PENDAHULUAN
Produksi susu dalam negeri masih harus di-pacu peningkatannya, agar permintaan konsumen susu secara bertahap dapat dipenuhi . Selama pe riode tahun 1989-1993, kemampuan produksi susu dalam negeri dalam memenuhi permintaan konsumen susu baru mencapai rata-rata 43,3%/ tahun (DIT.JEN .NAK .,1994) .
Upaya meningkatkan produksi susu dalam negeri dapat dilakukan antara lain dengan mening-katkan populasi sapi perah. Populasi sapi perah pada tahun 1993 berjumlah 351 .000 ekor dengan produksi susu 360.900 ton clan jumlah ini masih jauh di bawah permintaan konsumen susu yang sudah mencapai 797 .820 ton (DIT.JEN .NAK ., 1994) . Peningkatan jumlah populasi sapi perah clan khususnya sapi perah betina, dapat dilakukan dengan memacu perkembangan populasi sapi perah yang telah ada clan mengimpor sebagaimana telah berkali-kali dilakukan pada tahun-tahun yang sudah . Kedua upaya yang disarankan tersebut bagaimanapun akan berakibat pada penyebaran pemeliharaan sapi perah yang lebih meluas . Pada kenyataannya selama ini pemeliharaan sapi perah lebih berkembang di daerah dataran tinggi diban-dingkan dengan di daerah dataran rendah. Padahal wilayah penyebaran sapi perah di daerah dataran rendah adalah lebih luas dibandingkan dengan dataran tinggi . Di daerah Jawa Barat misalnya, pemeliharaan clan populasi sapi perah di daerah Lembang clan Garut yang merupakan dataran tinggi adalah lebih banyak dibanding dengan di daerah Bogor clan Cirebon yang merupakan daerah dataran rendah (DINAS PETERNAKAN DATI I JAWA BARAT, 1993) . Namun bukanlah berarti, bahwa pemeliharaan clan populasi sapi perah tidak dapat berkembang di daerah-daerah dataran rendah se-bagaimana di daerah clataran tinggi . Ada beberapa faktor yang secara khusus harus diperhatikan, agar pemeliharaan clan populasi sapi perah dapat bekembang baik di daerah-daerah dataran rendah . Faktor-faktor tersebut, antara lain berupa pem-berian ransum baik kualitas maupun kuantitas clan frekuensi pemberian ransum clan perkandangan terutama mengenai bahan clan konstruksinya .
PEMELIHARAAN SAM PERAH LAKTASI
DI DAERAH DATARAN RENDAH
SORT BASYA SIREGAR
Balai Penelitian Ternak P.O. Box 221, Bogor 16002
Disamping itu kenyataan di pulau Jawa menunjuk-kan, bahwa ada kaitannya antara pengaruh keting-gian tempat dengan kemampuan berproduksi susu sapi perah. Padahal kemampuan berproduksi susu sapi perah berkaitan erat dengan besar kecilnya keuntungan yang diperoleh dari pemeliharaan sapi perah yang akan mendorong para peternak sapi perah untuk mengembangkan usaha sapi perah-nya .
PENGARUH KETINGGIAN TEMPAT TERHADAP KEMAMPUAN BERPRODUKSI
SAPI PERAH
Di daearah tropis pada umumnya, suhu udara mempunyai hubungan yang erat dengan keting-gian suatu tempat dari permukaan laut . Penelitian yang dilaporkan oleh PAYNE (1970) mengungkap-kan bahwa suhu udara rata-rata harian menurun 1,7 0C setiap ketinggian 305 m dari permukaan laut. Hal ini menunjukkan, bahwa suhu udara akan semakin rendah atau sejuk pada tempat yang se-makin tinggi dari permukaan laut clan suhu udara akan semakin tinggi atau panas pada tempat-tem-pat yang semakin rendah dari permukaan laut .
Perbedaan ketinggian tempat dari permukaan laut yang mengakibatkan perbedaan dalam suhu udara rata-rata akan menyebabkan perbedaan pro cluktivitas sapi perah termasuk kemampuan ber-produksi susu . Penelitian yang telah dilakukan di daerah Bogor clan Klaten yang termasuk dataran rendah, ternyata produksi susu rata-rata sapi perah laktasi berturut-turut adalah 8,9 1/hari clan 11 .0 I/hari (PUSLITBANGNAK, 1993) . Sedangkan penel:.tian yang telah dilakukan di daerah Lembang clan Garut yang merupakan dataran tinggi, diper-oleh produksi susu rata-rata sapi perah laktasi ber-turut-turut adalah 16,3 I/hari clan 15,2 I/hari (SIREGAR clan PRAHARANI, 1992) .
Sapi perah yang dipelihara dalam kedua penelitian tersebut di atas adalah sama, yakni jenis Friesian-holstein, peranakan atau turunannya .
Lebih rendahnya kemampuan berproduksi susu sapi perah laktasi di daerah dataran rendah dibandingkan dengan di daerah dataran tinggi,
terutama disebabkan adanya perbedaan suhu udara . Suhu udara rata-rata yang relatif panas di daerah-daerah dataran rendah menyebabkan tu-runnya napsu dan konsumsi ransum, sehingga berakibat pada penurunan kemampuan berpro-duksi susu sapi perah laktasi . WAYMAN et a/. (1962) mengutarakan, bahwa suhu udara rata-rata yang panas akan menyebabkan turunnya ke-mampuan berproduksi susu sapi perah laktasi se-bagai akibat dari : Turunnya napsu dan konsumsi ransum, turunnya gerak laju ransum dalam rumen dan turunnya efisiensi penggunaan energi untuk produksi susu.
Turunnya konsumsi ransum akan mengakibat-kan energi dan zat gizi lainnya yang dibutuhmengakibat-kan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan pro duksi susu akan berkurang pula . Apabila energi yang tersedia itu berada di bawah jumlah yang dibutuhkan, maka energi yahg tersedia itu terlebih dahulu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan selebihnya barulah digunakan untuk memenuhi kebutuhan produksi susu . De-ngan demikian apabila terjadi kekuraDe-ngan kon-sumsi energi pada sapi perah laktasi, produksi susu yang terlebih dahulu kelihatan menurun (WHYTE, 1967) . Oleh karena itu kemampuan ber-produksi susu sapi perah laktasi di daerah dataran rendah adalah lebih rendah dibanding dengan daerah dataran tinggi .
a. Komposisi ransum. Ransum sapi perah lak-tasi seharusnya terdiri dari sejumlah hijauan dan konsentrat . Ransum yang terdiri dari hanya hijauan saja, produksi susu yang tinggi tidak akan tercapai namun kadar lemak susu akan tinggi dan biaya ransum akan relatif murah . Sedangkan ransum yang hanya terdiri dari konsentrat saja akan terca-pai produksi susu yang tinggi, namun biaya ran-sum akan relatif tinggi di samping kemungkinan akan terjadi gangguan pencernaan dan acidosis . Oleh karena itu diperlukan suatu perbandingan tertentu antara hijauan dengan konsentrat dalam komposisi ransum sapi perah laktasi agar bukan saja produksi susu yang tinggi dapat dicapai na-mun juga kualitas susu yang memadai dan biaya ransum yang relatif murah .
Kualitas susu yang diproduksi perlu pula diper-hatikan karena sebagian besar susu yang dipro-duksi oleh para peternak sapi perah disalurkan ke industri-industri pengolahan susu melalui kope-FAKTOR YANG PERLU DIPERHATIKAN PADA
PEMELIHARAAN SAM PERAH LAKTASI DI DAERAH DATARAN RENDAH 1 . Pemberian ransum
SORT BASYA SIREGAR : Pemeiiharaan Sapi Perah Laktasi
rasi/KUD. Salah satu unsur kualitas susu yang ditetapkan oleh industri pengolahan susu adalah kadar lemak susu yang harus di atas 3,5% . Kom-posisi hijauan dengan konsentrat dalam ransum sapi perah laktasi agar tercapai produksi susu yang tinggi dengan kadar lemak susu di atas 3,5% adalah 60 : 40 (MC CULLOUGH, 1973) . Namun un-tuk daerah dataran rendah, komposisi tersebut sebaiknya bergeser menjadi 55 : 45 dengan keten-tuan hijauan yang diberikan berkualitas sedang sampai tinggi . Hal ini disarankan agar zat-zat gizi termasuk energi akan lebih banyak yang tersumsi dalam keadaan terjadinya penurunan kon-sumsi ransum . Walaupun kelihatannya kuantitas hijauan dalam komposisi ransum yang diutarakan di atas lebih banyak dari konsentrat, namun jumlah energi dan zat gizi lainnya yang terkandung dalam konsentrat adalah lebih banyak dibandingkan de-ngan hijauan . Hal ini karena konsentrat pada umumnya lebih berkualitas dibandingkan dengan hijauan.
b. Kualitas ransum . Terjadinya penurunan konsumsi ransum pada daerah dataran rendah sebagai akibat dari suhu udara rata-rata yang re latif panas akan dapat mengurangi konsumsi zat-zat gizi termasuk energi . Hal ini akan dapat diele-miner dengan lebih meningkatkan kualitas ransum yang diberikan. Peningkatan kualitas ransum ini dapat dilakukan dengan:
a . Lebih memadatkan kandungan zat-zat gizi ter-masuk energi dalam konsentrat yang diberikan (meningkatkan kualitas konsentrat).
b. Meningkatkan kualitas hijauan yang diberikan dengan mencampur hijauan yang diberikan de-ngan hijauan yang berkualitas tinggi seperti leguminosa maupun gamal .
Dengan demikian walaupun terjadi penurunan konsumsi ransum namun karena kualitas ransum yang diberikan sudah ditingkatkan, maka sedikit banyak terjadi penurunan konsumsi zat gizi, da-pat tertanggulangi .
Seyogyanya kualitas ransum yang diberikan pada sapi perah laktasi di daerah dataran rendah lebih tinggi dibandingkan dengan yang diberikan pada daerah dataran tinggi. Namun kenyataan se-lama ini menunjukkan tidak ada perbedaan kualitas ransum yang diberikan pada sapi perah laktasi di daerah dataran rendah dengan di daerah dataran tinggi . Kualitas konsentrat yang diberikan pada sapi perah laktasi di daerah Bogor dan Klaten yang merupakan dataran rendah, mengandung protein kasar 13,2 - 15,5% dengan kandungan energi berkisar antara 50,5 - 63,0% TDN . Sedangkan kualitas konsentrat yang diberikan di daerah Garut dan Banyumas yang merupakan dataran tinggi, mengandung protein kasar berkisar antara 61,0
-65,2% TDN (PUSLITBANGNAK, 1993) . Walaupun kandungan protein kasar konsentrat yang diberi-kan di daerah dataran rendah sudah lebih tinggi dibandingkan dengan di daerah dataran tinggi, namun kandungan energinya masih lebih rendah di daerah dataran rendah dibandingkan dengan di daerah dataran tinggi . Hijauan yang diberikan pada sapi perah laktasi di daerah yang diutarakan terse-but tidak ada perbeclaan clan umumnya terdiri dari rumput lapangan clan limbah pertanian .
Kualitas konsentrat yang diberikan pada sapi perah laktasi di daerah dataran rendah paling ti-dak dapat disesuaikan dengan kualitas konsentrat yang direkomenclasikan oleh DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN (1985) sebagai berikut
- Kadar air ticlak lebih dari 14%
- Kadar serat kasar ticlak lebih dari 18% - Protein kasar ticlak kurang dari 18% - Energi tidak kurang 75% TDN - Calsium tidak kurang dari 1,0% - Posphor ticlak kurang 1,8%
- Vitamin A per kg ticlak kurang dari 2 .214 I .U . Kualitas konsentrat yang diutarakan di atas memang ticlak dikhususkan untuk sapi perah lak-tasi yang dipelihara di daerah dataran rendah . Namun demikian kualitas konsentrat tersebut diperkirakan sudah memadai untuk diberikan pada sapi perah laktasi di daerah dataran rendah . Apa-bila dengan pemberian konsentrat tersebut ticlak tercapai produksi susu yang tinggi dengan kualitas yang baik pula, maka pemberian konsentrat terse-but dapat disuplementasi dengan pembe ian pakan yang mengandung karbohidrat tinggi clan mudah dicerna seperti singkong, gaplek ataupun onggok. Walaupun belum pernah clipublikasikan maupun clibuktikan dengan penelitian, namun pe-ngalaman beberapa peternak sapi perah di daerah dataran rendah menyatakan pemberian singkong sekitar 2-3 kg/ekor/hari pada sapi perah laktasi akan meningkatkan produksi susu dengan aroma yang lebih seclap .
Sebagai contoh dapat dikemukakan beberapa formula konsentrat yang dapat diberikan untuk sapi perah laktasi di daerah dataran rendah
(SIREGAR, 1994)
WARTAZOA Vo1. 5 No. 1 Th. 1996
c . Kuantitas pemberian ransum . Kuantitas ransum yang harus diberikan kepada tiap ekor sapi laktasi per hari didasarkan pada zat-zat gizi yang dibutuhkan untuk hidup pokok clan produksi susu . Jumlah kebutuhan zat gizi untuk hidup pokok didasarkan pada bobot bahan clan jumlah kebu-tuhan zat gizi untuk produksi susu didasarkan pada jumlah susu yang akan diproduksi clan kadar lemaknya . Bagi para peternak sapi perah umum-nya sulit untuk menghitung jumlah kebutuhan zat gizi tersebut. Oleh karena itu dapat ditempuh cara yang lebih mudah clan praktis clan dapat clikerjakan para peternak sapi perah umumnya .
Konversi konsentrat untuk produksi susu sapi perah laktasi di daerah dataran rendah adalah lebih rendah dibandingkan dengan di daerah dataran tinggi . Hal ini karena adanya energi tambahan yang dibutuhkan sehubungan dengan meningkat-nya aktivitas faali tubuh untuk menghadapi suhu udara yang relatif panas di daerah dataran rendah . Atas clasar tersebut diperkirakan, bahwa 1 kg konsentrat dengan kualitas yang diutarakan di atas, hanya akan mampu memproduksi 1,7 kg atau liter susu . Konversi tersebut disimpulkan ber-clasarkan kajian pemberian konsentrat pada sapi perah laktasi di daerah dataran rendah (SIREGAR,
1992) . Dengan demikian untuk memproduksi 12 liter susu misalnya, diperlukan pemberian konsen-trat sebanyak 12/1,7 x 1 kg = 7,1 kg/ ekor/hari . Andaikan konsentrat yang diberikan pada sapi perah laktasi di daerah dataran rendah adalah formula konsentrat A (lihat contoh formula kon sentrat di atas) . Konsentrat formula A mengan-dung bahan kering 86,9% dengan kanmengan-dungan protein kasar 19,3% clan energi 75,1 %. Dalam 7,1 kg konsentrat formula Aterdapat bahan kering 7,1 x 0,869 x 1 kg = 6,17 kg . Komposisi konsen-trat dalam ransum sapi perah laktasi adalah 45% dalam bentuk bahan kering. Dengan demikian bahan kering hijauan yang masih dibutuhkan adalah sebanyak 55/45 x 6,17 kg = 5,0 kg bahan kering . Misalnya hijauan yang diberikan adalah campuran rumput gajah dengan daun gamal (dalam perbandingan 90 : 10) yang mengandung bahan kering 20,2% maka jumlah hijauan yang
Formula A Formula B Formula C
Dedak padi : 30 kg Polard 25,5 kg Polard . 30,5 kg Bungkil kelapa : 26 kg Bungkil kelapa 15,0 kg Bungkil kelapa . 16,0 kg Tepung jagung : 21 kg Bkl. biji kapuk 30,5 kg Bungkil kc, tanah : 25,0 kg Garam dapur : 1,0 kg Garam dapur 1,0 kg Onggok : 26,5 kg Tepung tulang : 0,5 kg Tepung tulang 0,5 kg Garam dapur 1,0 kg Kapur/CaC03 : 0,5 kg Kapur CaC03 0,5 kg Tepung tulang 0,5 kg Kapur/CaC03 0,5 kg Jumlah 100,0 kg Jumlah 100,0 kg Jumah 100,0 kg Bahan kering 86,9% Bahan kering 87,4% Bahan kering 84,7% Protein kasar 19,3% Protein kasar 18,2 % Protein kasar 18,6% Energi/TDN 75,1% Energi/TDN 77,0 % Energi/TDN 78,4%
akan diberikan pada sapi perah laktasi itu adalah sebanyak 100/20,2 x 5,0 kg = 24,8 kg dalam bentuk segar . Dengan demikian ransum yang akan diberikan pada sapi perah laktasi dengan produksi susu 12 I/hari adalah sebagai berikut
- Konsentrat formula A : 7,1 kg/hari
- Hijauan : 24,8 kg/hari dalam bentuk segar Jumkah ransum yang diberikan di atas tidak akan kurang untuk memenuhi kebutuhan zat gizi (protein dan energi) bagi sapi perah laktasi yang mempunyai bobot badan 350 kg, produksi susu 12 I/hari dan kadar lemak susu lebih dari 3,5%
d . Frekuensi pemberian ransum. Penurunan konsumsi ransum yang terjadi pada sapi perah laktasi di daerah dataran rendah, sedikit banyak akan tertanggulangi dengan meningkatkan fre-kuensi pemberian ransum. Penelitian yang -telah dilakukan mengungkapkan adanya hubungan an-tara frekuensi pemberian ransum dengan kemam-puan mengonsumsi ransum (MORRISON, 1959) . Penelitian yang telah dilakukan oleh MORRISON
(1959) pada sapi perah laktasi menyatakan, bah-wa pemberian ransum dari satu kali menjadi dua kali sehari akan berakibat pada:
a . Konsumsi bahan kering hijauan meningkat 10%
b. Prosuksi susu meningkat sampai dengan 6% c . Memberikan keuntungan yang lebih besar di
atas biaya ransum dan tenaga kerja
Penelitian lainnya dilakukan oleh CAMPBELL
(1961) mengungkapkan, bahwa pemberian ran-sum yang lebih sering pada sapi perah laktasi akan dapat
a . Meningkatkan konsumsi ransum b. Meningkatkan produksi susu c . Meningkatkan kadar lemak susu
Dari penelitian yang diutarakan di atas ter-nyata, bahwa pemberian ransum yang lebih pada sapi perah laktasi akan dapat meningkatkan kon sumsi ransum, produksi susu dan kadar lemak susu . Oleh karena itu terhadap sapi perah laktasi yang dipelihara di daerah dataran rendah, agar pemberian ransum lebih ditingkatkan frekuen-sinya . Pemberian konsentrat sebaiknya lebih dari dua kali sehari dan pemberian hijauan dilakukan secara bertahap dengan frekuensi lebih dari 3 kali sehari .
2. Kandang
Kanctang bagi sapi perah laktasi maupun ter-nak lainnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, namun juga harus dapat memberi perlin
dungan dari segala aspek yang mengganggu . Kan-dang harus dapat mengeleminer segala faktor luar
SORT BASYA SIREGAR : Pemeliharaan Sapi Perah Laktasi
yang dapat menimbulkan gangguan terhadap sapi perah yang ada di dalamnya.
Disamping beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam membangun kandang sapi laktasi, ada persyaratan khusus yang harus dipenuhi da lam membangun kandang di daerah dataran ren-dah . Persyaratan tersebut berupa perlindungan terhadap suhu udara yang relatif panas yang dapat menganggu konsumsi ransum dan produksi susu sapi perah laktasi yang ada dalam kandang terse-but.
Kandang yang demikian itu akan dapat diwu-judkan terutama dengan melakukan pemilihan ter-hadap bahan kandang yang akan digunakan dan kontruksi kandang yang sesuai untuk daerah da-taran rendah.
a. Bahan kandang . Bahan kandang dapat di-pilih bukan hanya yang tahan lama dan mudah didapat, tetapi juga tidak menimbulkan pantulan pantulan panas terhadap sapi perah yang ada dalam kandang. Lantai kandang umpamanya da-pat terbuat dari kayu, papan tebal ataupun dari beton. Sedangkan atap kandang dapat terbuat dari genting, asbes, ijuk ataupun daun rumbia yang di-anyam .
b . Kontruksi kandang. Kandang sapi perah iaktasi di daerah dataran rendah sebaiknya diba-ngun pada lokasi yang teduh atau diberi peneduh dengan cara menanam pohon-pohonan di sekitar kandang . Diusahakan agar posisi kandang tidak menghadap sinar matahari secara langsung . Apa-bila tidak banyak angin dan tidak bertiup keras, kandang tidak perlu diberi berdinding . Dinding hanya disarankan dibuat pada bagian depan sapi dengan tinggi sekitar 1,0 - 1,5 m.
Ruangan kandang harus mempunyai fentilasi atau perputaran udara yang cukup sempurna . Un-tuk itu disarankan agar tinggi atap kandang tidak kurang dari 4,5 m apabila bahan atap kandang itu terbuat dari genting, daun rumbia ataupun ijuk. Sedangkan apabila bahan atap kandang terbuat dari asbes, tinggi atap sebaiknya 5 m.
Ada pula yang menyarankan untuk me-masang kipas angin atau air condition dalam kan-dang agar tercapai kenyamanan dalam kankan-dang. Pemasangan kipas angin masih dapat diterima oleh kebanyakan peternak sapi perah asalkan ter-sedia aliran listrik. Pemasangan kipas angin kan-dang dilakukan terutama pada musim-musim kemarau pada saat panas matahari sering menye-ngat. Akan tetapi pemasangan air condition dalam kandang perlu dipikirkan lebih matang sehubungan dengan biayanya yang relatif mahal dan kontruksi kandang harus dirubah sesuai dengan keadaan ruangan yang memakai air condition.
KESIMPULAN
1 . Pemeliharaan sapi perah laktasi di daerah dataran rendah umumnya menunjukkan ke-mampuan berproduksi susu yang lebih rendah dibandingkan dengan di daerah dataran tinggi . 2 . Kemampuan berproduksi susu yang lebih ren-dah dari sapi perah laktasi yang dipelihara di daerah dataran rendah terutama suhu udara rata-rata harian yang relatif panas berakibat terhadap penurunan konsumsi ransum dan ter-jadinya energi tambahan yang dibutuhkan un-tuk pengaturan regulasi panas tubuh.
3 . Pemeliharaan sapi perah laktasi di daerah da-taran rendah harus lebih diperhatikan untuk mencapai kemampuan berproduksi susu yang tinggi dengan cara
a . Pemberian ransum dalam komposisi antara hijauan dengan konsentrat yang sesuai, kuantitas yang memenuhi kebutuhan zat gizi, kualitas yang lebih tinggi dan frekuensi pemberian yang lebih sering .
b. Pembangunan kandang dengan bahan dan konstruksi kandang yang mampu memberi kenyamanan terhadap sapi perah laktasi yang berada di dalam kandang tersebut .
DAFTAR PUSTAKA
DIT.JEN.NAK. 1985 Standar Makanan Sapi Perah . Direktorat Jenderal Peternakan, Jakarta . DIT.JEN.NAK. 1994 . Buku Statistik Peternakan .
Di-rektorat Jenderal Peternakan, Jakarta. DINAS PETERNAKAN DATI I JAWA BARAT . 1993 .
Laporan Tahunan Dinas Peternakan Daerah Propinsi Tingkat I Jawa Barat Bandung .
WARTAZOA Vol. 5 No. 1 Th. 1996
CAMPBELL, J .R. and C.P MERILAND. 1961 . Effects of Frequency of Feeding on Production Char-acteristics and Feed Utilization in Lactating Cows. J. Dairy Sci., 44 : 664 .
MCCULLOUGH, M.E . 1973 . Optimum Feeding of Dairy Animal for Meat and Milk . The Univer-sity of Georgia Press, Athens .
MORRISON, F.B . 1959 . Feed and feeding. The Morrison Publishing Coy., Ithaca .
PAYNE, W.J .A . 1970. Cattle Production in the Tropics . Longman Group Ltd ., London . PUSLITBANGNAK. 1993. Penelitian Usahatani Sapi
Perah di Pulau Jawa. Puslitbang Peternakan, Bogor.
SIREGAR, S .B. dan L. PRAHARANI. 1992 . Pengem-bangan Usahatani Sapi Perah di daerah Jawa Barat. Prosiding Hasil-Hasil Penelitian Peter nakan di Pedesaan. Balai Penelitian Ternak, Bogor.
SIREGAR, S.B. 1994 . Ransum Ternak Ruminansia . Penebar Swadaya, Jakarta.
WAYMAN, D.H ., H .D JOHNSON, C.P. MERILAND and I .L . BERRY . 1962 . Effects of ad libitum or force-Feeding of Two Ration on Lactating Dairy Cows Subjects to Temperature Stress . J . Dairy Sci . , 45 : 1472 .
WHYTE, R .O . 1967. Milk Production in Develop-ping Countries . Faber & Faber Ltd ., London .