• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pemerintah melakukan perubahan kebijakan di bidang pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan agar kualitas pendidikan di Indonesia menjadi baik diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Implementasi Undang-Undang tersebut tertuang pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang diperbaharui melalui Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013; Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi; Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah; dan Permendikbud tahun 2016 Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan.

Implementasi dari regulasi di atas berimbas pada perubahan kurikulum dan sistem penilaian. Perubahan kurikulum dari kurikulum KBK ke KTSP, dan dari KTSP ke Kurikulum 2013 berdampak pada perubahan sistem pembelajaran di Sekolah. Pembelajaran pada Kurikulum KBK dan KTSP merekomendasikan penggunaan metode Contextual Teaching and Learning (CTL). Pendekatan saintifik direkomendasikan untuk digunakan pada Kurikulum 2013. Penggunaan pendekatan CTL dan pendekatan saintifik berdampak pada sistem penilaian.

Penilaian diposisikan sebagai salah satu bagian penting dalam pembelajaran. Melalui kegiatan penilaian pendidik dapat mengetahui pencapaian tujuan pembelajaran, mengetahui keunggulan belajar siswa, mendiagnosis kesulitan belajar, dan menetapkan rencana lanjutan yang dapat dilakukan dalam memperbaiki proses pembelajaran. Guru menyusun perencanaan pembelajaran dan menetapkan pendekatan, strategi, metode atau taktik yang digunakan pada pembelajaran berikutnya mengacu pada hasil penilaian. Pada Pasal 3 Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 disebutkan bahwa penilaian yang dilaksanakan pendidik di sekolah bertujuan untuk memonitoring proses, dan

1

(2)

progres belajar yang ditindaklanjuti dengan perbaikan prestasi belajar siswa secara berkesinambungan. Penilaian dilakukan untuk mengetahui perkembangan capaian kompetensi siswa, menjadi bahan pelaporan kemajuan belajar siswa, dan perbaikan pembelajaran selanjutnya.

Hal tersebut diperjelas kembali melalui pasal 4 Permendikbud Nomor 32 tahun 2016 yang menyatakan bahwa pendidik melakukan penilaian untuk memonitoring proses belajar, mengevaluasi progres belajar, dan memperbaiki capaian belajar siswa secara berkelanjutan. Satuan pendidikan menilai prestasi belajar siswa untuk mengukur capaian standar kompetensi lulusan pada semua mata pelajaran. Pemerintah menilai hasil belajar peserta didik untuk mengukur pencapaian kompetensi lulusan pada mata pelajaran tertentu secara nasional.

Uraian di atas menggambarkan bahwa, penilaian memiliki peranan yang sangat penting dalam pembelajaran di sekolah. Informasi yang diperoleh dari hasil penilaian menjadi dasar bagi pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah dalam memetakan potensi perkembangan belajar peserta didik dan upaya tindak lanjut yang dapat dilakukan.

Hasil penilaian juga dapat dimanfaatkan oleh siswa dan orang tua peserta didik. Siswa memanfaatkan hasil penilaian untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan belajarnya yang dapat dijadikan dorongan dan motivasi dalam meningkatkan kualitas belajarnya. Selain itu, hasil penilaian dapat dijadikan dasar untuk mengetahui bakat, minat, dan pilihan jurusan dalam melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya. Orang tua dapat memanfaatkan hasil penilaian untuk mengetahui perkembangan belajar, bakat, dan minat anaknya. Hasil penilaian dapat menjadi dasar dalam membingan dan memberikan arahan belajar pada anaknya.

Untuk itu, penilaian dalam pembelajaran harus dilakukan dengan baik sesuai dengan tuntutan kurikulum, karakteristik mata pelajaran, dan materi pelajaran. Informasi yang diperoleh dari hasil penilaian harus valid karena berpengaruh terhadap kualitas penilaian. Penilaian berkualitas merupakan penilaian yang dilaksanakan melalui perencanaan yang matang, mulai yang

(3)

dimulai dari persiapan, pelaksanaan, dan upaya tindak lanjut dari hasil penilaian tersebut.

Pemahaman yang baik terhadap seluk-beluk penilaian mempengaruhi kualitas hasil penilaian. Pemahaman terhadap hakikat penilaian, prinsip-prinsip penilaian, karakteristik penilaian, teknik penilaian, pelaksanaan, dan tindak lanjut hasil penilaian berkonstribusi positif pada kualitas penilaian. Pemahaman terhadap penilaian saja tidaklah cukup untuk dapat melakukan penilaian dengan baik karena harus ditunjang oleh pemahaman tentang substansi bidang ilmu yang dinilai.

Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tersendiri, begitu juga dengan penilaiannya. Karakteristik penilaian dalam pembelajaran bahasa berbeda dengan penilaian pada mata pelajaran lainnya. Menurut Nurgiyantoro (2014: 284) dan Djiwandono (2011: 22–30), tes dalam pembelajaran bahasa dapat dilaksanakan secara diskret, pragmatis, integratif, dan autentik. Penentuan penggunaan berbagai jenis tes tersebut disesuaikan dengan tujuan pelajaran, karakteristik materi pelajaran, karakteristik peserta uji, dan tuntutan kurikulum.

Pendekatan komunikatif berbasis teks digunakan pada Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013. Pendekatan komunikatif menekankan pembelajaran pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Belajar bahasa berarti belajar berkomunikasi dengan menggunakan bahasa untuk berbagai keperluan secara lisan maupun tertulis dan dalam situan formal maupun nonformal. Penggunaan bahasa dalam konteks komunikasi melibatkan berbagai unsur bahasa dan keterampilan berbahasa. Untuk dapat berkomunikasi dengan baik diperlukan adanya penguasaan dan pemahaman unsur bahasa seperti pemahaman kosakata, strukur gramatikal, dan situasi penggunaan bahasa. Selain itu, penguasaan keterampilan berbahasa (membaca, menulis, berbicara, dan menyimak) menjadi penentu keberhasilan tindak komunikasi. Untuk itu, penilaian dalam pembelajaran bahasa harus mengukur pengetahuan kebahasaan (kosakata, struktur gramatikal, dan kaidah bahasa lainnya), mengukur keterampilan membaca, keterampilan menulis, keterampilan berbicara, dan keterampilan menyimak, disertai dengan penilaian sikap berbahasa siswa.

(4)

Penilaian dalam pembelajaran bahasa dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan sesuai dengan tujuan pembelajaran dan tuntutan kurikulum. Suyata, Hidayanto, & Widyantoro (2014: 367) menyebutkan bahwa secara umum pembelajaran bahasa Indonesia bertujuan untuk mencapai kompetensi komunikasi lewat keempat keterampilan berbahasa. Untuk itu, model penilaian yang dapat digunakan pada pembelajaran bahasa adalah model penilaian yang dapat mengukur keterampilan berbahasa siswa secara nyata. Penilaian autentik dan penilaian integratif merupakan model penilaian yang dapat digunakan untuk mengukur keterampilan berbahasa siswa secara nyata dalam kehidupan sehari- hari. Menurut Mahsun (2015: 153), penilaian autentik memiliki keterkaitan dengan pendekatan berbasis teks dalam pembelajaran bahasa. Penilaian autentik penekanannya pada penilaian kinerja yang meminta siswa untuk memeragakan kompetensi dan keterampilan tertentu sebagai refleksi dari pengetahuan yang telah dikuasainya, maka hal serupa dijadikan dasar dalam pembelajaran berbasis teks.

Penilaian autentik dalam konteks pembelajaran bahasa dapat memberikan informasi tentang pengetahuan dan keterampilan siswa menggunakan bahasa dalam berbagai konteks komunikasi yang dapat mencerminkan kondisi nyata penggunaan bahasa sehari-hari.

Penilaian autentik merupakan salah satu jenis penilaian yang mengacu pada pendekatan komunikatif dan pendekatan berbasis teks. Penilaian autentik dapat mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), KTSP maupun kurikulum 2013 mengharuskan agar penilaian yang dilakukan dalam pembelajaran mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Penilaian autentik adalah penilaian yang dalam pelaksanaannya mencakup penilaian aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Penilaian autentik dapat dilakukan dengan pemberian tugas kepada siswa sebagai aktualisasi pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya dalam wujud dunia nyata.

Hasil penelitian Mintah (2003: 167 – 169), Fook & Sidhu (2010: 156 – 160), Finch (2002: 12 – 13), dan Whitelock (2012: 4 – 7) menunjukkan bahwa penilaian autentik memberikan konstribusi yang sangat baik terhadap pengembangan konsep diri, motivasi berprestasi, perkembangan sikap, keyakinan,

(5)

dan kepercayaan diri siswa. Mengingat begitu penting dan besarnya konstribusi penilaian autentik dalam pembelajaran pemerintah menetapkan bahwa penilaian autentik menjdi penilaian yang harus digunakan dalam pembelajaran di sekolah, sebagaimana disebutkan dalam lampiran Permedikbud Nomor 66 tahun 2013.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurgiyatoro (2009: 6) menunjukkan bahwa guru masih melakukan penilaian dengan pola lama, yaitu mengukur pengetahuan siswa tentang sistem bahasa dan kosakata, penilaian autentik yang mengukur kinerja berbahasa siswa belum dilakukan. Guru belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang penilaian autentik. Hasil penelitian (Poerwanti, 2012: 156) menunjukkan bahwa guru kurang memahami penilaian autentik, bahkan masih ada guru yang tidak mengetahui penilaian autentik.

Kalaupun ada guru yang sudah menerapkan penilaian autentik tetapi belum dapat dilakukan dengan baik. Ada juga guru yang menyatakan bahwa penilaian autentik tidak dilaksanakan karena membutuhkan waktu lama dalam mempersiapkannya termasuk dalam melaksanakannya.

Walaupun penelitian tersebut dilakukan beberapa tahun yang lalu, namun hasil penelitian tersebut relatif sama dengan hasil wawancara prapenelitian terhadap guru bahasa Indonesia yang mengajar pada SMAN di Kabupaten Sumbawa yang menunjukkan bahwa penilaian yang dilakukan di sekolah, khususnya pada mata pelajaran bahasa Indonesia masih menggunakan penilaian model tes, belum menggunakan penilaian kinerja berbahasa siswa. Sementara penilaian dengan model tersebut tidak dapat mengukur perkembangan hasil belajar siswa secara komprehensif yang mencakup perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Guru belum melakukan penilaian autentik dalam pembelajaran karena pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap penilaian autentik belum memadai. Mereka belum pernah mengikuti pelatihan tentang implementasi penilaian autentik dan tidak memiliki referensi tentang penilaian autentik.

Hasil wawancara tersebut juga relatif sama dengan hasil penelitian (Adnan, 2009: 1) yang menunjukkan bahwa kemampuan guru bahasa Indonesia yang mengajar di SMA Negeri di Kabupaten Sumbawa dalam menyusun

(6)

instrumen penilaian berbentuk tes cukup baik, akan tetapi guru belum dapat menyusun instrumen penilaian nontes seperti penilaian keterampilan dan penilaian sikap. Guru belum dapat melakukan penilaian keterampilan dan penilaian sikap dengan baik.

Hal di atas menggambarkan bahwa guru bahasa Indonesia yang mengajar pada SMA Negeri di Kabupaten Sumbawa belum melakukan penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia sesuai dengan tuntutan kurikulum dan karakteristik mata pelajaran. Guru belum melakukan penilaian dalam pembelajaran bahasa secara autentik. Jika penilaian dalam pembelajaran bahasa tidak dilakukan secara autentik maka, penilaian dalam pembelajaran bahasa tidak dapat mencerminkan keterampilan berbahasa siswa secara nyata.

Suyata, Hidayanto, & Widyantoro (2014: 367) juga menyatakan bahwa guru memiliki kompetensi yang lemah dalam melakukan penilaian integratif antara satu aspek dengan aspek yang lainnya dalam pembelajaran bahasa.

Sumarwati, Anindyarini, & Fuadi. (2014: 108) menyatakan bahwa guru kesulitan mengintagrasikan pembelajaran kaidah bahasa dengan keterampilan berbahasa.

Guru kesulitan melakukan evaluasi terutama dalam pembuatan instrumen penilaian pada pembelajaran mendengarkan, membaca, dan mengoreksi karangan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa selain belum memiliki pemahaman yang memadai tentang penilaian autentik, guru juga belum memahami penilaian integratif secara memadai.

Sehubungan dengan permasalahan tersebut, peneliti melakukan penelitian pada SMA Negeri di Kabupaten Sumbawa untuk mengetahui model-model penilaian yang digunakan guru dalam bahasa Indonesia. Mengacu pada data praktik penilaian selama proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru, peneliti pengembangan model penilaian autentik integratif dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Produk penelitian ini diharapkan dapat dijadikan panduan oleh guru bahasa Indonesia di Kabupaten Sumbawa dalam melakukan penilaian sehingga guru dapat melakukan penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia secara autentik dan integratif. Model penilaian autentik yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah model penilaian autentik integratif.

(7)

Pemaduan penilaian autentik dengan penilaian integratif dilakukan karena secara konseptual penilaian autentik mengukur pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa. Penilaian integratif dilakukan dengan mengukur satu aspek penilaian dengan aspek penilaian lainnya dalam kurun waktu yang bersamaan.

Penilaian integratif dapat mengakomodasi pengukuran penguasaan siswa terhadap berbagai unsur bahasa dan keterampilan berbahasa. Hasil kajian terdahulu menunjukkan bahwa penilaian integratif efektif digunakan dalam pembelajaran bahasa. Penilaian integratif memberi konstribusi positif terhadap perkembangan kecakapan berbahasa siswa. Pernyataan tersebut didasarkan pada hasil kajian penilaian integratif membaca dan menulis oleh Weigle (2004: 27–55); Plakans (2008: 111–129), penilaian integratif membaca dan menyimak oleh Gobel (2011:

45–51), dan penilaian integratif berbicara oleh Lee (2006: 131–166).

Pemaduan penilaian autentik dengan penilaian integratif keterampilan berbahasa disebut dengan istilah penilaian autentik integratif. Penilaian autentik integratif dilakukan dengan memberikan tugas kepada siswa dalam pembelajaran yang dapat mengakomodasi penilaian aspek pengetahuan kebahasaan, sikap, dan keterampilan (membaca, menulis, berbicara, dan menyimak) siswa dalam satu kegiatan penilaian. Misalnya, siswa ditugaskan untuk menyusun makalah ilmiah.

Melalui pemberian tugas menyusun makalah ilmiah dapat dilakukan penilaian pengetahuan, sikap, dan keterampilan berbahasa siswa yang mencakup penilaian keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak.

Model penilaian autentik integratif menjadi salah satu model penilaian yang dapat digunakan guru dalam melakukan penilaian, khususnya guru bahasa Indonesia di Kabupaten Sumbawa. Model penilaian autentik integratif dalam pembelajaran bahasa adalah model penilaian yang mengintegrasikan penilaian keterampilan membaca, keterampilan menulis, keterampilan menyimak, dan keterampilan berbicara. Jika model penilaian autentik integratif dapat diterapkan dengan baik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, maka kemampuan berbahasa siswa dapat ditingkatkan. Dengan demikian, peringkat kemampuan literasi siswa Indonesia yang hanya berada pada level 3 dan berada pada urutan 59 dari 64 negera yang disurvei menurut PISA (2012) dapat ditingkatkan.

(8)

Peningkatan kemampuan berbahasa siswa dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan sistem penilaian. Penerapan model penilaian autentik integratif keterampilan berbahasa Indonesia dalam pembelajaran bahasa Indonesia diharapkan dapat menunjang peningkatan keterampilan berbahasa Indonesia siswa. Model penilaian autentik integratif keterampilan berbahasa yang dikembangkan dapat dipertanggung-jawabkan kebaruan dan keasliannya. Pengembangan model penilaian autentik dalam pembelajaran bahasa Indonesia pernah dilakukan oleh Nurgiyantoro (2009), berjudul “Pengembangan Model Penilaian Otentik dalam Pembelajaran Bahasa”

dan penelitian yang dilakukan oleh Poerwanti (2012) dengan judul

“Pengembangan Model Asesmen Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar di Kota Surakarta.” Produk yang dikembangkan melalui kedua penelitian tersebut adalah buku model penilaian autentik pengetahuan kebahasaan, pengetahuan kesastraan, keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Buku model penilaian autentik keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak.

Model penilaian autentik di atas, belum mengakomodasi penilaian aspek sikap. Penilaian keterampilan berbahasa yang satu dengan penilaian keterampilan berbahasa yang lain belum dilakukan secara terpadu. Misalnya, pada penilaian keterampilan menulis, hanya menilai keterampilan menulis saja tanpa menilai keterampilan membaca dan keterampilan berbahasa yang lainnya. Model penilaian yang dikembangkan pada penelitian ini sudah mencakup penilaian pengetahuan, penilaian keterampilan (membaca, menulis, berbicara, dan menyimak) dan penilaian sikap yang dilakukan secara integratif. Penilaian keterampilan berbahasa dilakukan secara integratif karena keempat keterampilan tersebut memiliki hubungan yang sangat erat. Keterampilan membaca dapat menunjang keterampilan menulis. Seseorang yang memiliki keterampilan menulis yang baik, tentu memiliki keterampilan membaca yang baik. Seseorang yang memiliki keterampilan menyimak yang baik, cenderung memiliki keterampilan berbicara yang baik jika tidak memiliki hambatan pada alat artikulasinya. Dengan kata lain, keterampilan berbahasa reseptif yang memadai dapat menunjang

(9)

peningkatan keterampilan berbahasa produktifnya. Oleh karena itu, penilaian dalam pembelajaran bahasa harus mengakomodasi penilaian keempat keterampilan berbahasa secara proporsional.

Model penilaian autentik integratif yang dikembangkan dalam penelitian ini difokuskan pada penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu penilaian pengetahuan kebahasaan, penilaian keterampilan (keterampilan membaca, keterampilan menulis, keterampilan menyimak, dan keterampilan berbicara) dan penilaian sikap berbahasa. Model penilaian autentik integratif yang dikembangkan berwujud penilaian produk, unjuk kerja, penilaian diri, penilaian antarteman, dan observasi oleh pendidik. Penilaian produk dan penilaian unjuk kerja digunakan untuk mengukur pengetahuan kebahasaan dan keterampilan berbahasa siswa. Penilaian diri, penilaian antarteman, dan observasi oleh pendidik digunakan untuk mengukur sikap siswa dalam pembelajaran. Ada beberapa keunggulan model penilaian autentik integratif dalam pembelajaran berbahasa Indonesia yang dikembangakan, yaitu (1) mengukur prestasi belajar siswa secara nyata, (2) dapat mengukur aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara terpadu dalam kurun waktu yang bersamaan, (3) penilaian keterampilan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara dilakukan secara terpadu, dan (4) penilaian yang dilakukan secara integratif lebih efektif diterapkan dalam pembelajaran.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bagaimanakah model-model penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA pada saat ini?

2. Bagaimanakah kebutuhan guru yang berkaitan dengan pentingnya model penilaian autentik integratif keterampilan berbahasa Indonesia dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA?

3. Bagaimana pengembangan model penilaian autentik integratif keterampilan berbahasa Indonesia di SMA?

(10)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui model-model penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA saat ini.

2. Mengetahui kebutuhan guru yang berkaitan dengan model penilaian autentik integratif keterampilan berbahasa Indonesia dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA.

3. Mengembangkan model penilaian autentik integratif keterampilan berbahasa Indonesia di SMA.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis

Secara umum hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah pengetahuan tentang penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia karena karakteristik penilaian pada mata belajaran bahasa berbeda dengan karakteristik penilaian pada mata pelajaran lainnya. Penilaian dalam pembelajaran bahasa dilakukan untuk mengukur pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan siswa dalam menggunakan bahasa Indonesia baik secara tertulis maupun lisan. Secara khusus hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pemahaman tentang model penilaian autentik integratif dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

2. Manfaat praktis

a. Model penilaian autentik integratif dapat dijadikan panduan oleh pemerintah atau stakeholder terkait dalam menetapkan kebijakan model penilaian yang digunakan pada pembelajaran bahasa Indonesia.

b. Model penilaian autentik integratif dapat dijadikan panduan oleh kepala sekolah dalam menetapkan model penilaian yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

(11)

c. Model penilaian autentik integratif dapat dijadikan panduan oleh guru bahasa Indonesia dalam menerapkan penilaian autentik integratif pada mata pelajaran bahasa Indonesia.

E. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan 1. Asumsi

Asumsi merupakan anggapan dasar yang dijadikan pijakan berpikir dalam melakukan penelitian. Ada beberapa asumsi yang dijadikan pijakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

a. Penilaian autentik memberikan konstribusi yang sangat baik terhadap pengembangan konsep diri, motivasi berprestasi, perkembangan sikap, keyakinan, dan kepercayaan diri siswa.

b. Penilaian integratif merupakan model penilaian tepat untuk digunakan dalam pembelajaran bahasa karena implementasi tindak berbahasa yang satu berhubungan dengan tindak berbahasa yang lain.

c. Pemaduan penilaian autentik dengan penilaian integratif menjadi salah satu model penilaian yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran bahasa dan memberikan konstribusi positif terhadap prestasi belajar siswa.

2. Keterbatasan Pengembangan

Model penilaian autentik integratif yang dikembangan hanya digunakan pada penilaian dalam pelajaran bahasa Indonesia, tidak dapat digunakan pada penilaian di mata pelajaran lainnya.

F. Definisi Istilah

1. Pengembangan adalah suatu usaha untuk membuat produk baru atau memodifikasi produk yang sudah ada menjadi produk baru.

2. Model adalah suatu prosedur atau langkah-langkah yang tersusun secara sistematis yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam melakukan tindakan atau kegiatan tertentu.

(12)

3. Penilaian autentik adalah penilaian yang mencerminkan penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam wujud dunia nyata.

4. Penilaian integratif adalah penilaian yang dilakukan dengan memadukan penilaian pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau memadukan penilaian keterampilan yang satu dengan keterampilan yang lain dalam kurun waktu yang bersamaan.

5. Penilaian autentik integratif adalah penilaian yang mencerminkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa secara nyata dan dilakukan secara terpadu atau memadukan penilaian keterampilan yang satu dengan keterampilan lain dalam kurun waktu yang bersamaan.

6. Keterampilan berbahasa Indonesia adalah wujud kecakapan menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi yang direalisaskan melalui kegiatan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis untuk berbagai keperluan.

Referensi

Dokumen terkait

terapi musik instrumental 82% depresi ringan, 18% depresi berat, 2) setelah melakukan terapi musik instrumental 88% tidak depresi dan 12% depresi ringan, 3) hasil

and you can see from the radar screen – that’s the screen just to the left of Professor Cornish – that the recovery capsule and Mars Probe Seven are now close to convergence..

A Secção 31.4 da Regulação da UNTAET 2000/18 (como retificado) exige que todas as pessoas (empregadores) que tenham retido o imposto de rendimento de salário sob a Secção 30

Pada hal, Pasal 4 ayat 2 secara tegas bahwa pelaku usaha patut atau dianggap secara bersama-sama melakukan penguasaan produksi dan pemasaran barang atau jasa jika dua

Sehingga dapat dilihat hasil penilaian rata – rata yang dicapai nilai dari kegiatan kondisi awal 64,77 dan pada silkus pertama nilai rata – rata yang dicapai 65,45

[r]

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK & MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

Emisi surat utang korporasi di pasar domestik selama Januari 2018 mencapai Rp7,67 triliun atau naik 2,84 kali dibandingkan dengan Januari 2018, berdasarkan data oleh