Pengalaman Ibu Hamil dengan Kondisi HIV/AIDS di Kota Medan
SKRIPSI
oleh
Hayatun Nupus Simahate 121101121
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2016
PRAKATA
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pengalaman Ibu Hamil dengan Kondisi HIV/AIDS di Kota Medan”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat bagi penulis untuk menyelesaikan pendidikan dan mencapai gelar sarjana di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan.
Skripsi ini tidak akan terlaksana penulisannya tanpa ada dukungan, do’a, semangat dan motivasi oleh kedua orangtua tercinta Ayahanda Ir. Syukri G. dan Ibunda Isnaini, Amd yang telah merawat, mendidik dan memberikan dukungan penuh baik secara material dan non material. Penulis juga telah banyak menerima bimbingan, saran, motivasi dan do’a dari berbagai pihak selama penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingan, yaitu kepada:
1. Bapak Setiawan,S.Kp, MNS, Ph. D, selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Sri Eka Wahyuni, S.Kep, Ns, M.Kep selaku pembantu Dekan I Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Cholina Trisna Siregar, S.Kep, Ns, M.Kep, Sp.KMB selaku pembantu Dekan II Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Dr. Siti Saidah Nasution, S.Kp, M.Kep, Sp.Mat selaku pembantu Dekan III
Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
5. Ibu Dr. Siti Saidah Nasution, S.Kp, M.Kep, Sp.Mat selaku dosen pembimbing yang sudah meluangkan waktu untuk membimbing penulis dalam penulisan skripsi ini dan memberikan masukan serta arahan yang sangat inspiratif sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan tepat waktu.
6. Ibu Lufthiani, S.Kep, Ns, M.Kes selaku dosen penguji I dan Ibu Erniyati, S.Kp, MNS selaku dosen penguji II yang memberikan saran dan masukan kepada penulis.
7. Dr. Yulia Maryani, M.Kes dan ibu Esty Budi Rahayu, S.Kp, M.Kep, Sp.Mat yang telah memvalidkan lembar panduan wawancara dalam penelitian penulis.
8. Semua partisipan yang telah bersedia dan berpartisipasi dalam penelitian penulis.
9. Buat adik tersayang Rizk Al Fauzi, Intan Naqia dan Nashera Linti Khabaty yang telah memberikan do’a, dukungan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
10. Buat sahabat sekaligus pendamping penulis Andri Anto yang selalu menjadi tempat tukar pikran, berbagi keluh kesah dan selalu memberikan motivasi semangat sekaligus saran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
11. Akhirnya tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada teman-teman seperjuangan angkatan 2012 S1 Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara, terkhusus untuk sahabat penulis Diana, Dewi, Nisa, Mahirah dan Resi yang banyak membantu dan memberikan motivasi untuk menyelesaikan skripsi ini, sahabat dan keluarga besar di Takengon Aceh Tengah yang selalu memberikan dukungan serta teman satu dosen pembimbing Rahmadani, Ayu dan Dinda yang juga memberikan
semangat dan semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis mengharapkan adanya masukan dan saran untuk perbaikan di masa yang akan datang. Penulis berharap agar skripsi ini bermanfaat bagi peningkatan dan pengembangan ilmu dan praktik keperawatan. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih.
Medan, Juli 2016 Penulis,
121101121
(HayatunNupusSimahate)
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... .i
Halaman Persetujuan ... .ii
Halaman Orisnilitas ... .iii
Prakata ... .iii
Daftar Isi... . v
Daftar Tabel ... . vii
Daftar Lampiran ... . viii
Abstrak ... . ix
Abstract ... x
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1. 4 Manfaat Penelitian ... 5
1.4.1 Pendidikan Keperawatan ... 5
1.4.2 Penelitian Keperawatan ... 5
1.4.3 Pelayanan Keperawatan ... 5
1.4.4 Partisipan………5
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 6
2.1 Konsep Dasar Kehamilan ... 6
2.1.1 Definisi Kehamilan ... 6
2.1.2 Adaptasi Fisiologis Selama Kehamilan... 6
2.1.3 Psikologis Dan Kognitif Wanita Hamil ... 7
2.1.4 Melahirkan ... 9
2.1.4.1persalinan Dan Kelahiran Normal ... 9
2.2 Konsep Dasar Hiv/Aids ... 11
2.2.1 Defenisi Hiv/Aids ... 11
2.2.2 Patofisiologi Hiv/Aids Pada Ibu Hamil ... 12
2.2.3 Cara Penularan Hiv/Aids Pada Ibu Hamil... 12
2. 2.4 Dampak Hiv Terhadap Kehamilan Dan Dampak Kehamilan Terhadap Hiv ... 13
2.2.5 Diagnosis Hiv/Aids ... 14
2.2.6 Prevent Mother To Child Transmission (Pmtct) Pada Ibu Hamil Hiv/Aids. ... 16
BAB 3. METODE PENELITIAN ... 19
3.1 Desain Penelitian ... 19
3.2 Partisipan ... 19
3.3 Tempat Dan Waktu Penelitian ... 21
3.3.1 Tempat Penelitian... 21
3.4 Pertimbangan Etik ... 21
3.5 Instrumen Penelitian ... 23
3.6 Pengumpulan Data ... 23
3.7 Analisa Data ... 25
3.8 Tingkat Kepercayaan Data ... 27
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 29
4.1 Hasil Penelitian ... 29
4.1.1 Karakteristik Partisipan ... 29
4.1.2 Hasil Wawancara ... 32
4.2 Pembahasan ... 43
4.2.1 Interpretasi Dan Diskusi Hasil ... 43
4.3 Keterbatasan Peneliti ... 50
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 51
5.1 Kesimpulan ... 51
5.2 Saran ... 51
5.2.1 Bagi Partisipan………..51
5.2.2 Bagi Pendidikan Keperawatan ... 52
5.2.3 Bagi Pelayanan Keperawatan ... 52
5.2.4 Bagi Peneliti Selanjutnya ... 52 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1.1 Karakteristik Partisipan...31 Tabel 4.1.2 Matriks Tema………..…42
DAFTAR LAMPIRAN 1. Informed Consent
2. Lembar Persetujuan Menjadi Partisipan 3. Kuisioner Penelitian
4. Panduan Wawancara
5. Catatan Lapangan (Field Note) 6. Jadwal Tentative Penelitian 7. Anggaran Dana
8. Lembar ValiditasSuratEthical Cleareance 9. Surat Izin Penelitian
10. Lembar Bukti Bimbingan 11. Riwayat Hidup
12. Matriks Analisa Data
Judul : Pengalaman Ibu Hamil dengan Kondisi HIV/AIDS di Kota Medan
Nama Mahasiswa : Hayatun Nupus Simahate
NIM : 121101121
Jurusan : Sarjana Keperawatan (S.Kep)
Tahun : 2016
ABSTRAK
Kehamilan merupakan proses yang alamiah dan fisiologis yang normal dialami pada setiap wanita, namun kehamilan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan ibu dan janin. Menurunnya kondisi wanita hamil cenderung memperberat kondisi klinis wanita dengan penyakit infeksi antara lain infeksi HIV/AIDS. Kehamilan dengan infeksi HIV sangat berbahaya bagi ibu dan janin yang dikandungnya, karna HIV dapat menular melalui kontak darah. Janin dapat tertular oleh virus yang ada dalam tubuh ibunya mulai dari masa kehamilan, persalinan maupun selama periode post partum pada saat ibu menyusui melalui ASI. Desain penelitian yang digunakan adalah studi fenomenologi yang bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS di Kota Medan.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah partisipan sebanyak sepuluh orang. Kriteria partisipan adalah ibu usia 26- 37 tahun yang sedang hamil dan mempunyai pengalaman berupa perubahan fisik, psiologis, hambatan yang di alami dan upaya yang dilakukan oleh ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS. Penelitian dilaksanakan di rumah partisipan.
Penelitian ini dimulai dari 16 Februari 2016 sampai 16 Juni 2016. Analisa data menggunakan metode Colaizzi. Penelitian ini menemukan empat tema pengalaman ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS, sesuai pernyataan partisipan, yaitu: mengalami perubahan fisik dan psikologisibu, merahasiakan status sebagai penderita HIV/AIDS, mendapat dukungan dari pasangan dan melakukan persiapan dan perawatan ibu dan janin. Diharapkan agar pelayanan keperawatan memberikan asuhan keperawatan secara holistic pada ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS.
Kata Kunci : pengalaman, ibu hamil, HIV/AIDS
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehamilan merupakan proses yang alamiah dan fisiologis yang normal dialami pada setiap wanita, namun kehamilan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan ibu dan janin. Menurunnya kondisi wanita hamil cenderung memperberat kondisi klinis wanita dengan penyakit infeksi antara lain infeksi HIV/AIDS. HIV(Human Immuno Defisiensi Virus) adalah virus golongan Rubonucleat Acid (RNA) yang spesifik menyerang sistem kekebalan tubuh/
imunitas manusia dan menyebabkan Aqciure Immunodeficiency Syndrome (AIDS).HIV positif adalah orang yang telah terinfeksi virus HIV dan tubuh telah membentuk antibodi (zat anti) terhadap virus.
Jumlah keseluruhan penderita HIV/AIDS di dunia pada tahun 2010 diperkirakan 34 juta orang hidup dengan HIV dan 17 juta diantaranya adalah perempuan serta 1,8 juta orang meninggal akibat AIDS. Selama tahun 2008 terdapat 1,4 juta perempuan dengan HIV positif melahirkan di negara berkembang dan terjadi 430.000 bayi terinfeksi HIV (UNAIDS, 2010).
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang juga mengalami peningkatan jumlah penderita HIV dari tahun ke tahun dengan jumlah kumulatif dari tahun 2002-2011 ada 26.483 orang dan meninggal akibat HIV/AIDS sebanyak 5.056 orang. Sebagian besar ditemukan pada kelompok heteroseksual 50,3%, kelompok homoseksual 3,3%, perinatal 2,8%, dan terinfeksi HIV yang
ditularkan melalui transfusi darah sekitar 0,1% (Dirjend PP & PL Kemenkes RI, 2011).
Jumlah kasus ibu hamil dan melahirkan dengan HIV/AIDS di Sumatera Utara juga cenderung meningkat setiap tahunnya.Penderita HIV/AIDS di Sumatera Utara paling banyak di Kota Medan. Berdasarkan data dari Dinas kesehatan Kota Medan mengatakan bahwa 4.881 warga Medan terinfeksi HIV, dari data yang ada diketahui bahwa 2.945 orang terinfeksi melalui faktor heteroseksual, IDU (pengguna narkoba suntik) 1.045 orang, homoseksual 294 orang, biseksual 10 orang, perinatal/ tertular dari ibu 79 orang dan transfusi darah 42 orang (Dinas Kesehatan Kota Medan, 2015).
Kehamilan dengan infeksi HIV sangat berbahaya bagi ibu dan janin yang dikandungnya, karna HIV dapat menular melalui kontak darah.Janin dapat tertular oleh virus yang ada dalam tubuh ibunya mulai dari masa kehamilan, persalinan maupun selama periode post partum pada saat ibu menyusui melalui ASI (Gilbert
& Harmon, 2003).
Infeksi HIV juga menimbulkan dampak yang komplek terhadap penderitanya.Selain menurunkan daya tahan tubuh dan infeksi oportunitis yang mengikutinya, masalah psikologis maupun sosial juga dialami oleh orang yang terdeteksi HIV.Secara psikologis orang dengan HIV dapat mengalami distress psikologis, termasuk harga diri rendah, kecemasan, ketakutan, keputusasaan, ketidakberdayaan, depresi dan ide untuk bunuh diri seperti yang diungkapkan dalam beberapa penelitian wanita yang terdeteksi HIV (Roy, 2003; Ross & Zeller, 2007; Brickley et al., 2009; Reif et al., 2011). Secara sosial adanya label yang
buruk dan diskriminasi juga dialami oleh orang dengan HIV seperti anggapan mereka adalah sosial evils, orang jahat, orang yang tidak bermoral membuat mereka cenderung merahasiakan status HIV dari masyarakat dan keluarga (Brickley et al., 2009).
Tidak semua ibu hamil yang terdeteksi HIV/AIDS adalah wanita yang sudah mengetahui statusnya sebelum hamil dan mendapatkan pengobatan, Sehingga kemungkinan penularan dari ibu ke bayi baik selama kehamilan maupun persalinan menjadi lebih besar. Pada penelitian di Rural Uganda pada 721 wanita yang akan melahirkan, 12% diantaranya terdeteksi HIV (Homsy et al, 2006).
Kenyataan ini juga dipaparkan pada penelitian oleh Kongnyuy et al (2009) di Cameroon yang meneliti 2.413 wanita yang akan melahirkan dan tidak mengetahui status HIV, didapatkan 10,1% terdeteksi HIV.
Pemerintah Indonesia telah menerapkan Program PMTCT (Prevent of Mother to Child Transmission) untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas maternal dan neonatal akibat HIV/AIDS pada masa perinatal. Ada empat elemen program ini, diantaranya adalah memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu HIV positif beserta anak dan keluarganya, mencegah penularan dari ibu HIV positif ke anak saat persalinan (Komisi penanggulangan AIDS Nasional, 2008).
Beberapa fenomena terkait tuntutan yang dialami ibu tersebut, membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengalaman ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS dengan pendekatan kualitatif, sehingga penting untuk
dieksplorasi lebih jauh bagaimana pengalaman ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS di Kota Medan.
1.2 Rumusan Masalah
Jumlah ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS dari tahun ke tahun semakin meningkat baik di dunia maupun di Indonesia.Stigma yang buruk oleh masyarakat terhadap penyakit HIV/AIDS cenderung mengakibatkan ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS di isolasi oleh lingkungan sosial yang memperburuk kondisi ibu dan janin yang di kandungnya.Sehingga mereka cenderung merahasiakan status HIV/AIDS dari keluarga dan masyarakat.Kehamilan dengan kondisi HIV/AIDS sangat berbahaya untuk ibu dan janin yang dikandungnya, karna HIV/AIDS dapat menular melalui kontak darah.Kehamilan dengan kondisi HIV/AIDS juga berdampak pada masalah secara fisik, psikologis dan sosial.
Dari latar belakang yang telah diuraikan, maka pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana pengalaman ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS di Kota Medan?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pengalaman berupa perubahan fisik dan psikologis, hambatan yang dalami dan upaya yang dilakukan oleh ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS di Kota Medan.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian yang diperoleh nantinya dapat dijadikan sumber informasi dan landasan konsep bagi perkembangan ilmu keperawatan terkait dengan asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS.
1.4.2 Bagi Penelitian Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan dan informasi serta memberikan dasar untuk penelitian berikutnya tentang pengalaman ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS, baik seara kualitatif maupun kuantitatif.
1.4.3 Bagi Pelayanan Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai informasi dan pemahaman bagi tenaga kesehatan khususnya perawat dalam pemberian pendidikan kesehatan asuhan keperawatan bagi ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS.
1.4.4 Bagi Partisipan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui cara pencegahan agar janin yang di kandung tidak tertular HIV/AIDS.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Kehamilan
2.1.1 Definisi Kehamilan
Hamil didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi (Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, 2008).
Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intra uteri mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan (Manuaba, 2008).
Kehamilan merupakan proses yang alamiah. Perubahan-perubahan yang terjadi pada wanita selama kehamilan normal adalah bersifat fisiologis bukan patologis. Kehamilan juga merupakan proses alamiah untuk menjaga kelangsungan peradaban manusia (Wulanda, 2011).
2.1.2 Adaptasi Fisiologis Selama Kehamilan
Adaptasi anatomis, fisiologis, dan biokimiawi terhadap kehamilan sangat besar.Banyak dari perubahan-perubahan tersebut segera terjadi setelah fertilisasi dan berlanjut sepanjang kehamilan.Perubahan anatomi dan fisiologi pada perempuan hamil sebagian besar sudah terjadi segera setelah fertilisasi dan terus berlanjut selama kehamilan.Perubahan-perubahan ini merupakan respon terhadap janin. Satu hal yang menakjubkan adalah bahwa hampir semua perubahan ini akan kembali seperti keadaan sebelum hamil setelah proses persalinan dan menyusui selesai (Cunningham, 2005).
2.1.3 Psikologis dan Kognitif Wanita Hamil
Menurut Barclay dkk, 1997 dalam buku Afiyanti (2004), menyebutkan bahwa seorang wanita hamil juga dilaporkan memiliki berbagai reaksi emosional dan kognitif yang berbeda-beda dari setiap periode trimester kehamilannya.
Berbagai hasil studi menjelaskan bahwa terdapat suatu pola tertentu dari reaksi- reaksi emosional dan kognitif yang dimunculkan oleh wanita hamil. Berikut reaksi-reaksi emosional dan kognitif yang pada umumnya dimunculkan wanita sehubungan dengan kehamilannya:
1) Trimester Pertama Perasaan ambivalensi
a. Ketidakpastian tentang waktu dimulainya kehamilan
b. Ketidaknyamanan fisik: sering berkemih, mual dan muntah, kekuatan sebagai orang tua dirinya sendiri dan pasangannya kelelahan, gelisah, dan gangguan tidur pada malam hari
c. Ketidakpastian tentang peran yang adekuat sebagai orangtua dirinya sendiri dan pasangannya Ketakutan dan khayalan-khayalan
d. Melakukan spekulasi dan antisipasi tentang peran baru dengan bantuan khayalan-khayalan: mengkhayal tentang seperti siapa bayi yang akan dilahirkan, bagaimana dirinya dan pasangannya menguasai kondisi saat ini, dan seperti apa kehidupan baru yang akan mereka jalani sehubungan dengan bertambahnya anggota baru dalam keluarga mereka
e. Berpikir tentang masa depan dengan kecemasan dan ketakutan yang meningkat
2) Trimester Kedua Perasaan sejahtera
a. Berbagai ketidaknyamanan fisik berkurang
b. Ketakutan dan kecemasan berkurang dengan dirasakannya gerakan- gerakan pada janin (jika kemajuan kehamilan berlangsung normal) Pemusatan pikiran dan perhatian pada diri sendiri
c. Konsentrasi penuh tentang hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan kewanitaan pada kebutuhan-kebutuhan pribadinya dan kebutuhan- kebutuhan janinnya
d. Rasa kagum dengan kehamilan dan proses kelahiran; mempelajari perilaku-perilaku anak-anak
e. Mempererat hubungan dan banyak mencari pengalaman dan informasi dari ibunya sendiri untuk mengembangkan perasaan-perasaan identitas maternalnya
f. Sifat egosentris yang meningkat; sering bermimpi dan berkhayal
g. Mulai memperlihatkan sikap suka menyendiri dan senang mengumpulkan segala sesuatu (baju dan barang-barang) untuk keperluan bayi yang akan dilahirkannya, keperluan dirinya sendiri, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan kelahiran Perasaan dan keadaan emosi yang labil
h. Egois, sangat ingin diperhatikan, asyik dengan diri sendiri, kebutuhan untuk dikasihi dan disayangi secara berlebihan, sangat membutuhkan perhatian dan pemahaman tentang dirinya dari orang lain
3) Trimester Tiga
Kembali merasakan ketidaknyamanan fisik
a. Kelelahan, rasa cepat lelah, frrekuensi berkemih yang meningkat, gangguan tidur, perasaan kikuk Perluasan dimensi psikososial
b. Perubahan-perubahan tentang gambaran diri, perasaan canggung dan kaku yang berlebihan Pemusatan pemikiran dan perhatian tentang diri sendiri yang meningkat
c. Perasaan takut atau khawatir tentang kesejahteraan dan keselamatan dirinya dan takut menghadapi proses kelahiran
d. Khawatir dengan kesejahteraan dan keselamatan janinnya Pemikiran dan perenungan tentang asumsi-asumsinya berhubungan dengan peran maternal
e. Khayalan dan bayangan tentang dugaan-dugaan situasi menjadi orangtua f. Obsesi untuk cepat mengakhiri kehamilannya dan hasrat yang tinggi agar
kehamilannya cepat berakhir g. Perilaku menyendiri meningkat
2.1.4 Melahirkan
2.1.4.1 Persalian dan Kelahiran Normal
Prawirohardjo (2002) dalam Wulanda (2012), mengatakan Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus ke dunia luar. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung selama 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin
Pada awitan persalinan, posisi janin terhadap jalan lahir penting untuk mengetahui rute pelahiran.Sehingga, posisi janin didalam rongga uterus harus ditentukan saat awitan persalinan (Cunningham et al., 2005).
Beberapa faktor pendukung persalinan adalah sebagai berikut:
1. Power
His (kontraksi ritmis otot polos uterus), kekuatan mengejan ibu, dan keadaan kardiovaskular respirasi metabolik ibu. Kekuatan ibu atau tenaga mengedan sangat mempengaruhi
2. Passage
Keadaan jalan lahir yang terdiri atas panggul dimana terdiri atas berbagai posisi Pintu Atas Panggul (PAP), posisi Pintu Tengah Panggul (PTP), dan posisi Pintu Bawah Panggul (PBP). Hal inilah yang mempengaruhi proses persalinan lancar atau tidaknya.
3. Passanger
Bagian dari penumpang atau yang akan dikeluarkan nantinya baik dari keadaan janin (letak, presentasi, ukuran/berat janin, ada/tidak kelainan anatomik mayor), keadaan plesenta yang normal atau abnormal, serta keadaan cairan amnion (ketuban) yang baik dalam proses persalinan.
4. Psikis
Keadaan kejiwaan ibu yang bisa memengaruhi persalinan secara normal atau abnormal. Bila jiwa dan kondisi ibu baik, sebaliknya, bila keadaan jiwa dan kondisi ibu kurang baik, maka proses persalinan akan terhambat.
5. Penolong
Seorang yang berfungsi sebagai penolong yaitu tenaga kesehatan, seperti bidan, perawat, dokter, dimana tenaga kesehatan tersebut mampu memberikan perlindungan, pengawasan, dan pelayanan dalam proses persalinan maupun setelah persalinan selesai (Wulanda, 2012).
2.2 Konsep Dasar HIV/AIDS 2.2.1 Definisi HIV/AIDS
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan suatu jenis virus yang termasuk salah satu jenis famili retrovirus. HIV bias menyebabkan infeksi kronik karna HIV memiliki enzim reverse transcriptase yang unik. Enzim tersebut merupakan turunan dari RNA dan DNA yang mempunyai kemampuan untuk masuk ke dalam kromosom sel host. Virus ini bertahan hidup di dalam sel selama
bertahun-tahun dan tidak dapat dimusnahkan dari sel host dengan pemberian obat antivirus (Gallant, 2010).
Virus RNA berselubung atau retrovirus yang menggunakan reverse transcriptase dan dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih (sel CD4) sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia (Daili et al., 2007; Gillespie & Bamford, 2008; Godam, 2006).
Virus HIV yang menyerangsistem kekebalan tubuh manusia menyebabkan manusia menjadi rentan terhadap berbagai macam penyakit akibat defisiensi imunitas seluler. Tubuh rnanusia yang dalam keadaan terinfeksi oleh berbagi macam penyakit akibat menurunnya kekebalan disebut dengan AIDS (Mandal et al., 2008).
2.2.2 Patofisiologi HIV/AIDS Pada Ibu Hamil
Virus HIV masuk ke dalam tubuh manusia melalui cairan tubuh seperti darah, semen, secret dan sekret vagina.Virus ini tergolong retrovirus yang mempunyai materi genetik RNA. Pada saat virus masuk ke dalam tubuh penderita (hospes), maka RNA virus akan diubah menjadi DNA oleh enzim reverse transcryptase yang dimiliki oleh HIV. DNA pro virus tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam sel hospes dan selanjutnya diprogram untuk membentuk gen virus (Gillespie, & Bamford, 2009; Mandal et al., 2008).
Gen virus HIV tersebut menyerang sel-sel yang mempunyai antigen permukaan CD4, terutama sel limfosit T4 yang memegang peranan penting dalam mengatur dan mempertahankan sistem kekebalan tubuh Selain limfosit T4, virus juga dapat menginfeksi sel monosit dan makrofag, sel langerhans pada kulit, sel
dendrit folikuler pada kelenjar limfe, makrofag pada alveoli paru, sel serviks uteri dan sel makrofag otak. Virus yang masuk kedalam limfosit T4 kemudian mengadakan replikasi menjadi banyak dan akhirnya menghancurkan sel limfosit itu sendiri. HIV menyebabkan kerusakan sel saraf dan menstimulasi pelepasan sitokinin yang juga dapat menyebabkan kerusakan neurologis (Daili et al.,2007;
Gillespie & Bam. 2009).
2.2.3 Cara Penularan HIV/AIDS Pada Ibu Hamil
Penularan melalui seksual banyak terjadi pada pasangan heteroseksual dan dipengaruhi oleh tingkat infeksitas pasangan, ketidak patuhan penggunaan kondom dan infeksi yang terjadi bersamadengan penyakit menular seksual (Varney’s et al., 2007).
Penularan HIV dari ibu ke janin selama kehamilan, persalinan maupun selama periode post parturn melalui ASI, yang disebut dengan vertical transmission (Ross, 2011).
Pembukaan serviks, vagina, sekresi serviks dan darah ibu meningkatkan risiko penularan selama persalinan (Kemenkes RI, 2011; Varney’s, 2007).
Kemungkinan bayi tertular HIV dari ibunya pada masa kehamilan adalah 5-10%, sedangkan pada saat kelahiran 10-20%, dan pada saat menyusui adalah 10- 20% (Depkes RI, 2006).
2.2.4 Dampak HIV Terhadap Kehamilan dan Dampak Kehamilan Terhadap HIV
Infeksi virus HIV telah menjadi salah satu penyulit kehamilan yang sering terjadi. Infeksi virus ini berkaitan dengan diagnose kehamilan virus ini berkaitan
dengan kehamilan yang kurang baik diantaranya resiko lahir meninggal, persalinan premature dan retardasi pertumbuhan intra uterin (Fraser, & Cooper, 2009).
Efek yang serius pada kehamilan adalah penularan vertikal dari ibu ke janin yang dapat terjadi pada periode ante partum, intra partum dan post partum (Mandal et al., 2008). Pada bayi yang mendapatkan ASI, 75% penularan diperkirakan terjadi di akhir kehamilan dan setelah persalinan.
2.2.5 Diagnosis HIV/AIDS
Cara terbaik untuk mengetahui seseorang terdeteksi HIV yaitu dengan melakukan pemeriksaan test HIV karena pada stadium awal asien tidak menimbulkan gejala yang spesifik. Pemeriksaan yang digunakan untuk mengetahui apakah seseorang sudah terinfeksi HIV yaitu pemeriksaan antibodi HIV.
Dalam kebijakan operasional Kementerian Kesehatan RI tes HIV yang digunakan adalah Rapid Test karena memiliki keuntungan lebih cepat memberikan hasil, sensitivitas dan spesifiditas di atas 98%.Perkembangan virus HIV dipantau dengan pemeriksaan jumlah CD4 dalam tubuh penderita (Kemenkes RI, 2011).
Terdapat empat stadium gambaran klinis yang terlihat pada pasien yang terdeteksi HIV berdasarkan CDC (Central for Disease Control) di Amerika Serikat tahun 1992 yaitu: (Keneddy, 2003; Gallant, 2010: Kemenkes RI, 2011).
Stadium pertama dari infeksi HIV, terjadi beberapa minggu (2-12 minggu) setelah penularan disebut infeksi HIV primer atau ARS (Acute Retroviral
Syndrome). Selama tahap ini tes antibody standar (seroogi) mungkin negatif tetapi sebenarnya jumlah virus dalam darah sangat banyak, orang yang terinfeksi pada tahap ini adalah sangat infeksius dan keadaan ini membuat penularan kepada orang lain menjadi mudah.
Stadium kedua dimana ARS akan mereda dengan sendirinya dan dengan diikuti tahap laten (tersembunyi) biasanya disebut HIV asimptomatik. Tahap ini berlangsung 2-10 tahun setelah terinfeksi.Penderita pada umumnya merasa sehat selama ini walaupun sudah disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening (limpadenopati) dan beberapa kondisi infeksi lainya.
Tahap ketiga disebut sebagai tahap infeksi HIV simptomatik. Sistem kekebalan mulai terganggu dan kadar virus mulai meningkat. Gejala-gejala mulai muncul seperti penurunan berat badan kurang dari 10% tanpa sebab, infeksi saluran nafas berulang, herpes, diare kronis tanpa sebab lebih dari 1 bulan, demam dan anemia.
Pada stadium keempat dikenal dengan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Sistem tubuh sudah berkurang sehingga mulai timbul infeksi oportunistik yang serius.Jumlah CD4 turun dibawah 200 danpenderita sudah mengalami komplikasi keganasan dari penyakit tersebut.
Penilaian imunologis untuk penderita HIV/AIDS dengan menggunakan CD4. Jumlah CD4 adalah cara yang terpercaya dalam menilai status imunitas seorang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Pemeriksan CD4 melengkapi pemeriksaan klinis yang mana dapat memandu dalam menentukan kapan pasien memerlukan pengobatan profilaksis terhadap IO dan terapi ARS sebelum
penyakitnya berlanjut menjadi lebih parah.Jumlah CD4 dapat berbeda setiap hari tergantung adanya penyakit penyerta.Dalam hal ini maka CD4% yang digunakan untuk memandu menentukan pengobatan.Bila memungkinkan tes CD4 diulangsebelum keputusan medis yang besar dibuat, seperti misalnya memulai terapi ARV (Depkes RI, 2007).
Ibu dengan sel CD4 yang rendah mempunyai resiko penularan yang lebih besar, terlebih jika jumlah sel CD4 < 350 sel/mm3. Semakin rendah jumlah sel CD4, pada umumnya risiko penularan HIV akan semakin besar. Sebuah studi menunjukkan bahwa ibu dengan CD4 < 350 sel/mm3 memiliki resiko untuk menularkan HIV ke anaknya jauh lebih besar (Kemenkes RI, 2011).
2.2.6 Prevent Mother To Child Transmission (PMTCT) Pada Ibu Hamil HIV/AIDS
Prevent Mother to Child Transmission (PMTCT) merupakan upaya untuk mencegah penularan virus HIV yang ada dalam tubuh wanita hamil dengan HIV/AIDS pada janin yang di kandungnya. Upaya pencegahan dilakukan secara terus menerus baik pada periode antenatal, intranatal maupun periode postnatal.
2.2.6.1 Antenatal
Ibu hamil dengan HIV positif mengalami perubahan baik fisik maupun psikologis. Dengan penyakit yang dideritanya tak jarang menimbulkan stigma negatif dalam masyarakat, untuk itu ibu hamil membutuhkan dukungan sosial, emosional dan juga ekonomi sebab berkaitan dengan keberlanjutan terapi yang harus dijalaninya (UNAIDS, 2010, Gillespie, & Bamford, 2009).
Selain itu ibu hamil dengan HIV positif juga rnembutuhkan konseling tentang kehamilannya yang terinfeksi HIV dan kemungkinan penularan dari ibu ke janin (Gilbert, & Harmon, 2003).
Untuk mencegah penularan dari ibu ke janin diperlukan terapi Anti Retro Viral (Hofmeyr et al., 2008). Pengobatan pada penderita HIV positif terutama pada ibu hamil menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Kathleen Squires (2008) adalah menggunakan ARV (anti retroviral) jenis ZDV/ AZT (Zidovudine/
Azeto T ymidine) tidak boleh menggunakan tenofovir karena akan menimbulkan kecatatan (Highleyman, 2009).
Anti Retroviral pada ibu hamil di Indonesia berdasarkan pedoman Nasional pelayanan kedokteran menggunakan kombinasi Zidovudin, Lamivudin dan Efavirenz; Zidovudin, lamivudin dan Nevirapin; Tenofovir, Lamivudin, Efavirenz; Tenofovir, Lamivudin dan Nevirapin. ARV jenis Efavirenz sebaiknya tidak diberikan pada kehamilan trimester pertama (Kemenkes RI, 2011).
2.2.6.2 Intranatal
Persalinan pada wanita dengan HIV positif dianjurkan melalui sectio caesaria.Persalinan sectio caesaria elektif yang dilakukan sebelum selaput ketuban pecah dapat menekan resiko penularan dari ibu ke janin pada penderita dengan jumlah viralload diatas 1000 copy/ml (Gilbert, & Harmon, 2003).
Jika persalinan pervaginam mempakan pilihan, maka diupayakan memperpendek waktu pecahnya selaput ketuban (tidak boleh dilakukan amniotomi) dan hindari penggunaan forcep atau vacum selama proses persalinan (Varney’s, 2007).
Penatalaksanaan yang diberikan selama periode intranatal adalah diberikan ZDV/ AZT 2 mg/Kg BB secara intra vena selama 1 jam kemudian dilanjutkan dengan dosis 1 mg/Kg BB dengan pemberian melalui infuse sampai bayi lahir (Gilbert, & Hannon, 2003; Fraser, & Cooper, 2009).
2.2.6.3 Postnatal
Ibu post partum dengan HIV positif perlu mendapatkan perawatan dan pelayanan meliputi konsultasi, observasi tanda-tanda depresi, konseling tentang seksual yang aman dan pemilihan kontrasepsi, konseling kepatuhan penggunaan anti retroviral dan obat-obatan anti infeksi oportunistik. Pengobatan yang dilakukan untuk Ibu pasca melahirkan dengan diberikan ZDV/AZT oral dari 8 sampai 12 jam setelah lahir sampai 6 rninggu, sementara untuk melindungi bayi dari transmisi HIV, segera setelah bayi berusia 2-4 minggu diberikan Zidovudin syrup. Untuk itu bayi.harus dilakukan skrening sebanyak 2 kali yaitu pada usia 48 jam dan usia 4 bulan ( Gilbert, & Harmon, 2003; Ismayana, 2010; Rupali, 2007).
Setiap bayi yang lahir dari ibu yang menderita HIV positif harus segera diberikan ARV dengan jenis ZDV/ AZT dan NVP (Niverapine) dan tidak direkomendasikan untuk rmemberikan ASI jika memenuhi kriteria AFASS (Acceptable Feasible Afordable Sustanainable Safe) (Rupali, 2007; Fraser, &
Cooper, 2009).
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan metode fenomenologi.Penelitian kualitatif yaitu penelitian yang dilakukan untuk memperoleh jawaban atau informasi yang mendalam tentang pendapat dan perasaan seseorang yang memungkinkan untuk mendapatkan hal-hal yang tersirat tentang sikap, kepercayaan, motivasi dan perilaku individu.Fenomenologi adalah suatu ilmu yang memiliki tujuan untuk menjelaskan fenomena, penampilan dari sesuatu yang khusus, misalnya pengalaman hidup.Fokus utama dari studi fenomenologi adalah bagaimana orang mengalami suatu pengalaman hidup dan menginterpretasikan pengalamannya (Polit & Beck, 2012), Sehingga dari pendekatan fenomenologi ini diharapkan memperoleh pemahaman yang mendalam untuk menggali pengalamanibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS di Kota Medan.
3.2 Partisipan
Penelitian kualitatif sangat erat kaitannya dengan faktor-faktor kontektual.Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibuhamil dengan kondisi HIV/AIDS di Kota Medan. Berdasarkan dari hasil survey awal didapatkan jumlah populasi ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS di Dinas Kesehatan Kota Medan tahun 2014 sebanyak 20 orang, sedangkan tahun 2015 sebanyak 79orang (Dinas
Kesehatan Kota Medan, 2015). Pengambilan sampel pada penelitian kualitatif tidak diarahkan pada jumlah tetapi berdasarkan pada asas kesesuaian dan kecukupan informasi sampai mencapai saturasi data (Polit & Beck, 2012).Saturasi data didapatkan apabila peneliti tidak lagi memperoleh informasi baru dari partisipan.Jumlah partisipan dari penelitian ini adalah 10 orang. Apabila informasi baru yang didapatkan sama dengan informasi sebelumnya maka data dikatakan telah sampai pada titik jenuh dan pengambilan sampel berikutnya dihentikan (Polit & Beck, 2012). Pada penelitian ini sudah terjadi saturasi data saat partisipan kesepuluh.
Pemilihan partisipan dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yaitu metode pemilihan partisipan dalam suatu penelitian dengan menentukan terlebih dahulu kriteria yang akan dimasukkan dalam penelitian (Polit & Beck, 2012).Adapun kriteria partisipan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Ibu usia 26-37 yang sedang hamil dengan kondisi HIV/AIDS di Kota Medan, 2. Mampu berkomunikasi secara terbuka,
3. Mampu menceritakan pengalaman yang dialami,
4. Bersedia menjadi responden (partisipan) yang dinyatakan secara verbal atau dengan menandatangani surat perjanjian penelitian.
3.3 Tempat dan Waktu Penelitian 3.3.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kota Medan, dengan menemui parisipan ke rumah partisipan.
3.3.2 Waktu Penelitian
Pengumpulan data dilakukan pada bulan Februari 2016sampai dengan bulanJuni2016, yaitu mulai pengumpulan data sampai dengan selesai pengumpulan data.
3.4 Pertimbangan Etik
Sebelum melakukan pengumpulan data, peneliti terlebih dahulu mengajukan surat permohonan kepada Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara untuk mendapatkan izin persetujuan penelitian. Dalam penelitian ini juga dilakukan ethical clearance (Lampiran 6) oleh Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Keperawatan USU. Ethical clearance adalah pernyataan, bahwa rencana kegiatan penelitian yang tergambar dalam protokol, telah dilakukan kajian dan telah memenuhi kaidah etik sehingga layak untuk dilaksanakan penelitian. Setelah mendapatkan izin, selanjutnya peneliti mencari partisipan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
Setelah terbina hubungan saling percaya antara peneliti dan partisipan, peneliti menjelaskan tujuan dari penelitian dan prosedur pelaksanaan penelitian.
Partisipanbersedia berpatisipasi dalam penelitian danpartisipan dipersilahkan
untuk menandatangani informed consent. Informed consent merupakan lembar penjelasan penelitian yang diberikan kepada partisipan, apabila partisipan memahami penjelasan dari peneliti yang terkait dengan judul penelitian dan bersedia untuk dilakukan wawancara dengan menjaga kerahasiaan dan tidak menimbulkan resiko kepada partisipan. Jika responden menolak untuk diteliti, maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak calon partisipan tersebut.Saat melakukan penelitian, semua responden yang ditemui peneliti bersedia untuk dilakukan wawancara.
Penelitian ini menggunakan etika penelitian dengan menerapkan beberapa prinsip etik.Penelitian ini tidak menimbulkan resiko bagi individu yang menjadi partisipan, baik resiko fisik maupun psikis.
Peneliti tidak memaksa jika partisipan menolak untuk diwawancarai dan menghormati hak-haknya sebagai partisipan dalam penelitian ini. Untuk menjaga kerahasiaan identitas partisipan maka peneliti tidak mencantumkan nama dari partisipan (annonimity) dengan tidak menuliskan nama partisipan pada instrumen, tetapi hanya menggunakan inisial saja, seperti yang telah dicantumkan pada lembar persetujuan menjadi partisipan dan Kuisioner Data Demografi (KDD) serta menjaga kerahasiaan (confidentility) partisipan dimana hanya informasi yang diperlukan saja yang dicantumkan dalam penelitian, seperti yang telah dicantumkan pada panduan wawancara. Seluruh data-data yang diperoleh dari responden juga hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.
3.5 Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terbagi dua bagian.
Pertama merupakan Kuesioner Data Demografi (KDD) yang berisi pernyataan mengenai data umum partisipan meliputi nama (inisial), usia, usia terdeteksi HIV/AIDS, usia kehamilan, jumlah anak, pendidikan terakhir, pekerjaan, penghasilan, agama, suku dan status kesehatan suami (Lampiran 3).
Instrumen kedua merupakan panduan wawancara.Panduan wawancara ini berisi pertanyaan yang diajukan kepada partisipan, dimana pertanyaan tersebut dibuat sendiri oleh peneliti. Panduan wawancara ini berisi lima pertanyaan yang diajukan seputar pengalaman ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS di Kota Medan (Lampiran 4). Instrumen panduan wawancara ini telah divalidasi oleh dua Dosen Penguji (Lampiran 6) yang expert dalam bidang kualitatif. Hasil dari validasi pertanyaan dengan lima pertanyaan yang dibuat peneliti telahclear, credible dan relevant dengan judul penelitian.
3.6 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan setelah mendapat izin dari Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan memperoleh ethical clearance dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.Selanjutnya peneliti telah melakukan pilot study dimana hasil wawancara tersebut diperiksa oleh pembimbing untuk melihat proses wawancara yang dimulai dengan probing sampai menganalisis data. Pilot study dilakukan dengan
cara mewawancarai seorang ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS di Kota Medan yang dapat dijadikan partisipan penelitian. Pilot study pada penelitian ini dilakukan untuk menguji apakah peneliti sebagai intrumen sudah cukup baik dalam melakukan wawancara dan melakukan analisa data kualitatif (Polit and Beck,2012).
Pilot study telah dilakukan dan peneliti melakukan wawancara kepada partisipan selanjutnya. Sebelumnya peneliti sudah melakukan prolonged engagement yaitu pendekatan dengan pertemuan 1 kali kepada partisipan dan peneliti didampingi oleh salah satu komunitas ODHA yang sebelumnya memberikan penjelasan peneliti untuk melakukan penelitian kepada partisipan agar memiliki keterkaitan, saling akrab, terbuka dan saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan. Peneliti memperkenalkan diri, menjelaskan penelitian yang sedang dilakukan, tujuan dan manfaat penelitian.
Partisipan telah bersedia untuk diwawancarai dan partisipan diminta membaca dan mengisi lembar persetujuan dan kuesioner data demografi untuk mendapatkan data dasar, kemudian peneliti melakukan wawancara mendalam atau in dept interview (wawancara mendalam). In depth interview adalah salah satu cara pengumpulan data melalui percakapan dan proses tanya jawab antara peneliti dengan partisipan yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan tentang makna- makna subjektifitas yang dipahami oleh individu (Polit & Beck, 2012).
Pada metode ini, peneliti dan partisipan bertemu secara langsung untuk mendapatkan informasi secara jelas dengan tujuan mendapatkan data yang dapat menjelaskan permasalahan penelitian.Dalam hal ini wawancara dilakukan di salah
satu tempat yang disetujui oleh partisipan. Sesuai dengan jenisnya, peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur yaitu wawancara dengan mengajukan beberapa pertanyaan secara lebih luas tanpa terikat oleh susunan pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya, biasanya pertanyaan muncul dengan spontan sesuai dengan situasi dan kondisi.
Wawancara dilakukan selama 40 menit dengan 1 kali pertemuan, karna sebelumnya partisipan telah diberikan penjelasan dari salah satu komunitas ODHA agar terbinanya hubungan saling percaya sehinga data yang diinginkan tercapai. Partisipan mengisi data yang terdapat pada lembar kuesioner data demografi sesuai dengan petunjuk masing-masing bagian. Setelah itu, peneliti mulai melakukan wawancara dan merekam hasil wawancara dengan menggunakan alat perekam yang telah disediakan.Selanjutnya peneliti membuat transkrip hasil wawancara setiap kali selesai wawancara, dan tidak ada hal-hal yang kurang jelas sehingga peneliti tidak kembali menjumpai partisipan untuk dilakukan wawancara ulang. Pengumpulan data pada penelitian ini dihentikan karna sudah mencapai saturasi data, dalam arti bahwa dilakukan wawancara dengan partisipan yang lain tidak ditemukan lagi hal-hal yang baru (Polit & Beck, 2012).
3.7 Analisa Data
Analisa data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit,
melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain (Polit & Beck, 2012).
Proses analisa data dilakukan segera setelah selesai setiap satu proses wawancara, yaitu bersamaan dengan dibuatnya transkrip wawancara, kemudian transkrip tersebut dibaca berulang kali atau dilakukan seleksi data satu persatu (kata perkata). Peneliti menggunakan metode Colaizzi (1978, dalam Polit & Beck, 2012) dalam menganalisa data karena metode ini memberikan langkah-langkah yang jelas, sistematis, rinci dan sederhana.Ini adalah salah satu metode yang umum untuk analisa data yang direkomendasikan untuk studi fenomenologi.
Proses analisa data dalam penelitian ini meliputi:
1. Membaca semua transkrip wawancara untuk mendapatkan perasaan partisipan. Dalam hal ini, peneliti membaca semua transkrip dan juga mendengarkan alat perekam beberapa waktu untuk mendapatkan rasa keakraban terhadap makna ekspresi dan untuk kepekaan peneliti terhadap cara setiap partisipan berbicara.
2. Meninjau setiap transkrip dan menarik pernyataan yang signifikan. Dalam langkah ini, frase dan kalimat signifikan yang menyinggung tentang pengalaman ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS di Kota Medan.
3. Menguraikan arti dari setiap pernyataan yang signifikan. Dalam langkah ini pernyataan yang signifikan dipelajari untuk diambil pengertiannya.
4. Mengelompokkan makna-makna tersebut ke dalam kelompok-kelompok tema. Dalam langkah ini, peneliti mengidentifikasi tema dari makna yang diformulasikan kedalam kelompok kategorisub tema dan tema.
5. Mengintegrasikan hasil kedalam bentuk deskripsi. Dalam analisis ini, deskripsi mendalam tentang pengalaman ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS di Kota Medan.
6. Memformulasikan deskripsi lengkap dari fenomena yang diteliti sebagai identifikasi pernyataan setegas mungkin.
7. Memvalidasi apa yang telah ditemukan kepada partisipan sebagai tahap validasi akhir. Dari hasil validasi, partisipan menyatakan hasil yang didapat pada penelitian ini sudah sesuai dengan apa yang dimaksud oleh partisipan.
3.8 Tingkat Kepercayaan Data
Untuk memperoleh hasil penelitian yang dapat dipercaya maka data divalidasi dengan lima kriteria, yaitu credibility, transferability, dependability dan confirmability (Lincoln & Guba, 1985 dalam Polit & Beck, 2012).
Credibility (uji tingkat kepercayaan) merupakan kriteria untuk memenuhi nilai kebenaran dari data dan informasi yang dikumpulkan.Credibility pada penelitian ini dipertahankan peneliti melalui teknik prolonged engagement dan member checking. Prolonged engagement yaitu mengadakan pertemuan dengan partisipan 1-2 kali sehingga antara peneliti dan partisipan tumbuh hubungan saling percaya dan memiliki keterkaitan yang lama sehingga semakin akrab, semakin terbuka dalam memberikan informasi dan informasi yang diperoleh lebih lengkap.
Peneliti juga melakukan member checking yaitu melakukan pengecekan data yang peneliti peroleh kepada partisipan dan hasil dari pengecekan tersebut disebut tema.Pengecekan tersebut langsung dilakukan pada saat wawancara dengan cara peneliti mengkonfirmasi perkataan dari partisipan secara berulang sehingga antara peneliti dan partisipan memiliki pemahaman yang sama terhadap perkataan partisipan.
Confirmability pada penelitian ini dilakukan dengan memeriksa seluruh transkrip wawancara, catatan lapangan (field note) dan tabel analisis tema kepada ahli di kualitatif.Dalam hal ini dilakukan oleh pembimbing yang merupakan pakar penelitian kualitatif.Kemudian peneliti menentukan tema dari hasil penelitian dalam bentuk skema tema.
Dependability merupakan kriteria yang digunakan untuk menilai kualitas dari proses yang peneliti lakukan. Teknik utama untuk menilai kriteria dependability ini adalah dengan cara mereview semua proses penelitian meliputi catatan mulai dari menentukan masalah, pengambilan data penelitian, analisa data, melakukan uji keabsahan data, sampai dengan pembuatan kesimpulan yang biasa disebut audit trail sehingga penelitian ini terjamin kebenarannya. Dalam penelitian ini, beberapa catatan yang dapat digunakan untuk memperoleh audit trail yang adekuat adalah data mentah yang diperoleh melalui pengumpulan transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan (field note), hasil analisa data, membuat koding-koding (pengkodean), dan draft hasil laporan penelitian untuk menunjukkan adanya kesimpulan yang ditarik pada akhir penelitian.
Transferability mengacu pada sejauh mana hasil penelitian dapat diterapkan dalam situasi atau kelompok yang lain. Kriteria ini digunakan untuk melihat bahwa hasil penelitian yang dilakukan dalam konteks (setting) tertentu dapat ditransfer ke subjek lain yang memiliki karakteristik yang sama.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan tentang hasil penelitian yang telah dilakukan serta pembahasan hasil penelitian dengan literatur yang berhubungan dengan pengalaman ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengeksplorasi pengalaman ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS di kota Medan. Hasil penelitian ini memunculkan empat tema yang memberi suatu gambaran atau fenomena pengalaman ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS di kota Medan. Hasil penelitian yang dibahas adalah karakteristik partisipan dan tema hasil analisa data penelitian.
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Karakteristik Partisipan
Partisipan dalam penelitian ini adalah ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS.Jumlah partisipan adalah sepuluh orang.Kesepuluh partisipan yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah partisipan yang memenuhi kriteria dan bersedia untuk diwawancarai serta menandatangani persetujuan menjadi partisipan penelitian sebelum wawancara dimulai. Semua partisipan berasal dari wilayah kota Medan. Usia kesepuluh partisipan berusia 26-37 tahun. Dari sepuluh partisipan, satu orang sudah 9 tahun terdeteksi HIV/AIDS, satu orang sudah 8 tahun terdeteksi HIV/AIDS, satu orang sudah 6 tahun terdeteksi HIV/AIDS, 2 orangsudah 4 tahun terdeteksi HIV/AIDS, 3 orang sudah 3 tahun terdeteksi HIV/AIDS dan satu orang sudah 4 bulan terdeteksi HIV/AIDS.Usia kehamilan
dari kesepuluh partisipan berusia dari 1 minggu-9 bulan. Jumlah anak dari kesepuluh partisipan 1-3 orang anak.Pendidikan terakhir D1 sebanyak satu orang dan SMA sebanyak sembilan orang.Kesepuluh ibu hamil bekerja sebagai ibu rumah tangga.Penghasilan dari kesepuluh partisipan berkisar antara Rp 1.000.000 - Rp 3.000.000.Dari kesepuluh partisipan, sembilan orang beragama Islam dan satu orang beragama Kristen Protestan. Satu orang partisipan berasal dari suku Batak, satu orang bersuku Minang, satu orang bersuku Aceh, 3 orang bersuku Jawa dan empat orang dari suku Melayu. Status kesehatan suami, 5 suami yang positif HIV/AIDS dan 5 suami negatif HIV/AIDS. Karakteristik partisipan selengkapnya disajikan pada Tabel 4.1.1
Tabel 4.1.1 Karakteristik Partisipan
Karakteristik Frekuensi Persentase (%)
Usia
26 tahun 2 20
29 tahun 3 30
31 tahun 1 10
34 tahun 1 10
35 tahun 1 10
37 tahun 2 20
Usia Terdeteksi HIV/AIDS
21 tahun 1 10
22 tahun 1 10
23 tahun 1 10
25 tahun 1 10
26 tahun 1 10
28 tahun 1 10
29 tahun 1 10
31 tahun 1 10
33 tahun 1 10
34 tahun 1 10
Usia Kehamilan
Trimester 1 7 70
Trimester 2 1 10
Trimester 3 2 20
Jumlah Anak
1 3 30
2 3 30
3 4 40
Pendidikan
SMA 9 90
D1 1 10
Pekerjaan
Ibu rumah tangga 10 10
Agama
Islam 9 90
Kristen Protestan 1 10
Suku
Aceh 1 10
Batak 1 10
Jawa 3 30
Minang 1 10
Melayu 4 40
Status Kesehatan Suami
Positif HIV/AIDS 5 50
Negatif HIV/AIDS 5 50
4.1.2 Hasil wawancara pengalaman ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS di Kota Medan
Tema yang teridentifikasi dari hasil wawancara adalah sebanyak empat tema yang memaparkan berbagai pengalaman ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS di kota Medan. Keempat tema tersebut adalah mengalami perubahan fisik dan psikologis, merahasiakan status sebagai penderita HIV/AIDS, mendapat dukungan dari pasangan dan melakukan persiapan dan perawatan ibu dan janin.
1. Mengalami perubahan fisik dan psikologis
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap kesepuluh partisipan, ada dua subtema yang diperoleh, yaitu: perubahan fisik dan perubahan psikologis pada ibu.
a. Perubahan Fisik
Tujuh dari sepuluh partisipan mengalami perubahan fisik selama hamil.
Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan seperti dibawah ini:
“…Oh, kalo itu nggak ada cemas sedih atau apalah, cuman aku mudah lemes aja kalo banyak kerja…”
(Partisipan 1)
“….Cepet capeklah gitu. Yaa, kondisi kita kan namanya benteng kita kan udah nggak ada kan….”
(Partisipan 2)
“….Cuman kita cepet capek aja. Kita nggak bisa beraktivitas lebih kayak orang normal lainnya. Kalau udah capek dia langsung lemas. Nggak bisa banyak, kurang tidur pun nggak bisa, langsung down gitu.….”
(Partisipan 3)
“…Mudah capek, pikiran nggak karuan, tapi udah belajar menerimalah…”
(Partisipan 5)
“…Kalau cepet capek ia, cepet lelah. Kalau aku selalu ngerasa gini, banyak sih yang orang bilang kalau orang kayak kami ini nggak boleh capek kan gitu…”
(Partisipan 7)
“…Haa ia cepet capek, tak selera makan, males maunya tidur aja.
Pandangan kosong, mengkhayal tapi kite tak tahu ape yang kite khayalkan tu. Kosong macem orang linglung…”
(Partisipan 9)
“….Ia sih, kalau kelelahan itu wajar kan. Namanya daya tahan tubuh kita itu kan udah nggak ada gitu ya kan, jadi nggak bisa kerja yang berat-berat gitu. Cepet capek, lemes, lelah. Kadang Cuma bentar aja bersihin rumah udah capek, tapi ya mudah- mudahan nggak ada drop karna kalo kerja nggak pernah dipaksakan gitu, kalo udah capek ya berhenti nggak dilanjutkan kerjaanya….”
(Partisipan 10)
b. Perubahan psikologis
Sembilan dari sepuluh partisipan yang mengalami perubahan psikologis selama hamil. Berikut pernyataan partisipan:
“…Perasaannya, aih, udahlah. Kalau ditanya stress, ya stress lah awak. Down ntah lah…”
(Partisipan 1)
“….Perasaannya, kesallah. Merasa marah, benci, gitu kan.
Namanya seperti apa ya, seperti orang nggak bersalah tapi dikasih hukuman, gitu perasaannya seperti itu gitu. Nggak punya salah kenapa dikasih hukuman seperti ini gitu kan. Ya, sempet mau bunuh diri juga sih, depresi berat kan. Rasanya kayak nggak ada guna, hidup juga udah nggak lama lagi umurnya kan…”
(Partisipan 3)
“…Ya linglunglah, kayak gini nggak ada sakit apa-apa kok bisa
bolak-balik di ambil darah buat ngecek hasilnya tetep positif HIV/AIDS. Ya karna nggak percaya udah kayak orang gilalah stress nggak tahu mau bilang apa lagi. Cuman kita cepet capek aja. Waktu hamil juga rasa cemas kita kan pasti ada ya kan. Takut tertular, gimana dia lahir nanti, sementara ada miomnya …”
(Partisipan 4)
“…Perasaannya, kek mana ya. Macam di kejar rasa bersalah, merasa berdosa, berbohong sama orangtua. Orangtua tahunya masih gadis perawan, terbayang dosalah gitu, depresi, stresslah.Karna orangtua udah tua tinggal mamak.Nanti disini juga pasti diasingkan, pikirannya udah aneh-anehlah.Kalau pengennya, pengenlah. Siapa pula lah yang nggak mau punya anak ya kan, rasa pengen punya anak itu pasti ada lah ya kan. Tapi rasa takut cemasnya masih ada, takut anak tertular nantinya.…”
(Partisipan 5)
“….Ya, kaco. Rasanya kemaren itu mau sempat bunuh diri juga langsung ke kamar mandi dan udah pasrahlah, macem manalah kok gini sih tiba-tiba.Udah sekian lama aku jalani, kenapa kok baru didalam penjara ini aku baru tahu.Kenapa nggak dari dulu waktu aku diluar, kenapa musti didalam penjara, disitu aku sempet udah mau mati ajalah mati udah mati aja, udah tecekik leher ini.Ya hambatannya, takut, cemas juga karna suami nggak tahu kalau aku positif HIV.mungkin waktu pertama kali aku mengenal dia, untuk mau menjadi suamiku jadi aku jujur nggak ya, jujur nggak ya kan gitu. Jadi sampe sekarang dia nggak tahu statusku….”
(Partisipan 6)
“…Ya aku nggak bisa ngomong apa-apa lagi, aku cuman bisa nangis gitu.Intinya aku cuma nangis dan nangis. Menyesali kenapa itu bisa terjadi sama aku gitu ada rasa nggak percaya, pokoknya streslah…”
(Partisipan 7)
“…Waktu hari itu ya nggak nerimalah, mau bunuh diri juga waktu itu adakan. Perasaannya ya nggak nerimalah gitu pokoknya, stress, hidup hancur…”
(Partisipan 8)
“…Cemana ya. Kesel jugalah kakak sempet juga minta cerai sama laki kakak, jadi juga cerainya 2 tahun pisahkan, balik lagi. Ya stress lah kakak, pikirannya matilah awak ini mati itu aja dalam hati awak…”
(Partisipan 9)
“…Perasaannya ketika tahu positif HIV, ya stress lah, syok juga kok bisa kena gitu. Tapi nggak butuh waktu lama pas tahu positif HIV itu, nggak mau sosialisasi sama tetangga, sama temen-temen gitu…”
(Partisipan 10)
2. Merahasiakan status sebagai penderita HIV/AIDS
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap kesepuluh partisipan, ada dua subtema yang diperoleh, yaitu: menyembunyikan status dari keluarga dan menyembunyikan status dari kerabat dan tetangga.
a. Menyembunyikan status dari keluarga
Tiga dari sepuluh partisipan mengatakan bahwa partisipan menyembunyikan status dari keluarga dan satu partisipan menyembunyikan status dari suami. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan partisipan berikut ini:
“…Nggak, keluarga nggak ada yang tahu kalo aku positif HIV.
Tahunya cumakan sakitnya kok nggak baik-baik gitu….”
(Partisipan 1)
“…Nggak ada yang tahu. Karna kan kasihan juga orangtua kan, nanti kita kasih tahu, kalau dia sehat, kalau mempengaruhi kesehatan dia kan, kasihan juga….”
(Partisipan 5)
“…Suami nggak tahu kecuali aku dan keluargaku, itupun keluargaku ku bilang, dirahasiakan jangan sampe mereka semua tahu statusku, siapapun. Kalau seandainya harus ada yang tahu, nanti tunggu aku udah nggak ada di dunia ini, maksudnya tunggu
aku udah mati kalau memang harus ada yang tahu. Sampe sekarang keluargaku nggak ada ngasih tahu kesiapapun aku juga kayak gitu….”
(Partisipan 6)
b. Menyembunyikan status dari lingkungan
Sembilan dari sepuluh partisipan mengatakan bahwa partisipan menyembunyikan status dari lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan berikut ini:
“….Yaa, untuk mengatasinya ini kakak nggak open statuslah dek.
Jadi, orang lain ya biasa aja kalau datang atau ngobrol-ngobrol gitu ya kan.….”
(Partisipan 1)
“…Ya buatlah kayak orang normal aja gitu, seakan-akan kita itu nggak ada masalah, jadi mereka nggak ada yang tahu status kita gitu…”
(Partisipan 3)
“….Kalau hambatan sih nggak ada, karna kan nggak ada yang tahu ya kan. Masyarakat tetangga pun kan nggak ada yang tahu, jadi ya biasa aja kalau komunikasi dengan tetangga sama yang lainnya.….”
(Partisipan 8)
“….Kalau hambatan sih nggak ada, macam tak ada kejadian.
Karna kakak menutup status dari orang lain.….”
(Partisipan 9)
3. Mendapat dukungan dari pasangan
Dari hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap kesepuluh partisipan, ada satu subtema yang didapatkan yaitu dukungan emosional suami.
a. Dukungan emosional dari suami
Tujuh dari sepuluh partisipan mengatakan bahwa suami mereka menerima kondisi dan selalu memberikan semangat pada ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS.Partisipan mengatakan bahwa ada semangat untuk tetap sehat dengan menjaga pola hidup yang sehat. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan dibawah ini:
“…Ia. Suami selalu mendukung kakak selalu nyemangatin kakak…”
(Partisipan 1)
“….Yaa suami sama keluarga selalu kasih semangat sama kami, ada juga yang kasih uang untuk berobat.….”
(Partisipan 2)
“….Ia, suami saya lah yang selalu memberi dukungan, semangat dan motivasi agar tetap hidup sehat…”
(Partisipan 4)
“…Ialah. Suami selalu memberi semangat, keluarga dari suami, kakak saya juga. Keluarga saya juga mendukung, tapi dia nggak tahu status kakak dukungannya ya karna tahu kakak kena lambung kronis ini tadi…”
(Partisipan 5)
“….Suami tahu status ku. Dari awal aku nikah sama dia dia tahu statusku, aku bilang sama dia kalau aku bukan hanya janda aku punya status yang lain, apa kata dia, Aku terinfeksi virus HIV/AIDS, jadi kenapa penyakit itu diobati bukanditakuti.
Jawaban dia itulah yang buat aku tambah semangat.….”
(Partisipan 7)
“…Ia. Suami kakak selalu mendukung kakak nyemangatin kakak…”
(Partisipan 8)
“…Ia. Suami selalu mendukung kakak selalu nyemangatin kakak…”
(Partisipan
10)
4. Melakukan persalinan dan perawatan ibu dan janin
Dari hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap kesepuluh partisipan didapatkan bahwa ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS melakukan program untuk persalinan dan perawatan janin yang dikandungnya.Terdiri dari tiga subtema yaitu menggunakan alat pengaman, melakukan program kelahiran dengan persalinan ceasar dan tidak memberikan ASI pada bayi yang akan lahir.
a. Menggunakan alat pengaman saat berhubungan
Enam dari sepuluh partisipan mengatakan bahwa mereka selalu menggunakan kondom saat berhubungan, hal ini disebabkan karena mencegah tertular HIV/AIDS. Berikut pernyataan partisipan:
“….Karna walaupun kami sama-sama ODHA, kita tetep kalau campur itu pake kondom untuk mencegah.….”
(Partisipan 2)
“….Pakai kondom selalu, alasanku karna ku bilang aku nggak mau pake KB suntik, kalo KB pil obat gitu aku nggak mau ku bilang, kenapa karna itu mempengaruhi diriku sendiri badanku besar, nafsu makanku berkurang dan mau juga bau kelaminnya aku nggak mau ku bilang. ….”
(Partisipan 6)
“…Pake, kalau kondom itu kita selalu pake. Masa dia udah nerima
(Partisipan 7)
“…Ya tapi tetep aja kalo berhubungan selamanya pake alat kondom itu. Tapi pas kedua ini nggak pake ya makanya ini hamil lagi, pas di ini lho aku kok telat 2 bulan udah nggak halangan gitu, rupanya cek hamil lagi…”
(Partisipan 8)
“…Ia. Kakak bilang sama dia kalo main pake kondom, dia sempet nanya kenapa, ya kakak bilanglah perkara dia kakak jadi kayak gini…”
(Partisipan 9)
“….Kami selalu pake kondom, walaupun kami sama-sama positif, kita kan nggak tahu virus siapa yang ganas ya kan.….”
(Partisipan 10)
b. Menentukan program kelahiran dengan persalinan ceasar
Lima dari sepuluh partisipan mengatakan bahwa mereka menentukan program persalinan ceasar agar janin tidak tertular HIV/AIDS. Berikut pernyataan partisipan:
“….Setelah melahirkan, nantinya dia juga di berikan profilaksis selama 6 minggu secara teratur. Karna katanya imun ibu akan ikut ke bayi nantinya. Jadi untuk membunuh imun dari ibu ke bayinya nanti ya itulah dikasih profilaksis, setelah 6 minggu nanti baru di imunisasi.….”
(Partisipan 2)
“…Perkembangannya justru cepat. Persalinannya juga persalinan ceasar. Operasinya di RS Haji di rujuk kesana karena nggak boleh sembarangan RS, karna alat-alatnya itu kan takut menular ke orang lain…”
(Partisipan 3)
“….Persalinannya operasi ceasar biar nggak nular nantinya, terus
mana pun caranya kita usahain nantinya anak jangan sampe nular penting udah usaha, semua kita serahkan sama Allah.….”
(Partisipan 7)
“….Ialah, kalau anak yang kedua ini persalinannya ceasar biar nggak nular nantinya.….”
(Partisipan 8)
“…Kalau ini nanti persalinannya ceasar ajalah…”
(Partisipan 9) c. Tidak memberikan ASI pada bayi yang akan lahir
Lima dari sepuluh partisipan mengatakan bahwa setelah kelahiran bayinya nanti, mereka akan memberikan susu formula untuk mencegah agar bayinya tidak tertularHIV/AIDS. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan di bawah ini:
“…ASInya nggak bisa keluar harus dikasih susu formula, paling gitu ajalah nanti di diskusikan ke dokternya…”
(Partisipan 5)
“…Nggak dikasih ASI biar dokter aja yang jelaskan jadi suami pun nggak curiga…”
(Partisipan 6) “….Terus di kasih susu formula aja biar nggak nular ya kan.
Pokoknya kayak mana pun caranya kita usahain nantinya anak jangan sampe nular penting udah usaha, semua kita serahkan sama Allah.…”
(Partisipan 7)
“….Terus nanti lahir dia nggak mau kasih ASI karna takut nanti menular. ….”
(Partisipan 9)
“….Terus dikasih susu formula aja, karna kalo di kasih ASI takut anaknya nular kan kasian anaknya….”
(Partisipan
Tabel 4.1.2Matriks Analisa Data
Pengalaman Ibu Hamil dengan Kondisi HIV/AIDS di Kota Medan
Tema 4: Melakukan persiapan dan perawatan ibu dan janin Sub Tema:
1. Menggunakan alat pengaman saat berhubungan
2. Menentukan program kelahiran dengan persalinan
ceasar
3. Tidak memberikan ASI pada bayi yang akan lahir
Tema 1: Mengalami perubahan fisik dan psikologis Sub Tema:
1. Perubahan fisik
2. Perubahan psikologis
Kategori :
a. Lemas dan mudah lelah
b. Keterbatasan
melakukan aktivitas sehari-hari
a. Stress b. Pasrah c. Takut
Tema 2: Merahasiakan status sebagai penderita HIV Sub Tema:
1. Menyembunyikan status dari keluarga
2. Menyembunyikan status dari lingkungan
Tema 3: Mendapat dukungan dari pasangan Sub Tema:
1. Dukungan emosional dari suami
4.2 Pembahasan
4.2.1 Interpretasi dan Diskusi Hasil
Bagian ini akan diuraikan tentang pembahasan hasil penelitian dengan konsep atau teori yang ada, perbandingan dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya berhubungan dengan pengalaman ibu hamil dengan kondisi HIV/AIDS di kota Medan. Dalam bagian ini akan dibahas mengenai 4 tema yang ditemukan dari hasil penelitian meliputi: (1) mengalami perubahan fisik dan psikologis (2) merahasiakan status sebagai penderita HIV (3) mendapat dukungan dari pasangan (4) melakukan persiapan dan perawatan ibu dan janin.
1. Mengalami perubahan fisik dan psikologis a. Perubahan fisik
Dari hasil analisa data partisipan didapatkan bahwa partsipan mengalami perubahan pada tubuhnya, seperti mudah lemas, kondisi cepat drop, cepat capek dan lelah. Aktivitas partisipan sangat terbatas dikarenakan sistem kekebalan tubuh sudah menurun tidak seperti orang lain sehingga partisipan tidak bisa bekerja terlalu berat. Hal ini berkaitan dengan usia partisipan mempengaruhi perubahan fisik pada tubuh dan usia kehamilan diatas 35tahun. Pada perempuan dengan HIV/AIDS menimbulkan berbagai perubahan fisik yang terjadi seperti kelemahan atau rasa capek. Kelemahan ini semakin bertambah dengan adanya peran ganda sebagai ibu, istri dan dirinya sendiri yang harus merawat anaknya dan kondisi sakitnya.Hal ini berdampak pada keterbatasannya dalam melakukan peran tersebut yang dinyatakan oleh responden dengan mengeluh cape dengan berbagai peran yang harus dijalankannya.Menurut Jackson (1999) terjadi perubahan peran