PENERAPAN TEKNOLOGI SEBAGAI USAHA UNTUK
MENINGKATKAN PRODUKSI SUSU DAN MEMPERBAIKI
BUDIDAYA SAPI PERAH RAKYAT MASALAH
DAN
PEMECAHANNYA
(Applied Technology to Improve Milk Production and Management of
Smallholder Dairy Farming Problems and its Solution)
SRI NASTITI JARMANI Balai Penelitian Ternak, Bogor
ABSTRACT
Dairy farming management, in general, with such problems as lack of feed availability, replacement stock, reproductive diseases followed by habitual practices that hardly changed were factors affected the relatively low milk production. There are plenty of technologies that can be applied to improve the feed quality from agricultural residues; however its dissemination and application have not been widely absorbed by farmers. Therefore, introduction of the technology followed by its assessment in the farmer’s level need to be carried out. Introduction and assessment of the use of ruminally less-degradable protein feestuff (MCPKC=molasses-coated palm kernel cake) has been carried out in farmers group Mekar Jaya in Megamendung district, Bogor regency for 30 days in May 2007. The farmers involved in this observation were based on self-willingness. One of the relatively lowest production cow was chosen from each cooperator, and being fed with 4 kg of the usual concentrate plus 500 gram of MCPKC. The data of milk production was recorded every day during morning and afternoon milking. Results indicated that reducing the quantity of concentrate as much as 2 kg accompanied by supplementation of 500 gram MCPKC improve the milk production as well as its quality, reducing the cost of production and therefore increase the farmers income as compared to the control cows with its usual feeding management.
Keywords: Dairy cows, milk production, applied technology, MCPKC ABSTRAK
Usaha budidaya sapi perah pada umumnya mengalami beberapa keterbatasan, seperti penyediaan jumlah dan kualitas pakan, bibit, penyakit reproduksi dan kebiasaan berusaha yang sulit dirubah sehingga merupakan sebagian faktor penyebab rendahnya produksi susu. Sudah banyak tersedia teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pakan dari biomass hasil limbah pertanian, namun penyebaran, pengembangan dan penerapannya belum merata sehingga perlu sosialisasi dan dilanjutkan dengan penerapan pengujiannya dilapang. Pengenalan dan pengujian bahan pakan sumber protein yang tidak terdegradasi didalam rumen (MCPKC=molasses-coated palm kernel cake) dilakukan di kelompok peternak sapi perah Mekar Jaya di Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor. Kegiatan dilakukan selama 30 hari pada bulan Mei 2007. Kooperator ditentukan secara sukarela, dimana masing-masing kooperator dipilih satu ekor sapi yang sedang laktasi dengan produksi susu paling rendah. Pakan yang diberikan adalah 4 kg konsentrat yang biasa digunakan oleh peternak ditambah dengan 500 gram pakan sumber protein yang terlindungi. Pencatatan produksi dilakukan setiap pemerahan pagi dan sore. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pengurangan 2 kg konsentrat dengan suplementasi 0,5 kg pakan sumber protein yang terlindungi dapat meningkatkan kualitas dan produksi susu, menurunkan biaya produksi dan meningkatkan pendapatan dibandingkan dengan sapi kontrol yang diberi pakan sesuai dengan kebiasaannya.
PENDAHULUAN
Usaha sapi perah sampai saat ini masih didominasi oleh usaha peternakan rakyat dengan manajemen tradisional dengan skala pemilikan berkisar 1- 4 ekor. Selain itu, usaha ini pada umumnya merupakan usaha sambilan yang dilakukan bersama dengan tanaman pangan sebagai usaha utama. DITJEN PETERNAKAN (2006) menyatakan bahwa produksi susu sapi perah rakyat masih rendah rata-rata 10 liter per hari per ekor, sehingga untuk mencukupi kebutuhan nasional masih diperlukan impor susu dalam bentuk susu bubuk atau produk olahan susu seperti mentega, keju dan yogurt. Keterbatasan penyediaan jumlah dan kualitas pakan, bibit, penyakit reproduksi dan kebiasaan membudidayakan yang sulit dirubah merupakan sebagian faktor penyebabnya.
Prospek usaha budidaya sapi perah diharapkan akan lebih baik seiring dengan peningkatan pendidikan dan pendapatan masyarakat, serta pencanangan program pemerintah untuk menjadikan susu sebagai makanan sehat yang harus dikonsumsi oleh masyarakat. Selain itu, pemerintah perlu lebih bijak dan banyak pertimbangan untuk mengimpor susu. Pengadaan sapi perah melalui impor, penyediaan paket kredit sapi perah di beberapa daerah pusat budidaya sapi perah di Pulau Jawa, pemberian fasilitas pemasaran dan penampungan susu merupakan upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan produksi susu.
SIREGAR et al. (1994) melaporkan bahwa produksi susu dapat ditingkatkan melalui perbaikan kualitas pakan dimana nilai nutrien disesuaikan dengan kebutuhan ternak. Hasil analisa terhadap pakan konsentrat sapi perah di beberapa lokasi dilaporkan bahwa kualitasnya rendah tidak sesuai dengan standar yang diperlukan oleh sapi yang sedang berproduksi (SIREGARet al., 1994). WIYONO danUMIYASIH (1998) melaporkan bahwa pemberian pakan yang kurang berkualitas secara berkelanjutan akan mempengaruhi perkembangan organ reproduksi ternak. Sementara itu, sudah banyak tersedia teknologi pemanfaatan biomass hasil limbah pertanian yang dapat meningkatkan nilai nutriennya menjadi sumber pakan berserat untuk sapi perah. Namun, penyebaran, pengembangan dan penerapannya belum
merata sehingga perlu sosisalisasi dan kaji terap di lapang (KOMPIANG et al., 1994; SUWANDIet al., 2001 dan HARYANTO, 2002).
Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah kedua terbanyak populasi sapi perah setelah Jawa Timur. Beberapa daerah pendukung yang berpotensi sebagai pusat budidaya sapi perah di Jawa Barat, adalah di Lembang (Kabupaten Bandung), Tanjungsari (Kabupaten Sumedang) dan Megamendung (Kabupaten Bogor). Makalah ini menyajikan beberapa hasil penerapan teknologi di beberapa lokasi budidaya sapi perah, dan diharapkan dapat membantu peternak dalam meningkatkan pengetahuan dan memperbaiki budidaya sehingga produksi dan kualitas susu dapat meningkat.
METODOLOGI
Kegiatan kaji terap dilakukan pada kelompok peternak sapi perah Mekar Jaya di Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor selama 30 hari pada bulan Mei 2007. Sebelum kegiatan ini dimulai, dilakukan pengajaran tentang pentingnya fungsi pakan pada usaha budidaya sapi perah yang berkaitan dengan produksi susu kepada seluruh anggota kelompok. Kooperator ditentukan secara sukarela dan memiliki sapi yang sedang laktasi, dimana setiap kooperator dipilih 1(satu) ekor sapi yang sedang laktasi dan produksi susu paling rendah. Pakan yang diberikan adalah 4 kg konsentrat yang biasa digunakan oleh peternak yang disuplementasi dengan 500 gram pakan sumber protein yang tidak terdegradasi dalam rumen atau disebut MCPKC (Molasses Coated Palm Kernel Cake). Parameter yang diamati adalah produksi susu pagi dan sore dan pengamatan organoleptik. Hasil analisis disajikan secara deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran umum peternak
Kelompok peternak sapi perah Mekar Jaya berdiri tahun 2000 dengan jumlah anggota 21 orang. Sebagian besar peternak berpendidikan Sekolah Dasar dan berusia 25- 83 tahun. Usaha
sapi perah dan usaha tani merupakan mata pencaharian utama dengan pengalaman memelihara sapi rata-rata 5 tahun. Kelompok Mekar Jaya berlokasi di desa Cipayung Datar Kecamatan Megamendung. Pemilikan sapi per peternak berkisar 6 – 7 ekor (ANONIMOUS, 2007), tetapi karena beberapa hal menurun sekitar 3 – 4 ekor. Gambaran umum peternak dan budidaya sapi perah tertulis pada Tabel 1. Tabel 1. Gambaran umum peternak dan budidaya
sapi perah Kriteria Jumlah Jumlah responden 21 Umur (tahun) 25 – 83 Pendidikan (tahun): 0 – 6 7 – 9 10 – 12 < 12 14 3 3 1 Pekerjaan utama:
Usaha sapi perah Bertani Wirausaha Aparat desa 21 18 2 1 Rata-rata pengalaman beternak
(tahun)
5 Rata-rata pemilikan sapi (ekor)
Pedet Muda Dewasa 1 – 2 1 – 2 3 – 4 Rata-rata produksi susu/ekor/hari
(liter)
10 Rata-rata pemberian pakan
/hari/ekor:
Konsentrat dari koperasi (kg) Dedak (kg)
Ampas tahu (kg) Rumput gajah (kg) Rumput lapang (kg) Biomass tanaman jagung Daun-daunan leguminosa pohon
12 – 16 2 – 6 10* 5 – 6** 40 – 50 Secukupnya* Secukupnya* Mineral Secukupnya
Sumber: Laporan kelompok peternak sapi perah Mekar Jaya 2007
*Kalau ada ; **Tidak selalu diberikan
Budidaya sapi perah pada umumnya dilakukan berintegrasi dengan kegiatan usaha tani atau kegiatan lain, seperti membuka usaha warung. Beberapa peternak menyatakan bahwa usaha sapi perah sebagai usaha utama karena secara reguler dapat memberikan pendapatan dari hasil penjualan susu setiap hari. Semua peternak memiliki kandang semi permanen, dengan luas kandang bervariasi dari
12 – 31 m2, berlantai semen, yang dilengkapi dengan tempat pakan dan minum, penyimpan pakan serta sarana peralatan kandang. Keterbatasan lahan menyebabkan kandang berada di antara rumah penduduk, karena selain untuk menjaga keamanan ternak juga mudah mengontrolnya. Pembuangan kotoran sapi masih bersatu dengan saluran air atau sungai kecil yang juga digunakan oleh masyarakat. Masih banyak peternak yang menimbun kotoran ternak disamping kandang sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan.
Pakan yang diberikan adalah hijauan terdiri dari rumput lapang, daun-daunan dari leguminosa pohon (kaliandra, lamtoro gung), dengan jumlah pemberian sekitar 200 - 300 kg untuk semua ternak. Tidak semua peternak memiliki lahan khusus untuk ditanami rumput unggul sehingga pemberiaannya tidak setiap hari. Tidak ada perbedaan jenis hijauan pada musim hujan dan kemarau, namun jumlah, kualitas serta waktu yang digunakan untuk mencari hijauan lebih lama di musim kemarau. SRIWAHYUNI dan NARI (1996) serta JARMANI danHIDAYATI (2005) melaporkan bahwa pada musim kemarau waktu yang diperlukan untuk mencari hijauan lebih lama dibandingkan dengan musim hujan, sehingga tidak memungkinkan bagi peternak untuk melakukan kegiatan produktif lain. Jenis pakan lain yang diberikan adalah konsentrat, dedak dan ampas tahu. Konsentrat diberikan 2 kali, yaitu pagi dan sore hari setelah diperah. Untuk mencukupi kebutuhan dan mendapatkan produksi susu tinggi, peternak mencampurkan 6 kg konsentrat dengan 1 kg dedak per ekor untuk 1 kali pemberian. Harapan peternak adalah pemberian 1 kg konsentrat dapat menghasilkan 2 liter susu, namun hal ini belum pernah dapat dicapai oleh petenak. Ketidaksesuaian hasil yang diharapkan sejalan dengan hasil terdahulu, menurut SIREGAR (2001) bahwa kualitas konsentrat yang dihasilkan oleh KUD belum sesuai dengan standar yang telah ditentukan untuk sapi perah yang berproduksi tinggi, dimana sapi perah yang ada di Indonesia adalah sapi keturunan yang berproduksi tinggi. Selain itu, faktor keterlambatan pengiriman konsentrat ke peternak juga merupakan salah satu penyebab sehingga peternak menggunakan bahan pakan lain seperti,”dedak kelas 2” (sekam yang
digiling) atau ampas tahu. Bahan pakan lain yang diberikan adalah mineral mix yang cara pemberiannya dicampur kedalam konsentrat dan ada pula yang digantungkan di dalam kandang.
Pemerahan susu dilakukan pada pagi dan sore hari. Kegiatan pascapanen pengolahan susu tidak dilakukan karena keterbatasan waktu, tenaga dan biaya seperti yang pernah dilaporkan oleh JARMANI et al. (2001), meskipun di beberapa lokasi pengembangan sapi perah kegiatan pascapanen pengolahan susu mampu memberikan tambahan pendapatan keluarga (JARMANI, 1994).
Produksi dan kualitas susu
Bahan pakan sumber protein yang digunakan dalam mensuplementasi konsentrat adalah bungkil inti sawit yang dilindungi molases atau disingkat MCPKC. HARYANTO (2005) melaporkan bahwa penggunaan 3 bagian konsentrat yang disuplementasi dengan 2 bagian MCPKC pada usaha budidaya sapi potong di peternakan rakyat dapat meningkatkan bobot hidup per hari sebesar 0,75 – 1,0 kg. Pemberian suplementasi 0,5 kg MCPKC dalam 4 kg konsentrat dibandingkan dengan sapi yang biasa diberi pakan campuran konsentrat dan dedak sebanyak 7 kg menunjukkan produksi susu lebih tinggi seperti tertulis pada Tabel 2.
Tabel 2. Penampilan produksi susu dengan dan tanpa suplementasi MCPKC Produksi susu per hari rata-rata (liter) No. Kooperator
Tanpa MCPKC Dengan MCPKC Kenaikan/penurunan
1 7,5 8,71 + 1,21 2 11 10,7 - 0,3 3 12 12,2 + 0,2 4 8 8 0 5 11 10 - 1 6 6 6,5 + 0,5 7 7 7,5 + 0,5 Rata-rata produksi 8,92 9,08 + 0,16 Produk s i s us u harian 3,0 3,5 4,0 4,5 5,0 5,5 6,0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 Wak tu P roduk s i ( L it e r) Pagi Sore
HARYANTO et al. (2005) menyarankan bahwa MCPKC dapat ditambahkan hingga 50% dari jumlah konsentrat yang diberikan dengan kandungan protein 10%. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan protein hingga mencapai 12%. Pada kaji terap ini jumlah pemberian MCPKC 12,5% dari 4 kg konsentrat, sehingga untuk mencapai protein yang diharapkan perlu ditambahkan MCPKC hingga mencapai 26%. Penurunan atau peningkatan produksi susu kemungkinan juga dipengaruhi oleh umur bulan laktasi dan periode laktasi dimana pada saat pengujian kriteria tersebut tidak diperhatikan. Produksi susu harian sapi-sapi yang mendapat suplementasi MCPKC terlihat pada Gambar 1. Hasil pengamatan secara organoleptik, menunjukkan bahwa cairan susu lebih kental dengan warna agak kuning dibandingkan yang tidak diberi suplementasi sehingga peternak kooperator menyatakan bahwa pemberian MCPKC juga dapat meningkatkan kualitas susu karena menurut pengalaman susu yang berkualitas adalah kental, dan berwarna agak kuning.
Manfaat ekonomi penggunaan MCPKC Hasil penghitungan biaya pakan yang menggunakan MCPKC dibandingkan dengan yang tidak menggunakan MCPKC dapat dilihat pada Tabel 3. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa dengan suplementasi MCPKC pendapatan peternak relatif lebih tinggi yakni sebesar Rp. 11810.-/hari. Hal ini berarti inovasi teknologi suplementasi MCPKC memberikan efisiensi terhadap produksi susu yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa mengguna-kan MCPKC.
Masalah dan pemecahannya
MOSHER (1978) menyatakan bahwa dalam mengenalkan dan mengembangkan teknologi baru di bidang pertanian secara umum, tidak mudah untuk dapat diadopsi oleh petani, terutama petani tradisional yang sudah
melaksanakan kegiatan yang sama dalam waktu cukup panjang. ”Tidak mau menanggung resiko kegagalan” merupakan faktor utama karena pada umumnya modal yang dimiliki peternak sangat terbatas. Menurut informasi yang diperoleh dari peternak kooperator, peternak tradisional bersedia merubah kebiasaan dalam membudidayakan ternaknya bila sudah melihat keberhasilan dari peternak lain yang menggunakan teknologi baru.
Tabel 3. Analisis usaha
Kooperator Kriteria Non MCPKC Dengan MCPKC Pemberian konsentrat (kg) 6 4 Pemberian dedak (kg) 1 0 Pemberian MCPKC (kg) 0 0,5 Jumlah biaya pakan
per hari (Rp)
9400 6350 Rata-rata produksi
susu per hari per ekor (liter)
8,92 9,08 Pendapatan
penjualan susu per hari (Rp) 17960 18160 Keuntungan dari penjualan susu (Rp) 8560 11810 Pengamatan organoleptik
Encer, putih Lebih kental, agak
kuning
Catatan: Harga per kg: konsentrat Rp. 1400; MCPKC Rp. 1500; Dedak Rp. 1000; Harga susu Rp. 2000/l Hal ini diindikasikan dari manfaat ekonomi yang diterima oleh peternak. Perlu dilakukan sosialisasi dan pemahaman secara berkesinam-bungan tentang pentingnya pemberian pakan berkualitas kepada peternak sehingga produksi susunya tinggi.
Permasalahan dan alternatif peme-cahan dari pengenalan dan penerapan teknologi yang pernah diintroduksikan ke peternak di beberapa lokasi disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Masalah dan alternatif pemecahan penerapan inovasi teknologi di beberapa lokasi
No Lokasi Jenis teknologi Hasil Masalah Alternatif pemecahan Sumber 1 Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang Perbaikan budidaya melalui perbaikan pakan dengan memanfaatkan onggok yang difermentasi Peternak dapat menerima dan melihat bahwa produksi dan kualitas susu meningkat
Tidak ada waktu bagi peternak untuk melakukan fermentasi
Perlu ada institusi pendukung sebagai penyedia onggok terfermentasi JARMANI,S.N dan HIDAYATI (2005) 2 Kecamatan Lembang Kabupaten Bandumg Pasturisasi, pengemasan dan pemasaran Peternak dapat menerima karena teknologi mudah dan peralatan sederhana
Tenaga pemasaran tidak profesional, tidak memiliki jiwa wira usaha dan tidak sabar dalam mencari pasar
Perlu dukungan institusi (koperasi) untuk membantu mencarikan mitra yang mau menerima hasil produksi peternak JARMANI,S.N, H.SETIYANTO, N.HIDAYATI, A.PRIYANTIdan I.INOUNU (2001) KESIMPULAN
Pengurangan pemberian konsentrat sebesar 2 kg dari jumlah yang biasa diberikan dengan suplementasi 0 ,5 kg pakan sumber protein yang terlindungi dapat meningkatkan produksi susu. Hasil perhitungan ekonomi menunjukkan bahwa penerapan inovasi teknologi ini mampu memberikan manfaat ekonomi bagi peternak sapi perah.
Disarankan perlu dilakukan sosialisasi dan pemahaman secara berkesinambungan tentang pentingnya pemberian pakan berkualitas kepada peternak sehingga produksi susunya tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
ANONIMOUS. 2007. Monografi kelompok tani ternak sapi perah Mekar Jaya. Kabupaten Bogor. DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN. 2006. Statistik
Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan. Jakarta.
HARYANTO,B.,I.G.M.BUDIARSANA,I.INOUNU dan K.DIWIYANTO. 2002. Panduan Teknis Sistem Integrasi Padi-Ternak. Badan Litbang Pertanian Departemen Pertanian.
HARYANTO, B., B. HASAN, D. SISRIYENNI., A. BATUBARA dan BESTINA. 2005. Penerapan teknologi pemanfaatan jerami padi dan pembuatan pupuk organik dari usaha pengembangan sapi potong di Kabupaten Kampar. Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian, BPTP Riau. Hlm.45-53.
JARMANI, S.N. dan N. HIDAYATI. 2005. Kemungkinan menambah pendapatan mandiri peternak sapi perah rakyat melalui perbaikan manajemen pemberian pakan. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peternakan Bogor. Buku I. Hml. 333–339.
JARMANI, S.N., H. SETIYANTO., N. HIDAYATI., A. PRIYANTI DAN I. INOUNU. 2001. Upaya pengenalan, penerapan dan pengembangan teknologi pengolahan susu guna menambah pendapatan peternak di Kecamatan Lembang. Buletin Peternakan. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Edisi Tambahan, Desember 2001. Hml. 120–127.
JARMANI, S.N. 1994. Pemanfaatan susu sebagai bahan baku usaha sambilan keluarga peternak sapi perah rakyat. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Peternakan. Pengolahan dan Komunikasi Hasil-hasil Penelitian. Buku 2. Balitnak. Puslitbang Peternakan.
KOMPIANG. I.P., A.P. SINURAT., SUPRIYATI., T. PURWADARIA danJ.DARMA. 1994. Nutrition value of protein enriched cassava: Cassapro. Ilmu dan Peternakan 7 (2); 22–25.
MOSHER, A.T. 1978. Pembangunan Pertanian. PT.Yasa Guna Jakarta.
SIREGAR. S.B. 2001. Peningkatan kemampuan berproduksi susu sapi perah laktasi melalui perbaikan pakan dan frekuensi pemberiannya.
JITV 6 (2).
SIREGAR, S.B.,T. MANURUNG dan L.PRAHARANI. 1994. Penambahan pemberian konsentrat pada sapi perah laktasi dalam upaya peningkatan keuntungan peternak di daerah Garut, Jawa Barat. J. Penelitian Peternakan Indonesia 2:31–35.
SRIWAHYUNI danY.NARI. 1996. The socio gender analysis for long term survey JICA. Project Type Technical Cooperation Improvement of Dairy Farming Technology in Indonesia. Report No.01/96 GA.
SUWANDI,E.,B.H.SASONGKO danS.UTAMI. 2001. Mempelajari limbah kelapa sawit dengan penanaman jamur Coprinus cinereus dan penggunaannya untuk pakan ternak. Prosiding Seminar Nasional Teknologi dan Veteriner . Puslitbang Peternakan. Bogor.
WIYONO, D.B dan U. UMIYASIH. 1998. Tampilan status reproduksi sapi perah pada tingkat kondisi badan yang berbeda dan sistem pengelolaan di peternakan rakyat. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peternakan. Bogor. .