KETERANGAN PERS DAN DIALOG
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DENGAN WARTAWAN
PADA KUNJUNGAN KERJA PERDANA MENTERI MALAYSIA
DI ISTANA MERDEKA, JAKARTA
PADA TANGGAL 17 MARET 2009
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Â
Saudara-saudara,
Â
Hari ini
Indonesia kembali mendapat kehormatan kunjungan Perdana Menteri Malaysia, Bapak Abdullah Badawi, dengan delegasi, untuk melakukan pertemuan konsultasi tahunan yang dilaksanakan pada bulan Maret 2009 ini. Pertemuan serupa dan menjadi tradisi kerja sama bilateral Malaysia-Indonesia dilaksanakan di Putrajaya pada bulan Januari tahun lalu. Tujuan dari konsultasi semacam ini adalah untuk melakukan evaluasi kerja sama yang telah kita lakukan dan kemudian untuk
menemukan lagi peluang-peluang baru dalam rangka meningkatkan kerja sama dan hubungan bilateral di waktu selanjutnya.
Â
Pada pertemuan
konsultasi kali ini, kedua delegasi telah membahas masalah-masalah yang substantif demi peningkatan kerja sama di masa mendatang. Saya sebagai tuan rumah telah menyampaikan sembilan objectives
yang dulu dirumuskan bersama-sama di Putrajaya untuk kita capai, alhamdulillahfood security. Lantas kami juga sepakat untuk membahas masalah-masalah untuk
menuju ke energy security, apa yang
bisa dikontribusikan oleh Malaysia dan Indonesia melalui kerja sama yang baik, untuk meningkatkan ketangguhan energi di kawasan ini sebagaimana pula tadi ketahanan pangan pada tingkat regional. sebagian telah dicapai,
sebagian dalam proses untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Berangkat dari situ, Pak Abdullah Badawi dan saya, dan kemudian dibicarakan lebih luas lagi pada tingkat menteri dan peserta pertemuan konsultasi tahun ini, kami membahas
isu-isu bilateral yang penting, yang menyangkut ekonomi, khususnya upaya peningkatan perdagangan dan investasi, kemudian peningkatan kerja sama di bidang pertanian yang mengarah kepada pencapaian
Â
Kami juga
membahas bagaimana kerja sama di bidang kepariwisataan dapat ditingkatkan dengan pemikiran alangkah baiknya apabila wisatawan yang telah berkunjung ke Malaysia juga bisa berkunjung ke Indonesia atau sebaliknya. Dengan demikian, akan komplementer dan membawa manfaat bagi kedua negara.
Â
Di bidang
tenaga kerja, sebagaimana lazimnya pertemuan konsultasi kami, kami membahas secara mendalam mengingat begitu banyak pekerja Indonesia yang bekerja di Malaysia sehingga baik Pemerintah Malaysia maupun Indonesia terus melakukan pengelolaan secara bersama, agar tenaga kerja itu bisa berkontribusi dalam
pembangunan perekonomian di Malaysia tetapi juga mereka mendapatkan perlakuan dan perlindungan yang baik, dan alhamdulillah,
progress menyangkut tenaga kerja ini berjalan dengan baik dan kita ingin untuk meningkatkan koordinasi agar apabila ada masalah-masalah segera kita carikan solusinya secara bersama.
Â
pendidikan berjalan dengan baik termasuk aktivitas kedua tentara dalam rangka penanganan bencana. Operasi bersama yang melibatkan pihak militer dan kepolisian kedua negara juga berjalan, seperti pengamanan di Selat Malaka, tindakan counter terorism maupun
memerangi illegal logging, trafficking in persons, dan kejahatan narkotika.
Â
Di bidang
pendidikan, kami juga menekankan pentingnya terus untuk meningkatkan kerja sama ini dan Indonesia mengucapkan terima kasih telah didirikan sekolah Indonesia di kota Kinabalu dan tadi atas permintaan saya, Pak Lah juga memberikan dukungan bagi putra-putri tenaga kerja kita yang bekerja di pedalaman Sabah, juga
mendapatkan fasilitas untuk pendidikan pada komunitas-komunitas itu. Menyangkut bilateral relations, kami juga
bersyukur Eminent Person Group yang kami
bentuk berdua di pertemuan tahun lalu telah bekerja dengan baik dan insya Allah hari ini akan menyampaikan laporannya dilanjutkan dengan dialog kesejarahan diantara kedua bangsa.
Â
Isu-isu
regional dan global, kami beberapa kali membahas, baik di ASEAN Summit maupun di forum-forum yang lain. Untuk diketahui dalam satu bulan ini saya bertemu dengan Pak Lah tiga kali.
Pertemuan yang paling sering semenjak saya menjadi Presiden empat setengah tahun yang lalu. Kami terus menyatukan pikiran dan prakarsa untuk mencari solusi bersama pada tingkat regional menghadapi katakanlah krisis perekonomian global dewasa ini, seperti Chiang Mai
Initiatives, IMT-GT, BIMP-EAGA yang juga mesti terus kita galakkan, dengan demikian insya Allah kita bisa ikut berkontribusi dalam mengatasi permasalahan perekonomian global, meningkatkan perekonomian kawasan.
Â
Dari saya,
itulah yang dapat saya sampaikan ke hadapan para wartawan dan saya memberikan kesempatan kepada Pak Lah untuk menyampaikan penjelasan kepada pers. Saya persilakan.
Â
Terima kasih
Bapak Abdullah Badawi, saya berikan kesempatan kepada pers yang ingin mengajukan pertanyaan.
Â
Dialog dengan wartawan
Â
Wartawan 1 (Sdr. Yayah, Kompas):
Â
Selamat siang
Bapak Presiden Yudhoyono dan Perdana Menteri Badawi, terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Pertanyaan ini saya ajukan kepada yang terhormat Perdana Menteri Badawi, Bapak Perdana Menteri apakah tekanan krisis global yang sekarang terjadi ini akan membuat Malaysia mengatur kembali penempatan tenaga kerja asing di Malaysia dan apakah terdapat kemungkinan terjadi pemulangan Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia dan bagaimana hal itu dikoordinasikan dengan
pemerintah Indonesia. Terima kasih.
Â
PM Malaysia:
Â
Apa yang
berlaku sekarang ini, kepada mereka semua, semua negara di dunia ini, karena
sekarang menghadapi crisis economy,
saya telah menjelaskan kepada Bapak Presiden yaitu berlakunya retreatment, pemberhentian kerja. Pemberhentian kerja itu adalah sesuatu yang tidak dapat kita elakkan. Walaupun menjadi satu
hasrat penyesuaian yang dijalankan kerajaan ini dengan packageretreatment dan walaupun itu inevitable, tetapi sekiranya
berlaku maka tindakan-tindakan yang perlu diambil akan diambil untuk
menyehatkan dan lain-lain lagi. rancangan ekonomi itu ialah kita hendak mengurangkan berlakunya
Â
Dan dalam ini,
bolehlah saya mengatakan, akan berlaku, jangan Saudara membesar-besarkan pelak ini, ketika masalah ini inevitable. Ini
akan berlaku bukan hanya kepada pekerja-pekerja asing bahkan akan berlaku juga kepada pekerja-pekerja kami sendiri. Satu hal yang tidak dapat kita elakkan, tadi seperti yang dikatakan di awal tadi, saya tidak nampak akan berlaku ribuan rakyat Indonesia bekerja di Malaysia ini semuanya sudah balik ke tanah air Indonesia, kita tidak ingin itu. Tetapi kalau berlaku sesuatu yang agak, yang perlu
ditindakkan, saya janji tadi kepada Bapak Presiden, biarlah kami maklumkan kepada Bapak Presiden pada saat di Indonesia kalau berlaku sesuatu karena kita tidak mau ini menjadi sesuatu yang mengejutkan Indonesia. Tapi saya tidak nampak ini akan berlaku, kalau berlaku itu adalah tindakan yang perlu diambil supaya dapat berangkat awal-awal. Jadi, itu saja yang hendak saya tegaskan, saya harap dapat dipahami dan kelak dapat menjadi satu berita yang tidak
menimbulkan kesusahan kelak karena kita sudah pun menghadapi banyak kesusahan, menghadapi crisis economy. Dan kita
tidak perlu siasat sesuatu yang belum berlaku tetapi ini dapat sekedar dapat diingatkan yang perlu kita ambil karena situasi yang dihadapi sekarang ini masih yang berat bagi Malaysia dan mungkin berat juga bagi negeri-negeri lain, termasuk Indonesia.
Â
Wartawan 2 (Sdr. Emi Chu, The Straits Times):
Â
Terima kasih. Ini
pertanyaan untuk, baik buat Bapak Presiden dan juga Pak Lah. Bagaimana Bapak Presiden dan Pak Lah bisa menjalin hubungan baik antara kaum pemuda di antara dua negara yang sering melakukan cyber
war sehingga menimbulkan salah paham antara dua pihak. Seperti kita tahu,
kaum muda adalah pemimpin masa depan. Terima kasih.
Â
Presiden RI:
Â
Sebelum Bapak
Abdullah Badawi, saya jawab bahwa tadi kami berdua membahas masalah ini dengan cukup mendalam mengingat kaum muda Malaysia dan Indonesia adalah mereka-mereka semua nanti yang akan melanjutkan kepemimpinan di negaranya masing-masing. Oleh karena itu, bagi kami mereka adalah investasi masa depan sekaligus kalau
menyangkut hubungan dan kerja sama bilateral mereka juga akan berperan di waktu yang akan datang.
Â
Kami memasuki
wilayah-wilayah yang, mulai dari yang praktis sampai dengan yang strategis. Pak Lah dan saya misalnya, sejak empat tahun yang lalu aktif untuk menjembatani,
mengakrabkan hubungan antara Gerakan Pramuka Indonesia dengan Pengakap di Malaysia, dan alhamdulillah sekarang berkembang
dengan baik. Kami juga memfasilitasi pertemuan-pertemuan kaum pemuda, organisasi
kepemudaan. Ini juga contoh. Dan dalam rangka menindaklanjuti rekomendasi dari Eminent Person Group agar pendekatan
budaya diantara kedua bangsa ini juga dilakukan, kami juga ingin generasi muda banyak berperan di situ, dengan demikian sedini mungkin mereka sudah saling akrab termasuk pendidikan yang dihadiri oleh kedua pelajar, mahasiswa, baik dari Malaysia ke Indonesia, maupun Indonesia ke Malaysia.
Â
Semua itu mesti
kita lakukan dengan baik, sekali lagi demi investasi kita di masa depan. Soal
masalah dengan Guyana, tidak punya masalah dengan Honduras, tidak punya masalah dengan Irlandia karena secara geografis amat jauh, tetapi dengan Malaysia yang setiap hari bisa bertemu pastilah seperti keluarga sendiri, ada perbedaan-perbedaan
pendapat. Yang penting kejernihan dan kearifan para pemimpin, para tokoh, kita semua, untuk mengelola ini dengan baik termasuk yang Saudara tanyakan tadi, bagaimana generasi muda kita dekatkan sejak awal.
Â
Wartawan 3 (Sdr. Kunanto, Tempo):
Â
Terima kasih.
Pertanyaan saya terkait solusi krisis ekonomi di tingkat regional, Pak. Kemarin di ASEAN Summit kan ada muncul
ide-ide soal IMT-GT, BIMP-EAGA, dan Chiang Mai Initiatives. Sejauh mana kedua negara, baik Malaysia maupun Indonesia, untuk membuat langkah maju tentang ide-ide yang akan menjadi solusi
di tingkat regional nantinya untuk mengatasi krisis ekonomi. Kemudian, untuk meningkatkan hubungan perdagangan antara kedua negara, apa juga yang tadi ada di pertemuan, mohon lebih sedikit dijelaskan lebih detail. Terima kasih.
Â
Presiden RI:
Â
Saya menggarisbawahi
apa yang disampaikan oleh Bapak Abdullah Badawi. Kami berdua sebenarnya 18 hari yang lalu bertemu di Hua Hin dan kami berdua juga menghadiri pertemuan puncak
IMT-GT, Indonesia-Malaysia-Thailand, GT adalah Growth Triangle, kemudian kami berdua juga menghadiri pertemuan puncak BIMP-EAGA, Brunei-Indonesia-Malaysia-Philipine-East ASEAN Growth Area
dan kami sepakat sudah saatnya ini lebih kita dorong pada daerah dan pada private sectors. Saya sampaikan dalam forum itu Sumatera tumbuh dengan baik ekonominya. Sulawesi dan bagian
Timur juga terus tumbuh, yang Tengah, SIJORI, Singapura-Johor-Riau, juga demikian, tetapi poin saya adalah karena
kawasan itu tumbuh maka harapan saya justru private
sectors yang di daerah, para Kepala Daerah, Gubernur, Bupati, Walikota bisa mencari sendiri opportunity-nya. Pemerintah
Pusat memberikan payung policy, dukungan-dukungan
fasilitas agar mereka berjalan dengan baik, jawabannya ya, memang kami bahas, tadi kami review kembali, tetapi
intinya pembahasan kami 18 hari yang lalu opportunity-nya
cukup banyak. Trade sendiri, investment lokal di situ, infrastructure building, transportation, tourism, termasuk agribisnis. Dengan demikian ini harus kita alirkan sejalan dengan policy besar
kami berdua, yaitu food security, energy security, dan sebagainya.
Â
Nah, khusus perdagangan, kalau
Saudara menanyakan, kami bahas juga tadi, gambarannya adalah tahun 2007 itu volume perdagangan kami US$ 11,5 billion,
2008Â US$ 14,6 billion, up. Tetapi
memang tahun ini tahun yang berat bagi dunia, Malaysia dan Indonesia
tidak sejelek negara-negara lain, maksudnya tidak sejelek dari banyak negara, tetapi tetap ada pengaruhnya. Oleh karena itu, kami bersepakat tadi
bagaimanapun we have to manage trade relations yang menurut saya progress-nya bagus. Solusinya ada joint trade
committee yang sudah mulai bekerja, saya kira akan lebih efektif lagi menemukan opportunity, dan sekali
lagi solusinya private sectors. Kedua belah pihak harus in work sejak dini dengan local government officials dengan
cara itu menurut saya akan lebih cepat dan lebih tepat mencari peluang-peluang yang ada.
Â
Wartawan 4 (Sdr. Muhammad Natsir, Bernama):
Â
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Â
Yang Terhormat, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi, Perdana Menteri Malaysia yang dicintai, dan Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Datuk Seri, seperti yang diberitakan sebelum ini, akan mengakhiri satu era khidmat dan kepemimpinan di Malaysia yang cemerlang, gemilang, dan terbilang terutama dalam hubungan
bilateral dengan Indonesia. Yang terhormat Bapak Presiden pula kini di ambang Pemilu dan Pilpres, jadi, apakah hasrat Bapak-bapak Yang Terhormat berdua untuk
melihat hubungan kedua negara serumpun kita jauh ke depan. Dalam hubungan ini juga terkait usaha-usaha menggerakkan ekonomi kedua-dua negara, mungkinkah nanti akan ada, setelah melihat kejayaan konsultasi tahunan antara kedua-dua pemimpin yang tercinta ini, mungkinkah akan ada juga konsultasi tahunan secara terstruktur antara pengusaha muda kedua negara untuk menggembleng kerja sama dan joint ventures yang sering
diperkataan tetapi sehingga ini belum terlihat proyek-proyek yang nyata, terutama untuk merebut peluang-peluang globalisasi. Terima kasih.
Â
Presiden RI:
Â
Untuk melengkapi penjelasan Bapak
Abdullah Badawi menyangkut hubungan strategis, hubungan jangka jauh Indonesia dengan Malaysia, saya ingin menambahkan
beberapa hal. Saya punya keyakinan, punya tesis, yang pertama, peran dan faktor pemimpin itu menentukan dalam memelihara hubungan baik kedua bangsa. Oleh karena itu, sejak awal saya menjalin hubungan pribadi dengan Pak Lah untuk memastikan apabila ada sesuatu menyangkut hubungan di antara Malaysia dan Indonesia, kita segera berpikir dengan jernih mencari solusi untuk sekali lagi memelihara keberlanjutan dari hubungan strategis ini. Tesis saya yang kedua
adalah keinginan untuk menjalin, memelihara, dan memperkokoh hubungan dan kerja sama kedua bangsa ini bukan hanya keinginan para pemimpin yang sedang memimpin, tetapi hakikatnya keinginan dan kepentingan kedua bangsa.
Â
Politicians come and go, tetapi kalau ini merupakan keinginan dan semangat dari bangsa Indonesia dan Malaysia
pastilah semua pikiran-pikiran yang baik akan terus berlanjut. Meskipun pada saatnya nanti, Pak Lah yang menjadi sahabat sangat dekat Indonesia akan meninggalkan panggung pemerintahan, kemudian suatu saat saya juga akan tidak berada di pemerintahan, tetapi kapan pun, menurut keyakinan saya, semangat dan upaya bersama ini akan terus berlanjut menembus dimensi ruang dan waktu karena sekali lagi ini betul-betul keluar dari pikiran kedua bangsa, bangsa Indonesia
dan bangsa Malaysia. Dengan cara pandang seperti itu, saya tidak punya kecemasan apabila terjadi proses demokrasi di kedua negara, baik Malaysia
maupun Indonesia, apa yang kita rintis dengan membentuk Eminent Person Group ini, insya Allah, akan bisa berlanjut.
Â
Kemudian yang terakhir, masalah
apakah generasi muda atau pengusaha muda itu tidak diberikan kesempatan untuk saling berinteraksi, kami terus memberikan kesempatan. Dalam pertemuan ini juga kita hadirkan tokoh muda kita yang mewakili Kadin Indonesia, Saudara Sandiaga Uno misalnya, dan dalam EPG juga ada generasi muda dan selama ini memang kita berikan ruang. Saya kira era sekarang ini era horizontal, semua sudah bisa
menjemput dan menemukan sendiri peluang-peluang yang ada, tidak harus semuanya government driven initiative ataupun
semua yang serba didorong oleh pemerintah. Itu pendapat dan keyakinan saya, dengan demikian sejalan dengan yang disampaikan oleh Pak Lah tadi, kami berkeyakinan apa yang kami rintis ini akan terus berlanjut ke masa depan.
Â
Terima kasih.
Â
Biro
Naskah dan Penerjemahan,
Deputi
Mensesneg Bidang Dukungan Kebijakan,
Sekretariat Negara RI