• Tidak ada hasil yang ditemukan

Juli Mania Sembiring 1, Edy Surya 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Juli Mania Sembiring 1, Edy Surya 2"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CTL) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA PADA

MATERI HIMPUNAN DI KELAS VII SMP MUHAMMADIYAH 2 MEDAN Juli Mania Sembiring1, Edy Surya2

1)Mahasiswa Program Pascasarjana Pendidikan Matematika Unimed

2)Dosen Program Pascasarjana Pendidikan Matematika Unimed

1Email: [email protected]

2Email: [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual (CTL) dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa pada materi himpunan dan untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep matematika siswa ketika diterapkan pendekatan pembelajaran kontekstual pada materi himpunan.

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Research) yang terdiri dari 2 siklus yang masing-masing siklus dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan, dengan nilai KKM ≥70.

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII-B Plus SMP Muhammadiyah 2 Medan tahun ajaran 2016/2017 yang berjumlah 23 orang. Obyek dalam penelitian ini adalah upaya meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa pada materi himpunan. Pemahaman konsep matematika siswa mengalami peningkatan. Ini dapat dilihat dari nilai rata-rata pemahaman konsep matematika siswa pada tes awal yaitu 50,77 dengan tingkat pemahaman konsep matematika rendah. Setelah pelaksanaan tindakan pada siklus I, nilai rata-rata pemahaman konsep matematika siswa meningkat menjadi 68,78 dengan tingkat pemahaman konsep matematika cukup.

Selanjutnya setelah pelaksanaan tindakan pada siklus II, nilai rata-rata pemahaman konsep matematika siswa meningkat menjadi 78,57 dengan tingkat pemahaman konsep matematika tinggi serta telah mencapai target keberhasilan belajar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (CTL) dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa pada materi himpunan.

Kata Kunci : Pembelajaran Kontekstual (CTL) dan Pemahaman Konsep

(2)

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan, dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap, dimana perubahan ini tidak lepas dari peran guru sebagai pengajar. Dalam proses belajar ini pula keaktifan tiap siswa dalam melakukan ketrampilan, eksplorasi, penemuan-penemuan baru supaya lebih ditingkatkan.

Agar proses belajar berjalan dengan baik hendaknya mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan siswa sehari-hari (Edy Surya).

Matematika merupakan bidang studi yang dipelajari oleh semua siswa dari SD hingga SLTA dan bahkan juga diperguruan tinggi. Salah satu alasan mengapa matematika diajarkan disetiap jenjang pendidikan dikarenakan matematika adalah suatu alat untuk mengembangkan cara berfikir sehingga matematika sangat diperlukan baik untuk kehidupan sehari-hari maupun dalam menghadapi kemajuan IPTEK. Hal ini diperkuat oleh Cocroft dalam (Mulyono Abdurrahman, 2009: 253) mengatakan bahwa matematika perlu diajarkan kepada siswa karena (1) selalu digunakan dalam segala segi kehidupan; (2) semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai; (3) merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat, dan jelas; (4) dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara; (5) meningkatkan kemampuan berfikir logis, ketelitian, dan kesadaran keruangan; dan (6) memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang

Seseorang akan merasa mudah memecahkan masalah dengan bantuan matematika, karena matematika itu sendiri memberikan kebenaran berdasarkan alasan logis dan sistematis. Menurut Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006, salah satu tujuan dari pembelajaran matematika adalah mengembangkan kemampuan pemahaman konsep. Sistem pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah harus memperhatikan agar konsep dapat tertanam dengan baik kepada siswa. Sesuai dengan tujuan kurikulum, pemahaman konsep harus mendapat tempat untuk lebih ditingkatkan di sekolah-sekolah.

Pemahaman konsep terdiri atas dua kata yaitu pemahaman dan konsep. Pemahaman merupakan terjemahan dari comprehension yang berati “mengerti benar”. Seseorang dikatakan paham terhadap suatu hal, apabila orang tersebut mengerti benar dan mampu menjelaskan suatu hal yang telah dipahaminya. Konsep adalah sesuatu yang abstrak menunjukkan kepada sesuatu

(3)

yang konkrit. Abstraksi suatu konsep itu bertingkat-tingkat, ada yang abstraksinya sangat tinggi dan ada yang sangat rendah. Misalnya, “minat”, adalah suatu konsep yang sukar dicarikan hal-hal konkrit sebagai penunjuknya, tetapi “kursi”, “bangku”, adalah konsep yang sangat mudah dihubungkan dengan hal-hal yang konkrit. Konsep-konsep yang dimiliki oleh ilmu pengetahuan mempunyai sifat abstraksi yang sangat tinggi (Syahyum dan Salim, 2016: 33).

Menurut NCTM (1999), daya matematika adalah kemampuan untuk mengeksplorasi, menyusun konjektur, dan memberikan alasan secara logis. Hal ini berhubungan erat dengan kemampuan pemahaman konsep seseorang. Jika kemampuan pemahaman konsep matematika seseorang telah baik, maka daya matematika yang dimilikinya juga akan berkembang dengan baik.

Dalam mempelajari matematika, pemahaman konsep sangat penting untuk siswa karena konsep matematika yang satu dengan yang lain berkaitan sehingga untuk mempelajarinya harus runtut dan berkesinambungan. Jika siswa telah memahami konsep-konsep matematika maka akan memudahkan dalam mempelajari konsep-konsep berikutnya yang lebih kompleks.

Melihat keadaan dan situasi itu, pendidik sebagai pengajar di kelas harus melakukan sebuah tindakan untuk memperbaiki keadaan tersebut. Tindakan penelitian yang dilakukan harus dapat mengubah pandangan siswa bahwa matematika merupakan sesuatu yang menakutkan.

Pandangan tersebut menjadi sangat bermasalah bagi pembelajaran matematika kedepannya dan khususnya pelajaran matematika, sekali menutup diri maka sulit bagi mereka untuk menguasai materi matematika. Karenanya guru dituntut untuk membuat berbagai macam pendekatan pembelajaran yang bervariasi sehingga menjadi lebih menarik bagi siswa sesuai dengan materi pembelajaran matematika. Sebagaimana menurut Utari Sumarno (2010) yang menyatakan bahwa

“belajar diartikan sebagai sesuatu yang dilakukan oleh siswa, dan bukan sesuatu yang dilakukan terhadap siswa”. Lebih lanjut disebutkan Armiati (2009) “menumbuhkembangkan kemampuan yang dimiliki siswa dapat dilakukan dengan cara melibatkan siswa secara aktif”. Dapat disimpulkan belajar adalah suatu proses dan situasi yang dirancang guru sedemikian rupa sehingga membuat proses dan kejadian itu menjadi pengalaman bagi siswa.

Menurut Soejadi (1992) dalam (Mulyono, dkk: 2006) menyarankan untuk memilih suatu strategi yang dapat mengaktifkan siswa dalam belajar, strategi tersebut bertumpu pada dua hal, yaitu optimalisasi interaksi antar semua elemen pembelajaran dan optimalisasi keikutsertaan seluruh indera, emosi, karsa, karya dan nalar.

(4)

Salah satu pendekatan pembelajaran yang menarik sesuai dengan penelitian ini menurut peneliti adalah pendekatan kontekstual dalam pembelajaran, guna meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep, melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka.

Lebih tegas Elaine B. Johnson dalam (Suyadi, 2013: 81) mengatakan, strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning ( CTL) merupakan strategi pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan realitas kehidupan nyata, sehingga mendorong peserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dijelaskan oleh Nuhadi dalam Rusman (2011: 189) pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. Jadi, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada pemberi informasi.

Menurut Sanjaya (2008: 255) dalam (Suhartini, dkk) bahwa Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelaji dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Pembelajaran kontekstual (CTL) merupakan suatu konsep yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. (Yus, R, S dan Surya, E: 2017).

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliknya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yakni: kontruktivisme (Contructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment) (Masnur Muslich, 2007: 43).

(5)

2. Tujuan

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah diuraikan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual (CTL) dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa pada materi himpunan di kelas VII SMP Muhammadiyah 2 Medan dan untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep matematika siswa ketika diterapkan pendekatan pembelajaran kontekstual pada materi himpunan di kelas VII SMP Muhammadiyah 2 Medan.

METODE PENELITIAN

Untuk menjawab permasalahan di atas telah penelitian ini dilaksanakan dengan prosedur yang disusun oleh Arikunto pada penelitian tindakan kelas (PTK) setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu: (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi yang dapat digambarkan sebagai berikut:

Siklus I

Siklus II

Gambar 1. Struktur Penelitian Tindakan Kelas Permasalahan

Permasalahan baru hasil refleksi

Apabila permasalahan belum

terselesaikan

Perencanaan Tindakan I

Refleksi I

Pelaksanaan Tindakan I

Pengamatan/

pengumpulan data

Pelaksanaan Tindakan II

Pengamatan/

pengumpulan data

Perencanaan Tindakan II

Refleksi II

Dilanjutkan ke siklus berikutnya

(6)

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep matematika siswa pada materi himpunan melalui penerapan pendekatan Pembelajaran Kontekstual (CTL) telah mencapai target keberhasilan. Sebelum diberikan tindakan, peneliti terlebih dahulu memberikan tes awal kepada siswa yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Dari hasil tes awal di kelas VII-B Plus diperoleh 50,77 dengan kategori rendah. Setelah diberi tindakan siklus I melalui penerapan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (CTL) rata-rata nilai kelas untuk tes pemahaman konsep I menjadi 68,78 dengan kategori cukup.

Padaa siklus II yang merupakan perbaikan pembelajaran siklus I, dari hasil tes pemahaman konsep siklus II diperoleh rata-rata kelas 78,57 dengan kategori tinggi. Tidak ada lagi siswa dengan kemampuan sangat rendah, namun masih terdapat satu siswa dengan tingkat pemahaman konsepnya rendah. Kelemahan siswa tersebut yaitu tidak konsentrasi dalam pembelajaran, lambat dalam menyerap materi yang diajarkan karena lebih sering bermain di meja sendiri. Tabel berikut ini menunjukkan tingkat kemampuan siswa pada setiap siklus.

Deskripsi Tingkat Pemahaman Konsep Siswa Setiap Siklus

Tabel 1. Deskripsi Tingkat Pemahaman Konsep Siswa Setiap Siklus Persentase

Penguasaan

Tingkat Kemampuan

Tes Awal Siklus I Siklus II

85% – 100% Sangat Tinggi 0 3 9

70% - 85% Tinggi 4 11 10

55% - 70% Cukup 6 4 3

40% - 55% Rendah 7 5 1

0% - 40% Sangat Rendah 6 0 0

∑ 23 23 23

Rata-rata kelas 50,77 68,78 78,57

(7)

Dari hasil pembahasan tersebut, terlihat bahwa adanya peningkatan pemahaman konsep matematika. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Diagram 1.Tingkat Pemahaman Konsep Matematika Siswa

Berdasarkan tes yang diajarkan siswa secara individu, terdapat peningkatan pada masing- masing indikator pemahaman konsep matematika siswa dari siklus I ke siklus II, penghitungan didasarkan atas banyaknya siswa yang Paham (P) untuk setiap butir soal yang menunjukan masing- masing indikator pemahaman konsep matematika. Berikut ini adalah diagram yang menunjukkan persentase peningkatan pemahaman konsep matematika siswa untuk masing-masing indikator pemahaman konsep.

50.77

68.78

78.57

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

Tes Awal Siklus I Siklus II

Tingkat Pemahaman Konsep Matematika Siswa

(8)

Diagram 2. Persentase Pemahaman Konsep Siswa Per Indikator Pemahaman Konsep dengan Kategori Paham (P)

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang dilakukan dan pembahasan yang telah diuraikan maka diperoleh kesimpulan bahwa:

1) Dari hasil observasi pembelajaran siswa, aktivitas belajar siswa ketika diterapkannya pendekatan pembelajaran kontekstual (CTL) yaitu mengalami perubahan kearah yang lebih baik, karena siswa sudah memperhatikan penjelasan guru, berani bertanya, menjawab, mengungkapkan pendapat serta mempresentasekan hasil diskusi kelompok di depan kelas. Sehingga siswa sudah aktif dalam belajar ketika diterapkan pendekatan pembelajaran kontesktual pada materi himpunan.

2) Pemahaman konsep matematika siswa kelas VII-B Plus di SMP Muhammadiyah 2 Medan mengalami peningkatan setelah menggunakan penerapan pendekatan pembelajaran

26.09 17.39 34.78 26.09 34.78 30.43 39.13

47.83 30.43 43.48 39.13 39.13 39.13 43.48

1 2 3 4 5 6 7

Persentase Pencapaian (%)

Indikator Pemahaman Konsep Siklus I Siklus II

(9)

kontekstual (CTL). Hal ini ditandai dengan nilai rata-rata siswa kelas VII-B Plus meningkat dari tes awal sebesar 50,77% ke 68,78% pada siklus I dan 78,57% pada siklus II.

SARAN

Adapun saran yang diajukan berdasarkan hasil penelitian ini, yaitu:

1) Kepada guru, khususnya guru matematika disarankan untuk menerapkan pendekatan pembelajaran kontekstual (CTL) dengan memberi motivasi dan memberi banyak pertanyaan singkat dan jelas yang dapat menuntuk siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan kepada siswa agar pemahaman konsep matematika siswa dapat meningkat.

2) Kepada siswa SMP Muhammadiyah 2 Medan disarankan lebih berani dan aktif saat berlangsung proses p embelajaran, aktif dalam menemukan solusi-solusi permasalahan dan berani untuk mnegungkapkan ide-ide secara terbuka.

3) Kepada peneliti lain disarankan agar hasil penelitian ini dijadikan sebagai pertimbangan untuk menerapkan pendekatan pembelajaran kontekstual (CTL) pada materi lain untuk penelitian selanjutnya dan memperhatikan kelemahan-kelemahan yang ada pada peneliti, sehingga penelitian yang dilakukan semakin baik.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 2009. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta: PT Rineka Cipta.

Auliya Rahman Akmil, dkk. 2012. Implementasi CTL dalam Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika Siswa. Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 1.

Masnur Muslich, (2007), KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, Jakarta:

Bumi Aksara.

Mulyono, dkk. 2006. Meningkatkan Aktivitas Dan Pemahaman Konsep Pembagian Pada Soal Cerita Di Sdn 060857 Medan Berbasis Realistik Berorientasi Pengajuan Soal (Problem Posing)

Suhartini, Dkk. 2016. Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik Dan Kemandirian Belajar Siswa Di Mts Miftahussalam Medan. Paradikma Vol 9 No 3.

Suyadi, ( 2013), Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

(10)

Syahyum dan Salim, (2016), Metodologi Penelitian Kuantitatif. Bandung: Citapustaka Media.

Surya, E. 2013. Peningkatan Representasi Visual Thinking Matematika Siswa Smp N 11 Medan Dengan Melatih Ketrampilan Menggambar Dan Pendekatan Kontekstual.

Yus, R,S dan Surya, E: 2017. Pengaruh Contextual Teaching and Learning (CTL) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMP. ResearchGate.

Gambar

Gambar 1. Struktur Penelitian Tindakan Kelas Permasalahan
Tabel 1. Deskripsi Tingkat Pemahaman Konsep Siswa Setiap Siklus  Persentase
Diagram 2. Persentase Pemahaman Konsep Siswa Per Indikator Pemahaman  Konsep dengan Kategori Paham (P)

Referensi

Dokumen terkait

Riset Pemuliaan Ikan Gurami (Pembentukan Strain Unggul Ikan Gurami Osphronemus gouramy Tumbuh Cepat) - Melanjutkan kegiatan pemanenan telur, pemeliharaan larva, pendederan

4.3 Keterampilan berpikir kritis siswa sebelum dan setelah pembelajaran dengan model

Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada yang terhormat Bapak Dr.. Syahron Lubis, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya

[r]

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “ HUBUNGAN POLA KONSUMSI JENIS MAKANAN YANG MENGANDUNG ZAT BESI PADA IBU MENYUSUI DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA BAYI 0 –

Skill/Sub-skill Procedure Activities

Pemerintah Kota Semarang dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup urusan lingkungan hidup ditujukan pada pemanfaatan sumber daya air dan lahan, pengendalian

Puji syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah mencurahkan berkat dan rahmat-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan laporan skripsi dengan