NOTA PEMBELAAN
PENASEHAT HUKUM
“MENGADILI KORBAN KONSPIRASI NEGARA PASCA
DEMONSTRASI
MENENTANG RASISME”
DALAM PERKARA PIDANA
NOMOR : 33/PID.B/2020/PN-BPP
ATAS NAMA TERDAKWA :
BUCHTAR TABUNI
Yang Didakwa :
Dalam Dakwaan Kesatu : Pasal 106 KUHP
Jo. Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP,
atau Dakwaan Kedua : Pasal 110 Ayat (1) KUHP
Jo.Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP,
atau Ketiga : Pasal 160 KUHP
DIAJUKAN OLEH :
TIM PENASEHAT HUKUM
KOALISI PENEGAK HUKUM DAN HAM PAPUA
DI PENGADILAN NEGERI BALIKPAPAN
BALIKPAPAN
Nota Pembelaan Penasehat Hukum
“MENGADILI KORBAN KONSPIRASI NEGARA PASCA
DEMONSTRASI MENENTANG RASISME”
Dalam Perkara Pidana Nomor : 33/Pid.B/2020/PN-BPP Atas Nama Terdakwa :
BUCHTAR TABUNI
Yang Didakwa :Dalam Dakwaan Kesatu : Pasal 106 KUHP Jo. Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP, atau Dakwaan Kedua : Pasal 110 Ayat (1) KUHP Jo.Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP, Atau
Ketiga : Pasal 160 KUHP Di Pengadilan Negeri Balikpapan
I. PENDAHULUAN
Majelis Hakim yang terhormat,
Sdr. Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati, Sdr.Panitera yang kami hormati,
Hadirin yang juga kami hormati,
Puji syukur patut dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang atas izinnya proses persidangan perkara dugaan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam Dalam Dakwaan Kesatu : Pasal 106 KUHP Jo. Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP, atau Dakwaan Kedua : Pasal Ke-1Ke-10 Ayat (Ke-1) KUHP Jo.Pasal 55 Ayat (Ke-1) Ke-Ke-1 KUHP, atau Dakwaan Ketiga : Pasal 160 KUHP atas nama terdakwa BUCHTAR TABUNI, telah berjalan hingga pada hari ini, Selasa, 09 Juni 2019, kami Penasehat Hukum Terdakwa diberi kesempatan untuk mengajukan Nota Pembelaan (PLEDOI).
Proses hukum terhadap terdakwa bersama 6 (enam) terdakwa lainnya dalam persidangan di PN Balikpapan ini, sejak awal sangat tidak prosedural mulai dari penangkapan sewenang-wenang, penyiksaan dalam proses penangkapan hingga pemeriksaan yang tidak mengedepankan azas praduga tak bersalah (tersangka) telah ditetapkan sebagai tersangka tanpa diawali oleh bukti permulaan yang cukup, kesalahan prosedural ini berlanjut lagi dengan pemindahan Para Terdakwa pada tanggal 04 Oktober 2019 tanpa pemberitahuan kepada keluarga dan Penasehat Hukumnya, pengalihan ini membuat jarak antara selain menjadi tidak prosedural karena salah kompetensi relatifnya, tentu konsekwensinya berdampak bagi akses bagi keluarga terdakwa bersama terdakwa lainnya dan seluruh rakyat Papua untuk melihat persidangan secara terbuka.
Proses hukum ini juga bertambah sulit dengan situasi wabah COVID-19, membuat persidangan dilakukan secara online terhitung mulai pada tanggal 15 April 2020, pesidangan secara online ini proses pembuktiannya tidak dapat dilakukan secara optimal, mulai dari sinyal yang terganggu, waktu yang tidak tepat, pembuktian yang tidak optimal hingga keluarga dan masyarakat umum juga tidak dapat mengakses persidangan ini dan tentu melanggar azas peradilan yang cepat, sederhana dan biaya murah serta azas persidangan yang terbuka untuk umum. Pada persidangan hari Selasa, tanggal 02 Juni 2020 yang lalu, sdr. Jaksa Penuntut Umum telah mengajukan Tuntutan Pidana kepada Majelis Hakim untuk menyatakan bahwa Terdakwa telah terbukti secara sah melakukan Tindak Pidana sebagai orang yang menyuruh melakukan atau turut serta melakukan serta melakukan makar dengan maksud supaya seluruh atau sebagian wilayah
Negara, jatuh ke tangan musuh atau memisahkan sebagian dari wilayah Negara, sebagaimana dimaksud dalam pasal 106 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke -1 KUHP”. Tuntutan pidana tersebut sangat “spektakuler” karena Terdakwa BUCHTAR TABUNI dituntut dengan hukuman penjara selama 17 (tujuh belas) tahun dikurangkan selama terdakwa berada dalam tahanan. Tuntutan ini menunjukan bahwa negara lewat Sdr. Jaksa Penuntut Umum meneruskan konspirasi mengkriminalkan aktivis Papua dibalik Demo Anti Rasisme yang terjadi pada tanggal 19 Agustus 2019 dan 29 Agustus 2019.
Ada 2 (dua) alasan kuat Negara melalui aparat penegak hukum secara khusus Polisi dan Jaksa sejak awal telah mempunyai rencana mengkriminalkan Terdakwa bersama 6 (enam) Terdakwa (Aktivis) lainnya, sebagai berikut :
1. Pelaku Rasis, Intimidasi dan Persekusi di Surabaya pada tanggal 16 Agustus 2019, melibatkan Polisi, TNI, Ormas-Ormas Reaksionir dan Orang Partai besar di Republik ini, proses hukumnya tidak komprehensif dan terkesan pelakunya mendapat perlindungan dari negara berupa tuntutan dan vonis yang sangat rendah (Hanya 5 dan 7 bulan penjara);
2. Pasca Demo Anti Rasisme tanggal 19 Agustus 2019 dan 29 Agustus 2019, telah ada konspirasi krimiminalisasi lewat pernyataan Menteri Politik Hukum dan Keamanan Republik Indonesia yang menyatakan, “Benny Wenda sebagai actor utama kerusuhan di Papua dan Papua Barat.Wenda juga melakukan konspirasi dengan aktor-aktor lokal untuk membuat kisruh suasana.Pihak local yang diajak kerjasama diantaranya Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), dan Komite Nasional Papua Barat (KNPB).Memang ada satu konspirasi antara Benny Wenda dengan organisasi itu.Baik KNPB maupun AMP, itu ada, jadi bukan mengada-ada.Itulah yang kemudian mendorong terjadinya satu demontrasi yang anakhis.”, pernyataan konspirasi yang sama disampaikan oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian, “Saya sudah dapat beberapa data, KNPB main, ULMWP main dan saya tahu rangkaiannya kemana.Termasuk gerakan AMP, teman-teman adik-adik Aliansi Mahasiswa Papua, ini juga digerakan oleh mereka. Jadi apa yang terjadi saat ini di luar itu semua didesaian oleh kelompok yang ada disini.Dan itu akan saya kejar”
Menjadi pertanyaan, mengapa Negara melalui Kepolisian tidak serius mengusut dan memproses hukum pelaku-pelaku Rasisme yang berasal dari TNI, Polisi, Ormas-Ormas Reaksionir dan orang dari Partai Besar di Republik ini ? selanjutnya memberikan vonis yang berat karena rasisme merupakan kejahatan yang sudah diatur dalam regulasi internasional dan nasional sebagai kejahatan serius yang perlu ditangani secara serius pula oleh aparat negara.
Konspirasi Negara tersebut sangat nyata, Pasca demo anti rasisme di Papua yang terjadi bukan kasus rasisme diselesaikan sebagai momentum merubah bangsa ini kearah yang lebih baik, yang terjadi justru rasisme, intimidasi dan persekusi berlanjut terhadap rakyat Papua dalam penegakan hukum, pada bulan Agustus 2019 telah terjadi pengerahan Pasukan Gabungan TNI/Polri dari Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi dan Jakarta, pada kurun waktu yang sama, dalam kurun waktu Bulan Agustus 2019 sampai dengan Oktober 2019, kurang lebih 1.000 orang ditangkap sebagai dampak dari demo anti rasisme dan terdapat kurang lebih 69 orang di Papua dan Papua Barat di proses hukum termasuk Terdakwa Buktar Tabuni bersama Terdakwa Agus Kossay, Terdakwa Steven Itlay, Terdakwa Ferry Kombo, Terdakwa Alex Gobay, Terdakwa Hengky Hilapok dan Terdakwa Irwanus Uropmabin.
Mengenai ketentuan hukum yang diterapkan alangkah baiknya kita melihat sisi historisnya, sebagaimana diketahui bahwa KUHPidana kita berasal dari KUHPidana Nederland (Negeri Belanda). Melalui Asas Korkodansi dalam pasal 131 I.S. KUH Pidana Nederland tersebut diberlakukan/diterapkan di negara Jajahan di Hindia Belanda termasuk ketentuan dalam Dakwaan : Pasal 106, 107 dan 110 KUHP, yang oleh Pemerintah Hindia Belanda pemberlakuan pasal aanslag
(menyerang) kini disebut makar ini ditujukan untuk menjaga keutuhan wilayah jajahan Hindia Belanda termasuk Indonesia.
Timbul pertanyaan sekarang, apakah pasal-pasal dalam dakwaan Pasal 106, 107 dan 110 KUHP yang dipakai oleh penjajah Pemerintah Hindia Belanda untuk menjaga keutuhan wilayah jajahannya, masih dapat dipertahankan didalam Negara Republik Indonesia yang katanya Negara merdeka dan berdaulat sekarang ini ? Dalam alam demokrasi saat ini pemberlakuan pasal makar sebagaimana tersebut diatas telah membatasi kehendak Pasal 28 UUD 1945 dan secara tidak sadar kita telah mewarisi sistem dan pola-pola yang diterapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pertanyaan apakah kita akan mengulang kesalahan penjajah Belanda dahulu ?. Selayaknya kita membaca dan bercermin pada sejarah untuk lebih menghidupkan pengertian “merdeka” dalam pengertian yang lebih luas/tidak sempit, karena itu penggunaan pasal makar tersebut diatas seharusnya sudah tidak layak dipertahankan lagi dalam penegakan hukum di negeri ini.
Bila kita ingin mencari solusi atas problem sosial politik yang terjadi di tanah Papua umumnya dari akar masalahnya, maka harus ada ruang dialog untuk menyelesaikan akumulasi masalah-masalah sosial politik, hal dialog yang paling mendasar adalah menyelesaikan akar masalah di Papua yang disebut dengan, “PELURUSAN SEJARAH”, secara obyektif dan masing-masing pihak yang terlibat dalam dialog harus sepakat menerima apapun hasilnya. Proses ini sangat penting untuk dilakukan karena sangat menentukan realitas integritas bangsa Papua hari ini, karena sampai saat ini mengenai sejarah integrasi Papua oleh mayoritas masyarakat Papua masih dinilai kabur dan masyarakat tahu karena politik sengaja dikaburkan. Klarifikasi perlu untuk dilakukan hari ini dengan semangat “Keinginan baik” kita semua, baik pemerintah, masyarakat maupun aparat penegak hukum yang terlibat dalam persidangan saat ini.
Adapun hal-hal yang sangat urgent untuk diklasifikasikan serta menjadi penyebab timbulnya pergolakan politik di tanah Papua menurut kami Tim Penasehat Hukum Para Terdakwa antara lain :
1. Bahwa sampai saat ini sebagian besar masyarakat Papua membenarkan bahwa Papua pernah berdaulat sejak tanggal 01 Desember 1961. Subtansinya jelas butuh klarifikasi, sebab soal ini ada relevansinya dengan salah satu butir isi Tri Komando Rakyat (TRIKORA) yang menyatakan : “Bubarkan Negara Boneka Papua buatan Belanda”.
2. Bahwa lahirnya New York Agreement (Perjanjian New York) tanggal 15 Agustus 1962 oleh Mayoritas Rakyat Papua dipertanyakan dasar hukumnya, karena rakyat Papua menganggap itu sebagai pelecehan terhadap integritasnya, karena sebagai anak negeri yang hidup diatas tanah ini tidak pernah diikut sertakan dalam perundingan-perundingan antara Indonesia, Belanda dengan fasilitator Mr. Elswort Bunker sebagai wakil Perserikatan Bangsa-Bangsa padahal sangat disadari bahwa konsep Elwort Bunker itulah cikal bakal isi Perjanjian New York 1962 yang menentukan masa depan bangsa dan tanah ini.
3. Bahwa Penyerahan Kedaulatan dari Belanda ke UNTEA dan UNTEA ke Indonesia menurut Perjanjian New York dilakukan dengan 2 (dua) tahap dengan mekanisme tahap pertama Belanda menyerahkan kedaulatan tanah ini ke UNTEA dan tahap kedua UNTEA akan menyerahkan kepada Indonesia dengan syarat setelah diserahkan kepada Indonesia akan dilakukan self determination, plebisit atau lebih dikenal dengan PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat ) dengan batas waktu akhir tahun 1969.
4. Bahwa Rezim Orde Baru telah mengingkari perjanjian New York 1962 yang pada dasarnya menyatakan bahwa dalam semangat Perjanjian New York 1962 dan Statuta Roma 20-21 Mei 1969 dilakukan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat Papua namun kenyataan yang diterima oleh masyarakat Papua sejak Penentuan Pendapat Rakyat sampai adanya Kabinet Pembangunan dibawah rezim Suharto justru tidak menunjukan realisasi semangat tersebut;
5. Bahwa di Era Reformasi sejak tumbangnya Rezim Orde Baru, baik masa pemerintahan Presiden Habibie, Gusdur, Megawati, Susilo Bambang Yudoyono dan kini dibawah Pemerintahan Joko Widodo, persoalan “PELURUSAN SEJARAH”, belum mendapat respon penyelesaikan secara bermartabat.
Hal inilah yang masih dipertanyakan menyangkut keabsahan dan validitas Putusan Para Orang Tua mereka dalam PEPERA Tahun 1969, masalah ini yang sampai saat sekarang belum pernah dikomunikasikan dalam sebuah tataran sejajar antara para tokoh daerah Papua dengan Pemerintah, bahkan ada kecendurungan untuk ditutupi, sehingga beberapa kali meletus apa yang oleh pihak keamanan dinamakan sebagai Makar atau Gerakan Separatis OPM. Bahkan ada kecendurungan mempolitisir dengan melatenkan situasi demikian untuk kepentingan-kepentingan pribadi para oknum aparat negara dan aparat penegak hukum yang akhirnya menyebabkan meluasnya kesenjangan-kesenjangan sosial yang terakumulasi terus menerus dalam perjalanan sejarah daerah Papua ini. Contoh konkret yang telah terjadi seperti eksploitasi sumber daya alam yang melimpah didaerah ini tanpa ada upaya untuk kesejahteraan masyarakat sekitarnya, menumpuknya pelanggaran HAM (Kasus Biak Berdarah, 06 Juli 1998; Kasus Sorong, 05 Juli 1999; Kasus Timika, 02 Desember 1999; Kasus Merauke, 16 Februari 2000; Kasus Nabire, 28 Februari sampai dengan 4 Maret 2000; Kasus, Abepura, 07 Desember 2000, Kasus Wasior Berdarah tahun 2001, Kasus Penyerangan Aparat Pasca KRP III, 19 Oktober 2011, Kasus Paniai Berdarah 2014, Kasus Deiyai 2019, Kasus Nduga 2019-2020 dan Kasus Intan Jaya 2019-2020) dan kasus pelanggaran HAM lainnya yang hampir merata diseluruh wilayah Papua, tanpa upaya mengadili pelakunya oleh Negara dan kesemuanya terakumulasi tanpa jalan keluar yang pasti.
Pemberlakuan otonomi khusus yang oleh Pemerintah dianggap sebagai solusi terbaik dalam implementasinya ternyata masih jauh dari harapan masyarakat Papua, hal ini disebabkan oleh Kebijakan Pemerintah yang sangat tidak konsisten memberlakukan Undang-Undang tersebut misalnya soal lambang daerah sampai saat ini masih menjadi perdebatan karena yang dianggap sebagai simbol dan lambang daerah oleh masyarakat Papua yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Propinsi Papua tersebut oleh Pemerintah dianggap sebagai simbol-simbol separatis kemudian dianulir dengan hadirnya Peraturan Pemerintah Nomor : 77 Tahun 2007 tentang Lambang Daerah termasuk keberadaan bendera Bintang Kejora, selain itu untuk menyelesaikan persoalan sejarah masa lalu dan Pelanggaran HAM telah diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Propinsi Papua soal hadirnya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi dan Pengadilan HAM untuk Propinsi Papua, hingga kini kehadiran kedua lembaga belum diseriusi oleh Pemerintah sendiri. Hal ini ditambah dengan belum adanya keseriusan Pemerintah menyelesaikan produk-produk pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Propinsi Papua yang tujuannya memproteksi penduduk asli Papua, ada 13 (Tiga Belas) Peraturan Daerah Khusus dan 21 (Dua puluh satu) Peraturan Daerah Propinsi (Perdasi) yang sebagian besar sampai saat ini belum diselesaikan pembahasan drafnya oleh Pemerintah, apa yang dilakukan diatas merupakan upaya pembiaran atau kesengajaan yang menggunakan hukum sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan dan menekan eksistensi penduduk asli di Tanah Papua ini guna melegitimasi berbagai ketidakadilan. Para Terdakwa yang saat ini menjalani proses hukum adalah korban dari pemikiran semacam ini.
Dalam kurun waktu sekitar tahun 2004-2006, telah ada upaya dari Lembaga Penelitian Indonesia untuk melakukan penelitian tentang Konflik di Papua, kemudian pada tahun 2008 Tim dari LIPI ditugaskan untuk membuat Papua Road MAP (Model Penyelesaian Konflik Papua secara mendasar dan konprehensif), dari hasil penelitian tersebut telah dikelompokan empat isu sumber konfik di Papua dan solusinya :
1. Isu Pertama : Masalah marginalisasi dan efek diskriminatif terhadap orang asli Papua akibat pembangunan ekonomi, konflik politik, dan migrasi massal
ke Papua sejak tahun 1970. Untuk menjawab ini, kebijakan afirmatif rekognisi perlu dikembangkan untuk pemberdayaan orang asli Papua;
2. Isu Kedua : Kegagalan Pembangunan terutama di Bidang Pendidikan, Kesehatan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. Untuk menjawab ini di perlukan semacam paradigma baru pembangunan yang berfokus pada perbaikan pelayanan publik demi kesejahteraan orang asli Papua di Kampung-Kampung;
3. Isu Ketiga : Adanya kontradiksi sejarah dan konstruksi identitas politik antara Papua dan Jakarta. Masalah ini hanya bisa dilakukan dengan dialog yang bermartabat dengan melibatkan semua komponen masyarakat Papua. 4. Isu Keempat : Pertanggung jawaban atas kekerasan Negara di masa lalu
terhadap Masyarakat Papua. Untuk itu perlu, penegakan hukum melalui Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) dan Pengungkapan Kebenaran melalui Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi di Papua, hal ini merupakan pilihan-pilihan terbaik untuk keadilan bagi masyarakat Papua, terutama korban dan keluarganya.
Selain LIPI, solusi-solusi untuk memecahkan problem tersebut juga dilakukan oleh Jaringan Damai Papua (JDP), yang terbentuk pada tanggal 06 Januari 2010, dikoordinir oleh Almarhum Dr. Neles Tebay telah melakukan konsultasi publik di 19 Kabupaten yang ada di Papua, dengan melibatkan 50 Orang/perwakilan tiap kabupaten dan pada tanggal 5-7 Juli 2011, JDP telah melakukan Konferensi Damai Papua sebagai Konsultasi Publik tertinggi yang melibatkan 500 Perwakilan dari 19 Kabupaten tersebut, yang masing-masing utusan terdiri dari : Unsur Faksi Politik, Unsur Pemuda, serta melibatkan pengamat dari DPRP, MRP, Pemerintah, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Dewan Adat Papua, NGO dan lain-lain, hasil dari Konferensi tersebut intinya dideklarasikan bahwa : Dialog merupakan sarana terbaik untuk mencari solusi bagi penyelesaian konflik antara Masyarakat Papua dan Pemerintah Indonesia; Terdapat Tekad untuk mencari solusi atas berbagai persoalan politik, keamanan, Hukum, HAM, Ekonomi, Lingkungan Hidup serta sosial budaya di Tanah Papua melalui Dialog antara Rakyat Papua dan Pemerintah Indonesia yang difasilisasi oleh pihak ketiga yang netral; telah ditetapkan juru runding orang Papua yang akan berdialog dengan Pemerintah Indonesia.
Menjadi pertanyaan mengapa telah ada upaya-upaya damai untuk menyelesaikan akar persoalan Papua, tetapi masih saja terjadi pembungkaman terhadap setiap gerakan masyarakat sipil di Papua dengan stiqma separatis dan “jerat” hukum pasal Makar yang hampir setiap saat dialami secara bergantian oleh mereka yang memperjuangkan hak-hak dasar Masyarakat Papua, dalam tahun ini Terdakwa yang mengalami lagi “stiqma” dan “jerat” Makar tersebut akibat dari SKENARIO KONSPIRASI NEGARA UNTUK MENANGKAP AKTIVIS DIBALIK PERISTIWA RASISME DI SURABAYA DAN DEMO ANTI RASISME DISELURUH PAPUA SERTA PAPUA BARAT.
Kita sebagai aparat penegak hukum perlu belajar pada momentum PERISTIWA RASISME YANG BERDAMPAK PADA DEMO ANTI RASISME DI AMERIKA DAN KINI MELUAS KE BEBERAPA NEGARA PASCA TERBUNUHNYA GEORGE FLOYD, PERISTIWA INI PERLU DIGUNAKAN UNTUK MELIHAT KEHIDUPAN ORANG PAPUA KEDEPAN, DENGAN MENEMPATKAN ORANG PAPUA SEBAGAI SUBYEK UTAMA DALAM MENENTUKAN MASA DEPANNYA, BUKAN MENADI OBYEK PENDERITA DALAM PENEGAKAN HUKUM DAN MEMPERPANJANG PROSES RASISME TERHADAP ORANG ASLI PAPUA.
II. FAKTA-FAKTA PERSIDANGAN 1. KETERANGAN SAKSI
1. Saksi AGUS KUSWANTO, lahir di Abepura, pada tanggal 13 April 1972, jenis kelamin Laki-laki, Agama Kristen Protestan, Pekerjaan Polri, Kewarganegaraan Indonesia, Alamat Jln. Aru Aspol Abepura, RT 001 RW 000, Kel. Kota Baru, Kec. Abepura, telah disumpah dan menerangkan dibawah sumpah dalam persidangan, sebagai berikut :
v Saksi menerangkan bahwa tanggal 09 September 2019 ada pertemuan KNPB di Asrama Uncen (Perumnas 3), membahas rencana aksi untuk bebaskan para tahanan yang ditangkap dalam aksi protes rasisme 19,29 Agustus 2019 dan sedang ditahan di Polda Papua, polisi menduga Victor Yeimo, Agus Kosay dan Lucky Siep juga mengikuti rapat dimaksud sehingga datang ke asrama untuk menangkap mereka, namun ketika polisi tiba di asrama tidak bertemu target, polisi pun ke rumah Buchtar Tabuni dan bertemu Buchtar di sebuah bukit lalu menangkapnya/mengamankannya;
v Saksi menerangkan bahwa saat Terdakwa Buchtar hendak mau naik mobil, ada komando, Buchtar angkat tangan lalu warga sekitar melempar mobil dengan batu;
v Saksi menerangkan bahwa warga yang melakukan pelemparan berjumlah kurang lebih 20 orang;
v Saksi menerangkan bahwa akibat lemparan warga dimaksud seorang polisi terluka dan sempat dirawat di Rumah Sakit; v Bahwa saksi tidak tahu Buchtar Tabuni, apakah ikut pertemuan
tanggal 09 yang dilakukan KNPB di Asrama Uncen perumnas 3 atau tidak;
v Bahwa Saksi menerangkan, Terdakwa Buchtar ikut dalam organisasi KNPB, PNWP dan ULMWP, Organisasi yang bergerak di diplomasi dalam dan luar negeri, menyerukan referendum, kemerdekaan Papua;
v Bahwa Saksi mengaku sering dengar ada rapat-rapat yang dilakukan oleh Buchtar Tabuni tapi tidak tahu tempat dilakukan dan waktunya;
v Bahwa saksi tidak tahu keterlibatan Buchtar Tabuni dalam kegiatan demonstrasi, tanggal 19 dan 29 Agustus 2019;
v Bahwa saksi menerangkan barang-barang yang ditemukan dalam rumah Buchtar Tabuni adalah Laptop dan HP, tapi tidak tahu isinya;
v Bahwa saksi mengaku mendapat info dari teman polisi (tim penyidik) bahwa di dalam HPnya ditemukan adanya dokumen yang dikirim keluar negeri;
v Bahwa saksi menerangkan demo rasisme tanggal 19 Agustus @019 berjalan lancar, demo tanggal 29 Agustus 2019, terjadi anarkis, pembakaran bangunan di Kota Jayapura;
v Bahwa saksi menerangkan demo tanggal 19 dan 29 Agustus 2019 di Jayapura terkait eksodus mahasiswa Papua dari Jawa karena masalah rasisme di Surabaya;
v Bahwa saksi tidak tahu tuntutan mahasiswa;
v Bahwa saksi tidak tahu ada putusan pengadilan tahun 2012 yang telah berkekuatan hukum tetap bagi Terdawa Buchtar Tabuni; v Bahwa saksi mengetahui keterlibatan Buchtar Tabuni di KNPB
v Bahwa saksi menerangkan korelasi penengkapan Buchrar dengan target karena Agus Kosai kerena Buchtar salah satu tokoh yang menyatakan referendum.
Tanggapan Terdakwa : Terdakwa menolak keterangan saksi, karena tidak ada kaitan dengan demo anti rasisme dan pertemuan-pertemuan di Asrama Rusunawa.
2. Saksi JOKO ANGGORO, lahir di Jayapura, pada tanggal 09 Februari 1982, jenis kelamin Laki- laki, 1Agama Islam, Pekerjaan Polri, Kewarganegaraan Indonesia, Alamat Jln. Bayam Hamadi RT.002/ RW. 006 Kel. Hamadi Distrik Jayapura Selatan, telah disumpah dipersidangan, pada pokoknya menerangkan, sebagai berikut :
v Bahwsa Saksi menerangkan bahwa Terdakwa Buchtar ditangkap sehubugan dengan penghasutan membangun negara di dalam negara;
v Bahwa saksi mengaku Terdakwa Buchtar Tabuni menghasut masyarakat saat demontrasi di Kota Jayapura;
v Bahwa saksi mengaku melihat Terdakwa Buchtar Tabuni melakukan demostrasi saat dulu-dulu, Terdakwa juga melakukan orasi, dalam orasi itu masa membawa bendera dan mengatakan yel-yel;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa terdakwa sebagai ketua ULMWP dan PNWP, bergerak di bagian diplomasi Papua merdeka luar negeri;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa Terdakwa Buchtar Tabuni berhubungan dengan Beny Wenda, DPO Polri;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa tanggal 09 September 2019 tim Polda Papua ke Asrama Uncen perumnas 3 untuk tangkap DPO yaitu Victor Yeimo, Agus Kosai dan Luky Siep, tapi tidak ketemu lalu ke Kamwolker tangkap Terdakwa di gunung;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa sebelum Terdakwa Buchtar Tabuni naik mobil ia mengangkat tangan kepada warga, lalu masyarakat melakukan pelemparan terhadap mobil yang mereka tumpangi dengan batu;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa Barang bukti yang ditemukan dalam rumah Terdakwa Buchtar Tabuni yaitu dua HP satu Laptop;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa Terdakwa Buchtar tidak ada dalam kegitan demo rasisme;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa Terdakwa Buchtar dulu bergabung dengan organisasi KNPB, sekarang masuk dalam organisasi ULMWP;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa tujuan KNPB adalah diplomasi dan bangun negara Papua ;
v Bahwa saksi mengaku dalam melakukan penangkapan terhadap terdakwa tidak disetai surat perintah penangkapan;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa Latar belakang demo karena adanya peristiwa rasisme di Surabaya, Jawa Timur, ada yang keluarkan kata monyet;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa demo tanggal 19 berjalan damai, Tuntutan Demo : minta merdeka, tuntut tahan pelaku rasisme;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa demo dari kantor MRP, lewat kantor DPRP;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa demo tanggal 19 Agutus 2019 Terdakwa tidak ikut;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa 2012 ada sidang terdakwa dan ada putusannya, saat itu saksi lihat sidangnya;
v Bahwa saksi tidak ada penghasutan saat Buchtar Tabuni naik mobil saat ia ditangkap pada tangal 09 September 2019 di Perumnas 3 Waena.
Tanggapan Terdakwa Buchtar Tabuni :
Tidak benar adanya komando kepada masyarakat yang membuat masyarakat sekitar melempar mobil dengan batu;
3. Saksi FANI KAREL LAIMENA, lahir di Magelang pada tanggal 08
September 1977, jenis kelamin Laki-laki, Agama Kristen Khatolik, Pekerjaan PNS (PNS Staf Kesbangpol), Pendikan Terakhir S1 Ekonomi, Kewarganegaraan Indonesia, Alamat Jln. Krisno S. No. 18 A Angkasa Distrik Jayapura Utara, telah dibawah janji dalam persidangan sebagai berikut :
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa Tidak tahu Terdakwa Buchtar pimpin organisasi ;
v Bahwa saksi tahu ada organisai KNPB dan OPM;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa organisasi KNPB dan OPM tidak terdaftar di Kesbangpol;
v Bahwa saksi tidak tahu hubungan keduanya;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa organisasi PNWP, WPNCL, ULMWP tidak terdaftar di Kesbangpol;
v Bahwa saksi tahu organisasi PNWP, WPNCL, ULMWP, organisasi ini ada di Papua;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa konsen kerja Kesbangpol hanya untuk organisai yang terdaftar;
v Bahwa saksi menerangkan bahwa tidak ada kewenangan pemerintah terhadap organisasi yang tidak terdaftar di Kesbangpol;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa tidak ada tindakan pemerintah untuk bubarkan;
v Bahwa saksi tidak tahu Terdakwa Buchtar Tabuni merupakan pimpinan ULMWP;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa tidak ada kewajiban ormas harus terdahtar di Kesbangpol, sesuai PP Ormas;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa tidak ada kewajiban memaksa merubah ormas;
v Bahwa Saksi menerangkan bahwa ormas yang berkaitan dengan pemerintah wajib didaftar;
v Bahwa Saksi tidak tahu Buchtar sebagai Ketua KNPB.
Tanggapan Terdakwa : Terdakwa menyatakan tidak menanggapi karena saksi tidak tahu soal Terdakwa dan aktifitas Terdakwa
4. Saksi STEVENUS ITLAY ALIAS STEVEN ITLAI, lahir di Wamena, pada tanggal 03 Oktober 1988, jenis kelamin Laki-laki, Agama Kristen Khatolik, Pekerjaan Aktivis Ham (Ketua KNPB Kab. Timika), Pendikan Terakhir SMK Neg. 3 Jayapura, Kewarganegaraan Indonesia, Alamat Jln. Kebun Siri Jln. Freeport lama Timika Kab. Timika, telah disumpah dan memberikan keterangan dipersidangan pada pokoknya menerangkan sebagai berikut :
v Bahwa saksi mengaku tidak pernah diperiksa untuk perkara Buctar Tabuni;
v Bahwa saksi mengaku hanya diperiksa untuk perkara Agus Kosay;
v Bahwa saksi merasa di tipu oleh Penyidik dalam menjelaskan proses pemeriksaan terhadap Terdakwa;
v Saksi mengaku saat diperiksa di kepolisian dipaksa oleh penyidik;
v Saksi menerangkan bahwa keterangan dalam BAP diambil dari / disalin dari Internet;
v Bahwa saksi menerangkan bahwa tanda tangan BAP tanpa membaca BAP;
v tidak bersedia memberikan keterangan untuk Terdakwa Buchtar Tabuni dalam sidang ini.
Tanggapan Terdakwa : Terdakwa tidak memberikan tanggapan karena Steven tidak diperiksa untuk terdakwa.
b. Keterangan Saksi-Saksi meringankan A DE CHARGE
1. SAKSI LAURENS KADEPA, menerangkan dibawa janji dalam persidangan sebagai berikut :
v Bahwa saksi adalah anggota DPR Provinsi Papua kini sebagai anggota DPRP Periode Kedua pada Komisi I yang berhubungan dengan Bidang Pemerintahan, Politik dan Hukum;
v Bahwa pada aksi demo damai menentang rasisme di Jayapura, saksi ada bersama-sama massa yang berdemo pada aksi pertama tanggal 19 Agustus 2019 dan aksi kedua tanggal 29 Agustus 2019;
v Bahwa saksi tahu latar belakang aksi demo menentang rasisme pada tanggal 19 Agustus 2019 dan 29 Agustus 2019 di Jayapura dan seluruh Papua dan Papua Barat dilatar belakangi oleh peristiwa rasisme di Surabaya pada tanggal 16 Agustus 2019 dan beberapa daerah di Jawa seperti di Jogjakarta, Malang dan Semarang serta beberapa daerah di Jawa;
v Bahwa saksi tahu aksi demo menentang rasisme yang bertanggungjawab adalah BEM Se-Kota Jayapura dan juga didukung spontanitas rakyat Papua, aksi ini tidak dilakukan oleh kelompok KNPB ULMWP atau AMP, ini aksi spontanitas karena rasisme sudah berulang-ulang dilakukan terhadap orang Papua; v Bahwa saksi sebagai anggota DPRP menerima informasi ini
lewat selebaran, informasi dari selebaran tersebut berkaitan dengan aksi menentang rasisme di Surabaya, tidak ada ajakan kepada rakyat untuk melakukan aksi anarkhis;
v Bahwa saksi melihat semua masyarakat melakukan demo anti rasisme, khusus untuk terdakwa saksi tidak melihat karena banyaknya massa yang hadir dalam demo anti rasisme tersebut; v Bahwa ungkapan rasis yang sering dikeluarkan adalah kata
monyet, sebelum di Surabaya ada peristiwa di Jogja terhadap Oby Kogoya, Natalius Pigay Mantan Komisioner HAM juga dialami Tim Persipura ketika bermain bola;
v Bahwa peristiwa rasisme ini merupakan akumulasi yang puncaknya terjadi demo anti rasisme yang terjadi pada tanggal 19 Agustus 2019 dan 29 Agustus 2019 yang terjadi di Seluruh Papua dan Papua Barat;
v Bahwa ada pembakaran dan pengrusakan tapi saksi tidak tahu yang melakukan pembakaran tersebut dari kelompok mana, saksi juga tidak melihat dalam aksi tanggal 29 Agustus 2019 maupun 19 Agustus 2019 Terdakwa Buchtar Tabuni;
v Bahwa saksi melihat pada tanggal 19 Agustus 2019 selain dikoordinir oleh BEM Se-Kota Jayapura ada kelompok Cipayung seperti GMKI, PMKRI dan HMI serta ada juga kelompok Non Orang Asli Papua (Non OAP) yang turut terlibat dalam aksi demo menentang rasisme;
v Bahwa aksi diluar Kota Jayapura, yang terjadi di beberapa Kabupaten seperti Wamena, Deiyai, Dogiyai, Yahukimo, Biak, Yapen dan beberapa daerah lain di Papua dan Papua Barat tidak dikoordinir oleh BEM Se-Kota Jayapura tetapi atas inisiatif masyarakat Papua dan Papua Barat secara spontanitas;
v Bahwa saksi tahu aksi tersebut saksi koordinasi terus dengan pihak Polda dan Polresta, yang saksi tahu demo tanggal 19 Agustus 2019 diizinkan oleh Pihak Kepolisian;
v Bahwa saksi tahu aksi tanggal 19 Agustus 2019, massanya diterima oleh Gubernur Papua dan juga Muspida lainnya, setelah itu saya tahu ada Tim yang ke Surabaya bertemu dengan Gubernur Jawa Timur;
v Bahwa saksi tahu Terdakwa Buchtar Tabuni ditangkap, tapi saksi tidak tahu aktivitasnya akhir-akhir ini dan tidak tahu juga tempat tinggal Terdakwa;
v Bahwa yang saksi tahu tidak ada bendera KNPB, tidak ada bendera bintang kejora, tidak ada panflet-panflet yang berkaitan dengan Papua Merdeka;
v Bahwa yang saksi tahu aksi demo tersebut bertujuan menentang rasisme, tidak ada tujuan referendum atau memisahkan diri dari NKRI;
v Bahwa saksi menerangkan justru kelompok mahasiswa yang bertanggung jawab dalam membantu pemerintah dan pihak kepolisian sehingga aksi demo ini berakhir dengan damai, kalau tidak ada kelompok mahasiswa, dapat terjadi tindakan yang lebih parah lagi, Kota Jayapura bisa terjadi kerusakan dan kebakaran dimana-mana (merah);
v Bahwa saksi menerangkan sebagai Anggota DPRP ketujuh terdakwa ini adalah korban dari rasisme mereka tidak salah terkait dengan aksi tanggal 19 Agustus 2019 dan 29 Agustus 2019. Terutama jika dikaitkan dengan ULMWP, KNPB dan AMP itu sangat salah, aksi tersebut tidak ada kaitan dengan ULMWP, KNPB dan AMP itu spontanitas dari Masyarakat Papua dalam
rangka menolak rasisme, jadi hakim yang mulia saya harap keadilan ditegakan bagi mereka.
Tanggapan Terdakwa :
v Saya harap PH saya menghadirkan Saksi yang melihat peristiwa tanggal 9 September 2019, ini sudah membias diluar yang saya alami;
v Saya merasa ditipu oleh penyidik, karena diawal informasi dari penyidik dijemput berkaitan dengan kasus pelemparan;
v Saya tidak ada tanggal 19 Agustus 2019 dan 29 Agustus 2019.
2. SAKSI Pdt.ARMIN KOGOYA, S.Th, menerangkan dibawa janji dalam persidangan sebagai berikut :
v Bahwa saksi adalah tetangga dari Terdakwa Buchtar Tabuni, jarak antara rumah saksi dan Terdakwa kurang lebih 100 meter; v Bahwa saksi dan terdakwa tetangga dan bersama-sama
berkebun, kebun kami dari rumah kurang lebih 200 meter; v Bahwa pada hari Sabtu, tanggal 7 September 2019 Terdakwa
Buchtar Tabuni kerumah saksi, saksi mengajak Terdakwa bersama-sama kerja kebun;
v Bahwa pada hari Senin, tanggal 9 September 2019, saksi bersama Terdakwa kerja dikebun , lalu Terdakwa pulang;
v Bahwa saksi saat itu kedepan belanja untuk masak, lalu melihat anggota sudah berkumpul di putaran taxi Perumnas 3, saksi belanja bawa kerumah untuk masak;
v Bahwa saat itu saksi melihat anggota polisi sudah datang dan tangkap terdakwa bersama banyak orang saat itu, termasuk seorang perempuan ditangkap dan dibawa ke Polsek Abe;
v Bahwa saksi tahu ditangkap pada jam 10.00 Pagi, anggota menggunakan banyak mobil mereka sweeping di Asrama Uncen lalu mereka naik ke Kampwolker, jadi bukan satu arah, mereka dari Buper dan Jalan Baru;
v Bahwa yang saksi tahu pada saat itu Terdakwa ditangkap pada Jam 05.30 Sore (17.30 WIT) dan saat itu saksi berada di rumah; v Bahwa saat penangkapan banyak mobil datang dari jembatan,
lalu 3 mobil yang satu mobil Pick Up dan dua mobil kaca gelap avansa. Yang satu parker dihalaman bagian bawa, yang satu parkir dihalaman rumah tetangga, lalu mereka tangkap Terdakwa naikan ke mobil;
v Bahwa saat melakukan penangkapan, aparat mengeluarkan tembakan yang membuat masyarakat takut, saksi saat itu ada tapi menghindar tembakan juga;
v Bahwa saat itu saksi bersama masyarakat menanyakan kepada polisi, terdakwa dibawa kemana? Bawa ke Polsek, Polres atau Brimob? Tapi ada bunyi tembakan lagi sehingga massa semua lari menghindar;
v Bahwa ada dari belakang masa yang melakukan pelemparan dan kejar polisi yang membawa Terdakwa, Terdakwa angkat tangan dan mengatakan ini saya ditangkap ade kembali mundur;
v Bahwa saat dibawa dengan mobil terdakwa turunkan kaca, angkat tangan dari dalam mobil dan sampaikan saya sudah ditangkap jadi warga jangan kejar;
v Bahwa saksi bersama massa saat itu tidak tahu Terdakwa dibawa kemana, saksi yang mengarahkan massa untuk bubarkan diri saat itu;
v Bahwa selain berkebun, Terdakwa bersama saksi juga memelihara ternak seperti Babi;
v Bahwa saksi sudah mengenal Terdakwa dari 2015 sejak sama-sama tingggal di KampWolker.
Tanggapan Terdakwa : Benar keterangan saksi, Terdakwa tidak keberatan
2. KETERANGAN AHLI
a. KETERANGAN AHLI DARI JPU
Ahli yang diajukan Jaksa Penuntut Umum dalam persidangan untuk menerangkan keahliannya sehubungan dengan perkara ini adalah : 1. Ahli Bahasa Dr. APRIANUS SALAM, M.Hum, lahir di Riau, pada
tanggal 07 April 1965, jenis kelamin Laki-laki, Agama Islam, Pekerjaan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dan Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM, Pendidikan Terakhir S3, Kewarganegaraan Indonesia, Alamat Jln. Kantor Pusat Studi Kebudayaan UGM, Jl. Trengguli No. E9, Bulaksumur, Yogyakarta, telah disumpah, pada pokoknya menerangkan dipersidangan sebagai berikut :
v Bahwa antara tema dengan dengan foto dan video yang ditunjukan Kalau secara Ilmu kebahasaan dalam perspektif struktural misalnya itu bagian–bagian peristiwa-peristiwa kecil yang merupakan bangunan peristiwa besar yang secara keseluruhan. Peristiwa besar berdiri dari peristiwa-peristiwa kecil yang selalu ada terkait dengan konteks peristiwa secara keseluruhan. Secara teori kemudian teori itu berpendapat bahwa tidak ada peristiwa di dalam satu konteks terlepas berdiri sendiri-sendiri, merupakan rangkaian – rangkaian yang selalu; v Bahwa Terkait dengan peristiwa saya hanya menganalisis
berdasarkan data/dokumen-dokumen yang diberikan kepada saya, jadi ada peristiwa-peristiwa tertentu, demonstrasi ada peristiwa statement-statement yang terkait dengan Papua merdeka, pengibaran bendera bintang kejora, kemudian ada statement– statemen yang mungkin bisa masuk ke soal rasisme, statement monyet, kolonial dan seterusnya ini statement yang sebetulnya dari peristiwa”tertentu yang sekarang. Bagian tadi membangun peristiwa yang lebih besar yakni bagaimana kemudian sebagian kelompok” tertentu menyampaikan aspirasi tadi ada dan tetapi didalam menyampaikan aspirasi tadi, ada kesepakatan simbolik yang besifat nasional, bersifat kenegaraan yang bersifat kebangsaan yang melanggar kesepakatan simbolik tadi;
v Bahwa saksi mengsinergikan teori bahasa ada yang teori pri structural simiotik, ada teori wacana, hermenetik. Memang setiap disiplin ilmu bahasa, ilmu hukum, ilmu ekonomi dia punya register dia punya pengertian-pengertian tertentu yang kadang-kadang perlu disesuaikan dengan paradigma ilmu kedisiplinannya kami sebagai ahli bahasa tentu saja pengertian yang dianggap baku yang ada di kamus besar bahasa Indonesia,
kita bisa lihat bersama, walaupun tentu saja berpendapat nanti belum tentu persis seperti kamus, karena saya juga boleh berhak berpendapat. Tapi saya kira benang merahnya sama jadi ini yang perlu dipahami bahwa kadang-kadang pengertian-pengertian yang di ilmu hukum bahasa, di ilmu ekonomi, ilmu politik itu pengertian kata-kata referendum misalnya tidak persis sama tapi tentu saja ada sati dua yang menjadi benang merah untuk dipakai bersama sehingga kemudian orang ketika menggunakan kata refendum itu mempunyai pengertian yang lebih kurang sama, cuma penggunaan bahasa itu kemudian sesuai dengan konteksnya bahasa hukum, ekonomi, yang sesuai dengan konteksnya disiplin yang berbeda-beda tetapi saya kira kamus besar bahasa Indonesia bisa di jadikan pedoman dasar untuk memberikan pengertian sebelum masuk kedalam disiplin- disiplin keilmuan lainnya;
v Bahwa sekelompok masyarakat boleh saja menyampaikan aspirasi sebagai warga Negara, tetapi ketika kemudian di dalam proses berkomunikasi ada hal – hal kemudian terjadi pelanggaran yang disepakati dari segi itu kebahasaan melanggar proses komunikasi tetapi kalau kemudian bisa saja pelanggaran – pelanggaran tadi bisa dimasukan ke ranah hukum / pengadilan ;
v Bahwa nanti Ahli hukum akan menjelaskannya, saya menjelaskan dari segi kebahasaan hanya mempersoalkan apakah dalam cara berkomunikasi, menyampaikan pendapat, menyampaikan aspirasi itu dari segi bahasanya apakah ada pelanggaran kesepakatan simboliknya atau tidak ? saya hanya sampai disitu saja. Apakah nanti statement itu dilindungi hukum atau tidak silakan diklarifikasi oleh Ahli hukum.
v Bahwa saksi telah menulis buku tentang Makar Simbolik pada bagian Bab V;
v Bahwa saksi menulis itu setelah saksi mempelajari kasus papua ada peristiwa tentang sekelompok masyarakat / warga melakukan tindakan-tindakan simbolik dengan menurunkan bendera merah putih, mengibarkan bendera lain, itu saya berpikir;
v Bahwa hubungan relasi dengan maknanya, makna mana yang bersifat kordinatif, makna-makna yang bersifat korelatif, dan makna-makna yang bersifat kontradiktif sebetulnya relasinya makna kontradiktif jadi makna-makna tidak harus sama tapi, makna kontradiktif pun dapat disatukan dalam satu konteks; v Bahwa Itu bisa berbeda, jadi tidak ada kemudian isu itu dipilah-
pilah. Kemudian dalam ilmu kebahasanan diambil satu organ tertentu kemudian di anlisis dengan memisahkan organ tadi di dalam konteks keseluruhan jadi malah tidak bisa dipahami lagi; v Bahwa saya tidak melihat berkas 7 Terdakwa;
v Bahwa saya hanya diberikan satu berkas berdasarkan Kasus; v Bahwa setiap ada kasus, ada statement saksi ditanyakan
bagaimana menurut pendapat saksi, saksi tidak harus mengkaitkan siapa dengan pernyataan itu, kemudian ada BAP 7 orang dan juga pernyataan tertulis.
v Bahwa Kasus dan statement berbeda-beda;
v Bahwa Istilah rasisme dan anti rasisme itu prasangka – prasangka ideologis teori tentang Ideologi bicarakan dalam teori kebahasaan, jadi prasangka – prasangka Ideologis baik rasisme dan anti rasisme sebetulnya sama – sama rasisme, persoalan – persoalan tertentu, penolakan – penolakan tertentu, menolak rasisme dia juga punya ada rasisme tertentu yang dia pegang, apakah itu kemudian rasis dengan berbasis secara teoritis, rasisme itu dasarnya genetik apakah warna kulit, apakah berkaitan dengan turunan dan seterusnya. Tetapi sebetulnya
yang perlu dipahami sama adalah bahwa penggunaan kata rasisme dan anti rasisme itu permainan politisasi makna, semuanya punya kepentingan jadi diperiksa saja apakah steatmen itu secara historis maupun secara kebahasaan maupun secara politik atau nanti kalau itu sudah clear bisa menjadi masalah hukum atau tidak;
v Bahwa Implikasi itu ada bukan soal rasismenya, implikasinya terhadap kemungkinan penolakan-penolakan terhadap anti rasisme, kita tidak bisa memfokus dalam satu konteks kemudian diambil kasusnya tapi implikasi yang serius tentu saja bentuk perlawanan sehingga ada orang, sekelompok orang berkepentingan apakah itu terkait dengan bendera atau apakah itu terkait denga pernyataan – pernyataan tertentu yang mungkin bisa bersifat tuduhan maupun penghinaan itu semua implikasi – implikasi yang lebih penting dari sekedar memahami apakah itu rasisme atau anti rasisme;
v Bahwa Kita punya kesepakatan kata monyet kalau berdiri sendiri tidak ada masalah, tapi kalau kita menunjukan secara ikonik ini gambar monyet kemudian kata monyet ada proses historis yang menyebabkan kemudian namanya istilahnya prioratif atau prio…atau istilah bahasanya menjadi berubah maknanya, kemudian kata itu dipakai untuk penghinaan itu jadi bermasalah, jadi maksud saya itu .
Ada makna – makna yang kemudian, dulu kata betina sangat terhormat dipakai, sekarang seorang wanita dikatakan dasar betina kamu dipakai jadi tidak benar wanita tadi merasa tidak terima, dia bisa saja melapor menjadi peristiwa;
Tanggapan Terdakwa : Terdakwa menolak keterangan Ahli karena tidak ada kaitan denga Terdakwa
2. Ahli Psikologi Sosial Politik, A Prof. Dr. HAMDI MULUK, Ph.D, lahir di Padang Panjang, pada tanggal 31 Maret 1966, jenis kelamin Laki-laki, Agama Islam, Pekerjaan Dosen,Kewarganegaraan Indonesia, Alamat Gedung B Lantai 2 Ruang B 107, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Jl. Margonda Raya, Pondok Cina, Kec. Beji, Kota Depok, Jawa Barat.16424, telah disumpah, dam memberikan keterangan dipersidangan pada pokoknya menerangkan, sebagai berikut : v Bahwa gerakan–gerakan yang berasal dari kelompok –
kelompok isurgensi juga ada kelompok – kelompok Mahasiswa kita tahu bahwa ada misalnya HMI, PMKRI, HMI DAN GMKI tapi juga terdakwa ada yang berbasis dari unsur mahasiswa;
v Bahwa gerakan menjadi besar itu kalau simpatisan semakin banyak jadi unsur–unsur yang termotivasi untuk melakukan itu menjadi lebih luar untuk gerakan – gerakan aksi kolektif menjadi besar itu yang dari awal. Saya katakan dalam kasus Papua ini seperti yang saya lihat ada sama ada gerakan – gerakan yang motifnya menuntut diskriminasi dan juga banyak melibatkan elemen – elemen tertentu jelas dalam anatomi gerakan ini bisa diidentifikasi bahwa itu ada kalau saya lihat baik yang ditemukan oleh penyilik ini ada rapat–rapat persiapan yang cukup intensif itu juga melibatkan intensif lantas termasuk juga kelompok insurgensi dan juga aspirasi ini belakang mulai buatanya misalnya kalau kita lihat anatomi gerakan itu berkembang menjadi liar biar gerekan tersebut kearah makar; v Bahwa cara untuk menemukan kemerdekan dan seterusnya dan
betul bahwa di gerakan ini seperti penasehat hukum katakan gerakan–gerakan civil society lain;
v Bahwa seperti yang berita acara saksi lihat itu mulai berkembang gerakan aspirasi memungkinkan di picu kemerdekaan, ketidakpusan karena dan negara demokratif memang ada batasan – batasan yang jelas bahwa ketika itu suatu sudah masuk ke titik mengrongrong menyeruhkan mengajak orang untuk mendeklarasikan pemerintahan yang sah menyuruh orang untuk mendelegitimasi sebuah gerakan, bisa bersifat non violence dan juga bisa violence bisa juga pengembangkan gerakan sipil bisa berunjuk pada gerakan pemaksukan. Dalam anatomi sekarang masa yang terjadi di Papua saya melihat semua bahwa kita harus tahu kalau sudah jelas menyangkut merongrong, gerakan surgensi atau gerakan poltisi untuk apakah menawarkan suatu kedaulatan termasuk kewenangan simbol, simbol yang dipahami oleh seluruh rakyat sebagai sebagai simbol sebagai ketidak patuhan untuk memisahkan diri. Ini yang ditakutkan aspirasi yang meluas dan akan mejadi gerakan insurgensi yang mengancam NKRI. Apabila aparat kemanan bertindak itu sesuatu hal yang wajar;
v Bahwa begini memang memisahkan mana yang terhadap aspirasi dan mana yang sudah berkembang jadi, usaha – usaha untuk insurgensii atau usaha – usaha ke arah makar, usaha aspirasi ke arah kemerdekaan itu. Ini memang tugas penyidik untuk mengumpulkan bukti – bukti mulai rapat – rapat bersiapan dan mengumpulkan semua barang bukti. Ini semua menyangkut apa yang menjadi aspirasi orang–orang yang bergerak di lapangan itu. Tentu titik focus pada praktek – praktek, dalam sebuah gerakan masal yang mungkin sudah mengarah pada insurgensi tadi gerakan – gerakan makar dan seterusnya;
v Bahwa Yang pertama–tama harus diselidiki tentu adalah leader,kita tidak bicara follower banyak sekali ribuan orang – orang pasti ikut – ikut titik focus kepada penggerak – penggeraknya dulu. Penggerak itu bisa orang–perorang, organsasi dan secara hukum kita sebut sebagai organisasi dan organisator yang namanya korlap dan ada orang yang mengornisir itu yang diselidki dulu. Itu actor – actor praktek tentu nanti kita harus pilah–pilah namun yang menyuarakan murni, diskriminasi maka mulai mengara kea rah – arah motifnya ke gerakan makar ini kita lakukan;
v Bahwa ada usaha melegitimasi sebuah resim yang sah usaha – usaha untuk mengajak melakukan usaha untuk melakukan pembakatannya ketidakpatuan dan menyuarakan tidak percaya pada rezim semacam – semacam itu isinya political delegitimasi itu sering dikatakan usaha untuk subjensi mungkin sekedar menyampaikan asipirasi tapi memang dilematis juga Dalam aksi juga. Kalau memang adalah untuk di percaya, minta Merdeka juga dimaksud pada Isubjensi;
v Bahwa setelah itu apakah gerakan ini berkembang berkolaborasi dengan kelompok – kelompok yang menyuarakan insurgensi itu pada titik itu saja bahwa ada selebaran kertas yang diserahkan Gubernur untuk pelaku diskriminasi tindak lanjut;
v Bahwa artinya dalam sebuah proses negara demokrasi itu dimungkinkan, proses politik yang sah paling tidak depannya konggres MPR, atau MA atau seluruh Indonesia sepakat ada referendum paling tidak satu provinsi minta berdiri sendiri itu namanya referendum;
v Bahwa di seluruh dunia rasisme selalu tantangan bagaimana juga hubungan yang harmonis dari pada masyarakat yang secara ras, beragama sangat majemuk ragam, sas hubungan yang harmonis itu saling menghormati tolerensi, tidak menghina,
tidak menyakiti satu sama lain karena memang secara kodrat kita sudah beda secara rasial.
v Bahwa Secara rasial, secara agama, kebudayaan yang berbeda – berbeda, kebiasan yang berbeda-beda masyarakat majemuk dalam fisikologi lingkungan. Bagaimana setiap kelompok – kelompok saling menghormati memang kalau pengusiran terhadap ras lain orang akan mengatakan ini dalam fisikologi politik. Rasisme itu diindentifikasikan sebagai sebuah sikap kepada kelompok ras yang berbeda dari orang jadi masalah sikap lahir, sikap kadang tidak diikuti dengan hal – hal yang misalnya perasaan, anda punya perasan negatif terhadap hal–hal jadi dalam Indonesia sikap – sikap rasisme itu berpotensi saja terjadi tidak hanya orang non Papua terhadap orang Papua juga sebaliknya. Rasisme itu dalam fisikologi politik di definisikan sebagai sebuah sikap negatif terhadap kelompok lain kelompok itu, kelompok ras, kelompok suku, kelompok beda agama sama saja dalam persepktif kalau orang yang punya prasangka orang punya pandangan – pandangan tertentu terhadap sebuah ras, agama, dan seterusnya berkembang menjadi prasangka;
v Bahwa Persoalan rasisme akan selalu menjadi tantangan terhadap negara demokrasi tidak hanya Indonesia, seluruh Negara di dunia menganggap ini sebuah tantangan kita berbangsa, bernegara bagaimana kita mengembangkan kehidupan yang toleran, dikusif tidak membeda -bedakan orang berdasarkan suku, ras.agama kelompok yang berbeda kita sudah sepakat hidup bersama dalam krangka NKRI mulai dari sabang sampai Merauke setiap orang berdiri sama, setara sepanjang warga sama hak – warga Republik yang sama hak – haknya harus dihormati dan Problem ini dimasyarkat tantangan masyarakat demokratif.
Tanggapan Terdakwa : Terdakwa menolak keterangan Ahli karena tidak ada kaitan denga Terdakwa
3. Ahli Hukum Tata Negara, Muhammad Rullyandi, S.H., MH,lahir di Jakarta, pada tanggal 26 Juli 1986, jenis kelamin Laki-laki, Agama Islam, Pekerjaan Dosen, Pendidikan sedang menyelesaikan studi S3 Hukum Tata Negara di pasca sarjana Program Doctor Ilmu Hukum Universitas Padjajaran, Kewarganegaraan Indonesia, Alamat Jln. Pulo Sirih Timur 7 Blok CC No. 33 Pekayon Jaya, Bekasi, telah disumpah, dipersidangan pada pokoknya menerangkan sebagai berikut : v Bahwa Secara prosedur dalam berdemo, memang ada
pemberitahuan, Jikalau pemberitahuan itu sudah disampaikan tapi kegiatannya, dilapangan tidak sesuai dengan isi pemberitahuan, maka Polri mengambil Tindakan tegas;
v Bahwa Demo itu harus tunduk pada Undang-Undang, demonstrasi adalah bagian dari kebebasan menyatakan pikiran dengan lisan karena itu harus tunduk pada Undang-Undang tentang Kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka Umum. Jadi wajib menaati dan ada aturan khusus menjaga keutuhan persatuan bangsa, Jadi ada kewajiban kepada setiap warga Negara disamping Demonstrasi adalah Hak warga Negara yang diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jadi ada hak yang dijamin dan Perlindungan Hukum Pasal 5 kemudian ada Kewajiban. Kewajiban itu merupakan tanggungjawab individu-individu semua yang terlibat dalam demonstrasi kalau ternyata materi substansi yang disampaikan didepan publik ternyata mengandung unsur separatis, ternyata
ada unsur makar terpenuhi perlawanan terhadap fundamental Negara maka Negara harus tegas mengambil sikap penegakan Hukumnya dan ini bukan sebatas pada prosedural. Pada prinsipnya Kegiatan yang dilarang Undang-Undang mereka tidak terbuka secara public tapi memiliki misi tertentu yang mereka rahasiakan sehingga barangkali aparat penegak hukum juga tidak melihat secara kasat mata bahwa ternyata ada kegiatan yang berpotensi merupakan kegiatan demonstrasi yang menyampaikan demo separatis berujung pada pemisahan terhadap NKRI, ini yang harus diwaspadai bahkan harus dilakukan Tindakan tegas dan ternyata dilapangan terjadi kegiatan yang tidak sesuai seperti Kasus demo yang terjadi pada 19 Agustus 2019 dan 29 Agustus 2019;
v Bahwa Pemberitahuan adalah Kewajiban, Kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap warga Negara sebelum melakukan tidakan berdemonstrasi , itu Kewajiban melakukan pemberitahuan. Kalau permohonan ijin, jelas permohonan ijin itu secara resmi, meminta ijin untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu. Meskipun pemberitahuan dan permohonan ijin itu harus ada permohonan ijin dari aparat untuk memperbolehkan atau tidak memperbolehkan dalam hal diskresi apparat penegak hukum, kewenangan subyektivitas dan objektivitas apparat penegak hukum maka yang harus kita garis bawahi apakah pemberitahuan itu meskipun dengan berbagai cara merahasiakan kegiatan inti dari kegiatan yang dilakukan pada suatu kegiatan demonstrasi sehingga tidak ketahuan oleh apparat penegak hukum seolah-olah itu menjadi legal/ resmi, tiba-tiba pada saat dilapangan berkembang liar dilapangan dan menimbulkan kontra produktif sikap kewajiban pemberitahuan yang disampaikan oleh setiap orang atau setiap warga negara yang dilakukan berdemonstrasi sebagaimana tadi;
v Bahwa Tidak bisa diukur dari perspektif procedural, karena begini perspektik prosedural untuk kegiatan boleh tidaknya orang berkumpul, berdemonstrasi. Itu tidak menjamin dengan hanya orang memberikan surat pemberitahuan saja karena terjadinya suatu tindak pidana yang disebut tadi makar ataupun ada kegiatan lain yang katakanlah ternyata ada kerusuhan chaos maka bisa saja penegak hukum menerapkan Pasal lain bisa saja Pasal 160 KUHP tentang Penghasutan , Orang dihasut supaya buat kerusuhan dalam demonstrasi bahkan dengan sendirinya peristiwa-peristiwa kerusuhan itu tdak secara otomatis kebal hukum, meskipun dikatakan bahwa saya hadir kesini Ketua pelaksana demonstrasi punya ijin dari aparat penegak hukum sehingga apapun yang terjadi tidak boleh ditindak. Tidak bisa begitu. Itu namanya seolah-olah kebal hukum. Yang ingin saya garis bawahi disini adalah dimana yang terjadi dilapangan, ada hal-hal yang terjadi bertentangan dengan Undang-Undang ataukah meskipun kebebasan menyampaikan pendapat dijamin Undang Dasar 1945 tapi dibatasi juga oleh Undang-Undang;
v Bahwa Statemen itu melawan penjajahan. Bahwa Penjajahan itu Tindakan yang melanggar hak suatu bangsa dan tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan karena itulah
Undang-undang Dasar 1945 didalam pembukaannya
mengatakan bahwa Kemerdekaan adalah Hak Segala Bangsa. Hak Segala Bangsa Untuk Merdeka itu dengan susunan Negara berdasarkan Kedaulatan Rakyat, berdasarkan Ketuhanan yang Mahas Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang di Pimpin Oleh Hikmat Kebijaksaan Dalam Permusyawaratan Rakyat dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, karena itulah pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945 dalam perspektif ilmu Hukum Tata Negara yang menjadi recht side dalam bahasa belanda yang artinya Cinta Hukum. Memberi makna hukum dalam sebuah tatanan hukum positive dimulai dari Pasal-Pasal Undang-Undang Dasar 1945 sampai dengan Pasal-Pasal Undang-Undang dibawahnya. Jadi tidak ada Negara didalam Negara prinsipnya, karena itulan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak boleh ada yang keluar dari Wilayah NKRI. Tadi Saya sudah gambarkan dari aspek sejarah terpaksa bahwa Bangsa kita menganut Indonesia Serikat 1949 kita menjadi Negara Federal karena kita berusaha mempertahankan wilayah NKRI dari ancaman belanda yang datang Kembali ke Indonesia. Kita rela setiap Daerah disebut Negara Bagian. Ada Negara Indonesia tapia da Negara Bagian, Negara Bagian Madura, Negara Bagian Indonesia Timur, Negara Bagian Pasudan, Negara Bagian Sumatera Selatan, itulah Negara Bagian yang dikuasai oleh Negara Pemerintahan Hindia Belanda pada saat tahun 1949 setelah Indonesia merdeka, karena itu kita tidak boleh menganggap soal wilayah NKRI soal wilayah kebebasan saja, setiap wlayah utuh menyatakan aspirasinya menjadikan Negara selain Indonesia. Itulah makna Historikal yang kita tanamkan dalam jiwa sanubari kita sebagai Anak Bangsa, yang mulia. Dalam perspektif Ilmu Hukum Tata Negara, Negara sudah memprediksi forward looking bahwa jangan sampai kebebasan Kemerdekaan berserikat membuat suatu organisasi menyampaikan pikiran dan tulisan bisa menganggu tertib Hukum Tata Negara dalam rangka menjaga kedaulatan Republik Indonesia itulah saya sampaikan tadi diawal mari kita baca Undang-Undang itu dengan seksama, ada Undang-Undang tentang Kemerdekaan menyampaikan Pendapat di Muka Umum, ada Undang-Undang yang mengatur tentang Organisasi Kemasyarakatan, ada Kegiatan-Kegiatan yang dilarang, seperti Separatis. Kita berbicara menurunkan bendera kemudian kita menginjakinjak itu adalah perbuatan menodai kehormatan Negara Republik Indonesia, karena itulah ada ancaman pidana bagi orang yang menginjak-injak, merobek-robek dan tidak menghormati menghormati Republik Indonesia. Dengan demikian kita harus bersyukur bahwa Bapak Pendiri Bangsa kita;
v Bahwa Soal lambang jadi pada prinsipnya di sejumlah Provinsi diIndonesia itu memiliki simbol-simbol, lambang yang kemudian kalua kita datang ke dalam daerahnya itu ada lambang daerahnya. Tetapi yang dimaksud dalam hal ini adalah lambing bendera yang beraviliasi pada suatu Gerakan separatis, Bintang Kejora itu lambing bendera yang sudah di frame work sebagai Kegiatan Separatis karena itulah kita tidak bisa mengatakan mewakili kepentingan Masyarakat Papua tetapi ada yang perlu dilihat dalam perspektif yang tidak bisa diperbolehkan dalam Undang-Undang. Salah satunya lambing bendera Republik Indonesia, lambing Bendera Negara hanya satu yaitu Bendera Merah Putih. Kalau itu diturunkan kemudian injak-injak, dirobek-robek, dibakar kemudian dinaikan lambang Kejora itu maka tidak mencerminkan Kearifan Lokal. Ini bukan berbicara dalam konteks Kearifan Lokal;
v Bahwa Organisasi Hisbutahir sudah dilarang, ada satu yang baru organisasi Khalifah, ini bertentangan dengan Pancasila, ingin merubah Pancasila, mau merubah Undang-Undang Dasar 1945 oleh sebab itu Mutakhir telah dinyatakan sebagai Organisasi yang dilarang di Republik Indonesia. Rakyat kita ada 12 juta lebih yang mulia jadi kita sulit mengontrol Organisasi-Organisasi liar dan tidak terdaftar secara administrative sehingga sulit sekali kita melihat. Dilapangan ada banyak
Organisasi yang memiliki visi dan misi yang bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar apalagi tidak teregister. Begitu pula dengan Partai Politik PKI itu juga dilarang oleh Pemerintah Indonesia karena menyerukan Gerakan Komunis jadi siapapun yang menyerukan Gerakan Komunis. Gambar arit dan Palu coba tempel saja di sepeda motor lewat di Kantor Polisi, didepan Kantor Koramil atau TNI, saya jamin akan langsung ditangkap;
v Bahwa Kita menghormati prinsip-prinsip persamaan Warga Negara, dimata hukum, etnis dan termasuk ras, termasuk diskriminasi dilarang oleh karena itu kalau ada Rasis itu memang tidak dibenarkan dalam konteks keIndonesiaan bahwa kita harus menghormati budaya, kelompok, kompoten Bangsa itu adalah kebhinekaan tunggal ika;
v Bahwa Berdasarkan perkembangan terakhir yang saya ikuti juga, memang ijin FPI itu dipertanyakan menurut Pemerintah FPI itu harus ikut aturan Pemerintah, setia pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Nah Jadi Pemerintah juga melakukan Tindakan tegas karena itu kegiatan ORMAS ini bukan pertama kali;
v Bahwa Ada Pasal yang masih warisan Belanda, Pasal 160 itu bukan Pasal Karet atau istilah Belandanya Obzei Article atau suka-suka Penguasa saja. Tidak justru Penghasutan itu justru mencegah terjadinya potensi kerusuhan begitu juga dengan Makar dibuat norma hukum dengan ketentuan Pidana maka tujuan Negara adalah supaya terpenuhinya tertib hukum. Saya punya pengalaman dengan Pemilu kemarin bahwa ada Gerakan people Power. Dengan adanya Gerakan People Power ini saya diundang Mabes Polri untuk menyampaikan Pandangan Hukum dan menurut saya ada kekuatan People Power yang berencana menjatuhkan Pemerintahan yang sah maka itu termasuk golongan Makar karena Undang-Undang KUHP meskipun warisan belanda tapi sudah diuji kadar Nasionalisasinya oleh Mahkamah Konstitusi, Pasal 106 KUHP, Pasal 107 KUHP termasuk Pasal 160 KUHP tentang Obzei Article sudah pernah diuji kadar ke Indonesiaannya berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi maka dari itu ada Putusan MK nomor 7 Tahun 2017 yang tadi saya sebutkan maka cukup ada niat dan ada bukti permulaan saja sudah bisa dilakukan penegakan Tindakan oleh Aparat Penegak Hukum. Artinya Makar adalah Tindakan yang dilarang oleh Undang-Undang Hukum Pidana dan Penegakannya langsung diserahkan kepada Aparat Penegak Hukum;
Tanggapan Terdakwa : Terdakwa menolak karena tidak ada kaitan dengan Terdakwa
b. KETERANGAN AHLI YANG DIAJUKAN OLEH PENASEHAT
HUKUM/TERDAKWA
1. Ahli Politik, Dr. Adriana Elisabeth, M.Soc.Sc; Lahir di Jakarta 08 Juni 1969, Jenis Kelamin Perempuan, Agama Kristen Katholik, Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil, Alamat Rafless Hills Block J2, RT/RW 011/025 Kelurahan Sukatani, Kecamatan Tapos;telah di sumpah, dipersidangan pada pokoknya menerangkan sebagai berikut :
v Bahwa saya bekerja di Lembaga Pengetahuan Indonesia atau LIPI;
v Bahwa Sejak 2004 saya dengan teman-teman melakukan kajian dan Penelitian tentang isu Papua dari berbagai aspek politik,
keamanan, social, budaya dan ekonomi, kalua saya juga mengajar program strata 2 jurusan Ilmu Hubungan Internasional untuk dua mata kuliah pertama mengenai study perdamaian dan resolusi konflik mata kuliah yang lain mengenai kebijakan luar Negeri;
v Bahwa saya pernah pertama kali di sidang Pengadilan Negeri di Jakarta pusat pada bulan april saya hadir langsung dalam persidangan itu, kemudian dalam aspek yang lain saya juga pernah jadi saksi di Mahkamah Konstitusi isu, sentralisasi dan Partai Politik Lokal;
v Bahwa saya sering menjadi pembicara diberbagai Kementrian lembaga menyangkut dengan isu- isu Papua, kemudian dikantor staf presiden, di kementrian dalam negeri, kementrian luar negeri danjuga mabes TNI, Mabes Polri dan lembaga Intelijen; v Bahwa Saya pernah melakukan Kajian sejak 2004 sampai hari
ini saya dengan teman-teman di LIPI masih melakukan kajian-kajian tentang Papua;
v Bahwa Buku yang menjadi rujukan kami tulis di tahun 2008 sebagai hasil dari penelitian itu kemudian diluncurkan tahun 2009, kemudian di tahun 2017, kami melakukan pemutahiran analisa terkait dengan gerakan politik kaum mudah Papua. Selain buku-buku kajian kami juga membuat rekomendasi kebijakan secara regular kemudian kami sampaikan Kementrian lembaga terkait dengan isu-isu Papua;
v Bahwa Saya bekerja sama dengan jaringan damai Papua kebetulian sejak tahun 2019, saya dipercayakan Kordinator jaringan damai Papua untuk Jakarta;
v Bahwa Secara umum konflik itu diartikan sebagai relasi yang tidak harmonis karena adanya perbedaan pemahaman dan juga perbedaan kepentingan tetapi kita tidak bisa menyebutkan sesuatu itu disebut konflik karena ada jenjang disitu yang harus kita pahami. Ketika ,kesepakatan yang terjadi itu bisa menimbulkan ketegangan antara pihak kalau itu tidak diselesaikan itu akan menjadi perselisihan kemudian itu juga tidak bisa diselesaikan maka itu bisa menjadi konflik;
v Bahwa Konflik itu sebenarnya mempunyai dua makna; koflik itu bisa di asumsikan menjadi sesuatu persaingan yang positif atau sering juga disebut konflik easy, kalau konflik isu itu dilakukan dengan secara terbuka atau secara transparan arti konflik disini menjadi positif karena kondisi membuat orang lebih mendekatkan diri dengan cara-cara yang baik dan terukur. Pengertian konflik yang itu adalah konflik kekerasan bisa juga konflik terbuka, konflik bersenjata, atapun peperangan. Konflik senjata atau konflik kekerasan inilah yang kemudian paling banyak didominasi di berbagai negara juga di Indonesia khususnya yang terjadi di Papua;
v Bahwa dampak konflik itu sendiri sangat luas bisa secara material itu menghancurkan benda-benda fisik atau bangunan-bangunan fisik yang ada kalau konflik itu dilakukan dengan berbasis kepada kekerasan tetapi ada juga yang menyebabkan kerusakan secara mental dalam hal ini adalah trauma yang ditimbukan, terutama terhadap korban-korban konflik ini juga terjadi di Papua. Lebih jauh dari itu konflik akan menimbulkan
perasaan-perasaan marah, kecewa dan juga keinginan untuk membalas dendam tetapi, bagi sebagian orang yang mengalami konflik akan menjadi korban konflik yang mengalami trauma, mereka juga mempunyai pilihan-pilihan untuk melawan keadaan dengan syarat-syarat melakukan peningkatan diri menujunkan prestasi yang lebih baik untuk menghilangkan masalah-masalah selama ini mereka alami itu secara umum dampak konflik;
v Bahwa Kalau tadi penjelasan saya tingkatan konflik, tingkatan konflik perbedaan pendapat dimulai sejak proses integrasi disitu ada perbedaan persepsi tentang proses integrasi antara pemerintah Indonesia dengan sebagian orang-orang di papua. Nampaknya perbedaan itu yang tidak diselesaikan atau di biarkan terus sampai sekarang perbedaan pemahaman tetap proses itu masih terus terjadi, bagi pemerintah Indonesia dengan cara apa pun papua harus menjadi bagian dari Indonesia kalua kita lihat kepada hari kemerdekaan Indonesia ditetapkan 17 Agustus tahun 1945 itu dimaksudkan bahwa papua juga menjadi bagian Indonesia sejak waktu itu tetapi, pada kenyataannya prosesnya berbeda papua baru menjadi bagian Indonesia secara resmi setelah ada Jajak pendapat dan yang kemudian bahwa itulah papua menjadi bagian dari Negara Republik Indonesia disitu letaknya perbedaan secara politik secara Hukum Internasional papua sudah sah di jadikan bagian Indonesia tetapi sebagian orang papua yang mengikuti proses integrasi itu dan mereka mengalami aksi-aksi atau mobilisasi dan juga indikasi mereka mengatakan proses itu tidak transparan, proses itu tidak jujur, proses itu tidak adil. Disini letak persoalannya pemerintah Indonesia memandang bukan kepada prosesnya tetapi kepada hasilnya yang sudah di dapat bahwa Papua menjadi bagian Indonesia sementara sebagian orang Papua proses itu juga penting di lihat supaya hasilnya itu bisa di terima oleh semua pihak. Disitu menjadi salah satu akar persoalan orang Papua yang sampai sekarang masih terjadi. Itu baru salah satu persoalan akat di papua terkait dengan perbedaan persepsi tentang proses integrasi papua ke dalam Indonesia;
v Bahwa yang pertama, masalah marjinalisasi dan diskriminasi kalau kita kembali pada kasus-kasus persekusi di Surabaya pada Agustus 2019, itu menjadi bukti masih adanya perlakukan terhadap orang-orang atau Mahasiswa dari Papua, itu menujukan bukti bahwa penelitian kami itu memang belum ditidak lanjuti bagaimana masalah orang Papua;
v Bahwa Kalau mengacu pada Otonomi Khusus ada tiga prioritas yang perlu di tingkatkan yaitu Pendidikan, Kesehatan ini menjadi barometer dari index pembangunan Manusia Papua dan kemudian Ekonomi, ini diluar pembanggunan infrastruktur, tetapi kita lihat hari ini Indeks Pembanggunan Manusia Papua dan papua Barat itu masih tercatat paling rendah di Indonesia dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia, artinya UU Otonomi Khusus yang ditetapkan tahun 2001 masyarakat Papua belum sejaterah dalam kehidupan, Orang Papua khususnya belum menjadi prioritas saat ini. Akar masalah yang