8
Universitas Kristen Petra
2. KERANGKA TEORI
2.1 Film
Film adalah suatu bentuk komunikasi massa elektronik yang berupa media audio visual yang mampu menampilkan kata-kata, bunyi, citra, dan kombinasinya.
Film juga merupakan salah satu bentuk komunikasi modern yang kedua muncul di dunia (Sobur, 2004, 126). Film berperan sebagai sebuah sarana baru yang digunakan untuk menyebarkan hiburan yang sudah menjadi kebiasaan terdahulu, serta menyajikan cerita, peristiwa, musik, drama, lawak, dan sajian teknis lainnya kepada masyarakat umum (McQuail, 1987, p.13). Film juga menurut Prof.Effendy adalah medium komunikasi massa yang ampuh sekali, bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk penerangan dan pendidikan ( Effendy, 2003, p.
209). Film mempunyai suatu dampak tertentu terhadap penonton, dampak – dampak tersebut dapat berbagai macam seperti, dampak psikologis, dan dampak sosial.
Beberapa jenis film yang muncul, mempunyai daya tarik tersendiri untuk membuat khalayak mengkonsumsi bagian dari komunikasi massa tersebut.Secara garis besar, film dapat dibagi berdasarkan beberapa hal. Pertama, film dibedakan berdasarkan media yaitu layar lebar dan layar kaca. Yang kedua, film dibagi berdasarkan jenisnya, yaitu film non fiksi dan fiksi. Film non fiksi dibagi menjadi tiga, yaitu film dokumenter, dokumentasi dan film untuk tujuan ilmiah. Film fiksi sendiri dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu eksperimental dan genre ( Kristanto JB, 2007, p.6 ).
Genre film pada masa sekarang banyak berkembang dikarenakan semakin majunya teknologi. Jenis film non fiksi antara lain adalah film dokumenter, dokumentasi dan film – film yang digunakan untuk studi ilmiah, sedangkan untuk jenis film fiksi antara lain seperti action, drama, komedi, animasi, thriller, horor, cartoon ( http://filmindonesia.or.id/ )
Film Action
Sebuah genre film yang berisi tentang perkelahian, penyelamatan sandera oleh musuh atau teroris. Biasanya film action dicampur dengan unsur drama, dan
9
Universitas Kristen Petra
diakhiri dengan kisah yang membahagiakan seperti berhasil dalam menyelamatkan korban.
Film Drama
Sebuah genre film yang biasanya berisi tentang drama percintaan tetapi juga biasanya terdapat unsur pertemanan. Film bergenre drama ini biasanya diakhiri dengan happy ending story atau akhir yang bahagia. Tetapi juga bisa diakhiri dengan akhir yang menyedihkan.
Film Komedi
Genre film ini disukai oleh semua orang karena isi dari film ini berisi kelucuan yang dapat membuat penonton tertawa. Film komedi ditujukan untuk segala umur.
Film Animasi
Film animasi biasanya disukai oleh anak – anak tetapi tidak memungkiri jika orang dewasa menyukai genre film ini. Karena film ini biasanya menumbuhkan imajinasi, maka film ber-genre animasi ini sering dibuat sehingga muncul superhero bagi anak – anak.
Film Thriller
Film thriller adalah film yang hampir mirip dengan film ber-genre horor.
Yang membuat beda dari film ber-genre ini adalah kebanyakan film thriller tidak menimbulkan nuansa horor atau yang berhubungan dengan dunia supranatural melainkan menampilkan sisi kekerasan terhadap manusia. Dan film ini lebih membuat sebuah adegan yang menegangkan untuk penonton sehingga penonton merasakan tingkat adrenaline meningkat.
Film Horor
Berbeda dengan film ber-genre thriller film horor adalah film yang lebih banyak menggunakan unsur supranatural ( hantu, hal yang berhubungan dengan dunia lain ). Film horor lebih mengutamakan unsur supranatural sehingga membuat seseorang takut.
10
Universitas Kristen Petra
2.2 Film Horor
Menurut Charles Derry dalam bukunya Dark Dreams : A Psychological History of the Modern Horror Film (1977, p.97) membagi genre horor dalam tiga subgenre, yaitu
Horror-of-personality (horor psikologis). Horor jenis pertama adalah yaitu horror-of-personality atau disebut dengan horor psikologis. Film horor jenis ini tidak menjadikan tokoh – tokoh mitos, seperti vampir, iblis, dan monster sebagai tokoh utama melainkan menggambarkan tokoh –tokoh manusia biasa yang tampak normal, tetapi di akhir film mereka memperlihatkan sisi
“iblis” atau “monster”. Disamping itu alur cerita yang dibuat mempengaruhi emosi dari manusia. Biasanya tokoh manusia adalah individu - individu yang terasing secara sosial, sebagai contoh adalah tokoh Hannibal Lecter dalam film The Silence of the Lamb ( 1991) dan Jigsaw dalam sekuel film SAW ( 2004 , 2005, 2006, 2007, 2008, 2009 , 2010). Kedua tokoh ini merupakan dua figur kuat yang menggambarkan jenis genre ini.
Horror-of-Armageddon (horor bencana). Pada jenis film horor ini mengangkat ketakutan manusia pada akhir dunia, atau hari kiamat. Manusia percaya bahwa suatu hari dunia akan hancur dan umat manusia akan binasa. Biasanya dalam film jenis horor bencana ini, kehancuran dunia disebabkan oleh beberapa faktor antara lain adalah peristiwa alam ( hujan meteor, gempa bumi, tsunami, dll ), serangan mayat hidup atau biasa disebut dengan zombie. Sebagai contoh film dalam genre horor bencana adalah 2012 (2009) dan sekuel resident evil (2002, 2004, 2007, 2010)
Horror-of-the-demonic (horor hantu) yang paling dikenal dalam dunia perfilman horor. Film horor jenis ini menurut Derry menawarkan tema tentang dunia (manusia) yang dilanda
11
Universitas Kristen Petra
oleh ketakutan akan setan. Sebagai contoh genre film horor hantu adalah Silent Hill ( 2006).
2.3 Keluarga
Keluarga adalah sekelompok orang dengan ikatan perkawinan, darah, atau adopsi; terdiri dari satu orang kepala rumah tangga, interaksi dan komunikasi satu sama lainnya dalam peran suami istri yang saling menghormati, ibu dan ayah, anak laki – laki dan perempuan, saudara laki – laki dan perempuan, dan menciptakan serta mempertahankan kebudayaannya. Keluarga merupakan suatu kelompok sosial yang bersifat langgeng berdasarkan hubungan pernikahan dan hubungan darah. Keluarga adalah tempat pertama bagi anak, lingkungan pertama yang memberi penampungan baginya, tempat anak akan memperoleh rasa aman (Gunarsa, 2002 dalam Pinem, A. Nesa, 2008).
Menurut Gunarsa dalam Pinem (2008 ), fungsi keluarga adalah sangat penting sehingga tidak dapat dipisah – pisahkan satu dengan yang lainnya. Jenis – jenis fungsi keluarga adalah :
a) Fungsi Edukatif
Adapun fungsi yang berkaitan dengan pendidikan anak serta pembinaan anggota keluarga. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak.
b) Fungsi Sosialisasi
Tugas Keluarga dalam mendidik anaknya tidak saja mencakup pengembangan individu agar menjadi pribadi yang mantap akan tetapi meliputi pula upaya membantunya dan mempersiapkannya menjadi anggota masyarakat yang baik. Orang tua dapat membantu menyiapkan diri anaknya agar dapat menempatkan dirinya sebagai pribadi yang mantap dalam masyarakatnya dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakatnya dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat yang konstruktif.
c) Fungsi Lindungan
Mendidik pada hakekatnya bersifat meliputi yaitu melindungi anak dari tindakan – tindakan yang tidak baik dari hidup yang menyimpang dari
12
Universitas Kristen Petra
norma – norma. Fungsi lindungan itu dapat dilaksanakan dengan jalan melarang atau menghindarkan anak dari perbuatan – perbuatan yang tidak diharapkan, mengawasi ataupun membatasi perbuatan anak dari perbuatan – perbuatan yang tidak diharapkan, mengawasi ataupun membatasi perbuatan anak dalam hal tertentu, menganjurkan ataupun menyuruh untuk perbuatan – perbuatan yang diharapkan, memberi contoh dan teladan dalam hal – hal yang diharapkan.
d) Fungsi Afeksi
Pada saat anak masih kecil, perasaannya memegang peranan penting yang dapat merasakan ataupun menangkap suasana yang terjadi dari orangtuanya pada saat anak berkomunikasi dengan mereka. Anak sangat peka akan suasana emosional yang meliputi keluarganya. Kehangatan yang terpancar dari keseluruhan gerakan, ucapan, mimik serta perbuatan orangtua, juga rasa kehangatan dan keakraban itu menyangkut semua pihak yang tergolong anggota keluarga.
e) Fungsi Religius
Keluarga berkewajiban memperkenalkan anak dan anggota keluarga pada kehidupan beragama. Tujuan bukan sekedar untuk mengetahui kaidah – kaidah agama melainkan untuk menjadi insan beragama, Pendidikan dalam keluarga berlangsung melalui identifikasi anak kepada orangtua.
f) Fungsi Ekonomi
Pelaksanaan fungsi ekonomi keluarga oleh dan untuk semua anggota keluarga mempunyai kemungkinan menambah saling mengerti, solidaritas, tanggung jawab bersama keluarga itu serta meningkatkan rasa kebersamaan dan keikatan antara sesama anggota keluarga.
g) Fungsi Rekreasi
Rekreasi itu apabila ia menghayati suatu suasana yang tenang dan damai, jauh dari ketegangan batin, segar dan santai dan kepada yang bersangkutan diberikan perasaan bebas terlepas dari ketegangan dan kesibukan sehari – hari.
13
Universitas Kristen Petra
h) Fungsi Biologis
Fungsi itu berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan – kebutuhan biologis anggota keluarga. Diantaranya kebutuhan akan keterlindungan fisik, kesehatan, rasa lapar, haus, kedinginan, kepanasan, kelelahan bahkan juga kenyamanan dan kekerasan fisik.
2.4 Reception Analysis
Jensen mengatakan bahwa salah satu pikiran utama dalam reception analysis adalah para informan dari peneliti itu sendiri, untuk membangun suatu laporan penelitian yang teruji dari resepsi, penggunaan, serta pengaruh kuat dari media harus menjadi analisa yang menganalisis baik informan maupun isi dari penelitian yang dilakukan. Reception analysis mengumpulkan data – data tersebut dan penerimanya adalah elemen pelengkap dari satu wilayah penyelidikan yang ditujukan untuk beberapa aspek yang tidak berhubungan maupun beberapa aspek komunikasi sosial. Pada intinya menurut Jensen , Reception analysis berpendapat bahwa tidak akan pernah ada suatu pengaruh tanpa sebuah makna ( Jensen, 2003, p.135)
Reception analysis adalah metode yang menggunakan konteks penggunaan media dalam kehidupan sehari-hari (contexts of media use), penyandian atau interpretasi teks terhadap isi media (the decodings or textual interpretations of media content), dan penggunaan isi media sebagai referensi tindakan atau respons audiens dalam konteks sosial (media in social contexts of action) (Jensen, 2002, p.139). Menurut Aryani, khalayak lah yang diposisikan sebagai pihak yang memiliki kekuatan dalam menciptakan makna secara bebas dan bertindak atau berperilaku sesuai dengan makna yang mereka ciptakan atas teks media ( Aryani, 2006, p.7). Pada studi khalayak dalam komunikasi massa khalayak dilihat sebagai bagian dari interpretive communitive yang selalu aktif dalam mempersepsi pesan dan memproduksi makna, tidak hanya sekedar menjadi indvidu pasif yang hanya menerima saja makna yang diproduksi oleh media massa ( McQuail, p.19)
14
Universitas Kristen Petra
Pada tahun 1960, dimulai sejarah munculnya reception analysis ini berakar pada tradisi studi media yang berbeda dari premis yang mendasari pendekatan Uses and Gratification yang mengedepankan penggunaan media massa oleh khalayak dalam usahanya memenuhi kebutuhan. Khalayak aktif dalam memilih dan menggunakan media. Analisis resepsi khususnya dikembangkan dari teori kritis, semiologi, dan analisis diskursus. Analisis resepsi mempertanyakan metodologi penelitian sosial ilmiah empirirs dan juga studi humanistik isi media karena keduanya tidak mampu atau tidak mengindahkan kemampuan khalayak dalam memberikan makna pada pesan – pesan media ( Putri, 2008, p.18). Inti dari pendekatan resepsi ini adalah terletak pada atribusi dan kontruksi makna yang didapat oleh khalayak dari suatu media. Pesan media senantiasa polisemik dan harus ditafsirkan.
Dalam penelitian reception analysis ada tiga kriteria informan yang mendukung penelitian khalayak ini (Baran, 2010, p.270) :
Dominat, pada kriteria ini khalayak menerima secara penuh pesan yang dibuat dan disampaikan oleh media.
Negotiated, pada kriteria ini khalayak menerima pesan yang dibuat dan disampaikan oleh media tetapi masih memilih mana yang baik dan mana yang buruk dalam artian masih bernegosiasi dengan pesan yang disampaikan oleh media.
Oppositional, pada kriteria ini khalayak menolak pesan yang dibuat dan disampaikan oleh media.
Menurut Baran (2010), studi penerimaan atau analisis penerimaan memiliki kekuatan dan kelemahan yakni :
Kekuatan :
o Memusatkan perhatian pada individu dalam proses komunikasi massa
o Menghargai kepandaian dan kemampuan konsumen media o Menerima berbagai jenis makna dalam teks media
o Mencari pemahaman mendalam mengenai bagaimana orang menafsirkan konten media
15
Universitas Kristen Petra
o Menyediakan analisis mendalam mengenaoi bagaimana cara media digunakan dalam konteks sosial sehari – hari
Kelemahan :
o Biasanya berdasarkan interpretasi subjektif dari laporan khalayak
o Tidak dapat menunjukkan keberadaan atau ketiadaan efek (tidak dapat memberikan arahan tentang kehadiran atau ketidakhadiran efek media)
o Menggunakan metode riset kualitatif yang meniadakan penjelasan sebab – akibat .
o Terlalu berorientasi kepada level mikro ( tetapi mencoba untuk lebih makroskopik)
o Analisis resepsi menghasilkan temuan –temuan yang kaya secara kualitatif, tetapi temuan –temuan tersebut tidak terlalu mudah untuk diteliti ulang dan jarang dapat digeneralisir diluar kelompok kecil individu – induvidu yang secara khusus diteliti.
2.5 Nisbah Antar Konsep
. Film merupakan salah satu bentuk media massa yang modern kedua yang muncul di dunia. Kekuatan dan kemampuan film mampu menjangkau banyak segmen sosial, membuat film memiliki potensi besar dalam mengubah sikap dan perilaku masyarakat. Fungsi film sebagai salah satu media massa adalah sebagai penyampai informasi kepada masyarakat tentang pesan film itu yang secara tersirat sampai ke audience-nya.Melihat fenomena komunikasinya, film merupakan salah satu alat komunikasi massa yang menggabungkan usaha penyampaian pesan melalui sebuah gambar yang bergerak, pemanfaatan kamera, suara, dan warna. Unsur – unsur tersebut melatarbelakangi sebuah cerita yang mengandung pesan yang ingin disampaikan oleh sutradara kepada penonton film.
Film menurut Charles Denny dibagi menjadi tiga, yaitu Horror-of-personality (horor psikologis),Horror-of-Armageddon (horor bencana),Horror-of-the- demonic (horor hantu).
16
Universitas Kristen Petra
Film Insidious menjadi fenomenal ketika sutradara film tersebut yakni James Wan mengkombinasikan dua jenis film horor yakni horor psikologis dan horor hantu serta Wan mengangkat cerita yang tidak biasa yaitu astral project atau bahasa lainnya adalah keluarnya roh dalam diri manusia untuk dapat berjalan di dimensi lain sebagai format baru dalam film horor. Film Insidious menjadi sorotan publik karena dengan biaya produksi yang dibilang cukup minim, Wan mampu membuat suatu perubahan besar dalam dunia perfilman dengan menghasilkan laba yang berlipat ganda dan menghasilkan sebuah film horor yang berkualitas.
Konten tersebut ditonton oleh audience selaku penonton film yang tidak lain adalah informan peneliti. Kemudian menggunakan reception analysis, yang artinya adalah konteks penggunaan media dalam kehidupan sehari-hari (contexts of media use), penyandian atau interpretasi teks terhadap isi media (the decodings or textual interpretations of media content), dan penggunaan isi media sebagai referensi tindakan atau respons audiens dalam konteks sosial (media in social contexts of action) . Peneliti ingin melihat penerimaan audience dalam memahami pesan film Insidious. Kemudian penerimaan mereka ini dimasukkan kedalam tiga kategori yaitu dominant, negotiated, oppositional.
Pada bab selanjutnya, penelitian ini dianalisis dengan unit analysisnya yaitu audience, yang dalam ini adalah informan yang peneliti pilih. Proses penelitian reception analysis ini akan melihat secara mendalam menggunakan in – depth interview kepada informan. Setelah dianalisis, kemudian didapatkan kesimpulan bagaimana penerimaan penonton Surabaya dalam hal ini adalah informan yang dipilih terhadap film Insidious.
17
Universitas Kristen Petra
2.6 Kerangka Pemikiran
Sumber : Olahan penulis, 2012
Adanya tiga aspek didalam film yaitu, aspek horor, aspek psikologis, aspek keluarga
Insidious merupakan sebuah format baru untuk film horor dengan menampilkan cerita astral projection
Dominant
Reception Analysis
Negotiated Oppositional
Penerimaan penonton terhadap film Insidious
Informan