Vol. 11 No. 1 Juni 2019

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

V

ol. 1

1 No. 1 Juni 2019

Vol. 11 No. 1 Juni 2019

Vol. 11 No. 1

Juni 2019

Muh. Fadhlan Syuaib Intan

Kajian Geologi Terhadap Situs-Situs di Pekalongan Provinsi Jawa Tengah

Geological Study on Sites in Pekalongan, Central Java Province Sutomo, Eddie van Etten

Sabana di Jawa Bali Lombok Serta Kekunoan Sabana Baluran

Sabana in Java Bali Lombok and Ancient of Baluran Sabana Ujon Sujana

Rekonstruksi Jalur Pelayaran Kapal-Kapal Eropa Abad Ke-16 Hingga Abad Ke-17 di Kepulauan Maluku

Reconstruction of the European Ship Routes in the 16th to 17th Century in Maluku Archipelago

Sonya M. Kawer

Pangkalan Udara di Biak Numfor Pada Perang Dunia II

The remains of World War II in the form of air bases in Biak Numfor Regency Yudha N Yapsenang, Desy P Usmany

Mekanisme Penyelesaian Konflik Tradisional Sukubangsa Moi

Traditional Solution of Conflict in Moi Tribe Rini Maryone

Tinggalan Megalitik Batu Sukun Mengungkap Cerita Rakyat di Kampung Yepase

The Remains of the Sukun Stone and Folklore in Yapase Village

(2)

JURNAL PAPUA

ISSN 2085 - 9767

Vol. 11 Edisi No. 1 Juni – 2019

Terakreditasi Nomor 30/E/KPT/2018

PENGELOLA JURNAL PAPUA

Mitra Bestari

: Dr. Widya Nayati, M.A. (Jurusan Arkeologi, FIB UGM,

Yogyakarta)

Dr. Toetik Koesbardiati (Jurusan Antropologi, Universitas

Airlangga)

Hsao-chun Hung, PhD (Department of Archaeology and Natural

History, Australian National University)

Vida Kusmartono, M. A. (Arkeologi Prasejarah, Balai Arkeologi

Kalimantan Selatan)

Pemimpin Redaksi : Hari Suroto, S.S. (Arkeologi Prasejarah)

Sidang Redaksi

: Zubair Ma’sud, M. Hum (Arkeologi Prasejarah)

Sri Chiirullia Sukandar, S.S. (Arkeologi Sejarah)

Klementin Fairyo, M.Si (Etnoarkeologi)

Sonya M. Kawer, S.Sos (Arkeologi Sejarah)

Adi Dian Setiawan, S. S. (Arkeologi Prasejarah)

Alamat Redaksi

: BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Jl. Isele, Kampung Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura 99358

E-mail : redaksijurnalpapua@gmail.com

Laman OJS: https://jurnalarkeologipapua.kemdikbud.go.id

e-ISSN:

2580-9237

Jurnal Papua

diterbitkan dua kali dalam satu tahun pada bulan Juni dan November oleh

Balai Arkeologi Papua. Jurnal Papua memuat hasil-hasil penelitian, gagasan konseptual,

kajian dan aplikasi teori yang berkaitan dengan arkeologi. Persyaratan naskah untuk jurnal

Papua tercantum pada halaman belakang.

(3)

Jurnal Arkeologi Papua Vol. 11 No.1 / Juni 2019 i

JURNAL PAPUA

ISSN 2085 - 9767

Vol. 11 Edisi No. 1 Juni – 2019

Terakreditasi Nomor 30/E/KPT/2018

KATA PENGANTAR

Jurnal Arkeologi Papua Vol 11, Edisi No 1, Juni 2019 menampilkan enam artikel.

Masing-masing penulis berasal dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Balai Pelestarian

Cagar budaya Maluku Utara, Balai Pelestarian Nilai Budaya Papua, LIPI, Edith Cowan

University, dan Balai Arkeologi Papua. Artikel yang dimuat dengan subtansi arkeologi dan

etnoarkeologi. Harapan kami semoga ke depan semakin banyak lagi artikel-artikel yang

berkaitan tentang penelitian arkeologi di Papua dan Indonesia timur. Selamat membaca.

(4)

Jurnal Arkeologi Papua Vol. 11 No.1 / Juni 2019 ii

JURNAL PAPUA

ISSN 2085 - 9767

Vol. 11 Edisi No. 1 Juni – 2019

Terakreditasi Nomor 30/E/KPT/2018

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

... i

Daftar Isi

... ii

Abstrak

... iii

Abstract

... vi

Muh. Fadhlan Syuaib Intan

Kajian Geologi Terhadap Situs-Situs di Pekalongan Provinsi Jawa Tengah

Geological Study on Sites in Pekalongan, Central Java Province

...

1-18

Sutomo, Eddie van Etten

Sabana di Jawa Bali Lombok Serta Kekunoan Sabana Baluran

Sabana in Java Bali Lombok and Ancient of Baluran Sabana

... 19-27

Ujon Sujana

Rekonstruksi Jalur Pelayaran Kapal-Kapal Eropa Abad Ke-16 Hingga Abad Ke-17 di

Kepulauan Maluku

Reconstruction of the European Ship Routes in the 16th to 17th Century in Maluku

Archipelago

...

29-46

Sonya M. Kawer

Pangkalan Udara di Biak Numfor Pada Perang Dunia II

The remains of World War II in the form of air bases in Biak Numfor Regency

...

47-55

Yudha N Yapsenang, Desy P Usmany

Mekanisme Penyelesaian Konflik Tradisional Sukubangsa Moi

Traditional Solution of Conflict in Moi Tribe

...

57-69

Rini Maryone

Tinggalan Megalitik Batu Sukun Mengungkap Cerita Rakyat di Kampung Yepase

(5)

Jurnal Arkeologi Papua Vol. 11 No.1 / Juni 2019 iii

JURNAL PAPUA

ISSN 2085 - 9767

Vol. 11 Edisi No. 1 Juni – 2019

Terakreditasi Nomor 30/E/KPT/2018

Kata kunci bersumber dari artikel. Lembar abstrak ini boleh digandakan tanpa izin dan biaya.

DDC. 930.1

Kajian Geologi Terhadap Situs-Situs di Pekalongan Provinsi Jawa Tengah

Muh. Fadhlan Syuaib Intan (Puslit Arkenas, Jakarta)

Jurnal Papua Vol. 11, No. 1, Juni 2019, hlm. 1-18

Pekalongan, yang menjadi lokasi penelitian, menyimpan banyak tinggalan budaya, salah satunya dari masa Hindu-Budha, yang belum mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan. Hal inilah yang dijadikan dasar permasalahan utama penelitian yang mencakup geologi secara umum. Oleh sebab itu, maksud penelitian ini adalah untuk melakukan pemetaan geologi permukaan secara umum sebagai salah satu upaya untuk menyajikan informasi geologi, sedangkan tujuannya adalah untuk mengetahui aspek-aspek geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi yang dikaitkan dengan keberadaan di situs-situs arkeologi wilayah penelitian. Metode penelitian diawali dengan kajian pustaka, survei, dan dilanjutkan dengan analisis, dan interpretasi data lapangan. Pengamatan lingkungan memberikan informasi tentang bentang alamnya terdiri yang dari satuan morfologi dataran, satuan morfologi bergelombang lemah, dan satuan morfologi bergelombang kuat. Sungainya berpola dendritik, radial, dan rektangular, berstadia sungai dewasa-tua dan sungai dewasa-tua, sungai periodik/permanen, dan sungai episodik/intermittent. Batuan penyusun adalah aluvial, andesit, basal, breksi vulkanik, dan batupasir. Struktur geologi berupa sesar, dan kekar. Eksplorasi di Kabupaten Pekalongan telah menemukan enam situs Hindu-Budha.

Kata kunci: Lingkungan, geoarkeologi, arkeologi Hindu-Budha, Pekalongan

DDC. 930.1

Sabana di Jawa Bali Lombok Serta Kekunoan Sabana Baluran

Sutomo, Eddie van Etten (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Edith Cowan University)

Jurnal Papua Vol. 11, No. 1, Juni 2019, hlm. 19-27

Sabana adalah tipe ekosistem di dataran rendah atau dataran tinggi yang komunitasnya terdiri atas beberapa pohon yang tersebar tidak merata dan lapisan bawahnya didominasi oleh suku rumput-rumputan. Sabana sangat umum dijumpai di wilayah yang sangat kering di Nusa Tenggara. Meskipun demikian, di beberapa tempat di Pulau Jawa juga dapat dijumpai sabana. Sabana terluas di Pulau Jawa adalah sabana di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Informasi tentang bagaimana terjadinya serta formasi (komposisi vegetasi) sabana di Indonesia, terutama di daerah basah, seperti Jawa, Bali, dan Lombok, masih sangat jarang. Makalah ini membandingkan dan membedakan karakteristik vegetasi antara empat sabana daerah ‘basah’ di Jawa, Bali, dan Lombok yang memiliki curah hujan lebih tinggi dibanding sabana di kawasan timur Kepulauan Indonesia. Perbandingan ini dilakukan untuk mengetahui

fitur vegetasi yang memuat informasi tentang asal-usul, pemeliharaan (maintenance), dan usia sabana ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat gradien yang berbeda dalam hal elevasi (bersama dengan faktor iklim terkait, seperti suhu dan curah hujan) dan rezim api terkait dengan komposisi floristik di sabana Jawa, Bali, dan Lombok. Setiap sabana dicirikan oleh berbagai spesies berkayu dan rumput yang berbeda yang di dalamnya Invasive Alien Species

(IAS), seperti Acacia nilotica, Lantana camara,

dan Chromolaena odorata, menjadi jenis yang sangat penting untuk membedakan antara sabana dan sabana yang lain. Karakteristik spesies sabana Baluran menunjukkan bahwa ekosistem ini mungkin merupakan sabana tua, sedangkan sabana yang lain mungkin baru terbentuk dan keberadaannya tetap terpelihara oleh adanya api atau kebakaran.

Kata kunci: Sabana, vegetasi, Baluran,

(6)

Jurnal Arkeologi Papua Vol. 11 No.1 / Juni 2019 iv

DDC. 930.1

Rekonstruksi Jalur Pelayaran Kapal-Kapal Eropa Abad Ke-16 Hingga Abad Ke-17 di Kepulauan Maluku

Ujon Sujana (BPCB Maluku Utara)

Jurnal Papua Vol. 11, No. 1, Juni 2019, hlm. 29-46

Isu mengenai Jalur Rempah sebagai Warisan Budaya Dunia akhir-akhir ini sangat santer dibicarakan oleh para pakar dan praktisi warisan budaya dan sejarah di Indonesia dan beberapa negara-negara Eropa. Selama ini banyak sekali pembahasan tentang proses perjalanan orang-orang Eropa mencari rempah pada abad ke-16, atau lokasi-lokasi dan jenis-jenis rempah yang populer saat itu, dan atau khasiat rempah itu sendiri. Hampir sebagian besar menyimpulkan bahwa rempah yang paling dicari adalah cengkih dan pala yang berasal dari Kepulauan Maluku. Namun belum banyak pembahasan Jalur Rempah yang cukup kongkrit mengenai jalur itu sendiri. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba rekonstruksi jalur pelayaran kapal-kapal Eropa di Kepulauan Maluku. Dengan pendekatan arkeologi kesejarahan yang digunakan, paling tidak dapat memberikan gambaran jalur-jalur pelayaran yang dilewati oleh kapal-kapal milik Portugis, Spanyol, dan Belanda, berdasarkan keberadaan benteng-benteng mereka yang tersebar di Kepulauan Maluku. Kapal-kapal Eropa tersebut memilih jalur pelayarannya masing-masing, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah politik. Gambaran mengenai jalur pelayaran kapal-kapal Eropa tersebut paling tidak dapat memberi kontribusi dalam wacana jalur rempah tersebut.

Kata kunci: Jalur rempah, Kepulauan Maluku, kapal Eropa

DDC. 930.1

Pangkalan Udara di Biak Numfor Pada Perang Dunia II

Sonya M. Kawer (Balai Arkeologi Papua)

Jurnal Papua Vol. 11, No. 1, Juni 2019, hlm. 47-55

Tinggalan Perang Dunia II berupa pangkalan udara di Kabupaten Biak Numfor terdapat di tiga wilayah Pulau Biak yaitu di Pulau Owi, Pulau Numfor dan Kota Biak. Dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data berupa survei, obsevasi, dan wawancara, untuk menemukan tinggalan tersebut. Hasil survei pangkalan udara yang dilakukan di Pulau Owi terdapat empat pangkalan udara yang dibangun Jepang dan direbut oleh Sekutu. Pangkalan di Pulau Numfor terdapat empat buah pangkalan udara, tiga dibangun Jepang dan satu dibangun sekutu. sedangkan di Biak Kota sendiri terdapat tiga buah pangkalan udara yang dibangun Jepang. Pangkalan udara menjadi bukti bahwa Pulau Biak sangatlah strategis dari sisi keletakan terutama dalam kaitannya dengan penguasaan daerah di wilayah Pasifik. Tentara Jepang yang saat itu dibawah komando Kolonel Naoyuki Kuzume menduduki Biak serta memanfaatkan landskap alam Pulau Biak sebagai pertahanan.

Kata kunci: Pangkalan udara, Perang Dunia II, Biak Numfor

(7)

Jurnal Arkeologi Papua Vol. 11 No.1 / Juni 2019 v DDC. 930.1

Mekanisme Penyelesaian Konflik Tradisional Sukubangsa Moi

Yudha N Yapsenang, Desy P Usmany (BPNB Papua)

Jurnal Papua Vol. 11, No. 1, Juni 2019, hlm. 57-69

Suku bangsa Moi merupakan salah satu sukubangsa yang berada dalam wilayah adat Bomberay. Di masa lampau dalam budaya sukubangsa Moi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sosial budaya mereka telah disepakati secara bersama-sama beberapa mekanisme penyelesaian konflik/ pertikaian/perselisihan, yaitu teh bless dan kalak foo. Kedua mekanisme ini dimasa lampau sangat sakral, sehingga hasil yang diperoleh mampu menjawab atau menyelesaikan permasalahan atau konflik yang terjadi dalam masyarakat, serta mampu menjamin keharmonisan hidup dalam masyarakat.

Kata kunci: Suku Moi, konflik, teh bless, kalak foo

DDC. 930.1

Tinggalan Megalitik Batu Sukun Mengungkap Cerita Rakyat di Kampung Yepase

Rini Maryone (Balai Arkeologi Papua)

Jurnal Papua Vol. 11, No. 1, Juni 2019, hlm. 71-79

Tulisan ini mengkaji tinggalan megalitik batu sukun dan cerita rakyat di Kampung Yapase . Tujuan penulisan ini adalah dapat mengungkapkan cerita rakyat suku Yakarmilena dan nilai-nilai budaya yang terkandung dari cerita rakyat batu sukun. Metode yang di gunakan adalah metode kualitatif, dengan penalaran induktif. Hasil penelitian berupa sembilan buah batu sukun, terdiri dari satu batu yang berukuran besar merupakan batu ibu dan satu buah batu yang berbentuk arca sebagai anak perempuan, sedangkan enam buah batu berbentuk lonjong lainnya merupakan bantal, dan satu buah batu ceper bercekungan merupakan piring tempat persembahan. Tinggalan arkeologi batu sukun di Kampung Yabase dijadikan sebagai tempat melakukan upacara keagamaan untuk meminta berkah kepada leluhur. Dari cerita rakyat batu sukun ini memiliki nilai-nilai luhur, diantaranya nilai budaya, nilai konseptualisasi, nilai sosial dan nilai religi.

Kata Kunci: Batu sukun, cerita rakyat, Kampung Yapase

(8)

Jurnal Arkeologi Papua Vol. 11 No.1 / Juni 2019 vi

JURNAL PAPUA

ISSN 2085 - 9767

Vol. 11 Edisi No. 1 Juni – 2019

Terakreditasi Nomor 30/E/KPT/2018

Keywords are extracted from article. Abstract may be reproduced without permission and cost.

DDC. 930.1

Geological Study on Sites in Pekalongan, Central Java Province

Muh. Fadhlan Syuaib Intan (Puslit Arkenas, Jakarta)

Jurnal Papua Vol. 11, No. 1, Juni 2019, p. 1-18

Pekalongan the study location, present many cultural remains, one of which is from the Hindu-Buddhist period, which has not gotten any attention of environmental researchers yet. This becomes the basis of the main research problems that cover geology in general. Therefore, the purpose of this research is to carry out surface geological mapping in general as one of the efforts to present geological information, while the aim is to find out the geomorphological aspects, stratigraphy, geological structures that are associated with the existence in archaeological sites of the research area. The research method begins with literature review, surveys, analysis, and interpretation of field data. Environmental observation provides information about the landscape consisting of terrestrial morphology units, weak corrugated morphological units, and strong corrugated morphological units. The river is dendritic, radial and rectangular patterned, with the old-mature river and the old river, periodic/permanent rivers, and episodic/ intermittent rivers. The rock Compositions are alluvial, andesite, basalt, volcanic breccias, and sandstones. The geological structure is in the form of faults, and is joint. The exploration in Pekalongan has found six Hindu-Buddhist sites. Keywords: Environment, geoarchaeological, Hindu-Buddhist archaeology, Pekalongan

DDC. 930.1

Reconstruction of the European Ship Routes in the 16th to 17th Century in Maluku

Archipelago Sutomo, Eddie van Etten (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Edith Cowan University)

Jurnal Papua Vol. 11, No. 1, Juni 2019, p. 19-27

Savanna is a type of ecosystem in the lowlands or highlands, where the community consists of several trees that are spread unevenly and the lower layers are dominated by grasses. Savanna is very common in very dry areas in Nusa Tenggara. However, in some places in Java, Savanna can also be found. The widest Savanna in Java is Savanna in Baluran National Park, East Java. Information about the occurrence and formation (composition of vegetation) of Savanna in Indonesia, especially in wet areas, such as Java, Bali and Lombok, is still very rare. This paper compares and distinguishes the characteristics of vegetation from four Savanna (Java - Bali - Lombok) in the ‘wet’ area ‘which has a higher rainfall than the eastern region where savanna is more common in the Indonesian archipelago, to find out what the vegetation features are like can tell us about the origin, maintenance and age of this savanna. The results of this study indicate there are different gradients in elevation (along with related climatic factors such as temperature and rainfall) and fire regimes associated with floristic composition in Savanna Java, Bali and Lombok. Each Savanna is characterized by a variety of different woody and grass species, where Invasive Alien Species (IAS), such as Acacia nilotica, Lantana camara and Chromolaena odorata, are very important in distinguishing between Savanna and other savannas? The characteristics of the species from Savanna Baluran indicate that this ecosystem may be an old Savanna, while other Savanna may be newly formed and their existence is maintained by fire or fire.

Keywords: Savanna, vegetation, Baluran, antiquity, fire

(9)

Jurnal Arkeologi Papua Vol. 11 No.1 / Juni 2019 vii DDC. 930.1

Reconstruction of the European Ship Routes in the 16th to 17th Century in Maluku Archipelago

Ujon Sujana (BPCB Maluku Utara)

Jurnal Papua Vol. 11, No. 1, Juni 2019, p. 29-46

The issue of the Spice Routes recently been widely discussed by experts and practitioners of cultural heritage and history in Indonesia and some European countries. During this time there have been many discussions about the process of Europeans explorers voyages for spices in the 16th century, or the locations and types of spices that were popular at the time, or the efficacy of the spices themselves. Most concluded that spices were the most sought is cloves and nutmeg from the Maluku Islands. However, there has not been much concrete discussion about the Spice Routes regarding the path itself. Therefore, this paper tries to reconstruct the sailing lanes of European ships in the Maluku Islands. With the historical archaeology approach that is used, can provide a description of the sailing trails that are passed by ships belong to Portuguese, Spanish and Dutch, based on the existence of their forts or strongholds scattered in the Maluku Islands. The European ships choose their respective sailing lines, which were influenced by various factors, one of which is politics. This descriptions of the European ships sailing lanes can at least contribute to the discourse on the Spice Routes. Keywords: Spice routes, Maluku Archipelago, European ships

DDC. 930.1

The remains of World War II in the form of air bases in Biak Numfor Regency

Sonya M. Kawer (Balai Arkeologi Papua) Jurnal Papua Vol. 11, No. 1, Juni 2019, p. 47-55

The remains of World War II in the form of air bases in Biak Numfor Regency are found in three areas of Biak Island, namely on Owi Island, Numfor Island and Biak City. In this study conducted using data collection methods such as surveys, observations, and interviews, to find the remains. The results of an airbase survey conducted on Owi Island were four airbases which were built by Japan and seized by the Allies. There are four air bases on Numfor Island, three built by Japan and one by allies. while in Biak Kota itself there are three air bases built by Japan. The air base is proof that Biak Island is very strategic in terms of location, especially in relation to regional control in the Pacific region. Japanese troops who were under the command of Colonel Naoyuki Kuzume occupied Biak and used the natural landscape of Biak Island as a defense.

(10)

Jurnal Arkeologi Papua Vol. 11 No.1 / Juni 2019 viii

DDC. 930.1

Traditional Solution of Conflict in Moi Tribe

Yudha N Yapsenang, Desy P Usmany (BPNB Papua)

Jurnal Papua Vol. 11, No. 1, Juni 2019, p. 57-69

The Moi people are one of the ethnic groups within the Bomberay customary territory. In the past, in the culture of Moi ethnicity to solve various problems that occur in their social and cultural life, it has been agreed that together several mechanisms for resolving conflicts / disputes / disputes, namely blessing and recitation of foo. Both of these mechanisms in the past were very sacred, so that the results obtained were able to answer or resolve problems or conflicts that occurred in the community, and were able to guarantee harmony in life in the community. Keywords: Moi tribe, conflict, teh bless, kalak foo

DDC. 930.1

The Remains of the Sukun Stone and Folklore in Yapase Village

Rini Maryone (Balai Arkeologi Papua)

Jurnal Papua Vol. 11, No. 1, Juni 2019, p. 71-79

This article examines the remains of the sukun stone and folklore in Yapase Village. The purpose of this paper is to reveal the Yakarmilena folklore and cultural values contained in the sukun stone folklore. The method used is a qualitative method, with inductive reasoning. The results of the study were nine sukun stones, consisting of one large stone which was a mother’s stone and one stone in the shape of a statue as a girl, while six other oval-shaped stones were a pillow, and one flat rock was a plate of o f ferings. Archaeological remains of sukun ston e s in Kampung Yabase serve as a place to perform religious ceremonies to ask for blessings from the ancestors. From the folklore stone sukun has noble values, including cultural values, conceptualization values, social values and religious values.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :