• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTRET LULUSAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) PROGRAM KEAHLIAN AKUNTANSI DENGAN DUNIA KERJA DI SMK NEGERI 1 NGAWI.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "POTRET LULUSAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) PROGRAM KEAHLIAN AKUNTANSI DENGAN DUNIA KERJA DI SMK NEGERI 1 NGAWI."

Copied!
292
0
0

Teks penuh

(1)

i

POTRET LULUSAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) PROGRAM KEAHLIAN AKUNTANSI DENGAN DUNIA KERJA

DI SMK NEGERI 1 NGAWI

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh Desy Ria Ningsih NIM 12110241027

PROGRAM STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN

JURUSAN FILSAFAT DAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

v MOTTO

“Barangsiapa menolong Agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan mengukuhkan kedudukannya” (Q.S Muhammad : 7)

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya ...”

(Q.S Al-Baqarah : 286)

Setidak berharganya kamu dimata orang lain, kamu tetap harus berharga dimatamu sendiri. Ingat kamu sangat berharga. (Anonim)

(6)

vi

PERSEMBAHAN

Dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan anugerah-Nya, karya ini ku persembahkan untuk :

1. Kedua orang tuaku tercinta, Bapak Minu dan Ibu Sripah, yang telah memberikan kasih sayang dan cinta yang tiada terputus selama ini, doa dan dukungan baik moriil, spirituil, dan materiil sehingga penulis berhasil menyelesaikan karya tulis ini.

(7)

vii

POTRET LULUSAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) PROGRAM KEAHLIAN AKUNTANSI DENGAN DUNIA KERJA DI SMK

NEGERI 1 NGAWI Oleh :

Desy Ria Ningsih /12110241027

Program Studi : Kebijakan Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) daya serap dan tingkat relevansi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) khususnya program keahlian Akuntansi dengan dunia kerjanya, (2) bagaimana strategi yang dimiliki oleh pihak sekolah guna menjaga dan meningkatkan daya serap dan relevansi lulusan, dan (3) faktor pendukung dan penghambat apa saja yang dihadapi di SMK Negeri 1 Ngawi.

Subjek dari penelitian ini adalah beberapa Wakil Kepala Sekolah, pengelola BKK, pihak jurusan Akuntansi dan Guru BK SMK Negeri 1 Ngawi. Objek dari penelitian ini adalah data penelusuran lulusan SMK Negeri 1 Ngawi dari tahun 2011-2015 dan data penunjang lainnya. Oleh sebab itu, untuk mencapai tujuan penelitian di atas, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan analisis dokumentasi.

Berdasarkan penelitian tersebut ditemukan bahwa daya serap lulusan SMK Negeri 1 Ngawi program keahlian akuntansi cukup tinggi yaitu berada di angka 69,90% per tahun, sedangkan tingkat relevansi program keahlian akuntansi berada pada angka 27,12% jika dibandingkan dengan jumlah lulusan yang bekerja, atau 19,19% jika dibandingkan dengan lulusan secara keseluruhan. Strategi yang digunakan sekolah antara lain pengembangan kultur yang mendukung, pelaksanaan praktek kerja Industri (Prakerin), Kunjungan Industri, Bimbingan karir, BKK, Teaching Factory, dan LSP. Faktor pendukung relevansi lulusan dengan dunia kerjanya antara lain, (1) adanya sarana dan prasarana yang mendukung, (2) tenaga pendidik yang berkualitas, (3) adanya BKK, dan lain sebagainya. Faktor penghambatnya adalah terbatasnya lapangan pekerjaan dan banyaknya pesaing untuk memperoleh pekerjaan.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan karunia berupa rahmat dan nikmat-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan proposal skripsi dengan baik. Tugas Akhir Skripsi ini memiliki judul “Potret Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Program Keahlian

Akuntansi dengan Dunia Kerja di SMK Negeri 1 Ngawi”.

Tujuan penulisan skripsi ini adalah guna memenuhi syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) dan secara umum menambah pengetahuan peneliti dalam hal relevansi pendidikan sehingga besar harapannya dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan selama kurang lebih 2 bulan ( April- Juni 2016) ini bisa memberikan rekomendasi kebijakan baik untuk sekolah maupun untuk instansi terkait untuk perbaikan dan kemajuan pendidikan Indonesia.

Banyak pihak yang membantu dan mendukung penulis dalam proses penyusunan skripsi ini. Atas bantuan dan dukungan serta motivasinya, ucapan terima kasih saya sampaikan kepada :

1. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, yang telah memberikan saya kesempatan untuk dapat melakukan penyusunan skripsi ini.

2. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan, yang telah memberikan sarana dan prasarana, fasilitas, dan telah memberikan ijin penelitian sehingga penyusunan skripsi ini dapat berjalan dengan lancar.

(9)

ix

4. Bapak Drs. Murtamadji, M.Si, selaku dosen pembimbing skripsi yang senantiasa memberikan dukungan moriil dan memberikan bimbingan yang luar biasa dalam penyusunan skripsi ini dari awal hingga akhir penyusunan. 5. Ibu Nany Sutarini, M.Si (almh) dan Bapak Prof. Dr. Achmad Dardiri,

M.Hum, selaku dosen pembimbing akademik yang senantiasa mendampingi proses belajar dan perkuliahan dari awal hingga akhir proses studi.

6. Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah 1 dan 4, Ketua Jurusan Akuntansi, Ketua dan Pengurus Bursa Kerja Khusus (BKK), dan Guru BK sekaligus Pengelola BKK SMK Negeri 1 Ngawi, yang telah mengijinkan peneliti untuk melalukan penelitian dan memperoleh data penelitian, serta memberikan dukungan dan kemudahan selama proses penelitian sehingga sangat membantu dalam penyusunan skripsi.

7. Bapak Minu dan Ibu Sripah, selaku orang tua saya, serta Suminem, selaku kakak saya, yang senantiasa memberikan dukungan moriil, materiil dan spiritual sehingga proses penyusunan skripsi ini berjalan dengan lancar. 8. Sahabat seperjuangan saya, Ida Widiyastuti dan Siti Marfuah, serta Siti

Basriyah, Khusna Uswatun Khasanah, Rani Rahmawati, Ririn Ristiani, ‘Aisyah, Muhammad Nur, dan sahabat lainnya dari BEM KM UNY 2014

(10)

x

9. Teman-teman seperjuangan Kebijakan Pendidikan kelas A angkatan 2012, yang selalu memberikan dukungan, semangat dan motivasi guna memperlancar proses studi dari awal hingga akhir.

10.Seluruh pihak yang telah membantu proses penyusunan skripsi ini dari awal hingga akhir, yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Besar harapan saya, skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi peneliti sendiri khususnya, dan bagi pembaca secara umum. Tak lupa saya haturkan permohonan maaf apabila dalam penyusunan skripsi ini masih terdapat kekurangan, maka dari itu kritik dan saran dari pihak manapun sangat saya harapkan demi perbaikan penyusunan skripsi ini.

Yogyakarta, September 2016

(11)

xi DAFTAR ISI

Hal

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah ... 13

C. Batasan Masalah ... 14

D. Rumusan Masalah ... 14

E. Tujuan Penelitian ... 15

F. Manfaat Penelitian ... 15

BAB II : KAJIAN PUSTAKA A. Daya Serap dan Relevansi Pendidikan ... 19

B. Kebijakan Pendidikan Kejuruan ... 26

C. Pendidikan Kejuruan ... 28

D. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ... 32

E. Program Keahlian Akuntansi ... 40

F. Ketenagakerjaan ... 46

G. Penelitian Yang Relevan ... 52

H. Alur Pikir Penelitian ... 54

(12)

xii

Hal BAB III : METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 62

B. Setting Penelitian ... 63

C. Subyek dan Objek Penelitian ... 64

D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ... 65

1. Teknik Pengumpulan Data ... 65

2. Instrumen Pengumpulan Data ... 67

E. Analisis Data ... 68

F. Uji Keabsahan Data ... 70

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 72

1. Profil SMK Negeri 1 Ngawi ... 72

2. Kultur Sekolah SMK Negeri 1 Ngawi ... 78

3. Profil Program Keahlian Akuntansi ... 86

4. Pemetaan Lulusan SMK Negeri 1 Ngawi tahun 2011-2015 ... 90

5. Daya Serap Lulusan SMK Negeri 1 Ngawi Program Keahlian Akuntansi dalam memenuhi kebutuhan lapangan Pekerjaaan tahun 2011-2015 ... 96

6. Relevansi Lulusan Program Keahlian Akuntansi dengan Lapangan Pekerjaan ... 100

7. Praktek Kerja Industri dan Kunjungan Industri ... 105

a. Praktek Kerja Industri ... 105

b. Kunjungan Industri ... 116

8. Bimbingan Karir ... 121

9. Bursa Kerja Khusus (BKK) ... 127

10. Teaching Factory ... 132

11. Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) ... 139

12. Faktor Pendukung Relevansi Lulusan dengan Lapangan pekerjaan ... 146

(13)

xiii

Hal B. Pembahasan

1. Tingkat Relevansi Lulusan SMK Negeri 1 Ngawi Program

Keahlian Akuntansi dengan Lapangan Pekerjaan ... 161 2. Strategi dalam Upaya meningkatkan Relevansi lulusan dengan

Dunia kerja ... 169 3. Faktor Pendukung dan Penghambat tingkat relevansi lulusan

dengan Lapangan Kerja ... 179 BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Hal Tabel 1. Kompetensi Dasar Pengantar Akuntansi Kurikulum 2013 ... 41 Tabel 2. Minat Masyarakat pada SMK Negeri 1 Ngawi dilihat dari jumlah

pendaftar tahun 2011/2012-2015/2016 ... 75 Tabel 3. Calon Peserta Didik SMK Negeri 1 Ngawi tahun 2016/2017 jalur

PPDB... 86 Tabel 4. Pemetaan Lulusan Program Keahlian Akuntansi tahun 2011-2015 .. 91 Tabel 5. Analisis masa tunggu penempatan BKK SMK Negeri 1 Ngawi

tahun 2014 ... 98 Tabel 6. Daya Serap lulusan program keahlian Akuntansi tahun 2011-2015 .. 99 Tabel 7. Tingkat relevansi rerata program keahlian Akuntansi dibandingkan

dengan program keahlian lain di SMK Negeri 1 Ngawi ... 102 Tabel 8. Daftar instansi yang digunakan untuk Praktek Kerja Industri

Program Keahlian Akuntansi SMK Negeri 1 Ngawi ... 110 Tabel 9. Daftar Nama Asesor Kompentensi LSP SMK Negeri 1 Ngawi ... 145 Tabel 10. Daya Serap Lulusan Program keahlian akuntans tahun

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Hal Gambar 1. Alur Pikir Penelitian ... 54 Gambar 2. Kerangka Pikir Penelitian... 57 Gambar 3. Komponen Analisis data (interactive model) Model Miles and

Huberman ... 68 Gambar 4. Struktur Organisasi Sekolah SMK Negeri 1 Ngawi ... 76 Gambar 5. Struktur Organisasi Program Keahlian Akuntansi SMK Negeri 1

Ngawi ... 88 Gambar 6. Diagaram pemetaan lulusan program keahlian Akuntansi

SMK Negeri 1 Ngawi ... 95 Gambar 7. Diagram baris tingkat relevansi program keahlian Akuntansi

dengan program keahlian lainnya di SMK Negeri 1 Ngawi ... 101 Gambar 8. Struktur Organisasi Bank Mini “Berjuang” SMK Negeri 1

Ngawi ... 135 Gambar 9. Struktur Organisasi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) SMK

Negeri 1 Ngawi ... 141 Gambar 10. Diagram Pie pemetaan lulusan Program Keahlian Akuntansi

SMK Negeri 1 Ngawi ... 165 Gambar 11. Diagram baris pemetaan lulusan Akuntansi dengan Lapangan

pekerjaan ... 166 Gambar 12. Diagram pie relevansi rata-rata lulusan Program keahlian

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Hal

Lampiran 1. Surat perijinan penelitian ... 192

Lampiran 2. Pedoman Pengambilan Data ... 196

Lampiran 3. Panduan Wawancara... 197

Lampiran 4. Pedoman Analisis Dokumentasi ... 205

Lampiran 5. Profil SMK Negeri 1 Ngawi ... 207

Lampiran 6. Data Penelusuran Lulusan SMK Negeri 1 Ngawi ... 213

Lampiran 7. Analisis Data Penelusuruan Lulusan SMK Negeri 1 Ngawi ... 236

Lampiran 8. Transkrip Wawancara ... 244

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Globalisasi yang terjadi saat ini memberikan dampak pada berbagai bidang kehidupan, baik ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan bidang lainnya. Salah satu wujud globalisasi yang dapat dirasakan langsung adalah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang menjadi tantangan bagi seluruh negara, utamanya negara maju dan negara berkembang. Globalisasi merupakan suatu proses mendunia. Globalisasi sendiri berasal dari bahasa inggris yaitu Globalization. Kata "Global" berarti mendunia sedangkan "Lization" berarti proses. Globalisasi mengakibatkan suatu negara semakin kecil, karena kemudahan dalam berinteraksi antarnegara baik dalam bidang perdagangan, teknologi, arus komunikasi, gaya hidup serta interaksi-interaksi lain. Globalisasi memiliki dampak yang dapat dirasakan secara langsung maupun tidak langsung serta dampak positif dan dampak negatif.

(18)

2

terjadinya globalisasi antara lain (a) Informasi yang tak terkendali; (b) Timbulnya sikap yang ala kebarat-baratan; (c) Munculnya sikap individualisme; (d) Berkurang sikap solidaritas, gotong royong, kepedulian dan kesetiakawanan; (e)Perusahaan dalam negeri lebih mementingkan perusahaan dari luar ketimbang perusahaan yang ada dalam negeri membuat perusahaan dalam negeri sulit berkembang; (f) Berkurangnya tenaga kerja pertanian akibat dari sektor industri yang menyerap seluruh petani; dan (g) Budaya bangsa akan terkikis. Demikianlah bagaimana globalisasi memberi pengaruh terhadap seluruh negara di seluruh lapisan dunia ini.

(19)

3

Berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN berdampak pada perdagangan bebas yang mencakup barang dan jasa antar sesama negara anggota ASEAN menjadi tidak terbatas. Hal ini membawa dampak, terutama bagi pekerja ASEAN dalam bidang tenaga medis, arsitek, dokter gigi, perawat, akuntan, tenaga riset dan pariwisata yang kini dapat bekerja di negara-negara yang menjadi anggota ASEAN bila memiliki spesialisasi yang dibutuhkan. Agar pekerja Indonesia tidak kalah bersaing, menurut seorang ekonom, Kresnayana Yahya, dalam www.bbc.com/Indonesia, mengatakan para pekerja harus pandai membekali diri dengan berbagai keterampilan dan kemampuan seperti berbahasa asing terutama bahasa Inggris, dan mengikuti berbagai pelatihan. Dia menambahkan bahwa Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bisa menjadi kesempatan emas bagi profesional Indonesia untuk mendapatkan pengalaman bekerja di luar negeri mulai dari level staf, supervisor, manajer hingga direktur. Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia memang harus dipersiapkan sebaik mungkin, sehingga siap dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada taraf regional Asia Tenggara, maupun dalam menghadapi globalisasi.

(20)

4

menduduki peringkat ke-53 dari 124 negara. Sekalipun pemerintah telah menaikkan sumber anggara pendidikan nasional, setidaknya dua tahun belakangan ini pemerintah telah menunjukkan komitmen melalui kenaikan anggaran pendidikan sebesar 7,5 persen pada APBN 2014 sebesar Rp 371,2 triliun (20,39 persen dari APBN 2014) dibandingkan dengan 2013 yang hanya Rp 345,3 triliun. Porsi sektor pendidikan di APBN-P 2015 meningkat hingga 0,2 persen menjadi Rp 408,5 triliun. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi hingga tingkat kualitas SDM Indonesia tertinggal dari negara lain. Mulai dari kualitas dan kuantitas pendidikan kejuruan yang dimiliki hingga tingkat kemudahan dalam berbisnis yang berpengaruh pada jumlah tenaga kerja yang berwirausaha.

(21)

5

masyarakat Indonesia, baik yang berpendidikan tinggi, maupun bagi mereka yang belum pernah sekolah sekalipun. Selain minimnya lapangan pekerjaan yang ada, hal ini juga menunjukkan bahwa lulusan yang dihasilkan belum memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha atau dunia industri yang ada. Angka di atas dapat dijadikan salah satu sudut pandang untuk menilai bahwa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia masih rendah.

(22)

6

Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, tentu saja tidak lepas dari permasalahan. Mulai dari rendahnya kualitas pendidikan, pemerataan pendidikan, efektifitas dan efisiensi pendidikan, dan relevansi pendidikan yang belum dapat diselesaikan secara tuntas. Masing-masing permasalahan tersebut akan memiliki dampak negatif untuk peningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Salah satu permasalahan yang belum dapat diselesaikan secara tuntas adalah rendahnya relevansi pendidikan di Indonesia. Riskamayanti (2012) menyampaikan bahwa masalah relevansi pendidikan yaitu masalah yang berhubungan dengan kesesuaian atas pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimiliki oleh lulusan suatu sekolah dengan kebutuhan masyarakat (kebutuhan tenaga kerja). Hal ini tidak terjadi maka dampak yang ditimbulkan atas ketidaksesuaian tersebut, atau biasa disebut dampak tidak relevannya pendidikan, yaitu:

1. Bagi perusahaan-perusahaan, setelah melakukan rekruitmen masih harus mengeluarkan anggaran untuk pendidikan atau pelatihan bagi calon karyawannya, karena mereka dinilai belum memiliki keterampilan kerja seperti yang diharapkan.

2. Bagi jenjang pendidikan selanjutnya, banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu yang tidak siap secara kemampuan kognitif dan teknikal untuk melanjutkan ke satuan pendidikan selanjutnya.

(23)

7

4. Jumlah angka pengangguran yang semakin meningkat di Indonesia. Sebagai upaya untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan atas tidak relevansinya pendidikan di Indonesia, serta sebagai upaya untuk mengurangi angka pengangguran di Indonesia, dan untuk menyiapkan tenaga kerja yang siap kerja, maka pemerintah memutuskan untuk menciptakan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sekolah Menengah Kejuruan merupakan jenjang pendidikan yang setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan menekankan pada kompetensi yang dimiliki oleh siswa. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki beberapa rumpun, antara lain Bisnis dan manajemen, Pariwisata, Teknologi Komputer dan Jaringan, dan banyak lainnya. Yang kemudian dari rumpun-rumpun di atas memiliki Program Keahlian masing-masing. Menurut Ace Suryadi, di Indonesia memiliki kebijakan perluasan SMK yang cukup bervariasi dari menteri satu dengan menteri yang selanjutnya. Pada tahun 1990-an sampai tahun 2003, kebijakan perluasan pendidikan menengah kejuruan menganut teori vocational school fallacy karena Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saat itu tidak memiliki pandangan untuk memperluas SMK, namun lebih memandang penting peningkatan relevansi SMK dengan dunia kerja yang dibutuhkan.

(24)

8

dimaksudkan agar jumlah siswa SMK semakin besar dan SMA semakin menurun, sehingga pada tahun 2015 ini proporsi SMA dan SMK yaitu 30:70. Kebijakan ini didasarkan pada asusmsi bahwa lulusan SMK mampu mengembangkan kecakpaan dan keterampilan kerja lulusannya, sedangkan SMA dirancang sebagai program untuk pendidikan akademis yang dirancang agar lulusannya dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

(25)

9

Potensi dan kebutuhan masing-masing wilayah seharusnya menjadi dasar acuan pengembangan program keahlian di SMK. Sesuai dengan tujuan pendidikan SMK, yaitu membekali peserta didik dengan keterampilan tertentu untuk memasuki dunia kerja/dunia usaha, maka pengembangan SMK harus selalu mengacu pada kebutuhan pasar kerja. Namun pengembangan SMK bukan sekedar pada memperbesar jumlah unit SMK dan jumlah siswa, tetapi bagaimana keberadaan SMK jika dikaitkan dengan potensi wilayah daerah. Sudah menjadi masalah klasik bagi dunia pendidikan SMK di Indonesia pada umumnya, bahwa link and match antara output pendidikan SMK dengan dunia usaha/dunia industri (DU/DI) sebagai pengguna output pendidikan SMK belum tercapai. Diantara kebutuhan tersebut, kebutuhan atau tuntutan dunia kerja/usaha/industri, dirasakan amat mendesak, maka prioritas “link and match” diberikan pada pemenuhan kebutuhan dunia. Salah satu masalahnya terletak pada kualitas lulusan SMK yang belum sesuai dengan standar kompetensi yang dibutuhkan pasar tenaga kerja.

(26)

10

pelaksana lembaga keuangan perbankan, pelaksana lembaga keuangan bukan bank, dan lain sebagainya. Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti memiliki ketertarikan untuk melakukan penelitian terkait dengan daya serap dan relevansi SMK, khususnya Program Keahlian akuntasi, yang dikenal sebagai Program Keahlian yang memiliki banyak peminat, dan hampir seluruh SMK di Ngawi memiliki Program Keahlian tersebut, dengan lapangan pekerjaan yang disediakan.

(27)

11

di atas, program keahlian akuntansi seharusnya bekerja di bidang keuangan kelembagaan secara formal, misalnya teknisi akuntansi pelaksana, pelaksana lembaga keuangan perbankan, pelaksana lembaga keuangan bukan bank, dan lain sebagainya.

Salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang terdapat di Kabupaten Ngawi yang memiliki program keahlian akuntansi sebagai program keahlian yang memiliki banyak peminat adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Ngawi. Sebagai salah satu Sekolah Menengah Kejuruan yang bisa dikatakan favorit di Kabupaten Ngawi, sekolah ini beralamat di Jalan Teuku Umar No. 10, Ngawi, Jawa Timur. Terletak tepat di pusat Kabupaten Ngawi, sebelah timur berbatasan dengan Kantor Bupati Ngawi, Sebelah Selatan berbatasan dengan Alun-Alun Kota Ngawi, sebelah Uojiptara berbatasan dengan SMP Negeri 1 Ngawi, serta sebelah barat berbatasan dengan jln. Ronggowarsito, sekolah ini bisa dikatakan sangat strategis.SMK Negeri 1 Ngawi telah memiliki Bursa Kerja Khusus (BKK) untuk menyalurkan lulusannya pada dunia kerja. Bursa Kerja Khusus ini telah memiliki banyak jaringan dengan berbagai perusahaan dan industri baik ditingkat Kabupaten, tingkat provinsi, nasional maupun internasional, sehingga beberapa lulusan dari sekolah lain pun banyak yang mengikuti program dari BKK SMK Negeri 1 Ngawi ini.

(28)

12

(29)

13 B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, maka dapat diketahui beberapa permasalahan, antara lain sebagai berikut ini :

1. Globalisasi dan Masyarakat Ekonomi ASEAN menjadi tantangan untuk pendidikan di Indonesia, utamanya dalam peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)

2. Rendahnya kualitas sumber daya Manusia di Indonesia dalam menghadapi kemajuan teknologi dan informasi.

3. Tingginya angka pengangguran di Indonesia, khususnya pengangguran terdidik mulai dari jenjang SMP sederajat, SMA/SMK sederajat, D3, S1 dan sebagainya.

4. Adanya kesenjangan antara kurikulum SMK dengan kemajuan dunia industri, dunia usaha dan dunia kerja.

5. Banyaknya lulusan SMK yang tidak bekerja sesuai dengan Program Keahlian yang telah ditempuh di SMK.

6. Keberadaan Bursa Kerja Khusus (BKK) di SMK Negeri 1 Ngawi, belum menjadikan jaminan bahwa lulusan dari SMK Negeri 1 Ngawi dapat bekerja sesuai dengan program keahlian.

7. Banyak lulusan SMK, khususnya Program Keahlian akuntansi yang tidak bekerja sesuai dengan bidang keahliannya.

(30)

14 C. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini peneliti memberikan batasan masalah berupa batasan masalah Konseptual dan batasan Kontekstual. Batasan Konseptual dari penelitian ini adalah Daya Serap dan Relevansi Lulusan SMK Program Keahlian Akuntansi dengan lapangan kerja. Sedangkan batasan kontekstualnya adalah menelusuri lulusan SMK Negeri 1 Ngawi Program Keahlian Akuntasi dari tahun 2011-2015.

D. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana Daya Serap dan Relevansi Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Program Keahlian Akuntasi dengan lapangan pekerjaan di SMK Negeri 1 Ngawi ?

2. Bagaimana strategi Sekolah dalam menjaga dan meningkatkan Daya Serap dan Relevansi Program Keahlian Akuntansi dengan Lapangan pekerjaan di SMK Negeri 1 Ngawi ?

(31)

15 E. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :

1. Daya serap dan relevansi lulusan SMK Program Keahlian Akuntansi dengan Lapangan Pekerjaan di SMK Negeri 1 Ngawi.

2. Langkah strategis sekolah dalam menjaga dan meningkatkan daya serap dan relevansi lulusan SMK program keahlian akuntansi dengan lapangan pekerjaan di SMK Negeri 1 Ngawi.

3. Faktor pendukung dan penghambat guna meningkatkan daya serap dan relevansi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Program Keahlian Akuntasi dengan lapangan pekerjaan di SMK Negeri 1 Ngawi.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini antara lain : 1. Untuk Peneliti

a. Peneliti dapat mengetahui bagaimana daya serap dan relevansi pendidikan, khususnya lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan Lapangan Pekerjaan yang ada di SMK Negeri 1 Ngawi.

b. Peneliti dapat mengetahui informasi terkait relevansi antara Program Keahlian akuntansi dengan lapangan pekerjaan yang terdapat di SMK Negeri 1 Ngawi.

(32)

16

dan meningkatkan relevansi lulusan SMK, program keahlian Akuntansi, dengan lapangan pekerjaan di SMK Negeri 1 Ngawi. d. Peneliti dapat mengetahui tentang faktor pendukung dan

penghambat guna meningkatkan relevansi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Program Keahlian Akuntasi dengan lapangan pekerjaan di SMK Negeri 1 Ngawi.

2. Untuk Instansi

a. Untuk Dinas Pendidikan Kabupaten Ngawi

Sebagai informasi yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan khususnya pada Bidang Pendidikan Menengah dan Tinggi, Dinas Pendidikan Kabupaten Ngawi, khususnya terkait dengan daya serap dan relevansi SMK dengan lapangan pekerjaan di SMK Negeri 1 Ngawi, khususnya program keahlian Akuntansi. b. Untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Ngawi

1) Sebagai informasi terkait dengan daya serap dan relevansi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), khususnya program keahlian Akuntansi dengan dunia kerja.

2) Sebagai pengetahuan baru, terkait dengan strategi yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah untuk menjaga dan meningkatkan daya serap dan relevansi pendidikan, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan lapangan pekerjaan. 3) Sebagai informasi yang dapat digunakan untuk mengambil

(33)

17

daya serap dan relevansi pendidikan, khususnya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masing-masing, guna menciptakan penyelenggaraan pendidikan kejuruan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan.

4) Sebagai informasi terkait faktor pendukung dan penghambat guna meningkatkan daya serap dan relevansi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Program Keahlian Akuntasi dengan lapangan pekerjaan di SMK Negeri 1 Ngawi.

5) Sebagai alternatif untuk memecahkan permasalahan yang terdapat di SMK Negeri 1 Ngawi khususnya yang berkaitan dengan daya serap dan relevansi lulusannya dengan dunia kerja. 3. Untuk Masyarakat Umum

a. Sebagai Informasi untuk masyarakat dalam upaya pencerdasan dan penyadaran terkait daya serap dan relevansi pendidikan, dalam hal ini lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan lapangan pekerjaan di SMK Negeri 1 Ngawi.

b. Memberi motivasi pada masyarakat, utamanya pada penyelenggaraan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang baik, bukan hanya pada proses saja, namun juga sampai pada output dan outcome.

(34)

18

meningkatkan relevansi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) utamanya program keahlian Akuntansi.

(35)

19 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Daya Serap dan Relevansi Pendidikan

Langeveld dalam Hasbullah (2006: 2) menyatakan bahwa pendidikan merupakan setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak dengan tujuan untuk mendewasakan anak tersebut, atau dengan kata lain membantu anak agar cukup terampil dalam melaksanakan tugas dan dapat hidup secara mandiri. Undang-Undang No. 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa :

“pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi didirnya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”

Crow and Crow, dalam Nanang Fattah (2012: 39), menyampaikan bahwa pendidikan seharusnya memiliki fungsi yang dikenali sebagai panduan dan pedoman bagi pembelajar, bersifat menyeluruh mulai dari tahapan keinginan, kebutuhan dan potensi yang akan memastikan dirinya suatu kepuasan pribadi dan pola hidup sosial yang diharapkan. Nanang Fattah (2012: 40) pendidikan diarahkan dalam upaya untuk beberapa hal berikut ini.

a. Pengembangan Manusia sebagai Makhluk Individu

(36)

20

berbagai hal seperti konsep, generalisasi, kreativitas, keterampilan, dan lain sebagainya agar ranah kognitif, afektif, dan psikomotor dapat berkembang secara optimal.

b. Pengembangan manusia sebagai makhluk sosial

Selain berkembang sebagai makhluk individu, manusia juga perlu melakukan interaksi sosial dengan sesamanya. Pendidikan memiliki peran untuk mengembangkan suatu keadaan yang seimbang antara aspek individu dan aspek sosial manusia.

c. Pengembangan manusia sebagai makhluk susila

Melalui pendidikan dikembangkan manusia yang memiliki tata susila, anak didik diupayakan untuk mendukung norma kaidah dan nilai-nilai susila serta sosial yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.

d. Pengembangan manusia sebagai makhluk beragama

Pendidikan diusahakan mampu untuk mengembangkan dan membekali anak didiknya untuk memahami agama yang dianutnya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

e. Pengembangan manusia sebagai makhluk profesi

Manusia secara umum dituntut untuk dapat hidup dengan memiliki keahlian dan keterampilan. Dalam hal ini, pendidikan memiliki peran untuk membekali anak didik dengan berbagai keahlian yang dapat dijadikan bekal hidupnya dan menjadi lebih bermartabat.

(37)

21

memperoleh keterampilan untuk dapat memperoleh profesi atau pekerjaan. Terkait dengan hal tersebut, maka pendidikan akan terkait dengan bagaimana menciptakan lulusan yang dapat diterima di masyarakat secara umum maupun dalam dunia kerja secara khusus. Oleh karena itu, daya serap lulusan suatu instansi pendidikan menjadi hal yang perlu diperhatikan guna menjaga kualitas pendidikan secara umum.

Daya serap lulusan yang dimaksud disini adalah bagaimana lulusan dari suatu instansi pendidikan, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), mampu diterima di dunia kerja. Dalam mendukung daya serap lulusan SMK, maka inovasi terkait pendidikan kejuruan telah dilaksanakan, yaitu perubahan dari pendekatan supply driven ke pendekatan demand driven. Wardiman Djojonegoro (1998: 70), demand driven justru mengharapkan pihak dunia usaha, dunia industri dan dunia kerja memiliki peran yang menentukan, mendorong dan menggerakan pendidikan kejuruan, karena pihak yang lebih berkepentingan dari sudut kebutuhan tenaga kerja.

(38)

22

memiliki kualifikasi yang sama atau sejajar dengan manusia lain, baik dalam taraf nasional, regional, maupun pada taraf Internasional.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 943) menyatakan bahwa relevansi memiliki arti hubungan; kesesuaian; kaitan dengan tujuan; berguna secara langsung dengan apa yang dibutuhkan. Secara ajektif, relevansi memiliki arti (1) terkait dengan apa yang sedang terjadi atau dibahas; (2) benar dan atau sesuai untuk tujuan tertentu. Sebagai kata benda, relevansi memiliki arti tingkat kerterkaitan atau kebermaknaan sesuatu dengan apa yang terjadi atau dibahasnya.

Relevansi pendidikan adalah tingkat keterkaitan tujuan maupun hasil keluaran program ditinjau dari ukuran ideal secara normatif yang didukung oleh ketepatan unsur masukan, proses, dan keluaran. Hal ini tertulis dalam Panduan Akreditasi tahun 2004 dalam Ali Muhson,dkk (2012: 46). Oemar Hamalik (2013: 45) menyampaikan bahwa relevansi harus berkaitan dengan masalah dunia kerja (vocation), kependudukan (citizenship), dan berbagai aktivitas masyarakat lainnya yang menyangkut budaya, sosial, politik dan sebagainya. Riskamayanti (2013) menyampaikan bahwa relevansi pendidikan adalah sejauh mana sistem pendidikan yang telah diimplementasikan dapat mencetak luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.

(39)

23

relevansi pekerjaan dengan latar belakang pendidikan, manfaat mata pelajaran yang terdapat dalam kurikulum dengan pekerjaan yang diperoleh, saran lulusan untuk perbaikan kompetensi lulusan. Relevansi lulusan juga dapat dinilai melalui pendapat dari pihak pengguna lulusan tentang kepuasan pengguna lulusan, kompetensi lulusan, dan saran lulusan untuk perbaikan kompetensi lulusan.

Rizha S. Sadjad dalam Ali Muhson, dkk (2012: 47) menyatakan bahwa relevansi merupakan komponen yang terpenting karena relevansi merupakan faktor yang menentukan eksistensi dari lembaga pendidikan yang bersangkutan. Suatu lembaga pendidikan, misalnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) akan dikatakan baik atau buruk berdasarkan dari faktor relevansi, yaitu seberapa besar sekolah tersebut keseluruhan atau sebagian besar dari lulusannya dapat diserap dalam lapangan kerja yang tersedia dan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki, baik ditingkat lokal, nasional, regional, maupun pada taraf internasional. Ketika luaran pendidikan, SMK, dapat mengisi lapangan pekerjaan yang dibutuhkan maupun seluruh aspek pembangunan yang dibutuhkan, seperti sektor produksi, maka relevansi pendidikan tersebut dapat dikatakan tinggi.

(40)

24

1. Isi atau kurikulum yang dipelajari dalam sekolah dasar mungkin tidak begitu penting dalam bersedianya siswa dalam belajar sendiri merupakan kompetensi dasar yang harus dimiliki

2. Tingkat relevansi, jika itu dapat tercapai akan sedikit memberi manfaat ketika biaya dan kelayakan diabaikan.

3. Upaya untuk membuat isi atau kurikulum yang relevan dengan kebutuhan terlalu singkat untuk melakukan pendekatan vokasional sebuah bentuk dapat menjadi dan seringnya terjadi disfungsi

Relevansi pendidikan disini berhubungan dengan dunia kerja dan atau dunia industri maupun dengan dunia pendidikan. Riskamayanti (2012) menyampaikan bahwa relevansi pendidikan dapat dilihat dengan mengikuti alur input-proses-output. Masukan (input) dalam komposisi tertentu yang diproses dengan metode tertentu akan membuahkan dua macam hasil, yaitu hasil jangka pendek (output) dan hasil jangka panjang (outcome).

1. Input pendidikan terdiri atas kurikulum, siswa/peserta didik, guru/tenaga pendidik, sarana-prasarana, dana, dan masukan lain. 2. Proses pendidikan meliputi seluruh proses pembelajaran yang

terjadi sebagai bentuk interaksi dari berbagai input pendidikan. 3. Hasil pendidikan (output) mencakup antara lain kemampuan

peserta didik, yang dapat diukur melalui prestasi belajar siswa. 4. Outcome pendidikan antara lain peningkatan mutu lulusan, yang

(41)

25

ke jenjang pendidikan berikutnya dan jumlah lulusan yang dapat bekerja. Oleh karena itu, mutu input dan mutu proses merupakan faktor penentu mutu hasil, baik yang berupa hasil jangka pendek maupun hasil jangka panjang.

Beberapa faktor yang berkenaan dengan input pendidikan dapat dikelompokkan kedalam faktor rumah atau keluarga, faktor sekolah, dan faktor siswa. Diantara ketiganya, sekolah merupakan komponen input yang paling erat hubungannya dengan kebijakan pendidikan. Kriteria relevansi seperti yang dinyatakan tersebut cukup ideal jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumnya dan gambaran tentang kerjaan yang ada antara lain sebagai berikut:

1. Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya.

2. Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada ialah siap kembang.

(42)

26

apakah instansi atau jurusan tersebut memiliki relevansi yang rendah atau tinggi.

B. Kebijakan Pendidikan Kejuruan

Kebijakan pendidikan merupakan bagian dari kebijakan publik yang berfokus pada aspek pendidikan. H.A.R Tilaar (2008: 140) menyampaikan bahwa :

“kebijakan pendidikan merupakan keseluruhan proses dan hasil perumusan langkah-langkah strategis pendidikan yang dijabarkan dari visi, misi pendidikan, dalam rangka untuk mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan dalam suatu masyarakat untuk suatu kurun waktu tertentu”

Struktur kebijakan makro pelaksanaan pendidikan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Standart Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003. Dalam Undang-Undang Standart Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 pasal 15, menyatakan bahwa jenjang pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus. Pasal 18 Undang-undang Sisdiknas ayat (2) dan (3) menyebutkan bahwa pendidikan menengah terdiri dari pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah (MA), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.

(43)

27

dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, akhlak mulia, dan kepribadian luhur, (b) meningkatkan, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air, (c) membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan para profesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat, (d) meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni, (e) menyalurkan minat dan bakat dibidang olahraga dan (f) meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk hidup mandiri di Masyarakat.

Sasaran dan tujuan pendidikan kejuruan diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 19 Tahun 2005 Pasal 26 ayat 3 sebagai pendidikan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan bidang kejuruannya. Terkait dengan kerangka kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 70 tahun 2013, tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK)

(44)

28

pembelajaran keahlian tertentu beserta evaluasi berbasis kompetensi, yang mempersiapkan siswa menjadi tenaga kerja setingkat teknisi.

C. Pendidikan Kejuruan

Pendidikan kejuruan merupakan bagian dari program yang dirancang untuk menyiapkan individu untuk pekerjaan yang menguntungkan sebagai pekerja semi trampil atau trampil penuh atau teknisi atau bagian dari profesionalis yang dibutuhkan dalam pekerjaan atau jabatan baik untuk jabatan baru atau jabatan atau pekerjean mendesak ( Putu Sudira, 2012:10). Definisi Pendidikan kejuruan yang dikemukakan dalam United States Congress, dalam Wardiman Djojonegoro (1998: 34), merupakan salah satu program pendidikan yang secara langsung dapat dikaitkan dengan penyiapan seseorang untuk suatu pekerjaan tertentu atau merupakan pendidikan untuk mempersiapkan karir seseorang. Dari pengertian ini, dapat diartikan bahwa pendidikan kejuruan merupakan suatu proses pendidikan yang memiliki tujuan untuk menyiapkan peserta didik yang ada dalam memasuki dunia kerja.

(45)

29

Wardiman Djojonegoro (1998: 36), menyampaikan bahwa pendidikan kejuruan memiliki tujuan untuk : (a) memenuhi kebutuhan masyarakat akan tenaga kerja; (b) meningkatkan pilihan pendidikan bagi setiap individu; dan (c) mendorong motivasi untuk terus belajar.

Tujuan pendidikan kejuruan juga dijabarkan secara lebih rinci dalam Keputusan Mendikbud No 0490/U/1990, antara lain adalah sebagai berikut: 1) mempersiapkan siswa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan/atau memperluas pendidikan dasar, 2) meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan sekitar; 3) meningkatkan kemampuan siswa untuk dapat mengembangkan diri sejalan dengan pengembangan ilmu, teknologi dan kesenian, dan 4) menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan pekerjaan (Wardiman Djojonegoro, 1998: 36). Tujuan pendidikan kejuruan yang dimaksudkan disini, jika dilihat dari ketiga rumusan di atas, adalah untuk mempersiapkan peserta didik agar siap dan mampu secara kognitif, afektif dan psikomotor untuk dapat mengembangkan kemampuan diri sehingga memiliki kompetensi keahlian yang dibutuhkan oleh masyarakat.

(46)

30

didik, (3) menyiapkan peserta didik agar menjadi warga negara yang mandiri dan bertanggung jawab, (4) menyiapkan peserta didik agar memahami dan menghargai keanekaragaman budaya bangsa Indonesia, dan (5) menyiapkan peserta didik agar menerapkan dan memelihara hidup sehat, memiliki wawasan lingkungan, pengetahuan dan seni.

Tujuan khusus dari pendidikan kejuruan antara lain : (1) menyiapkan peserta didik agar dapat bekerja, baik secara mandiri atau mengisi lapangan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah, sesuai dengan bidang dan program keahlian yang diminati, (2) membekali peserta didik agar mampu memilih karir, ulet dan gigih dalam berkompetensi dan mampu mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang diminati, dan (3) membekali peserta didik dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) agar mampu mengembangkan diri sendiri melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Kompetensi lulusan pendidikan kejuruan sebagai subsistem dari sistem pendidikan nasional menurut Depdikbud (2001) adalah :

(1) penghasil tamatan yang memiliki keterampilan dan penguasaan IPTEK dengan bidang dari tingkat keahlian yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan,

(47)

31

(3) penghasil penggerak perkembangna industri Indonesia yang kompetitif menghadapi pasar global,

(4) penghasil tamatan dan sikap mental yang kuat untuk dapat mengembangkan dirinya secara berkelanjutan.

Muhyadi dkk (2011: 1) menyatakan bahwa paradigma pendidikan kejuruan sangat berbeda dengan pendidikan umum. Pendidikan kejuruan (education for earning living) menekankan pada pendidikan yang menyesuaikan dengan permintaan pasar (demand driven). kebersambungan (link) diantara pengguna lulusan pendidikan dan penyelenggara pendidikan serta kecocokan (match) diantara employee dengan employer menjadi dasar penyelenggaraan dan ukuran keberhasilan pendidikan kejuruan. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan kejuruan dapat dilihat dari tingkat mutu dan relevansi yaitu jumlah penyerapan lulusan dan kesesuaian bidang pekerjaan dengan bidang keahlian yang dipilih dan ditekuninya.

(48)

32

mengembangkan karir dimasa yang mendatang. Pendidikan kejuruan juga diharapkan mampu memberikan manfaat bagi dunia kerja secara langsung maupun bagi masyarakat secara umum. Bagi dunia kerja, pendidikan kejuruan memiliki manfaat yaitu memperoleh tenaga kerja yang berkualitas tinggi, meringankan biaya usaha, serta membantu memajukan dan mengembangkan usaha (Wardiman Djojonegoro, 1998: 37)

D. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah lembaga pendidikan formal setingkat SMA. SMK ini menyelengarakan pendidikan kejuruan pada jenjang menengah sebagai lanjutan dari sekolah menengah pertama atau sederajat. Berbeda dengan SMA, SMK mempelajari materi dan banyak di prakteknya. SMK merupakan jenis pendidikan menengah yang secara khusus mempersiapkan tamatannya untuk menjadi tenaga terampil dan siap terjun ke dalam masyarakat luas.

Secara kelembagaan, SMK atau Sekolah Menengah Kejuruan merupakan sekolah yang memiliki orientasi yang sangat jelas, yaitu menyiapkan peserta didik utnuk memasuki dunia kerja dengan menguasai keahlian kejuruan tertentu sesuai dengan pilihan siswa. (Dedi Supriadi, 2004: 197). Peraturan Pemerintah No 17 Tahun 2010 tentang penyelenggaraan pendidikan, menyebutkan bahwa :

(49)

33

sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama atau setara SMP atau MTs.”

Sampai saat ini, setidaknya terdapat enam bidang pekerjaan yang disiapkan pendidikan dan pelatihannya melalui pendidikan menengah kejuruan. Bidang tersebut antara lain : (1) bidang keahlian teknologi dan rekayasa; (2) bidang keahlian teknologi informasi dan komunikasi; (3) bidang keahlian kesehatan; (4) bidang keahlian seni, kerajinan, dan pariwisata; (5) bdiang keahlian agrobisnis dan agroteknologi; dan (6) bidang keahlian bisnis manajemen. (Putu Sudira, 2012: 46).

Wardiman Djojonegoro (1998: 59) berpendapat bahwa, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam rangka mengembangkan sumber daya manusia (SDM), maka SMK dapat diandalkan untuk memegang peranan dan tugas sebagai berikut :

1. Menghasilkan tamatan yang memiliki keterampilan dan penguasaaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), dengan bidang dan tingkat keahlian yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, serta mengisi kebutuhan Dunia usaha, Dunia Industri maupun usaha mandiri. 2. Menghasilkan tamatan yang memiliki kemampuan produktif, keahlian

(50)

34

3. Menghasilkan tamatan yang berkualitas tinggi dan memiliki keunggulan, dan mampu berperan dalam peningkatan kemampuan kompetisi Indonesia dalam menghadapi persaingan global.

4. Menghasilkan tamatan yang memiliki bekal dasar pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang kuat, dan memadai bagi tamatan SMK sehingga dapat mengembangkan kemampuan diri secara berkelanjutan.

Standar Pelayanan Minimal merupakan tolok ukur kinerja pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh daerah. Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional no 129a/U/2004, Standar Pelayanan Minimal Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pasal 4 ayat (2) adalah sebagai berikut.

1. Angka Putus Sekolah (APS) tidak melebi 1 persen dari jumlah siswa yang bersekolah.

2. 90 persen sekolah memiliki sarana dan prasarana minimal sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan secara nasional

3. 80 persen sekolah memiliki tenaga kependidikan non guru untuk melaksanakan tugas administrasi dan kegiatan non mengajar lainnya. 4. 90 persen dari jumlah guru SMK memiliki kualifikasi sesuai dengan

kompetensi yang ditetapkan secara nasional.

5. 100 persen siswa memiliki buku pelajaran yang lengkap setiap mata pelajaran.

(51)

35

7. 20 persen dari lulusan SMK melanjutkan ke perguruan tinggi yang terakreditasi

8. 20 persen dari lulusan SMK diterima di dunia kerja sesuai dengan keahliannya.

Berdasarkan Perarturan Pemerintah Tahun 2005, Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah kejuruan (SMK) bertujuan untuk meningkatkan kercerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. Tujuan ini kemudian dirumuskan dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) satuan pendidikan menengah kejuruan lebih lanjut dalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006. Standar Kompetensi Lulusan SMK dirumuskan dalam 23 butir, antara lain :

1. Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja;

2. Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya;

3. Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya;

4. Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial;

(52)

36

6. Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif;

7. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan keputusan;

8. Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri;

9. Menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik;

10.Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah yang kompleks;

11.Menunjukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial ; 12.Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan

bertanggungjawab;

13.Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia;

14.Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya; 15.Mengapresiasi karya seni dan budaya;

16.Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok; 17.Menjaga kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta

kebersihan lingkungan;

(53)

37

19.Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat;

20.Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain;

21.Menunjukkan ketrampilan membaca dan menulis naskah secara sisematis dan estetis;

22.Menunjukkan ketrampilan menyimak, membaca, menulis dan berbicara dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris; 23.Menguasai kompetensi program keahlian dan kewirausahaan

baik untuk memenuhi tuntutan dunia kerja maupu untuk mengikuti pendidikan tinggi sesuai dengan kejuruannya. Tujuan pendidikan menengah kejuruan dan 23 SKL SMK merupakan tuntutan kompetensi yang harus dimiliki dan dikuasai oleh siswa lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai pendidikan untuk dunia kerja. Kegiatan instruksional di SMK dikembangkan untuk membangung SKL pada setiap individu siswa. SKL nomor 1 sampai 22 merupakan standar kompetensi yang berlaku secara umum bagi setiap lulusan SMK, apapun jurusan dan bidang keahliannya. Sedangkan SKL nomor 223 merupakan standar kompetensi spesifik per bidang dan/ atau program keahlian sebagai penciri pendidikan untuk dunia kerja (work-based-education) (Putu Sudira, 2012: 61).

(54)

38

keahlian yang sesuai dengan program keahliannya masing-masing. Dilihat secara umum, penyelenggaraan SMK seharusnya mengandung setidaknya 3 muatan, antara lain :

1. Kompetensi produktif, merupakan ketrampilan yang dimiliki oleh peserta didik SMK yang mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja sehingga lulusan SMK mampu bekerja setelah menempuh pendidikan SMK.

2. Memiliki keunggulan, merupakan kompetensi yang dapat digunakan sebagai faktor keunggulan kompetitif menghadapi persaingan, dan sebagai modal kuat untuk menjalin kerjasama.

3. Memiliki bekal dasar pengetahuan, keterampilan dan sikap, sebagai bekal dasar menguasai perkembangan IPTEK, dan sebagai bekal dasar untuk penyesuaian diri menghadapi perubahan (Wardiman Djojonegoro, 1998: 67)

(55)

39

merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan; 5) Mampu bekerjasama dalam kerja kelompok; 6) Mampu memecahkan masalah; 7) Berpikir logis dan mampu menggunakan teknik-teknik matematika; serta 8) Menguasai bahasa komunikasi global (Bahasa Inggris).

Hadiwaratama, dalam Putu Sudira (2012: 53), landasan penyelenggaraan pendidikan kejuruan dapat dialurkan dalam 4 (empat) proses. Keempat proses ini harus termuat dalam proses belajar mengajar, baik di sekolah maupun di dunia usaha dan/atau industri. Keempat proses tersebut antara lain adalah berikut ini :

1. Transfer of knowledge

Merupakan proses mengalihan atau penimbaan ilmu melalui teori-teori yang disampaikan melalui proses belajar dan mengajar

2. Digestion of knowledge

Merupakan proses pemaknaan atau mencerna ilmu yang telah diperoleh melalui tugas-tugas, pekerjaan rumah maupun tutorial. 3. Validation of knowledge

Merupakan proses pembuktian ilmu yang telah diperoleh melalui percobaan-percobaan yang dilakukan di laboratorium maupun di bengkel-bengkel yang telah disediakan. Percobaan ini dapat dilakukan baik secara empiris maupun secara visual.

4. Skill development

(56)

40

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ada merupakan salah satu alternatif yang bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia, khususnya dalam menghadapi dunia kerja dan dunia industri. Penyelenggaraan SMK sendiri tidak hanya tentang pengajaran di dalam kelas saja (bersifat teori) namun juga dilengkapi dengan praktik, baik praktik yang dilakukan dalam sekolah, maupun praktik secara langsung dengan dunia kerja, misalnya dengan program PSG (Pendidikan Sistem Ganda) atau Prakerin (Praktek Kerja Industri). Peserta didik dituntut untuk terjun langsung dalam dunia kerja yang disesuaikan dengan kompetensi keahlian yang sedang ditekuni oleh peserta didik tersebut dalam pelaksanaan PSD. Oleh karena hal di atas, maka dapat dikatakan bahwa penyelenggaran SMK yang ada saat ini sudah cukup komprehensif untuk mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi dunia kerja.

E. Program Keahlian Akuntansi

Jurusan/ program keahlian akuntansi merupakan bagian dari bidang keahlian bisnis dan manajemen. Pekerjaan yang sesuai atau yang relevan dengan jurusan Akuntansi antara lain adalah teknisi akuntansi pelaksana, pelaksana lembaga keuangan perbankan, pelaksana lembaga keuangan bukan bank, dan lain sebagainya (Putu Sudira, 2012: 53).

(57)

41

diketahui bahwa kurikulum untuk program keahlian akuntansi dapat dilihat dari tabel berikut ini.

Tabel 1. Kompetensi Dasar Pengantar Akuntansi dalam Kurikulum 2013

KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR

KELAS: X 1. Menghayati dan

mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

1.1Menunjukkan keimanan sebagai rasa syukur dan keyakinan terhadap kebesaran Sang Pencipta karena menyadari

keteraturan dan kompleksitas alam dan jagad raya yang diatur oleh Sang Pencipta. 1.2Menyadari kebesaran Tuhan yang

menciptakan alam semesta dan semua unsur di dalamnya.

2.1Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam menemukan dan memahami pengetahuan dasar tentang ilmu yang dipelajarinya. 2.2Menunjukkan perilaku ilmiah (disiplin,

jujur, teliti, tanggung jawab, obyektif, kritis, kreatif, inovatif, santun, peduli dan ramah lingkungan) dalam melakukan pekerjaan sebagai bagian dari sikap ilmiah.

(58)

42

3.1Menjelaskan pengertian, fungsi dan jenis uang

3.2Menjelaskan tujuan, fungsi dan peranan keuangan dalam perusahaan

3.3Menjelaskan posisi bidang keuangan dalam struktur organisasi perusahaan 3.4Menjelaskan jabatan/karier dalam bidang

keuangan perusahaan

3.5Menjelaskan bentuk-bentuk alternatif organisasi bisnis

3.6Menjelaskan sumber-sumber keuangan perusahaan

3.7Menjelaskan sistem dan prosedur penggunaan dana perusahaan

3.8Menjelaskan pasar uang dan pasar modal 3.9Menjelaskan penganggaran modal melalui

pembiayaan tunai, kredit dan sewa (leasing)

3.10 Menjelaskan nilai waktu dari uang

4. Mengolah,

4.2Mengevaluasi fungsi dan peran keuangan di berbagai perusahaan

4.3Mengidentifikasi posisi bidang keuangan dalam struktur organisasi perusahaan

4.7Mengidentifikasi sistem dan prosedur dalam penggunaan dana

(59)

43

4.9Mengevaluasi penganggaran modal

melalui pembiayaan tunai, kredit dan sewa (leasing)

4.10 Menghitung nilai uang sekarang dan nilai uang masa depan

KELAS XI 1. Menghayati dan

mengamalkan ajaran agama yang

dianutnya

1.1Menunjukkan keimanan sebagai rasa syukur dan keyakinan terhadap kebesaran Sang Pencipta karena menyadari

keteraturan dan kompleksitas alam dan jagad raya yang diatur oleh Sang Pencipta. 1.2Menyadari kebesaran Tuhan yang

menciptakan alam semesta dan semua unsur di dalamnya.

2.1Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam menemukan dan memahami pengetahuan dasar tentang ilmu yang dipelajarinya. 2.2Menunjukkan perilaku ilmiah (disiplin,

jujur, teliti, tanggung jawab, obyektif, kritis, kreatif, inovatif, santun, peduli dan ramah lingkungan) dalam melakukan pekerjaan sebagai bagian dari sikap ilmiah.

(60)

44

3.1Menjelaskan pengertian , tujuan dan peran akuntansi

3.2Menjelaskan pihak-pihak yang membutuhkan informasi akuntansi 3.3Menjelaskan profesi dan jabatan dalam

akuntansi

3.4Menjelaskan bidang-bidang spesialisasi akuntansi

3.5Menjelaskan jenis dan bentuk badan usaha 3.6Menjelaskan prinsip-prinsip dan konsep

dasar akutansi.

3.7Menjelaskan tahapan proses pencatatan 3.8Menjelaskan transaksi bisnis perusahaan 3.9Menerapkan persamaan dasar akuntansi 3.10 Menjelaskan pengertian, jenis, fungsi ,

dan pengodean akun serta hubungan akun dengan persamaan dasar akutansi

3.11 Menjelaskan pencatatan transaksi

4.1Mengevaluasi peran akuntansi di berbagai usaha

4.2Mengklasifikasi berbagai pihak yang membutuhkan informasi berdasarkan jenis informasinya

4.3Mengklasifikasi berbagai profesi bidang akuntansi berdasarkan jabatannya 4.4Menggolongkan berbagai bidang

spesialisasi akuntansi

(61)

45 melaksanakan tugas

spesifik di bawah pengawasan langsung.

4.6Menggunakan prinsip-prinsip dan konsep dasar akutansi untuk kasus-kasus

keuangan

4.7Melakukan langkah-langkah pencatatan transaksi

4.8Mengklasifikasi berbagai transaksi bisnis 4.9Melakukan perubahan persamaan dasar

akuntansi akibat transaksi keuangan. 4.10 Menyiapkan data akun untuk proses

persamaan dasar akutansi

4.11 Mencatat transaksi pada akun

Profil program keahlian Akuntansi disampaikan dalam laman web resmi SMK Negeri 2 Kuningan (http://akuntansismkn2kng.blogspot.com ), dapat diketahui bahwa tujuan umum dari kompetensi keahlian akuntasi ini adalah untuk menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan nilai serta sikap yang terintegrasi dan kecakapan kerja dalam bidang akuntansi dengan menerapkan kewirastawaan serta mampu mengadaptasi perkembangan masyarakat yang sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi serta dapat memenuhi tuntutan dunia kerja masa sekarang dan masa yang akan datang. Sedangkan tujuan khusus dari SMK program keahlian akuntasi antara lain untuk menyiapkan siswa atau lulusan :

(62)

46

2. Mampu memilih karir, mampu berkompetisi dan mampu mengembangkan diri dalam lingkup keahlian bisnis dan manajemen khususnya akuntansi;

3. Menjadi tenaga kerja tingkat menengah untuk mengisi kebutuhan dunia usaha dan industri pada saat ini maupun masa yang akan datang dalam lingkup keahlian Bisnis dan Manajemen, khususnya akuntansi;

4. Menjadi warga negara yang produktif, adaptif, dan kreatif. Kompetensi lulusan yang telah menempuh pendidikan di program keahlian akuntansi juga diharapkan memiliki kemampuan untuk memproses dokumen yang berkaitan dengan keuangan, mulai dari kas kecil, dokumen kas bank, entry jurnal, mengelola buku besar, neraca, laporan keuangan, serta dapat mengoperasikan aplikasi program pengolah angka seperti Ms. Excel dan aplikasi komputer akuntansi seperti MYOB.

F. Ketenagakerjaan (Dunia Usaha / Dunia Industri )

(63)

perubahan-47

perubahan yang terjadi baik dalam lingkungan lokal, nasional, regional maupun internasional yang berimplikasi pada kurikulum dan penyelenggaraan pendidikan kejuruan.

Kebijakan link and match pada awalnya merupakan penjabaran amanat GBHN 1993 dan pada dasarnya berlaku untuk seluruh jenis dan jenjang pendidikan. Wardiman Djojonegoro, dalam Muhyadi (2011) kebijakan ini mengandung dua muatan penting, yaitu makna filosofis yang dimaksudkan untuk membarui, menata, dan meluruskan sistem nilai, pola pikir, sikap mental, perilaku, dan kebiasaan para pemikir, perencana, pengelola dan pelaku pendidikan kejuruan itu sendiri, serta kebijakan operasional yang menjadi prinsip dalam penyusunan program dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kejuruan. Pada pendidikan menengah kejuruan, kebijakan ini telah dioperasionalkan dalam wujud Praktik Kerja Industri (prakerin). Prakerin merupakan bagian dari program bersama antara SMK dan Industri yang dilaksanakan di dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Pendidikan kejuruan sebagai pendidikan yang konsern pada ekonomi memerlukan kebijakan penyelerasan manusia dengan pekerjaan yang ada, atau lebih lanjut disebut sebagai kebijakan ketenagakerjaan. Tujuan dari adanya kebijakan ketenagakerjaan, mencakup hal-hal berikut ini.

1. Memberi peluang kerja untuk smeuanya yang membutuhkan. 2. Pekerjaan tersedia seimbang dan memberi penghasilan yang

(64)

48

3. Pendidikan dan latihan mampu secara penuh mengembangkan semua potensi dan masa depan setiap individu.

4. Matching men and jobs dengan kerugian-kerugian minimum, pendapatan tinggi dan produktif. (Putu Sudira, 2012: 54)

Di Indonesia, kebijakan tentang ketenagakerjaan diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003. Undang-undang ini menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama dan sesudah masa kerja. Pengertian tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.

Kaitannya dengan pendidikan kejuruan, maka hal ketenagakerjaan tidak bisa dilepaskan dari dunia usaha dan dunia industri (DU/DI), atau bisa disebut dengan perusahaan. Maka pengertian perusahaan menurut UU nomor 13 tahun 2003 adalah setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, miliki orang perseorangan, miliki persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain; dan/atau usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.

(65)

49

(2014: 41), tren ketenagakerjaan akan terus berkembang dengan kecenderungan sebagai berikut :

1. Berkembang pesatnya kebutuhan tenaga insinyur, teknolog, spesialis dalam teknologi informasi, mekanik, dan tenaga-tenaga lainnya; 2. Tumbuhnya kebutuhan tenaga manajerial tingkat tinggi, teknisi dagang,

dan pekerja jasa penunjang;

3. Menurunnya kebutuhan pekerja kasar seperti pengrajin, tenaga pelaksana yag tidak terampil, dan buruh;

4. Berkurangnya kebutuhan tenaga tata usaha, tata laksana, dan tenaga administratif lainnya;

5. Bertambahnya kebutuhan tenaga kerja industri jasa, khusunya akuntan, administrasi keuangan, distributor, transportasi, dan periklanan; dan 6. Tumbuh dan berkembangnya peranan para teknisi sejalan dengan

menurunnya peranan pengrajin dan buruh kasar, sementara itu para pekerja teknisi menggantikan peranan para pengrajin dalam struktur angkatan kerja.

(66)

50

lain adalah teknisi akuntansi pelaksana, pelaksana lembaga keuangan perbankan, pelaksana lembaga keuangan bukan bank, dan lain sebagainya.

Dwi Anggraini (2013) menyatakan bahwa lembaga keuangan merupakan suatu badan yang bergerak dibidang keuangan untuk menyediakan jasa bagi nasabah atau masyarakat. Lembaga keuangan memiliki 2 fungsi utama, yaitu untuk menghimpun dana dari masyarakat (fungsi tabungan) dan fungsi untuk menyalurkan dana pinjaman untuk nasabah atau masyarakat (fungsi pinjam).

Secara umum, lembaga keuangan dikelompokkan dalam 2 bidang yaitu lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan yang bukan bank. Lembaga keuangan bank terdiri dari Bank Sentral, Bank Umum, dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR), sedangkan lembaga keuangan bukan bank antara lain Pasar Modal, Pasar Uang dan Valas, Koperasi Simpan Pinjam, Penggadaian, Leasing, Asuransi, Anjak Piutang, Modal Ventura, Dana Pensiun, dan lain-lain. Berikut ini akan dijabarkan beberapa pengertian dari beberapa lembaga keuangan baik bank maupun non-bank, antara lain adalah sebagai berikut ini.

1. Perbankan

(67)

51

memiliki produk yang lebih luas daripada bank non devisa, antara lain dapat melaksanakan jasa yang berhubungan dengan seluruh mata uang asing atau jasa bank ke luar negeri.

2. Koperasi

Koperasi merupakan badan usaha yang sumber pendanaannya berasal dari simpanan pokok, simpanan wajib, dan simpanan sukarela dari anggota koperasi itu sendiri. (Faried Wijaya, 1999: 412)

3. Penggadaian

(68)

52 G. Penelitian Yang Relevan

Dalam penelitian ini, terdapat beberapa penelitian terdahulu yang peneliti anggap cukup relevan untuk mendukung penelitian ini, penelitian tersebut antara lain :

1. Hilyatin Arin Nuskhyah (2014). Penelitian Skripsi dengan judul “Profil Lulusan Jurusan Teknik Pemesinan SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta” mendukung peneliti dalam penyusunan kajian pustaka,

utamanya terkait dengan konsep dan teori tentang relevansi pendidikan, khususnya SMK dengan dunia kerja yang ada. Hasil dari penelitian ini adalah tingginya lulusan tingkat keterserapan lulusan terhadap dunia kerja. Sedangkan untuk relevansi jenis pekerjaan dengan bidang keahlian bisa dikatakan rendah, karena hanya 45,65% yang sesuai dengan bidang keahlian yang diambil sebelumnya.

2. Ali Muhson, dkk (2012). Penelitian dengan judul “relevansi lulusan perguruan tinggi dengan dunia kerja” ini mendukung peneliti dalam

menyusun latar belakang masalah serta dalam hal kajian pustaka, utamanya terkait dengan pengertian relevansi pendidikan. Hasil dari penelitian ini adalah sekalipun daya serap dalam pasar kerja tinggi bagi lulusan jurusan pendidikan ekonomi yaitu 95,2 %, sedangkan tingkat relevansi dilihat dari jenis pekerjaan dikatakan cukup relevan yaitu sebesar 51% lulusan pendidikan ekonomi bekerja sebagai pendidik. 3. Sudji Munadi, (2010). Judul dari penelitian ini adalah “Pemetaan SMK

(69)

53

mendukung peneliti dalam mengembangkan kajian pustaka, utamanya tentang pendidikan kejuruan serta Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hasil dari penelitian ini lebih menekankan terkait dengan jumlah SMK di DIY, Kalsel da Kaltim, rasio guru dan jumlah sekolah, serta programkeahlian yang dominan yang terdapat di 3 provinsi tersebut. 4. Muhyadi dkk (2011), memiliki penelitian dengan judul “tanggapan

(70)

54 H. Alur Pikir Penelitian

Berdasarkan kajian pustaka yang telah disampaikan di atas, maka alur pikir yang akan digunakan dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut ini :

gambar 1. Alur Pikir Penelitian Globalisasi dan Masyarakat

Ekonomi ASEAN

Sumber Daya Manusia berkualitas

Terbukanya lapangan pekerjaan yang luas

Persaingan kerja semakin pesat

Pendidikan Kejuruan Pendidikan Vokasi

Sekolah Menengah Kejuruan

Program Keahlian Akuntansi

Input Proses Ouput Outcome

Daya Serap

(71)

55

Alur pikir dalam penelitian ini diawali dengan adanya dampak dari globalisasi pada dunia internasional, serta adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN pada wilayah regional Asia Tenggara, yang menuntut terciptanya sumberdaya manusia yang memiliki kualitas yang bisa bersaing dengan masyarakat dunia pada umumnya, serta masyarakat Asia Tenggara pada khususnya. Globalisasi dan MEA ini juga membuka peluang untuk masyarakat Indonesia untuk dapat bekerja dengan lapangan pekerjaan yang semakin luas.

Gambar

Tabel 1. Kompetensi Dasar Pengantar Akuntansi dalam Kurikulum 2013
gambar 1. Alur Pikir Penelitian
gambar 2. Kerangka Pikir Penelitian
Gambar 3. komponen analisis data (interactive model) model Miles and Huberman
+7

Referensi

Dokumen terkait

Banyaknya lulusan SMK yang melanjutkan studi di Perguruan Tinggi (Universitas), hal ini sangat bertolak belakang dengan tujuan didirikannya SMK, seharusnya mereka melanjutkan studi

MINAT SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS JURUSAN IPS DAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN PROGRAM KEAHLIAN AKUNTANSI MENDAFTAR KE PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI BKK PENDIDIKAN AKUNTANSI

Ketiga, faktor pendukung pelaksanaan PSG pada DUDI Jurusan Akuntansi SMK Negeri 1 Klaten, yaitu kesadaran siswa sendiri, fasilitas sekolah, kesadaran dari guru, biaya,

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, peneliti menyimpulkan relevansi kompetensi lulusan SMK dengan kebutuhan dunia usaha dan industri dapat diketahui dengan

Faktor-faktor penghambat pelaksanaan PSG pada IP Jurusan Akuntansi SMK Negeri 7 Yogyakarta, yaitu tidak semua dunia industri yang digunakan sebagai tempat prakerin pekerjaannya

Lulusan SMK termasuk dalam jenjang kualifikasi KKNI Level 2 (operator). Berdasarkan kajian penelitian yang relevan, lulusan yang memiliki kualifikasi pendidikan kejuruan memiliki

Sekolah yang ada di Indonesia belum membentuk lulusan yang mempunyai dua keterampilan yaitu hard skillsdan soft skillsdan pada akhirnya lulusannya akan sulit bersaing di

Maka, pada penelitian ini bermaksud melakukan penelitian pengukuran kinerja BKK SMK se-Kabupaten Sidoarjo dikarenakan belum ada penelitian yang meneliti pada semua BKK SMK dengan