• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESAIN MODEL ALIRAN INFORMASI BERBASIS ELEKTRONIK SEBAGAI DASAR PENENTUAN HARGA BIJI KOPI DI TANAH KARO LETNO NOVENTA GURUSINGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DESAIN MODEL ALIRAN INFORMASI BERBASIS ELEKTRONIK SEBAGAI DASAR PENENTUAN HARGA BIJI KOPI DI TANAH KARO LETNO NOVENTA GURUSINGA"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

DESAIN MODEL ALIRAN INFORMASI BERBASIS ELEKTRONIK SEBAGAI DASAR PENENTUAN HARGA BIJI

KOPI DI TANAH KARO

TUGAS SARJANA

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian dari

Syarat – Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Industri Oleh

LETNO NOVENTA GURUSINGA 160403116

D E P A R T E M E N T E K N I K I N D U S T R I F A K U L T A S T E K N I K

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N

2 0 2 0

No. Dok : FM-GKM-S1TI-FT-6-06-07; Tgl. Efektif : 09 Juli 2018; Rev : 01; Halaman : 1 dari 1

(2)
(3)
(4)

ELEKTRONIK SEBAGAI DASAR PENENTUAN HARGA BIJI KOPI DI TANAH KARO

Saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan, 28 Desember 2020

LETNO NOVENTA GURUSINGA NIM. 160403116

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan tugas sarjana ini dengan baik.

Tugas sarjana merupakan salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknik (Strata Satu Teknik Industri) di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara. Penulis melaksanakan Tugas Sarjana di Kabupaten Karo dalam hal menganalisa pemasaran biji kopi. Tugas Sarjana ini berjudul Desain Model Aliran Informasi Berbasis Elektronik Sebagai Dasar Penentuan Harga Biji Kopi di Tanah Karo.

Besar harapan penulis penyusunan laporan penelitian ini dapat menambah pengetahuan bagi pembaca. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan laporan ini, karena pengetahuan dan pengalaman penulis yang masih terbatas. Oleh sebab itu, penulis menerima secara terbuka setiap kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak untuk perbaikan tulisan ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga laporan penelitian ini dapat bermanfaat

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA PENULIS,

MEDAN, DESEMBER 2020 LETNO NOVENTA GURUSINGA

(6)

bahwa penulis dapat menyelesaikan Tugas Sarjana untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik. Penulisan Tugas Sarjana ini tidak akan terselesaikan dengan baik jika penulis tidak mendapatkan bimbingan, bantuan dan doa dari berbagai pihak untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Kedua orang tua tercinta, Gun Gun Gurusinga dan Lestarina Br Ginting Suka yang telah mengizinkan penulis untuk menempuh pendidikan sarjana dan memberikan dukungan dan motivasi baik dari segi moril, doa, maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas sarjana ini.

2. Kepada saudara kandung saya, Egi Elmana Gurusinga dan Winner Eleginta Gurusinga yang telah memotivasi dan memberi dukungan kepada saya melalui doa, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas sarjana ini

3. Ibu Dr. Ir. Meilita Tryana Sembiring, MT, IPM, sebagai Ketua Departemen dan Bapak Buchari, ST, M.Kes, sebagai Sekretaris Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara yang telah mengizinkan pelaksanaan tugas sarjana.

4. Bapak Prof. Dr. Ir. Harmein Nasution, MSIE selaku koordinator tugas sarjana yang telah memberi saran dan masukan untuk laporan tugas sarjana.

5. Bapak Dr. Ir. Meilita Tryana Sembiring, MT, IPM selaku Dosen Pembimbing penulis yang telah memberikan kesediaan baik waktu maupun ilmu, nasihat,

(7)

saran, semangat dan masukan yang membangun untuk penulis agar penulis dapat menyelesaikan penulisan Tugas Sarjana.

6. Pihak UD. Loken Coffee, UD. Milala Kopi, dan UD. Simpang Singa yang telah mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian dan memberikan data yang mendukung penelitian tugas sarjana.

7. Seluruh dosen Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan pengajaran selama perkuliahan yang menjadi bekal penulis dalam meyelesaikan penulisan tugas sarjana ini.

8. Staf pegawai Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Bang Tumijo, Bang Nurmansyah, Kak Rahma, Bang Eddy, Kak Neneng, Kak Ester, Bu Aniaty, dan Kak Mia atas bantuannya dalam hal penyelesaian administrasi untuk melaksanakan tugas sarjana ini.

9. Sahabat penulis Alm. Andro Sembiring, Andrian Yonathan Damanik, Zefanya L Pandia, Kak Sri Neni, Alfredo Bukit, William Rossi Sianturi, Daniel Hasudungan Siagian, dan Jhan Pranata Brahmana, yang telah memberi semangat kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas sarjana ini.

10. Rekan-rekan penulis Trivonia Br Tarigan, Dyah Pitaloka, Siska Br Kaban, Ayu Khairani, Amanda Reihan Sembiring, Regina Yolanda Barus, Indra Syahputra Meliala, Rahel Hutagalung, Ias Ginting, Ari Pinem, Okta Fander Boy Sembiring, Kornelius Sembiring, Wenda Yunita Br Tarigan, Bg. Zega, Harmonis Perangin-angin, Romanto Sembiring, Andre Kurniawan Lumban Gaol, Pasro Luga, Kasahia Manik, Alkesa Hutagalung, dan Joshua Edgar

(8)

Pandekaliaga FT USU, PEMA FT USU, IKAMA Karo, dan PANAL TI USU Stambuk 2016 yang telah memberikan tempat kepada penulis untuk belajar berorganisasi dan mendukung penulis selama perkuliahan.

12. Teman-teman penulis di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik USU khususnya teman-teman angkatan 2016 (FIERLAS) yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah memberikan dukungan kepada penulis dalam penyelesaian laporan tugas sarjana ini.

Medan, Desember 2020 Letno Noventa Gurusinga

(9)

ABSTRAK

Kabupaten Karo adalah salah satu daerah penghasil kopi di Sumatera Utara. Pada tahun 2015-2019, total produksi kopi per tahun di kabupaten Karo adalah 4.808, 5.270, 6.877, 7.379, dan 7.402 ton. Pertumbuhan kopi di Karo mengalami kenaikan berkisar 648,25 ton/tahun. Namun, pertumbuhan kopi di Karo, tidak didukung manejemen pengelolaan kopi dengan baik. Setelah melakukan observasi di 3 pengepul, peneliti menemukan permasalahan yaitu aliran informasi yang kurang baik antara petani dan pengepul yaitu tidak adanya standarisasi mutu dalam penentuan harga, sehingga harga kopi menjadi tidak seragam dan bervariasi. Untuk itu, diperlukan perbaikan aliran informasi dan mekanisme penentuan harga. Perbaikan aliran informasi dilakukan dengan membuat form penentuan mutu kopi berdasarkan SNI, use case diagram dan business process model and notation (BPMN). Hasil dari penelitian ini adalah sebuah desain interface platform model aliran informasi berbasis elektronik. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah perbaikan aliran informasi dengan memanfaatkan aliran informasi berbasis elektronik, sehingga penentuan harga di tingkat pengepul memiliki standarisasi berdasarkan kualitas mutu yang telah ditetapkan.

Kata Kunci : Aliran Informasi, Use Case Diagram, Business Process Model and Notation (BPMN), Standarisasi Mutu Kopi.

(10)

Karo district is one of the coffee-producing areas in North Sumatra. In 2015-2019, the total annual coffee production in Karo district was 4.808, 5.270, 6.877, 7.379, and 7.402 tons. Coffee growth in Karo has increased around 648,25 tons /year. However, the growth of coffee in Karo is not supported by good coffee-management. Therefore, based on the researcher’s observation with 3 collectors, the researcher found a problem, namely the lack of information flow between farmers and collectors which makes the coffee prices were not stable. Accordingly, this requires the improvement of the information flow and pricing mechanisms. The improvement of the flow of information are carried out by creating a form for determining the quality of coffee based on SNI, use case diagrams and business process models and notation (BPMN). The result of this research is an interface design of an electronic-based information flow model platform. The conclusion of this study is to improve the flow of information by utilizing electronic-based information flow, so that pricing at the collector level has a standardization based on predetermined quality.

Keywords: Information Flow, Use Case Diagram, Business Process Model and Notation (BPMN), Coffee Quality Standardization

(11)

DAFTAR ISI

BAB HALAMAN

LEMBAR JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

SERTIFIKAT EVALUASI TUGAS SARJANA ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

UCAPAN TERIMA KASIH ... v

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

DAFTAR SINGKATAN ... xviii

I PENDAHULUAN ... I-1 1.1. Latar Belakang Permasalahan ... I-1 1.2. Perumusan Masalah... I-4 1.3. Tujuan Penelitian ... I-5 1.4. Manfaat Penelitian... I-5 1.5. Batasan Masalah dan Asumsi ... I-6 1.6. Sistematika Penulisan Laporan ... I-6

II GAMBARAN UMUM PENELITIAN... II-1 2.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian... II-1 2.2. Potensi Produksi Kopi Karo ... II-2 2.3. Mekanisme Transaksi Jual-Beli Kopi antar Pengepul

dengan Petani ... II-4

(12)

III STUDI LITERATUR ... III-1 3.1. Karakteristik Kopi ... III-1 3.2. Perkembangan Kopi ... III-3 3.3. Rantai Pasok (Supply Chain) ... III-4 3.3.1. Tujuan Utama Supply Chain ... III-5 3.3.2. Pentingnya Pengelolaan Aliran Informasi pada

Supply Chain Management (SCM) ... III-6 3.4. Model dan Simulasi ... III-9 3.5. Data……… ... III-11 3.6. Use Case Diagram ... III-11 3.7. Business Process Model and Notation ... III-12 3.8. Mock Up ... III-13

IV METODOLOGI PENELITIAN ... IV 1 4.1. Lokasi dan Jadwal Penelitian ... IV-1 4.2. Jenis Penelitian ... IV-1 4.3. Objek Penelitian ... IV-1 4.4. Variabel Penelitian ... IV-1 4.5. Kerangka Konseptual Penelitian ... IV-2 4.6. Metode Pengumpulan Data ... IV-2 4.7. Metode Pengolahan Data ... IV-2

V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA ... V-1 5.1. Pengumpulan Data Harga Kopi di Masing-Masing

Pengepul ... V-1 5.2. Perbaikan Standarisasi Mutu Kopi di Tingkat Pengepul ... V-2

5.2.1. Pembuatan Standarisasi Mutu Kopi berdasarkan

(13)

xii

DAFTAR ISI (LANJUTAN)

BAB HALAMAN

5.2.2. Pembuatan Form Perhitungan Standarisasi Mutu

Kopi ... V-4 5.3. Perancangan Model Sistem Aliran Informasi Berbasis

Informasi Elektronik ... V-7 5.3.1. Pembuatan Use Casec Diagram ... V-7 5.3.1.1.Use Case Diagram Pengunjung ... V-7 5.3.1.2. Use Case Diagram Daftar menjadi

Pengepul ... V-9 5.3.1.3. Use Case Diagram Model Sistem ... V-10 5.3.2. Pembuatan Business Process Model and Notation

(BPMN) ... V-12 5.3.3. Pembuatan Model Sistem dengan Mock-Up ... V-14

VI ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... VI-1 6.1. Analisa Deployment ... VI-1 6.1.1. System Building ... VI-1 6.1.2. Installation ... VI-1 6.1.3. Kompatibilitas Sistem Pengujian ... VI-2 6.2. Perbandingan Aliran Informasi secara Manual dengan

Usulan Berbasis Elektronik ... VI-2 6.3. Perbandingan Standarisasi Kopi secara Manual dengan

Usulan ... VI-4 6.4. Perbandingan Penentuan Harga Kopi secara Manual dengan

Usulan ... VI-5

(14)

VII KESIMPULAN DAN SARAN ... VII-1 7.1. Kesimpulan ... VII-1 7.2. Saran ... VII-1

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(15)

DAFTAR TABEL

TABEL HALAMAN

2.1. Produksi Perkebunan Kopi di Kabupaten Karo Tahun

2015-2019 ... II-3 3.1 Syarat Mutu Umum Kopi ... III-2 3.2. Syarat Mutu Biji Kopi... III-2 3.3. Penentuan Besarnya Nilai Cacat Biji Kopi ... III-2 3.4. Rekapitulasi Perkebunan Kopi di Indonesia Tahun

2016-2020 ... III-3 3.5. Rekapitulasi Perkebunan Kopi di Kabupaten Karo

Tahun 2015-2018 ... III-4 5.1. Rekapitulasi Harga Kopi di Petani... V-1 5.2. Syarat Mutu Biji Kopi... V-3 5.3. Penentuan Besarnya Nilai Cacat Biji Kopi ... V-3 5.4. Form Penentuan Besarnya Nilai Cacat Biji Kopi ... V-5 6.1. Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) Kopi Tahun

2017 ... VI-5

(16)

2.1. Lokasi Dataran Tinggi Karo ... II-2 2.2. Grafik Pertumbuhan Perkebunan Kopi Karo ... II-3 2.3. Use Case Diagram Transaksi Kopi di Karo ... II-4 3.1. Simplikasi Rantai Pasok dengan Tiga Aliran ... III-5 3.2. Contoh Use Case Diagram ... III-12 3.3. Contoh Business Process Model and Notation ... III-13 3.4. Tampilan Mock-Up ... III-13 4.1. Kerangka Konseptual ... IV-2 4.2. Tahapan Penelitian ... IV-3

5.1. Use Case Diagram Model Jual-Beli Kopi di Tanah

Karo ... V-2 5.2. Use Case Diagram Pengunjung ... V-7 5.3. Verifikasi Use Case Diagram Pengunjung ... V-8 5.4. Use Case Diagram Daftar menjadi Pengepul ... V-9 5.5. Verifikasi Use Case Diagram Daftar menjadi Pengepul .. V-10 5.6. Use Case Diagram Model Sistem ... V-11 5.7. Verifikasi Use Case Diagram Model Sistem ... V-12 5.8. BPMN Sistem ... V-13 5.9. Verifikasi BPMN Sistem ... V-14 5.10. Tampilan Awal Interface Pengepul ... V-15

(17)

xvi

DAFTAR GAMBAR (LANJUTAN)

GAMBAR HALAMAN

5.11. Tampilan Daftar menjadi Pengepul ... V-15 5.12. Tampilan Input Harga Kopi ... V-16 5.13. Tampilan Awal Interface Petani ... V-16 5.14. Tampilan Informasi Umum ... V-17 5.15. Tampilan Menu Harga Kopi ... V-18 5.16. Tampilan Daftar Pengepul ... V-18 5.17. Tampilan About Us ... V-19 6.1. Aliran Informasi secara Manual ... VI-2 6.2. Aliran Informasi Usulan Berbasis Elektronik ... VI-3

(18)

1 Data Produksi Kopi Arabika di Tanah Karo ... L-1 2 Form Pengajuan Tugas Akhir ... L-2 3 Surat Keputusan Tugas Akhir ... L-3 4 Form Asistensi ... L-4

(19)

DAFTAR SINGKATAN

BPNM = Business Process Model and Notation BSN = Badan Standarisasi Nasional

EDI = Electronic Data Interchange ERP = Enterprise resource planning RFID = Radio Frequency Identification

SCM = Supply Chain Management

SNI = Standar Nasional Indonesia SOP = Standard Operasional Prosedur

UD = Usaha Dagang

UML = Unified Modeling Language

(20)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Permasalahan

Komoditas kopi saat ini merupakan primadona perdagangan Internasional dan Indonesia sebagai penghasil nomor 4 terbesar di dunia dengan penghasilan rata- rata 639 ribu ton/tahun. Jenis kopi yang mendominasi produksi ialah kopi jenis robusta dan arabika dengan persentasi produksi sebesar 72,84 % untuk jenis robusta dan 27,16 % untuk jenis arabika (http://indonesiabaik.id/). Indonesia merupakan produsen kopi dan hal ini telah diketahui oleh konsumen internasional. Pulau terbesar hingga pulau terkecil di Indonesia menghasilkan kopi seperti, daerah Sumatera terkenal dengan Kopi Gayo dan Kopi Mandaeling, Jawa dengan Java Coffee, Bali dengan Kopi Kintamani dan Sulawesi dengan Kopi Toraja dan Nusa Tenggara dengan Kopi Bajawa. Daerah tersebut menjadi andalan serta menjadi ikon kopi Indonesia dikarenakan citarasa kopi yang dihasilkan memiliki ciri khas tersendiri.

Kabupaten Karo merupakan salah satu kabupaten di daerah Sumatera Utara yang menjadi salah satu penghasil kopi. Luas lahan pengembangan komoditas kopi arabica seluas 40.893,1 Ha. Total produksi kopi arabika di Kabupaten Karo adalah sebesar 25.546,81 ton (https://disbun.sumutprov.go.id/).

(21)

I-2

Prospek pasar kopi yang cukup besar di Kabupaten Karo, namun tidak di dukung dengan manajemen pengelolaan kopi di Kabupaten Karo. Data pertumbuhan kopi di kabupaten Karo dapat dilihat pada Tabel 1.1. berikut ini.

Tabel 1.1. Data Pertumbuhan Kopi di Kabupaten Karo

Tahun Luas Lahan (Ha) Total Produksi (Ton) Jumlah Petani

2015 6.076,22 4.808,05 11.076

2016 8.062 5.270 11.076

2017 8.378,44 6.877,02 11.165

2018 9.178,44 7.379,74 13.135

2019 9.198 7.402 13.142

Sumber : http://disbun.sumutprov.go.id

Berdasarkan hasil pengamatan awal, peneliti mendapatkan variasi harga jual kopi di tingkat petani. Berdasarkan pengamatan awal peneliti, variasi harga jual kopi di tingkat petani dikarenakan kurangnya informasi kualitas kopi yang diinginkan antara pengepul dan petani sehingga menyebabkan terjadinya variasi harga kopi. Selain itu, di tingkat pengepul juga belum ada standariasi harga terkait kualitas kopi yang diterima dari petani karena penentuan harga kopi petani dilakukan dengan cara sampling dan bersifat deskriptif.

Permasalahan yang terjadi pada harga jual kopi di Tanah Karo tidak terlepas dari pengelolaan pada manajemen rantai pasokan kopi di Tanah Karo. Dalam pengelolan manajemen rantai pasok ada 3 hal yang harus diperhatikan yaitu aliran barang (material), aliran uang, dan aliran informasi. Pertama, adalah aliran barang yang mengalir dari hulu ke hilir. Contohnya adalah bahan baku yang dikirim dari supplier ke pabrik. Setelah produk selesai diproduksi, mereka dikirim ke distributor, lalu ke pengecer atau ritel, kemudian ke pemakai akhir. Yang kedua, adalah aliran uang dan sejenisnya yang mengalir dari hilir ke hulu. Yang ketiga,

(22)

adalah aliran informasi yang bisa terjadi dari hulu ke hilir ataupun sebaliknya (Pujawan,2017).

Manajemen Rantai Pasok merupakan usaha yang luas dan kompleks yang bergantung pada setiap mitra dari pemasok hingga produsen dan seterusnya supaya dapat berjalan dengan baik. Tujuan dari manajemen rantai pasokan sendiri adalah untuk mengintegrasikan dari seluruh kegiatan pergerakan produk atau jasa dari pemasok ke pelanggan yang meliputi informasi, dana, serta sumberdaya lainnya yang saling terkait.

Berdasarkan hasil pengamatan, permsalahan pengelolaan rantai pasokan kopi di Kabupaten Karo adalah aliran informasi yang kurang baik sehingga menyebabkan permasalahan pada penentuan harga kopi yang bervariasi. Petani tidak mengetahui mekanisme penentuan harga oleh pengepul dikarenakan kurangnya informasi standarisasi penentuan harga kopi yang telah ditetapkan pengepul.

Penelitian penggunaan teknologi informasi untuk memperbaiki model Supply Chain Management yang dilakukan oleh Varma dan Khan (2014) menghasilkan suatu model aliran informasi berbasis informasi elektronik yang secara signifikan menggantikan informasi secara laporan tertulis, sehingga dapat mengontrol kegiatan supply chain setiap hari dengan lebih efektif.

Penelitian yang dilakukan Ferantino dan Koten (World Bank Group,2019) untuk mengetahui dampak rantai pasok 4.0 ialah pengunaan teknologi dalam rantai pasok akan mentranformasi model rantai pasok dengan mengintegrasikan aliran informasi ke dalam suatu pusat rantai pasok. Penelitian yang dilakukan Himanshu

(23)

I-4

et al (2013) menjelaskan bahwa untuk dapat bersaing secara global maka harus dilakukan managemen informasi. Penggunaan teknologi informasi memberikan manfaat dalam mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kualitas informasi kepada perusahaan serta dapat mengintegrasikan antar pemangku kepentingan dalam rantai pasok.

Penelitian yang dilakukan Sutri Handayani (2018) menjelaskan bahwa perancangan sistem informasi e-commerce dilakukan dengan tahapan membuat use case diagram untuk mendeskripsikan apa yang harus dilakukan oleh sistem.

Diagram use case menyediakan cara mendeskripsikan pandangan eksternal terhadap sistem dan interaksi-interaksinya terhadap dunia luar. Penelitian yang dilakukan Ismanto (2020) menjelaskan bahwa pemodelan proses bisnis pada suatu organisasi secara detail dengan aliran informasi berupa pesan yang disampaikan antar pihak terkait dapat dilakukan dengan menggunakan Business Process Model and Notation (BPMN).

Berdasarkan beberapa kajian yang telah dilakukan mengenai pentingnya melakukan manajemen rantai pasok, maka pada kajian ini akan memfokuskan suatu desain model aliran informasi berbasis informasi elektronik untuk mengontrol kondisi rantai pasok kopi di Kabupaten Karo.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dibahas yaitu permasalahan variasi harga jual kopi di tingkat petani yang disebabkan oleh kurangnya informasi kualitas

(24)

kopi di tingkat petani dan pengepul, maka perumusan masalah dapat dinyatakan dengan beberapa pertanyaan sebagai berikut.

1. Bagaimana menentukan kriteria kualitas yang sesuai dengan standar kopi yang diinginkan pengepul?

2. Bagaimana desain model aliran informasi yang baik untuk kegiatan jual beli antar petani dan pengepul ?

3. Bagaimana mekanisme menentukan standar harga yang sama di setiap pengepul?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan umum dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Menentukan kualitas kopi sesuai standar kopi yang diinginkan pengepul 2. Merancang desain model terbaik untuk kegiatan transaksi jual beli antar petani

dan pengepul

3. Membuat mekanisme penentuan standar harga berdasarkan kategori kualitas mutu kopi

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada petani, pengepul, dan pemerintah setempat dalam mengatasi permasalahan transaksi jual beli kopi di kabupaten Karo.

(25)

I-6

1.5. Batasan Masalah dan Asumsi

Batasan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Produk yang dikaji pada penelitian ini adalah kopi arabica

2. Penelitian ini berlokasi di kecamatan Munte, dan kecamatan Kabanjahe, kabupaten Karo

3. Fokus penelitian adalah sistem informasi pada manajemen rantai pasok kopi 4. Tidak ada track produksi kopi selama pengamatan

Asumsi dalam penelitian ini adalah :

1. Petani dan pengepul yang dijadikan sampel melakukan transaksi jual beli kopi 2. Aliran material dan aliran keuangan dianggap sama pada setiap pengepul

1.6. Sistematika Penulisan Laporan

Sistematika penulisan laporan dari tugas sarjana akan disajikan dalam Bab I hingga Bab VI.

Dalam Bab I Pendahuluan diuraikan latar belakang permasalahan yang mendasari dilakukannya penelitian, perumusan permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian, batasan dan asumsi yang digunakan dalam penelitian serta sistematika penulisan laporan penelitian.

Dalam Bab II Gambaran Umum Penelitian, menguraikan tentang gambaran umum lokasi penelitian, jumlah produksi kopi, dan kondisi aktual pemasaran kopi.

Dalam Bab III Studi Literatur, membahas tinjauan kepustakaan yang berisi teori-teori pendukung yang digunakan dalam menganalisis permasalahan yang dijadikan penelitian. Teori-teori yang digunakan meliputi teori buku, jurnal

(26)

penelitian dan draft tugas sarjana mahasiswa yang pernah mengangkat permasalahan yang sama.

Dalam Bab IV Metodologi Penelitian diuraikan langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian seperti penentuan lokasi penelitian, jenis penelitian, objek penelitian, variabel penelitian, kerangka konseptual penelitian, blok diagram prosedur penelitian, pengumpulan data, metode pengolahan data, analisis pemecahan masalah, serta kesimpulan dan saran.

Dalam Bab V Pengumpulan dan Pengolahan Data diuraikan data-data yang dikumpulkan peneliti yang berhubungan dengan data yang diperlukan untuk menentukan model terbaik dalam transaksi jual beli antar petani dan pengepul kopi Dalam Bab VI Analisis Pemecahan Masalah diuraikan analisis terhadap hasil dari model yang diusulkan dengan dibandingkan dengan kondisi aktual pasar.

Dalam Bab VII Kesimpulan dan Saran diuraikan kesimpulan yang diperoleh dari pemecahan masalah, serta saran-saran yang bermanfaat bagi perusahaan dan pengembangan penelitian selanjutnya.

(27)

II-1

BAB II

GAMBARAN UMUM PENELITIAN

2.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Dataran tinggi Karo merupakan suatu lokasi yang terdapat di Pegunungan Bukit Barisan. Secara administratif dataran ini termasuk ke dalam Provinsi Sumatera Utara. Secara detail lokasi dataran tinggi Karo bersebelahan dengan kabupaten lainnya. Sebelah utara bersebelahan dengan kabupaten Langkat dan Deli Serdang, sebelah selatan dengan kabupaten Dairi dan Toba Samosir, sebelah timur dengan kabupaten Simalungun dan Deli Serdang, dan sebelah barat bersebelahan dengan Provinsi Nangroe Aceh Darusalam. Adapun objek penelitian hanya berada di Kecamatan Munte, dengan justifikasi kedua kabupaten ini merupakan penghasil kopi arabika.

Berdasarkan ketinggian, Kabupaten Karo berada di ketinggian 200-1.500 M diatas permukaan laut, dengan suhu udara berkisar 15,6- 230 C, dan kelembapan udara berkisar 89,12 persen sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan kopi arabika yang mensyaratkan pertumbuhan diatas 1.000 M dpl dengan suhu sekitar 200 C.

Berikut ini adalah lokasi dataran tinggi Karo. Lokasi pengamatan dapat dilihat pada Gambar 2.1. berikut ini.

(28)

Sumber : Pengumpulan Data

Gambar 2.1. Lokasi Dataran Tinggi Karo

2.2. Potensi Produksi Kopi Karo

Tanaman kopi (Coffees Sp) merupakan salah satu tanaman utama di Sumatera Utara yang banyak diusahakan oleh rakyat termasuk di Kabupaten Karo.

Tanaman ini merupakan komoditi perkebunan yang penting dalam perekonomian daerah kabupaten Karo karena menyumbangkan devisa untuk daerah ini. Tanaman kopi di Karo tersebar di seluruh kecamatan dan paling luas terletak di kecamatan Merek, Tiga Panah, Simpang Empat, Payung, dan Munte. Berikut ini merupakan produksi kopi Karo dari tahun 2015-2019 berdasarkan data dinas perkebunan Provinsi Sumatera Utara. Data produksi perkebunan kopi di kabupaten Karo dapat dilihat pada Tabel 2.1. berikut ini.

(29)

II-3

Tabel 2.1. Produksi Perkebunan Kopi di Kabupaten Karo Tahun 2015-2019

Tahun Luas Lahan (Ha) Total Produksi (Ton) KK Petani

2015 6.076,22 4.808,05 11.076

2016 8.062 5.270 11.076

2017 8.378,44 6.877,02 11.165

2018 9.178,44 7.379,74 13.135

2019 9.198 7.402 13.142

Sumber : http://disbun.sumutprov.go.id

Dari data diatas, perkebunan kopi di Karo mengalami peningkatan baik secara luas lahan, total produksi dan jumlah petani. Berikut merupakan grafik perkebunan kopi arabika Karo. Adapun grafik pertumbuhan kopi dapat dilihat pada Gambar 2.2. berikut ini.

Sumber : http://disbun.sumutprov.go.id

Gambar 2.2. Grafik Pertumbuhan Perkebunan Kopi Karo

Pertumbuhan Perkebunan Kopi di Karo didorong oleh keseriusan Pemerintah Daerah Karo untuk mengembangkan komoditi kopi sebagai salah satu komoditi unggulan di kabupaten ini. Berdasarkan informasi dari laman website

(30)

pemerintahan Karo, target produksi kopi di Karo mencapai 10.837,85 ton untuk areal tanah seluas 5.045 Ha. Pemerintah Karo juga membuat daerah pengembangan kopi jenis arabica seluas 1.500 Ha, sehingga pada masa yang akan datang diharapkan kabupaten Karo bisa menjadi KIMBUN-KOPI yang berarti penanaman sampai pengolahan menjadi bubuk dilakukan di kabupaten Karo.

2.3. Mekanisme Transaksi Jual-Beli Kopi antar Pengepul dengan Petani Pertumbuhan perkebunan kopi di Karo, sejalan dengan pertumbuhan jumlah pengepul di Karo. Pengepul saling bersaing untuk mendapatkan kopi melalui tawaran harga yang bersaing. Penentuan harga dilakukan berdasarkan kualitas kopi petani. Semakin baik kualitas kopi, maka harga jual petani juga semakin tinggi.

Setelah dilakukan observasi, peneliti melihat bahwa tidak adanya standarisasi penentuan kualitas yang jelas oleh pengepul mengakibatkan petani kurang mengetahui sistematika penentuan harga berdasarkan kualitas tersebut. Use case diagram transaksi jual beli kopi yang selama ini terjadi di Karo yang dapat dilihat pada Gambar 2.3. berikut ini.

Sumber : Pengumpulan Data

(31)

II-5

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa, petani datang kepada pengepul dengan membawa kopi mereka, namun tidak mengetahui kualitas kopi mereka dikarenakan tidak adanya edukasi dari pengepul mengenai standarisasi penentuan kualitas kopi. Penentuan harga kopi berlangsung ketika kopi sudah berada di pengepul. Selama melakukan observasi di 3 pengepul, peneliti melihat bahwa pengepul melakukan penentuan kualitas dengan sampling yang tidak terstandarisasi, sehingga mengakibatkan adanya variasi harga kopi di tingkat pengepul. Ini tentunya dapat merugikan petani, baik dari segi waktu, pendapatan, dan biaya antar.

(32)

3.1 Karakteristik Kopi

Kata kopi atau dalam bahasa Inggris coffee berasal dari bahasa Arab qahwah, yang berarti kekuatan. Kemudian kata kopi yang kita kenal saat ini berasal dari bahasa Turki yaitu kahveh yang kemudian belakangan menjadi koffie dalam bahasa Belanda dan coffee dalam bahasa Inggris. Kata tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kopi.

Tanaman kopi berasal dari dataran tinggi di Ethiopia, yang pada saat itu merupakan tanaman liar. Pada awalnya kopi digunakan sebagai makanan. Seluruh biji kopi dihancurkan, lalu ditambahkan minyak. Lalu adonan ini dibentuk berbentuk bundar dan menjadi makanan. Sampai saat ini, beberapa suku di Afrika masih memakan kopi dalam bentuk seperti itu.

Kopi dan khasiatnya, menurut legenda, ditemukan penggembala- penggembala kambing jazirah Arab dimana mereka memperhatikan bahwa ternaknya selalu menunjukkan gejala gembira setelah menggigit biji dan daun suatu tanaman hijau berbunga dan berbuah merah kecil, di area tersebut. Karena khasiat ini mereka mencoba biji tanaman tersebut dan merasakan efek semangat serta gembira. Akhirnya penemuan ini menyebar dari mulut ke mulut, sejak itu diberdayakanlah kopi. Karena khasiatnya, kopi pun mulai diperdagangkan oleh orang-orang Afrika dan Arab kepada orang orang Eropa, dimana kopi mulai

(33)

III-2

digunakan sebagai pengganti minuman anggur. Standar mutu umum SNI dapat dilihat pada Tabel 3.1. berikut ini.

Tabel 3.1 Syarat Mutu Umum Kopi

No. Kriteria Persyaratan

1 Serangga hidup Tidak ada

2 Biji berbau busuk atau berbau kapang Tidak ada

3 Kadar air Maks 12,5%

4 Kadar kotoran non-kopi Maks 0,5%

Sumber : https://www.cctcid.com/2018/08/29/beberapa-standard-pemeringkatan-mutu-biji-kopi-2/

Adapun syarat mutu biji kopi dapat dilihat pada Tabel 3.2. berikut ini Tabel 3.2 Syarat Mutu Biji Kopi

Mutu Persyaratan

Mutu 1 Jumlah nilai cacat maksimum 11

Mutu 2 Jumlah nilai cacat 12 sampai dengan 25 Mutu 3 Jumlah nilai cacat 26 sampai dengan 44 Mutu 4a Jumlah nilai cacat 45 sampai dengan 60 Mutu 4b Jumlah nilai cacat 61 sampai dengan 80 Mutu 5 Jumlah nilai cacat 81 sampai dengan 150 Mutu 6 Jumlah nilai cacat 151 sampai dengan 225 Catatan :

Untuk kopi arabika mutu 4 tidak dibagi menjadi sub mutu 4a dan 4b. Penentuan besarnya nilai cacat dari setiap biji cacat dicantumkan oleh Tabel 1.3

Sumber : https://bsn.go.id/uploads/download/3._SNI_produk_ekspor_SulSel_-_Kabid_PPK_1.pdf

Untuk menentukan nilai dari kecacatan biji kopi dapat dilihat pada Tabel 3.3. berikut ini.

Tabel 3.3 Penentuan Besarnya Nilai Cacat Biji Kopi

No Jenis Cacat Nilai Cacat

1 1 (satu) biji hitam 1 (satu)

2 1 (satu) biji hitam sebagian ½ (setengah)

3 1 (satu) biji hitam pecah ½ (setengah)

4 1 (satu) kopi gelondong 1 (satu)

5 1 (satu) biji coklat ¼ (seperempat)

6 1 (satu) kulit kopi ukuran besar 1 (satu)

7 1 (satu) kulit kopi ukuran sedang ½ (setengah)

8 1 (satu) kulit kopi ukuran kecil 1/5 (seperlima)

9 1 (satu) biji berkulit tanduk ½ (setengah)

10 1 (satu) kulit tanduk ukuran besar ½ (setengah)

(34)

Tabel 3.3 Penentuan Besarnya Nilai Cacat Biji Kopi (Lanjutan)

No Jenis Cacat Nilai Cacat

11 1 (satu) kulit tanduk ukuran sedang 1/5 (seperlima) 12 1 (satu) kulit tanduk ukuran kecil 1/10 (sepersepuluh)

13 1 (satu) biji pecah 1/5 (seperlima)

14 1 (satu) biji muda 1/5 (seperlima)

15 1 (satu) biji berlubang satu 1/10 (sepersepuluh)

16 1 (satu) biji berlubang lebih dari satu 1/5 (seperlima)

17 1 (satu) biji bertutul-tutul 1/10 (sepersepuluh)

18 1 (satu) ranting, tanah, atau batu berukuran besar 5 (lima) 19 1 (satu) ranting, tanah, atau batu berukuran sedang 2 (dua) 20 1 (satu) ranting, tanah, atau batu berukuran kecil 1 (satu)

Keterangan : Jumlah nilai cacat dihitung dari contoh uji seberat 300 g. Jika satu biji kopi mempunyai lebih dari satu nilai cacat, maka penentuan nilai cacat tersebut didasarkan pada bobot nilai cacat tersebesar.

Sumber : https://bsn.go.id/uploads/download/3._SNI_produk_ekspor_SulSel_-_Kabid_PPK_1.pdf

3.2. Perkembangan Kopi

Berdasarkan data BPS, perkebunan kopi di Indonesia setiap tahunnya cenderung mengalami kenaikan. Luas lahan yang meningkat mengakibatkan total produksi kopi di Indonesia juga meningkat. Rekapitulasi perkebunan kopi di Indonesia tahun 2016-2020 dapat dilihat pada Tabel 3.4. berikut ini.

Tabel 3.4. Rekapitulasi Perkebunan Kopi di Indonesia Tahun 2016-2020 Tahun Luas Lahan (Ha) Total Produksi (Ton)

2016 1.246.657 663.871

2017 1.238.598 717.962

2018 1.252.825 756.051

2019 1.258.032 760.963

2020 1.264.331 773.409

Sumber : Statistik Perkebunan Kopi di Indonesia

Adapun data BPS perkebunan kopi di Kabupaten Karo tahun 2015-2019 dapat dilihat pada Tabel 3.5. berikut ini.

(35)

III-4

Tabel 3.5. Rekapitulasi Perkebunan Kopi di Kabupaten Karo Tahun 2015-2019

Tahun Luas Lahan (Ha) Total Produksi (Ton) Jumlah Petani

2015 6.076,22 4.808,05 11.076

2016 8.062 5.270 11.076

2017 8.378,44 6.877,02 11.165

2018 9.178,44 7.379,74 13.135

2019 9.198 7.402 13.142

Sumber : http://disbun.sumutprov.go.id

3.3. Rantai Pasok (Supply Chain)

Supply Chain adalah jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama- sama bekerja untuk menciptakan dan mengantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir. Perusahaan-perusahaan tersebut biasanya termasuk supplier, pabrik, distributor, toko atau ritel, serta perusahaan-perusahaan pendukung seperti perusahaan jasa logistik. (Pujawan, 2017)

Pada suatu supply chain biasanya ada 3 macam aliran yang harus dikelola.

Pertama, adalah aliran barang yang mengalir dari hulu ke hilir. Contohnya adalah bahan baku yang dikirim dari supplier ke pabrik. Setelah produk selesai diproduksi, mereka dikirim ke distributor, lalu ke pengecer atau ritel, kemudian ke pemakai akhir. Yang kedua, adalah aliran uang dan sejenisnya yang mengalir dari hilir ke hulu. Yang ketiga, adalah aliran informasi yang bisa terjadi dari hulu ke hilir ataupun sebaliknya. (Pujawan, 2017). Adapun simplikasi rantai pasok dapat dilihat pada Gambar 3.1. berikut ini.

(36)

Finansial : invoice, term pembayaran

Material : bahan baku, komponen, produk jadi Informasi : kapasitas, status pengiriman, quotation

Supplier Tier 2

Supplier

Tier 1 Manufacturer Distributor Ritel/Toko

Finansial : pembayaran Material : retur, recycle, repair

Informasi : order, ramalan, RFQ/RFP

Gambar 3.1 Simplikasi Rantai Pasok dengan Tiga Aliran

3.3.1. Tujuan Utama Supply Chain

Perusahaan yang berada dalam supply chain pada intinya memuaskan konsumen dengan bekerja sama membuat produk yang murah, mengirimkan tepat waktu dan dengan kualitas yang bagus. Apabila mengacu pada sebuah perusahaan manufaktur, kegiatan-kegiatan utama yang masuk dalam klasifikasi SCM adalah :

a. Pengembangan Produk (Product Development)

Melakukan riset pasar, merancang produk baru, melibatkan supplier dalam perancangan produk.

b. Pengadaan (Procurement)

Memilih supplier mengevaluasi kinerja supplier, melakukan pembelian bahan baku dan komponen, memonitor supply risk, membina dan memelihara hubungan dengan supplier.

c. Perencanaan dan Pengendalian (Planning and Control)

(37)

III-6

Demand planning, peramalan permintaan, perencanaan kapasitas, perencanaan produksi dan persediaan.

d. Produksi (Production)

Eksekusi produksi, dan pengendalian kualitas.

e. Distribusi (Distribution)

Perencanaan jaringan distribusi, penjadwalan pengiriman, mencari dan memelihara hubungan dengan perusahaan jasa pengiriman, memonitor service level di tiap pusat distribusi.

3.3.2. Pentingnya Pengelolaan Aliran Informasi pada Supply Chain Management (SCM)

Informasi dalam jaringan rantai suplai mempunyai peran yang sangat signifikan dalam penentuan strategi jaringan rantai suplai, terutama digunakan untuk merencanakan jaringan rantai suplai di masa depan.

Sebuah informasi dapat memberikan pandangan yang luas bagi manajemen tentang hal-hal apa saja yang terjadi didalam jaringan rantai suplai perusahaan. Dengan informasi yang tepat, maka manajemen dapat memanfaatkan penggunaan fasilitas yang ada secara maksimal dan koordinasi pergerakan produk didalam jaringan rantai suplai. Sehingga, dengan informasi yang tepat, maka perusahaan dapat meningkatkan responsitifitas dan efisiensi secara bersamaan.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melihat dimensi informasi terhadap strategi rantai perusahaan :

(38)

a. Menggunakan Strategi Push atau Pull.

Terdapat perbedaan penggunaan informasi pada strategi push dan pull didalam manjemen rantai suplai. Sistem Push dimulai dengan meramalkan kebutuhan produk yang digunakan sebagai dasar penjadwalan dalam memproduksi produk, penjadwalan pembelian barang ke suplier, berikut dengan jumlahnya dan jadwal pengiriman barang ke retailer. Sedangkan pada sistem pull, membutuhkan informasi terkait dengan permintaan produk secara nyata dan cepat, diseluruh jaringan rantai suplai, sehingga implementasi produksi dan distribusi produk benar-benar mencerminan permintaan secara akurat

b. Koordinasi dan Penyebaran Informasi.

Koordinasi didalam jaringan rantai suplai pada tiap-tiap bagian harus dilakukan dengan sangat baik, dalam rangka bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan rantai suplai beradasarkan informasi- informasi yang ada. Koordinasi yang lemah akan mengakibatkan kerugian yang besar pada jaringan rantai suplai. Untuk mencapai koordinasi yang baik, antar bagian harus saling memberikan informasi ke bagian lainnya, secara cepat dan akurat.

c. Perencanaan penjualan dan operasional.

Perencanaan penjualan dan operasional adalah sebuah proses pembuatan rantai suplai secara keseluruhan untuk memenuhi kebutuhan permintaan penjualan. Proses tersebut dimulai dari informasi terkait dengan berapa besar permintaan pasar terhadap sebuah produk.

(39)

III-8

Informasi tersebut lalu disebarluaskan kepada seluruh jaringan rantai suplai perusahaan. Tujuan utama dari Perencanaan penjualan dan operasional adalah terjadinya kesepakatan antara divisi penjualan, produksi dan persediaan barang dalam rangkan peningkatan keuntungan perusahaan.

d. Penggunaan Teknologi.

Mengingat pentingnya informasi yang akurat dan cepat dalam jaringan rantai suplai, maka penggunaan teknologi informasi, menjadi suatu hal yang tidak dapat dihindari lagi. Bagaimana mungkin data-data yang begitu besar dan kompleks pada jaringan rantai suplai dapat kita analisa dengan cepat dan akurat apabila dilakukan dengan manual. Saat ini, banyak sekali teknologi yang tersedia untuk mendukung manajemen rantai suplai, misalnya teknologi Electronic Data Interchange (EDI), Radio Frequency Identificatio (RFID), perangkat lunak Enterprise resource planning (ERP), Supply chain management (SCM) dan masih banyak lagi.

Beberapa hal yang harus diukur oleh manajemen terkait Informasi, yang secara langsung juga mempengaruhi performa rantai suplai, adalah :

a. Peramalan.

Digunakan untuk mengidentifikasi secara lanjut terkait pembuatan peramalan berdasarkan data-data yang terjadi secara nyata.

Peramalan ini harus dibuat lebih cepat dibandingkan waktu yang dibutuhkan dalam membuat keputusan, sehingga pengambilan keputusan dapat diambil berdasarkan peramalan yang dibuat berdasarkan data-data nyata.

(40)

b. Frekuensi pemutakhiran data.

Digunakan untuk menentukan berapa sering data-data diupdate untuk dilakukan peramalan. Keter-update-an data biasanya ditentukan dengan seberapa sering keputusan dibuat dalam jaringan rantai suplai. Data-data harusnya diupdate sebelum keputusan diambil, sehingga keputusan yang dibuat berdasarkan data-data yang update.

c. Kesalahan peramalan.

Digunakan untuk mengukur perbedaan antara peramalan dengan kenyataan yang terjadi. Kesalahan peramalan ini digunakan untuk mengantisipasi ketidakpastian rantai suplai dan ketidakpastian permintaan.

d. Faktor musiman.

Digunakan untuk mengukur rata-rata permintaan tiap-tiap waktu, apakah suatu musim itu berada di atas rata-rata (high season) atau di bawah rata-rata (low season) permintaan tahunan.

e. Variasi perencanaan.

Digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan antara yang direncanakan dengan kenyataannya.

3.4. Model dan Simulasi

Pemahaman tentang sistem merupakan kebutuhan mendasar jika ingin melakukan pemodelan simulasi ataupun pengaplikasian metode analitis, karena pendekatan yang dipakai untuk memecahkan masalah adalah pendekatan sistem (system approach), yaitu suatu pendekatan holistik terhadap suatu persoalan.

(41)

III-10

Melakukan pemodelan adalah suatu cara untuk mempelajari sistem dan model itu sendiri dan juga bermacam-macam perbedaan perilakunya.

a. Eksperimen dengan Sistem Nyata dan Model

Eksperimen langsung dengan sistem nyata adalah lebih baik jika hal itu memungkinkan, cost effective, dan relevan dengan tujuan studi. Namun kenyataan menunjukkan bahwa sangat sulit untuk melakukan eksperimen langsung. Hal ini disebabkan karena biaya eksperimen yang mahal, dan time consuming. Dengan membuat model yang representatif maka kita dapat melakukan eksperimen dengan biaya murah.

b. Model Fisik dan Matematis

Model fisik adalah model miniatur dari suatu sistem seperti maket restoran siap saji, simulator penerbangan, dan lain sebagainya. Dalam beberapa aspek model fisik banyak dipakai dalam pemecahan persoalan engineering dan sistem manajemen, seperti miniatur material handling.

Tetapi yang paling utama dalam persoalan engineering dan manajemen adalah model matematis yang menggambarkan sistem sebagai hubungan yang logis dan kuantitatif yang kemudian dapat dimanipulasi dan diubah untuk mengetahui bagaimana model bereaksi.

c. Model Simulasi dan Analitis

Model matematis digunakan untuk menjawab aspek-aspek dari suatu sistem yang sederhana. Sehingga dengan mudah kita memecahkan setiap persoalan dengan persamaan analitisnya. Tetapi pada kenyataannya suatu sistem bisa jadi sangatlah kompleks dan melibatkan ketidakpastian

(42)

sehingga untuk mendefinisikan model matematisnya sangatlah sulit. Untuk kondisi inilah simulasi sangat diperlukan.

3.5. Data

Menurut Kenneth C. Laudon dan Jane P. Laudon (2005, h. 10) mengemukakan bahwa ”Data adalah sekumpulan baris fakta yang mewakili peristiwa yang terjadi pada organisasi atau pada lingkungan fisik sebelum diolah kedalam format yang bisa dimengerti dan digunakan orang”. Data dapat berupa catatan-catatan kertas, buku atau sebagai file yang tersimpan dalam basis data.

Pengertian Data dalam Edhy Sutanta, (2004;5) mendefenisikan “Data adalah sebagai bahan keterangan tentang kejadian nyata atau fakta-fakta yang dirumuskan dalam sekelompok lambang tertentu yang tidak acak yang menunjukan jumlah, tindakan, atau hal”. Data dapat perupa catatan-catatan dalam kertas, buku, atau tersimpan sebagai file dalam basis data.

3.6. Use Case Diagram

Use Case Diagram merupakan representasi dari interaksi pengguna terhadap sistem yang menunjukkan relasi antara pengguna dengan berbagai kasus dimana pengguna terlibat di dalamnya. Use Case Diagram juga dapat disebut sebagai blueprint dari sistem yang akan dibangun dimana Use Case Diagram menyediakan representasi sederhana dan grafis dari apa yang mampu dilakukan sistem tersebut. Contoh Use Case Diagram dapat dilihat pada Gambar 3.2. berikut ini.

(43)

III-12

Gambar 3.2. Contoh Use Case Diagram

3.7. Business Process Model and Notation

Business Process Model and Notation (BPMN) adalah representasi grafis untuk menspesifikasi proses bisnis dalam business process model. Tujuan utama dari BPMN adalah untuk memberikan notasi standar yang mudah dipahami oleh semua pemangku kepentingan bisnis. Ini termasuk analis bisnis yang membuat dan menyempurnakan proses, para pengembang teknis bertanggung jawab untuk menerapkannya dan manajer bisnis yang memantau dan mengelola mereka.

Akibatnya BPMN berfungsi sebagai bahasa umum, menjembatani kesenjangan komunikasi yang sering terjadi antara desain proses bisnis dan implementasi.

Contoh Business Process Model and Notation dapat dilihat pada Gambar 3.3.

berikut ini.

(44)

Gambar 3.3. Contoh Business Process Model and Notation

3.8. Mock-Up

Mock-up merupakan media tiga dimensi yang bentuknya menyerupai bentuk asli. Sanaky (2011) mengungkapkan bahwa “Alat tiruan sederhana (mock- up) adalah tiruan dari benda sebenarnya dimana sengaja dipilih bagian-bagian yang memang penting yang diperlukan saja untuk dibuat sesederhana mungkin supaya mudah dipelajari”. Contoh Mock-Up dapat dilihat pada Gambar 3.4. berikut ini.

Gambar 3.4 Tampilan Mock-Up

(45)

IV-1

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Jadwal Penelitian

Penelitian dilakukan dari bulan Juni 2020 hingga Agustus 2020 di Kabupaten Karo.

4.2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi langsung ke lapangan dan wawancara langsung dengan para pengepul dan petani. Data sekunder diperoleh dari kajian pustaka, laporan teknis dari dinas terkait, dan lembaga penelitian.

4.3. Objek Penelitian

Objek yang diteliti adalah aliran informasi dalam rantai pasok kopi arabika antara pengepul dan petani.

4.4. Variabel Penelitian

Variabel independen dalam penelitian ini adalah kualitas kopi, sedangkan variable dependen dari penelitian ini adalah harga kopi.

(46)

4.5. Kerangka Konseptual Penelitian

Kerangka konseptual merupakan suatu bentuk kerangka berpikir yang dapat digunakan sebagai pendekatan dalam memecahkan masalah. Kerangka penelitian ini menggunakan pendekatan ilmiah dan memperlihatkan hubungan antar variable dalam proses analisisnya. Adapun kerangka konseptual penelitian dapat dilihat dari Gambar 4.1. berikut ini.

Jenis cacat

Nilai cacat

Jumlah Cacat

Kategori mutu Berdasarkan syarat

mutu BSN

Penentuan Harga Kopi

Form Perhitungan mutu kopi Input harga

berdasarakan kriteria mutu

Pengepul Model sistem aliran informasi berbasis elektronik

Sumber : Pengolahan Data

Gambar 4.1. Kerangka Konseptual

4.6. Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yaitu harga kopi, aliran informasi aktual dengan pengamatan langsung, dan data sekunder yaitu total produksi kopi di Kabupaten Karo.

4.7. Metode Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan membuat sebuah permodelan sistem aliran informasi antara pengepul dan petani, dengan memperhatikan kebutuhan

(47)

IV-3

pengguna (user) seperti standard kualitas kopi, harga kopi, jumlah berat total kopi yang dibutuhkan masing-masing pengepul. Permodelan sistem ini dilakukan dengan konseptualisasi model dengan membuat use case diagram, Business Process Model and Notation (BPMN), kemudian dilakukan verifikasi use case diagram dan BPMN, serta merancang visualisasi desain model sistem dengan pembuatan mock-up sistem. Tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.2.

berikut ini.

Studi Literatur Latar belakang, perumusan masalah dan kondisi awal lingkup kajian

Perumusan tujuan penelitian

Pengumpulan data

Analisis Permasalahan

Merancang Sistem Informasi Wawancara dan

pengamatan lapangan

Merancang Fungsional Sistem Menggambarkan Notasi grafis dalam proses bisnis

Pembuatan Use Case Diagram Pembuatan Buisness Process Model and Notation (BPMN)

Verifikasi Model Use Case Diagram dan Buisness Process

Model and Notation (BPMN)

Pembuatan Mock Up

Analisis dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Selesai Merancang visualisasi desain

model sistem

Sumber : Pengolahan Data

Gambar 4.2. Tahapan Penelitian

(48)
(49)

V-1

BAB V

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

5.1. Pengumpulan Data Harga Kopi di Masing-Masing Pengepul

Data dikumpulkan melalui pengamatan langsung ke masing-masing pengepul. Adapun harga kopi di masing-masing pengepul dapat dilihat pada Tabel 5.1. berikut ini.

Tabel 5.1. Rekapitulasi Harga Kopi di Petani

Tanggal Harga Kopi di Petani (Rupiah)

UD. Loken Coffee UD. Milala Kopi UD.Simpang Singa 20 Juli 2020 16.000-18.000 16.000-19.000 17.000-18.500 21 Juli 2020 16.500-19.000 16.000-19.000 17.000-18.500 22 Juli 2020 20.000-21.500 19.500-21.000 19.500-21.000 23 Juli 2020 20.000-22.500 20.000-22.000 20.000-22.500 24 Juli 2020 19.500-21.500 20.000-22.000 20.000-22.000

Sumber : Pengumpulan Data

Harga yang bervariatif diakibatkan oleh perbedaan kualitas kopi yang dijual oleh petani dan strategi pengepul untuk memenangkan pasar. Selama melakukan observasi, peneliti memperhatikan tidak adanya standard yang jelas penentuan harga dan kualitas di masing-masing pengepul. Pengampilan sampel dilakukan masih dilakukan secara deskriptif tanpa mengikuti standard mutu yang telah ditetapkan SNI.

(50)

Berikut ini merupakan model sistem jual-beli kopi di Tanah Karo yang selama ini terjadi di tingkat petani.

Sumber: Pengolahan Data

Gambar 5.1. Use Case Diagram Model Jual-Beli Kopi di Tanah Karo

Melalu use case diagram diatas, dapat dilihat bahwa aliran informasi kurang baik dikarenakan untuk mengetahui harga kopi, petani harus membawa kopi menuju masing-masing pengepul. Petani dalam hal ini juga, tidak mengetahui standard penentuan harga yang dilakukan oleh pengepul. Untuk itu diperlukan perbaikan sebuah sistem dengan mengintegrasikan antara kebutuhan pengepul dan keinginan petani ke dalam sebuah sistem.

5.2. Perbaikan Standarisasi Mutu Kopi di Tingkat Pengepul 5.2.1. Pembuatan Standarisasi Mutu Kopi berdasarkan SNI

Standard penentuan mutu dan harga biji kopi di tingkat pengepul dilakukan secara sampling bersifat deskriptif, menyebabkan petani tidak mengetahui bagaimana menentukan kualitas kopi yang mereka miliki. Disamping itu, pengepul kurang memberi informasi kepada petani mengenai langkah-langkah dalam

(51)

V-3

menentukan kualitas kopi dan penentuan harga biji kopi petani. Selama ini, anjuran yang diberi oleh pengepul kepada petani adalah untuk mendapatkan harga tinggi, maka petani harus memisahkan/membuang biji kopi yang cacat dari tumpukan kopi yang akan dijual, tanpa adanya penjelasan kepada petani mengenai pembagian kategori kualitas kopi berdasarkan tingkat kecacatan. Untuk itu, diperlukan perbaikan standard mutu kopi yang berpedoman kepada Badan Standarisasi Nasional (BSN) tahun 2017. Adapun standarisasi mutu biji kopi sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dapat dilhat pada Tabel 5.2. berikut ini.

Tabel 5.2. Syarat Mutu Biji Kopi

Mutu Persyaratan

Mutu 1 Jumlah nilai cacat maksimum 11

Mutu 2 Jumlah nilai cacat 12 sampai dengan 25 Mutu 3 Jumlah nilai cacat 26 sampai dengan 44 Mutu 4a Jumlah nilai cacat 45 sampai dengan 60 Mutu 4b Jumlah nilai cacat 61 sampai dengan 80 Mutu 5 Jumlah nilai cacat 81 sampai dengan 150 Mutu 6 Jumlah nilai cacat 151 sampai dengan 225

Catatan : Untuk kopi arabika mutu 4 tidak dibagi menjadi sub mutu 4a dan 4b.

Penentuan besarnya nilai cacat dari setiap biji cacat dicantumkan oleh Tabel 5.3

Sumber : https://bsn.go.id/uploads/download/3._SNI_produk_ekspor_SulSel_-_Kabid_PPK_1.pdf

Untuk menentukan nilai dari kecacatan biji kopi dapat dilihat pada Tabel 5.3. berikut ini.

Tabel 5.3 Penentuan Besarnya Nilai Cacat Biji Kopi

No Jenis Cacat Nilai Cacat

1 1 (satu) biji hitam 1 (satu)

2 1 (satu) biji hitam sebagian ½ (setengah)

3 1 (satu) biji hitam pecah ½ (setengah)

4 1 (satu) kopi gelondong 1 (satu)

5 1 (satu) biji coklat ¼ (seperempat)

6 1 (satu) kulit kopi ukuran besar 1 (satu)

(52)

Tabel 5.3 Penentuan Besarnya Nilai Cacat Biji Kopi (Lanjutan)

No Jenis Cacat Nilai Cacat

7 1 (satu) kulit kopi ukuran sedang ½ (setengah)

8 1 (satu) kulit kopi ukuran kecil 1/5 (seperlima)

9 1 (satu) biji berkulit tanduk ½ (setengah)

10 1 (satu) kulit tanduk ukuran besar ½ (setengah)

11 1 (satu) kulit tanduk ukuran sedang 1/5 (seperlima) 12 1 (satu) kulit tanduk ukuran kecil 1/10 (sepersepuluh)

13 1 (satu) biji pecah 1/5 (seperlima)

14 1 (satu) biji muda 1/5 (seperlima)

15 1 (satu) biji berlubang satu 1/10 (sepersepuluh)

16 1 (satu) biji berlubang lebih dari satu 1/5 (seperlima)

17 1 (satu) biji bertutul-tutul 1/10 (sepersepuluh)

18 1 (satu) ranting, tanah, atau batu berukuran besar 5 (lima) 19 1 (satu) ranting, tanah, atau batu berukuran sedang 2 (dua) 20 1 (satu) ranting, tanah, atau batu berukuran kecil 1 (satu)

Keterangan : Jumlah nilai cacat dihitung dari contoh uji seberat 300 g. Jika satu biji kopi mempunyai lebih dari satu nilai cacat, maka penentuan nilai cacat tersebut didasarkan pada bobot nilai cacat tersebesar.

Sumber : https://bsn.go.id/uploads/download/3._SNI_produk_ekspor_SulSel_-_Kabid_PPK_1.pdf

Dengan menerapkan standarisasi menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) diharapkan dapat membantu pengepul dan petani dalam menentukan harga berdasarkan kategori mutu.

5.2.2. Pembuatan Form Perhitungan Standarisasi Mutu Kopi

Penentuan kategori mutu dilakukan dengan menghitung total jumlah nilai cacat kemudian mengkategorikan mutu sesuai nilai cacat pada tabel 4.1. Dengan demikian, pengepul dan petani memiliki standar penentuan kualitas yang sama, sehingga petani dapat memperkirakan kualitas kopi mereka, dan mengetahui dasar penentuan harga yang dilakukan oleh pengepul.

(53)

V-5

Adapun rumus untuk menghitung total jumlah nilai cacat adalah sebagai berikut.

Jumlah nilai cacat tiap jenis cacat = nilai cacat x jumlah cacat

Adapun form penentuan besarnya nilai cacat pada biji kopi arabika dapat dilihat pada Tabel 5.4. berikut ini.

Tabel 5.4. Form Penentuan Besarnya Nilai Cacat Biji Kopi

Mutu Persyaratan

Mutu 1 Jumlah nilai cacat maksimum 11

Mutu 2 Jumlah nilai cacat 12 sampai dengan 25 Mutu 3 Jumlah nilai cacat 26 sampai dengan 44 Mutu 4a Jumlah nilai cacat 45 sampai dengan 80 Mutu 5 Jumlah nilai cacat 81 sampai dengan 150 Mutu 6 Jumlah nilai cacat 151 sampai dengan 225

(54)

1 1 (satu) biji hitam 1 (satu)

2 1 (satu) biji hitam Sebagian ½ (setengah)

3 1 (satu) biji hitam pecah ½ (setengah)

4 1 (satu) kopi gelondong 1 (satu)

5 1 (satu) biji coklat ¼ (seperempat)

6 1 (satu) kulit kopi ukuran besar 1 (satu)

7 1 (satu) kulit kopi ukuran sedang ½ (setengah) 8 1 (satu) kulit kopi ukuran kecil 1/5 (seperlima)

9 1 (satu) biji berkulit tanduk ½ (setengah)

10 1 (satu) kulit tanduk ukuran besar ½ (setengah) 11 1 (satu) kulit tanduk ukuran sedang 1/5 (seperlima) 12 1 (satu) kulit tanduk ukuran kecil 1/10 (sepersepuluh)

13 1 (satu) biji pecah 1/5 (seperlima)

14 1 (satu) biji muda 1/5 (seperlima)

15 1 (satu) biji berlubang satu 1/10 (sepersepuluh) 16 1 (satu) biji berlubang lebih dari satu 1/5 (seperlima) 17 1 (satu) biji bertutul-tutul 1/10 (sepersepuluh) 18 1 (satu) ranting, tanah, atau batu berukuran besar 5 (lima) 19 1 (satu) ranting, tanah, atau batu berukuran sedang 2 (dua) 20 1 (satu) ranting, tanah, atau batu berukuran kecil 1 (satu)

Keterangan : Jumlah nilai cacat dihitung dari contoh uji seberat 300 g. Jika satu biji kopi mempunyai lebih dari satu nilai cacat, maka penentuan nilai cacat tersebut didasarkan pada bobot nilai cacat tersebesar.

Sumber : Pengumpulan Data

(55)

V-7

5.3. Perancangan Model Sistem Aliran Informasi Berbasis Informasi Elektronik

5.3.1. Pembuatan Use Case Diagram

Use case diagram merupakan model UML yang digunakan untuk menggambarkan requirement fungsional yang diharapkan dari sebuah sistem. Use case diagram adalah use case yang digunakan untuk menggambarkan secara ringkas siapa yang menggunakan sistem dan apa saja yang bisa dilakukan.

Pembuatan use case diagram dihasilkan dengan bantuan software Power designer.

5.3.1.1 Use Case Diagram Pengunjung

Use case diagram pengunjung digunakan untuk melihat interaksi antara aktor dengan sistem yang tersedia. Adapun use case diagram pengunjung dapat dilihat pada Gambar 5.2. berikut ini.

Sumber: Pengolahan Data

Gambar 5.2 Use Case Diagram Pengunjung

(56)

Pada use case diagram diatas, ada 1 aktor yaitu pengunjung. Pengunjung dapat mengunjungi semua menu yang tersedia. Home digunakan untuk melihat gambaran umum kopi beserta karakteristiknya. About us digunakan untuk melihat informasi mengenai kegunaan sistem beserta informasi umum perancang sistem.

Harga Kopi digunakan untuk melihat harga kopi yang di-input pengepul untuk masing-masing mutu. Pengunjung juga bisa mendaftarkan diri sebagai pengepul dengan memilih menu Daftar Menjadi Pengepul. Sedangkan untuk akses masuk ke sistem, pengepul dapat melakukan Login Pengepul. Menu login pengepul digunakan oleh pengepul untuk mengedit data harga untuk masing-masing mutu dan jumlah kebutuhan kopi. Untuk melihat kebenaran konseptual sistem yang dibangun, maka dilakukan verifikasi model dengan bantuan aplikasi power designer. Hasil verifikasi model ditunjukkan oleh Gambar 5.3. berikut ini.

Sumber: Pengolahan Data

Gambar 5.3 Verifikasi Use Case Diagram Pengunjung

(57)

V-9

Dari gambar diatas, dijelaskan bahwa hasil verifikasi menunujukkan model yang dibentuk sudah benar. Adapun parameter yang menunjukkan model telah dibentuk dengan benar adalah tidak adanya comment kesalahan dalam tampilan uji yang dilakukan.

5.3.1.2 Use Case Diagram Daftar menjadi Pengepul

Use case diagram ini digunakan untuk melihat langkah-langkah yang harus dilakukan oleh pengunjung agar bisa menjadi pengepul. Untuk menjadi pengepul, maka pengunjung harus mempersiapkan identitas pemilik, nama perusahaan, dan lokasi usaha. Tampilan use case diagram daftar menjadi pengepul dapat dilihat pada Gambar 5.4. berikut ini.

Sumber: Pengolahan Data

Gambar 5.4. Use Case Diagram Daftar menjadi Pengepul

Untuk melihat kebenaran konseptual sistem yang dibangun, maka dilakukan verifikasi model dengan bantuan aplikasi power designer. Hasil verifikasi model ditunjukkan oleh Gambar 5.5. berikut ini.

(58)

Sumber: Pengolahan Data

Gambar 5.5. Verifikasi Use Case Diagram Daftar menjadi Pengepul

Dari gambar diatas, dijelaskan bahwa hasil verifikasi menunujukkan model yang dibentuk sudah benar.

5.3.1.3 Use Case Diagram Model Sistem

Use case diagram ini menampilkan keseluruhan interaksi antara aktor dengan sistem.yang dibangun. Aktor yang berperan dalam sistem ini adalah pengepul, petani, dan admin. Ketiga aktor ini memiliki peran masing-masing dalam menjalankan model sistem yang dibangun. Untuk mengetahui model sistem dapat dilihat melalui use case diagram model sistem pada Gambar 5.6. berikut ini.

(59)

V-11

Sumber: Pengolahan Data

Gambar 5.6. Use Case Diagram Model Sistem

Pada use case diagram diatas, terdapat 3 aktor yaitu petani, pengepul dan admin. Pengepul memiliki peran dalam meng-input data kebutuhan jumlah order- an kopi dan harga kopi berdasarkan spesifikasi mutu kopi. Petani memiliki peran dalam menginput lokasi kopi dan jumlah kopi yang dimiliki serta membuka rekomendasi sistem jual-beli kopi. Admin memiliki peran untuk mengumpulkan data, kemudian dari data yang di-input oleh pengepul dilakukan pengolahan data.

Data yang sudah diolah, kemudian dimasukkan ke dalam sistem untuk dilakukan update sistem. Hasil update sistem akan ditampilkan ke dalam aplikasi sebagai rule terbaru berjalannya transaksi jual-beli kopi. Untuk melihat kebenaran konseptual sistem yang dibangun, maka dilakukan verifikasi model dengan bantuan aplikasi power designer. Hasil verifikasi model ditunjukkan oleh Gambar 5.7. berikut ini.

(60)

Sumber: Pengolahan Data

Gambar 5.7 Verifikasi Use Case Diagram Model Sistem

Dari gambar diatas, dijelaskan bahwa hasil verifikasi menunujukkan model yang dibentuk sudah benar.

5.3.2. Pembuatan Business Process Model and Notation (BPMN)

Business Process Model and Notation (BPMN) adalah representasi grafis untuk menspesifikasikan proses bisnis dalam business process model. Tujuan utama dari BPMN adalah untuk memberikan notasi standar yang mudah dipahami oleh semua pemangku kepentingan bisnis. Ini termasuk analis bisnis yang membuat dan menyempurnakan proses, para pengembang teknis bertanggung jawab untuk menerapkannya dan manajer bisnis yang memantau dan mengelola mereka.

Akibatnya BPMN berfungsi sebagai bahasa umum, menjembatani kesenjangan komunikasi yang sering terjadi antara desain proses bisnis dan implementasi.

(61)

V-13

designer. Adapun Business Process Model and Notation dari sistem ini dapat dilihat pada Gambar 5.8 berikut ini.

Sumber: Pengolahan Data

Gambar 5.8. BPMN Sistem

Untuk melihat kebenaran konseptual sistem yang dibangun, maka dilakukan verifikasi model dengan bantuan aplikasi power designer. Hasil verifikasi model ditunjukkan oleh Gambar 5.9. berikut ini.

(62)

Sumber: Pengolahan Data

Gambar 5.9 Verifikasi BPMN Sistem

Dari gambar diatas, dijelaskan bahwa hasil verifikasi menunujukkan model yang dibentuk sudah benar.

5.3.3. Pembuatan Model Sistem dengan Mock-Up

Model sistem dibuat dengan menggunakan software mock-up. Model sistem dibuat untuk interface pengepul dan interface petani. Model ini digunakan sebagai perbaikan aliran informasi dengan memanfaatkan media internet. Adapun hasil model yang telah dibangun adalah sebagai berikut.

(63)

V-15

a. Interface Pengepul 1. Tampilan Awal

Tampilan Awal Pengepul ditunjukkan oleh Gambar 5.10 berikut ini.

Sumber: Pengolahan Data

Gambar 5.10. Tampilan Awal Interface Pengepul

2. Tampilan Daftar menjadi Pengepul

Tampilan Daftar menjadi Pengepul ditunjukkan oleh Gambar 5.11 berikut ini.

Sumber: Pengolahan Data

Gambar 5.11. Tampilan Daftar menjadi Pengepul

(64)

3. Input Harga Kopi

Input Harga Kopi ditunjukkan oleh Gambar 5.12 berikut ini.

Sumber: Pengolahan Data

Gambar 5.12. Tampilan Input Harga Kopi

b. Interface Petani 1. Tampilan Awal

Tampilan Awal Petani ditunjukkan oleh Gambar 5.13 berikut ini.

Sumber: Pengolahan Data

(65)

V-17

2. Tampilan Informasi Umum

Tampilan Informasi Umum ditunjukkan oleh Gambar 5.14 berikut ini.

Sumber: Pengolahan Data

Gambar 5.14. Tampilan Informasi Umum

(66)

3 Tampilan Harga Kopi

Tampilan Harga Kopi ditunjukkan oleh Gambar 5.15 berikut ini.

Sumber: Pengolahan Data

Gambar 5.15. Tampilan Menu Harga Kopi

4 Tampilan Daftar Pengepul

Tampilan Daftar Pengepul ditunjukkan oleh Gambar 5.16 berikut ini.

Sumber: Pengolahan Data

(67)

V-19

5 Tampilan About Us

Tampilan About Us ditunjukkan oleh Gambar 5.17 berikut ini.

Sumber: Pengolahan Data

Gambar 5.17. Tampilan About Us

Gambar

Gambar 2.1. Lokasi Dataran Tinggi Karo
Tabel 2.1. Produksi Perkebunan Kopi  di Kabupaten Karo   Tahun 2015-2019
Gambar 3.1 Simplikasi Rantai Pasok dengan Tiga Aliran
Gambar 3.2. Contoh Use Case Diagram
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dengan melakukan penelitian pengaruh faktor sosio-ekonomi dan demograpi, informasi dan pengetahuan normatif terhadap perilaku peduli lingkungan masyarakat, maka akan

Kajian manajemen layanan pendidikan siswa berkebutuhan khusus penting dilakukan, munculnya kesenjangan antara kebijakan pemerintah tentang penyelenggaraan pendidikan inklusif

Kebijakan green banking tersebut akan di- tuangkan ke dalam Peraturan Bank Indonesia yang akan memastikan bank sebagai lembaga pembiaya- an mempertimbangkan prinsip pembangunan

Sebagai salah satu program studi di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Muhammadiyah Gorontalo, prodi ini berusaha menyediakan Jurnal Ilmiah bagi semua pihak

Dari uji ANOVA atau F test, didapat F hitung adalah 19,350 dengan tingkat signifikansi 0,000, jauh lebih kecil dari 0,05 maka Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan Asli Daerah dan

peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Tingkat Retensi Pajak Sebagai Ukuran Efektivitas Manajamen Pajak Pada Perusahaan Manufaktur

Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa fungsi intermediasi perbankan terus mengalami perbaikan, hal ini ditunjukkan oleh tren penyaluran kredit yang terus meningkat

Noise: Gangguan tak terencana yang terjadi dalam proses komunikasi sebagai akibat diterimanya pesan lain oleh komunikan yang berbeda dengan. pesan yang disampaikan