• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Tugas Akhir Semester Genap 2010/2011. Nihayatur Rohmah*, Dr. rer.nat. Irmina Kris Murwani 1. Jurusan Kimia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Prosiding Tugas Akhir Semester Genap 2010/2011. Nihayatur Rohmah*, Dr. rer.nat. Irmina Kris Murwani 1. Jurusan Kimia"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

SELEKTIVITAS KATALIS Mg1-xFexF2 PADA REAKSI SINTESIS VITAMIN E

Nihayatur Rohmah*, Dr. rer.nat. Irmina Kris Murwani1 Jurusan Kimia

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember Abstrak

Pada penelitian ini telah dipelajari aplikasi MgF2, Fe2O3 dan Mg1-xFexF2 (x=0,025; 0,050; 0,100 dan 0,150 mol) sebagai katalis dalam reaksi sintesis vitamin E. Katalis dipreparasi dengan metode sol gel kemudian dikarakterisasi dengan XRD dan uji keasaman ditentukan dengan FTIR-piridin dan luas permukaan S(BET) dengan adsorpsi nitrogen. Aktivitas katalis ditentukan berdasarkan besarnya konversi reaktan trimetil hidrokuinon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas tertinggi didapat pada katalis MgF2 yaitu sebesar 98,47% sedang selektivitas tertinggi untuk vitamin E terbesar diperoleh dari katalis Mg0,85Fe0,15F2 yaitu sebesar79,36%.

Kata kunci: doped, Mg1-xFexF2, katalis, selektivitas, aktivitas, vitamin E 1.Pendahuluan

Vitamin E dapat disintesis melalui reaksi alkilasi Friedel Craft menggunakan katalis asam (Bonrath, 2004). Pada mulanya sintesis vitamin E banyak menggunakan katalis homogen, tetapi penggunaan katalis ini menimbulkan banyak masalah antara lain:

produk akhir sukar dipisahkan dari katalis sehingga pada tahap selanjutnya sintesis vitamin E dilakukan menggunakan katalis heterogen. Beberapa katalis heterogen yang telah digunakan antara lain adalah Al/Bentonit (Ayudianingsih, 2007), Solid Acid Catalyst nafion/silika komposit (Hinze, 2008), dan katalis logam tanah jarang (Bonrath, 2007).

Ternyata, katalis-katalis tersebut masih memiliki beberapa kelemahan seperti masih bercampurnya produk dengan katalis, mudah terdeaktivasi dengan pelarut polar sedangkan untuk katalis logam tanah jarang harganya relatif mahal. Oleh karena itu diperlukan katalis heterogen lain yang lebih efektif untuk sintesis vitamin E.

Fe2O3 merupakan katalis asam Lewis yang berhasil digunakan dalam reaksi asilasi fenol sesuai pada hasil penelitian Farida Isnaini (2008). Reaksi asilasi fenol juga merupakan salah satu reaksi asilasi Friedel- Craft. Tipe reaksi yang sama dapat dijadikan hipotesis bahwasanya Fe2O3 jugadapat

digunakan dalam reaksi sintesis vitamin E.

Berdasarkan pada hasil tersebut menunjukkan adanya sifat asam pada Fe2O3 sebagai katalis.

Pada penenlitian yang lain menyebutkan bahwa sifat asam Lewis dan Brønsted dimiliki oleh katalis heterogen MgF2

(Wuttke, dkk., 2008). Katalis MgF2 sebagai katalis dalam sintesis vitamin E masih menghasilkan selektivitas yang rendah dan produk lain yang besar. Oleh karena itu dalam penelitian ini disintesis katalis yang merupakan gabungan antara logam Fe dan MgF2 melalui doping. Dengan adanya penambahan ini diharapkan selektivitas katalis terhadap vitamin E menjadi lebih besar dibandingkan dengan MgF2. Karena jumlah konsentrasi doping sangat mempengaruhi selektivitas katalis (Murwani, 2008). Maka diamati juga jumlah doping optimum yang sesuai untuk sintesis vitamin E.

*Corresponding author Phone : 08563248986 e-mail: [email protected]

1 Alamat sekarang : Jur. Kimia, Fak. MIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

e-mail:[email protected]

1 Alamat sekarang : Jur Kimia, Fak. MIPA,Institut Teknologi 10 Nopember, Surabaya.

(2)

2. Metodologi

2.1 Preparasi Katalis

Sintesis katalis Mg1-xFexF2 (x = 0,025;

0,05; 0,1; dan 0,15 mol) dilakukan dengan cara melarutkan prekursor Mg(NO3)2∙6H2O dan FeCl3∙6H2O dengan variasi sesuai kebutuhan dalam etanol hingga larut.

Kemudian ditambah larutan HF 40% tetes demi tetes sesuai perhitungan stoikiometri sambil diaduk terus- menerus hingga terbentuk gel. Gel yang diperoleh disetimbangkan pada suhu ruang, selanjutnya dicuci dengan aquades dan dikeringkan pada suhu 100°C sampai diperoleh padatan kering. Padatan yang terbentuk dikalsinasi pada suhu 400°C selama 4 jam.

Katalis MgF2 dipreparasi dengan metoda yang sama seperti diatas, namun saat Mg(NO3)2∙6H2O dilarutkan dalam etanol tidak ditambahkan FeCl3∙6H2O.

Katalis Fe2O3 dibuat dengan cara pelarutan senyawa FeCl3∙6H2O dengan air secukupnya, kemudian dikeringkan pada suhu 100°C. Padatan yang terbentuk selanjutnya dikalsinasi pada suhu 400°C selama 4 jam.

2.2 Karakterisasi

Struktur katalis dikarakterisasi dengan XRD. Karakterisasi dengan XRD dilakukan dengan cara sampel katalis sebanyak ± 1 gram ditumbuk sampai halus, lalu diletakkan dalam sample holder dan diratakan permukaannya.

Selanjutnya dikarakterisasi menggunakan Difraktometer Sinar-X dengan sumber radiasi Cu Kα (λ = 1,54 Å) dengan sudut 2θ antara 20- 80 dan interval sebesar 0,05. Difraktogram yang diperoleh dicocokkan dengan dengan database JCPDS-Internal Centre of Diffraction Data PCPDFWIN tahun 2001.

Pengukuran keasaman katalis dilakukan dengan memasukkan katalis sebanyak ± 70 mg ke dalam pipa kaca yang disumbat dengan glass wool pada salah satu ujungnya, lalu pipa disumbat kembali dengan glass wool pada ujung lainnya. Sebelum ditetesi piridin katalis dievakuasi dengan dialiri gas nitrogen dan dipanaskan pada suhu 150ºC selama 15 menit. Kemudian katalis ditetesi piridin sebanyak 60 μL dan dipanaskan pada suhu 150ºC selama 15 menit dengan dialiri gas nitrogen. Setelah itu katalis didiamkan selama 10 menit pada suhu kamar dan dianalisis dengan FTIR. Metode adsorbsi piridin-FTIR ini mengacu pada penelitian yang

telah dilakukan oleh Murthy dkk., (2005) dan Parida dkk., (2000)

Pengukuran luas permukaan katalis dilakukan untuk katalis Mg1-xFexF2 dengan x=

0,05; 0,1 dan 0,15 mol. Masing-masing sampel katalis dikirimkan ke Lemigas di Jakarta untuk dianalisis menggunakan perlatan Quantachrome Instrument NOVA 1200e dengan program analisis NovaWin2-Data Acquision and Reduction for NOVA Instruments version 2.1.

2.3 Uji Katalisis Pada Sintesis Vitamin E Semua katalis hasil sintesis diuji aktivitasnya melalui reaksi sintesis α- tokoferol. Trimetilhidrokuinon sebanyak 0,0125g dimasukkan dalam labu leher tiga kemudian dicampurkan dengan katalis sebanyak 0,0032g, lalu ditambah 3 mL metanol. Campuran dipanaskan pada suhu 60

C dan direfluks selama 30 menit. Kemudian isofitol 30 μL ditambahkan ke dalam campuran setetes demi setetes dan direfluks selama 3 jam pada suhu 60C. Hasil reaksi yang diperoleh disaring dan diesktrak dengan n-heksana untuk selanjutnya dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis.

3. Hasil dan Pembahasan 3.1 Preparasi Katalis Fe2O3

Sebelum dilakukan doping, terlebih dahulu dilakukan sintesis Fe2O3 dengan menggunakan prekursor FeCl3∙6H2O dengan pengeringan dan kalsinasi. Pembuatan logam oksida dilakukan karena sebagai prekursor untuk pembuatan doping selanjutnya yang suhunya sampai 400 °C.

Hasil sintesis yang telah diperoleh padatan coklat kemerahan yang kemudian dikarakterisasi dengan XRD. Difraktogram padatan yang diperoleh dari hasil karakterisasi ditunjukkan pada gambar 3.1. Puncak utama yang terletak pada 2 33,1; 35,6 dan 54,1°

pada difraktogram padatan dicocokkan dengan database JCPDS-Internal Centre of Diffraction Data PCPDFWIN tahun 2001.

Hasil pencocokan menunjukkan bahwa padatan hasil sintesis sesuai dengan PDF No.

79-0001 dengan struktur rombohedaral yaitu kristal Fe2O3. Difraktogram Fe2O3 hasil sintesis sudah tidak memunculkan adanya puncak karakteristik dari FeCl3∙6H2O yang merupakan prekursor Fe2O3 (PDF No74-1695) atau kontaminan lainnya seperti FeO (PDF

(3)

No75-1550) serta Fe3O4 (PDF No89-0951).

Berdasarkan analisis tersebut disimpulkan bahwa hasil sintesis Fe2O3 memiliki struktur rombohedral.

Gambar 3.1 Difraktogram Fe2O3

3.2 Preparasi Katalis Mg1-x FexF2

Katalis Mg1-xFexF2 ( x= 0,025; 0,05;

0,10 dan 0,15 mol) merupakan katalis yang diperoleh melalui metode sol gel. Sintesis dilakukan dengan cara yang sama dengan sintesis MgF2, tetapi pada pelarutan etanol ditambahkan FeCl3 sesuai dengan kebutuhan.

Reaksi umum pembentukan katalis adalah sebagai berikut

(1-x)Mg 2+ + xFe 3+ + 2F-  Mg1-xFexF2

dengan x= 0,025; 0,05; 0,1 dan 0,15 mol.

Padatan yang diperoleh dikarakterisasi strukturnya menggunakan XRD. Hasil difraktogram pada gambar 3.2 menunjukkan puncak MgF2 yang terletak pada 2θ 27,2; 40,4 dan 53,5. Hal ini sesuai dengan database yang sesuai adalah PDF No.70-2269 yaitu kristal MgF2 memiliki struktur tetragonal.

Keberhasilan doping juga dapat diamati saat perlakuan sistesis dimana penambahan larutan FeCl3 yang berwarna kuning ketika ditambahkan dalam Mg(NO3)6H2O dan HF berubah menjadi putih yang merupakan warna khas MgF2.

Gambar 3.2 Difraktogram Katalis MgF2, Mg1-xFexF2 (x = 0,025; 0,05;

0,1; dan 0,15 mol) dan Fe2O3

Hasil XRD menunjukkan semakin tinggi konsentrasi logam yang didoping semakin turun intensitasnya dan semakin kelihatan puncak oksida logamnya, hal ini terlihat jelas pada doping Mg1-xFexF2 (x= 0,1; dan 0,15 mol). Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Zhang dkk., tahun 2011 yang menyatakan tentang doping logam mempengaruhi intensitasnya.

3.3 Pengukuran Keasaman Katalis dengan Metoda FTIR-Adsorpsi Piridin

Keasaman suatu katalis bergantung pada sifat dari permukaan katalis tersebut, yaitu dapat bersifat asam Lewis dan atau asam Brønsted (Murthy, 2005).

Pada penelitian ini semua katalis Fe2O3, MgF2 dan Mg1-xFexF2 (x= 0,025; 0,05; 0,1 dan 0,15 mol) diukur keasamannya dengan metode adsorpsi piridin-FT-IR. Spektra FT-IR keasaman katalis ditampilkan pada Gambar 3.3 Spektra FT-IR keasaman katalis keseluruhannya menunjukkan bahwa katalis yang disintesis dengan doping Fe memiliki sifat asam Brǿnsted dan Lewis. Sifat asam Brǿnsted terlihat pada absorbsi sekitar 1550 cm-1. Sedang Absorbsi pada daerah sekitar 1450 cm-1 merupakan daerah vibrasi sesuai dengan penelitian Yinchengli (2004).

(4)

Gambar 3.3 Spektra FTIR Keasaman Katalis MgF2, Fe2O3, dan Mg1-xFexF2 (x=

0,025; 0,050; 0,100 dan 0,150 mol) Sisi asam lewis tertinggi dimiliki oleh MgF2. Sedang pada katalis Fe2O3 dan Mg1-xFexF2 (x= 0,025; 0,05; 0,1 dan 0,15 mol) menunjukkan sisi asam Brǿnsted dan Lewis yang mengalami kenaikan puncak hingga doping 15%.

3.4 Pengukuran Luas Permukaan dengan Metoda Adsorpsi Gas Nitrogen

Luas permukaan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas suatu katalis. Menurut Jankowska, (1991) luas permukaan spesifik S(BET) didefinisikan sebagai luas permukaan suatu padatan per satuan massa. Pada penelitian ini luas permukaan spesifik dari katalis MgF2, Fe2O3, dan Mg1-xFexF2 ( x= 0,05; 0,1 dan 0,15 mol) ditentukan melalui metoda adsorpsi gas nitrogen seperti yang digunakan oleh Cabeza (2008). Hasil pengamatan tersaji pada tabel 3.1

Tabel 3.1 Data Luas Permukaan Katalis Hasil Pengukuran BET

Katalis S(BET) (m2/g)

MgF2 24,67

Fe2O3 tidak terdeteksi Mg0,95Fe0,05F2 24,61

Mg0,9Fe0,1F2 21,07 Mg0,85Fe0,15F2 14,70

Dari hasil pengukuran luas permukaan area luas permukaan yang paling tinggi hanya dicapai ~24 m2/g baik katalis MgF2 maupun katalis doping. Hasil luas permukaan dari semua katalis dari yang terbesar sampai terkecil adalah MgF2 > Mg0.95Fe0.05F2 >

Mg0.90Fe0.10F2 > Mg0.85Fe0.15F2 >. Hasil tersebut

menunjukkan bahwa doping Fe3+ dengan konsentrasi 0,05 mol Fe3+ menghasilkan luas permukaan yang hampir sama dengan MgF2

sebesar 24,61 m2/g dan menurun dengan bertambahnya konsentrasi Fe3+ sebesar 0,10 dan 0,15 mol. Semakin besar konsentrasi logam yang didoping semakin kecil luas permukaan spesifiknya S(BET). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh El- Shobaky dan Ghozza, (2004), adanya doping logam zink ke dalam NiO dan Co3O4

menurunkan luas permukaan kedua katalis tersebut. Semakin tinggi konsentrasi doping yang digunakan, luas permukaan NiO dan Co3O4 juga semakin kecil.

Katalis Fe2O3 tidak dapat memberikan nilai luas permukaan dengan metode adsorpsi nitrogen. Hal ini kemungkinan karena ukuran pori padatan ini lebih kecil dari ukuran molekul nitrogen, sehingga nitrogen ini tidak mampu masuk ke dalam pori-pori padatan dan luas permukaannya pun tidak mampu dideteksi. Menurut literatur pengukuran seharusnya menggunakan adsorpsi gas argon yang ukuran molekulnya lebih kecil, sehingga celah atau porinya mampu dimasuki dan luas permukaan pun dapat terukur (Mikhail, 2004).

3.5 Uji Katalisis pada Sintesis Vitamin E Hasil dari semua katalis yang didapat setelah dilakukan karakterisasi selanjutnya diuji aktivitasnya melalui sintesis pada vitamin E. Reaksi sintesis diawali dengan mengaktivasi trimetil hidrokuinon dengan katalis dalam pelarut metanol lalu direfluks pada suhu 60 °C selama 30 menit. pemanasan selama 30 menit pertama ini dilakukan untuk aktivasi trimetil hidrokuinon dengan katalis tersebut. Setelah pemanasan pertama selanjutnya ditambahkan reaktan kedua yakni isofitol sebanyak 60 µL pada suhu 60 °C lalu dilanjutkan pemanasan kedua hingga didapat reaktan yang diinginkan. Hasil reaksi berupa cairan yang berwarna kuning, lengket dan kental seperti minyak, selain itu katalis terpisah dan mengendap dari cairan yang terbentuk. Produk reaksi yang lengket seperti minyak berwarna kuning ini mengindikasikan telah terbentuk vitamin E (Ayudianingsih, 2007). Vitamin E yang diperoleh diekstrak dengan n-heksana karena vitamin E terdistribusi di n-heksana.

Untuk meyakinkan bahwa produk hasil sintesis merupakan vitamin E, maka produk

(5)

hasil sintesis dianalisis secara kualitatif dengan HPLC. Kromaotgram HPLC standard dan vitamin E yang diperoleh digambarkan pada gambar 3.4 dan 3.5 berikut.

Gambar 3.4. Kromatogram HPLC Vitamin E Hasil Sintesis dalam n-heksan

Gambar 3.5 Kromatogram HPLC Vitamin E Hasil Sintesis dalam Metanol

Dalam pelarut heksana hanya dilakukan uji kualitatif untuk vitamin E dan benzofuran karena reaktan TMHQ tidak larut dalam metanol. Pada kromatogram seperti gambar 3.4. dapat dilihat bahwa waktu retensi untuk puncak-puncak hasil katalisis sama dengan waktu retensi standar. Hal ini mengindikasikan bahwa produk hasil reaksi merupakan vitamin E dan benzofuran seperti pada standar yang digunakan.

Demikian juga kromatogram hasil HPLC dalam pelrut metanol seperti pada gambar 3.5. Pada gambar tersebut menunjukkan hal yang sama seperti pada heksana tetapi ditambah puncak TMHQ yang larut dalam metanol.

Pada uji katalisis, reaksi antara trimetil hidrokuinon dan isofitol menggunakan katalis menghasilkan vitamin E yang merupakan produk yang diharapkan. Tetapi menurut Bonrath (2007) selain vitamin E, hasil reaksi trimetil hidrokuinon dan isofitol juga menghasilkan produk samping berupa benzofuran. Baik fasa metanol maupun fasa n- heksana dianalisis mol vitamin E dan benzofuran dengan spektrometer UV-Vis.

Konversi dihitung berdasarkan berkurangnya trimetil hidrokuinon. Hasil analisis dapat dilihat pada gambar 3.6. Selain konversi juga ditunjukkan yield hasil produk reaksi sintesis vitamin E.

Dari gambar 3.6. dapat diamati bahwa konversi reaktan meningkat secara drastis jika dibandingkan dengan tanpa katalis walaupun hanya menggunakan MgF2 yaitu mencapai 98,47% demikian juga dengan katalis Fe2O3, namun tingkat konversinya masih dibawah MgF2. Nilai konversi ini sedikit menurun pada katalis-katalis hasil doping Mg1-xFexF2. Namun yield vitamin E yang dihasilkan dari katalis doping lebih besar jika dibandingkan dengan MgF2 dan Fe2O3, kecuali pada doping 2,5%.

Pada doping 5% memberikan konversi terbesar dibanding konsentrasi yang lain yaitu 95,79%, meskipun keasamannya lebih rendah jika dibanding dengan doping 10% . Hal ini mungkin dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti luas permukaan, dimana pada konsentrasi 5% yang luas permukaannya paling tinggi.

Ternyata vitamin E meningkat drastis dengan adanya doping 5 % dengan produk lain-lain kecil. Doping yang paling besar adalah 15% dimana dihasilkan produk benzofuran paling banyak dibanding yang lain dengan produk vitamin E sedikit lebih kecil dibanding 5%. Adapun urutan yield produk vitamin E adalah tanpa katalis <

Mg0,975Fe0,025F2 < Fe2O3 < MgF2 <

Mg0,90Fe0,10F2 < Mg0,85Fe0,15F2 <

Mg0,95Fe0,05F2. Oleh karena itu katalis yang paling baik digunakan dalam sintesis vitamin E adalah katalis Mg0,95Fe0,05F2 dan Mg0,85Fe0,15F2.

(6)

Gambar 3.6 Konversi dan Komposisi Produk ( = yield vitamin E; = yield benzofuran; = yield lain-lain) terhadap Variasi Katalis Selain konversi dan yield, juga dihitung selektivitas masing-masing katalis terhadap produk yang ditampilkan pada gambar 3.7.

Dari gambar 3.7. dapat dilihat bahwa selektivitas tertinggi untuk katalis 15 mol Fe dalam MgF2 sebesar 79,56%. Sedang selektivitas benzofuran paling tinggi pada tanpa katalis tetapi konversi yang dihasilkan sangat kecil dibanding dengan adanya katalis.

Bila diurutkan dari selektivitas terkecil sampai terbesar adalah tanpa katalis < Mg0,975Fe0,025F2

< MgF2 < Fe2O3 < Mg0,90Fe0,10F2

<Mg0,95Fe0,05F2 < Mg0,85Fe0,15F2.

Gambar 3.7 Selektivitas Katalis terhadap Produk Produk ( = yield vitamin E; = yield benzofuran;

= yield lain-lain).

Berdasarkan pada pengamatan selektivitas dapat disimpulkan bahwa katalis

yang mempunyai selektivitas terbesar terhadap vitamin E diantara yang dibandingkan adalah dengan doping 15%. Jika selektivitas terhadap vitamin E naik maka selektivitas terhadap produk selain benzofuran dan vitamin E dapat ditekan seperti yang ditunjukkan pada doping 5 dan 15%. Selektivitas terhadap vitamin E yang besar pada doping 15% berbanding lurus dengan kesamannya yang tinggi. Sehingga dapat dinyatakan semakin tinggi keasaman suatu katalis maka semakin tinggi pula selektivitasnya.

4. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yanga telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa doping Mg1-xFexF2 dapat digunakan sebagai katalis untuk reaksi sintesis vitamin E. Mg1-xFexF2

memiliki sisi asam Lewis dan Brǿnsted. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas tertinggi didapat pada katalis MgF2 yaitu sebesar 98,47%. Katalis Mg0,85Fe0,15F2

memiliki selektivitas terhadap vitamin E hampir 2 kali lipat dibanding katalis MgF2

yaitu sebesar 79,56%.

Daftar Pustaka

Ayudiaingsih U., (2007), ”Pengaruh Ukuran Partikel Al- Bentonit Sebagai Katalis Padat Dalam Upaya Optimalisasi α – tokoferol”, Skripsi, FMIPA, Universitas Airlangga, Surabaya.

Bonrath W., Eggersdorfer M., Netscher T., (2007), ”Catalysis in The Industrial Preparation of Vitamins and Nutraceuticals”, Catalysis Today, Vol. 121,hal.45-57.

Bonrath W., Nescher T., (2007), ” Rare earth triflate catalysts in the synthesis of Vitamin E and its derivatives”, Applied Catalysis, Elsevier, Vol. 121, hal. 65-70.

El-Shobakya, G.A., A.M. Ghozza, (2004),

"Effect of ZnO Doping on Surface and Catalytic Properties of NiO and Co3O4 Solids", Materials Letters, 58, 699– 705

Isnaini, Farida. 2008. “Aktivitas Katalis Fe2O3

dan Fe2O3/Zeolit Na-A dari Sekam Padi pada Reaksi Asilasi Fenol”.

(7)

Skripsi. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Jankowska, H., (1991), “Active Carbon”, Polland: Ellis Warwood.

Loveless, B. T., Gyanani, A. dan Muggli, D.

S., (2008), “Discrepancy Between TPD- and FTIR-Based Measurements of Brønsted and Lewis Acidity for Sulfated Zirconia”, Applied Catalysis B: Environmental, 84, hal. 591–597 Lowell S., (1979), ”Introduction to Powder

Surface Area”, John Willey and Sons, Inc., New York

Mikhail, Brunauer S., (2004), “Surface areameasurements by nitrogen and argon adsorption”. Journal of Colloid and Interface Science 52. hal: 572- 577.

Murthy J.K., Gross Udo, Stephan Rudiger, Ercan Uneveren, Wolfgang Unger, Erhad Kemnitz, (2005), ”Synthesis and characterization of chromium(III)-doped magnesium fluoride catalysis”, App. Catalysis, Vol. 282, hal. 85-91.

Murwani, K., Scheurell, Kerstin., Erhard Kemnitz, (2008), “Liquid Phase Oxidation of Ethylbenzene on Pure and Metal Doped HS-AlF3”, Catalysis

Communications, Elsevier, 10, 227–

231.

Parida, Kulamani, Veronika Quaschning, Elfriede Lieske, Erhard Kemnitz, (2001), “Freeze-dried Promoted and Unpromoted Sulfated Zirconia and Their Catalytic Potential”, Journal of Materials Chemistry, 11, 1903-1911 Zhang, Dongyun., Zhang,Peixin., Yi, Juan.,

Yuan, Qiuhua., Jiang, Jianhui., Xu, Qiming., Luo Zhongkuan., dan Ren Xiangzhong, (2011), “XRD Simulation of Doped LiFePO4”, Elsevier, Journal of Alloys and Compounds vol 509, Hal 1206-1210 Wutkke, Stefan, Coman, Simona M., Scholz,

Gudrun, Kirmse, Holm, Vimont, Alexandre, Daturi, Maro, Schroeder, Sven L.M., Kemnitz, Erhard, (2008),

“Novel Sol-Gel Synthesis of Acidic MgF2-x(OH)x Materials”, A European Journal.

Ucapan TerimaKasih

Penulis mengucapkan terima kasih pada Dr.rer.nat. Irmina Kris Murwani selaku dosen pembimbing atas semua saran dan bimbingannya selama ini serta seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam penulisan artikel ini.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil skenario 1, maka terlihat hasil YOR peramalan mengalami penurunan dari YOR proyeksi yaitu bulan Juli 2019, bulan Agustus 2019, dan September 2019, Oktober

Tujuan dilaksanakannya ajang Pemilihan Jegeg Bagus Karangasem adalah untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan dan kapasitas generasi muda Kabupaten Karangasem untuk

Berdasarkan hasil kajian dapat disimpulkan bahwa pembaruan hukum Islam melalui yurisprudensi di peradilan agama dianggap sebagai sesuatu yang baik, didasarkan atas

Rasa syukur kepada Allah SWT yang memberikan Rahmat-Nya, Nikmat- Nya dan Rasulullah SAW yang memberikan petunjuk ke jalan terang dan benar sehingga penulis

Tujuan penelitian ini untuk lebih mengetahui bagaimana sejarah Korps Musik Prajurit Keraton Yogyakarta, serta instrumen dan nama-nama gendhing yang digunakan

Pengertiannya adalah sebagai berikut investasi pada SBI tidak mengandung risiko dengan jaminan bunga sebesar Rf dan investasi pada portofolio reksa dana saham mengandung risiko,

Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah membuat perbandingan berpasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan sesuai kriteria yang di

Dengan mata kuliah ini diharapkan mahasiswa akan mendapatkan informasi tentang realitas atau eksistensi ketuhanan beserta dengan argumen-argumen filosofis yang