• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Para Ketua Program Studi beserta Staf Dosen di lingkungan UNIKOM Seluruh pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA PENGANTAR. Para Ketua Program Studi beserta Staf Dosen di lingkungan UNIKOM Seluruh pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

i

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan ke Hadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam penyempurnaan Pedoman Penyusunan dan Peninjauan Kurikulum UNIKOM 2017. Hal ini dapat terwujud berkat dukungan dan bantuan baik moril maupun materil dari berbagai pihak, yang pada kesempatan ini disampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

▪ Rektor UNIKOM

▪ Para Wakil Rektor UNIKOM

▪ Para Dekan di lingkungan UNIKOM

▪ Para Ketua Program Studi beserta Staf Dosen di lingkungan UNIKOM

▪ Seluruh pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu

Menurut Permenristek No 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai capaian pembelajaran lulusan, bahan kajian, proses, dan penilaian yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan program studi pada sistem pendidikan khususnya pendidikan tinggi. Menyadari akan hal ini, maka Universitas Komputer Indonesia memprogramkan secara khusus kegiatan yang mampu mendukung dan mendorong pengembangan kurikulum di perguruan tinggi. Mengingat penyusunan dan peninjauan kurikulum merupakan hak otonomi dari perguruan tinggi, ketersediaan buku panduan dalam penyusunan dan peninjauan kurikulum mutlak diperlukan.

Untuk itu disusun buku Pedoman Penyusunan dan Peninjauan Kurikulum Universitas Komputer Indonesia.

Dalam menghadapi tuntutan kebutuhan masyarakat, kurikulum di Universitas Komputer Indonesia, saat ini mengalami perkembangan dengan mengikuti kebijakan pemerintah, yakni kurikulum pendidikan tinggi (KPT) mengacu pada standar Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan SN-DIKTI yang merupakan kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor.

Buku ini diharapkan dapat memberikan inspirasi dan panduan yang realistis tentang Kurikulum di Perguruan Tinggi berlandaskan pada KKNI dan SN-DIKTI. Kritik dan saran yang bersifat konstruktif untuk perbaikan sangat diharapkan

Bandung, 14 Oktober 2017 Ketua Divisi Kurikulum,

Dr. Sri Dewi Anggadini, SE., M. Si., Ak., CA NIP. 4127.34.03.003

(3)

iii

DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi ... iii

Daftar Gambar ... iv

Daftar Tabel ... v

Daftar Lampiran ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Penyusunan Kurikulum ... 3

1.3 Landasan ... 3

1.4 Pembentukan Tim Penyusun Kurikulum ... 7

BAB II KURIKULUM PERGURUAN TINGGI ... 8

BAB III PENYUSUNAN KURIKULUM ... 12

3.1 Tahapan Penyusunan Kurikulum ... 13

I.Standar Kompetensi Lulusan ... 14

II.Standar Isi Pembelajaran ... 19

III.Standar Proses Pembelajaran ... 22

IV.Standar Penilaian Pembelajaran ... 34

3.2 Kodifikasi ... 38

3.3 Review Kurikulum ... 39

3.4 Pengesahan Kurikulum ... 40

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KURIKULUM ... 41

4.1 Implementasi Kurikulum ... 41

4.2 Evaluasi Kurikulum ... 42

BAB V PENINJAUAN (REVIEW) KURIKULUM ... 48

5.1 Peninjauan (Review) Kurikulum ... 48

5.2 Tracer Study ... 49

BAB VI PENUTUP ... 50

DAFTAR PUSTAKA ... 51

(4)

iv

DAFTAR GAMBAR

No Nomor Gambar

Nama Gambar Hal

1 Gambar 2.1 Penataan Jenis dan Strata Pendidikan

Tinggi 10

2 Gambar 3.1 Tahapan Penyusunan Kurikulum 13

3 Gambar 3.2 Penyusunan Profil 15

4 Gambar 3.3 Capaian Pembelajaran Lulusan 17

5 Gambar 3.4 Bahan Kajian 20

6 Gambar 3.5 Matriks Untuk Evaluasi Mata Kuliah

pada Kurikulum 21

7 Gambar 3.6 Model Striktur Kurikulum 28 8 Gambar 3.7 Pembelajaran Sebagai Tahapan

Pelaksanaan RPS 30

(5)

v

DAFTAR TABEL

No Nomor Tabel Nama Gambar Hal

1 Tabel 3.1 Tabel Contoh Format RPS 32 2 Tabel 3.2 Tabel Penjelasan Pengisian Format RPS 33 3 Tabel 3.3 Tabel Contoh Rubik Deskriptif untuk

Penilaian Presentasi Makalah 35 4 Tabel 3.4 Tabel Contoh Bentuk Lain dari Rubrik

Deskriptif 36

5 Tabel 3.5 Tabel Contoh Rubrik Holistik 36

(6)

vi

DAFTAR LAMPIRAN

1. Form 1 : Tim Pengembang

2. Form 2 : Visi, Misi dan Tujuan Program Studi 3. Form 3 : Profil Lulusan

4. Form 4 : Capaian Pembelajaran

5. Form 5 : Capaian Pembelajaran Lulusan dan Profil Lulusan 6. Form 6 : Bahan Kajian

7. Form 7 : Matrik Capaian Pembelajaran dan Bahan Kajian 8. Form 8 : Matrik Bahan Kajian – Mata Kuliah – CPMK

9. Form 9 : Matrik Capaian Pembelajaran Lulusan dan Mata Kuliah 10. Form 10 : Sebaran Mata Kuliah

11. Form 11 : Rencana Pembelajaran (RPS) dan Rubrik Penilaian

(7)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Menurut Pasal 1 Butir 6 Permenristek No. 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN DIKTI), kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai capaian pembelajaran lulusan, bahan kajian, proses, dan penilaian yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan program studi pada sistem pendidikan khususnya pendidikan tinggi.

Kurikulum pendidikan tinggi merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan ajar serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan Pendidikan Tinggi. Kurikulum Pendidikan Tinggi sebagaimana yang dimaksud, dikembangkan oleh setiap Perguruan Tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi untuk setiap Program Studi yang mencakup pengembangan kecerdasan intelektual, akhlak mulia, dan keterampilan (Pasal 35 UU DIKTI No.12 /2012).

Kurikulum yang berbentuk serangkaian mata kuliah yang memuat ilmu pengetahuan merupakan jembatan bagi para mahasiswa untuk lebih mengenal dunia yang ditekuninya guna persiapan aplikasinya di dunia kerja nanti. Demi kepuasan para stakeholders atau pihak-pihak yang dipertaruhkan dalam suatu penyelenggaraan pendidikan tinggi seperti mahasiswa, orang tua mahasiswa, atau pengguna, khususnya dalam memenuhi perkembangan tuntutan kehidupan yang dinamis, Universitas Komputer Indonesia, selanjutnya disebut UNIKOM senantiasa meninjau ulang kurikulum program-program studinya dan melakukan penyesuaian sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi kesenjangan antara pengetahuan di kampus dengan kebutuhan di lapangan.

(8)

2 Kurikulum program - program studi di UNIKOM dirancang dan disusun berdasarkan UU

No 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi, Perpres No 8 Tahun 2012 Tentang KKNI dan Permenristek No 44 Tahun 2015 Tentang SN DIKTI. Selain itu berdasarkan pula pada studi-studi banding yang dilakukan terhadap kurikulum program-program studi sejenis dari lembaga pendidikan tinggi pembina dan yang sudah ternama serta kredibel, dan direncanakan akan lebih disesuaikan dengan kebutuhan lapangan yang tidak lain merupakan pengejawantahan Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran UNIKOM.

Jika dikaitkan dengan sistem pendidikan tinggi, maka kurikulum dapat berperan sebagai:

1. Sumber kebijakan manajemen pendidikan tinggi untuk menentukan arah penyelenggaraan pendidikannya.

2. Filosofi yang akan mewarnai terbentuknya masyarakat dan iklim akademik.

3. Pola pembelajaran, yang mencerminkan bahan kajian, cara penyampaian dan penilaian pembelajaran.

4. Atmosfer atau iklim yang terbentuk dari hasil interaksi manajerial PT dalam mencapai tujuan pembelajarannya.

5. Rujukan kualitas dari proses penjaminan mutu.

6. Ukuran keberhasilan PT dalam menghasilkan lulusan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dari penjelasan ini, nampak bahwa kurikulum tidak hanya berarti sebagai suatu dokumen saja, namun merupakan suatu rangkaian proses yang sangat krusial dalam pendidikan. Kurikulum meliputi seluruh fenomena edukatif yang dapat dimengerti untuk menjelaskan ketentuan pelaksanaan suatu program pengajaran, yang harus diikuti oleh para mahasiswa agar dapat menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu.

(9)

3 1.2 TUJUAN PENYUSUNAN KURIKULUM

Tujuan penyusunan kurikulum adalah:

1. Mengacu pada statuta untuk selalu melakukan pemutakhiran kurikulum secara menyeluruh.

2. Kurikulum 2017 merupakan kurikulum perubahan KBK menjadi KKNI dan SN DIKTI.

3. Pemutakhiran standar isi kurikulum dilakukan untuk merespon perkembangan kebutuhan masyarakat, keilmuan, regulasi, dan kemampuan sumberdaya .

4. Penguatan isi dan penyederhanaan struktur kurikulum dilakukan agar sesuai dengan visi, misi, tujuan, dan sasaran (VMTS) UNIKOM.

5. Mendefinisikan ulang standar isi kurikulum sebagai acuan bagi standar proses dan standar penilaian pembelajaran yang lebih kokoh dan sederhana.

6. Sebagai standar isi bagi pengembangan bahan ajar untuk berbagai program studi di UNIKOM.

1.3. LANDASAN

Pada proses penyusunan dan peninjauan kurikulumnya program-program studi di UNIKOM senantiasa merujuk kepada landasan-landasan penyusunan dan peninjauan di bawah ini. Hal ini dilakukan agar proses pembelajaran berada dalam satu garis, alignment, yang berada di antara Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran UNIKOM dengan lulusan yang dapat memenuhi tuntutan stakeholders.

VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN UNIKOM VISI

Menjadi Universitas terkemuka dibidang Teknologi Informasi & Komunikasi, berwawasan Global, berjiwa Entrepreneur dan menjadi Pusat Unggulan dibidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang mendukung Pembangunan Nasional serta berorientasi pada kepentingan Masyarakat, Bangsa dan Negara.

MISI

Menyelenggarakan Pendidikan Tinggi Modern berdasarkan Budaya Organisasi UNIKOM, PIQIE (Professionalism, Integrity, Quality, Information Technology,

(10)

4 Excellence), dengan Sistem Pendidikan yang Kondusif dan Program-program Studi yang

berbasis pada Software (perangkat lunak), Hardware (perangkat keras), Animasi Multimedia, dan Entrepreneurship (kewirausahaan), dengan mengoptimalkan Sumber Daya yang ada berdasarkan prinsip Efisiensi, Efektifitas dan Produktifitas.

TUJUAN

Menghasilkan Lulusan yang unggul dibidang Teknologi Informasi & Komunikasi, Kompeten dan Handal di Bidang Studinya, berjiwa Entrepreneur, Santun dan Berbudi Luhur, memiliki Komitmen untuk memajukan Bangsa dan Negara serta Beriman dan Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

SASARAN

1. Sasaran penyelenggaraan pendidikan di Universitas adalah :

a. Menyiapkan peserta didikmenjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

b. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

c. Menghasilkan ilmuan unggul dan berpikiran maju di bidangnya masing-masing, mahir menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam bekerja serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Sasaran penyelenggaraan pendidikan Program Diploma di Universitas adalah:

a Mampu menyelesaikan pekerjaan berlingkup luas, memilih metode yang sesuai dari beragam pilihan yang sudah maupun belum baku dengan menganalisis data, serta mampu menunjukkan kinerja dengan mutu dan kualitas yang terukur.

b Menguasai konsep teoritis bidang teknologi informasi dan komunikasi serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedular.

(11)

5 3. Sasaran penyelenggaraan pendidikan Sarjana (S1) di Universitas adalah :

a. Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya berdasarkan bidang teknologi informasi dan komunikasi dan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau seni pada bidang dalam penyelesaian masalah serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi.

b. Menguasai konsep teoritis bidang teknologi informasi dan komunikasi secara umum dan konsep teoritis bagian khusus dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural.

c. Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi data, dan mampu memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi secara mandiri dan kelompok.

d. Bertanggungjawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggungjawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.

4. Sasaran penyelenggaraan pendidikan Program Magister Terapan di Universitas adalah :

a. Mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan/atau seni di dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi atau praktek profesionalnya melalui riset, hingga menghasilkan karya inovatif dan teruji.

b. Mampu memecahkan permasalahan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau seni di dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi melalui pendekatan inter atau multidisipliner.

5. Sasaran penyelenggaran pendidikan Program Doktor Terapan di Universitas adalah:

a. Mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan/atau seni baru di dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi atau praktek professionalnya melalui riset, hingga menghasilkan karya kreatif, atau original dan teruji.

(12)

6 b. Mampu memecahkan permasalahan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau

seni di dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi melalui pendekatan intern, multi dan transdisiplier.

c. Mampu mengelola, memimpin, dan mengembangkan riset dan pengembangan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia, serta mampu mendapat pengakuan nasional dan internasional.

PERATURAN PEMERINTAH

Seperti telah disebutkan sebelumnya, seluruh kurikulum program-program studi yang berada di bawah naungan UNIKOM dirancang berdasarkan dasar hukum :

I. Undang-undang

▪ UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

▪ UU No 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi II. Perpres

▪ Perpres No 8 Tahun 2012 Tentang KKNI III. Permen

▪ Permenristek No 44 Tahun 2015 Tentang SN DIKTI

▪ Permendikbud No 73 Tahun 2013 Tentang Penerapan KKNI Bidang Perguruan Tinggi

▪ Permendikbud No. 81 Tahun 2014 tentang Ijazah, Sertifikat Kompetensi, dan Sertifikat Profesi Pendidikan Tinggi.

KETENTUAN LAIN

Selain peraturan pemerintah, yang sebaiknya melandasi penyusunan kurikulum, peninjauan, dan evaluasinya adalah ketentuan tentang Kurikulum yang diterbitkan oleh asosiasi perguruan tinggi program studi masing-masing untuk seluruh program studi yang berada di UNIKOM. Sebagai contoh adalah Asosiasi Perguruan Tinggi Teknologi Informasi dan Komputer (APTIKOM) yang dirujuk oleh program-program studi yang berbasis teknologi informasi dan komputer, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang dirujuk oleh Program Studi Akuntansi dan sebagainya.

(13)

7 1.4 PEMBENTUKAN TIM PENYUSUN KURIKULUM

Penyusunan kurikulum melibatkan seluruh staf akademik dan stakeholders yang dilaksanakan oleh tim yang dibentuk meliputi:

1. Divisi Kurikulum Universitas berdasarkan SK Rektor No.

1640/SK/REKTOR/UNIKOM/III/2017 tentang Pembentukan dan Pengangkatan Ketua Divisi Kurikulum Universitas Komputer Indonesia.

2. Tim Pengembang Kurikulum Program Studi berdasarkan SK Wakil Rektor Bidang Inovasi, Pengembangan dan Aset No. 002/SK/WR-IV/UNIKOM/VIII/2017 tentang Penetapan Pengembang Kurikulum Tingkat Program Studi Universitas Komputer Indonesia.

(14)

8

BAB II

KURIKULUM PERGURUAN TINGGI

Pemerintah menetapkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia yang selanjutnya disingkat dengan (KKNI) untuk penyusunan kurikulum program studi di aras pendidikan tinggi melalui Undang Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi dan Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2012 tentang KKNI. Pelaksanaan UU tersebut melalui penerbitan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2015 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

Kurikulum ini merupakan penyempurnaan terhadap kurikulum yang telah ada sebelumnya yaitu Kurikulum Inti dan Institusional berdasarkan UU no. 232/U/2000 dan 045/U/2002 atau umumnya disebut sebagai KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi).

Dengan dorongan perkembangan global yang saat ini dituntut adanya pengakuan atas capaian pembelajaran yang telah disetarakan secara internasional, dan dikembangkannya KKNI, maka kurikulum di perguruan tinggi sejak tahun 2012 mengalami sedikit pergeseran dengan memberikan ukuran penyetaraan capaian pembelajarannya. Kurikulum ini masih mendasarkan pada pencapaian kemampuan yang telah disetarakan untuk menjaga mutu lulusannya.

Berdasarkan Perpres No. 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), mendorong sekaligus dukungan untuk mengembangkan sebuah ukuran kualifikasi lulusan pendidikan Indonesia dalam bentuk sebuah kerangka kualifikasi, yang selanjutnya dikenal dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 8 tahun 2012 pasal 1 menyatakan bahwa :

Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, yang selanjutnya disingkat KKNI, adalah kerangka penjenjangan kualifiasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan dan mengintergrasian antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor. KKNI dikatakan perwujudan mutu dan jati diri Bangsa Indonesia terkait dengan sistem pendidikan nasional dan pelatihan

(15)

9 yang dimiliki negara Indonesia. Maknanya adalah, dengan KKNI ini memungkinkan hasil

pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, diperlengkapi dengan perangkat ukur yang memudahkan dalam melakukan penyepadanan dan penyejajaran dengan hasil pendidikan bangsa lain di dunia. KKNI juga menjadi alat yang dapat menyaring hanya orang atau SDM yang berkualifikasi yang dapat masuk ke Indonesia. Dengan fungsi yang komprehensif ini menjadikan KKNI berpengaruh pada hampir setiap bidang dan sektor di mana sumber daya manusia dikelola, termasuk di dalamnya pada sistem pendidikan tinggi, utamanya pada kurikulum pendidikan tinggi.

KKNI merupakan pernyataan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang penjenjangan kualifikasinya didasarkan pada tingkat kemampuan yang dinyatakan dalam rumusan capaian pembelajaran (learning outcomes). Dalam menyusun kurikulum dimulai dengan menetapkan profil lulusan yang dijabarkan menjadi rumusan kompetensinya. Dengan adanya KKNI rumusan kemampuan’ dinyatakan dalam istilah

“capaian pembelajaran” (terjemahan dari learning outcomes), dimana kompetensi tercakup didalamnya atau merupakan bagian dari capaian pembelajaran (CP). Kelebihan KKNI yang akan diterapkan adalah: (1) mengutamakan kesetaraan capaian pembelajaran (berorientasi pada mutu pembelajaran), (2) Capaian pembelajaran terdiri dari sikap, ketrampilan umum, keterampilan khusus, dan penguasaan pengetahuan, (3) SN DIKTI menetapkan : sikap dan keterampilan umum, program studi sejenis merumuskan ketrampilan khusus, dan pengetahuan. Kurikulum ini dikenal dengan nama Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT).

Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) memberikan parameter ukur berupa jenjang kualifikasi dari jenjang 1 terendah sampai jenjang 9 tertinggi. Setiap jenjang KKNI bersepadan dengan level Capaian Pembelajaran (CP) program studi pada jenjang tertentu, yang mana kesepadannya untuk pendidikan tinggi adalah level 3 untuk D1, level 4 untuk D2, level 5 untuk D3, level 6 untuk D4/S1, level 7 untuk profesi (setelah sarjana), level 8 untuk S2, dan level 9 untuk S3. Kesepadanan ini diperlihatkan pada gambar 2.1.

(16)

10 Gambar 2.1

Penataan Jenis dan Strata Pendidikan Tinggi

Capaian Pembelajaran (CP) pada setiap level KKNI diuraikan dalam deskripsi unsur sikap dan tata nilai, unsur kemampuan kerja, unsur penguasaan pengetahuan dan unsur kewenangan dan tanggung jawab dengan pernyataan yang ringkas yang disebut dengan deskriptor generik. Masing masing deskriptor mengindikasikan kedalaman dan level dari CP sesuai dengan jenjang program studi. Penyusunan CP menggunakan tolok ukur jenjang KKNI dinyatakan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2013 tentang Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia Bidang Pendidikan Tinggi pada pasal 10 ayat 4, yakni setiap program studi wajib menyusun deskripsi capaian pembelajaran minimal mengacu pada KKNI bidang pendidikan tinggi sesuai dengan jenjang. Bahkan pada ayat yang sama juga dinyatakan bahwa setiap program studi wajib menyusun kurikulum, melaksanakan, dan mengevaluasi pelaksanaan kurikulum mengacu pada KKNI bidang pendidikan tinggi.

Dalam hal ini, semua perguruan tinggi di Indonesia yang menyelenggarakan program studi harus mengembangkan kurikulum dan menyusun CP dengan menggunakan KKNI sebagai tolok ukurnya. Dengan telah terbitnya Standar Nasional Pendidikan Tinggi rumusan capaian pembelajaran tercakup dalam salah satu standar yaitu Standar

(17)

11 Kompetensi Lulusan (SKL). Dalam Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-DIKTI), capaian

pembelajaran terdiri dari unsur sikap, keterampilan umum, keterampilan khusus, dan pengetahuan. Unsur sikap dan keterampilan umum telah dirumuskan secara rinci dan tercantum dalam lampiran SN DIKTI, sedangkan unsur keterampilan khusus dan pengetahuan harus dirumuskan oleh forum program studi sejenis yang merupakan ciri lulusan program studi tersebut.

Sejalan dengan perundang–undangan dan peraturan pemerintah yang berlaku, Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) menyambut baik dan melakukan penyusunan, peninjauan dan evaluasi Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT) Berbasis KKNI dan SN DIKTI bagi 28 program studi. Langkah awal yang ditempuh dalam persiapan pelaksanaan kurikulum baru ini adalah dengan pengangkatan ketua divisi kurikulum berdasarkan SK Rektor No. 1640/SK/REKTOR/ UNIKOM/III/2017 tentang pembentukan dan pengangkatan ketua divisi kurikulum UNIKOM dilanjutkan dengan membentuk tim pengembang kurikulum program studi berdasarkan SK Wakil Rektor IV No. 002/SK/WR- IV/UNIKOM/VIII/2017 tentang penetapan pengembang kurikulum tingkat program studi UNIKOM. Kegiatan pertama yang dilaksanakan adalah divisi kurikulum melakukan kegiatan sosialisasi dan workshop teknik penyusunan Kurikulum yang mengacu pada KKNI dan SN DIKTI kepada para Ketua Program Studi dan Tim Pengembang Kurikulum di setiap Program Studi. Langkah berikutnya menyusun dan menerbitkan Buku Panduan Penyusunan dan Peninjauan Kurikulum 2017 UNIKOM yang mengacu pada KKNI dan SN DIKTI yang akan menjadi panduan bagi setiap program studi. Selanjutnya yang dilakukan oleh divisi kurikulum adalah melakukan pendampingan dalam proses pengembangan kurikulum di setiap program studi.

(18)

12

BAB III

PENYUSUNAN KURIKULUM

Kurikulum yang merupakan subjek atau serangkaian topik pengajaran pada suatu lembaga pendidikan dalam hal ini pendidikan tinggi UNIKOM, memerlukan tingkat kelenturan yang sedemikian rupa sehingga selain dapat mencapai tujuan yang ditetapkan dapat memenuhi beragam kebutuhan para stakeholders khususnya dapat menyesuaikan dengan dinamika perkembangan di lapangan. Untuk itu diperlukan mekanisme penyusunan, peninjauan, dan evaluasi terhadap kurikulum bersangkutan secara periodik. Uraian-uraian berikut akan memuat hal-hal yang berhubungan dengan penyusunan kurikulum, peninjauan, dan evaluasi kurikulum.

Kurikulum pada suatu program studi akan sangat menentukan kualitas lulusannya dalam masing-masing bidang atau spesifikasinya dan lebih lanjut akan mempengaruhi kualitas program studi bersangkutan bahkan fakultas dan universitas. Oleh karenanya proses perancangan kurikulum harus dilakukan secara cermat dan hati-hati, dan rancangannya disusun secara sistematis dan memiliki struktur serta konten yang jelas dan tentu saja dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya.

Kurikulum Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaian terhadap hasil-hasil yang digunakan di Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar/mengajar yang disusun menurut acuan kurikulum pendidikan tinggi sesuai KKNI dan SN DIKTI. Kurikulum KKNI dan SN DIKTI UNIKOM memenuhi Standar Nasional Pendidikan yang diatur di lingkup DIKTI (Permenristek No. 44 Tahun 2015 tentang SN DIKTI) antara lain :

1. Standar Kompetensi Lulusan berisi profil lulusan dan capaian pembelajaran 2. Standar Isi Pembelajaran berisi bahan kajian dan mata kuliah

(19)

13 3. Standar Proses pembelajaran berisi struktur kurikulum dan rencana

pembelajaran semester (RPS)

4. Standar Penilaian Pembelajaran berisi rubrik penilaian

3.1 Tahapan Penyusunan Kurikulum

Sebelum menyusun dokumen kurikulum, program studi harus mempertimbangkan dasar pengembangannya yakni: i) merujuk pada semua Peraturan Pendidikan Tinggi yang terkait dengan kurikulum; ii) memahami unsur-unsur deskripsi KKNI ; iii) standar minimal pendidikan yang harus dipenuhi pada SN DIKTI; iv) mengimplementasikan Standar dan Kebijakan Pengembangan Kurikulum yang ditetapkan UNIKOM ; v) mempertimbangkan kebutuhan pasar kerja lulusan; dan vi) visi, misi dan tujuan program studi.

Gambar 3.1

Tahapan Penyusunan Kurikulum

Dalam tahapan penyusunan dan peninjauan kurikulum terbagi dalam penetapan sebagai berikut :

(20)

14 I. Standar Kompetensi Lulusan

Berdasarkan pasal 5 Permenristek No. 44 Tahun 2015 standar kompetensi lulusan merupakan kriteria minimal tentang kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dinyatakan dalam rumusan capaian pembelajaran lulusan.

Dokumen yang terkait standar kompetensi lulusan antara lain : 1. Profil Lulusan (PL)

Profil lulusan adalah jawaban terhadap pertanyaan “Program Studi ini akan menghasilkan lulusan seperti apa? Yaitu suatu peran di kehidupan yang dapat dilakukan oleh lulusan di kemudian hari (outcomes). Penetapan profil lulusan dihasilkan dari tracer study terhadap alumni, analisis need assessment dari stakeholders, sciencetific vision dan analisis SWOT dari program studi maupun Perguruan Tinggi. Sangat disarankan profil program studi disusun oleh sekelompok program studi sejenis, asosiasi profesi sehingga terjadi kesepakatan yang dapat diterima dan dapat dijadikan rujukan secara nasional, seperti Asosiasi Perguruan Tinggi Teknologi Informasi dan Komputer (APTIKOM) dapat dijadikan rujukan bagi program studi yang berbasis teknologi informasi dan komputer, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dapat dijadikan rujukan bagi program studi akuntansi dan sebagainya.

Untuk membangun kekhasan program studi, dianjurkan untuk mengidentifikasi keunggulan atau kearifan lokal/daerah. Sehingga rumusan profil lulusan akan memuat informasi mengenai kemampuan untuk menjawab persoalan dan tantangan yang berkembang atau muncul di daerah masing‐masing, bahkan jika perlu menjadi nilai unggul dari program studi bersangkutan. Demikian halnya dengan perkembangan berbagai sektor yang muncul di masyarakat harus dapat diakomodasikan, sehingga turut dalam mewarnai profil lulusan. Profil lulusan yang telah terdefinisi dengan jelas akan menjadi modal utama dalam mengembangkan pernyataan capaian pembelajaran program studi. Berapa jumlah profil dapat merujuk pada jenjang pendikan yang diperbandingkan

(21)

15 dengan diskripsi KKNI. Secara umum, semakin tinggi jenjangnya, berpeluang

untuk memiliki jumlah profil lebih banyak.

Metode yang paling sederhana dalam menyusun profil lulusan adalah dengan menguraikan setiap definisi profil lulusan menjadi unsur‐unsur capaian pembelajaran. Profil lulusan yang tersusun dengan cermat akan memudahkan dalam menyusun pernyataan capaian pembelajaran.

Gambar 3.2 Penyusunan Profil

2. Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL)

Setelah menetapkan profil lulusan sebagai outcome program studi, maka langkah selanjutnya adalah menentukan kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh lulusan program studi sebagai output pembelajarannya. Pengertian capaian pembelajaran menurut KKNI adalah internasilisasi dan akumulasi ilmu pengetahuan, pengetahuan, pengetahuan praktis, ketrampilan, afeksi, dan kompetensi yang dicapai melalui proses pendidikan yang terstruktur dan mencakup suatu bidang ilmu/keahlian tertentu atau melalui pengalaman kerja.

Capaian pembelajaran wajib merujuk pada KKNI terutama unsur keterampilan khusus (keterampilan kerja) dan pengetahuan sedangkan unsur sikap dan keterampilan umum dapat mengacu pada SN DIKTI dengan penjelasan sebagai berikut :

(22)

16 a. Sikap merupakan perilaku benar dan berbudaya sebagai hasil dari

internalisasi dan aktualisasi nilai dan norma yang tercermin dalam kehidupan spiritual dan sosial melalui proses pembelajaran, pengalaman kerja mahasiswa, penelitian, dan/atau pengabdian kepada masyarakat yang terkait pembelajaran.

b. Pengetahuan merupakan penguasaan konsep, teori, metode, dan/atau falsafah bidang ilmu tertentu secara sistematis yang diperoleh melalui penalaran dalam proses pembelajaran, pengalaman kerja mahasiswa, penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat yang terkait pembelajaran. Yang dimaksud dengan pengalaman kerja mahasiswa adalah pengalaman dalam kegiatan di bidang tertentu pada jangka waktu tertentu yang berbentuk pelatihan kerja, kerja praktik, praktik kerja lapangan atau bentuk kegiatan lain yang sejenis.

c. Keterampilan merupakan kemampuan melakukan unjuk kerja dengan menggunakan konsep, teori, metode, bahan, dan/atau instrumen, yang diperoleh melalui pembelajaran, pengalaman kerja mahasiswa, penelitian dan/atau pengabdian kepada masyarakat yang terkait pembelajaran. Unsur ketrampilan dibagi menjadi dua yakni keterampilan umum dan keterampilan khusus yang diartikan sebagai berikut:

i. Keterampilan umum merupakan kemampuan kerja umum yang wajib dimiliki oleh setiap lulusan dalam rangka menjamin kesetaraan kemampuan lulusan sesuai tingkat program dan jenis pendidikan tinggi.

ii. Keterampilan khusus merupakan kemampuan kerja khusus yang wajib dimiliki oleh setiap lulusan sesuai dengan bidang keilmuan program studi.

(23)

17 Gambar 3.3

Capaian Pembelajaran Lulusan

Secara umum capaian pembelajaran dapat berfungsi sebagai berikut:

a) Sebagai penciri, deskripsi, atau spesifikasi dari program studi.

b) Sebagai ukuran, rujukan, pembanding pencapaian jenjang pembelajaran dan pendidikan.

c) Sebagai komponen penyusun kurikulum dan pembelajaran.

d) Kelengkapan utama deskripsi dalam SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah).

Surat Keterangan Pendamping ljazah yang selanjutnya disingkat SKPI adalah dokumen yang memuat informasi tentang pencapaian akademik atau kualifikasi dari lulusan pendidikan tinggi bergelar yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Pemberlakuan Kurikulum KKNI dan SN DIKTI di UNIKOM pada prinsipnya tidak bisa dilepaskan dengan penerbitan Surat Keterangan Pendamping Ijasah (SKPI). Hal ini sejalan dengan ketentuan pemerintah yang termuat dalam dua peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yaitu:

1. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi pasal 24 ayat 5 bahwa

(24)

18 mahasiswa yang dinyatakan lulus berhak memperoleh ijazah, gelar atau sebutan,

dan Surat Keterangan Pendamping Ijazah sesuai dengan peraturan perundangan.

2. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2013 tentang Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia Bidang Pendidikan Tinggi, pasal 10 ayat 2 b mewajibkan perguruan tinggi untuk menerbitkan Surat Keterangan Pendamping Ijazah yang menjelaskan kualifikasi lulusan sesuai dengan jenjang KKNI bidang pendidikan tinggi.

SKPI paling sedikit memuat:

a. Logo perguruan tinggi.

b. Nama perguruan tinggi.

c. Nomor keputusan pendirian perguruan tinggi.

d. Nama program studi.

e. Nama lengkap pemilik SKPI.

f. Tempat dan tanggal lahir pemilik SKPI.

g. Nomor induk mahasiswa (nim).

h. Tanggal, bulan, tahun masuk dan kelulusan.

i. Nomor seri ijazah.

j. Gelar yang diberikan beserta singkatannya.

k. Jenis pendidikan (akademik, vokasi, atau profesi).

l. Program pendidikan (diploma, sarjana terapan, magister terapan, doktor terapan, sarjana, magister, doktor, profesi, atau spesialis).

m. Capaian pembelajaran lulusan sesuai kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia secara naratif.

n. Level Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia.

o. Persyaratan penerimaan.

p. Bahasa pengantar kuliah.

q. Sistem penilaian.

r. Lama studi.

s. Jenis dan program pendidikan tinggi lanjutan.

t. Skema tentang sistem pendidikan tinggi.

(25)

19 SKPI dapat memuat:

a. Informasi tambahan tentang prestasi lulusan selama berstatus mahasiswa; dan/

atau

b. Jabatan dalam profesi.

II. Standar Isi Pembelajaran

Berdasarkan pasal 8 Permenristek No. 44 Tahun 2015 standar isi pembalajaran merupakan kriteria minimal tingkat kedalaman dan keluasan materi pembelajaran.

Dokumen yang terkait standar isi pembelajaran antara lain : 1. Bahan Kajian (BK)

Setelah menetapkan capaian pembelajaran maka langkah selanjutnya adalah menentukan bahan kajian yang akan dipelajari. Bahan kajian adalah suatu bangunan IPTEKS dari obyek yang dipelajari, yang merupakan :

a. Ciri cabang ilmu tertentu, atau dengan kata lain menunjukkan bidang kajian atau inti keilmuan yang telah menjadi kesepakatan suatu program studi.

b. Pengetahuan / bidang kajian kekhasan program studi atau pembeda dengan program studi lain dan sesuai dengan visi dan misi program studi, yang dinyatakan dalam bentuk IPTEKS Pendukung.

c. Keilmuan sebagai karakteristik Perguruan Tinggi atau ciri Perguruan Tinggi.

Bahan kajian kurikulum disesuaikan dengan standar isi pembelajaran yang memiliki tingkat kedalaman dan keluasan yang mengacu pada capaian pembelajaran (CPL) seperti yang tercantum dalam Permenristek No. 44 tahun 2015 tentang SN DIKTI.

(26)

20 Gambar 3.4

Bahan Kajian

Bahan kajian dapat diambil (bersumber) dari bidang ilmu penyusun program studi. Mengasosiasikan kedalaman bahan kajian dengan taksonomi bloom dapat mempermudah memperkirakan kedalaman penguasaan bahan kajian untuk unsur CP tertentu. Penguasaan bahan kajian sampai tahap mengaplikasikan akan setara dengan application pada aspek Kognitif taksonomi Bloom. Jika dibuat bobot relatif (sebagai alat bantu) know = 1, understand = 2, application = 3, analize = 4, evaluate = 5 dan create = 6.

2. Mata Kuliah (MK)

Pembentukan sebuah mata kuliah dapat ditempuh dengan menganalisis kedekatan bahan kajian serta kemungkinan efektivitas pencapaian kompetensi bila beberapa bahan kajian dipelajari dalam satu mata kuliah. Dengan menganalisis hubungan antara rumusan capaian pembelajaran dan bahan kajian, dapat dibentuk mata kuliah. Penetapan mata kuliah untuk kurikulum yang sedang berjalan dapat dilaksanakan dengan melakukan evaluasi tiap-tiap mata kuliah dengan acuan CPL yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Evaluasi dilakukan dengan mengkaji seberapa jauh keterkaitan setiap mata kuliah (materi

(27)

21 pembelajaran, bentuk tugas, soal ujian, dan penilaian) dengan CPL yang telah

dirumuskan.

Gambar 3.5 Matriks untuk Evaluasi Mata Kuliah pada Kurikulum

Dengan mengisikan butir-butir CPL (sikap, ketrampilan umum, ketrampilan khusus, dan pengetahuan) ke dalam baris dan mengisi kolom dengan semua mata kuliah per semester, maka evaluasi dapat mulai dilakukan. Matriks ini dapat menguraikan hal-hal berikut :

a. Mata kuliah yang secara tepat terkait dan berkontribusi dalam pemenuhan CPL yang ditetapkan dapat diberi tanda contreng (v) pada kotak. Tanda contreng berarti menyatakan ada bahan kajian yang diajarkan atau harus dikuasai untuk memberikan “kemampuan” tertentu, yang terkait butir CPL, dan berkontribusi pada pencapaian CPL pada lulusan. Bila suatu mata kuliah

“seharusnya” dicontreng tetapi ternyata tidak ada bahan kajian yang terkait, maka bahan kajian tersebut wajib ditambahkan.

b. Bila terdapat mata kuliah yang tidak terkait atau tidak berkontribusi pada pemenuhan CPL, maka mata kuliah tersebut dapat dihapuskan atau diintegrasikan dengan mata kuliah lain. Sebaliknya bila beberapa butir dari

(28)

22 CPL belum terkait pada mata kuliah yang ada, maka dapat diusulkan

matakuliah baru

Merangkai beberapa bahan kajian menjadi suatu mata kuliah dapat melalui beberapa pertimbangan yaitu:

a. Adanya keterkaitan yang erat antar bahan kajian yang bila dipelajari secara terintergrasi diperkirakan akan lebih baik hasilnya.

b. Adanya pertimbangan konteks keilmuan, artinya mahasiswa akan menguasai suatu makna keilmuan dalam konteks tertentu.

c. Adanya metode pembelajaran yang tepat yang menjadikan pencapaian kompetensi lebih efektif dan efisien serta berdampak positif pada mahasiswa bila suatu bahan kajian dipelajari secara komprehensif dan terintegrasi.

Dengan demikian pembentukan mata kuliah mempunyai fleksibilitas yang tinggi, sehingga satu program studi sangat dimungkinkan mempunyai jumlah dan jenis mata kuliah yang sangat berbeda, karena dalam hal ini mata kuliah hanyalah bungkus serangkaian bahan kajian yang dipilih sendiri oleh sebuah program studi.

III. Standar Proses Pembelajaran

Berdasarkan pasal 10 Permenristek No. 44 Tahun 2015 standar proses pembalajaran merupakan kriteria minimal tentang pelaksanaan pembelajaran pada program studi untuk memperoleh capaian pembelajaran lulusan.

Standar proses pembelajaran terdiri dari:

1. Karakteristik proses pembelajaran.

2. Perencanaan proses pembelajaran.

3. Pelaksanaan proses pembelajaran.

4. Beban belajar mahasiswa.

(29)

23 Karakteristik proses pembelajaran terdiri atas sifat:

a. Interaktif, maksudnya capaian pembelajaran lulusan diraih dengan mengutamakan proses interaksi dua arah antara mahasiswa dan dosen.

b. Holistik, maksudnya proses pembelajaran mendorong terbentuknya pola pikir yang komprehensif dan luas dengan menginternalisasi keunggulan dan kearifan lokal maupun nasional.

c. Integratif, maksudnya capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran yang terintegrasi untuk memenuhi capaian pembelajaran lulusan secara keseluruhan dalam satu kesatuan program melalui pendekatan antardisiplin dan multidisiplin.

d. Saintifik, maksudnya capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran yang mengutamakan pendekatan ilmiah sehingga tercipta lingkungan akademik yang berdasarkan sistem nilai, norma, dan kaidah ilmu pengetahuan serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan kebangsaan.

e. Kontekstual, maksudnya capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran yang disesuaikan dengan tuntutan kemampuan menyelesaikan masalah dalam ranah keahliannya.

f. Tematik, maksudnya capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik keilmuan program studi dan dikaitkan dengan permasalahan nyata melalui pendekatan transdisiplin.

g. Efektif, maksudnya capaian pembelajaran lulusan diraih secara berhasil guna dengan mementingkan internalisasi materi secara baik dan benar dalam kurun waktu yang optimum.

h. Kolaboratif, maksudnya capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran bersama yang melibatkan interaksi antar individu pembelajar untuk menghasilkan kapitalisasi sikap, pengetahuan, dan keterampilan

i. Berpusat pada mahasiswa, maksudnya capaian pembelajaran lulusan diraih melalui proses pembelajaran yang mengutamakan pengembangan kreativitas, kapasitas, kepribadian, dan kebutuhan mahasiswa, serta mengembangkan kemandirian dalam mencari dan menemukan pengetahuan.

(30)

24 Perencanaan proses pembelajaran disusun untuk setiap mata kuliah dan disajikan

dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS).

Pelaksanaan proses pembelajaran berlangsung dalam bentuk interaksi antara dosen, mahasiswa, dan sumber belajar dalam lingkungan belajar tertentu. Proses pembelajaran di setiap mata kuliah dilaksanakan sesuai RPS dengan karakteristik interaktif, holistik, integratif, saintifik, kontekstual, tematik, efektif, kolaboratif, dan berpusat pada mahasiswa. Proses pembelajaran melalui kegiatan kurikuler wajib menggunakan metode pembelajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata kuliah untuk mencapai kemampuan tertentu yang ditetapkan dalam matakuliah dalam rangkaian pemenuhan capaian pembelajaran lulusan. Metode pembelajaran yang dapat dipilih untuk pelaksanaan pembelajaran mata kuliah antara lain: diskusi kelompok, simulasi, studi kasus, pembelajaran kolaboratif, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, atau metode pembelajaran lain, yang dapat secara efektif memfasilitasi pemenuhan capaian pembelajaran lulusan.

Beban belajar mahasiswa dalam besaran satuan kredit semester (sks). Selain itu untuk menetapkan besaran sks sebuah mata kuliah, terdapat beberapa prinsip yang harus diikuti. Salah satu dasar pertimbangan penyusunan kurikulum dengan sistem kredit adalah beban kerja yang diperlukan mahasiwa dalam proses pembelajarannya untuk mencapai kompetensi hasil pembelajaran yang telah ditetapkan.

Besarnya sks suatu mata kuliah dimaknai sebagai waktu yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk dapat memiliki kemampuan yang dirumuskan dalam sebuah mata kuliah tersebut. Perencanaan, penyusunan dan pelaksanaan program pendidikan menggunakan tolok ukur satuan kredit semester (sks) sebagai beban akademik. Kemudian disusun untuk setiap mata kuliah dan disajikan dalam rencana pembelajaran semester (RPS).

(31)

25 Secara prinsip pengertian sks harus dipahami sebagai waktu yang dibutuhkan oleh

mahasiswa untuk mencapai kompetensi tertentu, dengan melalui bentuk pembelajaran dan bahan kajian tertentu. Sementara itu, makna bahwa 1 sks berdasarkan pasal 17 Permenristek No. 44 Tahun 2015 :

a. Untuk perkuliahan, responsi atau tutorial di kelas bermakna 50 menit pembelajaran tatap muka di kelas, 60 menit tugas mandiri dan 60 menit tugas terstruktur setiap minggunya.

b. Untuk pembelajaran seminar atau bentuk pembelajaran lain yang sejenis, bermakna 100 menit tugas di ruang tutorial atau praktek dan 70 menit tugas mandiri setiap minggunya.

c. Untuk bentuk pembelajaran praktikum, praktik studio, praktik bengkel, praktik lapangan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan/atau bentuk pembelajaran lain yang setara, adalah 170 (seratus enam puluh) menit per minggu per semester.

Berdasarkan pengertian di atas maka bentuk pembelajaran yang akan dirancang harus memperhitungkan makna sks di setiap mata kuliah yang ada. Setiap mata kuliah paling sedikit memiliki bobot 1 sks. Selain itu, semester merupakan satuan waktu kegiatan pembelajaran efektif selama 16 minggu. Proses penetapan sks yang akan disajikan dalam struktur kurikulum perlu mempertimbangkan kekuatan lama belajar mahasiswa. Beban normal belajar mahasiswa adalah 8 (delapan) jam per hari atau 48 (empat puluh delapan) jam per minggu setara dengan 18 (delapan belas) sks per semester, sampai dengan 9 (sembilan) jam per hari atau 54 (lima puluh empat) jam per minggu setara dengan 20 (dua puluh) sks per semester.

Untuk menyelesaikan pendidikannya sesuai dengan standar kualifikasi jenis dan jenjang pendidikan tertentu, pada Permenristek No. 44 Tahun 2015 tentang SN DIKTI dinyatakan bahwa untuk memenuhi capaian pembelajaran lulusan program sebagaimana dimaksud dalam pasal 16, mahasiswa wajib menempuh beban belajar paling sedikit :

(32)

26 1. 36 sks untuk program diploma satu paling lama 2 (dua) tahun akademik.

2. 72 sks untuk program diploma dua paling lama 3 (tiga) tahun akademik.

3. 108 sks untuk program diploma tiga paling lama 5 (lima) tahun akademik.

4. 144 sks untuk program diploma empat dan program sarjana paling lama 7 (tujuh) tahun akademik.

5. 24 sks untuk program profesi paling lama 3 (tiga) tahun.

6. 36 sks untuk program magister, magister terapan, dan spesialis satu paling lama 4 (empat) tahun.

7. 42 sks untuk program doktor, doktor terapan, dan spesialis dua.

Dokumen yang terkait standar proses pembelajaran antara lain : 1. Struktur Kurikulum

Struktur kurikulum suatu program studi disusun setelah ditetapkan mata kuliah berdasarkan bahan kajian. Tahap ini adalah menyusun mata kuliah ke dalam semester. Pola susunan mata kuliah perlu memperhatikan hal berikut :

a. Konsep pembelajaran yang direncanakan dalam usaha memenuhi capaian pembelajaran lulusan.

b. Ketepatan letak mata kuliah yang disesuaikan dengan keruntutan tingkat kemampuan dan integrasi antar mata kuliah.

c. Beban belajar mahasiswa rata-rata di setiap semester yakni 18-20 sks.

Secara teoritis terdapat dua macam pendekatan penyusunan struktur kurikulum, yaitu model serial dan model paralel. Pendekatan model serial adalah pendekatan yang menyusun mata kuliah berdasarkan logika atau struktur keilmuannya. Pada pendekatan serial ini, mata kuliah disusun dari yang paling dasar (berdasarkan logika keilmuannya) sampai di semester akhir yang merupakan mata kuliah lanjutan (advanced). Setiap mata kuliah yang saling berhubungan ditunjukkan dengan adanya mata kuliah prasyarat. Mata kuliah yang tersaji di semester awal akan menjadi syarat bagi mata kuliah di atasnya.

Permasalahan yang sering muncul adalah siapa yang harus membuat hubungan antar mata kuliah antar semester. Jika mahasiswa, mereka belum memiliki

(33)

27 kompetensi untuk memahami keseluruhan kerangka keilmuan tersebut. Jika

dosen, tidak ada yang menjamin terjadinya kaitan tersebut mengingat antara mata kuliah satu dengan yang lain diampu oleh dosen yang berbeda dan sulit dijamin adanya komunikasi yang baik antara dosen-dosen yang terlibat.

Kelemahan inilah yang menyebabkan lulusan dengan model struktur serial ini kurang memiliki kompetensi yang terintegrasi. Sisi lain dari adanya mata kuliah prasyarat sering menjadi penyebab terlambatnya kelulusan mahasiswa karena bila salah satu mata kuliah prasyarat tersebut gagal mereka harus mengulang di tahun berikutnya.

Adapun pendekatan struktur kurikulum model paralel menyajikan mata kuliah pada setiap semester sesuai dengan tujuan kompetensinya. Struktur paralel ini secara ekstrim sering dijumpai dalam model Blok di Program Studi Kedokteran atau program studi lainnya. Model Blok adalah struktur kurikulum paralel yang tidak berdasarkan pembelajaran semesteran, tetapi berdasarkan ketercapaian kompetensi di setiap blok, sehingga sering pula disebut sebagai model modular, karena terdiri dari beberapa modul/blok. Akan tetapi, struktur kurikulum paralel tidak hanya dilaksanakan dengan model Blok, bisa juga dalam bentuk semesteran yaitu dengan mengelompokkan beberapa mata kuliah berdasarkan kompetensi yang sejenis. Sehingga setiap semester akan mengarah pada pencapaian kompetensi yang serupa dan tuntas pada semester tersebut, tanpa harus menjadi syarat bagi mata kuliah di semester berikutnya.

Mengkombinasikan sistem seri dan sistem paralel juga memungkinkan untuk dilakukan, yaitu kelompok bidang ilmu (dengan perincian bahan kajiannya) disusun secara paralel, kemudian rumusan kompetensi dan urutan strategi pembelajarannya disusun secara bertahap menurut semesternya. Dalam bentuk itu sebuah ilmu (bahan kajian) dipelajari pada saat yang diperlukan sesuai dengan tingkat kemampuan yang diharapkan mengarah kepada pencapaian kompetensi lulusan.

(34)

28 Gambar 3.6 Model Struktur Kurikulum.

Alternatif penyusunan kurikulum ini tidak meninggalkan konsep penggunaan logika keilmuan program studi sebagai dasar penyusunan kurikulumnya. Akan tetapi, penyusunan kurikulum lebih menekankan pada pemikiran bahwa keilmuan bukan dijadikan sebagai suatu tujuan pendidikan, melainkan sebagai sarana dan media untuk mencapai kompetensi lulusan. Misalnya, matematika di bidang teknik tidak selalu diletakkan pada semester 1 dan semester 2 dengan alasan secara logis sebagai dasar keteknikan, tetapi memungkinkan bahan kajian matematika tersebut disebar ke beberapa semester sesuai dengan keperluannya. Dalam hal ini, belajar suatu materi dalam konteks tertentu, misalnya belajar matematika dalam konteks teknik elektro dan belajar etika dalam konteks klinis di ilmu kedokteran. Hal itu dapat dilakukan berdasarkan alasan efektivitas dan efisiensi pencapaian suatu kompetensi apabila suatu bahan ajar dipelajari pada saat yang tepat dan dalam konteks yang tepat pula.

Dengan demikian, struktur kurikulum dapat disusun dengan lebih bervariasi.

Akan tetapi yang terpenting bukan kebenaran strukturnya, tetapi kurikulum harus dilihat sebagai program untuk mencapai kompetensi lulusan yang harus dilaksanakan. Oleh karena itu, perubahan suatu kurikulum perlu diikuti dengan perubahan perilaku dan pola pikir dari peserta serta pelaku pembelajaran, agar capaian pembelajaran yang ditetapkan dapat benar-benar terwujud.

(35)

29 Kerangka dasar struktur kurikulum selengkapnya adalah sebagai berikut:

a. Mata Kuliah Universitas, merupakan mata kuliah-mata kuliah yang wajib diselenggarakan oleh seluruh fakultas di UNIKOM untuk menjamin capaian pembelajaran yang menjadi ciri Universitas.

Yang termasuk Mata Kuliah Universitas adalah:

1. Agama 2. Pancasila

3. Kewarganegaraan 4. Bahasa Indonesia 5. Bahasa Inggris 6. Software 7. Hardware

8. Entrepreneurship 9. Animasi Multimedia

b. Mata Kuliah Fakultas, merupakan mata kuliah - mata kuliah yang wajib diselenggarakan oleh seluruh program studi di bawah fakultas untuk menjamin capaian pembelajaran yang menjadi ciri fakultas tersebut.

c. Mata Kuliah Program Studi, yang merupakan mata kuliah-mata kuliah yang wajib diselenggarakan oleh seluruh program studi untuk menjamin capaian pembelajaran yang menjadi ciri program studi tersebut.

2. Rencana Pembelajaran Semester (RPS)

RPS adalah dokumen program pembelajaran yang dirancang untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan sesuai CPL yang ditetapkan, sehingga harus dapat ditelusuri keterkaitan dan kesesuaiannya. Rancangan dititikberatkan pada bagaimana memandu mahasiswa belajar agar memiliki kemampuan sesuai dengan CPL yang ditetapkan dalam kurikulum, bukan hanya pada kepentingan kegiatan dosen mengajar. RPS wajib ditinjau dan diseuaikan secara berkala dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

(36)

30 Tahapan perancangan pembelajaran mengacu pada proses pembelajaran

sebagai sebuah tahapan pelaksanaan rencana pembelajaran semester (RPS), digambarkan dengan gambar sebagai berikut :

Gambar 3.7 Pembelajaran sebagai Tahapan Pelaksanaan RPS

Tahapan perancangan pembelajaran dilakukan secara sistematis, logis dan terukur agar dapat menjamin tercapainya capaian pembelajaran lulusan (CPL).

Tahapan perancangan pembelajaran tersebut setidaknya dilakukan dalam tahapan sebagai berikut:

▪ Mengidentifikasi CPL yang dibebankan pada matakuliah.

▪ Merumuskan capaian pembelajaran mata kuliah (CP-MK) yang bersifat spesifik terhadap mata kuliah berdasarkan CPL yang dibebankan pada MK tersebut.

▪ Merumuskan sub-CP MK yang merupakan kemampuan akhir yang direncanakan pada tiap tahap pembelajaran, dan dirumuskan berdasarkan CP-MK.

▪ Analisis pembelajaran (analisis tiap tahapan belajar).

▪ Menentukan indikator dan kreteria Sub-CP MK

▪ Mengembangkan instrumen penilaian pembelajaran berdasarkan indikator pencapaian kemampuan akhir tiap tahapan belajar.

(37)

31

▪ Memilih dan mengembangkan model/metoda/strategi pembelajaran.

▪ Mengembangkan materi pembelajaran.

▪ Mengembangkan dan melakukan evaluasi pembelajaran.

RPS ditetapkan dan dikembangkan oleh dosen secara mandiri atau bersama dalam kelompok keahlian suatu bidang ilmu pengetahuan dan/atau teknologi dalam program studi dengan memperhatikan :

Prinsip penyusunan RPS:

a. RPS adalah dokumen program pembelajaran yang dirancang untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan sesuai CPL yang ditetapkan, sehingga harus dapat ditelusuri keterkaitan dan kesesuaian dengan konsep kurikulumnya.

b. Rancangan dititik beratkan pada bagaimana memandu mahasiswa belajar agar memiliki kemampuan sesuai dengan CP lulusan yang

ditetapkan dalam kurikulum, bukan pada kepentingan kegiatan dosen mengajar.

c. Pembelajaran yang dirancang adalah pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student centred learning disingkat SCL)

d. RPS atau istilah lain, wajib ditinjau dan disesuaikan secara berkala dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

RPS atau istilah lain menurut Standar Nasional Pendidikan Tinggi paling sedikit memuat :

RPS ditetapkan dan dikembangkan oleh dosen secara mandiri atau bersama dalam kelompok keahlian suatu bidang ilmu pengetahuan dan/atau teknologi dalam program studi. Contoh RPS dapat dilihat pada Lampiran, yang paling sedikit memuat :

a. Nama program studi, nama dan kode mata kuliah, semester, sks, nama dosen pengampu.

b. Capaian pembelajaran lulusan yang dibebankan pada mata kuliah.

(38)

32 c. Kemampuan akhir yang direncanakan pada tiap tahap pembelajaran untuk

memenuhi capaian pembelajaran lulusan.

d. Bahan kajian yang terkait dengan kemampuan yang akan dicapai.

e. Metode pembelajaran.

f. Waktu yang disediakan untuk mencapai kemampuan pada tiap tahap pembelajaran.

g. Pengalaman belajar mahasiswa yang diwujudkan dalam deskripsi tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa selama satu semester.

h. Kriteria, indikator dan bobot nilai.

i. Daftar referensi yang digunakan.

Tabel 3.1 Contoh Format RPS

(39)

33 Tabel 3.2 Penjelasan Pengisian Format RPS

NOMOR

KOLOM JUDUL KOLOM PENJELASAN ISIAN

1 MINGGU KE Menunjukan kapan suatu kegiatan dilaksanakan, yakni mulai minggu ke 1 sampai ke 16 (satu semester) (bisa 1/2/3/4 mingguan).

2 KEMAMPUAN AKHIR YANG DIRENCANAKAN

Rumusan kemampuan dibidang kognitif, psikomotorik, dan afektif diusahakan lengkap dan utuh (hard skills & soft skills). Tingkat kemampuan harus menggambarkan level CP lulusan prodi, dan dapat mengacu pada konsep dari Anderson (*). Kemampuan yang dirumuskan di setiap tahap harus mengacu dan sejalan dengan CPL, serta secara komulatif diharapkan dapat memenuhi CPL yang dibebankan pada mata kuliah ini diakhir semester.

3 BAHAN KAJIAN (materi ajar)

Bisa diisi pokok bahasan /sub pokok bahasan, atau topik bahasan. (dengan asumsi tersedia diktat/modul ajar untuk setiap pokok bahasan) atau intergrasi materi pembelajaran, atau isi dari modul.

4 METODE PEMBELAJARAN

Dapat berupa : diskusi kelompok, simulasi, studi kasus, pembelajaran kolaboratif, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, atau metode pembelajaran lain,atau gabungan berbagai bentuk. Pemilihan metode pembelajaran didasarkan pada keniscayaan bahwa dengan metode pembelajaran yang dipilih mahasiswa mencapai kemampuan yang diharapkan.

5 WAKTU Waktu yang disediakan untuk mencapai kemampuan pada tiap tahap pembelajaran

6 PENGALAMAN BELAJAR

Kegiatan yang harus dilakukan oleh mahasiswa yang dirancang oleh dosen agar yang bersangkutan memiliki kemampuan yang telah ditetapkan (tugas, suvai, menyusun paper, melakukan praktek, studi banding, dsb)

7 KRITERIA PENILAIAN dan INDIKATOR

Kriteria Penilaian berdasarkan Penilaian Acuan Patokan mengandung prinsip edukatif, otentik, objektif, akuntabel, dan transparan yang dilakukan secara terintegrasi.

Indikator dapat menunjukkan pencapaian kemampuan yang dicanangkan, atau unsur kemampuan yang dinilai (bisa kualitatif misal ketepatan analisis, kerapian sajian, Kreatifitas ide, kemampuan komunikasi, juga bisa juga yang kuantitatif : banyaknya kutipan acuan/unsur yang dibahas, kebenaran hitungan).

8 BOBOT NILAI Disesuaikan dengan waktu yang digunakan untuk membahas atau mengerjakan tugas, atau besarnya sumbangan suatu kemampuan terhadap pencapaian pembelajaran yang dibebankan pada mata kuliah ini.

REFERENSI

Daftar referensi yang digunakan dapat dituliskan pada lembar lain

(40)

34 3. Rancangan Tugas Mahasiswa (RTM)

Tujuan dari RTM :

a. Sebagai stimulus untuk internalisasi pemahaman materi bagi mahasiswa.

b. Menjamin tercapainya capaian pembelajaran mata kuliah (CP-MK).

c. Adanya panduan bagi dosen atau tim dosen, teknisi, mahasiswa akan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan melalui tugas mahasiswa, capaia pembelajaran yang direncanakan dan indicator ketercapaian.

d. Adanya panduan bagi dosen atau tim dosendalam melaksanakanpengukuran hasil belajar melalui tugas mahasiswa.

e. Sebagai salah satu instrument penjaminan mutu pendidikan program studi.

IV. Standar Penilaian Pembelajaran

Berdasarkan pasal 19 Permenristek No. 44 Tahun 2015 standar penilaian pembalajaran merupakan kriteria minimal tentang penilaian proses dan hasil belajar mahasiswa dalam rangka pemenuhan capaian pembelajaran lulusan.

Dokumen yang terkait standar penilaian pembelajaran adalah : Rubrik Penilaian

Rubrik penilaian adalah panduan penilaian yang menggambarkan kriteria yang diinginkan dalam menilai, memberi tingkatan dari hasil kinerja belajar mahasiswa.

Rubrik terdiri dari dimensi yang dinilai dan kriteria kemampuan hasil belajar mahasiswa ataupun indikator capaian belajar mahasiswa.

Tujuan penilaian menggunakan rubrik adalah memperjelas dimensi dan tingkatan penilaian dari capaian pembelajaran mahasiswa. Selain itu rubrik diharapkan dapat menjadi pendorong atau motivator bagi mahasiswa untuk mencapai capaian pembelajarannya. Rubrik dapat bersifat menyeluruh atau berlaku umum dan dapat juga bersifat khusus atau hanya berlaku untuk suatu topik tertentu. Rubrik yang bersifat menyeluruh dapat disajikan dalam bentuk holistic rubric.

(41)

35 Ada 3 macam rubrik yang disajikan sebagai contoh pada buku ini, yakni:

1. Rubrik holistik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan kesan keseluruhan atau kombinasi semua kriteria.

2. Rubrik deskriptif memiliki tingkatan kriteria penilaian yang dideskripsikan dan diberikan skala penilaian atau skor penilaian.

3. Rubrik skala persepsi memiliki tingkatan kreteria penilian yang tidak dideskripsikan namun tetap diberikan skala penilaian atau skor penilaian.

Tabel 3.3 . Contoh Rubrik Deskriptif untuk Penilaian Presentasi Makalah

DEMENSI

SKALA Sangat

Baik

Baik Cukup Kurang Sangat Kurang

Skor 81 (61-80) (41-60) (21-40) <20

Organisasi

Terorganisa Terorganisasi Presentasi Cukup Tidak ada si dengan dengan baik mempunyai fokus fokus, organisasi yang menyajikan dan dan menyajikan namun jelas. Fakta tidak fakta yang menyajikan beberapa bukti bukti digunakan untuk didukung

oleh contoh yang telah dianalisis

fakta yang meyakinkan untuk mendukung

yang mendukung kesimpulan- kesimpulan.

kurang mencukupi untuk digunakan

mendukung pernyataan.

sesuai kesimpulan- dalam

konsep kesimpulan. menarik

kesimpulan

Isi

Isi mampu Isi akurat dan Isi secara umum Isinya Isinya tidak akurat mengguga lengkap. Para akurat, tetapi tidak kurang atau terlalu umum.

h pendengar lengkap. Para akurat, Pendengar tidak

pendengar menambah pendengar bisa karena tidak belajar apapun untuk wawasan baru mempelajari ada data atau kadang mengamba

ngkan pikiran.

tentang topik tersebut.

beberapa fakta yang tersirat, tetapi mereka tidak menambah

faktual, tidak menambah pemahaman

menyesatkan.

wawasan baru tentang topik

pendengar tersebut.

Gaya Presentasi

Berbicara Pembicara Secara umum Berpatokan Pembicara cemas dengan tenang dan pembicara tenang, pada dan tidak nyaman, semangat, menggunakan tetapi dengan catatan, dan membaca menularka intonasi yang nada yang datar tidak ada berbagai catatan n semangat tepat, berbicara dan cukup sering ide yang daripada berbicara.

dan tanpa bergantung pada dikembangk Pendengar sering antusiasme bergantung catatan. Kadang- an di luar diabaikan. Tidak pada

pendengar

pada catatan, dan berinteraksi secara intensif dengan pendengar.

kadang kontak mata dengan pendengar diabaikan.

catatan, suara monoton

terjadi kontak mata karena pembicara lebih banyak melihat ke papan tulis atau layar.

Pembicara selalu kontak mata dengan pendengar.

(42)

36 Tabel 3.4. Contoh Bentuk Lain dari Rubrik Deskriptif

GRADE SKOR INDIKATOR KINERJA

Sangat kurang

<20 Rancangan yang disajikan tidak teratur dan tidak menyelesaikan permasalahan

Kurang 21–40 Rancangan yang disajikan teratur namun kurang menyelesaikan permasalahan

Cukup 41– 60

Rancangan yang disajikan tersistematis, menyelesaikan masalah, namun kurang dapat diimplementasikan

Baik 61- 80

Rancangan yang disajikan sistematis, menyelesaikan masalah, dapat diimplementasikan, kurang inovatif

Sangat

Baik >81

Rancangan yang disajikan sistematis, menyelesaikan masalah, dapat diimplementasikan dan inovatif

Tabel 3.5 Contoh Rubrik Holistik

DEMENSI

Komentar

BOBOT Nilai Nilai total

(catatan)

Penguasaan Materi 30%

Ketepatan menyelesaikan masalah

30%

Kemampuan Komunikasi

20%

Kemampuan menghadapi

Pertanyaan 10%

Kelengkapan alat peraga dalam

presentasi 10%

NILAI AKHIR 100%

Penilaian proses dan hasil belajar mahasiswa mencakup : 1. Prinsip penilaian.

2. Teknik dan instrumen penilaian.

3. Mekanisme dan prosedur penilaian.

4. Pelaksanaan penilaian.

5. Pelaporan penilaian.

6. Kelulusan mahasiswa.

Gambar

Gambar 3.2  Penyusunan Profil
Gambar 3.5 Matriks untuk Evaluasi Mata Kuliah pada Kurikulum
Gambar 3.7 Pembelajaran sebagai Tahapan Pelaksanaan RPS
Tabel 3.1 Contoh Format RPS
+3

Referensi

Dokumen terkait

Kinerja guru merupakan hal penting yang harus menjadi perhatian guru dan pihak terkait, guru harus memiliki kinerja yang baik, baik buruknya kinerja guru

Wawancara adalah metode yang digunakan dalam penulisan laporan akhir ini yaitu dengan cara melakukan tanya jawab secara langsung kepada karyawan atau pegawai BPK RI

Pemerintah membangunkan beberapa unit rumah di pesisir pantai atau di kuala-kuala sungai agar mereka masih bisa dekat dengan laut, yang diyakini menjadi sumber kehidupan bagi

Di sisi lain, dugaan adanya korelasi terpaan berita politik dengan perubahan kognisi remaja tentang fungsi input , proses konversi, output , serta kapabilitas sistem

Merasa perlu untuk melaksanakan peningkatan pelayanan tersebut, usaha yang dilakukan untuk selalu menjaga hubungan baik serta mempertahankan citra dan membangun reputasi

Variabel dalam penelitian ini adalah minat siswa SMK Negeri dan Swsta kelas XI Program Keahlian Teknik Informatika di Wonosari untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan

Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh kemampuan berpikir logika mahasiswa yang diajar menggunakan pendekatan SEA dibandingkan

Citraraya Mandiri Motor yang merupakan perusahaan bisnis yang bergerak di bidang penjualan unit mobil atau dealer dengan tujuan mengevaluasi pengendalian