• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kewirausahaan (Teori, motivasi,terapan).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kewirausahaan (Teori, motivasi,terapan)."

Copied!
128
0
0

Teks penuh

I. Pendahuluan: Relevansi Kewirausahaan dalam Pendidikan

Bagian pendahuluan ini membahas pentingnya pendidikan kewirausahaan dalam konteks pembangunan bangsa dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Buku ini menekankan peran UMKM dalam perekonomian nasional, mengutip contoh sukses dari negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat. Diskusi mengenai teori pencapaian keberhasilan oleh McClelland ('need for achieving' atau 'virus N Ach') diintegrasikan, menunjukkan bagaimana motivasi internal dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Terakhir, bagian ini memperkenalkan 10 langkah praktis memulai bisnis dari Jeff dan Richard Sloan, menekankan aspek perencanaan dan persiapan yang matang sebagai kunci keberhasilan. Kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan bisnis yang dinamis dan penuh ketidakpastian juga diangkat sebagai isu krusial.

1.1. Kekayaan Alam dan Potensi Penduduk Indonesia

Indonesia memiliki potensi besar berupa kekayaan alam dan jumlah penduduk yang signifikan. Namun, potensi ini belum sepenuhnya termanfaatkan untuk mencapai kemajuan ekonomi dan teknologi seperti negara-negara maju lainnya. Perbandingan pendapatan per kapita Indonesia dengan negara-negara lain menjadi sorotan, menyingkap kesenjangan yang perlu diatasi melalui pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing. Bagian ini berfungsi sebagai pengantar untuk menjelaskan pentingnya kewirausahaan sebagai solusi untuk mengatasi keterbatasan tersebut dan mendorong kemajuan bangsa.

1.2. Ketertinggalan SDM

Bagian ini membahas keterkaitan antara kualitas SDM dengan tingkat kemakmuran suatu bangsa. Dibandingkan dengan negara-negara tetangga dan negara maju, Indonesia masih tertinggal dalam berbagai aspek, termasuk pendapatan per kapita, teknologi, dan kesejahteraan masyarakat. Analisis komparatif ini menunjukkan betapa pentingnya peningkatan kualitas SDM, khususnya melalui pendidikan dan pengembangan sikap mental yang positif, untuk mengejar ketertinggalan dan mewujudkan kemajuan bangsa. Ini menggarisbawahi pentingnya pendidikan kewirausahaan dalam membentuk SDM yang kompetitif.

1.3. Tantangan Membangun Bangsa

Bagian ini memaparkan tantangan yang dihadapi Indonesia dalam pembangunan nasional, khususnya dalam bidang ekonomi dan teknologi. Persaingan global yang semakin ketat dan keterbatasan sumber daya alam menuntut bangsa Indonesia untuk bekerja keras dan memiliki sikap mental yang maju. Kemajuan teknologi dan ekonomi tidak dapat dicapai tanpa didukung oleh faktor lain, termasuk sikap mental yang positif dan produktif. Ini menekankan perlunya pendidikan kewirausahaan untuk membangun karakter bangsa yang tangguh dan kompetitif dalam menghadapi tantangan global.

II. Mutu & Sikap Mental SDM

Bagian ini mendiskusikan pentingnya mutu dan sikap mental SDM dalam pembangunan bangsa. Disajikan perbandingan antara negara-negara maju dan berkembang, menunjukkan bahwa keberhasilan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam atau jumlah penduduk, tetapi lebih pada kualitas SDM-nya. Sikap kerja keras, disiplin, dan kompetitif menjadi sorotan, dikontraskan dengan sikap mental yang menghambat seperti kemalasan dan apatisme. Contoh dari Korea Selatan yang menekankan pentingnya kerja keras untuk mencapai kemakmuran menjadi inspirasi. Bagian ini menekankan pentingnya pendidikan karakter dan kewirausahaan dalam membentuk individu yang produktif dan kompetitif.

2.1. Kerja Keras atau Malas

Bagian ini membandingkan budaya kerja keras di negara-negara maju dengan kondisi di Indonesia. Di negara maju, kerja keras dan disiplin sangat dihargai, sedangkan di Indonesia, masih ada kecenderungan sikap malas dan kurang disiplin. Perbandingan ini bertujuan untuk menunjukkan pentingnya perubahan sikap mental untuk mencapai kemajuan ekonomi dan teknologi. Pendidikan kewirausahaan diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai kerja keras dan disiplin pada generasi muda.

2.2. Kualitas SDM

Bagian ini membahas hubungan erat antara kualitas SDM (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap mental) dengan kemajuan suatu bangsa. Negara-negara maju memiliki kualitas SDM yang lebih baik dibandingkan negara-negara berkembang, yang tercermin dari tingkat pengetahuan, ketrampilan, dan sikap mental yang lebih maju. Ini menunjukkan perlunya investasi dalam pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM di Indonesia. Pendidikan kewirausahaan berperan penting dalam pengembangan ketrampilan dan sikap mental wirausaha.

2.3. Mental Lemah dan Mental Maju

Bagian ini membedakan antara sikap mental yang menghambat dan sikap mental yang maju. Sikap mental yang menghambat seperti kemalasan dan kecerobohan sangat merugikan dalam era teknologi canggih, sedangkan sikap mental yang maju seperti ketelitian dan ketepatan sangat dibutuhkan. Konsep 'zero mistake' diangkat sebagai ideal dalam konteks pekerjaan modern. Pendidikan kewirausahaan bertujuan untuk mentransformasi sikap mental yang menghambat menjadi sikap mental yang maju dan produktif.

2.4. Waktu: Modal dari Yang Maha Kuasa

Bagian ini membahas pentingnya manajemen waktu dalam mencapai kesuksesan. Efisiensi waktu sangat penting dalam persaingan global, dan keterlambatan dapat menyebabkan kerugian besar. Penggunaan waktu yang bijak dan produktif dikaitkan dengan nilai-nilai keagamaan, menekankan pentingnya kerja keras dan amal saleh. Pendidikan kewirausahaan mengajarkan pentingnya manajemen waktu yang efektif untuk mencapai tujuan.

2.5. Membangun Sikap Mental

Bagian ini menekankan pentingnya membangun sikap mental yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional, terutama dalam konteks industrialisasi. Sikap mental disiplin, sigap, dan cermat sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan global. Perbandingan dengan sikap mental di negara-negara maju seperti Jepang dan Inggris menunjukkan pentingnya kerja keras, komitmen, dan semangat berprestasi. Pendidikan kewirausahaan berperan penting dalam membentuk sikap mental yang dibutuhkan untuk mencapai kemajuan bangsa.

III. Sikap Mental Wirausaha

Bagian ini membahas sikap mental wirausaha yang ideal, menekankan pentingnya nilai-nilai seperti keberanian, tanggung jawab, dan kejujuran. Pendidikan formal masih kurang menekankan aspek pengembangan sikap mental, sehingga pendidikan non-formal dan informal menjadi penting. Kewirausahaan dipandang sebagai upaya untuk menanamkan sikap mental yang positif dan produktif, mendorong individu untuk mandiri dan berkontribusi pada masyarakat. Bagian ini juga membahas pentingnya keseimbangan antara aspek material dan spiritual dalam kehidupan.

3.1. Definisi Wirausaha

Bagian ini mendefinisikan wirausaha berdasarkan berbagai sumber, menekankan aspek inovasi, pengambilan risiko, dan kepemimpinan. Perbedaan antara istilah 'wirausaha' dan 'entrepreneurship' dibahas, meskipun dalam konteks buku ini, kedua istilah tersebut dianggap sinonim. Definisi dari berbagai tokoh seperti Schumpeter dan Suparman Sumahamijaya disajikan, menonjolkan aspek keberanian, kemandirian, dan kreativitas.

3.2. Wirausaha dan Entrepreneurship

Bagian ini membandingkan dan membedakan antara istilah wirausaha dan entrepreneurship. Meskipun sering digunakan secara bergantian, terdapat perbedaan nuansa pada penekanan nilai-nilai moral dan etika. Wirausaha lebih menekankan pada aspek integritas dan tanggung jawab sosial, sementara entrepreneurship cenderung fokus pada aspek bisnis semata. Buku ini mencoba menggabungkan nilai-nilai positif dari kedua konsep tersebut.

3.3. Usaha Swasta dan Mandiri

Bagian ini membahas istilah 'swasta' dan kaitannya dengan wirausaha. Meskipun sering diartikan sama, kedua istilah memiliki konotasi yang sedikit berbeda. Wirausaha menekankan pada sikap mental dan etos kerja, sementara swasta lebih merujuk pada jenis usaha. Buku ini mengkaji pentingnya kemandirian dan usaha dalam konteks pembangunan nasional.

3.4. Wira dan Swasta

Bagian ini mengkaji lebih dalam mengenai arti kata 'wira' dan 'swasta' dalam konteks kewirausahaan. 'Wira' dikaitkan dengan nilai-nilai kepemimpinan, keberanian, dan integritas, sementara 'swasta' menekankan pada kemandirian dan kemampuan untuk berdiri sendiri. Kedua elemen ini penting dalam membentuk karakter wirausaha yang ideal. Buku ini menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai tersebut dalam pendidikan kewirausahaan.

IV. Teori Kewirausahaan

Bagian ini membahas beberapa teori kewirausahaan, termasuk pendekatan neo-klasik, Schumpeterian, Austrian School, dan Kirznerian. Penjelasan singkat dari masing-masing teori, menonjolkan aspek inovasi, pengambilan risiko, dan eksploitasi peluang pasar. Perbandingan teori-teori ini menunjukkan berbagai perspektif dalam memahami fenomena kewirausahaan, memberikan pemahaman yang lebih komprehensif. Ini juga relevan untuk rancangan kurikulum kewirausahaan yang komprehensif.

V. Kesimpulan

Kesimpulan akan merangkum poin-poin penting yang telah dibahas dalam buku, menekankan pentingnya pendidikan kewirausahaan dalam membentuk SDM yang berkualitas, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan membangun karakter bangsa. Rekomendasi untuk pengembangan pendidikan kewirausahaan yang lebih efektif juga akan disertakan.

Gambar

Tabel 2.  Kriteria Peninjauan Proposal Perusahaan Baru
Gambar 1.  Tiga Lingkaran Dalam Perusahaan

Referensi

Dokumen terkait

Aplikasi memiliki dua jenis keluaran, yakni hasil kecocokan aplikasi dengan minat yang dipilih oleh calon mahasiswa dan keluaran kedua adalah saran program studi yang lebih

.524 ** 14 Saya mencoba berbagai metode/cara belajar selama kuliah online .492 ** 15 Saya tidak menerima feedback (penilaian dan masukan) dari dosen .418 ** 16 Kuliah

Madden Jullian Oscillation pada pertengahan hingga akhir Desember 2016 tidak aktif di Benua Maritim Indonesia (BMI) dan diprediksi tetap tidak aktif sampai pertengahan

Dengan adanya program dan kegiatan yang dilaksanakan mulai tahun 2013 sampai dengan tahun 2017 , Pemerintah telah mengupayakan pengoptimalan pelaksanaan program dan kegiatan,

Jadi dapat disimpulkan bahwa sistem informasi akuntansi adalah suatu sistem informasi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan organisasi, khususnya kegiatan yang berkaitan

9 Mewujudkan masyarakat kota Denpasar yang aman, nyaman dan tentram dalam menunjang pembangunan kota yang berwawasan budaya Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Denpasar

Beberapa sifat kemasan yang diinginkan selama distribusi adalah yang sesuai dengan sifat produk yang akan dikemas, mempunyai kekuatan yang cukup untuk bertahan dari resiko

Slide 7-3 Kecurangan Pengendalian internal Prinsip-prinsip aktivitas pengendalian internal Keterbatasan Setara kas Kas yang penggunaannya dibatasi Saldo kompensasi Membuat