid Terakhir
Karakteristik:
Usia Pendidikan Pekerjaan Paritas
Riwayat Menopause Keluarga Usia Menarke
Menopause dini
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 RANCANGAN PENELITIAN
Penelitian ini adalah suatu penelitian deskriptif analitis dengan desain cross- sectional yang bertujuan untuk mengetahui epidemiologi Menopause dan Menopause dini di kota Medan pada tahun 2018.
3.2 LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di 6 kecamatan dan 18 kelurahan berbeda yang ada di kota Medan.
3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah seluruh wanita di kota Medan dari berbagai kelompok umur, yang telah mengalami Menopause.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel merupakan bagian kecil dari populasi yang dianggap dapat mewakili populasi (Notoatmodjo, 2012). Sampel dari penelitian ini memiliki kriteria inklusi yang disajikan dalam tabel 3.1 berikut.
Tabel 3.1 Kriteria Inklusi Sampel Penelitian
No. Kriteria Inklusi
1. Wanita yang sudah mengalami menopause.
2. Berdomisili di Medan.
3. Bersedia untuk menjadi sampel dalam penelitian dan telah menandatangani lembar inform consent atau persetujuan setelah penjelasan.
4. Tidak memiliki riwayat kemoterapi dan radioterapi.
5. Tidak pernah melakukan operasi pembedahan tumor ginekologi.
Sebelumnya, simpangan baku penelitian harus diketahui, dikarenakan jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif numerik. Simpangan baku penelitian ini diambil dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rohmatika et al(2012) mengenai
“Pengaruh Usia Menarke terhadap Usia Menopause pada Wanita Menopause di Desa Jingkang Babakan Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas Tahun 2012”. Di dalam penelitian tersebut, tidak disebutkan berapa nilai simpangan baku penelitian, namun, simpangan baku penelitian dapat dihitung dengan menggunakan formula (Hastono dan Sabri, 2010):
Simpangan baku (S) = √V
dimana V adalah Varian(rata-rata perbedaan antara mean dengan nilai masing-masing populasi), yang dirumuskan sebagai (Hastono dan Sabri, 2010):
V =∑(𝑥 − x )2 𝑛 − 1
Dengan data berupa distribusi frekuensi Usia Menopause yang telah didapat dari penelitian Rohmatika et al(2012) tersebut, maka data-data tersebut dapat dimasukkan dan diformulasikan sebagai berikut:
𝑉 =
2(31−49)2+(35−49)2+(39−49)2+5((40−49)2+2(42−49)2 +2(44−49)2+6(45−49)2+3(46−49)2+3(47−49)2+5(48−49)2+ 3(49−49)2+10(50−49)2+5(51−49)2+6(52−49)2+7(53−49)2+
11(54−49)2+3(55−49)2+(56−49)2
75
𝑉 = 30,2 ≫≫≫ 𝑺 = √𝑽 = √𝟑𝟎, 𝟐 = 𝟓. 𝟒𝟗 = 𝟓, 𝟓
26
Jumlah sampel yang akan diteliti dihitung menggunakan formula untuk penelitian deskriptif numerik (Dahlan, 2013):
n = (Zα x S)2 d2 n = (1,96 x 5,5)2 12
n = 116,2084( dibulatkan menjadi 117) Keterangan:
n = besar sampel
Zα = deviat baku normal untuk α S = Simpangan baku
d = presisi/tingkat ketepatan absolut yang dikehendaki
Dengan persentase kesalahan 5%, maka jumlah sampel yang diperoleh dengan menggunakan rumus tersebut adalah 117 sampel, yang pada akhirnya digenapkan menjadi 120 sampel, agar distribusi sampel dapat merata. Untuk antisipasi drop out peneliti ingin agar kemungkinan drop out hanya terjadi sebanyak 20% saja, maka dapat digunakan rumus sederhana untuk koreksi sampel, yaitu (Sastroasmoro dan Ismael, 2011):
𝑛′= 𝑛 (1 − 𝑓)
= 120
(1 − 20%)
= 150 sampel
Agar distribusi sampel dapat merata di 6 kecamatan dan 18 kelurahan di kota Medan, peneliti menetapkan bahwa total sampel yang menjadi subjek penelitian ini adalah sebanyak 162 responden.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non- probability Quota Sampling, dikarenakan tidak adanya data mengenai jumlah wanita yang sudah mengalami Menopause di kota Medan, jadi kecil kemungkinan untuk menggunakan teknik random sampling atau teknik pengambilan sampel lainnya. Sampel diambil dalam jangkauan 6 kecamatan. Tiap kecamatan diambil sampel sebanyak 27 sampel.
a. Kecamatan Medan A : 1/6 x 150 = 27 sampel b. Kecamatan Medan B : 1/6 x 150 = 27 sampel c. Kecamatan Medan C : 1/6 x 150 = 27 sampel d. Kecamatan Medan D : 1/6 x 150 = 27 sampel e. Kecamatan Medan E : 1/6 x 150 = 27 sampel f. Kecamatan Medan F : 1/6 x 150 = 27 sampel
3.4 METODE PENGUMPULAN DATA 3.4.1 Jenis Data Penelitian
Jenis data penelitian ini adalah data primer. Pengumpulan data primer dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner.
3.4.2 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian ini adalah kuesioner yang dibuat oleh peneliti sesuai dengan teori yang sudah dijelaskan, serta akan divalidasi setelah mendapatkan persetujuan dari dosen penguji saat ujian proposal penelitian.
28
3.5 DEFINISI OPERASIONAL 1. Prevalensi
Definisi : Disebut juga dengan proporsi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), prevalensi adalah jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah.
Prevalensi adalah perbandingan jumlah kasus dengan total individu di populasi penelitian (Hastono dan Sabri, 2010).
Cara Pengukuran : Pengumpulan dan pengolahan data hasil wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Pengukuran : Persentase jumlah wanita yang mengalami Menopause dini.
2. Menopause dini
Definisi : Wanita yang tidak mengalami haid dan disertai gejala-gejala menopause pada usia dibawah 40 tahun (Ferri., 2017, Melmed et al., 2015).
Cara Pengukuran : Pengumpulan dan pengolahan data hasil wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Pengukuran : Persentase jumlah wanita yang mengalami Menopause dini
3. Usia
Definisi : Usia responden saat dilakukan penelitian.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), usia adalah lama waktu hidup
atau ada (sejak dilahirkan atau diadakan).
Cara Pengukuran : Wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Pengukuran : Jawaban subjektif dari responden, berupa angka(numerik) + tahun
Skala : Numerik (Interval)
4. Usia Menarke
Definisi : Usia responden saat pertama kali haid (Anwar et al., 2011). Studi yang dilakukan oleh Azzahra dkk (2017) mengelompokkan Menarke berdasarkan usia dimana dimulainya onset Menarke menjadi Menarke dini (<11 tahun), Menarke normal (11-13 tahun), Menarke Tarda (14-16 tahun) dan Menarke Terlambat (>16 tahun).
Cara Pengukuran : Wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Pengukuran : Jawaban subjektif dari responden
Skala : Kategorik (Nominal)
5. Usia Haid Terakhir
Definisi : Usia responden saat mengalami haid terakhir dalam waktu 1 tahun. Jameson dkk (2015) mengelompokkan wanita berdasarkan kelompok usia saat menopause menjadi Kegagalan ovarium premature/Menopause dini (<40 tahun), Menopause cepat (40-45 tahun), dan
30
Cara Pengukuran : Wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Pengukuran : Jawaban subjektif dari responden
Skala : Kategorik (Nominal)
6. Tingkat Pendidikan
Definisi : Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar (SD hingga SMP sederajat), pendidikan menengah (SMA sederajat), dan pendidikan tinggi (Diploma, Sarjana, Magister, dan Doktor).
Cara Pengukuran : Wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Pengukuran : Jawaban subjektif responden
Skala : Kategorik (Ordinal)
7. Pekerjaan
Definisi : Menurut Klasifikasi Baku Jenis Pekerjaan Indonesia 2002, pengelompokan jenis pekerjaan terbagi menjadi 10 golongan pokok, mulai dari golongan 0 (TNI dan POLRI) hingga golongan 9 (pekerja kasar) (Badan Pusat Statistik, 2002).
Cara Pengukuran : Wawancara
Alat ukur : Kuesioner
Hasil Pengukuran : Jawaban subjektif responden
Skala : Kategorik (Nominal)
8. Paritas
Definisi : Jumlah anak yang dilahirkan. Berdasarkan jumlahnya, paritas seorang perempuan dibedakan menjadi:
• Nullipara/belum pernah melahirkan anak sama sekali (Leveno etl al., 2003).
• Primipara/sudah melahirkan anak sebanyak 1 kali (Manuaba et al., 2007).
• Multipara/sudah melahirkan anak 2 kali atau lebih (Leveno et al., 2003).
• Grandemultipara/sudah melahirkan anak lebih dari 6 kali (Mochtar, 1998).
Cara Pengukuran : Wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Pengukuran : Jawaban subjektif dari responden Skala Pengukuran : Kategori (Ordinal)
9. Gejala Menopause
Definisi : Kumpulan gejala yang dialami oleh wanita yang telah memasuki masa menopause(seperti, hot flushes, atrofi vagina, gangguan mood dan ansietas, dll) (Dennerstein et al., 2000, Cohen et al., 2006).
Cara Pengukuran : Wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Pengukuran : Jawaban subjektif responden yang diceklis
32
oleh peneliti
Skala : Kategorik (Nominal)
10. Riwayat Tindakan Pembedahan Ginekologik
Definisi : Riwayat responden apakah pernah melakukan operasi ginekologik akibat suatu penyakit atau keganasan(misalnya.
Endometriosis) (Hamoda, 2017).
Cara Pengukuran : Wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Pengukuran : Pernah atau tidak pernah
Skala : Kategorik (Nominal)
11. Riwayat Penyakit
Definisi : Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita oleh responden Cara Pengukuran : Wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Hasil Pengukuran : Ada(jika ada sebutkan) atau tidak ada
Skala : Kategorik (Nominal)
3.6 METODE ANALISIS DATA
Data yang telah diperoleh dari kuesioner nantinya akan dikumpulkan dan diolah secara deskriptif dengan menggunakan program pengolah data melalui sistem komputerisasi.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan di 6 kecamatan yang ada di kota Medan, dan kemudian di tiap 1 kecamatan, pencarian sampel dipersempit lagi ke 3 kelurahan yang ada di tiap kecamatan. Agar distribusi sampel dapat merata di tiap kelurahan dan kecamatan, peneliti menetapkan kuota sampel per 1 kelurahan yang ada di tiap kecamatan sebanyak 9 sampel saja, sehingga dalam 1 kecamatan, akan terdapat 27 sampel dari 3 kelurahan yang berbeda. Kecamatan-kecamatan serta kelurahan yang dilibatkan di penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Kecamatan Medan Belawan a. Kelurahan Belawan I b. Kelurahan Belawan II c. Kelurahan Belawan Bahagia 2. Kecamatan Medan Helvetia
a. Kelurahan Dwikora
b. Kelurahan Helvetia Tengah c. Kelurahan Tanjung Gusta 3. Kecamatan Medan Johor
a. Kelurahan Gedung Johor b. Kelurahan Pangkalan Mansyur c. Kelurahan Sukamaju
4. Kecamatan Medan Sunggal a. Kelurahan Lalang
b. Kelurahan Sei Sikambing B c. Kelurahan Tanjung Rejo 5. Kecamatan Medan Tembung
a. Kelurahan Bandar Selamat