• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

7 BAB II

TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. Kajian Teori

1. Keputusan Pembelian

Keputusan Pembelian menurut Kotler & Amstrong (2016), adalah sebagai berikut: Consumer behavior is the study of how individual, groups, and organizations select, buy, use, and dispose of goods, services, ideas, or experiences to satisfy their needs and wants. yang artinya Keputusan pembelian merupakan bagian dari perilaku konsumen perilaku konsumen yaitu studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka.

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian (Kotler & Keller, 2013), diantaranya ialah sebagai berikut:

a. Faktor Budaya

Budaya, sub budaya, dan kelas sosial merupakan hal yang sangat penting dalam terbentuknya perilaku pembelian. Budaya merupakan salah satu faktor penentu keinginan dan perilaku konsumen yang paling dasar.

(2)

b. Faktor Sosial

1) Kelompok Acuan

Kelompok acuan dalam perilaku pembelian konsumen dapat diartikan sebagai kelompok yang berpengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang.

2) Keluarga

Keluarga dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu keluarga orientas yang terdiri dari orang tua dan saudara kandung seseorang yang dapat memberikan orientasi agama, politik, dan ekonomi serta ambisi pribadi, harga diri, dan cinta. Selanjutnya itu ada keluarga prokreasi yang terdiri dari pasangan dan jumlah anak.

c. Pribadi

1) Usia dan Siklus Hidup Keluarga

Orang membeli barang dan jasa tentunya mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda sepanjang hidupnya dimana kegiatan konsumsi ini dipengaruhi oleh faktor usia dan siklus hidup keluarga.

2) Pekerjaan dan Lingkungan Ekonomi

Pekerjaan dan lingkungan ekonomi seseorang dapat mempengaruhi kebutuhannya. Biasanya pemilihan produk juga dipertimbangkan berdasarkan keadaan ekonomi seseorang seperti besarnya penghasilan yang dimiliki, jumlah tabungan, utang dan sikap terhadap belanja atau menabung.

3) Gaya Hidup

(3)

Gaya hidup dapat diartikan sebagai sebuah pola hidup seseorang yang terungkap dalam aktivitas, minat dan opininya yang terbentuk melalui kelas sosial dan pekerjaan. Melihat hal ini sebagai peluang dalam kegiatan pemasaran, banyak pemasar atau produsen yang mengarahkan merek mereka pada gaya hidup seseorang.

4) Kepribadian

Kepribadian merupakan ciri bawaan psikologis manusia yang berbeda yang menghasilkan tanggapan relatif konsisten dan tahan lama terhadap rangsangan lingkungannya. Kepribadian dapat menjadi variabel yang sangat berguna dalam menganalisis pilihan merek konsumen. Hal ini disebabkan karena beberapa kalangan konsumen akan memilih merek yang cocok dengan kepribadiannya.

5) Psikologis

Faktor psikologis ini dipengaruhi oleh empat faktor utama diantaranya motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan sikap.

d. Peran dan Status

Semakin tinggi peran seseorang dalam organisasi maka semakin tinggi pula status seseorang dalam organisasi tersebut dan secara langsung dapat berdampak pada perilaku pembeliannya.

(4)

Terdapat lima tahapan yang dilewati pembeli untuk mencapai keputusan pembelian, tahapan keputusan pembelian digambarkan dalam sebuah model sebagai berikut (Kotler & Keller, 2013):

a. Pengenalan Masalah

Proses membeli dengan pengenalan masalah atau kebutuhan pembeli menyadari suatu perbedaan antara keadaan yang sebenarnya dan keadaan yang diinginkannya. Kebutuhan itu bisa digerakkan oleh rangsangan dari dalam diri pembeli atau dari luar.

Misalnya kebutuhan orang normal yaitu haus dan lapar akan meningkat hingga mencapai suatu ambang rangsang dan berubah menjadi suatu dorongan berdasarkan pengalaman yang sudah ada.

b. Pencarian Informasi

Konsumen mungkin tidak berusaha secara aktif dalam mencari informasi yang berhubung dengan kebutuhannya. Seberapa jauh orang tersebut mencari informasi tergantung pada kuat lemahnya dorongan kebutuhan, banyaknya informasi yang dimiliki, kemudahan memperoleh informasi, tambahan dan kepuasan yang diperoleh dari kegiatan mencari informasi. Biasanya jumlah kegiatan mencari informasi meningkat tatkala konsumen bergerak dari keputusan situasi pemecahan masalah yang terbatas kepemecahan masalah yang maksimal.

c. Evaluasi Alternatif

Informasi yang dicari calon pembeli digunakan untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai alternatif-alternatif yang

(5)

dihadapinya serta daya tarik masing-masing alternatif. Produsen harus berusaha memahami cara konsumen mengenal informasi yang diperolehnya dan sampai pada sikap tertentu mengenai produk merek dan keputusan untuk membeli.

d. Keputusan Pembelian

Produsen harus memahami bahwa konsumen mempunyai cara sendiri dalam menangani informasi yang diperolehnya dengan membatasi alternatif-alternatif yang harus dipilih atau dievaluasi untuk menentukan produk mana yang akan dibeli.

e. Perilaku Setelah Pembelian

Apabila barang yang dibeli tidak memberikan kepuasan yang diharapkan, maka pembeli akan merubah sikapnya terhadap merek barang tersebut menjadi sikap negatif, bahkan mungkin akan menolak dari daftar pilihan. Sebaliknya bila konsumen bisa memberi kepuasan dari barang yang dibelinya maka keinginan untuk membeli terhadap merek barang tersebut cenderung untuk menjadi lebih kuat. Produsen harus mengurangi perasaan tidak senang atau perasaan negatif terhadap suatu produk dengan cara membantu konsumen menemukan informasi yang membenarkan pilihan konsumen melalui komunikasi yang diarahkan pada orang- orang yang baru saja

membeli produk.

Model ini beranggapan bahwa konsumen melakukan lima tahap dalam melakukan pembelian. Namun kelima tahap diatas tidak selalu

(6)

terjadi, khususnya dalam pembelian yang tidak memerlukan keterlibatan yang tinggi dalam pembelian. Para konsumen bisa melewati beberapa tahap dan urutannya tidak sesuai.

Menurut Kotler & Amstrong (2016) terdapat tiga indikator yang dapat digunakan untuk menentukan keputusan pembelian.

a. Kemantapan pada sebuah produk

Pada saat melakukan pembelian, konsumen memilih salah satu dari beberapa alternatif. Pilihan yang ada didasarkan pada mutu, kualitas dan faktor lain yang memberikan kemantapan bagi konsumen untuk membeli produk yang dibutuhkan. Kualitas produk yang baik akan membangun semangat konsumen sehingga menjadi penunjang kepuasan konsumen.

b. Kebiasaan dalam membeli produk

Kebiasaan adalah pengulangan sesuatu secara terus-menerus dalam melakukan pembelian produk yang sama. Ketika konsumen telah melakukan keputusan pembelian dan mereka merasa produk sudah melekat dibenaknya bahkan manfaat produk sudah dirasakan.

Konsumen akan merasa tidak nyaman jika membeli produk lain.

c. Kecepatan dalam membeli produk

Konsumen sering mengambil sebuah keputusan dengan menggunakan aturan (heuristik) pilihan yang sederhana. Heuristik adalah sebuah proses proses yang dilakukan seseorang dalam mengambil sebuah keputusan secara cepat, menggunakan sebuah pedoman umum dalam sebagian informasi saja.

(7)

2. Harga

Menurut Suparyanto & Rosad (2015), harga adalah jumlah sesuatu yang memiliki nilai pada umumnya berupa uang yang harus dikorbankan untuk mendapatkan suatu produk. Harga menjadi salah satu elemen yang paling penting dalam menentukan pangsa pasar dan keuntungan suatu perusahaan. Menurut Kotler dan Amstrong (2016), “price the amount of money charged for a product or service, or the sum of the value that customers exchange for the benefits or using the product or service”.

Harga merupakan sejumlah uang yang dikeluarkan untuk sebuah produk atau jasa, atau sejumlah nilai yang ditukarkan oleh konsumen untuk memperoleh manfaat atau kepemilikan atau penggunaan atas sebuah produk jasa.

Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa harga merupakan sejumlah uang yang ditukarkan untuk sebuah produk dan jasa.

Lebih jauh lagi, harga adalah sejumlah nilai yang konsumen tukarkan untuk sejumlah manfaat dengan memiliki atau menggunakan suatu produk dan jasa. Pemasaran dalam sebuah perusahaan harus benar-benar menetapkan harga yang tepat dan pantas bagi produk atau jasa yang ditawarkan karena menetapkan harga yang tepat merupakan kunci untuk menciptakan dan menangkap nilai pelanggan.

Terdapat beberapa faktor-faktor penentu yang perlu dipertimbangkan perusahaan dalam menetapkan harga menurut Kotler dan Keller (2016), yaitu:

a. Mengenal permintaan produk dan pesaing

(8)

Besarnya permintaan produk dan banyaknya pesaing juga mempengaruhi harga jual, jadi jangan hanya menentukan harga semata-mata didasarkan pada biaya produksi, distribusi dan promosi saja.

b. Target pasar yang hendak dilayani atau diraih

Semakin menetapkan target yang tinggi maka penetapan harga harus lebih teliti.

c. Marketing mix sebagai strategi d. Produk baru

Jika itu produk baru maka bias ditetapkan harga yang tinggi ataupun rendah, tetapi kedua strategi ini mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Penetapan harga yang tinggi dapat menutup biaya riset, tetapi juga dapat menyebabkan produk tidak mampu bersaing di pasar. Sedangkan dengan harga yang rendah jika terjadi kesalahan peramalan di pasar, pasar akan terlalu rendah dari yang diharapkan. Maka biaya-biaya tidak dapat tertutup sehingga perusahaan mungkin akan menderita kerugian.

e. Reaksi pesaing

Dalam pasar yang semakin kompetitif maka reaksi pesaing ini harus selalu dipantau oleh perusahaan, sehingga perusahaan dapat menentukan harga yang dapat diterima pasar dengan mendatangkan keuntungan.

f. Biaya produk dan perilaku budaya

(9)

g. Kebijakan atau peraturan yang ditentukan oleh pemerintah dan lingkungan

Menurut Kotler dan Amstrong (2016) terdapat empat indikator yang mencirikan harga yaitu:

a. Keterjangkauan harga

Konsumen bias menjangkau harga yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Produk biasanya ada beberapa jenis dalam satu merek harganya juga berbeda dari yang termurah sampai termahal.

b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk

Harga sering dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen, orang sering memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena mereka melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih tinggi orang cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik.

c. Kesesuaian harga dengan manfaat

Konsumen menentukan membeli suatu produk jika manfaat yang dirasakan lebih besar atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk mendapatkannya. Jika konsumen merasakan manfaat produk lebih kecil dari uang yang dikeluarkan maka konsumen akan beranggapan bahwa produk tersebut mahal dan konsumen akan berpikir dua kali untuk melakukan pembelian ulang.

d. Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga

Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan produk lainnya. Dalam hal ini mahal murahnya suatu produk sangat

(10)

dipertimbangkan oleh konsumen pada saat akan membeli produk tersebut.

Konsumen sangat tergantung pada harga sebagai indikator kualitas sebuah produk terutama pada waktu mereka harus membuat keputusan beli sedangkan informasi yang dimiliki tidak lengkap. Beberapa studi menunjukan bahwa persepsi konsumen terhadap kualitas produk berubah- ubah seiring perubahan yang terjadi pada harga. Konsep yang lain menunjukan apabila sebuah barang yang dibeli konsumen dapat memberikan hasil yang memuaskan, maka dapat dikatakan bahwa penjualan total perusahaan akan berada pada tingkat yang memuaskan, diukur dalam nilai rupiah sehingga dapat menciptakan langganan.

3. Lokasi

Salah satu variabel atau faktor dari pemasaran yaitu lokasi, tak luput pula memberikan nilai dalam kesuksesan suatu perusahaan. Buchari Alma (2003:103) mengemukakan bahwa lokasi adalah tempat perusahaan beroperasi atau tempat perusahaan melakukan kegiatan untuk menghasilkan barang dan jasa yang mementingkan segi ekonominya.

Menurut Ujang Suwarman (2004:280), lokasi merupakan tempat usaha yang sangat mempengaruhi keinginan seseorang konsumen untuk datang dan berbelanja. Sedangkan pengertian lokasi menurut Kasmir (2009:129) yaitu tempat melayani konsumen, dapat pula diartikan sebagai tempat untuk memajangkan barangbarang dagangannya.

Menurut Kotler dan Amstrong (2016) lokasi adalah memilih dan mengelola saluran perdagangan yang dipakai untuk menyalurkan produk

(11)

atau jasa dan juga untuk melayani pasar sasaran. Lokasi menurut Tjiptono (2015), lokasi mengacu pada berbagai aktivitas pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian atau penyaluran barang dan jasa dari produsen kepada konsumen.

Berdasarkan definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa lokasi adalah suatu keputusan dimana perusahaan membuat usahanya dengan mengoperasikan penempatan lokasi yang benar dan tepat, agar konsumen memiliki keputusannya dalam memilih atau membeli yang nantinya berpengaruh terhadap kesuksesan suatu usaha produk atau jasa. Faktor- faktor yang mempengaruhi pertimbangan dalam menentukan lokasi menurut Kotler dan Amstrong (2016), yaitu sebagai berikut:

a. Akses, yaitu lokasi yang dilalui mudah dijangkau sarana transportasi umum

b. Visibilitas, yaitu lokasi atau tempat yang dapat dilihat dengan jelas dari jarak pandang normal.

c. Lalu lintas (traffic), menyangkut dua pertimbangan utama:

1) Banyaknya orang yang lalu Lalang bias memberikan peluang besar terhadap pembelian, yaitu keputusan pembelian yang sering terjadi spontan, tanpa perencanaan dan atau tanpa melalui usaha- usaha khusus.

2) Kepadatan dan kemacetan lalu lintas bias juga menjadi peluang.

d. Tempat parkir yang luas, nyaman dan aman baik untuk kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat.

(12)

e. Ekspansi, yaitu ketersediaan tempat yang cukup luas apabila ada perluasan dikemudian hari.

f. Lingkungan, yaitu daerah sekitar yang mendukung produk yang ditawarkan.

g. Kompetisi, yaitu lokasi persaingan. Dalam menentukan sebuah usaha, perlu dipertimbangkan apakah di jalan atau daerah tersebut telah terdapat banyak usaha yang sejenis atau tidak.

h. Peraturan pemerintah yang berisi ketentuan untuk mengatur lokasi dari sebuah usaha-usaha tertentu.

Keputusan untuk memilih lokasi yang strategis akan menjadi bagian penting bagi suatu perusahaan, karena sudah banyak tempat baru yang digunakan untuk membuka usaha dari suatu perusahaan, semakin baik penempatannya, semakin sulit juga memperolehnya. Lokasi yang tepat pada sebuah usaha akan lebih sukses dibandingkan dengan usaha lainnya yang berlokasi tidak strategis, meskipun sama-sama menjual produk yang sama dan juga mempunyai pramuniaga yang sama banyak dan terampilnya.

Indikator lokasi menurut Tjiptono (2015) yaitu sebagai berikut:

a. Akses, misalnya lokasi yang sering dilalui atau mudah dijangkau sarana transportasi.

b. Visibilitas, yaitu lokasi atau tempat yang dapat dilihat dengan jelas dari jarak pandang normal

c. Lalu lintas (traffic), menyangkut dua pertimbangan utama:

(13)

- Banyaknya orang yang lalu-lalang bisa memberikan peluang besar terhadap terjadinya impulse buying.

- Kepadatan dan kemacetan lalu lintas bisa juga jadi peluang, merupakan salah satu point dalam periklanan.

d. Lingkungan, adalah keadaan lingkungan merupakan titik pemasangan iklan meliputi, kebersihan, kenyamanan, dan keamanan lingkungan.

e. Kriteria adalah titik lokasi merupakan titik yang pas, strategis dan bagus prospek nya untuk suatu pemasangan media iklan.

4. Kualitas produk

Menurut Nasutioan (2011) kualitas adalah conformance to requirement, yaitu sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan.

Maka suatu produk memiliki kualitas apabila sesuai dengan standar kualitas yang telah ditentukan. kualitas produk adalah kecocokan penggunaan produk untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan.

Kualitas produk adalah kesesuaian produk dengan harapan konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen.

Kualitas produk merupakan kesanggupan suatu produk dalam menjalankan tugasnya yang didalamnya termasuk daya tahan mengenai berapa lamanya produk tersebut dapat digunakan, kekuatan serta kemudahan dalam hal proses perbaikan (Riyono & Budiharja, 2016).

Menurut Kotler dan Amstrong (2016), arti dari kualitas produk adalah

“the ability of a product to perform its functions, it includes the product’s overall durability, reliability, precision, ease of operation and refair, and

(14)

other valued attributes”. Yang artinya kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian dan reparasi produk juga atribut produk lainnya. Sedangkan menurut Gerung, Sepang, &

Loindong (2017), Kualitas produk merupakan segala sesuatu yang berkaitan langsung dengan kehandalan, proses perbaikan jika produk tersebut mengalami gagal fungsi/cacat dan kemudahan pengoperasian.

Khakim (2009) mengatakan bahwa dalam kualitas produk terkait perumahan, desain dan kualitas konstruksi bangunan adalah faktor penting dalam mempengaruhi nilai bangunan. Desain bangunan lebih ditentukan oleh jenis kegunaan bangunan dan selera dari masyarakat yang menggunakannya. Ketidaksesuaian dengan kegunaan dan selera akan menyebabkan nilai bangunan menjadi turun, demikian juga sebaliknya apabila sebuah bangunan mempunyai desain dan kualitas produk yang baik sesuai dengan kegunaan dan mengikuti tren pada masa itu makan nilainya akan naik. Demikian halnya dengan konstruksi bangunan, baik tidaknya konstruksi bangunan ditentukan oleh pemilihan material yang baik, cara pemasangan dan kesesuaiannya dengan lingkungan. Pada tahap selanjutnya konstruksi bangunan ini menentukan kualitas produk dan pada akhirnya mempengaruhi nilai bangunan itu sendiri.

Berdasarkan beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas produk dapat menentukan kepuasan pelanggan yang berhubungan dengan harapan dari pelanggan itu sendiri terhadap kualitas produk yang dirasakannya. Suatu produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan

(15)

kadang mengalami keragaman. Hal ini disebabkan mutu suatu produk itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, dimana faktor-faktor ini dapat menentukan bahwa suatu produk dapat memenuhi standar yang telah ditentukan atau tidak, faktor-faktor tersebut antara lain:

1. Manusia

Peranan manusia atau karyawan yang bertugas dalam perusahaan akan sangat mempengaruhi secara langsung terhadap baik buruknya mutu dari produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Maka aspek manusia perlu mendapat perhatian yang cukup. Perhatian tersebut dengan mengadakan latihan-latihan, pemberian motivasi, pemberian jamsostek, kesejahteraan, dan lain lain.

2. Manajemen

Tanggung jawab atas mutu produksi dalam perusahaan dibebankan dalam beberapa kelompok yang biasa disebut dengan Function Group. Dalam hal ini pimpinan harus melakukan koordinasi yang baik antara function group dengan bagian-bagian lainnya dalam perusahaan tersebut. Dengan adanya koordinasi tersebut maka dapat tercapai suasana kerja yang baik dan harmonis, serta menghindarkan adanya kekacauan dalam pekerjaan. Keadaan ini memungkinkan perusahaan untuk mempertahankan mutu serta meningkatkan mutu dari produk yang dihasilkan.

3. Uang

Perusahaan harus menyediakan uang yang cukup untuk mempertahankan atau meningkatkan mutu produknya. Misalnya:

(16)

untuk perawatan dan perbaikan mesin atau peralatan produksi, perbaikan produk yang rusak, dan lain-lain.

4. Bahan baku

Bahan baku merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan akan mempengaruhi mutu suatu produk yang dihasilkan suatu perusahaan. Untuk itu pengendalian mutu bahan baku menjadi hal yang sangat penting dalam hal bahan baku, harus memperhatikan beberapa hal antara lain: seleksi sumber dari bahan baku, pemeriksaan dokumen pembelian, pemeriksaan penerimaan bahan baku, serta penyimpanan. Hal hal tersebut harus dilakukan dengan baik sehingga kemungkinan bahan baku yang akan digunakan untuk proses produksi berkualitas rendah dapat ditekan sekecil mungkin.

5. Mesin dan peralatan

Mesin serta peralatan yang digunakan dalam proses produksi akan mempengaruhi terhadap mutu produk yang dihasilkan perusahaan.

Peralatan yang kurang lengkap serta mesin yang sudah kuno dan tidak ekonomis akan menyebabkan rendahnya mutu dan produk yang dihasilkan, serta tingkat efisiensi yang rendah. Akibatnya biaya produksi menjadi tinggi, sedangkan produk yang dihasilkan kemungkinan tidak akan laku dipasarkan. Hal ini akan mengakibatkan perusahaan tidak dapat bersaing dengan perusahaan lain yang sejenis, yang menggunakan mesin dan peralatan otomatis.

Menurut Kotler dan Keller (2016), ada sembilan dimensi untuk menentukan kualitas produk, yaitu:

(17)

1. Fitur (Features)

Berbagai produk yang beredar ditawarkan dengan bermacam- macam fitur yang melengkapi fungsi dasarnya. Perusahaan dapat mengidentifikasi dan memilih fitur baru yang sesuai dengan pembeli baru dan kemudian menghitung nilai pelanggan dibandingkan dengan biaya perusahaan untuk setiap fitur potensial.

2. Kualitas kinerja (Performance Quality)

Berbagai produk yang beredar berada di salah satu dari 4 tingkat kinerja yaitu: rendah, rata-rata, tinggi atau unggul. Kualitas kinerja adalah sebuah tingkatan dimana karakteristik utama dari produk beroperasi. Kualitas semakin penting untuk menjadi pembeda karena perusahaan mengadopsi model nilai dan memberikan kualitas yang lebih tinggi dengan biaya yang lebih sedikit.

3. Bentuk (Form)

Banyak produk dapat dibedakan dalam bentuk, ukuran atau struktur fisik suatu produk. Meskipun pada dasarnya merupakan komoditas namun dibedakan berdasarkan ukuran, dosis, warna, bentuk, pelapisan atau waktu tindakan.

4. Daya tahan (Durability)

Ukuran dari masa pakai produk yang diharapkan dalam kondisi alami atau penuh tekanan, sebuah atribut yang dihargai untuk kendaraan, peralatan dapur, dan barang tahan lama lainnya.

Namun, harga ekstra untuk daya tahan tidak boleh berlebihan dan

(18)

produk juga tidak boleh kadaluwarsa dengan teknologi yang cepat seperti komputer pribadi, televisi dan ponsel.

5. Kesesuaian kualitas (Conformance Quality)

Pembeli mengharapkan kesesuaian kualitas yang tinggi, sejauh mana semua unit yang diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi yang telah dijanjikan.

6. Gaya (Style)

Gaya menggambarkan tampilan dan nuansa produk kepada pembeli dan menciptakan khas tersendiri yang tidak mudah untuk ditiru oleh

pesaing dari produk tersebut.

7. Keandalan (Reliability)

Pembeli biasanya akan membayar harga untuk produk yang lebih andal. Keandalan adalah ukuran probabilitas bahwa suatu produk tidak akan mengalami kegagalan fungsi atau gagal dalam periode waktu tertentu.

8. Penyesuaian (Customization)

Kemampuan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan setiap pelanggan, serta menyiapkan produk, jasa, program dan komunikasi yang berbasis manual yang dirancang secara individual.

9. Kemudahan dalam perbaikan (Repairability)

Merupakan kemudahan produk untuk diperbaiki apabila produk mengalami kegagalan fungsi. Idealnya ketika suatu produk

(19)

mengalami kegagalan fungsi, pembeli produk tersebut tidak mengalami kesulitan ketika hendak melakukan perbaikan pada produk tersebut.

Menurut Setiyana & Widyasari (2019), terdapat beberapa indikator yang digunakan untuk mengetahui kualitas produk, diantaranya ialah:

1. Ciri-ciri produk

Tingkat dimana suatu produk memiliki kelebihan lebih atau fungsi lain yang ditidak dimiliki oleh produk lain.

2. Kesesuaian dengan spesifikasi

Dalam hal ini untuk mengukur apakah produk sudah pas atau cocok dengan kualitas standar yang telah ditetapkan atau belum.

3. Ketahanan

Jika suatu produk dapat digunakan oleh konsumen dalam kurun waktu yang lama dan masih bagus, maka produk tersebut memiliki daya tahan yang baik.

4. Kehandalan

Memastikan produk yang dihasilkan tidak akan mengalami kecacatan atau gagal fungsinya.

5. Desain

Berkaitan dengan kecantikan atau penanpilan suatu produk seperti warna, kemasan dan lain sebagainya yang dapat mempengaruhi keinginan konsumen.

(20)

B. Penelitian Terdahulu

Rujukan dari penelitian terdahulu yang relevan terkait keputusan pembelian konsumen dapat dilihat pada tabel 2.1.

Tabel 2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu

1. Pengaruh Harga, Kualitas produk, Lokasi, dan Fasilitas Terhadap Keputusan Pembelian Rumah

Nama Peneliti dan

Tahun Penelitian

Variabel yang diamati

Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan

Muhammad Taufik Rachman Ali ( 2017)

Harga (X1), Kualitas Produk (X2), Lokasi (X3), Fasilitas (X4), Keputusan Pembelian Rumah (Y)

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel harga berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, variabel kualitas produk berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, variabel lokasi berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, variabel fasilitas berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Variabel yang berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian adalah harga.

Persamaan: uji yang digunakan sama-sama menggunakan regresi linier, terdapat variabel harga, kualitas produk, lokasi dan keputusan pembelian.

Perbedaan: terdapat variabel fasilitas, obyek yang dibahas dalam penelitian tersebut ialah rumah komersil, sedangkan dalam penelitian ini menggunakan perumahan bersubsidi

2. Analisis Pengaruh Harga, Lokasi, Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian Perumahan di Citraland Manado

Nama Peneliti dan

Tahun Penelitian

Variabel yang diamati

Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan

Mega Saroinsong, Lisbeth Mananeke, Jane G.

Poluan (2022)

Harga (X1), Lokasi (X2), Citra Merek (X3),

Keputusan Pembelian (Y)

Variabel Harga, lokasi, citra merek berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian perumahan di Citraland Manado baik secara simultan maupun secara parsial.

Persamaan: Terdapat beberapa variabel penelitian yang sama, uji yang digunakan sama

Perbedaan: variabel bebas pada penelitian tersebut menggunakan citra merek sedangkan dalam penelitian ini menggunakan kualitas produk.

(21)

3. Pengaruh Harga, Lokasi, Kualitas produk dan Desain Rumah Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Pada Perumahan Qanita Residence Di PT. Cawan Barokah Grup Kabupaten Batu Bara

Nama Peneliti dan Tahun

Penelitian

Variabel yang diamati

Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan Riza Ardila,

Dian Wahyuni (2021)

Harga (X1), Lokasi (X2), Kualitas produk (X3), Desain Rumah (X4), Keputusan Pembelian Konsumen (Y)

- Harga tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian

- Lokasi berpengaruh terhadap keputusan pembelian

- Kualitas produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian

- desain rumah

berpengaruh terhadap keputusan pembelian 47,1% keputusan pembelian dijelaskan oleh harga, lokasi, kualitas produk dan desain rumah.

Persamaan: sama-sama membahas tentang keputusan pembelian konsumen, sebagian besar variabel yang digunakan dan alat analisis sama

Perbedaan: tidak terdapat variabel desain rumah dan kualitas produk dalam penelitian ini

4. Analisis Pengaruh Harga, Kualitas produk, Promosi Dan Lokasi Terhadap Keputusan Pembelian Rumah (Studi Kasus Pada Pembeli Perumahan Havaland Malang)

Nama Peneliti dan Tahun

Penelitian

Variabel yang diamati

Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan Andre Maulana

Rozikin (2021)

Harga (X1), Kualitas produk (X2), Promosi (X3), Lokasi (X4),

Keputusan Pembelian Rumah (Y)

- Harga menunjukan arah positif dan tidak signifikan pada keputusan pembelian rumah di havaland Malang.

- Kualitas produk memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.

- Promosi berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.

- Lokasi menunjukan nilai arah negatif dan tidak sigifikan terhadap keputusan pembelian Secara simultan dinyatakan variabel harga, kualitas produk, promosi dan lokasi berpengaruh terhadap keputusan pembelian.

Persamaan: sama-sama membahas tentang keputusan pembelian pada peruamahan, menggunakan uji yang sama, terdapat tiga variabel independen dan satu variabel dependen yang sama

Perbedaan: fokus penelitian diatas pada perumahan komersil, sedangkan penelitian yang dilakukan berfokus pada perumahan bersubsidi

(22)

5. Pengaruh Kualitas produk dan Promosi Terhadap Keputusan Pembelian Rumah di Golden City Residence Kota Batam

Nama Peneliti dan Tahun

Penelitian

Variabel yang diamati

Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan Angela Maria Ci,

dan Raymond (2021)

Kualitas produk (X1) Promosi (X2) Keputusan Pembelian (Y)

- Kualitas produk mempengaruhi keputusan pembelian rumah sebesar 22,7%

- Promosi secara langsung berpenaruh sebesar

42,2% terhadap

keputusan pembelian rumah

- Kualitas produk dan promosi secara bersama- sama berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian rumah di Golden City Residence Kota Batam

Persamaan: sama-sama membahas tentang kualitas produk dan keputusan pembelian rumah

Perbedaan: hanya terdapat dua variabel indpenden dan satu variabel dependen dalam penelitian diatas, sedangkan penelitian yang dilakukan menggunakan tiga variabel independen dan satu variabel dependen.

6. Analisis Pengaruh Harga, Kualitas produk, Lokasi, Fasilitas dan Promosi Terhadap Keputusan Pembelian Rumah pada Perumahan Medan Resort City

Nama Peneliti dan Tahun

Penelitian

Variabel yang diamati

Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan Rany Sugiyanto

& Sugianta Ovinus Ginting (2020)

Harga (X1) Kualitas produk (X2) Lokasi (X3) Fasilitas (X4) Promosi (X5) Keputusan Pembelian (Y)

- Secara parsial harga, kualitas produk, lokasi, fasilitas dan promosi berpengaruh terhadap keputusan pembelian rumah

- Secara simultan harga, kualitas produk, lokasi, fasilitas dan promosi berpengaruh terhadap keputusan pembelian rumah

- Variabel independen mempengaruhi

keputusan pembelian sebesar 38,9%

Persamaan: kedua penelitian sama-sama membahas tentang keputusan pembelian, dan kedua penelitian dilakukan dengan analisis regresi linier berganda.

Perbedaan: obyek penelitian pada penelitian diatas menggunakan perumaha komersil, sedangkan dalam penelitian yang dilakukan menggunakan perumahan bersubsidi

(23)

7. Analisis Pengaruh Produk, Harga, Promosi dan Lokasi Terhadap Keputusan Pembelian Nama Peneliti

dan Tahun Penelitian

Variabel yang diamati

Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan Taufan Hidyat

(2020)

Produk (X1) Harga (X2) Promosi (X3) Lokasi (X4) Keputusan Pembelian (Y)

- Produk, Harga, Promosi dan Lokasi masing- masing secara parsial berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian

- Produk, harga, promosi dan lokasi secara bersama-sama

berpengaruh terhadap keputusan pembelian

Persamaan: terdapat variabel yang sama, sama-sama berfokus pada keputusan pembelian, analisis data menggunakan regresi bergada.

Perbedaan: tidak terdapat variabel promosi dan produk dalam penelitian yang dilakukan

8. Pengaruh Harga dan Promosi Terhadap Keputusan Pembelian Rumah Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Jombang pada Masa Pandemi Covid-19

Nama Peneliti dan Tahun

Penelitian

Variabel yang diamati

Alat

Analisis Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan Khotim Fadhli,

Mahmudah, Robiatul

Usluhiyah &

Bekti

Widyaningsih (2021)

Harga (X1) Promosi (X2) Keputusan Pembelian (Y)

Uji regresi linier berganda

- harga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap

keputusan

pembelian rumah bagi MBR

- Promosi juga memiliki

pengaruh positif terhadap

keputusan

pembelian rumah bagi MBR

- harga dan promosi secara simultan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap

keputusan

pembelian rumah bagi MBR

Persamaan: kedua penelitian memiliki persamaan tentang pokok bahasan yaitu keputusan pembelian rumah bersubsidi.

Perbedaan: fokus penelitian pada penelitian diatas dilakukan pada masyarakat

berpenghasilan

rendah, sedangkan dalam penelitian ini mencangkup semua konsumen baik berpengahasilan tinggi maupun

berpenghasilan rendah

(24)

9. Determinats Of Customer’s Apartment Purchase intention: Is The Location Dominant?

Nama Peneliti dan Tahun

Penelitian

Variabel yang diamati

Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan Le-

Hoang,Ho,Luu,et al.,(2020)

Lokasi - Terdapat masalah pengembang real estate kurang memahami psikologi pembeli,mengetahui apa yang mereka butuhkan,apa yang mereka inginkan dan aspirasi mereka

Persamaan: fokus penelitian sama-sama membahas tentang lokasi

Perbedaan: penelitian diatas menggunakan analisis data dengan EFA

10. Pengaruh Harga, Fasilitas dan Lokasi Terhadap Keputusan Pembelian (Studi Kasus Pembelian Rumah di Grand Nusa Indah Blok J, cileungsi pada PT. Kentanix Supra Internasional)

Nama Peneliti dan Tahun

Penelitian

Variabel yang diamati

Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan Imelda Aprileny,

Inka Imalia, Jayanti Apri Emarawati (2021)

Harga (X1), Fasilitas (X2), Lokasi (X3),

Keputusan Pembelian (Y)

- Harga, fasilitas dan lokasi secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian properti di Grand Nusa Indah Blok J, Cileungsi.

- Harga, fasilitas dan lokasi berpengaruh sebesar 38%

terhadap keputusan pembelian properti di Grand Nusa Indah Blok J, Cileungsi.

Persamaan: fokus penelitian sama-sama membahas tentang harga dan keputusan pembelian

Perbedaan: penelitian

diatas hanya

menggunakan alat uji koefisen determinasi (R2), sedangkan dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi liner berganda.

Terdapat variabel fasilitas pada penelitian diatas, sedangkan dalam penelitian ini menggunakan variabel kualitas produk.

(25)

C. Kerangka Pikir Penelitian

Sugiyono (2014:89) Kerangka berfikir merupakan sistematis tentang hubungan antara variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan. Gambar kerangka pikir dapat dilihat pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penelitian

Penjelasan dari kerangka penelitian ini menggambarkan adanya pengaruh dari variabel independen yaitu harga (X1), lokasi (X2), dan kualitas produk (X3) berpengaruh secara parsial terhadap variabel dependen yaitu keputusan pembelian (Y) pada Perumahan Subsidi Mustika Prisma Land.

D. Perumusan Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban atas rumusan masalah yang bersifat sementara, perlu adanya pembuktikan kebenarannya melalui data empirik yang terkumpul (Sugiyono, 2017),. Berikut beberapa perumusan hipotesis terkait penelitin ini:

1. Pengaruh harga terhadap keputusan pembelian secara parsial

Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang menyatakan hasil bahwa harga berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan

Harga (X1)

Lokasi (X2)

Kualitas produk (X3)

Keputusan Pembelian

(Y) H2

(26)

pembelian (Foster & Johansyah, 2019; Harliningtyas et al., 2020;

Sengkey et al., 2021; Le-Hoang, Ho, Phan, et al., 2020; Latief, 2018).

Berdasarkan hasil tersebut maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H1 = Terdapat pengaruh yang signifikan antara harga dengan keputusan pembelian pada perumahan subsidi Mustika Prisma Land (PT.

Mastar Samudera Rejeki) secara parsial.

2. Pengaruh lokasi terhadap keputusan pembelian secara parsial

Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh beberapa peneliti (Arifin & Aula, 2021;Sengkey et al., 2021; Le-Hoang, Ho, Luu, et al., 2020; Barus, 2021; dan Latief, 2018), menunjukkan bahwa harga berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen.

Maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H2 = Terdapat pengaruh yang signifikan antara lokasi dengan keputusan pembelian pada perumahan subsidi Mustika Prisma Land (PT.

Mastar Samudera Rejeki) secara parsial.

3. Pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian secara parsial

Kualitas produk yang dalam hal ini adalah kualitas produk perumahan bersubsidi, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian (Monica, 2018; Haris, 2018; Ardila dan Wahyuni, 2021; Ali, 2017; Rozikin, 2021). Berdasarkan hal tersebut maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

(27)

H3 = Terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas produk dengan keputusan pembelian pada perumahan subsidi Mustika Prisma Land (PT. Mastar Samudera Rejeki) secara parsial.

Referensi

Dokumen terkait

- Masih kurangnya dukungan peraturan perundangan-undangan dalam pengelolaan Potensi KPHP Model Mukomuko. Analisis Lingkungan Internal. Tingginya produktivitas lahan

Note : Variabel Metode Pelatihan, Isi Pelatihan, dan Instruktur Pelatihan yang dimaksud di sini adalah pelatihan yang anda jalankan untuk persiapan anda

Dengan di tandatangani surat persetujuan ini, maka saya menyatakan bersedia / tidak bersedia untuk berperan serta menjadi responden dalam penelitian dengan judul “Gambaran

Dalam pengujian data normalitas yang diperoleh bahwa data variabel hasil lompat jangkit pada cabang olahraga atletik merupakan data yang berasal dari distribusi

Sejalan dengan penelitian Ningrum (2011) yang meneliti tingkat pengetahuan ibu tentang dampak pernikahan dini bagi remaja di wilayah desa Protomulyo Kaliwungu

 Dalam welfare state, hak kepemilikan diserahkan kepada swasta sepanjang hal tersebut memberikan insentif ekonomi bagi pelakunya dan tidak merugikan secara sosial,

Inkubasi tabung mikrosentrifus kedua selama 10 menit pada temperatur ruang (bolak-balikkan tabung 2-3 kali selama masa inkubasi) untuk melisis sel-sel darah

Berita yang terkait dengan garis atau area ditampilkan dalam bentuk chartlet untuk membantu pelaut mengetahui posisi suatu objek, Contoh : Peletakan kabel laut