SEMINAR NASIONAL MANAJEMEN AGRIBISNIS
”Membangun Sistem Pertanian Berkelanjutan Melalui Penguatan Kelembagaan Sosio-Bisnis”
PROSIDING
DENPASAR, 19 NOVEMBER 2016
PROGRAM STUDI MAGISTER AGRIBISNIS PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
KATA PENGANTAR
Prosiding ini merupakan dokumentasi dari paparan dan gagasan dari pembicara kunci (keynote speaker), pembicara tamu (invited speaker) dan karya ilmiah dari para peneliti dan diskusi yang mengiringinya pada Seminar Nasional Manajemen Agribisnis dengan tema “Membangun Sistem Pertanian Berkelanjutan Melalui Penguatan Kelembagaan Sosio-Bisnis”.
Pentingnya peningkatan daya saing pertanian pada era kompetisi global melalui penerapan teknologi tepat guna, pengoptimalan peran penyuluh dan kelembagaan, serta strategi pemasaran produk pertanian mendorong para peneliti, akademisi serta pemerhati ekonomi pertanian mendiskusikan berbagai permasalahan tersebut dalam Seminar Nasional ini.
Seminar Nasional ini merupakan ajang tukar menukar informasi hasil penelitian serta diseminasi informasi perihal perkembangan tentang penyuluhan dan pembangunan pertanian serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Ruang lingkup materi Seminar Nasional ini meliputi aspek kelembagaan dan peran penyulubban problematika dan alternatif solusi, kelembagaan permodalan dan pemasaran serta kelembagaan teknologi.
Penerbitan prosiding ini diharapkan bermanfaat dan dapat dijadikan acuan dalam pengembangan penelitian terkait dengan kedaulatan pangan dan pertanian. Dewan editor mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian prosiding ini.
Denpasar, 23 Mei 2017
Editor
DAFTAR ISI
Keragaan Bantuan Modal/Kredit Pertanian Dan Biaya Transaksi Usaha Ternak Sapi Di Provinsi Nusa Tenggara Timur………...
Agustina Hewe dan Kristina Lako
1
Strategi Branding Dalam Promosi Penjualan Produk Pertanian Olahan Pt.
Hatten Bali Untuk Pasar Pariwisata Indonesia………
I Ketut Surya Diarta, Putu Widhianti Lestari, dan Ida Ayu Putu Citra Dewi
9
Keragaan Beberapa Varietas Unggul Baru Padi Dan Ketahanan Terhadap Opt Utama Mendukung Keberlanjutan Pangan Di Bali……….
I.B.K. Suastika, Putu Suratmini dan Putu Sutami
27
Revitalisasi Kelembagaan Penyuluhan Pertanian Di Indonesia………
Kadhung Prayoga
37
Performa Kelembagaan Usahatani Di Kabupaten Kupang Dan Timor Tengah Selatan, Provinsi NTT……….
Kristina Lako dan Agustina Hewe
53
Penerapan Tri Hita Karana (Thk) Pada Kegiatan Bisnis Di Kelompok Tani Mekar Sari, Desa Tegal Badeng Timur, Kecamatan Negara, Kabupaten
Jembrana………..
Putu Fajar Kartika Lestari
61
Usahatani Padi Dan Bawang Merah Mendukung Pendapatan Di Petani Di
Kalimantan Selatan……….
Rismarini Zuraida
73
Analisis Persepsi Petani Cabai Terhadap Pembangunan Berkelanjutan……...
I Nyoman Gede Ustriyana dan Ida Ayu Listia Dewi
81
Peluang Inovasi Teknologi Pengembangan Usaha Pertanian Di Desa Bunutan Melalui Pendekatan Pra (Kalender Musim) ...
I Made Londra dan Putu Sutami
97
Partisipasi Perempuan Dalam Kegiatan Penyuluhan Pertanian Tanaman Pangan Pada Subak Di Kabupaten Tabanan Bali………
Ni Wayan Sri Astiti
111
Alokasi Pembiayaan Dana Kredit LPD Pada Sektor Pertanian di Kabupaten
Gianyar……….
Putu Udayani Wijayanti dan I Wayan Widyantara
126
Kemandirian Petani Perkotaan Dalam Mengembangkan Agribisnis Sayuran
di Kota Denpasar……….
Ni Luh Prima Kemala Dewi dan Ni Wayan Putu Artini
136
ALOKASI PEMBIAYAAN DANA KREDIT LPD PADA SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN GIANYAR
Putu Udayani Wijayanti, I Wayan Widyantara Prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana
Jln, PB Sudirman Denpasar Bali Email:[email protected]
ABSTRACK
Local Bali Government Level I pass trough Decree of the Governor of Bali Number 972 Year 1984 said to develop Village Credit Institution (LPD) in Bali Province, with the aim of further simplifying rural communities in seeking business capital and to exploit the potential of village communities in economic development and support the development of rural communities. The presence of Village Credit Institution is one of strategic policy to increase rural communities prosperity.
The specific purpose of this study is to know the allocation of credit issued for various rural economic activities and know the credit funds obtained by creditors, used for anything in agricultural activity.
Object of this research are two LPD which is purposively choosen with consideration of those LPD gives credit to the farmer (creditors). One of them are taken in sub urban area near urban areas that is Traditional Village LPD of Blega in Blahbatuh sub-district and the other one are taken in rural area that is Traditional Village LPD of Taro Kaja in Tegalalang sub-district.
Related to the two research location because of allocated time and fund for the research.
The populations in this research are all of the creditors who borrowed credit fund from LPD and the samples taken by purposive random sampling from each LPD, where for the allocation of credit in the agricultural sector obtained each of 4 people as a sample. Data analysis that used are descriptive qualitative to describe allocated fund credit used that the samples get at agricultural sector.
The result of the research are credit distribution to the agricultural sector from LPD Blega and LPD Taro Kaja as much as 7,49% from total credits, meanwhile total credit used by farmers in crop farming branch for both LPD are Rp. 18.500.000,-. Obtained data in the field, the credit fund obtained is greater for outside agricultural sector that is yadnya and build a house.
Key Word : Allocation, Credit, Agricultural Sector
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suatu jaringan keuangan yang aktif dan sehat di pedesaan akan menunjang pertumbuhan industri padat karya di pedesaan dan meningkatkan nilai tambah usaha kecil. Pada masa lalu kendala utama dalam kebijaksanaan keuangan adalah masalah keseimbangan antara orientasi pasar dan intervensi pemerintah, tetapi terdapat juga alasan-alasan khusus mengapa demikian. Banyak negara yang sedang berkembang gagal menyelenggarakan sistem keuangan di pedesaan yang baik dan mampu bertahan, walaupun bantuan keuangan untuk orang-orang miskin di pedesaan merupakan agenda politik dan ekonomi yang utama di negara-negara tersebut (Martokoesoemo, (1995) dalam Wirawati (2006))
Tujuan pembangunan pertanian adalah meningkatkan produksi pertanian, peningkatan dan pemerataan pendapatan petani serta menciptakan kesempatan kerja di sektor pertanian.
Dalam hal ini pemerintah menyediakan sarana produksi pertanian seperti pupuk, obat-obatan, bibit dan sejenisnya dengan harga yang terjangkau petani. Pemerintah juga menyediakan kredit dengan harga yang rendah. Untuk tujuan tersebut Pemerintah Daerah Tingkat I Bali melalui Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali Nomor 972 Tahun 1984, mengembangkan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Provinsi Bali, dengan tujuan untuk lebih mempermudah masyarakat pedesaan di dalam mencari modal usaha dan memanfaatkan potensi masyarakat desa dalam pembangunan ekonomi serta menunjang pembangunan masyarakat pedesaan. Kehadiran Lembaga Perkreditan Desa (LPD) merupakan salah satu kebijakan strategis untuk dapat meningkatkan kesejahteraan kelompok masyarakat pedesaan
Keberadaan LPD sebagai kekayaan dan usaha ekonomi desa memiliki posisi strategis.
Manfaat langsung yang diterima krama desa adalah untuk kegiatan produksi atau sebatas konsumsi. Idealnya masyarakat desa pekraman mampu memperoleh manfaat ekonomis dari keikutsertaannya sebagai krama desa. Masyarakat desa adat/pakraman mempunyai kesempatan yang lebih besar dalam memperoleh modal usaha LPD juga menjadi sarana pembangunan fasilitas fisik desa, serta memberikan bantuan sosial masyarakat desa
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Alokasi
Defenisi alokasi adalah penentuan banyaknya uang (biaya) yang disediakan untuk suatu keperluan. Alokasi juga berarti pembagian biaya barang, jasa; pembagian jumlah segolongan biaya kepada sejumlah rekening dengan tujuan mengidentifikasi biaya dengan produk yang dihasilkan oleh barang atau jasa itu (http://www.artikata.com)
2.2 Pengertian dan Landasan Hukum Lembaga Perkreditan Desa
Lembaga Perkreditan Desa yang lebih popular dengan sebutan LPD adalah Lembaga Keuangan yang dimiliki oleh Desa Pekraman dan dikelola oleh Desa Pekraman atau Desa Adat.
Fungsi dari LPD adalah sebagai wadah kekayaan desa yang berupa uang atau surat berharga lainnya (Antara, 2009)
Status dari LPD merupakan Badan Usaha Milik Desa (BUMD). Jenis usaha yang dijalankan LPD adalah jasa yang terdiri dari tabungan, deposito, dan kredit.
2.3 Defenisi, Prinsip, dan Fungsi Kredit
Undang-undang Perbankan No 7 Tahun 1992 mengungkapkan Pengertian Kredit merupakan penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bungan imbalan atau pembagian hasil keuntungan.
2.4 Macam Kredit Berdasarkan Sektor Perekonomiannya
1. Kredit Pertanian, adalah kredit untuk perkebunan, peternakan dan perikanan 2. Kredit Pertambangan, ialah kredit untuk beraneka macam pertambangan
3. Kredit Ekspor-Impor, yaitu kredit untuk eksportir dan importir macam-macam barang.
4. Kredit Koperasi, adalah kredit untuk jenis-jenis koperasi
5. Kredit Profesi, adalah kredit untuk macam-macam profesi, misalnya dokter dan guru.
6. Kredit Perindustrian, adalah kredit untuk macam-macam industri kecil, menengah dan besar.
2.5 Pengertian Usahatani
Menurut Soekartawi (1995), usahatani merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana seorang petani mengalokasikan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Usahatani juga merupakan kegiatan usaha manusia untuk mengusahakan tanahnya. Pada akhirnya memperoleh hasil tanaman atau hewan tanpa mengakibatkan berkurangnya kemampuan tanah yang bersangkutan untuk memperoleh hasil selanjutnya.
2.6 Kontribusi dari Penelitian
Diharapkan dari penelitian ini diketahui alokasi kredit yang dikeluarkan untuk berbagai kegiatan ekonomi pedesaan, serta mengetahui dana kredit yang diperoleh kreditor, digunakan untuk apa saja dalam kegiatan pertanian.
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
3.1 Tujuan Khusus Penelitian
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk:
a. Mengetahui alokasi kredit yang dikeluarkan untuk berbagai kegiatan ekonomi pedesaan b. Mengetahui dana kredit yang diperoleh kreditor, digunakan untuk apa saja dalam kegiatan
pertanian 3.2 Manfaat
Adapun urgensi dari penelitian ini adalah desa merupakan daerah penyokong dari suatu wilayah Negara sehingga pembangunannya haruslah memegang peranan yang penting. Dalam membangun sebuah desa harus ada lembaga penunjuang, salah satu lembaga penunjang yang sangat penting di Bali adalah Lembaga Perkreditan Desa (LPD), yaitu untuk memberikan pinjaman modal bagi masyarakat guna melakukan usaha.
METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di daerah Kabupaten Gianyar. Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) berdasarkan atas pertimbangan daerah Kabupaten Gianyar terdapat banyak lahan pertanian dan obyek pariwisata. Dimana hasil pertanian terserap di sektor pariwisata, dan untuk meningkatkan hasil pertaniannya banyak petani yang meminjam kredit ke LPD. Waktu penelitian dari bulan Maret-Oktober 2016.
4.2 Data Penelitian
Data penelitian dapat dijabarkan menjadi tiga antara lain: berdasarkan jenis data, sumber data, dan metode pengumpulan data yang diuraikan sebagai berikut.
4.2.1. Jenis data
Jenis data yang dicari dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif adalah data yg dipaparkan dalam bentuk angka-angka.
Misalnya adalah luas sawah, jumlah kredit, dan proporsi kredit. Data kualitatif adalah jenis data yang tidak berbentuk dalam angka tetapi merupakan uraian atau penjelasan yang sifatnya menunjang. Misalnya adalah gambaran lokasi tempat penelitian dan kehidupan petani di daerah tersebut.
4.2.2 Sumber data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah primer dan data sekunder.
1. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya melalui metode wawancara dan observasi langsung seperti luas sawah, jumlah kredit, dan proporsi kredit.
2. Data sekunder yaitu daya yang diperoleh secara tidak langsung dari sumbernya yang mampu memberikan informasi yang terikat dalam penelitian, seperti data karakteristik sampel dan data tingkat pendidikan petani yang didapat dari data Kepala Dusun setempat, profil Desa, serta data dari Biro Pusat Statistik Denpasar.
4.2.3. Metode pengumpulan data
Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Metode observasi
Metode ini dilakukan dengan mengadakan pengamatan langsung ke lokasi penelitian
Wawancara
Peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah dirancang sebelumnya di dalam kuesioner. Wawancara merupakan pengumpulan data yang diperoleh dengan mewawancarai setiap responden yang telah ditentukan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian
Studi dokumentasi
Adalah metode yang digunakan dengan cara mencatat semua dokumen dan literatur yang ada demi kebutuhan penelitian
4.3 Variabel dan Pengukuran
Berdasarkan pada pokok permasalahan yang telah dirumuskan maka variabel akan diukur dengan menggunakan frekwensi secara statistik, dimana akan dilihat berapa alokasi masing-masing dana kredit yang diperoleh sampel untuk pertanian dalam arti luas.
4.4 Populasi dan Sampel
Populasi merupakan kumpulan individu yang memiliki kualitas dan ciri-ciri yang telah ditetapkan, sedangkan sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi (Antara, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah dua LPD di Kabupaten Gianyar.
Adapun dua LPD yang diambil sebagai lokasi penelitian dipilih secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan bahwa LPD tersebut memberikan kredit kepada kreditor. Satu LPD diambil sebagai sampel terletak di daerah sub urban dekat dengan perkotaan yaitu di Kecamatan Blahbatuh, dan satu di daerah pedesaan LPD Desa Taro Kaja yaitu di Kecamatan Tegalalang. Terkait dengan jumlah LPD yaitu dua karena
setiap LPD, dimana untuk alokasi kredit di sektor pertanian diperoleh masing-masing 4 orang sebagai sampel.
4.5 Metode Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif, untuk mendeskripsikan alokasi penggunaan dana kredit yang diperoleh sampel ke pertanian.
PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Sampel
Tingkat umur akan berpengaruh terhadap kemampuan seseorang untuk bekerja.
Semakin bertambah usia seseorang maka kemampuannya untuk bekerja semakin menurun. Hal ini menandakan bahwa umur sangat berpengaruh terhadap produktivitas kerja seseorang. Kisaran umur sampel di LPD Blega dan LPD Taro Kaja adalah 40 tahun – 70 tahun. Terdapat tujuh orang sampel yang berada pada rentang usia produktif, dan satu orang di luar usia produktif.
Dilihat dari pemilikan dan penguasaan lahan, terdapat enam orang sampel yang merupakan pemilik dari lahan garapan, dan dua orang berstatus menyakap. Untuk LPD Blega variasi luas garapan 25-150 are dengan rata-rata adalah 75 are, status petani adalah 75% adalah petani pemilik penggarap dan petani penyakap adalah 25%. LPD Taro Kaja , variasi luas garapannya adalah 6-50 are dengan rata-rata 22 are. Status luas garapannya adalah petani pemilik penggarap sebesar 75% dan petani penyakap adalah 25%. Untuk kedua LPD luas garapan milik sendiri berkisar antara 8-25 are, sedangkan yang berstatus menyakap adalah kisaran 50-125 are.
5.2 Peranan LPD Desa Adat terhadap Masyarakat
Peranan LPD tidak terlepas dari tujuan utama LPD tersebut antara lain yaitu mendorong pembangunan ekonomi masyarakat desa melalui kegiatan menghimpun dana seperti tabungan, deposito dan menyalurkan dana pinjaman kepada masyarakat desa berupa kredit, menghapus gadai gelap dan sejenisnya, menciptakan pemerataan kesempatan berusaha dan perluasan kesempatan kerja bagi krama desa, meningkatkan
daya beli masyarakat dan melancarkan lalu lintas pembayaran dan peredaran uang di desa.
5.3 Distribusi Kredit ke Beberapa Cabang Ekonomi
Adapun distribusi kredit ke berbagai cabang ekonomi yang disalurkan oleh LPD Desa Adat Blega dan LPD Desa Adat Taro Kaja adalah 7,49% ke sektor pertanian, 2,57% ke sektor peternakan, 85,86% ke sektor perdagangan, ke sektor perindustrian sebesar 2,79%, jasa sebesar 0,005%, dan lainnya 0,0001%.
5.4 Penggunaan Kredit oleh Petani pada Berbagai Cabang Usahatani
Dari 100% nilai kredit yang dikeluarkan oleh LPD Desa Adat Blega dan LPD Desa Adat Taro Kaja kepada sampel, penggunaan kredit untuk tanaman pangan adalah 14, 91% (Rp. 18.500.000), peternakan 25,78% (Rp. 32.000.000), peralatan pertanian 14,50% (Rp. 18.000.000), dan sisa dari kredit sebesar Rp. 55.000.000 atau 44,72%
dialokasikan untuk luar usahatani.
Sisa kredit tersebut, dialokasikan untuk yadnya 36,04% dan untuk renovasi rumah 63,96%. Sesuai dengan data di lapangan, bahwa kredit yang diberikan oleh LPD kepada sampel, yang seharusnya diperuntukkan untuk pertanian tapi diperuntukkan untuk luar sektor pertanian yaitu yadnya dan membangun rumah.
5.5 Penggunaan Kredit pada Usahatani Padi
Untuk LPD Desa Adat Blega, penggunaan kreditnya 21,43% (3 orang) digunakan untuk sewa traktor, selanjutnya 28,57% (4 orang) menggunakan untuk membeli bibit, 21,43% (3 orang) untuk membeli obat-obatan, dan 28,57% (4 orang) untuk membeli pupuk.
Penggunaan kredit pada usaha tani di LPD Desa Adat Taro Kaja adalah 30,77%
(4 orang) digunakan untuk membeli pupuk, persentase dan jumlah sampel yang sama juga mengalokasikan kredit yang diberikan untuk menyewa traktor dan membeli bibit, dan 7,69% (1 orang) menggunakan untuk membeli obat-obatan.
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Sesuai dengan data di lapangan, diperoleh hasil;
1. Distribusi kredit ke berbagai cabang ekonomi yang disalurkan oleh LPD Desa Adat Blega dan LPD Desa Adat Taro Kaja adalah 7,49% ke sektor pertanian, 2,57% ke sektor peternakan, 85,86% ke sektor perdagangan, ke sektor perindustrian sebesar 2,79%, jasa sebesar 0,005%, dan lainnya 0,0001%.
2. Dari 100% nilai kredit yang dikeluarkan oleh LPD Desa Adat Blega dan LPD Desa Adat Taro Kaja kepada sampel, penggunaan kredit untuk tanaman pangan adalah 14, 91% (Rp. 18.500.000), peternakan 25,78% (Rp.
32.000.000), peralatan pertanian 14,50% (Rp. 18.000.000), dan sisa dari kredit sebesar Rp. 55.000.000 atau 44,72% dialokasikan untuk luar usahatani.
3. Sisa kredit dialokasikan untuk yadnya 36,04% dan untuk renovasi rumah 63,96%.
4. Pada LPD Desa Adat Blega, penggunaan kreditnya 21,43% (3 orang) digunakan untuk sewa traktor, selanjutnya 28,57% (4 orang) menggunakan untuk membeli bibit, 21,43% (3 orang) untuk membeli obat-obatan, dan 28,57% (4 orang) untuk membeli pupuk.
5. Penggunaan kredit pada usaha tani di LPD Desa Adat Taro Kaja adalah 30,77% (4 orang) digunakan untuk membeli pupuk, persentase dan jumlah sampel yang sama juga mengalokasikan kredit yang diberikan untuk menyewa traktor dan membeli bibit, dan 7,69% (1 orang) menggunakan untuk membeli obat-obatan.
6.2 Saran
1. Sesuai dengan data di lapangan, bahwa kredit yang diberikan oleh LPD kepada sampel, yang seharusnya diperuntukkan untuk pertanian tapi diperuntukkan untuk luar sektor pertanian yaitu yadnya dan membangun rumah, maka dapat disarankan kepada LPD tersebut untuk mengalokasikan dana kredit lebih besar ke sektor pertanian
2. Bagi kreditor petani yang memperoleh kredit agar mengalokasikan dana yang diperoleh ke sektor pertanian, dan tidak dipakai untuk diluar sektor pertanian
DAFTAR PUSTAKA
Antara, I Made. 2010. Bahan Ajar Mata Kuliah Metodelogi Sosek. Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Unud.
Antara, I Putu Eka Budi Antara. 2015. Profil Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Pekraman Belega, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar.
Skripsi tidak dipublikasikan. Program Ekstensi, Fakultas Pertanian, Unud.
Anonim. 2016. Pengertian Kredit. http://www.artikelsiana.com./2015/07/kredit- pengertian-fungsi-unsur-macam-prinsip.html. Diunduh tanggal 9 Maret 2016
Anonim. 2016. Pengertian Alokasi. http://www.artikata.com/arti-318525- alokasi.html
Dwisaputra, Kadek Agus. 2015. Kemampuan Petani dalam Mengalokasikan Biaya pada Usahatani Jahe di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar. Skripsi tidak dipublikasikan. Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Unud.
Kasmir. 2002. Dasar-dasar Perbankan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Putra, IB. Bima Pratama. 2014. Pengelolaan Resiko pada Organisasi Lembaga Perkreditan Desa (LPD)
(
Studi Kasus: LPD Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali.)Rismawati, Ni Wayan. 2014. Tugas Bank.
http://rismameiky.blogspot.co.id/2014/05/tugas-bank-lembaga- keuangan.html
Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta Suarmanayasa, I Nengah dan I Wayan Suwendra, Gede Putu Agus Jana Susila. 2014.
Analisis Faktor Dominan yang Mempengaruhi Pemberian Kredit oleh LPD di Kabupaten Bangli. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 3 No.1 April 2014 ISSN 2303-2898
Wirawati, I Gusti Ayu Agung Sri. 2006. Evaluasi Kinerja Finansial LPD Desa Adat Lipah. Kecamatan Petang, Kabupaten Badung (Pendekatan Rasio Keuangan). Skripsi tidak dipublikasikan. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Unud.