• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Asal-usul Kelapa Sawit

Berdasarkan bukti-bukti yang ada, kelapa sawit diperkirakan berasal dari Nigeria, Afrika Barat. Namun adapula yang menyatakan bahwa tanaman tersebut berasal dari Amerika, yakni Brazilia. Zeven menyatakan bahwa tanaman kelapa sawit berasal dari daratan tersier, yang merupakan daratan penghubung yang terletak diantara Afrika dan Amerika. Kedua daratan ini kemudian terpisah oleh lautan menjadi benua Afrika dan Amerika sehingga tempat asal komoditas kelapa sawit ini tidak lagi dipermasalahkan orang.

Kelapa sawit (Elaeis Guineesis Jacq), saat ini telah berkembang pesat di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia, dan justru bukan di Afrika Barat atau Amerika yang dianggap sebagai daerah asalnya. Masuknya bibit kelapa sawit ke Indonesia pada tahun 1948 hanya sebanyak 4 batang yang berasal dari Bourbon (Mauritius) dan Amsterdam. Ke-empat batang bibit batang kelapa sawit tersebut ditanam di Kebun Raya Bogor dan selanjutnya disebarkan ke Deli Sumatera Utara. Bapak kelahiran industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah seorang Belgia bernama Adrien Hallet. Pada tahun (1911) membudidayakan kelapa sawit secara

(2)

komersial dalam bentuk perkebunan di Sungai Liput (Aceh) dan Pulu Raja (Asahan) ( Risza, S ., 1994)

2.2. Komoditas Kelapa Sawit

Kelapa sawit (Elaeis Guineesis Jacq) merupakan salah satu tanaman perkebunan Indonesia yang memiliki masa depan cukup cerah. Perkebunan kelapa sawit semula berkembang di daerah Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam. Namun, sekarang telah berkembang ke berbagai daerah, seperti Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Bagian Kelapa sawit yang bernilai ekonomi tinggi adalah buah yang tersusun dalam sebuah tandan, biasa disebut dengan TBS ( tandan buah segar). Buah sawit dibagian sabut (daging buah atau mesocarp) menghasilkan minyak sawit kasar (crude palm oil atau CPO) sebanyak 20 – 24 %. Sementara itu, bagian inti sawit menghasilkan minyak inti sawit (palm kernel oil atau PKO) 3 – 4 % (Sunarko, 2006).

2.3. Varietas Kelapa Sawit

Terdapat 3 jenis Varietas Kelapa Sawit, yaitu :

• Varietas berdasarkan Ketebalan Tempurung dan Daging Buah • Varietas berdasarkan Warna Kulit Buah

• Varietas Unggul

Ada banyak jenis varietas kelapa sawit di Indonesia. Varietas-varietas tersebut dapat dibedakan berdasarkan morfologinya.

(3)

2.3.1. Varietas berdasarkan Ketebalan Tempurung dan Daging Buah

Berdasarkan ketebalan tempurung dan daging buah, beberapa varietas kelapa sawit diantaranya Dura, Pisifera, Tenera, Macro Carya dan Diwikka-wakka.

Tabel 2.1 Varietas Kelapa Sawit berdasarkan Ketebalan Tempurung dan Daging Buah

Varietas Deskripsi

Dura • Tempurung tebal ( 2 – 8 mm)

• Tidak terdapat lingkaran serabut pada bagian luar tempurung • Daging buah relatif tipis, yaitu 35 – 50 % terhadap buah • Kernel (daging Biji) besar dengan kandungan minyak rendah • Dalam persilangan, dipakai sebagai pohon induk betina Pisifera • Ketebalan tempurung sangat tipis, bahkan hampir tidak ada

• Daging buah tebal, lebih tebal dari daging buah Dura • Daging Biji sangat tipis

• Tidak dapat diperbanyak tanpa menyilangkan dengan jenis lain dan dipakai sebagai pohon induk jantan

Tenera • Hasil dari persilangan Dura dan Pisifera • Tempurung tipis ( 0,5 – 4 mm)

• Terdapat lingkaran serabut disekeliling tempurung • Daging buah sangat tebal (60 – 96 % dari buah)

• Tandan buah lebih banyak, tetapi ukurannya relatif kecil Macro

Carya

• Tempurung tebal sekitar (5 mm) • Daging buah sangat tipis

(4)

Perbedaan ketebalan daging buah kelapa sawit menyebabkan perbedaan jumlah rendemen minyak sawit yang dikandungnya . Rendemen minyak paling tinggi terdapat pada varietas Tenera yaitu mencapai 22 – 24 %, sedangkan pada varietas Dura hanya 16 – 18%.

2.3.2 Varietas berdasarkan Warna Kulit Buah

Berdasarkan warna kulit buah, beberapa varietas kelapa sawit diantaranya varietas Nigrescens, Virescens, dan Albescens.

Tabel 2.2. Varietas berdasarkan Warna Kulit Buah

Varietas Warna buah muda Warna buah masak Nigrescens Ungu kehitam-hitaman Jingga kehitam-hitaman

Virescens Hijau Jingga kemerahan, tetapi ujung buah tetap hijau

Abescens Keputih-putihan Kekuning-kuningan dan ujungnya ungu kehitaman

2.3.3. Varietas Unggul

Varietas unggul kelapa sawit dihasilkan melalui prinsip reproduksi sebenarnya dari hibrida terbaik dengan melakukan persilangan antara tetua-tetua yang diketahui mempunyai daya gabung berdasarkan hasil pengujian progeny dengan mengikuti prosedur seleksi Reciprocal Recurrent Selection (RSS). Tetua yang digunakan dalam proses persilangan adalah Dura dan Pisifera. Varietas Dura sebagai induk betina dan

(5)

Pisifera sebagai induk jantan. Hasil persilangan tersebut telah terbukti memiliki kualitas dan kuantitas yang lebih baik dibandingkan dengan varietas lain ( Fauzi, Y ., 2008)

2.4. Kriteria Kematangan Tandan Buah Segar

Komposisi fraksi tandan yang biasanya ditentukan di pabrik sangat dipengaruhi perlakuan sejak awal panen di lapangan. Faktor penting yang cukup berpengaruh adalah kematangan buah yang dipanen dan cepat tidaknya pengangkutan buah ke pabrik.

Penentuan saat panen sangat mempengaruhi kandungan asam lemak bebas (ALB) minyak sawit yang dihasilkan. Apabila pemanenan buah dilakukan dalam keadaan lewat matang, maka minyak yang dihasilkan mengandung ALB dalam persentase tinggi (lebih dari 5 %). Sebaliknya, jika pemanenan dilakukan dalam keadaaan buah belum matang, maka selain kadar ALB-nya rendah, rendemen minyak yang diperolehnya juga rendah. Berdasarkan hal tersebut, dikenal ada beberapa tingkatan TBS yang dipenen. Fraksi-fraksi TBS tersebut sangat mempengaruhi mutu panen, juga termasuk kualitas minyak sawit yang dihasilkan.

(6)

Tabel 2.3 Beberapa Tingkatan Fraksi TBS

No Kematangan Fraksi Jumlah Berondolan Keterangan 1. 2. 3. Mentah Matang Lewat matang 00 0 1 2 3 4 5

Tidak ada, buah bewarna hitam 1-12,5 % buah luar membrondol 12,5 – 25 % buah luar membrondol 25 – 50 % buah luar membrondol 50 – 75 % buah luar membrondol 75 – 100 % buah luar membrondol

Buah dalam juga membrondol, ada buah yang busuk Sangat mentah Mentah Kurang matang Matang I Matang II Lewat matang I Lewat matang II

Derajat kematangan yang baik yaitu jika tandan-tandan yang dipanen berada pada fraksi 1, 2, dan 3. ( Tim Penulis PS, 1992)

2.5. Pengolahan Kelapa Sawit

Pengolahan TBS di pabrik bertujuan untuk memperoleh minyak sawit yang berkualita. Proses tersebut berlangsung cukup panjang dan memerlukan control yang

(7)

cermat, dimulai dari pengangkutan TBS atau brondolan dari tempat pengumpulan hasil (TPH) ke pabrik sampai dihasilkan minyak sawit dan hasil sampingnya. Pada dasarnya ada dua macam hasil olahan utama TBS di pabrik, yaitu minyak sawit yang merupakan hasil pengolahan daging buah dan minyak inti sawit yang dihasilkan dari biji.

2.5.1. Pengangkutan TBS ke Pabrik

TBS harus segera diangkut ke pabrik untuk diolah, yaitu maksimal 8 jam setelah panen harus segera diolah. Buah yang tidak segera diolah akan mengalami kerusakan. Pemilihan alat angkut yang tepat dapat membantu mengatasi kerusakan buah selama pengangkutan. Alat angkut yang dapat digunakan dari kebun ke pabrik, diantaranya lori, traktor gandengan, atau truk. Pengangkutan dengan lori dianggap lebih baik dibanding dengan alat angkutan lain. Guncangan selama lebih banyak terjadi jika menggunakan truk atau traktor gandengan sehingga pelukaan pada buah lebih banyak ( Fauzi, Y ., 2008)

2.5.2. Jembatan Timbang

Penimbangan dilakukan dua kalli untuk setiap angkutan TBS yang masuk ke pabrik, yaitu pada saat masuk (berat truk dan TBS) serta pada saat keluar (berat truk). Dari selisih timbangan saat truk masuk dan keluar, diperoleh berat bersih TBS yang masuk ke pabrik.Umumnya, jembatan timbang yang digunakan PKS berkapasitas 30-40 ton. Jembatan timbang tersebut dioperasikan secara mekanis maupun elektronis.

(8)

2.5.3. Loading Ramp

TBS yang telah ditimbang dijembatan timbang selanjutnya dibongkar di loading ramp dengan menuang (dump) langsung dari truk. Loading ramp merupakan suatu bangunan dengan lantai berupa kisi-kisi pelat besi berjarak 10 cm dengan kemiringan 45oC. Kisi-kisi tersebut berfungsi untuk memisahkan kotoran berupa pasir, kerikil dan sampah yang terikut dalam TBS. Loading ramp dilengkapi pintu-pintu keluaran yang digerakkan secara hidrolisis sehingga memudahkan dalam pengisian TBS kedalam lori untuk proses selanjutnya. Setiap lori dimuat dengan 2,5 – 2,75 ton TBS (lori kecil) dan 4,5 ton TBS (lori besar) (Pahan, I.,2008).

2.5.4 Perebusan TBS

Buah beserta lorinya kemudian direbus dalam suatu tempat perebusan (sterilizer) atau dalam ketel rebus. Perebusan dilakukan dengan mengalirkan uap panas selama 1 jam atau tergantung dengan besarnya tekanan uap.. Perebusan yang terlalu lama dapat menurunkan kadar minyak dan pemucatan kernel. Sebaliknya, perebusan dalam waktu yang terlalu pendek menyebabkan semakin banyak buah yang tidak rontok dari tandannya (Tim Penulis PS, 1993).

2.5.4.1. Tujuan Perebusan

1. Menghentikan aktifitas enzim

Dalam buah yang dipanen terdapat enzim lipase dan oksidase yang tetap bekerja dalam buah sebelum enzim itu dihentikan dengan pelaksanaan tertentu.

(9)

Enzim lipase bertindak sebagai katalisator dalam pembentukan trigliserida dan kemudian memecahkannya kembali menjadi asam lemak bebas (ALB) dengan reaksi

R1 – COO – CH2 R1 – COOH H2C - OH

R2 – COO – CH + 3H2O H+ R2 – COOH + H2C - OH

R3 – COO – CH2 R3 – COOH H2C – OH

Minyak Air Asam Lemak Gliserol

Reaksi ini akan dipercepat dengan adanya faktor-faktor panas, air, keasaman, dan katalis (Enzim). Enzim oksidase berperan dalam proses pembentukan peroksida yang kemudian dioksidasi lagi dan pecah gugusan aldehide dan kation.

Aktifitas enzim semakin tinggi apabila buah mengalami kememaran (luka). Untuk mengurangi aktifitas enzim sampai di PKS diusahakan agar kememaran buah dalam persentase yang relatif kecil . Enzim pada umumnya tidak aktif lagi pada suhu 50oC. Oleh sebab itu perebusan pada suhu 120oC akan menghentikan kegiatan enzim.

2. Menurunkan kadar air

Sterilisasi buah dapat menyebabkan penurunan kadar air buah dan inti, yaitu dengan cara penguapan baik pada saat perebusan maupun saat sebelum pemipilan. Penurunan kandungan air buah menyebabkan penyusutan buah sehingga terbentuk rongga-rongga kosong pada perikarp yang mempermudah proses pengempaan. Perikarp yang mendapat perlakuan panas dan tekanan akan menunjukkan sifat serat mudah lepas antara serat yang satu dengan yang lainnya. Hal ini akan meningkatkan efisiensi digester dan depericarper/polishing drum. Air yang

(10)

terkandung dalam inti akan menguap melalui mata biji sehingga kernel susut dan proses pemecahan biji akan mudah.

3. Melepaskan serat dan biji

Perebusan buah yang tidak sempurna dapat menimbulkan kesulitan pelepasan serat dari biji dalam polishing drum, yang menyebabkan pemecahan biji lebih sulit dalam alat pemecah biji. Penetrasi uap yang cukup baik akan membantu proses pemisahan serat perikarp dan biji yang dipercepat oleh proses hidrolisis. Apabila serat tidak lepas, maka lignin yang terdapat diantara serat akan menahan minyak.

4. Membantu proses pelepasan inti dari cangkang

Perebusan yang sempurna akan menurunkan kadar air biji hingga 15 %. Kadar air biji yang turun hingga 15 % akan menyebabkan inti susut sedangkan tempurung biji tetap, maka terjadi inti yang lekang dari cangkang. Hal ini akan membantu didalam Nut Silo, sehingga pemecahan biji dapat berlangsung dengan baik, demikian juga dalam pemisahan inti dan cangkang dalam proses pemisahan kering atau basa dapat menghasilkan inti yang mengandung kotoran lebih kecil (Naibaho, P.M., 1996)

5. Menguraikan zat-zat lendir dari daging buah

Jika tidak diuraikan, zat lendir akan menghambat pemisahan minyak dan air dalam proses klarifikasi. Pada pemanasan dengan uap bertekanan 1 atm, zat lendir akan terurai seluruhnya setelah proses berlangsung selama 6 jam. Namun, pada pemanasan dengan tekanan 2 atm, penguraian zat lendir tersebut akan berjalan lebih cepat, sekitar 90 menit ( Sastrosayono, S.,2003)

(11)

2.5.4.2. Metode Perebusan dan Kebutuhan Uap

Semakin tinggi tekanan perebusan akan semakin cepat pula waktu perebusan. Tekanan yang tinggi dengan sendirinya memberikan temperatur yang tinggi. Temperatur yang terlalu tinggi dapat merusak kualitas minyak dan inti sawit. Pada minyak sawit harus juga diperhatikan tingkat pemucatannya. Oleh karena itu inti sawit yang diperoleh harus bewarna putih.

Perebusan yang dilakukan dengan tekanan uap 2,8 kg/cm2 dan waktu antara 80 – 90 menit merupakan yang paling optimal karena menghasilkan minyak dan inti yang memuaskan. Selain itu, pada proses perebusan juga perlu dilakukan pengurasan udara agar udara bisa keluar dan digantikan oleh uap air sebagai media perebusan. (Pahan, I.,2008).

2.5.4.3. Sistem Perebusan 2.5.4.3.1.Sterilizer

Alat sterilisasi dengan tipe horizontal, yang beberapa memiliki keuntungan • Kapasitas sterilizer antara 15-30 ton TBS

• Pengoperasian lebih mudah dan praktis

• Pengisian uap masuk dan pembuangan uap keluar serta pembuangan air kondensat lebih mudah dilakukan

2.5.4.3.2. Lori

Alat lori adalah tempat buah direbus, yang dapat menampung buah 2,5 ; 3,5 atau 5 ton. Lori tempat buah dibuat berlubang dengan diameter 0,5 inch yang berfungsi untuk mempertinggi penetrasi uap pada buah dan penetesan air kondensat

(12)

yang terdapat diantara buah. Ukuran lubang yang semakin besar menunjukkan proses sterilisasi buah yang lebih baik, akan tetapi daya tahan alat kurang

2.5.4.3.3. Crossing Rail (Rel Penyeberangan)

Alat ini berfungsi untuk membantu dan mempercepat pemasukan dan pengeluaran lori dari sterilizer. Semakin kecil radius crossing rail, maka frekuensi lori anjlok semakin tinggi. Kondisi crossing rail merupakan faktor pembatas dalam penetapan kapasitas oleh pabrik. Gangguan yang terjadi di crossing rail akan menghambat pemasukan dan pengeluaran buah dari sterilizer.

2.5.4.3.4. Mekanisme perebusan buah

Sistem perebusan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan boiler memproduksi uap, dengan sasaran bahwa tujuan perebusan dapat tercapai. Sistem perebusan yang lazim dikenal di PKS adalah single peak, double peak dan triple peak. Sistem perebusan triple peak (SPTP) banyak digunakan, selain berfungsi sebagai tindakan fisika juga dapat terjadi proses mekanik yaitu adanya goncangan yang disebabkan oleh perubahan tekanan yang cepat. Keberhasilan SPTP dipengaruhi oleh tekanan uap yang tersedia, kapasitas ketel perebusan, bahan baku dan lama perebusan. (Naibaho, P.M., 1996)

2.5.4.4. Bahaya Oksigen dalam Perebusan

Ketika ketel rebusan dalam keadaan pintu terbuka, baik ketel dalam keadaan kosong ataupun pada saat pemasukan/pengeluaran buah rebusan yang sudah matang,

(13)

udara bebas masuk kedalam ketel rebusan. Udara bebas ini 20% mengandung oksigen dan gas-gas lain. Bahaya gas oksigen dalam perebusan disebabkan gas oksigen ini akan bereaksi minyak yang ada dalam buah rebusan ketika dilakukan pemanasan (reaksi peroksida) (Karim, A., 2001).

2.5.5 Pemipilan Buah

TBS berikut lori yang telah direbus dikirim kebagian pemipilan dan dituangkan ke alat pemipil (theresher) dengan bantuan hoisting crane (derek pengangkut). Proses pemipilan terjadi akibat tromol berputar pada sumbu mendatar yang membawa TBS ikut berputar sehingga membanting-banting TBS tersebut dapat menyebabkan brondolan lepas dari tandannya. Pada bagian dalam dari pemipil, dipasang batang-batang besi perantara sehingga membentuk kisi-kisi yang memungkinkan brondolan keluar dari pemipil. Brondolan yang keluar dari bagian bawah pemipil dan ditampung oleh sebuah screw conveyor untuk dikirim kebagian digesting dan pressing. Sementara, tandan (janjang) kosong yang keluar dari bagian belakang pemipil ditampung oleh elevator, kemudian hasilnya dikirim ke hopper.

2.5.5.1. Alat Pemipil

Alat pemipil yang digunakan berupa tromol pemipil dengan dinding berbentuk silinder berdiamater sekitar 2 m dan panjang 4-5 m dengan kapasitas per unitnya 25-35 ton TBS per jam. Semakin besar diameter drum maka peluang untuk buah terbanting dengan ketinggian yang lebih jauh menyebabkan gaya jatuh yang lebih besar dan buah akan lebih mudah terpipil.

(14)

2.5.5.2. Kerugian-kerugian dalam pemipil

Kerugian yang terjadi pada proses pemipilan ada dua macam, yaitu kerugian minyak yang terserap oleh tandan kosong dan kerugian minyak dalam buah yang masih tertinggal di tandan. Tingkat kematangan buah dan metode perebusan buah sangat menentukan dalam keberhasilan proses pengolahan buah kelapa sawit. Semakin tinggi tingkat kematangan dan semakin lama waktu perebusan, semakin besar pula kemungkinan bahwa minyak akan meleleh keluar dari daging buah selama perebusan karena daging buah menjadi sangat lunak. Pada proses pemipilan, minyak tersebut terserap oleh tandan. Untuk mengurangi kehilangan minyak selama pemipilan, dapat dilakukan dengan cara melakukan pengisian buah ke pemipil secara teratur dan tidak overload.

2.5.6. Penghalusan Buah

Dari thresher, buah-buah yang telah rontok dibawa ke mesin pelumat (digester). Untuk mempersiapkan daging buah untuk pengempaan sehingga minyak dengan mudah dapat dipisahkan dari daging buah dengan kerugian yang sekecil-kecilnya (Pahan, I.,2008).

2.5.7. Ekstraksi Minyak Sawit

Untuk memisahkan biji sawit dari hasil pelumatan TBS, maka diperlukan pengadukan selama 25-30 menit. Selama lumatan buah bersih dari biji sawit, langkah selanjutnya adalah pemerasan atau ekstraksi yang bertujuan untuk mengambil minyak

(15)

dari masa adukan. Ada beberapa cara dan alat yang digunakan dalam proses ekstraksi minyak, yaitu

1. Ekstraksi dengan sentrifugasi

Alat yang dipakai berupa tabung baja silindris yang berlubang-lubang pada bagian dindingnya. Buah yang telah lumat, dimasukkan kedalam tabung, lalu diputar. Dengan adanya gaya sentrifugasi, maka minyak akan keluar melalui lubang-lubang pada dinding tabung.

2. Ekstraksi dengan screw press

Prinsip ekstraksi minyak dengan cara ini adalah menekan bahan lumatan dalam tabung yang berlubang dengan alat ulir yang berputar sehinga minyak akan keluar lewat lubang-lubang tabung. Besarnya tekanan alat ini dapat diatur secara elektris, dan tergantung dari volume bahan yang akan dipress. Cara ini mempunyai kelemahan yaitu pada tekanan yang terlampau kuat akan menyebabkan banyak biji yang pecah.

3. Ekstraksi dengan bahan pelarut

Cara ini lebih sering dipakai dalam ekstraksi minyak biji-bijian, termasuk minyak inti sawit. Sedangkan ekstraksi minyak sawit dari daging buah, belum umum digunakan dengan cara ini karena kurang efisien. Pada dasarnya, ekstraksi dengan cara ini adalah dengan menambah pelarut tertentu pada lumatan daging buah sehingga minyak akan terpisah dari partikel lain.

4. Ekstraksi dengan tekanan hidrolis

Dalam sebuah peti pemeras, bahan ditekan secara otomatis dengan tekanan hidrolis.

(16)

2.5.8. Pemurnian dan Penjernihan Minyak Sawit

Minyak sawit yang keluar dari tempat pemerasan atau pengepresan masih berupa minyak sawit kasar karena masih mengandung kotoran berupa partikel-partikel dari tempurung dan serabut 40-45 % air. Minyak sawit yang masih kasar kemudian dialirkan kedalam tangki minyak kasar (crude oil tank) dan setelah melalui pemurnian atau klarifikasi bertahap maka akan menghasilkan minyak sawit mentah (crude palm oil). Proses penjernihan dilakukan untuk menurunkan kandungan air didalam minyak. Minyak sawit ini dapat ditampung dalam tangki-tangki penampungan dan siap dipasarkan atau mengalami pengolahan lebih lanjut sampai dihasilkan minyak sawit murni (proses palm oil, PPO).

2.5.9. Pengeringan dan pemecahan biji

Biji sawit yang telah dipecah pada proses pengadukan, diolah lebih lanjut untuk diambil minyaknya. Sebelum dipecah, biji-biji sawit dikeringkan dalam silo, minimal 14 jam dengan sirkulasi udara kering pada suhu 50oC. Akibat proses pengeringan ini, inti sawit akan mengerut sehingga memudahkan pemisahan inti sawit dari tempurungnya. Biji-biji sawit yang sudah kering kemudian dibawa ke alat pemecah biji.

2.5.10. Pemisahan Inti Sawit (Kernel) dan Tempurung

Pemisahan inti sawit dan tempurung berdasarkan perbedaan berat jenis (BJ) antara inti sawit dan tempurung. Alat yang digunakan disebut hydrocyclone separator.

(17)

Dalam hal ini, inti sawit dan tempurung dipisahkan oleh aliran air yang berputar dalam sebuah tabung. Atau dapat juga dengan mengapungkan biji-biji yang telah pecah dalam larutan lempung yang mempunyai BJ 1,16. Dalam keadaan ini inti sawit akan terpisah dengan tempurungnya, inti sawit mengapung sedangkan tempurung tenggelam. Proses selanjutnya adalah pencucian inti sawit dan tempurung sampai bersih. Untuk menghindari kerusakan akibat mikroorganisme, maka inti sawit harus segera dikeringkan dengan suhu 80oC.(Tim Penulis PS, 1993).

2.5.11. Penimbunan

Minyak dan inti sawit hasil pemurnian tidak selamanya dapat langsung dikirim untuk dipasarkan. Untuk sementara waktu masih perlu ditimbun didalam pabrik. Biasanya ruang timbun yang diperlukan cukup untuk produksi satu bulan saja.

2.5.11.1. Penimbunan minyak sawit

Sebagian cairan minyak sawit harus disimpan dalam tangki-tangki timbun yang berukuran antara 500-3000 ton. Selama penimbunan ini dapat terjadi kerusakan mutu, baik peningkatan kadar ALB maupun peningkatan oksidasi.

Persyaratan penimbunan yang baik adalah:

1. Kebersihan tangki dijaga, khususnya terhadap kotoran dan air

2. Membersihkan tangki dan memeriksa pipa-pipa uap pemanas, tutup tangki, alat-alat pengukur dan lain-lain setiap ada kesempatan

(18)

2.5.11.2. Penimbunan Inti sawit

Persyaratan penimbunan yang baik adalah:

1. Kadar air inti 7% (kadar air setimbang dengan kelembapan udara luar) 2. Memakai goni berisi dan kuat ( menghindarkan kutu pada goni bekas beras) 3. Ventilasi gudang harus baik dan udara kering

4. Tinggi lapisan goni berisi inti tidak lebih dari 4 lapis

5. Penimbunan tidak langsung di atas lantai semen ( memakai lantai papan yang berkolong) (Mangoensoekarjo, S., 2003).

2.6. Standar Mutu minyak sawit

Berbagai industri, baik pangan maupun nonpangan, banyak menggunakannya sebagai bahan baku. Istilah mutu sebenarnya dapat dibedakan menjadi dua arti. Yang pertama adalah mutu minyak sawit dalam arti benar-benar murni dan tidak bercampur dengan minyak nabati lain. Dapat ditentukan dengan menilai sifat-sifat fisiknya, antara lain titik lebur, angka penyabunan, dan bilangan yodium. Sedangkan yang kedua, yaitu mutu minyak sawit dilihat menurut ukuran. Dalam hal ini syarat mutunya diukur berdasarkan spesifikasinya standar mutu internasional, yang meliputi kadar asam lemak bebas (ALB,FFA), air, kotoran, logam, besi, logam tembaga, peroksida dan ukuran pemucatan.

(19)

Tabel 2.4. Standar Mutu Minyak Sawit, Minyak Inti Sawit dan Inti Sawit Karakteristik Minyak Sawit Inti Sawit Minyak Inti Sawit Ket

Asam lemak bebas 5% 3,50% 3,50% maksimal

Kadar kotoran 0,50% 0,02% 0,02% maksimal

Kadar zat menguap 0,50% 7,50% 0,20% maksimal

Bilangan peroksida 6 meq - 2,20% maksimal

Bilangan Iodine 44-58 mg/g - 10,5-18,5 mg/g -

Kadar logam (Fe,Cu) 10 ppm - - -

vibond 3-4 Rq - - -

Kadar minyak - 47% - minimal

Kontaminasi - 47% - maksimal

Kadar pecah - 15% - maksimal

Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, 1989

2.7. Susunan Minyak Kelapa Sawit

Minyak sawit merupakan kombinasi dari dua komponen yang sangat berguna, yaitu lemak atau minyak dan vitamin. Minyak kelapa sawit terdiri dari lemak, atau minyak yang dapat disabunkan, dan bagian lain yang tidak dapat disabunkan, yang jumlahnya tidak melebihi dari 2%nya. Lemak atau minyak terdiri dari gliserin yang terikat pada asam-asam lemak. (Van Heurn, F.C., 1985).

(20)

2.8. Komposisi Kimia Minyak Kelapa Sawit

Kelapa sawit mengandung kurang lebih 80% perikarp dan 20% buah yang dilapisi kulit yang tipis. Kadar minyak dalam perikarp sekitar 34-40%. Minyak kelapa sawit adalah semi padat yang mempunyai komposisi yang tetap.

Tabel 2.5. Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit dan Minyak Inti Kelapa Sawit

Asam lemak Minyak kelapa sawit (%) Minyak inti sawit (%)

Asam kaprilat - 3,0-4,0 Asam kaproat - 3,0-7,0 Asam Laurat - 46-52 Asam miristat 1,1-2,5 14-17 Asam palmitat 40-46 6,5-9 Asam stearat 3,6-4,7 1-2,5 Asam oleat 39-45 13-19 Asam linoleat 7,0-11 0,5-2 Sumber : Eckey, S.W., (1955)

2.9. Sifat Fisika-Kimia Minyak Kelapa Sawit

Sifat fisika-kimia minyak kelapa sawit meliputi warna, bau dan flavour, kelarutan, titik cair, titik didih (boilting point), titik pelunakkan, slipping point, shot melting point, bobot jenis, indeks bias, titik kekeruhan (turbidity point), titik asap, titik nyala dan titik api.

Warna minyak ditentukan oleh adanya pigmen yang masih tersisa setelah proses pemucatan, karena asam-asam lemak dan gliserida tidak bewarna. Warna orange atau kuning disebabkan adanya pigmen karotene yang larut dalam minyak.

(21)

Bau dan flavor dalam minyak terdapat secara alami, juga terdapat akibat adanya asam-asam lemak berantai pendek akibat kerusakan minyak. Titik cair minyak sawit berada dalam kisaran suhu, karena minyak kelapa sawit mengandung beberapa asam lemak yang mempunyai titik cair yang berbeda-beda (Ketaren, S., 1986).

Gambar

Tabel 2.1 Varietas Kelapa Sawit berdasarkan Ketebalan Tempurung dan Daging  Buah
Tabel 2.2. Varietas berdasarkan Warna Kulit Buah
Tabel 2.3 Beberapa Tingkatan Fraksi TBS
Tabel 2.4. Standar Mutu Minyak Sawit, Minyak Inti Sawit dan Inti Sawit  Karakteristik  Minyak  Sawit  Inti Sawit  Minyak Inti Sawit  Ket
+2

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam

Adapun judul dari Laporan Akhir ini adalah "Pengaruh Faktor Eksternal Terhadap Pengambilan Kepuf.rsan Nasabah Dalam Menggunakan Produk KCA (Kredit Cepat Aman)

Berkenaan dengan hadits yang penulis paparkan diatas, penulis menemukan sebuah karya fiksi berbentuk cerpen karya Taufik al-Hakim dengan judul Ariniyallāh. Cerita

Kanker Serviks adalah pertumbuhan sel-sel mulut rahim/serviks yang abnormal dimana sel-sel ini mengalami perubahan kearah displasia atau mengarah keganasan. Kanker ini hanya

Artikel ini menyajikan informasi mengenai pengaruh yang ditimbulkan dengan adanya pembangunan jalan terowongan di Jalan Raya Pasar Minggu terhadap tingkat pendapatan

Dengan bantuan Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (PBBM) ini, seluruh anggota masyarakat bisa bekerja sama untuk membuat perencanaan yang tepat

memerintahkan kepada Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan, Badan Usaha Angkutan Udara yang pesawat udaranya menjadi objek tindakan melawan hukum dan bandar udara