• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA. Taksonomi dan Morfologi Kedelai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA. Taksonomi dan Morfologi Kedelai"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

4

TINJAUAN PUSTAKA

Taksonomi dan Morfologi Kedelai

Kedelai merupakan tanaman asli Daratan Cina dan telah dibudidayakan oleh manusia sejak 2500 SM. Sejalan dengan berkembangnya perdagangan antarnegara yang terjadi pada awal abad ke-19 menyebabkan tanaman kedelai juga ikut tersebar ke berbagai negara tujuan perdagangan seperti Jepang, Korea, Indonesia, India, Australia dan Amerika. Kedelai mulai dikenal di Indonesia sejak abad ke-16. Awal mula penyebaran dan pembudidayaan kedelai yaitu di Pulau Jawa kemudian berkembang ke Bali, Nusa Tenggara dan pulau-pulau lainnya (Irwan, 2006). Klasifikasi tanaman kedelai sebagai berikut :

Divisio : Spermatophyta Classis : Dicotyledoneae Ordo : Rosales

Familia : Papilionaceae Genus : Glycine

Species : Glycine max (L.) Merr.

Menurut Irwan (2006) tanaman kedelai umumnya tumbuh tegak, berbentuk semak, dan merupakan tanaman semusim. Morfologi tanaman kedelai didukung oleh komponen utamanya, yaitu akar, daun, batang, polong, dan biji sehingga pertumbuhannya dapat optimal. Adie dan Krisnawati (2007) menambahkan karakteristik kedelai yang dibudidayakan di Indonesia merupakan tanaman semusim, tanaman tegak dengan tinggi 40-90 cm, bercabang, memiliki daun tunggal dan daun bertiga, bulu pada daun dan polong tidak terlalu padat, umur tanaman antara 72-90 hari.

Biji

Menurut Iwan (2006) jumlah biji di dalam setiap polong berjumlah dua hingga tiga biji. Biji kedelai dikelompokkan menjadi kelompok biji dengan ukuran besar (bobot lebih besar dari 13 gram per 100 biji), sedang (10-13 gram per 100 biji) dan kecil (7-9 gram per 100 biji). Biji merupakan komponen morfologi kedelai yang bernilai ekonomis. Biji kedelai sebagian besar tersusun n d is i r u a n g si m p a n d a n je n is m e d ia si m p a n s a n g at m e m p e n

(2)

oleh kotiledon dan dilapisi oleh kulit biji yang disebut testa. Bentuk biji bervariasi tergantung pada varietas tanaman yaitu bulat, gepeng dan bulat telur.

Akar

Sistem perakaran pada kedelai terdiri dari akar tunggang yang terbentuk dari calon akar, sejumlah akar sekunder yang tersusun dalam empat barisan sepanjang akar tunggang, cabang akar sekunder dan cabang akar adventif yang tumbuh dari bagian bawah hipokotil. Kedelai memiliki bintil-bintil akar yang berisi bakteri Rhizobium japonicum. Bakteri tersebut memiliki kemampuan menambat nitrogen dari atmosfer. Nitrogen dalam bentuk gas direduksi menjadi nitrogen yang tersedia untuk tanaman inang, sedangkan tanaman inang memasok fotosintat pada rhizobia sebagai sumber energi (Soedarjo, 2007).

Batang

Batang tanaman kedelai berasal dari poros embrio yang terdapat pada biji masak. Hipokotil merupakan bagian terpenting pada poros embrio yang terletak di bawah keping biji. Bagian atas keping biji merupakan epikotil yang terdiri dari dua daun sederhana yaitu primordia daun bertiga pertama dan ujung batang (Adie dan Krisnawati, 2007).

Daun

Bentuk daun kedelai ada dua macam yaitu bulat (oval) dan lancip (lanceolat). Kedua bentuk daun tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik. Sebagian besar bentuk daun kedelai yang ada di Indonesia adalah berbentuk lonjong dan khususnya varietas Agropuro berdaun lancip. Jumlah stomata pada daun berkisar antara 190-320 buah/m2 (Iwan, 2006).

Bunga

Tanaman kedelai memasuki fase reproduktif saat tunas aksilar berkembang menjadi kelompok bunga dengan jumlah 2-35 kuntum bunga untuk tiap kelompok. Bunga pertama muncul pada buku kelima atau keenam ketika

(3)

buku kotiledon, daun primer dan daun bertiga dalam fase vegetatif. Bunga muncul ke arah ujung batang utama dan ujung cabang (Adie dan Krisnawati, 2007).

Polong

Jumlah polong sangat bervariasi dalam satu polong berbiji 1-5 biji per polong atau 2-3 biji per polong. Polong berlekuk lurus dan polong masak berwarna kuning muda sampai kuning kelabu, cokelat atau hitam. Warna polong tergantung pada keberadaan pigmen karoten dan xantofil, warna trikoma dan pigmen antosianin (Adie dan Krisnawati, 2007).

Pertumbuhan Kedelai

Menurut Adie dan Krisnawati (2007) kedelai merupakan tanaman menyerbuk sendiri yang bersifat kleistogami. Periode perkembangan vegetatif bervariasi tergantung pada varietas dan keadaan lingkungan termasuk panjang hari dan suhu. Kedelai diklasifikasikan sebagai tanaman hari pendek karena hari yang pendek akan menginisiasi pembungaan. Sumarno (2007) menambahkan kedelai termasuk tanaman hari pendek yaitu tanaman cepat berbunga apabila panjang hari 12 jam atau kurang dan tanaman tidak mampu berbunga apabila panjang hari melebihi 16 jam.

Menurut Adie dan Krisnawati (2007) tipe pertumbuhan tanaman kedelai terbagi atas tiga tipe yaitu tipe pertumbuhan determinit, indeterminit dan semi-determinit. Pada tipe determinet, pertumbuhan vegetatif berhenti setelah fase berbunga, buku teratasnya mengeluarkan bunga, batang tanaman teratas cenderung berukuran sama dengan batang bagian tengah sehingga pada kondisi normal batang tidak melilit. Pada tipe indeterminet, tunas terminal melanjutkan fase vegetatif selama pertumbuhan.

(4)

Tabel 1. Perbedaan tipe determinit dan indeterminit

Karakter

Tipe Pertumbuhan

Determinit Indeterminit Pertumbuhan vegetatif Berhenti setelah

berbunga

Berlanjut setelah berbunga Jumlah buku setelah berbunga Tidak bertambah Bertambah

Masa berbunga Tidak lama Lama Mulai berbunga Lebih lama Lebih cepat Letak bunga pertama Terbentuk pada buku

bagian atas batang

Terbentuk pada buku bagian bawah batang Jumlah bunga yang terbuka tiap

hari

Banyak Sedikit Bentuk tanaman Agak silindris Agak konis (seperti

kerucut) Ujung batang Ujung batang

berakhir dengan kelompok bunga

Ujung batang tidak berakhir dengan kelompok

bunga Ukuran ujung batang Hampir sama besar

dengan batang bagian tengah

Lebih kecil dari batang bagian tengah Batang Pendek-sedang Tinggi, melilit Daun Daun teratas sama

besar dengan daun pada batang bagian

tengah

Daun teratas lebih kecil dari daun pada batang

bagian tengah

Sumber: Adiedan Krisnawati, 2007

Stadia pertumbuhan tanaman kedelai terbagi atas dua fase yaitu fase vegetatif dan fase reproduktif (generatif). Stadia pertumbuhan vegetatif dihitung sejak tanaman mulai muncul ke permukaan tanah hingga mulai berbunga. Stadia perkecambahan dicirikan dengan adanya kotiledon, sedangkan penandaan stadia pertumbuhan vegetatif dihitung dari jumlah buku yang terbentuk pada batang utama. Stadia vegetatif umumnya dimulai pada buku ketiga. Stadia pertumbuhan reproduktif (generatif) dihitung sejak tanaman kedelai mulai berbunga sampai pembentukan polong, perkembangan biji, dan pemasakan biji (Irwan, 2006).

Biji kedelai dari varietas yang dibudidayakan umumnya mampu melakukan imbibisi setelah biji ditanam pada kondisi tanah yang lembab. Pada varietas kedelai liar sering ditemukan adanya biji keras yang memperlambat penyerapan air. Garis terang (light line) yang terdapat pada sel epidermis menjadi

(5)

penyebab lambatnya penyerapan air. Air berimbibisi melalui keseluruhan permukaan biji termasuk hylum dan mikrofil. Calon akar akan muncul dari kulit biji yang retak di daerah mikrofil dalam 1-2 hari apabila kondisi kelembaban dan suhu sesuai. Pertumbuhan calon akar ke dalam tanah terjadi sangat cepat dan cabang akar pertama akan muncul ketika mencapai panjang 2-3 cm. Kotiledon terangkat ke atas tanah akibat pertumbuhan hipokotil. Bagian atas hipokotil mencapai permukaan tanah dan mendorong kotiledon dari dalam tanah sekaligus kulit bijinya. Selama tahap awal perkecambahan, kotiledon membawa hasil fotosintesis sebagai tambahan untuk memasok mineral tersimpan dan cadangan makanan pada proses perkecambahan hingga daun dan akar terbentuk sempurna (Adie dan Krisnawati, 2007).

Penyimpanan Benih

Menurut Justice dan Bass (2002) tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk mengawetkan cadangan bahan tanam dari satu musim ke musim berikutnya. Selanjutnya Sutopo (2010) menambahkan tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk mempertahankan viabilitas benih dalam periode simpan yang sepanjang mungkin. Penyimpanan benih dimaksudkan agar benih dapat ditanaman pada musim yang sama di lain tahun atau pada musim yang berlainan dalam tahun yang sama atau untuk tujuan pelestarian benih dari sesuatu jenis tamaman.

Daya simpan benih adalah kemampuan benih untuk dapat disimpan atau perkiraan waktu benih dapat untuk disimpan. Daya simpan benih merupakan parameter lot benih dalam satuan waktu untuk suatu periode simpan. Periode simpan benih adalah kurun waktu simpan benih dari benih siap disimpan sampai benih siap ditanam. Benih yang memiliki daya simpan lama dapat melewati periode simpan yang panjang. Benih dengan vigor daya simpan yang tinggi dapat disimpan untuk periode simpan yang normal dalam kondisi suboptimum dan daya simpan lebih panjang apabila kondisi ruang simpan dalam keadaan optimum (Sadjad et al, 1999).

Menurut Owen (1956) kadar air benih akan berfluktuasi dengan kelembaban dari atmosfer sekitarnya jika benih disimpan dalam wadah terbuka atau berpori seperti karung, kantong kertas dan semacamnya. Jumlah uap air yang

(6)

diserap benih tidak bergantung pada uap air yang sebenarnya dalam satuan volume udara (kelembaban absolut), tetapi pada tingkat jenuh udara (kelembaban relatif). Setiap jenis benih akan mencapai kadar air tertentu sesuai dengan kelembaban relatif yang diberikan. Beberapa jenis benih yang disimpan dalam wadah tertutup akan terjadi pertukaran uap air hingga keseimbangan tercapai. Imdad dan Nawangsih (1999) menyatakan bahwa faktor-faktor yang menentukan jangka waktu penyimpanan ada tiga yaitu keadaan awal benih (umur fisiologi benih), teknik penyimpanan dan tempat penyimpanan serta ada tidaknya serangan hama dan patogen di tempat penyimpanan.

Pandey (1984) menyatakan bahwa proses penyimpanan benih dengan suhu rendah sangat mempengaruhi kualitas benih yang akan ditanam di lapangan. Menurut Smith dan Hinson (1959) perkecambahan benih yang baik adalah di atas 90 % dengan suhu yang baik pada saat proses penyimpanan. Sutopo (2010) menambahkan temperatur yang terlalu tinggi pada saat penyimpanan dapat membahayakan dan mengakibatkan kerusakan benih. Temperatur yang tinggi dapat memperbesar terjadinya penguapan zat cair dalam benih sehingga benih dapat kehilangan daya imbibisi dan kemampuan untuk berkecambah. Temperatur dalam tempat penyimpanan pada umumnya dipengaruhi langsung oleh temperatur udara disekitarnya dan secara tidak langsung dipengaruhi oleh kegiatan respirasi benih atau mikroorganisme yang menginvestasi benih.

benih terdiri dari embrio atau tanaman mini, endosperma, cadangan makanan dan pelindung benih yang terdiri dari kulit benih. Cadangan makanan benih kedelai disimpan pada kedua kotiledon atau daun benih yang berfungsi sebagai organ fotosintetik bagi benih. Bagian benih yang mempengaruhi penyimpanan adalah kulit benih (untuk benih jagung dan kacang), hylum dan mikrofil (untuk benih kacang-kacangan). Bagian-bagian tersebut berfungsi dalam mengatur keluar masuknya air (Justice dan Bass, 2002).

Menurut Kartono (2004) salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pengembangan tanaman kedelai adalah tersedianya benih bermutu dengan daya kecambah lebih dari 85 %. Benih yang bermutu dan memiliki daya berkecambah tinggi memerlukan penanganan panen dan pascapanen yang tepat antara lain

(7)

penyimpanan. Beberapa faktor yang mempengaruhi daya berkecambah benih kedelai selama penyimpanan antara lain :

1. Mutu benih dan daya kecambah benih sebelum disimpan 2. Kadar air benih

3. Kelembaban ruang penyimpanan 4. Suhu tempat penyimpanan

5. Hama dan penyakit di tempat penyimpanan 6. Lama penyimpanan

Benih yang disimpan akan mengalami beberapa perubahan diantaranya adalah perubahan fisik, perubahan kimia dan kerusakan kromosom. Perubahan fisik ditandai dengan berkurangnya berat benih akibat serangan mikroorganisme, sedangkan perubahan kimia ditandai dengan naiknya temperatur dan kelembaban serta kegiatan respirasi dari mikroorganisme mengakibatkan naiknya kegitaan enzim-enzim dalam benih. Penyimpangan kromosom sering dijumpai pada sel-sel meristem akar, sel-sel meristem tunas dan sel-sel tepung sari. Penyimpangan kromosom menunjukkan adanya suatu kerusakan pada asam nukleat yang dapat menyebabkan bentuk kecambah benih yang abnormal (Sutopo, 2010).

Menurut Hasanah (2002) benih tanaman industri dapat dikelompokan menjadi benih ortodok, benih intermediate dan benih rekalsitran. Pengelompokan benih tersebut didasarkan atas kepekaan benih terhadap pengeringan dan suhu. Benih ortodok relatif tahan terhadap pengeringan. Benih ortodok umumnya dimiliki oleh spesies-spesies tanaman setahun dan tanaman dua tahunan (bienial) dengan ukuran benih yang kecil. Benih ortodok tahan pengeringan sampai kadar air mencapai 5 % dan dapat disimpan pada suhu rendah. Daya simpan benih dapat diperpanjang dengan menurunkan kadar air dan suhu. Benih rekalsitran peka terhadap pengeringan. Benih rekalsitran tidak tahan disimpan pada suhu di bawah 20°C. Beberapa spesies tanaman tropis yang memiliki sifat rekalsitran atau peka terhadap suhu rendah adalah kemiri, kayu manis, pala, kelapa dan palma lainnya. Kelompok tanaman ini menghasilkan benih yang tidak pernah kering pada tanaman induknya. Benih masih dalam kondisi lembab ketika gugur dan akan mati ketika kadar air kritis. Daya hidup benih relatif pendek dari beberapa minggu sampai beberapa bulan tergantung spesiesnya walaupun benih disimpan pada

(8)

kondisi lembab. Benih intermediate berada antara sifat benih ortodok dan rekalsitran.

Menurut Sadjad (1993) benih diklasifikasikan sebagai benih ortodoks dan benih rekalsitran. Benih ortodoks dapat dikeringkan dan tidak mati, dapat disimpan lama dalam kondisi dingin dan tahan disimpan pada kadar air yang rendah. Benih rekalsitran akan mati jika disimpan pada suhu dingin dan kadar airnya diturunkan atau dikeringkan. Perbedaan sifat tersebut dikarenakan perbedaan genetik benih.

Viabilitas dan Vigor Benih

Pengertian benih menurut Undang-undang Republika Indonesia Nomor 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Pertanian Bab 1 Ketentuan Umum pasal 1 ayat 4 adalah tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan atau mengembangbiakkan tanaman. Menurut Sadjad (1993) benih dalam batasan struktural berbeda dengan benih dalam batasan fungsional. Benih dalam batasan struktural memiliki arti sama dengan biji tumbuhan sebagai bakal biji yang dibuahi, sedangkan benih dalam batasan fungsional memiliki arti tidak sama dengan biji. Biji dapat memiliki fungsi ganda baik sebagai bahan konsumsi maupun sebagai bahan tanaman.

Menurut Sunantora (2000) mutu benih ditentukan oleh aspek genetis, fisiologis dan fisik. Secara genetis, benih harus memiliki sifat-sifat sesuai dengan deskripsi varietas yang bersangkutan. Mutu fisiologis dan fisik yang tinggi dapat diperoleh melalui proses penanganan pra dan pasca panen yang baik meliputi teknik bercocok tanam, pengendalian hama dan penyakit, pengendalian gulma, waktu panen, cara panen, prosesing dan penyimpanan.

Sadjad (1993) menyatakan bahwa benih dengan mutu fisik yang tinggi adalah benih yang bersih dari campuran kotoran (pasir, tanah, tangkai atau daun kering), bersih dari campuran benih-benih mati,bersih dari perangkat benih seperti kulit benih, endosperm dan pecahan kotiledon. Mutu fisiologi benih mencerminkan kemampuan benih untuk dapat hidup normal dalam kisaran keadaan alam yang luas. Benih dengan mutu fisiologi tinggi mampu menghasilkan pertumbuhan tanaman yang berproduksi normal apabila ditanam

(9)

sesudah disimpan walaupun melalui periode simpan dengan keadaan simpan yang suboptimum. Mutu genetik benih yang tinggi tidak hanya ditinjau dari keseragaman genotipiknya tetapi juga keseragaman dalam perwujudan fenotipik.

Menurut Departemen Pertanian (2000) syarat benih bermutu antara lain : 1. Murni dan diketahui nama varietasnya

2. Daya tumbuhnya tinggi (minimal 80%) serta vigornya baik

3. Biji sehat, bernas, mengkilat, tidak keriput dan dipanen dari tanaman yang telah matang

4. Dipanen dan tanaman yang sehat, tidak terkena penyakit virus 5. Tidak terinfeksi cendawan, bakteri atau virus

6. Bersih, tidak tercampur biji tanaman lain atau biji rerumputan

Benih kedelai yang digunakan pada dasarnya harus benih yang baik dan bermutu tinggi. Benih yang baik dan bermutu tinggi akan menjamin pertanaman yang bagus dan hasil panen yang tinggi. Hal ini dicerminkan oleh tingginya tingkat keseragaman biji, daya tumbuh dan tingkat kemurnian (Deptan, 2000).

Viabilitas benih adalah kemampuan benih untuk berkecambah dan berproduksi normal pada kondisi lingkungan yang optimum. Viabilitas benih dapat menunjukkan tingkat kehidupan benih, aktifitas metabolisme benih dan menunjukkan kerja enzim yang mampu mengkatalisis proses metabilsme yang dibutuhkan dalam perkecambahan dan pertumbuhan benih. Viabilitas benih tertinggi terjadi pada keadaan masak fisiologis walaupun kondisi lingkungan tidak memungkinkan untuk berkecambah. Nilai viabilitas benih akan menurun setelah masak fisiologis. Kemampuan benih untuk mempertahankan nilai viabilitasnya tergantung pada kondisi lingkungan (Copeland dan McDonald, 2001).

Menurut Owen (1956) kehidupan benih sangat bervariasi tergantung pada famili, marga dan spesies benih tersebut, akan tetapi viabilitas benih tertinggi sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Faktor yang mempengaruhi viabilitas benih dalam penyimpanan adalah kadar air benih dan suhu ruang penyimpanan. Pada beberapa kasus, gas dari atmosfer ruang penyimpanan mempengaruhi kondisi benih.

Menurut Sutopo (2010) faktor-faktor yang mempengaruhi viabilitas benih dalam penyimpanan terbagi menjadi dua yaitu faktor dalam dan faktor luar.

(10)

Faktor dalam terdiri atas jenis dan sifat benih, viabilitas awal benih serta kandungan air benih. Faktor luar terdiri atas temperatur, kelembaban, gas disekitar benih dan mikroorganisme.

Vigor benih adalah kemampuan benih untuk tumbuh dan berproduksi menjadi tanaman normal dalam kondisi lingkungan suboptimum. Menurut Copeland dan McDonald (2001) faktor-faktor yang mempengaruhi vigor benih antara lain faktor genetik, lingkungan selama perkembangan benih dan lingkungan penyimpanan benih. Faktor-faktor yang berada di bawah kontrol genetika adalah hybrid vigor, hardseededness, kerentanan terhadap kerusakan benih dan komposisi kimia benih yang berpengaruh pada mutu benih. Pengujian vigor benih terdiri dari pengujian langsung dan pengujian tidak langsung.

Sutopo (2010) menyatakan bahwa vigor benih dibedakan atas vigor genetik dan vigor fisiologi. Vigor genetik adalah vigor benih dari galur genetik yang berbeda-beda, sedangkan vigor fisiologi adalah vigor yang dapat dibedakan dalam galur genetik yang sama. Benih dengan vigor yang rendah dapat berakibat terjadinya :

1. Kemunduran benih yang cepat selama penyimpanan 2. Semakin sempit keadaan lingkungan tumbuh benih 3. Kecepatan berkecambah benih menurun

4. Kepekaan serangan hama dan penyakit meningkat 5. Jumlah kecambah abnormal meningkat

6. Rendahnya produksi tanaman

Vigor dan viabilitas benih tidak selalu dapat dibedakan terutama pada lot-lot benih yang mengalami kemunduran cepat. Lot-lot-lot benih yang mengalami kemunduran cepat mengandung benih yang bervigor rendah. Proses kemunduran benih terus berlangsung hingga pada akhirnya semua benih mati. Salah satu indikasi pertama dari kemunduran benih pada saat pengujian daya kecambah benih yang disimpan adalah penurunan vigor kecambah yang terlihat dari penurunan laju perkecambahan dan menghasilkan kecambah yang lemah. Benih yang memiliki vigor rendah akan menghasilkan panen yang rendah dibandingkan benih vigor yang segar (Justice dan Bass, 2002).

(11)

Pengembangan benih meliputi serangkaian tahapan ontogenetik penting mulai dari pemupukan, akumulasi nutrisi, pengeringan benih hingga dormansi. Masing-masing tahapan tersebut merupakan perubahan ontogeni morfologi dan fisiologi yang dapat mengubah potensial benih. Titik ketika benih mencapai berat kering maksimum disebut masak fisiologis. Benih memiliki potensi terbesar untuk berkecambah pada titik masak fisiologis tersebut. Namun pada umumnya benih mncapai masak fisiologis pada tingkat kelembaban tinggi yang tidak aman untuk penyimpanan. Benih tidak dipanen hingga mencapai kematangan panen sehingga penyimpanan benih menjadi aman. Antara masak fisiologis dan masak panen, benih pada dasarnya tersimpan pada tanaman yang memungkinkan untuk terkena kondisi lingkungan yang mempengaruhi mutu benih (Copeland dan McDonald, 2001).

Studi Genetika terhadap Daya Simpan Benih

Menurut Undang-undang Republik Indonesia nomor 29 tahun 2000 tentang perlindungan varietas tanaman, Pemuliaan tanaman adalah rangkaian kegiatan penelitian dan pengujian atau kegiatan penemuan dan pengembangan suatu varietas, sesuai dengan metode baku untuk menghasilkan varietas baru dan mempertahankan kemurnian benih varietas yang dihasilkan. Bari et al (1973) menambahkan pemuliaan tanaman merupakan paduan antara seni dan ilmu dalam memperbaiki pola genetik dari populasi tanaman. Seni dalam pemuliaan tanaman tercermin dalam kemampuan seorang pemulia untuk meneliti perbedaan-perbedaan antar tanaman yang lebih berguna. Tujuan akhir dari kegiatan pemuliaan tanaman adalah memperoleh tanaman baru dengan sifat-sifat yang lebih baik untuk sifat-sifat tertentu. Suatu varietas tanaman yang unggul di daerah tertentu memiliki kombinasi sifat-sifat yang baik sehingga membentuk hasil yang tinggi. Perbedaan sifat-sifat secara genetik pada umumnya disebabkan oleh adanya perbedaan dalam peranan gen serta interaksinya.

Menurut Satoto et al (2008) galur merupakan tanaman hasil persilangan yang telah diseleksi dan diuji serta memiliki sifat unggul sesuai tujuan pemuliaan, tumbuh seragam dan stabil tetapi belum dilepas sebagai varietas. Varietas adalah suatu jenis atau spesies tanaman yang memiliki karakteristik genotipe tertentu seperti bentuk, pertumbuhan tanaman, daun, bunga, dan biji yang dapat membedakan dengan jenis

(12)

atau spesies tanaman lain. Varietas yang diperbanyak tidak mengalami perubahan. Varietas unggul adalah galur hasil pemuliaan yang memiliki satu atau lebih keunggulan khusus seperti potensi hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit, toleran terhadap cekaman lingkungan, mutu produk tinggi dan sifat-sifat unggul lainnya serta telah dilepas pemerintah. Varietas lokal adalah varietas yang telah ada dan dibudidayakan secara turun-temurun oleh petani serta menjadi milik masyarakat dan dikuasai negara.

Daya simpan benih dapat berbeda-beda menurut sifat genetiknya. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan struktur selaput benih dan komposisi kimia benih secara keseluruhan. Respon daya simpan benih secara genetik berbeda-beda tergantung pada kondisi awal benih dan lingkungan simpannya. Contoh pada benih wijen dan shorgum yang memiliki komposisi kimia yang berbeda. Daya simpan benih wijen dengan kandungan lemak tinggi lebih rendah daripada benih shorgum dengan kandungan pati tinggi (Mugnisjah, 2007).

Persyaratan penyimpanan benih untuk memelihara kelangsungan hidup benih dan viabilitas benih bervariasi pada berbagai jenis benih. Hal tersebut tidak hanya berkaitan dengan faktor genetik tetapi juga berkaitan dengan iklim dan lama masa penyimpanan. Pada umumnya penyimpanan di bawah kondisi yang ideal akan menyebabkan kelembaban relatif dan suhu penyimpanannya rendah (Owen, 1956).

Menurut Yap dan Hassan (1976) faktor genetik menjadi salah satu standar untuk kualitas benih bermutu. Faktor genetik memberikan pengaruh terhadap varietas yang dihasilkan sehingga varietas tersebut dapat memiliki genotipe unggul seperti daya hasil tinggi, resisten terhadap hama dan penyakit, serta memiliki respon yang baik terhadap berbagai kondisi pertumbuhan.

Pada awal kegiatan pemuliaan tanaman, seleksi dilakukan terhadap verietas-varietas lokal dan verietas-varietas introduksi yang terdapat keragaman genetik antara individu-individu di dalam perbendaharaan plasma nutfah yang ada. Sumber gen sifat-sifat penting yang diinginkan dalam program pemuliaan perlu diidentifikasi dari koleksi plasma nutfah yang diperoleh melalui pertukaran plasma nutfah dengan pemulia lain. Metode yang sering digunakan adalah seleksi galur atau seleksi massa. Bahan pemuliaan hasil persilangan diseleksi dengan menggunakan beberapa metode

(13)

yaitu Pedigree (silsilah), Bulk, Single Seed Descent (penurunan satu biji), Backcross (silang balik) (Arsyad et al, 2007).

Menurut Bari et al (1973) keragaman genetik dimanfaatkan oleh pemulia untuk membentuk galur-galur. Pengujian dilakukan dari galur-galur tersebut untuk memperoleh galur yang unggul. Keragaman pada bahan-bahan keturunan dapat ditimbulkan dengan berbagai cara seperti introduksi varietas baru, pemisahan hasil persilangan, mutasi buatan, poliploidi dan pemisahan hasil persilangan antar spesies.

Salah satu komponen penting keberhasilan program seleksi dalam program pemuliaan adalah keragaman genetik. Keragaman genetik yang luas untuk beberapa karakter pada populasi tertentu disebabkan oleh latar belakang genetik populasi yang berbeda. Pengetahuan tentang latar belakang genetik populasi sangat penting untuk memulai seleksi (Syukur et al, 2010).

Suseno (1974) menyatakan bahwa kualitas benih tertinggi dapat dicapai pada keadaan yang memungkinkan terjadinya interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan. Benih mencapai kualitas maksimum pada kematangan fisiologi. Sekumpulan benih yang memiliki daya berkecambah rendah pada umumnya menghasilkan kecambah abnormal lebih banyak dan tidak mampu tumbuh hingga dewasa.

Gambar

Tabel 1. Perbedaan tipe determinit dan indeterminit

Referensi

Dokumen terkait

Gambar 20 menunjukkan hasil investigasi penelitian oleh Armono dan Hall (2002) untuk gelombang transmisi pada breakwater terendam yang terbuat dari terumbu karang buatan

Pemilihan ini terjadi karena tidak adanya perbedaan pengaruh lama pipping pada telur tetas yang disemprot dengan larutan jeruk nipis dan larutan gula pada dosis

Penelitian ini bertujuan agar dapat mengetahui pengaruh bobot badan induk terhadap fertilitas, daya tetas dan bobot tetas DOC pada ayam Kedu jengger merah

Dari penelitian yang dilakukan dan berda- sarkan pembuktian secara simulasi meng- gunakan Simulink MATLAB, maka dapat diberikan kesimpulan untuk melakukan tun- ing parameter

Berdasarkan pembacaan semiotika terhadap kumpulan puisi Kerygma & Martyria karya Remy Sylado ditemukan risalah religius penyair yang meliputi (1) Risalah religiusitas

DUA ARAH JIKA PENGIRIM CUKUP LELUASA MENDAPATKAN UMPAN BALIK TENTANG CARA PENERIMA MENANGKAP PESAN YANG TELAH DIKIRIMKANNYA.. BASA-BASI : KOMUNIKASI PALING DANGKAL

and the author of De‐ coding the IT Value Problem (Wiley, 2013) puts it succinctly: “For quite a while, IT has been called ‘the office of no.’ Smart CIOs work hard at

Guru menjelaskan tentang tujuan pembelajaran seni tari pada bulan ini, yakni untuk berkarya tentang Menyusun karya tari modern berdasarkan komposisi tari (sesuai dengan