• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. PEMBAHASAN. 29 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. PEMBAHASAN. 29 Universitas Kristen Petra"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

4.1. Gambaran Umum Industri dan Perekonomian Indonesia

Indonesia memiliki ekonomi berbasis pasar dimana pemerintah memainkan peranan penting. Pemerintah memiliki lebih dari 164 BUMN dan menetapkan harga beberapa barang pokok, termasuk bahan bakar, beras, dan listrik. Setelah krisis financial Asia yang bermula pada pertengahan 1997, pemerintah menjaga banyak porsi dari aset sektor swasta melalui pengambilalihan pinjaman bank tak berjalan dan aseet perusahaan melalui proses penstrukturan hutang.

Selama lebih dari 30 tahun pemerintahan orde baru Presiden Soeharto, ekonomi Indonesia tumbuh dari GDP per kapita $70 menjadi lebih dari $1,000 pada 1996. Melalui kebijakan moneter dan keuangan yang ketat, inflasi ditahan sekitar 5%-10%. Rupiah pun stabil dan dapat diterka. Pemerintah menerapkan sistem anggaran berimbang. Banyak dari anggaran pembangunan dibiayai melalui bantuan asing. (Wikipedia, Ekonomi Indonesia, 2007)

Krisis finansial Asia Tenggara yang melanda Indonesia pada 1997 dengan cepat berubah menjadi sebuah krisis ekonomi dan politik. Saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar pada level 4.7%, sangat rendah bila dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 7.8%. Bagi Indonesia, peningkatan pertumbuhan ekonomi berpengaruh pada tingkat pendapatan nasional (GNP), pendapatan persaingan kapita akan semakin meningkat, tingkat inflasi dapat ditekan, suku bunga akan berada pada tingkat wajar dan semakin bergairahnya modal bagi dalam maupun luar negeri. (Wikipedia, Inflasi dan Perekonomian Indonesia, 2007)

Respon pertama yang dilakukan Indonesia adalah dengan menaikkan tingkat suku bunga domestik untuk mengendalikan naiknya inflasi dan melemahnya nilai tukar rupiah, serta memperketat kebijakan fiskalnya. Pada Oktober 1997, Indonesia dan IMF mencapai kesepakatan tentang program reformasi ekonomi yang diarahkan pada penstabilan ekonomi makro dan penghapusan beberapa kebijakan ekonomi yang dinilai rusak. Kebijakan tersebut

(2)

antara lain Program Permobilan Nasional dan monopoli, yang melibatkan anggota keluarga Presiden Soeharto.

Bulan Agustus 1998, Indonesia dan IMF menyetujui program pinjaman dana dibawah Presiden B.J. Habibie yang telah menggantikan Presiden Soeharto.

Pada Oktober 1999, Presiden Gus Dur memperpanjang program pinjaman tersebut. (Wikipedia, Ekonomi Indonesia, 2007).

Saat ini, Indonesia telah keluar dari krisis dan berada dalam situasi dimana sekali lagi negara ini mempunyai sumber daya keuangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Perubahan ini terjadi karena kebijakan makro ekonomi yang berhati-hati, dan yang paling penting, defisit anggaran yang rendah. Juga dikarenakan cara pemerintah membelanjakan dana telah mengalami transformasi melalui perubahan besar desentralisasi tahun 2001. Perubahan ini menyebabkan lebih dari sepertiga dari keseluruhan anggaran belanja pemerintah beralih ke pemerintah daerah pada tahun 2006.

Hal lain yang sama pentingnya, pada tahun 2005 harga minyak internasional yang terus meningkat menyebabkan subsidi minyak domestik Indonesia tidak bisa dikontrol, mengancam stabilitas makro ekonomi yang telah susah payah dicapai. Walaupun terdapat resiko politik bahwa kenaikan harga minyak yang tinggi akan mendorong tingkat inflasi menjadi lebih besar, pemerintah mengambil keputusan yang berani untuk memotong subsidi minyak.

Keputusan tersebut memberikan US$10 milyar tambahan untuk pengeluaran bagi program pembangunan. Sementara itu, pada tahun 2006 tambahan US$5 milyar telah tersedia berkat kombinasi dari peningkatan pendapatan yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil secara keseluruhan, dan penurunan pembayaran utang sisa dari krisis ekonomi.

(Wikipedia, Ekonomi Indonesia, 2007).

Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina) adalah sebuah BUMN yang bertugas mengelola penambangan minyak dan gas bumi di Indonesia. Pertamina pernah mempunyai monopoli pendirian SPBU di Indonesia, namun monopoli tersebut telah dihapuskan pemerintah pada tahun 2001. Perusahaan ini juga mengoperasikan 7 kilang minyak dengan kapasitas total

(3)

1.051,7 MBSD, pabrik petrokimia dengan kapasitas total 1.507.950 ton per tahun dan pabrik LPG dengan kapasitas total 102,3 juta ton per tahun.

Pertamina adalah hasil gabungan dari perusahaan Pertamin dengan Permina yang didirikan pada tanggal 10 Desember 1957. Penggabungan ini terjadi pada 1968. Direktur utamanya saat ini adalah Ari Hernanto Soemarno (menjabat sejak 8 Maret 2006). Kegiatan Pertamina dalam menyelenggarakan usaha di bidang energi dan petrokimia, terbagi ke dalam dua sektor, yaitu hulu dan hilir, serta ditunjang oleh kegiatan anak-anak perusahaan dan perusahaan patungan.

Kegiatan usaha Pertamina hulu meliputi eksplorasi dan produksi minyak, gas, dan panas bumi. Untuk kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas dilakukan di beberapa wilayah Indonesia maupun di luar negeri. Pengusahaan di dalam negeri dikerjakan oleh Pertamina hulu dan melalui kerjasama dengan mitra sedangkan untuk pengusahaan di luar negeri dilakukan melalui aliansi strategis bersama dengan mitra. Berbeda dengan kegiatan usaha di bidang minyak dan gas bumi, kegiatan eksplorasi dan produksi panas bumi masih dilakukan di dalam negeri. Untuk mendukung kegiatan intinya, Pertamina hulu juga memiliki usaha di bidang pemboran minyak dan gas.

Kegiatan usaha Pertamina hilir meliputi pengolahan, pemasaran & niaga dan perkapalan serta distribusi produk hilir baik didalam maupun keluar negeri yang berasal dari kilang Pertamina maupun impor yang didukung oleh sarana transportasi darat dan laut. Usaha hilir merupakan integrasi usaha pengolahan, usaha pemasaran, usaha niaga, dan usaha perkapalan. (Wikipedia, Pertamina, 2007)

Hingga pertengahan Oktober 2005, perusahaan pemerintah, Pertamina, merupakan satu-satunya perusahaan yang mendirikan SPBU di Indonesia. Pada Oktober 2005, Shell menjadi perusahaan swasta pertama yang membuka SPBU- nya di Indonesia, yang terletak di Lippo Karawaci, Tangerang. Shell menjual bahan bakar beroktan tinggi yang diimpor dari Singapura dan memasang harga yang kompetitif dengan harga milik Pertamina.

Mungkin untuk menghadapi kemungkinan datangnya pesaing, Pertamina akhir-akhir ini juga telah meremajakan stasiun-stasiunnya, misalnya dengan perubahan pada penampilan dan penambahan fasilitas. Selain itu, mereka kini

(4)

lebih banyak membuka stasiun-stasiun milik mereka sendiri (bukan dengan sistem waralaba). Stasiun-stasiun tersebut umumnya lebih besar daripada stasiun-stasiun waralaba. Beberapa perusahaan yang mengoperasikan stasiun pengisian bahan bakar di dunia antara lain: Shell, BP, Exxon Mobil, Esso, dan Caltex.

(Wikipedia,Stasiun pengisian bahan bakar, 2007)

Mewujudkan obsesi menjadi kelas dunia Pertamina menyusun program 15 tahun ke depan (2008 - 2023) yang mudah-mudahan bisa mengantarkan Pertamina ke posisi kelas dunia. Lima tahun pertama (2008 - 2013) Pertamina menargetkan menjadi perusahaan minyak nasional nomor satu di Indonesia. Karena sekarang walaupun di bumi sendiri, tapi perusahaan asinglah yang menempati nomor wahid.

Pada lima tahun kedua (2013 - 2018) Pertamina menargetkan menjadi perusahaan minyak nasional terkemuka di Asia Tenggara. Di sini perjuangan paling berat karena di sini telah masuk pemain tangguh Petronas dan PTT.

Tapi Pertamina agaknya memiliki modal besar untuk menjelajahi dunia. Sebab dalam waktu singkat di kegiatan hulu sudah masuk ke Vietnam, Malaysia, Irak, Libya, Sudan, dan Qatar. Pembenahan di sektor hulu tidak main-main, setidaknya strategi mencari cadangan dan produksi minyak bumi di luar negeri sebagai bagian dari pencapaian target tingkat produksi 290 ribu barel per hari pada tahun 2012.

Sementara di kegiatan hilir Pertamina sudah berbisnis di Timor Leste, Pakistan, dan Papua Nugini. Beberapa negara siap bekerja sama seperti Equador dan Brazil di wilayah Amerika Selatan. Bahkan konon negeri-negeri Timur Tengah lebih mempercayai Pertamina ketimbang perusahaan lain di Asia Tenggara. Seperti diketahui, pada lima tahun ketiga (2018 -2023) posisi Pertamina diharapkan menempati kelas dunia bersama pemain-pemain lain. (Pertamina¸

Pertamina, 2007)

Di Indonesia, harga BBM sering mengalami kenaikan disebabkan alasan pemerintah yang ingin mengurangi subsidi. Tujuan dari pengurangan tersebut dikatakan adalah agar dana yang sebelumnya digunakan untuk subsidi dapat

(5)

dialihkan untuk hal-hal lain seperti pendidikan dan pembangunan infrastruktur. Di sisi lain, kenaikan tersebut sering memicu terjadinya kenaikan pada harga barang- barang lainnya seperti barang konsumen, sembako dan bisa juga tarif listrik sehingga selalu ditentang masyarakat. (Wikipedia, BBM, 2007).

4.2. Gambaran Umum Perusahaan

PT. Kharisma Dwi Tunggal merupakan perusahaan yang bergerak dibidang transportasi BBM. Perusahaan yang berdiri pada tahun 2000 ini didirikan oleh beberapa pengusaha. Perusahaan ini merupakan perusahaan tertutup. Tugas PT. Kharisma Dwi Tunggal adalah untuk menyalurkan BBM ke SPBU-SPBU yang telah bekerja sama dengan Pertamina.

PT. Kharisma Dwi Tunggal memiliki dua kantor yang berada di dua kota yang berbeda di Jawa Timur, yaitu di Surabaya dan di Malang. PT. Kharisma Dwi Tunggal memiliki beberapa truk, sehingga dalam sehari dapat melakukan pengiriman ke tempat-tempat yang berbeda yang telah di tunjuk oleh Pertamina.

Dalam perkembangannya, PT. Kharisma Dwi Tunggal ingin melakukan yang terbaik sehingga tidak mengecewakan Pertamina sebagai klien tunggal perusahaan. Hal ini dikarenakan perusahaan ingin menjaga nama baik Pertamina yang merupakan penyalur BBM di Indonesia.

Beberapa hal yang dilakukan PT. Kharisma Dwi Tunggal supaya menjadi perusahaan yang profesional yaitu:

- Melakukan pengiriman tepat waktu - Membuat jadwal/shift bagi supir truk

- Menjalin hubungan yang erat dengan Pertamina

(6)

Gambar 4.1. Bagan Struktur Organisasi PT. Kharisma Dwi Tunggal

4.3. Analisa Rasio

Salah satu cara untuk menghindari masalah dalam membandingkan suatu perusahaan yang berbeda adalah menghitung rasio keuangan. Beberapa rasio merupakan cara untuk membandingkan dan memeriksa hubungan diantara bagian- bagian dalam laporan keuangan. Berikut adalah hasil analisa rasio terhadap laporan keuangan PT. Kharisma Dwi Tunggal terhitung sejak 2001 sampai dengan 2006. Analisa rasio perusahaan akan dibandingkan dengan rasio milik perusahaan pembanding yang diambil dari laporan keuangan tahun 2006 yang telah diaudit dan telah dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan pembanding yang dimaksud adalah perusahaan go public yang bergerak dibidang transportasi darat.

Analisa rasio akan dinilai secara time series, cross section, serta overall. Time series adalah penilaian yang berasal dari hasil perhitungan rasio dari tahun ke tahun. Penilaian dikatakan normal jika hasil dari tahun ke tahun mengalami perubahan yang tidak terlalu signifikan. Sementara nilainya akan worst jika terjadi perubahan yang sangat signifikan, dan best jika mengalami pertumbuhan yang membaik dari tahun ke tahun.

KOMISARIS

DIREKTUR UTAMA

MANAGER

KEUANGAN MANAGER

MARKETING MANAGER

HRD

STAFF

STAFF STAFF STAFF

SPV 1 SPV 2

(7)

Cross section didapatkan dari membandingkan hasil perhitungan rata- rata rasio tahun 2006 perusahaan yang dinilai dengan hasil yang didapat dari perhitungan rasio perusahaan transportasi darat yang go public. Perhitungan dalam rasio industri menggunakan laporan keuangan tahun 2006, maka hasil yang digunakan dalam perbandingan ini pada perusahaan yang dinilai adalah hasil perhitungan rasio tahun 2006.

Sedangkan nilai overall didapat dari perbandingan antara nilai dari time series dengan nilai dari cross section. Apabila nilai yang didapatkan sama, maka nilai dari overall sama dengan nilai yang didapat dari time series dan cross section. Sedangkan apabila nilainya berbeda, maka nilai yang lebih diperhatikan adalah nilai dari time series karena nilai dari time series dilihat dari hasil perhitungan tahun ke tahun, sehingga nilainya lebih akurat.

4.3.1. Rasio Likuiditas

Menurut Baskhoro, rasio likuiditas adalah rasio yang menggambarkan sejauh mana perusahaan dapat pembayaran hutang. (Apindo, Formula dasar analisa keuangan, 2007).

a. Current Ratio

Rasio ini mengukur seberapa besar aktiva lancar dapat mengcover hutang jangka pendek. Semakin besar current ratio, berarti semakin baik kemampuan perusahaan dalam mengcover hutang jangka pendeknya.

Current ratio PT. Kharisma Dwi Tunggal pada tahun 2001 sampai dengan 2006 mengalami kenaikan dan penurunan. Jika dilihat perbandingannya dari tahun ke tahun, rasio perusahaan bagus karena hasilnya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sehingga jika dilihat secara time series, yaitu perbandingan rasio dari tahun ke tahun, maka nilainya best/baik.

Jika dilihat melalui cross section atau secara industri, PT. Kharisma Dwi Tunggal memiliki nilai current ratio yang baik. Secara keseluruhan atau overall, maka analisa rasionya adalah baik. Menurut Baskhoro, current ratio dinyatakan bagus apabila nilainya lebih dari 2x. Maka dari itu, rasio perusahaan ini memiliki nilai yang cukup bagus, karena diatas dari batas yang ditentukan. (Apindo, Formula dasar analisa keuangan, 2007).

(8)

Tabel 4.1. Tabel Analisa Rasio PT. Kharisma Dwi Tunggal Per 31 Desember

(9)

b. Quick Ratio

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan persediaan perusahaan dalam membayar hutang jangka pendeknya. Namun karena perusahaan tidak memiliki nilai persediaan, maka perusahaan ini tidak memiliki nilai quick ratio.

c. Cash Ratio

Mengukur kemampuan uang cash yang dimiliki mampu membayar hutang jangka pendek perusahaan. Nilai cash ratio perusahaan terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga secara time series dapat dikatakan baik. Apabila dilihat dari cross section, maka hasilnya dapat dikatakan baik.

Secara overall, nilai perusahaan dapat dikatakan baik. Karena nilainya diatas 2, dimana setiap Rp. 2 mampu membiayai sebesar 0,64 liabilities yang dimiliki.

4.3.2. Rasio Solvabilitas

Rasio solvabilitas adalah rasio yang mengukur bagaimana kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjang.

a. Debt to Total Asset

Mengukur berapa prosentase hutang perusahaan untuk mendanai asset perusahaan. Semakin kecil nilainya, maka semakin bagus. Karena perusahaan tidak terlalu bergantung pada hutang jangka panjang untuk mendanai asset perusahaan.

Jika dilihat secara time series, maka hasil yang didapat oleh perusahaan adalah worst atau buruk, karena perubahan yang terjadi cukup drastis terutama dari tahun 2001 ke 2002. Secara cross section nilai yang didapat adalah baik. Sementara jika dilihat keseluruhan, nilai yang didapat adalah worst.

b. Debt to equity

Debt to equity digunakan untuk melihat perbandingan antara hutang jangka panjang perusahaan dengan modal perusahaan. Hasil analisa rasio yang didapat secara time series, maka nilai yang didapat adalah best atau baik, sebab dari tahun ke tahun nilainya semakin kecil. Menurut Baskhoro,

(10)

jika hasilnya kurang dari 1 atau 100% maka lebih baik bagi perusahaan.

Sementara dilihat secara cross section, maka nilai yang didapat adalah best.

c. Equity Multiplier

Digunakan untuk mengetahui seberapa banyak aset perusahaan yang didanai oleh equity perusahaan. Semakin kecil nilainya semakin baik. Equity multiplier perusahaan pada tahun 2006 nilainya sebesar 1.22x. Secara times series, nilai yang didapat adalah baik. Bila dilihat secara cross section maka nilai yang didapat adalah baik. Secara keseluruhan maka nilai dari perusahaan ini berada di posisi yang baik.

4.3.3. Rasio Efektivitas

Rasio efektivitas adalah rasio yang mengukur bagaimana kemampuan perusahaan mendayagunakan harta untuk mendukung pendapatan dan laba.

a. Asset Turnover

Mengukur seberapa besar penjualan yang dilakukan bisa membiayai asset perusahaaan. Semakin besar hasilnya, semakin baik hasilnya.

Pada tahun 2001, asset turnover perusahaan adalah 0.2694x. Hal ini berarti sales perusahaan tidak terlalu besar dalam membiayai aset perusahaan. Dibandingkan dengan perusahaan yang lain, nilainya lebih rendah. Pada tahun-tahun selanjutnya, nilai asset turnover tidak berbeda jauh dengan tahun 2001. Sehingga secara time series nilai yang didapat adalah normal.

Sedangkan jika dilihat secara cross section maka nilainya adalah worst karena nilainya lebih rendah dari hasil rata-rata industri. Secara overall, nilai yang didapat adalah normal.

b. Net Fixed Assets Turnover

Mengukur seberapa besar penjualan dapat membiayai total aset tetap perusahaan. Semakin besar nilainya, semakin bagus hasilnya bagi perusahaan.

Net Fixed Assets Turnover perusahaan sebesar 0.52x pada tahun 2001.

Secara time series nilai yang didapat adalah normal, tetapi bila dibandingkan dengan perusahaan lain, maka hasil rasio perusahaan ini

(11)

kurang bagus. Hal ini berarti penjualan belum terlalu besar membiayai total aset perusahaan. Jika dilihat secara overall, maka nilai yang didapat adalah normal.

c. Account Receivable Turnover

Mengukur perbandingan penjualan terhadap piutang perusahaan.

Semakin cepat perputaran piutang semakin baik bagi operasional perusahaan. Account Receivable Turnover perusahaan dari tahun ke tahun tidak mengalami perubahan secara signifikan, sehingga nilainya adalah normal. Tetapi jika dibandingkan secara cross section maka nilainya adalah best, karena nilanya lebih kecil dari nilai rata-rata industri. Secara overall nilainya adalah normal.

d. Average Collection Period

Adalah jumlah rata-rata waktu yang diperlukan untuk menagih piutang. Rasio ini bermanfaat untuk mengevaluasi kebijakan perusahaan dalam memberikan piutang dan penagihan kepada customer.

Dibandingkan dengan perusahaan sejenis, maka nilai Average Collection Period cukup baik. Pada tahun 2001 nilainya adalah 127.95 hari, dimana hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam melakukan penagihan terhadap klien mencapai 127.95 hari. Sementara dilihat secara cross section nilainya buruk. Apabila dilihat secara overall, maka nilai yang didapat adalah normal.

4.3.4. Rasio Profitabilitas

Rasio ini mengukur bagaimana kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba.

a. Gross Profit Margin

Mengukur prosentase laba kotor perusahaan setelah dikurangi harga pokok perusahaan. Menurut Baskhoro, bila angka yang didapat semakin besar maka semakin baik hasilnya bagi perusahaan. Untuk perusahaan yang bergerak di pengolahan minimal 25%. Untuk sektor jasa biasanya sampai dengan 50%. (Apindo, Formula dasar analisa keuangan, 2007).

(12)

Pada tahun 2001, angka yang didapat adalah 0.61, maka penjualan perusahaan mampu menghasilkan laba kotor sebesar 61%. Pada tahun-tahun selanjutnya, angka yang didapat masih berkisar di angka 0.60.

Apabila dibandingkan dengan perusahaan sejenis, maka nilai yang didapat tergolong bagus, karena perusahaan lain hanya mendapat 0.03 saja.

Sedangkan secara overall, nilai yang didapat adalah bagus.

b. Net Profit Margin

Mengukur prosentase laba bersih perusahaan setelah dikurangi semua jenis biaya (Cost of Sales, pajak). Semakin tinggi angkanya semakin baik setidaknya 5%. (Apindo, Formula dasar analisa keuangan, 2007).

Pada tahun 2001, nilai yang diperoleh adalah 0.44. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih selama setahun. Ini berarti perusahaan mampu menghasilkan laba bersih 44% dari penjualan.

Dibandingkan dengan rata-rata perusahaan sejenis yang memiliki nilai kurang dari 5%, maka perusahaan ini memiliki nilai yang baik. Sementara secara overall, nilai yang didapatkan adalh best.

c. Operating Profit Margin

Mengukur presentase hasil sisa penjualan sesudah dikurangi biaya-biaya selain pajak. Pada tahun 2001, nilai yang dihasilkan adalah 0.44 maka hal ini menunjukkan bahwa laba usaha operasional yang dapat dihasilkan oleh perusahaan adalah 44% dari penjualan. Pada tahun-tahun selanjutnya, nilai yang dihasilkan juga bagus, berkisar pada nilai 0.40. Bila dibandingkan dengan perusahaan sejenis, maka nilai yang didapat bagus, karena nilai dari perusahaan lain kurang dari 0.40. Secara overall, nilai yang didapat oleh perusahaan adalah bagus.

d. Return on Asset

Mengukur besar laba sebelum bunga dan pajak mengembalikkan aset perusahaan. Semakin besar nilainya semakin baik setidaknya 5,5%. Pada tahun 2001, nilai yang diperoleh adalah 0.24 dimana laba perusahaan bisa mengcover total asset perusahaan sebesar 24%. Pada tahun-tahun selanjutnya, angka yang didapat tidak jauh berbeda dengan tahun 2001. Jika dibandingkan dengan perusahaan sejenis, maka angka yang didapat lebih tinggi dari

(13)

perusahaan lain, sehingga nilainya best. Sedangkan secara keseluruhan atau overall, nilainya adalah best.

e. Return on Equity

Mengukur berapa besar laba bersih mampu mengembalikkan nilai total ekuiti perusahaan. Semakin bagus apabila nilai yang didapat diatas 10% atau lebih dianggap baik.

Pada tahun 2001, angka yang didapat adalah 140% dimana laba bersih perusahaan bisa mengcover total equity sebesar 140%. Nilai yang didapat cukup tinggi meskipun semakin menurun pada tahun-tahun selanjutnya.

Sehingga secara time series nilainya adalah normal.

Apabila dilihat secara cross section, maka nilai dari perusahaan cukup tinggi dibandingkan dengan perusahaan lain yang 45%. Sedangkan secara overall nilainya adalah normal.

f. Leverage Index

Mengukur perbandingan ROE terhadap ROA. Semakin besar angka yang didapat, semakin baik hasilnya. Pada tahun 2001,nilai yang didapat adalah 5.89x. Pada tahun-tahun selanjutnya, nilai yang didapat oleh perusahaan tidak berbeda jauh dengan nilai yang didapat pada tahun sebelumnya, sehingga nilai yang didapat adalah normal. Jika dilihat secara cross section, maka nilai yang didapat adalah normal. Sedangkan secara overall nilai yang didapat adalah normal.

4.4. Asumsi – asumsi dalam Proyeksi Laporan Keuangan 4.4.1. Asumsi Umum

Dalam menyusun proyeksi keuangan, berbagai asumsi digunakan berdasarkan kinerja perusahaan secara historikal dan juga didasarkan pada rencana-rencana manajemen dan pimpinan di masa yang akan mendatang.

Asumsi-asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut:

a. Tidak ada perubahan yang mendasar pada kondisi politik, ekonomi, hukum, maupun undang-undang yang nantinya akan mempengaruhi aktivitas perusahaan dan di Indonesia.

(14)

b. Tidak ada perubahan yang mendasar pada tarif pajak yang berlaku dan suku bunga yang digunakan dalam proyeksi yang nantinya akan mempengaruhi kinerja perusahaan.

c. Tidak ada perubahan struktur organisasi dan aktivitas utama dalam perusahaan yang nantinya akan berpengaruh pada hasil proyeksi.

d. Tidak ada perubahan yang mendasar dalam manajemen perusahaan.

e. Tidak ada perubahan yang mendasar terhadap harga-harga dan biaya-biaya yang telah dipakai oleh perusahaan dan yang akan digunakan dalam penyusunan proyeksi.

f. Diasumsikan perusahaan PT. Kharisma Dwi Tunggal dalam kondisi yang stabil, dan tidak melakukan perubahan besar terhadap kinerja, maupun hal- hal yang nantinya akan menghambat proses penyusunan proyeksi.

g. Tidak ada perubahan yang mendasar terhadap perjanjian-perjanjian dan ketentuan yang ada dalam perusahaan.

4.4.2. Asumsi Proyeksi

Proyeksi laba rugi serta neraca pada perusahaan didasarkan pada laporan historical perusahaan dari tahun 2001 sampai dengan 2006. Laporan yang didapat adalah laporan yang tidak diaudit oleh auditor, sehingga adanya kemungkinan laporan tersebut tidak wajar atau bisa saja tidak sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.

Audit terhadap laporan keuangan dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pendapat atas laporan keuangan tersebut. Tetapi tanggung jawab atas kewajaran laporan keuangan terletak di tangan manajemen perusahaan, bukan di tangan auditor. Hal ini dikarenakan pihak manajemen perusahaan yang menyusun laporan keuangan, sedangkan pihak auditor hanyalah pihak yang melakukan audit atas kewajaran laporan keuangan tersebut.

Maka dari itu, hanya pihak manajemen perusahaan yang memiliki wewenang untuk mengubah apa yang disajikan dalam laporan keuangannya, sementara auditor bertanggungjawab terhadap pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan audit yang telah dilakukan atas laporan keuangan tersebut.

(Mulyadi, 2002, p.15)

(15)

Proyeksi laba rugi, neraca serta arus kas bersih telah dilakukan berdasarkan ketentuan akuntansi yang umum yang diterapkan oleh perusahaan.

Proyeksi dilakukan dengan menggunakan asumsi-asumsi sebagai berikut:

a. Laporan Rugi Laba 1. Penjualan

Penjualan PT. Kharisma Dwi Tunggal diasumsikan mengalami peningkatan 1.82% untuk skenario buruk, 5.0348% untuk normal, serta 15.76% untuk baik pada setiap tahunnya. Proyeksi yang dilakukan berasal dari analisa tingkat pertumbuhan penjualan.

2. Cost of Sales

Cost of sales berasal 45% dari penjualan yang telah diperoleh perusahaan. Jumlah ini didapat dari kebijakan perusahaan.

3. Operational Expense & Marketing Expense

Diasumsikan bahwa mengalami peningkatan 1.1530% untuk skenario buruk dan 4.4059% untuk kondisi normal, serta 6.5793% untuk kondisi baik pada setiap tahunnya.

4. General and Administration Expense

Semua pengeluaran yang dikeluarkan oleh pihak perusahaan mengalami peningkatan 7.5103% untuk buruk dan untuk normal, sementara untuk kondisi baik mengalami peningkatan 5.2924%

5. Non Operational Income

Non Operational Income mengalami peningkatan sebesar 2.50%

untuk semua kondisi.

6. Interest Expense

Diasumsikan Interest Expense tidak berubah, sama dengan tahun 2006.

(16)

b. Neraca

1. Cash and Bank

Penghitungan didapat dari penghitungan Arus Kas untuk masa proyeksi.

2. Account Receivable

Peningkatan Account Receivable adalah 2.6088% untuk skenario buruk dan untuk kondisi normal 4.6650%, dan 6.6969% untuk kondisi terbaik.

3. Advance Payment

Peningkatan Advance Payment adalah 2.4714% untuk skenario buruk, 2.96099% untuk normal, dan 4.29606% untuk kondisi baik.

4. Due from related branch office

Peningkatan pada due from related branch office adalah 1.6251%

untuk skenario buruk, 3.8611% untuk normal, dan 6.77% untuk kondisi baik.

5. Other Receivable

Peningkatan pada Other Receivable adalah 6.5949% untuk skenario buruk, 16.4683% untuk normal, dan 26.7980% untuk untuk kondisi baik.

6. Fixed Asset

Fixed Asset diasumsikan tetap pada setiap skenario.

7. Accumulated Depreciation

Didapat dari perhitungan akumulasi depresiasi asset perusahaan.

8. Account Payable

Peningkatan Account Payable adalah 4.5581% untuk skenario buruk, 2.5375% untuk normal, dan 2.67% untuk kondisi baik.

9. Guarantee Payable

Peningkatan Guarantee Payable adalah 7.0361% untuk skenario buruk, 4.5453% untuk normal, dan 6.0522% untuk kondisi baik.

10. Expense Payable

Peningkatan Expense Payable adalah 2.7775% untuk skenario buruk, 2.0917% untuk normal, dan 1.5997% untuk kondisi baik.

(17)

11. Bank Loan

Diasumsikan tidak ada penambahan pada setiap skenario.

12. Capital Stock

Diasumsikan Rp. 1.000.000.000 pada setiap skenario setiap tahunnya.

13. Retained Earning

Merupakan penambahan Retained Earning tahun sebelumnya dengan profit tahun sebelumnya.

14. Profit Current Year

Didapat dari hasil perhitungan pada Income Statement.

(18)

Tabel 4.2. Perhitungan Perubahan Modal Kerja PT. Kharisma Dwi Tunggal per 31 Desember WORST

(19)

Tabel 4.3. Perhitungan Modal Kerja PT. Kharisma Dwi Tunggal per 31 Desember NORMAL

(20)

Tabel 4.4. Perhitungan Perubahan Modal Kerja PT. Kharisma Dwi Tunggal per 31 Desember BEST

(21)

c. Perhitungan Invested Cash Flow to Equity 1. Perhitungan Modal Kerja

- Kas

Kas mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, sehingga pada perhitungan perubahan modal diberi tanda negatif/(-) karena piutang dagang merupakan salah satu pos aset dalam neraca.

- Piutang Dagang

Piutang Dagang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, sehingga pada perhitungan perubahan modal diberi tanda negatif/(-) karena piutang dagang merupakan salah satu pos asset dalam neraca.

- Persediaan

Perusahaan tidak memiliki persediaan, maka pada perhitungan perubahan modal hasilnya 0.00

- Hutang Dagang

Hutang Dagang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, sehingga pada perhitungan perubahan modal diberi tanda positif/(+) karena hutang dagang merupakan salah satu pos kewajiban dalam neraca.

2. Perhitungan Arus Kas untuk Ekuitas - Laba Bersih

Laba Bersih pada perhitungan arus kas untuk ekuitas merupakan peningkatan laba bersih dari tiap tahunnya.

- Depresiasi

Depresiasi merupakan nilai penyusutan dari aktiva yang dimiliki perusahaan.

- Capital Expenditure

Capital Expenditure merupakan peningkatan harga perolehan dari tiap tahunnya.

- Perubahan Modal Kerja

(22)

Perubahan Modal Kerja didapat dari perhitungan perubahan modal kerja.

- Hutang Jangka Panjang

Hutang Jangka Panjang dalam penilaian ini tidak mengalami perubahan.

d. Perhitungan Nilai Pasar Wajar Ekuitas 1. Cost of Debt

Diasumsikan 12% berasal dari tingkat bunga hutang yang berlaku di pasar pada saat penilaian, yaitu pada tanggal 31 Desember 2006.

2. Cost of Equity

Dalam penghitungan cost of equity, diasumsikan:

- Beta levered perusahaan pada saat dilakukan penilaian adalah 0.3766667, dimana sebelumnya dilakukan penghitungan terhadap beta untuk perusahaan pembanding. Sementara struktur modal perusahaan yang dinilai adalah 81.9514% untuk ekuitas, dan 18.0486% untuk hutang, yang dihitung dari neraca tahun 2006.

- Tingkat bunga bebas resiko diasumsikan 12.3%.

- Resiko pasar diasumsikan sebesar 18%

3. Weighted Average Cost of Capital

Hasil dari Weighted Average Cost of Capital adalah sebesar 14.6551%

yang didapat dari nilai Capital Asset Pricing Model ditambah nilai ekuitas, kemudian ditambahkan dengan nilai cost of debt yang telah dikutangi pajak dan dikalikan dengan nilai hutang perusahaan.

4. Nilai pasar wajar ekuitas

- Discount Factor yang dipakai adalah 14.447% yang didapat dari Capital Asset Pricing Model, yaitu risk free rate ditambah dengan risk market yang sudah dikurangi risk free rate yang dan dikalikan dengan beta perusahaan

- Nilai pasar wajar didapat dari nilai kini dikurangkan dengan nilai discount marketabilitas yang diasumsikan sebesar 10%.

(23)

Tabel 4.5 Perhitungan WACC & CAPM PT. Kharisma Dwi Tunggal

Humpuss Samudera Zebra

BETA 0.17 0.93 0.03

BETA UNLEVERED 0.147292611 0.805777227 0.025992814 AVERAGE BETA UNLEVERED 0.326354218

BETA LEVERED 0.376666667

Struktur Modal dan Ekuitas Nilai Bobot Nilai Ekuitas 9,144,309,646 0.819513644 Nilai Hutang 2,013,905,615 0.180486356

11,158,215,261

Cost of debt 0.12

Risk Free Rate 0.123

Risk Market 0.18

Beta 0.376666667

Pajak 0.3

CAPM 0.14447

WACC 14.6551%

Gambar

Gambar 4.1. Bagan Struktur Organisasi PT. Kharisma Dwi Tunggal
Tabel 4.1. Tabel Analisa Rasio PT. Kharisma Dwi Tunggal Per 31 Desember
Tabel 4.2. Perhitungan Perubahan Modal Kerja PT. Kharisma Dwi Tunggal per 31 Desember WORST
Tabel 4.3. Perhitungan Modal Kerja PT. Kharisma Dwi Tunggal per 31 Desember NORMAL
+3

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menyesuaikan bentuk alam yang telah popular itu dengan ajaran Islam dalam kosmologi, ahli al-haq pada zaman kemudian, seperti Al-Imam Al- Akbar Muhyi

Hasil ini menunjukkan bahwa skor kedua variabel tersebut mempunyai sebaran normal, karena p lebih besar dari 0,05 artinya tidak ada perbedaan antara sebaran skor sampel dan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan (input) bagi aparat Pemerintah Daerah dalam menjalankan tugas dan perannya secara efektif dan efisien

Kesimpulannya adalah perilaku konsumtif merupakan suatu perilaku membeli dan menggunakan barang yang tidak didasarkan pada pertimbangan yang rasional dan memiliki kencenderungan

1. Dibawah ini software pengolah gambar vektor/digital illustrator adalah…A. CorelDraw B. Photoshop C. Paintbrush D. Adobe After Effect E. Adobe Flash 2. Di bawah ini software pengolah gambar raster/digital imaging

Keberlanjutan IPAL komunal di RT2 RW 12 Kelurahan Bendul Merisi Kecamatan Wonocolo Kota Surabaya dinilai dari aspek teknis, partisipasi masyarakat, kelembagaan dan aspek

Maksud penelitian ini adalah untuk meninjau strategi komunikasi dan pemasaran industri pariwisata Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia melalui city branding agar dapat

Bila besi tuang, sebagai pengganti baja karbon, dicampur dengan logam lainnya maka produk yang dihasilkan disebut besi tuang campuran (alloy cast iron). Walaupun bodi