• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perjanjian Jual Beli Sebagai Salah Satu Perjanjian Bernama dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

1. Pengertian Perjanjian Jual Beli

Istilah perikatan atau verbintenis merupakan istilah yang merujuk pada hubungan hukum yang mengikat antara kedua belah pihak. Verbintenis merupakan istilah yang berasal dari kata Verbinden yang berarti mengikat23. Perikatan adalah hubungan hukum antara kedua belah pihak, sehingga dalam perikatan terdapat hak dan kewajiban yang dimiliki oleh pihak satu dan pihak yang lain. Selain itu, dalam hubungan hukum tersebut juga dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan yang sudah disepakati bersama oleh kedua belah pihak.

Pasal 1233 KUHPer menjelaskan bahwa perikatan dilahirkan karena persetujuan (perjanjian) dan undang-undang. Berdasarkan penjelasan mengenai perikatan, maka jual beli merupakan perikatan yang lahir karena perjanjian karena jual beli terjadi antara dua belah pihak, yaitu penjual dan pembeli dimana perikatan antara penjual dan pembeli terdapat perbuatan hukum yaitu pihak satu berjanji kepada pihak lain untuk melakukan sesuatu berdasarkan kesepakatan yang telah dikehendaki. Hak dan kewajiban dari masing-masing pihak pun lahir yaitu penjual menyerahkan barang yang dijual dan kewajiban pembeli membayar barang yang telah diserahkan tersebut. Definisi mengenai perjanjian diatur dalam Pasal 1313 KUHPer yang menyatakan bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan dimana satu

23 Wawan Muhmwan Hariri, Hukum Perikatan Dilengkapi Hukum Perikatan Dalam Islam, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2011, hal. 15.

(2)

21

orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang atau lebih. Sehingga, berdasarkan Pasal 1313 KUHPer tersebut, maka perjanjian jual beli merupakan perikatan yang lahir karena perjanjian. Perjanjian menurut menurut Pasal 1313 KUHPer menunjukkan bahwa perjanjian merupakan:24

1. Suatu perbuatan;

2. Antara sekurang-kurangnya dua orang;

3. Perbuatan tersebut melahirkan perikatan di antara pihak-pihak yang berjanji tersebut.

Perjanjian jual beli merupakan salah satu perjanjian bernama yang diatur dalam Pasal 1457-1540 KUHPer. Pengertian perjanjian jual beli diatur dalam Pasal 1457 KUHPer yang menjelaskan bahwa jual beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu barang dan pihak yang lain untuk membayar harga yang dijanjikan. Menurut R.M.

Suryodiningrat, perjanjian jual beli yaitu perjanjian/persetujuan/kontrak dimana pihak penjual mengikat diri untuk menyerahkan hak milik atas benda/barang kepada pihak pembeli yang mengikat dirinya untuk membayar harga berupa uang kepada penjual25. Pengertian perjanjian jual beli menurut M. Yahya Harahap adalah jual beli merupakan suatu persetujuan yang mengikat dimana pihak penjual berjanji untuk menyerahkan suatu barang/benda (zaak) dan pihak lain yaitu pembeli mengikat diri berjanji untuk membayar harga26. Jual beli merupakan dua istilah yang saling berhubungan dan mewujudkan dua perbuatan, dimana pihak satu

24 Kartini Muljadi & Gunawan Widjaja, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2008, hal. 7.

25 R.M. Suryodiningrat, Perikatan-Perikatan Bersumber Perjanjian, Penerbit Tarsito, Bandung, 1980, hal. 14.

26 M. Yahya Harahap, Segi-Segi Hukum Perjanjian, Penerbit Alumni, Bandung, 1982, hal.

181.

(3)

22

melakukan perbuatan menjual dan pihak yang lain melakukan perbuatan membeli27. Penjual menyerahkan barang yang sudah ditawarkan atau memindahkan hak miliknya kepada pembeli sebagai akibat dari pembeli yang sudah membayar barang yang telah disetujui untuk dibeli tersebut.

Mengacu pada Pasal 1458 KUHPer, jual beli dianggap telah terjadi antara kedua belah pihak saat pihak penjual dan pembeli telah mencapai kata sepakat mengenai barang dan harga, walaupun barang tersebut belum diserahkan maupun dibayar. Sejalan dengan isi Pasal 1458 KUHPer, maka perjanjian jual beli merupakan perjanjian bersifat konsensuil, dimana perjanjian jual beli lahir secara sah yang mengikat dan mempunyai kekuatan hukum ketika tercapainya kata sepakat antara kedua belah pihak mengenai unsur barang dan harga.

Sehingga, dapat disimpulkan unsur perjanjian jual beli dari beberapa pengertian diatas, yaitu:28

a. Adanya subjek hukum, yaitu penjual dan pembeli;

b. Adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli tentang barang dan harga;

c. Adanya hak dan kewajiban yang timbul antara pihak penjual dan pembeli.

2. Syarat Sah Perjanjian Jual Beli

Untuk syarat sahnya perjanjian diperlukan 4 (empat) syarat yang diatur dalam Pasal 1320 KUHPer, yaitu:

1. Adanya kesepakatan antara kedua belah pihak;

2. Adanya kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum;

3. Adanya objek;

27 Subekti, Aneka Perjanjian, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2014, hal. 1.

28 Salim H.S., Hukum Kontrak Teori & Teknik Penyusunan Kontrak, Sinar Grafika, Jakarta, 2003, hal. 49.

(4)

23 4. Adanya kausa yang halal.

Syarat pertama dan kedua merupakan syarat subjektif, dikarenakan menyangkut mengenai orang atau subjek dari pihak yang mengadakan perjanjian.

Sedangkan syarat ketiga dan keempat merupakan syarat objektif, dikarenakan menyangkut mengenai perjanjian itu sendiri atau objek dari perbuatan hukum yang dilakukan. Apabila syarat pertama dan kedua dalam perjanjian tidak terpenuhi, maka perjanjian tersebut dapat dibatalkan. Sedangkan syarat ketiga dan keempat tidak terpenuhi, maka perjanjian batal demi hukum yang artinya sejak semula perjanjian tersebut dianggap tidak ada.

Berdasarkan 4 (empat) syarat sah perjanjian tersebut berlaku juga untuk syarat sah perjanjian jual beli yang dapat dijelaskan sebagai berikut;

1. Kesepakatan antara kedua belah pihak

Kesepakatan merupakan hal yang penting dalam lahirnya suatu perjanjian, Dengan adanya kesepakatan dimaksudkan bahwa diantara pihak- pihak yang bersangkutan yaitu penjual dan pembeli tercapai sesuatu persesuaian kehendak.29. Kesesuaian kehendak oleh kedua belah pihak tersebut dapat diberikan dengan pernyataan dari masing-masing pihak sehingga tercapainya kesesuaian kehendak tersebut yaitu pernyataan- pernyataan yang telah disampaikan oleh kedua belah pihak. Pengertian kesepakatan menurut Sudikono Mertokusumo, kesepakatan merupakan persesuaian kehendak antara satu orang atau lebih dengan pihak lainnya,

29 Subekti, Op.Cit, hal. 3.

(5)

24

dimana sesuai yang dimaksudkan adalah pernyataannya karena kehendak tidak dapat dilihat atau diketahui oleh orang lain30.

Terdapat 5 (lima) cara terjadinya persesuaian pernyataan kehendak tersebut, yaitu: 31

1. Bahasa yang sempurna dan tertulis;

2. Bahasa yang sempurna secara lisan;

3. Bahasa yang tidak sempurna, asalkan dapat diterima oleh pihak lawan;

4. Bahasa isyarat asal dapat diterima oleh pihak lawan;

5. Diam atau membisu, tetapi dapat dipahami atau diterima oleh pihak lawan.

Pasal 1321 KUHPer menerangkan bahwa “Tiada sepakat yang sah apabila sepakat tersebut diberikan karena kekhilafan atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan”. Berdasarkan Pasal 1321 KUHPer tersebut, maka kesepakatan harus disampaikan secara bebas tanpa adanya paksaan, kekhilafan, maupun penipuan agar kesepakatan tersebut mempunyai kekuatan mengikat. Jika kesepakatan diperoleh dengan paksaan, kekhilafan maupun penipuan maka kesepakatan tersebut menimbulkan kecacatan pada kesepakatan. Adanya kecacatan pada kesepakatan dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Pasal 1322 KUHPer mengenai kekhilafan yang terjadi jika terdapat kekeliuran terhadap subjek ataupun objek berdasarkan apa yang sudah diperjanjikan dan pihak lain membiarkan kekhilafan terjadi.

30 Muhammad Syaifuddin, Hukum Kontrak Memahami Kontrak Dalam Perspektif Filsafat, Teori, Dogmatik, dan Praktik Hukum : Segi Pengayaan Hukum Perikatan, Penerbit CV. Mandar Maju, Bandung, 2012, hal. 112.

31 Salim H.S., Op.Cit, hal. 33.

(6)

25

2. Pasal 1323-1327 KUHPer yang mengatur mengenai paksaan, terjadi apabila tidak ada kehendak bebas karena terdapat tekanan, ancaman atau paksaan saat memberikan kesepakatan oleh salah satu pihak.

3. Pasal 1328 KUHPer mengenai penipuan, dimana adanya keterangan yang tidak benar saat menyampaikan kehendak yang mengakibatkan pihak yang satu memberikan kesepakatan dalam perjanjian.

4. Penyalahgunaan keadaan, dimana salah satu pihak memiliki posisi yang kuat sehingga menggunakan keadaan tersebut kepada pihak lawan yang memiliki posisi lemah untuk memberikan kesepakatan yang memberatkan dirinya.

Dalam hal kesepakatan yang mengandung unsur kecacatan seperti yang diuraikan diatas, maka dapat membuat perjanjian tersebut dapat dibatalkan sesuai dengan isi Pasal 1449 KUHPer yang berbunyi “Perikatan yang dibuat dengan paksaan, kekhilafan, atau penipuan, menerbitkan suatu tuntutan untuk membatalkannya”.

2. Kecakapan dari pihak penjual dan pembeli

Pasal 1329 KUHPer menyatakan bahwa “Setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan-perikatan, jika oleh undang-undang tidak dinyatakan tak cakap". Pada umumnya, orang dikatakan sudah cakap melakukan perbuatan hukum apabila dia sudah dewasa, yang artinya sudah mencapai umur 21 tahun penuh atau sudah kawin walaupun belum berumur 21 tahun32. Sehingga, pihak penjual dan pembeli haruslah cakap menurut hukum dalam membuat perjanjian jual beli.

32 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, PTCitra Aditya Bakti, Bandung, 2014, hal. 301.

(7)

26

Akibat hukum jika dari para pihak tidak cakap dalam membuat perjanjian adalah:33

a. Jika dilakukan oleh anak yang belum dewasa, perjanjian akan batal demi hukum. (Pasal 1446 ayat (1) KUHPer jo. Pasal 1331 ayat (1) KUHPer).

b. Jika dilakukan oleh orang yang berada di bawah pengampuan maka perjanjian tersebut batal demi hukum (Pasal 1446 ayat (1) KUHPer jo.

Pasal 1331 ayat (1) KUHPer).

c. Terhadap perjanjian yang dibuat oleh wanita yang bersuami hanyalah batal demi hukum (Vide Pasal 1446 ayat (2) KUHPer jo. Pasal 1331 ayat (1) KUHPer).

d. Terhadap perjanjian yang dibuat oleh anak dibawah umur yang telah mendapatkan status disamakan dengan orang dewasa hanyalah batal demi hukum (Vide Pasal 1446 ayat (2) KUHPer jo. Pasal 1331 ayat (1) KUHPer).

e. Terhadap perjanjian yang dibuat oleh orang yang dilarang oleh undang- undang untuk melakukan perbuatan tertentu, maka mereka dapat menuntut pembatalan perjanjian tersebut, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang (Pasal 1330 ayat (3) KUHPer).

3. Suatu hal tertentu dalam perjanjian jual beli

33 Munir Fuady, Hukum Kontrak Buku Kesatu, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2015, hal.

49.

(8)

27

Suatu hal tertentu yang dimaksud dalam perjanjian jual beli adalah objek yang menyangkut hak dan kewajiban dari kedua belah pihak yaitu penjual dan pembeli. Hak dan kewajiban oleh kedua belah pihak terdiri atas:34

1) Memberikan sesuatu;

2) Berbuat sesuatu; dan 3) Tidak berbuat sesuatu.

Objek yang dimaksud dalam perjanjian jual beli menurut Pasal 1333 KUHPer adalah barang yang harus tertentu, setidaknya harus ditentukan jenisnya dan mengenai jumlahnya tidak perlu ditentukan asalkan kemudian dapat ditentukan maupun diperhitungkan. Dalam menentukan barang sebagai objek perjanjian, dapat dilakukan dengan cara seperti menghitung, menimbang, mengukur, atau menakar. Sedangkan jasa, harus ditentukan apa yang harus dilakukan oleh satu pihak35. Selain itu, Zaak dalam Pasal 1333 KUHPer (juga dalam Pasal 1332 dan Pasal 1334) lebih tepat diterjemahkan sebagai pokok persoalan karena pokok atau objek dari perjanjian dapat berupa bukan benda/barang, tetapi bisa juga berupa jasa. 36

4. Suatu sebab yang halal

Dalam perjanjian, suatu sebab yang halal berkaitan dengan isi perjanjian dimana Pasal 1337 KUHPer menyebutkan bahwa isi perjanjian tidak dilarang oleh undang-undang, tidak bertentangan dengan ketertiban umum, dan tidak bertentangan dengan kesusilaan dalam masyarakat. Pasal

34 Ahmadi Miru, Hukum Kontrak & Perancangan Kontrak, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2013, hal. 30.

35Ibid.

36 Hardijan Rusli, Hukum Perjanjian Indonesia & Common Law, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1996, hal. 86.

(9)

28

1355 KUHPer menjelaskan bahwa suatu perjanjian jika tanpa sebab atau perjanjian yang telah dibuat karena sesuatu sebab yang palsu atau terlarang, maka perjanjian tersebut tidak mempunyai kekuatan.

Adanya suatu sebab yang halal pada Pasal 1320 KUHPer, bukan sebab yang membuat orang untuk membuat perjanjian tetapi isi dari perjanjian tersebut yang menjadi tujuan yang akan dicapai oleh para pihak. Yang diawasi oleh perjanjian adalah “isi perjanjian” sebagai tujuan yang hendak dicapai para pihak, karena Undang-Undang tidak memperdulikan apa yang menjadi sebab para pihak mengadakan perjanjian37.

3. Unsur Jual Beli

Dalam jual beli, terdapat 2 (dua) unsur penting yang penting yaitu:

a. Barang

Barang sebagai salah satu unsur yang penting dalam jual beli karena tanpa adanya barang sebagai objek yang dijual, jual beli tidak akan terjadi.

Barang sebagai objek dalam jual beli ini yaitu sesuatu yang berwujud benda/barang. Benda/barang adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan obyek harta kekayaan, sehingga yang dapat dijadikan objek jual beli adalah segala sesuatu yang bernilai harta kekayaan38. Dalam Pasal 1332 KUHPer menyatakan bahwa barang yang dapat dijadikan objek persetujuan adalah barang-barang yang bisa diperniagakan, maka apa yang telah dijadikan objek persetujuan dengan sendirinya menjadi objek jual beli.

37 Abdulkadir Muhammad, Op. Cit, hal. 303.

38 M. Yahya Harahap, Segi-Segi Hukum Perjanjian, Penerbit Alumni, Bandung, 1982, hal.

182.

(10)

29

Barang/benda yang menjadi objek jual beli yang akan diserahkan ke pembeli bukan hanya pembeli menerima barang/benda tersebut, melainkan menyerahkan juga hak kepemilikan untuk menguasai dan memiliki objek tersebut kepada pembeli. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 1459 KUHPer dimana hak milik atas barang yang dijual tidak akan berpindah jika barang tersebut belum diserahkan kepada pembeli sesuai dengan ketentuan penyerahan yang telah ditetapkan. Sehingga, penyerahan objek jual beli termasuk penyerahan barang/benda dan juga penyerahan hak milik atas barang/benda kepada pembeli.

b. Harga

Harga yang menjadi unsur dalam perjanjian jual beli merupakan sesuatu jumlah yang harus di bayarkan dalam bentuk uang, sehingga pembayaran dengan uang yang dikategorikan dalam jual beli39. Harga pada objek jual beli harus setara juga dengan nilai barang sesungguhnya. Dengan kesetaraan antara harga dan nilai dimaksudlan agar mendapatkan pembayaran yang pantas atas objek dalam jual beli dan juga melindungi penjual jika terdapat pemaksaan harga yang lebih rendah.

Dalam penentuan harga yang pantas, penjual dan pembeli berhak atas hal tersebut berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat dalam penentuan harga yang pantas. Namun, jika dalam kesepakatan tersebut tidak menentukan harga yang pantas, maka dapat diserahkan kepada pihak ketiga.

Tetapi, pihak ketiga bisa saja menolak untuk menentukan harga yang pantas karena pihak ketiga tidak mesti menentukan harga.

39 M. Yahya Harahap, Loc. Cit.

(11)

30 4. Asas-Asas Perjanjian Jual Beli

Asas hukum berfungsi sebagai pedoman atau arahan orientasi berdasarkan mana hukum dapat dijalankan. Asas-asas hukum dapat digunakan sebagai pedoman tidak hanya dalam kasus-kasus sulit, melainkan juga untuk menerapkan aturan.40 Sejumlah prinsip dan asas hukum, merupakan dasar dari hukum perjanjian dimana prinsip-prinsip serta asas-asas hukum tersebut memberikan gambaran mengenai latar belakang cara berpikir yang menjadi dasar dari hukum perjanjian.

Menurut Saptjipto Rahardjo, asas hukum dapat diartikan sebagai hal yang dianggap masyarakat hukum yang bersangkutan sebagai basic truth atau kebenaran asasi, sebab melalui asas hukum pertimbangan etis, moral, dan sosial masyarakat masuk ke dalam hukum. Sehingga, Asas hukum menjadi sumber yang menghidupi tata hukum dengan nilai-nilai etis, moral, dan sosial masyarakat.41

Dalam buku III KUHPer mengenai perjanjian, menganut sistem terbuka dan juga asas kekebasan berkontrak. Namun, terdapat pula berbagai asas-asas hukum perjanjian yang juga berlaku pada perjanjian jual beli. Dari berbagai asas hukum yang terdapat dalam hukum perjanjian, terdapat asas yang menjadi saka guru dari hukum perjanjian, yaitu:42

1. Asas Kebebasan Berkontrak

Asas kebebasan berkontrak ini menduduki posisi sentral pada hukum perjanjian, dimana asas ini mempunya pengaruh yang kuat dalam hubungan

40 Anita Kamilah, Bangun Guna Serah (Build operate and Transfer/ BOT ) Membangun Tanpa Harus Memiliki Tanah : Persfektif Hukum Agraria , Hukum Perjanjian dan Hukum Publik, CV Keni Media, Bandung, 2013, hal. 97.

41 Johannes Ibrahim dan Lindawaty Sewu, Hukum Bisnis Dalam Persepsi Manusia Modern, PT Refika Aditama, Bandung, 2007, hal. 51.

42 Agus Yudha Hernoko, Hukum Perjanjian Asas Proposionalitas Dalam Kontrak Komersial, Penerbit Kencana Prenadamedia Group, Jakarta, 2010, hal. 107.

(12)

31

kontraktual oleh para pihak. Pada dasarnya, kebebasan berkontrak merupakan perwujudan dari kehendak bebas, pancaran hak asasi manusia yang perkembangannya dilandasi oleh semangat liberalism yang mengagungkan kebebasan individu dimana perkembangan tersebut seiring dengan pembuatan BW di negeri Belanda dan juga semangat liberalisme juga dipengaruhi oleh semboyan Revolusi Perancis “liberte, egalite et fraternite”

(kebebasan, persamaan, dan persaudaraan).43

Asas kebebasan berkontrak (freedom of contract) merupakan asas yang menekankan bahwa para pihak dalam kontrak pada prinsipnya memiliki kebebasan untuk membuat atau tidak membuat kontrak, para pihak dalam mengadakan perjanjian, dan juga memiliki kebebasan untuk mengatur isi dari kontrak tersebut.44

Dalam Pasal 1338 KUHPer menyatakan bahwa: “Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi yang membuat”.

Kata “semua” terkandung arti meliputi seluruh perjanjian, baik perjanjian Bernama maupun tidak Bernama. Istilah “semua” mengandung asas patij antonimie.45. Karena kebebasan berkontrak merupakan perwujudan dari kehendak yang bebas serta pancaran hak asasi manusia, maka asas kebebasan berkontrak ini harus didasarkan oleh kebebasan yang bertanggung jawab serta mampu memelihara keseimbangan agar mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup dan batin dengan kepentingan masyarakat.

43 Agus Yudha Hernoko, Op.Cit, hal. 109.

44 Toman Sony Tambunan dan Wilson R.G. Tambunan, Hukum Bisnis, Penerbit Prenadamedia Group, Jakarta, 2019, hal. 55.

45 Dhanang Widijawan, Dasar-Dasar Hukum Kontrak Bisnis Transaksi & Sistem Elektronik (UU ITE Perubahan No. 10/2016), Penerbit CV Keni Media, Bandung, 2018, hal. 79.

(13)

32 2. Asas Konsensualisme

Asas kebebasan berkontrak dan asas konsensualisme merupakan asas yang saling berhubungan. Dalam Pasal 1320 angka 1 KUHPer mengenai kesepakatan, asas konsensualisme terkandung didalamnya. Pada Pasal 1320 KUHPer terdapat kemauan untuk mengikatkan diri dan berpartisipasi dari para pihak untuk mengadakan perjanjian.

Asas Konsensualisme merupakan asas yang menyatakan bahwa pada umumnya perjanjian tidak diadakan secara formal, melainkan cukup dengan adanya kesepakatan yang timbul dari kedua belah pihak, dimana kesepakatan ini merupakan persesuaian kehendak dengan pernyataan yang dibuat oleh para pihak.46

Pemahaman asas konsensualisme ini menekankan pada kata “sepakat”

oleh para pihak, 47berangkat dari pemikiran bahwa yang berhadapan dalam kontrak ialah orang yang menjunjung tinggi komitmen dan tanggung jawab dalam lalu lintas hukum, orang yang beritikad baik, sehingga berasumsi bahwa para pihak dalam berkontrak adalah “gentlemen” yang mengakibatkan terwujudnya “gentlemen agreement”.

3. Asas Kekuatan Mengikat (Pacta Sunt Servanda)

Asas kekuatan mengikat (pacta sunt servanda) berasal dari Bahasa latin yang mempunyai arti yaitu janji harus ditepati, dimana asas tersebut merupakan asas ketaaatan agar para pihak menjalankan kontrak perjanjian sesuai isi yang diperjanjikan oleh para pihak. Asas kekuatan mengikat (pacta

46 Bambang Sutiyoso, Hukum Kontrak : Interpretasi dan Penyelesaian Sengketa di Indonesia, Penerbit UII Press, Yogyakarta, 2020, hal. 21.

47 Agus Yudha Hernoko, Hukum Perjanjian : Asas Proporsionalitas dalam Kontrak Komersial, Penerbit Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2010, hal. 122.

(14)

33

sunt servanda) memberikan perlindungan secara otomatis saat perjanjian dilakukan oleh para pihak yang mengakibatkan rasa aman kepada para pelaku perjanjian. 48

Asas kekuatan mengikat atau Pacta Sunt Servanda, berkaitan dengan akibat dari perjanjian yang dibuat oleh para pihak. Berdasarkan Pasal 1338 ayat (1) KUHPer yang berbunyi “Perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang” memiliki pengertian bahwa daya mengikat kontrak sama seperti undang-undang bagi para pihak yang sudah menyepakati, maka hakim atau pihak ketiga pun harus menhgormati substansi komtrak yang dibuat oleh para pihak sebagaimana layaknya undang-undang dan tidak boleh melakukan intervensi terhadap substansi kontrak.49

4. Asas Iktikad Baik

Asas iktikad baik merupakan asas dimana para pihak, baik kreditur maupun debitur harus melaksanakan isi perjanjian sesuai dengan keyakinan atau kepercayaan teguh atau kemauan dari para pihak. Hal ini sesuai dengan isi Pasal 1338 angka (3) KUHPer yang menyatakan “Perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik”. Pasal 1338 angka (3) KUHPer yang menyebutkan bahwa persetujuan harus dilaksanakan dengan iktikad baik dimaksudkan bahwa perjanjian wajib dilaksanakan sesuai dengan kepatutan dan keadilan.

Pengertian iktikad baik pada Pasal 1338 ayat (3) KUHPer yang melaksanakan perjanjian dengan iktikad baik yaitu bersifat dinamis, yang

48 Nury Khoiril Jamil dan Rumawi, Implikasi Asas Pacta Sunt Servanda Pada Keadaan Memaksa (Force Majeure) Dalam Hukum Perjanjian Indonesia, Jurnal Kertha Samaya, Volume 8 Nomor 7, 2020, hal. 1048.

49 Bambang Sutiyoso, Op.Cit, hal. 23.

(15)

34

artinya dalam melaksanakan perbuatan ini kejujuran harus berjalan dalam hati sanubari manusia dan juga selalu mengingat bahwa manusia sebagai anggota masyarakat harus jauh dari sifat merugikan pihak lain atau menggunakan kata-kata secara membabi buta pada saat kedua belah pihak membuat suatu perjanjian.50

Mengacu pada iktikad baik dalam menjalankan aktivitas tersebut, para pihak tidak boleh memaanfaatkan kelalaian pihak lain untuk menguntungkan diri sendiri dan juga tidak diperkenankan untuk merugikan pihak lain.

Perjanjian tidak hanya ditetapkan berdasarkan kata-kata para pihak, tetapi hakim dapat melakukan intervensi berdasarkan asas iktikad baik dalam hal ini menafsirkan isi perjanjian di luar kata-kata yang telah tercantum, baik ditambah atau diperluas, bahkan dapat ditetapkan secara bertentangan dengan kata-kata yang telah ditetapkan oleh para pihak.

5. Asas Kepribadian

Asas kepribadian yaitu asas yang mennetukan bahwa dalam seseorang yang membuat atau mengadakan perjanjian hanya untuk kepentingan perseorangan saja51. Dalam Pasal 1315 dan Pasal 1340 KUHPer, mengatur mengenai asas kepribadian. Pasal 1315 KUHPer menyatakan bahwa “Pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri”, yang memiliki arti bahwa perjanjian yang dibuat diadakan hanya untuk kepentingan sendiri. Sedangkan Pasal 1340 KUHPer menyatakan “Perjanjian hanya berlaku antara pihak yang membuatnya”, artinya perjanjian yang dibuat hanya berlaku untuk para pihak saja. Namun,

50 Agus Yudha Hernoko, Op.Cit, hal. 139.

51 Bambang Sutiyoso, Op.Cit, hal. 24.

(16)

35

terdapat pengecualian yang terdapat pada Pasal 1317 KUHPer, dimana menyatakan bahwa “Dapat pula perjanjian diadakan untuk kepentingan ketiga, bila suatu perjanjian yang dibuat untuk diri sendiri, atau suatu pemberian kepada orang lain, mengandung syarat semacam itu”, hal ini dapat diartikan bahwa perjanjian dapat diadakan untuk kepentingan pihak ketiga, dengan syarat yang sudah ditentukan.

Selain itu kelima asas di atas, terdapat asas hukum perjanjian lainnya, yaitu:52

6. Asas Kepercayaan

Asas kepercayaan ini memiliki pengertian bahwa setiap pihak yang melaksanakan perjanjian, memenuhi setiap prestasi di belakang hari yang sudah diperjanjikan.

7. Asas Persamaan Hukum

Asas persamaan hukum ini merupakan asas dimana para pihak yang mengadakan perjanjian memiliki persamaan di depan hukum tanpa dibeda- bedakan, baik dari segi kedudukan, hak dan kewajiban.

8. Asas Keseimbangan

Asas keseimbangan merupakan asas yang menghendaki para pihak untuk memenuhi isi perjanjian, dimana kreditur berhak untuk menuntut pelaksanaan prestasi dan debitur dengan iktikad baik berkewajiban untuk memenuhi dan melaksanakan isi perjanjian.

9. Asas Kepastian Hukum

52 Salim H.S, Hukum Kontrak : Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, hal. 13.

(17)

36

Asas kepastian hukum memiliki arti yaitu dalam perjnajian harus mengandung kepastian hukum sebagai figure hukum, dimana kepastian hukum ini dari kekuatan mengikatnya suatu perjanjian.

10. Asas Moral

Asas moral terlihat dari zaakwarneming, yatitu seseorang melakukan perbuatan dengan sukarela (moral) dimana seseorang tersebut memiliki kewajiban hukum untuk menyelesaikan perbuatannya dan perbuatan tersebut didasarkan pada kesusilaan (moral).

11. Asas Kepatutan

Asas ini berkaitan dengan ketentuan mengenai isi perjanjian. Hal tersebut tertuang pada Pasal 1339 KUHPer.

12. Asas Kebiasaan

Asas kebiasaan memiliki pengertian bahwa perjanjian bukan hanya mengikat apa yang sudah diatru secara tegas, melainkan juga sesuai dengan kebiasaan yang lazim untuk diikuti.

13. Asas Perlindungan

Asas ini memberikan perlindungan hukum kepada kedua belah pihak, baik kreditur maupun dibebitur. Namun, yang perlu mendapatkan perlindungan hukum adalah posisi yang lemah, yaitu debitur.

B. Perjanjian Jual Beli Secara Online (E-Commerce)

1. Pengertian Perjanjian Jual Beli Secara Online ( E-Commerce)

Perjanjian adalah suatu perbuatan atau perbuatan hukum yang dibentuk dengan tercapainya suatu kesepakatan yang merupakan pernyataan kehendak bebas

(18)

37

dari dua orang (para pihak) atau lebih, dimana tercapainya kesepakatan itu tergantung para pihak yang menimbulkan akibat hukum untuk kepentingan salah satu pihak dan atas beban pihak lain atau timbal balik dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan. Transaksi jual beli secara online ini dilakukan tanpa adanya tatap muka antara para pihak, mereka mendasarkan transaksi jual beli atas dasar saling percaya, sehingga perjanjian jual beli yang terjadi antara para pihak dilakukan secara elektronik baik melalui e-mail atau media sosial lainnya, oleh karena itu tidak ada berkas perjanjian seperti pada transaksi jual beli konvensional/biasanya. Kemudian dalam pelaksanaan transaksi elektronik yang dilakukan para pihak harus memperhatikan:

1. Itikad Baik;

2. Prinsip Kehati-hatian;

3. Transparansi Akuntabilitas; dan 4. Kewajaran

Dalam perjanjian jual beli melalui web atau online, perkumpulan- perkumpulan yang mengadakannya melakukan hubungan-hubungan yang sah yang dibagi melalui suatu jenis perjanjian atau perjanjian yang diselesaikan secara elektronik dan sesuai Pasal 1 angka 17 UU ITE disinggung sebagai perjanjian elektronik, khususnya pengertian yang terkandung dalam perjanjian elektronik, dalam arsip elektronik atau media elektronik lainnya. Dalam pertukaran jual beli secara online, pertemuan yang terlibat dengannya melakukan koneksi yang sah yang dibagi melalui jenis pengaturan atau perjanjian yang diselesaikan secara elektronik dan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 17 UU ITE yang menyebutkan bahwa Kontrak Elektonik yakni perjanjian para pihak yang dibuat

(19)

38

melalui sistem Elektronik, khususnya pengertian yang terkandung dalam perjanjian elektronik. Berdasarkan pengertian diatas, dapat ditarik beberapa unsur dari e- commerce, yaitu:

1. Ada kontrak dagang

2. Kontrak itu dilaksanakan dengan media elektronik 3. Kehadiran fisik dari para pihak tidak diperlukan 4. Kontrak itu terjadi dalam jaringan public

5. Sistemnya terbuka, yaitu dengan internet atau WWW 6. Kontrak itu terlepas dari batas, yuridiksi nasional

Perjanjian elektronik itu sendiri menurut Pasal 47 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (selanjutnya disebut PP 71/2019) setidaknya harus memuat hal-hal sebagai berikut :

a. Data identitas para pihak b. Objek dan spesifikasi

c. Persyaratan transaksi elektronik d. Harga dan biaya.

e. Prosedur dalam hal terdapat pembatalan oleh para pihak.

f. Ketentuan yang memberikan hak kepada pihak yang dirugikan untuk dapa mengembalikan barang dan atau meminta penggantian produk jika terdapat cacat tersembunyi

g. Pilihan hukum penyelesaian transaksi elektronik.

Mengingat pengaturan Pasal 1 angka 2 UU ITE, dinyatakan Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan

(20)

39

Komputer, jaringan Komputer, dan/atau media elektronik lainnya. Dalam transaksi elektronik ini, perkumpulan-perkumpulan yang mengadakannya menyelesaikan suatu hubungan yang sah sebagaimana digambarkan dalam suatu jenis perjanjian atau perjanjian yang tambahannya dilakukan secara elektronik dan menurut pengaturan Pasal 1 angka 17 UU ITE dinyatakan bahwa suatu kontrak elektronik adalah Kontrak Elektronik adalah perjanjian para pihak yang dibuat melalui Sistem Elektronik. Pelaksanaan jual beli secara elektronik ini dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut:53

1. Penawaran yang dilakukan oleh penjual atau pelaku usaha melalui website pada internet.

2. Penerimaan, dapat dilakukan tergantung penawaran yang terjadi.

3. Pembayaran, dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung.

4. Pengiriman, merupakan suatu proses yang dilakukan setelah pembayaran atas barang yang ditawarkan penjual kepada pembeli, dalam hal ini pembeli berhak atas penerimaan barang tersebut.

Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, dikirim, diperoleh, atau disimpan dalam struktur sederhana, canggih, elektromagnetik, optik, atau komparatif, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan tambahan didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk namun tidak terbatas pada komposisi, suara, gambar, peta, denah, foto atau semacamnya, huruf, tanda, angka, kode akses, gambar atau lubang yang memiliki arti atau yang berarti atau dapat dirasakan oleh individu yang dapat memperolehnya ( Pasal 1 angka 4 UU ITE).

Mengingat pengaturan Pasal 1 angka 2 (UU ITE), dinyatakan bahwa pertukaran

53 Sri Anggraini Kusuma Dewi, Perjanjian Jual Beli Barang Melalui Elektronik Commerce (E-Com) , Jurnal Ilmiah Teknologi dan Informasia Asia (Jitika), Vol. 9, 2015, hal. 3.

(21)

40

elektronik adalah demonstrasi yang sah yang dilakukan dengan menggunakan komputer juga media elektronik lainnya.54.

Ketentuan Hukum Perjanjian Transaksi Online (elektronik) dalam UU ITE dan Peraturan Pelaksanaannya, meskipun transaksi jual beli dilakukan secara online berdasarkan UU ITE dan PP 71/2019, tetap diakui sebagai transaksi elektronik yang dapat dipertanggungjawabkan. Persetujuan konsumen untuk membeli barang secara online dengan mengklik persetujuan transaksi merupakan bentuk penerimaan yang menyatakan persetujuan dalam perjanjian transaksi elektronik.

Penerimaan biasanya didahului dengan pernyataan persetujuan atas syarat dan ketentuan jual beli online yang juga dapat dikatakan sebagai bentuk kontrak elektronik. Kontrak elektronik menurut Pasal 47 (2) PP 71/2019 dianggap sah apabila:

a. Ada kesepakatan antara para pihak.

b. Dilakukan oleh subjek hukum yang kompeten atau berwenang c. Mewakili sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan d. Ada hal-hal tertentu

Syarat perjanjian jual beli secara online masih menggunakan ketentuan Pasal 1320 KUHPer yang memuat syarat sahnya perjanjian yaitu persetujuan kedua belah pihak, kesanggupan bertindak, objek perjanjian. dan adanya sebab yang halal. Jadi, pelaksanaan perjanjian jual beli online masih berlaku ketentuan syarat sahnya perjanjian dalam KUHPer. Bentuk perlindungan hukum bagi pembeli dalam pelaksanaan perjanjian jual beli online melalui e-commerce apabila penjual

54 Reny Elisa Lumban Gaol, Perlindungan Hukum Terhadap Para Pihak Dalam Transaksi Jual Beli Pakaian Jual Beli Pakaian Melalui Media Internet, Premise Law Jurnal Vol. 5, 2018, hal.13-14.

(22)

41

wanprestasi, maka bentuk penyelesaiannya diatur dalam Pasal 38 UU ITE dan Pasal 45 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (selanjutnya disebut UUPK). Sedangkan dalam UU ITE yang terbaru tidak diatur dan dihapuskan. Berdasarkan beberapa kelebihan dan kekurangan jual beli online dan jual beli secara konvensional di atas, dapat disimpulkan bahwa banyak terjadi wanprestasi melalui jual beli online. Karena undang-undang belum mampu mengcover semua jual beli secara online, maka pelaksanaan jual beli secara online lebih rawan wanprestasi. Oleh karena itu, perlu dibuat suatu undang-undang yang mengatur tentang pelaksanaan jual beli secara online.

2. Cara Kerja Transksi Online (e-commerce)

E-commerce adalah proses jual beli produk secara elektronik oleh konsumen dan dari perusahaan ke perusahaan dengan komputer sebagai perantara transaksi bisnis. E-commerce juga dapat diartikan sebagai transaksi jual beli antara pelaku usaha dengan konsumen yang melakukan pembelian dan pemesanan barang melalui media online kemudian dalam pengertian lain, e-commerce adalah transaksi komersial yang dilakukan antara penjual dan pembeli atau dengan pihak lain dalam hubungan perjanjian yang sama untuk menyerahkan sejumlah barang, jasa, dan pemindahan hak55. Dari berbagai definisi tersebut terdapat persamaan. Persamaan tersebut menunjukkan bahwa e-commerce memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Terjadi transaksi antara dua belah pihak.

2. Adanya pertukaran barang, jasa atau informasi

55 Titik Triwulan Tutik, Hukum Perdata dalam Sistem Hukum Nasional, Cet ke- 2, Kencana, 2008, Jakarta, hal. 33.

(23)

42

3. Internet merupakan medium utama dalam proses atau mekanisme perdagangan tersebut.

E-commerce menurut pandangan WTO (World Trade Organization), e- commerce ini menyangkut semua kegiatan seperti produksi, distribusi, pemasaran, penjualan, pengiriman barang atau jasa melalui cara elektronik. Sementara Alliance For Global Business mengartikan e-commerce sebagai seluruh transaksi nilai yang melibatkan transfer informasi, produk, jasa atau pembayaran melalui jaringan elektronika sebagai media. Melalui media tersebut barang dan jasa yang bernilai ekonomi yang diracang, dihasilkan, diiklankan, dikatalogkan, diinventarisasi, dibeli atau dikirimkan.56

Sependapat dengan Adi Nugroho, perdagangan elektronik (e-commerce) mungkin merupakan konsep baru yang lebih sering digambarkan sebagai metode pembelian dan penawaran produk atau administrasi di world wide web (www) atau metode pembelian dan penawaran atau pertukaran barang, administrasi dan informasi57 melalui sistem data berhitung web. E-commerce dapat berupa tindakan perdagangan yang dijalankan secara elektronik melalui pengaturan web atau pergerakan pembelian dan penawaran barang atau administrasi melalui saluran komunikasi tingkat lanjut. Sependapat dengan Abdul Halim Barkatullah dan Teguh Prasetyo, perdagangan elektronik atau disingkat e-commerce adalah latihan perdagangan yang melibatkan konsumen (pembeli), membuat (produsen), pemasok manfaat dan orang tengah (middle people) dengan memanfaatkan sistem komputer.

56 Budi Agus Riswandi, Regulasi Hukum dalam Transaksi E Commerce: Menuju Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Informasi, Jurnal Hukum, Volume 9 Nomor 19, hal. 137.

57 Adi Nugroho, E-Commerce; Memahami Perdagangan Modern di Dunia Maya, Informatika Bandung, Bandung. 2006, hal. 1.

(24)

43

untuk lebih spesifik web58. Penggunaan kantor web bisa menjadi kemajuan inovatif yang dapat dikatakan mendukung rangkaian lengkap latihan komersial 59 Misalnya, perjanjian elektronik dalam pertukaran elektronik, harus memiliki batasan sah yang sama dengan kontrak rutin. Sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (1) UU ITE yang meneliti Bursa Elektronik yang dituangkan ke dalam Kontrak Elektronik adalah resmi para pihak. Jadi, beberapa waktu belakangan ini melakukan pertukaran elektronik, para pihak harus sepakat untuk menggunakan kerangka elektronik untuk melakukan pertukaran. Setelah para pihak setuju, pembeli pada dasarnya harus merenungkan persyaratan kondisi (syarat yang diperlukan) oleh penjual. Dalam hal syarat telah disetujui dan dipenuhi oleh pembeli, maka langkah terakhir adalah menekan tombol "KIRIM" atau dengan membubuhkan cap "√" oleh pembeli yang menunjukkan syarat pengesahan untuk pemahaman yang diiklankan oleh penjual.

Sependapat dengan Brenda Kienan, pada dasarnya e-commerce melakukan perdagangan secara online. Dalam bentuknya yang paling jelas, e-commerce menawarkan barang kepada pelanggan secara online, tetapi kenyataannya adalah bahwa segala jenis perdagangan yang dilakukan secara elektronik adalah e- commerce. Intinya, e-commerce adalah membuat, mengawasi, dan menumbuhkan koneksi komersial secara online60. Sependapat dengan Kalakota dan Winston dari buku e-commerce dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, lebih spesifiknya:61

58 Abdul Halim Barkatullah & Teguh Prasetyo, Bisnis E-Commerce Studi Sistem Keamanan dan Hukum di Indonesia, Pustaka Setia, Yogyakarta, 2006, hal. 2.

59 Ibid, hal. 10.

60 Kienan Brenda, E-Commerce Untuk Perusahaan Kecil, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2001, hal. 4.

61 Suyanto M, Strategi Periklanan pada -Commerce Perusahaan Top Dunia, Andi,Yogyakarta, 2003, hal. 11.

(25)

44

1. Dari sudut pandang komunikasi, e-commerce adalah pengiriman barang dagangan, administrasi, data, atau angsuran melalui pengaturan komputer atau melalui peralatan elektronik lainnya.

2. Dari sudut pandang persiapan perdagangan, e-commerce adalah aplikasi inovasi menuju robotisasi pertukaran perdagangan dan alur kerja.

3. Dari sisi manfaat, e-commerce dapat menjadi alat yang memenuhi keinginan perusahaan, pelanggan, dan administrasi untuk memangkas biaya manfaat sekaligus meningkatkan kualitas produk dan meningkatkan kecepatan layanan pengangkutan.

4. Dari sudut pandang web, e-commerce memberikan kemampuan untuk membeli dan menawarkan produk atau data melalui web dan implikasi online lainnya.

E-Commerce memiliki beberapa komponen standar yang dimiliki dan tidak dimiliki transaksi bisnis yang dilakukan secara offline, yaitu : 62

1) Produk: Banyak jenis produk yang bisa dijual melalui internet seperti komputer, buku, musik, pakaian, mainan, dan lain-lain.

2) Tempat menjual produk (a place to sell): tempat menjual adalah internet yang berarti harus memiliki domain dan hosting.

3) Cara menerima pesanan: email, telepon, sms dan lain-lain.

4) Cara pembayaran: Cash, cek, bankdraft, kartu kredit, internet payment (misalnya paypal).

5) Metode pengiriman: pengiriman bisa dilakukan melalui paket, salesman, atau di download jika produk yang dijual memungkinkan untuk itu (misalnya software).

6) Customer service: email, formulir online, FAQ, telepon, chatting, dan lain-lain.

Adapun beberapa pihak yang terlibat dalam transaksi online ini. Sesuai dengan standar Protocol Secure Electronic Transaction (SET), Ustadiyanto menjelaskan komponen-komponen yang terlibat dalam e-commerce, yaitu:63

1. Pemegang Kartu (Pembeli) Dalam perdagangan elektronik, berurusan dengan penjual melalui komputer PC. Pembeli menggunakan pembayaran dari kartu yang dikeluarkan oleh

62 Taufik Hidayat, Panduan Membuat Toko Online dengan OSCommerce, Mediakita, Jakarta, 2008, hal. 7.

63 Ustadiyanto dan Riyek, Framework E-Commerce, Andi,Yogyakarta, 2001, hal. 158.

(26)

45

penerbit, SET menjamin bahwa hubungan antara pembeli dan penjual, termasuk data pelanggan, bersifat rahasia.

2. Penerbit adalah lembaga keuangan tempat pembeli menjadi pelanggan dan menerbitkan kartu pembayaran. Penerbit menjamin pembayaran atas transaksi yang disetujui menggunakan kartu pembayaran sesuai merek yang tertera pada kartu dan peraturan pembeli setempat untuk melakukan transaksi dengan aman. Penjual yang menerima pembayaran kartu kredit harus memiliki hubungan dengan Acquirer c.

Acquirer adalah lembaga keuangan tempat penjual menjadi pelanggan dan memproses otorisasi kartu pembayaran.

3. Payment Gateway merupakan sarana yang dioperasikan oleh Acquirer atau pihak ketiga yang ditunjuk untuk memproses pesan-pesan penjual, termasuk instruksi pembayaran penjual.

4. Otoritas Sertifikat (Certificate Authority) Merupakan lembaga yang dipercaya dan menerbitkan sertifikat sertifikat dan ditandatangani secara digital oleh pengguna.

Dalam proses jual beli secara online, terdapat beberapa aktivitas yang beragam dari jual beli yang dilakukan secara tidak online, terhitung64

1. Antara penjual dan pembeli tidak melakukan tatap muka (secara langsung)

2. Kesepakatan dicapai secara tertulis dalam media elektronik 3. Dalam transaksi online, tanggung jawab (kewajiban) atau

perjanjian dibagi kepada para pihak yang terlibat dalam jual beli tersebut

4. Sedikitnya ada 4 (empat) pihak yang terlibat di dalam transaksi online.

5. Pihak tersebut antara lain perusahaan penyedia barang (penjual), pembeli, perusahaan penyedia jasa pengiriman, dan jasa pembayaran.

6. Dalam transaksi online terdapat bagian-bagian tanggung jawab pekerjaan yaitu untuk penawaran, pembayaran, pengiriman

7. Terdapat perjanjian-perjanjian khusus yang disepakati keduanya, diantaranya:

a. Barang dikirim setelah pembayaran dilunasi seluruhnya di muka

b. Barang yang telah diterima pembeli sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembeli dan lepas dari tanggung jawab penjual

c. Apabila terdapat cacad-cacad pada barang yang telah diterima, sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembeli

64 Chacha Andira Sari, Perilaku Berbelanja Online di Kalangan Mahasiswi Antropologi Universitas Airlangga, Jurnal Airlangga, Volume 4 Nomor 2, hal. 209.

(27)

46

d. Apabila setelah jangka waktu tertentu pembayaran tidak dilakukan, kesepakatan batal dan barang dialihkan pada pembeli lain.

Aturan penggunaan dalam kesepakatan online dan pemahaman pembelian dalam pelaksanaannya tergantung pada manfaat yang digunakan dan kepercayaan masing-masing pihak. Agar sebuah perdagangan antar pembeli dan penjual dapat dilakukan, maka harus ada satu proses tertentu. Proses transaksi e-commerce bisa mencakup tahap-tahap sebagai berikut:65

BAGAN 1. Proses Transaksi E-commerce

1. Show, penjual menunjukkan produk atau layanannya di situs yang dimiliki, lengkap dengan detail spesifikasi produk dan harganya.

2. Register, konsumen melakukan register untuk memasukkan data-data identitas, alamat pengiriman dan informasi login.

3. Order, setelah konsumen memilih produk yang diinginkan, konsumen pun selanjutnya melakukan order pembelian.

4. Payment, konsumen melakukan pembayaran.

5. Verification, verifikasi data konsumen sepeti data-data pembayaran (No.

rekening atau kartu kredit).

6. Deliver, produk yang dipesan pembeli kemudian dikirimkan oleh penjual ke konsumen.

65 Suyanto, Op.Cit, hal. 46.

(28)

47

Menurut Edmon Makarim, transaksi jual beli secara elektronik ini dapat dilakukan dalam beberapa tahap, sebagai berikut: 66

a. Penawaran, yang dilakukan oleh penjual atau pelaku usaha melalui website di internet. Penjual atau pelaku usaha menyediakan etalase yang berisi katalog produk dan jasa yang akan disediakan. Orang yang masuk ke website pelaku usaha dapat melihat barang yang ditawarkan oleh penjual. Salah satu kelebihan transaksi jual beli melalui toko online ini adalah pembeli dapat berbelanja kapan saja dan dimana saja tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Penawaran dalam sebuah website biasanya menampilkan barang yang ditawarkan, harga, nilai rating atau jajak pendapat otomatis tentang barang yang diisi oleh pembeli sebelumnya, spesifikasi barang yang dimaksud dan menu produk terkait lainnya. Penawaran melalui internet terjadi apabila pihak lain yang menggunakan media internet memasuki situs milik penjual atau pelaku usaha untuk melakukan penawaran, oleh karena itu apabila seseorang tidak menggunakan media internet dan memasuki situs milik pelaku usaha yang menawarkan suatu produk, maka tidak dapat dilakukan penawaran. Dengan demikian penawaran melalui internet hanya dapat terjadi jika seseorang membuka situs yang menampilkan penawaran melalui internet.

b. Penerimaan, dapat dilakukan tergantung pada penawaran yang terjadi. Jika penawaran dilakukan melalui alamat email, maka penerimaan dilakukan melalui email, karena penawaran hanya ditujukan ke alamat email sehingga hanya pemilik email tersebut yang dialamatkan. Penawaran melalui website diperuntukan bagi semua orang yang membuka website, karena siapapun dapat masuk ke website yang berisi penawaran suatu barang yang ditawarkan oleh penjual atau pelaku usaha. Setiap orang yang berminat untuk membeli barang yang ditawarkan dapat membuat kesepakatan dengan penjual atau pelaku usaha yang menawarkan barang tersebut.

Dalam transaksi jual beli secara elektronik khususnya melalui website biasanya calon pembeli akan memilih barang tertentu yang ditawarkan oleh penjual atau pelaku usaha, dan jika calon pembeli atau konsumen tertarik untuk membeli salah satu barang yang ditawarkan maka barang tersebut akan disimpan terlebih dahulu sampai calon pembeli/konsumen merasa yakin dengan pilihannya, maka pembeli/konsumen akan memasuki tahap pembayaran.

c. Pembayaran dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya melalui fasilitas internet, namun

66 Edmon Makarim, Kompilasi Hukum Telematika, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hal. 320-322.

(29)

48

tetap mengandalkan sistem keuangan nasional yang mengacu pada sistem keuangan daerah.

Klasifikasi cara pembayaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Transaksi model ATM, yaitu transaksi yang hanya melibatkan lembaga keuangan dan pemegang rekening yang akan menarik atau menyetor uang dari rekeningnya masing-masing;

2. Pembayaran oleh dua pihak tanpa perantara, yang dapat dilakukan secara langsung antara kedua pihak tanpa perantara menggunakan mata uang nasional mereka;

3. Pembayaran melalui pihak ketiga, umumnya adalah proses pembayaran yang melibatkan debet, kredit atau cek masuk. Metode pembayaran yang dapat digunakan antara lain: sistem pembayaran kartu kredit online dan sistem pembayaran cek inline.

3. Pengaturan Transaksi Online (E-Commerce)

Dalam pengaturan e-commerce secara Internasional dalam UNCITRAL batasan e-commerce adalah transaksi-transaksi dalam perdagangan internasional yang dilakukan melaui pertukaran data elektronik dan cara-cara komunikasi lainnya67 Hukum yang mengatur mengenai e-commerce secara internasional adalah UNCITRAL The Model Law on Electronic Commerce yang disahkan oleh Majelis Umum PBB melalui Resolusi No.51/162 Tahun 1996.68

Sedangkan di Indonesia sendiri pengaturan terkait e-commerce sendiri diatur didalam Undang-Undang Informasi dan Elektronik atau disingkat UU ITE juga

67 Huala Adolf, Hukum Perdagangan Internasional, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2005, hal. 162.

68 Ibid, hal. 163.

(30)

49

banyak disebut sebagai hukum siber atau Cyber Law Indonesia. UU ITE sebagai hukum siber Indonesia dibentuk karena adanya kebutuhan yang mendesak bagi individu, negara dan Negara Republik Indonesia saat ini dan di masa yang akan datang agar dapat bersaing di era global atau bebas dalam lingkup universal. Unsur- unsur halus lanjutan sehubungan dengan dasar pemikiran untuk penyusunan Undang-Undang tentang Pertukaran Informasi dan Elektronik (ITE) dapat ditemukan dalam pendahuluan, terutama dalam bidang “Menimbang” yang menyatakan bahwa pembangunan nasional adalah suatu proses yang berkelanjutan yang harus senantiasa tanggap terhadap berbagai dinamika yang terjadi di masyarakat

a. Bahwa globalisasi informasi telah menempatkan Indonesia sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia sehingga mengharuskan dibentuknya pengaturan mengenai pengelolaan Informasi dan Transaksi Elektronik di tingkat nasional sehingga pembangunan Teknologi Informasi dapat dilakukan secara optimal, merata, dan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat guna mencerdaskan kehidupan bangsa;

b. Bahwa perkembangan dan kemajuan Teknologi Informasi yang demikian pesat telah menyebabkan perubahan kegiatan kehidupan manusia dalam berbagai bidang yang secara langsung telah mempengaruhi lahirnya bentuk- bentuk perbuatan hukum baru;

c. Bahwa penggunaan dan pemanfaatan Teknologi Informasi harus terus dikembangkan untuk menjaga, memelihara, dan memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional berdasarkan peraturan perundangundangan demi kepentingan nasional;

(31)

50

d. Bahwa pemanfaatan Teknologi Informasi berperan penting dalam perdagangan dan pertumbuhan perekonomian nasional untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat;

e. Bahwa pemerintah perlu mendukung pengembangan Teknologi Informasi melalui infrastruktur hukum dan pengaturannya sehingga pemanfaatan Teknologi Informasi dilakukan secara aman untuk mencegah penyalahgunaannya dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya masyarakat Indonesia.

Ada tiga pendekatan untuk menjaga keamanan di internet 69: Yang utama adalah pendekatan mekanis; momennya adalah pendekatan sosial-budaya-etika;

dan yang ketiga adalah pendekatan yang halal. Dalam koneksi Untuk menentukan hukum yang bersangkutan, ada beberapa standar yang umum digunakan, yaitu: 70

1. Subjective territoriality, yang menekankan bahwa keberlakuan hukum ditentukan berdasarkan tempat perbuatan dilakukan dan penyelesaian tindak pidananya dilakukan dinegara lain.

2. Objective territoriality, yang menyatakan bahwa hukum yang berlaku adalah hukum dimana akibat utama perbuatan itu terjadi dan memberikan dampak yang sangat merugikan bagi negara yang bersangkutan.

3. Nationality, yang menentukan bahwa negara mempunyai jurisdiksi untuk menentukan hukum berdasarkan kewarganegaraan pelaku.

4. Passive Nationality, yang menekankan jurisdiksi berdasarkan kewarganegaraan korban.

5. Protective Principle, yang menyatakan berlakunya hukum didasarkan atas keinginan negara untuk melindungi kepentingan negara dari kejahatan yang dilakukan di luar wilayahnya, yang umumnya digunakan apabila korban adalah negara atau pemerintah.

6. Universality, asas ini disebut juga sebagai “universal interest jurisdiction”. Asas ini menentukan bahwa setiap negara berhak untuk menangkap dan menghukum para pelaku pembajakan.

69 Ny. Karlinah P.A dan Soebroto, Kejahatan Komputer Dalam Perbankan, Temu Karya Ilmiah Tindak Pidana Perbankan, Majalah Hukum Varia Peradilan, 1991, hal. 83

70 Ahmad P Ramli, Cybercrime Pemahaman dan Upaya Pencegahan Kejahatan Berteknologi, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002, hal. 55-56.

(32)

51

Asas ini kemudian diperluas sehingga mencakup pula kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity), misalnya penyiksaan, genosida, pembajakan udara, dan lain- lain. Meskipun dimasa mendatang asas yurisdiksi universal ini mungkin dikembangkan untuk internet piracy, seperti computer, cracking, carding, hacking, namun perlu dipertimbangkan bahwa penggunaan asas ini hanya diberlakukan untuk kejahatan sangat serius berdasarkan pada perkembangan dalam hukum internasional.

Teknologi informasi saat ini menjadi pedang bermata dua karena selain berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan, kemajuan, dan peradaban manusia, juga merupakan teknologi yang sangat rentan untuk menampung tindak pidana dan perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh orang-orang yang menguasai teknologi informasi. Lebih lanjut, dalam penjelasan umum UU ITE dijelaskan bahwa penggunaan teknologi informasi, media, dan komunikasi telah mengubah baik perilaku masyarakat maupun peradaban manusia secara global.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi juga menyebabkan hubungan dunia menjadi tanpa batas dan menyebabkan perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang signifikan berlangsung begitu cepat.

Dalam Pasal 4 UUPK ada hak konsumen yang harus dilindungi undang- undang, jika konsumen diperlakukan sebagai wanprestasi oleh penjual seperti pelanggaran terhadap keamanan dan keselamatan barang, penjual tidak mencantumkan informasi yang benar tentang barang yang dijualnya, penjual tidak mendengar keluhan dari pembeli karena penjual tidak mau bertanggung jawab, penjual tidak menginginkan ganti rugi atas barang yang tidak sesuai dengan kesepakatan dengan konsumen, penjual dapat menempuh jalur hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 38 dan Pasal 39 ayat (2) UU ITE yang menyatakan bahwa dalam selain penyelesaian gugatan perdata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagaimana dimaksud pada ayat (1), para pihak dapat menyelesaikan sengketanya

(33)

52

melalui arbitrase atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan sedangkan menurut UUPK, penjual wanprestasi, penyelesaian sengketa diatur dalam Pasal 47 dan Pasal 48 tentang penyelesaian sengketa melalui pengadilan dan di luar pengadilan Adapun pengaturan dari perlindungan konsumen tertera di dalam Pasal 3 UUPK , dilakukan dengan:

1. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur keterbukaan akses informasi, serta menjamin kepastian hukum.

2. Melindungi kepentingan konsumen pada khususnya dan kepentingan seluruh pelaku usaha.

3. Meningkatkan kualitas barang dan pelayanan jasa.

4. Memberikan perlindungan kepada konsumen dari praktik usaha yang menipu dan menyesatkan.

5. Memadukan penyelenggaraan, pengembangan dan pengaturan perlindungan konsumen dengan bidang-bidang perlindungan pada bidang-bidang lainnya.

Aturan mengenai transaksi jual beli secara online tetap mengacu pada syarat sahnya perjanjian dalam Pasal 1320 KUHPer. Dalam perjanjian jual beli secara online, subjek jual beli melalui e-commerce adalah pelaku usaha yang menjual barang dan pembeli sebagai konsumen yang membayar harga barang yang telah disepakati, jual beli online hanya berdasarkan atas kepercayaan antara penjual dan pembeli. Objek jual beli secara online adalah barang atau jasa yang telah dibeli oleh konsumen, terkadang harga barang atau jasa tersebut tidak dapat dilihat langsung oleh pembeli karena jual beli dilakukan secara online sehingga sangat rentan terhadap penipuan. Pasal 65 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan (selanjutnya disebut UU Perdagangan) tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik menjelaskan: “Setiap pelaku usaha yang memperdagangkan

(34)

53

barang dan/atau jasa dengan menggunakan sistem elektronik wajib menyediakan data dan/atau informasi secara lengkap dan benar.”

1) Setiap pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang dan/atau jasa dengan menggunakan sistem elektronik yang tidak sesuai dengan data dan/atau informasi secara lengkap dan benar;

2) Penggunaan sistem elektronik wajib memenuhi ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik;

3) Data dan/atau informasi secara lengkap dan benar memuat;

a. Identitas dan legalitas pelaku usaha sebagai produsen atau pelaku usaha distribusi;

b. Persyaratan teknis barang yang ditawarkan;

c. Persyaratan teknis atau kualifikasi jasa yang ditawarkan;

d. Harga dan cara pembayaran barang dan/atau jasa dan e. Cara penyerahan barang;

4) Dalam hal terjadi sengketa terkait dengan transaksi dagang melalui sistem elektronik, orang atau badan usaha yang mengalami sengketa tersebut melalui pengadilan atau melalui mekanisme penyelesaian sengketa lainnya; dan 5) Setiap pelaku usaha yang memperdagangkan barang dan/atau jasa dengan

menggunakan sistem elektronik yang tidak menyediakan data dan/atau informasi secara lengkap dan benar dikenai sanksi administratif berupa pencabutan izin

UU Perdagangan mengatur mengenai ketentuan larangan dan pembatasan perdagangan barang dan/atau jasa pada :

Pasal 35 ayat (4) menyebutkan bahwa :

(35)

54

Pemerintah menetapkan larangan atau pembatasan Perdagangan Barang dan/atau Jasa untuk kepentingan nasional dengan alasan:

a. Melindungi kedaulatan ekonomi b. Melindungi keamanan negara

c. Melindungi moral dan budaya masyarakat

d. Melindungi kesehatan dan keselamatan manusia, hewan, ikan, tumbuhan, dan lingkungan hidup

e. Melindungi penggunaan sumber daya alam yang berlebihan untuk produksi dan konsumsi

f. Melindungi neraca pembayaran dan/atau neraca perdagangan

g. Melaksanakan peraturan perundang-undangan dan/atau h. Pertimbangan tertentu sesuai dengan tugas Pemerintah

Selanjutnya pada Pasal 35 ayat (5) UU Perdagangan menyebutkan bahwa : Barang dan/atau Jasa yang dilarang atau dibatasi Perdagangannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Kemudian di dalam Pasal 36 UU Perdagangan menyebutkan bahwa : Setiap Pelaku Usaha dilarang memperdagangkan Barang dan/atau Jasa yang ditetapkan sebagai Barang dan/atau Jasa yang dilarang untuk diperdagangkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2).

Selanjutnya di dalam Pasal 37 UU Perdagangan menyebutkan bahwa : 1) Setiap Pelaku Usaha wajib memenuhi ketentuan penetapan

Barang dan/atau Jasa yang ditetapkan sebagai Barang dan/atau Jasa yang dibatasi Perdagangannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2).

2) Setiap Pelaku Usaha yang melanggar ketentuan penetapan Barang dan/atau Jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa pencabutan perizinan di bidang Perdagangan.

Sedangkan ketentuan mengenai larangan diatur di dalam Pasal 65 yang menyatakan bahwa terhadap pelaku usaha e-commerce diatur pada:

1) Setiap Pelaku Usaha yang memperdagangkan Barang dan/atau Jasa dengan menggunakan sistem elektronik wajib menyediakan data dan/atau informasi secara lengkap dan benar.

(36)

55

2) Setiap Pelaku Usaha dilarang memperdagangkan Barang dan/atau Jasa dengan menggunakan sistem elektronik yang tidak sesuai dengan data dan/atau informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

3) Penggunaan sistem elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi ketentuan yang diatur dalam UndangUndang Informasi dan Transaksi Elektronik.

4) Data dan/atau informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:

a. Identitas dan legalitas Pelaku Usaha sebagai produsen atau Pelaku Usaha Distribusi

b. Persyaratan teknis Barang yang ditawarkan

c. Persyaratan teknis atau kualifikasi Jasa yang ditawarkan d. Harga dan cara pembayaran Barang dan/atau Jasa; dan e. Cara penyerahan Barang

5) Dalam hal terjadi sengketa terkait dengan transaksi dagang melalui sistem elektronik, orang atau badan usaha yang mengalami sengketa dapat menyelesaikan sengketa tersebut melalui pengadilan atau melalui mekanisme penyelesaian sengketa lainnya.

6) Setiap Pelaku Usaha yang memperdagangkan Barang dan/atau Jasa dengan menggunakan sistem elektronik yang tidak menyediakan data dan/atau informasi secara lengkap dan benar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa pencabutan izin.

4. Pihak-Pihak Dalam Transaksi Online (E- Commerce)

Berdasarkan pengertian di atas, terkait dengan adanya pihak-pihak dalam transaksi jual beli secara online. Pihak-pihak yang dimaksud adalah:71

1. penjual, yakni pihak yang menawarkan produk-produknya dengan menggunakan sarana internet;

2. pembeli, yaitu setiap orang yang tidak dilarang oleh undang- undang untuk menerima penawaran dan melakukan transaksi jual beli atas produk yang disediakan oleh penjual;

3. bank, yaitu pihak yang menjadi penengah antara penjual dan pembeli dalam hal pembayaran atas barang yang ditransaksikan karena penjual dan pembeli berada di wilayah yang berbeda;

4. provider atau operator yaitu perusahaan yang menyediakan akses internet yang menjadi media utama dalam jual beli secara online

71 Edmon Makari, .Op.Cit, hal. 250.

(37)

56

Perjanjian e-commerce dikenal dua pelaku yaitu pedagang/pelaku usaha yang melakukan penjualan dan pembeli/pelanggan/konsumen yang bertindak sebagai pembeli. Selain pelaku usaha dan konsumen, transaksi jual beli melalui media internet juga melibatkan provider sebagai penyedia jasa internet dan bank sebagai alat pembayaran. ada unsur-unsur dalam pengertian transaksi online yaitu : 1.

Adanya transaksi yang terjadi antara 2 pihak yang saling berhubungan 2. Media utama dalam melakukan kegiatan perdagangan melalui jaringan internet. Transaksi e-commerce melibatkan beberapa pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung, tergantung dari kompleksitas transaksi yang dilakukan. Artinya apakah semua proses transaksi dilakukan secara on-line atau hanya beberapa tahapan saja yang dilakukan secara online. Jika semua transaksi e-commerce dilakukan secara online, mulai dari proses transaksi hingga pembayaran, Budhiyanto mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat yang terdiri dari:72

1. Penjual (merchant), yaitu perusahaan/produsen yang menawarkan produknya melaui internet. Untuk menjadi merchant, maka seseorang harus mendaftarkan diri sebagai merchant account pada sebuah bank, tentunya ini dimaksudkan agar merchant dapat menerima pembayaran dari custoumer dalam bentuk credit card.

2. Konsumren/card holder, yaitu orang yang ingin memperoleh produk (barang atau jasa) melalui pembelian secara online.

Konsumen yang berbelanja di internet dapat berstatus perorangan atau perusahaan.

3. Acquirer, yaitu pihak perantara penagihan (antara penjual dan penerbit) dan persantara pembayaran (antara pemegang dan penerbit). Perantara penagihan adalah pihak yang meneruskan tagihan kepada penerbit berdasarkan tagihan yang masuk kepadanya yang diberikan oleh penjual barang/jasa. Pihak perantara penagihan inilah yang melakukan pembayaran kepada penjual. Pihak perantara pembayaran adalah bank dimana pembayaran kredit dilakukan dengan kartu kredit/card holder, selanjutnya bank yang menerima pembayaran ini akan

72 Dikdik M. Arief Mansyur dan Elisatris Gultom, Cyber Law dan HAKI dalam Sistem Hukum Indonesia, Refika Aditama, Jakarta, 2005, hal.152-154.

Referensi

Dokumen terkait

1 Hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 1 angka 30 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang mengatur bahwa upah adalah “hak pekerja/buruh yang

Lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa konsumen antara konsumen dan pelaku usaha jika mengingat Pasal 1 Angka (11) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan

perlindungan konsumen diatur dalam Undang-undang No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, dalam pasal 4 UUPK yang mana konsumen mempunyai hak untuk diberikan

Menurut pasal 1 angka 30 undang-undang ketenagakerjaan 2003, upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau

Dalam perspektif Islam kebutuhan ditentukan oleh konsep maslahah. 1 Dalam Pasal 4 huruf G UUPK ditegaskan bahwa konsumen mempunyai hak untuk diperlakukan atau

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa UUPK telah memberikan upaya perlindungan terhadap hak-hak konsumen yang diatur didalam Pasal 4 UUPK, bahkan UUPK menyediakan

konsumen tentang terjadinya pelanggaran. Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa konsumen. Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap

Perlindungan hukum bagi penjual dan pembeli yang telah diatur dalam UUPK yaitu pada Pasal 4 mengenai hak konsumen antara lain mendapatkan barang yang sesuai