Efektifitas Penggunaan Media Audio Visual ( Video Kosakata ) Terhadap Penguasaan Kosakata Bahasa Jepang di SMA Negeri 4 Bojonegoro Tahun 2015
Teks penuh
(2) EFEKTIFITAS PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL ( VIDEO KOSAKATA ) TERHADAP PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA JEPANG DI SMA NEGERI 4 BOJONEGORO TAHUN 2015. SKRIPSI. Diajukan Kepada Universitas Brawijaya untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan. oleh : Itsna Novita Rahmawati 115110601111015. Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya 2015. 2.
(3) PERNYATAAN KEASLIAN. Dengan ini saya: Nama. : Itsna Novita Rahmawati. NIM. : 115110601111015. Program Studi : S1 Pendidikan Bahasa Jepang. Menyatakan bahwa: 1. Skripsi ini adalah benar-benar karya saya, bukan merupakan jiplakan dari karya orang lain, dan belum pernah digunakan sebagai syarat mendapatkan gelar kesarjanaan dari perguruan tinggi manapun. 2. Jika dikemudian hari ditemukan bahwa skripsi ini merupakan jiplakan, saya bersedia menanggung segala konsekuensi hukum yang diberikan.. Malang, Materai. (Itsna Novita Rahmawati) NIM. 115110601111015. 3.
(4) LEMBAR PERSETUJUAN. Dengan ini menyatakan bahwa skripsi Sarjana atas nama Itsna Novita Rahmawati telah disetujui oleh pembimbing untuk diujikan.. Malang, Pembimbing I. Ulfah Sutiyarti, M. Pd NIP. 740319 12 2 0036. 4.
(5) LEMBAR PENGESAHAN. Dengan ini menyatakan bahwa skripsi Sarjana atas nama Itsna Novita Rahmawati telah disetujui oleh Dewan Penguji sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana.. Penguji. Febi Ariani Saragih, M.Pd NIP. 740207 12 2 0037. Pembimbing I. Ulfah Sutiyarti, M.Pd NIP. 740319 12 2 0036. Mengetahui, Ketua Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Jepang. Mengetahui, Pembantu Dekan Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra. Ulfah Sutiyarti, M.Pd NIP. 740319 12 2 0036. Syariful Muttaqin, M.A NIP. 19751101 200312 1 001. 5.
(6) KATA PENGANTAR. Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa karena berkat rahmad-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Efektifitas Penggunaan Media Audio Visual ( Video Kosakata ) Terhadap Penguasaan Kosakata Bahasa Jepang di SMA Negeri 4 Bojonegoro Tahun 2015”. Penulisan skripsi ini sebagai persyaratan dalam mendapatkan gelar Sarjana S1 Pendidikan Bahasa Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya. Keberhasilan penulis tidak terlepas dari rangkaian usaha serta referensi yang mendukung dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis dengan segala kerendahan hati menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam kelancaran penyelesaian skripsi ini. Ucapan terima kasih diberikan kepada: 1. Bapak Prof. Ir. Ratya Anindita, MS, Ph.D. selaku Dekan FIB Universitas Brawijaya 2. Ibu Ulfah Sutiyarti, M. Pd. Selaku Pembimbing dan Ketua Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Brawijaya dan yang telah memberikan masukan, bimbingan, dan saran sehingga skripsi ini dapat penulis selesaikan. 3. Semua dosen S1 Pendidikan Bahasa Jepang yang telah memberikan ilmunya dengan ikhlas, dan khususnya dosen penguji, Ibu Febi Ariani Saragih, M.Pd. yang telah memberikan banyak masukkan yang sangat bermanfaat dalam penulisan skripsi ini.. 6.
(7) 4. Kedua orang tua yaitu Bapak Suwarto dan Ibu Indrayati dan seluruh keluarga saya yang senantiasa memberikan doa dan dukungan moral dan materil untuk penulis dalam menyelesaikan pendidikannya. 5. Guru Pembimbing Dra. Rarin Nuridarjanti, S.Pd. dan seluruh siswa kelas X IIS SMAN 4 Bojonegoro, yang telah banyak membantu penulis dalam penelitian skripsi. 6. Sahabat tercinta Puti, Regina, Ayu, Nike, Chacha dan Astha yang telah memberikan banyak bantuan dan dukungan yang tak ternilai dalam pengerjaan skripsi. Serta semua teman “NIKOGA 2011” yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. 7. Penyemangat sepanjang masa Lee Hong Gi, terima kasih banyak atas dukungan dan motivasi yang diberikan tiada henti selama penulisan skripsi.. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dan banyak kekurangan. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka penulis bersedia menerima kritik dan saran guna melengkapi skripsi ini agar menjadi lebih baik. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.. Malang,. Penulis. 7.
(8) ABSTRAK. Novita, Itsna. 2015. Efektifitas Penggunaan Media Audio Visual ( Video Kosakata ) Terhadap Penguasaan Kosakata Bahasa Jepang di SMA Negeri 4 Bojonegoro Tahun 2015. Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang, Universitas Brawijaya. Pembimbing : (1) Ulfah Sutiyarti, M.Pd. Kata Kunci : Media Pembelajaran, Audio Visual, Kosakata Bahasa Jepang Di dunia pendidikan yang sedang berkembang pesat ini, banyak sekolahsekolah yang memilih bahasa Jepang sebagai bahasa Asing. Dalam mempelajari bahasa Jepang, hal yang harus diperhatikan adalah penguasaan kosakata. Sebagian besar penguasaan kosakata yang dimiliki siswa di sekolah masih sangat kurang, karena kurang menariknya media yang digunakan oleh guru. Salah satu media yang dapat digunakan dalam pembelajaran kosakata adalah media audio visual. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu bagaimana efektifitas media audio visual dalam penguasaan kosakata bahasa Jepang dan bagaimana prestasi belajar siswa dalam pembelajaran bahasa Jepang setelah menggunakan media audio visual. Tujuannya adalah untuk mengetahui efektifitas media dan ada tidaknya peningkatan prestasi siswa setelah belajar dengan menggunkanan media audio visual. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian one group pretest-posttest. Instrumen yang digunakan adalah angket untuk mencari efektifitas media dan tes untuk mengetahui prestasi siswa. Dari jumlah populasi sebanyak 117 siswa, sampel yang digunakan adalah sebanyak 27 siswa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa media audio visual terbukti efektif. Ini dapat dilihat dari hasil angket yang mencapai kriteria sangat kuat yaitu sebesar 90,05%. Selain itu, terjadi peningkatan prestasi belajar siswa setelah menggunakan media audio visual sebagai media pembelajaran kosakata. Peningkatan ini dapat dilihat dari rata-rata nilai pretest sebesar 61,63 menjadi 88,89.. i.
(9) 要旨. ラーフマワテ・ツナノヴゖタ.2015. 2015 年のボジョネゴロ第四高 等学校における日本語の単語の理解力に対しての視聴覚メデゖゕ(単語の ビデオ) の使用の有効性.ブラウゖジャヤ大学日本語教育学科. 指導教官 :ウルフゔ・ステゖヤルテゖ キーワード :学習メデゖゕ、視聴覚、日本語の単語 急成長している教育の世界では、多くの学校が外国語として日本語 を選択している。日本語を学ぶことでは、視覚される必要があることは単 語の理解力である。教師の使用するメデゖゕがあんまり面白くないの為に、 主として学生がもっている単語の理解力は以前平均以上である。単語の学 習における一つの使えるメデゖゕは視聴覚メデゖゕである。研究の問題は 日本語の単語の理解力における視聴覚メデゖゕの有効性で、視聴覚を使用 するのあとでの日本語の学習における学生の達成である。目的はメデゖゕ の有効性を分かること、視聴覚を使用することで勉強するのあとでの学生 の達成高度化の有無ことである。本研究は研究設計「one group pretestposttest」を使用することによっての定性研究である。使用する手法はゕン ケートとのテストである。ゕンケートはメデゖゕの有効性を分かるに使用 し、テストは学生の達成を分かるに使用される。117 人の学生からでは、 使用する試料は 27 人の学生である。研究の結果は視聴覚メデゖゕは有効. ii.
(10) を表す。この有効性は強力な基準を達したゕンケートの結果から見ること ができ、90.05%である。更に、単語の学習メデゖゕとしての視聴覚メデ ゖゕを使用するのあとで、学生の学習達成が上達した。この上達はプリテ ストの平均成績から見ることができ、61.63 点から 88.89 点になる。. iii.
(11) DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i PERNYATAAN KEASLIAN ....................................................................... ii HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................................... iii HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iv KATA PENGANTAR ................................................................................... v ABSTRAK (BAHASA INDONESIA) ......................................................... vii ABSTRAK (BAHASA JEPANG) ................................................................ viii DAFTAR ISI .................................................................................................. x DAFTAR TABEL ......................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xiii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 5 1.3 Tujuan .................................................................................................. 6 1.4 Manfaat ................................................................................................ 6 1.5 Pembatasan Masalah ............................................................................ 7 1.6 Hipotesis Penelitian .............................................................................. 9 1.7 Definisi Operasional ............................................................................. 9 BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Pengertian Media Pembelajaran ........................................................... 10 2.2 Media Audio Visual .............................................................................. 15 2.3 Efektifitas Media .................................................................................. 18 2.4 Prestasi Belajar ..................................................................................... 19 2.5 Kosakata ............................................................................................... 21 2.6 Pembelajaran Kosakata ........................................................................ 26 2.7 Penelitian Sebelumnya ......................................................................... 29 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ..................................................................................... 30 3.2 Populasi dan Sampel ............................................................................ 31 3.3 Instrumen Penelitian ............................................................................. 34 3.4 Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 37 3.5 Teknik Analisis Data ............................................................................ 41 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Temuan ................................................................................................. 44 4.2 Pembahasan .......................................................................................... 50 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 59 5.2 Saran ..................................................................................................... 60. iv.
(12) DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 61 LAMPIRAN ................................................................................................... 62. v.
(13) DAFTAR TABEL. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.. Pengelompokkan Media ....... ............................................................... 14 Kriteria Keberhasilan ............................................................................21 Jumlah Siswa Kelas X IIS .................................................................... 31 Nilai UTS siswa ....................................................................................33 Kisi-kisi Angket ................................................................................... 35 Kisi-kisi Soal ........................ ............................................................... 36 Jadwal Pelaksanaan Penelitian ............................................................ 40 Kriteria Interpretasi Skor Angket ......................................................... 42 Hasil Presentase Angket....................................................................... 44 Daftar Nilai Pretest dan Posttest .......................................................... 49 Frekuensi Nilai Pretest ........................................................................ 54 Frekuensi Nilai Posttest ........................................................................55. vi.
(14) DAFTAR LAMPIRAN. Lampiran 1 : Contoh Angket .......................................................... 63 Lampiran 2 : Contoh Soal ............................................................... 64 Lampiran 3 : Hasil Angket .............................................................. 67 Lampiran 4 : Rincian Perhitungan Angket ..................................... 72 Lampiran 5 : Hasil Pre-test ............................................................. 74 Lampiran 6 : Hasil Post-test ............................................................ 79 Lampiran 7 : Hasil Uji Validitas ..................................................... 84 Lampiran 8 : Hasil Uji Reliabilitas ................................................. 85 Lampiran 9 : Lembar Validasi Instrumen ....................................... 86 Lampiran 10 :Hasil Uji Normalitas ................................................. 87 Lampiran 11 : Hasil Uji t ................................................................ 88 Lampiran 12 : Tabel Korelasi ......................................................... 89 Lampiran 13 : Tabel Distribusi r tabel ........................................... 90 Lampiran 14 : Surat Pengantar Penelitian ....................................... 91 Lampiran 15 : Surat Keterangan Penelitian .................................... 92 Lampiran 16 : Foto Kegiatan .......................................................... 93 Lampiran 17 : Berita Acara Bimbingan Skripsi .............................. 94 Lampiran 18 : Curiculum Vitae ...................................................... 96. vii.
(15) BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar belakang Dunia pendidikan sekarang telah berkembang pesat. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya sekolah-sekolah menengah atas memilih bahasa Jepang sebagai bahasa asing dalam muatan lokal. Dengan didukung teknologi yang semakin. berkembang. pula,. dunia. pendidikan. dimungkinkan. dapat. mempersiapkan sumber daya manusia yang siap bersaing di era globalisasi. Perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan menuntut peserta didik Sekolah Menengah Atas tidak hanya mampu menguasai bahasa Indonesia melainkan juga dituntut untuk belajar mengembangkan bahasa asing, salah satunya adalah bahasa Jepang. Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa asing di Indonesia adalah melalui proses belajar mengajar. Pada. hakikatnya. pembelajaran. bahasa. adalah. suatu. kegiatan. berkomunikasi. Dalam berkomunikasi manusia menggunakan bahasa lisan atau tulisan. Sehingga dalam berbahasa kita perlu merangkai kata-kata yang baik supaya terbentuk makna yang baik pula. Oleh karena itu, tujuan utama pembelajaran bahasa Jepang di tingkat Sekolah Menengah Atas adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang dengan benar baik secara lisan maupun tulisan. Meskipun tidak secara langsung bisa mahir dalam menggunakan bahasa Jepang, tetapi dengan. 1.
(16) belajar bahasa Jepang di sekolah siswa akan mengetahui dasar-dasar dalam belajar bahasa Jepang. Dalam proses pembelajaran bahasa, kosakata memiliki peran penting, karena penguasaan kosakata sangat berpengaruh terhadap keterampilan berbahasa. Seperti yang dikemukakan oleh Tarigan (1986:2) bahwa kualitas keterampilan berbahasa seseorang jelas bergantung kepada kualitas dan kuantitas kosakata yang dimilikinya. Semakin banyak kosakata yang kita kuasai, maka semakin mudah pula kita memahami dan mengerti bahasa tersebut. Jadi semakin banyak kosakata yang dikuasai oleh siswa, maka siswa akan semakin mudah dalam menguasai bahasa tersebut. Pada umumnya, siswa-siswi yang baru memulai belajar bahasa Jepang sangat membutuhkan pengetahuan mengenai kosakata dasar dari bahasa Jepang itu sendiri. Karena pembelajaran dasar sangat penting bagi siswa, maka siswa diharuskan untuk bisa menguasai pembelajaran dasar secara mendalam. Penting di sini meliliki arti bahwa sebuah pelajaran dasar akan menjadi penunjang untuk pelajaran selanjutnya. Apabila pelajaran dasar sudah kita kuasai, maka untuk mempelajari pelajaran selanjutnya akan lebih mudah. Akan tetapi, terkadang siswa-siswa kurang memahami pelajaran dasar dari sebuah pelajaran bahasa Jepang. Misalnya seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kurangnya pemahaman kosakata. Kurangnya pemahaman kosakata. itu sendiri bisa disebabkan oleh beberapa faktor, baik internal. 2.
(17) maupun eksternal. Berdasarkan pengalaman peneliti pada saat belajar bahasa Jepang di tingkat SMA, sebagian besar kurangnya pemahaman kosakata ini dikarenakan oleh kurang menariknya metode yang digunakan oleh guru pada saat pembelajaran kosakata. Sistem belajar mengajar yang cenderung monotone, kurang variasi dan kurang menarik, selain itu pembelajaran kosakata dikelas yang selalu menggunakan media konvensional dapat menyebabkan siswa menjadi cepat bosan dan akhirnya siswa menjadi kurang memahami materi atau pelajaran yang telah disampaikan. Berdasarkan pengamatan peneliti di SMA Negeri 4 Bojonegoro pada saat (Praktik. Pengalaman. Lapangan),. guru. selalu. menggunakan. media. konvensional dalam pembelajaran kosakata. Media konvensional tersebut berupa buku dan papan tulis. Tidak ada media yang lebih menarik yang bisa digunakan, sehingga siswa merasa cepat bosan dan kurang termotivasi untuk mempelajari kosakata tersebut. Oleh karena itu, peneliti mencoba memberikan cara lain untuk pembelajaran kosakata bahasa Jepang. Banyak cara yang dilakukan untuk dapat menguasai bahasa Jepang dengan baik, yaitu melalui pendidikan formal maupun informal. Selain itu dengan semakin berkembangnya teknologi, untuk dapat mempelajari bahasa Jepang menjadi sangat mudah. Banyak media online maupun offline yang bisa digunakan untuk belajar bahasa Jepang. Semakin banyaknya media yang bisa digunakan dalam belajar bahasa, maka semakin mudah dalam menguasai bahasa tersebut.. 3.
(18) Salah satu media pembelajaran bahasa yang bisa digunakan yaitu media audio visual. Media audio visual sering disebut juga dengan video. “Audio visual adalah media instruksional modern yang sesuai dengan perkembangan zaman (kemajuan ilmu teknologi), meliputi media yang dapat dilihat dan didengar” (Rohani 1997:97-98). Jadi media audio visual adalah media perantara atau penggunaan dan penyerapan materi melalui pandangan dan pendengaran sehingga siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dengan adanya penggunaan media audio visual di kelas diharapkan dapat membantu proses pembelajaran bahasa Jepang supaya menjadi lebih efektif. Selain itu, penggunaan media audio visual diharapkan mampu meningkatkan keterampilan serta motivasi siswa dalam belajar bahasa Jepang, khususnya dalam mempelajari dan memahami kosakata dalam bahasa Jepang. Pada penelitian ini, peneliti akan meneliti kemampuan siswa SMA Negeri 4 Bojonegoro dalam menguasai kosakata bahasa Jepang. Pemilihan SMA Negeri 4 Bojonegoro sebagai tempat penelitian adalah berdasarkan pengalaman peneliti yang sebelumnya telah melaksanakan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) di sekolah tersebut, sehingga peneliti mengetahui kemampuan siswa khususnya kelas X IIS yang belajar bahasa Jepang. Di kelas X IIS ini siswa mendapatkan pelajaran bahasa Jepang untuk pertama kalinya, sehingga siswa dituntut untuk benar-benar dapat memahami pengetahuan dasar dalam bahasa Jepang. Berdasarkan pengalaman yang didapatkan oleh peneliti, siswa kelas X IIS SMA Negeri 4 Bojonegoro yang 4.
(19) sedang belajar bahasa Jepang, (1) siswa merasa kesulitan untuk menghafal kosakata baru karena sedikitnya pengetahuan bahasa Jepang yang mereka miliki; (2) siswa sering lupa dengan kosakata yang baru mereka pelajari; (3) siswa kurang termotivasi dalam belajar kosakata karena mereka lebih suka membaca kosakata dari pada menghafalnya. Dari beberapa masalah yang telah disebutkan di atas bisa menjadi penyebab mengapa siswa menjadi kurang menguasai materi bahasa Jepang yang telah diajarkan. Dari beberapa masalah diatas, peneliti tertarik untuk meneliti cara penguasaan kosakata dengan menggunakan media yang baru, yaitu media audio visual. Maka peneliti merealisasikan dalam sebuah penelitian yang berjudul “Efektifitas Penggunaan Media Audio Visual ( Video Kosakata ) Terhadap Penguasaan Kosakata Bahasa Jepang di SMA Negeri 4 Bojonegoro Tahun 2015”.. 1.2 Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana efektifitas media audio visual dalam penguasaan kosakata bahasa Jepang ? 2. Bagaimana prestasi belajar siswa dalam pembelajaran kosakata bahasa Jepang setelah menggunakan media audio visual ?. 5.
(20) 1.3 Tujuan 1. Tujuan Umum Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai penguasaan kosakata di Sekolah Menengah Atas melalui pembelajaran dengan menggunakan media audio visual agar diketahui sejauh mana media audio visual ini mampu memberikan peningkatan dalam penguasaan kosakata siswa. 2. Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus penelitian ini sebagai berikut : 1. Untuk mendeskripsikan efektifitas media audio visual dalam penguasaan kosakata bahasa Jepang. 2. Untuk mendeskripsikan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran kosakata bahasa Jepang setelah menggunakan media audio visual.. 1.4 Manfaat 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran dalam bidang pendidikan khususnya untuk pembelajaran kosakata dengan menggunakan media audio visual pada ilmu bahasa.. 6.
(21) 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapan dapat memberikan keuntungan bagi siswa, guru dan peneliti lainnya yang membahas hal serupa. Keuntungan tersebut seperti berikut : 1. Untuk siswa : penelitian ini diharapkan dapat membantu siswa dalam mempelajari kosakata bahasa Jepang dengan menggunakan media audio visual. Dengan media ini diharapkan dapat meningkatkan penguasaan kosakata dalam pelajaran bahasa Jepang. 2. Untuk guru : hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rangsangan untuk memperbaiki cara pengajaran yang berhubungan dengan penguasaan kosakata bahasa Jepang setelah mengetahui keunggulan dari media ini. 3. Untuk peneliti lainnya : penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi atau acuan dalam mengadakan penelitian yang berhubungan dengan pembelajaran dengan menggunakan media audio visual. 1.5 Pembatasan Masalah Untuk memudahkan arah dari penelitian maka masalah dalam penelitian ini dibatasi menjadi berikut : 1. Penelitian ini hanya dilakukan pada siswa kelas X IIS SMA Negeri 4 Bojonegoro.. 7.
(22) 2. Penelitian ini menggunakan buku Sakura 1 dan hanya dibatasi pada tiga tema yang sudah dipelajari oleh siswa kelas X IIS SMA Negeri 4 Bojonegoro, berikut tema dan daftar kosakatanya : a. Nihon-go de nan desuka ( Apa bahasa Jepangnya ). Daftar kosakata yang digunakan adalah sebagai berikut : がっこう (gakkou : sekolah), きょうしつ (kyoushitsu : ruang kelas), せんせい (sensei : guru), せ い と (seito : murid), え ん ぴ つ (enpitsu : pensil), け し ご む (keshigomu : penghapus), きょうかしょ (kyoukasho : buku pelajaran), こくばん(kokuban : papan tulis). b. Tesuto wa nan-youbi desuka ( Tesnya hari apa ). Daftar kosakata yang digunakan adalah sebagai berikut : にちようび (nichiyoubi : minggu), げつようび (getsuyoubi : senin), かようび (kayoubi : selasa), すいようび (suiyoubi : rabu), もくようび (mokuyoubi : kamis), きんようび (kinyoubi : jum‟at), どようび (doyoubi : sabtu) c.. Ayu-san no kazoku ( Keluarga Ayu ). Daftar kosakata yang digunakan adalah sebagai berikut : かぞく (kazoku : keluarga), おと うさん (otousan : ayah), おかあさん (okaasan : ibu), おにいさん (oniisan : kakak laki-laki), お ね え さ ん. (oneesan : kakak. perempuan), おとうとさん (otoutosan : adik laki-laki), いもうと さん (imouto : adik perempuan).. 8.
(23) 1.6 Hipotesis Penelitian 1. Media audio visual efektif sebagai media yang dapat digunakan dalam penguasaan kosakata bahasa Jepang. 2. Ada peningkatan prestasi belajar siswa setelah menggunakan media audio visual.. 1.7 Definisi Operasional 1. Efektifitas ialah sesuatu yang memiliki efek atau akibat. Efek yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengaruh dari penggunaan media pembelajaran terhadap penguasaan kosakata dalam bahasa Jepang. 2. Kosakata ialah komponen penyusun dari sebuah bahasa, tanpa ada kosakata bahasa tidak dapat digunakan. 3. Penguasaan kosakata ialah proses dan usaha siswa dalam meningkatkan kemampuan dan pengetahuan kosakata. 4. Media audio visual ialah sebuah media pembelajaran modern. yang. menggabungkan antara media audio (pendengaran) dan media visual (penglihatan).. 9.
(24) BAB II KAJIAN TEORI. 2.1 Pengertian Media Pembelajaran Pengertian media mengarah pada sesuatu yang mengantar atau meneruskan informasi atau pesan dari sumber menuju ke penerima pesan. Menurut Arsyad (2011:3) kata media berasal dari bahasa latin “medius” yang secara harafiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Dalam konteks dunia pendidikan, Gerlach & Ely (dalam Arsyad, 2011:3) mengungkapkan bahwa media secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Media pembelajaran adalah media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran, Arsyad (2011:4). Sedangkan menurut Rossi dan Breidle (dalam Sanjaya, 2008:204) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk tujuan pendidikan. Seperti radio, televisi, buku, koran majalah dan sebagainya jika digunakan dan diprogramkan untuk pendidikan, maka bisa disebut dengan media pembelajaran.. 10.
(25) Dari beberapa penjelasan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa media adalah alat untuk menyampaikan informasi kepada penerima dan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan perhatian agar terjadi komunikasi yang efektif dan efisien. Sedangkan media pembelajaran adalah media yang berisi program yang mengandung pesan seperti informasi tentang pendidikan. 1. Fungsi Media Pembelajaran Menurut Sanjaya (2008:208-210) media pembelajaran sebagai berikut : 1. Menangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu. 2. Memanipulasi Keadaan, Peristiwa, atau objek tertentu. 3. Menambah gairah dan motivasi belajar siswa. 4. Media pembelajaran memiliki nilai praktis sebagai berikut : a. Media dapat mengatasi keterbatasan pengalaman siswa. b. Media dapat mengatasi batas ruang kelas. c. Media dapat memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara peserta dengan lingkungannya. d. Media dapat menghasilkan keseragaman pengamatan. e. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar dan nyata.. 11.
(26) f. Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang peserta untuk belajar lebih baik. g. Media dapat membangkitkan keinginan dan minat baru. h. Media dapat mengontrol kecepatan belajar siswa. i. Media dapat memberikan pegalaman yang menyeluruh dari hal-hal yang konkret sampai yang abstrak. 2 Jenis-Jenis Media Pembelajaran Ada banyak jenis-jenis media pembelajaran yang bisa digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Leshin, Pollock, dan Reigeluth (dalam Arsyad, 2011:36) mengklasifikasikan media sebagai berikut : 1. Media berbasis manusia, seperti guru, instruktur, tutor. 2. Media berbasis cetak, seperti buku dan hand-out. 3. Media berbasis visual, seperti gambar, foto, peta. 4. Media berbasis audio visual, seperti video, film, televisi. 5. Media berbasis komputer, seperti video interaktif dan tutorial oleh komputer. Sedangkan. Sanjaya. (2008:211-212). mengklasifikasikan. berdasarkan sifat, jangkauan, dan teknik pemakaiannya.. 12. media.
(27) 1. Dilihat dari sifatnya, media dapat dibagi menjadi : a. Media auditif, yaitu media yang hanya dapat di dengar saja, seperti radio dan perekam suara. b. Media visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat saja, seperti gambar dan dan foto c. Media audio visual, yaitu media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang dapat dilihat, seperti video dan televisi 2. Dilihat dari kemampuan jangkauannya, media dapat dibagi menjadi : a. Media yang memiliki daya liput yang luas dan serentak, seperi televisi dan radio. b. Media yang mempunyai daya liput yang terbatas ruang dan waktu, seperti film dan video. 3. Dilihat dari cara atau teknik pemakaiannya, media didapat dibagi menjadi : a. Media yang diproyeksikan, seperti film dan slide. b. Media yang tidak diproyeksikan, seperti gambar dan radio. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran dapat diklasifikasikan dan dirangkum menjadi 3 bagian,. 13.
(28) yaitu : (1) Media Audio yaitu media yang dapat menghasilkan suara atau bunyi, (2) Media Visual yaitu media yang dapat memperlihatkan bentuk, (3) Media Audio Visual yaitu media yang dapat menghasilkan bentuk dan suara sekaligus. Berikut adalah tabel pengelompokan jenis-jenis media diatas : Tabel 2.1 Pengelompokkan Media. Bentuk Media No.. Jenis Media. 1.. Media. - Media auditif. Audio. - Media yang. Arsyad ( 2011 ). Sanjaya ( 2008 ). diproyeksikan 2.. Media. - Media berbasis cetak. - Media visual. Visual. - Media berbasis visual. - Media yang tidak diproyeksikan. 3.. Media. - Media berbasis manusia. - Media audio visual. Audio. - Media berbasis audio. - Media yang. visual. visual. diproyeksikan. - Media berbasis komputer. 14.
(29) 2.2 Media Audio visual Menurut Hamdani (2011:249) media audio visual merupakan media kombinasi dari media audio dan media visual, atau disebut juga dengan media pandang-dengar. Media audio visual mengandung unsur suara dan juga memiliki unsur gambar yang bisa dilihat. Oleh karena itu, media audio visual mempunyai kemampuan yang lebih karena mengandalkan dua indera sekaligus, yaitu indera pendengaran dan indera penglihatan. Contoh dari media audio visual adalah film, video, televisi dan program slide. Media audio visual disampaikan dengan cara menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronik untuk menyampaikan pesan-pesan audio dan visualnya. Perangkat keras yang digunakan pada saat pengajaran dengan mengguanakan media audio visual adalah proyektor film, tape recorder, dan proyektor visual yang lebar. Jadi, pengajaran melalui media audio visual adalah produksi dan penggunaan materi yang penyerapannya melalui pandangan dan pendengaran serta tidak seluruhnya tergantung kepada pemahaman kata atau simbol-simbol yang serupa (Arsyad, 2011:30-31). Arsyad juga menjelaskan bahwa media audio visual memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Bersifat linear 2. Menyajikan visual yang dinamis 3. Digunakan dengan cara yang telah ditetapkan sebelumnya oleh perancang/pembuatnya 15.
(30) 4. Merupakan representasi fisik dari gagasan ril atau gagasan abstrak 5. Dikembangkan menurut prinsip psikologis, behaviorisme dan kognitif 6. Berorientasi kepada guru dengan tingkat pelibatan interaktif murid yang rendah. Menurut Miarso (1986:34) media audio visual dibagi lagi kedalam dua kategori, yaitu : 1. Audio visual diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam. Contohnya adalah film bingkai suara (sound slide). 2. Audio visual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak. Contohnya adalah film, video dan televisi. Pada penelitian ini media yang digunakan adalah media audio visual berupa video kosakata. Arsyad (2011:49) menyatakan bahwa video merupakan gambar-gambar dalam frame, dimana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar hidup. Jadi video merupakan salah satu jenis media audio visual yang dapat menggambarkan suatu objek yang bergerak bersama-sama dengan suara alamiah atau suara yang sesuai. Kemampuan video melukiskan gambar hidup dan suara memberikan daya tarik tersendiri. Video dapat menyajikan informasi, memaparkan proses, menjelaskan konsep-konsep yang rumit, mengajarkan keterampilan, menyingkat atau memperpanjang waktu, dan mempengaruhi sikap.. 16.
(31) Jenis video yang digunakan adalah video pembelajaran kosakata yang di dalamnya berisikan kosakata yang dilengkapi dengan gambar, suara dan penulisan kosakata itu sendiri dalam bahasa Jepang ( huruf kanji dan hiragana ) dan artinya dalam bahasa Inggris. Video tersebut di download dari situs youtube dengan nama pengguna yaitu punipunijapan. Sebagian besar video kosakata bahasa Jepang yang di upload di situs youtube menggunakan bahasa Inggris sebagai terjemahannya, hal ini dikarenakan bahasa Inggris merupakan bahasa Internasional, sehingga video tersebut daharapkan dapat mudah dimengerti oleh viewers di seluruh dunia. Arti kosakata yang menggunakan bahasa Inggris tidak akan menjadi masalah bagi siswa, karena kosakata yang digunakan adalah kosakata dasar yang sudah siswa pelajari dalam bahasa Inggis pada sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama. Suara yang terdapat pada video tersebut adalah cara pengucapan kosakata yang diucapkan langsung oleh orang Jepang asli, sehingga siswa yang mempelajari kosakata dengan menggunakan video tersebut bisa mendapatkan tiga keuntungan sekaligus. Keuntungan yang pertama adalah siswa dapat belajar kosakata dengan media yang menarik. Kedua, siswa dapat mempelajari pengucapan kosakata dengan benar. Ketiga, siswa dapat belajar kosakata sekaligus belajar penulisan kosakata tersebut dengan menggunakan huruf kanji.. 17.
(32) 2.3 Efektifitas Media Dalam setiap pengajaran, keefektifan yang ditunjukan pada tujuan pembelajaran sangat diperlukan. Guru yang merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam meningkatkan keefektifan belajar harus memilih model, metode, dan media pembelajaran yang sesuai, serta dapat mendukung tercapainya hasil yang diharapkan. Dalam KBBI (2008:352) efektifitas berasal dari kata efektif yang berarti ada efeknya (pengaruh, akibatnya). Maka efektifitas disini bisa diartikan menjadi seberapa besar tingkat keberhasilan yang dapat diraih atau dicapai dari sebuah cara atau usaha. Cara atau usaha yang dimaksud adalah proses pembelajaran dengan menggunakan alat bantu yaitu sebuah media audio visual yang berupa video kosakata. Menurut Hamalik (2002:171) pembelajaran dikatakan efektif jika memberikan kesempatan belajar sendiri dan beraktifitas seluas-luasnya kepada siswa untuk belajar. Dengan menyediakan kesempatan belajar sendiri dan beraktifitas seluas-luasnya diharapkan siswa dapat mengembangkan potensinya dengan baik. Jadi efektifitas media merupakan terlaksananya semua tujuan pembelajaran yang menggunakan media sesuai dengan waktu yang ditentukan. Tujuan pembelajaran dapat terlaksana karena partisipasi dan keaktifan dari pembelajar dan keefektifan suatu media pembelajaran. Menilai keefektifan media pembelajaran penting bagi seorang guru agar bisa menentukan apakah penggunaan media benar-benar diperlukan atau tidak. Menurut Sudjana dan Rivai (2010:4–5) dalam memilih media untuk. 18.
(33) kepentingan pengajaran sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut : 1. Ketepatannya dengan tujuan pengajaran. 2. Dukungan terhadap isi bahan pelajaran. 3. Kemudahan memperoleh media. 4. Keterampilan dalam menggunakannya. 5. Tersedia waktu untuk menggunakannya. 6. Sesuai dengan taraf berpikir siswa. Dengan kriteria pemilihan media di atas, para pengajar dapat lebih mudah menggunakan media mana yang dianggap tepat untuk membantu dan mempemudah tugas-tugasnya sebagai pengajar. Pemilihan media audio visual diharapkan mampu mempermudah para pengajar dalam menjelaskan bahan pengajaran. Jadi sebuah media dikatakan efektif apabila hasil belajar siswa secara statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pemahaman awal dengan pemahaman setelah pembelajaran (treatment).. 2.4 Prestasi Belajar Prestasi belajar adalah sebuah hal yang sangat bermanfaat, baik untuk guru, siswa maupun orang tua siswa itu sendiri. Prestasi belajar akan menjadi tolak ukur seorang guru untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan. 19.
(34) pembelajaran yang sudah dilakukan terhadap siswa. Bagi siswa prestasi belajar dapat memberikan gambaran sejauh mana kemampuan yang telah dicapai dalam sebuah pembelajaran. Sedangkan bagi orang tua siswa dapat mengetahui tingkat keberhasilan putra-putrinya di sekolah, sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan untuk memberikan dukungan kepada anaknya di rumah. Menurut KBBI (2008:1101) prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran. Sedangkan menurut Nawawi (1981:100) prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan murid untuk mempelajari materi pelajaran disekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil usaha siswa yang dapat dicapai berupa penguasan pengetahuan, kemampuan kebiasaan dan keterampilan serta sikap setelah mengikuti proses pembelajaran yang dapat dibuktikan dengan hasil tes. Prestasi belajar merupakan suatu hal yang dibutuhkan siswa untuk mengetahui kemampuan yang diperolehnya dari suatu kegiatan yang disebut belajar. Prestasi belajar yang dimaksud di sini adalah kemampuan siswa dalam meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Jepang.. 20.
(35) Sebuah prestasi belajar dikatakan meningkat apabila indikator belajar meningkat. Indikator prestasi belajar meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Peningkatan prestasi belajar pada aspek kognitif dilihat dari peningkatan dari nilai pretest dan posttest. Pembelajaran dikatakan tuntas apabila 75% dari jumlah siswa memperoleh nilai sesuai dengan KKM yaitu 75 dalam peningkatan hasil belajar. Peningkatan prestasi belajar pada aspek afektif dapat diamati dari keaktifan dan respon siswa pada saat pembelajaran kosakata. Peningkatan prestasi pada aspek psikmotorik dapat dilihat dari kesiapan siswa saat akan memulai pelajaran, seperti menyiapkan media pembelajaran yang akan digunakan. Taraf peningkatan prestasi akan ditentukan berdasarkan tabel kriteria berikut : Tabel 2.2 Kriteria Keberhasilan No 1 2 3 4 5. Interval 91 – 100 81 – 90 71 – 80 61 – 70 < 60. Kriteria Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Sangat kurang. Nilai Huruf A B C D E (Sudjana, 2010:110). 2.5 Kosakata Kata merupakan satuan unit terkecil dalam sebuah kalimat. Menurut Keraf (1984:21), setiap kata mengungkapkan sebuah gagasan atau ide. Atau dengan kata lain kata-kata adalah alat penyalur gagasan yang akan 21.
(36) disampaikan kepada orang lain. Mereka yang mempunyai banyak gagasan, atau dengan kata lain, mereka yang luas kosakatanya dapat dengan mudah dan lancar mengadakan komunikasi dengan orang lain. Sedangkan menurut kamus linguistik kosakata disebut juga dengan istilah leksikon. Menurut Kridalaksana (2008:142) leksikon adalah komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa. Berdasarkan KBBI (2008:736) kosakata adalah kata atau frasa yang digunakan sebagai istilah dalam bidang tertentu. Sedangkan menurut Tarigan (1986:197) kosakata adalah kata-kata yang merupakan perbendaharaan suatu bahasa. Kosakata dalam bahasa Jepang disebut dengan goi (語彙). Sudjianto dan Dahidi (2004:97) menjelaskan bahwa goi merupakan salah satu aspek kebahasaaan yang harus diperhatikan dan dikuasai guna menunjang kelancaran berkomunikasi dengan bahasa Jepang yang baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kosakata adalah komponen penyusun dari sebuah bahasa, tanpa ada kosakata bahasa tidak bisa digunakan. Menurut karakteristik gramatikalnya, goi dapat dibagi menjadi berikut : 1. Dooshi (動詞) atau kata kerja adalah salah satu kelas kata yang dipakai untuk menyatakan aktivitas, keberadaan, atau keadaan sesuatu. (Sudjianto, 2004:149). Contohnya, neru (tidur), shimeru (menutup).. 22.
(37) 2. i-keiyoushi (ー形容詞) atau kata sifat – i, menurut Kitahara (dalam Sudjianto, 2004:154) yaitu kelas kata yang menyatakan sifat atau keadaan tertentu, dengan sendirinya dapat menjadi predikat dan dapat mengalami perubahan bentuk, setiap kata yang termasuk i-keiyoushi selalu diakhiri silabel /i/ dalam bentuk kamusnya, dapat menjadi predikat, dan dapat menjadi kata keterangan yang menerangkan kata lain dalam suatu kalimat. Contohnya, nagai (panjang), itai (sakit). 3. Na-keiyoushi (なー形容詞) atau kata sifat – na menurut Iwabuchi (dalam Sudjianto, 2004:155) na-keiyoushi „kata sifat-na‟ yaitu kelas kata yang dengan sendirinya dapat membentuk sebuah bunsetsu ( 文 節 ), dapat berubah bentuknya, dan bentuk shuushikei berakhir dengan de atau desu. Oleh karena perubahannya mirip dengan doushi sedangkan artinya mirip dengan keiyoushi , maka kelas kata ini diberi nama keiyoudooshi (形容動 詞 ). Selain menjadi predikat, na- keiyoushi pun dapat menjadi kata keterangan yang menerangkan kata lain pada suatu kalimat. Contohnya, shizuka (tenang), hansamu (tampan). 4. Meishi (名詞) atau kata benda menurut Hirai (dalam Sudjianto, 2004:156) adalah kata-kata yang menyatakan nama suatu perkara, benda, barang, kejadian atau peristiwa, keadaan, dan sebagainya yang tidak mengalami konjugasi. Contohnya, kuruma (mobil), tomodachi ( teman). 23.
(38) 5. Rentaishi (連体詞) atau kata penjelas nomina menurut Hirai Masao (dalam Sudjianto, 2004:162) adalah kelompok jiritsugo tidak mengenal konjugasi dan tidak dapat menjadi subjek dan digunakan hanya untuk menerangkan nomina. Contohnya, kono (ini), ookina (besar) 6. Fukushi (副詞) atau kata keterangan menurut Matsuoka (dalam Sudjianto, 2004:165), fukushi adalah kata-kata yang menerangkan verba, ajektiva, dan adverbial yang lainnya, tidak dapat berubah, dan berfungsi menyatakan keadaan atau derajat suatu aktivitas, suasana, atau perasaan pembicara. Contohnya, totemo (sangat), zutto (terus) 7. Kandoushi (感動詞) atau kata yang mengungkapkan ekspresi, perasaan, menurut Yoshiaki (dalam Sudjianto, 2004:169) adalah salah satu kelas kata yang termasuk jiritsugo yang tidak dapat berubah bentuknya, tidak dapat menjadi subjek, tidak dapat menjadi keterangan, dan tidak dapat mengenal konjungsi. Namun kelas kata ini dengan sendirinya dapat menjadi sebuah bunsetsu (文節)walaupun tanpa bantuan kelas kata lain. Contohnya, sou desu ka? (benar gitu?), araa (waduh!). 8. Setsuzokushi ( 接 続 詞 ) atau kata penghubung menurut Ogawa (dalam Sudjianto, 2004:170) adalah salah satu kelas kata yang termasuk ke dalam kelompok jiritsugo yang tidak dapat mengalami perubahan. Kelas kata ini tidak dapat menjadi subjek, objek, predikat, ataupun kata yang menerangkan kata lain. Setsuzokushi berfungsi menyambungkan suatu. 24.
(39) kalimat dengan kalimat lain atau menghubungkan bagian kalimat dengan bagian kalimat lain. Contohnya, demo (tapi), dakara (oleh sebab itu). 9. Jodooshi (助動詞) atau kata kerja bantu menurut Terada (dalam Sudjianto 2004:174) adalah kelas kata yang dengan sendirinya tidak dapat membentuk bunsetsu. Ia akan membentuk sebuah bunsetsu apabila dipakai bersamaan dengan kata lain yang yang menjadi sebuah bunsetsu. Contohnya, ~rareru (bentuk dapat), contohnya,. taberareru (dapat. dimakan), akirareru (dapat dibuka). 10. Joshi (助詞) atau partikel menurut Hirai (dalam Sudjianto 2004:181) adalah kelas kata yang termasuk fuzokugo, yang dipakai setelah suatu kata untuk menunjukkan hubungan antara kata tersebut dengan kata lain serta untuk menambah arti kata tersebut lebih jelas lagi. Joshi sama dengan jodoushi, kedua-duanya termasuk fuzokugo. Namun kelas kata jodoushi dapat mengalami perubahan, sedangkan joshi tidak dapat mengalami perubahan.. Contohnya, no (untuk menyatakan kepunyaan), de (dengan,. di). Jenis kosakata yang digunakan pada nenelitian ini adalah Meishi (名 詞) atau kata benda. Pemilihan kosakata pada penelitian ini berdasarkan kosakata yang hanya terdapat pada tiga tema yang dipilih oleh peneliti, yaitu Nihon-go de nan desuka ( Apa bahasa Jepangnya ), Tesuto wa nanyoubi desuka ( Tesnya hari apa ), dan Ayu-san no kazoku ( Keluarga Ayu ).. 25.
(40) 2.6 Pembelajaran Kosakata Menurut Usman (2004:4) proses pembelajaran merupakan proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan. Sedangkan menurut pendapat dari Brown (2007:8) pembelajaran adalah menguasai pengetahuan tentang suatu subjek atau keterampilan lewat belajar, pengalaman dan intruksi. Maksud dari pendapat tersebut adalah sebuah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan yang diinginkan. Jadi pembelajaran kosakata adalah sebuah proses dimana seseorang sedang belajar untuk menguasai kosakata melalui beberapa cara. Cara tersebut bisa berupa sebuah sistem belajar formal maupun informal yang sesuai dengan keinginan pembelajar itu sendiri. Dalam pembelajaran kosakata, ada beberapa teknik yang bisa digunakan. Suyatno (2004:66-80) menjelaskan beberapa teknik yang bisa dugunakan untuk belajar kosakata antar lain : a. Komunikata Tujuan teknik pembelajaran ini adalah agar siswa dapat mengartikan kata dari berbagai segi menurut kata tersebut. Alat yang digunakan hanya alat tulis. Teknik ini dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok.. 26.
(41) b. Kata Selingkung Tujuan teknik pembelajaran ini adalah agar siswa dapat menentukan kata yang mempunyai. makna berdekatan dengn kata tersebut. Alat yang. digunakan adalah kartu kata. Teknik ini bisa dilakukan secara perorangan maupun kelompok. c. Kartu Kata Teknik ini merupakan teknik pembelajaran kata majemuk melalui kartu. Teknik ini bertujuan agar siswa dapat dengan mudah, senang, dan bergaiarah dalam memahami kata majemuk. Teknik ini bisa dilakukan secara perorangan maupun kelompok. d. Tunjuk abjad Tujuan pembelajaran dengan teknik ini adalah agar siswa dapat memproduksi kata dengan cepat dan banyak dalam waktu singkat. Alat yang digunakan adalah kartu huruf. Teknik ini bisa dilakukan secara perorangan maupun kelompok. e. Kata Salah Benar Tujuan teknik pembelajaran ini adalah agar siswa dapat memilih kata yang benar dan yang salah dengan cepat. Alat yang digunakan adalah kertas bergambar yang bertuliskan arti salah atau benar. Teknik ini bisa dilakukan secara perorangan maupun kelompok.. 27.
(42) f. Kata dari Gambar Teknik pembalajaran kosakata ini bertujuan agar siswa dapat membuat kata dengan cepat berdasarkan gambar yang dilihat. Alat yang digunakan adalah gambar-gambar yang bervariasi seuai dengan tema pelajaran yang akan diajarkan. Teknik ini bisa dilakukan secara perorangan maupun kelompok. g. Banding Kata Tujuan teknik pembelajaran ini adalah agar siswa dapat mengartikan kata yang bersinonim atau berantonim. h. Kata Berpasangan Tujuan teknik pembelajaran ini adalah agar siswa dapat membuat kata majemuk dengan cepat dan tepat dengan menggunakan kartu kata. i. Kata Kunci Tujuan teknik pembelajaran ini adalah agar siswa dapat menentukan kata yang dapat mewakili isi bacaan atau isi tulisan. j. Bursa Kata Tujuan teknik pembelajaran ini adalah agar siswa dapat menerangkan makna serta memahami strukturnya secara cepat berdasarkan kemampuan siswa sendiri.. 28.
(43) 2.7 Penelitian Sebelumnya Penelitian mengenai pembelajaran dengan menggunakan media bantu sudah banyak dilakukan sebelumnya. Penelitian sebelumnya di lakukan oleh Muhammad Faizal F.A mahasiswa Universitas Negeri Surabaya dengan judul penelitian “Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual (Program Corel Videostudio Pro X3) Terhadap Penguasaan Kosakata Bahasa Jepang Siswa Kelas X MAN Probolinggo Tahun Ajaran 2011/2012”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media Audio Visual (Program Corel Videostudio Pro X3) sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Jepang di MAN Probolinggo. Hasil dari penelitian ini adalah adanya pengaruh yang signifikan dalam penggunaan media audio visual ini terhadap penguasaan kosakata bahasa Jepang. Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah peneliti sama-sama menggunakan media audio visual sebagai media pembelajaran kosakata dalam bahasa Jepang. Sedangkan perbedaannya adalah tujuan dari penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, yaitu pada penelitian ini peneliti mencari efektifitas media dan prestasi belajar, sedangkan penelitian terdahulu mencari pengaruh media belajar dan respon siswa terhadap media pembelajaran. Selain itu jenis media audio visual yang digunakan juga berbeda. Pada penelitian ini peneliti menggunakan media video kosakata, sedangkan penelitian terdahulu menggunakan Program Corel Videostudio Pro X3. 29.
(44) BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Jenis Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono (2013:13) penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang data penelitiannya berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik. Data-data yang berupa angka tersebut mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data, hingga penampilan dari hasil penelitian tersebut. Hasil dari penelitian kuantitatif ditampilkan dalam bentuk tabel, grafik atau bagan. Penelitian kuantitatif pada penelitian ini digunakan untuk menunjukkan efektifitas media dan prestasi belajar. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel adalah atribut seseorang, atau obyek, yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain, Hatch dan Farhady (dalam Sugiyono, 2013:60). Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penggunaan media audio visual. Sedangkan variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena ada variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar siswa yang berupa penguasaan kosakata bahasa Jepang yang diukur dengan tes hasil belajar. 30.
(45) 3.2 Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan dari subyek penelitian (Arikunto, 2006:130). Sedangkan. menurut. Sugiyono. (2013:117). populasi. adalah. wilayah. generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X IIS SMA Negeri 4 Bojonegoro Tahun 2014/2015. Pada sekolah tersebut jumlah kelas X IIS ada 4 kelas yang terdiri dari 1 kelas unggulan dan 3 kelas reguler, dengan rincian sebagai berikut : Tabel 3.1 Jumlah siswa kelas X IIS Kelas. Jumlah (siswa). Keterangan. X IIS 1. 32. Unggulan. X IIS 2. 27. Reguler. X IIX 3. 31. Reguler. X IIS 4. 27. Reguler. Jumlah. 117. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006:131). Menurut Sugiyono (2013:118) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat. 31.
(46) menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik Purposive Sampling yaitu pemilihan sampel berdasarkan tujuan tertentu, sepertu keterbatasan waktu, tenaga dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang terlalu besar. Selain itu terdapat juga pertimbangan pada saat pemilihan sampel yaitu berdasarkan hasil nilai belajar siswa selama belajar bahasa jepang yang berupa nilai UTS. Menurut Arikunto (2006:134) apabila jumlah populasi kurang dari 100 lebih baik diambil semua, sedangkan apabila jumlah populasi lebih dari 100 maka dapat diambil sampel antara 10 – 15% atau 20 – 25% atau lebih. Pada penelitian ini peneliti mengambil sampel sebesar 20 – 25% yaitu kelas X IIS 4 dengan jumlah 27 siswa. Setelah berdiskusi dengan guru pembimbing dan menurut pengamatan peneliti yang sebelumnya telah melaksanakan PPL di sekolah tersebut, dari 1 kelas unggulan dan 3 kelas reguler, kelas X IIS 4 dipilih sebagai sampel pada penelitian ini karena siswa pada kelas tersebut sangat bervariasi, yang artinya kelas tersebut merupakan kelas reguler yang kemampuan yang dimiliki siswanya berbeda-beda. Berbeda-beda yang dimaksud disini adalah jumlah siswa yang pandai, sedang dan kurang pandai seimbang. Hal ini bisa dilihat dari rata-rata nilai UTS seluruh kelas X IIS SMA Negeri 4 Bojonegoro pada tabel 3.2. Selain sampel untuk penelitian, ada sampel yang digunakan sebagai kelas uji coba instrumen, yaitu kelas X IIS 2. Kelas X IIS 2 dipilih sebagai kelas uji coba soal karena kondisi kelas ini hampir sama dengan kelas yang digunakan sebagai kelas penelitian yaitu kelas X IIS 4. Selain jumlah siswanya sama 32.
(47) dengan kelas X IIS 2, kemampuan siswa kelas X IIS 2 juga bervariasi seperti kelas X IIS 2, akan tetapi siswa kelas X IIS 4 lebih aktif dibandingkan kelas X IIS 2, sehingga kelas X IIS 4 dipilih sebagai kelas penelitian dan kelas X IIS 2 sebagai kelas uji coba instrumen. Tabel 3.2 Nilai UTS Kelas X IIS No Absen 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27. Nilai X IIS 1. X IIS 2. X IIS 3. X IIS 4. 82 79 85 91 79 76 94 97 76 94 76 88 97 97 82 97 88 94 85 82 79 84 91 88 79 94 94. 85 55 88 85 65 88 97 73 88 53 94 67 94 91 91 63 85 79 68 97 79 94 79 88 70 94 88. 82 79 70 97 70 82 70 85 82 97 82 79 76 70 97 97 85 91 82 82 68 91 68 88 31 94 73. 76 76 73 91 91 94 70 91 88 88 88 97 91 73 94 85 82 79 76 85 70 85 97 82 88 70 91. 33.
(48) No Absen 28 29 30 31 32 Ratarata. Nilai X IIS 1 94 79 76 76 91. X IIS 2 -. X IIS 3 68 68 70 76 -. X IIS 4 -. 86,75. 81,4. 79,03. 84,1. 3.3 Instrumen Penelitian Dalam sebuah penelitian dibutuhkan beberapa instrumen penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Menurut Sugiyono (2013:148) instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui efektifitas media instrumen yang digunakan adalah lembar angket siswa yang berupa kuesioner. Jenis kuesioner yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner tertutup yang berbentuk Rating-scale (skala bertingkat), yaitu sebuah pernyataan yang diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkatan-tingkatan, misalnya mulai dari sangat setuju sampai ke sangat tidak setuju (Arikunto, 2006:152). Kuesioner ini berdasarkan pada Skala Likert. Skala Likert. digunakan. untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang , Sugiyono (2013:134). Berikut adalah kisi-kisi kuesioner mengenai efektifitas media berdasarkan teori Sudjana dan Rivai ( 2009 ) :. 34.
(49) Tabel 3.3 Kisi-kisi Angket Siswa. Aspek Efektivitas Media. Indikator Ketepatan dengan. Nomor Soal 4, 5. tujuan pengajaran Dukungan terhadap isi. 3. bahan pelajaran Sesuai dengan taraf. 1, 2. berpikir siswa Keterampilan dalam. 8. menggunakannya Kemudahan. 6. memperoleh media Tersedia waktu untuk. 7. menggunakannya. 2. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa peneliti mengunakan instrumen berupa tes. Tes itu sendiri dibagi menjadi dua yaitu pretest dan posttest. a. Pretest Fungsi dari pretest adalah untuk melihat sejauh mana kemampuan siswa dalam penguasaan kosakata sebelum diberikan perlakuan.. 35.
(50) b. Posttest Fungsi dari posttest adalah untuk melihat pencapaian belajar siswa dalam penguasaan kosakata setelah diberikan perlakuan. Dalam pelaksanaan pretest dan posttets ini tidak ada perbedaan soal yang diberikan. Hal ini dilakukan supaya peneliti bisa mengetahui sejauh mana penguasaan kosakata bahasa Jepang pada tema yang sudah ditentukan dan pengaruh media yang digunakan dengan membandingkan hasil akhir pretest dan posttets. Hasil jawaban tes akan dianalisis dengan menggunakan bantuan program SPSS 12 for windows. Berikut kisi-kisi soal pretest dan posttest yang digunakan dengan mengambil indikator berdasarkan RPP : Tabel 3.4 Kisi-kisi Soal. Aspek dan Indikator. Bentuk Soal. Nomor soal. 1. Mampu mengidentifikasi benda-benda yang ada di lingkungan sekolah. Isian. 1 – 11. 2. Mampu menyebutkan nama-nama hari. Menjodohkan. 12 – 18. 3. Mampu menyebutkan nama-nama anggota keluarga orang lain. Isian. 19 – 25. 36.
(51) 3.4 Teknik pengumpulan Data 1. Untuk memperoleh data efektifitas media yaitu melalui validasi materi dari guru bahasa Jepang di SMA N 4 Bojonegoro. Selain itu ada kuesioner yang diberikan kepada siswa mengenai respon siswa terhadap penggunaan media audio visual. Kuisioner diberikan pada saat akhir penelitian, yaitu setelah siswa diberikan pretest, perlakuan dan posttest. 2. Teknik pengumpulan data untuk mengetahui prestasi belajar siswa adalah dengan menggunakan tes, yaitu pretest dan posttest. Tes ini digunakan untuk membandingkan prestasi belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual. Berikut adalah skema rancangan yang digunakan pada penelitian ini :. 01. X. 02. Keterangan : 01. : Pretest. X. : Perlakuan (treatment). 02. : Posttest Observasi yang dilakukan sebelum diberikan perlakuan (01) disebut. pretest, dan observasi yang dilakukan sesudah diberikan perlakuan (02) disebut posttest. Perbedaan antara 01 dan 02 yakni 02 – 01 merupakan efek. 37.
(52) dari perlakuan atau treatment. Langkah-langkah yang dilakukan untuk memperoleh data prestasi belajar adalah sebagai berikut : a. Pembuatan instrumen penelitian berupa soal tes. b. Menguji validitas dan reliabilitas soal tes. Validitas instrumen penelitian akan diajukan kepada guru bahasa Jepang, setelah itu instrumen penelitian akan diuji coba kepada 27 siswa di kelas uji coba, yaitu kelas X IIS 2. Hasil jawaban siswa akan dianalisis menggunakan program SPSS 12 for windows untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. Setelah soal dinyatakan valid dan reliabel, maka soal tersebut bisa digunakan untuk pretest dan postest. c. Memberikan pretest kepada kelas penelitian. Pretest diberikan kepada siswa pada hari pertama penelitian. d. Memberikan perlakuan berupa pembelajaran kosakata dengan menggunakan media audio visual yang berupa video kosakata. Perlakuan diberikan selama 3 kali pertemuan. Setiap 1 kali pertemuan akan di putarkan 3 tema video kosakata sebanyak 3 kali pada setiap tema. Pertama siswa akan diperlihatkan video kosakata, siswa hanya diminta untuk mengamati saja. Kedua, siswa diminta untuk menirukan bunyi kosakata yang diucapkan oleh penutur dalam video kosakata tersebut. Ketiga, siswa berlatih menyebutkan kosakata setelah gambar. 38.
(53) terlihat dan sebelum arti dan bunyi kosakata diucapkan. Berikut adalah contoh tampilan video kosakata yang digunakan : 1. Video kosakata tema Nihon-go de nan desuka. 2. Video kosakata tema Tesuto wa nan-youbi desuka. 3. Video Kosakata tema Ayu-san no kazoku. 39.
(54) e. Memberikan posttest kepada kelas penelitian. Posttest diberikan pada pertemuan ketiga setelah siswa diberikan perlakuan. Berikut adalah rincian jadawal pelaksanaan penelitiannya : Tabel 3.5 Jadwal Pelaksanaan Penelitian No. 1.. Hari, tanggal. Kegiatan. Rabu, 13 Mei 2015. Pemilihan kelas penelitian dan kelas uji coba Validasi materi, media dan instrumen kepada guru bahasa Jepang. 2.. Jum‟at, 15 Mei 2015. Uji coba instrumen penelitian (soal) di kelas uji coba. 3.. Senin, 18 Mei 2015. Pretest Pembelajaran 3 tema kosakata dengan media audio visual (video kosakata). 4.. Sabtu, 23 Mei 2015. Pembelajaran 3 tema kosakata dengan media audio visual (video kosakata). 5.. Senin, 25 Mei 2015. Pembelajaran 3 tema kosakata dengan media audio visual (video kosakata) Posttest Pemberian angket kepada siswa. 40.
(55) 3.5 Teknik Analisis Data 1. Efektifitas Media Teknik analisis data untuk memperoleh data efektifitas media ini menggunakan dari lembar angket siswa yang berupa kuesioner. Untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil lembar angket siswa tersebut digunakan rumus :. 𝑃∶. 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑘𝑟𝑖𝑡𝑒𝑟𝑖𝑎. X 100%. Keterangan. P. : presentase. Skor total. : jumlah responden yang memilih X pilihan angka skor. Skor kriteria. : nilai tertinggi X jumlah item X jumlah responden. Setelah presentase dihitung dengan menggunakan rumus diatas, hasil instrumen akan diinterpretasikan dengan berpedoman pada data sebagai berikut :. 41.
(56) Tabel 3.6 Kriteria Interpretasi Skor Presentase. Kriteria. 0% - 20%. Sangat Lemah. 21% - 40%. Lemah. 41% - 60%. Cukup. 61% - 80%. Kuat. 81% - 100%. Sangat kuat ( Riduwan 2011:15). 2. Prestasi Belajar Untuk menganalisis prestasi belajar siswa akan dilakukan dengan cara membandingkan nilai rata-rata pretest dan posttest. Analisis ini menggunakan uji satu sampel untuk rata-rata (one sample t-test). Dengan uji tersebut akan diketahui apakah ada pengaruh antara nilai rata-rata pretest dan posttest. a. Uji Normalitas Sebelum dilakukan one sample t-test atau uji-t, terlebih dahulu diuji normalitas untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Data yang berdistribusi normal adalah data yang memiliki nilai ekstrim ( terlalu besar atau terlalu kecil ) tidak terlalu banyak , dan data yang mendekati nilai rata-rata jumlahnya banyak. Dalam penelitian ini, uji normalitas menggunakan rumus One Sample Kolmogorov-Smirnov. 42.
(57) Test. Uji normalitas ini akan diproses dengan menggunakan program SPSS 12 for Windows. Apabila nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka data dalam penelitian ini berdistribusi normal. b. Uji-t Untuk menganalisis hasil treatment yang menggunakan desain One Group Pretest-Posttest adalah dengan melakukan Uji-t. Uji-t ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan dalam penguasaan kosakata bahasa Jepang sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran. Uji-t ini akan diproses dengan menggunakan program SPSS 12 for Windows.. 43.
(58) BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Temuan 1. Efektifitas Media Data dari efektifitas media diperoleh dari hasil nilai angket yang diberikan kepada siswa. Berikut adalah hasil presentase angket yang telah dihitung : Tabel 4.1 Hasil presentase angket Jawaban (nilai) No. Pernyataan. 1.. Pembelajaran kosakata dengan. SS (5) 20. S (4) 7. RR (3) -. TS (2) -. STS (1) -. 74%. 26%. -. -. -. 13. 12. 1. 1. -. 48%. 44%. 4%. 4%. -. 14. 9. 4. -. -. Skor 128. media audio visual ( video kosakata ) menyenangkan. Presentase 2.. Tampilan media audio visual. 118. ( video kosakata ) menarik. Presentase 3.. Lebih mudah menghafal kosakata menggunakan media audio visual ( video kosakata ).. 44. 118.
(59) No. Pernyataan Presentase. 4.. Dengan menggunakan media. SS (5) 52%. Jawaban (nilai) S RR TS (4) (3) (2) 33% 15% -. STS (1) -. Skor. 115. 9. 16. 2. -. -. 33%. 59%. 8%. -. -. 13. 12. 2. -. -. 48%. 44%. 8%. -. -. 8. 18. 1. -. -. 29%. 67%. 4%. -. -. 24. 3. -. -. -. 89%. 11%. -. -. -. 24. 3. -. -. -. audio visual ( video kosakata ) bisa belajar kosakata dan kanji sekaligus. Presentase 5.. Dengan menggunakan media. 119. audio visual ( video kosakata ) bisa mengetahui pengucapan kosakata dalam bahasa Jepang dengan benar. Presentase 6.. Media audio visual ( video. 115. kosakata ) mudah di dapatkan. Presentase 7.. Media audio visual ( video. 132. kosakata ) dapat di gunakan kapan saja dan dimana saja. Presentase 8.. Media audio visual ( video kosakata ) mudah digunakan.. 45. 132.
(60) No. Pernyataan. SS (5) 89%. Presentase. Jawaban (nilai) S RR TS (4) (3) (2) 11% -. Total Skor. STS (1) -. Skor. 977. Dari perhitungan total angket diperoleh hasil sebesar 90,5%. Berdasarkan tabel kriteria 4.2 di bawah dapat dilihat bahwa angka 90,5% terdapat pada rentan nilai 80% - 100% yang berarti mempunyai kriteria sangat kuat. Jadi media audio visual merupakan media yang efektif dalam pembelajaran kosakata bahasa Jepang. Untuk rincian perhitungan angket dapat dilihat pada lapiran 4. Tael 4.2 Kriteria Interpretasi Skor. Presentase. Kriteria. 0% - 20%. Sangat Lemah. 21% - 40%. Lemah. 41% - 60%. Cukup. 61% - 80%. Kuat. 81% - 100%. Sangat kuat. 46.
(61) 2. Prestasi Belajar a. Validitas Soal Validitas instrumen dilakukan untuk mengetahui kevalidan dari instrumen tersebut. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2013:173). Untuk mengetahui validitas instrumen maka digunakan uji validitas. Uji validitas yang digunakan pada penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS 13 for Windows dengan rumus Product Moment Pearson Correlation. Dari hasil uji validitas pada lampiran 7 dapat dilihat bahwa dari 25 soal yang diujikan, semua soal valid. Soal dikatakan valid apabila nilai hitung lebih besar dari nilai tabel dengan taraf signifikan 5% atau 1% untuk n=25. Taraf signifikan untuk n=25 adalah sebesar 0,396 untuk 5% dan 0,505 untuk 1%. Setiap butir soal yang valid akan terdapat tanda (*) atau (**). Semua butir soal yang diujikaan terdapat tanda (*) atau (**), maka semua soal dikatakan valid. b. Reliabilitas Soal Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama (Sugiyono, 2013:173). Untuk mengetahui reliabilitas soal maka digunakan uji reliabilitas. Uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS 13 for Windows dengan rumus Alpha Cronbach.. 47.
(62) Dari hasil perhitungan pada lampiran 8 dapat dilihat bahwa nilai α sebesar 0,884. Soal dikatakan reliabel apabila nilai α > r tabel. Nilai r tabel dengan n=25 adalah sebesar 0,396. Jadi, α = 0,884 > r tabel = 0,396 yang berarti semua soal tersebut dikatakan reliabel atau terpercaya sebagai instrumen pengumpulan data penelitian. c. Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk mengetahui normal tidaknya sebuah data. Data yang diuji normalitaskan adalah nilai pretest dan posttest siswa. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS 13 for Windows dengan rumus one sample kolmogorov smirnov. Dari tabel hasil perhitungan pada lampiran10 dapat diketahui bahwa nilai Asymp. Sig. data pretest sebesar 0,205 dan data posttest sebesar 0,396. Data yang normal adalah data yang nilai signifikasinya lebih dari 0,05. Nilai signifikasi pretest dan posttest > 0,05, maka data tersebut berdistribusi normal. d. Data Pretest dan Posttest Pretest dan Posttest diberikan untuk mengukur kemampuan kosakata siswa sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran audio visual yang berupa video pembelajaran. Berikut tabel hasil Pretest dan Posttest siswa :. 48.
(63) Tabel 4.3 Nilai Pretest dan Posttest No Absen 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27. Nama Nanda Eva Y. Nely Fitriya Nihlatus Sofi Nurul Q. Putri Dewi Rama Bhaskara Reghita A. Ricardo V. Rizka Amalia Selvia S. Siti Nurkholifah Siti Sa‟adatul Siti Shobrin Sonia Clara Tabita Richa Tomy B. Vanny O. Velia B. Vergiwan I. Vina Rahayu Widya A. Wijaya Kusuma Wisnu Cahya Yuanita F. Yuli R. Yulia Intan Yustika Dian Rata- rata. Nilai Hasil Belajar Pretest Postest Gain 64 88 24 64 80 16 56 84 28 60 100 40 68 72 4 56 88 32 64 84 20 68 92 24 56 88 32 64 84 20 56 92 36 68 92 24 56 84 28 60 88 28 68 92 24 60 88 28 60 92 32 64 92 28 52 100 48 64 76 12 56 96 40 64 92 28 68 88 20 68 84 16 60 92 32 64 92 28 56 100 44 61,63 88,89 27,25. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai seluruh siswa mengalami peningkatan dari pretest ke posttest. Rata-rata nilai pretest sebesar 61,63 dan rata-rata nilai posttest sebesar 88,89. Ini berarti ada peningkatan dari nilai pretest ke posttest. Rata-rata nilai peningkatannya adalah sebesar. 49.
(64) 27,25. Jadi terdapat peningkatan prestasi siswa setelah pembelajaran dengan menggunakan media audio visual. e. Uji t Uji t ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan dalam penguasaan kosakata bahasa Jepang sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran. Uji t pada penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS 13 for Windows. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai thitung = 14,642. Setelah itu thitung akan dibandingkan dengan nilai ttabel pada taraf signifikan 5% atau 0,05 dengan df 26 sebesar 2,056. Sehingga dapat diketahui bahwa t hitung > ttabel yaitu 14,642 > 2,056. Apabila thitung > ttabel maka ada perbedaan yang signifikan antara prestasi siswa sebelum dan sesudah menggunakan media audio visual sebagai media pembelajaran kosakata.. 4.2 Pembahasan 1. Efektifitas Media Dari hasil total perhitungan angket pada tabel 4.1 diperoleh hasil presentase sebesar 90,5%. Hasil ini berarti bahwa media audio visual merupakan media pembelajaran kosakata yang efektif.. Hal ini bisa. dibuktikan dari jawaban siswa pada tiap-tiap butir pernyataan pada angket.. 50.
(65) Pada pernyataan pertama, “Pembelajaran kosakata dengan media audio visual ( video kosakata ) menyenangkan”. 74% siswa memilih sangat setuju. Sedangkan. 24%. siswa memilih setuju. Seluruh siswa. memilih setuju karena media audio visual merupakan media yang baru bagi siswa, sehingga mereka merasa senang belajar kosakata dengan menggunakan media tersebut. Pada pernyataan kedua, “Tampilan media audio visual ( video kosakata ) menarik”. Siswa yang memilih sangat setuju sebesar 48%. Siswa yang memilih setuju sebesar 44%. Siswa memilih setuju karena mereka tetarik dengan tampilan video yang berupa gambar-gambar animasi yang lucu dan suara khas punipunijapan yang menggemaskan. 4% siswa memilih ragu-ragu karena kurang tertarik dengan gambar animasi dan suara dari video tersebut. Dan 4% siswa memilih tidak setuju karena tampilan video hanya menggunakan gambar animasi saja, akan lebih menarik jika dikombinasikan dengan gambar nyata. Pada. pernyataan. ketiga,. “Lebih. mudah. menghafal. kosakata. menggunakan media audio visual ( video kosakata )”. 52% siswa memilih sangat setuju. 35% siswa memilih setuju. Siswa memilih setuju karena mereka lebih mudah mengingat kosakata dengan melihat gambar dan mendengar suara dari video tersebut. Dan sisanya memilih ragu-ragu, yaitu sebesar 15%, ini karena mereka masih harus mengulang-ulang video tersebut beberapa kali untuk bisa mengingat kosakata.. 51.
(66) Pada pernyataan keempat, “Dengan menggunakan media audio visual ( video kosakata ) bisa belajar kosakata dan kanji sekaligus”. Sebesar 33% siswa memilih sangat setuju. Siswa yang memilih setuju sebesar 59%. Siswa memilih setuju karena mereka bisa mengetahui kanji dari kosakata yang mereka pelajari, jadi mereka bisa belajar kanji sekaligus. Dan 8% sisanya memilih ragu-ragu karena kanji yang ditampilkan hanya sekilas, sehingga mereka masih kesulitan untuk menghafal kanjinya. Pada pernyataan kelima, “Dengan menggunakan media audio visual ( video kosakata ) bisa mengetahui pengucapan kosakata dalam bahasa Jepang dengan benar”. Siswa yang memilih sangat setuju sebesar 48%. Sedangkan yang memilih satuju saja sebesar 44%. Siswa memilih setuju karena mereka bisa megetahui bagaimana pengucapan kosakata yang benar. Sisanya sebesar 8% siswa memilih ragu-ragu karena pengucapan kosakata di dalam video tidak terbiasa mereka dengar, jadi mereka masih merasa asing dengan cara bicara orang Jepang asli. Pada pernyataan keenam, “Media audio visual ( video kosakata ) mudah didapatkan”. Sebesar 29% siswa memilih sangat setuju. Siswa yang memilih setuju saja sebesar 67%. Siswa memilih setuju karena media ini mudah didapatkan, mereka hanya perlu membuka situs youtube lalu mendownloadnya melalui PC ataupun smartphone. 4% siswa memilih ragu-ragu karena butuh sambungan internet untuk membuka situs youtube, ini sedikit menyulitkan untuk siswa yang tidak mempunyai smartphone dan sambungan internet pada PC atau laptop. 52.
(67) Pada pernyataan ketujuh, “Media audio visual ( video kosakata ) dapat digunakan kapan saja dan dimana saja”. Sebesar 89% siswa memilih sangat setuju. Sisanya sebesar 11% siswa memilih setuju. Siswa memilih setuju karena media ini bisa disimpan di laptop atau di HP, sehingga siswa bisa memutar media ini saat belajar di kelas, di rumah ataupun pada saat bermain diluar tanpa harus menggunakan alat bantu lain. Pada pernyataan terakhir, “Media audio visual ( video kosakata ) mudah digunakan”. Siswa yang memilih sangat setuju sebesar 89%. Sebesar 11% sisanya memilih setuju. Siswa memilih setuju karena media ini merupakan media yang berbentuk video yang mudah diunakan untuk semua kalangan. Mereka tinggal menyimpan di HP atau di laptop lalu memutarnya. Tidak perlu keahlian khusus untuk menggunakan media ini, sehingga siswa merasa mudah pada saat ingin menggunakan media ini.. 2. Prestasi belajar Prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan murid untuk mempelajari materi pelajaran disekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi (Nawawi, 1981:100). Skor atau nilai siswa pada penelitian ini diperoleh dari hasil pretest dan posttest yang telah diberikan kepada siswa. Dari hasil pretest dan posttest pada tabel 4.6 dapat diketahui bahwa nilai siswa mengalami peningkatan setelah menggunakan media pembelajaran audio visual untuk belajar. 53.
(68) kosakata. Taraf peningkatan prestasi siswa akan ditentukan berdasarkan kriteria dibawah ini : Tabel 4.4 Kriteria Keberhasilan No 1 2 3 4 5. Interval 91 – 100 81 – 90 71 – 80 61 – 70 < 60. Kriteria Nilai Huruf Sangat baik A Baik B Cukup baik C Kurang baik D Sangat kurang E (Sudjana, 2010:110). Untuk rinciannya akan ditampilkan pada tabel dibawah ini : Tabel 4.5 Frekuensi Nilai Pretetst No. Interval. Jumlah siswa. Kriteria. Presentase. 1.. 91 – 100. -. Sangat baik. -. 2.. 81 – 90. -. Baik. -. 3.. 71 – 80. -. Cukup baik. -. 4.. 61 – 70. 14. Kurang baik. 52%. 5.. < 60. 13. Sangat kurang. 48%. Pada tabel 4.9 dapat dilihat bahwa kemampuan siswa dalam penguasaan kosakata bahasa Jepang masih sangat kurang. 14 siswa mendapat kriteria kurang baik dan 13 siswa lainnya mendapat kriteria sangat kurang.. 54.
Gambar
Dokumen terkait
sedangkan data kualitatif digunakan untuk mengetahui respon mahasiswa tingkat satu terhadap penggunaan media chart dalam kemampuan penguasaan kosakata bahasa
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan media audio visual terhadap penguasaan kosa kata bahasa Inggris pada anak kelompok B di TK Aisiyah Bustanul Atfal
khusus penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan penguasaan kosakata bahasa Inggris pada anak kelompok B TK Pertiwi I Gagaksipat. Ngemplak Boyolali dengan menggunakan
Efektifitas Media Slide Power Point Dalam Meningkatkan Penguasaan Kosakata Bahasa Jepang Kelas X SMA Kesatrian 2 Semarang.. Jurusan Bahasa dan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) kemampuan siswa dalam penguasaan kosakata bahasa Jepang sebelum dan sesudah menggunakan permainan trivial pursuit ,
Efektivitas Media Tali PAS dalam Meningkatkan Kemampuan Kosakata Bahasa Jepang Siswa Ekstrakulikuler Japanese Club SMA Labschool UPI
Hubungan Minat Baca Teks Bahasa Jepang Dengan Penguasaan Kosakata Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu.. HUBUNGAN MINAT MEMBACA TEKS
Dengan ini saya menyatakan bahawa skripsi dengan judul “ Efektivitas Media Audio Visual Situs Hukumusume Untuk Meningkatkan Kemampuan Menyimak Bahasa Jepang