BAB I PENDAHULUAN. merupakan sesuatu yang buruk dan bersifat negatif, namun hal tersebut tetap saja

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Unsur kekerasan adalah salah satu unsur yang tidak bisa lepas dari peradaban manusia sejak zaman purba hingga era modern saat ini. Sekalipun unsur kekerasan merupakan sesuatu yang buruk dan bersifat negatif, namun hal tersebut tetap saja mudah dijumpai di masyarakat umum. Setiap manusia yang hidup di dunia pasti pernah menjadi korban ataupun pelaku dari sebuah tindak kekerasan. Banyak masyarakat yang masih memiliki anggapan bahwa unsur kekerasan sebatas pada kekerasan fisik saja, seperti memukul, menendang, atau menganiaya. Padahal kekerasan memiliki beragam jenisnya dan tidak terbatas pada hal-hal yang menyangkut kekerasan fisik saja.

Kekerasan adalah bentuk tindakan yang dilakukan terhadap pihak lain baik pelakunya bersifat perorangan atau lebih dari seorang yang dapat mengakibatkan penderitaan bagi si korban. Kekerasan dapat diwujudkan dalam dua bentuk yaitu kekerasan fisik yang dapat mengakibatkan luka secara fisik hingga kematian dan kekerasan fisik yang tidak berakibat terhadap fisik korban, namun berakibat kepada timbulnya trauma berkepanjangan dari si korban terhadap hal-hal tertentu yang telah dialaminya (Saraswati, 1996: 2). Sedangkan dalam The Social Work Dictionary, kata

(2)

2 abuse, yang dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kekerasan didefinisikan sebagai improper behavior, intended to cause physical, psychological, or financial harm to an individual or group atau perlakuan tidak pantas yang bertujuan untuk menyakiti seseorang atau golongan, baik secara fisik, psikis, maupun finansial (Baker via Huraerah, 2006: 36). Selain itu, kekerasan juga dapat diterjemahkan menjadi violence yang memiliki arti sebagai suatu serangan atau invasi (assault) terhadap fisik maupun integritas mental psikologi seseorang (Fakih via Sastriyani dkk, 2007: 7).

Unsur kekerasan juga dapat dijumpai dalam berbagai unsur kehidupan sehari-hari manusia. Masyarakat luas dengan mudah mengakses berita-berita dengan unsur tindak kekerasan melalui media massa dan media elektronik. Berita-berita mengenai tindak kekerasan cukup banyak jumlahnya, bahkan kian hari kian bertambah.

Selain dapat ditemukan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik, unsur-unsur kekerasan juga terdapat dalam berbagai jenis karya sastra, mulai dari novel, puisi, film, komik, hingga dongeng. Dongeng adalah prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh pengarang cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat (Danandjaja via Sastriyani, 2006: 43). Menurut Sastriyani, dongeng mampu memberi mimpi, harapan, amanat serta norma hidup tersurat maupun tersirat dalam kisahnya yang sederhana dan bersifat universal, artinya mampu diterima di daerah manapun tanpa menghiraukan batas-batas geografis dan politik.

Dongeng bisa jadi merupakan karya sastra yang paling awal dikenal manusia. Cerita dongeng yang sederhana, mudah dipahami, dan bersifat fantasi membuat

(3)

3 dongeng kerap kali dijadikan sebagai sarana pengantar tidur oleh para orang tua bagi anak mereka. Tidak mengherankan jika cerita dongeng, baik dongeng yang berasal dari luar negeri maupun dongeng asli Indonesia, sangat mudah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat dan ceritanya pun sudah sangat tidak asing bagi siapa saja.

Salah satu penulis dongeng yang ceritanya paling dikenal di seluruh dunia hingga saat ini adalah Charles Perrault (12 Januari 1628-16 Mei 1703). Perrault lahir dalam keluarga borjuis di Paris, Prancis. Ia menghabiskan masa kecilnya di kota Paris dan memutuskan untuk masuk ke sebuah sekolah hukum bergengsi di sana. Setelah lulus, Perrault bekerja sebagai sekretaris menteri keuangan pada era Louis XIV. Perrault sudah mulai menulis puisi sejak masih muda, jauh sebelum ia bekerja di pemerintahan. Saat bekerja sebagai sekretaris pun ia masih aktif menulis. Tulisan yang ia buat biasanya berisi tentang puji-pujian kepada Louis XIV dan keluarganya. Ia juga menulis puisi yang bersifat rohaniah tentang agama Kristen. Perrault terpilih sebagai anggota l’Académie française pada tahun 1671.

Nama Charles Perrault sebagai seorang sastrawan baru dikenal secara luas pada usia yang ke-69 tahun. Pada tahun 1697, ia menerbitkan Histoires ou contes du temps passé atau Les Contes de ma Mère l’Oye. Histoires ou contes du temps passé adalah buku kumpulan dongeng yang berisi sebelas dongeng karya Perrault, yaitu Barbe Blueu, La Belle au Bois Dormant, Cendrillon, Le Chat Botté, Les Fées, Peau d’Âne, Le Petit Poucet, Riquet à la Houppe, Les Souhaites Ridicules dan Le Petit Chaperon Rouge. Tiga tahun sebelumnya tepatnya pada tahun 1694, Perrault telah terlebih dahulu menerbitkan dongeng Peau d’Âne secara terpisah.

(4)

4 Kumpulan dongeng tersebut sangat terkenal dan menjadi sensasi pada masa itu. Gaya bahasa yang digunakan Perrault pada dongeng-dongengnya cenderung mudah dipahami namun juga sangat detail sehingga menghasilkan karya yang brilian. Hal tersebut membuat Perrault dinobatkan sebagai salah satu pelopor penulis dongeng bergaya modern bersama dengan sahabatnya, Jean de la Fontaine yang aktif menulis fabel atau cerita yang mengangkat hewan-hewan sebagai tokoh-tokohnya. Oleh sebab itu, kesusastraan anak Prancis mulai berkembang pada abad tersebut karena kemunculan Perrault dan de la Fontaine.

Dongeng-dongeng karya Perrault juga dianggap relevan dengan situasi sosial pada masa dongeng tersebut diterbitkan, yakni pada abad ke-XVI. Situasi Prancis pada zaman itu dipenuhi kekerasan, perang, wabah penyakit, kekeringan dan kelaparan. Hal ini sesuai dengan cerita pada dongeng-dongeng Perrault yang menceritakan tentang kekerasan, peperangan, musim kering panjang. Sebagian besar cerita dongeng Perrault juga berlatar kerajaan yang sesuai dengan realita zaman itu. Pada abad ke-XVI, Prancis adalah negara monarki dengan campur tangan agama yang besar terhadap pemerintahan.

Namun dongeng-dongeng Perrault juga menjadi pembicaraan karena banyak yang meragukan keasliannya. Mereka percaya bahwa Perrault hanya menuliskan kembali cerita-cerita rakyat yang selama ini hanya menyebar dari mulut ke mulut pada masa itu.

Kepopuleran dongeng-dongeng Perrault membuat banyak penulis dongeng lain yang menceritakan ulang dan mengubahnya menjadi versi yang berbeda. Salah

(5)

5 satu versi lain yang paling terkenal adalah versi Grimm Bersaudara yang ditulis 100 tahun setelah versi asli Perrault. Dongeng-dongeng Perrault juga banyak diadaptasi menjadi film, opera, teater, dan tari balet. Naskah dongeng-dongeng Perrault sudah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa dan selalu dicetak ulang. Hal-hal tersebut yang membuat dongeng-dongeng karya Perrault menjadi sangat dikenal dan dapat dikatakan sebagai cerita dongeng paling populer di seluruh dunia.

Pada penelitian ini penulis menganalisis mengenai unsur-unsur kekerasan yang terdapat pada empat dongeng karya Charles Perrault, yaitu Barbe Bleue, La Belle au Bois Dormant, Le Petit Poucet, dan Le Petit Chaperon Rouge yang terdapat dalam versi elektronik Un livre pour l’été: Neuf contes de Charles Perrault yang diterbitkan oleh Ministère de l’éducation nationale, de la jeunesse et de la vie associative dalam Éditions Centre national de documentation pédagogique pada

bulan Mei 2011

(http://www.cndp.fr/fileadmin/user_upload/CNDP/catalogues/perrault/files/contes_pe rrault.pdf).

Unsur-unsur kekerasan pada keempat cerita dongeng tersebut akan dikelompokkan berdasarkan pendekatan-pendekatan kekerasan yang dicetuskan oleh Drs. Eb. Surbakti dalam bukunya “Awas Tayangan Televisi” (2008) dan dianalisis menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce.

(6)

6 1.2 Rumusan Masalah

Dongeng-dongeng karya Charles Perrault adalah beberapa dongeng yang paling dikenal di seluruh dunia hingga saat ini karena sudah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa dan sudah diadaptasi menjadi berbagai versi seperti film dan teater. Sekalipun awalnya cerita-cerita dongeng tersebut tidak diperuntukkan bagi anak-anak karena belum berkembangnya sastra anak pada zaman itu, namun seiring berjalannya waktu cerita dongeng tersebut lebih populer di kalangan anak-anak karena cenderung mudah dipahami dan memiliki unsur fantasi yang sangat disukai anak-anak. Sebagai salah satu jenis sastra anak yang paling terkenal, dongeng kerap kali menjadi sarana pengantar tidur bagi para orang tua kepada anak-anak mereka. Cerita dongeng memang memiliki pesan moral yang bertujuan untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan bagi anak-anak sedari dini. Namun di sisi lain, beberapa dongeng karya Charles Perrault juga memiliki unsur-unsur yang cenderung buruk. Salah satu unsur negatif yang paling banyak ditemukan adalah unsur kekerasan. Unsur kekerasan tersebut tentu saja memberikan pengaruh yang tidak baik bagi anak-anak yang saat ini merupakan pangsa pasar utama bagi dongeng-dongeng karya Charles Perrault.

1.3 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka pertanyaan yang bisa disimpulkan adalah:

(7)

7 1. Jenis-jenis tindak kekerasan apa saja yang terdapat pada dongeng Barbe Bleue, La Belle au Bois Dormant, Le Petit Poucet, dan Le Petit Chaperon Rouge karya Charles Perraut dan,

2. Tanda-tanda apa saja yang terdapat pada keempat dongeng tersebut yang mengacu pada sebuah tindakan kekerasan.

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan di atas, tujuan penelitian ini adalah mengungkap bentuk-bentuk kekerasan dan tanda-tanda apa saja yang menjadi acuan sebuah tindakan kekerasan pada dongeng Barbe Bleue, La Belle au Bois Dormant, Le Petit Poucet, dan Le Petit Chaperon Rouge karya Charles Perrault.

Tujuan lainnya adalah sebagai referensi bagi peneliti dalam meneliti karya sastra, khususnya dongeng yang berkaitan dengan unsur-unsur kekerasan dengan pendekatan semiotik.

1. 5 Landasan Teori

Teori adalah sebuah penyelidikan eksperimental yang mampu menghasilkan fakta berdasarkan ilmu pasti, logika, metodologi dan argumentasi (KBBI, 2008: 1444). Teori memberikan justifikasi pada penentuan variabel penelitian yang

(8)

8 digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Berikut adalah teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini.

1.5.1. Teori Semiotika Charles Sanders Peirce

Semiotika, apalagi semiotika mutakhir, memang dipenuhi beragam jargon dan isu, beragam teori dan pendekatan, yang kompleks dan satu sama lain barangkali tidak lagi jelas batas-batasnya, atau bahkan tidak seiring-sejalan. Kendatipun demikian, pada garis besarnya kita dapat menelusuri dua buah tradisi besar yang berasal dari dua induk yang berbeda di dalam sejarah perkembangan semiotika, Charles Sanders Peirce dan Ferdinand de Saussure (Budiman, 2005: 33).

Kedua tokoh aliran besar semiotika tersebut hidup di masa yang sama tetapi tidak saling mengenal. Semiotika Peirce (Amerika Serikat) bermula dari interesnya untuk menyelidiki bagaimana manusia berfikir, sampai-sampai Peirce menyimpulkan bahwa semiotika tak lain adalah sinonim untuk logika; sedangkan semiotika Saussure (Prancis) mengemuka dari pikiran-pikiran yang dituliskan berdasarkan pada teori kebahasaan (Marianto via Budiman, 2005: 18). Penelitian ini akan menggunakan teori semiotika Peirce.

Charles Sanders Peirce adalah seorang filsuf, ahli logika dan ilmuwan dari Amerika Serikat. Peirce (10 September 1839-19 April 1914) dikenal sebagai seorang filsuf paling orisinal dan berwarna, serta merupakan logikawan terbesar Amerika. Salah satu hasil pemikiran Peirce yang paling terkenal dan masih terus digunakan

(9)

9 hingga saat ini adalah pemikirannya mengenai teori semiotika atau teori mengenai tanda.

Sebagai seorang filsuf dan ahli logika, Peirce berkehendak untuk menyelidiki apa dan bagaimana proses bernalar manusia. Teori Peirce tentang tanda dilandasi oleh tujuan besar ini sehingga tidak mengherankan apabila dia menyimpulkan bahwa semiotika tidak lain dan tidak bukan adalah sinonim bagi logika (Budiman, 2005: 33-34).

Logic, in its general sense, is, (…), onlyn another name for semiotic (…), the quasi-necessary, or formal, doctrine as “quasi-necessary,” or formal, I mean that we observe the characters of such sign as we know, and from such an observation, (…), we are led to statements, eminently fallible, and therefore in

one sense by no means necessary (Peirce via Budiman, 2005: 34).

Logika, secara umum, adalah (…) sekedar nama lain bagi semiotika (…), suatu

doktrin formal atau quasi-necessary tentang tanda-tanda. Yang saya maksud

dengan mengatakan doktrin ini sebagai “quasi-necessary” atau formal adalah

bahwa kita mengamati karakter-karakter tanda tersebut sebagaimana yang kita tahu, dan dari pemngamatan tadi (…) kita diarahkan kepada pernyataan-pernyataan yang bisa saja keliru dan, dengan demikian, dalam arti tertentu sama sekali tidak niscaya.

Menurut Peirce, semiotika adalah doktrin formal tentang tanda-tanda. Baginya semiotika adalah suatu tindakan (action), pengaruh (influence), atau kerja sama antara tiga subyek, yaitu tanda (sign), objek (object), dan interpretan (interpretant). Tanda adalah segala sesuatu yang ada pada seseorang untuk menyatakan sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas. Tanda dapat berarti bagi seseorang, jika hubungan yang “berarti” ini diperantarai oleh interpretan. Sebuah tanda dapat memiliki arti bila sebelumnya telah dimaknai atau telah ditentukan maknanya (Zoest, 1996: 43).

(10)

10 Menurut Peirce, “tanda” terdiri dari tiga bentuk, yaitu ikon, indeks, dan simbol.

(1) Ikon adalah tanda yang didasarkan pada kemiripan antara tanda (representamen) dan objeknya, walaupun tidak semata-mata bertumpu pada pencitraan “naturalistik” seperti apa adanya. Contoh ikon adalah tanda-tanda toilet pria/wanita, bangunan ibadah, tanda dilarang membunyikan klakson, dll (Budiman, 2005: 22-23).

(2) Indeks adalah hubungan kausal di antara representamen dan objeknya. Misalnya, kalau seseorang terkena razia kendaraan bermotor dan tak dapat menunjukkan SIM, maka ini adalah tanda (indeks) bahwa pengemudi itu akan kehilangan uang sejumlah tertentu untuk denda atas “tilang” (bukti pelanggaran) (Budiman, 2005: 23).

(3) Simbol adalah tanda yang representamennya merujuk kepada objeknya tanpa motivasi, arbitrer-dasarnya adalah konvensi atau “kesepakatan”. Kata-kata, bahasa tubuh, gerakan tangan, bentuk dan posisi jemari tangan kebanyakan merupakan simbol-simbol (Budiman, 2005: 23). Dengan demikian, bahasa juga merupakan sistem simbol karena tanda-tanda yang membentuknya bersifat arbitrer dan konvensional.

1.5.2. Teori Kekerasan

Kata kekerasan berdasar dari kata keras. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kekerasan dapat didefiniskan sebagai: 1) suatu perihal (bersifat, berciri

(11)

11 keras); 2) perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik dan barang orang lain; 3) paksaan (KBBI, 2008: 677). Jika diperhatikan, definisi kekerasan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia masih terbatas pada kekerasan fisik saja.

Sedangkan menurut Webster (Merriam, 1981: 2554) kekerasan didefinisikan sebagai penggunaan kekuatan fisik untuk melukai atau menganiaya, perlakuan atau prosedur yang kasar serta keras, dilukai atau terluka dikarenakan penyimpangan, pelanggaran, atau perkataan tidak senonoh; kejam, sesuatu yang kuat, bergolak, atau hebat dan cenderung menghancurkan atau memaksa. Perasaan atau ekspresi yang berapi-api juga termasuk hal-hal yang timbul dari aksi atau perasaan tersebut. Berdasarkan berbagai pengertian mengenai kekerasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kekerasan tidak terbatas pada kekerasan yang bersifat fisik saja, tetapi terdapat pula kekerasan yang bersifat non fisik.

Pada penelitian ini, pendekatan kekerasan yang digunakan berdasarkan teori yang dicetuskan oleh Drs. Eb. Surbakti dalam bukunya yang berjudul “Awas Tayangan Televisi” (2008). Surbakti mengelompokkan tindakan kekerasan menjadi delapan jenis, yaitu:

(1) Kekerasan Rumah Tangga

Setiap perbuatan terhadap seseorang, terutama yang mengakibatkan timbulnya penderitaan secara fisik, seksual, maupun psikologis dan/atau penelantaraan rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan

(12)

12 perbuatan, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Korban adalah orang yang mengalami kekerasan dan/atau ancaman kekerasan dalam lingkup rumah tangga (Surbakti, 2008: 149).

(2) Kekerasan Fisik

Tindakan fisik yang dilakukan terhadap orang lain atau kelompok yang mengakibatkan luka fisik, seksual, dan psikologis. Indikatornya berupa memukul, menendang, menampar, mendorong (paksa), menjambak, menyundut, atau melakukan percobaan pembunuhan (Surbakti, 2008: 149).

(3) Kekerasan Psikologis

Penggunaan kekerasan secara sengaja termasuk memaksa secara fisik terhadap orang lain atau kelompok yang mengakibatkan luka fisik, mental, spiritual, moral, dan pertumbuhan sosial. Indikatornya adalah berupa pengendalian, manipulasi, eksploitasi, kesewenangan, merendahkan atau menghina, pemaksaan, ancaman, dan pelanggaran (Surbakti, 2008: 150). (4) Kekerasan Seksual

Semua tindakan seksual atau kecenderungan bertindak seksual yang bersifat intimidasi non fisik (kata-kata, bahasa, gambar) atau fisik (gerakan kasat mata dengan memegang, menyentuh, meraba, mencium) yang dilakukan seorang laki-laki atau kelompoknya terhadap perempuan atau kelompoknya. Indikatornya berupa: meraba, mencium secara paksa,

(13)

13 merangkul, melihat bagian tubuh secara paksa, gurauan porno, siulan, ejekan dan julukan atau secara non verbal, seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh atau pun perbuatan lainnya yang meminta perhatian seksual yang tidak dikehendaki korban bersifat melecehkan dan/atau menghina korban (Surbakti, 2008: 150).

(5) Kekerasan Simbol

Kekerasan pada tingkat bahasa dan simbol, sebagai konsekuensi perayaan individualisme dalam politik. Penggunaan bahasa dan simbol inilah yang merendahkan, menghina, dan menyakitkan berdasarkan ukuran kesantunan sosial. Bahasa dan simbol itu tidak merusak tubuh atau fisik, tetapi melukai hati, menghancurkan keluhuran dan harga diri manusia. Kekerasan simbol macam ini dilakukan oleh elit-elit politik di ruang sidang, ataupun oleh massa rakyat di ruang-ruang demonstrasi jalanan (Surbakti, 2008: 154).

(6) Kekerasan Slogan

Kekerasan yang muncul pada suatu pernyataan, yang mencerminkan sikap mau menang sendiri serta ketidakmampuan untuk menerima kekalahan. Tindakan ini dilakukan dengan tanpa memperhatikan kondisi fisik dan psikis dari korbannya (Surbakti, 2008: 154).

(7) Kekerasan Struktural

Kekerasan ini dapat terjadi akibat adanya struktur di masyarakat yang menekan dan menghambat masyarakat untuk tumbuh kembang secara

(14)

14 optimal. Kekuasaan yang represif, pemerintahan yang tidak adil dan diskriminatif adalah pelaku yang dominan pada kekerasan struktural di masyarakat. Salah satu bentuk kekerasan struktural adalah ketidakadilan sosial. Bisa berupa sesuatu yang non fisik, yang psikologis berupa stigmatisasi, yang kultural, yang sosial, yang ekonomis dengan diskriminasi etnis (Surbakti, 2008: 159).

(8) Kekerasan Sistem

Kekerasan yang merusak tatanan paling dalam, esensial atau fundamental dari sistem sosial, kultural, atau spiritual. Misalnya, “kebebasan berpendapat” individualistik yang diusung di dalam sistematik demokrasi (liberal) telah merongrong tatanan dan sistem etika yang ada berbasis komunal. Semangat “individualisme” yang dirayakan oleh demokrasi liberal merongrong sistem “persaudaraan” dan “asketisme” yang dibawa oleh ajaran agama (Surbakti, 2008: 158).

1. 6. Tinjauan Pustaka

Setelah mencari berbagai tulisan yang berkaitan dengan unsur kekerasan pada dongeng-dongeng karya Charles Perrault, penulis menemukan beberapa skripsi yang membahas hal tersebut. Yang pertama adalah skripsi dari Universitas Negeri Semarang dengan judul Analisis Tindak Kekerasan dalam Dongeng Le Petit Poucet karya Charles Perrault yang ditulis oleh Titah Furi Hadiyanti (2010). Skripsi ini

(15)

15 membahas tentang tindak kekerasan yang terjadi dalam dongeng Le Petit Poucet dan penyebabnya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan strukturalisme dan psikologi sastra. Metode dan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu metode simak dan teknik catat. Dalam penelitian ini, Hadiyanti menyimpulkan bahwa tindak kekerasan yang terdapat dalam dongeng Le Petit Poucet dilakukan hampir oleh semua tokoh. Tindak kekerasan yang ditampilkan dalam dongeng ini adalah kekerasan fisik dan kekerasan psikologis. Tindak kekerasan yang terjadi dalam dongeng Le Petit Poucet mempunyai bentuk serta penyebab yang berbeda-beda. Melalui analisis tersebut dapat ditemukan makna dari kekerasan itu sendiri yaitu tindakan melukai suatu pihak, baik secara fisik maupun psikologis, dengan penyebab yang bermacam-macam, baik itu kebiasaan maupun keterpaksaan untuk mempertahankan hidup.

Penelitian berikutnya adalah penelitian yang ditulis oleh Estrelita Ryasti Sari dari Universitas Indonesia dengan judul Unsur kekerasan dalam dongeng Le Petit Poucet karya Charles Perrault (2016). Penelitian ini membahas tentang fungsi serta makna kekerasan yang terdapat dalam dongeng Le Petit Poucet karya Charles Perrault dengan pendekatan struktural. Teori yang digunakan adalah teori struktural mengenai hubungan sintagmatik dan paradigmatik dari Roland Barthes serta teori tentang sekuen dari M.P. Schmitt dan A. Viala. Analisis sintagmatik menunjukkan bahwa terdapat peristiwa yang mengandung unsur kekerasan dalam alur cerita. Analisis paradigmatik memperlihatkan fungsi dan makna dari unsur kekerasan yang tampak melalui analisis tokoh, analisis latar ruang dan analisis latar waktu. Sari

(16)

16 menyimpulkan bahwa seluruh aspek yang dibahas dalam skripsi ini menunjukkan keberadaan, fungsi dan makna dari unsur kekerasan dalam dongeng Le Petit Poucet karya Charles Perrault.

Ditinjau dari sisi objek formal yang digunakan, penulis menemukan beberapa tulisan yang mengangkat kekerasan dengan tinjauan teori semiotika sebagai topiknya. Yang pertama adalah skripsi dari Jurusan Sastra Prancis Fakultas Ilmu Budaya UGM dengan judul Kekerasan dalam Tiga Seri Komik Astérix: Le Bouclier Arverne, Astérix et Cléopatre, dan Astérix aux Jeux Olympiques: Tinjauan Semiotika (2012). Skripsi yang ditulis oleh Yohan Panggabean ini meneliti tentang tiga seri komik Astérix yang ternyata banyak memiliki unsur kekerasan sekalipun komik adalah salah satu jenis sastra anak dan banyak dibaca oleh anak-anak. Kekerasan yang terdapat pada tiga seri komik tersebut tidak hanya kekerasan fisik saja tetapi juga terdapat kekerasan psikis. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce karena bertujuan untuk mengungkap tanda-tanda yang mengacu pada aksi tindak kekerasan yang difokuskan pada ikon, indeks, dan simbol. Teori lain yang digunakan adalah teori kekerasan Eb. Surbakti.

Penelitian kedua yang juga menggunakan teori kekerasan dan teori semiotika sebagai objek formalnya adalah skripsi dari Jurusan Sastra Prancis Fakultas Ilmu Budaya UGM yang ditulis oleh Bagus Anindito (2009) dengan judul Simbol-simbol Kekerasan terhadap Anak dalam La Guerre des Boutons karya Louis Pergaud (Tinjauan Semiotik). Penelitian ini meneliti tentang permusuhan antara anak-anak dari dua desa yang berbeda dikarenakan suatu perbedaan. Permusuhan ini dianggap

(17)

17 wajar karena sudah turun temurun oleh orang tua dari anak-anak tersebut. Teori semiotika Peirce digunakan untuk meneliti simbol-simbol kekerasan berupa bahasa kiasan dan ragam bentuk kekerasan yang terjadi melalui penggunaan kata, kalimat, dan frasa dalam novel La Guerre des Boutons. Pendekatan kekerasan yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan pada pendekatan kekerasan dalam rumah tangga (domestic abuse) yang secara khusus berlaku di Indonesia, sebagaimana tertuang pada Undang-Undang no. 23 pasal 5, 6, 7, dan 9.

Penelitian terakhir yang digunakan penulis sebagai tinjauan pustaka adalah skripsi dari Jurusan Sastra Prancis Fakultas Ilmu Budaya UGM dengan judul Makna Simbolik Tindakan Kekerasan dalam Notre-Dame de Paris yang ditulis oleh Retno Dewanti (2010). Penelitian ini berfokus pada kekerasan terhadap perempuan yang dialami oleh tokoh bernama La Esmeralda. La Esmeralda adalah seorang penari keturunan Mesir. Status sosialnya menjadikan dirinya marjinal yang memudahkan dirinya mengalami tindak kekerasan. Sebagai seorang perempuan, posisi La Esmeralda menjadi serba salah karena dianggap sebagai pemicu tindakan kekerasan dan harus bertanggung jawab atas penderitaan yang dialaminya. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Peirce dan teori kekerasan terhadap perempuan berdasarkan pada deklarasi PBB mengenai pengertian tentang kekerasan terhadap perempuan pada tahun 1993.

(18)

18 1.7 Metode Penelitian

Metode yang digunakan untuk menganalisis permasalahan dalam penelitian ini adalah metode struktural semiotik. Data-data yang digunakan dalam metode ini meliputi kata, kalimat dan dialog. Penelitian dengan metode ini memerlukan beberapa tahap. Tahap pertama adalah pembacaan awal (heuristic reading). Pembacaan awal adalah pembacaan karya sastra pada sistem semiotik tingkat pertama dimana makna yang dipahami masih merupakan makna harafiah. Tahapan ini bertujuan untuk mencari siapa saja tokoh-tokoh yang melakukan tindak kekerasan dalam empat dongeng karya Charles Perrault.

Tahap berikutnya adalah pembacaan hermeneutik. Hermeneutik adalah ilmu atau teknik memahami karya sastra dan ungkapan bahasa dalam arti luas menurut maksudnya. Kerja hermeneutik berupa pemahaman karya sastra pada tataran semiotik tingkat kedua. Jika pada heuristik dibutuhkan pengetahuan tentang kode-kode bahasa, maka pada hermeneutik dibutukan pengetahuan tentang kode-kode lain, yaitu kode sastra dan budaya (Teeuw, 1984: 123). Tahap ini mengelompokkan jenis-jenis kekerasan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam empat dongeng karya Charles Perrault dan dianalisis dengan pendekatan kekerasan menurut Eb. Surbakti.

Tahap ketiga adalah mengelompokkan data dengan melihat ciri-ciri yang diduga sebagai tindak kekerasan. Tahap keempat adalah mengelompokkan jenis-jenis kekerasan serta tanda-tanda yang terdapat di dalamnya dilanjutkan dengan menganalisis data, dan yang terakhir adalah penarikan kesimpulan.

(19)

19 1.8 Sistematika Penyajian

Untuk memudahkan pengerjaan dan juga pembacaan penelitian ini, maka penulisan penelitian ini akan terbagi dalam empat bab, yaitu:

BAB I PENDAHULUAN berisi latar belakang, rumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori yang digunakan dalam penelitian, metode yang digunakan dalam penelitian, dan sistematika penyajian. BAB II TINDAK KEKERASAN DALAM DONGENG BARBE BLEUE, LA BELLE AU BOIS DORMANT, LE PETIT POUCET DAN LE PETIT CHAPERON ROUGE berisi analisis dan pengelompokkan tindakan-tindakan kekerasan pada empat cerita dongeng tersebut berdasarkan teori kekerasan Eb. Surbakti.

BAB II I TANDA-TANDA KEKERASAN DALAM DONGENG BARBE BLEUE, LA BELLE AU BOIS DORMANT, LE PETIT POUCET DAN LE PETIT CHAPERON ROUGE berisi analisis dan pengelompokkan tindakan-tindakan kekerasan pada empat cerita dongeng tersebut berdasarkan teori semiotika Peirce yang terbagi menjadi ikon, indeks, dan simbol.

BAB IV KESIMPULAN berisi tentang kesimpulan dari hasil analisis penelitian secara keseluruhan.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :