BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kompetensi Komunikasi Interpersonal 1. Pengertian Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal menurut DeVito (2013) merupakan interaksi verbal dan non verbal yang terjadi diantara dua orang atau lebih yang saling tergantung satu dengan lainnya. Sedangkan menurut pandangan Beebe dan Mottet (2013) komunikasi interpersonal merupakan interaksi saling mempengaruhi dan menguntungkan yang terjadi antara dua individu dengan tujuan untuk membangun sebuah hubungan. Ditambahkan oleh Gamble dan Gamble (2014), komunikasi interpersonal merupakan proses komunikasi secara terus menerus dan dinamis antara dua individu.
Kegiatan komunikasi interpersonal merupakan kegiatan sehari-hari yang paling sering dilakukan oleh manusia sebagai mahluk sosial. Komunikasi interpersonal dapat diartikan sebagai proses interaksi yang saling berkesinambungan antara dua individu atau lebih untuk saling bertukar makna yang dilakukan secara verbal maupun non verbal, umumnya bersifat persuasif dan terdapat umpan balik selama interaksi berlangsung.
Komunikasi interpersonal dapat dibagi menjadi tiga model yaitu linear, interaksi, dan transaksi (West & Turner, 2010).
a. Model komunikasi linear (
linear communication model
)Komunikasi satu arah dengan asumsi bahwa pesan dikirim oleh satu sumber kepada penerima melalui saluran tertentu. Model komunikasi ini memiliki
beberapa keterbatasan, antara lain model ini berasumsi bahwa hanya ada satu pesan dalam proses komunikasi, komunikasi ini tidak memiliki awal dan akhir yang jelas, dan komunikasi hanya terjadi ketika satu individu berbicara pada individu lain.
b. Model komunikasi interaksional (
interactional model of communication
) Komunikasi dipandang sebagai pertukaran makna dengan adanya umpan balik yang menghubungkan sumber dengan penerima pesan. Model komnikasi interaksional menekankan pada proses komunikasi dua arah yaitu dari pengirim kepada penerima dan sebaliknya. Pandangan interaksional menggambarkan bahwa individu dapat menjadi baik pengirim maupun penerima dalam sebuah interaksi tetapi tidak dapat menjadi keduanya sekaligus.c. Model komunikasi transaksional (
transactional model of communication
) Komunikasi yang terjadi merupakan proses pengiriman dan penerimaan pesan yang berlangsung secara terus menerus dalam sebuah episode komunikasi. Proses ini bersifat kooperatif, yaitu baik pengirim dan penerima pesan sama-sama bertanggung jawab terhadap dampak dan efektifitas komunikasi yang terjadi. Dalam model transaksional, setiap individu yang berkomunikasi bersama-sama membangun makna.DeVito (2013) membagi karakteristik komunikasi interpersonal menjadi enam bagian, yaitu:
a. Komunikasi interpersonal merupakan proses transaksional. Komunikasi interpersonal merupakan proses yang terjadi secara terus menerus dan elemen-elemen yang terkait pada proses ini merupakan elemen yang saling
tergantung satu dengan lainnya. Tidak ada awal maupun akhir yang jelas pada proses ini.
b. Setiap komunikasi interpersonal yang terjadi memiliki tujuan tertentu yaitu untuk mempelajari sesuatu, menghubungkan sesuatu, mempengaruhi pihak lain, bersenang-senang, dan membantu pihak lain
c. Komunikasi interpersonal berpotensi untuk ambigu. Setiap pesan yang dikirim berpotensi untuk ambigu karena penerima akan memiliki pengertian yang berbeda-beda terhadap pesan yang sama.
d. Hubungan interpersonal pada komunikasi ini dapat berupa hubungan yang simetris atau saling melengkapi. Interaksi interpersonal dapat memicu pola yang sama ataupun yang berbeda.
e. Komunikasi interpersonal dapat merujuk pada konten maupun pada hubungan antar partisipan.
f. Komunikasi interpersonal diawali dari sudut pandang masing-masing individu. Komunikasi interpersonal yang terjadi akan dimulai dari pendapat dan sudut pandang masing-masing partisipan komunikasi.
g. Komunikasi interpersonal merupakan hal yang tidak dapat dihindari, dibalik, ataupun diulang. Manusia sebagai makhluk sosial akan berkomunikasi dengan manusia lain, oleh karena itu komunikasi interpersonal menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Tema pesan yang disampaikan oleh satu orang ke orang berikutnya tidak akan sama persis.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal merupakan proses verbal dan non verbal yang dilakukan karyawan,
baik atasan terhadap bawahan, bawahan terhadap atasan, ataupun sesama rekan kerja, untuk menyampaikan pesan dan saling bertukar informasi.
DeVito (2015) menjelaskan terdapat enam elemen pada proses komunikasi interpersonal. Keenam elemen tersebut dapat divisualisasikan pada gambar 1.
Gambar 1.
Elemen Penyusun Proses Komunikasi (Adaptasi dari DeVito, 2015)
a. Sumber-penerima (
source-receiver
)Sumber mengacu kepada pihak pengirim pesan. Sedangkan penerima mengacu kepada pihak yang menerima pesan. Baik pengirim dan penerima pesan dapat bertindak sebagai sumber sekaligus penerima pada komunikasi dua arah. Pengirim pesan akan melakukan penyandian pesan sebelum dikirim kepada penerima pesan. Tindakan penyandian ini dikenal dengan istilah
encoding
. Pesan yang telah dikirim akan diterima dan diolah oleh penerima pesan. Tindakan menerima dan mengolah pesan tersebut dikenal dengan istilahdecoding
. Contoh tindakanencoding
pada pesan sepertiberbicara dan menulis. Sedangkan contoh tindakan
decoding
dapat berupa mendengar dan membaca.b. Pesan (
messages
)Pesan adalah informasi yang akan disampaikan atau diekspresikan oleh pengirim pesan. Pesan dapat berbentuk verbal, non verbal atau gabungan dari keduanya dan pesan akan efektif bila diorganisir secara baik dan jelas.
Materi pesan dapat berupa informasi, ajakan, rencana kerja, pertanyaan dan sebagainya. Pesan verbal adalah pesan dalam bentuk lisan atau tulisan.
Sedangkan pesan non verbal adalah pesan yang disampaikan melalui gestur tubuh, perubahan air muka, intonasi suara, gerak mata dan lain-lain.
Menurut DeVito (2015) pesan dapat dibagi tiga jenis yaitu (1) meta-pesan (
metamessage
); (2) pesan umpan balik (feedback messages
), dan (3) pesan umpan awal (feedforward messages
)c. Saluran (
channels
)Saluran komunikasi adalah media yang digunakan dalam komunikasi.
Saluran berfungsi sebagai penghubung antara sumber dan penerima.
Saluran pesan dapat berbentuk visual (
visual channel
), auditori (vocal channel
), gerakan (tactile channel
), dan aroma (olfactory channel
). Secara umum semakin banyak saluran yang dipergunakan untuk mendistribusikan pesan akan semakin meningkatkan keberhasilan komunikasi.d. Gangguan (
noise
)Gangguan adalah segala sesuatu yang merintangi atau menghambat komunikasi sehingga penerima salah menafsirkan pesan yang diterimanya.
DeVito (2015) membagi gangguan dalam komunikasi kedalam empat jenis
meliputi (1) gangguan fisik, yaitu gangguan yang berasal dari lingkungan eksternal pengirim dan penerima pesan seperti suara gaduh, jarak, dan interupsi; (2) gangguan fisiologis, yaitu gangguan yang terjadi dari pengirim dan penerima pesan, seperti gangguan pengelihatan, gangguan pendengaran, dan permasalahan pada pengucapan; (3) gangguan psikologis yaitu gangguan yang berasal dari kondisi psikologis pelaku komunikasi seperti prasangka negatif, kondisi emosi yang tidak stabil, berpandangan yang sempit, dan memiliki kecemasan; dan (4) gangguan semantik yaitu gangguan yang berasal dari perbedaan arti dari kata-kata atau simbol-simbol yang digunakan dalam komunikasi seperti perbedaan pengucapan, perbedaan bahasa, penggunaan istilah yang berlebihan atau tidak pada tempatnya dan penggunaan istilah yang ambigu.
e. Efek (
effects
)Setiap komunikasi yang terjadi akan menimbulkan efek-efek tertentu. Efek adalah perbedaan antara yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima pesan sebelum dan sesudah menerima pesan. Gamble dan Gamble (2014) menyebutkan bahwa efek merupakan hasil yang didapat dari komunikasi. DeVito (2015) menjelaskan terdapat tiga jenis efek yang dapat terjadi karena komunikasi. Ketiga jenis efek itu adalah (1) efek intelektual (kognitif) yaitu perubahan yang terjadi pada cara berpikir; (2) efek afektif yaitu perubahan yang terjadi pada sikap, nilai-nilai, keyakinan, dan emosi;
dan (3) efek psikomotorik yaitu perubahan yang terjadi pada perilaku. Ketiga jenis efek tersebut tidak akan berdiri sendiri-sendiri namun akan terintegrasi antara satu dengan yang lain.
f. Konteks (
context
)Konteks komunikasi memiliki empat dimensi yaitu dimensi fisik, budaya, sosial-psikologi dan temporal. Dimensi fisik (
physical context
), adalah ruang dimana komunikasi berlangsung yang nyata atau berwujud seperti ruangan, taman, lapangan atau gedung. Dimensi budaya (cultural context
) berkaitan dengan aturan atau nilai dan norma-norma, kepercayaan dan sikap yang disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dimensi sosial- psikologis (social–psychological context
), meliputi misalnya tata hubungan status di antara mereka yang terlibat, peran yang dijalankan orang, serta aturan budaya masyarakat di mana mereka berkomunikasi. Lingkungan atau konteks ini juga mencakup rasa persahabatan atau permusuhan, formalitas atau informalitas, serius atau senda gurau. Dimensi temporal (temporal or time context
), mencakup waktu dalam hitungan jam, hari, atau sejarah dimana komunikasi berlangsung. Empat dimensi konteks ini saling berinteraksi; masing-masing mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain.Sayles dan Strauss (1966) menjelaskan terdapat beberapa hal yang dapat menghambat komunikasi interpersonal. Hambatan-hambatan tersebut yaitu:
a. Diksi, semantik, dan jargon. Diksi yaitu pemilihan kata ketika berbicara maupun menulis. Semantik yaitu arti dari setiap kata yang diucapkan atau ditulis. Jargon yaitu istilah-istilah khusus yang digunakan pada saat berkomunikasi.
b.
Expectations of familiarity
. Hanya mendengarkan segala hal yang ingin didengar.c. Kurangnya kredibilitas sumber informasi. Jika sumber informasi dianggap memiliki kredibilitas yang tidak memadai, pesan yang disampaikan cenderung diabaikan
d.
Preconceived notions
. Mengabaikan informasi yang bertentangan dengan pemahaman yang dimiliki.e. Perbedaan persepsi. Perbedaan strata sosial, tingkat ekonomi, dan latar belakang budaya menyebabkan terjadinya perbedaan persepsi. Penolakan terhadap kelompok tertentu mendukung terjadinya perbedaan persepsi.
f. Perbedaan antara kata-kata dengan bahasa tubuh. Perbedaan kata-kata yang diucapkan pengirim pesan dengan bahasa tubuh yang ditunjukkan akan menghambat informasi yang akan disampaikan kepada penerima pesan.
g. Emosi. Emosi yang ditunjukkan oleh pengirim pesan pada saat berkomunikasi akan membuat pesan yang disampaikan memiliki arti yang berbeda.
h. Gangguan. Segala hal yang berada disekitar individu pada saat berkomunikasi dapat menjadi penyebab terhambatnya komunikasi.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat faktor- faktor dalam komunikasi interpersonal, yaitu elemen-elemen pada proses komunikasi interpersonal dan beberapa hal yang dapat menghambat komunikasi interpersonal.
2. Pengertian Kompetensi
Kompetensi secara umum dapat didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan sesuatu dengan baik, khususnya kemampuan yang didapat dari pengalaman atau pelatihan dan dapat diukur dengan standar tertentu.
Pengertian kompetensi menurut Spencer dan Spencer (1993) adalah karakteristik dasar individu yang memiliki hubungan kausal atau sebagai sebab- akibat dengan kriteria yang dijadikan acuan, efektif atau berkinerja prima di tempat kerja atau pada situasi tertentu. Sedangkan dari sudut pandang psikologi industri, Landy dan Conte (2013) menegaskan bahwa kompetensi adalah seperangkat perilaku yang umumnya didapat dari pengalaman, dan merupakan sarana untuk mewujudkan sasaran dan tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi. Masih menurut Landy dan Conte (2013), kompetensi merupakan gabungan dari pengetahuan, keterampilan, kemampuan, dan karakteristik kepribadian. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Campion dkk (2011) bahwa esensi dari kompetensi adalah kombinasi dari beberapa karakteristik dan tidak saling mendominasi antara satu dengan yang lainnya.
Komponen-komponen atau elemen yang membentuk sebuah kompetensi menurut Spencer dan Spencer (1993) adalah (1) Motif (
motives
) adalah sesuatu yang secara konsisten dipikirkan atau dikehendaki oleh seseorang, yang selanjutnya akan mengarahkan, membimbing, dan memilih suatu perilaku tertentu terhadap sejumlah aksi atau tujuan; (2) Karakter pribadi (traits
) adalah yaitu karakteristik fisik dan reaksi atau respons yang dilakukan secara konsisten terhadap situasi atau informasi; (3) Konsep diri (self concept
) adalah perangkat sikap sistem nilai atau citra diri yang dimiliki seseorang; (4) Pengetahuan(
knowledge
) adalah informasi yang dimiliki seseorang terhadap suatu area spesifik tertentu; dan (5) Keterampilan (skills
) adalah kemampuan untuk mengerjakan serangkaian tugas fisik atau mental tertentu.Manfaat penggunaan kompetensi menurut Ruky (2003) adalah (1) memperjelas standar kerja dan harapan yang ingin dicapai; (2) alat seleksi karyawan; (3) memaksimalkan produktivitas; (4) sebagai dasar untuk pengembangan sistem remunerasi (imbalan); (5) memudahkan adaptasi terhadap perubahan; dan (6) menyelaraskan perilaku kerja dengan nilai-nilai organisasi.
3. Kompetensi Komunikasi Interpersonal
Para ahli mendefinisikan kompetensi komunikasi interpersonal sebagai kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif, tepat, dan beretika. Efektif berarti tujuan dalam berkomunikasi tersebut tercapai. Tepat berarti komunikasi disesuaikan pada situasi, konteks, dan lawan bicara. Beretika artinya dalam berkomunikasi, selain mampu menghargai pendapat dan pikirannya sendiri, seseorang juga dituntut untuk mampu menghargai pendapat dan pikiran lawan bicaranya serta menyadari bahwa setiap individu adalah unik dan perlakuan- perlakuan yang diberikan kepada setiap lawan bicara juga harus berbeda-beda pula (Wood, 2016).
Rubin dan Martin (1994) menyebutkan terdapat beberapa aspek kompetensi komunikasi interpersonal, yaitu:
a.
Self-disclosure
Kemampuan untuk membuka atau mengungkapkan unsur-unsur kepribadian orang melalui komunikasi.
Self-disclosure
adalah sengaja mengungkapkaninformasi yang signifikan tentang diri sendiri yang biasanya tidak diketahui oleh orang lain.
b.
Empathy
Proses identifikasi artinya merasa seperti yang lain dengan menjadikan orang lain sebagai acuan dan bukan berdasarkan referensi pengalaman pribadi.
Berempati untuk mengambil sudut pandang lain dalam upaya untuk mengalami pikiran dan perasaan orang lain.
c.
Social relaxation
Minimnya atau kurangnya kecemasan atau ketakutan dalam menjalani kehidupan sosial sehari-hari. Terdiri dari perasaan nyaman, ketakutan sosial yang rendah, dan kemampuan untuk menangani reaksi negatif atau kritik orang lain tanpa stres.
d.
Assertiveness
Perilaku memperjuangkan hak pribadi seseorang dengan mempertimbangkan hak-hak orang lain. Komunikator yang asertif mengungkapkan kebutuhannya, dan tidak menyerang atau menegatifkan kebutuhan pihak lain, sekaligus menjaga martabatnya.
e.
Interaction management
Merupakan kemampuan seseorang untuk menangani prosedur ritual dalam percakapan sehari-hari seperti membahas topik yang akan dibicarakan, melakukan percakapan secara bergantian, memulai dan mengakhiri percakapan, dan mengembangkan topik percakapan.
f.
Altercentrism
Menunjukkan ketertarikan terhadap topik yang dimulai oleh orang lain, perhatian penuh pada hal-hal yang disampaikan oleh lawan bicara, cara mengatakannya, tanggap tidak hanya dari apa yang dikatakan tetapi juga apa yang tidak dikatakan, responsif terhadap apa yang lawan bicara pikirkan, dan mampu beradaptasi selama percakapan.
g.
Expressiveness
Kemampuan untuk mengkomunikasikan perasaan melalui perilaku nonverbal dan komunikasi verbal dari pikiran dan perasaan. Termasuk di dalamnya perilaku nonverbal seperti ekspresi wajah, gerak tubuh, penggunaan kata- kata yang tepat dalam mengekspresikan diri.
h.
Supportiveness
Kemampuan dalam memberikan tanggapan yang menunjukkan solidaritas dengan situasi lain. Tujuannya adalah agar perasaan yang dimiliki dari kedua belah pihak sama, sehingga komunikasi menjadi jauh lebih mudah.
i.
Immediacy
Kesediaan untuk didekati dan melakukan komunikasi.
j.
Environmental control
Kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dan dapat memenuhi kebutuhan pribadi, kemampuan untuk menangani konflik dan memecahkan masalah dalam suasana kooperatif, dan kemampuan untuk mendapatkan kepatuhan dari pihak lain.
DeVito (2005, 2015) menguraikan terdapat beberapa kompetensi untuk menciptakan komunikasi interpersonal yang efektif, yaitu keterbukaan (
openness
),empati (
empathy
), sikap positif (positiveness
), kesegeraan (immediacy
), manajemen interaksi (interaction managemet
), kemampuan berekspresi (expressiveness
), dan berorientasi kepada pihak lain (other-orientation
).Penjelasan dari masing-masing kompetensi komunikasi interpersonal menurut DeVito (2005, 2015) tersebut adalah sebagai berikut:
a. Keterbukaan (
openness
)Efektifitas komunikasi interpersonal yang berkualitas terlihat dari kesediaan untuk berinteraksi secara terbuka dan mengungkapkan diri kepada lawan bicara secara tepat; kesediaan untuk memberikan reaksi yang jujur terhadap stimulan yang diterima; dan kesediaan untuk menyampaikan perasaan dan pikiran sendiri.
b. Empati (
empathy
)Empati berarti merasakan yang dirasakan oleh pihak lain atau memahami sama seperti pihak lain memahami sesuatu. Empati dapat ditunjukkan pada saat mencoba untuk memahami tanpa harus menghakimi atau mengkritik perilaku lawan bicara, memfokuskan konsentrasi pada lawan bicara, menunjukkan keterlibatan terhadap materi yang sedang disampaikan oleh lawan bicara melalui ekspresi wajah dan gerak tubuh, merefleksikan kembali perasaan yang sedang dikemukaan oleh lawan bicara, dan menggambungkan pesan verbal dan non-verbal sehingga dapat mendorong komunikasi yang lebih terbuka dan jujur.
c. Sikap positif (
positiveness
)Karakteristik komunikasi yang efektif diperlihatkan melaui sikap positif baik kepada diri sendiri maupun kepada lawan bicara. Mengkomunikasikan sikap
positif dengan menunjukan rasa puas atas interaksi yang terjadi dengan lawan bicara, memberikan pujian kepada lawan bicara melalui pikiran-pikiran positif, dan mengungkapkan rasa setuju kepada lawan bicara.
d. Kesegeraan (
immediacy
)Efektifitas komunikasi interpersonal yang berkualitas menciptakan rasa kebersamaan dan kebersatuan sekaligus mengisyaratkan minat dan perhatian kepada lawan bicara. Kesegeraan dapat ditunjukkan dengan beberapa cara antara lain memposisikan diri tidak terlalu jauh dari lawan bicara ketika sedang berkomunikasi, menjaga kontak mata, tersenyum, menyebut nama lawan bicara, dan berfokus pada topik yang diajukan oleh lawan bicara.
e. Manajemen interaksi (
interaction management
)Efektifitas komunikasi interpersonal dapat terwujud dengan mengelola interaksi kedua belah pihak. Kedua belah pihak mendapat hak dan kesempatan yang sama dalam menyampaikan gagasannya, komunikasi berjalan secara berimbang, cair, dan konsistensi pesan tetap terjaga.
f. Kemampuan berekspresi (
expressiveness
)Kemampuan berekspresi merupakan kemampuan untuk mengkomunikasikan keterlibatan pembicara secara tulus ketika berinteraksi dengan lawan bicara, menunjukkan ekspresi dan keterbukaan, dan memberikan umpan balik secara tepat.
g. Orientasi kepada pihak lain (
other-orientation
)Efektifitas komunikasi interpersonal yang berkualitas terlihat dari kemampuan pembicara menunjukkan perhatian, ketertarikan, dan
kepedulian terhadap materi yang disampaikan oleh lawan bicara. Selain itu, pembicara juga harus mampu untuk menghargai keberadaan lawan bicara, menjaga kontak mata, menunjukkan ekspresi wajah dengan tepat, tersenyum, mengangguk, memposisikan tubuh condong ke arah lawan bicara, dan menunjukkan rasa setuju disaat yang tepat.
Berikutnya, Wood (2016) menyampaikan ada lima kompetensi dalam komunikasi interpersonal yaitu mengembangkan berbagai keterampilan komunikasi; beradaptasi dalam komunikasi secara tepat; terlibat dalam perspektif ganda, memantau komunikasi diri sendiri; dan berkomitmen untuk beretika dalam berkomunikasi. Penjelasan dari masing-masing kompetensi komunikasi interpersonal menurut Wood (2016) tersebut adalah sebagai berikut:
a. Mengembangkan berbagai ketrampilan komunikasi
Tidak ada gaya tunggal komunikasi yang terbaik dalam segala macam situasi, dengan semua orang atau untuk semua tujuan. Sehingga perlu mempelajari berbagai macam kompetensi komunikasi, agar komunikasi dapat berjalan secara efektif.
b. Menyesuaikan komunikasi secara tepat
Kemampuan untuk berkomunikasi dalam berbagai cara tidak membuat seseorang menjadi ahli dalam berkomunikasi, kecuali orang tersebut memahami jenis (gaya) komunikasi yang tepat digunakan pada interaksi tertentu. Misalnya, mengetahui cara berkomunikasi yang tegas dan hormat, pengetahuan tersebut tidak akan berguna kecuali orang tersebut dapat mengetahui saat yang tepat untuk menggunakan gaya komunikasi tersebut.
Meskipun tidak ada rumusan pasti cara menyesuaikan komunikasi secara
tepat, namun hal ini penting untuk dipertimbangkan sesuai dengan tujuan pribadi, konteks, dan dengan siapa komunikasi dilakukan.
c. Terlibat dalam perspektif ganda
Hal terpenting dalam kompetensi komunikasi interpersonal adalah kemampuan untuk terlibat dalam perspektif ganda, yaitu dapat memahami baik dari sudut pandang diri sendiri maupun perspektif, perasaan, keyakinan dan pikiran pihak lain.
d. Memantau komunikasi diri sendiri
Kemampuan keempat yang mempengaruhi kompetensi komunikasi interpersonal adalah pemantauan (
monitoring
), yang merupakan kemampuan untuk mengamati dan mengatur komunikasi diri sendiri.Misalnya mengingatkan diri untuk tidak bersikap defensif dan tidak menjadikan komunikasi yang dilakukan ke arah kontra produktif. Komunikasi melalui media
online
menawarkan cara yang sangat efektif untuk memantau komunikasi. Melalui menyimpan pesan dan membaca kembali dapat melihat pesan yang telah ditulis benar-benar mengungkapkan tujuan, dan menyuntingnya sebelum mengirim kepada penerima. Kemampuan untuk memantau komunikasi memungkinkan seseorang untuk beradaptasi dengan tindakan komunikasinya dan mengukur efektifitas dalam berinteraksi.e. Berkomitmen untuk beretika dalam berkomunikasi
Komitmen ini mengharuskan seseorang untuk berkomunikasi secara etis dengan pihak lain sebagai manusia yang unik. Adanya komitmen untuk melakukan komunikasi yang beretika, juga mengharuskan seseorang untuk menghormati dan menghargai perasaan dan pikiran diri sendiri. Seorang
yang beretika dalam berkomunikasi akan berkomitmen pada integritas proses komunikasi itu sendiri.
Berdasarkan penjelasan diatas, pada penelitian ini aspek kompetensi komunikasi interpersonal yang digunakan pada pengukuran pra tes, pasca tes, dan tindak lanjut adalah mengacu pada kompetensi komunikasi interpersonal Rubin dan Martin (1994).
B.
E-Coaching
1.Coaching
Coaching
merupakan sebuah proses interaksi antara seseorang kepada orang lain dengan tujuan untuk mengajari, memberi contoh, umpan balik teknis, perilaku dan keterampilan interpersonal secara profesional dan berfokus untuk masa yang akan datang dengan cara yang konstruktif (Langdon, Whiteside, & McKenna, 1999). Tujuan utamacoaching
adalah untuk membantu individu dalam mengembangkan kemampuan internal dan eksternalnya agar individu tersebut dapat meraih keberhasilan sekaligus membantu meningkatkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya (Davison & Gasiorowski, 2006; Swartz, Prevatt, & Proctor, 2005).Menurut Bennett dan Bush (2009),
outcome
yang hendak dicapai dengan dilaksanakannyacoaching
disebuah organisasi adalah mengupayakan adanya perubahan perilaku atau kognitif setiap individu yang berada didalam sebuah organisasi yang sedang atau akan melaksanakan proses perubahan organisasi.Coaching
juga memberikan pengaruh positif pada karyawan dalam memahami perannya di organisasi, dan peran yang dimiliki oleh karyawan tersebutberkaitan erat dengan komitmenya pada karir, organisasi, dan juga kinerja yang ditunjukkan (Kalkavan & Katrinli, 2014). Selain manfaat
coaching
yang telah disebut diatas,coaching
juga berfungsi sebagai salah satu alat penting bagi pengembangan eksekutif (Charan, 2008; Crane, 2001; Dotlich & Cairo, 1999;Freas, 2000; Levenson, 2009; Wasylyshyn, 2004) dan juga sebagai sebuah metode yang signifikan dalam melakukan peningkatan kinerja dan perubahan budaya (Crane, 2001; Goldsmith, Lyons, & Freas, 2000; Guthrie & Alexander, 2000; Hudson, 1999).
2.
E-Coaching
Ribbers dan Waringa (2015) menjelaskan bahwa
e-coaching
merupakan sebuah kemitraan pengembangan non-hirarki antara dua pihak yang dipisahkan oleh jarak, dan proses pembelajaran dan refleksinya dilakukan melalui sarana analog dan virtual.E-coaching
merupakan komunikasi dua arah antara coach dan coachee dengan memanfaatkan media teknologi, khususnyacomputer- mediated communication
(CMC) sepertionline
(Hernez-Broome, Boyce & Whyman, 2007). Tujuane-coaching
adalah untuk mengukur dan memahami kebutuhan pengembangan, mengatasi hambatan sekaligus mengeksplorasi potensi yang dimiliki, dan mendukung pencapaian sasaran dan meningkatkan kemajuan yang telah diraih klien (Boyce& Hernez-Broome, 2010). Pendapat tersebut didukung oleh Clutterbuck (2010) bahwa
e-coaching
sebagai sebuah kolaborasi positif antaracoach
dancoachee
yang menggunakan media komunikasi internet sepertiindividu dan kelompok untuk mengatasi permasalahan atau isu-isu yang sedang berkembang dapat ditingkatkan.
Geissler (2008) menjelaskan perbedaan metode
coaching
konvensional,e-coaching
, danblended coaching
.Coaching
yang dilaksanakan diwaktu dan tempat yang sama, dan terjadi pertemuan secara langsung antaracoach
dancoachee
disebut sebagaiphysical presence coaching
.Physical presence coaching
dibagi kedalam dua kelompok, yaitu (1)on-site coaching
,coaching
dilaksanakan dilokasicoachee
, baikcoach
dancoachee
bersama-sama menghadapi permasalahancoachee
secara langsung dan (2)face-to-face coaching
,coach
bertemu dengancoachee
secara langsung, namun tidak secara langsung menghadapi permasalahancoachee
. Sementaracoaching
yang dilaksanakan secara virtual tanpa adanya kehadirancoach
secara langsung dan interkasi yang terjadi antaracoach
dancoachee
dilakukan dengan menggunakan sarana komunikasi dan teknologi informasi disebut sebagaie- coaching
.E-coaching
dibagi kedalam dua katagori yaitudidactic opened e- coaching
dandidactic structured e-coaching
.Didactic structured e-coaching
yaitu kegiatancoaching
dan materi kegiatannya diberikan melalui media informasi (Meier, 2006). Contoh darididactic structured e-coaching
adalahcoaching
yang dilakukan dengan menggunakan kuesioneronline
atraktif, yaitucoachee
diberikan serangkaian pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahancoachee
yang bertujuan agarcoachee
dapat secara mandiri menganalisa situasi dan permasalahan yang sedang dihadapi, dan melalui dukungan media yang ada, secara bertahapcoachee
dibimbing untuk dapat mengatasi permasalahaannya sendiri.Kehadiran
coach
padadidactic structured e-coaching
tidak terlalu berpengaruh.Didactic opened e-coaching
melibatkan kehadirancoach
, sama halnya sepertiphysical presence coaching
, namun letak perbedaannya adalah padadidactic opened e-coaching
kehadiran coach tidak secara langsung bertemu dengancoachee
namun dimediasi oleh teknologi informasi dan komunikasi modern. Sesicoaching
dilaksanakan secara virtual, baik secarasynchronous
(waktu yang sama, tempat yang berbeda) danasynchronous
(waktu dan tempat berbeda).Bentuk
coaching
ketiga menurut Geissler (2008) adalah kombinasi antaraphysical presence coaching
dane-coaching
dikenal dengan istilahblended coaching
.Blended coaching
memadukan kelebihan-kelebihan yang dimiliki olehcoaching
konvensional danonline coaching
.Gambar 2.
Klasifikasi Coaching (Adaptasi dari Geissler, 2008)
Pada penelitian ini, bentuk coaching yang digunakan termasuk dalam klasifikasi
blended coaching
, yaitu bentukcoaching
yang memadukan kelebihan-kelebihan yang dimiliki olehcoaching
konvensional danonline coaching
. Alasan pemilihanblended coaching
adalah dikarenakan penelitian ini merupakanpilot project
dan pada tahap permulaan sehingga tetap diperlukan kombinasicoaching
konvensional danonline coaching
.Kemajuan teknologi internet dan komunikasi saat ini membuka kesempatan bagi para profesional
coaching
untuk dapat lebih mengembangkan variasi mediacoaching
yang sudah ada.Coaching
konvensional, yang mengutamakan adanya pertemuan secara fisik antaracoach
dengancoachee
, dapat dikombinasikan dengan teknologi komunikasi dan internet yang ada dan dikenal dengan istilahe-coaching
. Ribbers dan Waringa (2015) menjelaskan bahwae- coaching
merupakan sebuah kemitraan pengembangan non-hirarki antara dua pihak yang dipisahkan oleh jarak, dan proses pembelajaran dan refleksinya dilakukan melalui sarana analog dan virtual. Ditambahkan oleh Stein dan Wanstreet (2013), dengan memanfaatkan ketersediaan sarana elektronik, kemampuan individu dan kelompok untuk mengatasi permasalahan atau isu-isu yang sedang berkembang dapat ditingkatkan.E-coaching
merupakan komunikasi dua arah antaracoach
dancoachee
dengan memanfaatkan media teknologi, khususnyacomputer-mediated
communication
(CMC) sepertionline
(Hernez-Broome, Boyce & Whyman, 2007). Tujuane-coaching
adalah untuk mengukur dan memahami kebutuhan pengembangan, mengatasi hambatansekaligus mengeksplorasi potensi yang dimiliki, dan mendukung pencapaian sasaran dan meningkatkan kemajuan yang telah diraih klien (Boyce & Hernez- Broome, 2010). Pendapat tersebut didukung oleh Clutterbuck (2010) bahwa
e- coaching
sebagai sebuah kolaborasi positif antaracoach
dancoachee
yang menggunakan media komunikasi internet sepertiRibbers dan Waringa (2015) memaparkan perbedaan jenis
e-coaching
menurut media komunikasinya.a.
Coaching
melalui tautan video (video coaching
).Video coaching
dilakukan dengan memanfaatkan kamera yang terhubung dengan perangkat komputer secaraonline
atau dikenal dengan istilahwebcam
. Hal ini dimungkinkan karena setiap perangkat komputer yang ada saat ini baikpersonal computer
maupunlaptop
telah dilengkapi denganwebcam
,microphone
, danspeaker
sebagai kelengkapan standar.Video coaching
merupakan pengembangantelephone coaching
dengan dukungan kemajuan teknologi informasi.Umumnya perangkat komputer saat ini telah dilengkapi dengan aplikasi komunikasi video. Sama halnya seperti
telephone coaching
, kelebihanvideo coaching
adalah dapat menghemat waktu dan biaya perjalanan.Video coaching
memiliki kelebihan yang tidak dimiliki olehtelephone coaching
yaitu adanya citra visual (visual images
).b.
Coaching
melalui telepon (telephone coaching
).Telephone coaching
merupakan jenise-coaching
yang paling banyak digunakan saat ini.Penggunaan
e-coaching
jenis ini memiliki alasan pragmatis yaitu menghemat waktu dan biaya perjalanan. Kemajuan teknologi telekomunikasi saat initelah membuka peluang pengembangan
telephone coaching
menjadi lebih dinamis seperti pemanfaatan perangkat telepon genggam dan penggunaan telepon internet melalui teknologi digitalVoice over Internet Protocol
(VoIP).c.
Coaching
melalui aplikasi perbincangan (chat coaching
).Chat coaching
memungkinkan seorangcoach
berkomunikasi dengancoachee
melalui percakapan tertulis dengan menggunakan komputer atau perangkat komunikasi yang sudah terinstal aplikasi percakapanonline
.Chat coaching
memiliki kelebihan yang sama dengantelephone coaching
yaitu dapat menghemat waktu dan biaya perjalan. Kelebihan lain yang dimiliki olehchat coaching
adalahchat coaching
dapat dilakukan dimana saja karena didukung oleh perangkat komunikasi mobil seperti telepon genggam. Selain itu, kelebihan lainnya adalah sesi pada kegiatancoaching
dapat dijadwal dan dijadwal ulang sesuai dengan keinginan dan kemampuancoach
dancoachee
. Hal ini menjadikanchat coaching
memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi.d.
Coaching
melaluie-mail coaching
).Coaching
yang memanfaatkane- mail
sebagai medianya memiliki kemiripan denganchat coaching
namun yang membedakannya adalah waktu tunggu balasan lebih lama daripadachat coaching
. Komunikasi melaluiCoach
dapat memberikan tautan informasi tambahan dan data multimedia kepadacoachee
sebagai pendukung matericoaching
. Kelebihan yang dimilikie-mail coaching
sama seperti kelebihan jenisonline coaching
lainnya yaitu dapat menghemat waktu dan biaya perjalanan. Hal yang membedakandengan
online coaching
lainnya adalah komunikasi yang terjadi bersifatasynchronous
.Moore (2012) juga menjelaskan perbedaan
e-coaching
berdasarkan media komunikasi dan interaksicoach
dengancoachee
, dapat dilihat dari tabel berikut.Tabel 1.
Jenis E-Coaching (Adaptasi dari Moore, 2012)
Name ofDelivery Visual Audio Computer
Mediated/Based Asynchronous Synchronous
Face-to-face X X X
Telephone
Based X X
Video
Conferencing X X X X
E-mail X X
Instant Messaging
and Chat X X
Online Discussion
Boards/Blogs X X
Pada penelitian ini, jenis
e-coaching
yang digunakan termasuk dalam jenismessaging and chat coaching
.Messaging and chat coaching
memungkinkan seorangcoach
berkomunikasi dengancoachee
melalui percakapan tertulis dengan menggunakan komputer atau perangkat komunikasi (handphone
) yang sudah terinstal aplikasi percakapanonline
.Messaging and chat coaching
memiliki kelebihan yaitu dapat menghemat waktu dan biaya perjalanan. Kelebihan lain yang dimiliki olehmessaging and chat coaching
adalah dapat dilakukan dimana saja karena didukung oleh perangkat komunikasi mobil (handphone
). Selain itu, kelebihan lainnya adalah sesi pada kegiatane-coaching
dapat dijadwal dandijadwal ulang sesuai dengan keinginan dan kemampuan
coach
dancoachee
. Hal ini menjadikanchat coaching
memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi.Ribbers dan Waringa (2015) menguraikan kelebihan
e-coaching
adalah sebagai berikut:a. Kebebasan lokasi dan waktu. Karena komunikasi dan interaksi dilakukan melalui jaringan internet, kegiatan
e-coaching
dapat dilaksanakan 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu.b. Komunikasi yang intensif. Pelaksanaan
e-coaching
dapat dilakukan sesering mungkin karenacoachee
tidak perlu bertemu secara langsung dengancoach
.c. Selangkah demi selangkah. Program yang diberikan
coach
kepadacoachee
dapat dibagi-bagi lagi kedalam sub-program yang lebih kecil. Hal tersebut meningkatkan kesuksesan programe-coaching
secara keseluruhan.d.
On-the-job learning
. Melalui kemajuan teknologi komunikasi,coachee
tidak perlu meninggalkan tempat kerjanya sehinggacoachee
dapat menjalani programe-coaching
sekaligus langsung menerapkan sarancoach
ditempat kerjacoachee
.e. Keterlibatan yang tinggi. Semakin sering komunikasi yang terjadi antara
coach
dancoachee
dan semakin meningkatnya keberhasilancoachee
menerapkan saran dan masukkan daricoach
, akan semakin meningkatkan kepercayaancoachee
terhadapcoach
dan keterlibatancoachee
pada program yang dibuatcoach
.f. Langsung pada permasalahan. Dengan tidak bertemu secara langsung dengan
coach
,coachee
dapat secara langsung mengutarakan permasalahannya tanpa harus dimulai denganbasa-basi
terlebih dahulu.g. Fokus yang optimal. Komunikasi yang dilakukan dengan memanfaatkan perangkat komunikasi mobil membuat
coachee
dapat meningkatkan fokusnya pada programe-coaching
tanpa harus terganggu oleh hal-hal lain.h. Adanya peluang untuk berkonsultasi dengan pihak ketiga.
Coachee
dapat mencarisecond opinion
kepadacoach
lain tanpa harus menggagu prosese- coaching
yang sedang dijalani.i. Seluruh percakapan tercatat. Terdapat rekapitulasi data percakapan sebelumnya yang terjadi antara
coach
dengancoachee.
j. Akses langsung pada emosi. Proses interaksi dengan cara menulis pesan, dapat mengaktifkan sistem emosi
coachee
.k. Kendali Individu.
Coachee
memiliki kebebasan untuk memutuskan kapan harus berkomunikasi dan terlibat dalam prosese-coaching.
l. Dukungan positif yang berkesinambungan. Setiap saran, masukan, dan pesan-pesan yang bersifat positif dan membangun dari
coach
dapat disimpan dan dibaca ulang kapanpun dibutuhkan olehcoachee.
m. Pencegahan kemunduran.
Coachee
dapat secara mandiri mengkaji ulang dan mempelajari kembali setiap kemajuan yang telah dicapai.3. Kerangka Teoritis
Coaching
merupakan salah satu bentuk darihuman process intervention
, yaitu intervensi yang ditujukan untuk meningkatkan komunikasi, pemecahanmasalah, pengambilan keputusan, dan kepemimpinan yang dapat diaplikasikan baik pada individu, kelompok, maupun organisasi (Swanson & Holton, 2001).
Beberapa peneliti telah membuktikan bahwa
coaching
konvensional telah memberikan dampak positif terhadap kepemimpinan, pengembangan kemampuan karyawan dalam menghadapi situasi sulit, peningkatan kemampuan komunikasi, penyelesaian konflik, interaksi dan kolaborasi dengan pihak-pihak lain (Jenkins dkk., 2005; Kleiner dkk., 2014; Lam dkk., 2002; McGovern dkk., 2001; McLoughlin, 2002; & Suphi, 2008).Coaching
menjadi intervensi yang efektif dalam upaya meningkatkan kualitas komunikasi, hal ini terbukti dari penelitian yang dilakukan oleh Kleiner dkk (2014) di sebuah rumah sakit akademik Amerika Serikat. Terjadi peningkatan kualitasbriefing
dandebriefing
secara signifikan pada tim bedah setelah diberikan intervensicoaching
komunikasi.Coaching
sebagaihuman process intervention
pada penelitian ini menggunakan media komunikasi dan jaringan internet sebagai penghubung antaracoach
dancoachee
, dan dikenal dengan istilahe-coaching
. Menurut Ribbers dan Waringa (2015)e-coaching
merupakan sebuah kemitraan pengembangan non-hirarki antara dua pihak yang dipisahkan oleh jarak, dan proses pembelajaran dan refleksinya dilakukan melalui sarana analog dan virtual.E-coaching
juga dapat menjadi solusi bagi pihak-pihak yang ingin mengembangkan kemampuan namun tidak mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan pelatihan dan pengembangan.E-coaching
dapat menjadi solusi alternatif ketika pelaksanaan kegiatancoaching
konvensional menghadapai hambatan biaya, jarak, dan jadwal (Bierema & Hill, 2005).Pada penelitian ini pemilihan
e-coaching
sebagai intervensi didasarkan alasan yaitucoaching
konvensional sudah terbukti dapat menjadi solusi/intervensi dari berbagai permasalahan, sehingga peneliti ingin menguji apakah dengan modelcoaching online
juga akan memiliki pengaruh yang sama dengan model konvensional. Selain itu,e-coaching
juga dirasa mampu menjawab kebutuhan dan tantangan organisasi, dalam hal ini Institusi X, akan kebutuhan modelcoaching
yang dapat mencakup lintas wilayah dimanapun personel institusi X bertugas, fleksibelitas dalam hal waktu, dan tidak harus tatap muka secara langsung.Sehingga peneliti melalui penelitian ini ingin mengembangkan sebuah model
coaching online
yang dapat menjawab kebutuhan tersebut.Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, diharapkan manfaat yang dihasilkan dari
e-coaching
akan sama dengan manfaat yang diberikan olehcoaching
konvensional.E-coaching
diharapkan dapat meningkatkan kompetensi komunikasi interpersonal personel institusi X. Dengan terjadinya peningkatan komunikasi interpersonal, personel institusi X akan mampu menyampaikan dan mengklarifikasi ketidaksesuaian yang terjadi pada peran mereka di tempat kerja.Gambar 3.
D in am ika Psik ologis E- coac hin g terh ad ap Kom un ikasi In terpe rs on al
D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis pada penelitian ini adalah kompetensi komunikasi interpersonal personel institusi X meningkat setelah mengikuti proses