Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)
Oleh Deni Iskandar NIM: 1112032100004
PRODI STUDI AGAMA-AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1440 H/2019 M
i PANDEGLANG-BANTEN
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.ag)
Oleh:
Deni Iskandar 1112032100004
Dibawah Bimbingan:
Dra. Siti Nadroh. M.ag NUP: 9920112687
PRODI STUDI AGAMA-AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH, JAKARTA
1440 H/2019 M
ii NIM : 1112032100004
Progrm Studi : Studi Agama-Agama Fakultas : Ushuluddin
Alamat : Kampung Montor Barat, RT/RW 02/04, Desa Montor, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang-Banten.
Dengan menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri yang diajukan sebagai syarat mutlak memperoleh gelar sarjana agama (S.ag)
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan skripsi ini telah dicantumkan, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
3. Apabila dikemudian hari skripsi ini terbukti hasil jiplakan atau plagiat dari karya orang lain yang pencantuman semua sumber tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Maka saya bersedia menerima sanksi yang diberlakukan kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Demikiam surat pernyataan ini saya buat secara sadar dan sebenar-benarnya.
Montor Barat, 22 April 2019
Deni Iskandar
iii melaksanakan ibadah, bukan hanya berlaku pada satu agama saja, akan tetapi pada semua agama, salah satunya agama Katolik di Labuan, Kabupaten Pandeglang.
Ada beragam cara pemeluk agama, melaksanakan ibadah. Namun, subtansi dari pelaksanaan ibadah itu sendiri adalah, perwujudan rasa kepercayaan dan keyakinan yang wujudkan melalui penyembahan diri kepada Tuhan. Indonesia, sekalipun bukan negara yang menganut sistem pemerintahan berbasis agama, pada kenyataannya mengatur secara tegas tentang keberlangsungan kehidupan umat beragama.
Hal itu seperti tertuang dalam Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan aturan turunan lainnya. Penulisan skripsi dengan judul ‘Kebebasan Hak Beribadah Umat Katolik di Labuan, Pandeglang-Banten’ ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan ibadah umat Katolik di Labuan serta seperti apa regulasi pemerintah daerah Pandeglang dalam mengatur kehidupan umat beragama.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan jenis penelitian lapangan.
Oleh karena itu, data-data yang diperoleh untuk mengetahui situasi dan kondisi kehidupan beragama di Labuan, melalui data hasil observasi. Salah satunya adalah wawancara dengan umat Katolik, Pemerintahan Kabupaten Pandeglang serta tokoh-tokoh agama Islam.
Kehadiran umat Katolik di Labuan, sudah terhitung cukup lama, hal itu ditandai dengan adanya lembaga pendidikan bernama Yayasan Mardiyuana milik Keuskupan Katolik. Dalam kehidupan bermasyarakat, pemeluk agama Katolik di wilayah yang penduduknya mayoritas beragama Islam, dapat bertahan hidup dan beragama. Namun, dalam pelaksanaan beribadah, pemeluk agama Katolik di Labuan ini, masih mengalami banyak persoalan. Diantaranya tidak maksimalnya, pemenuhan hak-hak beragama salah satunya hak beribadah.
Kata Kunci: Labuan, Agama Katolik, Regulasi Pemerintah Terhadap Agama, Kehidupan Umat Beragama.
Abstrak ……….. iv
Kata Pengantar ……….. v
Bab I Pendahuluan a. Latar Belakang Masalah ……… 1
b. Rumusan Masalah ……… 9
c. Tujuan dan Manfaat Penelitian ……… 9
d. Metodologi Penelitian ……… 10
e. Landasan Teori ……… 13
f. Tinjauan Pustaka ……… 16
g. Sistematika Penulisan ……… 18
Bab II Gambaran Umum Masyarakat Labuan, Pandeglang a. Kondisi Geografis ……… 20
b. Sekilas Tentang Labuan ……… 22
c. Sejarah Agama Katolik di Labuan ……… 25
d. Kondisi Sosial Keagamaan ……… 33
Bab III Potret Kebebasan Beragama di Labuan, Pandeglang a. Kebebasan Beragama di Labuan ……… 43
b. Potret Kebebasan Beragama di Labuan ……… 46
Bab IV Relasi Kehidupan Keagamaan Umat Katolik dan Islam di Labuan ... 63
Bab V Penutup a. Kesimpulan ………. 76
b. Saran ………. 80
Lampiran ………. 83
Daftar Pusataka ………. 88
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Jika ada hak maka ada kewajiban, hak akan terwujud apabila kewajiban itu dilaksanakan. Kedua hal tersebut pada dasarnya berjalan secara beriringan, dan seharusnya, keduanya mendapatkan porsi yang seimbang. Disisi lain, hal tersebut sering kali terabaikan, baik sengaja maupun tidak disengaja. Dalam kehidupan bermasyarakat, hak dan kewajiban baik secara tersurat, tersirat, lisan maupun tulisan, merupakan sebuah konsensus. Lebih jauh, mengingat ungkapan seorang Jurnalis senior1 yang penulis kutip, “Dalam kehidupan ini ada hak dan ada kewajiban, dua hal ini selalu berjalan beriringan, bila tidak maka skala kehidupan tidak akan teratur.” Begitu juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Lebih lanjut, kehidupan berbangsa dan bernegara itu sendiri tidak terlepas dari kehidupan umat beragama, dimana di dalamnya terdapat hak dan kewajiban antar umat beragama. Oleh karena sebagai negara yang berlandaskan Pancasila, dimana ketuhanan yang Maha Esa adalah sila pertama, mengatur konsensus tentang hak dan kewajiban antar umat beragama agar dapat berjalan seimbang.
1Wawancara dengan Hari W (Kibo) Koordinator Liputan Media Online, radarnonstop.co Group Rakyat Merdeka. Selasa 25 Desember 2018.
Pancasila yang berkedudukan sebagai pedoman negara, sejatinya secara tegas telah mengatur konsensus tentang hak dan kewajiban antar umat beragama.2 Sebagai bangsa yang memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika, Indonesia memfasilitasi adanya enam agama, diantaranya yaitu, Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Ke-enam agama tersebut, memiliki hak dan kewajiban yang setara dan dilindungi oleh negara, secara hukum dan konstitusi.3 Dalam pelaksanaannya, hak dan kewajiban antar umat beragama telah tertuang dalam ketentuan konstitusional.4
Seperti disebutkan dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 285 Ayat (1) dan (2), Pasal 28E ayat (1) dan (2),6 Pasal 28I ayat (1) dan (2)7 , Pasal 29 ayat (2)8, Undang-Undang (UU) Nomor 39 Tahun 1999
2Fatmawati, Perlindungan Hak Atas Kebebasan Beragama dan Beribadah Dalam Negara hukum Indonesia, Jurnal Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 2011. h. 499.
3UU No 1/PNPS Tahun 1965 Tentang Pencegahan dan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama
4Michael J. Johanis. Perlindungan Kebebasan Beragama Dalam Menjalankan Ibadahnya Menurut Perspektif Hak Asasi Manusia. Jurnal. Lex et Societatis, Vol. II/No.
1/Januari/2014. h. 9
5Negara berdasarkan ketuhanan yang maha esa, dan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaanya itu.
6Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran , memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya serta berhak kembali
7Pasal 28I ayat (1) berbunyi: Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun. Pada ayat 2 berbunyi “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.
8Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama.
Tentang hak Asasi Manusia9 serta Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negari No. 9 tahun 2006, No 8 tahun 2006 Tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadah.10
Selain negara, semua agama yang berkembang di Indonesia, dalam setiap ajarannya masing-masing, ikut memerintahkan kepada umatnya tentang kegiatan beribadah. Seperti dalam Islam11, dalam Alquran surat Al-Baqarah, ayat (21-22),12 Al-An‟am ayat (161-162),13 Al Mumtahanah, Surat (60 ayat 8),14 Al-Ankabut (29:46).15
9Dalam UU No 39 Tahun 1999 Tentang HAM disebutkan dalam Pasal 22 ayat (1) “Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Selain itu dalam ayat (2) juga disebutkan “Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Diakses di, Hukumonline.com, pada kamis 17 Januari 2019.
10M. Syafi‟ie, “Ambiguitas Hak Kebebasan Beragama di Indonesia dan Posisinya Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi”. Jurnal Jurnal Konstitusi, Volume 8, Nomor 5, (Oktober 2011). h. 689.
11 Departemen Agama RI. Alquran dan Terjemahannya. h 397
12Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air dari langit lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala.
13Katakanlah: sesungguhnya aku telah ditunjukan oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus (Yaitu) agama yang benar. Agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Katakanlah, sesungguhnya solatku ibadahku hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam (Jakarta: Cv As-syifa). h 25
14“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu, karena agama, tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berlaku adil”. Departemen Agama.
15“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang dzalim diantara mereka, dan katakanlah: „Kami telah beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu, Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu, dan kami hanya kepadanya berserah diri”
Begitu juga dalam ajaran Katolik, Alkitab16 juga menyebutkan dalam surat Lukas (5:32),17 dan Korintus18 13 ayat (1-5) mengenai kegiatan beribadah.19 Ibadah menjadi suatu kewajiban sekaligus hak dasar bagi umat beragama. Dalam Gereja Katolik dijelaskan bahwa, beribadah adalah bagian dari pada kewajiban seseorang, dalam mengungkapkan keyakinannya.20 Adapun Subtansi beribadah, Menurut Hariyanto, adalah bagaimana cara mengungkapkan iman, dan beribadah sendiri, adalah tuntutan dari iman itu sendiri. Sebab dalam ibadah, berbicara bagaimana menegaskan relasi kita (umat) dengan Tuhan yang diimaninya.21 Pelaksanaan kegiatan beribadah dalam kehidupan beragama, bukan hanya ada dalam agama Islam dan Katolik, akan tetapi terdapat pada setiap agama maupun aliran keprcayaan, dan itu selalu dilakukan oleh setiap pemeluknya. Terlepas bagaimana prakteknya, kapan pelaksanaannya, itu semua telah diatur dalam ajaran agama yang dianut oleh pemeluknya masing-masing.
16Ignatia Esti Sumarah. Keselamatan Dalam Perspektif Katolik, Ed, Ignatius Loyola, Penerbit Universitas Sanata Dharma. h. 26
17“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” Penerbit: e-Katolik.
18(1) Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih. (2) Aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. (3) Dan sekalipun aku membagi- bagikan segala sesuatu yang ada padaku,bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. (4) Kasih itu sabar kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
(5) Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
19Penulis hanya menjelaskan hak dan kewajiban beribadah menurut ajaran Islam dan Katolik. Sesuai dengan topik yang akan dibahas dalam Judul Proposal Skripsi ini.
20Wawancara Dengan Romo Johanes Hariyanto. 27 Januari 2019
21Wawancara, 27 Januari 2019
Dalam ajaran Islam misalnya, kegiatan beribadah dapat dibagi menjadi dua kategori, diantaranya ibadah langsung (Mahdoh) dan ibadah tidak langsung (goiru mahdoh).22 Begitu juga pada agama Katolik, pelaksanaan kegiatan beribadah dibagi menjadi dua kategori, diantaranya yaitu, ibadah pribadi, dan ibadah bersama.23 Beribadah, dalam semua agama merupakan kewajiban yang harus lakukan dan dijalani oleh pemeluknya. Oleh karena itu, pemenuhan atas kebebasan hak-hak beribadah, dalam kehidupan umat beragama harus benar-benar dilakukan oleh negara, sebab beribadah, merupakan bagian dari hak dasar. Tidak hanya itu, negara melalui kebijakan-kebijakannya, harus memberikan jaminan kepada semua pemeluk agama, agar dapat beribadah menurut agamanya masing-masing.
Pada dasarnya, negara melalui kebijakannya telah mengatur dan menjamin umat beragama, salah satunya mengenai hak beribadah. Meski demikian, dalam prakteknya, pemenuhan atas hak-hak beribadah umat beragama di Indonesia, masih belum maksimal dan sering kali masih menyisakan banyak masalah. Salah satunya adalah pemenuhan hak beribadah di Labuan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
22Ibadah Mahdoh (Langsung) adalah ibadah yang telah diatur pelaksanaanya maupun waktunya, misalnya ibadah solat waktu, solat jumat, solat idul fitri, idul adha, dan lain sebagainya. Sementara ibadah tidak langsung adalah ibadah yang waktu dan tempatnya tidak ditentukan.
23Ibadah bersama, adalah ibadah yang telah diatur pelaksanaannya, seperti tempat maupun waktunya, misalnya seperti pelaksanaan ibadah Perayaan Hari Paskah, Imlek, Misa, dan Ekaristi pelaksanaan ibadah bersama ini harus dilakukan di rumah ibadah, seperti Gereja, Paroki, dan Stasi. Sedangkan ibadah pribadi, adalah ibadah yang tidak diatur tempat maupun waktunya, dan hal itu dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Wawancara, 27 Januari 2019
Ada banyak indikator kenapa pemenuhan hak beribadah antar umat beragama bermasalah, diantaranya hal itu terjadi karena, Pertama, sikap dari pemeluk agama dalam melihat pemeluk agama di luar dirinya, Kedua, adanya doktrin sepihak yang melahirkan identitas atau paham keagamaan yang tertutup dan menilai ajaran agama lain itu salah. Sehingga ajaran agama yang dianut oleh pemeluk agama selain dirinya tidak bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.24
Sebagai Provinsi yang dimekarkan dari Jawa Barat, jumlah penduduk di Banten berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2018, sebanyak 12.689.700 jiwa,25 terdiri dari jumlah pemeluk agama, 10.065.783 Islam, 115.865 Katolik, 268.89 Kristen, 131.222 Buddha dan 8.189 Hindu. Adapun untuk jumlah Kabupaten/Kota di Provinsi ini terdiri dari, delapan Kabupaten/Kota. Salah satunya adalah Kabupaten Pandeglang. Berdasarkan data statistik, jumlah penduduk pada tahun 2018 sebanyak 1.205.203 jiwa, terdiri dari 615.297 laki-laki, dan 589.906 perempuan.26 Terdiri dari 35 kecamatan, dan 339 desa.27 Sekalipun Kabupaten ini disebut-sebut sebagai „Kota Santri‟.
24Wawancara Dengan Christoper Nugroho, Sekertaris Jenderal Pemuda Katolik, 25 Januari 2019.
25Jumlah penduduk di provinsi banten ini diambil dari data Badan Pusat Statistik, Banten Dalam Angka 2018. Untuk data jumlah penduduk tahun 2018, tidak disebutkan per kabupaten/kota. Sampai saat ini penulis masih mencoba mencari data yang lebih lengkap.
26Badan Pusat Statistik Kabupaten Pandeglang: Kecamatan Labuan Dalam Angka 2018. (Penerbit: Dinas Komunikasi Informasi dan Statistik Kabupaten Pandeglang) h. 3
27Kecamatan Labuan Dalam Angka 2018. (Penerbit: Dinas Komunikasi Informasi dan Statistik Kabupaten Pandeglang)
Tidak berarti di wilayah ini penduduknya memeluk agama Islam, dibeberapa Kecamatan, ada banyak pemeluk agama di luar Islam, diantaranya adalah pemeluk agama Buddha, Kristen, Hindu, dan Katolik.
Pemerluk-pemeluk agama tersebut, saat ini menetap di Labuan, Kabupaten Pandeglang. Berdasarkan data statistik tahun 2017, jumlah penduduk di wilayah ini sebanyak, 56.724 jiwa, dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 3.622,22 jiwa.28 Sementara itu, untuk jumlah penduduk yang memeluk agama di luar Islam sebanyak 2018 jiwa, terdiri dari 118 Katolik, dan 87 Buddha.
Untuk tingkat populasi pemeluk agama Katolik yang banyak menetap, terletak wilayah Desa Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten.29 Bila melihat data dalam Naskah Profil Desa30 Tahun 2017, jumlah penduduk di desa ini secara keseluruhan, ada 11.211 jiwa, terdiri dari 5.679 laki-laki dan 5.532 perempuan yang tersebar di 14 RW dan 51 RT dengan jumlah Kepala Keluarga 2.602. Adapun untuk jumlah pemeluk agama di Desa Labuan yaitu, 10.341 umat Islam, 11 umat Katolik, 65 umat Kristen, dan 106 umat Buddha.31
28Badan Pusat Statistik Kabupaten Pandeglang: Kecamatan Labuan Dalam Angka 2018
29Tercatat di BPS Pandeglang tahun 2017. Jumlah pemeluk agama Katolik, secara keseluruhan berjumlah 118 orang, ada pun untuk pemeluk agama Katolik di desa Labuan 105 jiwa, di desa Cigondang 13 jiwa. Pemeluk agama Buddha di Desa Labuan 77 jiwa, Desa Cigondang 3 jiwa. Untuk di 7 desa di Kecamatan Labuan, semuanya penduduknya memeluk Islam. Badan Pusat Statistik tahun 2015 mencatat, sarana peribadatan sebanyak 3.890 terdiri 1.595 masjid 2. 295 musolla.
30Naskah Profil Desa Labuan Tahun 2017. Desa Labuan adalah satu dari sembilan desa di Kecamatan Labuan, letak geografis 6º22'33" Lintang Selatan –105º49'35 Bujur Timur. Luas wilayah 0,97 Kilometer Persegi, luas wilayah 6,20.
31Naskah Profil Desa Labuan Tahun 2017. Dalam naskah ini, jumlah umat Buddha di Desa Labuan 0 (Nol).
Sementara, untuk jumlah sarana peribatan yang dijadikan sebagai tempat pelaksanaan ibadah, terdiri dari 5 Masjid, 13 Musolla, 1 Gereja dan 1 Lainnya.32 Bila melihat acuan data Badan Pusat Statisitik diatas, maka mayoritas penduduk di Provinsi Banten, Kabupaten Pandeglang, Kecamatan Labuan, memeluk agama Islam. Selain itu, di Kabupaten ini, pemahaman masyarakat tentang agama Islam begitu kuat dan mengakar.
Sehingga, dalam kehidupan bermasyarakat, sangat kental dengan nuansa- nuansa keislaman, bahkan sudah menjadi identitas yang kuat. Hal itu juga, ikut di rasakan oleh pemeluk agama di luar Islam, salah satunya adalah pemeluk agama Katolik.
Pada penulisan skripsi ini, penulis ingin meneliti tentang bagaimana potret kehidupan umat Katolik di Labuan, mulai dari relasi sosialnya, hubungan dengan umat agama di luar Katoliknya, serta seperti bagaimana kebijakan pemerintah daerah Pandeglang terhadap umat di luar Islam salah satunya umat Katolik. Adapun untuk skripsi ini, ditulis dengan sebuah topik pembahasan berjudul “Potret Kebebasan Hak Beribadah Umat Katolik di Labuan, Pandeglang Banten”.
32Tercatat Dalam Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Pandeglang Tahun 2017.
B. Rumusan Masalah
Bila melihat latar belakang masalah yang telah dijabarkan diatas, maka dalam kajian ini terdapat beberapa persoalan yang harus dibahas diantaranya:
1. Bagaimana Potret Kebebasan Hak Beribadah Umat Katolik di Labuan, Pandeglang Banten ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan
Menindak lanjuti hasil kajian, seperti yang telah diterangkan atas maka, kajian ini dimaksudkan untuk tujuan:
1. Untuk mengetahui implementasi kebijakan negara dalam mengatur kehidupan umat beragama, di Labuan, Pandeglang.
2. Untuk mengetahui potret relasi kehidupan sosial keagamaan umat Katolik dan Islam di Labuan.
Manfaat
Dengan tercapainya tujuan dari hasil kajian mengenai Kebebasan Hak Beribadah Umat Katolik di Labuan, Pandeglang, dapat diambil manfaat diantaranya:
Manfaat Secara Teoritis
1. Untuk memperkaya wacana keilmuan dalam kajian studi agama
2. Upaya untuk mengembangkan khasanah keilmuan dibidang studi kajian ilmu agama
Manfaat Secara Akademik
1. Untuk mendapatkan gelar sarjana agama di fakultas Ushuluddin pada Program Studi (Prodi) Studi Agama-Agama (SAA).
Manfaat Secara Praktis
1. Dapat melihat potret kehidupan beragama di Labuan, Pandeglang.
2. Untuk dijadikan sebagai bahan kajian pemerintah daerah Pandeglang, agar kehidupan umat beragama di Labuan dapat seimbang dalam pemenuhan atas hak dan kewajiban umat beragama.
3. Terciptanya kehidupan antar umat beragama yang harmonis.
4. Terbinanya Kerukunan Antar Umat Beragama.
5. Dengan adanya hasil kajian ini, maka Desa Labuan, Kabupaten Pandeglang, dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam mewujudkan masyarakat madani.
D. Metodologi Penelitian
Dalam upaya menyajikan hasil kajian yang merupakan bagian dari tugas akhir di kampus, agar penulis mendapatkan gelar Sarjana Agama, maka penulis melakukan penelitian ini. Selain itu, penulisan skripsi ini juga, sekaligus untuk menambah jumlah skripsi di rak perpustakaan fakultas ushuluddin.
Oleh karena itu, pada proses penulisan skripsi ini, metodologi penelitian yang digunakan penulis juga lazim dilakukan semua kalangan mahasiswa Perbandingan Agama atau Studi Agama-Agama. Secara lebih rinci penulis akan membahasnya sebagai berikut:
a. Jenis Penelitian
Jenis penelitian pada penulisan skripsi ini adalah, penelitian lapangan dan kepustakaan. Pada penelitian lapangan tersebut, penulis turun ke lokasi, bertemu, berdialog, dan berdiskusi dengan narasumber, baik umat Katolik, maupun umat Islam di Labuan.33 b. Sumber Data
Sumber data dalam penulisan skripsi ini, terdiri dari dua bagian diantaranya yaitu, data primer dan data sekunder. Untuk data primer adalah, data hasil wawancara dan observasi penulis di lapangan.34 Sedangkan data sekunder adalah, yaitu data hasil observasi penulis ke lapangan. Sementara data sekunder adalah, data-data kepustakaan, yang sifatnya adalah data pendukung untuk memperkaya wacana dalam penulisan skripsi ini.35
c. Metode Penelitian
Pendekatan yang digunakan penulis pada penulisan skripsi ini ada empat macam, diantaranya yaitu, pendekatan sosiologis, fenomenologis, historis, dan antropologi.36 Pendekatan ini dilakukan agar, kajian skripsi ini bisa objektif dan kritis. Pertama, Pendekatan Sosiologis ini akan fokus pada pembahasan tentang, sejauh mana
33Penulis turun langsung melakukan observasi melakukan dialog secara personal dengan Umat Katolik di Labuan, pandeglang. Selanjutnya penulis juga melakukan dialog dengan umat Islam, untuk mengetahui bagaimana pandangan umat Islam, terhadap umat Katolik di Labuan, begitu juga sebaliknya.
34Data primer adalah data hasil observasi lapangan, seperti wawancara dari umat Islam maupun umat Katolik di Labuan, Pandeglang Banten.
35Data sekunder, adalah data tambahan yang meliputi data-data kepustakaan seperti buku-buku, jurnal maupun artikel-artikel.
36Media Zainul Bahri, Wajah Studi Agama-Agama, Dari Era Teosofi Indonesia (1901-1940) Hingga Reformasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar) h 14
pengaruh agama terhadap kehidupan masyarakat di Labuan, Pandeglang, serta sejauh mana masyarakat mengimplementasikan dan merealisasikan ajaran agama itu sendiri, dalam kehidupan masyarakat.
Kedua, Pendekatan Fenomenologis, akan fokus menguraikan mengenai objek agama yang akan diteliti, dengan cara memberikan penangguhan penilaian terhadap ajaran dalam agama itu sendiri.
Adalah Edmund Husserl (1859-1938) salah satu tokoh fenomenologi agama terkemuka mengatakan, fenomenologi, memiliki fokus kajian mengenai fenomena-fenomena yang tampak atau yang menampakan diri.37
Alat utama yang dilakukan oleh peneliti dalam kajian fenomenologi ini adalah epoch dan eiditik vision.38 Untuk menerapkan kajian fenomenologi agama dalam skripsi yang bertema: „Kebebasan Hak Beribadah Umat Katolik di Labuan, Pandeglang‟ umat Katolik diberikan ruang untuk menjelaskan tentang konten skripsi ini, dan gejala-gejala keagamaan yang mereka alami dalam kehidupan sosial masyarakat.
Ketiga, Pendekatan Antropologis,39 akan fokus pada memahami kebudayaan-kebudayaan yang notabeenya adalah produk manusia, yang sangat erat hubungannya dengan tradisi agama. maka pada
37Wajah Studi Agama-Agama, Dari Era Teosofi Indonesia (1901-1940) Hingga Reformasi, h 23
38Menangguhkan dan memberikan penilaian terhadap persoalan kebenaran dari gejala keagamaan, menunjukan sikap tidak memihak, mendengarkan dengan serius untuk mencapai pada pemahaman yang benar, tentang gejala-gejala keagamaan orang lain.
39Wajah Studi Agama-Agama, Dari Era Teosofi Indonesia (1901-1940) Hingga Reformas, h 48.
pendekatan ini, akan terlihat sejauhmana budaya dapat memberikan pengaruh terhadap agama begitu juga sebaliknya, sejauhmana agama memberikan pengaruhnya terhadap budaya.
Keempat, Pendekatan Historis, akan fokus pada studi asal-usul agama. Pendekatan ini penting untuk digunakan dalam proses penuisan skripsi ini. Sebab fokus Pendekatan Historis ini adalah penelusuran sejarah agama Katolik di Labuan, Pandeglang.
d. Teknik Pengumpulan Data
Adapun untuk sistem data, penulis mengumpulkan semua data baik data yang meliputi data Primer (observasi, wawancara, dokumentasi) maupun data Sekunder (kepustakaan, forum group diskusi), untuk kemudian di himpun, dikaji dan dianalisa dan dijadikan sebagai referensi penulis untuk memperkuat kajian skripsi ini.
Setelah semua data primer dan sekunder terkumpul, maka penulis menghimpun, mengkaji dan menganalisanya. Kemudian, data yang sifatnya kualitatif ini, di interpretasikan. Selanjutnya, data-data tersebut, oleh penulis di deskripsikan lewat narasai-narasi. Dengan demikian maka, penulis dapat menyajikan kenyataan yang ada dalam hasil penelitian.40
E. Landasan Teori
Untuk dapat memperkaya wacana keilmuan, terutama dalam kajian-kajian sosial keagamaan di Indonesia, maka dalam proses penulisan
40 Y. Sumandiyo Hadi, Seni Dalam Ritual Agama, h 80.
skripsi ini, penulis menggunakan enam landasan teori yang biasanaya digunakan dalam kajian Studi Agama-Agama. Lima landasan teori itu terdiri dari, Teori Kebebasan Beragama, Toleransi Beragama, Kerukunan Umat Beragama, Dialog Antar Umat Beragama, serta Teori Regulasi Negara Terhadap Agama.
a. Teori Kebebasan Beragama
Secara etimologi, kebebasan beragama berasal dari dua istilah, diantaranya „kebebasan‟ dan „beragama‟. Secara terminologis, Menurut Dawan Rahardjo mengatakan bahwa, kebebasan beragama adalah kebebasan untuk memilih agama atau menentukan agama yang dipeluk, serta kebebasan untuk melaksanakan ibadahnya menurut masing-masing yang diyakininya.41 Adapun batasan kebebasan beragama adalah, kebebasan internal,42 kebebasan eksternal,43 dan anti kekerasan.44
b. Teori Kerukunan Umat Beragama
Secara etimologi, kata „Rukun‟, ialah berdampingan. Kerukunan umat beragama bisa diartikan, umat beragama dapat hidup
41Bahrul Haq Al-amin, Kebebasan Beragama di Indonesia Dalam Perspektif M.
Dawam Rahardjo, Skripsi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Program Studi Pemikiran Politik Islam. h 33-34
42Kebebasan Beragama secara Internal ini melipuiti, Setiap orang memiliki hak kebebasan berpikir, berkeyakinan, dan beragama, hak ini mencakup kebebasan untuk semua orang memiliki, mengadopsi, mempertahankan dan mengganti agama atau kepercayaan.
43Kebebasan Beragama secara eksternal meliputi, Setiap orang memiliki kebebasan, baik sendiri maupun di dalam masyarakat dengan yang lain, di ruang pribadi ataupun publik untuk memanifestasikan agama atau kepercayaannya dalam kegiatan Ibadah, ketaatan, pengalaman dan pengajaran .
44Kebebasan Beragama secara Anti Kekerasan meliputi, Tidak seorang pun boleh ditundukan atas kekerasan yang akan merusak kebebasannya untuk mengadopsi atau memiliki agama dan kepercayaan sesuai pilihan.
berdampingan, tanpa adanya rasa curiga satu sama lain.45 Rukun dalam beragama, adalah sikap yang baik untuk melihat bahwa umat beragama telah dewasa dalam beragama. Menurut Mukhti Ali, kerukunan umat beragama adalah, suatu kondisi sosial dimana semoga golongan agama, dapat hidup bersama-sama tanpa mengurangi hak dasar masing-masing untuk melaksanakan kewajiban agamanya masing- masing, dalam keadaan rukun dan damai.46
Terdapat tiga prinsip dalam memahami kerukunan beragama diantaranya yaitu, pertama, prinsip mengakui (To Accept), kedua, prinsip menghargai (To Respect) dan ketiga, prinsip bekerjasama dan mengakui eksistensi agama lain (To Cooperate).47
c. Teori Toleransi Beragama
Secara etimologi, kata Toleransi berasal dari bahasa latin. Kata ini pada mulanya berawal dari kata Tolerare yang memiliki arti Beban.
Pengertian yang paling umum, secara terminologi, adalah suatu sikap atau perbuatan yang melarang keras, adanya tindakan diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda.
45St. Sunardi, Dilema Kerukunan Umat Beragama di Indonesia: Antara Pendewasaan Umat dan Penguatan Fungsionaris Umat, dalam Membangun Kesadaran dan Kearifan Unviversal, Harmoni Volume III Nomor 9, Januari-Maret 2004. h 29
46M. Adlin Sila, Kerukunan Umat Beragama di Indonesia: Mengelola Keragaman Dari Dalam, Pada, Ihsan Ali Fauzi. ed, Kebebasan, Toleransi dan Terorisme, (Jakarta, Penerbit: Pusat Studi Agama dan Demokrasi Paramadina), h 121-123.
47Ihsan Ali Fauzi. ed, Kebebasan, Toleransi dan Terorisme, (Jakarta, Penerbit: Pusat Studi Agama dan Demokrasi Paramadina), h. 123-124.
d. Teori Dialog Antar Umat Beragama
Dialog adalah sebuah percakapan yang dilakukan antara dua orang atau lebih, pada konteks dialog antar umat beragama ini, dilakukan oleh pemeluk agama dari dialog secara esensial sampai dengan hal yang eksistensial.48 Sejak Indonesia diproklamirkan menjadi negara merdeka, Olaf H Schumann menegaskan bahwa, pancasila senantiasa mengiringi setiap tapak dan jejak langkah agama-agama.
Dialog agama dalam kehidupan, sebenarnya bisa dilakukan dalam banyak momentum diantaranya, pada dialog kehidupan, dialog antar umat beragama, melalui saling mencurahkan keimanan di level pengalaman, dialog antar umat beragama dengan cara berteologi lintas agama, serta dialog intra agama.49
F. Tijauan Pustaka
Untuk dapat memperkaya khasanah keilmuan tentang kehidupan keberagamaan di Indonesia, maka dalam penulisan skripsi ini penulis juga melakukan tinjauan pustaka, dalam hal ini meliputi kajian buku-buku yang berkaitan, Jurnal-Jurnal yang juga berkaitan dengan tema yang sedang
48Olaf H. Schumann, Dialog Antarumat Beragama, Membuka babak baru dalam hubungan antarumat beragama, (Jakarta, Penerbit: BPK Gunung Mulia) h 290-295.
49Tiga jenis dialog yang disebutkan Olaf Schumann ini selanjutnya dijelaskannya yaitu, Pertama, Dialog Kehidupan, dalam prakteknya terjadi dalam komunitas kecil yang menghadapi hidup keseharian bersama. Anggota-anggota komunitas masayarakat yang berbeda agama bisa saling mengenal satu sama lainnya. Kedua Dialog Antar Umat Beragama, dalam prakteknya biasanya dilakukan dengan tujuan menggali tradisi-tradisi iman masing-masing. Pada momentum ini, pemeluk agama dapat menegaskan keyakinannya mengenai apa yang menjadi kehendak Tuhan atau apa yang sejalan dengan yang mereka imani sesuai dengan ajaranya. Schumann menyebutnya sebagai Ultim.
Ketiga, Dialog Antar umat beragama melalui lintas iman biasanya bermuara pada tradisi iman dan agama masing masing. umat beragama diarahkan agar bisa melakukan sharing dan diskusi tentang pengalaman keimanan dan ritual keagamaan dalam spiritualitas.
Selengkapnya di, J.B. Banawiratma ed, Dialog Antarumat Beragama, Gagasan dan Praktik di Indonesia, (Jakarta, Penerbit: Mizan Publika) h 11-16.
penulis teliti dan kaji. Selain itu, dalam proses penulisan skripsi ini, penulis merasa bahwa, sejauh ini belum ada mengenai kajian-kajian tentang kehidupan umat beragama di Labuan secara khusus.
Sekalipun ada, hal itu tidak khusus membahas mengenai kehidupan umat beragama. Misalnya pada penulisan skripsi Dita Sopia Sari dengan judul ‘Masjid dan Vihara: Simbol Kerukunan Hubungan Antara Islam dan Buddha (Studi Kasus di Kelurahan Banten Kecamatan Kasemen Kota Serang Provinsi Banten.’
Secara umum menurut pandangan penulis, judul itu tidak membahas secara spesifik mengenai kehidupan umat Katolik, hal itu mungkin disebabkan karena faktor judul. Namun yang perlu dicatat bahwa, umat non muslim secara khusus menetap di Kabupaten-Kabupaten.
Selanjutnya pada penelitian yang dilakukan oleh Dede Nur Afiah dalam skripsinya yang berjudul mengenai, „Ritual Perayaan Rebo Kasan Desa Girijaya Kecamatan Saketi Kabupaten Pandeglang‟. Pada penulisan ini sama sekali Dede tidak membahas mengenai perbandingan ritual yang ada dalam agama lainnya yang itu pemeluknya menetap di Kabupaten Pandeglang. Ritual Keagamaan bernama Rebo Kasan ini merupakan salah satu ritual yang dilakukan oleh umat Islam setiap tahunnya dalam menghadapi bulan-bulan tertentu. Pada pembahasan tersebut, Dede tidak membahasan mengenai perbandingannya dengan ritual-ritual agama lain, seperti agama Buddha, Kristen Protestan, dan Katolik yang memang agama tersebut juga berkembang di Kabupaten Pandeglang.
Kemudian, penulis juga dalam hal ini merasa tertarik dengan satu buku mengenai pembahasan mengenai soal Pandeglang, dengan judul
„Dinamika Sosial Politik Ulama dan Jawara di Pandeglang Banten‟ yang diuraikan oleh empat penulis diantaranya adalah, Asep Muslim, Lala M Kolopaking, Arya H Dharmawan, dan Endrratmo Soetarto. Namun, penulis sangat menyangkan pada penulisan ini, yang lebih ditonjolkan adalah soal peran dan kontribusi antara ulama dan jawara semata.
Padahal bila kita lihat, soal pembangunan di Kabupaten Pandeglang, bukan hanya umat Islam, umat non muslim khususnya umat Katolik di Pandeglang juga ikut berperan dalam membangun daerah.
G. Sistematika Penulisan
Untuk dapat menguraikan isi dalam penulisan proposal skripsi ini agar sistematis, maka penulis membuat skema dengan cara membuat sistematika penulisan. Dimana dalam sistematika penulisan, diantaranya:
Bab I
Pendahuluan
Pada pembahasan bab I ini, penulis menguraikan tentang latar belakang masalah yang menjadi fokus kajian skripsi yang terdiri dari banyak pembahasan seperti pembahasan tentang Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian, Landasan Teori, Tinjauan Pustaka, Pendekatan Kajian dan Sistematika Penulisan.
Bab II
Gambaran Umum Masyarakat Labuan, Pandeglang
Pada pembahasan bab II, penulis membahas mengenai kondisi wilayah, karakteristik masyarakat serta relasi sosial keagamaan umat Katolik di Labuan, Kabupaten Pandeglang-Banten. Selanjutnya dibahas oleh penulis secara lebih rinci pada setiap sub judul sebagai berikut, diantaranya adalah, Kondisi Geografis, Sekilas Tentang Labuan, Kondisi Sosial Keagamaan, dan Sejarah Agama Katolik di Labuan, Pandeglang.
Bab III
Potret Kebebasan Beragama di Labuan, Pandeglang
Pada bab III, penulis juga membahas tentang potret kebebasan beragama di Labuan, Pandeglang. dimana penulis dalam hal ini mempotret secara utuh bagaimana kehidupan umat beragama di Labuan, terutama umat Katolik. Potret ini dituangkan oleh penulis dalam sub-sub judul dalam bab III diantaranya terdiri dari: Dari mulai Kebebasan Beragama di Labuan, Kebebasan Beragama di Labuan dan Potret Kebebasan Beragama di Labuan
Bab IV
Relasi Kehidupan Keagamaan Umat Katolik dan Islam di Labuan Pada pembahasan bab IV, penulis membahas mengenai Relasi Kehidupan Umat Katolik dan Islam di Labuan.
Bab V Penutup
Pada bab V, penulis memberikan kesimpulan dengan analisa penulis selama melakukan observasi. Yang kemudian menjadi kesimpulan dan saran sebagai berikut, Kesimpulan dan Saran
20
Labuan adalah salah satu Kecamatan yang berada di sebelah barat Kabupaten Pandeglang. Secara geografis Kecamatan Labuan ini terletak antara 06013‟-06024‟ Lintang Selatan dan 105049‟-105054‟ Bujur Timur dengan Luas Daerah 15.65 km2. Kecamatan Labuan sendiri, berjarak 42 km dari Kabupaten Pandeglang dengan memiliki batas administrasi, Sebelah Utara, Kecamatan Carita, Sebelah Timur, Kecamatan Cikedal, Sebelah Selatan, Kecamatan Pagelaran dan Sebelah Barat Selat Sunda.
Untuk Luas Wilayah Kecamatan Labuan terdiri dari 127.959 Ha, dari Daratan 46.559 M2, Laut 40.153 M2 dan Sawah 41253 Ha, dengan Ketinggian + 1-4 meter dari Permukaan Laut.1
Kecamatan Labuan memiliki Sembilan Desa yang terdiri dari,Desa Banyubiru, Teluk, Caringin, Kalanganyar, Banyumekar, Cigondang, Rancateureup, Sukamaju dan Desa Labuan. Saat ini, di Kecamatan Labuan sendiri, mempunyai 37 Dusun, 228 Rukun Tetangga (RT), dan 72 Rukun Warga (RW). Dengan karakteristik masyarakat bermata pencaharian, Nelayan, Petani, Buruh, PNS/TNI/Balai dan Wirausaha. Sebagian besar penduduk di Kecamatan Labuan ini, bekerja sebagai nelayan.
1Naskah Profile Kecamatan Labuan Tahun 2018.
Berdasarkan catatan naskah profile Kecamatan Labuan2 saat ini, jumlah penduduk yang sudah teregistrasi oleh Pemerintah Desa setiap bulannya tercatat sebanyak 54.534 Jiwa, yang terdiri dari 28.295 Jiwa laki- laki dan 26.239 jiwa Perempuan, dengan total secara keseluruhan sebanyak 12.753 berumah tangga. Secara umum, bentuk topografi wilayah di Kecamatan Labuan untuk wilayah dataran terdiri dari Desa Cigondang, Sukamaju, Labuan, Kalanganyar, Teluk, Caringin, Banyubiru, Banyumekar, dan Desa Rancateureup, dengan ketinggian rata-rata di bawah 50m dari permukaan laut. Sedangkan untuk wilayah Desa yang paling terkecil, diantaraya adalah Desa Sukamaju dengan Luas sebesar 0,6 km2 serta wilayah Desa terbesar adalah Desa Banyu Biru, dengan Luas 6,1 km2.
Untuk sarana dan prasarana dibidang Pendidikan, Kecamatan Labuan sendiri memiliki 30 SD Negeri, 8 SMP yang meliputi 3 SMP Negeri dan 5 Madrasah Tsanawiyah (MTS) dan 5 SMA yang terdiri dari SMUN 3 Pandeglang, SMKN 2 Pandeglang, Madrasah Aliyah (MA) 2, serta 21 Madrasah Diniah Awaliyah (MDA). Dengan segala potensi yang ada, Kecamatan Labuan sendiri, harus terus mengembangkan sumber daya manusia, dan mewujudkan visi dan misinya dalam mewujudkan suatu daerah unggulan di bidang Pariwisata di Kabupaten Pandeglang.
2Register Penduduk di Kecamatan Labuan yang dilakukan oleh Pemerintah Desa, mengacu pada Keputusan Presiden (KEPRES) No.52/1997. Dengan demiki an Data registrasi Penduduk ini memiliki keterkaitan dengan tertib administrasi kantor Desa.
B. Sekilas Tentang Labuan
Labuan adalah salah satu wilayah yang terletak di sebelah barat Kabupaten Pandeglang, Banten. Nama Labuan pada mulanya berasal dari kata Labuhan3 yang artinya adalah Persinggahan atau tempat berlabuh.
Kasyim Alfian dalam Naskah Mengenal Desa Labuan menyebutkan, pada abad ke XIV, Labuan adalah tempat persinggahan para pedagang yang berasal dari Tiongkok dan Portugis.4 Selain berdagang, orang Portugis dan Tiongkok yang singgah di Labuan, juga melakukan aktivitas barter dagangan dengan hasil bumi.5
Secara umum, menurut Aimee Dawis, orang-orang Tionghoa datang ke Indonesia pada tahun 1860-1920-an untuk bekerja di perkebunan dan mengeksploitasi komoditas produk tambang pasar barat.6 Orang Tiongkok yang datang ke Indonesia adalah orang-orang yang tidak bisa berbicara dengan bahasa lokal, serta tidak memiliki sanak saudara maupun teman orang Indonesia. Untuk bisa bertahan hidup, orang Tionghoa mencari orang lain yang berbicara dengan dialek yang sama, atau daerah yang sama di Tiongkok.
3Kasyim Alfian, Mengenal Desa Labuan, Naskah ini tidak memiliki penerbit, dan hanya ditulis seperti sebuah makalah, pada tahun 1985. h 5
4Wawancara dengan Kasyim Alfian, Pada 20 Februari 2019.
5Istilah Barter secara umum adalah, Pertukaran, ada pun pertukan yang dimaksud meliputi pertukaran barang dan jasa. Wawancara dengan Kasyim Alfian, 20 Februari 2019. Orang-orang Portugis dan Tiongkok berjualan seperti kain, dan kemudian masyarakat setempat bila tidak bisa membeli dengan uang, bisa menukar kain dengan hasil bumi yang di panen oleh masyarakat setempat di Labuan, yang terdiri dari rempah- rempah
6Aimee Dawis, Orang Tionghoa Berorganisasi: Yang Kini Lanjutan Dari Masa Lalu, dalam Setelah Air Mata Kering: Masyarakat Tionghoa Pasca-Peristiwa Mei 1998, (Jakarta, Penerbit: Kompas) h 51-52.
Bertemunya sesama orang Tionghoa di Indonesia, secara bertahap juga menjadi dasar bagi orang-orang Tionghoa untuk mendirikan sebuah organisasi, yang tujuan untuk menjalin solidaritas dengan sesame orang Tionghoa yang tinggal di Indonesia.7 Meletusnya gunung Krakatau tahun 1883,8 menjadi adalah babak baru untuk Labuan. Sebab, pada saat gunung Krakatau meletus, sebagian wilayah di Labuan tenggelam, dan sebagian wilayah Labuan yang tenggelam akibat letusan gunung itu oleh masyarakat nelayan di Labuan, disebut sebagai „Karang‟9 dan masyarakat nelayan menjadikan sisa-sisa letusan gunung Krakatu atau „Karang‟
sebagai tempat ritual laut.10
Ritual laut yang dilakukan masyarakat nelayan di Labuan, dalam prakteknya dinamakan sebagai „Ruwat Laut‟. Awalnya, aktivitas „Ruwat Laut‟ ini rutin dilakukan nelayan di Labuan setiap satu tahun sekali.
Namun, karena mendapatkan pertentangan dari tokoh agama setempat, ritual bernama „Ruwat Laut‟ itu terhenti, dan saat ini hilang.11
7Organisasi Tionghoa yang paling awal berdiri bernama, Bang atau Jiazu.
Organisasi ini dibentuk berdasarkan tujuan kesamaan nama keluarga, marga dan lainnya.
Mislanya di Indonesia ada Paguyuban Marga Huang atau Paguyuban Marga Liem. Secara fungsional, organisasi ini dibentuk sebagai sarana pertolongan bagi imigran baru yang berasal dari Tiongkok agar dapat bertahan hidup di Indonesia.
8Mengenal Desa Labuan h 1
9Karang di Labuan terletak di tengah Laut, bila dilihat dari depan pasar, maka Karang laut yang di jadikan sebagai tempat ritual oleh masayarakat nelayan ini mengarah pada pulau popole.
10Ruwatan Laut adalah Ritual Laut yang dilakukan oleh masyarakat Nelayan di wilayah Labuan. tepatnya di wilayah Karang Labuan yang sempat terendam pada saat gunung Krakatau meletus. Masyarakat nelayan di Labuan percaya bahwa dengan dilakukannya ritual Ruwatan Laut tersebut, para Nelayan bisa mendapatkan hasil tangkapan ikan yang melimpah. Biasanya masyarakat Labuan bila melakukan ruwatan laut tersebut, menghias kapal atau perahu dan di Perahu tersebut, dipasangkan kepala kerbau.
11Namun sering berjalannya waktu, Ritual itupun di sederhanakan, dengan cara- cara yang Islami, dan kemudian Tradisi Ruwat Laut itu pun punah dan tidak berjalan.
Meletusnya gunung Krakatau tahun 1883, tidak hanya merubah tatanan berkepercayaan, namun juga merubah struktur sosial dan wilayah.
Labuan yang pada mulanya bukan sebuah desa atau kecamatan, berubah struktur menjadi desa. Pada tahun 1903, dua wilayah yang bernama Karabohong dan Labuan12 digabungkan menjadi sebuah desa, yang sampai saat ini disebut sebagai Desa Labuan.13 Sebagai gabungan dari dua wilayah, Desa Labuan terdiri dari 10 kampung.14 Pada Tahun 1983, dimasa kepemimpan Burhanudin, Desa Labuan melakukan pemekaran sebanyak tiga desa yang terdiri dari Desa Teluk, Cigondang dan Kalang Anyar. Labuan yang notabenenya sebagai desa induk, secara territorial merupakan daerah yang cukup berkembang, dengan karakteristik masayarakat yang heterogen.
Kasyim Alfian yang menjabat Sekertaris Desa Labuan tahun 1985, menyebutkan bahwa, Labuan merupakan suatu wilayah transisi, yang mengarah pada kemajuan secara lahiriah.15 Ada dua alasan, kenapa karakteristik masyarakat Labuan disebut heterogen diantaranya yaitu, dari jumlah penduduk yang menetap di Labuan adalah kebanyakan pendatang, dan secara teritorial, Labuan adalah wilayah perdagangan dimana di dalamnya menjadi tempat berkembangnya aktivitas perekonomian.16
12Kasyim Alfian, Mengenal Desa Labuan h 6.
13Pada saat itu Arsaim adalah Kepala Desa Karabohong yang menikah dengan warga Labuan.
14Kampong Lor, Kampung Masjid, Sumurkopo, Kananga, panguseupan, teluk, Karet, Kampung Listrik, pasar Baru, Kebin cau, kampong Sawah, Makui, Gelondong, Sukawati, Karabohong, Babakan Jami, Kampung baru, Muncang, Ciateul dan Kampung Peuteuy.
15Wawancara dengan Kasyim Alfian, 20 Februari 2019.
16Wawancara dengan Kasyim Alfian, pada 20 Februari 2019
Dua alasan itulah yang membuat Labuan sampai saat ini memiliki corak atau karakter masyarakat yang sangat heterogen. Kasyim menyebutkan, istilah yang pas untuk menempatkan Labuan sebagai wilayah transisi, adalah seperti Jakarta Leutik (Kecil).17
C. Sejarah Agama Katolik di Labuan
Meskipun Labuan merupakan wilayah yang banyak di tempati oleh penduduk yang beragama Islam, namun dalam kenyataannya, tidak sedikit umat Katolik yang menetap di wilayah tersebut. Bahkan keberadaan umat Katolik di Labuan, berdasarkan catatan sejarah, sudah terhitung sejak lama. Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan kenapa umat Katolik di Labuan ini bisa ada di Labuan.
Menurut cerita Herman Yoseph Marsandi, keberadaan umat Katolik di Labuan disebabkan karena tiga faktor. Pertama, Labuan merupakan wilayah strategis di Kabupaten Pandeglang yang dijadikan sebagai jalur perdagangan.18
17Yang dimaksud Jakarta Leutik oleh Kasyim Alfian adalah, Labuan adalah sebuah wilayah yang memiliki banyak suku, budaya, dengan karakteristik masyarakat yang sanagat beragam. Untuk di Labuan sendiri, terdiri dari banyak maasyarakat pendatang, yang berasal dari, Medan, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan juga Jawa.
18Labuan salah satu wilayah strategis yang dijadikan sebagai tempat perdagangan oleh masyarakat. Di Labuan sendiri terdapat pasar rakyat. Bahkan berdasarkan hasil obrolan penulis dengan masyarakat setempat, dari sejak dahulu hingga saat ini, nama Labuan begitu dikenal oleh masyarakat di yang berada di luar Pandeglang dan Banten sekalipun. Selain itu, Labuan juga merupakan salah satu tempat yang menjadi datang dan perginya orang-orang. Kasyim Alfian menyebut Labuan ini sebagai wilayah Transisi, atau Jakarta Leutik. Wawancara dengan Kasyim Alfian, pada 22 Februari 2019 dan Wawancara dengan Herman Yoseph Marsandi, pada 20 Februari 2019.
Kedua, karakter masyarakat Labuan bisa menerima para pendatang yang menetap di Labuan.19 Ketiga, adanya lembaga pendidikan milik Keuskupan agama Katolik bernama Yayasan Mardiyuana di Labuan.20 Diantara tiga faktor yang disebutkan diatas tadi, ada satu faktor yang paling berpengaruh apabila kita ingin membaca asal usul umat Katolik di Labuan, yaitu keberadaan Yayasan Mardiyuana milik Keuskupan agama Katolik.21
Lembaga pendidikan tersebut didirikan pada tahun 1959 dan melalui Yayasan Mardiyuana itulah, umat Katolik di Labuan bisa terus eksis dan berkembang.22 Bagi umat Katolik, Yayasan Mardiyuana di Labuan, selain bermanfaat bagi masyarakat, juga sangat berpengaruh terhadap persatuan dan eksistensi umat.
19Masyarakat Labuan sangat terbuka dengan pendatang yang menetap. Oleh karena itu tidak heran apabila, di Labuan ada banyak masyarakat yang beragama non muslim, seperti Buddha, Kristen Protestan maupun Katolik. Namun yang dominan di Labuan ini adalah masyarakat yang beragama Islam. Wawancara dengan Herman Yoseph Marsandi, Pada 20 Februari 2019.
20Berebeda dengan di wilayah lain yang masih Kabupaten Pandeglang, bukan hanya umat non muslim yang ada di Labuan, tetapi juga lembaga pendidikan milik umat non muslim ada di Labuan, seperti Yayasan Mardiyuana milik Keuskupan agama Katolik.
Bahkan sebelum adanya kerusuhan pada 1965, di Labuan juga ada sekolah China bernama Hong Bu. Namun pasca adaya kerusuhan yang bernama Cap Gedor, sekolah tersebut dibongkar. Wawancara dengan Kasyim Alfian, 22 Februari 2019.
21Keberadaan Yayasan Mardiyuana di Labuan ini terhitung sudah sejak lama.
Bahkan menurut cerita Herman Yoseph Marsandi, orang Katolik yang pertama kali datang ke Labuan untuk mengabdi di sekolah Mardiyunana adalah Ranu Handoko. Ia adalah Kepala Sekolah pertama di Mardiyuana, yang menetap di Labuan memeluk agama Katolik. Pada tahun 1966 Ranu Handoko bersama keluarga kecilnya memutuskan untuk pindah ke Sukabumi dengan alasan tidak betah. Wawancara, Herman Yoseph Marsandi, 20 Februari 2019.
22Saat ini, Yayasan Mardiyuana di Labuan telah memiliki dua macam, diantaranya adalah Sekolah dasar (SD) dan Taman Kanak-Kanak (TK). Pada tahun 1959 sampai tahun 1966, Kepala Sekolah SD dan Taman Kanak-Kanak ini di kepalai oleh Ranu Handoko, dan setelah ia pindah, pada tahun 1966 digantikan oleh Herman Yoseph Marsandi sebagai Kepala Sekolah Dasar (SD) dan Murti Hadi Kepala Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK), saat ini Sekolah Dasar Mardiyuana di Kepalai oleh Agus Mudjiono dan untuk Sekolah Taman Kanak-Kanak di kepalai oleh Yani. Wawancara, Herman Yoseph Marsandi, Pada 20 Februari 2019.
Dalam satu waktu misalnya, Herman bercerita,23 umat Katolik di Labuan Kabupaten Pandeglang pernah melakukan suatu perkumpulan (Reuni) dengan tujuan untuk, menyatukan semua umat Katolik yang menetap di Kabupaten Pandeglang Banten.24 Pada acara perkumpulan tersebut, umat Katolik yang hadir, saling berdiskusi dan saling memberikan usulan, terutama tentang keberlangsungan kehidupan umat Katolik.
Untuk dapat memperkuat ikatan umat, serta memudahkan komunikasi sesama umat Katolik, maka, pada pertemuan tersebut, umat Katolik menyepakati mengenai tempat pelaksanaan peribadatan maupun perayaan hari-hari besar, yang sebelumnya rutin dilaksanakan di Paroki Rangkas Bitung Kabupaten Lebak-Banten, agar dilaksanakan di Labuan yang bertempat di Yayasan Mardiyuana.25
Kepala Stasi Katolik Labuan, Anto Sabar, menceritakan, dalam setiap minggunya, umat Katolik di Labuan rutin melaksanakan aktivitas peribadatan bersama di Yayasan Mardiyuana baik pelaksanaan ibadah misa, ekaristi, sabda maupun perayaan-perayaan hari besar yang ada dalam agama Katolik, seperti Perayaan Natal, Imlek maupun Paskah.26
23Wawancara Dengan Herman Yoseph Marsandi, Kepala Sekolah Mardiyuana pada generasi kedua setelah Ranu Handoko. Saat ini Herman bisa disebut sebagai orang paling tua di antara umat Katolik di Labuan, Pandeglang.
24 Wawancara Dengan Herman Yoseph Marsandi.
25Umat Katolik di Labuan, dalam melaksanakan ritual kegamaan ibadah bersama maupun perayaan hari-hari besar agama, bertempat di Yayasan Mardiyuana. Wawancara, Herman Yoseph Marsandi..
26Sekalipun Yayasan Mardiyuana merupakan sebuah lembaga pendidikan dan itu bukanlah bangunan Gereja, yang perlu dicatat adalah, umat Katolik di Labuan, menganggap bahwa, ruangan yang setiap minggunya dijadikan sebagai Gereja tersebut adalah gereja symbol saja. Anto menceritakan bahwa, biasanya setiap hari minggunya
Meski demikian, kehadiran Yayasan Mardiyuana di Labuan, dari sejak berdirinya sampai saat ini bukan berarti tidak mengalami dinamika.
Pada tahun 1959 sampai 1966 misalnya, Herman menceritakan bahwa, Yayasan Mardiyuana sempat mengalami dinamika, setelah adanya keputusan Ranu Handoko bersama keluarganya, ketika ingin pindah dari Labuan ke Sukabumi.27 Sebab, sejak berdirinya Yayasan Mardiyuana tahun 1959 sampai 1966, lembaga pendidikan ini telah memiliki banyak murid.28
Untuk dapat meneruskan aktivitas belajar mengajar di Yayasan Mardiyuana Labuan, maka pada tahun 1996, ada dua orang Katolik yang datang dan menetap di Labuan. Ia adalah Herman Yoseph Marsandi29 dan Murti Hadi30 dua orang Katolik tersebut adalah sepasang kekasih, yang kemudian menjadi penerus kegiatan belajar mengajar di Yayasan Mardiyunana.
ruangan kelas yang ada di Mardiyuana dirubah menjadi gereja, setelah selesai pelaksanaan ibadah rutin tersebut, umat Katolik di Labuan juga merubahnya kembali menjadi ruangan kelas seperti biasa. Wawancara dengan Anto Sabar, Pada 24 Februari.
27Ranu Handoko adalah orang Katolik yang pertama kali mengajar di Yayasan Mardiyuana Labuan. Ia tinggal di Labuan agak lumayan lama, terhitung sejak tahun 1959 dimana Yayasan Mardiyuana itu didirikan sampai 1966. Pindahnya Ranu Handoko bersama keluarga ke Sukabumi disebabkan karena tidak betah. Wawancara dengan Herman Yoseph Marsandi, Pada 20 Februari 2019.
28Ada banyak alumni Mardiyuana. Berdasarkan hasil penelusuran penulis, hanya ada alumni dari tahun 1998 sampai 2004 yang berhasil ditemui penulis. Diantaranya adalah, alumni pada lulusan tahun 1998 adalah Eka Arisandi Junjunan, yang saat ini menjadi Kepala Desa Labuan selama dua periode, kemudian Donny Kurniawan, alumni pada lulusan tahun 1999. Alumni pada tahun 2002 adalah Lia Apriliani, dan Sonni Dwi Sugito, Alumni pada tahun 2000, dari semua alumni Mardiyuana baik alumni TK maupun SD, mereka pada saat bersekolah, dimasa kepemimpinan Herman Yoseph Marsandi.
29Herman Joseph Marsandi, adalah masyarakat pendatang di Labuan. Ia berasal dari Sleman Yogyakarta, Jawa Tengah, yang datang ke Labuan pada tahun 1966. Herman adalah orang Katolik pada generasi kedua, setelah Ranu Handoko.
30Murti Hadi adalah istri Herman yang beragama Katolik. Ia berasal dari Kampung Notoyudan Yogyakarta. Menurut cerita masyarakat sekitar dan wawancara dengan Lurah Labuan, Eka Junjunan Arisandi, Murti Hadi adalah Kepala Sekolah di Taman Kanak-Kanak (TK) Mardiyuana, Labuan. Eka menyebut sosok Ibu Kemanusiaan.
Kedatangan dua orang Katolik tersebut, merupakan babak baru bagi umat Katolik di Labuan.31 Herman Yoseph Marsandi dan Murti Hadi yang menetap di Labuan diterima dengan baik oleh masyarakat setempat.
Dalam konteks yang berbeda, kedatangan Herman Yoseph Marsandi ke Labuan ini yang diterima dengan oleh masyarakat setempat ini, sama halnya dengan MGR Nicholas Geise, seorang uskup Katolik yang berasal dari negeri Belanja pada masa penjajahan. Pada saat itu ia datang dan menetap di Lebak, Banten.32 Oleh karena itu, aktivitas belajar mengajar di Mardiyuana kembali stabil dan sekolah Mardiyuana ditingkat Tanam Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) terus mengalami perkembangan dan peningkatan jumlah peserta didik maupun tenaga pendidik.33
31Kedatangan Herman Yoseph Marsandi dan Murti Hadi ke Labuan, meneruskan aktivitas belajar mengajar di Yayasan Mardiyuana, di terima dengan baik oleh masyarakat di lingkungan Labuan. hal ini juga adalah factor yang dapat menjelaskan bahwa ajaran Katolik di Labuan, Pandeglang bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Labuan yang mayoritas beragama Islam.
32MGR Nicholas Geise adalah Uskup Katolik yang berasal dari Belanda, Ia datang ke Banten pada masa penjajahan. Membawa ajaran Katolik dan diterima dengan baik oleh masyarakat Banten. Ia tinggal di daerah Lebak, dalam perjalanannya Ia juga dijuluki sebagai juragan. Awalnya, MGR Nicholas Geise adalah Pimpinan Gereja Katolik di Keuskupan Bogor, Jawa Barat.Wawancara dengan Robertus Satrio, pada 27 Desember 2018.
33Peningkatan peserta didik di Mardiyuana meliputi siswa/siswi, yang perlu dicatat adalah, meskipun Yayasan Mardiyuana di Labuan ini milik Keuskupan Katolik namun sekolah ini tidak dikhususkan hanya untuk umat Katolik akan tetapi terbuka untuk umum dan lintas agama. seperti diceritakan Sonni Dwi Sugito, Lia Aprilia, Donny Kurniawan dan Eka Arisandi Junjunan saat disambangi penulis, murid-murid di Mardiyuana bukan hanya pemeluk Katolik, akan tetapi juga ada dari kalangan pemeluk agama Buddha, Kristen Protestan, Konghucu dan yang paling mendominasi adalah murid-murid dari kalangan Islam. Meski begitu, dalam pemenuhan pelajaran agama, masing-masing pemeluk agama diberikan kurikulumnya, misalnya mengenai pelajaran agama Islam, ada kelas khusus, begitu juga dengan pelajaran agama Katolik sendiri.
Menurut Herman, penambahan tenaga pendidik di sekolah Mardiyuana setiap tahunnya, sangat berpengaruh penting, terutama dalam melihat eksistensi umat Katolik di Labuan. Namun yang perlu dicatat bahwa, semua umat Katolik yang menetap di Labuan, merupakan masyarakat pendatang, bahkan Herman menegaskan bahwa, di Labuan tidak umat Katolik yang memang asli masyarakat Labuan.34 Umat Katolik di Labuan menurut cerita Herman, semuanya tidak adalah masyarakat pendatang yang kebanyakan berasal dari Kalimantan, Sulawesi dan Jawa.
Selain itu, dari sejak berdirinya lembaga pendidikan bernama Mardiyuana sampai saat ini, umat Katolik tidak pernah melakukan suatu tindakan yang itu mengajak umat agama lain agar masuk agama Katolik.
Oleh karena itu Herman menegaskan bahwa, menjadi hal yang wajar apabila, umat Katolik di Labuan maupun umat Katolik yang menetap di luar Labuan yang itu masih Kabupaten Pandeglang tidak begitu banyak seperti umat Kristen Protestan. Sekalipun ada yang pindah agama, hal tersebut terjadi bukan kepada umat Islam, melainkan kepada umat agama Konghucu yang pindah memeluk agama Katolik.
34Semua umat Katolik yang menetap dan tinggal di Labuan, Kabupaten Pandeglang, semuanya adalah masyarakat pendatang. Untuk masyarakat asli pribumi yang lahir di Labuan tidak ada. Kebanyakan mereka berasal dari daerah Kalimantan, Sulawesi dan Jawa, yang kemudian hidup dan menetap di Labuan, memiliki anak dan menikah dengan orang asli Labuan, ada juga misalnya orang Katolik yang menikah dengan orang Islam kemudian orang Katolik tersebut pindah agama ke agama Islam.
seperti salah satu contohnya adalah, putra Herman Yoseph Marsandi bernama Agus Sugito, yang menikah dengan Uun Undayah, kemudian memiliki putra dan putri lalu di sekolahkan di Mardiyuana. Wawancara, Herman Yoseph Marsandi, Pada 20 Februari 2019.